Anda di halaman 1dari 12

DETERMINAN KEJADIAN DERMATITIS PADA NELAYAN DI PUSKESMAS TEMPE

Determinant Dermatitis Incidence of Fisherman In Tempe’s Health Center

Febriyani Bahar, Rismayanti, Indra Dwinata Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (febriyani.bahar@ymail.com, rismayanti707ti@gmail.com, dwinata_indra@yahoo.co.id,

085298009090)

ABSTRAK Prevalensi dermatitis di Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo dari tahun ke tahun semakin meningkat dan tahun 2013 prevalensi dermatitis mengalami penurunan dengan jumlah kasus 5.426. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua laki-laki yang berprofesi sebagai nelayan di wilayah kerja Puskesmas Tempe sebanyak 385 orang dengan metode pengambilan sampel accidental sampling. Hasil penelitian ini menemukan kejadian dermatitis pada nelayan sebanyak 78 responden (20,3%), berdasarkan hasil analisis menggunakan uji chi square lama kontak berhubungan dengan kejadian dermatitis (p=0,000), riwayat alergi berhubungan dengan kejadian dermatitis (p=0,000), sumber air tidak berhubungan dengan kejadian dermatitis (p=0,267), kualitas air tidak berhubungan dengan kejadian dermatitis (p=0,293), intensitas mandi berhubungan dengan kejadian dermatitis (p=0,000), dan kebersihan pakaian tidak berhubungan dengan kejadian dermatitis (p=0,051). Kesimpulan penelitian ini ada hubungan antara lama kontak, riwayat alergi, intensitas mandi terhadap kejadian dermatitis dan tidak ada hubungan antara sumber air, kualitas air, kebersihan pakaian terhadap kejadian dermatitis. Kata kunci : Dermatitis, lama kontak, alergi.

ABSTRACT The prevalence of dermatitis in Tempe Health Center Wajo District from year to year was increasing and in 2013 the prevalence of dermatitis decreased with the number of 5426 cases. The aim of this research is to determine the factors which associated with the incidence of dermatitis on fisherman in Tempe Health Center. This type of research is observational analytic with cross sectional design. The population in this research were all men who work as fishermen in tempe’s health center as many as 385 people with using accidental sampling method. Results of this research shows that the incidence of dermatitis on fishing as much as 78 respondents (20,3%), based on results using chi square, contact duration associated with the incidence of dermatitis (p=0.000), allergy history associated with the incidence of dermatitis (p=0,000), water source not associated with the incidence of dermatitis (p=0,267), water quality is not associated with the incidence of dermatitis (p=0,293), shower intensity associated with the incidence of dermatitis (p=0,000), and the cleanliness of the clothes are not associated with the incidence of dermatitis (p=0,051). In conclusion, there is a relationship between contact duration, allergy history, and shower intensity to the incidence of dermatitis and there is no relation between the water source, water quality, cleanliness of clothesto the incidence of dermatitis. Keywords: Dermatitis, contact duration, allergy.

water quality, cleanliness of clothesto the incidence of dermatitis. Keywords: Dermatitis, contact duration, allergy. 1

1

PENDAHULUAN

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO (World Trade Organisation) dan GATT (General Agreement on Tariff and Trade) yang akan berlaku tahun 2020 mendatang. Kesehatan dan Keselamatan Kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. 1 Masyarakat Indonesia sebagian besar berprofesi sebagai nelayan karena Indonesia merupakan wilayah yang terdiri atas perairan, ada sekitar 60 juta penduduk Indonesia bermukim di wilayah pesisir dan penyumbang sekitar 22 % dari pendapatan brutto nasional. Kasus penyakit kulit akibat kerja pada nelayan disebabkan oleh kondisi lingkungan kerja dan kondisi kerjanya. 2 Prevalensi dermatitis di Indonesia sangat bervariasi. Pada pertemuan dokter spesialis kulit tahun 2009 dinyatakan sekitar 90% penyakit kulit akibat kerja merupakan dermatitis kontak, baik iritan maupun alergik. 3 Penyakit kulit akibat kerja yang merupakan dermatitis kontak sebesar 92,5%, sekitar 5,4% karena infeksi kulit dan 2,1% penyakit kulit karena sebab lain. Pada studi epidemiologi, Indonesia memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis kontak iritan dan 33,7% adalah dermatitis kontak alergi. 4 Beberapa jenis dermatitis yang terjadi di masyarakat, tetapi jenis dermatitis yang sering terjadi pada nelayan adalah dermatitis kontak iritan dan dermatitis alergi. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya dermatitis kontak yang dapat terbagi dalam faktor eksogen dan faktor endogen. Faktor eksogen meliputi tipe dan karakteristik agen, karakteristik paparan, serta faktor lingkungan. Sedangkan faktor endogen meliputi faktor genetik, jenis kelamin, usia, ras, lokasi kulit, dan riwayat atopik. 5 Hasil penelitian yang dilakukan di Kabupaten Bantaeng menunjukkan bahwa ada hubungan antara dermatitis kontak iritan pada petani rumput laut dengan lama bekerja lebih dari 20 hari per bulan dengan nilai OR=2,60. Dermatitis pada nelayan mungkin akibat air laut yang karena kepekatannya menarik air dari kulit, dalam hal ini air laut merupakan penyebab dermatitis kulit kronis dengan sifat rangsangan primer. Penyakit kulit mungkin pula disebabkan oleh jamur-jamur atau binatang- binatang laut. Pekerjaan basah merupakan tempat berkembangnya penyakit jamur, misalnya monoliasis. Dermatitis dapat menyebabkan alergi, iritasi kulit, hipersensitivitas kulit, dan juga eczema. 6 Dermatitis juga mungkin saja dapat disebabkan oleh Serkaria Schistosoma, dan

kulit, dan juga eczema. 6 Dermatitis juga mungkin saja dapat disebabkan oleh Serkaria Schistosoma, dan 2

2

penyakit ini di timbulkan setelah seseorang masuk ataupun berenang ke dalam air danau atau sedang bekerja di sawah yang sering dikenal dengan Cercarial Dermatitis. Cercarial Dermatitis ini ditemukan tahun 1928 oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Amerika Serikat bernama W.W Cort yang bekerja di bagian Biologi Universitas Michigan yang terletak di pinggiran Danau Douglas. Prevalensi dermatitis di Puskesmas Tempe pada tahun 2011 sebanyak 16.947 kasus yang merupakan urutan ketiga jenis penyakit terbanyak di Kabupaten Wajo. Tahun 2012 prevalensi dermatitis meningkat menjadi 20.281 kasus tetapi berdasarkan urutan penyakit, dermatitis mengalami penurunan, yaitu berada diurutan keempat penyakit terbanyak di Kabupaten Wajo. Prevalensi dermatitis pada tahun 2013 mengalami penurunan jumlah kasus menjadi 5.426 kasus tetapi berdasarkan urutan penyakit, dermatitis mengalami peningkatan, yaitu berada di urutan ketiga penyakit terbanyak di Kabupaten Wajo. 7 Berdasarkan latar belakang tersebut maka penelitian ini bertujuan mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo.

BAHAN DAN METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross sectional study. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo pada bulan Februari-Maret 2015. Populasi dalam penelitian ini adalah semua masyarakat yang bekerja sebagai nelayan di Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo. Sampel pada penelitian ini sebanyak 385 responden dengan penarikan sampel menggunakan accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dari hasil wawancara dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Analisis data yang dilakukan, yaitu analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji chi square. Penyajian data dalam bentuk tabel disertai narasi.

HASIL Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa dari 385 responden terdapat 307 orang (79,7%) yang tidak pernah menderita dermatitis dan hanya 78 orang (20,3%) yang pernah menderita dermatitis (Tabel 1). Kelompok umur yang paling banyak adalah umur 36-45 tahun sebanyak 131 orang (34%) dan kelompok umur terendah, yaitu 75-90 tahun sebanyak 32 orang (8,3%). Berdasarkan tingkat pendidikan responden paling banyak pada tingkat pendidikan

3

75-90 tahun sebanyak 32 orang (8,3%). Berdasarkan tingkat pendidikan responden paling banyak pada tingkat pendidikan 3

Sekolah Dasar (SD) sebanyak 263 orang (68,3%) dan hanya 44 orang (3,1%) dengan tingkat pendidikan SMP (Tabel 2). Hasil penelitian diperoleh lama kontak menunjukkan bahwa responden yang memiliki lama kontak 5 jam terdapat 13 orang (10%) yang menderita dermatitis, sedangkan responden dengan lama kontak <5 jam terdapat 65 orang (25,5%) yang menderita dermatitis. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang signifikan antara lama kontak terhadap kejadian dermatitis pada nelayan (p=0,000). Riwayat alergi menunjukkan bahwa responden yang memiliki riwayat alergi terdapat 74 orang (46,4%) yang menderita dermatitis, sedangkan responden yang tidak memiliki riwayat alergi hanya 4 orang (31,6%) yang menderita dermatitis. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa riwayat alergi berhubungan terhadap kejadian dermatitis pada nelayan (p=0,000) (Tabel 3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki sumber air buruk terdapat 62 orang (19,3%) yang menderita dermatitis, sedangkan responden yang memiliki sumber air baik terdapat 16 orang (25,4%) yang menderita dermatitis. Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan antara sumber air terhadap kejadian dermatitis pada nelayan (p=0,267). Kualitas air menunjukkan bahwa responden yang memiliki kualitas air buruk dan menderita dermatitis sebanyak 71 orang (19,7%) , sedangkan responden yang memiliki kualitas air baik dan menderita dermatitis sebanyak sebanyak 7 orang (29,2%). Hasil uji statistik diperoleh bahwa kualitas air tidak berhubungan terhadap kejadian dermatitis pada nelayan (p=0,901) (Tabel 3). Variabel intesitas mandi menunjukkan bahwa responden yang memiliki intensitas mandi buruk dan menderita dermatitis sebanyak 66 orng (29,9%), sedangkan responden yang memiliki intensitas mandi baik sebanyak 12 orang (7,3%) yang menderita dermatitis. Hasil uji statistik diperoleh adanya hubungan antara intensitas mandi terhadap kejadian dermatitis pada nelayan (0,901). Kebersihan pakaian menunjukkan bahwa responden yang memiliki kebersihan pakaian buruk dan menderita dermatitis sebanyak 47 orang (24,2%), sedangkan responden yang memiliki kebersihan pakaian baik dan menderita dermatitis sebanyak 31 orang (16,2%). Hasil uji statistik diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan antara kebersihan pakaian dengan kejadian dermatitis (p=0,614).

statistik diperoleh tidak ada hubungan yang signifikan antara kebersihan pakaian dengan kejadian dermatitis (p=0,614). 4

4

PEMBAHASAN Lama kontak merupakan salah satu variabel yang berhubungan terhadap kejadian dermatitis pada nelayan di Kecamatan Tempe. Lama kontak merupakan jangka waktu pekerja berkontak dengan pekerjaanya dalam hitungan jam/hari. Lama kontak antar pekerja berbeda- beda, sesuai dengan proses pekerjaannya. Lama kontak mempengaruhi kejadian dermatitis kontak akibat kerja. Semakin lama kontak dengan pekerjaanya maka peradangan atau iritasi kulit dapat terjadi sehingga menimbulkan kelainan kulit. 9 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di tiga wilayah kelurahan ini menujukkan bahwa lama kontak <5 jam lebih banyak daripada lama kontak ≥ 5 jam, hal ini disebabkan pekerjaan responden yang selalu berkontak langsung dengan air sehingga tidak menuntut kemungkinan terhindar dari penyakit kulit. Namun, berdasarkan hasil analisis lama kontak terhadap kebiasaan mengganti pakaian menunjukkan bahwa dari sebagian responden yang memiliki lama kontak ≥5jam sebanyak 96,9% selalu mengganti pakaian setelah bekerja dan hanya 3,1% yang tidak mengganti pakaian setelah bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun terdapat banyak responden yang memiliki lama kontak ≥ 5 jam, tetapi kebiasaan mengganti pakaian setelah bekerja cukup baik. Selain itu, berdasarkan hasil analisis lama kontak terhadap intensitas mandi menunjukkan bahwa terdapat 130 responden yang memiliki lama kontak ≥ 5 jam terdapat 62,3% yang memiliki intensitas mandi baik dan hanya 37,7% yang memiliki intensitas mandi buruk. Hal ini juga menunjukkan bahwa responden yang memiliki lama kotak ≥ 5 jam, tetapi memiliki intensitas mandi yang baik. Hal inilah dapat menjadi salah satu faktor rendahnya kejadian dermatitis pada nelayan dengan lama kontak ≥ 5 jam. Alergi timbul oleh karena pada seseorang terjadi perubahan reaksi terhadap bahan tertentu. Dermatitis akibat kerja atau yang didapat sewaktu melakukan pekerjaan, banyak penyebabnya. Agen sebagai penyebab penyakit kulit tersebut. Kebanyakan agen terdapat dalam pekerjaan industri, akan tetapi paparan terhadap kondisi cuaca lazim pada pekerjaan nelayan seperti yang terjadi pada nelayan yang bekerja di tempat pelelangan ikan Tanjungsari Kecamatan Rembang. Respon kulit terhadap agen-agen tersebut dapat berhubungan dengan alergi. 2 Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan yang mempunyai riwayat alergi dan menderita dermatitis lebih banyak daripada nelayan yang tidak memiliki riwayat alergi dan menderita dermatitis. Hal ini disebabkan oleh tempat tinggal nelayan yang kurang sehat dan kurangnya kesadaran nelayan terhadap kebersihan lingkungan dan diri sendiri, nelayan kurang

5

yang kurang sehat dan kurangnya kesadaran nelayan terhadap kebersihan lingkungan dan diri sendiri, nelayan kurang 5

peduli terhadap masalah kesehatan yang dihadapi, termasuk dengan adanya riwayat alergi yang dianggap biasa oleh nelayan. Selain itu, masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan ini juga malas berobat. Hal ini terjadi karena nelayan menganggap penyakit kulit tidak mengganggu pekerjaan sehari hari sehingga akses pengobatan ke fasilitas pelayanan kesehatan sangat kurang Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyawati dan Budiono menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit kulit dengan kejadian dermatitis pada nelayan yang bekerja di tempat pelelangan ikan Tanjungsari Kecamatan Rembang. Riwayat penyakit digunakan sebagai salah satu dasar penentuan, suatu penyakit terjadi akibat penyakit terdahulu, sehingga riwayat penyakit sangat penting dalam proses penyembuhan seseorang. Berdasarkan penelitian, di tempat pelelangan ikan (TPI) Tanjungsari sebagian besar responden yang terdeteksi berpenyakit dermatitis memiliki riwayat penyakit kulit sebelumnya. Riwayat dermatitis akibat pekerjaan sebelumnya dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan pekerja terkena dermatitis kembali (riwayat berulang). Pada pekerja yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit dermatitis, merupakan kandidat utama untuk terkena penyakit dermatitis. Hal ini terjadi karena kulit pekerja tersebut sensitif terhadap berbagai macam zat kimia. Jika terjadi inflamasi maka zat kimia akan lebih mudah dalam mengiritasi kulit, sehingga kulit lebih mudah terkena dermatitis. 12 Sumber air merupakan kebutuhan yang penting bagi kehidupan. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mecuci dan sebagainya sehingga sumber air bersih harus memenuhi syarat kesehatan. Sumber air yang kurang baik berkaitan dengan kejadian dermatitis karena sebagian kuman infeksi penyebab dermatitis. Sumber air yang baik digunakan, yaitu air yang berasal dari air ledeng/PDAM, sumur bor atau sumur dalam, sedangkan air yang tidak baik adalah air yang berasal dari sungai atau danau yang telah tercemar. Berdasarkan hasil observasi langsung terhadap sumber air yang paling banyak digunakan oleh masyarakat, yaitu air sungai. Penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyawati dan Budiono yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara higiene perorangan dengan dermatitis kontak. 12 Dalam penelitian ini, sebagian besar responden menggunakan sumber air yang sama yaitu air sungai, sebab ketiga kelurahan mempunyai lokasi yang berdekatan dengan sungai sehingga masyarakat atau nelayan yang bertempat tinggal disekitar sungai lebih mudah mengakses air sungai dibandingkan sumber air lainnya. Selain itu air sungai di tiga kelurahan ini

6

sungai lebih mudah mengakses air sungai dibandingkan sumber air lainnya. Selain itu air sungai di tiga

sangat memperihatingkan karena kecenderungan masyarakat yang membuang sampah di sungai pada dasarnya merupakan perwujudan dari persepsi yang selama ini dianut oleh masyarakat awam tentang sungai. Sebagian masyarakat masih memandang sungai sebagai tempat pembuangan sampah, dengan alasan masyarakat sebagian besar masih belum mau untuk bersusah payah membuat lubang atau bak sampah dan memanfaatkannya. Kualitas fisik sumber air juga berkaitan dengan kejadian dermatitis sebab kuman penyebab dermatitis ditularkan melalui bakteri. Cara yang mudah untuk melihat kualitas sumber air yaitu dengan melihat kualitas fisik air yang meliputi warna, rasa, bau dan keruh. Distribusi responden menurut kualitas fisik air di wilayah kerja Puskesmas Tempe (Kelurahan Laelo, Kelurahan Wattalipue dan Kelurahan Salomenraleng) menggambarkan bahwa sebagian besar responden memiliki sumber air dengan kualitas fisik berwarna dan keruh. Berdasarkan hasil penelitian, kualitas fisik air dilihat dari tingkat kekeruhan, sebagian besar responden menggunakan air yang keruh dan berbau. Sementara kualitas fisik air dilihat dari warna dan rasa, sebagian menggunakan kualitas fisik air berwarna dan berasa. Hal ini disebabkan karena sebagian besar responden memiliki kualitas fisik air yang buruk, tetapi hanya sebagian kecil responden yang menderita dermatitis sehingga kualitas fisik air tidak mempengaruhi kejadian dermatitis pada nelayan. Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Cahyawati dan Budiono pada nelayan yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara higiene perorangan dengan dermatitis kontak. Hal ini terjadi karena memungkinkan akibat dari kondisi kebersihan lingkungan pelelangannya kurang sehat dan nyaman. 12 Mandi yang baik dan benar meliputi mandi sekurang-kurangnya 2 kali sehari (pagi dan sore hari), agar tubuh terhindar dari kotoran yang menempel di badan serta memberikan kesegaran bagi tubuh, Meningkatkan sistem daya tahan tubuh dan mengurang tingkat stress. Dengan mandi setiap hari dapat membersihkan seluruh tubuh dari berbagai kotoran dan kuman yang dapat menimbulkan penyakit seperti penyakit kulit dermatitis. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Reni Suhelmi menyatakan bahwa ada hubungan antara higiene perorangan dengan keluhan gangguan kulit pada petani rumput laut. 15 Penelitian tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Cahyawati dan Budiono yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara higiene perorangan dengan dermatitis kontak. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa responden yang melakukan mandi

7

higiene perorangan dengan dermatitis kontak. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa responden yang melakukan mandi 7

<2 kali lebih lebih banyak dari pada responden yang mandi >2 kali. Namun, responden yang mandi menggunaan sabun lebih banyak dari pada tidak tetapi walaupun begitu, jika sumber air yang digunakan adalah air sungai tetap tidak sehat bahkan itu dapat memicu terjadinya dermatitis. Kebersihan diri merupakan faktor penting dalam usaha pemeliharaan kesehatan, agar kita selalu dapat hidup sehat. Menjaga kebersihan diri berarti juga menjaga kesehatan umum. Pakaian banyak menyerap keringat dan kotoran yang di keluarkan oleh badan. Pakaian bersentuhan langsung dengan kulit sehingga apabila pakaian yang basah karena keringat dan kotor akan menjadi tempat berkembangnya bakteri di kulit dan dapat menimbulkan gejala penyakit kulit. kebiasaan menjaga kebersihan pakaian dengan mencuci pakaian dengan sabun, dan mengganti pakaian setelah bekerja merupakan kebiasaan yang baik sedangkan kebiasaan tidak melakukan kegiatan untuk menjaga kebersihan pakaian (mencuci pakaian dengan sabun, mengganti pakian setelah bekerja) merupakan kebiasaan yang buruk sehingga dapat mempengaruhi kejadian dermatitis. Hal ini di sebabkan kebersihan pakaian responden yang menderita dermatitis buruk, namun kebersihan pakaian yang tidak menderita dermatitis lebih buruk dari pada yang menderita sehingga kebersihan pakaian tidak mempengaruhi kejadian dermatitis. Hasil penelitian yang didapatkan sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lestari dan Hari Suryo yang menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara personal hygiene yang salah satu penilaiannya meliputi kebersihan pakaian. 1

KESIMPULAN DAN SARAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara lama kontak (p=0,000), riwayat alergi (p=0,000), intensitas mandi (p=0,000) terhadap kejadian dermatitis pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo. Variabel sumber air (p=0,267), kualitas air (p=293), dan kebersihan pakaian (p=0,051) menunjukkan tidak ada hubungan terhadap kejadian dermatitis pada nelayan di wilayah kerja Puskesmas Tempe Kabupaten Wajo. Diharapakan kepada petugas kesehatan memberikan penyuluhan mengenai penyakit dermatitis agar nelayan lebih menjaga kesehatannya serta tahu gejala penyakit dermatitis. Diharapakan pula kepada nelayan yang mempunyai riwayat alergi agar lebih menjaga kesehatannya dengan menghindari

Diharapakan pula kepada nelayan yang mempunyai riwayat alergi agar lebih menjaga kesehatannya dengan menghindari 8

8

faktor yang dapat memicu timbulnya kembali alergi serta lebih memperhatikan dan meningkatkan kebiasaan mandi terutama setelah bekerja dan mengganti pakaian setelah bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

1. Lestari, & F.Utomo. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Dermatitis Kontak pada Pekerja di PT Inti Pantja Press Industri. Makara Kesehatan. 2007;11(2); 61-68.

2. Harahap, M. Aspek psikis dan Akne Vulgaris. Dalam: Harahap, M. ed. Ilmu Penyakit Kulit Psikologis. Jakarta; 2010.

3. Basri, Yuswar Zainul. Bunga Rampai Pembangunan Ekonomi Pesisir [Skripsi]. Jakarta:

Universitas Trisakti; 2007.

4. Hamzah, S., & Wintoko, R. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada Karyawan Pencucian Mobil di Kelurahan Sukarame Kota Bandar Lampung. Majority. 2014;3(3); 3-5.

5. Mustikawati, I. S., Budiman, F., & Rahmawati, R. Hubungan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dengan Keluhan Gangguan Kulit pada Pemulung di TPA Kedaung Wetan Tangerang. Paper presented at the Forum Ilmiah. 2012;1(1):1

6. Czarnobilska, E., Obtulowicz, K., Dyga, W., Wnek, & K.W.W. And Spiewak, R. Contact Hy- persensitivity and Allergic Contact Dermatitis Among School Children and Teenagers with Eczema. Contact Dermatitis.2009; 60(1); 264-269.

7. Dinkes Kabupaten Wajo. Jumlah Kasus Dermatitis di Puskesmas Tempe Tahun 2013. Wajo:

Dinas Kesehatan Kabupaten Wajo; 2013.

8. UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009. Tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Jakarta:

Kementerian Lingkungan Hidup.

9. Eidman. Nelayan. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2008;1(1); 23-25.
10. Azhar, K., & Hananto, M. Hubungan proses kerja dengan kejadian dermatitis kontak iritan pada petani rumput laut di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Jurnal Ekologi Kesehatan. 2011;10(1); 1-9. Andriyani, Y. Serkarial Dermatitis-Suatu Infeksi Zoonosis Schistosomatidae [Skripsi]. Medan:Universitas Sumatera Utara; 2005.

11.
11.

9

12.

Cahyawati, I. N., & Budiono, I. Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Dermatitis pada Nelayan. Jurnal Kesehatan Masyarakat.2011;6(2); 134-141.

13. Rahmi,Garmini. Analisis Faktor Penyebab Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Pabrik Tahu Primkopti Unit Usaha Kelurahan Bukit Sangkal Palembang [Skripsi]. Palembang: Universitas Sriwijaya; 2014.

14. Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, R., Wardhani, W. I., & Setiowulan, W. Kapita Selekta Kedokteran; 2005.

15. Suhelmi, Reni. Hubungan masa kerja, higiene perorangan dan penggunaan alat pelindung diri dengan keluhan gangguan kulit petani rumput laut di Kelurahan Kalumeme Bulukumba [Skripsi]. Makassar : Universitas Hasanuddin; 2014.

gangguan kulit petani rumput laut di Kelurahan Kalumeme Bulukumba [Skripsi]. Makassar : Universitas Hasanuddin; 2014. 10

10

LAMPIRAN

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden menurut Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tempe

 

Kejadian Dermatitis

n

%

Menderita Dermatitis

 

78

20,3

Tidak Menderita

 

Dermatitis

 

307

79,7

Jumlah

385

100

Sumber: Data Primer, 2015

 

Tabel

2.Distribusi

Frekuensi

Responden

menurut

Umur dan

Tingkat

Pendidikan

di

 

Wilayah Kerja Puskesmas Tempe

 

Karakteristik

 

n

%

 

Umur (tahun)

 

12-24

 

59

15,3

25-44

108

28,1

45-59

131

34,0

60-74

55

14,3

75-90

32

8,3

Tingkat Pendidikan Tidak Sekolah SD SMP

78

20,3

263

68,3

44

11,4

Jumlah

385

100

Sumber: Data Primer, 2015

 
  11
 

11

Tabel . Distribusi Hubungan Variabel Independen dengan Kejadian Dermatitis di Wilayah Kerja Puskesmas Tempe

Kejadian Dermatitis

Variabel

Total

p

Independen

 

Ya

Tidak

 
 

n

%

n

%

n

%

Lama kontak ≥ 5 Jam < 5 jam Riwayat Alergi Ada Tidak Ada Sumber air Buruk Baik Kualitas Air Buruk Baik Intensitas mandi Buruk Baik Kebersihan Pakaian Buruk Baik

13

10,0

117

90,0

130

100,0

0,000

65

25,5

190

74,5

225

100,0

74

32,2

155

67,7

229

100,0

0,000

4

2,6

152

97,4

156

100,0

62

19,3

260

80,7

322

100,0

0,267

16

25,4

47

74,6

63

100,0

71

19,7

290

80,3

361

100,0

0,293*

7

29,2

17

70,8

24

100,0

66

29,9

155

70,1

221

100,0

0,000

12

7,3

152

92,7

164

100,0

47

24,2

147

75,8

194

100,0

0,051

31

16,2

160

83,8

191

100,0

Sumber : Data Primer, 2015 Keterangan : *fisher exact test

0 0,051 31 16,2 160 83,8 191 100,0 Sumber : Data Primer, 2015 Keterangan : *

12