Anda di halaman 1dari 141

SKRIPSI

PENGARUH RETURN ON EQUITY (ROE) DAN DEBT TO EQUITY RATIO


(DER) TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEBIJAKAN DIVIDEN
SEBAGAI VARIABLE MODERATING PADA PERUSAHAAN
MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA
( BEI ).

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi

Oleh

NAMA

: ELVIRA

NIM

: 3201100189

JURUSAN

: AKUNTANSI

KONSENTRASI

: AKUNTANSI KEUANGAN

Fakultas Ekonomi
UNIVERSITAS BUNG KARNO
2014

TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI

Proposal dengan judul : PENGARUH RETURN ON EQUITY (ROE) DAN DEBT TO


EQUITY RATIO (DER) TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
DENGAN KEBIJAKAN DIVIDEN SEBAGAI VARIABLE
MODERATING

PADA

PERUSAHAAN

MANUFAKTUR

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA


( BEI ).

Disusun oleh

Nama

: ELVIRA

Nim

: 3201100189

Jurusan

: Akuntansi

Telah disetujui untuk diajukan seminar di hadapan dewan penguji


Jakarta,

Agustus 2014

Pembimbing I

Pembimbing II

Syamsu Rijal, SE,Ak,,MM,CA

Abdillah Hamdi,SE.,MM

BAB I
PENDAHULUAN

1.

Latar Belakang

Berdirinya sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal
yang mengemukakan tujuan dari berdirinya sebuah perusahaan. Tujuan yang pertama adalah
untuk mencapai keuntungan maksimal. Tujuan yang kedua adalah ingin memakmurkan
pemilik perusahaan atau para pemilik saham. Sedangkan tujuan perusahaan yang ketiga
adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang tercermin pada harga sahamnya. Ketiga tujuan
perusahaan tersebut sebenarnya secara substansial tidak banyak berbeda.
Menurut Sutrisno ( 2007:4 ) bahwa tujuan perusahaan adalah meningkatkan
kemakmuran para pemegang saham atau pemilik. Kemakmuran para pemegang saham
diperlihatkan dalam wujud semakin tingginya harga saham, yang merupakan pencerminan
dari keputusan-keputusan investasi, pendanaan, dan kebijakan deviden. Oleh karena itu
kemakmuran para pemegang saham dapat dijadikan sebagai dasar analisis dan tindakan
rasional dalam proses pembuat keputusan.
Tujuan utama dari perusahaan adalah meningkatkan nilai perusahaan. Untuk
meningkatkan nilai perusahaan tersebut dapat dicapai jika perusahaan beroperasi dengan
maksimal dan mencapai keuntungan yang ditargetkan. Nilai perusahaan dapat dilihat dari
kemampuan perusahaan membayar dividen. Besarnya dividen ini dapat mempengaruhi harga
saham. Apabila dividen yang dibayar tinggi, maka harga saham cenderung tinggi sehingga
nilai perusahaan juga tinggi. Namun terkadang perusahaan tidak berhasil untuk meningkatkan
nilai perusahaan, hal tersebut dapat dikarenakan tidak cermatnya pihak manajemen
mengaplikasikan faktor-faktor yang dapat memaksimalisasi nilai perusahaan.

Berikut adalah beberapa contoh penelitian terdahulu sebagai berikut :


NO
1

NAMA
Mariah

JUDUL
Pengaruh profitabilitas dan

HASIL
Hasil penelitian ini

(2012)

kesempatan investasi terhadap

menemukan bahwa

kebijakan deviden tunai dengan

peluang profitabilitas

likuiditas sebagai variabel

dan investasi tidak

moderating pada emiten

mempengaruhi deviden

pembentuk LQ 45

payout ratio parsial dan


simultan terhadap
likuiditas sebagai

Micheal

Pengaruh profitabilitas dan

variabel moderating.
Hasil penelitian ini

suharli

investment oportunity set

adalah kebijakan

(2012)

terhadap kebijakan devidentunai

jumlah pembagian

dengan likuiditas sebagai variabel

deviden di pengaruhi

penguat

oleh profitabilitas dan


di perkuat oleh

Alfredo

Pengaruh kinerja keuangan

likuiditas peruasahaan.
Hasil penelitian ini

mahendra

terhadap nilai perusahaan pada

menunjukkan bahwa

(2011)

perusahaan manufaktur di bursa

hanya profitabilitas

efek indonesia.

berpengaruh
positifsignifikan
terhadapnilai
perusahaan ini
berartiprofitabilitas
yang tinggi dapat

memberikan nilai
tambah kepada nilai
perusahaannya.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul PENGARUH RETURN ON EQUITY (ROE) DAN DEBT TO EQUITY
RATIO (DER) TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN KEBIJAKAN DIVIDEN
SEBAGAI VARIABLE MODERATING PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA ( BEI ) .

2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah ROE
dan
DER berpengaruh signifikan terhadap nilai
perusahaan?
2. Apakah kebijakan dividen mampu memoderasi hubungan antara ROE dan
DER terhadap nilai perusahaan?
3.

Tujuan dan manfaat penelitian Penelitian


3.1
Tujuan penelitian
Penelitian berjudul Pengaruh ROE DAN DER terhadap nilai perusahaan dengan
kebijakan dividen sebagai variable moderating ini, mempunyai tujuan :
1. Untuk menganalisis pengaruh ROE DAN DER terhadap nilai perusahaan
2. Untuk menganalisis apakah kebijakan dividen dapat memoderasi
hubungan antara ROE DAN DER

3.2 Manfaat Penelitian


1. Bagi Pembaca

Sebagai informasi tambahan yang dapat digunakan untuk memperluas


pengetahuan dan bahan pertimbangan atas penelitian yang akan dilakukan
selanjutnya.
2. Bagi Penulis
Sebagai bahan perbandingan antara teori yang penulis pelajari dengan hasil
analisis yang diperoleh, sehingga dapat menambah wawasan dan pengetahuan
penulis.
3. Bagi Pihak Akademis
Hasil akhir penulisan ini hendaknya dapat digunakan bagi pihak akademis
untuk melakukan replikasi penelitian sehingga penelitian yang sudah ada
dapat berkembang lagi dengan adanya penambahan variabel dan sampel
penelitian, sehingga ilmu pengetahuan semakin berkembang.

Mariah dan Meythi

2012

dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh

Profitabilitas Dan Kesempatan Investasi Terhadap Kebijakan Dividen Tunai Dengan


Likuiditas Sebagai Variable Moderating Pada Emiten Pembentuk LQ 45. Penelitian ini
dilakukan pada 15 perusahaan yang sahamnya dimasukkan dalam periode indeks LQ 45
Desember 2007 hingga Desember 2010 di Bursa Efek Indonesia. Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah Dividen Payout Ratio (DPR), sedangkan return on Equity (ROE) dan
Pertumbuhan Penjualan (SG) sebagai variabel independen, dan Current Ratio (CR) sebagai
variabel moderating.
Michell Suharli (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Profitabilitas Dan Investment Opportunity Set Terhadap Kebijakan Dividen Tunai dengan
Likuiditas Sebagai Variabel Penguat Penelitian ini menguji pengaruh profitabilitas dan
kesempatan investasi terhadap kebijakan jumlah dividen kas perusahaan publik di Jakarta
dengan menggunakan likuiditas sebagai variabel penguat (variabel moderator). Profitabilitas
diukur dengan return on investment (ROI), kesempatan investasi diproksikan oleh fixed

assets, dan liquiditas sebagai variabel moderat diproksikan oleh current ratio di Bursa Efek
Jakarta.
Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan di Indonesia yang listing di
BEJ dan membagikan dividen pada tahun 2009-2011. Hasil penelitian ini adalah kebijakan
jumlah pembagian dividen perusahaan dipengaruhi oleh profitabilitas dan diperkuat oleh
likuiditas perusahaan. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah menggunakan variabel
independen yang lebih banyak lagi untuk menghasilkan hasil penelitian yang komperhensif.
Di samping itu pemilihan sampel sebaiknya lebih di perbanyak lagi.
Alfredo Mahendra DJ (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Kinerja
Keuanagan Terhadap Nilai Perusahaan (kebijakan deviden sebagai variable
moderating) Pada Perusahan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini
menggunakan 30 sampel pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang
secara berturut-turut membagikan dividen selama periode 2006-2009. Pengujian
hipotesis penelitian digunakan teknik analisis berganda dan moderated regression
analysis, Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja
keuangan terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai variabel
pemoderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1) Likuiditas berpengaruh positif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan,
2) Kebijakan dividen tidak mampu secara signifikan memoderasi pengaruh likuiditas
terhadap nilai perusahaan,
3) DER berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan,
4) Kebijakan dividen tidak mampu secara signifikan memoderasi pengaruh leverage
terhadap nilai perusahaan,
5) ROE berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan,

6) Kebijakan dividen tidak mampu secara signifikan memoderasi pengaruh

ROE

terhadap nilai perusahaan.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ROE berpengaruh positif signifikan
terhadap nilai perusahaan Ini berarti ROE yang tinggi dapat memberikan nilai tambah kepada
nilai perusahaannya, yang tercermin dengan meningkatnya nilai Tobins Q. Disarankan pada
penelitian berikutnya untuk menambah variabel moderasi lainnya selain kebijakan dividen
yang digunakan dalam penelitian ini.

4.

Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

(ROE)
(X1)

H1

H2

(DER)
(X2)

NILAI
PERUSAHAAN
PADA
KEBIJAKAN
DEVIDEN
(Y)

H3
H3

Variable ini terdiri dari variable dependen Nilai Perusahaan, variable independen yaitu
Profitabilitas (ROE), dan Leverage (DER), dengan variable moderating (penguat) Kebijakan
dividen (DPR) Berdasarkan landasan teori, pengaruh antara variable dan hasil penelitian
sebelumnya maka untuk merumuskan hipotesis, berikut menyajikan kerangka pemikiran yang
dituangkan dalam model penelitian pada gambar.
1. Variabel Bebas (Variable Independen)
Dalam penelitian ini variabel bebas (X) atau variabel bebas adalah variabel
yang mempengaruhi variabel lainnya. Variabel bebas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kinerja keuangan yang terdiri dari ROE dan DER.

2. Variabel Terikat (Variable Dependen)


Dalam penelitian ini variabel terikat (Y) adalah variabel yang dipengaruhi oleh
variable bebas.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Nilai Perusahaan. Susanti

(2010:23), Indikator-indikator yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah PER (Price
Erning Ratio) dan PBV (Price Book Value). Dalam penelitian ini nilai perusahaan diukur

menggunakan PBV (Price to book value) yaitu rasio pasar yang digunakan untuk mengukur
kinerja harga/ nilai pasar saham terhadap nilai bukunya.
Menurut Sitepu (2010: 33) Seorang calon investor perlu melihat ROE suatu
perusahaan sebelum memutuskan melakukan investasi supaya dapat mengetahui seberapa
banyak yang akan dihasilkan dari investasi yang dilakukannya. Profitabilitas mengukur
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Rasio profitabilitas dalam penelitian ini
diwakili oleh Return On Equity (ROE). ROE merupakan rasio yang menunjukkan tingkat
pengembalian yang diperoleh pemilik atau pemegang saham atas investasi di perusahaan.
ROE membandingkan besarnya laba bersih terhadap total ekuitas yang dimiliki perusahaan.
Semakin tinggi ROE menunjukkan bahwa semakin tinggi pengembalian terhadap
investasi yang dilakukan dan semakin rendah ROE suatu perusahaan maka tingkat
pengembaliannya akan semakin rendah pula. Semakin tinggi laba yang diperoleh, maka
kemampuan perusahaan untuk membayar dividen juga akan semakin tinggi dan harga saham
perusahaan akan semakin meningkat.

Leverage mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi seluruh kewajiban


finansialnya yang terdiri dari utang jangka pendek dan utang jangka panjangnya. Leverage
dalam penelitian ini diwakili oleh Debt to Equity Ratio (DER). DER merupakan rasio yang
membandingkan total utang dengan total ekuitas. Rasio ini mengukur persentase dari dana
yang diberikan oleh para kreditur. Total utang meliputi kewajiban lancar dan kewajiban
jangka panjang. DER mencerminkan kemampuan perusahaan untuk membayar atau
memenuhi kewajibannya dengan modal sendiri. DER menunjukkan hubungan antara jumlah
pinjaman yang diberikan oleh pemilik perusahaan. Semakin besar rasio ini menunjukkan
bahwa semakin besar pula struktur modal yang berasal dari utang yang digunakan untuk
mendanai ekuitas

yang

ada,

semakin kecil rasio DER, semakin baik kemampuan

perusahaan untuk dapat bertahan

dalam kondisi yang buruk. Rasio DER yang kecil

menunjukkan bahwa perusahaan masih mampu memenuhi kewajibannya kepada kreditur.


Menurut Lina (2010:46) deviden merupakan pembagian keuntungan atau laba yang
dihasilkan perusahaan dan tersedia bagi pemegang saham.
Dividen berasal dari bahasa Latin yaitu divendium yang artinya sesuatu untuk dibagi. Berikut
ini beberapa pemaparan mengenai pengertian dividen. Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia
dividen diartikan sejumlah uang sebagai hasil keuntungan yang dibayarkan kepada
pemegang saham (dalam suatu Perseroan). Menurut BAPEPAM dividen adalah porsi
keuntungan perusahaan yang dibayarkan kepada para pemegang saham,
Menurut Tita (2011:17), dividen adalah pembagian kepada pemegang saham yang
sebanding dengan jumlah lembar yang dimiliki.
Terdapat penelitian terdahulu yang telah dilakukan yang menguji tentang nilai
perusahaan

yang

dihubungkan

dengan

berbagai

variabel independen diantaranya

dilakukan oleh Ulupui (2007), Teori yang mendasari penelitian-penelitian tersebut adalah
semakin tinggi kinerja keuangan yang biasanya diproksikan dengan rasio keuangan maka
semakin tinggi pula nilai perusahaan. Melalui rasio-rasio keuangan tersebut dapat dilihat
seberapa berhasilnya manajemen perusahaan mengelola asset dan modal yang dimilikinya
untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan hanya
variabel Asset Turn Over (TOA), ROA, ROE, Leverage Ratio, DER, dan EPS memberikan
hubungan yang nyata dengan return saham. Saepudin (2008) memeriksa tentang pengaruh
rasio profitabilitas dan IOS terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI.

5. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban atas pertanyaan sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk

kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan
pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta yang empiris yang diperoleh
melalui pengumpulan data.
Menurut Sugiyono (2007:58) penelitian hipotesis adalah jawaban sementara terhadap
rumusan masalah penelitian. Pada penulisan ini penulis menggunakan hipotesis asosiatif
yaitu jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu menanyakan hubungan
antara dua variabel atau lebih. Berdasarkan kerangka pemikiran diatas dapat diambil hipotesis
sebagai berikut :
H1

Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H2

Kebijakan dividen dapat memoderasi interaksi antara profitabilitas


terhadap nilai perusahaan.

H3

Leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan. Kebijakan


dividen dapat memoderasi interaksi antara leverage terhadap nilai
perusahaan.

6. Metode Penelitian
Menurut sugiyono (2007:5) Metodologi penelitian merupakan ilmu yang
mempelajari tentang metode-metode penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian.
Secara umum metode penelitian adalah suatu kegiatan yang menggunakan metode yang
sistematis untuk memperoleh data yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data dan
analisis data,
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah penelitian asosiatif
kausal, yaitu suatu metode penelitian yang berguna untuk mengetahui hubungan antara 2
variabel atau lebih. Karena penelitian ini ingin mengetahui hubungan dan pengaruh yang
ditimbulkan oleh empat variabel, yaitu variabel pertama adalah ROE yang merupakan
variabel bebas (X1), variabel kedua adalah DER yang merupakan variabel bebas (X2),

variabel ketiga adalah Nilai Perusahan yang merupakan variabel terikat (Y), dan variable
keempat adalah Kebijakan Deviden yang merupakan variable moderating (Z). Dengan
penelitian ini akan dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan,
meramalkan, dan mengontrol suatu gejala. Hubungan yang digunakan dalam penelitian ini
adalah hubungan kausal yaitu merupakan hubungan yang bersifat sebab-akibat antar variabel
yang mempengaruhi dan dipengaruhi.

6.1 Teknik pengumpulan data


Data penelitian merupakan kumpulan data fakta. Sehingga dapat dipakai atau
digunakan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan. Data yang diperoleh melalui penelitian
secara umum dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah
dalam kehidupan manusia. Data-data tersebut harus memenuhi kriteria tertentu, yaitu harus
valid, reliable, dan objektif. Valid menunjukkan derajat ketepatan antara data yang
sesungguhnya dengan data yang dikumpulkan oleh peneliti. Reliable menunjukkan derajat
konsistensi yaitu konsistensi data dalam waktu tertentu.objektif menunjukkan derajat
persamaan persepsi antar orang perorangan (Inter Personal Agreement).
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh
data yang diharapkan. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat penting dalam
metode ilmiah, karena pada umumnya digunakan untuk menguji hipotesis yang telah
dirumuskan. Sumber yang digunakan oleh peneliti dalam pengumpulan data adalah data
sekunder.

6.2

Tempat dan Waktu Penelitian

Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya adalah
data sekunder, yaitu data yang tidak langsung di dapat dari perusahaan, tapi diperoleh dalam

bentuk data yang telah dikumpulkan, diolah dan dipublikasikan oleh pihak lain yaitu Bursa
Efek Indonesia berupa, data melalui internet (www.idx.co.id) dalam hal ini data keuangan
dari tahun 2009-2011.
Data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder eksternal.
Data penelitian ini diambil dari neraca dan laporan laba-rugi yang diperoleh dari perusahaan
industri yang terdaftar di BEI. Terdapat berbagai jenis data yang digunakan dalam penelitian,
pada penelitian ini penulis menggunakan jenis data penelitian sebagai berikut:
a) Menurut sifatnya, data dalam penelitian ini termasuk data kuantitatif yang
berbentuk angka. Data ini diperoleh melalui laporan keuangan perusahaan di PT
Indonesian Capital Market Electronic Library (ICMEL) (www.idx.co.id).
b) Menurut sumbernya, data ini bersumber dari internal perusahaan yaitu data
diperoleh dari dalam perusahaan yang berbentuk laporan keuangan dari ICMEL
(www.idx.co.id).
c) Menurut cara memperolehnya, adalah menggunakan data sekunder yaitu data
yang diperoleh dalam bentuk jadi dan telah diolah oleh pihak lain.

6.3. Populasi dan sample


6.3.1

Populasi Penelitian

Menurut sugiyono (2007:115) Populasi adalah wilayah generalisasi yang


terdiri atas obyek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu

yang

ditetapkan

oleh

peneliti

untuk

dipelajari

dan

kemudian

ditarik

kesimpulannya.
Populasi pada penelitan ini adalah seluruh Perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2009-2011. Dengan total populasi
perusahaan terdaftar sebanyak 170 perusahaan.
6.3.2

Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
suatu populasi. Apa yang dipelajari dari sampel itu kesimpulannya akan
diberlakukan untuk populasi, untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus
betul-betul representative (mewakili populasinya).
Teknik sampling yang digunakan adalah sampling purposive. Purposive
sampling adalah bentuk pengambilan sampel yang berdasarkan atas kriteriakriteria tertentu, karakteristik atau ciri-ciri tertentu berdasarkan ciri atau sifat
populasinya. Sektor perusahaan manufaktur yang menjadi obyek penelitian dalam
skripsi ini merupakan salah satu sektor perusahaan yang terdaftar di BEI. Sektor
perusahaan manufaktur terbagi menjadi tiga subsektor utama, yaitu sektor industri
dasar kimia, aneka industri dan industri barang konsumsi.

6.4 Operasional Variabel Penelitian


Definisi operasional adalah suatu definisi yang memberikan penjelasan atas
suatu variabel yang dapat diukur dan dapat memberikan informasi-informasi yang
diperlukan untuk dapat mengukur variabel-variabel yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini digunakan 4 variabel, yaitu Return On Equity (X1), Debt
to Equity Ratio (X2), Nilai Perusahaan (Y), dan Kebijakan Dividen (Z). Variabel

Independen merupakan stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain.


Variabel independen merupakan variabel yang dapat diukur, dimanipulasi, atau dipilih
oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi.
Variabel dependen adalah variabel yang memberikan reaksi atau respons jika
dihubungkan dengan variabel bebas, serta variabel yang dapat diamati dan diukur
untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel independen. Variable
modrating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan langsung
antara variable independen dan variabel dependen. Dalam penelitian ada beberapa
variabel yang digunakan antara lain:
6.4.1

Variabel Bebas (Variable Independen)


Dalam penelitian ini variabel bebas (X) atau variabel bebas adalah variabel

yang mempengaruhi variabel lainnya. Variabel bebas yang digunakan dalam


penelitian ini adalah kinerja keuangan yang terdiri dari ROE dan DER.

1. Return On Equity (ROE)


Horne dan John (2007:32), Return On Equity (ROE) merupakan tingkat
pengembalian atas ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Sehingga perhitungan ROE
sebuah perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
Return On Equity (ROE)

Laba Bersih - Pajak


Total Ekuitas

2. Debt to Equity Ratio


Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja
perusahaan dari penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan perusahaan. Rasio

ini juga menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi total hutang (total
debt) berdasarkan total modal perusahaannya. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai
berikut, (Riyanto, 2008):
Debt to Equity Ratio (DER)

Total Hutang
Total ekuitas

6.4.2

Variabel Terikat (Variable Dependen)

Dalam penelitian ini variabel terikat (Y) adalah variabel yang dipengaruhi oleh
variable bebas.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Nilai Perusahaan.

Susanti (2010:23), Indikator-indikator yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan


adalah PER (Price Erning Ratio) dan PBV (Price Book Value). Dalam penelitian ini
nilai perusahaan diukur menggunakan PBV (Price to book value) yaitu rasio pasar
yang digunakan untuk mengukur kinerja harga/ nilai pasar saham terhadap nilai
bukunya. Sedangkan Brigham (2007:5) menyatakan PBV merupakan rasio yang
mengukur

nilai

yang

diberikan

pasar

keuangan

kepada manajemen

dan

organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh,

6.4.3

Variabel Moderating (Memperkuat atau Memperlemah)

Moderating

Variabel

(Z)

adalah

variabel

yang

memperkuat

atau

memperlemah hubungan langsung antara variabel independen dan variabel dependen


(Kusimadilaga, 2010:17). Variabel moderating yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Kebijakan Dividen. Kebijakan dividen adalah kebijakan pembagian atas
pendapatan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen. Kebijakan dividen
dalam penelitian ini diwakili oleh dividend payout ratio. Menurut Harjito, A dan

Martono (2008:5) menyatakan bahwa dividend payout ratio merupakan rasio yang
menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham
biasa perusahaan berupa dividen kas. Secara matematis, Dividen Payout Ratio dapat
dinyatakan dengan rumus :

Dividen Payout Ratio (DPR) =

Cash Dividen
Earning Per Share

6.5 Analisis Data


Dalam penelitian ini, data-data yang terkumpul akan dihitung, diolah, serta
dianalisis lebih lanjut untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penulis
dan peneliti berikutnya.
Dengan analisis data, peneliti akan dapat memberikan jawaban dari masalah
yang dibahas dalam penelitian, serta temuan-temuan yang dapat dijadikan sebagai
upaya untuk mengoptimalkan profitabilitas perusahaan.

1. Uji Statistik Deskriptif


Statistik deskripsi data adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data
dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul
sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku umum atau
generalisasi. Termasuk dalam statistik deskripsi data antara lain :
a. Mean (rata-rata hitung)
Mean (rata-rata hitung) adalah suatu nilai yang diperoleh dengan cara
membagi seluruh nilai pengamatan dengan banyak pengamatannya.

Rumus :

X1+ X2+.+Xi ++Xn


N

Dimana :
X = Mean data
Xn = Variabel ke-n
n

= Banyak data atau jumlah sample

b. Median
Median adalah salah satu teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas
nilai tengah dari kelompok data yaitu persediaan, biaya overhead pabrik dan
volume penjualan yang disusun urutannya dari yang terkecil sampai yang
terbesar, atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang terkecil. Rumus untuk
menghitung median adalah sebagai berikut:

Md =

X1+ X2
2

Dimana :
Md

= Median

X1

= Nilai tengah pertama median akan terletak

X2

= Nilai tengah kedua median akan terletak


c. Modus

Merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai yang sedang
populer (yang sedang terjadi mode) atau yang sering muncul dalam data

kelompok persediaan, biaya overhead pabrik dan volume penjualan. Rumus untuk
menghitung modus adalah sebagai berikut:
a
Mo = TB +

xc
(a + b)

Dimana :
Mo = Modus
TB = Titik bawah kelas modus (kelas dengan frekuemsi terbesar)
a

= Selisih frekuensi kelas Mo dengan sebelumnya

= Selisih frekuensi kelas Mo dengan sesudahnya

= Interval kelas
d. Standar Deviasi dan Varians

Standar deviasi atau simpangan baku merupakan simpangan nilai dari data
yang telah disusun dalam table distribusi frekuensi atau data bergolong. Standar
deviasi dan varians dapat dirumuskan sebagai berikut:

SS ==

( Xi X)2

Atau

2 =

Keterangan :
S2

= Varians Sampel

( Xi

= Standar Deviasi

= Jumlah data atau kelompok

Xi

= Nilai X ke 1 sampai ke n

= Rata-rata nilai

Metode Analisis Data


a) Uji Normalitas Data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi
normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data
normal atau mendekati normal. Untuk mendeteksi normalitas dapat dilakukan
dengan uji statistik. Test statistik yang digunakan antara lain analisis grafik
histogram, normal probability plots dan Kolmogorov-Smirnov test. Data
dikatakan berdistribusi normal jika signifikansi variabel dependen memiliki
nilai signifikansi lebih dari 0.05. Namun Asumsi normalitas untuk
menggunakan analisis regresi tidak terlalu kritis bila data observasi mencapai
100 atau lebih karena berdasarkan Dalil Limit Pusat (Central Limit Theorsm)
dari sampel yang besar dapat dihasilkan statistik sampel yang mendekati
distribusi normal.

b) Uji Normalitas Regresi


Menurut imam Ghozali (2009:5) menyataan bahwa uji normalitis
adalah untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan
dependennya memilki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pada

prinsipnya normalitas data dapat diketahui dengan melihat penyebaran data


(titik) pada sumbu diagonal pada grafik atau histogram dari residualnya.
c) Linearitas Regresi
Uji Linearitas digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang
digunakan sudah benar atau tidak. Dengan uji linearitas maka akan diperoleh
informasi apakah model empiris sebaiknya linear, kuadrat atu kubik.
Linearitas regresi diuji dengan Scatter Plots. Pada grafik Scatter Plots terdapat
titik-titik yang menyebar secara acak (random) baik diatas maupun dibawah
angka 0 pada sumbu Y. Jika terdapat hubungan bahwa kira-kira sebesar 95 %
dari residual terletak antara -2 dan +2 dalam scatterplots, maka asumsi
linearitas terpenuhi.
d) Analisis Regresion Moderated
Uji Interaksi atau sering disebut dengan Moderated Regression
Analysis (MRA) merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear di
mana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian
dua atau lebih variabel independen) (Ghozali, 2006:8). Variabel perkalian
antara Kinerja Keuangan (Profitabilitas X1, Leverage X2) dan Kebijakan
dividen (Z) merupakan variabel moderating oleh karena menggambarkan
pengaruh moderating variabel Kebijakan dividen (Z) terhadap hubungan
Kinerja Keuangan (X) dan Nilai Perusahaan ().
Sebelum model regresi, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian
asumsi klasik yang meliputi uji normalitas dan uji heteroskedastisitas serta
untuk memastikan bahwa data yang dihasilkan berdistribusi normal Ghozali
(2006:25):
1) Uji normalitas

Asumsi data telah berdistribusi normal adalah salah satu asumsi


yang penting dalam melakukan penelitian dengan regresi. Uji ini
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
independen, dependen dan moderasi terdistribusi secara normal atau tidak.
Pengujian dalam penelitian dengan melihat normal probability plot, di
mana pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis
diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal.

e). Uji Hipotesis


Secara statistik ketepatan fungsi regresi sample dalam menaksir aktual
dapat diukur dari nilai statistik t, nilai statistik f serta koefisien determinasinya.
Suatu perhitungan statistik tersebut signifikan secara statistik apabila nilai uji
statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah Ho ditolak). Sebaliknya disebut
tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho
diterima.
a).

Uji Korelasi / Uji f (Uji Signifikansi Simultan)


Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel

independent terhadap variabel dependen. Pembuktian dilakukan dengan cara


menganalisis nilai yang terdapat pada tabel f. Untuk menentukan nilai f
hitung, tingkat signifikasi yang digunakan sebesar 5% dengan derajat
kebebasan (degres of fridoom). Hipotesis menyatakan sebagai berikut:
H1 : Ada hubungan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.
H2 : Kebijakan Dividen dapat memoderasi hubungan antara
Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.

H3 :

Ada hubungan antara Leverage terhadap Nilai Perusahaan.


Kebijakan

Dividen

dapat

memoderasi

hubungan

antara

Leverage terhadap Nilai Perusahaan.

b). Uji Regresi / Uji t (Uji Signifikansi Parsial)


Pengujian ini bertujuan untuk memastikan apakah variabel independen
yang terdapat dalam persamaan tersebut berpengaruh terhadap nilai variabel
dependen. Uji t dilakukan dengan cara menganalisis nilai yang terdapat pada
table t. Untuk menentukan nilai t hitung ditentukan dengan tingkat signifikasi
5%. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi atau disebut juga dengan koefisien penentu
(coefficient of deterination) adalah nilai yang menunjukan seberapa besar.
Pengaruh profitabilitas (ROE) dan leverage (DER) terhadap nilai perusahaan
dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderating.

Rumus

KD = r x 100%
Keterangan

6.6.

:
Kd

: Koefisien determinasi

: Koefisien korelasi

Uji Normalitas Data


Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
dengan tingkat signifikan () = 5% maka data berdistribusi normal, begitupun
sebaliknya jika tingkat signifikan lebih kecil dari () = 5% maka data dikatakan
tidak berdistribusi normal.

a) Uji Normalitas Regresi


Menurut imam Ghozali (2009) menyataan bahwa uji normalitis adalah
untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan
dependennya memilki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pada prinsipnya
normalitas data dapat diketahui dengan melihat penyebaran data (titik) pada
sumbu diagonal pada grafik atau histogram dari residualnya. Model regresi
diasumsikan normal, jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti
arah garis diagonal. Model regresi diasumsikan tidak normal, jika data
menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis diagonal.

b) Uji Lineritas Regresi


Uji Linearitas digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang
digunakan sudah benar atau tidak. Dengan uji linearitas maka akan diperoleh
informasi apakah model empiris sebaiknya linear, kuadrat atau kubik. Linearitas
regresi diuji dengan Scatter Plots. Pada grafik Scatter Plots terdapat titik-titik
yang menyebar secara acak (random) baik diatas maupun dibawah angka 0 pada
sumbu Y. Jika terdapat hubungan bahwa kira-kira sebesar 95 % dari residual
terletak antara -2 dan +2 dalam scatterplots, maka asumsi linearitas terpenuhi.
c) Uji Moderated Regression Analysis
Uji Interaksi atau sering disebut dengan Moderated Regression
Analysis (MRA) merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear di
mana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian
dua atau lebih variabel independen) (Ghozali, 2006). Variabel perkalian
antara Kinerja Keuangan (Profitabilitas X1, Leverage X2) dan Kebijakan
dividen (Z) merupakan variabel moderating oleh karena menggambarkan

pengaruh moderating variabel Kebijakan dividen (Z) terhadap hubungan Kinerja


Keuangan (X) dan Nilai Perusahaan ().

A. Sistematika Penulisan
Pada dasarnya semua penulisan skripsi berpijak pada aturan tata tulis pasty
menggunakan sisitematika penulisan, hal ini ditempuh guna mengerti garis-garis
pembahasan, adapun sistematika penulisan yang penulis susun adalah sebagai berikut:
BAB I

PENDAHULUAN
Bab ini menjelaskan tentang:
A. Latar belakang
B. Batasan masalah
C. Rumusan masalah
D. Tujuan penelitian
E. Manfaat penelitian, dan
F. Sistematika penulisan.

BAB II

KERANGKA TEORITIS DAN PERUMUSAN


HIPOTESIS
Bab ini menjelaskan tentang:
A. Landasan

teori

yang

mendasari

pengaruhnya

Kinerja Keuangan, dan Kebijakan Dividen terhadap


Nilai Perusahaan
B. Kajian penelitian-penelitian sebelumnya
C. Keterkaitan antar variabel-variabel
D. Kerangka berfikir, dan Hipotesis.
BAB III

METODE PENELITIAN

Bab ini menjelaskan tentang:


A. Variabel penelitian dan definisi operasional
B. Populasi dan sampel
C. Sumber data dan teknik pengumpulan data, dan
D. Metode analisis data.
BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Bab ini menjelaskan tentang:
A. Analisis statistik
B. Pengujian hiptesis, dan
C. Pembahasan atas hasil pengujian hipotesis.

BAB V

PENUTUP
Bab ini menjelaskan tentang:
A. Kesimpulan
B. Keterbatasan penelitian, dan
C. Saran yang diberikan untuk penelitian selanjutnya.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Nilai Perusahaan
1. Deskripsi Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan sangat penting karena dengan nilai perusahaan yang
tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemegang saham. Semakin tinggi
harga saham semakin tinggi pula nilai perusahaan. Kekayaan pemegang saham
dan perusahaan dipresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan
cerminan dari keputusan investasi pendanaan (financing) dan manajemen asset
(Susanti 2010).
Nilai perusahaan akan tercermin dari harga sahamnya. Harga pasar dari
saham perusahaan yang terbentuk antara pembeli dan penjual disaat terjadi
transaksi disebut nilai pasar perusahaan, karena harga pasar saham dianggap
cerminan dari nilai aset perusahaan sesungguhnya. Nilai perusahaan yang
dibentuk melalui indikator nilai pasar saham sangat dipengaruhi oleh peluangpeluang investasi. Adanya peluang investasi dapat memberikan signal positif
tentang pertumbuhan perusahaan dimasa yang akan datang, sehingga dapat
meningkatkan nilai perusahaan (Untung, dkk, 2006).
Tujuan utama perusahaan menurut Theory Of The Firm adalah untuk
memaksimumkan kekayaan atau nilai perusahaan (value of the firm) (Salvatore,
2005). Memaksimalkan nilai perusahaan sangat penting artinya bagi suatu
perusahaan, karena dengan memaksimalkan nilai perusahaan berarti juga
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham yang merupakan tujuan utama

perusahaan. Menurut (Husnan dan Pudjiastuti, 2006) nilai perusahaan merupakan


harga yang bersedia dibayar oleh calon pembeli apabila perusahaan tersebut
dijual. Sedangkan menurut (J. Keown, 2010) nilai perusahaan merupakan nilai
pasar atas surat berharga hutang dan ekuitas perusahaan yang beredar. Nilai
perusahaan merupakan persepsi investor terhadap tingkat keberhasilan perusahaan
yang sering dikaitkan dengan harga saham (Sujoko dan Soebiantoro, 2007). Harga
saham yang tinggi membuat nilai perusahaan juga tinggi. Nilai perusahaan yang
tinggi akan membuat pasar percaya tidak hanya pada kinerja perusahaan saat ini
namun juga pada prospek perusahaan di masa depan.
2. Tujuan Nilai Perusahaan
Tujuan perusahaan pada dasarnya tujuan manajemen keuangan adalah
memaksimumkan nilai perusahaan. Untuk mencapai tujuan tersebut masih
terdapat konflik antara pemilik perusahaan dengan penyedia dana sebagai kreditur.
Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat,
sedangkan nilai hutang perusahaan dalam bentuk obligasi tidak terpengaruh sama
sekali. Dapat disimpulkan bahwa nilai dari saham kepemilikan bisa merupakan
indeks yang tepat untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan. Berdasarkan
alasan itulah, maka tujuan manajemen keuangan dinyatakan dalam bentuk
maksimalisasi nilai saham kepemilikan perusahaan, atau memaksimalisasikan
harga saham. Tujuan memaksimumkan harga saham tidak berarti bahwa para
manajer harus berupaya mencari kenaikan nilai saham dengan mengorbankan para
pemegang obligasi (Erlina, 2005).
3. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi nilai perusahaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai perusahaan adalah :
a. Keputusan Pendanaan

b. Kebijakan Dividen
c. Keputusan Investasi
d. Struktur Modal
e. Pertumbuhan Laba
f. Ukuran Perusahaan
Menurut Alfredo Mahendra DJ, 2012. Hubungan faktor-faktor tersebut
terhadap nilai perusahaan dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Keputusan pendanaan dapat diartikan sebagai keputusan yang menyangkut
struktur keuangan (financial structure). Struktur keuangan perusahaan
merupakan komposisi dari keputusan pendanaan yang meliputi hutang
jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal sendiri. Struktur
keuangan perusahaan sering kali berubah akibat investasi yang akan
dilakukan perusahaan. Oleh karena itu besar kecilnya investasi yang akan
dilakukan perusahaan akan berpengaruh pada komposisi (struktur)
pendanaan perusahaan. Setiap perusahaan akan mengharapkan adanya
struktur modal yang dapat memaksimalkan nilai perusahaan dan
meminimalkan biaya modal. (Purnamasari, 2009).
b. Di dalam prakteknya kebijakan dividen menjadi pusat perhatian banyak
pihak, hal ini dikarenakan kebijakan dividen memiliki informasi mengenai
performa perusahaan. Semakin besar dividen yang dibagikan kepada
pemegang saham, maka kinerja perusahaan akan dianggap semakain baik,
dan pada akhirnya penilaian terhadap perusahaan yang tercermin dari
harga saham akan semakin baik pula.
c. Keputusan investasi meliputi investasi pada aktiva jangka pendek (aktiva
lancar) dan aktiva jangka panjang (aktiva tetap). Dalam hal ini dana yang
diinvestasikan pada aktiva jangka pendek diharapkan akan diterima

kembali dalam waktu dekat atau kurang dari satu tahun dan diterima
sekaligus. Tujuan perusahaan berinvestasi pada aktiva jangka pendek
adalah untuk digunakan sebagai modal kerja atau operasional perusahaan.
Sedangkan untuk aktiva jangka panjang, dalam hal ini dana yang
ditanamkan pada aktiva jangka panjang akan diterima kembali dalam
waktu lebih dari satu tahun dan kembalinya secara bertahap. Tujuan
perusahaan berinvestasi pada aktiva jangka panjang adalah untuk
meningkatkan nilai perusahaan. (Hidayat, 2010).
d. Struktur modal adalah pertimbangan dan perbandingan antara modal asing
dan modal sendiri, dalam hal ini modal asing diartikan sebagai hutang
jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Jika suatu perusahaan
memiliki struktur modal dimana modal sendiri lebih banyak digunakan
dalam

menjalankan

kegiatannya

dibandingkan

modalnya

asing,

menunjukan semakin baik kemampuan perusahaan untuk dapat bertahan


dalam kondisi buruk. Sehingga nilai perusahaan akan meningkat yang
tercermin dalam tingginya harga saham perusahaan tersebut.
e. Semakin tinggi pertumbuhan laba semakin tinggi pula nilai perusahaan
atau harga sahamnya. Hal ini dikarenakan bahwa prospek perusahaan
dimasa yang akan datang dilihat dari pertumbuhan laba, dengan laba
perusahaan yang tinggi menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengelola
biaya yang dikeluarkan secara efisien. Laba bersih yang tinggi
menunjukkan earning per share yang tinggi, yang berarti perusahaan
mempunyai tingkat profitabilitas yang baik, dengan tingkat profitabilitas
yang tinggi dapat meningkatkan kepercayaan pemodal untuk berinvestasi
pada perusahaan tersebut, sehingga saham-saham dari perusahaan yang
memiliki tingkat profitabilitas dan pertumbuhan laba yang tinggi, saham-

sahamnya pun akan lebih diminati, sehingga kecenderungan harganya


meningkat lebih besar.
f. Ukuran perusahaan mencerminan besar kecilnya perusahaan yang tampak
dalam nilai total aset perusahaan pada neraca akhir tahun (Sujoko dan
Soebiantoro, 2007). Semakin besar total aset maka semakin besar pula
ukuran suatu perusahaan. Perusahaan besar dengan jumlah aset yang besar
memiliki dana lebih banyak untuk diinvestasikan dan digunakan dalam
aktifitas operasional perusahaan. ukuran perusahaan juga menggambarkan
besar kecilnya suatu perusahaan yang ditunjukkan dari jumlah penjualan
dan ratarata total penjualan (Ferry dan Jones, 2001). Sehingga investor
dan krediturpun percaya bahwa perusahaan dengan ukuran besar memiliki
probabilitas lebih besar untuk memenangkan persaingan atau bertahan
dalam industri. Kedua hal tersebut mampu meningkatkan nilai perusahaan
yang tercermin dari harga sahamnya.
Susanti (2010), Indikator-indikator yang mempengaruhi nilai
perusahaan diantaranya adalah:
1) Price Earning Ratio (PER)
Price Earning Ratio adalah rasio yang mengukur seberapa besar
perbandingan antara harga saham perusahaan dengan keuntungan yang
diperoleh para pemegang saham (Mohammad Usman, 2008). Rumus yang
digunakan adalah:
PER =

Nilai Pasar Per Saham x 100%


Laba Per Lembar Saham

2) Price Book Value (PBV)

Price to book value dapat diartikaan sebagai hasil perbandingan


antara harga saham dengan nilai buku per lembar saham. Secara sederhana
dinyatakan bahwa PBV merupakan rasio pasar yang digunakan untuk
mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya. Sedangkan
Brigham (2006) menyatakan PBV merupakan rasio yang mengukur nilai
yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen dan organisasi
perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh, yang dapat
dirumuskan dengan:
PBV = Nilai Pasar

x 100%

Nilai Buku
Nilai PBV yang lebih dari 1 dikatakan sebagai overvalued yang
dapat diartikan bahwa saham perusahaan dinilai lebih tinggi dibandingkan
nilai bukunya. Nilai PBV yang kurang dari 1 dikatakan sebagai
undervalued yang dapat diartikan bahwa saham perusahaan dinilai lebih
rendah dibandingkan nilai bukunya. Nilai PBV yang sama dengan 1 dapat
diartikan bahwa saham perusahaan dinilai sama dengan nilai bukunya.
Keberadaan PBV sangat penting bagi investor untuk menentukan
strategi investasi di pasar modal karena melalui price book value, investor
dapat memprediksi saham-saham yang overvalued atau undervalued
(Ahmed dan Nanda, 2005). Dalam penelitian ini nilai perusahaan diwakili
oleh nilai PBV.

B. Analisa Laporan Keuangan


1. Deskripsi Laporan Keuangan

Laporan keuangan digunakan untuk mengetahui perkembangan suatu


perusahaan dan kondisi keuangan perusahaan. Pada dasarnya, laporan keuangan
merupakan hasil dari proses pencatatan, penggolongan dan peringkasan dari
kejadian-kejadian yang bersifat keuangan dengan cara setepat-tepatnya sebagai
alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan
dengan pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang berkepentingan
terhadap laporan keuangan maupun perkembangan suatu perusahaan adalah
(Dermawan Sjahrial, 2008):
a. Pemilik perusahaan
Pemilik perusahaan yang pimpinannya diserahkan kepada manajer, memerlukan
laporan keuangan untuk menilai kinerja manajer dalam memimpin perusahaannya
dan kesuksesan seorang manajer diukur/ dinilai dari laba yang diperoleh
perusahaan. Berdasarkan hasil analisis laporan keuangan, jika hasil yang dicapai
oleh manajemen perusahaan tidak memuaskan, maka pemilik perusahaan dapat
mengambil suatu tindakan seperti mengganti manajemennya atau bahkan menjual
saham-saham yang dimilikinya.
b. Manajer
Bagi seorang manajer, laporan keuangan merupakan alat pertanggungjawaban
kepada pemilik perusahaan atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Selain
itu, laporan keuangan digunakan untuk mengukur tingkat biaya dari berbagai
kegiatan perusahaan, menilai hasil kerja tiap-tiap divisi yang telah diberi
wewenang dan tanggung jawab terhadap tugasnya dan menentukan kebijakan atau
prosedur baru untuk mencapai hasil yang lebih baik.
c. Kreditur

Para kreditur sebelum mengambil keputusan untuk memberi atau menolak


permintaan kredit dari suatu perusahaan, perlu mengetahui terlebih dulu posisi
keuangan dari perusahaan yang bersangkutan. Laporan keuangan diperlukan
untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar hutang, beban bunga,
juga untuk mengetahui apakah kredit yang akan diberikan itu cukup mendapat
jaminan dari perusahaan tersebut.
d. Investor
Para investor berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan sebagai
penentuan kebijaksanaan penanaman modalnya, apakah perusahaan mempunyai
prospek yang baik dan akan memperoleh keuntungan yang baik. Prospek
keuntungan dimasa mendatang dan perkembangan perusahaan selanjutnya dipakai
untuk mengetahui jaminan investasinya.
e. Pemerintah
Pemerintah berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan untuk
menentukan besarnya pajak yang harus ditanggung perusahaan tersebut.
f. Karyawan
Karyawan memerlukan laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan
perusahaan dalam memberi upah/ gaji dan jaminan sosial dan menilai apakah
pemberian bonus cukup layak dibandingkan dengan tingkat keuntungan yang
dicapai perusahaan pada periode tertentu.
Pengertian laporan keuangan menurut IAI (2009:1) dalam PSAK No. 1
Paragraf 07 :
Laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan yang
lengkap, biasanya meliputi Neraca, Laporan Rugi Laba, dan Laporan Perubahan

Posisi Keuangan (yang disajikan dalam berbagai bentuk misalnya: Laporan Arus
Kas, Catatan atas Laporan Keuangan dan catatan lain yang merupakan bagian
integral dari laporan keuangan).
Laporan keuangan memberikan ikhtisar mengenai keadaan suatu
perusahaan dimana neraca mencerminkan nilai aktiva, utang dan modal sendiri
pada suatu saat tertentu dan laporan rugi laba mencerminkan hasil-hasil yang
dicapai selama periode tertentu. Raharjo (2005) mengatakan, Laporan keuangan
merupakan data yang dapat memberikan gambaran tentang keuangan perusahaan
untuk itu perlu dilakukan suatu interpretasi terhadap data keuangan perusahaan
pada suatu perusahaan. Dengan interpretasi terhadap laporan keuangan tersebut
maka diharapkan laporan keuangan dapat memberikan manfaat bagi pemakainya.
Adanya analis data keuangan pada periode tertentu memberikan informasi tentang
hasil-hasil yang telah dicapai dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.
Laporan keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang dengan
segala keterbatasannya dapat menjadi alat dalam mengkomunikasikan data
keuangan suatu perusahaan dengan pihak-pihak berkepentingan. Pihak-pihak
tersebut merupakan pihak yang ingin mengetahui secara mendalam tentang
laporan keuangan suatu perusahaan, maka pihak-pihak tersebut akan memberikan
tekanan metode analisis yang berbeda-beda sesuai dengan kepentingan masingmasing (Raharjo, 2005).
Laporan keuangan menggambarkan pos-pos keuangan perusahaan yang
diperoleh dalam suatu periode. Menurut IFRS revisi 2012, komponen laporan
keuangan yaitu :
a.
b.
c.
d.

Laporan posisi keuangan


Laporan laba rugi komperhensif
Laporan arus kas
Laporan ekuitas pemilik atau pemegang saham

e. Selain itu, catatan atas laporan keuangan atau pengungkapan juga


merupakan bagian integral dari setiap laporan keuangan.

C.

Kinerja Keuangan
Kinerja perusahaan merupakan hasil dari banyak keputusan individu yang
dibuat secara terus menerus oleh pihak manajemen suatu perusahaan. Kinerja berarti
pula bahwa dengan masukan tertentu untuk memperoleh keluaran tertentu. Secara
implisit definisi kinerja mengandung suatu pengertian adanya suatu efisiensi yang
dapat diartikan secara umum sebagai rasio atau perbandingan antara masukan dan
keluaran. Kinerja perusahaan sebagai emiten di pasar modal merupakan prestasi yang
dicapai perusahaan yang menerbitkan saham yang mencerminkan kondisi keuangan
dan hasil operasi (operating result) perusahaan tersebut dan biasanya diukur dalam
rasio-rasio keuangan (Siregar, 2010). Analisis terhadap rasio-rasio keuangan
perusahaan yang biasa digunakan, antara lain: rasio likuiditas, rasio leverage, rasio
aktivitas dan rasio profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan dalam suatu periode
tertentu.
Arti penting kinerja keuangan seperti yang dikemukakan oleh Brigham dan
Weston (2000) dibawah ini:
1. Alat skrining awal dalam pemilihan investasi.
2. Alat perkiraan terhadap hasil dan kondisi keuangan perusahaan.
3. Alat diagnosis terhadap masalah manajerial, operasional atau masalahmasalah lainnya.
4. Alat untuk menilai manajemen perusahaan.
Kinerja keuangan dapat dirumuskan sebagai perbandingan antara nilai yang
dihasilkan oleh suatu perusahaan dengan menggunakan asetnya yang produktif dan

nilai yang diharapkan dari pemilik asset tersebut. Untuk menilai kinerja perusahaan
perlu dikaitkan dengan kinerja keuangan kualitatif dan kuantitatif. Analisis kinerja
keuangan didasarkan pada data keuangan yang dipublikasikan. Seperti tercermin
dalam laporan keuangan yang dibuat sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang
lazim digunakan.
1. Analisis Rasio Keuangan
Dennis (2006) menyatakan bahwa analisis rasio keuangan merupakan
metode yang paling baik digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi
keuangan perusahaan secara keseluruhan. Menurut Usman (2008), analisis ini
berguna sebagai analisis intern bagi manajemen perusahaan untuk mengetahui
hasil keuangan yang telah dicapai guna perencanaan yang akan datang dan juga
untuk analisis intern bagi kreditur dan investor untuk menentukan kebijakan
pemberian kredit dan penanaman modal suatu perusahaan.
Analisis rasio (ratio analysis) merupakan suatu alat analisis keuangan
yang sangat populer dan banyak digunakan. Namun perannya sering disalah
pahami, demi suatu kepentingan sebagai konsekuensinya sering dilebihlebihkan.
Kita harus ingat bahwa rasio merupakan alat untuk menyatakan pandangan
terhadap kondisi yang mendasari, dalam hal ini adalah kondisi financial
perusahaan. Rasio merupakan titik awal, bukan titik akhir. Rasio yang
diinterpretasikan dengan tepat mengidentifikasikan area yang memerlukan
investigasi lebih lanjut. Analisis rasio dapat mengungkapkan hubungan penting
dan menjadi dasar perbandingan dalam menemukan kondisi dan tren yang sulit
untuk dideteksi dengan mempelajari masing-masing komponen yang membentuk
rasio (Wild, Subramanyan, Hasley, 2004).

Rasio harus diinterpretasikan dengan hati-hati karena faktor-faktor yang


mempengaruhi pembilang dapat berkorelasi dengan faktor yang mempengaruhi
penyebut. Sebagai contoh, perusahaan dapat memperbaiki rasio beban operasi
terhadap penjualan dengan mengurangi biaya yang menstimulasi penjualan.
Pengurangan jenis biaya seperti ini, kemungkinan berakibat pada penurunan
penjualan atau pangsa pasar jangka panjang. Dengan demikian, profitabilitas yang
tampaknya membaik dalam jangka pendek, dapat merusak prospek perusahaan di
masa depan. Kita harus menginterpretasikan perubahan tersebut dengan tepat.
Banyak rasio memiliki variabel penting yang sama dengan rasio lainnya. Dengan
demikian, tidaklah perlu untuk menghitung semua rasio yang mungkin untuk
menganalisis sebuah situasi. Rasio bermanfaat bila diinterpretasikan dalam
perbandingan dengan 1) rasio tahun sebelumnya, 2) standar yang ditentukan
sebelumnya, 3) rasio pesaing. Pada akhirnya, variabilitas rasio sepanjang waktu
sama pentingnya dengan trennya.
Beberapa studi telah menguji penggunaan informasi analisis keuangan
dengan menggunakan rasio keuangan yang dihitung dari informasi yang terdapat
dalam laporan keuangan untuk menggambarkan keeratan hubungan antara rasio
keuangan dengan fenomena ekonomi. Pada umumnya analisis terhadap rasio
merupakan langkah awal dalam analisis keuangan guna menilai prestasi dan
kondisi keuangan suatu perusahaan. Ukuran yang digunakan adalah rasio yang
menunjukkan hubungan antara dua data keuangan.
Rasio keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari
satu pos laporan keuangan dengan pos lainnya yang mempuyai hubungan yang
relevan dan signifikan (berarti). Rasio keuangan hanya menyederhanakan
informasi yang menggambarkan hubungan antara pos tertentu dengan pos

lainnya, dengan kata penyederhanaan ini dapat menilai secara cepat hubungan
antara pos tadi dan dapat membandingkannya dengan rasio lain sehingga
kita dapat memperoleh informasi dan memberikan penilaian (Harahap, 2006).
2. Jenis-jenis Rasio Keuangan
Ada banyak jenis-jenis rasio keuangan yang biasa digunakan dalam
melakukan analisis keuangan. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Van Horne
dan Wachowicz (2005 : 204). Rasio-rasio keuangan yang umumnya digunakan
pada dasarnya terdiri atas dua jenis. Jenis pertama meringkas beberapa aspek dari
kondisi keuangan perusahaan untuk suatu periode-periode dengan neraca yang
telah dibuat. Rasio-rasio ini disebut rasio neraca (balance sheet ratio), karena baik
pembilang maupun penyebut dalam setiap rasio berasal langsung dari neraca.
Jenis kedua dari rasio meringkas beberapa aspek kinerja perusahaan selama
periode waktu tertentu, biasanya dalam setahun. Rasio-rasio ini disebut sebagai
rasio laporan laba rugi (income statement ratio) atau rasio laba rugi/neraca
(income statement/ balance sheet ratio).
Secara umum rasio-rasio keuangan dapat diklasifikasikan menjadi empat
jenis kelompok rasio keuangan, antara lain:
a. Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas biasa digunakan dalam melakukan analisis kredit karena
likuiditas berkaitan dengan kemampuan perusahaan dalam memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Rasio likuiditas menurut Van Horne (2005:206)
adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajiban jangka pendeknya. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam
menilai tingkat likuiditas perusahaan adalah kreditor-kreditor jangka pendek
seperti pemasok dan bankir. Rasio likuiditas dapat dibagi lagi menjadi

beberapa jenis. Rasio likuiditas tersebut menurut Tampubolon (2005:36)


antara lain current ratio, quick ratio, absolute liquidity rasio. Menurut
Darsono (2005:52-53) rasio likuiditas meliputi current ratio, quick test ratio,
net working capital, defensive interval ratio.
b. Ratio Leverage
Rasio leverage (rasio hutang) menurut Van Horne (2005:209) adalah rasio
yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dibiayai oleh utang (dana pihak
luar). Rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi
pinjaman (kreditor). Pihak yang paling berkepentingan terhadap rasio leverage
perusahaan adalah kreditur dan pemegang saham. Semakin besar jumlah
pendanaan yang berasal dari kreditur, semakin tinggi resiko perusahaan tidak
dapat membayar seluruh kewajiban beserta bunganya. Bagi pemegang saham,
semakin tinggi rasio leverage, semakin rendah tingkat pengembalian yang
akan diterima pemegang saham karena perusahaan harus melakukan
pembayaran bunga sebelum laba dapat dibagikan kepada pemegang saham
dalam bentuk deviden. Menurut Van Horne, ada dua rasio leverage yaitu rasio
utang terhadap ekuitas (debt to equity) dan rasio utang terhadap total aktiva
(debt to total assets ratio). Rasio leverage yang menjadi fokus dalam
penelitian ini adalah debt to equity ratio.
c. Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas disebut juga rasio kinerja operasi. Menurut Van Horne
(2005:222), Rasio profitabilitas (profitability ratio) adalah rasio yang
menghubungkan laba dari penjualan dan investasi. Dari rasio profitabilitas
dapat diketahui bagaimana tingkat profitabilitas perusahaan. Setiap perusahaan
menginginkan tingkat profitabilitas yang tinggi. Untuk dapat melangsungkan

hidupnya, perusahaan harus berada dalam keadaan yang menguntungkan.


Apabila perusahaan berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan, maka
akan sulit bagi perusahaan untuk memperoleh pinjaman dari kreditur maupun
investasi dari pihak luar. Rasio profitabilitas dapat diklasifikasikan menjadi
margin laba bersih (net profit margin), margin laba kotor (gross profit margin),
margin laba operasi (operating profit margin), margin laba sebelum pajak
(pretax profit margin), return on assets (ROA), dan return on equity (ROE).
Rasio profitabilitas yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah Return On
Equity. Rasio ini merupakan rasio yang sering digunakan untuk menghitung
tingkat pengembalian ekuitas pemilik perusahaan.
d. Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas sering juga disebut sebagai rasio efisiensi atau rasio
pemanfaatan aktiva. Menurut Van Horne (2005:212), Rasio aktivitas (activity
ratio) adalah rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan menggunakan
berbagai aktivanya. Rasio aktivitas dapat diklasifikasikan menjadi menjadi
rasio perputaran kas (cash turnover), rasio perputaran piutang usaha (account
receivable turnover), perputaran persediaan (inventory turnover), perputaran
modal kerja (working capital turnover), perputaran aktiva tetap (fixed assets
turnover), dan perputaran total aktiva (total assets turnover).
e. Rasio Penilaian
Rasio Penilaian (Valuation Ratios), rasio untuk mengukur kemampuan
manajemen untuk menciptakan nilai pasar agar melebihi biaya modalnya.
Rasio penilaian terdiri dari: (1) Price to Earning Ratio (PER) yaitu pembagian
antara harga pasar saham rata-rata dengan laba per lembar saham. (2) Market

Book Ratio (MBR) yaitu pembagian antara harga pasar saham rata-rata
dengan nilai buku saham.
f. Rasio Pertumbuhan
Rasio pertumbuhan (Growth Ratio) adalah rasio untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam persaingan dengan perusahaan lain pada industri yang sama.
Dalam perhitungan rasio pertumbuhan, elemen yang penting untuk dilihat
pertumbuhannya adalah: Penjualan, Laba bersih, Laba per lembar saham,
Harga pasar saham per lembar, Dividen, dan Nilai buku Saham.
1) Return on equity (ROE) merupakan tingkat pengembalian ekuitas pemilik
perusahaan. Ekuitas pemilik adalah jumlah aktiva bersih perusahaan.
Sehingga perhitungan ROE sebuah perusahaan dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :
Return On Equity (ROE) =

Laba Bersih
Total Ekuitas

ROE sebagai salah satu rasio profitabilitas merupakan indikator yang


sangat penting bagi para investor. ROE dibutuhkan investor untuk
mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih yang
berkaitan dengan dividen. Pemilihan ROE sebagai proksi dari profitabilitas
adalah karena dalam ROE ditunjukkan, semakin tinggi ROE menunjukkan
semakin efisien perusahaan dalam menggunakan modalnya untuk
menghasilkan laba investor yang ditanam pada perusahaan (Van Horne dan
John, 2005). Naiknya ROE dari tahun ke tahun pada perusahaan berarti
terjadi adanya kenaikan laba bersih dari perusahaan yang bersangkutan.
Naiknya laba bersih dapat dijadikan salah satu indikasi bahwa nilai
perusahaan juga naik karena naiknya laba bersih sebuah perusahaan yang

bersangkutan akan menyebabkan kenaikan harga saham yang berarti juga


kenaikan dalam nilai perusahaan.
2) Debt To Equity Ratio (DER) Untuk mengukur sejauh mana perusahaan

dibiayai dengan hutang salah satunya dapat dilihat melalui debt to equity
ratio. Debt to Equity Ratio mencerminkan besarnya proporsi antara total
debt (total hutang) dengan total equity (total modal). Menurut Darsono
(2005: 54), Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukan
persentase penyedian dana oleh pemegang saham terhadap pemberi
pinjaman. Semakin tinggi rasio, semakin rendah pendanaan perusahaan
yang disediakan oleh pemegang saham. Dari perspektif kemampuan
membayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akan semakin
baik kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
panjangnya. Untuk mengembangkan perusahaan dalam mengahadapi
persaingan, maka diperlukan adanya suatu pendanaan yang bisa digunakan
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menurut Darsono (2005), Debt to
Equity Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:
Debt to Equity Ratio (DER) =

Total Hutang
Total Modal

D. KEBIJAKAN DIVIDEN
1. Deskripsi Dividen
Dividen berasal dari bahasa Latin yaitu divendium yang artinya sesuatu untuk
dibagi. Berikut ini beberapa pemaparan mengenai pengertian dividen.
Berdasarkan Kamus Bahasa Indonesia dividen diartikan sejumlah uang sebagai
hasil keuntungan yang dibayarkan kepada pemegang saham (dalam suatu
Perseroan). Menurut BAPEPAM dividen adalah porsi keuntungan perusahaan

yang dibayarkan kepada para pemegang saham, menurut Lina (2010) deviden
merupakan pembagian keuntungan atau laba yang dihasilkan perusahaan dan
tersedia bagi pemegang saham. Hasnawati (2005) dividen dianggap memberikan
informasi mengenai tingkat pengembalian yang diberikan oleh emiten serta
memberikan gambaran mengenai kondisi keuangannya. Dividen diputuskan dalam
RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) untuk menentukan besarnya porsi laba
yang akan dibagikan dan yang akan ditahan sebagai retained earning. Besar
kecilnya jumlah yang dibagi sebagai dividen dan yang ditahan tergantung pada
kondisi perusahaan pada waktu tertentu. Menurut Weygandt et.al. (2005) A
dividend is a distributions by a corporation to its stockholders on a pro rata
(proportional) basis, and paid in the form cash, property, scrip (a promissory note
to pay cash) Dividen adalah pendistribusian laba kepada pemegang saham,
secara prorata menurut kelas surat berharga dan dibayarkan dalam bentuk uang,
saham, scrip atau produk atau properti perusahaan.
Menurut Tita (2011), dividen adalah pembagian kepada pemegang saham yang
sebanding dengan jumlah lembar yang dimiliki. Dyckman, et al. (2001)
menjelaskan bahwa dividen merupakan distribusi laba kepada pemegang saham
dalam bentuk aktiva atau saham perusahaan penerbit. Berdasarkan pendapatpendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dividen merupakan bagian laba
yang dihasilkan oleh perusahaan, baik berasal dari laba periode saat ini maupun
laba periode sebelumnya yang dibagikan kepada pemegang saham sebagai hasil
atas investasi.
2. Jenis-jenis Dividen
Dividen yang dibagikan kepada pemegang saham terdiri atas beberapa
bentuk. Bentuk-bentuk dividen menurut Dyckman, et al. (2001: 441) adalah
sebagai berikut:
1. Dividen Tunai

Dividen Tunai merupakan bentuk umum dari distribusi kepada pemegang


saham. Sebelum dividen tunai dapat dibayarkan kepada pemegang saham
biasa, setiap referensi dividen preferen harus dibayarkan kepada pemegang
saham preferen.
2. Dividen Properti
Perusahaan terkadang membayar dividen dengan aktiva non kas, yang disebut
aktiva properti. Properti dapat berupa sekuritas perusahaan lain yang dimiliki
perusahaan, real estate, barang dagangan, atau setiap aktiva non kas lainnya
yang ditetapkan dewan direksi.
3. Dividen Likuidasi
Dividen likuidasi yaitu distribusi yang merupakan pengembalian tambahan
modal disetor dan bukan laba ditahan. Dividen likuidasi adalah tepat jika tidak
terdapat niat atau peluang mempertahankan sumber daya untuk penggantian
aktiva. Apabila perusahaan membagi dividen likuidasi, maka para pemegang
saham harus diberitahu mengenai berapa jumlah pembagian laba dan berapa
yang merupakan pengembalian modal, sehingga para pemegang saham bisa
mengurangi rekening investasinya.
4. Dividen Skrip
Dividen skrip diterbitkan jika suatu perseroan mengalami kekurangan kas
namun harus melanjutkan kebijakan dividennya.
5. Dividen Saham
Dividen saham merupakan distribusi proporsional atas tambahan saham biasa
atau saham preferen perusahaan kepada pemegang saham. Dividen saham
tidak mengubah aktiva, kewajiban, atau total ekuitas pemegang saham
perusahaan penerbit.
3. Kebijakan Dividen
Dalam melakukan perdagangan saham perusahaan akan memperoleh laba
bersih. Laba bersih (net earnings) ini sering disebut sebagai: Laba yang tersedia
bagi pemegang saham biasa (earnings available to common stockholders)
disingkat EAC. Laba bersih tersebut akan dikenakan pajak sehingga menjadi laba

bersih sesudah pajak (earinings after tax atau EAT). Manajemen mempunyai dua
alternatif perlakuan terhadap EAT ini yaitu:
a. Dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan dalam bentuk
dividen.
b. Diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan (retained
earning) untuk membiayai operasi selanjutnya. yang dibagikan sebagai
dividen. Pembuatan keputusan tentang dividen ini disebut kebijkan
dividen.
Apabila manajemen memilih alternatif pertama artinya manajemen harus
membuat keputusan tentang besarnnya EAT. Bambang Riyanto (2001: 281)
mendefinisikan kebijakan dividen sebagai politik yang bersangkutan dengan
penentuan pembagian pendapatan (earning) antara penggunaan pendapatan untuk
dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan di
dalam perusahaan (laba ditahan). Kebijakan Dividen perusahaan juga memiliki
dampak penting bagi pihak yang terlibat dimasyarakat (Suharli,2007). Kebijakan
Dividen ini berguna seperti investor, manajemen dan kreditor. Kebijakan dividen
sangat penting karena mempengaruhi kesempatan investasi perusahaan, harga
saham, struktur finansial, arus pendanaan dan posisi likuiditas. Dengan perkataan
lain, kebijakan deviden menyediakan informasi mengenai performa (performance)
perusahaan.
Menurut Harjito, A dan Martono (2005) menyatakan bahwa dividend
payout ratio merupakan rasio yang menunjukkan persentase laba perusahaan yang
dibayarkan kepada pemegang saham biasa perusahaan berupa dividen kas.
Menurut Suad Husnan, kebijakan dividen dapat diartikan:
a. Apakah laba yang diperoleh seharusnya dibagikan atau tidak.

b. Apakah laba dibagikan dengan konsekuensi harus mengeluarkan saham


baru.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan
dividen adalah kebijakan pembagian pendapatan yang harus diikuti dalam
membuat keputusan dividen (dibagikan/ ditahan). Menurut Harjito, A dan
Martono (2005) Secara matematis, Dividend Payout Ratio dapat dinyatakan
dengan rumus:
Dividen Payout Ratio (DPR) =

Cash Dividen
Earning Per Share

Karena kelebihan laba bersih di atas dividen itu menjadi laba ditahan maka
keputusan DPR inclusive keputusan mengenai laba ditahan. Sepintas, para
pemegang saham akan merasa senang apabila bagian dari laba bersih yang
dibagikan sebagai dividen ini semakin besar. Akan tetapi, apabila DPR ini
semakin besar, berarti laba ditahan semakin mengecil, padahal pendanaan dengan
menggunakan laba ditahan (internal financing) ini mempunyai cost of capital
yang paling kecil dibandingkan dengan metode pendanaan lainnya. Dengan
demikian keputusan dividen akan mengacu pada suatu kebijakan (dividend policy)
yaitu kebijakan pemberian dividen tidak saja membagikan keuntungan yang telah
diperoleh perusahaan kepada para investor, tetapi kebijakan perusahaan
membagikan dividen harus diikuti dengan pertimbangan adanya kesempatan yang
optimal, terutama disesuaikan dengan konsep tujuan memaksimalkan nilai
perusahaan.
4. Jenis Kebijakan Dividen
Kebijakan dividen yang dilakukan perusahaan bentuknya bisa bermacammacam. Menurut Bambang Riyanto (2001:269) menyatakan bahwa ada macam-

macam kebijakan dividen yang dilakukan oleh perusahaan antara lain sebagai
berikut :
a) Kebijakan dividen yang stabil
Banyak perusahaan yang menjalankan kebijakan dividen yang stabil,
artinya jumlah dividen per lembar yang dibayarkan setiap tahunnya relatif
tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar saham
setiap tahunnya berfluktuasi.
b) Kebijakan dividen dengan penetapan jumlah dividen minimal plus jumlah
ekstra tertentu
Kebijakan ini menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per lembar
saham tiap tahunnya. Dalam keadaan keuangan yang lebih baik perusahaan
akan membayarkan dividen ekstra diatas jumlah minimal tersebut.
c) Kebijakan dividen dengan penetapan dividend payout ratio yang konstan
Jenis kebijakan dividen yang ketiga adalah penetapan dividend payout
ratio yang konstan. Perusahaan yang menjalankan kebijakan ini
menetapkan dividen payout ratio yang konstan misalnya 50%. Ini berarti
bahwa jumlah dividen per lembar saham yang dibayarkan setiap tahunnya
akan berfluktuasi sesuai dengan perkembangan keuntungan netto yang
diperoleh setiap tahunnya.
d) Kebijakan dividen yang fleksibel
Kebijakan dividen yang terakhir adalah penetapan dividen payout ratio
yang fleksibel, yang besarnya setiap tahun disesuaikan dengan posisi
financial dan kebijakan financial dari perusahaan yang bersangkutan.

E. Penelitian Terdahulu

Terdapat penelitian terdahulu yang telah dilakukan yang menguji tentang


nilai perusahaan yang dihubungkan dengan berbagai variabel independen
diantaranya dilakukan oleh Ulupui (2007), Makaryawati (2002). Teori yang mendasari
penelitian-penelitian tersebut adalah semakin tinggi kinerja keuangan yang biasanya
diproksikan dengan rasio keuangan maka semakin tinggi pula nilai perusahaan.
Melalui rasio-rasio keuangan tersebut dapat dilihat seberapa berhasilnya manajemen
perusahaan mengelola asset dan modal yang dimilikinya untuk memaksimalkan nilai
perusahaan.
Kennedy JSP (2003) meneliti Pengaruh ROA, ROE, EPS, Profit Margin,
Asset Turnover, Rasio Leverage, dan DER terhadap Return Saham Sampel yang
digunakan adalah LQ 45 di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2001 dan 2002. Hasil
penelitian yang diperoleh menunjukkan hanya variabel Asset Turn Over (TOA), ROA,
ROE, Leverage Ratio, DER, dan EPS memberikan hubungan yang nyata dengan
return saham. Saepudin (2008) memeriksa tentang pengaruh rasio profitabilitas dan
IOS terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEI tahun 2005-2007.
Dari penelitian tersebut diketahui bahwa ROE, ROA, NPM memiliki korelasi positif
terhadap harga saham. Saran untuk penelitian di masa depan adalah, Penelitian
selanjutnya hendaknya menambah jumlah sampel penelitian dan juga melibatkan
sektor industri yang lain agar mencerminkan reaksi dari pasar modal secara
keseluruhan. Serta penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi kinerja keaungan
dan proksi GCG yang lain, misalnya PBV, leverage, dewan komisaris,

komisaris

independen, komite audit atau kriteria lain yang telah ditetapkan.


Mariah dan Meythi (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Profitabilitas Dan Kesempatan Investasi Terhadap Kebijakan Dividen Tunai Dengan
Likuiditas Sebagai Variable Moderating Pada Emiten Pembentuk LQ 45. Penelitian

ini dilakukan pada 15 perusahaan yang sahamnya dimasukkan dalam periode indeks
LQ 45 Desember 2007 hingga Desember 2010 di Bursa Efek Indonesia. Variabel
terikat dalam penelitian ini adalah Dividen Payout Ratio (DPR), sedangkan return on
Equity (ROE) dan Pertumbuhan Penjualan (SG) sebagai variabel independen, dan
Current Ratio (CR) sebagai variabel moderating. Penelitian ini menggunakan Analisis
Regresi Moderated sebagai metode analisis data. Hasil penelitian ini menemukan
bahwa peluang profitabilitas dan investasi tidak mempengaruhi Dividen Payout Ratio
parsial dan simultan terhadap likuiditas sebagai variabel moderator. Adapun saran
yang diajukan : penelitian lanjutan dapat menggunakan metode acak seperti cluster
sampling untuk pengambilan sample agar sample mampu mencerminkan keseluruhan
populasi yang lebih obyektif, penelitian lanjutan dapat melakukan dengan jangka
waktu yang lebih panjang untuk memperoleh simpulan yang lebih teruji, penelitian
lanjutan dapat menggunakan variable-variable lain untuk mendapatkan simpulan yang
lebih komprehensif mengenai penggunaan informasi keuangan untuk pengambilan
keputusan investasi.
Michell Suharli (2012) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Profitabilitas Dan Investment Opportunity Set Terhadap Kebijakan Dividen Tunai
dengan Likuiditas Sebagai Variabel Penguat Penelitian ini menguji pengaruh
profitabilitas dan kesempatan investasi terhadap kebijakan jumlah dividen kas
perusahaan publik di Jakarta dengan menggunakan likuiditas sebagai variabel penguat
(variabel moderator). Profitabilitas diukur dengan return on investment (ROI),
kesempatan investasi diproksikan oleh fixed assets, dan liquiditas sebagai variabel
moderat diproksikan oleh current ratio di Bursa Efek Jakarta. Populasi penelitian ini
adalah seluruh perusahaan di Indonesia yang listing di BEJ dan membagikan dividen
pada tahun 2002-2003. Hasil penelitian ini adalah kebijakan jumlah pembagian

dividen perusahaan dipengaruhi oleh profitabilitas dan diperkuat oleh likuiditas


perusahaan. Saran untuk penelitian selanjutnya adalah menggunakan variabel
independen yang lebih banyak lagi untuk menghasilkan hasil penelitian yang
komperhensif. Di samping itu pemilihan sampel sebaiknya lebih di perbanyak lagi.
Alfredo Mahendra DJ (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh
Kinerja Keuanagan Terhadap Nilai Perusahaan (kebijakan deviden sebagai variable
moderating) Pada Perusahan Manufaktur Di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini
menggunakan 30 sampel pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI yang
secara berturut-turut membagikan dividen selama periode 2006-2009. Pengujian
hipotesis penelitian digunakan teknik analisis berganda dan moderated regression
analysis, Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui pengaruh kinerja
keuangan terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai variabel
pemoderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) likuiditas berpengaruh positif
tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, 2) kebijakan dividen tidak mampu secara
signifikan memoderasi pengaruh likuiditas terhadap nilai perusahaan,3) leverage
berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap nilai perusahaan, 4) kebijakan dividen
tidak mampu secara signifikan memoderasi pengaruh leverage terhadap nilai
perusahaan,5) Profitabilitas berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan,
6) kebijakan dividen tidak mampu secara signifikan memoderasi pengaruh
profitabilitas terhadap nilai perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya profitablitas berpengaruh positif
signifikan terhadap nilai perusahaan Ini berarti Profitabilitas yang tinggi dapat
memberikan nilai tambah kepada nilai perusahaannya, yang tercermin dengan
meningkatnya nilai Tobins Q. Disarankan pada penelitian berikutnya untuk

menambah variabel moderasi lainnya selain kebijakan dividen yang digunakan dalam
penelitian ini.

F. Pengaruh Variabel-variabel Terkait


1. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan
Profitabilitas dapat dihitung dengan ROE (Return On Equity). ROE
mencerminkan tingkat hasil penembalian investasi bagi pemegang saham.
Profitabilitas yang tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham. Dengan rasio
profitabilitas yang tinggi yang dimiliki sebuah perusahaan akan menarik minat
investor untuk menanamkan modalnya diperusahaan. Tingginya minat investor
untuk menanamkan modalnya pada perusahaan dengan ROE yang tinggi akan
meningkatkan harga saham Kusumawati (2005). Maka, akan terjadi hubungan
positif antara profitabilitas dengan harga saham dimana tingginya harga saham
akan mempengaruhi nilai perusahaan. Semakin tingginya profitabilitas perusahaan
juga akan meningkatkan laba per lembar saham (EPS atau earning per share)
perusahaan. Adanya peningkatan EPS akan membuat investor tertarik untuk
menanamkan modalnya dengan membeli saham perusahaan. Kinerja perusahaan
dalam mengelola manajemen dapat digambarkan dengan profitabilitas. Sujoko
dan Soebiantoro (2007) menyatakan bahwa rasio profitabilitas menunjukkan
keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan atau selama periode
tertentu. Profitabilitas merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi nilai
perusahaan. Dengan banyaknya investor yang membeli saham perusahaan maka
akan menaikkan harga saham perusahaan tersebut sehingga akan meningkatkan
nilai perusahaan. Dari pemaparan diatas di informasikan hipotesis:

H1 :

Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

2. Pengaruh Kebijakan Deviden dengan Profitabilitas terhadap Nilai


Perusahaan
Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan
laba. Laba ini lah yang menjadi dasar pembagian dividen perusahaan, apakah
dividen tunai ataupun dividen saham. Profit merupakan berita baik (good news)
bagi perusahaan dan pemegang saham (Petronela dan Mukhlasin, 2003).
Pemegang saham cenderung akan memberikan tekanan kepada manajemen untuk
membagikan

laba

tersebut

sebagai

dividen,

yang

bertujuan

untuk

menyejahterakan pemegang saham. Hermi (2004) menyimpulkan semakin besar


laba perusahaan maka semakin besar pembagian dividen. Hal ini dapat membuat
nilai suatu perusahaan meningkat. Brigham (2006) mengatakan ROE merupakan
tingkat pengembalian atas ekuitas (aktiva bersih) perusahaan. Maka, semakin
tinggi ROE semakin besar profitabilitas, berarti semakin besar pula laba yang
dibagi sebagai dividen, hal ini dapat berpengaruh pada kenaikan nilai perusahaan.
Dari pemaparan dapat diinformasikan hipotesis:
H2 : Kebijakan dividen dapat memoderasi interaksi antara profitabilitas
terhadap nilai perusahaan.
3. Pengaruh Leverage Terhadap Nilai Perusahaan
Sebuah perusahaan dikatakan tidak solvabel apabila total hutang
perusahaan lebih besar daripada total yang dimiliki perusahaan. Dengan semakin
tingginya rasio leverage menunjukkan semakin besarnya dana yang disediakan
oleh kreditur (Mahduh dan Hanafi, 2005). Hal tersebut akan membuat investor
berhati-hati untuk berinvestasi di perusahaan yang rasio leverage nya tinggi
karena semakin tinggi rasio leverage nya semakin tinggi pula resiko investasinya.

Penelitian Johan Halim (2005) mengatakan bahwa leverage memiliki hubungan


yang negatif signifikan terhadap nilai perusahaan. Dari pemaparan dapat
diinformasikan hipotesis:
H3 :

Leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

4. Pengaruh Kebijakan Deviden dengan Leverage terhadap Nilai Perusahaan


Leverage adalah kemampuan perusahaan untuk menggunakan aktiva atau
dana yang mempunyai beban tetap untuk memperbesar tingkat penghasilan bagi
pemilik perusahaan. Sementara menurut Brigham dan Ehrhardt (2004) semakin
besar leverage perusahan maka cenderung untuk membayar dividennya lebih
rendah dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan pada pendanaan secara
eksternal. Sehingga semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur
modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya
yang akan mempengaruhi besar kecilnya dividen yang akan dibagikan. Hal ini
sesuai dengan penelitian Prihantoro (2003) Hal tersebut akan membuat investor
berhati-hati untuk berinvestasi di perusahaan yang rasio leverage nya tinggi
karena semakin tinggi rasio leveragenya semakin tinggi pula resiko investasinya.
Akibatnya, nilai perusahaan cenderung akan menurun jika perusahaan tersebut
memiliki rasio leverage yang tinggi. namun bertentangan dengan Suherli dan
Harahap (2004) dimana leverage tidak memberi pengaruh yang signifikan
terhadap kebijakan mengenai jumlah pembagian dividen. Dari pemaparan dapat
diinformasikan hipotesis:
H4

Kebijakan dividen dapat memoderasi interaksi antara leverage


terhadap nilai perusahaan.

G. KERANGKA PEMIKIRAN

Variable ini terdiri dari variable dependen Nilai Perusahaan, variable


independen yaitu Profitabilitas (ROE), dan Leverage (DER), dengan variable
moderating (penguat) Kebijakan dividen (DPR) Berdasarkan landasan teori, pengaruh
antara variable dan hasil penelitian sebelumnya maka untuk merumuskan hipotesis,
berikut menyajikan kerangka pemikiran yang dituangkan dalam model penelitian
pada gambar:
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

PROFITABILITAS
(ROE)
(X1

H1

H2
LEVERAGE
(DER)
(X2)

NILAI PERUSAHAAN
PADA KEBIJAKAN
DIVIDEN
H3
(Y)

Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban atas pertanyaan sementara terhadap rumusan
masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun
dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang
diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
yang empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Menurut Sugiyono (2007:58) penelitian hipotesis adalah jawaban sementara
terhadap rumusan masalah penelitian. Pada penulisan ini penulis menggunakan
hipotesis asosiatif yaitu jawaban sementara terhadap rumusan masalah asosiatif, yaitu

menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Berdasarkan kerangka


pemikiran diatas dapat diambil hipotesis sebagai berikut :
H1

Profitabilitas berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H2

Kebijakan dividen dapat memoderasi interaksi antara profitabilitas


terhadap nilai perusahaan.

H3

Leverage berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan pada


Kebijakan dividen dapat memoderasi interaksi antara leverage
terhadap nilai perusahaan.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. METODE DAN JENIS PENELITIAN


Metodologi penelitian merupakan ilmu yang mempelajari tentang metodemetode penelitian, ilmu tentang alat-alat dalam penelitian. Secara umum metode
penelitian adalah suatu kegiatan yang menggunakan metode yang sistematis untuk
memperoleh data yang meliputi pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data,

Sugiyono (2007).
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah penelitian asosiatif
kausal, yaitu suatu metode penelitian yang berguna untuk mengetahui hubungan
antara 2 variabel atau lebih. Karena penelitian ini ingin mengetahui hubungan dan
pengaruh yang ditimbulkan oleh empat variabel, yaitu variabel pertama adalah ROE
yang merupakan variabel bebas (X1), variabel kedua adalah DER yang merupakan
variabel bebas (X2), variabel ketiga adalah Nilai Perusahan yang merupakan variabel
terikat (Y), dan variable keempat adalah Kebijakan Deviden yang merupakan variable
moderating (Z). Dengan penelitian ini akan dibangun suatu teori yang dapat berfungsi
untuk menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol suatu gejala. Hubungan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah hubungan kausal yaitu merupakan hubungan
yang bersifat sebab-akibat antar variabel yang mempengaruhi dan dipengaruhi.

B.

POPULASI DAN SAMPLE


1. Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subjek
yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007;115).
Populasi pada penelitan ini adalah seluruh Perusahaan manufaktur yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2009-2011. Dengan total
populasi perusahaan terdaftar sebanyak 170 perusahaan.
2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh
suatu populasi. Apa yang dipelajari dari sampel itu kesimpulannya akan
diberlakukan untuk populasi, untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus
betul-betul representative (mewakili populasinya).
Teknik sampling yang digunakan adalah sampling purposive. Purposive
sampling adalah bentuk pengambilan sampel yang berdasarkan atas kriteriakriteria tertentu, karakteristik atau ciri-ciri tertentu berdasarkan ciri atau sifat
populasinya. Sektor perusahaan manufaktur yang menjadi obyek penelitian dalam
skripsi ini merupakan salah satu sektor perusahaan yang terdaftar di BEI. Sektor
perusahaan manufaktur terbagi menjadi tiga subsektor utama, yaitu sektor industri
dasar kimia, aneka industri dan industri barang konsumsi.
Kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel penelitian ini
adalah:
1) Perusahaan yang aktif di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
2) Perusahan yang datanya tersedia secara lengkap untuk kebutuhan analisis
pada periode pengamatan.
3) Perusahaan manufaktur yang memiliki laba positif dan mencantumkan
cash deviden selama periode pengamatan.
4) Sampel yang diambil adalah sampel observasi (Nobservasi ), artinya sampel
yang didapat adalah hasil observasi data dari beberapa perusahaan yang
telah ditentukan selama periode tertentu.
Berdasarkan kriteria tersebut diatas, didapatkan perusahaan pada tahun
2009-2011 yang memenuhi kriteria tersebut di atas, untuk dijadikan sebagai
sampel dalam penelitian. Sehingga jumlah sampel yang diambil dalam penelitian
ini sebanyak 20 perusahaan pada tahun 2009-2011 yang memenuhi kriteria
tersebut di atas, untuk dijadikan sebagai sampel dalam penelitian.

C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA


Data penelitian merupakan kumpulan data fakta. Sehingga dapat dipakai atau
digunakan sebagai dasar dalam menarik kesimpulan. Data yang diperoleh melalui
penelitian secara umum dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan
mengantisipasi masalah dalam kehidupan manusia. Data-data tersebut harus
memenuhi kriteria tertentu, yaitu harus valid, reliable, dan objektif. Valid
menunjukkan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya dengan data yang
dikumpulkan oleh peneliti. Reliable menunjukkan derajat konsistensi yaitu
konsistensi data dalam waktu tertentu.objektif menunjukkan derajat persamaan
persepsi antar orang perorangan (Inter Personal Agreement).
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk
memperoleh data yang diharapkan. Pengumpulan data merupakan langkah yang amat
penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya digunakan untuk menguji
hipotesis yang telah dirumuskan. Sumber yang digunakan oleh peneliti dalam
pengumpulan data adalah data sekunder.
Sumber Data
Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini seluruhnya
adalah data sekunder, yaitu data yang tidak langsung di dapat dari perusahaan, tapi
diperoleh dalam bentuk data yang telah dikumpulkan, diolah dan dipublikasikan oleh
pihak lain yaitu Bursa Efek Indonesia berupa, data melalui internet (www.idx.co.id) dalam
hal ini data keuangan dari tahun 2009-2011.

Data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah data sekunder
eksternal. Data penelitian ini diambil dari neraca dan laporan laba-rugi yang diperoleh
dari perusahaan industri yang terdaftar di BEI. Terdapat berbagai jenis data yang
digunakan dalam penelitian, pada penelitian ini penulis menggunakan jenis data

penelitian sebagai berikut:


d) Menurut sifatnya, data dalam penelitian ini termasuk data kuantitatif yang
berbentuk angka. Data ini diperoleh melalui laporan keuangan perusahaan di PT
Indonesian Capital Market Electronic Library (ICMEL) (www.idx.co.id).
e) Menurut sumbernya, data ini bersumber dari internal perusahaan yaitu data
diperoleh dari dalam perusahaan yang berbentuk laporan keuangan dari ICMEL
(www.idx.co.id).
f) Menurut cara memperolehnya, adalah menggunakan data sekunder yaitu data
yang diperoleh dalam bentuk jadi dan telah diolah oleh pihak lain.

D. OPERASIONALISASI DAN PENGUKURAN VARIABLE


Definisi operasional adalah suatu definisi yang memberikan penjelasan atas
suatu variabel yang dapat diukur dan dapat memberikan informasi-informasi yang
diperlukan untuk dapat mengukur variabel-variabel yang akan diteliti.
Dalam penelitian ini digunakan 4 variabel, yaitu Return On Equity (X1), Debt
to Equity Ratio (X2), Nilai Perusahaan (Y), dan Kebijakan Deviden (Z). Variabel
Independen merupakan stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain.
Variabel independen merupakan variabel yang dapat diukur, dimanipulasi, atau dipilih
oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi.
Variabel dependen adalah variabel yang memberikan reaksi atau respons jika
dihubungkan dengan variabel bebas, serta variabel yang dapat diamati dan diukur
untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel independen. Variable
modrating adalah variabel yang memperkuat atau memperlemah hubungan langsung
antara variable independen dan variabel dependen. Dalam penelitian ada beberapa
variabel yang digunakan antara lain:

1. Variabel Bebas (Variable Independen)


Dalam penelitian ini variabel bebas (X) atau variabel bebas adalah variabel
yang mempengaruhi variabel lainnya. Variabel bebas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kinerja keuangan yang terdiri dari ROE dan DER.
1) Return On Equity (ROE)
Horne dan John (2005), Return On Equity (ROE) merupakan tingkat
pengembalian atas ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Sehingga
perhitungan ROE sebuah perusahaan dapat dihitung dengan menggunakan
rumus:
Return On Equity (ROE)

Laba Bersih
Total Ekuitas

2)

Debt to Equity Ratio


Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja
perusahaan dari penggunaan hutang sebagai sumber pembiayaan perusahaan.
Rasio ini juga menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi total
hutang (total debt) berdasarkan total modal perusahaannya. Rasio ini dapat
dirumuskan sebagai berikut, (Riyanto, 2001):
Debt to Equity Ratio (DER)

Total Hutang
Total ekuitas

2. Variabel Terikat (Variable Dependen)


Dalam penelitian ini variabel terikat (Y) adalah variabel yang dipengaruhi
oleh variable bebas.

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Nilai

Perusahaan. Susanti (2010), Indikator-indikator yang dapat mempengaruhi nilai


perusahaan adalah PER (Price Erning Ratio) dan PBV (Price Book Value). Dalam
penelitian ini nilai perusahaan diukur menggunakan PBV (Price to book value)
yaitu rasio pasar yang digunakan untuk mengukur kinerja harga/ nilai pasar saham

terhadap nilai bukunya. Sedangkan Brigham (2006) menyatakan PBV merupakan


rasio yang mengukur nilai yang diberikan pasar keuangan kepada manajemen
dan organisasi perusahaan sebagai sebuah perusahaan yang terus tumbuh,
yang dapat dirumuskan dengan:
PBV

Nilai Pasar

x 100%

Nilai Buku
3. Variabel Moderating (Memperkuat atau Memperlemah)
Moderating Variabel (Z) adalah variabel yang memperkuat atau
memperlemah hubungan langsung antara variabel independen dan variabel
dependen (Kusimadilaga, 2010). Variabel moderating yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Kebijakan Dividen. Kebijakan dividen adalah kebijakan
pembagian atas pendapatan yang harus diikuti dalam membuat keputusan dividen.
Kebijakan dividen dalam penelitian ini diwakili oleh dividend payout ratio.
Menurut Harjito, A dan Martono (2005) menyatakan bahwa dividend payout ratio
merupakan rasio yang menunjukkan persentase laba perusahaan yang dibayarkan
kepada pemegang saham biasa perusahaan berupa dividen kas. Secara matematis,
Dividen Payout Ratio dapat dinyatakan dengan rumus :
Dividen Payout Ratio (DPR) =

Cash Dividen
Earning Per Share

E. ANALISIS DATA
Dalam penelitian ini, data-data yang terkumpul akan dihitung, diolah, serta
dianalisis lebih lanjut untuk menghasilkan informasi yang bermanfaat bagi penulis
dan peneliti berikutnya.

Dengan analisis data, peneliti akan dapat memberikan jawaban dari masalah
yang dibahas dalam penelitian, serta temuan-temuan yang dapat dijadikan sebagai
upaya untuk mengoptimalkan profitabilitas perusahaan.
2. Uji Statistik Deskriptif
Statistik deskripsi data adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa
data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah
terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang
berlaku umum atau generalisasi. Termasuk dalam statistik deskripsi data antara
lain :
a. Mean (rata-rata hitung)
Mean (rata-rata hitung) adalah suatu nilai yang diperoleh dengan cara
membagi seluruh nilai pengamatan dengan banyak pengamatannya.
Rumus :
X

X1+ X2+.+Xi ++Xn


N

Dimana :
X = Mean data
Xn = Variabel ke-n
n

= Banyak data atau jumlah sample

b. Median
Median adalah salah satu teknik penjelasan kelompok yang didasarkan
atas nilai tengah dari kelompok data yaitu persediaan, biaya overhead
pabrik dan volume penjualan yang disusun urutannya dari yang terkecil
sampai yang terbesar, atau sebaliknya dari yang terbesar sampai yang
terkecil. Rumus untuk menghitung median adalah sebagai berikut:
Md =

X1+ X2

2
Dimana :
Md

= Median

X1

= Nilai tengah pertama median akan terletak

X2

= Nilai tengah kedua median akan terletak

c. Modus
Merupakan teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nilai yang
sedang populer (yang sedang terjadi mode) atau yang sering muncul dalam
data kelompok persediaan, biaya overhead pabrik dan volume penjualan.
Rumus untuk menghitung modus adalah sebagai berikut:
a
Mo = TB +

xc
(a + b)

Dimana :
Mo = Modus
TB = Titik bawah kelas modus (kelas dengan frekuemsi terbesar)
a

= Selisih frekuensi kelas Mo dengan sebelumnya

= Selisih frekuensi kelas Mo dengan sesudahnya

= Interval kelas

d. Standar Deviasi dan Varians


Standar deviasi atau simpangan baku merupakan simpangan nilai dari data
yang telah disusun dalam table distribusi frekuensi atau data bergolong.
Standar deviasi dan varians dapat dirumuskan sebagai berikut:

S =
Atau

2 =

( Xi

Keterangan :
S2

= Varians Sampel

= Standar Deviasi

= Jumlah data atau kelompok

Xi

= Nilai X ke 1 sampai ke n

= Rata-rata nilai

3. Metode Analisis Data


e) Uji Normalitas Data
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel dependen dan variabel independen keduanya mempunyai distribusi
normal ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki distribusi data
normal atau mendekati normal. Untuk mendeteksi normalitas dapat dilakukan
dengan uji statistik. Test statistik yang digunakan antara lain analisis grafik
histogram, normal probability plots dan Kolmogorov-Smirnov test (Imam
Ghozali, 2002). Data dikatakan berdistribusi normal jika signifikansi variabel
dependen memiliki nilai signifikansi lebih dari 0.05. Namun Asumsi
normalitas untuk menggunakan analisis regresi tidak terlalu kritis bila data
observasi mencapai 100 atau lebih karena berdasarkan Dalil Limit Pusat
(Central Limit Theorsm) dari sampel yang besar dapat dihasilkan statistik
sampel yang mendekati distribusi normal.
4.

Uji Asumsi Klasik


Uji asumsi klasik merupakan prasyarat analisis regresi berganda. Sebelum
melakukan pengujian hipotesis yang diajukan dalam penelitian perlu dilakukan
pengujian asumsi klasik yang meliputi; uji normalitas, uji multikolonieritas, uji
autokorelasi, dan uji heteroskedastisitas.
a) Uji Normalitas Regresi
Menurut imam Ghozali (2009) menyataan bahwa uji normalitis adalah
untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan
dependennya memilki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pada
prinsipnya normalitas data dapat diketahui dengan melihat penyebaran data

(titik) pada sumbu diagonal pada grafik atau histogram dari residualnya. Dasar
pengambilan keputusan menurut Santoso (2004) adalah sebagai berikut :
1) Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis
diagonal. Maka model regresi memenuhi asumsi normalitas.
2) Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti
arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi
normalitas.
b) Uji Multiolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya hubungan yang kuat antar variabel
independent dalam persamaan regresi. Adanya Multikolinearitas akan
mengakibatkan ketidaktepatan estimasi, sehingga mengarahkan kesimpulan
yang menerima hipotesis nol. Hal ini menyebabkan koefisien dan standar
sangat sensitif terhadap perubahan harga.
Konsekuensi dari multikolinearitas akan menyebabkan koefisien
regresi nilainya kecil, standart error regresi nilainya besar sehingga pengujian
individunya menjadi tidak signifikan. Adapun ciri-ciri yang menunjukkan
bahwa antara variabel independennya memiliki multikolinearitas adalah R2
tinggi, F-test signifikan, tetapi t-testnya banyak yang tidak signifikan.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam, pengujian multikolinearitas
adalah sebagai berikut:
1)

Rumusan Hipotesa
H0 : Tidak ada multikolinearitas
H1 : Ada multikolinearitas
2) Tentukan besarnya sampel
3) Tentukan significance level (), umumnya = 5%
4) Masukan data dalam SPSS

5) Tarik kesimpulan
Dengan tingkat signifikasi sebesar 0,05, maka kesimpulan yang dapat
diambil adalah sebagai berikut:
1)

Jika Variance Inflation Factor (VIF) > 10, maka:


H0 = Ditolak
Ha = Diterima
Artinya

ada

multikolinearitas

(antara

variabel

independennya

berkorelasi atau memiliki hubungan langsung).


2) Jika Variance Inflation Factor (VIF) < 10, maka
H0 = Diterima
Ha = Ditolak
Artinya, tidak ada multikolinearitas (antara variabel independennya
tidak berkorelasi atau tidak memiliki hubungan langsung) Selain itu akibat
terjadinya multikolinearitas adalah:
3) Koefisian regresi tidak dapat ditaksir
4) Nilai standar error setiap koefisien regresi menjadi tidak berharga
5) Koefisien
signifikan

regresi

setiap

sehingga

tidak

variabel

bebas

diketahui

secara

variabel

sistematis

tidak

independent

yang

mempengaruhi variabel dependen.


6) Tanda koefisien regresi akan berlawanan dengan yang diramalkan secara
teoritis.
7) Jika salah satu variabel bebas dihilangkan dari model regresi yang ditaksir,
ini dapat menyebabkan koefisien regresi variabel bebas yang masih ada
mempunyai koefisien regresi yang signifikan secara statistik
Menurut Santoso (2004) untuk mendeteksi terjadinya multikolinearitas

dapat dilihat dari besar VIF (Variance Inflation Factor) dan Tolerance,
pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah mempunyai
VIF disekitar angka 1, dan mempunyai angka Tolerance mendekati 1.
c) Uji Heteroskedasitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain berbeda. Sedangkan untuk mengetahui apakah dengan model
regresi terjadi ketidaksamaan variansi dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas.
Jika varians bersifat heterogen, berarti telah terjadi pelanggaran
terhadap asumsi klasik yang menyatakan bahwa varians dari error harus
bersifat homogen. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas. Cara
untuk mendeteksi adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi
variable terikat (ZPRED) dengan residualnya (ZRESID) yakni dengan melihat
pola grafik tertentu pada grafik scatterplot antara ZRESID dan ZPRED. Jika
ada pola tertentu, seperti titik yang membentuk pola tertentu yang teratur
(bergelombang), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika
tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka
0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
Adapun prosedur pengujian heteroskedatisitas adalah sebagai berikut:
1) Rumusan hipotesa
H0 = tidak ada heteroskedastisitas
Ha = ada Heteroskedastisitas
2) Tentukan besarnya sampel
3) Tentukan significance level (), umumnya = 5%

4) Masukkan data dalam SPSS


5) Tarik kesimpulan
Dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05 maka kesimpulan yang dapat
diambil adalah sebagai berikut:
1)

Jika signifikansi (probabilitas) dari X2 < 0,05 maka:


H0 = Ditolak
Ha = Diterima
Artinya ada heteroskedastisitas (varians dari setiap error bersifat
heterogen).
2) Jika signifikansi (probabilitas) dari X2 > 0,05 maka:
H0 = Diterima
Ha = Ditolak
Artinya tidak ada heteroskedatisitas (varians dari setiap error bersifat
homogen).
Heterokedastisitas dapat diatasi dengan menggunakan transformasi
logaritma natural. Transformasi dalam bentuk logaritma akan memperkecil
skala dan observasi dan kemungkinan besar varians juga akan semakin
mengecil dan ada kemungkunan homokedastisitas terpenuhi.
d) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengunaan pada periode t dengan
kesalahan pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka
dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi
yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya (Ghozali, 2009).
Untuk menguji keberadaan autokorelasi dalam penelitian ini digunakan uji

statistic Durbin-Watson. Durbin-Watson hanya digunakan untuk autokorelasi


tingkat satu (first order autocorrelation) dan mensyaratkan adanya intercept
(konstanta) dalam model regresi dan tidak ada variabel lag di antara variabel
independen. Hipotesis yang akan diujii adalah:
Ho : tidak ada autokorelasi (r = 0)
Ha : ada autokorelasi (r 0)
e) Linearitas Regresi
Uji Linearitas digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang
digunakan sudah benar atau tidak. Dengan uji linearitas maka akan diperoleh
informasi apakah model empiris sebaiknya linear, kuadrat atu kubik.
Linearitas regresi diuji dengan Scatter Plots. Pada grafik Scatter Plots terdapat
titik-titik yang menyebar secara acak (random) baik diatas maupun dibawah
angka 0 pada sumbu Y. Jika terdapat hubungan bahwa kira-kira sebesar 95 %
dari residual terletak antara -2 dan +2 dalam scatterplots, maka asumsi
linearitas terpenuhi.
f) Analisis Regresion Moderated
Uji Interaksi atau sering disebut dengan Moderated Regression
Analysis (MRA) merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear di
mana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian
dua atau lebih variabel independen) (Ghozali, 2006). Variabel perkalian
antara Kinerja Keuangan (Profitabilitas X1, Leverage X2) dan Kebijakan
dividen (Z) merupakan variabel moderating oleh karena menggambarkan
pengaruh moderating variabel Kebijakan dividen (Z) terhadap hubungan
Kinerja Keuangan (X) dan Nilai Perusahaan ().
Jogiyanto (2010) menyatakan pengujian terhadap efek moderasi dapat
dilakukan dengan dua cara sebagai berikut :

a. Efek Moderasi dilihat dari kenaikan R2 persamaan regresi yang


berisi dengan efek-efek utama dan efek moderasi dari persamaan
regresi yang hanya berisi dengan efek utama saja.
b. Efek moderasi juga dapat dilihat dari signifikansi koefisien b3 dari
interaksi (VI*VMO).
Arsintadiani dan Harsono (2002) dalam penelitiannya menyatakan
bahwa hasil interaksi variabel independen (VI) dan variabel dependen
(VD) dengan memasukkan variabel Moderating (VMO). Nilai efek-efek
utama dan efek moderasi (VI*VMO) jika mengalami peningkatan nilai R
square dari efek utama, peningkatan R square tidak signifikan karena tingkat
signifikansi b3 (VI*VMO) > 0.05 ( Los = 5 %) dan dikatakan signifikan jika
tingkat signifikansi b3 (VI*VMO) < 0.05 ( Los = 5 %). Sebelum model
regresi, maka terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik

yang

meliputi uji normalitas dan uji heteroskedastisitas serta untuk memastikan


bahwa data yang dihasilkan berdistribusi normal Ghozali (2006):
2) Uji normalitas
Asumsi data telah berdistribusi normal adalah salah satu asumsi
yang penting dalam melakukan penelitian dengan regresi. Uji ini
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel
independen, dependen dan moderasi terdistribusi secara normal atau tidak.
Pengujian dalam penelitian dengan melihat normal probability plot, di
mana pada grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar di sekitar garis
diagonal serta penyebarannya mengikuti arah garis diagonal.
3) Uji heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model


regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain (Ghozali,

2006:105). Cara memprediksi

ada

tidaknya heteroskedastis pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar
scatterplot model tersebut.
5. Uji Hipotesis
Secara statistik ketepatan fungsi regresi sample dalam menaksir aktual
dapat diukur dari nilai statistik t, nilai statistik f serta koefisien determinasinya.
Suatu perhitungan statistik tersebut signifikan secara statistik apabila nilai uji
statistiknya berada dalam daerah kritis (daerah Ho ditolak). Sebaliknya disebut
tidak signifikan bila nilai uji statistiknya berada dalam daerah dimana Ho
diterima.
a) Uji Korelasi / Uji f (Uji Signifikansi Simultan)
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel
independent terhadap variabel dependen. Pembuktian dilakukan dengan cara
menganalisis nilai yang terdapat pada tabel f. Untuk menentukan nilai f
hitung, tingkat signifikasi yang digunakan sebesar 5% dengan derajat
kebebasan (degres of fridoom). Hipotesis menyatakan sebagai berikut:
H1

: Ada hubungan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.

H2

Kebijakan

Dividen

dapat

memoderasi

hubungan

antara

Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.

H3

: Ada hubungan antara Leverage terhadap Nilai Perusahaan.

H4

: Kebijakan Dividen dapat memoderasi hubungan antara Leverage


terhadap Nilai Perusahaan.

Merumuskan hipotesis pertama

Ho

: 1=2= 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan antara


Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan)

Ha

12

(Ada

pengaruh

secara

signifikan

antara

Profitabilitas berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan)


Merumuskan hipotesis kedua
Ho

: 1=2= 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan kebijakan


dividen dalam memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap
nilai perusahaan)

Ha

: 12 0 (Ada pengaruh secara signifikan kebijakan dividen


dalam memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap nilai
perusahaan)

Merumuskan hipotesis ketiga


Ho

: 1=2= 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan antara


leverage terhadap nilai perusahaan)

Ha

: 12 0 (Ada pengaruh secara signifikan leverage terhadap


nilai perusahaan)

Merumuskan hipotesis keempat


Ho

: 1=2= 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan kebijakan


dividen dalam memoderasi hubungan antara leverage terhadap nilai
perusahaan)

Ha

: 12 0 (Ada pengaruh secara signifikan kebijakan dividen


dalam memoderasi hubungan antara leverage terhadap nilai
perusahaan)

Uji statistik :

Keterangan : R2

= Koefisien determinasi

= Jumlah data atau kasus

= Jumlah variabel

Kriteria pengujian yang digunakan adalah :


Jika F
> 5% maka Ha ditolak
hitung
Jika F
< 5% maka Ha diterima
hitung

b) Uji Regresi / Uji t (Uji Signifikansi Parsial)


Pengujian ini bertujuan untuk memastikan apakah variabel independen
yang terdapat dalam persamaan tersebut berpengaruh terhadap nilai variabel
dependen. Uji t dilakukan dengan cara menganalisis nilai yang terdapat pada
table t. Untuk menentukan nilai t hitung ditentukan dengan tingkat signifikasi
5%. Hipotesis menyatakan sebagai berikut:
H1

: Ada hubungan antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

H2

: Kebijakan dividen dapat memoderasi hubungan antara profitabilitas


terhadap nilai perusahaan.

H3

: Ada hubungan antara leverage terhadap nilai perusahaan.

H4

: Kebijakan dividen dapat memoderasi hubungan antara leverage


terhadap nilai perusahaan.

Merumuskan hipotesis pertama


Ho

: i = 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan antara


profitabilitas terhadap nilai perusahaan)

Ha

: i 0 (Ada pengaruh secara signifikan antara profitabilitas


berpengaruh terhadap nilai perusahaan)

Merumuskan hipotesis kedua


Ho

: i = 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan kebijakan dividen


dalam memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap nilai
perusahaan)

Ha

: i 0 (Ada pengaruh secara signifikan kebijakan dividen dalam


memoderasi

hubungan

antara

profitabilitas

terhadap

nilai

perusahaan)

Merumuskan hipotesis ketiga


Ho

: i = 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan antara leverage


terhadap nilai perusahaan)

Ha

: i 0 (Ada pengaruh secara signifikan leverage terhadap nilai


perusahaan)

Merumuskan hipotesis keempat


Ho

: i = 0 (Tidak ada pengaruh secara signifikan kebijakan dividen


dalam memoderasi hubungan antara leverage terhadap nilai
perusahaan)

Ha

: i 0 (Ada pengaruh secara signifikan kebijakan dividen dalam


memoderasi hubungan antara leverage terhadap nilai perusahaan )

Uji statistik

5% dengan derajat kebebasan df = (n-k-1) dimana n adalah jumlah


responden dan k adalah jumlah variabel.
Keterangan :
bi

= Koefisien regresi variabel i

Sbi

= Standar error variabel i

Kriteria pengujian yang digunakan adalah :

Jika Jika t

> 5% maka Ha ditolak

hitung

Jika t
< 5% maka Ha diterima
hitung
6. Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi atau disebut juga dengan koefisien penentu
(coefficient of deterination) adalah nilai yang menunjukan seberapa besar.
Pengaruh profitabilitas (ROE) dan leverage (DER) terhadap nilai perusahaan
dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderating.
Rumus

Keterangan

KD = r x 100%

Kd

: Koefisien determinasi

: Koefisien korelasi

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A.

GAMBARAN UMUM SAMPLE


Dalam penelitian ini, penulis mendapatkan Return On Equity (ROE), Debt to
Equity Ratio (DER), Price Book Value (PBV), dan Dividend Payout Ratio (DPR) pada
Bursa Efek Indonesia (BEI), yang lebih tepatnya pengambilan data dilakukan di
Indonesian Capital Market Electronic Library (ICMEL) yang beralamat di Gedung
Bursa Efek Indonesia Menara 2 Jln Jend. Sudirman Kav 52-53 Jakarta 12910.
Bursa efek selaku tempat perdagangan saham atau efek lainnya, memiliki datadata dari perdagangan saham. Di bursa efek terdapat peraturan-peraturan yang harus
ditaati oleh semua emiten atau perusahaan yang terdaftar. Salah satunya adalah
kewajiban untuk menyampaikan informasi mengenai keadaan perusahaan mereka
dengan melaporkan hasil kinerja dalam bentuk laporan keuangan perusahaan agar
para pemegang saham dapat menilai akan investasinya.
Objek penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan
Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode tahun 20092011 dengan total populasi perusahaan terdaftar sebanyak 170 perusahaan. Dari
jumlah populasi tersebut sample perusahaan yang akan diteliti sebanyak 20
perusahaan dengan teknik pengambilan sample secara purposive sampling method.

B.

DATA PENELITIAN
Data dalam penelitian ini termasuk data sekunder yang diperoleh dari Bursa
Efek Indonesia (BEI), yang lebih tepatnya pengambilan data dilakukan di Indonesian
Capital Market Electronic Library (ICaMEL). Data yang diolah adalah data

kuantitatif. Data kuantitatif ini berupa laporan keuangan tahunan perusahaan. Sample
data yang digunakan yaitu sebanyak 20 perusahaan yang dipilih berdasarkan kriteria
yang telah ditentukan. Data yang diambil berupa data neraca dan laporan rugi laba per
31 Desember periode tahun 2009-2011.

C.
1.

ANALISA DAN PEMBAHASAN


Statistik Deskriptif
Setelah data variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen)
diperoleh kemudian diolah dengan menggunakan perhitungan SPSS Versi 17.00
for windows, maka hasil analisis statistik deskriptif adalah sebagai berikut:

Tabel 4.1
Uji Statistik Dekriptif ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Statistics
ROE
N

Valid

DER

PBV

DPR

60

60

60

60

Mean

0
1.6717

0
1.6769

0
1.5713

0
.3326

Std. Error of Mean

.09634

.13917

.09611

.02766

Median

1.6229

1.5848

1.4550

.2697

.02a

Missing

Mode
Std. Deviation

1.15

.15

1.01

.74623

1.07800

.74448

.21423

Variance

.557

1.162

.554

.046

Range

3.97

4.55

2.65

.85

Minimum

.16

.15

.28

.02

Maximum

4.13

4.70

2.93

.87

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Sumber: SPSS versi 17.00 for windows


Dari hasil pengolahan SPSS Versi 17.00 tersebut diperoleh:
a) Price Book Value (Y)
Untuk Variabel Y diketahui bahwa rata-rata (mean) PBV adalah sebesar
1.5713, nilai tengahnya (median) sebesar 1.4550, nilai yang sering muncul
(mode) sebesar 1,01, dan standar deviasi sebesar 0.74448.

b) Return On Equity (X1)


Untuk Variabel X1 diketahui bahwa rata-rata (mean) ROE adalah sebesar
1.6717, nilai tengahnya (median) sebesar 1.6229, nilai yang sering muncul
(mode) sebesar 1,15, dan standar deviasi sebesar 0.74623.
c) Debt to Equity Ratio (X2)
Untuk Variabel X2 diketahui bahwa rata-rata (mean) DER adalah sebesar
1.6769, nilai tengahnya (median) sebesar 1.5848, nilai yang sering muncul
(mode) sebesar 0.15, dan standar deviasi sebesar 1.07800.
d) Dividen Payout Ratio (Z)
Untuk variabel Z diketahui bahwa rata-rata (mean) DPR adalah sebesar
0.3326, nilai tengahnya (median) sebesar 0.2697, nilai yang sering muncul
(mode) sebesar 0.02, dan standar deviasi 0.21423.
2. Uji Normalitas Data
Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov
dengan tingkat signifikan () = 5% maka data berdistribusi normal, begitupun
sebaliknya jika tingkat signifikan lebih kecil dari () = 5% maka data dikatakan
tidak berdistribusi normal.

Tabel 4.2.1
Uji Normalitas ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
ROE
N
Normal Parameters

a,,b

Mean

Std. Deviation
Most Extreme Differences Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)

DER

PBV

DPR

60

60

60

60

1.6717

1.6769

1.5713

.3326

.74623
.172

1.07800
.078

.74448
.093

.21423
.128

.140
-.172
1.328

.078
-.078
.607

.087
-.093
.718

.128
-.106
.991

.059

.855

.681

.279

a. Test distribution is Normal.


b. Calculated from data.

Sumber: SPSS versi 17.00 for windows


Berdasarkan tabel diatas terlihat jelas hasil output Return On Equity
(ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Price Book Value (PBV), dan Dividen Payout
Ratio (DPR) melalui One-Sample Kolmogorov-Smirnov test. Dari nilai Asymp.
Sig. (2-tailed) terlihat bahwa nilai variabel ROE bernilai 0.59 lebih besar dari 0.05
berarti bisa dikatakan bahwa nilai ROE memiliki nilai distribusi normal, variabel
DER memiliki nilai signifikan 0.855 yang berarti lebih besar dari 0.05 jadi nilai
dari DER berdistribusi normal, variabel PBV bernilai 0.681 lebih besar dari 0.05
berarti bisa dikatakan bahwa nilai PBV memiliki nilai distribusi normal, dan
variabel terakhir DPR memiliiki nilai 0.279 lebih besar dari 0.05 yang berarti nilai
DPR juga berdistribusi normal. Karena semua data telah berdistribusi normal
maka pengujian dapat dilanjutkan.

3.

Uji Asumsi Klasik


d) Uji Normalitas Regresi

Menurut imam Ghozali (2009) menyataan bahwa uji normalitis adalah


untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen dan
dependennya memilki distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik
adalah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal. Pada prinsipnya
normalitas data dapat diketahui dengan melihat penyebaran data (titik) pada
sumbu diagonal pada grafik atau histogram dari residualnya. Model regresi
diasumsikan normal, jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti
arah garis diagonal. Model regresi diasumsikan tidak normal, jika data
menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis diagonal.
Maka hasil uji normalitas regresi adalah sebagai berikut:
Gambar 4.3.1
Uji Normalitas Regresi ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Sumber: SPSS versi 17.00 for windows

Dari gambar grafik normal P-P Plot diatas dapat disimpulkan bahwa
sebaran titik-titik residual berada disekitar garis normal. Hal tersebut terjadi
karena titik-titik residual tersebut berasal dari data dengan distribusi normal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data telah memenuhi persyaratan
normalitas regresi.
e) Uji Multikolinearitas
Multikolinearitas adalah adanya hubungan yang kuat antar variabel
independent dalam persamaan regresi. Adanya Multikolinearitas akan
mengakibatkan ketidaktepatan estimasi, sehingga mengarahkan kesimpulan
yang menerima hipotesis nol. Hal ini menyebabkan koefisien dan standar sangat
sensitif terhadap perubahan harga. Konsekuensi dari multikolinearitas akan
menyebabkan koefisien regresi nilainya kecil, standart error regresi nilainya
besar sehingga pengujian individunya menjadi tidak signifikan. Adapun ciri-ciri
yang

menunjukkan

bahwa

antara

variabel

independennya

memiliki

multikolinearitas adalah R2 tinggi, F-test signifikan, tetapi t-testnya banyak yang


tidak signifikan. Maka hasil uji multikolineritas adalah sebagai berikut :
Tabel 4.3.2
Hasil Uji Multikolinearitas ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011
Coefficientsa

Collinearity Statistics
Model
1

ROE
DER
DPR

Tolerance
.889
.967
.906

a. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows

VIF
1.125
1.034
1.104

Dari hasil tabel diatas dapat diketahui nilai variance inflation factor (VIF)
ke tiga variabel independen, yaitu ROE sebesar 1.125, DER sebesar 1.034, dan
DPR sebesar 1.104. Berdasarkan hasil tersebut, terlihat bahwa nilainya lebih
kecil dari 10, sehingga bisa diduga bahwa antarvariabel independen tidak terjadi
persoalan multikolinearitas.

f) Uji Heteroskeditas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan lain berbeda. Sedangkan untuk mengetahui apakah dengan model
regresi terjadi ketidaksamaan variansi dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain tetap, maka disebut homoskedastisitas.
Jika varians bersifat heterogen, berarti telah terjadi pelanggaran terhadap
asumsi klasik yang menyatakan bahwa varians dari error harus bersifat
homogen. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas. Cara untuk
mendeteksi adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi variable
terikat (ZPRED) dengan residualnya (ZRESID) yakni dengan melihat pola
grafik tertentu pada grafik scatterplot antara ZRESID dan ZPRED. Jika ada pola
tertentu,

seperti

titik

yang

membentuk

pola

tertentu

yang

teratur

(bergelombang), maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Jika


tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0
pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Maka hasil uji
heteroskeditas adalah sebagai berikut :

Grafik 4.3.3
Hasil Uji Heteroskeditas ROE, DER, PVB, dan DPR
Tahun 2009-2011

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari grafik scatterplot diatas terlihat bahwa titik titik menyebar antara
2 sampai 2, hal ini menunjukan bahwa model regresi ROE, DER, PBV dan DPR
maka mengindikasikan tidak terjadi heteroskedastisitas.
g) Uji Auto Kolerasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam suatu model regresi
linier ada korelasi antara kesalahan pengunaan pada periode t dengan kesalahan
pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada
problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan
sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Maka hasil uji auto kolerasi
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.3.4

Hasil Uji Auto Kolerasi ROE, DER, PBV, dan DPR


Tahun 2009-2011
Model Summaryb
Model

Durbin-Watson
2.047a

a. Predictors: (Constant),
DPR, DER, ROE
b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Hasil uji DW menunjukan nilai sebesar 2.047. nilai tersebut jika
dibandingkan dengan nilai table dengan menggunakan derajat kepercayaan 5%,
jumlah sampel 60, variable bebas (K) = 3, nilai table DW (DL = 1.479) dan DW
(DU = 1.688), maka nilai DW terletak diantara batas atas DU dan (4-DU), 1.688
< 2.047 < 2.311, maka hasilnya tidak ada auto kolerasi.
h) Uji Lineritas Regresi
Uji Linearitas digunakan untuk melihat apakah spesifikasi model yang
digunakan sudah benar atau tidak. Dengan uji linearitas maka akan diperoleh
informasi apakah model empiris sebaiknya linear, kuadrat atau kubik. Linearitas
regresi diuji dengan Scatter Plots. Pada grafik Scatter Plots terdapat titik-titik
yang menyebar secara acak (random) baik diatas maupun dibawah angka 0 pada
sumbu Y. Jika terdapat hubungan bahwa kira-kira sebesar 95 % dari residual
terletak antara -2 dan +2 dalam scatterplots, maka asumsi linearitas terpenuhi.

Grafik 4.3.5

Hasil Uji Lineritas Regresi ROE, DER, PBV, dan DPR


Tahun 2009-2011

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari grafik scatterplot diatas terlihat bahwa 95% titik titik menyebar
antara 2 sampai 2, hal ini menunjukan bahwa model regresi ROE, DER, PBV
dan DPR memenuhi asumsi klasik lineritas.
i) Uji Moderated Regression Analysis
Uji Interaksi atau sering disebut dengan Moderated Regression
Analysis (MRA) merupakan aplikasi khusus regresi berganda linear di
mana dalam persamaan regresinya mengandung unsur interaksi (perkalian
dua atau lebih variabel independen) (Ghozali, 2006). Variabel perkalian
antara Kinerja Keuangan (Profitabilitas X1, Leverage X2) dan Kebijakan
dividen (Z) merupakan variabel moderating oleh karena menggambarkan
pengaruh moderating variabel Kebijakan dividen (Z) terhadap hubungan Kinerja
Keuangan (X) dan Nilai Perusahaan ().
Arsintadiani dan Harsono (2002) dalam penelitiannya

menyatakan

bahwa hasil interaksi variabel independen (VI) dan variabel dependen (VD)
dengan memasukkan variabel Moderating (VMO). Nilai efek-efek utama

dan efek moderasi (VI*VMO) jika mengalami peningkatan nilai R square dari
efek utama, peningkatan R square tidak signifikan karena tingkat signifikansi b3
(VI*VMO) > 0.05 ( Los = 5 %) dan dikatakan signifikan jika tingkat
signifikansi b3 (VI*VMO) < 0.05 ( Los = 5 %). Sebelum model regresi, maka
terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik

yang

meliputi

uji

normalitas dan uji heteroskedastisitas serta untuk memastikan bahwa data


yang dihasilkan berdistribusi normal. Maka hasil uji moderasi regresi analisis
adalah sebagai berikut :

Table4.3.6-1
Hasil Uji Regresi ROE (X1), PBV (Y) dan DPR (Z)
Tahun 2009-2011
Regresi Model 1b (Moderasi)_Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
1.617

.407

ROE

.134

.248

DPR

1.662

MO_1

1.215

Beta

Sig.

3.972

.000

.135

.542

.590

1.223

.478

1.359

.180

.673

.823

2.007

.046

a. Dependent Variable: PBV

Sumber: SPSS versi 17.00 for windows


Berdasarkan Tabel 4.3.6-1 tersebut, maka dapat diperoleh persamaan
regresi sebagai berikut:
Nilai Perusahaan (PBV) sebesar 1.617, profitabilitas (ROE) 0.134,
kebijakan dividen (DPR) 1.662 dan interaksi ROE dan DPR terhadap Nilai
Perusahaan (MO_1) sebesar 1.215.

Table 4.3.6-2
Hasil Uji Regresi DER (X2), PBV (Y), dan DPR (Z)
Regresi Model 2b (Moderasi)_Coefficientsa

Tahun

Unstandardized
Coefficients
Model
1

Std. Error

(Constant)

1.786

.332

DER

-.262

.170

DPR

-.039
.417

MO_2

2009-2011

Standardized
Coefficients
Beta

Sig.

5.381

.000

-.380

-1.546

.128

.931

-.011

-.042

.966

.474

.306

.880

.382

a. Dependent Variable: PBV

Sumber: SPSS versi 17.00 for windows


Berdasarkan Tabel 4.3.6-2 tersebut, maka dapat diperoleh persamaan
regresi sebagai berikut:
Nilai Perusahaan (PBV) sebesar 1.786, leverage (DER) -0.262, kebijakan
dividen (DPR) -0.039 dan interaksi DER dan DPR terhadap Nilai Perusahaan
(MO_2) sebesar 0.417.
a. Uji Normalitas MRA
Asumsi data telah berdistribusi normal adalah salah satu asumsi
yang penting dalam melakukan penelitian dengan regresi. Uji ini
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel independen,
dependen dan moderasi terdistribusi secara normal atau tidak. Pengujian

dalam penelitian dengan melihat normal probability plot, dimana pada


grafik normal plot terlihat titik-titik menyebar disekitar garis diagonal serta
penyebarannya mengikuti arah garis diagonal.
Grafik 4.3.6-1a
Hasil Uji Normalitas (MRA) ROE, DPR, dan PBV
Tahun 2009-2011

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari gambar grafik normal P-P Plot diatas dapat disimpulkan bahwa
sebaran titik-titik residual berada disekitar garis normal. Hal tersebut terjadi
karena titik-titik residual tersebut berasal dari data dengan distribusi normal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data telah memenuhi
persyaratan normalitas MRA.

Grafik 4.3.6-1b
Hasil Uji Normalitas (MRA) DER, DPR, dan PBV
Tahun 2009-2011

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari gambar grafik normal P-P Plot diatas dapat disimpulkan bahwa
sebaran titik-titik residual berada disekitar garis normal. Hal tersebut terjadi
karena titik-titik residual tersebut berasal dari data dengan distribusi normal.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data telah memenuhi
persyaratan normalitas MRA.
b. Uji Heteroskedastisitas MRA
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Cara memprediksi ada tidaknya heteroskedastis
pada suatu model dapat dilihat dari pola gambar scatterplot model tersebut.
Maka hasil uji heteroskeditas (MRA) adalah sebagai berikut :

Gambar 4.3.6-2a
Hasil Uji Heteroskeditas (MRA) ROE, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari grafik scatterplot diatas terlihat bahwa 95% titik titik menyebar
antara 2 sampai 2, hal ini menunjukan bahwa model moderasi regresi
analisis ROE, DPR, dan PBV memenuhi asumsi klasik lineritas.

Gambar 4.3.6-2b
Hasil Uji Heteroskeditas (MRA) DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari grafik scatterplot diatas terlihat bahwa 95% titik titik menyebar
antara 2 sampai 2, hal ini menunjukan bahwa model moderasi regresi
analisis ROE, DPR, dan PBV memenuhi asumsi klasik lineritas.

4.

Uji Hipotesis
1. Uji Signifikansi Simultan (Uji f)
Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara
profitabilitas terhadap nilai perusahaan (H1), kebijakan dividen dapat
memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap nilai perusahaan (H2),
hubungan antara leverage terhadap nilai perusahaan (H3), dan kebijakan
dividen dapat memoderasi hubungan antara profitabilitas terhadap nilai
perusahaan (H4). Berikut ini merupakan hasil pengujian dari uji F melalui
SPSS :
Tabel 4.4.1a
Hasil Uji F Interaksi ROE Terhadap Nilai Perusahaan
ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

Regression

df

Mean Square

2.589

2.589

Residual

30.111

58

.519

Total

32.701

59

Sig.

4.988

.029a

a. Predictors: (Constant), ROE


b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


1. Pengujian Koefisien Regresi Profitabilitas (ROE) terhadap Nilai
Perusahaan
Ho : 1=2=0 (Tidak ada pengaruh signifikan antara ROE terhadap nilai
perusahaan).
Ha : 120 (Ada pengaruh signifikan antara ROE terhadap nilai
perusahaan).
Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5% yang merupakan ukuran
standar yang sering digunakan dalam penelitian.

Menentukan F hitung
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh F hitung sebesar 4.988.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk hipotesis pertama adalah dilihat dari Tabel ANOVA
hubungan ROE terhadap PBV memiliki nilai probabilitas sebesar 0,029
yang berarti probabilitas lebih kecil dari 0,05, sehingga Ho ditolak dan
Ha diterima. Artinya secara simultan menunjukkan bahwa ada pengaruh
positif antara ROE terhadap PBV. maka dapat disimpulkan bahwa
Profitabilitas berpengaruh signifikan positif terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.4.1b
Hasil Uji F Interaksi ROE Dengan DPR Terhadap Nilai Perusahaan

ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

Regression

Df

Mean Square

4.611

1.537

Residual

28.090

56

.502

Total

32.701

59

F
3.064

Sig.
.035a

a. Predictors: (Constant), MO_1, ROE, DPR


b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


2. Pengujian Koefisien Regresi Interaksi Kebijakan Dividen (DPR)
dengan Profitabilitas (ROE) terhadap Nilai Perusahaan
Ho
: 1=2=0 (Tidak ada pengaruh signifikan antara interaksi ROE
dengan DPR terhadap nilai perusahaan).

Ha

: 120 (Ada pengaruh signifikan antara interaksi ROE

dengan DPR terhadap nilai perusahaan).


Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5% yang merupakan ukuran
standar yang sering digunakan dalam penelitian.
Menentukan F hitung
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh F hitung sebesar 3,064.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk hipotesis ke-2 adalah dilihat dari tabel ANOVA,
hubungan ROE dengan DPR terhadap PBV memiliki nilai probabilitas
sebesar 0.035, yang berarti probabilitas lebih kecil dari 0.05, sehingga
Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya secara simultan DPR memoderasi
hubungan ROE terhadap PBV. Maka dapat disimpulkan Kebijakan
Dividen sebagai variabel moderating dapat memoderasi secara signifikan
positif interaksi antara ROE terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.4.1c
Hasil Uji F Interaksi DER Terhadap Nilai Perusahaan
ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

Regression

df

Mean Square

1.113

1.113

Residual

31.587

58

.545

Total

32.701

59

F
2.044

Sig.
.158a

a. Predictors: (Constant), DER


b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


3. Pengujian koefisiensi Regresi Interaksi Leverage (DER) terhadap
Nilai Perusahaan
Ho
: 1=2=0 (Tidak ada pengaruh signifikan antara DER terhadap
nilai perusahaan).
Ha

: 120 (Ada pengaruh signifikan antara DER terhadap nilai


perusahaan).

Menentukan tingkat signifikansi


Tingkat signifikansi menggunakan a = 5% yang merupakan ukuran
standar yang sering digunakan dalam penelitian.
Menentukan F hitung
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh F hitung sebesar 2,044.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk hipotesis ke-3 adalah dilihat dari tabel ANOVA
hubungan DER terhadap PBV sebesar 0,118 yang berarti probabilitas
lebih besar dari 0,05, sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya
secara simultan menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh negatif antara
DER terhadap PBV. maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh
secara signifikan dalam interaksi Leverage terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.4.1d
Hasil Uji F Interaksi DER dengan DPR Terhadap Nilai Perusahaan
ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

Mean
Square

df

2.779

.926

Residual

29.921

56

.534

Total

32.701

59

Regression

F
1.734

Sig.
.170a

a. Predictors: (Constant), MO_2, DER, DPR


b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


4. Pengujian Koefisien Regresi Interaksi Kebijakan Dividen (DPR)
dengan Leverage (DER) terhadap Nilai Perusahaan
Ho
: 1=2=0 (Tidak ada pengaruh signifikan antara interaksi DER
Ha

dengan DPR terhadap nilai perusahaan).


: 120 (Ada pengaruh signifikan antara interaksi DER

dengan DPR terhadap nilai perusahaan).


Menentukan tingkat signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5% yang merupakan ukuran
standar yang sering digunakan dalam penelitian.
Menentukan F hitung
Berdasarkan tabel di atas, diperoleh F hitung sebesar 1,734
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk hipotesis ke-4 adalah dilihat dari tabel ANOVA,
hubungan DPR dengan DER terhadap PBV memiliki nilai probabilitas
sebesar 0.170, yang berarti probabilitas lebih besar dari 0.05, sehingga
Ho diterima dan Ha ditotak. Artinya secara simultan menunjukan DPR
sebagai variabel moderating tidak berpengaruh secara signifikan dalam
interaksi antara DER terhadap PBV. Maka dapat disimpulkan bahwa
Kebijakan Dividen tidak dapat memoderasi secara signifikan dalam
interaksi antara Leverage terhadap Nilai Perusahaan.

2. Uji Statistic t
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui signifikansi pengaruh
variabel bebas secara parameter individual (parsial) terhadap variabel terikat.
Bentuk pengujiannya adalah :

Tabel 4.4.2a
Hasil Uji t Interaksi ROE Terhadap Nilai Perusahaan

Model

Regresi Model 1a (Parsial)_Coefficientsa


Unstandar Standardi
T
Sig.
dized
zed
Coefficien Coefficien
ts
ts
B

(Constant)
ROE

Std. Error
1.102
.281

Beta
4.795

.230
.126

.281

2.233

.000
.029

a. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


1. Pengujian Parameter Individual Interaksi Profitabilitas (ROE)
terhadap Nilai Perusahaan
Menentukan Tingkat Signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5%.
Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel diperoleh t hitung sebesar 2,233.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk pengujian hipotesis pertama yang dilihat dari tabel
koefisien regresi hubungan ROE terhadap PBV memiliki nilai
probabilitas sebesar 0,281, dengan tingkat signifikansi 0,029. sehingga
Ho ditolak dan Ha diterima, artinya secara parsial menunjukan ROE
memiliki pengaruh positif terhadap PBV. Maka dapat disumpulkan
Profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan

Tabel 4.4.2b
Hasil Uji t Interaksi ROE Dengan DPR Terhadap Nilai Perusahaan
Regresi Model 1b (Moderasi)_Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
1.617

Beta

.407

Sig.

3.972

.000

ROE

.134

.248

.135

.542

.590

DPR

1.662

1.223

.478

1.359

.180

MO_1

1.215

.673

.823

2.007

.046

a. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


2. Pengujian Parameter Indivifdual Interaksi Kebijakan Dividen (DPR)
dengan Profitabilitas (ROE) terhadap Nilai Perusahaan
Menentukan Tingkat Signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5%.
Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel diperoleh t hitung sebesar 2,007.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk pengujian hipotesis ke-2 yang dilihat dari tabel
koefisien regresi diperoleh ROE memiliki nilai probabilitas sebesar
0,134, dengan tingkat signifikansi 0,590 dan DPR memiliki nilai
probabilitas sebesar 1,664, dengan tingkat signifikansi 0.180. MO_1
yang merupakan interaksi antara ROE dengan DPR memiliki nilai
signifikan sebesar 0,047. Maka Ha diterima dan Ho ditolak, artinya
secara parsial DPR memoderasi hubungan antara ROE terhadap PBV.
Sehingga dapat disimpulkan Kebijakan Dividen sebagai variabel
moderasi dalam hubungan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.4.2c
Hasil Uji t Interaksi DER Terhadap Nilai Perusahaan
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
1.785

.177

.127

.089

DER

Beta

.185

Sig.

10.071

.000

1.430

.158

a. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


3. Pengujian Parameter Individual Interaksi Leverage (DER) terhadap
Nilai Perusahaan
Menentukan Tingkat Signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5%.
Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel diperoleh t hitung sebesar 1,430.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk pengujian hipotesis ke-3 yang dilihat dari tabel
koefisien regresi diperoleh DER memiliki hasil koefisien regresi sebesar
0,127, dengan tingkat signifikansi 0,158. Maka Ho diterima dan Ha
ditolak, artinya secara parsial DER tidak berpengaruh secara nyata
(signifikan) terhadap PBV. Sehingga dapat disimpulkan Leverage tidak
berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan.

Tabel 4.4.2d
Hasil Uji t Interaksi DER Dengan DPR Terhadap Nilai Perusahaan
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Standardized
Coefficients

Std. Error

(Constant)

1.786

.332

DER

-.262

.170

DPR

-.039
.417

MO_2

Beta

Sig.

5.381

.000

-.380

-1.546

.128

.931

-.011

-.042

.966

.474

.306

.880

.382

a. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


4. Pengujian Parameter Indivifdual Interaksi Kebijakan Dividen (DPR)
dengan Leverage (DER) terhadap Nilai Perusahaan
Menentukan Tingkat Signifikansi
Tingkat signifikansi menggunakan a = 5%.
Menentukan t hitung
Berdasarkan tabel diperoleh t hitung sebesar 0,880.
Kesimpulan
Dalam hal ini, untuk pengujian hipotesis ke-4 yang dilihat dari tabel
koefisien regresi diperoleh diperoleh DER memiliki nilai probabilitas
sebesar -0,262, dengan tingkat signifikansi 0,128 dan DPR memiliki
nilai probabilitas sebesar -0,039, dengan tingkat signifikansi 0.966.
MO_2 yang merupakan interaksi antara DER dengan DPR memiliki nilai
signifikan sebesar 0,382. maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya

secara parsial DPR tidak dapat memoderasi hubungan antara DER


dengan terhadap PBV . Sehingga disimpulkan bahwa Kebijakan Dividen
tidak menjadi variabel moderating dalam hubungan antara Leverage
terhadap Nilai Perusahaan.

3. Koefisien Determinasi Majemuk (R2)


Untuk mengetahui koefisien determinasi majemuk, maka digunakan
model summary sebagai berikut :

Tabel 4.4.3a
Koefisien Determinasi Majemuk
Model Summaryb

Model
1

R Square
.375

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

.141

.095

.70824

a. Predictors: (Constant), MO_1, ROE, DPR


b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari tabel diatas, diperoleh angka R2 sebesar 0,141 atau 14,1%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel independen (ROE dan DPR) mampu
mempengaruhi sebesar 14,1% variabel dependen (Nilai Perusahaan).
Sedangkan sisanya 85,9% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain
yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.

Tabel 4.4.3b
Koefisien Determinasi Majemuk

Model Summaryb

Model
1

R Square
.292

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

.085

.036

.73096

a. Predictors: (Constant), MO_2, DER, DPR


b. Dependent Variable: PBV

Sumber : SPSS Versi 17.0 for windows


Dari tabel diatas, diperoleh angka R2 sebesar 0,085 atau 8,5%. Hal ini
menunjukkan bahwa variabel independen (DER dan DPR) mampu
mempengaruhi sebesar 8,5% variabel dependen (Nilai Perusahaan).
Sedangkan sisanya 91,5% dipengaruhi atau dijelaskan oleh variabel lain
yang tidak dimasukan dalam model penelitian ini.

D.

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN


Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diatas dapat diartikan bahwa :
1. H1 : Pengaruh profitabilitas (ROE) terhadap nilai perusahaan.
Terdapat pengaruh antara ROE terhadap PBV. Dari tabel ANOVA dapat dilihat
probabilitas sebesar 0,029 yang berarti probabilitas lebih kecil dari 0,05, yang
berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh
secara signifikan antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.
2. H2 : Pengaruh kebijakan dividen (DPR) memoderasi hubungan antara
profitabilitas (ROE) terhadap nilai perusahaan.
Dilihat dari analisis MRA terdapaat nilai probabilitas sebesar 0,046 yang berarti
lebih kecil dari 0,05 pada interaksi ROE dengan DPR (MO_1), ini dapat diartikan
bahwa Kebijakan Dividen dapat memoderasi secara signifikan dalam interaksi
antara Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan.

3. H3 : Pengaruh leverage (DER) terhadap nilai perusahaan dan Pengaruh kebijakan


dividen (DPR) memoderasi hubungan antara leverage (DER) terhadap niali
perusahaan.
Tidak terdapat pengaruh antara DER terhadap PBV, dari Tabel ANOVA dapat
dilihat probabilitas sebesar 0,118 yang berarti probabilitas lebih besar dari 0,05
yang berarti Ho diterima dan Ha ditolak. Maka dapat disimpulkan bahwa Tidak
ada pengaruh secara signifikan antara Leverage terhadap Nilai Perusahaan.
Dilihat dari analisis MRA terdapat nilai probabilitas sebesar 0,382 yang berarti
lebih besar dari 0,05 pada interaksi DER dengan DPR (MO_2), ini menunjukan
bahwa Kebijakan Dividen tidak dapat memoderasi secara signifikan dalam
interaksi antara DER terhadap PBV.

BAB V
KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara ROE dan DER
terhadap nilai perusahaan dengan kebijakan dividen sebagai variabel moderating.
Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan :
1. Hasil pengujian hipotesis pertama terdapat pengaruh ROE terhadap PBV. Dapat
dilihat dari tabel ANOVA memiliki nilai probabilitas sebesar 0,029 yang berarti
probabilitas lebih kecil dari 0,05 yang berarti Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya
secara simultan ada pengaruh signifikan antara ROE terhadap PBV. Dan dilihat
dari table t, dengan nilai probabilitas 0.29 maka Ha diterima, artinya secara parsial
ROE berpengaruh signifikan terhadap PBV,. Hal ini selaras dengan penelitian dari
Alfredo Mahendra DJ dalam penelitiannya Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap
Nilai Perusahaan (Kebijakan Deviden sebagai Variable Moderating) Pada
Perusahaan Manufaktur di BEI. Dengan hasil penelitian bahwa profitablitas
berpengaruh positif signifikan terhadap nilai perusahaan Ini berarti Profitabilitas
yang tinggi dapat memberikan nilai tambah kepada nilai perusahaannya, yang
tercermin dengan meningkatnya nilai Tobins Q.
2. Hasil pengujian hipotesis kedua, terdapat pengaruh DPR dalam interaksi antara
ROE terhadap PBV, Dilihat dari Analisis MRA terdapaat nilai probabilitas sebesar
0,046 yang berarti lebih kecil dari 0,05 pada moderat (MO_1), ini dapat diartikan
bahwa DPR dapat memoderasi secara signifikan dalam interaksi antara ROE
terhadap PBV. Pada table F juga memiliki dapat dilihat probabilitas sebesar 0.035,
yang berarti probabilitas lebih kecil dari 0.05 maka Ho ditolak dan Ha diterima.
Maka dapat disimpulkan bahwa dengan adanya Kebijakan Dividen sebagai

variable moderasi dapat mempengaruhi secara signifikan hubungan antara


Profitabiltas terhadap Nilai Perusahaan.
3. Hasil pengujian hipotesis ketiga, tidak terdapat pengaruh DER terhadap PBV,
dilihat dari tabel ANOVA dapat dilihat probabilitas sebesar 0,118 yang berarti
probabilitas lebih besar dari 0,05 yang berarti Ho diterima dan Ha ditolak, artinya
secara simultan DER tidak berpengaruh terhadap Nilai Perusahaan. Dan dilihat
dari table t yang memiliki nilai signifikansi sebesar 0.158 maka maka Ho diterima,
artinya secara parsial DER tidak berpengaruh signifikan terhadap PBV. Sehingga
kesimpulannya Leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan.
4. Hasil pengujian hipotesis keempat, dilihat dari tabel ANOVA yang memiliki nilai
signifikansi sebesar 0.170, yang berarti probabilitas lebih besar dari 0.05 sehingga
Ho diterima dan Ha ditolak. Artinya secara simultan menunjukkan interaksi DPR
sebagai variabel moderating tidak berpengaruh dalam interaksi DER terhadap
PBV. Dan dilihat dari table t, dalam uji MRA terdapat nilai signifikansi sebesar
0,382 yang berarti lebih besar dari 0,05 sehingga Ho diterima dan Ha ditolak,
artinya secara parsial DPR tidak dapat memoderasi dalam hubungan antara DER
terhadap PBV. Maka dapat disimpulkan Kebijakan tidak dapat menjadi variabel
moderating dalam interaksi Leverage terhadap Nilai Perusahaan.
Jadi dari kesimpulan dari keempat hipotesis dapat diketahui bahwa
Profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Nilai Perusahaan, artinya
meningkatnya Profitabilitas dapat meningkatkan Nilai Perusahaan. sedangkan
Leverage tidak memiliki pengaruh terhadap Nilai Perusahaan, artinya seberapa
besarpun Leverage tidak akan mengubah Nilai Perusahaan.
Namun, jika variabel moderasi berupa Kebijakan Dividen dimasukan kedalam
kedua pengaruh diatas tidak mengubah banyak pada regresinya. Pengaruh
Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan masih berpengaruh secara signifikan, namun
mengurangi tingkat signifikansinya. Dan Kebijakan Dividen saat dimasukan kedalam

pengaruh Leverage terhadap Nilai Perusahaan juga masih membuat pengaruhnya


tetap tidak signifikan dan semakin memperkuat ketidak signifikansiannya. Artinya
Kebijakan Dividen dapat menjadi variabel moderasi jika dimasukan didalam
hubungan Profitabilitas terhadap Nilai Perusahaan saja, namun tidak didalam
hubungan Leverage terhadap Nilai Perusahaan.

B. Keterbatasan
Keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini :
1. Pemilihan sampel hanya terbatas 20 perusahaan saja.
2. Penelitian ini hanya dilakukan pada tiga periode laporan keuangan tahunan
perusahaan.

Perkembangan

laporan

keungan

perusahaan

memungkinkan

mengalami kenaikan atau penurunan pada periode seelumnya atau setelah


penelitian ini dilakukan.
3. Sulit mencari laporan keuangan perusahaan yang memiliki laba positif selama tiga
periode berturut-turut yang digunakan dalam penelitian ini.
4. Hanya terdapat beberapa perusahaan yang memiliki cash deviden selama tiga
periode berturut-turut dikarenakan cash deviden salah satu indikator yang
digunakan peneliti untuk mendapatkan sample nilai DPR.
C. Rekomendasi
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau saran
untuk berbagai pihak. Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberikan saran :
1. Bagi perusahaan, penelitian ini diharapakan mampu memberikan tambahan
informasi sebagai bahan pertimbangan dan sumbangan pemikiran di dalam
pengambilan keputusan khususnya yang berkaitan dengan nilai perusahaan. Dan
bagi investor, hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai pertimbangan
dalam membuat keputusan investasi.
2. Bagi penelitian berikutnya, perlu memperhitungkan faktor-faktor lain yang dapat
mempengaruhi nilai perusahaan. Seperti: keputusan pendanaan, keputusan
investasi, struktur modal, pertumbuhan atau ukuran perusahaan, fluktuasi nilai
valas dan keadaan pasar modal.
3. Melakukan penelitian dengan melibatkan banyak sampel, serta menambah lama
waktu pengamatan karena semakin lama waktu pengamatan dan semakin banyak
sampel yang diambil hasilnya akan lebih baik untuk mengambil keputusan.
4. Memberikan gambaran lebih spesifik mengenai sampel yang dipilih, misalnya
untuk perusahaan yang mendapatkan penghargaan ISRA (Indonesian Sustainbility
Reporting Award) ISRA adalah sebuah penghargaan yang diberikan kepada

perusahaan-perusahaan yang telah membuat pelaporan atas kegiatan yang


menyangkut aspek lingkungan dan sosial disamping aspek ekonomi untuk
memelihara keberlanjutan (sustainability) perusahaan itu sendiri, dengan indikator
penelitian yang meliputi kelengkapan (40%), kredibilitas (35%), dan komunikasi
(25%).

DAFTAR PUSTAKA
Apriani, Lisa. 2005. Reaksi Pasar terhadap Pengumuman Kenaikan/Penurunan Dividen. SNA
VIII Solo, 15 16 September 2005.
Brigham and Houston. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Edisi Kesepuluh. Jakarta :
Salemba Empat.
C. Jensen, Michael. 2010. Value Maximization, Stake holder Theory, and the Corporate
Objective Function.(online).(http://ssrn.com/abstract=220671)
Erlina. 2002. Manajemen Keuangan. Universitas Sumatera utara : program studi akuntansi.
Erlangga, Enggar. 2009. Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Nilai perusahaan dengan
pengungkapan CSR, Good Corporate Governance, dan Kebijakan Dividen sebagai
Variabel Pemoderasi, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Muhammdiyah
Yogyakarta.
Eugene and Kenneth. 2009. Taxes, Financing Decisions, and Firm Value.(online).
(http://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=1871).
Flint, Anthony , et. al .2010. Predicting Future Earnings Growth: A Test Of The Dividen
Payout Ratio In The Australian Market. International Journal of Business an Finance
Research. Volume 4 number 2 ,2010.
Gitman, Lawrance. J. 2009. Principles of Mangerial Finance. 12thedition. United States:
Pearson Addison Wesley.
Gitosudarmo, Indriyo dan Basri. 2008. Manajemen Keuangan. Edisi Keempat. Yogyakarta:
BFE
Gujarati, Damodar. N. (2007). Dasar-dasar ekonometrika. Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.
Ghozali, Imam. 2006. Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Edisi ke 4. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro : Semarang.
Harahap, S. S. 2005. Analisis Kritis atas laporan Keuangan. Jakarta : PT.Raja Grafindo
Persada.
Harjito Agus, dan Martono. 2005. Manajemen Keuangan. Yogyakarta.
Hartini, Sri. 2010. Pengaruh Dividen Kas, Arus Kas Bersih, Leverage Ratio Dan Earning
Per Share Terhadap Harga Saham Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia. Universitas Sumatera Utara, Program Pascasarjana. (online),
(http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/20595)

Husnan, S dan Pudjiastuti, E. 2006. Dasar-dasar Manajemen Keuangan Edisi Kelima.


Yogyakarta : UPP AMP YKPN
Horne, V. 2005. Analisis kinerja Perusahaan yang melakukan Right Issue di Indonesia,
Simposium Nasional akuntansi IV.
Imam Ghozali , 2007, Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang :
BP Universitas Diponogoro.
Jogiyanto, H.M. 2010. Metodologi Penelitian Bisnis: salah kaprah dan pengalamanpengalaman. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.
Keown et al. 2005. Manajemen Keuangan (prinsip-prinsip dan aplikasi). Jakarta Barat: PT
indeks kelompok Gramedia.
Kusumadilaga, Rimba. 2010. Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai
Perusahaan dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Moderating, Skripsi, Fakultas
Ekonomi Diponegoro Semarang.
Kim, Woochan et al. 2008. Does Corporate Governance Predict Firms Market Value?
Evidence from Korea.(Online).(http://ssrn.com/abstract=311275).
Lestari, Anggraeni Ayu. 2009. Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi Dividen payout
Ratio Pada perusahaan yang sahamnya Aktif di Bursa Efek Indonesia. Universitas
Gunadarma.
Mahendra, Alfredo DJ. 2011. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Pada
Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia, Tesis, Program Pasca Sarjana
Manajemen, Universitas Undayana Bali.
Mariah dan Meythi. 2012. Pengaruh Profitabilitas Dan Kesempatan Investasi Terhadap
Kebijakan Tunai Dengan Likuiditas Sebagai Variabel Moderating Pada Emiten
Pembentuk LQ45, SNAB (Seminar Nasional Akuntansi dan Bisnis), Universitas
Kristen Marantha.
Marpaung, dan Hadianto. 2009. Pengaruh Profitabilitas dan Kesempatan Investasi terhadap
Kebijakan Dividen: Studi Empirik pada Emiten Pembentuk Indeks LQ 45 di Bursa Efek
Indonesia, Jurnal Akuntansi, 1 (1), hal. 70-84.

Nurlela dan Islahuddin. 2008. Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai
Peusahaan dengan Prosentase Kepemilikan Manajemen sebagai Variabel Moderating.
Simposium Nasional Akuntansi XI.
Nurmala. 2006. Pengaruh Kebijakan Dividen terhadap Harga Saham Perusahaan-perusahaan
Otomotif di Bursa Efek Jakarta. Mandiri Vol.9 No.1 Juli-September. p. 17-24.
Riyanto, B. 2001. Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan, Edisi Keempat, Cetakan Ketujuh,
BPFE-UGM, Yogyakarta.

Sjahrial, Dermawan. 2008. Manajemen Keuangan, edisi 2, Jakarta: Mitra Wacana Media.

STIE Y.A.I., 2009, Pedoman Penulisan Skripsi dan Ujian Komprehensif. Jakarta: Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Y.A.I.
Sugiyono , 2007, Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.
Suharli, M. 2007. Pengaruh Profitability dan Instrument Opportunity Set terhadap Kebijakan
Deviden tunai dengan Likuiditas sebagai Variable Penguat (Studi pada Perusahaan
yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2003), Jurnal Akuntansi dan
Keuangan. Vol. 9 (1), hal. 9-17.
Sitepu, Citra Noveli. 2010. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga saham pada Perusahaan
Industri Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEI, Skripsi, Universtias Sumatera
Utara fakultas Ekonomi Medan.

Sujoko dan Ugy Soebiantoro. 2007. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage, Faktor
Intern dan Faktor Ekstern terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empirik pada perusahaan
manufaktur dan non-manufaktur di Bursa Efek Jakarta), Jurnal Manajemen dan
Kewirausahaan, Vol. 9, No. 1, Maret, hlm. 41-48.
Sunariyah. 2004. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi Keempat, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.

Tita Deitiana. 2011. Pengaruh Rasio Keuangan, Pertumbuhan Penjualan dan Dividen
terhadap Harga Saham, Jurnal Bisnis dan Akuntansi, Vol. 13, No. 1, April, hlm. 5766.
Van Horne, James C & John M. Wachowicz Jr. 2005. Prinsip-Prinsip Manajemen Keuangan,
Jakarta: Salemba Empat.
Wardani, Elisa. 2009. Pengaruh Pengumuman Dividen Tunai Terhadap Harga Saham dan
Volume Perdagangan Saham Pada Perusahaan Publik di Bursa Efek
Indonesia.Universitas Muhammadiyah Surakarta, Fakultas Ekonomi Akuntansi.
(online).( http://etd.eprints.ums.ac.id/5251/).

Lampiran 1
20 Nama Perusahaan Manufaktur di BEI

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kode Perusahaan
AALI
ASII
AUTO
BUMI
GJTL
GGRM
HMSP
INTP
INDF
JPFA
KLBF
MERK
MLBI
TKIM
SMSM
SMAR
SMGR
SQBI
TSPC
UNVR

Nama Perusahaan
Astra Agro Lestari Tbk
Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Bumi Resources Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
Kalbe Farma Tbk
Merck Tbk
Multi Bintang Indonesia Tbk
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Selamat Sempurna Tbk
SMART Tbk
Semen Gresik Tbk
Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk
Tempo Scan Pacific Tbk
Unilever Indonesia Tbk

Lampiran 2
Daftar Price Book Value
20 Perusahaan Manufaktur di BEI tahun 2009-2011

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kode
Perusahaan

Nama Perusahaan

AALI
ASII
AUTO
BUMI
GJTL
GGRM
HMSP
INTP
INDF
JPFA
KLBF
MERK
MLBI
TKIM
SMSM
SMAR
SMGR
SQBI
TSPC
UNVR

Astra Agro Lestari Tbk


Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Bumi Resources Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
Kalbe Farma Tbk
Merck Tbk
Multi Bintang Indonesia Tbk
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Selamat Sempurna Tbk
SMART Tbk
Semen Gresik Tbk
Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk
Tempo Scan Pacific Tbk
Unilever Indonesia Tbk

2009

2010

2011

5.82
3.69
1.45
2.61
0.63
2.39
5.03
5.14
3.23
1.90
3.30
5.57
3.71
0.37
2.16
1.59
4.86
0.39
1.37
2.79

6.14
4.68
2.93
5.01
2.40
3.84
1.68
4.80
3.68
2.40
6.62
6.44
8.07
0.62
3.04
2.70
5.01
0.38
2.89
1.69

4.25
4.47
3.04
4.29
2.38
4.72
2.77
4.46
1.41
2.24
5.98
7.94
6.40
0.45
3.32
2.33
5.14
0.21
0.38
3.32

Lampiran 3
Daftar Return On Equity
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kode
Perusahaan Nama Perusahaan
AALI
ASII
AUTO
BUMI
GJTL
GGRM
HMSP
INTP
INDF
JPFA
KLBF
MERK
MLBI
TKIM
SMSM
SMAR
SMGR
SQBI
TSPC
UNVR

Astra Agro Lestari Tbk


Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Bumi Resources Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
Kalbe Farma Tbk
Merck Tbk
Multi Bintang Indonesia Tbk
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Selamat Sempurna Tbk
SMART Tbk
Semen Gresik Tbk
Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk
Tempo Scan Pacific Tbk
Unilever Indonesia Tbk

20
2009

2010

2011

0.20
0.19
0.18
0.14
0.26
0.14
0.41
0.19
0.16
0.33
0.15
0.35
0.90
0.03
0.20
0.12
0.04
0.81
0.14
0.62

0.18
0.22
0.23
0.14
0.20
0.15
0.55
0.19
0.19
0.22
0.18
0.27
0.91
0.10
0.20
0.14
0.23
0.71
0.16
0.64

0.25
0.23
0.18
0.18
0.19
0.16
0.66
0.49
0.13
0.24
0.18
0.32
0.93
0.08
0.24
0.21
0.21
1.24
0.17
0.68

Perusahaan Manufaktur di BEI tahun 2009-2011

Lampiran 4
Daftar Debt to Equity Ratio
NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kode
Perusahaan
AALI
ASII
AUTO
BUMI
GJTL
GGRM
HMSP
INTP
INDF
JPFA
KLBF
MERK
MLBI
TKIM
SMSM
SMAR
SMGR
SQBI
TSPC
UNVR

20
Nama Perusahaan
2009
Astra Agro Lestari Tbk
0.24
Astra International Tbk
1.02
Astra Otoparts Tbk
0.41
Bumi Resources Tbk
1.95
Gajah Tunggal Tbk
2.65
Gudang Garam Tbk
0.52
HM Sampoerna Tbk
0.88
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
0.20
Indofood Sukses Makmur Tbk
2.68
JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
2.62
Kalbe Farma Tbk
0.45
Merck Tbk
0.20
Multi Bintang Indonesia Tbk
2.08
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
2.59
Selamat Sempurna Tbk
0.59
SMART Tbk
1.28
Semen Gresik Tbk
0.26
Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk
0.30
Tempo Scan Pacific Tbk
0.31
Unilever Indonesia Tbk
0.92
Perusahaan Manufaktur periode 2009-2011

2010
0.23
1.07
0.40
4.70
1.93
0.43
1.08
0.15
2.20
1.45
0.26
0.46
1.76
2.29
0.91
1.04
0.23
0.16
0.35
1.17

2011
0.35
1.12
0.49
4.70
1.61
0.48
0.88
0.43
0.74
1.23
0.24
0.27
2.06
2.40
0.65
0.98
0.32
0.21
0.38
1.36

Lampiran 5
Daftar Dividen Payout Ratio
20 Perusahaan Manufaktur di BEI tahun 2009-2011

NO
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Kode
Perusahaan

Nama Perusahaan

AALI
ASII
AUTO
BUMI
GJTL
GGRM
HMSP
INTP
INDF
JPFA
KLBF
MERK
MLBI
TKIM
SMSM
SMAR
SMGR
SQBI
TSPC
UNVR

Astra Agro Lestari Tbk


Astra International Tbk
Astra Otoparts Tbk
Bumi Resources Tbk
Gajah Tunggal Tbk
Gudang Garam Tbk
HM Sampoerna Tbk
Indocement Tunggal Prakasa Tbk
Indofood Sukses Makmur Tbk
JAPFA Comfeed Indonesia Tbk
Kalbe Farma Tbk
Merck Tbk
Multi Bintang Indonesia Tbk
Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk
Selamat Sempurna Tbk
SMART Tbk
Semen Gresik Tbk
Taisho Pharmaceutical Indonesia Tbk
Tempo Scan Pacific Tbk
Unilever Indonesia Tbk

2009

2010

2011

0.55
0.12
0.87
0.01
0.03
0.26
0.17
0.12
0.06
0.01
0.04
2.37
2.66
0.06
0.41
0.14
0.61
2.50
0.10
0.13

0.52
0.05
0.52
0.02
0.02
0.29
0.24
0.11
0.06
0.61
0.08
1.78
0.07
0.02
0.29
0.20
0.10
1.94
0.10
0.13

0.36
0.09
0.09
0.01
0.01
0.26
0.18
0.11
0.05
0.08
0.09
0.07
0.08
0.05
0.62
0.13
0.12
0.20
0.15
0.10

Tabel 4.1
Uji Statistik Dekriptif ROE, DER, PBV, dan DPR
Statistics

Tahun 2009-

ROE
N

Valid

DER

PBV

2011

DPR

60

60

60

60

Mean

0
1.6717

0
1.6769

0
1.5713

0
.3326

Std. Error of Mean

.09634

.13917

.09611

.02766

Median

1.6229

1.5848

1.4550

.2697

1.15a

.15a

1.01a

.02a

.74623

1.07800

.74448

.21423

Variance

.557

1.162

.554

.046

Range

3.97

4.55

2.65

.85

Minimum

.16

.15

.28

.02

Maximum

4.13

4.70

2.93

.87

Missing

Mode
Std. Deviation

a. Multiple modes exist. The smallest value is shown

Tabel 4.2.1
Uji Normalitas ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


ROE
N
Normal Parameters

a,,b

Mean

Std. Deviation
Most Extreme Differences Absolute
Positive
Negative
Kolmogorov-Smirnov Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.

DER

PBV

DPR

60

60

60

60

1.6717

1.6769

1.5713

.3326

.74623
.172

1.07800
.078

.74448
.093

.21423
.128

.140
-.172
1.328

.078
-.078
.607

.087
-.093
.718

.128
-.106
.991

.059

.855

.681

.279

Gambar 4.3.1
Uji Normalitas Regresi ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Tabel 4.3.2
Hasil Uji Multikolinearitas ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011
Coefficientsa

Collinearity
Statistics
Toleran
Model
ce
VIF
1
ROE
.889
1.125
DER
.967
1.034
DPR
.906
1.104
a. Dependent Variable:
PBV

Tabel 4.3.4
Hasil Uji Auto Kolerasi ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011
Model Summaryb
Model

Durbin-Watson

2.047a

a. Predictors: (Constant), DPR,


DER, ROE
b. Dependent Variable: PBV

Gambar 4.3.3
Hasil Uji Heteroskeditas ROE, DER, PVB, dan DPR
Tahun 2009-2011

Gambar 4.3.5
Hasil Uji Lineritas Regresi ROE, DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Table 4.3.6-1
Hasil Uji Regresi ROE (X1), PBV (Y) dan DPR (Z)
Tahun 2009-2011
Regresi Model 1b (Moderasi)_Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Std. Error

(Constant)

1.617

.407

ROE

.134

.248

DPR

1.662

MO_1

1.215

Standardized
Coefficients
Beta

Sig.

3.972

.000

.135

.542

.590

1.223

.478

1.359

.180

.673

.823

2.007

.046

a. Dependent Variable: PBV

Table 4.3.6-2
Hasil Uji Regresi DER (X2), PBV (Y), dan DPR (Z)
Tahun 2009-2011
Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Std. Error

(Constant)

1.786

.332

DER

-.262

.170

DPR

-.039

MO_2

.417

Standardized
Coefficients
Beta

Sig.

5.381

.000

-.380

-1.546

.128

.931

-.011

-.042

.966

.474

.306

.880

.382

a. Dependent Variable: PBV

Table 4.4.1-1
Hasil Uji Normalitas (MRA) ROE, DPR, dan PBV
Tahun 2009-2011

Table 4.4.1-2
Hasil Uji Normalitas (MRA) DER, DPR, dan PBV
Tahun 2009-2011

Gambar 4.4.2-1
Hasil Uji Heteroskeditas (MRA) ROE, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Gambar 4.4.2-2
Hasil Uji Heteroskeditas (MRA) DER, PBV, dan DPR
Tahun 2009-2011

Hasil Uji F (H1)


ANOVAb
Model

Hasil

Sum of Squares
Regression

(H2)

2.589

Residual

30.111

58

.519

Total

32.701

59

Model

(H3)

Sig.
.029a

4.988

df

Mean Square

4.611

1.537

Residual

28.090

56

.502

Total

32.701

59

Sig.
.035a

3.064

Uji F

a. Predictors: (Constant), MO_1, ROE, DPR


b. Dependent Variable: PBV
ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

Regression

Uji F

ANOVAb

Sum of Squares
Regression

Hasil

Mean Square

2.589

a. Predictors: (Constant), ROE


b. Dependent Variable: PBV

df

df

Mean Square

1.113

1.113

Residual

31.587

58

.545

Total

32.701

59

a. Predictors: (Constant), DER


b. Dependent Variable: PBV

F
2.044

Sig.
.158a

Hasil Uji F (H4)

ANOVAb
Sum of
Squares

Model
1

Mean
Square

df

2.779

.926

Residual

29.921

56

.534

Total

32.701

59

Regression

Sig.

1.734

.170a

Sig.

a. Predictors: (Constant), MO_2, DER, DPR


b. Dependent Variable: PBV

Hasil uji t (H1)


Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
1.785

.177

.127

.089

DER

Beta

.185

10.071

.000

1.430

.158

a. Dependent Variable: PBV

Hasil uji t (H2)


Regresi Model 1b (Moderasi)_Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
1.617

.407

ROE

.134

.248

DPR

1.662

MO_1

1.215

a. Dependent Variable: PBV

Beta

Sig.

3.972

.000

.135

.542

.590

1.223

.478

1.359

.180

.673

.823

2.007

.046

Hasil uji t (H3)


Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

B
(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error
1.785

.177

.127

.089

DER

Beta

Sig.

10.071

.000

1.430

.158

.185

a. Dependent Variable: PBV

Hasil uji t (H4)


Coefficientsa
Unstandardized
Coefficients
Model
1

Standardized
Coefficients

Std. Error

(Constant)

1.786

.332

DER

-.262

.170

DPR

-.039
.417

MO_2

Beta

Sig.

5.381

.000

-.380

-1.546

.128

.931

-.011

-.042

.966

.474

.306

.880

.382

a. Dependent Variable: PBV

Hasil uji R2 ROE, DPR Terhadap PBV


Model Summaryb
Model
1

R Square
.375a

Adjusted R
Square

.141

a. Predictors: (Constant), MO_1, ROE, DPR


b. Dependent Variable: PBV

.095

Std. Error of the


Estimate
.70824

Hasil uji R2
Terhadap

DER, DPR

Model Summaryb
Model
1

R Square
.292a

Adjusted R Square

.085

Std. Error of the


Estimate

.036

.73096

a. Predictors: (Constant), MO_2, DER, DPR


b. Dependent Variable: PBV

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Elvira

Tempat, Tanggal Lahir

: Jakarta, 02 Oktober 1986

Alamat

: Jl karbela Rt 005 Rw 07
Kelurahan karet kuningan
Kecamatan Setiabudi
Jakata Selatan 12940

Status

: Menikah

Agama

: Islam

Riwayat Pendidikan

: SD Negeri 09 Petang Jakarta, Lulus tahun 1998


SMP Mubasysirin Jakarta. Lulus tahun 2001
SMA PGRI 25 Jakarta Lulus tahun 2004
Mahasiswi Univ Bung Karno 2011 sd sekarang

Jakarta,
ELVIRA

2014

PBV