Anda di halaman 1dari 2

Nam

: Ammi Shaumy Fridayanti Djauhar

a
NIM
Kelas

: C11115310
: A / Reguler
TUGAS BIOETIK DAN HUMANIORA

1. Kasus Pertama: Seorang anaesthesiologist di RS kelas A menemui teman sejawat


dokter lain sebagai pasien. Ia mengalami kehilangan kesadaran sesaat yang berkaitan
dengan kejang parsial kompleks, suatu bentuk epilepsi yang tidak terdeteksi selama
masa residensinya. Kondisi ini dapat ditangani namun dokter kedua tidak yakin
apakah harus menjunjung kerahasiaan dokkter-pasien atau menginformasikannya ke
direksi RS.
Analisis
i.
Pertimbangan yang pertama dari kasus ini adalah bagaimana pendapat sang pasien,
bagaimana keinginannya mengenai apa yang dihadapinya. Ini berdasarkan pada
ii.

asas patient autonomy.


Coba lihat permasalahan dari sisi yang lain. Apakah penyakit yang derita oleh sang
pasien yang berprofesi sebagai seorang dokter akan menghambat pekerjaannya
atau bahkan menyulitkannya dalam menjalankan profesinya nanti sebab dokter
merupakan profesi yang memegang hajat banyak orang, maksudnya mempunyai
pengaruh bagi banyak orang di masyarakat.
Solusi
Dari kedua poin di atas, solusi yang menurut saya paling baik adalah berdasarkan poin
yang pertama. Sebab, setiap orang berhak atas tubuhya sendiri dan berdasarkan asas
patient autonomy dan atas dasar kerahasiaan medis. Setelah berdiskusi dengan pasien
dan mendapat pendapatnya, barulah diambil keputusan apakah akan tetap
merahasiakannya atau memberitahukannya ke direksi.

2. Kasus Kedua: Seorang pria tunawisma datang ke rumah sakit dengan gangren kronik,
osteomyelitis, dan diabetes. Dokter dapat melihat kalau pasien tersebut memiliki
kondisi kejiwaan, namun pasien menolak intervensi dalam bentuk apapun. Ia tidak
mengizinkan dokter untuk merawatnya dengan obat maupun evaluasi psikiatri. Ia
mengklaim bahwa ia hanya ingin diberi makan, diberikan, insulin, dan tempat tidur.
Analisis

i.

Harus diperhatikan bahwa pasien ini memiliki kondisi kejiwaan di mana ia


mengalami gangguan psikiatri. Meski pun ia telah dewasa, ia tetap tidak layak
untuk diminta persetujuannya atas tindakan medis yang dilakukan. Ini disebabkan
karena pasien dengan gangguan psikiatri dianggap tidak mampu mengambil
keputusan atas dirinya sendiri.
Walaupun dikatakan:
a. Adanya gangguan jiwa sebaiknya tidak menghambat pasien untuk memahami
persetujuan apa yang akan diberikannya
b. Adanya gangguan jiwa sebaiknya tidak menghambat pasien untuk memilih
intervensi medis terhadap dirinya
c. Adanya gangguan jiwa sebaiknya tidak mencegah pasien dalam mengambil
consent dari komunikasi yang akan diberikan kepadanya
d. Adanya gangguan jiwa seharusnya tidak mencegah pasien dari intervensi medis
yang dibutuhkan untuk diterimanya,
Masalah utamanya adalah mereka tidak memahami diri sendiri dan mungkin
memahami tindakan medis yang diusulkan tapi menolak atas dasar penilaian
mereka. Merekaberpikir bahwa merasa tidak sakit sehingga tidak perlu diperlukan
tindakan medis.1

ii.

Sulit menemukan orang yang berperan sebagai wali sang pasien untuk

iii.

menggantikannya mengambil keputusan medis.


Tindakan medis harus dilakukan mengingat sang pasien menderita gangren kronik.
Salah satu pertimbangan lain adalah asas beneficence atau non-maleficence yang
memikirkan keputusan dan tidakan terbaik untuk sang pasien.
Solusi
Dari hasil analisis, menurut saya, keputusan terbaik adalah tetap melakukan tindakan
sebab hal ini dianggap yang terbaik untuk sang pasien atas dasar beneficence dan nonmaleficence. Selain itu, asa patient autonomy tidak dapat digunakan sebagai dasar
dilakukannya tindakan medis sebab sang pasien menderita mental disorder tang ia
seorang tunawisma sehingga sulit menemukan walinya.

1Van staden CW, Kruger C. Incapacity to give informed consent owing to mental disorder. Journal of
Medical Ethics. 2013;97:415-420