Anda di halaman 1dari 4

1.

Silikosis
a. Definisi
Penyakit saluran pernafasan akibat menghirup debu silika, yang menyebabkan
peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru-paru. Debu yang masuk
ke dalam paru-paru mengalami masa inkubasi sekitar 2-4 tahun.
Terdapat 3 jenis silikosis:

Silikosis kronis simplek, terjadi akibat pemaparan sejumlah kecil debu


silika dalam jangka panjang (lebih dari 20 tahun). Nodul-nodul
peradangan kronis dan jaringan parut akibat silika terbentuk di paru-paru
dan kelenjar getah bening dada.

Silikosis akselerata, terjadi setelah terpapar oleh sejumlah silika yang


lebih banyak selama waktu yang lebih pendek (4-8 tahun).
Peradangan, pembentukan jaringan parut dan gejala-gejalanya terjadi
lebih cepat.

Silikosis akut, terjadi akibat pemaparan silikosis dalam jumlah yang


sangat besar, dalam waktu yang lebih pendek. Pada silikosis simplek
dan akselerata bisa terjadi fibrosif masif progresif. Fibrosis ini terjadi
akibat pembentukan jaringan parut dan menyebabkan kerusakan pada
struktur paru yang normal

b. Etiologi
Silikosis terjadi pada orang-orang yang telah menghirup debu silika selama
beberapa tahun. Silika adalah unsur utama dari pasir, sehingga pemaparan
biasanya terjadi pada: buruh tambang logam, pekerja pemotong batu dan granit,
pekerja pengecoran logam, pembuat tembikar.
Silika bebas biasanya terjadi karena peledakan, penghancuran, pengeboran, dan
penggilingan batuan. Bisa juga terdapat dari usaha komersial yang
menggunakan granit, batu pasir serta pasir giling atau pembakaran diatomit.
Oleh karena silika bebas terdapat pada batu, maka pekerja yang berisiko terkena
silikosis adalah para penambang dan ekstraksi batu-batu keras, pekerjaan teknik
sipil dengan batu keras,penghalusan serta pemolesan batu, percetakan,
pembentukan, dan penyemprotan pasir di tempat pengecoran dan pembersihan

bangunan. Juga terdapat pada pengerokan wadah rebus, pabrik keramik,


porselin dan enamel, serta pekerjaan-pekerjaan yang menggunakan pasir
sebagai amplas.
c. Patogenesis
Partikel-partikel silika yang berukuran 0.5-5 m akan tertahan di alveolus.
Partikel ini kemudian di telan oleh sel darah putih yang khusus. Banyak dari
partikel ini dibuang bersama sputum sedangkan yang lain masuk ke dalam
aliran limfatik paru-paru, kemudian mereka ke kelenjar limfatik. Pada kelenjar,
sel darah putih itu kemudia berintregasi, meninggalkan partikel silika yang akan
menyebabkan damapak yang lebih luas. Kelenjar itu menstimulasi pembentukan
bundel-bundel nodular dari jaringan parut dengan ukuran mikroskopik, semakin
lama semakin banyak pula nodul yang terbentuk, mereka kemudian bergabung
menjadi nodul yang lebih besar yang kemudian akan merusak jarul normal
cairan limfatik melalui kelenjar limfe.
Ketika ini terjadi, jalan lintasan yang lebih jauh dari sel yang telah tercemar
oleh silika akan masuk ke jaringan limfe paru-paru. Sekarang, foci baru di
dalam pembuluh limfatik bertindak sebagai gudang untuk sel-sel yang telah
tercemar oleh debu, dan parut nodular terbentuk terbentuk pada lokasi ini juga.
Kemudian, nodul-nodul ini akan semakin menyebar dalam paru-paru.
Gabungan

dari

nodul-nodul

itu

kemudian

secara

berangsur-angsur

menghasilkan bentuk yang mirip dengan masa besar tumor. Sepertinya, silika
juga menyebabkan menyempitnya saluran bronchial yang merupakan seba
utama dari dyspnea.
d. Gejala
menderita batuk berdahak karena saluran pernafasannya mengalami iritasi

(bronkitis).
sesak nafas: mula-mula sesak nafas hanya terjadi pada saat melakukan

aktivitas, tapi akhirnya sesak timbul bahkan pada saat beristirahat.


Gejala tambahan yang mungkin ditemukan, terutama pada silikosis akut:

demam, penurunan berat badan, gangguan pernafasan yang berat.


e. Pemeriksaan

Pemeriksaan yang dilakukan: Rontgen dada (terlihat gambaran pola nodul dan
jaringan parut), tes fungsi paru, tes PPD (untuk TBC).
Biasanya akan ditanyakan secara terperinci mengenai jenis pekerjaan, hobi dan
aktivitas lainnya yang kemungkinan besar merupakan sumber pemaparan silika.
Pemeriksaan yang dilakukan: fototoraks (terlihat gambaran pola

nodul dan

jaringan parut) dan tes faal paru.


Pada silikosis akut
a. Foto toraks
Pada foto toraks tampak fibrosis interstisial difus, fibrosis kemuclian berlanjut
dan terdapat pada lobus tengah dan bawah membentuk diffuse ground glass
appearance mirip edema paru.
b. Pemeriksaan faal paru
Kelainan faal paru yang timbul adalah restriksi berat dan hipoksemi disertai
penurunan kapasitas difusi.
Pada silikosis kronik:
a. Foto toraks
Pada silikosis kronik yang sederhana, foto toraks menunjukkan nodul
terutama di lobus atas dan tengah, mungkin disertai klasifikasi. Pada bentuk
lanjut tertdapat masa yang besar yang tampak seperti sayap malaikat(angel's
wing). Sering terjadi reaksi pleura pada lesi besar yang padat.Kelenjar hilus
biasanya membesar dan bayangan egg shell calcification.
b. Pemeriksaan Faal Paru
Jika fibrosis masif progresif terjadi, volume paru berkurang dan bronkus
mengalami distorsi. Faal paru menunjukkan gangguan restriksi, obstruksi atau
campuran.Kapasitas difusi dan komplians menurun.Timbul gejala sesak
napas, biasa disertai batuk dan produksi sputum.Sesak pada awalnya terjadi
pada saat aktivitas, kemudian pada waktu istirahat dan akhirya timbul gagal

kardio respirasi.
Pada silikosis terakselerasi:
Pemeriksaan silikosis terakselerasi hampir sama dengan silikosis kronik.

Gambaran

foto toraks

pada

silicosis

kronis:
Terlihat

nodu-nodul di

lobus atas
f.

dan tengah
Diagnosis
Akan
ditanyakan
secara
terperinci

mengenai jenis pekerjaan, hobi dan aktivitas lainnya yang kemungkinan besar
merupakan sumber pemaparan silika. Penyakit silikosis akan memburuk jika
sebelumnya sudah menderita TB paru, bronchitis, asma dll.
g. Terapi
Terapi suportif terdiri dari obat penekan batuk, bronkodilator dan oksigen. Jika
terjadi infeksi, bisa diberikan antibiotik
h. Pencegahan
Pengawasan terhadap di lingkungan kerja dapat membantu mencegah terjadinya
silikosis. Jika debu tidak dapat dikontrol, (seperti halnya dalam industri
peledakan), maka pekerja harus memakai peralatan yang memberikan udara
bersih atau sungkup. Pekerja yang terpapar silika, harus menjalani foto rontgen
dada secara rutin. Untuk pekerja peledak pasir setiap 6 bulan dan untuk pekerja
lainnya setiap 2-5 tahun, sehingga penyakit ini dapat diketahui secara dini. Jika
foto rontgen menunjukkan silikosis, dianjurkan untuk menghindari pemaparan
terhadap silica.