Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Tujuan Pembangunan Kesehatan Nasional yang sejalan dengan Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2009 Tentang Kesehatan merupakan acuan Pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang
optimal. Salah satu tujuan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah tercapainya Millenium
Development Goals 2015 (MDGs) yaitu penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi
102/100.000 kelahiran hidup (KH), Angka Kematian Bayi (AKB) dari 68 menjadi 23/1000 KH dan
Angka Kematian Anak Balita (AKABA) dari 97 menjadi 32/1000 KH pada tahun 2015. 1
Menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI, 2007) angka kematian ibu
(AKI) di Indonesia adalah 265 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebabnya adalah partus
lama, yakni sekitar 5%. Angka ini masih termasuk yang tertinggi di banding negara Asean yang
lain. Tingginya AKI ini masih menunjukkan derajat kesehatan yang belum baik. Sedangkan di
Medan AKI sebesar 110 per 100.000 kelahiran hidup. Salah satu penyebab kematian tersebut adalah
partus lama, yang seharusnya dapat dicegah dengan penanganan yang adekuat, yaitu dengan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan dalam pertolongan persalinan. 2
Segala usaha dan upaya untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia telah
banyak dilakukan. Sejak tahun 1997 ke 2007, AKI telah menurun sebanyak 38%. Pada tahun 2003
AKI di Indonesia menjadi 228/100.000 kelahiran hidup. Sedangkan target MDGs pada tahun 2015,
AKI diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup. Meskipun AKI mengalami penurunan
tapi belum signifikan dan jauh dari harapan.AKI di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika
dibandingkan dengan negara ASEAN. 3
Salah satu sebab tingginya kematian maternal dan perinatal di Indonesia dan negara
berkembang lainnya adalah distosia yang menimbulkan partus lama dan kasep. Dalam rangka upaya
menurunkan angka kematian tersebut, WHO menganjurkan untuk memasyarakatkan penggunaan
gravidogram dan partograf dalam pemantauan kehamilan dan persalinan. 1

BAB II
PERAN GRAVIDOGRAM DAN PARTOGRAF
DALAM PEMANTAUAN KEHAMILAN DAN PERSALINAN
I. GRAVIDOGRAM
DEFINISI
Suatu rekam grafik (normogram) untuk menilai pertumbuhan janin secara klinis sederhana
untuk mengenali gangguan pertumbuhan janin intrauterine. Gravidogram ketika pertama kali
diperkenalkan di Rumah Sakit Danderyds pada 1972 dapat menurunkan kurang lebih 50%
mortalitas antepartum, intrapartum, dan neonatal. 4
TUJUAN :
1. Dengan gravidogram kita dapat memantau pertumbuhan janin dengan mengukur tinggi fundus
uteri dari simfisis pubis (cm). Apakah tinggi fundus uteri tersebut sesuai dengan umur
kehamilan. Dengan demikian dapat membantu apakah janin tersebut mengalami keterlambatan
dalam pertumbuhan.
2. Dengan gravidogram kita dapat mengetahui status kesehatan ibu selama hamil. Dengan melihat
tensi apakah lebih dari normal (preeklamsi). Apakah gizinya cukup dengan melihat petambahan
berat badan.
3. Dengan gravidogram kita dapat mengetahui adanya kehamilan ganda (gemeli), hidramion.
Dimana tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan kehamilan.
4. Kesejahteraan janin dapat dipantau dengan hal yang disebut diatas dan dari bunyi jantung janin.
Program nasional menganjurkan penggunaan gravidogram untuk memberikan interpretasi
pertumbuhan janin dari pengukuran tinggi fundus uteri yang diukur dengan menggunakan pita ukur
standar.Dengan memantau grafik kehamilan (gravidogram) sesuai petunjuk yang tertera di buku
KIA maka dapat diketahui bila tinggi puncak rahim berada di luar garis hijau.Bila hal itu terjadi,
maka harus segera dirujuk ke dokter ahli terdekat untuk dilakukan evaluasi lebih lanjut sehingga
dapat mencegah lebih awal adanya kelainan akibat pertumbuhan janin sebelum kehamilan 34
minggu. 5

MANFAAT

1. Dengan pencatatan unsur-unsur dalam gravidogram ini, dapat dimonitor perkembangan janin
dalam kandungan, pertambahan berat badan apakah sesuai dengan standart rata-rata atau kurang
dari 10 persentil (bayi KMK), lebih 10 persentil (bayi BMK).
2. Untuk ibu, faktor-faktor fisik dan laboratorium bisa diperiksa sehingga dapat diketahui bila ada
faktor resiko atau perkembangan kehamilan kearah patologik. 6
PERSIAPAN :
Form status antenatal ibu yang memuat pemeriksaan : 6
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Karakteristik pasien.
Tinggi fundus uteri.
Lingkaran perut.
Presentasi janin
BJA (Bunyi Jantung Anak).
Pemeriksaan penunjang : laboratorium, USG, kardiotokograf.

Penggunaan dan penilaian : 6


1. Identitas : Nama , alamat, No. CM, HPHT, TTP.
2. Lembar gravidogram harus tersedia.
3. Pengisian dilakukan setiap pasien datang untuk PNC.
4. Hari pertama haid terakhir (HPHT) harus jelas.
5. Pengukuran tinggi fundus uteri dilakukan setelah kandung kencing dikosongkan Ukuran
tinggi fundus uteri diukur dari pinggir atas simfisis sampai puncak fundus uteri (dlm cm) (SF).
6. Tekanan darah ibu.
7. Berat badan ibu ditimbang dan dinilai apakah sesuai :
a. Trimester I kenaikan sekitar 1 kg
b. Trimester II kenaikan sekitar 5 kg
c. Trimester III kenaikan sekitar 5,5 kg
8. Lingkar Perut, diukur melalui pusat (dlm cm).
9. Letak anak : sudah masuk PAP atau belum, PuKa/PuKi.
10. Presenting part, bagian terendah anak kepala/bokong, lintang.
11. Nilai ada tidaknya gangguan pertumbuhan janin secara klinis dengan melihat tinggi (S-F)
yang sesuaiusia kehamilannya pada grafik.
Catatan : Bila Tinggi Fundus uteri tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, kemungkinan;
a. Apabila tinggi fundus uteri dibanding umur kehamilan < 10 persentil maka janin KMK.
b. Apabila tinggi fundus uteri dibanding umur kehamilan > 10 persentil maka janin BMK.
Harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,diantaranya : 6
1. Tanya Ulang HPHT.
2. USG.

Gambar 1. Gravidogram.
Belizan et al melaporkan bahwa meramalkan berat badan janin melalui pengukuran tinggi
fundus uteri mempunyai sensitifitas sampai 86% (untuk berat badan lebih kecil dari normal) dan
untuk berat badan normal spesifitasnya sampai 90%. Hal ini didukung Ogunranti yang dalam
penelitiannya menemukan bahwa pengukuran tinggi fundus uteri dalamsentimeter yang
dicantumkan dalam gravidogram dapat meramalkan kejadian bayi-bayi small for date dan large
for date. Quaranta et al, melakukan penelitian prediksi berat badan lahir rendah dengan
pengukuran jarak simfisis-fundus, didapatkan sensitifitas 17% pada kehamilan 20-30 minggu. 5

II. PARTOGRAF
DEFINISI

Partograf dipakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan
dalam mengambil keputusan dalam penatalaksanaan. Partograf dimulai pada pembukaan 4 cm (fase
aktif). Partograf sebaiknya dibuat untuk setiap ibu yang bersalin, tanpa menghiraukan apakah
persalinan tersebut normal atau dengan komplikasi. 6
Partograf merupakan suatu sistem yang tepat untuk memantau keadaan ibu dan janin dari
yang dikandung selama dalam persalinan waktu ke waktu. Partograf adalah catatan grafik mengenai
kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin, untuk menentukan adanya persalinan
abnormal yang menjadi petunjuk untuk tindakan kebidanan jauh sebelum persalinan menjadi
macet.7 Partograf terdiri dari grafik penilaian persalinan dan dianggap sebagai sumber informasi
yang sangat baik untuk menganalisis dilatasi serviks uteri dan presentasi kepala janin dalam
kaitannya dengan waktu persalinan. 8
Tujuan utama penggunaan partograf adalah untuk ; 9
1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks
melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian juga dapat
mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya partus lama.
3. Data pelengkap yang terkait dengan pemantauan kondisi ibu, kondisi bayi, grafik kemajuan
proses persalinan, bahan dan medikamentosa yang diberikan, pemeriksaan laboratorium,
membuat keputusan klinik, dan asuhan atau tindakan yang diberikan dimana semua itu
dicatatkan secara rinci pada status atau rekam medik ibu bersalin dan bayi baru lahir.
Dengan demikian, juga dapat dilaksanakan deteksi secara dini, setiap kemungkinan
terjadinya partus lama dan partus macet yang di gunakan selama fase aktif persalinan. Jika
digunakan secara tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong persalinan untuk
mencatat kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin, asuhan yang diberikan selama persalinan dan
kelahiran, serta menggunakan informasi yang tercatat, sehingga secara dini mengidentifikasi adanya
penyulit persalinan, dan membuat keputusan klinik yang sesuai dan tepat waktu. Penggunaan
partograf secara rutin akan memastikan ibu dan janin telah mendapatkan asuhan persalinan secara
aman dan tepat waktu. Selain itu, dapat mencegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam
keselamatan jiwa mereka. 10
Partograf sebagai alat untuk memantau kemajuan persalinan, berfungsi untuk mencegah
terjadinya partus lama dan partus macet. Partograf diperlukan guna mencegah terjadinya komplikasi
persalinan dan kematian ibu akibat partus lama. Pengetahuan partograf harus dimiliki setiap tenaga
5

penolong kesehatan, termasuk dokter.Sebanyak 9,4 persen kematian ibu adalah karena partus lama,
yang jika tidak ditangani dengan baik dan adekuat, akan berlanjut menjadi partus macet. Banyak
fungsi dari penggunaan partograf, salah satunya adalah akan mencegah partus lama dan partus
macet. 5
PENGGUNAAN PARTOGRAF
World Health Organization (WHO) telah memodifikasi partograf agar lebih sederhana dan
lebih mudah digunakan. Partograf WHO menetapkan dasar sebagai berikut : 10
1.
2.
3.
4.
5.

Fase aktif mulai pembukaan 3cm


Fase laten lamanya 8 jam
Pada fase aktif pembukaan untuk primi dan multi sama tidak boleh kurang dari 1cm/jam
Pemeriksaam dalam hanya dilakukan dengan interval waktu 4 jam
Keterlambatan persalinan selama 4 jam, memerlukan intervensi medis, dengan
mempertimbangkan indikasi dan KU ibu maupun janin.

Partograf harus digunakan untuk : 10


1. Semua ibu dalam fase aktif kala satu persalinan sampai dengan kelahiran bayi, sebagai
elemen penting asuhan persalinan normal.
2. Semua tempat pelayanan persalinan (rumah, puskesmas, klinik bidan swasta, rumah sakit,
dan lain-lain)
3. Semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu selama persalinan dan
kelahiran (Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Bidan, Dokter Umum, Residen, dan
Mahasiswa Kedokteran).

HALAMAN DEPAN PARTOGRAF


Halaman depan partograf mencantumkan bahwa observasi yang dimulai pada fase aktif
persalinan dan menyediakan lajur dan kolom untuk mencatat hasil-hasil pemeriksaan selama fase
aktif persalinan, termasuk : 10
a. Informasi tentang Ibu :
1. Nama, Umur;
2. Gravida, Para, Abortus (keguguran);
3. Nomor catatan medik/nomor Puskesmas;
4. Tanggal dan waktu mulai dirawat (atau jika di rumah: tanggal dan waktu penolong
persalinan mulai merawat ibu).
b. Waktu pecahnya selaput ketuban
6

c. Kondisi Janin :
1. DJJ (Denyut Jantung Janin)
2. Warna dan adanya air ketuban
3. Penyusupan (molase) kepala janin
d. Kemajuan Persalinan:
Kolom kiri besarnya dilatasi serviks (0-10)
Tiap kotak di bagian ini 30 menit
1. Pembukaan serviks
2. Penurunan bagian terbawah janin atau presentasi janin
3. Garis waspada dan garis bertindak
e. Jam dan Waktu
1. Waktu mulainya fase aktif persalinan
2. Waktu actual saat pemeriksaan atau penilaian
f. Kontraksi Uterus
1. Frakuensi dan lamanya
g. Obat-obatan dan cairan yang diberikan:
1. Oksitosin
2. Obat-obatan lainnya dan cairan I.V yang diberikan.
h. Kondisi Ibu:
1. Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh
2. Urin (volume, aseton, atau protein)
i. Asuhan, pengamatan, dan Keputusan Klinik lainnya (dicatat dalam kolom tersedia di sisi
partograf atau di catatan kemajuan persalinan)
CARA PENGISIAN HALAMAN DEPAN PARTOGRAF
1. Informasi Tentang Ibu
Lengkapi bagian awal atas partograf secara teliti pada saat memulai asuhan persalinan.
Waktu kedatangan (tertulis sebagai: jam pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu
datang dalam fase laten persalinan. Catat waktu terjadinya pecah ketuban. 10
2. Kesehatan dan Kenyamanan Janin
Kolom, lajur, dan skala angka pada partograf adalah untuk pencatatan denyut jantung janin
(DJJ), air ketuban, dan penyusupan tulang kepala janin. 10
a. Denyut Jantung Janin
Dengan menggunakan metode seperti yang diuraikan pada bagian Pemeriksaan
Fisik, nilai dan catat denyut jantung janin (DJJ) setiap 30 menit (lebih sering jika ada tandatanda gawat janin).Setiap kotak pada bagian ini, menunjukkan waktu 30 menit. Skala angka
7

di sebelah kolom paling kiri menunjukkan DJJ.Catat DJJ dengan memberi tanda titik pada
garis yang sesuai dengan angka yang menunjukkan DJJ. Kemudian hubungkan titik yang
satu dengan titik lainnya dengan garis yang tidak terputus.
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal angka 180 dan 100.
Akan tetapi, penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di atas 160.Catat
tindakan-tindakan yang dilakukan pada ruang yang tersedia di salah satu dari kedua sisi
partograf. 10

b. Warna dan Adanya Air Ketuban


Nilai air ketuban setiap kali dilakukan pemeriksaan dan nilai warna air ketuban jika
selaput ketuban pecah.Catat temuan-temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur
DJJ.Gunakan lambing-lambang berikut : 10
U : Ketuban utuh (Belum Pecah)
J : Ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
M : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur meconium
D : Ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur darah
K : Ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (Kering)
Mekonium dalam cairan ketuban tidak selalu menunjukkan gawat janin.Jika terdapat
meconium, pantau DJJ secara seksama untuk mengenali tanda-tanda gawat janin (denyut
jantung janin <100 atau >180 kali per menit), ibu segera dirujuk ke fasilitas kesehatan yang
sesuai.Akan tetapi, jika terdapat mekonium kental, segera rujuk ibu ke tempat yang
memiliki asuhan kegawatdaruratan obstetric dan bayi baru lahir. 10
c. Molase
Penyusupan adalah indikator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat
menyesuaikan diri dengan bagian kepas panggul ibu.Tulang kepala yang saling menyusup
atau tumpang tindih, menunjukkan kemungkinan adanya disproporsi tulang panggul
(Cephalo Pelvic Disproportion - CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar-benar
terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat dipisahkan. Apabila ada dugaan
disproporsi tulang panggul, penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan
kemajuan persalinan.Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu dengan
tanda-tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai. 10
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam, bilai penyusupan kepala janin.Catat temuan
di kotak yang sesuai di bawah jalur air ketuban. Gunakan lambang-lambang berikut : 10
1 : Tulang-tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat dipalpasi.
2 : Tulang-tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
3 : Tulang-tulang kepala janin saling tumpah tindih, tapi masih dapat dipisahkan
4 : Tulang-tulang kepala janin tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan
8

3. Kemajuan persalinan
Kolom dan lajur kedua partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan.Angka 0
-10 yang tertera di tepi kolom paling kiri adalah besarnya dilatasi serviks. Tiap angka
mempunyai lajur dan kotak yang lain pada jalur diatasnya, menunjukkan penambahan dilatasi
sebesar 1 cm skala angka 1-5 juga menunjukkan seberapa jauh penurunan janin. Tiap kotak di
bagian ini menyatakan waktu 30 menit. 10
a. Pembukaan Serviks
Nilai dan catat pembukaan serviks tiap 4 jam (lebih sering dilakukan jika ada tandatanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil
temuan setiap pemeriksaan.Tanda X harus ditulis di garis waktu yang sesuai dengan jalur
besarnya pembukaan serviks.Beri tanda untuk temuan-temuan dari pemeriksaan dalan yang
dilakukan pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada.Hubungkan tanda X
dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh. 10
b. Penurunan Bagian Terendah atau Presentasi Janin
Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam (setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada
tanda-tanda penylulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah atau presentasi janin.Pada
persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks umumnya diikuti dengan turunnya bagian
terbawah atau presentasi janin.Namun, kadangkala, turunnya janin diukur seberapa jauh dari
tepi simfisis pubis.Dibagi menjadi 5 kategori dengan symbol 5/5 sampai 0/5.Simbol 5/5
menyatakan bahwa bagian kepala janin belum memasuki tepi atas simfisis pubis, sedangkan
simbol 0/5 menyatakan bahwa bagian kepala janin sudah tidak dapat dipalpasi di atas
simfisis pubis. Kata-kata turunnya kepala dan garis terputus dari 0-5, tertera di sisi yang
sama dengan angka pembukaan serviks. Berikan tanda (o) pada garis waktu yang
sesuai.Sebagai contoh, jika kepala bisa dipalpasi 4/5, tuliskan tanda (o) di nomor
4.Hubungkan tanda (o) dari setiap pemeriksaan dengan garis terputus. 10
c. Garis Waspada dan Garis Bertindak
Garis waspada dimulai pada pembukaan serviks 4 dan berakhir pada titik dimana
pembukaan lengkap diharapkan terjadi jika laju pembukaan 1cm per jam.Pencatatan selama
fase aktif persalinan harus dimulai di garis waspada.Jika pembukaan serviks mengarah ke
sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam), maka harus
dipertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang diperlukan, misalnya; amniotomi,
infus oksitosin atau persiapan rujukan (ke RS atau Puskesmas) yang mampu menangani
penyulit kegawatdaruratan obstetric. Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada,
9

dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 jalur ke sisi kanan, jika pembukaan serviks berada di sebelah
kanan garis bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. 10
4. Jam dan Waktu
a. Waktu Mulainya Fase Aktif persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunannya) tertera kotak-kotak
diberi angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainya fase aktif
persalinan.
b. Waktu Aktual Saat Pemeriksaan Dilakukan
Di bawah lajur kotak untuk waktu mulainya fase aktif, tertera kotak-kotak untuk
mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyatakan satu jam penuh
dan berkaitan dengan dua kotak waktu tiga puluh menit pada lajur kotak di atasnya atau
lajur kontraksi di bawahnya. Kemudian catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak
waktu yang sesuai. 10
5. Kontraksi Uterus
Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima jalur kotak dengan tulisan kontraksi per
10 menit di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi. Setiap 30
menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dan lamanya kontraksi dalam satuan
detik.
Nyatakan jumlah kontaksi yang terjadi dalam waktu 10 menit dengan mengisi angka pada kotak
yang sesuai.Sebagai contoh jika ibu mengalami 3 kontraksi dalam waktu satu kali 10 menit,
maka lakukan pengisian pada 3 kotak kontraksi. 10
6. Obat-Obatan Dan Cairan Yang Diberikan
Dibawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat
oksitosin,obat-obat lainnya dan cairan IV. 10
1. Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah dimulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah
unitoksitosin yang diberikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.
2. Obat-obatan lain dan cairan IV
Catat semua pemberian obat-obatan tambahan dan/atau cairan IV dalam kotak yang
sesuaidengan kolom waktunya
7. Kondisi Ibu
Bagian terbawah lajur dan kolom pada halaman depan partograf, terdapat kotak atau
ruanguntuk mencatat kondisi kesehatan dan kenyamanan ibu selama persalinan.
a. Nadi, tekanan darah dan suhu tubuh
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.
1. Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan (lebih sering
jikadiduga adanya penyulit). Beri tanda titik (.) pada kolom waktu yang sesuai.
10

2. Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan (lebih
seringjika diduga adanya penyulit). Beri tanda panah pada partograf pada kolom waktu
yangsesuai.
3. Nilai dan catat temperatur tubuh ibu (lebih sering jika teIjadi peningkatan mendadak
ataudiduga adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperatur tubuh pada kotak yang
sesuai. 10
b. Volume urin, protein dan aseton
Ukur dan catat jumlahjproduksi urin ibu sedikitnya setiap 2 jam (setiap kali ibu
berkernih).Jika memungkinkan, setiap kali ibu berkernih, lakukan pemeriksaan aseton dan
protein dalam urin. 10
8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya
Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik di sisi luar kolom
partograf,atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan
waktusaat membuat catatan persalinan
Asuhan, pengamatan dan/atau keputusan klinis mencakup : 10
a. Jumlah cairan per oral yang diberikan
b. Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur
c. Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (Obsgin, bidan, dokter umum)
d. Persiapan sebelum melakukan rujukan
e. Upaya Rujukan

11

Gambar 2. Halaman Depan Partograf

12

HALAMAN BELAKANG PARTOGRAF


Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal-hal yang terjadi selama
proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan-tindakan yang dilakukan sejak persalinan kala I
hingga kala IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini disebut sebagai Catatan
Persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang diberikan pada ibu dalam masa nifas terutama selama
persalinan kala empat untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan
membuat keputusan klinik terutama pada pemantauan kala IV (mencegah terjadinya perdarahan
pascapersalinan).Selain itu, catatan persalinan (yang sudah diisi dengan lengkap dan tepat) dapat
pula digunakan untuk menilai/memantau sejauh mana telah dilakukan pelaksanaan asuhan
persalinan yang dan bersih aman. 10
Catatan persalinan adalah terdiri dari unsur-unsur berikut : 10
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Data dasar
Kala I
Kala II
Kala III
Bayi baru lahir
Kala IV

Cara Pengisian Lembar Belakang Partograf : 10


Berbeda dengan halaman depan yang harus diisi pada akhir setiap pemeriksaan, lembar
belakang partograf ini diisi setelah seluruh proses persalinan selesai. Adapun cara pengisian catatan
persalinan pada lembar belakang partograf secara lebih terinci disampaikan menurut unsurunsurnya sebagai berikut : 10
1. Data dasar
Data dasar terdiri dari tanggal, nama bidan, tempat persalinan, alamat tempat persalinan,
catatan, alasan merujuk, tempat rujukan dan pendamping pada saat merujuk. Isi data pada
masing-masing tempat yang telah disediakan, atau dengan cara memberi tanda pada kotak di
samping jawaban yang sesuai. 10
2. Kala I
Kala I terdiri dari pertanyaan-pertanyaan tentang partograf saat melewati garis waspada,
masalah-masalah yang dihadapi, penatalaksanaannya, dan hasil penatalaksanaan tersebut. 10
3. Kala II
Kala II terdiri dari episiotomi, pendamping persalinan, gawat janin, distosia bahu,
masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya. 10

13

4. Kala III
Kala III terdiri dari lama kala III, pemberian oksitosin, penegangan tali pusat terkendali,
pemijatan fundus, plasenta lahir lengkap, plasenta tidak lahir > 30 menit, laserasi, atonia uteri,
jumlah perdarahan, masalah penyerta, penatalaksanaan dan hasilnya, isi jawaban pada tempat
yang disediakan dan beri tanda pada kotak di samping jawaban yang sesuai. 10
5. Bayi baru lahir
Informasi tentang bayi baru lahir terdiri dari berat dan panjang badan, jenis kelamin,
penilaian kondisi bayi baru lahir, pemberian ASI, masalah penyerta, penatalaksanaan terpilih
dan hasilnya.Isi jawaban pada tempat yang disediakan serta beri tanda ada kotak di samping
jawaban yang sesuai. 10
6. Kala IV
Kala IV berisi data tentang tekanan darah, nadi, suhu, tinggi fundus, kontraksi uterus,
kandung kemih dan perdarahan.Pemantauan pada kala IV ini sangat penting terutama untuk
menilai apakah terdapat risiko atau terjadi perdarahan pascapersalinan.Pengisian pemantauan
kala IV dilakukan setiap 15 menit pada satu jam pertama setelah melahirkan, dan setiap 30
menit pada satu jam berikutnya.Isi setiap kolom sesuai dengan hasil pemeriksaan dan Jawab
pertanyaan mengenai masalah kala IV pada tempat yang telah disediakan. 10

14

Gambar 3. Halaman Belakang Partograf

15

Gambar 4. Contoh Partograf Persalinan Normal


16

Gambar 5. Contoh Partograf Persalinan Kasep


17

BAB III
KESIMPULAN
Gravidogram dan partogram sangat bermanfaat dalam pemantauan selama kehamilan dan
persalinan. Dengan adanya gravidogram klinis dapat mengetahui adanya gangguan pertumbuhan
janin intrauterin sehingga dapat membuat rujukan ke dokter ahli untuk pemantauan lebih lanjut.
Dengan pemantauan yang lebih dini, + 70% kematian akibat pertumbuhan janin terhambat dapat
dicegah bila kelainan ini dikenal sebelum kehamilan 34 minggu, sehingga diharapkan dapat
menurunkan angka kematian peri-natal. Kematian perinatal merupakan salah satu tolok ukur yang
peka untuk menilai derajat kesehatan masyarakat karena melalui angka kematian perinatal kita
dapat menilai tingkat pelayanan obstetri pada suatu rumah sakit atau suatu negara. Dengan
melakukan pemeriksaan pengawasan wanita hamil secara teratur diharapkan para dokter umum
sebagai lini terdepan pelayanan kesehatan primer dapat mengenali secara lebih dini adanya
gangguan pertumbuhan janin intrauterine serta merujuk ke pusat yang lebih tinggi dalam upaya
menurunkan angka kematian perinatal akibat gangguan pertumbuhan janin intrauterin.
Penggunaan partograf sangat bermanfaat dalam menilai ada tidaknya kelainan dalam proses
persalinan. Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang
cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pelepasan dan pengeluaran placenta dan
selaput janin dari tubuh ibu. Partograf merupakan lembaran form dengan berbagai grafik dan kode
yang menggambarkan berbagai parameter untuk menilai kemajuan persalinan. Gambaran partograf
dinyatakan dengan garis tiap parameter (vertical) terhadap garis perjalanan waktu (horizontal). Jika
digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong persalinan untuk
mencatat kemajuan persalinan, mencatat kondisi ibu dan janinnya, mencatat asuhan yang diberikan
selama persalinan dan kelahiran, menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini
penyulit persalinan, menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan klinik yang
sesuai dan tepat waktu.

18

DAFTAR PUSTAKA
1. Riskesdas dalam Kementrian Kesehatan RI. 2010.

Asuhan Persalinan Normal.

Perkumpulan Obstetrik dan Ginekologi Indonesia. Jakarta.


2. Biro Pusat Statistik.2006. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2005-2006. Jakarta :
Biro Pusat Statistik.
3. Stalker, Peter. 2008. Laporan MDGs 2008 : Kita Suarakan MDGs Demi Pencapaiannya di
Indonesia. Jakarta : Bappenas.
4. Westin Bjrn. 2011. Gravidogram And Fetal Growth. Acta Obstetricia et Gynecologica
Scandinavica. Vol 56.
5. Sastrawinata, U. S. 2008. Pengetahuan dan Sikap Bidan di Rumah Sakit Immanuel
Mengenai Gravidogram Menurut JICA. JKM. Vol.8 No.1.Hal: 52 58.
6. Universitas Padjajaran. 2005. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi.
Bandung: RSHS.
7. Rangkuti, Z. 2011. Penilaian Penggunaan Partograf APN Oleh Bidan di Puskesmas
PONED Kota Medan.
8. Fauveau V, de Bernis L. 2006. Good obstetrics revisited : Too many evidence-based
practices and devices are not used. Int J Gynecol Obstet. Vol. 94. pp :179-84.
9. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Indonesia Tahun 2007.Jakarta : Badan Litbang Kesehatan.
10. Keman Kusnarman. 2010. Partograf. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirhardjo. Jakarta. PT.

Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo.

19

Anda mungkin juga menyukai