Anda di halaman 1dari 5

Gladding TS. 2000. Counseling: A Comprehensive Profession. New Jersey: Prentice Hall, Inc.

D. Teknik konseling dalam pendekatan REBT


REBT meliputi sejumlah tehnik yang beragam. Dua tehnik utama
adalah teaching dan disputing. Sebelum perubahan dapat dilakukan, klien harus mempelajari
dasar ide REBT dan memahami bagaimana pikiran berkaitan dengan emosi dan perilaku,
Sebagai proses, REBT adalah sangat didaktik dan sangat direktif sifatnya. Pada beberapa sesi
awal terapi, konselor mengajari klien mereka anatomy of an emotion: bahwa perasaan
merupakan hasil dari pikiran, bukan dari kejadian, dan self-talk mempengaruhi emosi.
Prosedur ini dikenal dengan sebutan rational-emotive education (REE).
Disputing pemikiran dan kepercayaan memiliki tiga bentuk: kognitif, imaginal, dan
behavioral.Cognitive disputation meliputi penggunaan pertanyaan langsung, penalaran logis,
dan persuasi. Pertanyaan langsung akan menantang klien untuk membuktikan bahwa respon
mereka logis. Terkadang inquiry meliputi penggunakan kata why atau mengapa, yang mana
jarang digunakan dalam konseling karena kata tanya tersebut membuat kebanyakan orang
menjadi defensif dan menghalangi eksplorasi. Contohnya meliputi Mengapa harus anda?
dan Mengapa harus seperti itu? Selama inquiry ini, klien belajar untuk membedakan antara
pemikiran rasional dan irasional. Mereka juga belajar superioritas pemikiran rasional.
Bentuk lain dari cognitive disputation adalah penggunaan syllogisms, sebuah bentuk
deduktif penalaran yang terdiri dari dua premis dan sebuah kesimpulan (Cohen, 1987; dalam
Gladding, 1996). Silogisme membantu klien dan konselor secara lebih menyeluruh
memahami falasi induktif dan deduktif yang mendasari emosi. Contohnya dalam pemikiran
Aku tidak suka, prosesnya seperti ini:
Premis Mayor: Tidak ada orang yang suka dibohongi.
Premis Minor: Aku dibohongi.
Kesimpulan: Aku tidak suka dibohongi.
Imaginal Disputation tergantung pada kemampuan klien untuk membayangkan dan
menggunakan sebuah tehnik yang dikenal sebagai rational-emotive imagery (REI)
(Maultsby, 1984; dalam Gladding, 1996). REI digunakan dalam satu dari dua cara. Pertama,
klien diminta untuk membayangkan situasi dimana mereka cenderung menjadi kecewa. Klien
memeriksa self-talk mereka selama situasi yang dibayangkan tersebut. Lalu konselor
meminta klien untuk membayangkan situasi yang sama namun kali ini menjadi
lebih moderate dalamself-talk mereka. Kedua, konselor meminta klien untuk membayangkan
situasi dimana klien merasa atau berperilaku berbeda dari beberapa contoh nyata. Klien lalu
diinstruksikan untuk memeriksa self-talk yang digunakan pada situasi yang dibayangkan ini.
REI membutuhkan latihan. Ini akan bekerja dengan klien yang memiliki imajinasi yang jelas
dan, setelah beberapa latihan, dengan orang-orang yang tidak memilikinya.
Emotional Control Card (ECC) adalah alat yang membantu klien mereinforce dan
memperluas latihan REI (Sklare, Taylor, & Hyland, 1985; dalam Gladding, 1996). Empat
kategori emosi yang melemahkan (marah,self-criticism, kecemasan, dan depresi) di-list pada

ECC yang berukuran dompet. Dibawah masing-masing kategori adalah daftar perasaan yang
tidak benar atau self-destructive dan sebuah daftar paralel perasaan yang benar. Dalam
sebuah situasi yang secara potensial mengganggu, klien dapat merujuk ke kartu dan
mengubah kualitas perasaan tentang situasi tersebut. Pada sesi berikutnya dengan konselor,
klien mendiskusikan penggunaan kartu dalam pembangunan pikiran secara kognitif untuk
membuat mereka rasional.
Behavioral disputation meliputi berperilaku dengan cara yang merupakan kebalikan
dari cara biasanya klien. Terkadang behavioral disputation berbentuk bibliotherapy, yang
mana klien membaca sebuah selp-help book. Pada waktu lainnya, behavioral
disputation meliputi kegiatan role play dan menyelesaikan tugas pekerjaan rumah yang
mana klien benar-benar melakukan aktivitas yang sebelumnya dianggap tidak mungkin untuk
dilakukan. Klien membawa tugasnya yang sudah selesai kepada konselor REBT pada sesi
konseling berikutnya dan mengevaluasinya dengan bantuan konselor.
Jika disputasi kepercayaan irasional (disputation of irrational beliefs/iBs) berhasil,
Filosofi Efektif (Effective Philosophy) baru akan muncul (Ellis, 1996a; dalam Gladding, 1996).
Filosofi ini akan meliputi Efek Kognitif (cognitive Effect / cE) baru yang mana merupakan
sebuah pernyataan kembali Kepercayaan rasional (rational Beliefs/rBs) yang asli. Contohnya,
Ini tidak buruk, hanya merepotkan, bahwa aku ditolak oleh orang-orang tertentu.
Dua teknik REBT lainnya adalah confrontation dan encouragement. Seperti yang
sudah ditulis sebelumnya, konselor REBT secara eksplisit mendorong klien untuk
mengabaikan proses berpikir yang tidak bekerja dan mencoba REBT. Terkadang, konselor
akan menantang klien yang menganggap berpikiran secara rasional padahal sebenarnya
tidak. Pada waktu yang lainnya, konselor mendorong klien untuk lanjut bekerja dari dasar
REBT bahkan ketika tidak didorong. Konfrontasi tidak perlu dilakukan seperti cara yang
dilakukan Ellis: mengkonfrontasi dengan penuh semangat dan menyerang kepercayaan klien
(Johnson, 1980; dalam Gladding, 1996). Tapi konselor bisa berempati dan mendesak pada
waktu yang sama.
Satu variasi menarik pada REBT adalah rational behavior therapy (RBT), yang
diformulasikan oleh Maxie Maultsby (1971, 1973, 1975, 1984; dalam Gladding, 1996). RBT
menekankan pada perubahan kognitif dalam cara lebih behavioral daripada yang sebelumnya
Ellie konseptualisasikan. Ini meliputi mengecek kejadian yang mengaktivasi seolah-oleh
seseorang memiliki kamera untuk menjadi yakin dengan objektivitas.
Dalam RBT, klien secara teratur menyelesaikan tugas pekerjaan rumah dalam rational
self-analysis(RSA), dimana mereka menuliskan kejadian-kejadian signifikan dalam hidup
mereka dan pikiran mereka dan perasaan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian tersebut.
Kepercayaan orang tersebut kemudian dievaluasi tingkat rasionalitas mereka dan dirubah
sesuai dengan peraturab perilaku rasional. Metode meng-assesspemikiran klien ini berguna
dalam membangun catatan kemajuan terapi.

Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA :


Thomson Brooks/Cole.
Dryden, W. & Branch, R. 2008. The Fundamentals of Rational Emotive Behaviour
Therapy : A Training Handbook. USA : John Wiley & Sons, Ltd.
Dryden, W. & Neenan, M. 2006. Rational Emotive Behavior Therapy : 100 Key Points
& Techniques. London & New York : Routledge Taylor & Francis Group
Ellis, A. 2002. Overcoming Resistance : A Rational Emotive Behavior Therapy
Integrated Approach. New York : Springer Publishing Company, LLC.
Ellis, A. & Dryden, W. 1997. The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy. New
York : Springer Publishing Company
Flanagan, S. J., & Flanagan, S. R. 2004. Counseling and Psychotherapy Theories in
Context and Practice. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.
Froggatt, W. 2005. A Brief Introduction To Rational Emotive Behaviour Therapy.
Journal of Rational-Emotive and Cognitive Behaviour Therapy, 3 (1): 1-15.
Fryer, D. 2011. Putting the Fun Back into Dysfunctional: Is the use of humour in
Rational Emotive Behaviour Therapy a desirable condition or an amusing aside?.
The Rational Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 63-72.
Kumar, G. V. 2009. Impact of Rational-Emotive Behaviour Therapy (REBT) on
Adolescents with Conduct Disorder (CD). Journal of the Indian Academy of Applied
Psychology, 35 : 103-111.
Muhamad, Z. 2012. Rational Emotive Behavior Therapy :To Reduce Emotional
Disturbance. Journal of Educational Psychology & Counseling, 6 : 119-122.
Najafi, T., Jamaluddin, S., & Lea-Baranovich, D. 2012. Effectiveness of Group REBT
in Reducing Irrational Beliefs in Two Groups of Iranian Female Adolescents Living in
Kuala Lumpur. Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in Business, 3
(12) : 312-322.
Papalekas, C. 2011. The effects of Rational and Irrational beliefs in determining
unhealthy anger and anger functional and dysfunctional inferences. The Rational
Emotive Behaviour Therapist, 14 (1) : 7-30.
Sharf, R. S. 2012. Theories of Psychotherapy and Counseling: Concepts and Cases.
USA : Brooks/Cole.

D. PRAKTIK
1. Tujuan REBT
REBT membantu individu individu menanggulangi problem problem
perilaku dan emosi mereka untuk membawa mereka ke kehidupan yang lebih
bahagia, lebih sehat, dan lebih terpenuhi. Terapis REBT bertujuan membuat
menjadi terapis bagi diri mereka sendiri untuk memecahkan problem problem
di masa sekarang dan masa mendatang.
2. Solusi elegan dan tak elegan
Strategi perubahan klien yang disukai dalam REBT, adalah membuat
klien melepaskan segala yang mengharuskan dirinya secara kaku ( contohnya
aku harus, aku sebaiknya dan sebagainya) tak hanya problem-problem
yang sedang dihadapi, namun juga dari kehidupan mereka, untuk
meminimalkan gangguan emosi di masa depan.
3. Memperkenalkan REBT pada klien
Disini klien ditunjukan dua bentuk tanggung jawab, yaitu emosional dan
terapeutik. Untuk membantu klien menyerap tanggung jawab tersebut, terapis
REBT mengajari klien untuk memisahkan problem yang sedang dihadapi klien
menjadi komponen A ( kejadian atau situasi ), B (keyakinan), C ( emosi dan
perilaku ).
4. Hubungan antara terapis dank lien
Terapis REBT biasanya berhati hati untuk tidak menunjukan
kehangatan terlalu besar karena itu justru memperkuat kebutuhan klien untuk
dicintai dan diterima dan menyakinkan bahwa dukungan yang banyak, alih
alih kerja keras, adalah jawaban untuk mengatasi masalahnya.
5. Asesmen
Terapis REBT mencari informasi yang jelas dan spesifik dari klien pada
sesi pertama untuk menempatkan masalahnya dalam bingkai kerja ABC.
6. Teknik kognitif
Klien diajar untuk memeriksa bukti bukti yang mendukung dan
menentang keyakinan irasioanalnya dengan menggunakan tiga kriteria umum :
a. Logika
b. Realisme

c.

Kemanfaatan

7.

Teknik perilaku
Teknik ini dinegosiasikan dengan klien atas dasar sifatnya yang
menantang, tetapi tidak sampai membuat kewalahan, yaitu, tugas tugas yang
cukup menstimulus untuk mewujudkan perubahan terapeutik, namun tidak
terlalu menakutkan karena justru akan menghambat klien menjalankan tugas
tugas tersebut. Ini sepenuhnya melibatkan emosi klien saat ini dengan penuh
semangat awal keyakinan keyakinan irasionalnya. Teknik ini merupakan
pelatihan penyerangan rasa malu dimana klien berperilaku dengan cara yang
memalukan di kehidupan nyata untuk menimbulkan cemooh atau celaan publik.
8. Teknik emotif
Teknik ini merupakan latihan penyerangan rasa malu dimana klien
berprilaku dengan cara yang memalukan di kehidupan nyata untuk
menimbulkan cemoohan atau celaan public, misalnya mengajak anjing imajiner
berjalan-jalan, dan pada saat yang sama berusaha keras menerima iri dengan
pernyataan-pernyataan rasional seperti hanya karena aku bertingkah bodoh,
tidak berarti aku seorang bodoh.
9. Teknik imajeri
Teknik utama adalah teknik imajeri emotif rasional dimana klien
didorong untuk merasa cemas dengan membanyangkan melakukan prestasi
yang buruk dihadapan kolega koleganya dan kemudian, tanpa mengubah
rincian dari gambar mental tersebut, mengubah emosi sang kjlien pada satu hal
yang dicemaskan. Perubahan emosi tersebut terjadi pada klien yang
menggantikan keyakinan irasionalnya dengan keyakinan irasional.
10. Proses perubahan terapeutik
Proses ini meliputi beberapa langkah untuk dipelajari klien :
a. Bahwa individu individu pada umumnya membuat gangguan gangguan
emosional mereka sendiri mengenai peristiwa peristiwa kehidupannya melalui
pikiran irasional.
b. Bahwa individu individu memiliki kemampuan untuk memperkecil atau
menghilangkan gangguan gangguan tersebut dengan mengidentifikasi,
menantang, dan mengubah pola pola kaku pemikiran mereka.
c. Untuk memperoleh pola pikir yang rasional atau fleksibel.
11. Bentuk sesi terapis yang khas
Sesi ini termasuk lingkup agenda topik yang akan dibicarakan untuk
menjaga terapis dank lien tetap berfokis pada problem problem klien.
Palmer, Stephen.2010.konseling dan psikoterapi.Yogyakarta : Pustaka pelajar
Gibson, Robert L., & Mitchell, Marianne H. 2011. BIMBINGAN DAN
KONSELING.Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR