Anda di halaman 1dari 8

PENGARUH TEKNIK RELAKSASI NAFAS DALAM TERHADAP PENURUNAN NYERI

PADA PASIEN PASCA OPERASI DI


RUMAH SAKIT DR. M.YUNUS BENGKULU
Ikhsan
Akademi Kesehatan Sapta Bakti Bengkulu
Relaxation is one of the technique in behavior therapy which developed by Jacobson and
of Wopel to lessen dread and stress. Relaksasi is status lose from muscle tension
construct where tired individual it pass through technique praktik which in intending,
usage of technigue of relaksasi to lessen muscle stress to lessen pain in bone intensity
also to assist natural patient. This research use Pre Experimental Design, sampel is
patient of pasca operate for in RSUD Dr. M Yunus Bengkulu by 18 people. Technique
data collecting use observation analysed by T test. Result of research is pain in bone
storey, level before done conducted by technique of relaksasi breath in which many scale
4 ( 77,8 % ), and after done conducted by technique of relaksasi breath in pain bone
storey,level which at most with scale 1 ( 38,9 % ). P = 0,000 which smaller than alpa
( 0,05 ) meaning there is influence having a meaning of among between gift giving of
technique of relaksasi breath in to pain bone storey,level of pasca operation. Suggested
to nurse in RSUD Dr. M Yunus Bengkulu require to be applied by technique of relaksasi
breath in maximally at patient of pasca operate for by nurse to lessen pain in bone storey
level of postoperatif so that can lessen gift giving of analgetik.
Kata Kunci : Tehnik Relaksasi Nafas Dalam, Tingkat nyeri, Pasca Operasi.

Menurut The International Association for the study of pain (IASP), nyeri
didefinisikan sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan
yang berhubungan dengan kerusakan jaringan atau potensial akan menyebabkan
kerusakan jaringan. Nyeri adalah alasan utama seseorang untuk mencari bantuan
perawatan kesehatan. Nyeri terjadi bersama banyak proses penyakit atau bersamaan
dengan beberapa pemeriksaan diagnostik atau pengobatan.
Banyak faktor fisiologis (motivasi, afektif, kognitif dan emosional) mempengaruhi
pengalaman nyeri total pasien. Temuan riset telah mengarah pada pemahaman yang
lebih baik tentang bagaimana faktor-faktor persepsi, pembelajaran, kepribadian, etnik,
budaya dan lingkungan dapat mempengaruhi ansietas, depresi dan nyeri. Tingkat dan
keparahan nyeri pasca operasi tergantung pada anggapan fisiologi dan psikologi individu,
toleransi yang ditimbulkan untuk nyeri, letak insisi, sifat prosedur, kedalaman trauma
bedah dan jenis agen anestesia dan bagaimana agen tersebut diberikan.
Persiapanpraoperatif yang diterima oleh pasien (termasuk informasi tentang apa yang
diperkirakan juga dukungan penenangan dan psikologis) adalah faktor yang signifikan
dalam menurunkan ansietas dan bahkan nyeri yang dialami dalam periode pasca operasi
(Smaltzer dan Bare, 2002).
Menurunkan nyeri sampai tingkat yang lebih ditoleransi pernah dianggap sebagai
tujuan dari penatalaksanaan nyeri. Namun begitu, pasien yang menggambarkan nyerinya
telah hilang sekalipun, sering melaporkan gangguan tidur dan jelas tertekan karena nyeri
yang dialaminya. Dengan membayangkan efek yang membahayakan dari nyeri dan
penatalaksanaan nyeri yang tidak adekuat, tujuan yang hanya membuat nyeri dapat
ditoleransi telah digantikan oleh tujuan menghilangkan nyeri. Strategi penatalaksanaan
nyeri mencakup baik pendekatan farmakologi maupun non-farmakologi. Pendekatan ini
diseleksi berdasarkan pada kebutuhan dan tujuan pasien secara individu. Semua
intervensi akan berhasil bila dilakukan sebelum nyeri menjadi lebih parah dan
keberhasilan terbesar sering dicapai jika beberapa intervensi diterapkan secara simultan
(Smaltzer dan Bare, 2002).
Ketidaknyamanan atau nyeri bagaimanapun keadaanya harus diatasi, karena
kenyamanan merupakan kebutuhan dasar manusia, sebagaimana dalam Hirarki Maslow.
Seseorang yang mengalami nyeri akan berdampak pada aktivitas sehari-hari dan
istirahat serta tidurnya (Petter dan Perry, 2006). Jika nyeri tidak ditangani secara adekuat,
selain menimbulkan ketidaknyamanan juga dapat mempengaruhi sistem pulmonari,
kardiovaskuler, gastrointestinal, endokrin, imunologik dan stres serta dapat menyebabkan
depresi dan ketidakmampuan. Ketidakmampuan ini mulai dari membatasi keikutsertaan
dalam aktivitas sampai tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan pribadi seperti makan
dan berpakaian (Smeltzer dan Bare, 2002).
Pelaksanaan manejemen nyeri non-farmakologi di lapangan belum sepenuhnya
dilakukan oleh perawat dalam mengatasi nyeri. Kebanyakan perawat melaksanakan
program terapi hasil dari kolaborasi dengan dokter, diantaranya adalah pemberian

analgesik yang memang mudah dan cepat dalam pelaksanaanya dibandingkan dengan
penggunaan intervensi manajemen nyeri non-farmakologi. Jika dengan manajemen nyeri
non-farmakologi belum juga berkurang atau hilang maka barulah diberikan analgesik.
Pemberian analgesik pun harus sesuai dengan yang diresepkan dokter, karena
pemberian analgesik dalam jangka panjang dapat menyebabkan pasien mengalami
ketergantungan.
Pengkombinasian antara teknik non-farmakologi dan teknik farmakologi adalah
cara yang paling efektif untuk menghilangkan nyeri terutama untuk nyeri yang sangat
hebat yang berlangsung selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari (Smaltzer dan
Bare, 2002). Penanganan nyeri dengan teknik non-farmakologi merupakan modal utama
untuk menuju kenyamanan. Dipandang dari segi biaya dan manfaat, penggunaan
manajemen non-farmakologi lebih ekonomis dan tidak ada efek sampingnya jika
dibandingkan dengan penggunaan manajemen nyeri farmakologi. Selain itu juga
mengurangi ketergantungan pasien terhadap obat-obatan. Salah satu manajemen nonfarmakologi adalah teknik relaksasi, dimana teknik relaksasi ini bermanfaat mengurangi
ketegangan otot yang akan mengurangi intensitas nyeri.
Tujuan Penelitian untuk mengetahui Pengaruh Pemberian Teknik relaksasi nafas
dalam terhadap tingkat nyeri pasca operasi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Pre Experimental Design dengan
bentuk rancangan One Group Pretest-Postest. Dalam penelitian ini observasi dilakukan
sebanyak dua kali yaitu sebelum eksperimen dan sesudah eksperimen. Observasi yang
dilakukan sebelum eksperimen (O1) di sebut pre-test, dan observasi sesudah eksperimen
(O2) disebut post-test (Arikunto, 2006).
Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian atau obyek yang diteliti
(Notoatmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah pasien pasca operasi di
RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dengan jumlah pasien rata-rata pertahun berjumlah 548
orang. Pada bulan April 2010 jumlah pasien 221 orang dan yang operasi berjumlah 98
orang.
Sampel adalah sebagian atau keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap
mewakili seluruh populasi.
Penelitian dilakukan di RSUD Dr. M. Yunus Bengkulu dari bulan Oktober 2009
sampai bulan Juni 2010, pengumpulan data penelitian pada responden dilakukan pada
Mei sampai Juni 2010.Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yaitu :

Variabel bebas (independent)


Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya
variabel independent(Riwidikdo, 2006). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel
bebasnya adalah relaksasi nafas dalam.
Variabel terikat (dependent)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena
adanya variabel independent (Riwidikdo, 2006). Dalam penelitian ini yang menjadi
variabel terikatnya adalah tingkat nyeri pasca operasi.
Analisis Univariat
Analisis bertujuan untuk mengetahui gambaran distribusi frekuensi masing-masing
variabel independen dan dependen dengan menggunakan ukuran proporsi.
Analisis Bivariat
Setelah data terkumpul dalam tabel distribusi frekuensi, kemudian data dihitung
menggunakan Uji T-independen dengan bantuan perangkat lunak komputerisasi.
HASIL
Gambaran Skor Nyeri Sebelum pada pasien pasca operasi
Berdasarkan pengumpulan data pada 18 orang pasien pasca operasi di ruang Seruni
RSUD Dr. M Yunus Bengkulu dengan rata-rata umur 31-32 tahun sebagian terdiri dari
perempuan danswasta serta berpendidkan rendah-menengah (SD-SMA) menunjukkan :
Tabel 4.1 Gambaran Skor Nyeri Sebelum Relaksasi pada Pasien Pasca Operasi Di
Ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010

Skor Nyeri

Jumlah

Persentase

(Orang)

(%)

14

77,8

22,2

Total

18

100,0

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar skor nyeri pasien pasca
operasi sebelum relaksasi dengan skor nyeri 4.

Gambaran Skor Nyeri Sebelum pada pasien pasien pasca operasi


Tabel 4.2 Gambaran Skor Nyeri Sesudah Relaksasi pada Pasien Pasca Operasi di
Ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010
Skor Nyeri

Jumlah

Persentase

(Orang)

(%)

11,1

38,9

27,8

16,7

5,6

Total

18

100,0

Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa hampir sebagian skor nyeri pasien pasca
operasi sesudah relaksasi dengan skor nyeri 1.
Pengaruh Relaksasi Terhadap Skor Nyeri Sebelum dan Sesudah pada pasien pasca
operasi
Selanjutnya berdasarkan tabel 4.1 dan tabel 4.2 menunjukkan rata-rata skor nyeri
sebelum dan sesudahpemberian relaksasi pada pasien pasca operasi menunjukkan :
Tabel 4.3 Perbandingan Skor Nyeri Sebelum dan sesudah pada pasien Pasien
Pasca Operasi DiRuang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu Tahun 2010
Skor Nyeri Mean

Standar
Deviasi

Minimal Maksimal Nilai p

Sebelum

4,44

0,856

Sesudah

1,67

1,085

0,000

Sumber : Data Penelitian, 2010


Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan rata-rata skor nyeri sebelum lebih tinggi
dibandingkan dengan skor nyeri sesudah pemberian relaksasi, perbedaan ini secara
statistik bermakna dengan nilai p (0,000) < 0,05. Artinya ada pengaruh pemberian
relaksasi terhadap skor nyeri pada pasien pasca operasi di Ruang Seruni RSUD Dr. M
Yunus Bengkulu.

PEMBAHASAN
Setelah dilakukan uji Nauperental didapatkan nilai p = 0,000 yang lebih kecil dari dari
alpa ( 0,05 ) berarti ada pengaruh pelaksanaan tehnik relaksasi nafas dalam terhadap
tingkat nyeri pada pasien pasca operasi di ruang Seruni RSUD Dr. M Yunus Bengkulu
Tahun 2010.
Hal tersebut sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa ada beberapa non farmakologi
untuk mengurangi nyeri yaitu dengan tehnik relaksasi nafas dalam. Tehnik relaksasi ini
sendiri merupakan tehnik yang efektif untuk mengontrol ketidaknyamanan ( Smeltzer dan
Bare, 2002 ).
Relaksasi otot skeletal di percaya dapat menurunkan nyeri dengan merilekskan
ketegangan otot yang menunjang nyeri. Tehnik relasasi yang sederhana terdiri atas nafas
abdomen dengan frekuensi lambat, berirama. Periode relaksasi yang teratur dapat
membantu untuk melawan keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri
kronis dan yang meningkatkan nyeri ( Smelzer dan Bare, 2002 ).
Relaksasi adalah salah satu tehnik dalam terapi perilaku yang dikembangkan oleh
Jacobson dan Wolpel untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan
( Ramdhani dan Putra, 2006 ).
Menurut Roy, bila ada respon yang menyebabkan penurunan integritas tubuh akan
menimbulkan adanya suatu kebutuhan melalui upaya atau perilaku tertentu. Begitu juga
menurut Neuram, bahwa manusia merupakan system internal yang terbuka dan
berinteraksi dengan lingkungan internal maupun eksternal yang dapat menyebabkan
stress.
Sehingga bila dikaitkan dari kedua hal di atas hubungan bilamana seseorang mendapat
suatu stresor, dalam hal ini nyeri maka orang tersebut akan berespon untuk
mempertahankan kesehatannya ( menhurangi nyeri ). Jadi responden akan
menggunakan kopingnya untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya. Penurunan
tingkat nyeri pada responden karena pemberian tehnik relaksasi nafas dalam, sesuai
dengan pendapat Orem, bahwa fungsi perawat yaitu membantu individu memenuhi
kebutuhan hidup, memelihara kesehatan dan kesejahteraan ( Gafar, 1999 ).

Secara fisiologi tehnik relaksasi dapat menurunkan nyeri, hal ini sesuai teori gate
control yang merupakan bahwa rangsangan-rangsangan rasa sakit dapat diatur atau
bahkan dihalangi oleh pintu mekanisme sepanjang system pusat neurons. Pintu
mekanisme dapat ditentukan di dalam sel-sel gelatinosa dengan tanduk tulang belakang
pada urat syaraf tulang belakang, thalamus dan system limbic. Dengan memahami
apakah dapat mempengaruhi pintu-pintu ini, para perawat dapat memperoleh sebuah
kerangka kerja konseptual yang berguna untuk manajemen rasa sakit. Teori ini
mengatakan bahwa rangsangan akan dirintangi ketika sebuah pintu tertutup. Penutupan
pintu adalah dasar untuk terapi pertolongan rasa sakit ( Potter dan Perry, 2006 ).
KESIMPULAN DAN SARAN
Ada pengaruh tehnik relaksasi nafas dalam terhadap penurunan tingkat nyeri pada
pasien pasca operasi.
Diharapkan kepada Perawat dapat menerapkan tindakan mandiri keperawatan seperti
teknik relaksasi nafas dalam dalam mengaqtasi rasa nyeri pada pasien sebagai alternatif
tindakan non farmakologi dan Perlu penelitian lebih lanjut dengan metodologi dan jumlah
sampel yang lebih besar untuk mengukur efektifitas teknik relaksasi nafas dalam
terhadap penurunan tingkat nyeri.
DAFTAR PUSTAKA
Agus, D dan Triyanto, 2004, Manajemen Nyeri Dalam Suatu Tatanan Tim Medis
Multidisiplin Majalah Kedokteran Atma Jaya, Januari, Vol 3, No 1.
Arikunto, Suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi
VI, Rineka Cipta, Jakarta.
Carpenito, L.J. 2000, Diagnosa Keperawatan: Aplikasi Pada Praktik Klinis, Edisi 6, EGC,
Jakarta.
Corwin, Elizabeth J. 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta.
Engram, Barbara, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah, Vol 3, EGC,
Jakarta.
Gaffar, La Ode Jumadi, 1999, Pengantar Keperawatan Profesional, EGC, Jakarta.
Guyton and Hall, 2008, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 11, EGC, Jakarta.
Hidayat, A.A.A. 2005, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.
http://irmanthea.blogspot.com/2007/10/konsep-nyeri.hlmt.diakses tanggal 5 April 2008.
http://wordpress.com/tag/nyeri/feed/.diakses tanggal 5 April 2008.

Indrawati, Emei, 2007, Pengaruh Pemberian Teknik Distraksi Terhadap Tingkat Nyeri
Pada Anak Di RSUD dr. R. Koesma Tuban, Skripsi, Program Sarjana Keperawatan,
STiKES Surya Global : tidak diterbitkan
Jong, Wim de dan Sjamsuhidajat R. 2004, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC, Jakarta.
Kelly, Tracey, 2004, Rahasia Alami Detoks, Erlangga, Jakarta.
Notoatmodjo, 2002, Metodologi penelitian kesehatan (edisi revisi), Rineka Cipta, Jakarta.
Nursalam, 2003, Konsep & Penerapan Metodelogi Penelitian Ilmu Keperawatan,
Salemba Medika, Jakarta.
Potter and Perry, 2006, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,Proses dan
Praktek, Volume 2, Edisi 4, EGC, Jakarta.
Price, Silvia A dan Wilson, Lorraine M. 2005, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, Edisi 6, Vol.2, EGC, Jakarta.
Ramdhani, P & Putra, AA. 2006, Studi Pendahuluan Multimedia Interaktif : Pelatihan
Relaksasi. Diambil tanggal 5 April 2008. http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/relaksasi.pdf.
Riwidikdo, H. 2006, Satistik Kesehatan, Mitra Cendikia Press, Yogyakarta.
Saseno, 2001, Relaksasi Sebagai Upaya Mengurangi Kecemasan Menghadapi Studi
Mahasiswa Akper Depkes Magelang, Tesis, Program Pasca Sarjana, UGM : tidak
diterbitkan.
Setiyohadi, Bambang, dkk, 2006, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi IV, Jilid II, FKUI,
Jakarta.
Setyaningsih, I. 2005, Tinjauan Penatalaksanaan Nyeri Berbagai Organ, Naskah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional Keperawatan : Perspektif Penatalaksanaan
Nyeri Terkini, POLTEKES Yogyakarta, Desember.
Smeltzer, Suzanna C dan Bare, Brenda G. 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah,
Edisi 8, Vol.1,Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sodikin, 2001, Penanganan Nyeri Non Invasif, Majalah Keperawatan Bina Sehat,
ed.004/BS/PPNI/2001, Yayasan Kesejahteraan Warga Perawatan Pusat, Jakarta.
Sutardjo, dkk, 2004, Psikoterapi, Salemba Medika, Jakarta.
Tamsuri, Anas, 2006, Konsep & Penatalaksanaan Nyeri, EGC, Jakarta.