Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Bagi sebagian besar masyarakat pedesaan, tanaman meniran sudah cukup
dikenal sebagai salah satu tanaman liar yang berkhasiat mengobati. Sepintas bagi
yang tidak mengetahui tanaman itu mungkin hanyalah tanaman liar yang tidak
bermanfaat. Padahal, disitulah terdapat banyak rahasia yang dimanfaatkan oleh
leluhur kita pada masa lalu dan hanya sebagian orang pada masa kini yang
mengetahuinya.
Tanaman liar beraneka ragamnya, seperti tempuyung, sembung, babadotan,
dan sebagainya. Uniknya, tanaman ini ternyata berkhasiat menyembuhkan
penyakit yang diderita manusia. Selain tanaman liar di atas, mungkin ditemukan
pula jenis jenis tanaman liar yang mirip pohon asem kecil bonsai. Tingginya
tidak lebih dari dua jengkal tangandan sering terdapat di antara rerumputan.
Tanaman ini adalah meniran, salah satu jenis tanaman obat yang juga berkhasiat.
Pada saat banyak penyakit sulit disembuhkan dengan obat modern dan
memerlukan biaya tinggi, pengobatan dengan bahan-bahan alami bisa menjadi
alternatif penyembuhan yang tidak kalah manjur. Apalagi saat ini banyak tanaman
obat tradisional sudah diuji secara klinik untuk mengetahui komposisi,
kandungan, dan efek farmakologinya.
Menurut banyak literatur dan jurnal, lebih dari 1.000 jenis tanaman obat di
Indonesia, termasuk meniran, sudah diteliti. Kekayaan tanaman obat yang berasal
dari berbagai tipe ekosistem hutan sudah diidentifikasi dan diinventarisasi
sebanyak 1.845 jenis. Hal ini sangat membantu pengadaan bahan baku obat
tradisional di negeri ini. Seperti diketahui, 90% bahan baku obat-obatan modern
berasal dari luar negeri.
Meniran, yang akan dijelaskan dalam makalah ini merupakan tanaman liar
berkhasiat menyembuhkan banyak penyakit pada manusia. Berbagai pakar
mensinyalir bahwa mengonsumsi meniran dapat meningkatkan kekebalan tubuh
untuk melawan berbagai penyakit, baik penyakit ringan maupun penyakit berat
dan akut.
Beberapa jenis penyakit yang terbilang baru di dunia kedokteran yang
menggemparkan dunia, seperti kanker dan SARS, diketahui dapat dilawan dengan
mengonsumsi tanaman meniran, baik daun, batang, maupun akarnya. Sementara
beberapa jenis penyakit bera, seperti hepatitis dan demam berdarah, juga dapat
ditanggulangi dengan ramuan yang salah satunya menggunakan meniran.
Mengingat khasiatnya begitu banyak, perlu upaya pembudi dayaan meniran,
baik dalam skala kecil untuk keperluan di rumah sebagai tanaman obat keluarga

maupun dalam skala besar sebagai sebuah bisnis yang bersifat komersial. Untuk
itu, diperlukan pengetahuan teknis sederhana tentang tata cara budi daya meniran
dan beberapa alternatif budi dayanya. Teknik budi daya meniran yang dijelaskan
dalam makalah ini berupa budi daya di lahan atau kebun, dan di dalam pot.
1.2. Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui budi daya
tanaman meniran dan pemanfaatannya sebagai obat.

1.3. Rumusan Masalah


1. Bagaimana syarat tumbuh tanaman Meniran?
2. Bagaimana perlakuan budi daya Meniran di lahan?
3. Bagaimana perlakuan budi daya Meniran di pot?
4. Apa saja hama dan penyakit pada Meniran?
5. Bagaimana cara pengembangbiakan tanaman Meniran?
6. Bagaimana penanganan panen dan pasca panen Meniran?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Asal Usul dan Penyebaran
Meniran adalah tanaman yang sebenarnya tumbuh liar dan mudah ditemui di
pekarangan rumah, kebun, atau hutan. Meniran (Phyllantus niruri L.) merupakan
tanaman liar berkhasiat obat, bahan bakunya sebagian besar diperoleh secara
menambang (Setiawan, 2014). Meniran tumbuh subur di tempat lembab dan
berbatu, di antara rumput atau selokan. Tanaman ini merupakan salah satu dari
700 jenis genus Phyllanthus yang banyak tumbuh di Asia seperti Indonesia, Cina,
Filipina, dan India. Beberapa jenis tanaman ini sudah digunakan sejak 2.000 tahun
yang lalu untuk pengobatan tradisional Ayurveda di India. Beberapa genus
Phyllanthus yang memiliki khasiat menyembuhkan di antaranya Phyllanthus
urinaria, Phyllanthus niruri, Phyllanthus amarus.
Di daerah tertentu, meniran dikenal dengan nama lokal setempat, misalnya
child pick a back (Inggris), chamber pitter (Alabama, USA), quebra pedra
(Brazil), pitirishi/budhatri (India), hurricane weeds (Bahama), dukung anak
(Malaka), stone breaker (Amerika Selatan), zhen chu cao, ye xiao zhu (Cina),
meniran (Jawa), dan gasau madungi (Ternate).
2.2. Klasifikasi dan Karakteristik Botani
Meniran yang banyak ditemukan di Indonesia adalah Phyllanthus niruri dan
Phyllanthus urinaria. Perbedaan keduanya terdapat pada warna batangnya.
Phyllanthus niruri berwarna hijau pucat, sedangkan Phyllanthus urinaria
berwarna hijau kemerahan. Keduanya memiliki daun yang kecil dan lonjong
(Sulaksana, 2004).
Dalam dunia botani, meniran hijau kemerahan mempunyai nama ilmiah
Phyllanthus urinaria Linn. Tanaman ini juga dikenal dengan nama ilmiah lainnya,
yaitu Phyllanthus alatus BI, Phyllanthus cantonensis Hornem, Phyllanthus
echinatus Wall, Phyllanthus lepidocarpus Sieb. et Zucc, dan Phyllanthus
leprocarcus Wight. Pada makalah ini akn dibahas Phyllanthus niruri. Meniran
termasuk dalam famili Euphorbiaceae. Klasifikasi meniran sebagai berikut.
Kingdom
Subkingdom
Superdivisi
Divisi
Kelas
Subkelas
Ordo
Famili
Genus
Spesies

: Plantae
: Tracheobionta
: Spermatophyta
: Magnoliophyta
: Magnoliopsida
: Rosidae
: Euphorbiales
: Euphorbiaceae
: Phyllanthus
: Phyllanthus niruri L.
3

2.3. Morfologi Tanaman


Semua bagian tanaman meniran dapat digunakan sebagai obat dengan
karakteristik sebagai berikut.
1) Batang tanaman tidak bergetah, basah, berbentuk bulat, tinggi kurang dari 50
cm, bercabang, dan berwarna hijau muda.
2) Daun bersirip genap dan setiap satu tangkai terdiri dari daun majemuk yang
mempunyai ukuran kecil berbentuk bulat telur. Panjang 5 mm dan lebar 3 mm.
Pada bagian bawah daun terdapat bintik berwarna kemerahan.
3) Bunga melekat pada ketiak daun dan menghadap ke arah bawah. Warna bunga
putih kehijauan. Bunga ini tumbuh subur sekitar bulan April-Juni.
4) Buah berbentuk bulat pipih berdiameter 2-2,5 mm, licin, berbiji seperti bentuk
ginjal, keras, dan berwarna cokelat. Buah tumbuh sekitar bulan JuliNovember.
5) Akar meniran berbentuk tunggang (tap root), yaitu akar utama yang pada
umunya merupakan pengembangan radikula lembaga, tumbuh tegak ke
bawah, dan bercabang. Pada tanaman meniran dewasa, panjang akar dapat
mencamai 6 cm. Warna akar putih kekuningan. Akar meniran berfungsi untuk
memperkuat berdirinya tanaman serta menyerap air dan unsur hara.
2.4. Syarat Tumbuh
Iklim tropis merupakan syarat tumbuh tanaman meniran. Meniran tumbuh
subur di tempat yang lembab pada dataran rendah sampai ketinggian 1.000 meter
di atas permukaan laut. Lokasi tempat meniran tumbuh secara liar di hutan,
ladang, kebun, atau halaman pakarangan rumah. Pada umumnya meniran tidak
dipelihara secara intensif karena dianggap rumput biasa.

BAB III
METODE KERJA
A. Budi Daya di Lahan
1. Pembibitan
2. Penyemaian
a. Penyemaian skala kecil
b. Penyemaian skala besar
3. Pengolahan lahan
4. Penanaman
5. Pemeliharaan
a. Penyiraman
b. Penyulaman
c. Penyiangan
d. Pemupukan
e. Pengendalian hama dan penyakit
B. Budi Daya di Pot
1. Persiapan tanam
a. Pemilihan bibit
b. Persiapan pot
c. Persiapan media tanam
2. Penanaman
3. Pemeliharaan

BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Budi Daya di Lahan
Budi daya meniran bisa dimulai dengan cara alami karena belum ada
perusahaan yang menjual bibitnya. Tahap pembudidayaan meniran di lahan
sebagai berikut.
1. Pembibitan
Bibit meniran berasal dari biji yang sudah tua. Biji diperoleh dari tanaman
dewasa. Kumpulkan tanaman dewasa sebanyak mungkin, kemudian tanam pada
lahan yang telah disiapkan. Tanaman dewasa secara alami akan menghasilkan
buah yang berbiji. Biji tersebut dihasilkan dari perkawinan dengan tanaman
meniran lain di sekelilingnya. Biji sebagai bibit diambil dari buah matang yang
berasal dari pohon meniran induk unggul. Ciri-ciri pohon induk unggul adalah
batang serta percabangan tegap dan kokoh, sudah beberapa kali berbuah, jumlah
buah banyak, rajin berbuah, serta sedikit terserang hama dan penyakit.

Gambar 1. Biji Meniran pada pohon


2. Penyemaian
Biji sebagai bibit dikeringkan dengan sinar matahari selama 12-24 jam,
kemudian disemai. Media semai berupa pasir dicampur pupuk kandang atau
kompos dengan perbandingan 2:1. Hal yang perlu diperhatikan adalah biji
meniran berukuran kecil. Bila sudah tua dan kering, biji bisa diterbangkan angin
dengan mudah. Dengan demikian, petani selalu mengumpulkan biji meniran
setelah tua dan disimpan pada tempat tertutup, kemudian disemai dan langsung
ditutup dengan tanah berhumus sehingga biji meniran tidak mudah diterbangkan
angin. Penyemaian bijji meniran dapat dapat dilakukan dalam skala kecil dan
skala besar.
a. Penyemaian skala kecil
Penyemaian skala kecil bisa dilakukan di wadah plastik persegi empat dengan
tinggi sekitar 10 cm yang bagian bawahnya dilubangi secukupnya atau bisa juga
di polybag.

Gambar 2. Biji meniran. Berbentuk kecil sehingga mudah diterbangkan angin


Wadah penyemaian diisi media semai sampai 2/3 volumenya. Biji meniran
disemai dengan kedalaman sekitar 1 cm dengan jarak semai 2x3 cm. Biji yang
sudah dismeai ditutup kembali dengan media semai, kemudian disiram air
menggunakan embrat yang halus. Usahakan biji jangan sampai muncul ke
permukaan karena dikhawatirkan akan mudah diterbangkan angin. Untuk
menjaga kelembapan, persemaian ditutup dengan plastik bening tembus cahaya.
Wadah persemaian disimpan di tempat terlindung dari panas matahari, tetapi
masih mendapat cukup cahaya. Setelah tumbuh kecambah, sekitar 15-20 hari
setelah semai, tutup plastik dibuka dan bibit disiram setiap hari.
b. Penyemaian skala besar
Penyemaian dengan skala besar bisa dilakukan dalam bak terbuka yang
terbuat dari batu bata merah atau batako. Bak berukuran tinggi 15 cm, lebar 1 m,
dan panjang tergantung kebutuhan. Bak tersebut diisi media semai atau dengan
media lain yang mudah diperoleh seperti kompos dan bahan organik lain, asalkan
cukup subur dan gembur. Pengisian bak dengan media semai sampai 2/3-nya. Bak
penyemaian sebaiknya dibuat di tempat teduh dan terlindung sinar matahari
langsung (terutama siang dan sore hari). Bak membujur ke arah utara-selatan
sehingga bedengan menghadap ke arah timur (arah matahari terbit). Dengan
demikian, bedengan memperoleh sinar matahari penuh, tetapi akan terlindungi
pada siang dan sore hari. Bila sulit mendapatkan tempat terlindung, bak dapat
dibuat di tempat terbuka, tetapi perlu diberi atap (naungan). Naungan dibuat
dengan slah satu sisinya lebih tinggi. Sisi yang lebih tinggi ini berada di sebelah
timur. Cara perlakuan selanjutunya sama seperti penyemaian kecil..
3. Pengolahan lahan
Lahan yang akan digunakan diolah atau digemburkan terlebih dahulu.
Pengolahan untuk skala kecil bisa secara manual menggunakan cangkul, atau
menggunakan traktor untuk skala besar. Lahan penanaman dibentuk bedengan
dengan ukuran 1,5 x 2,5 m. Lahan diberi pupuk organik sebanyak 10 ton/ha.
Tambahkan pula kapur atau dolomit sebanyak 0,25-0,5 kg/m2 dengan cara ditebar
merata di atas permukaan tanah. Pemberian kapur juga bisa dicampurkan dengan
pupuk organik. Fungsi pemberian kapur pada tanah antara lain.

a) Meningkatkan resido nitrogen organik dalam tanah dan mengubahnya menjadi


ion amoniak dan nitrat yang sangat bermanfaat bagi tanah,
b) Menjadikan pertumbuhan tanaman lebih baik dan meningkatkan produktivitas,
c) Membantu mengubah struktur tanah menjadi lebih gembur, serta
d) Memperkuat lapisan dinding jaringan atau sel sehingga tanaman menjadi
tahan terhadap serangan penyakit.
4. Penanaman
Pilih bibit yang baik dan seragam dengan pohon yang sudah bercabang,
minimal 4 cabang. Bibit demikian tidak akan mati saat ditanam karena secara fisik
sudah kuat dan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Bibit sebaiknya
dipindahkan dari tempat penyemaian ke lahan yang sudah disiapkan terlebih
dahulu. Bibit yang berasal dari wadah penyemaian digali bersama dengan tanah
yang menempel pada akarnya. Caranya dengan menggali sekeliling bibit dengan
jarak 5-7 cm dari pangkal bibit. Alat yang digunakan berupa linggis kecil, bilah
bambu, sendok tanah, atau sendok semen. Setelah itu, tanam bibit tersebut ke
dalam lubang-lubang yang sudah disiapkan sedalam 5 cm. Jarak tanam satu bibit
dengan lainnya sekitar 25 x 20 cm. Padatkan tanah di sekitar pangkal bibit.

Gambar 3. Lahan yang telah diolah. Siap ditanami bibit meniran


Penanaman sebaiknya tidak dilakukan di siang hari, sekitar pukul 11.00
15.00. Hal ini akan menyebabkan tanaman banyak mengeluarkan air melalui
penguapan sehingga bibit akan kekurangan air dan akhirnya layu. Dengan
demikian, waktu yang tepat untuk penanaman di lahan ialah pada pagi hari sekitar
pukul 6.009.00 atau sore hari sekitar pukul 16.3018.00.
Untuk mencegah hama rayap, uret, atau ulat tanah lainnya, perlu ditaburkan
insektisida nabati seperti tepung daun tembakau atau bungkil mimba di sekeliling
bibit dan ditimbun dengan tanah. Bibit yang baru ditanam segera diberi naungan
dengan bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitarnya seperti alang-alang,
semak belukar, atau dedaunan.

Gambar 4. Penanaman bibit meniran.


Bahan-bahan seperti serasah, sisa-sisa tanaman, dan rerumputan dapat dipakai
sebagai mulsa. Mulsa berfungsi untuk membantu mempertahankan kelembapan
dan suhu tanah di sekitar perakaran agar tetap optimum dan stabi, mengurangi
penguapan pada musim kemarau, menekan pertumbuhan gulma, meningkatkan
aktivitas mikroorganisme tanah, menambah bahan organik dan unsur hara, serta
meningkatkan pertumbuhan akar. Untuk penanaman meniran skala besar di lahan
sawah, bisa digunakan jerami sebagai mulsa.
5. Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman meniran tidak terlalu sulit karena tanaman ini dapat
tumbuh liar di sembarang tempat. Namun, untuk mendapatkan hasil yang baik,
diperlukan pemeliharaan yang intensif, antara lain dengan penyiraman,
penyulaman, penyiangan, pemupukan, dan pengendalian hama.
a. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan menyiramkan air menggunakan embrat yang
halus agar seluruh permukaan tanaman dapat tersiram dengan baik dan rata tanpa
menimbulkan kerusakan pada tanaman. Bila ditanam di lahan yang cukup luas,
usahakan terdapat saluran air di antara bedengan. Minimal seminggu sekali, isi
saluran air ssehingga memudahkan penyiraman dan memberikan hawa sejuk pada
tanaman. Penyiraman tanaman pada masa pertumbuhan mutlak diperlukan.
Kebutuhan air pada masa ini lebih banyak dibandingkan setelah tanaman dewassa.
Hal ini disebabkan oleh jangkauan akar pada tanaman muda masih sangat pendek.
Bila tidak disiram, tanaman akan kekurangan air dan menampakkan gejala layu.
Saat musim kemarau, kebutuhan air pada tanaman akan meningkat. Hal ini
disebabkan oleh penguapan air yang sangat banyak, baik pada tanaman maupun
tanah.
b. Penyulaman
Pada umumnya tidak semua bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik.
Hal ini disebabkan oleh bibit yang sakit, pertumbuhan tidak normal (kerdil),
bahkan mati. Untuk menggantikannya harus ada penyulaman bibit baru. Caranya
sama seperti saat penanaman bibit pertama kali. Waktu penyulaman yang tepat
yaitu pada pagi hari sekitar pukul 6.009.00. Penyulaman bertujuan untuk

menjaga keseragaman umur tanaman dan panen serta untuk menjaga keserasian
tanaman. Bila ada tanaman muda yang terganggu pertumbuhannya, secepatnya
tanaman tersebut diganti dengan meniran muda dari lokasi pembibitan.
c. Penyiangan
Setelah umur satu bulan, biasanya lahan sudah mulai dipenuhi rerumputan.
Secepatnya perlu dilakukan penyiangan supaya tidak terjadi persaingan
memperebutkan makanan dan unsur hara dari dalam tanah antara meniran dan
rerumputan. Penyiangan bisa dilakukan dengan alat sederhana berupa kored
(cangkul kecil) atau bisa juga menggunakan tangan untuk tanah yang gembur.
Dua bulan setelah penanaman, tanah di sekitar tanaman perlu digemburkan
dengan cangkul atau garpu. Hal ini perlu dilakukan untuk membuat struktur tanah
menjadi gembur sehingga akar dapat berkembang dengan baik.
d. Pemupukan
Pemupukan perlu diberikan agar tanaman tumbuh sehat dan kuat sehingga
dapat memberikan hasil yang optimal. Untuk tujuan budi daya organik, pupuk
organik yang diberikan berupa pupuk kandang atau kompos. Dosisnya sebanyak
0,30,5 kg per tanaman. Untuk tanaman meniran yang akan dipanen daunnya,
pupuk kandang yang paling tepat diberikan adalah pupuk kandang ayam karena
mengandung nitrogen tinggi. Bila tanaman yang akan dipanen buahnya atau
rimpangnya maka yang paling cocok adalah pupuk kandang kambing atau sapi
karena kandungan nitrogen dan kaliumnya tinggi.
Tahap pemupukan dilakukan dengan membuat garitan pada jarak 5 cm dari
tanaman searah dengan bedengan. Kedalaman garitan kurang lebih 5 cm dan lebar
15 cm. Taburkan pupuk kandang ke dalam garitan dan tutup kembali dengan
tanah. Siram tanaman dan garitan dengan air secukupnya secepat mungkin.
e. Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan membuang hama atau
menyemprotkan insektisida nabati, berupa daun mimba atau tembakau.
4.2. Budi Daya di Pot
Tanaman obat dalam pot semakin di gemari masyarakat perkotaan karena
cara ini dapat di jadikan alternative penanaman pada halaman sempit. Selain itu,
penampilan tanaman meniran segar, daunnya khas, dan daun berwarna hijau mirip
pohon asem bonsai, semakin menawan di pandang mata.
Semua tanaman sangat bergantung pada lingkungannya untuk dapat tumbuh
dengan baik. Namun demikian, lingkungan yang dikehendaki setiap tanaman
berbeda satu sama lain. Faktor factor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman
antara lain iklim, tanah atau media, air, ketersediaan unsur hara.Faktor lingkungan

10

selain iklim dapat di atur agar sesuai dengan yang di kehendaki tanaman. Sebagai
contoh, tanah atau media yang terlalu banyak lempungnya dapat di gemburkan
dengan pemberian pasir dan pupuk lain.
Faktor factor pembentuk iklim antara lain tinggi tempat, kelembapan, sinar
matahari dan temperatur. Keempat factor tersebut sukar diubah, terlebih lagi bila
tanaman berada di dalam greenhouse yang mutakhir. Di dalam greenhouse
tersebut, biasanya dilengkapi dengan alat pengatur temperatur dan kelembapan.
Sinar matahari yang masuk ke dalam greenhouse pun disesuaikan dengan
kebutuhan tanaman. Semua factor lingkungan di atas akan mempengaruhi
pertumbuhan dan kelangsungan hidup tanaman meniran dalam pot.
Secara umum, ruang pertumbuhan tanaman meniran dalam pot terbatas
sehingga akar tidak bisa tumbuh dengan leluasa. Pertumbuhan yang terhambat ini
menyebabkan fase vegetative tanaman menjadi singkat karena pertumbuhan akar,
batang, dan daun cepat mencapai maksimum. Hal ini mengakibatkan fase
reproduktif segera terjadi. Akibatnya, bunga pun mulai bermunculan. Namun
demikian, kebutuhan tanaman meniran dalam pot sangat bergantung pada
manusia, baik air maupun unsur hara lainnya. Hal ini dikarenakan jangkauan akar
sangat terbatas dan unsure hara dalam media tanamnya semakin berkurang.
1. Persiapan Tanaman
Sebelum melakukan penanaman, perlu di siapkan segala sesuatunya seperti
bibit, pot, dan media supaya berproses dengan baik. Persiapan yang matang sangat
berpengaruh pada pada pertumbuhan tanaman. Dengan memilih bibit yang baik
serta menanamnya di media yang gembur dan banyak bahan organik, tanaman
akan tumbuh dengan baik dan rimbun.
a. Pemilihan bibit
Hal yang harus di pertimbangkan dalam pemilihan bibit adalah asal bibit yang
baik. Bibit meniran yang baik, seperti yang telah dituturkan di atas, berasal dari
tanaman induk yang segar dan sehat. Penampilan batang dan daun harus
diperhatikan. Tanaman yang sehat dicirikan dengan warna hijau cerah, segar,
lebat, dan mulus. Penampilan tanaman dengan daun layu, berwarna pudar, dan
cacat atau tidak utuh menandakan tanaman tersebut tidak sehat. Hal ini
disebabkan tanaman baru saja dipindahkan dari lahan atau terkena serangan hama
dan penyakit. Sebaiknya, tanaman seperti ini tidak dipilih sebagai bibit.
b. Persiapan pot
Pot dipilih yang berukuran sesuai karena di dalam pot meniran dapat tumbuh
dengan tinggi kurang lebih 50 cm. Hal ini didasarkan pertimbangan supaya
tanaman meniran kelihatan indah dan memiliki sisi proporsional yang baik. Selain

11

itu ,dapat pula menambah ruang pergerakan akar tanaman itu sendiri. Hal yang
harus diperhatikan adalah pot tersebut cukup ringan, tidak mudah pecah,
berbentuk normal, dan serasi dengan tanaman nya. Sebaiknya jangan memilih pot
dengan bibir melebar kesamping atau menyempit dibagian tengah, tetapi pilihlah
pot yang serasi dengan sosok tanaman yang akan digunakan.

Gambar 5. Media tanam, pot, dan bibit. Merupakan perlengkapan budidaya


meniran dalam pot
Ukuran potdisesuaikan dengan sosok dan umur tanaman. Berdasarkan
pengalaman, tanaman cenderung tumbuh dengan baik bila menggunakan pot yang
berukuran sesuai. Bila tanaman meniran sudah mencapai 50 cm dan dahan nya
sangat banyak, Sebaiknya pot yang di gunakan adalah pot plastic berukuran
diameter 20 cm sebagai wadahnya.
c. Persiapan media tanam
Media tanam untuk tanaman pot beragam jenis dan variasinya. Umumnya
media yang digunakan berupa tanah, humus, kompos, atau pupuk kandang, pasir,
serbuk gergaji, sekam, arang, dan batu kerikil. Tiap orang memiliki formulasi
yang berbeda beda. Formulasi media tanam yang digunakan dapat dibuat sebagai
berikut.
1. Media tanam berupa campuran serutan kayu, tanah, dan pupuk kandang
dengan perbandingan 3 : 10,2. Ketiga bahan tersebut dicampur merata.
2. Media tanam berupa campuran tanah halus, pupuk kandang, dan pasir atau
sekam, ditambah hasil pembakaran sisa sisa tanaman dengan perbandingan 1 :
1 : 1 : 1.

12

Gambar 6. Meniran dalam pot. Dapat mempercepat fase vegetatif tanaman


meniran
Masing masing media tanam memiliki kelebihan dan kekurangan. Media
pertama berbobot ringan dan bersifat porous sehingga air dapat keluar dengan
mudah. Namun demikian, media tersebut tidak tahan lama karena cepat lapuk.
Media kedua agak lebih berat dibandingkan media pertama, tetapi relative lebih
tahan lama serta porous. Selain media tanam buatan sendiri, media tanam siap
pakai juga banyak dijual dipasaran, diantaranya di toko toko pertanian.
Sebaiknya pemilihan media tanam disesuaikan dengan kondisi tanaman dan
lingkungan sekitar. Tanaman meniran menyenangi media tanam berstruktur
remah,berbutir butir,gembur,banyak mengandung unsure unsure hara, dan lebih
bersifat basa. Disamping itu, media tanam cukup mudah mengikat dan melepas
air, cukup ringan agar pot mudah dipindahkan, serta relative bebas dari hama dan
penyakit.
Media tanam yang kedua lebih umum digunakan. Pot diisi dengan sekam
murni pada lapisan pertam sampai sekitar bagian pot. Pada lapisan kedua diberi
media campuran tanah, pupuk kandang, sekam, dan hasil pembakaran sisa sisa
tanaman dengan perbandingan 1:1:1:1. Pemberian media ini sampai sekitar
separuh tinggi pot.
2. Penanaman
Setelah separuh dari isi pot dipenuhi dengan media, barulah tanaman
dimasukkan kedalam pot. Tambahkan lagi media campuran trsebut sampai
mencapai permukaan dekat bibir pot. Setelah tanaman ditanam, padatkanlah tanah
disekelilingtanaman menggunakan ujung jari.

Gambar 7. Penanaman meniran dalam pot. Tanah di bagian atas pot dipadatkan
dengan jari-jari tangan.
3. Pemeliharaan

13

Pemeliharaan yangdilakukan diantaranya adalah pemupukan dan penyiraman.


Pada umumnya pemupukan meniran dalam pot dilakukan secara intensif. Tanah
di dalam pot tidak mampu menyediakan unsure unsure hara secara alami karena
ruangan yang serba terbatas dan selalu dalam keadaan bersih (tidak terjadi
dekomposisi bahan organik). Kalaupun ada, biasanya hanya unsure unsure mikro
yang diperoleh dari air hujan. Itupun apabila tanaman meniran dalam pot
diletakkan ditempat terbuka.

Gambar 8. Pemupukan meniran dalam pot. Menggunakan pupuk kandang


yang ditebar di sekeliling tanaman
Pupuk yang diberikan sebaiknya pupuk organik. Pupuk kimia akan
meninggalkan residu di dalam tanah pot sehingga lama kelamaan tanah akan
rusak. Tanah dalam pot harus diganti setahun sekali bila menggunakan pupuk
kimia secara intensif. Pilih pupuk organik cair sebagai sumber unsure hara
tanaman dalam pot. Pupuk jenis ini lebih mudah diserap tanaman dan aplikasinya
sederhana. Biasanya dapat di aplikasikan langsung saat penyiraman tanaman atau
disemprotkan.
Dalam memperoleh makanan, tanaman meniran dalam pot tidak bersaing
dengan tanaman lain. Dengan demikian, unsure unsure hara yang dibutuhkan
terpenuhi secara optimum sehingga sangat membantu proses fotosintesis. Oleh
karena karbohidrat lebih dari cukup untuk pertumbuhan dan perkembangan
vegetative maka sisa karbohidrat dapat ditimbun untuk perkembangan bunga dan
alat alat persediaan makanan.
Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan hati hati. Pemberian air yang
berlebih, selai menyebabkan lingkungan perakaran terancam cendawan akar, juga

14

mengakibatkan tanaman cenderung memunculkan tunas vegetatif. Pada awal


penanaman, air harus disiram secara teratur setiap pagi atau sore hari dan
disesuaikan dengan keadaan cuaca setempat. Bila terlihat media tanam dalam pot
cepat kering, terutama saat musim kemarau, penyiraman dilakukan setiap dua kali
sehari. Meskipun demikian, volume air siraman jangan sampai berlebihan
sehingga membuat bagian atas media tanam tumpah keluar pot atau justru
menjadi becek.
Penyiraman dilakukan dengan member air keseluruh permukaan media tanam.
Agar siraman ar tadi merata dan jatuhnya air tidak merusak media tanam dan
tanaman, pakailah gembor atau sparayer. Frekunsi penyiraman setiap hari bisa
berakibat memadatnya media tanam dalam pot. Untuk itu, media tanam sebulan
sekali perlu digemburkan. Hal ini membuat peresapan air dan sirkulasi udara
dalam media tanam menjadi lebih baik dan lancar.

Gambar 9. Penyiraman Meniran dalam Pot. Menggunakan semprotan atau sprayer


4.3. Hama dan Penyakit pada Meniran
Hama pada meniran yaitu hama rayap, uret, atau ulat tanah lainnya
(Sulaksana, 2004).

Gambar 10. Rayap

Gambar 11. Uret

Gambar 12. Ulat tanah

1. Hama Rayap
Gejala serangan hama rayap diawali dengan daun layu dan kering, kemudian
daun rontok dan tanaman mati. Setelah bibit yang terserang hama rayap dicabut
ternyata rayap tersebut menyerang akar dengan cara menggigit bagian ujung akar,
sehingga kulitnya terkelupas. Dengan terkelupasnya kulitpada ujung akar, maka

15

saluran makanan dari akar ke bagian atas terhenti. Dan selanjutnya bibit
kekurangan air yang mengakibatkan daun layu dan bibit mati (Ngatiman, 2004).
Salah satu cara untuk menekan serangan rayap supaya tidak semakin
meningkat, maka dilakukan pengendalian (pencegahan) dengan cara menaburkan
insektisida berbahan aktif karbofuran (Furadan 3G). Penaburan insektisida
dilakukan pada polybag/tempat bibit. Dengan penaburan insektisida tersebut
cukup efektif, karena tidak ada penambahan bibit yang mati (Ngatiman, 2004).
2. Hama Uret
Gejala serangan hama uret, pada awalnya menunjukkan gejala daun layu dan
menguning layu kering seperti kekurangan air. Pada serangan lanjut tanaman akan
mati dan mudah roboh atau sangan mudah dicabut. Serangan pada tanaman muda
dapat menyebabkan kematian tanaman, sehingga perlu penanaman ulang
(penyulaman). Sedangkan serangan pada tanaman dewasa mengakibatkan
terjadinya penurunan hasil atau bahkan gagal panen.
Pengendalian yaitu dengan aplikasi serbuk biji mimba yang digunakan sebagai
pestisida nabati, produk olahan dari tanaman mimba juga dapat berfungsi sebagai
pupuk.
Sumber:(lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&vie
w=article&id=623:pengendalian-hama-uret-lepidiota-stigma-pada-tanamantebu&catid=4:info-aktual&ltemid=5)
3. Ulat Tanah
Gejala serangan hama ulat tanah ditandai dengan terpotongnya batang
tanaman, terutama tanaman muda di persemaian. Tanaman yang baru saja pindah
tanam terpotong hingga putus dan menyisakan pangkal batangnya saja.
Pengendalian hama ulat tanah dengan beberapa cara yaitu secara teknis
dengan penggenangan lahan selama sehari penuh yang bertujuan untuk
membunuh hama ulat tanah maupun pupa yang masih bersembunyi di dalam
tanah, mekanis dengan cara memusnahkan seluruh tanaman yang terserang
dengan mencabut sampai ke bagian akarnya sehingga telur-telur yang masih
menempel segera dimusnahkan, maupun secara kimiawi yaitu dengan penggunaan
pestisida berbahan aktif karbofuran ke dalam lubang tanam.
4.4. Pengembangbiakan Tanaman Meniran
Generatif, yaitu menghasilkan biji. Biji diperoleh dari tanaman dewasa.
Tanaman dewasa secara alami akan menghasilkan buah yang berbiji. Biji tersebut
dihasilkan dari perkawinan dengan tanaman meniran lain di sekelilingnya.

16

4.5. Panen dan Pasca Panen


1. Panen
Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur kurang lebih 3,5 bulan dengan
tinggi 40-50 cm dari tanah. Pada umur tersebut, meniran cukup baik digunakan
sebagai obat. Disamping itu bibit disekitar tanaman yang akan dipanen juga sudah
mulai tumbuh.
Cara pemanenan dilakukan dengan mencabut seluruh tanaman
(akar,batang,dan daun) karena setiap bagiannya berguna untuk obat. Pemanenan
dilakukan dengan hati hati agar tidak ada bagian tanaman yang rusak. Pemanenan
juga dapat dilakukan dengan mendongkel bagian pinggirtanaman terlebih dahulu
dengan cangkul kecil atau kored agar mempermudah pencabutan tanaman. Setelah
dicabut hasil panen dikumpulkan di lokasi tertentu dengan rapi. Setelah itu, hasil
panen siap diamgkut atau digunakan. Pengumpulan hasil panen dapat
menggunakan bakul besar.
2. Pascapanen
Tekhnologi penanganan pasca panen sangat dibutuhkan untuk mengolah hasil
panen tanaman obat sehingga berdaya guna lebih bagi masyarakat serta dapat juga
meningkatkan nilai tambah produk dan nilai ekonomi bagi petani. Penanganan
nya bisa berbentuk segar atauolahan.
1. Bentuk segar
Seluruh bagian tanaman meniran segar yang baru di panen bisa dikonsumsi
langsung sebagai bahan berkhasiat menyembuhkan. Caranya, tanaman direbus
atau dihancurkan dengan campuran air dengan menggunakan blender. Hasil
rebusan ditampung dalam botol kecil. Hanya saja, cara ini tidak bisa digunakan
untuk waktu penyimpanan lama. Lama penyimpanan hasil rebusan hanya bertahan
1-2 bulan saja.
2. Olahan
Cara yang lebih efektif dan berjangka panjang untuk mengamankan hasil
panen meniran adalah dengan mengolahnya menjadi bentuk lain. Bentuk olahan
meniran dapat berupa jamu, ekstrak bahan alam, fitofarmaka.
a. Jamu ( empirical based herbal medicine )
Jamu adalah obat tradisional yang disediakan dalam bentuk seduhan atau pil.
Pada umumnya,jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur
yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlah nya cukup banyak, berkisar
5-10 macam bahkan lebih. Jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah secara
17

klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu telah digunakan secara turun
temurun sejak beberapa tahun yang lalu. Hal iini sudah membuktikan keamanan
dan manfaat langsung untuk tujuan kesehatan.

Gambar 13. Meniran dalam bentuk segar. Siap diolah menjadi produk olahan

Gambar 14. Air rebusan meniran. Berkhasiat mengobati, tetapi tidak bisa
disimpan lama
Meniran sudah banyak diperdagangkan dalam bentuk kering dan siap seduh
atau siap rebus. Meniran kering dikemas dalam plastic trasparan dengan jumlah
10 tanaman perbungkusnya. Harganya berkisar antara Rp 1.000,00-Rp 2.000,00
perbungkusnya. Proses pengeringan sangat sederhana, dimulai dari pengumpulan
hasil panen, penyortiran(membuang yang afkir),pencucian,dan terakhir
pengeringan selama 3-5 hari. Pengeringan bisa menggunakan tampah besar dan di
angin anginkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung.
b. Ekstrak Bahan Alam
Ekstrak bahan alam adalah hasil penyarian tanaman obat. Prosesnya
menggunakan peralatan yang kompleks dan berharga mahal serta didukung oleh
tenaga kerja, ilmu pengetahuan, maupun keterampilan mutakhir. SElain proses
produksi teknologi maju, jenis pengolahan ini pada umumnya telah ditunjang oleh
pembuktian ilmiah berupa hasil penelitian praklinik seperti standar kandungan
bahan berkhasiat, standar pembuatan ekstrak tanaman obat, standar pembuatan
obat tradisioanal yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. Ekstrak
meniran merupakan bahan awal bagi fitofarmaka.
c. Fitofarmaka
Jenis olahan ini merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang
dapat di sejajarkan dengan bahan modern. Hal ini disebabkan proses

18

pembuatannya sudah berstandar dan di tunjang oleh buki ilmiah berupa ekstrak
bahan alam atau fitofarmaka. Sementara industry jamu lebih condong
memproduksi bentuk jamu yang lebih sederhana, meskipun akhir akhir ini cukup
banyak industry besar yang memproduksi jamu dalam bentuk sediaan modern
(tablet,kapsul,sirup, dan lain lain).
Perlakuan pasca panen memegang peranan penting bila di tilik dari aspek
komersial karena akan memperpanjang daya simpan dan terbebas dari
pencemaran. Hasil panen yang sudah tercemar dan sebagai bahan baku obat
tradisional atau untuk di konsumsi bisa menimbulkan gangguan kesehatan
manusia.
Untuk mencegah kemungkinan terjadinya pencemaran tersebut, perlu
dilakukan usaha penanganan panen dan pascapanen sebagai berikut :
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Pemanenan dilakukan dengan waktu yang relative singkat


Perlu dilakukan pencucian dan penyortiran meniran sebelum dikemas
Pengemasan dan pengagkutan harus baik
Pengeringan harus sampai pada kadar air tertentu (maksimal 100%)
Tempat penyimpanan harus tertutup dan kering
Setiap tahap proses pasca panen perlu dijaga dari kontaminasi.

Tabel 1. Perbandingan Keuntungan Budi Daya di Lahan dan di Pot


Keuntungan di Lahan

Keuntungan di Pot

Tidak membutuhkan pengaturan sendiri


penyiraman dan penyinaran
Biaya yang lebih murah

Memanfaatkan halaman atau lahan


yang sempit
Lebih mudah memindahkan tanpa
resiko tanaman mengalami kematian
Akar bisa tumbuh dengan bebas
Pertumbuhan dan perkembangan
tanaman tidak akan merusak bangunan
yang ada di sekitarnya
Kebutuhan unsur hara mineral dan air
dapat dipenuhi secara optimal dan
efisien
Pemborosan pupuk dapat diminimalisir
karena pemberiannya sesuai dengan
kebutuhan dan dapat dimanfaatkan oleh
tanaman seluruhnya
Sistem drainase lebih mudah diterapkan
sehingga tidak kelebihan air
Sumber: (http://budidayasda.blogspot.co.id/2014/03/keuntungan-budidayatanaman-dalam-pot.html)
Tabel 2. Perbandingan Kerugian Budi Daya di Lahan dan di Pot

19

Kerugian di Lahan

Kerugian di Pot

Sistem drainase yang kurang bisa diatur

Memerlukan biaya lebih untuk


pembelian wadah media tanam (pot)

Pembahasan diskusi kelas


Pembibitan yang sangat efisien diperoleh dari induk unggul dengaan ciriciri batang serta percabangan tegap dan kokoh, sudah beberapa kali berbuah,
jumlah buah banyak, rajin berbuah, serta sedikit terserang hama dan penyakit.
Bibit diperoleh dari tanaman meniran yang sudah dewasa.
Tanaman meniran adalah tumbuhan liar yang dibudidayakan karena untuk
diambil manfaatnya, yaitu sebagai obat. Pembudidayaan tanaman meniran kurang,
karena tidak banyak orang yang mengetahui tanaman ini ada manfaatnya, selain
itu tanaman ini juga tumbuh secara liar sehingga sering dianggap sebagai rumput
biasa.
Pemanfaatan meniran bisa secara langsung, artinya langsung dimakan
supaya kandungan zat aktif dalam menniran tidak hilang atau terkurangi.

20

BAB V
KESIMPULAN
1. Syarat tumbuh tanaman meniran yaitu iklim tropis, dengan ketinggian tempat
sampai 1.000 dpl.
2. Perlakuan budi daya meniran di lahan yaitu pembibitan, penyemaian,
pengolahan lahan, penanaman, dan pemeliharaan.
3. Perlakuan budi daya meniran di pot yaitu persiapan tanam, penanaman, dan
pemeliharaan.
4. Hama dan penyakit tanaman meniran yaitu hama rayap, uret, atau ulat tanah
lainnya. Pencegahan dengan pemberian insektisida nabati.
5. Pengembangbiakan tanaman meniran secara generatif, yaitu perkawinan
dengan tanaman lain menghasilkan biji.
6. Panen pada umur yang cukup baik yang dimanfaatkan sebagai obat ketika
tanaman berumur kurang lebih 3,5 bulan dengan tinggi tanaman 40-50 cm dari
tanah. Penanganan pasca panen bisa berbentuk segar yaitu langsung
dikonsumsi atau olahan berbentuk jamu, ekstrak bahan alam, dan fitofarmaka.

21

Daftar Pustaka
http://budidayasda.blogspot.co.id/2014/03/keuntungan-budidaya-tanaman-dalampot.html
lampung.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=articl
e&id=623:pengendalian-hama-uret-lepidiota-stigma-pada-tanamantebu&catid=4:info-aktual&ltemid=5
Ngatiman. 2004. Serangan Hama dan Penyakit pada Bibit Meranti (Shorea
Leprosula Miq.) Di Persemaian. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa
Sulaksana, J. dan Jayusman, D.I. 2004. Meniran, Budi Daya dan Pemanfaatan
untuk Obat. Jakarta: Penebar Swadaya
Setiawan dan Rahardjo, M. 2014. Respon Pemupukan Terhadap Pertumbuhan,
Produksi Dan Mutu Herba Meniran (Phyllantus Niruri). Bogor

22