Anda di halaman 1dari 238

ITAKAAN

IIPAN

ATIMUR

l!z

31

B
1

-b'

Peralatan Tegangan linggi


Edisi Kedua

Bonggas L. Tohing
Depa

rte m e n

Te kn i k El e ktro

Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara, Medan

PENERBIT ERIANGGA
Jl. H. Baping Raya No. 100
Ciracas, Jakarta 13740
http :i/www.erlangga. co. id

(Anggora IKAPI)

MILIK
Brdrn Pcrpustakesn

dan
I

KcareiPan

Jelrs-Trrr'$-ProPlnsi
r . ur/"--

\;;a7opr/n

/top,

Peralatan Tegangan linggi, Edisi Kedua


Bonggas L. Tobing
Hak Cipta @2012 pada Penulis
Hak terbit pada Penerbit Erlangga
Disusun oleh: Bonggas L. Tobing

Editor: Ade M. Drajat, S.T.


Lemeda Simarmata. S.T.

Buku ini diset dan dilayout oleh Bagian Produksi Penerbit Erlangga
dengan Power MacPro

Dicetak oleh: PT Gelora Aksara Pratama

161514131254321
Dilarang keras mengutip, menjiplak, memfotokapi, atau memperbanyak dalam
bentuk apapun, baik sebagian atau keseluruhan isi buku ini, serta
memperjualbelikannya tanpa izin tertulis dari Penerbit Erlangga.

O HAK CIPTA DILINDLINGI OLEH T]NDANG-TINDANG

Daftar lsi

tx

Tentang Penulis
Prakata Edisi Pertama
Prakata Edisi Kedua
Daftar Lambang dan Satuan

x
xi

xii

Pendahuluan

1.1
1-2
1.3
1.4
1.5.
1.6.
1.7.
1.8.
Bab

Tegangan Transmisi Tenaga Listrik

Gardu lnduk
Komponen Gardu lnduk
Sistem lsolasi Peralatan Tegangan Tinggi
Konduktor Peralatan Tegangan 1-inggi
Sistem Pendinginan Peralatan Tegangan Tinggi
Penyambung Tegangan T'inggi
Alat Pelindung Peralatan Tegangan linggi

4
4
7

7
8
9

Pemutus Daya

2.1
2.2
2.3
2.4

Fungsi Pemutus Daya


Hubungan Relai dengan Pemutus Daya
Proses Pemutusan Rangkaian suatu Sistem
lonisasi, Deionisasi dan Emisi

10

lonisasi

14

Deionisasi

75

2.5
2.6
2.7

11

12
13

Emisi

16

Proses Pembentukan Busur Api

17

Pemadaman Busur Api

17

Pemadaman Busur Api Arus Searah


Pemadaman Busur Api Arus Bolak-balik

18

Tegangan Pemulihan Kontak

19

Resistif
Kapasitif

20

Induktif

22
23
24

Rangkaian
Rangkaian
Rangkaian
Rangkaian
Ra

2.8

10

ng ka

ia

21

Seri lnduktif-Kapasitif
In

du

ktif-

Re

18

si

stif

Jenis-Jenis Pemutus Daya

25

Pemutus Daya Udara

25

vi

Peralatan Tegangan

Pemutus
Pemutus
Pemutus
Pemutus

2.9
2.10

Bab

rnggi

Daya Minyak
Daya Udara-Tekan
Daya Vakum
Daya SF6

31

Pertimbangan dalam Pemilihan Pemutus Daya


Kapasitas Pemutus Daya

32
33

Arus Hubung Singkat


Kapasitas Arus Sesaat (Momentary Duty)
Kapasitas Pemutusan Arus (lnterrupting Current Capacity)

33

2.11

Tegangan Kerja Pemutus Daya

37

Konduktor

3.1
3.2
3.3
3.4
3.5

Bahan dan Jenis Konduktor


Kawat Telanjang

3.6

Kabel

34

36

38
38
38
39

ParameterKonduktor
Pemilihan Ukuran Konduktor

41

Ditinjau dari Segi Ekonomi


Ditinjau dari Segi Teknis

43

Rel Daya
Gaya dan Tekanan pada Rel Tunggal
Gaya dan Tekanan pada Rel Multi Batang

Bab

26
28
30

43

44
45

46
49

Pelindung Tegangan Lebih

53

4.2
4.3

Tegangan Lebih
Prinsip Kerja Alat Pelindung Tegangan Lebih
Sela Batang

53
55
56

Konstruksi dan Prinsip Kerja

56
57

4.4
4.5

Arus Susulan
Arester Ekspulsl
Arester Katup

4.1

Arester Katup Sela Pasif


Arester Katup Sela Aktif
Arester Katup tanpa Sela Percik
4.6

Tegangan Pengenal Arester


Tegangan Tertinggi Sistem
Tegangan Pengenal Arester Sela Pasif dan Sela Aktif
Tegangan Pengenal Arester tanpa Sela Percik

4.7

4.8
4.9

Bab 5

5.1
5.2

58
60

60
61

63
64
65
oo

66

Klasifikasi dan Spesifikasi Arester

68

Spesifikasi Arester dengan Sela Percik


Spesifikasi Arester tanpa Sela Percik

68

Lokasi Penempatan Arester


Kawat Tanah

74
77

80

Sakelar Pemisah
Konstruksi Sakelar Pemisah
Fungsi Sakelar Pemisah

83
83
85

vil

Daftar lsi

5.3 Jenis Konstruksi

Sakelar Pemisah

Sakelar Pemisah Vertikal


Sakelar Pemisah Lengan Ganda
Sakelar Pemisah Lengan Berqutar

5.4 lnterlok Sakelar Pemisah


5.5 Pengenal Sakelar Pemisah
5.6 Penguiian Sakelar Pemisah
5.7 Pemilihan Sakelar Pemisah
Penentuan SPesifikasi

lnformasi untuk Pemesanan


lnformasi Penawaran Pabrikan

Bab

Trafo Tegangan

6.1
6.2
6.3
6.4

Jenis Trafo Tegangan


Trafo Tegangan Magnetik
Trafo Tegangan KaPasitif
Galat lErrorl
Galat Trafo Tegangan Magnetik
Galat Trafo Tegangan Ka7asitif
Batas Galat

6.5
6.6
6.7
6.8

Bab

Pengenal Trafo Tegangan


Beban Trafo Tegangan
Pemilihan Trafo Tegangan
Pengujian Trafo Tegangan

86

87
88
88
90
91

93
93
94
94

95

97
97

98
101

105
105
107
108
108
110

112
114

Uii Jenis

114

Uii Rutin
Uji Khusus

114

115
115

6.9

lnformasi dalam Pembelian Trafo Tegangan

Trafo Arus

7.1
7.2
7.3
7.4
7.5
7.6
7.7

Fungsi Trafo Arus


Prinsip Kerja Trafo Arus
Galat Trafo Arus
Galat Komposit
Burden Trafo Arus
Faktor Kejenuhan

116

Ketahanan Terhadap Arus Hubung Singkat


Arus Termis Waktu Singkat
Arus Dinamis Waktu Singkat

127
127

7.8

Jenis-Jenis Trafo Arus

129

Jenis Menurut Jumlah dan Konstruksi Kumparan Primer


Jenis Menurut Jumlah Rasio
Jenis Menurut Jumlah lnti
Jenis Menurut Ketelitian
Jenis Menurut Reaktansi
Jenis Menurut Konstruksi lsolasi

129
130

lrngkat lsolasi Trafo Arus


Tegangan Lutut

134

7.9
7.10

116
117

119

123
125
126

128

131
131

133
134

136

vilt

Peralatan Tegangan llnggi

7.11
7.12

Tegangan Lutut Trafo Arus untuk Relai Diferensiat


Tegangan Lutut Trafo Arus untuk Relai Jarak

Faktor Pertimbangan dalam pemilihan Trafo Arus


Pengujian Trafo Arus
Uji Jenis

Uji Rutin

Uji Tambahan

7.13 lnformasi dalam Pembelian Trafo Arus

Bab

Porselen
Gelas

Bahan Komposit

8.6 KarakteristikElektriklsolator
8.7 KarakteristikMekanislsolator
8.8 lsolator Terpolusi
Pengaruh Polutan terhadap Kinerja lsolator
Penentuan Jarak Rambat lsolator
Penetapan Tingkat Bobot polusi lsolator

Distribusi Tegangan pada lsolator Rantai


Kapasitansi lsolator

8.10

Pendekatan Perhitungan Distribusi Tegangan


Pemerataan Distribusi Tegangan pada lsolator Rantai

Bushing
Konstruksi Bushing
Pemerataan Distribusi Tegangan pada Bushing

Bab

Kapasitor Tegangan Tinggi

9.1
9.2
9.3
9.4
9.5

Jenis-JenisKapasitor
Konstruksi Sel Kapasitor
Daya dan Energi suatu Kapasitor
Kapasitor Gulung
Rancangan suatu Kapasitor Gulung
Kapasitansi Gulungan
i a I m preg nasi Di el ektri k
Kuat Medan pada Kapasitor
Rancangan Kapasitor lmpuls
Med

9.6
9.7
9.8
9.9
9.10

141
141

142
142
142

lsolator dan Bushing

8.1 Fungsi lsolator


8.2 Konstruksilsolator
8.3 Parameter lsolator
8.4 Jenis lsolator Hantaran Udara
8.5 Bahan Dielektrik lsolator

8.9

137
138
139

Jenis Konstruksi Unit Kapasitor


Sekering Kapasitor Bank
Kondisi Operasi Kapasitor
Spesifikasi Kapasitor
Pengujian Kapasitor
Uji Jenis

143
143
144
145
147

149
149
149
151

152
156
157
157
158
159
160
161

162
166
167
168
169

174
174

176
178
180
181
181

782
183
184
185
186
189
190
191

191

lx

Daftar lsi

Uji Rutin
Uji Lapangan

Bab 10
10.1

10.2

10.3

192

Trafo Daya

193

Prinsip Kerja Trafo Daya


Susunan dan Penyambungan Kumparan

193

Jenis Susunan Kumparan


Penyambungan Kumparan Bertindih
Penyambungan Elemen Kumparan Berlapis

195

194

Dielektrik Padat lsolasi Kumparan Tegangan Tinggi

195
197
197
198

Minyak Trafo

200

lsolasi Kumparan Tegangan Tinggi

10.4 Susunan lsolasi Mayor Trafo Daya


10.5 Distribusi Tegangan pada Belitan
Perkiraan Distribusi Tegangan Awal
usi Teg a n ga n
Metode Pendinginan Trafo Daya
Pengujian Trafo Daya
Pe me rata a n D i stri b

10.6
10.7

191

Lampiran

201
202

203
205
207

209

Karakteristik Konduktor Tembaga dan Aluminium


1
Lampiran 2 Karakteristik Mekanis Tembaga dan Aluminium
Lampiran 3 B/L Menurut Standar IEC 71-1972
Lampiran 4 'l'ingkat Bobot Polusi Isolator Berdasarkan Analisis Kualitatif
dan Metode ESDD
Lampiran 5 Spesifikasi Minyak lsolasi dalam Kondisi Baru
Lampiran 6 Spesifikasi Minyak lsolasi Setelah Dipergunakan

211
217

Daftar Pustaka

223

lndeks

225

218
220
221
222

Tentang Penulis

Bonggas L. Tobing dilahirkan di Tarutung pada ranggal


17 Agustus 1947. Setelah meraih gelar sarjana teknik
elektro dari Universitas Sumatera Utara, tahun 1973,
beliau mengikuti berbagai pelatihan seperti program
"Matematika, Ilmu Pengetahuan clan Teknologi', clan
pelatihan "Pendayagunaan Peralatan p3LpT', di ITB,
Program Akta Mengajar V, Depdikbud dan pelatihan
"SCADA Sltstem and Dato Communicatlon',. BWI Jakarta.
Sejak tahun 1973 hingga sekarang, beliau menjadi dosen
di Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas

Sumatera Utara. Tahun 1982-20 10, beliau menjabat


sebagai Kepala Laboratorium Teknik Tegangan Tinggi di
perguruan tinggi yang sama. Beliau juga pernah menjadi
Ketua Jurusan Teknik Elektro (1979-1988), perencana
Laboratorium (1980-1985), dan kemudian Kepala Laboratorium Pengukuran Listrik
(1991-1995) di Fakultas Teknik Universitas HKBP Nommensen, Medan. Beliau aktif
melakukan penelitian sejak tahun 1979 dan beberapa dari hasil penelitian iru telah
dipresentasikan dalam seminar-seminar nasional teknik tegangan tinggi serta dimuat
dalam publikasi nasional dan internasional. Beliau juga duduk sebagai anggota Steering
Committee pada seminar-seminar nasional teknik tegangan tinggi dan kelistrikan
(1999-2001). Pengalamannya tidak terbatas cli bidang pendidikan dan penelitian.
Beliau juga terlibat dalam dunia praktis dan pengabdian kepada masyarakat, misalnya
sebagai instruktur di Udiklat PT PLN Tuntungan. instruktur pada pelatihan karyawan
Pabrik Gula PTP IX Sei Semayang dan pr Inalum, sebagai Area Engineer pada BWI
Consulting Service NZ, dalam rangka supervisi proyek Loss RetlLrctictn program pT
PLN wilayah II Sumut (1984-1988) dan proyek scADA pr pLN pikitring Sumur (19891994). Tahun 2006 beliau menjadi anggota "Komite Keanclalan sistern Tenag,a Listrik,,
Departemen ESDM RI dan tahun 2006 hingga sekarang menjadi mitra bestari jurnal
"Ketenagalistrikan dan Energi Terbarukan" Puslitbang Teknologi Ketenagalistrikan
dan

Energi Baru Terbarukan, Departemen ESDM RI. Dalam kerja-sama antar perguruan
tinggi, beliau menjadi editor jurnal "Rekayasa Elektrika", universitas Syiah Kuala
(2004) dan menjadi pengurus "Forum Studi Teknik Tegangan Tinggi Antar
IJniversitas,'
(1999-2004). Dalam organisasi profesi, beliau adalah anggota "lnternational
Council
on Large Electric Systems" (CIGRE).

Prakata Edisi Pertama

erkembangan sistem tenaga listrik yang pesat membuat peralatan tegangan tinggi
menjadi bidang studi yang penting bagi mahasiswa teknik tenaga listrik dan juga
bagi para teknisi yang berkecimpung dalam perusahaan energi listrik maupun
perusahaan jasa rekayasa kelistrikan. Mengingat pentingnya studi ini, maka Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menetapkan studi Peralatan Tegangan Tinggi
menjadi mata kuliah keahlian dalam kurikulum nasional bidang Teknik Elektro. Karena
Peralatan Tegangan Tinggi merupakan mata kuliah yang baru beberapa tahun terakhir ini
diajarkan di Jurusan Teknik Elektro, maka buku-buku acuan terbitan lokal yang secara
khusus membahas peralatan tegangan tinggi belum ada. Hal inilah yang mendorong
Penulis menyusun buku ini.
Lingkup studi yang akan disajikan dalam buku ini antara lain meliputi: konstruksi,
prinsip kerja dan karakteristik dari peralatan tegangan tinggi yang dijumpai pada gardu
induk. Buku ini juga menyajikan dasar-dasar perencanaan untuk menentukan spesi{ikasi
suatu peralatan untuk suatu keperluan teftentu. Dengan demikian, mahasislva yang telah
mempelajari buku ini dapat mengembangkannya nanti setelah bekerja di lapangan
Penulis menyadari bahwa buku ini belum sempurna. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran-saran dari rekan-rekan untuk penyempurnaan isi dan

lingkup bahasannya.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada para asisten mahasisr'va dan rekanrekan staf pengajar di Laboratorium Teknik Tegangan Tinggi, Fakultas Teknik USU,
yang membantu penulis menyusun buku ini.
Akhir kata, semoga buku ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan. Akhir Desember 2002

Prakata Edisi Kedua

eralatan Tegangan Tinggi, edisi kedua, adalah edisi terbaru hasil penyempurnaan
dari edisi pertama. Penerbitan edisi kedua ini merupakan perwujudan dari respons
positif dan masukan yang penulis terima dari para pengguna. Dalam buku edisi
kedua ini, sejumlah koreksi dan penambahan materi telah dilakukan, dengan maksud
agar isi buku ini semakin mudah dipahami dan semakin lengkap materinya.
Buku ini diharapkan dapat menjadi referensi yang berguna dar. up-to-date bagi
mahasiswa teknik elektro yang mendalami program studi teknik tenaga listrik, khususnya
bagi peserta mata kuliah Peralatan Tegangan Tinggi (yang dianggap sangat penting
sehingga ditetapkan sebagai mata kuliah keahlian dalam kurikulum nasional). Buku ini
juga bermanfaat bagi para praktisi dan profesional industri yang berkecimpung dalam
bidang teknik tenaga listrik baik di perusahaan energi listrik maupun di perusahaan jasa
rekayasa kelistrikan. Selain itu, para guru di sekolah kejuruan teknik elektro pun dapat
menjadikan buku ini sebagai salah satu referensi pendamping dan penambah-wawasan
dalam proses belajar-mengajar yang mereka laksanakan.
Buku ini bertujuan memperkenalkan para pembaca kepada peralatan-peralatan
tegangan tinggi yang dijumpai pada sistem tenaga listrik; terutama dari sisi konstruksi,
prinsip kerja, karakteristik, serta hal-hal yang membedakan peralatan tegangan tinggi
tersebut dengan peralatan tegangan rendah. Buku ini juga menyajikan konsep dasar
perencanaan untuk menentukan spesiflkasi suatu peralatan untuk suatu keperluan tertentu
dan konsep dasar perancangan isolasi peralatan tegangan tinggi. Dengan demikian,
mahasiswa yang telah mempelajari buku ini diharapkan dapat mengembangkannya
nanti setelah bekerja di lapangan
Akhirnya, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak editorial Penerbit
Erlangga yang telah membantu proses produksi naskah sehingga bisa terbit sebagai
buku. Penulis juga sangat berterimakasih kepada rekan-rekan akademisi dan para
pengguna yang telah memberikan masukan berharga untuk perbaikan buku ini. Penulis
juga menanti segala masukan yang bermanfaat untuk buku ini sehingga ke depannya
buku ini akan semakin sempurna dan semakin bermanfaat bagi para pengguna.

Bonggas L. Tobing
Medan, Juni 2012

Daftar Lambang dan Satuan

Lambang

Penjelasan

Satuan

Lambang

Penjelasan

Satuan

(t)

Kecepatan sudut
frekuensi tegangan

radian/sekon

Konduktivitas

mho'm,/mm2

Galat sudut

menlt

Harga energi
terbuang

Resistivitas

ohm mmr/m

Hk

Harga konduktor per


satuan berat

(T

Tekanan akibat gaya

N/cm2

I. i

Arus

ampere

Faktor penyangga
terhadap tekanan

J,JT

Jarak

mm, cm, m

Volume
Gaya gerak

magnetik

cm3

A-belitan/m
$/kW-Tahun
$/kg

konduktor
Faktor penyangga

terhadap tekanan

_/RS

isolator
K

spesifik isolator

pemutusan arus

maksimum

Faktor koreksi udara

mmHg

Equivalent Salt
Deposit Density

(ESDD)
,l'
U

mm/kV

Faktor kemampuan

Faktor komponen
dc dalam arus subtransien

Jarak rambat

.C

Faktor koreksi
diamater isolator

m/ps

Faktor perkalian
momen inersia

7o

Temperatur
Kecepatan rambat
tegangan impuls

Galat rasio trafo

ukur

Faktor jenis pembumian netral sistem

Kecuraman muka
gelombang tegangan
impuls

kV/ps

k.

Fluks

weber

Faktor transformasi
aktual trafo arus

lJo

Permeabilitas udara

Faktor transformasi
pengenal trafo arus

4,7r

lO-7

Hlm

Faktor koreksi
kelembabam udara

mg/cm2

xiv

Peralatan Tegangan l rnggi

Lambang

Penjelasan
Kekuatan mulur

minimum

Satuan

Lambang

Penjelasan

N/cm2

Faktor transformasi
tegangan aktual

Faktor transformasi aktual trafo

Satuan

pengukuran

AP

Rugi-rugi daya

AV

Jatuh tegangan

Faktor transformasi
pembagi tegangan

watt

tegangan
voh

Induktansi

Panjang

kapasitif
Faktor transformasi
0

tegangan sistem
pengukuran

Jarak rambat isola

tor

henry
mm, cm, m

mm

Faktor transformasi
a

pengenal trafo
tegangan

Luas

Tekanan udara
Bunga uang

Modulus Young

N/mm2

mm2. m2

Berat konduktor per


satuan volume

kg/cm:

mmHg

Vo

Kapasitansi

farad

Jarak minimum
antar sirip isolator

mm

cos

(p

Faktor daya

Konsentrasi garam
dalam air murni

E,,

PF

Berat konduktor per


satuan panjang

kg/m

Jumlah belitan

belitan

Panjang rentangan

sirip isolator
Daya

aktif

mm
watt

Faktor profil isolator

Vo

ft

Resistansi

Diamater isolator

mm

Daya

VA, KVA. MVA

Gaya gerak Iistrik

volt

Waktu

detik (sekon)

volt/cm

Tegangan

Hz

Momen tahanan

cm:

newton

Reaktansi

ohm

9,81m/s2

Impedansi

ohm

Kuat medan elektrik

Frekuensi

Gaya
Percepatan gravitasi

ohm

volt, kV

Bab

Pendahuluan

erkembangan kebutuhan energi listrik senantiasa diikuti pembangunan pusat-pusat


tenaga listrik berkapasitas besar. Karena alasan ekonomi, kondisi geografis, potensi
alam yang dapat diolah menjadi tenaga listrik, dan masalah sosial; maka pusatpusat tenaga listrik dibangun jauh dari pusat pemukiman masyarakat atau konsumen.
Oleh karena itu, untuk menyalurkan energi dari pusat pembangkit kepada konsumen
dibutuhkan saluran atau transmisi tegangan tinggi dan peralatan tegangan tinggi yang
mendukung pengadaan transmisi tegangan tinggi tersebut.
Berikut ini akan dijelaskan alasan penerapan tegangan tinggi pada suatu transmisi
tenaga listrik, peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung penerapan tegangan
tinggi tersebut, dan perbedaan peralatan tegangan tinggi dengan peralatan tegangan
rendah.

1.1

TEGANGAN TRANSMISI TENAGA LISTRIK


Diagram garis dari suatu sistem tenaga listrik sederhana diperlihatkan pada Gambar
1.1 di bawah ini.
Ketika suatu sistem tenaga listrik sedang beroperasi, pada transmisinya terjadi
rugi-rugi daya. Rugi-rugi daya pada transmisi ac tiga fasa adalah:
LP,

=
1 =
R =

dengan AP

pusat

1.1

37zP

Rugi-rugi daya transmisi ac tiga fasa (watt)


Arus pada kawat transmisi (A)
Resistansi kawat transmisi masing-masing fasa (ohm)

Gardu Induk

Distribusi
Transmisi

Pembangkit

GAMBAR

1.1

Diagram garis sistem tenaga listrik sederhana

Gardu Induk

Peralatan Tegangan linggi

Dengan mengabaikan arus kapasitif pada transmisi, makh arus di sepanjang kawat
transmisi dapat dianggap sama dan besarnya adalah sama dengan arus pada ujung
penerima transmisi. Jika P sama dengan daya beban pada ujung penerima transmisi
(watt), v. sama dengan tegangan fasa-ke-fasa ujung penerima transmisi (volt) dan cos
g sama dengan faktor daya beban, maka arus pada kawat transmisi adalah:

I=L

t.2

{54cose

Jika Persamaan 1.2 disubstitusikan ke dalam persamaan 1.1, maka diperoleh:

LP = .P2R.
Vr, cos2 g

1.3

'

Terlihat bahwa rugi-rugi transmisi berbanding lurus dengan resistansi konduktor dan
berbanding terbalik dengan kuadrat tegangan transmisi, sehingga pengurangan rugi-rugi
yang diperoleh dari peninggian tegangan transmisi jauh lebih besar daripada pengurangan
rugi-rugi dari pengurangan resistansi konduktor. Maka, rugi-rugi transmisi dikurangi
dengan mempertinggi tegangan transmisi. Hal inilah yang membuat tegangan transmisi
sistem tenaga listrik semakin tinggi dan saat ini sudah ada yang mencapai 750 kv.

1.2

GARDU INDUK
Tegangan yang dibangkitkan generator terbatas dalam belasan kilovolt, sedangkan
transmisi membutuhkan tegangan dari puluhan sampai ratusan kilovolt, sehingga di
antara pembangkit dengan transmisi dibutuhkan trafo daya step up. Maka, semua
perlengkapan yang terpasang di sisi sekunder trafo ini harus mampu memikul tegangan
tinggi. Sebaliknya, tegangan transmisi dari puluhan sampai ratusan kilovolt, sedangkan
konsumen membutuhkan tegangan dari ratusan volt sampai puluhan kilovolt, sehingga di
antara transmisi dengan konsumen dibutuhkan trafo daya step down. Semua perlengkapan

yang telpasang di sisi primer trafo ini juga harus mampu memikul tegangan tinggi.
Trafo-trafo daya ini bersama dengan perlengkapan-perlengkapannya disebut gardu induk.
Posisi suatu gardu induk pada sistem tenaga listrik diperlihatkan pada Gambar 1.2.
Jenis gardu induk dilihat dari fungsinya dibagi atas: gardu induk pembangkit, gardu
induk beban dan gardu induk hubung. sedangkan dilihat dari jenis trafo daya yang
telpasang, gardu induk dibagi atas gardu induk step up dan gardu induk step down.
Gardu Induk
Pembangkit
Pusat

Pembangkit
1

1/1s0

kv
Interkonektor
150

Gardu Induk
Pembangkit

215t150 kV

kv

Transmisi
150

Transmisi
t1t275 kY

150

kv

kv

150/20

kv
Distribusi

Gardu
Hubung

GAMBAR 1.2
Diagram garis sistem tenaga listrik interkoneksi

Bab

'1

Pendahuluan

GAMBAR 1.3
Gardu induk pasangan luar

Gardu induk dapatjuga dibagi berdasarkan penempatan instalasi peralatannya, yaitu


gardu induk pasangan dalam dan gardu induk pasangan luar. Gardu induk pasangan
luar diperlihatkan pada Gambar 1.3. Di sini, semua peralatan gardu dipasang di ruang
terbuka. Pada gardu induk pasangan dalam, sebagian peralatan dipasang pada ruangan
tertutup seperti diperlihatkan pada Gambar 1.4.

GAMBAR 1.4
Gardu induk pasangan dalam

Peralatan Tegangan Tlnggi

l..qe(
--F
H*HoH

:L)}>.....#cB
fra* rru.r

os

GAMBAR 1.5
Diagram garis suatu gardu induk

1.3

KOMPONEN GARDU INDUK


Susunan peralatan dalam suatu gardu induk diperlihatkan pada Gambar 1.5.
Adapun peralatan tegangan tinggi yang terdapat pada suatu gardu induk adalah:

.
.
.
.
.
.

pembagi tegangan kapasitor (CC)

trafo tegangan(PT)
filter frekuensi tinggi (ff
sakelar pembumian (ES)
sakelar pemisah (DS)

.
.
.
.
.

pemutus daya (CB)


pelindung tegangan lebih (LA)

trafo daya (TD)


konduktor
isolator

trafo arus (CI)

Jika sistem tenaga listrik membutuhkan perbaikan faktor daya, pada gardu induk
dipasang kapasitor tegangan tinggi. Dalam buku ini akan diuraikan tentang prinsip kerja
dan karakteristik dari semua peralatan tegangan tinggi tersebut, kecuali filter frekuensi

tinggi, karena peralatan ini merupakan perangkat komunikasi radio yang lebih layak
dibicarakan dalam teknik telekomunikasi radio.
Peralatan bertegangan rendah seperti daftar di atas, bukan barang baru dalam
teknik kelistrikan. Trafo arus, kapasitor, trafo, pelindung tegangan lebih, pemutus dan
sakelar dijumpai juga pada instalasi 2201380 volt. Jika sekarang dilakukan pembahasan
secara khusus mengenai peralatan yang sama tetapi bertegangan tinggi, itu disebabkan
adanya perbedaan pada konstruksinya. Ada lima hal utama yang membedakan peralatan
tegangan tinggi dari peralatan tegangan rendah, yaitu sistem isolasinya, ukuran komponen
peralatan yang menghantarkan arus, sistem pendinginan, penyambungan konduktor dan
pelindung tegangan lebih. Berikut ini akan dijelaskan perbedaan konstruksi peralatan
tegangan tinggi dengan peralatan tegangan rendah.

1.4

SISTEM ISOLASI PERALATAN TEGANGAN TINGGI


Tekanan medan elektrik yang terdapat pada isolasi suatu peralatan listrik berbanding
lurus dengan tegangan kerja (If peralatan tersebut dan berbanding terbalik dengan jarak
susunan elektroda (s) yang terbentuk dalam peralatan tersebut:

,={

1.4

Karena peralatan tegangan tinggi bekerja pada tegangan yang tinggi, maka isolasinya

memikul tekanan medan elektrik yang tinggi sehingga konstruksinya harus dirancang
agar mampu memikul tekanan medan elektrik tersebut. Tujuan ini dapat dicapai dengan

Bab

Pendahuluan

memperbesar dimensi bahan isolasi dan mengendalikan tekanan medan elektrik. Maka
suatu peralatan tegangan tinggi dapat ditandai dari dimensi sistem isolasi yang lebih
besar dan adanya usaha pengendalian tekanan medan elektrik pada peralatan itu.
Untuk melihat pengaruh tegangan terhadap konstruksi isolasi suatu peralatan listrik,

pada Gambar 1.6 di bawah ini diberikan contoh perbedaan konstruksi dua isolator
pendukung yang terbuat dari bahan porselen dengan tegangan kerja masing-masing 35
kV dan 110 kV. Terlihat bahwa volume isolator pendukung 110 kV hampir 3,8 kali
volume isolator 35 kV. Dengan perkataan lain, kenaikan tegangan kerja isolator dari
35 kV menjadi 110 kV membuat volume isolator naik menjadi 3,8 kali volume awal.
Contoh di atas menunjukkan bahwa volume bahan isolasi akan bertambah dengan
bertambahnya tegangan kerja. Hal inilah yang membuat harga suatu peralatan tegangan
tinggi didominasi oleh harga bahan isolasinya. Maka perlu ada upaya untuk mengurangi
pemakaian bahan isolasi pada peralatan tegangan tinggi, yaitu dengan mengendalikan
tekanan medan elektrik yang terjadi pada peralatan tersebut. Berikut ini akan diberikan
dua cara pengendalian tekanan medan elektrik yalg dijumpai dalam praktik sehari-hari.
Cara pertama adalah dengan menata bagian-bagian peralatan yang membentuk
susunan elektroda sedemikian rupa sehingga tekanan medan elektrik pada sistem isolasi
menjadi berkurang. Pada Gambar 1.7 di halaman 6 diperlihatkan perbedaan tekanan
medan elektrik pada dua peralatan yang tegangan kerjanya sama, tetapi susunan
elektrodanya berbeda. Jika dalam hal ini volume baharlisolasi yang digunakan adalah
sama, maka bahan isolasi peralatan dengan susunan elektroda (a) dapat dipilih karena
sistem isolasi peralatan dengan susunan elektroda (rz) memikul tekanan medan elektrik
yang lebih lebih rendah daripada tekanan medan elektrik yang dipikul peralatan dengan
susunan elektroda (b). Jika kekuatan dielektrik kedua peralatan adalah sama yaitu sama
dengan E2*uk, peralatan (b). maka menurut Persamaan 1.2, jarak elektroda (s) pada
-(ii)
peralatan
dapat dikurangi sehingga vdlume isolasi peralatan (a) lebih kecil dari
volume isolasi peralatan (b).
Cara lain untuk menghemat pemakaian bahan isolasi adalah dengan menambahkan

elektroda perata tegangan pada peralatan untuk meratakan distribusi tegangan pada
sistem isolasi peralatan tersebut. Ada tiga jenis elektroda perata, yaitu elektroda perata
internal, elektroda perata eksternal dan elektroda perata intermediasi. Pada Gambar

210 mm

180 mm

1234 mm

:4

:z--<
7----<
7---<
>----<

z--s
C35

1-,*

kV

GAMBAR 1.6
lsolator pendukung 35 kV dan

1 1

0 kV

110

kv

Peralatan Tegangan linggi

r=
/

--r.-

/J

<->l

l/

-i

l}]**tlll

.------.---->
.lr

Susunan (a)

tr
l*

Al'

ll\

u,.,-. I

'-"1

lll}r.,

l1ilUM
--;Susunan (D)

GAMBAR 1.7
Pengaruh bentuk elektroda terhadap tekanan medan elektrik

1.8 diperlihatkan pemasangan elektroda perata internal pada trafo


uji tegangan tinggi
dan elektroda perata eksternal pada isolator pendukung. Elektroda plrata
intermediasi
digunakan antara lain pada isolasi bushing trafo seperli diperlihatkan pada
Gambar I .9.
Bushing adalah isolator yang digunakan untuk mengisolir badan suatu
peralatan

dengan konduktor terminal tegangan tinggi yang menerobos baclan peralatan


tersebut.
Seandainya elektroda perata tidak ada, maka distribusi tegangan paaailap
bagian isolasi

adalah seperli pada Gambar 1.9a, dalam hal ini terlihaitetanan medan
elektrik tidak
merata pada bahan isolasi. Dengan adanya elektroda perata, maka distribusi
tegangan
pada setiap bagian isolasi semakin merata seperti diperlihatkan pada
Gambar
1.9b.

Elektroda

--->

Elektroda
eksternal

tegangan

tinggi

Eiektroda
intemal

Mantel isolasi

(a) Trafo uji tegangan tinggi

GAMBAR 1.8
Pemasangan elektroda internal dan elektroda eksternal

ff

(b) Isolator pendukung

Bab

Pendahuluan

l0OVo

10OVo

75Vo
50Va
25Vo

Elektroda perata
(a) Tanpa elektroda

perata

(b) Dengan elektroda perata

GAMBAR 1.9
Bushing tanpa elektroda perata dan dengan elektroda perata

1.5

KONDUKTOR PERALATAN TEGANGAN TINGGI


Untuk kapasitas penyaluran arus yang sama dengan peralatan tegangan rendah, komponen
yang menghantarkan arus pada peralatan tegangan tinggi berukuran lebih besar. Untuk
memahami hal ini diambil contoh kabel tegangan tinggi. Suatu kabel tegangan tinggi
dibungkus dengan bahan isolasi yang tebal. Jika kabel mengalirkan arus (0, dan R adalah
resistansi inti kabel, maka pada setiap konduktor akan timbul rugi-rugi daya sebesar:

LP=PR

1.5

Rugi-rugi daya tersebut berubah menjadi panas yang menaikkan temperatur


konduktor dan isolasi kabel. Bahan isolasi adalah penghantar panas yang buruk,
sehingga penyebaran panas dari inti kabel ke media sekitar berkurang dan hal ini akan
menyebabkan kenaikan temperatur kerja konduktor. Untuk mengatasinya, rugi-rugi
daya harus dikurangi dengan memperkecil resistansi inti. Hal ini dilakukan dengan
memperbesar ukuran penampang inti kabel. Sebagai contoh, tembaga tanpa isolasi,
ukuran penampang 10 mm2 dapat mengalirkan arus 110 ampere. Jika dibungkus
dengan isolasi PVC setebal I mm, maka daya hantar arus turun menjadi 64 ampere.
Seandainya daya hantar arus kabel diinginkan tetap 110 ampere dan dibungkus dengan

isolasi PVC setebal 1 mm, maka luas penampang konduktor kabel harus diperbesar
menjadi 25 mm2.

1.6

SISTEM PENDINGINAN PERALATAN TEGANGAN TINGGI


Pada sub-bab 1.5 di atas telah dijelaskan bahwa bahan isolasi menghambat penyebaran
panas dari komponen peralatan yang menjadi sumber panas, sehingga kapasitas daya
hantar arus peralatan berkurang. Untuk meningkatkan kapasitas daya hantar arus peralatan,

Peralatan Tegangan Tinggi

Selubung anti
korosi
Pipa baja

Minvak

Pelindung

Radiator

kedap minyak

GAMBAR 1.10

GAMBAR 1.11

Kabel minyak bertekanan

Trafo dengan radiator

maka peralatan dilengkapi dengan peralatan pendingin. Misalnya, inti kabel dibuat
berbentuk pipa (hollow conductor') dan pada bagian dalan pipa dialirkan air pendingin
atau dengan memasukkan kabel ke dalam suatu pipa yang dialiri air pendingin, seperti
diperlihatkan pada Gambar 1.10. Pada trafo daya, minyak isolasinya dibuat bersirkulasi
melalui radiator, sepefii diperlihatkan pada Gambar 1.11 .

1.1

PENYAMBUNG TEGANGAN TINGGI


Pada peralatan tegangan rendah, penyambungan suatu konduktor dengan konduktor lain,
atau konduktor dengan terminal dapat dilaksanakan dengan solder atau dengan memintal

konduktor satu dengan konduktor yang lain, kemudian persambungan dibungkus dengan
pita isolasi. Untuk peralatan tegangan tinggi, hal seperti ini tidak dapat dipraktikkan.
Penyambungan harus dilakukan dengan suatu peralatan yang disebut penyambung
tegangan tinggi, yaitu suatu peralatan yang dirancang khusus untuk penyambungan
antar konduktor pada peralatan tegangan tinggi. Pada Gambar 1.12 diperlihatkan contoh
penyambung tegangan tinggi yang digunakan pada suatu kabel.

Terminal

Ujung kabel

----)
(a) Kabel satu fasa

GAMBAR 1.12
Penyambung kabel tegangar tinggi

(D) Kabel tiga fasa

Bab

1.8

Pendahuluan

ALAT PELINDUNG PERALATAN TEGANGAN TINGGI


Ada empat tingkat tegangan yang mungkin dipikul suatu peralatan yang tersambung
pada sistem tenaga listrik, yaitu: tegangan kerja kontinu, tegangan lebih pada frekuensi
daya, tegangan lebih impuls hubung-buka dan tegangan lebih impuls petir. Tegangan
lebih pada frekuensi daya terjadi jika terjadi hubung singkat jaringan satu fasa ke
tanah, karena pada keadaan ini terjadi kenaikan tegangan pada kedua fasa yang tidak
terganggu. Tegangan lebih impuls hubung-buka teijadi pada saat pemutusan dan
penutupan rangkaian transmisi (switching operation). Sambaran petir pada transmisi
akan menimbulkan tegangan lebih impuls petir pada sistem tenaga listrik. Semakin
tinggi menara transmisi, maka semakin mudah transmisi disambar petir. Sementara,
semakin tinggi tegangan transmisi suatu sistem tenaga listrik ditinggikan, maka semakin
tinggi juga menara transmisi harus dibangun untuk menjamin keselamatan makhluk
hidup di sekitar transmisi.
Keberadaan tegangan lebih di atas mengharuskan peralatan memiliki bahan isolasi
yang mampu memikul semua tingkat tegangan tinggi tersebut. Hal ini menyebabkan
biaya pengadaan bahan isolasi semakin tinggi, sehingga harga suatu peralatan tegangan
tinggi lebih ditentukan oleh biaya pengadaan isolasi. Untuk kapasitas yang sama.
harga suatu peralatan tegangan tinggi jauh lebih mahal dari peralatan tegangan rendah.
Oleh karena itu peralatan sistem perlu diperlengkapi dengan peralatan proteksi untuk
menghindarkan kerusakan isolasi peralatan akibat adanya tegangan lebih impuls hubungbuka dan impuls petir. Penambahan peralatan proteksi ini menambah biaya investasi
dan perarvatan sistem tenaga listrik. Pada Gambar 1.13 diperlihatkan suatu trafo daya
yang dilengkapi dengan alat proteksi arester.

GAMBAR 1.13
Trafo daya dengan alat proteksr arester

Bab 2

Pemutus Daya

etiap sistem tenaga listrik dilengkapi dengan sistem proteksi yang berfungsi untuk
mencegah terjadinya kerusakan pada peralatan sistem dan untuk mempertahankan
kestabilan sistem ketika terjadi gangguan. Dengan demikian kontinuitas pelayanan
sistem dapat dipertahankan. Salah satu komponen sistem proteksi adalah pemutus daya

(circuit breaker).
Berikut ini akan dijelaskan peran pemutus daya pada sistem tenaga listrik, konstruksi
dan karakteristik pemutus daya serta pemilihan kapasitas pemutus daya untuk suatu
sistem tenaga listrik.

2.1

FUNGSI PEMUTUS DAYA


Peranan pemutus daya dalam mempertahankan kontinuitas pelayanan dapat dijelaskan
dengan diagram garis sistem tenaga listrik yang diperlihatkan pada Gambar 2. 1.
Misalkan gangguan hubung singkat terjadi di titik F. Gangguan ini akan
menyebabkan arus hubung singkat mengalir ke titik F, yang bersumber dari generator
G, dan generator Gr. Seandainya pemutus daya 2, 3, 4 dan 5 tidak ada, maka untuk
mencegah kerusakan pada generator (G, dan Gr) dan trafo (2, dan T), pemutus daya 1

l-l

= Pemutus daya

GAMBAR

2.1

Diagram garis sistem tenaga listrik terinterkoneksi

Bab2

Pemutus Daya

11

dan 6 harus membuka. Akibatnya aliran daya ke beban terputus. Tetapi dengan adanya
pemutus daya 2 dan 3, maka ketika terjadi gangguan di titik F, kedua pemutus daya
tersebut akan membuka sedangkan pemutus daya I dan 6 tetap tertutup, sehingga
aliran daya ke beban tetap dipertahankan. Dalam hal ini pemutus daya2 dan 3 beraksi
melokalisir jaringan yang terganggu, sehingga jaringan yang sehat tetap beroperasi.
Ketika terjadi gangguan hubung singkat, generator dengan tiba-tiba dipaksa bekerja
mengeluarkan daya yang besar. Perubahan kerja yang tiba-tiba ini dapat menimbulkan
ketidakstabilan sistem. Tetapi jika pemutus daya2 dan 3 membuka sebelum batas waktu
pemutusan kritis terlampaui, kestabilan sistem dapat diperlahankan.
Peranan pemutus daya dalam pemeliharaan komponen sistem tenaga listrik dapat juga
dijelaskan dengan Gambar 2. I di atas. Misalkan trafo To akan menjalani pemeliharaan.
Untuk keperluan pemeliharaan ini pemutus daya 1 dan 8 harus dibuka. Seandainya
pemutus daya 9 tidak ada, aliran daya ke jaringan L, akan terputus. Untuk mencegah
pemutusan aliran daya ke jaringan Zr, pemutus daya 9 ditutup sehingga jaringan L,
disulang dari trafo I..
Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh suatu pemutus daya agar dapat melaksanakan
fungsi di atas, adalah sebagai berikut:

1.
2.
3.

2.2

Mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara kontinu.

Mampu memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban maupun


terhubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus daya itu sendiri.
Dapat memutuskan arus hubung singkat dengan cepat agar arus hubung singkat
tidak sampai merusak peralatan sistem, tidak membuat sistem kehilangan kestabilan
dan tidak merusak pemutus daya itu sendiri.

HUBUNGAN RELAI DENGAN PEMUTUS DAYA


Bentuk flsik dan konstruksi suatu pemutus daya minyak diperlihatkan padaGambar 2.2.
Bagian utama pemutus daya adalah kontak tetap dan kontak bergerak. Kontak bergerak
dapat digerakkan secara manual atau dengan bantuan motor listrik atau sistem pneumatik.
Jika kontak bergerak ditarik ke atas, maka pemutus daya dalam kondisi tenutup. Jika
kontak bergerak didorong ke bawah, maka pemutus daya dalam kondisi terbuka.

Keterangani
1. Kontak tetap
2. Kontak bergerak
3. Bilik kontak
4. Tungkai penggerak kontak
5. Bushing
6. Tangki berisi minyak
isolasi
7. Penggerak mekanik

GAMBAR 2.2
Bentuk fisik dan skema konstruksi suatu pemutus daya

12

Peralatan Tegangan linggi

Keterangon:

P =
KI =
KB =
IP =
IC =
G =
C?' =
R =
K =
B =

Pegas

Kontak tetap pemutus daya


Kontak bergerak pemutus daya
Tungkai kontak bergerak
Kumparan pemutus
Tungkai kumparan pemutus
Trafo arus
Relai arus lebih
Kontak relai
Sumber arus searah

7.SR
GAMBAR 2.3
Hubungan relai proteksi dengan pemutus daya

Hubungan kerja pemutus daya dengan relai proteksi diperlihatkan pada Gambar
2.3. Misalkan hubung singkat terjadi pada fasa R. Akibatnya arus di fasa R melonjak
relatif besar. Arus yang besar ini melalui kumparan primer C7,, akibatnya arus yang
mengalir di kumparan sekunder CT, dan relai R, juga semakin besar. Jika arus tersebut
melebihi setting arus relai maka relai bekerja menutup kontak K,, akibatnya arus mengalir
pada kumparan pemutus ZC sehingga tungkai kumparan pemutus G tertarik ke atas.
Akibatnya tungkai kontak bergerak TP lertarik ke kiri, sehingga kontak bergerak KB
menjauh dari kontak tetap KT. Dengan kata lain, kontak pemutus daya terbuka.

2.3

PROSES PEMUTUSAN RANGKAIAN SUATU SISTEM


Pada Gambar 2.4a diperlihatkan suatu rangkaian yang sedang dialiri arus bolak-balik.
Arus dan tegangan sesaat pada rangkaian tersebut diperlihatkan pada Gambar 2.4b. Ilka
kontak tertutup sempurna, maka resistansi antar kontak sangat kecil sehingga tegangan
antar kontak V. dapat diabaikan.
Misalkan kontak pemutus daya dibuka ketika t = /o. Sesaat setelah pembukaan
kontak, timbul busur api di antara kontak, dan keadaan rangkaian menjadi seperti
diperlihatkan pada Gambar 2.4c. Adanya busur api membuat arus tetap mengalir pada
rangkaian. Arus ini menimbulkan jatuh tegangan pada kontak yaitu sebesar perkalian
arus dengan resistansi busur api. Jatuh tegangan ini sangat kecil dibandingkan dengan
puncak tegangan sumber dan berlangsung dalam selang waktu tu - tr,.
Selanjutnya, pada saat / = /r, arus sama dengan nol, busur api padam dan pada
saat yang bersamaan tegangan antar kontak menjadi sama dengan tegangan sumber, dan
berangsur naik menuju nilai maksimal. Beda tegangan antar kontak akan menimbulkan
medan elektrik pada medium isolasi yang berada di antara kontak. Jika kuat medan
elektrik tersebut lebih rendah daripada kekuatan dielektrik medium isolasi di antara
kontak, maka medium tersebut tidak tembus listrik, sehingga busur api tidak terulang
lagi dan rangkaian akan tetap terbuka sepefii diperlihatkan pada Gambar 2.4d. Keadaan
seperti ini dijumpai pada pembukaan kontak pemutus daya bertegangan rendah.

Bab

Pemutus Daya

13

vk

<------->

-\r----.-----1[:I+
i

---------------->

l,tl 1",

(a) Rangkaian tertutup


Busur api

.1/

(b) Arus dan tegangan sesaat

Busur api padam

(c) Timbul busur api

(d) Busur api padam

GAMBAR 2.4
Tegangan dan arus sesaat pada pembukaan pemutus daya

Adanya beda tegangan di antara kontak dapat mengulangi terjadinya busur api.
Hal ini terjadi jika kuat medan elektrik yang terdapat pada medium isolasi di antara
kontak melebihi kekuatan dielektrik medium tersebut. Keadaan seperti ini dijumpai
pada pembukaan kontak pemutus daya bertegangan tinggi. Untuk menjelaskannya,
perhatikan Gambar 2.5.
Misalkan pada saat

/ = /,., kuat medan elektrik di antara kontak melebihi kekuatan


dielektrik medium isolasi di sela kontak. maka medium isolasi akan tembus listrik.
Peristiwa tembus listrik ini disusul terjadinya busur api ulangan, sehingga arus kembali

mengalir pada rangkaian meskipun sebenarnya kontak pemutus daya sudah terpisah.
Tegangan antar kontak yang menimbulkan pengulangan busur api sama dengan tegangan
sumber ketika r = /. dan disebut tegangan terpaan ballk (.restrike voltttge). Hubungan
rangkaian benar-benar terputus setelah busur api padam dan tidak berulang lagi. Keadaan
ini dapat dicapai dengan melengkapi pemutus daya dengan pemadam busur api.

2.4

IONISASI, DEIONISASI DAN EMISI


Proses terjadinya busur api dan padamnya busur api pada suatu pemutus daya berhubungan dengan peristiwa ionisasi, deionisasi dan emisi. Oleh karena itu, berikut ini
akan dijelaskan secara singkat tentang ketiga peristiwa tersebut.

GAMBAR 2.5
Tegangan dan arus pada keadaan busur api berulang

14

Peralatan Tegangan 1 rnggi

lonisasi
Pada Gambar 2.6 diperlihatkan model suatu atom helium. Inti atom helium terdiri dari
dua proton bermuatan positif dan dua neutron yang tidak bermuatan. Dua elektron
bermuatan negatif berputar mengelilingi inti atom dengan lintasan yang berbeda. Tiap

elektron mempunyai energi ikat, yaitu energi yang mengikat elektron terhadap inti atom,
agar elektron tetap berada pada lintasannya. Dalam keadaan normal jumlah proton sama
dengan jumlah elektron, sehingga suatu atom dalam keadaan normal akan bersifat netral.
Karena suatu proses, dimisalkan terjadi benturan antara elektron dengan suatu
pafiikel dari luar. Jika energi kinetik partikel ketika membentur elektron lebih besar
daripada energi ikat elektron, maka elektron akan keluar dari lintasannya menjadi
elektron bebas, sehingga partikel yang tersisa dalam atom tinggal berupa dua proton,
dua neutron dan satu elektron. Karena muatan positif lebih banyak daripada muatan
negatif, maka total muatan atom sekarang menjadi positif. Atom yang bermuatan positif
ini disebut ion positif. Terlepasnya elektron dari ikatan atom netral menjadi elektron
bebas disebut ionisasi.
Ionisasi dalam gas dapat terjadi karena tiga hal, yaitu: karena adanya radiasi sinar
kosmis, adanya massa yang membentur gas dan karena kenaikan temperatur gas.

Radiasi Sinar Kosmis


Ruang di atas bumi secara terus menerus dibombardir dengan partikel-patikel
submikroskopis yang berenergi tinggi. Sebagian berasal dari matahari yang sering
disebut sinar kosmis. Sebagian lagi berasal dari pemisahan bahan radioaktif yang
setiap menit terjadi di dalam bumi, di langit dan di dalam organisme makhluk
hidup. Partikel berenergi tinggi ini membentur elektron molekul netral sehingga
elektron terlepas dari molekul netral. Peristiwa ini membuat gas dan udara bebas
selalu mengandung elektron-elektron bebas.

Ionisasi Benturan
Pada Gambar 2.7 diperllhatkan dua elektroda plat sejajar yang dipisahkan bahan
isolasi gas. Jika kedua elektroda dihubungkan ke sumber tegangan searah, maka di
antara kedua elektroda timbul medan elektrik yang arahnya dari anoda ke katoda.
Sebelumnya sudah dijelaskan bahwa gas selalu mengandung elektron bebas sebagai

hasil radiasi sinar kosmis. Misalkan di dalam gas dijumpai satu elektron bebas
(e). Karena adanya medan elektrik, elektron tersebut akan mengalami gaya yang
arahnya menuju anoda.
Dalam perjalanannya menuju anoda, elektron itu membentur molekul-molekul
netral gas. Jika energi kinetik elektron bebas lebih besar daripada energi ikat
entD e,O

\
Elektron
bebas

(.a)

Satu elektron bebas (e,) membentur elektron

terikat (e,)

GAMBAR 2.6
Proses ionisasr

(b)

Elektron terikat (e,) terlepas dari


lintasannya menjadi elektron bebas

Bab

Pemutus Daya

15

Anoda (+)

Elektron bebas

Molekul netral

GAMBAR 2.7
lonisasi benturan

elektron atom netral gas, maka elektron akan keluar dari lintasannya menjadi
elektron bebas baru dan menyisakan ion positif. Ion positif akan mengalami gaya
dan bergerak menuju katoda sedangkan elektron bebas baru akan bergerak menuju
anoda. Elektron baru ini akan mengadakan ionisasi benturan lagi, sehingga jumlah
elektron bebas dan ion positif di dalam gas semakin banyak.
Ionisasi Termal
Jika temperatur gas dalam suatu bejana tertutup dinaikkin, maka molekul-molekul
gas akan bersirkulasi dengan kecepatan tinggi sehingga terjadi benturan antar
molekul. Jika temperatur semakin tinggi, maka kecepatan molekul semakin tinggi,
sehingga benturan antar molekul semakin keras dan dapat membuat terlepasnya
elektron dari molekul netral.

Deionisasi
Jika suatu elektron bebas bergabung dengan suatu ion positif akan dihasilkan suatu
molekul netral. Peristiwa penggabungan ini disebut deionisasi. Deionisasi akan
mengurangi partikel bermuatan dalam suatu gas. Jika pada suatu gas terjadi aktivitas
deionisasi yang lebih besar daripada aktivitas ionisasi, maka muatan-muatan bebas di
dalam gas itu akan berkurang. Ada empat proses deionisasi yang berhubungan dengan
pemadaman busur api pada suatu pemutus daya, yaitu: deionisasi medan elektrik,
deionisasi rekombinasi, deionisasi akibat pendinginan dan deionisasi tangkapan elektron.

Deionisasi Medan Elektrik


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa medan elektrik timbul di antara dua plat
sejajar bertegangan. Medan elektrik ini akan menimbulkan gaya pada setiap
muatan yang terdapat di antara elektroda. Elektron bebas bergerak menuju anoda
sedangkan ion positif bergerak menuju katoda. Jika elektron bebas tiba di anoda,
maka elektron akan bergabung dengan metal. Ion positif akhirnya akan mendekati
permukaan katoda dan menarik elektron keluar dari permukaan katoda, bergabung
membentuk molekul gas netral. Jika di antara kedua elektroda tidak terjadi proses
ionisasi, maka medan elektrik akan melenyapkan semua elektron bebas pada gas
dan mengubah semua ion positif menjadi molekul netral.

Deionisasi Akibat Rekombinasi


Rekombinasi adalah pengurangan muatan karena penggabungan elektron bebas
dengan ion positif. Rekombinasi jarang terjadi dalam suatu gas. Peristiwa ini
lebih mudah terjadi pada bidang batas antara gas dengan zat padat atau zat cair.

16

Peralatan Tegangan Tinggi

Deionisasi Akibat Pendinginan


Telah dijelaskan sebelumnya bahr'va di dalam gas berremperatur tinggi akan terjadi
gerakan molekul-molekul gas yang dapat menimbulkan ionisasi termal. Sebaliknya,

pendinginan gas atau udara akan memperlambat gerakan molekul. Hal ini akan
menghalangi terjadinya ionisasi termal dalam gas tersebut, sehingga pembentukan
elektron bebas dan ion positif dapat dicegah. Pendinginan gas atau udara tidak
secara langsung mengurangi partikel bermuatan, tetapi hanya menghalangi terjadinya
ionisasi termal dalam gas.

Deionisasi Tangkapan Elektron


Beberapa gas tertentu, seperti gas SF6, mempunyai atom netral yang giat menangkap
elektron bebas yang bergerak di dekat atom netral tersebut. Penggabungan elektron

bebas dengan atom netral menghasilkan ion negatif. Seandainya gas ini berada di
antara dua elektroda plat sejajar berlegangan, maka elektron bebas yang bergerak
ke anoda akan ditangkap atom netralnya dan membentuk ion negatif. Ion negatif

ini akan mengalami gaya dan bergerak menuju anoda. Tetapi karena massanya yang
relatif besar, maka ia bergerak lebih lambat daripada pergerakan elektron bebas,
sehingga tidak mampu menimbulkan ionisasi lanjutan. Dengan demikian, atom
gas netral mencegah elektron bebas melakukan ionisasi atau mencegah terjadinya
elektron bebas baru hasil ionisasi.

Emisi
Emisi adalah peristiwa pelepasan elektron dari permukaan suatu logam menjadi elektron
bebas di dalam gas. Ada dua proses emisi yang berhubungan dengan pembentukan
busur api pada pemutus daya, yaitu emisi termal dan emisi medan tinggi.

Emisi Termal
Suatu logam yang mempunyai titik lebur tinggi, seperti tungsten dan karbon, jika
dipanaskan hingga bertemperatur tinggi, maka dari permukaannya akan dilepaskan
elektron-elektron. Elektron tersebut keluar dari permukaannya dan menjadi elektron
bebas di dalam gas. Proses inilah disebut emisi termal.

Emisi Medan Tinggi


Jika permukaan suatu logam diamati dengan mikroskop, akan terlihat bahwa
permukaan logam tersebut tidak semuanya mulus, tetapi selalu dijumpai titik-titik
yang runcing seperti diperlihatkan pada Gambar 2.8.
Jika logam tersebut dikenai medan elektrik, maka elektron yang terdapat pada
permukaan logam katoda (K) akan mengalami gaya yang arahnya menuju anoda

GAMBAR 2.8
Permukaan logam dan medan tinggi

Bab

Pemutus Daya

17

(A). Elektron pada titik runcing akan mengalami gaya yang lebih besar karena
intensitas medan elektrik pada bintik tersebut relatif lebih besar dibandingkan
dengan intensitas medan elektrik di bagian yang datar. Jika intensitas medan
elektrik cukup besar, maka dari titik runcing tersebut akan dilepaskan elektron
bebas. Pelepasan elektron ini sering disebut emisi bintik katoda.

2.5

PROSES PEMBENTUKAN BUSUR API


Jika kontak pemutus daya dipisahkan, maka beda potensial di antara kontak akan
menimbulkan medan elektrik di sela kontak tersebut, seperti diperlihatkan pada Gambar
2.9. Arus yang sebelumnya mengalir melalui kontak akan memanaskan kontak pemutus
daya sehingga ketika kontak membuka, pada permukaan kontak terjadi emisi termal.
Medan elektrik di antara kontak menimbulkan emisi medan tinggi pada permukaan
kontak yang beraksi sebagai katoda ((1. Kedua peristiwa emisi ini menghasilkan
elektron bebas yang sangat banyak dan bergerak menuju kontak yang berperan sebagai
anoda (A). Elektron-elektron ini membentur molekul netral media isolasi di kawasan
positif. Benturan-benturan ini akan menimbulkan proses ionisasi. Dengan demikian,
jumlah elektron bebas yang menuju anoda semakin bertambah. Proses ionisasi juga
menghasilkan ion positif yang bergerak menuju katoda. Perpindahan elektron bebas
ke anoda menimbulkan arus, arus ini akan memanaskan anoda.
Ion positif yang tiba di katoda akan menimbulkan dua efek yang berbeda. Jika
kontak terbuat dari bahan yang titik leburnya tinggi, misalnya tungsten atau karbon,
maka ion positif akan menimbulkan pemanasan di katoda. Akibatnya emisi termal
semakin meningkat. Jika kontak terbuat dari bahan yang titik leburnya rendah, misalnya
tembaga, maka ion positif akan menimbulkan emisi medan tinggi. Hasil emisi termal
dan emisi medan tinggi akan melanggengkan proses ionisasi, sehingga perpindahan
muatan antar kontak terus berlangsung dan inilah yang disebut dengan busur api. Busur
api yang berlangsung lama akan meluruhkan material permukaan kontak.

2.6

PEMADAMAN BUSUR API


Suatu pemutus daya dinyatakan berhasil memutuskan hubungan rangkaian

jika selama

kontak terbuka, arus yang melalui sela kontak sama dengan nol, atau tidak terjadi
busur api lagi pada sela kontak. Ketika busur api padam, di sela kontak akan tetap
ada medan elektrik. Jika kuat medan elektrik pada sela kontak lebih besar daripada
kekuatan dielektrik medium di sela kontak, maka busur api akan terjadi lagi.
Kawasan nesatif

Kontak
tetap

+ ++

* 4 **

Kontak
bergerak

NiILIK
GAMBAR 2.9
Pembentukan busur api

Brden Pcrpustakatn

deu
Prupinsi

Kra rsipan

J*ra

Timlue

Peralatan Tegangan linggi

18

Tujuan akhir pemadaman busur api adalah untuk membuat arus pada pada sela
kontak sama dengan no1. Membuat arus searah menjadi nol berbeda dengan membuat
arus bolak-balik menjadi nol. Oleh karena itu, pemadaman busur api pada pemutus
daya searah berbeda dengan pemadaman busur api pada pemutus daya bolak-balik.
Uraian berikut ini akan menjelaskan perbedaan kedua pemadaman tersebut.

Pemadaman Busur APi Arus Searah


Secara alami, arus searah tidak pernah bemilai nol. Ada dua cara membuat arus searah

menjadi nol, yaitu:

a.
b.

Membuat jatuh tegangan (LV1 pada busur api sama atau lebih besar daripada
tegangan sistem; dan
Menginjeksikan arus yang berlawanan arah dengan arus pada busur api.

Cara pertama dilakukan pada pemutus daya berkapasitas dan bertegangan rendah,
sedangkan cara kedua dilakukan pada pemutus daya tegangan tinggi'

Pada cara pertama, jatuh tegangan pada busur api diperbesar dengan menaikkan
resistansi busur api. Menaikkan resistansi busur api dapat dilakukan dengan tiga cara:

a.
b.
c.

Memperpanjang lintasan busur api.


Menekan permukaan busur api supaya diameter busur api semakin kecil.
Memotong busur api dengan beberapa plat logam sehingga membentuk segmensegmen busur api pendek yang terhubung secara seri seperti diperlihatkan pada
Gambar 2.10. Setiap segmen busur api mengalami pengerutan sehingga resistansi
seluruh segmen busur api lebih besar daripada resistansi busur api tanpa plat logam.

Cara kedua adalah membuat arus pada busur api sama dengan nol, yaitu dengan
menghubungkan suatu kapasitor bermuatan ke terminal pemutus daya dengan polaritas
yang berlawanan, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.11.

Pemadaman Busur Api Arus Bolak-balik


Secara alamiah, dalam satu periode, arus bolak-balik dua kali bernilai nol. Agar arus terus

bernilai nol, setelah arus bernilai nol yang pertama, pembentukan busur api berikutnya
harus dicegah. Pencegahan dilakukan dengan deionisasi. Deionisasi akan mengurangi
elektron bebas, sehingga konduktivitas busur api berkurang. Pengurangan konduktivitas
busur api mengakibatkan resistansi busur api semakin besar. Penambahan resistansi busur
api akan memlerkecil arus pada sela kontak pemutus daya dari cenderung menjadi nol.

Pengerutan

Kontak
F-

t:"1 7r--r

Busur apr

------\

/ ---'

Plat logam
(a) Tanpa plat Pemilah

GAMBAR 2.10
Pemilahan busur api

(b) Dengan plat pemilah

19

----------------

Kapasitor

lnjeksi arus pada pemutus daya arus searah

Jika pengurangan partikel bermuatan karena proses deionisasi lebih banyak daripada
penambahan muatan karena proses ionisasi, maka busur api akan padam. Usaha-usaha
yang dilakukan untuk menimbulkan proses deionisasi, antara lain adalah sebagai berikut.

a.
b.
c.
d.

1't

Meniupkan udara ke sela kontak, sehingga busur api mengalami pendinginan dan
partikel-partikel hasil ionisasi terdorong menjauhi sela kontak.
Menyemburkan minyak atau gas isolasi ke busur api untuk mendinginkan busur
api sehingga peluang bagi proses rekombinasi semakin besar.
Memotong busur api dengan tabir isolasi atau tabir logam, sehingga memberi
peluang yang lebih besar bagi proses rekombinasi.
Membuat medium pemisah kontak dari bahan gas elektronegatif, sehingga elektronelektron bebas tertangkap oleh molekul netral gas tersebut.

TIGANSAru PIMULiHAIJ Kfi NTAK


Ketika busur api berlangsung pada sela kontak suatu pemutus daya, maka medium
yang berada di antara kontak bersifat sebagai konduktor. Jika pemutus daya digunakan
memutuskan arus bolak-balik, maka ada saatnya arus sama dengan nol dan pada saat itu
busur api akan padam. Selanjutnya medium pada sela kontak akan memulihkan dirinya
menjadi isolasi. Dengan kata lain, kekuatan dieiektriknya berangsur-angsur naik. Pada
saat yang bersamaan, tegangan di sela kontak yang tadinya sangat kecil menjadi relatif
besar. Dengan kata lain, tegangan sela kontak dipulihkan dari nilai yang sangat kecil
ke nilai tegangan yang sama dengan tegangan pada saat sela kontak terbuka. Tegangan
sela kontak selama busur api padam disebut tegangan pemulihan (recovery voltage).
Tegangan pemulihan ini menimbulkan medan elektrik di sela kontak. Kenaikan kuat
medan elektrik yang ditimbulkannya bergantung kepada kenaikan tegangan pemulihan.

Jika kenaikan kuat medan elektrik lebih cepat daripada kenaikan kekuatan dielektrik
medium pada sela kontak, maka medium pada sela kontak akan tembus listrik sehingga

busur api timbul lagi. Dengan kata lain, pemutus daya gagal memutus arus. Suatu
pemutus daya dinyatakan berhasil memutuskan arus jika tegangan tembus medium
isolasi pada sela kontak lebih besar daripada tegangan pemulihan. Oleh karena itu,
dalam perencanaan suatu sistem tenaga listrik karakteristik tegangan pemulihan pemutus
daya pada sistem yang direncanakan perlu dianalisis. Hasil analisis digunakan sebagai
dasar pertimbangan dalam menetapkan spesifikasi pemutus daya yang dibutuhkan untuk

sistem tersebut.

20

Peralatan Tegangan

rnggi

Tegangan pemulihan pada kontak suatu pemutus daya bergantung kepada karakteristik rangkaian sistem yang hubungannya akan diputuskan. Berikut ini akan dijelaskan
tegangan pemulihan untuk lima jenis karakteristik rangkaian.

ffiangkaian ffiesistif
Pada Gambar 2.12a diperlihatkan suatu resistor yang dihubungkan ke sumber tegangan
bolak-balik V, melalui satu pemutus daya CB.
Jika pemutus daya membuka kontaknya, maka ada beda tegangan di antara kontak
tetap dengan kontak bergeraknya. Jika beda tegangan antar kontak dimisalkan vo, maka
persamaan tegangan pada rangkaian Gambar 2.12a adalahl.

Vr=Vt+V,
Dalam hal

ini, V, =

vt =
vr=

2.1

Tegangan sumber
Tegangan sela kontak
Tegangan resistor

Tegangan kontak adalah:

Vt, =

vr-v,

2.2

Ketika kontak tertutup, tegangan kontak adalah nol. Misalkan kontak dipisahkan
ketika I = lr (lihat Gambar 2.12b), maka busur api timbul dalam selang waktu /r - /2.
Jika i sama dengan arus sesaat yang melalui busur api dan Ro sama dengan resistansi
busur api, maka dalam selang waktu tersebut, tegangan kontak naik menjadi:

vr=

i R,,

2.3

Karena resistansi busur api relatif kecil, maka tegangan kontak hanya beberapa puluh
volt, sehingga dapat diabaikan.
Kemudian busur api padam ketika r = tz dan mulai saat itu arus pada rangkaian
sama dengan nol (i = 0), sehingga tegangan pada resistor juga sama dengan nol (V, =
rR = 0). Dengan demikian, terhitung mulai r = b, Iegangan pemulihan kontak menjadi:

v*=

V,

2.4

Kenaikan tegangan pemulihan sama dengan kenaikan tegangan sumber. Jika saat
busur api mulai padam diambil sebagai acuan waktu, dan V = nilai puncak tegangan
sesaaf sumber, maka nilai sesaat tegangan kontak adalah:
vk
"F----3"

t2- busur api


padam

= kontak

terbuka
(a)

Tegangan pemulihan pada rangkaian resistif

(b)

V,=Vt

Bab

Vr,

= -V sin at

Pemutus Daya

21

2.5

ffiangkaian Kapasitif
Pada Gambar 2.13a diperlihatkan suatu rangkaian kapasitif.

Sebelum kontak pemutus daya membuka, arus pada rangkaian ini mendahului
tegangan sebesar 90o, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.13b. Jika V, adalah tegangan
pada kapasitor, maka sebelum kontak terbuka, persamaan tegangan pada rangkaian
tersebut adalah sebagai berikut:

Vr=Vt*V,

2.6

Jika tegangan kontak diabaikan, maka tegangan kapasitor akan sama dengan tegangan
sumber. Tegangan pada kontak dapat dituliskan sebagai berikut:

Vr=vr-V,

2.7

Misalkan ketika r = /r, kontak pemutus daya dibuka. Dalam selang waktu tt - tz,
timbul busur api. Selama ada busur api, tegangan kapasitor sama dengan tegangan
sumber. Ketika arus sama dengan nol, yaitu ketika r = /2, busur api padam. Pada saat
itu tegangan pada kapasitor sama dengan nilai puncak tegangan sesaat sumber, sehingga
persamaan tegangan kontak setelah busur api padam adalah:

Vt=Vr-V

2.8

Jika saat busur api mulai padam diambil sebagai acuan waktu, maka nilai sesaat
tegangan kontak adalah:
2.9
Vt =Vcos@t-V
Bentuk gelombang tegangan pemulihan diperlihatkan pada Gambar 2.13b. Terlihat
bahwa kenaikan tegangan pemulihan relatif lambat dibandingkan dengan kenaikan
tegangan pemulihan pada rangkaian resistif. Tetapi tegangan pemulihan dapat mencapai
dua kali nilai puncak tegangan sesaat sumber. Hal ini memberi peluang terjadinya
terpaan balik busur api.

v,

*-Tl

<__gE

1
V,

V,

,I

,t,

(a)

Tegangan pemulihan pada rangkaian kapasitif

22

Peralatan Tegangan

iinggi

ffiangkaian Induktif
Pada Gambar 2.14a diperlihatkan suatu rangkaian induktif. Sebelum kontak pemutus
daya terbuka, arus pada rangkaian ini tertinggal 90' dari tegangan, seperti diperlihatkan
pada Gambar 2.14b.
Jika V, adalah tegangan pada induktor, maka sebelum kontak terbuka, persamaan
tegangan pada rangkaian di atas adalah sebagai berikut:

l/"=V*+VL
dan

V,=L4
Ldt

2.10

2.1t

Jika tegangan kontak diabaikan, maka tegangan pada induktor sama dengan tegangan
sumber. Tegangan pada kontak dapat dituliskan sebagai berikut:

Vr = V, - VL
Misalkan ketika

I = ll,

kontak pemutus daya dibuka. Dalam selang waktu

2'12

/, -

rr, dmbul busur api. Selama ada busur api, tegangan induktor sama dengan tegangan
sumber. Ketika t = t2, arus sama dengan nol dan busur api padam. Pada saat itu
tegangan induktor sama dengan nol (karena nilai i pada Persamaan 2.Ll sama dengan
nol), sehingga tegangan kontak setelah busur api padam adalah:
Vt =

V,

2.13

Jika saat busur api mulai padam diambil sebagai acuan waktu, maka nilai sesaat
legangan kontak adalah:
Vt = V cos
2.14

o/

Bentuk gelombang tegangan pemulihan diperlihatkan pada Gambar 2.l4b.Terllhat


bahwa tegangan kontak tiba-tiba mencapai nilai puncak tegangan sesaat sumber. Kenaikan
tegangan pemulihan pada rangkaian induktif relatif lebih cepat dibandingkan dengan
tegangan pemulihan pada rangkaian resistif. Hal ini memberi peluang besar terjadinya
terpaan balik busur api.

vk

4-"**"
CB

V,

VL

I
(a)

Tegangan pemulihan pada rangkaian induktif

Bab

Pemutus Daya

23

Hangkaian $eri Induktif-fiesistif


Rangkaian induktor yang terhubung seri dengan resistor dipergunakan pada transmisi.
Jika pada transmisi terjadi hubung singkat, maka pemutus daya pada gardu induk akan
membuka. Pada Gambar 2.15a, R dan L masing-masing merepresentasikan induktor dan
resistor transmisi, terhitung dari gardu induk hingga lokasi hubung singkat'
Sebelum pemutus daya membuka, pada rangkaian mengalir arus (i) yang tertinggal
sebesar sudut fasa g dari tegangan sumber (V"). Sudut fasa g dihitung dengan Persamaan
2.15 di bawah ini:
(2rr l'L)
I
2.15

tg'g=

Seandainya pemutus daya membuka ketika t = tr, karena adanya busur api pada
sela kontak pemutus daya, maka arus pada rangkaian tetap mengalir hingga t = tz.
Ketika busur api padam, tegangan kontak menjadi sama dengan tegangan sumber.
Dengan kata lain, sesaat setelah busur api padam, tegangan kontak tiba-tiba naik
dari nol mengikuti tegangan sumber. Dalam kasus ini, tegangan kontak naik ke suatu
nilai tertentu yang lebih kecil daripada tegangan maksimum sumber dan besarnya
bergantung kepada besarnya sudut fasa g. Semakin besar R, semakin kecil sudut fasa
g, dan kenaikan tegangan pemulihan semakin kecil. Dengan perkataan lain, keberadaan
resistor R dalam rangkaian membuat kenaikan tegangan kontak semakin kecil. Prinsip
ini digunakan untuk mengurangi kenaikan tegangan pemulihan pada saat pembukaan
suatu pemutus daya.
Pada Gambar 2.16a di halaman 24 diperlihatkan suatu pemutus daya yang dilengkapi
dengan suatu resistor. Sesaat setelah kontak utama S, dibuka, kontak bantu Su ditutup
sehingga resistor R terhubung seri dengan beban Z.
Keberadaan resistor ini akan mengurangi kenaikan tegangan pemulihan kontak utama,
sehingga terpaan balik busur api dapat dihindarkan. Beberapa saat kemudian, kontak
bantu dibuka sehingga rangkaian terbuka sempurna. Pada saat penutupan pemutus daya,
dapat terjadi tegangan lebih transien. Besar tegangan transien ini dapat dikurangi dengan
terlebih dahulu menutup kontak bantu, beberapa saat kemudian kontak utama ditutup.
Dewasa ini, resistor dan kontak bantu diganti dengan varistor atau resistor non-linier
seperti diperlihatkan pada Gambar 2.16b. Varistor yang umum digunakan terbuat dari
bahan ZnO. Varistor memiliki resistansi besar ketika dialiri arus lemah, tetapi memiliki

vk

.{-----Y
A

CB1

VZ

I
(.a)

Tegangan pemulihan pada rangkaian B-L

24

Peralatan Tegangan

rnggi

(a)

Pemutus daya dengan pembatas tegangan pemulihan

resistansi yang rendah ketika dialiri arus kuat. Dengan demikian,


ketika kontak utama
tertutup' arus yang mengalir melalui varistor relatif lemah sehingga resistansi
varistor
tinggi, seakan-akan varistor berperan sebagai sakelar terbuka. Jikalontak
utama terbuka,
maka arus tinggi mengalir melalui varistor sehingga resistansi varistor
naik, seakanakan suatu resistor diparalel dengan kontak utama seperti halnya pada
Gambar 2.16a.
ffi

*n

gkaian lrodutrtif-Kapfr sitif

Pada Gambar 2.17a dipertihatkan suatu rangkaian yang merepresentasikan


suatu trafo
yang mencatu arus kepada suatu transmisi. Induktor I merupakan
induktansi trafo daya
pada gardu induk. Kapasitor statis C merepresentasikan
kapasitansi ke tanah peralatanperalatan yang ada di gardu induk, misalnya kapasitansi
uustring, kapasitansi trafo arus,
kapasitansi trafo daya dan_lain-lain. v, adalah sumber daya tal
terlatas (infinite bus).
Dalam hal ini resistansi (R) diabaikan.

Misalkan pada bagian transmisi terjadi hubung singkat permanen


dan untuk
melokalisimya, pemutus daya dibuka. Ketika busur api padam, induktor (L)
dankapasitor
(c) membentuk rangkaian osilator (t terhubung seri dengan c), sehingga ierjadi
tegangan yang berosilasi pada kapasitor. Jika busur api padam,
tegangan kontak sama
dengan tegangan di kapasitor. oleh karena itu, tegangan kontak jugu
ukun berosilasi
sama halnya dengan tegangan kapasitor. Frekuensi t.girgu, yang
fetsitasi ini adalah:
I
t"/-2r ltc

(.a)

Tegangan pemulihan pada rangkaian L-C

2.t6

Bab

Pemutus Daya

25

Bentuk tegangan yang dihasilkan adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 2.11b.
Terlihat bahwa kenaikan tegangan pemulihan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan
kenaikan tegangan pemulihan pada rangkaian induktif. Kemungkinan terjadinya tegangan
seperti ini harus dipertimbangkan dalam pemilihan suatu pemutus daya.

fY\

JTTIS.JTi\]IS PilIViUTUS NAYA


Pemutus daya dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori. Jenis-jenis pemutus
daya menurut tegangan kerjanya adalah pemutus daya: tegangan rendah, tegangan

menengah dan tegangan tinggi. Kemudian jenis-jenis pemutus daya menurut lokasi
penempatannya adalah pemutus daya pasangan dalam dan pasangan luar. Sedangkan
jenis-jenis pemutus daya menurut medium pemadam busur api yang digunakan adalah:

a.
b.
c.
d.
e.

Pemutus daya
Pemutus daya
Pemutus daya
Pemutus daya
Pemutus daya

udara (Air Circuit Breaker)


minyak (Oil Circuit Breaker)
udara tekan (Air-Blast Circuit Breaker)
vakum (Vacuum Circuit Breaker)

isolasi SF6

Berikut ini akan dijelaskan prinsip kerja masing-masing pemutus daya di

atas.

F*rnutus D*ya Udarx l&ir Crrceifr ffreakerl


Sebelumnya telah dijelaskan bahwa deionisasi pada gas dapat dilakukan dengan
mendinginkan busur api, dan deonisasi akan mengurangi partikel-partikel bermuatan.
Dengan kata lain, pendinginan busur api akan mengurangi konduktivitas busur api
atau meninggikan resistansi busur api, sehingga jatuh tegangan pada resistansi busur
api semakin besar. Hal ini akan mengurangi arus yang mengalir pada kontak pemutus
daya sehingga peluang busur api padam semakin besar. Pendinginan busur api semakin
sempurna jika luas permukaan busur api yang bersentuhan dengan udara semakin besar.
Hal ini dapat ditakukan dengan memperpanjang lintasan busur api. Perpanjangan busur
api dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan menggunakan kontak
sela tanduk, seperti diperlihatkan pada Gambar 2. 18.
Ketika kontak dipisahkan, busur api terbentuk pada bagian bawah kontak. Panas
yang ditimbulkan busur api membuat temperatur di bagian bawah kontak lebih tinggi
daripada temperatur di bagian atasnya, sehingga terjadi aliran udara dari bawah ke atas.
Aliran udara ini mendorong busur api bergerak ke atas. Busur api yang panjang sangat
mudah dipadamkan arus konveksi udara, sehingga busur api sudah padam sebelum
mencapai ujung tanduk.

t
Kontak sela tanduk

26

Peralatan Tegangan linggi

Busur api akan padam ketika arus mencapai nilai nol yang pertama. Busur api
tidak terulang lagi, karena tegangan tidak cukup kuat menimbulkan emisi medan yang
dapat mengawali terpaan balik busur api.
Letak isolasi pendukung kontak harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak gosong
karena panas yang ditimbulkan busur api. Isolator gosong akan memproduksi karbon
sehingga isolasi seakan-akan menjadi elektroda dan dari elektroda ini keluar elektron
hasil emisi termal yang dapat mengawali terjadinya terpaan busur api balik.
Pemutus daya ini digunakan untuk rangkaian dc dan ac tegangan rendah, dengan
kuat arus pada rangkaian sampai ratusan ampere. Khusus pemutus daya ac tegangan
rendah, kontaknya dapat dibuat dari bahan bertitiklebur rendah seperti kuningan dan
tembaga.

Untuk rangkaian bertegangan lebih tinggi, konstruksi kontak dan pemadam busur
api dibuat seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.19a. Busur api yang memanjang
karena dorongan udara, dipilah oleh tabir-tabir metal, sehingga terbentuk beberapa
segmen busur api yang terhubung seri. Jumlah jatuh tegangan seluruh segmen busur api
lebih besar daripada jatuh tegangan busur api yang tidak dipilah. Di samping itu, tabir
metal juga berfungsi menjadi pendingin bagi busur api. Pemutus daya ini digunakan
untuk tegangan beberapa ribu volt dan dapat memutuskan arus beberapa ribu ampere.
Pemutus daya udara jenis lain diperlihatkan pada Gambar 2.19b. Tabirnya dibuat
dari bahan isolasi, sehingga busur api dipaksa menelusuri permukaan isolasi. Dalam
hal ini pemadaman busur api terjadi karena: (a) efek pemanjangan busur api, (b) efek
pendinginan permukaan isolator dan (c) karena partikel bermuatan mempunyai peluang
yang besar untuk mengadakan rekombinasi. Pemutus daya ini digunakan untuk memutus
arus sampai 50 kA dan dapat digunakan pada rangkaian bertegangan sampai 10 kV.

Perurutus Daya Minyek {## ffrr*uif #reaf<er}


Konstruksi pemutus daya minyak telah diperlihatkan pada Gambar 2.2b. Bahan dasar
medium pemadam busur api pada pemutus daya ini adalah minyak mineral yang sudah
disuling. Penyulingan minyak dilakukan untuk mencegah endapan dan korosi yang
ditimbulkan sulfur dan bahan pencemar lainnya.
Ketika kontak dipisahkan, busur api akan terjadi di dalam minyak, sehingga minyak
menguap dan menimbulkan gelembung gas yang menyelubungi busur api, seperti
diperlihatkan pada Gambar 2.20.
Palans metal

Palang isolasi

Busur api

(a) Tabir metal

Kontak pemutus daya dengan tabir

(b) Tabir isolasi

Bab

Pemutus Daya

27

Busur api
Gelembung gas

Minyak

Gelembung gas pada sela kontak

Panas yang ditimbulkan busur api menaikkan temperatur minyak, sehingga minyak
meng-alami dekomposisi dan menghasilkan gas hidrogen. Gas hidrogen bersifat
menghambat produksi ion, sehingga membantu pemadaman busur api. Sementara itu,
minyak mendinginkan busur api dengan menghantarkan panas dari busur api ke tangki
pemutus daya. Keberhasilan pendinginan ini bergantung kepada luas permukaan busur
api yang bersentuhan dengan minyak dan daya hantar panas minyak. Adanya hidrogen
dan pendinginan seperti tersebut di atas, membuat minyak sangat efektif memutuskan
arus. Di samping itu, minyak sekaligus berfungsi sebagai bahan isolasi untuk mengisolir
bagian-bagian pemutus daya yang berbeda tegangan dengan tanah.
Kelemahan pemutus daya minyak adalah sebagai berikut

1.
2.
3.

4.

Minyak mudah terbakar dan jika mengalami tekanan dapat meledak.


Kekentalan minyak memperlambat pemisahan kontak, sehingga tidak cocok untuk
sistem yang membutuhkan pemutusan arus yang cepat.
Interaksi busur api dengan minyak menimbulkan karbonisasi dan memproduksi
gas hidrogen. Jika karbonisasi berlangsung lama akan terjadi endapan karbon dan
jika gas hidrogen bercampur dengan udara, maka dapat menimbulkan campuran
yang eksplosif.
Minyak akan mengalami degradasi jika bercampur dengan air atau karbon, maka
perlu diadakan pemeriksaan rutin terhadap sifat dielektrik dan sifat kimia minyak.

Telah dijelaskan bahwa pemadaman busur api bergantung pada metode pendinginan
dan jenis gas hasil dekomposisi minyak. Pengembangan pemutus daya minyak didasarkan

atas perbaikan metode pendinginan busur api. Pada Gambar 2.21 di halaman 28
diperlihatkan dua metode pendinginan busur api pada pemutus daya minyak. Kontak
tetap ditempatkan pada suatu bilik. Bilik diberi leher untuk jalan masuk dan keluar
kontak bergerak.
Pada Gambar 2.21a diperlihatkan suatu kontak yang sudah dipisahkan. Busur
api terjadi datam bilik berisi minyak. Gas yang timbul karena dekomposisi minyak
menimbulkan tekanan terhadap minyak, sehingga minyak juga terdorong ke bawah
melalui leher bilik. Di leher bilik, minyak berinteraksi langsung dengan busur api.
Hal ini akan menimbulkan pendinginan busur api, mendorong proses rekombinasi dan
menjauhkan partikel bermuatan dari lintasan busur api.
Jenis bilik kontak lain diperlihatkan pada Gambar 2.21b. Leher bilik terbuat dari
laminasi isolasi. Jika kontak bergerak ke bawah, minyak akan mengalir dari sela-sela
laminasi, sehingga minyak terdorong dengan arah radial menuju busur api. Ada juga
pemutus daya yang dirancang dengan alat tambahan, sehingga busur api yang berada

28

Peralatan Tegangan linggi

{-

Kontak tetap

'n

f-

Kontak tetap

Leher bilik

(a) Desakan minyak vertikal

(b) Desakan minyak radial

Pendinginan busur api pada pemutus daya minyak

di luar leher bilik didorong horizontal oleh suatu tabir isolasi, sehingga lintasan busur
api di luar leher bilik semakin panjang. Jenis pemutus daya ini dapat memutuskan arus
hubung singkat sampai

l0 kA pada rangkaian

bertegangan sampai 500 kV.

Pemertus ffiay* LSdara T*kan


Pemutus daya ini dirancang untuk mengatasi kelemahan pada pemutus daya minyak,
yaitu dengan membuat medium pemadam kontak dari bahan yang tidak mudah terbakar

dan tidak menghalangi mekanisme pemisahan kontak, sehingga pemisahan kontak


dapat dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat. Medium pemadam yang digunakan
adalah udara kering, bersih dan bertekanan tinggi. Karena media yang digunakan adalah
udara, maka resiko terbakar sangat kecil. Untuk menghasilkan udara bertekanan tinggi
pemutus daya ini dilengkapi dengan kompresor seperti diperlihatkan pada Gambar 2.22.

Tangki udara
bertekanan tinggi
Pemutus daya udara tekan

Bab

Pemutus Daya

29

daya udara tekan diperlihatkan pada Gambar 2.Z3.Kontak bergerak


digerakkan oleh suatu piston. Pada keadaan normal, piston didorong oleh suatu pegas,
sehingga kontak bergerak terhubung dengan kontak tetap. Bilik kontak dihubungkan
dengan suatu tangki berisi udara bertekanan tinggi melalui suatu katup. Jika terjadi arus
hubung singkat, katup akan terbuka, udara bertekanan tinggi keluar dari tangki menuju
bilik kontak dan mendorong piston sehingga kontak bergerak juga terdorong menjauhi
kontak tetap. Pada waktu yang bersamaan, udara bertekanan tinggi mendinginkan busur
api yang timbul pada saat pembukaan kontak. Selain mendinginkan busur api, udara
bertekanan tinggi juga menyingkirkan partikel bermuatan dari sela kontak, sehingga
pemulihan kekuatan dielektrik pada sela kontak berlangsung cepat.
Karena pemulihan kekuatan dielektrik pada sela kontak berlangsung cepat, maka
busur api berlangsung singkat, sehingga peluruhan material kontak karena busur api itu
lebih sedikit daripada peluruhan material kontak pada pemutus daya minyak. Dengan
kata lain, sela kontak pemutus daya udara tekan akan lebih tahan lama daripada kontak

Bilik kontak pemutus

pemutus daya minyak.


Kecepatan pemulihan kekuatan dielektrik pada sela kontak pemutus daya berpengaruh
terhadap jarak minimal sela kontak. Jika pemulihan kekuatan dielektrik berlangsung
cepat, maka panjang sela kontak dapat dibuat lebih pendek. Dengan demikian, ukuran

bilik kontak dapat dikurangi.


Dilihat dari arah tiupan udara, ada dua jenis pemutus daya udara tekan, yaitu
pemutus daya di mana udara ditiup satu sumbu dengan busur api dan pemutus daya
di mana udara ditiup memotong busur api. Pada Gambar 2.23a, Ddara ditiupkan satu
sumbu dengan busur api. Karena pemulihan kekuatan dielektrik berlangsung cepat,
maka panjang sela kontak pada saat kontak terbuka penuh dapat dibuat lebih pendek.
Tetapi, pada saat tekanan udara sudah berkurang, tegangan sistem dapat menimbulkan
tembus listrik pada sela kontak. Untuk mencegah terjadinya tembus listrik tersebut,
suatu pemisah dihubungkan secara seri dengan kontak, yang terbuka setelah kontak
pemutus daya terbuka.
Pada Gambar 2.23b, terllhat udara ditiupkan memotong busur api dan mendorong
busur api menelusuri permukaan tabir isolasi, sehingga busur api bertambah panjang'
Hal ini memberi efek pendinginan terhadap busur api dan memberi peluang bagi
partikel bermuatan untuk mengadakan rekombinasi. Pada pemutus daya ini, panjang sela
kontak pada saat kontak terbuka penuh dapat dibuat lebih besar, sedemikian besarnya

*-

U
!-.,: P
.

i.

;'

mlsolasi
iffi
i; i

lldara .- -

..'1--\ !.-

Kontak

-*on*

,/

*'4.

__l<-

..

Udara
--------->

.'.. Udara

<_

Isolasi

I l*_ ***o
(a) Udara satu sumbu dengan busur api

Bilik kontak pemutus daya udara tekan

Isolasi

{-

Kontak

(b) Udara memotong busur apr

30

Peralatan Tegangan

llnggi

sehingga tegangan sistem tidak membuat sela kontak tembus listrik. Dengan demikian,
pemutus daya ini tidak perlu diperlengkapi dengan pemisah seperti halnya pada jenis
pemutus daya di atas. Pemutus daya jenis ini mampu memutus arus sampai 40 kA
pada rangkaian ac bertegangan sampai 765 kV.
Meskipun panjang sela kontak dapat dikurangi, konstruksi bilik kontak masih lebih
rumit dibandingkan dengan bilik kontak pemutus daya minyak. Kerumitan juga ditemukan
pada konstruksi penggerak kontak. Di samping itu, harus diwaspadai kebocoran udara
pada bilik kontak dan kebocoran pada tabung penghubung kompresor dengan bilik
kontak. Perlengkapan kompresor juga membutuhkan perawatan rutin.

Fegitutus Say* Vakurn


Pada pemutus daya vakum, medium pemadam adalah vakum antara (10-7 - 10-5 torr).
Vakum memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi dan merupakan bahan pemadam api
yang lebih unggul daripada medium pemadam busur api lainnya. Contoh suatu pemutus
daya vakum diperlihatkan pada Gambar 2.24.

Kontak pemutus daya ditempatkan pada suatu bilik vakum seperti diperlihatkan
pada Gambar 2.24. Untuk mencegah udara masuk ke dalam bilik, maka bilik harus
ditutup rapat dan kontak bergeraknya diikat ketat dengan puputan logam.
Jika kontak dibuka, maka pada kontak yang berperan sebagai katoda terjadi emisi
termal dan medan tinggi. Kedua jenis emisi ini memproduksi elektron-elektron bebas
yang bergerak menuju anoda dan menimbulkan busur api. Dalam perjalanannya menuju
anoda, elektron-elektron bebas ini tidak bertemu dengan molekul udara sehingga tidak
terjadi ionisasi tumbukan. Akibatnya, di sela kontak tidak ada penambahan elektron
bebas. Ketika arus sama dengan nol, busur api padam. Karena elektron bebas hasil
ionisasi tidak ditemukan, maka kekuatan dielektrik vakum naik sangat cepat dan lebih
cepat daripada kenaikan kekuatan dielektrik pemutus daya yang lain. Akibatnya, tidak
terjadi lagi tembus listrik pada sela kontak atau peristiwa busur api tidak terulang,
sehingga pemutusan berlangsung sangat cepat.
Kelebihan-kelebihan pemutus daya vakum antara lain adalah:

l.
2.
3.
4.
5.
6.

Konstruksinya kompak (lihat contoh pada Gambar 2.24), andal dan tahan lama
Tidak menimbulkan bahaya kebakaran
Ketika dioperasikan, tidak memproduksi gas
Dapat memutuskan arus hubung singkat yang tinggi
Perawatannya mudah dan murah

Mampu menahan tegangan impuls petir

Puputan

logam

t
Kontak
bergerak

Pemutus daya vakum

Bab

1.
8.

Pemutus Daya

31

Energi yang dikonsumsi busur api rendah


Konstruksi penarik kontak sederhana, sehingga dapat digerakkan peralatan mekanik
bertenaga rendah.

Pemutr.rs Daye $F6


Dewasa ini, pemakaian pemutus daya SF6 sedang berkembang pesat, terutama pada
sitem tegangan tinggi. Konstruksi pemutus daya SF6 diperlihatkan pada Gambar 2.25.
Prinsip kerjanya sama dengan pemutus daya udara-tekan dan pemutus daya
minyak. Perbedaannya hanya pada medium pemadam busur api. Pada pemutus daya
SF6, medium pemadam busur api yang digunakan adalah gas SF6, yang pada posisi
kontak tertutup bertekanan +2.8 kglcm2.
Gas SF6 sebagai medium pemadam busur api pemutus daya diminati karena
memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut.

l.
2.

3.

4.
5.
6.
7.
8.

Sifat kimianya yang stabil, tidak mudah terbakar, tidak menimbulkan korosi pada
bahan logam, tidak beracun, tidak berwarna dan tidak berbau'
Gas SF6 memiliki sifat elektronegatif, yaitu sifat molekulnya yang aktif menangkap
elektron bebas, sehingga molekul netral tersebut berubah menjadi ion negatif. Sifat
ini salah satu yang membuat SF6 memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi. Sifat
elektronegatif gas SF6 mempercepat pemulihan kekuatan dielektrik medium di
sela kontak sehingga pemadaman busur api berlangsung lebih cepat.
Pada kondisi yang sama, kekuatan dielektrik gas SF6 dua sampai tiga kali lipat
daripada kekuatan dielektrik udara, bahkan pada tekanan tertentu hampir sama
dengan minyak. Sifat ini membuat pemutus daya SF6 sangat efektif digunakan
pada sistem tegangan tinggi dan mampu memutuskan arus tinggi.
Jika gas SF6 terkontaminasi udara, kekuatan dielektriknya tidak banyak berubah.
Daya hantar panas gas SF6 lebih baik daripada udara sehingga dapat digunakan
untuk pendinginan konveksi.
Interaksi busur api dengan gas SF6 tidak menimbulkan endapan karbon seperti
halnya pada pemutus daya minyak.

Biaya perawatan murah.


Konstruksi pemutus daya SF6 sederhana dan ringan sehingga biaya pembuatan
fondasinya murah.

Pemutus daya SF6

32

Peralatan Tegangan linggi

Leher
bejana

Bilik kontak
(4) Kontak tertutup

Bilik kontak
(b) Kontak terbuka

Pemadaman busur api pada pemutus daya SF6

Proses pemadaman busur api dengan gas sF6 dapat dijelaskan dengan bantuan
Gambar 2.26. Bagian utama suatu pemutus daya SF6 adalah kontak bergerak, kontak
tetap, bilik kontak berisi gas SF6 dan tangki gas SF6 bertekanan ringgi +14 kglcmz.
Tangki gas dihubungkan dengan bilik kontak melalui sebuah katup. Jika kontak terbuka,
katup akan membuka, sehingga gas SF6 dari tangki mendorong gas SF6 yang terdapat
pada bilik kontak.
Ketika kontak terbuka, terjadi busur api. Pada saat yang bersamaan, katup penghubung bilik dengan tangki terbuka, sehingga gas SF6 keluar dari tangki mendorong
gas SF6 yang ada di bilik kontak. Gas SF6 yang ada pada bilik konrak menyembur
melalui leher bilik kontak sambil mendinginkan busur api. Pendinginan busur api dan
sifat elektronegatif yang dimiliki gas SF6 membuat pemulihan kekuaran dielektrik SF6
berlangsung cepat, sehingga ketika busur api padam, busur api tidak terulang lagi.
Kelemahan pemutus daya SFu adalah sebagai berikut.

a.
b.

Harga gas SF6 yang mahal mengakibatkan harga pemutus daya SF6 relatif mahal.
Setelah pemutus daya SF6 bekerja, perlu dilakukan rekondisi gas SF6, sehingga
dibutuhkan peralatan untuk rekondisi tersebut.

22

rIRTIIV]BAI\GAhI fiALAM PTILIILIH&ru PTMUTLJS DAYA


Setiap pemutus daya dirancang sesuai dengan tugas yang akan dipikulnya. Ada beberapa

hal yang perlu dipertimbangkan dalam rancangan suatu pemutus daya, yaitu:

a.
b.
c.
d.
e.

f.
o
b.
h.

Tegangan efektif tertinggi dan frekuensi daya jaringan yang akan menggunakan
pemutus daya itu. Nilainya bergantung kepada jenis pembumian titik netral sistem.
Arus maksimum kontinu yang akan dialirkan melalui pemutus daya. Nilai arus ini

bergantung kepada arus maksimum sumber daya atau arus nominal beban yang
akan dilayani pemutus daya.
Arus hubung singkat maksimum yang akan diputuskan pemutus daya.
Durasi maksimum yang diperbolehkan dari arus hubung singkat. Hal ini berhubungan
dengan waktu pembukaan kontak yang dibutuhkan.
Jarak bebas antara bagian bertegangan tinggi dengan objek lain di sekitarnya.
Jarak rambat arus bocor pada isolatornya.
Kekuatan dielektrik media isolasi sela kontak.
Iklim dan ketinggian lokasi penemparan pemutus daya.

Bab

33

Pemutus Daya

Tegangan pengenal suatu pemutus daya dirancang untuk lokasi yang ketinggiannya
maksimum 1000 m di atas permukaan laut. Jika pemutus daya dipasang di lokasi yang
ketinggiannya lebih daripada 1000 m, maka tegangan operasi maksimum pemutus daya
harus dikoreksi dengan faktor yang diperlihatkan pada Tabel 2.1.

Eksponen Faktor Koreksi Udara

2.1

Ketinggian (m)

Faktor koreksi

1000

1.00

t212

0,98

15 15

0.95

3030

0,80

KAPA$

iIA$

PEh,4

LJTUS ilAY&

Pada keadaan normal suatu pemutus daya dialiri arus yang sama dengan arus beban.
Jika terjadi hubung singkat tiga fasa setimbang pada sistem, seperti diperlihatkan pada
Gambar 2.27, arus hubung singkat (1") mengalir pada pemutus daya CB. Setelah itu,
kontak pemutus daya segera membuka untuk memutuskan arus hubung singkat tersebut.
Oleh karena itu, kapasitas suatu pemutus daya bergantung kepada besarnya arus hubung
singkat yang diperkirakan akan mengalir pada pemutus daya tersebut. Berikut ini akan
dijelaskan tentang bentuk arus hubung singkat yang mungkin melalui suatu pemutus
daya dan hubungan arus tersebut dengan kapasitas pemutus daya.

&nu* Herhung Simgkat


Jika suatu pemutus daya memutuskan arus hubung singkat, bentuk sesaat arus yang
akan diputuskan bergantung kepada lokasi terjadinya hubung singkat dan jenis hubung
singkat yang terjadi (satu fasa ke tanah, fasa-ke fasa atau tiga fasa). Jika terjadi hubung
singkat tiga fasa setimbang ketika tegangan sesaat ac sama dengan nol, dan lokasi
hubung singkat jauh dari generator, maka arus hubung singkat sesaat adalah seperti
diperlihatkan pada Gambar 2.28 di halaman 34.
Dilihat dari kesimetrisan bentuk gelombang arus terhadap sumbu waktu, maka arus
hubung singkat pada Gambar 2.28 dikelompokkan menjadi dua, yaitu: arus hubung

singkat asimetris dan arus hubung singkat simetris.


Jika lokasi hubung singkat dekat terminal generator, maka bentuk arus hubung
singkat sesaat adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 2.29 di halaman 34. Pada

Hubung
singkat

i;;;;;

,5

Peristiwa hubung singkat pada suatu sistem dan rangkaian ekuivalennya

..---->
1,,

34

Peralatan Tegangan Tlnggi

2l^,k =

2"/2 1,,

Arus
asimetris

T,

l^urr= t/2 I*

Arus hubung singkat jika lokasi hubung singkat jauh dari generator

Gambar 2.29 drperlihatkan tiga bentuk gelombang arus hubung singkat, yaitu: arus
subtransien (1") yang berlangsung kurang lebih satu sekon setelah peristiwa hubung
singkat; arus transien (1') yang berlangsung antara 0,2 - 2 sekon setelah peristiwa
hubung singkat; dan arus tunak (steadv state, [) yang berlangsung setelah komponen
arus searah menjadi nol. Arus subtransien dan arus transien merupakan arus asimetris,
sedangkan arus tunak adalah arus simetris.

Kapnsitas Arus $esaat {dldomenfary Fufy}


Sesaat setelah terjadi peristiwa hubung singkat pada suatu jaringan sistem tenaga
listrik, pemutus daya akan dilalui arus hubung singkat subtransien. Nilai efektif dari
arus subtransien ini adalah:
CV,

^/:
+ Xz
e

2.17

Arus tunak

.(0
F-f,1

zJzr

ryW-r

Arus hubung singkat jika lokasi hubung singkat dekat dengan generator

Bab

35

Pemutus Daya

TABEL 2.2
Reaktansi Mesin untuk Perhitungan Arus Hubung Singkat

Jenis Mesin

Reaktansi (7o)

Listrik
K,,

Xo'

-22
t2 -30
20-40

14-35
20-45
20-40

Motor sinkron berkecepatan tinggi

15

25

80

Motor sinkron berkecepatan rendah

35

50

100

Motor kompensasi

25

40

160

Turbogenerator
Generator salient pole dengan kumparan peredam
Generator salient pole tanpa kumparan peredam

di mana

X,)

140

300

80

180

80

180

V=
n

Tegangan nominal generator


1,05 untuk sistem bertegangan rendah
= 1,1 untuk sistem bertegangan di atas 1000 V
R"= Resistansi ekuivalen semua R dan X yang dilalui arus hubung singkat,
terhitung dari sumber arus sampai dengan ke titik gangguan
X"= Reaktansi ekuivalen semua R dan X yang dilalui arus hubung singkat,
terhitung dari sumber arus sampai dengan ke titik gangguan
L_

Nilai R dan X untuk setiap komponen dalam sistem dikoreksi

sebagaimana digenerator
ditetapkan
reaktansi
perhitungan
ini,
Dalam
IEC
60909.
rekomendasikan dalam
sama dengan reaktansi subtransien yang sudah dikoreksi. Reaktansi mesin-mesin
pada umumnya diperlihatkan pada Tabel 2.2.

listrik

Resistansi kumparan generator dapat diperkirakan sebagai berikut:


Generator > 100 MVA
Generator > 100 MVA
Generator bertegangan rendah

: Rr
: Rr

- 0,05 Xo"
- 0,07 Xi'

:R*=Q,|J;g,

Arus subtransien menimbulkan gaya mekanis yang sangat tinggi pada kontak-kontak
pemutus daya. Oleh karena itu, suatu pemutus daya harus mampu menahan puncak
arus hubung singkat subtransien tertinggi atau puncak arus subtransien pada setengah
periode pertama. Kemampuan suatu pemutus daya menanggung arus subtransien tersebut

disebut kapasitas arus sesaat (momentary duQ).


Kapasitas arus sesaat adalah nilai puncak arus hubung singkat subtransien tertinggi
yang dapat ditanggung oleh pemutus daya tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus
daya tersebut. Kapasitas arus sesaat suatu pemutus daya ditentukan dengan terlebih
dahulu menghitung nilai efektif arus subtransien. Berdasarkan gambar 2.28 dan 2.29,
suatu pemutus daya harus mampu menanggung puncak arus hubung singkat Io YanE
besarnya . 2^/2 1". Dalam praktiknya, nllai Io selalu lebih kecil daripada < 2^/2'1" atat
dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan sebagai:

Io=k,xt/2 I'

2.t8

Faktor ( tergantung kepada komponen arus searah 1r., sedangkan .Ir, tergantung
kepada perbandingan R, dengan Xr. Faktor ft, dapat dihitung dengan persamaan:
R

1-!

k"=1,02x0,98e-x"

2.19

36

Peralatan Tegangan Tinggi

Iika vn, adalah tegangan fasa-ke fasa sistem sebelum terjadi hubung singkat, maka
kapasitas daya sesaat pemutus daya adalah:

s- = {3 v*x I,

2.20

Kapasitas Pemutusan Arus (Inferrupting Current Capacityl


Dalam praktiknya, pemutus daya membuka setelah arus hubung singkat berlangsung 2,5
perioda, atau pada masa transien. oleh karena itu, suatu pemutus daya harus mampu
memutuskan arus transien atau arus simetris tanpa menimbulkan kerusakan pada kontak
pemutus daya. Kapasitas suatu pemutus daya untuk memutuskan arus hubung singkat
disebut kapasitas pemutusan arus (interrupting current capacie). Kapasitas pemutusan
arus suatu pemutus daya adalah nilai efektif arus hubung singkat transien tertinggi yang
dapat diputuskan pemutus daya tanpa menimbulkan kerusakan pada kontak pemutus daya.
Berdasarkan Gambar 2.29,arus transien pada saat r = r.,lebih besardaripada arus
ketika t = /.,. Jika pemutus daya membuka pada saat I = r., maka arus yang diputuskan
lebih besar ilaripada arus yang diputuskan ketika pemutus daya membuka pada saat r
= r.,. Maka. kapasitas pemutusan arus pemutus daya tergantung kepada waktu tunda
pembukaan pemurus daya, yaitu waktu keterlambatan minimal untuk pemutus daya
membuka kontaknya dihitung dari saat terjadinya peristiwa hubung singkat.
Kapasitas pemutusan arus suatu pemutus daya ditetapkan dengan menghitung
terlebih dahulu nilai efektif arus hubung singkat subtransien (/,,) dengan persamaan
2. 17. Nilai efektif arus transien lebih kecil daripada nilai efektif arus subtransien. Maka,
nilai arus transien ketika pemutus daya membuka kontaknya dapat dituliskan sebagai:

I,r' = kr, I"

2.21

Dalam hal ini k, adalah faktor pengali arus transien yang tergantung kepada waktu
tunda pemutusan ams (7,) dan perbandingan arus subtransien (1') dengan arus nominal
generator (1,) seperti yang diperlihatkan pada gambar 2.30.
k1

1,00

0,95
0,90

N
\
\

0,85
0,80
0,75

J,=0'1 sekon_

0,70
0,65

7, = Waktu tunda pembukaan CB

0,60

0,55
0,50

T.

1,,

nomlnal generatol

GAMBAR 2.30
Faktor pengali arus transien /kJ

rl

> 0,25 sekor

Bab

Pemutus Daya

37

Kemampuan suatu pemutus daya untuk memutuskan arus harus sama dengan atau
lebih besar daripada arus transien 1,,' pada Persamaan 2.21. Dengan demikian, kapasitas
suatu pemutus daya dapat dihitung dengan persamaan berikut ini:
S,.

2.11

{5

Vor

x Ii,'

2.22

TEGANGAN KERJA PEMUTUS DAYA


Kemampuan pemutusan arus suatu pemutus daya dinyatakan dalam keadaan tegangan
sama dengan tegangan pengenal maksimumnya. Pemutus daya tidak diperbolehkan
bekerja di atas tegangan pengenal maksimumnya. Jika suatu pemutus daya bekerja pada
tegangan di bawah tegangan pengenal maksimumnya, maka kemampuan pemutusan
arus pemutus daya semakin besar, yakni menjadi:

tr=
Dalam hal

ini 1, = Kemampuan

tn*x\

2.23

pemutusan arus pada tegangan V,

= Kemampuan pemutusan arus pengenal pemutus daya


V*,r= Tegangan pengenal maksimum pemutus daya
V, = Tegangan fasa-ke-fasa sistem yang menggunakan pemutus daya

1or,

tersebut

Menurut persamaan di atas, kemampuan pemutusan arus pemutus daya semakin


besar jika dipakai pada sistem yang tegangannya semakin rendah. Tetapi setiap pemutus
daya memiliki kemampuan maksimum dalam memutuskan arus hubung singkat, sehingga

sekalipun tegangan sistem semakin rendah, kemampuan pemutusan arus tidak boleh
melebihi nilai maksimum tersebut. Nilai maksimum kemampuan pemutusan arus suatu
pemutus daya adalah:

1-uk,=kxIo*
Nilai ft bergantung kepada spesiflkasi rancangan pembuat pemutus

2.24
daya.

Sebagai contoh, misalkan suatu pemutus daya mempunyai tegangan pengenal


maksimum 24 kY, kemampuan pemutusan arus pengenal 6000 A dan faktor k = 2,2.
Kemampuan pemutusan arus maksimum pemutus daya ini adalah: 2,2 x 6O0O A =
13.200 A. Artinya, pemutus daya ini dapat dipasang pada suatu sistem yang tegangannya
lebih rendah daripada 24 kY, asalkan arus hubung singkat yang akan diputuskannya
tidak lebih daripada 13.200 A.

Bab 3

Konduktor

onduktor adalah salah satu komponen utama peralatan listrik dan instalasi listrik.
Konduktor berperan untuk menyalurkan arus dari satu bagian ke bagian lain dan
juga untuk menghubungkan bagian-bagian yang dirancang bertegangan sama.
Pada sistem tenaga listrik, konduktor bertegangan tinggi dijumpai pada transmisi, gardu
induk, jaringan distribusi dan panel daya. Pemilihan jenis dan ukuran konduktor harus
memenuhi syarat-syarat teknis dan harus ekonomis. Oleh karena itu, dalam bab ini
akan diuraikan jenis-jenis konduktor dan parameter yang perlu dipertimbangkan dalam

pemilihan ukuran konduktor.

3.1

BAHAN DAN JENIS KONDUKTOR


Bahan konduktor yang paling umum digunakan adalah tembaga dan aluminum. Dilihat
dari jenis isolasi yang digunakan, konduktor terdiri dari dua jenis, yaitu konduktor atau
kawat telanjang dan konduktor berisolasi atau kabel.
Konduktor atau kawat telanjang digunakan untuk:

1.
2.
3.

Menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya
Menyalurkan energi listrik dari gardu induk ke trafo distribusi
Membagi penyaluran daya pada gardu induk dan panel

Kabel tegangan tinggi digunakan pada jaringan distribusi, terutama di kawasan


perkotaan yang penduduknya sangat rapat. Kabel tegangan tinggi digunakan juga untuk
menyalurkan energi listrik dari generator ke trafo daya, sedangkan pada gardu induk
digunakan untuk menyalurkan energi listrik dari trafo daya ke panel kontrol dan dari
panel kontrol ke jaringan distribusi hantaran udara.

3.2

KAWAT TELANJANG
Konduktor kawat telanjang pada umumnya terbuat dari bahan tembaga, aluminium
dan aluminium campuran. Khusus untuk transmisi umumnya digunakan All-Aluminum
Conductor (AAC), All-Aluminum-Alloy Conductor (AAAC), Aluminum Conductor Steel
Reinforced (ACSR) dan Aluminum Conductor Alloy Reinforced (ACAR).

Bab

ffiffi
(a) Konduktor

batang

(b) Kawat pilin

(c) Konduktor rongga

Konduktor

39

(d) Konduktor berkas

GAMBAB 3.1
Bentuk penampang konduktor telanjang

Dilihat dari bentuk penampangnya, konduktor telanjang terdiri dari konduktor


batangan, kawat pilin, konduktor berongga dan konduktor berkas. Bentuk penampang

keempat konduktor tersebut diperlihatkan pada Gambar 3.1.


Konduktor batangan biasanya digunakan pada panel daya. Kawat pilin digunakan
untuk jaringan distribusi dan transmisi, sedangkan konduktor berongga dan konduktor
berkas digunakan pada transmisi tegangan tinggi. Konduktor berongga juga digunakan
pada kabel yang mengalirkan arus besar.
Jika suatu konduktor bertegangan, maka di sekitar konduktor akan timbul medan
elektrik dan medan elektrik tertinggi terjadi pada permukaan konduktor. Kuat medan
elektrik tersebut bergantung kepada diameter dan kehalusan permukaan konduktor. Kuat
medan elektrik pada permukaan konduktor akan semakin besar jika diameter konduktor
semakin kecil. Kuat medan elektrik pada permukaan konduktor juga semakin besar jika
permukaannya semakin kasar. Jika kuat medan elektrik di permukaan tersebut melebihi
kekuatan dielektrik udara atau media di sekitarnya, maka pada udara atau media yang
bersentuhan dengan permukaan konduktor akan terjadi peristiwa pelepasan muatan,
yang disebut korona. Korona yang terjadi pada transmisi tegangan tinggi menimbulkan
rugi-rugi daya dan gangguan komunikasi. Untuk mencegah korona, maka kuat medan
elektrik di permukaan harus dikurangi hingga lebih kecil dari kekuatan dielektrik
udara atau media di sekitarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbesar diameter
penampang konduktor, tetapi hal ini tidak ekonomis dan membuat konduktor semakin
kaku. Cara yang lebih ekonomis adalah dengan menggunakan penghantar berkas. Cara
lain adalah menggunakan konduktor berongga, dengan cara ini dapat diperoleh konduktor
berdiameter lebih besar dengan luas penampang yang sama dengan konduktor masif.

3.3

KABEL

di halaman 40 diperlihatkan penampang konstruksi suatu kabel tiga


fasa. Bagian utama dari suatu kabel adalah inti atau konduktor, bahan isolasi, bahan

Pada Gambar 3.2

pengisi, bahan pengikat, bahan pelindung beban mekanik dan selubung pelindung luar.
Semua bahan tersebut harus membentuk suatu konstruksi yang membuat kabel menjadi
fleksibel dan tetap memiliki kekuatan mekanis yang memadai.
Kabel tegangan tinggi pada umumnya berinti tunggal dan berinti tiga, bahannya
terbuat dari pilinan serat tembaga atau aluminum. Bentuk penampangnya tidak berupa
lingkaran tetapi dibuat berbentuk sektoral agar dengan diameter luar yang tetap diperoleh
luas penampang inti yang lebih besar. Atau dengan luas penampang inti yang tetap
diperoleh diameter luar yang lebih kecil, sehingga ongkos pembuatannya lebih murah.

40

Peralatan Tegangan Tinggi

Isolasi

lnti (konduktor)
Pengisi

Isolasi pengikat
Logam pembalut
Bantalan
Logam pelindung
Selubung luar

GAMBAR 3.2
Penampang kabel tegangan tinggi

Inti dibungkus dengan bahan isolasi utama yang sifat mekanisnya fleksibel sehingga
mudah digelar dan perubahan kekuatan mekanisnya tidak signifikan jika temperatur
berubah dari temperatur kamar sampai temperatur operasi. Sifat termal inti kabel yang
utama adalah: memiliki ketahanan termal yang tinggi, koef,sien muai panas rendah, daya
hantar panas tinggi dan tidak mudah terbakar. Sifat elektrik bahan isolasi yang utama
aclalah: memiliki kekuatan dielektrik yang tinggi agar diameter luar dapat dikurangi
sehingga ongkos pembuatan kabel berkurang; resistansi isolasinya tinggi; dan rugi-rugi
dielektriknya rendah. Sedangkan sifat kimia yang diinginkan adalah tidak bereaksi
dengan asam dan alkali pada temperatur kerja, dan tidak mengisap air atau kedap air.
Bahan isolasi yang digunakan antara lain minyak, polimer dan kertas yang
diimpregnasi minyak mineral. Jika bahan isolasi utama berupa bahan padat seperti
polymer dan karet, maka di antara konduktor dengan isolasi utama dapat terjadi rongga.
karena permukaan konduktor yang tidak benar-benar mulus. Untuk mengatasi hal ini,
maka di antara konduktor dengan isolasi utama dibuat lapisan tipis yang terbuat dari
bahan silikon.
Ketiga inti kabel diikat dengan bahan isolasi yang disebut dengan isolasi pengikat.
Ruang kosong yang terdapat di antara isolasi utama maupun antara isolasi utama dengan
isolasi pengikat diisi dengan bahan isolasi yang kualitasnya lebih rendah, sepefti jerami
atau potongan-potongan kertas. Kemudian isolasi pengikat dibungkus dengan selubung
yang terbuat dari lempengan timah. Permukaan luar selubung timah dilapisi dengan pita
atau kawat baja untuk meninggikan kekuatan mekanis kabel. Lapisan baja ini harus
dilapisi dengan bahan anti-karat. Selubung timah dilapisi lagi dengan bantalan, yaitu
suatu bahan yang sifatnya elastis. Bantalan berfungsi untuk melindungi isolasi pengikat
dari tekanan mekanis yang berlebihan jika terjadi benturan mekanis pada bagian luar
kabel. Kemudian bantalan diselubungi dengan pelindung dari baja anti-karat yang
berfungsi untuk melindungi kabel dari beban mekanis yang berasal dari luar kabel.
Lapisan terakhir adalah bahan pembungkus yang mencegah masuknya air ke dalam
bahan pelindung.
Jika bahan isolasi utama kabel adalah kertas, maka kertas harus dikeringkan terlebih
dahulu. Kertas yang dijumpai sehari-hari selalu lembab karena serat kertas menyerap
air dari udara di sekitarnya. Pengeringan kertas dilakukan dalam bejana vakum pada

Bab

Konduktor

41

temperatur 120 - 135 'C. Setelah itu, kertas dicelupkan dalam minyak mineral dan
resin dan dikeringkan dalam bejana yang tertutup sangat rapat. Minyak harus memiliki
kekentalan yang rendah pada temperatur pencelupan tetapi kekentalannya tinggi pada
temperatur operasi kabel, koefisien muainya rendah dan titik bekunya harus di bawah
temperatur operasi kabel. Resin adalah bahan tambahan untuk mencegah terjadinya
oksidasi yang dapat mempercepat penuaan dan menimbulkan pelapukan. Bahan tambahan
juga diperlukan untuk mencegah penurunan viskositas minyak. Tegangan tembus listrik
gabungan keftas dengan minyak lebih tinggi dari tegangan tembus masing-masing bahan
jika sendiri-sendiri.
Ada kabel yang bahan isolasinya berupa serat yang diimpregnasi minyak. Hal
ini bertujuan agar kabel lebih fleksibel sehingga mudah digelar. Penyambungan pada
kabel jenis ini lebih mudah karena ketika penyambungan dilakukan minyak tidak
keluar dari ujung-ujung kabel sehingga tidak terjadi rongga-rongga udara dalam isolasi
kabel. Kelemahan utama kabel ini terletak pada kemungkinan terjadinya gelembung
gas ketika beroperasi melayani beban yang berfluktuasi di mana kabel berulang-ulang
mengalami pemanasan dan pendinginan. Karena koefisien pemuaian bahan isolasi
kabel lebih besar dari bahan pembungkusnya (biasanya dari timah), maka pemanasan
kabel akibat pembebanan maksimum akan mengakibatkan pemuaian bahan isolasi lebih
besar daripada pembungkusnya, sehingga pembungkus tersebut membengkak. Ketika
beban berkurang akan terjadi pendinginan yang mengakibatkan bahan isolasi menyusut
sehingga terdapat rongga-rongga di antara pembungkus dengan isolasi. Lama-kelamaan
rongga tersebut akan terisi dengan gas yang berasal dari bahan isolasi. Melalui proses
difusi, rongga-rongga gas tersebut menyelusup ke permukaan inti kabel, yaitu kawasan
di mana intensitas medan elektrik maksimal. Di kawasan ini, rongga-rongga gas dapat
mengalami tembus listrik sehingga terjadi peluahan sebagian (partial dist:harge) di
dalam kabel. Peluahan sebagian ini merupakan awal terjadinya tembus listrik pada
bahan isolasi. Terjadinya peluahan sebagian dapat dicegah dengan mengurangi intensitas
medan elektrik pada permukaan inti kabel, yaitu dengan menambah tebal bahan isolasi.
Akibatnya, ongkos pembuatan kabel semakin tinggi. Itu sebabnya kabel ini hanya
digunakan untuk tegangan bolak-balik sampai 35 kV saja. Di atas tegangan tersebut
pengurangan intensitas medan elektrik dengan menambah tebal bahan isolasi tidak
ekonomis lagi.
Jenis bahan isolasi kabel lain adalah kertas yang diimpregnasi dengan minyak
bertekanan. Kabel ini digunakan untuk transmisi tegangan tinggi. Minyak bertekanan
akan mencegah terbentuknya rongga-rongga gas dalam kabel, karena aliran minyak dalam
kabel akan segera mengisi rongga tersebut dengan minyak. Dengan cara ini, kelemahan
yang terdapat pada kabel berisolasi serat dapat diatasi, tetapi ongkos pembuatannya
lebih tinggi karena adanya perangkat tambahan, yaitu alat untuk membuat minyak tetap
befiekanan.

3.4

PARAMETER KONDUKTOR
Jika suatu konduktor dialiri arus listrik maka pada konduktor akan timbul panas akibat
rugi-rugi daya (r2r). Panas ini akan membuat temperatur konduktor naik. Di samping
itu, temperatur konduktor juga dapat naik karena adanya pengaruh dari sumber panas
di sekitarnya, misalnya panas matahari, panas mesin-mesin, dan sumber panas lainnya.
Agar sifat fisis bahan konduktor tidak berubah, maka kenaikan temperatur konduktor
dibatasi sampai 15 "C. Oleh karena itu arus kontinu yang mengalir pada konduktor
harus dibatasi, sedemikian hingga pada temperatur 75 'C, jumlah panas yang timbul

42

Peralatan Tegangan lInggi

pada konduktor sama dengan jumlah panas yang disebarkan konduktor ke medium
sekitarnya. Arus tertinggi yang dapat dialirkan secara kontinu oleh suatu konduktor di
mana arus tersebut tidak menimbulkan kenaikan temperatur konduktor lebih dari 75 .C
disebut daya hantar arus (curuent carrying capacity). Dalam pemilihan suatu konduktor,
perlu diperhatikan agar arus kontinu yang akan dialirkan tidak melebihi daya hantar
arus konduktor yang dipilih.
Jarak atau spasi antar konduktor ditetapkan sedemikian sehingga tidak terjadi
peluahan sebagian atau korona pada permukaan konduktor. untuk itu kuat medan
elektrik pada permukaan setiap konduktor perlu diketahui. Kuat medan elektrik tertinggi
yang ditemukan harus lebih rendah dari kekuatan dielektrik bahan isolasi utama. Pada
transmisi hantaran udara, kuat medan pada permukaan konduktor direduksi dengan
menggunakan penghantar berkas (bundled conductor). Di bawah ini diberikan formula
perhitungan kuat medan elektrik tertinggi pada permukaan konduktor sistem tiga fasa
yang diperoleh secara aproksimasi.

kuv

E_

"maks -

Dalam hal

ini: "/ =
fta

nrorn(ry)

3.1

Jarak antar konduktor fasa (m)


Faktor koreksi kuat medan konduktor berkas yang bergantung
kepada jumlah konduktor per fasa

r" = Jai-jari ekuivalen konduktor (m)


rr = Iari-jari luar konduktor (m)
n = Jumlah berkas konduktor per fasa

Untuk konduktor tunggal, re sama dengan jari-jari luar konduktor (rr). Untuk
konduktor berkas denganjarak antar konduktor sama dengan s meter, jari-jari ekuivalen
dihitung dengan persamaan di bawah ini:

r"={ios, -. su1

3.2

Nilai ft, bergantung kepada jumlah berkas konduktor per fasa, yang besarnya adalah
seperti diperlihatkan pada Tabel 3.1.
TABEL 3.1

Faktor ko Konduktor Berkas


n
2

Susunan

kb

oo
o

oo
oo
oo

t*#
)r

2r,

tE

*-4,

3r,-tD

l*---

Bab

Konduktor

43

Jarak antar konduktor pada jaringan hantaran udara, selain dibatasi oleh medan
tertinggi yang diizinkan, dibatasi juga oleh jarak ayunan konduktor jika ditiup angin'
Jarak ayunan bergantung kepada kecepatan angin, diameter konduktor, berat jenis
konduktor, lendutan dan jarak rentangan. Konduktor yang lebih ringan, spasinya harus
lebih besar daripada konduktor yang lebih berat.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pemilihan konduktor adalah resistansinya,
kekuatan mekanisnya, jari-jari geometris rata-rata (GMR = geometric mean radius) dan
diameter luarnya. Resistansi konduktor berpengaruh terhadap rugi-rugi daya dan jatuh
tegangan (voltage drop) pada konduktor. Semakin besar resistansi suatu konduktor.
semakin besar rugi-rugi daya dan jatuh tegangan pada konduktor tersebut'
GMR dan diameter luar berpengaruh terhadap reaktansi induktif dan kapasitif
konduktor. Untuk jaringan hantaran udara tiga fasa yang ditransposisi, yang jari-jari
geometris rata-rata konduktornya sama dengan GMR mete\ panjang konduktornya
sama dengan i kilometer dan frekuensi tegangannya sama dengan f (Hz)' maka nilai
reaktansinya dapat dihitung dengan rumus di bawah ini:
3.3

3.4

ohm

3.5

PEMILIHAN UKURAN KONDUKTOR

Ditinjau dari Segi Ekonomi


Ukuran konduktor transmisi dapat ditentukan berdasarkan pertimbangan ekonomi dan
teknis. Menurut Kelvin, biaya tahunan penyaluran adalah:

Biaya rahunon
Pada rumus

=3

+;#. 1#

3.5

di atas: H" = Harga energi terbuang ($/kW-tahun)

1 = Kuat arus masing-masing konduktor


R = Resistansi masing-masing konduktor/meter
Ht = Harga konduktor/kilogram
m' = Beral semua konduktor dalam

kilogram/meter

b, = Bunga uang/tahun dalam Persen

Biaya minimum diperoleh jika harga tahunan energi terbuang sama dengan bunga dari
bagian modal yang dipertimbangkan sebanding dengan berat konduktor, yaitu:

3H PR

-m-

Jika

A=
pm=

= Hk b" flt'

Luas penampang konduktor (mm2)


Resistivitas konduktor (ohm.mm2/m)
Kerapatan konduktor (kgicm3)

3.6

Peralatan Tegangan

maka Persamaan

rnggi

3.6

dapat dituliskan menjadi:

3H

12o

-tr-

Hn bu A

3.j

Dari Persamaan 3.7 diperoleh ukuran konduktor yang ekonomis sebagai berikut:

A_

3H"P p
10 Hrbum

3.8

Ditinjau dari Segi Teknis


Dalam praktiknya, rumus Kelvin di atas jarang digunakan karena hasil yang diperoleh
belum tentu memenuhi syarat teknis. Syarat-syarat teknis yang harus dipenuhi suatu
konduktor adalah sebagai berikut.

1.
2.
3.

Rugi-rugi daya(P$ yang terjadi pada konduktor tidak melebihi nilai yang diizinkan.
Jatuh tegangan (AIf pada konduktor tidak melebihi nilai yang diizinkan.
Ketika beroperasi tidak terjadi korona di permukaan konduktor.

Perhitungan ukuran konduktor dilakukan dengan meninjau rangkaian ekuivalen


nominal z' transmisi seperti diperlihatkan pada Gambar 3.3a. Diagram fasor tegangan
dan arus dari transmisi ini diperlihatkan pada Gambar 3.3b.
Terlihat bahwa arus yang mengalir pada konduktor transmisi adalah 1* di mana arus

ini dapat dihitung dengan Persamaan 1.2. Artinya, konduktor harus mampu mengalirkan
arus sebesar 10. Maka, daya hantar arus konduktor terpilih harus lebih besar dari 1*.
Jika rugi-rugi yang diizinkan pada transmisi adalah AP, maka resistansi konduktor
maksimal adalah:

n= Al

3.9

3I o'

Menurut diagram fasor Gambar 2.3b, arus konduktor lebih kecil dari arus beban.
Tetapi dalam perencanaan arus konduktor dapat dianggap sama dengan arus beban.
Jlka Pu = besar beban yang diramalkan pada ujung penerima transmisi, 4 = tegangan
fasa-fasa ujung penerima transmisi dan cos g = faktor daya beban yang diramalkan,
maka arus pada konduktor transmisi dapat dihitung dengan Persamaan di bawah ini:

J"
(a) Rangkaian ekuivalen transmlsl

(&) Diagram fasor arus dan tegangan transmisi

GAMBAR 3.3
Rangkaian ekuivalen dan diagram fasor arus - tegangan transmisi

Bab

P,0

r
11 -,f
-1'--

45

Konduktor

K o- r/34cos9

3.10

Jika panjang transmisi dalam kilometer, maka resistansi konduktor/kilometer adalah:

R'=+

3.1

Pada Lampiran I diberikan tabel yang memuat jenis, ukuran, dan karakteristik
dari konduktor tembaga dan aluminium. Pada tabel tersebut dapat dicari konduktor
yang resistansinya per kilometer pada temperatur kerja lebih kecil atau sama dengan
R' dan mampu mengalirkan arus 1*. Jika resistansi konduktor terpilih adalah R*' ohm/
km, maka resistansi konduktor yang dipilih adalah:

Rt=Rt'xl

3.12

Selanjutnya nilai arus dan tegangan jika transmisi menggunakan konduktor yang
dipilih dapat dihitung. Jika tegangan fasa ke netral ujung penerima adalah V,,,, n*a
arus kapasitansi pada ujung penerima adalah:

rr=&
v"_

3.l3

Arus pada konduktor transmisi menjadi:

3.t4
Sudut fasa arus konduktor transmisi adalah:

*=arc,r(qH+)

3.15

Tegangan ujung pengirim fasa ke netral dapat dihitung dengan persamaan berikut:
Vrr2

= (Vr, + Ir Rrcos a + IoXrsin a)2


+ (Ir X, cos a - 1* R* sin a)2

3.t6

Dengan demikian dapat dihitung jatuh tegangan pada konduktor yang dipilih, yaitu:

lv -vl x t007o
\v - '-! v:

3.11

Jika AV ) A\,i,, maka prosedur perhitungan di atas diulang kembali dengan


mempergunakan konduktor yang ukurannya lebih besar dari pilihan pertama sampai
diperoleh AY < AYi,i,.

3.6

REL DAYA
Konduktor digunakan juga sebagai rel daya
gardu induk umumnya terbuat dari

la sarf,gurrfufld1n pnel. Re dava untuk


uk panel
berbe fi i0k kaiTatl se-tlan gkan

terbuat dari konduktor berbentuk batang.

,'uPl8fa8f tdPt$?flP'.oc ikian rupa


dan litarsipan
Propinsi Jo'na Timur

46

Peralatan Tegangan 1 rnggi

sehingga mampu memikul arus yang akan disalurkan. Kemampuan menghantar arus
konduktor dapat dilihat pada Lampiran L Jika pada rel mengalir arus hubung singkat,
maka rel daya akan mengalami gaya elektromagnetik yang besarnya bergantung kepada
besarnya arus hubung singkat dan jarak antar rel. Oleh karena itu, jarak antar rel harus
dirancang sedemikian rupa sehingga gaya yang diakibatkan arus hubung singkat tidak
sampai merusak rel dan isolator penyangganya. Berikut ini akan diuraikan perihal gaya
dan tekanan yang terjadi pada konduktor dan isolator penyangga suatu rel akibat arus
hubung singkat pada sistem ac tiga fasa.

Gaya dan Tekanan pada Rel Tunggal


Jika dua konduktor garis yang ukurannya sama, berdampingan sejajal dan masingmasing konduktor dialiri arus yang arahnya sama, maka konduktor akan mengalami
gaya tarik-menarik yang besarnya:

F_
Pada persamaan

di atas: F
&

1t

i, i,

2rJ

3.18

= Gaya tarik-menarik antar konduktor (N)


= Permeabilitas medium yang berada di antara kedua
konduktor

= 4r x 10-7 H/m untuk udara


I = Arus yang mengalir pada konduktor (A)
/ = Panjang konduktor (m)
J = Jarak antara kedua konduktor (m)
Prinsip di atas digunakan untuk menentukan besar gaya tarik-menarik pada rel
daya. Pada Gambar 3.4 diperlihatkan susunan rel suatu panel tiga fasa ac, yang setiap
relnya terdiri dari satu batang konduktor.
Rel daya dirancang atas pertimbangan arus tertinggi yang mungkin melalui rel,
yaitu arus puncak hubung singkat tiga fasa tertinggi yang diperkirakan melalui rel.
Jika arus simetris mengalir pada rel suatu panel, maka tiap rel akan mengalami gaya.
Gaya ini merupakan hasil interaksi arus fasa R dengan arus fasa S, interaksi arus fasa
S dengan arus fasa I dan interaksi arus fasa R dengan arus fasa 7. Karena arus fasa

t,tl<-

,s

-->l r

n]-a ri
nlll
I|t ln lll
ilt
t1--- .-]-'1
ffi
-

-!:-

m
lll

t,l

^
M
t
----t

ffi

-=E:=

-rI__l--\
tltJl

r<---------->t <-------------i>t

GAMBAR 3.4
Susunan rel daya konduktor tunggal

Bab

Konduktor

47

berbentuk sinusoidal dan masing-masing berbeda fasa 120 derajat listrik dan jarak antar
fasa juga tidak sama, maka gaya pada setiap rel tidak sama. Gaya sesaat yang terjadi
pada tiap rel adalah:

Fta.s=

F,,,. T
Pada ketiga persamaan

di

uioirl

pi*irl

uiol, I

p.itirL

-ffi--ffi

u:ll-*Fioi't
= '- 2r J
2rr eA

l.l9
j3.ZO
3'll

atas:

F(,) = Gaya sesaat pada rel (N)


tL= Permeabilitas medium yang berada di antara satu rel dengan rel lain
4r x l0-7 H/m untuk udara
iArus sesaat pada rel (A)
l_
tJarak antara kedua penyangga terluar (m)
JJarak antara rel fasa ke rel fasa berurutan (m)
Karena arus berbentuk sinusoidal, maka gaya sesaat di atas juga berbentuk sinusoidal.
i maka nilai puncak gaya pada masing-masing
rel adalah sebagai berikut;

Jika nilai puncak arus sesaat adalah

Fn =

"

Fs =

dan

Fr = 0,13
0,86

uli2
Z*

uliz
,, t

3.22

3./-.)

Dengan membandingkan Persamaan 3.22 dengan 3.23, terllhat bahwa gaya paling besar
terjadi pada rel yang berada di tengah (fasa S).
Dasar perhitungan dalam perencanaan rel daya adalah gaya mekanis tertinggi
yang diperkirakan terjadi pada rel. Gaya mekanis tertinggi terjadi ketika rel dialiri arus
puncak subtransien dari arus hubung singkat tertinggi yang mungkin mengalir pada rel.
Jika arus hubung singkat tiga fasa tertinggi yang diperkirakan melalui rel adalah 1r,.
(A), dan medium yang berada di antara rel adalah udara dengan p = 4t x 10-' H/m,
maka gaya tertinggi dalam newton yang timbul pada rel tengah adalah:

Fp

= o'86 x
L,iz

4n x IO-7 1r,,2 I

2rJ

x Io-7 1p,,2 I
J

Jika

o =
a =
I4l =

Tekanan atau s/ress pada rel (N/m1


Faktor jumlah penyangga terhadap tekanan rel (lihat Tabel 3.2)
Tahanan momen rel (m3)

maka tekanan yang ditimbulkan gaya tersebut pada rel adalah:

3.24

48

Peralatan Tegangan lrnggi

TABEL 3.2
Faktor Penyangga Terhadap Tekanan Rel dan Gaya lsolator
B

Susunan Penyangga

la ta la

Isolator A

lsolator B

1,0

A=0,5

B=0,5

0.73

A=0.5

B = 1,25

0,5

ta ta tr ta

A=0.5

B=

1.0

A=0,5

1,0

7l**

0,5*

0,73**

aFrl
o= W

3.25

Tahanan momen suatu batang konduktor bergantung kepada arah gaya pada rel dan
ini diperlihatkan dengan jelas pada Gambar 3.5. Rel
dinyatakan dapat memikul arus hubung singkat yang diperkirakan, jika:

bentuk penampang rel. Hal

os

1,5

on,n

3.26

di mana ontinadalah kekuatan mulur minimal bahan rel (lihat Lampiran 2).
Gaya yang terjadi pada isolator penyangga adalah:

F,=lFFo
Dalam hal

ini, Fi =

Gaya pada isolator (N)


Faktor yang bergantung kepada besar tekanan (o) pada rel

7=
0 = Faktor yang bergantung

nt
I lI

ll'
lll
-l Llv
+lr

3.27

hr)

'=a

kepada isolator penyangga rel (Tabel 3.2)

n ,f----ll

l<--

(a) Batang tegak

(b) Batang mendatar

GAMBAR 3.5
Tahanan momen berdasarkan bentuk penampang rel konduktor

w=[

Bab

49

Konduktor

Jika o.uu, adalah kekuatan mulur maksimal bahan rel (iihat karakteristik material
Lampiran 2) dan tekanan pada rel o > 0,8 o*uor, maka nilai 7 - 1.
Jika tekanan pada rel o < 0,8 o-"*.. maka nilai 7 dihitung dengan Persamaan
3.28 di bawah ini:

0,8

v-

o-*,

3.28

Isolator dinyatakan memenuhi syarat teknis jika gaya'yang terjadi padanya


melebihi batas pembebanan maksimal isolator.

(f,)

tidak

Gaya dan Tekanan pada Rel Multi Batang


Pada panel daya berkapasitas besar, arus per fasa sangat besar, sehingga diperlukan dua

atau lebih batang konduktor paralel pada setiap fasa. Agar susunan batang konduktorkonduktor tersebut kokoh, maka di beberapa tempat diberi pengikat sehingga satu
rel merupakan ikatan beberapa batang konduktor. Selanjutnya, seikat konduktor yang
membentuk rel fasa disebut rel fasa, sedangkan batang-batang konduktor yang membentuk
satu rel fasa disebut elemen rel. Pada Gambar 3.6 diperlihatkan contoh susunan rel
panel tiga fasa ac yang setiap relnya terdiri dari dua batang konduktor.
Untuk panel rel ganda seperti diperlihatkan pada Gambar 3.6, ada dua jenis arus
yang perlu dibedakan, yaitu arus rel atau arus fasa (1r,,); dan arus elemen rel (1r). Arus
fasa adalah arus total yang mengalir pada satu rel sedangkan arus elemen rel adalah
arus pada satu batang konduktor yang membentuk rel tersebut. Jrka I, = arus pada
satu batang elemen rel, Ipr, = arus fasa atau total arus pada satu rel dan 2 = jumlah
batang konduktor per rel, maka besar arus pada elemen rel adalah sebagai berikut.

, - Io"
n

3.29

te -

Gaya yang timbul pada satu rel sebagai hasil interaksi antar arus fasa, disebut gaya fasa
(Fo), sedangkan gaya hasil interaksi antar arus pada elemen rel disebut gaya elemen
(F"). Gaya fasa dan gaya elemen diperlihatkan pada Gambar 3.7 di halaman 50.

Pengikat
I

-t v

B'ffitiB

+jd-l-Ejir

ttl

trert

lt9ttl

[r,6,,*Xrgi.'P*

EAlEiAXiXii

T--r_T

Konduktor

-lr!

.T). /
i

-\//
l--------------i--------------

pJ5Jr

lsolator

Pengikat

li

GAMBAR 3.6
Susunan rel batang ganda pada suatu panel daya

50

Peralatan Tegangan

rnggi

: J, .
i<-i-->l

,I
F,
Fett

2)

GAMBAR 3.7
Gaya fasa dan gaya elemen

Menurut Persamaan 3.24, gaya fasa adalah:

F_

l,7z x l0-7

1p,,2 I

3.30

Karena arus pada setiap elemen adalah sefasa, maka gaya yang paling besar terjadi
pada elemen terluar. Jika, yaitu:

F, = F"0 -z) + Fr(t-3) + "' * F"{t-(tr- l)} +

Fe{t

n)

3.31

Dalam hal ini:

F,
F e(t-2)

=
=

Resultan gaya pada elemen nomor I


Gaya hasil interaksi arus pada elemen nomor 1 dengan arus pada elemen

nomor 2
Fe(t-3)

Gaya hasil interaksi arus pada elemen nomor 1 dengan arus pada elemen

Felr-n)

Gaya hasil interaksi arus pada elemen nomor 1 dengan arus pada elemen

nomor

nomor n
Arus pada masing-masing elemen sama dan satu fasa, maka gaya hasil interaksi
arus pada dua elemen dapat dihitung dengan Persamaan 3.18. Dengan menganggap
bahwa media yang berada di antara elemen-elemen adalah udara, maka gaya tarikmenarik antar dua elemen dapat ditulis sebagai berikut:

Deta

- Dt

_ 4rr x lO-7 1"2 l,


2T J"ru _ b,

lo-1
Jela _

1"2

l,
3.32

b1

Dalam hal ini:

lr

=
=

Gaya tarik-menarik antara elemen a dengan elemen b (N)


Jarak maksimal antar pemisah atau jarak maksimal antara pemisah
dengan penyangga (m). Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 3.5

Je(q_b)

Jarak efektif antara elemen a dengan elemen b (m)

Fe(a_b)

Substitusi Persamaan 3.32 ke dalam Persamaan 3.31 menghasilkan:

Bab

F"=

Fe = 2

F"

lo-1 (1")2

li

2 x ro-7

J, _,

_2 x

J,

*
lO-7 tt-12
t,
,-e, .,.Jt_r,

t=L

(1")2 li

_,

-l
Jr_,

+...

51

Konduktor

to-1 (1,)z li
J, _,

+ ... + --L-4

_)

lo-7 (t")2 ll
-1.

J"

-l

Gaya pada Persamaan 3.18 berlaku untuk susunan konduktor garis paralel
berdiameter mendekati nol atau konduktor garis berdiameter sangat kecil dibandingkan
terhadap jarak antar konduktor. Untuk susunan konduktor batang seperti diperlihatkan
pada Gambar 3.7, dan jarak antar konduktor sangat dekat, dan penampang tidak
berbentuk lingkaran, maka jarak antar konduktor tidak dapat disamakan dengan jarak
antar sumbu konduktor, tetapi bergantung pada tebal (r) dan tinggi (/z) konduktor. Oleh
karena itu, jarak efektif (J") bergantung kepada ukuran penampang elemen dan jumlah
elemen. Nilai "f" untuk berbagai ukuran rel diperlihatkan pada Tabel 3.3.
Tekanan pada rel akibat gaya fasa adalah:

o-p=oFnl
gk"w"

3.34

Dalam hal ini:


Fn = Gaya fasa yang dihitung dengan Persamaan 3.30
d, = Tekanan pada rel akibat gaya fasa F, (N/m2)
o = Faktor penyangga (lihat Tabel 3.2)
W" = Momen tahanan ekuivalen semua rel 1m3; lNilai-nilainya diperlihatkan
pada Tabel 3.4)
k" = Faktor perkalian momen inersia
= 0,6 untuk rel yang terdiri dari dua batang konduktor
= 0,5 untuk rel yang terdiri dari tiga atau lebih batang konduktor
Tekanan yang terjadi pada elemen konduktor karena gaya pada elemen konduktor
adalah:

TABEL 3.3

Jarak Efektif Elemen Rel

Jarak Efektif O) cm
Susunan
Elemen

Tebal
(/) cm

h=4

h=5

h=6

h=8

cm

cm

cm

cm

0,5

z,o

2,4

t,0

7R

3.1

3,4

4.1

4,7

1.3

1,5

1.8

a)

t.9

2.0

)7

2.7

0,5

1,0

1,7

h =10
cm

h=12 h=16

h =20

cm

cm

cm

5,4

6,7

8,0

10

3,t

4,3

4,0

Bab 4

Pelindung Tegangan Lebih

da beberapa tingkat tegangan pada suatu sistem tenaga listrik, yaitu: tegangan
nominal, tegangan maksimum, tegangan puncak maksimum dan tegangan lebih.
Tegangan nominal adalah tegangan pengenal sistem. Nilai tegangan ini dinyatakan
dalam harga efektif dan dituliskan pada papan nama sistem. Dalam praktiknya, sistem
beroperasi pada tegangan yang tidak sama dengan tegangan nominalnya, adakalanya
beroperasi di bawah tegangan nominal dan adakalanya di atas nominal. Jika sistem
beroperasi di atas tegangan yang diizinkan, maka sistem dinyatakan memikul tegangan
lebih. Tegangan lebih dapat merusak peralatan, oleh karena itu peralatan perlu dilindungi
agar tidak rusak karena tegangan lebih tersebut.
Berikut ini akan dijelaskan tentang jenis-jenis tegangan lebih yang mungkin
terjadi pada suatu sistem tenaga listrik; jenis-jenis alat pelindung tegangan lebih dan
karakteristik alat-alat pelindung tersebut.

4.1

TEGANGAN LEBIH
Batas tertinggi tegangan operasi suatu sistem di atas tegangan nominalnya disebut
tegangan maksimum (V-*,), umumnya tidak lebih daripada 1,1 kali tegangan nominal.
Jika tegangan sistem adalah tegangan bolak-balik, maka tegangan maksimum sistem
mempunyai nilai puncak yang disebut dengan tegangan puncak maksimum (Vr.urr).
Tegangan lebih adalah tegangan pada sistem tenaga listrik yang bersifat temporer dan
nilainya melebihi tegangan puncak maksimum sistem. Dilihat dari sumbernya, tegangan
lebih dibagi dua jenis, yaitu: tegangan lebih internal dan tegangan lebih eksternal.
Dilihat dari frekuensi dan durasinya, tegangan lebih intemal terdiri dari tegangan
lebih sementara berfrekuensi daya dan tegangan lebih transien. Tegangan lebih

frekuensi daya terjadi akibat: (a) hubung singkat satu fasa ke tanah, (b) resonansi
atau ferroresonansi, (c) pelepasan beban tiba-tiba dan (r/) transmisi panjang berbeban
rendah. Besaran tegangan lebih frekuensi daya akibat hubung singkat satu fasa ke tanah
bergantung kepada lokasi gangguan, pembumian netral dan parameter impedansi sistem.
Tegangan lebih transien terjadi karena adanya operasi hubung-buka (switching
operation) pada sistem ketika: (a) energisasi dan re-energisasi jaringan, (b) pengisoliran
gangguan, (c) pemutusan arus kapasitifdan induktif, dan (fl pelepasan beban. Tegangan
lebih akibat operasi hubung-buka pemutus daya disebut tegangan impuls hubung-buka.

54

Peralatan Tegangan Tinggi

Titik sambaran petir

GAMBAR 4.1
Tegangan Iebih akibat sambaran petir

Tegangan lebih eksternal adalah tegangan impuls yang terjadi pada sistem tenaga

listrik akibat sambaran petir pada kawat hantaran udara transmisi sistem tersebut.
Sambaran petir pada kawat transmisi merupakan suntikan muatan listrik. Mengingat

bahwa suatu kapasitor dibentuk oleh dua material konduktor yang diisolir oleh bahan
dielektrik, maka antara kawat transmisi dengan tanah terbentuk suatu kapasitor, karena
dalam hal ini kawat transmisi dan tanah adalah dua material konduktor yang diisolir
bahan dielektrik udara. Karena itu, suntikan muatan pada kawat transmisi analog
dengan suntikan muatan pada suatu kapasitor. Suntikan muatan pada suatu kapasitoi
akan menaikkan tegangan kapasitor. Karena itu, suntikan muatan pada kawat transmisi
akan menaikkan tegangan kawat transmisi melebihi tegangan operasinya. Tegangan
lebih ini berbentuk gelombang impuls yang merambat menuju ujung-ujung transmisi
seperti diperlihatkan pada Gambar 4. 1. puncak tegangan dapat mencapai 100
- 1000
kV, dan berlangsung dalam waktu mikrosekon. Tegangan lebih akibat sambaran petir
disebut tegangan impuls petir. Durasi dan amplitudo masing-masing tegangan di atas,

diperlihatkan pada Gambar 4.2.


Amplitudo tegangan pada Gambar 4.2 dinyatakan dalam per-unit puncak tegangan
maksimum fasa-ke-tanah sistem. Jika tegangan maksimum sistem sama aengan v*"u.,
maka tegangan maksimum fasa-ke-tanah sistem sama dengan V^
kJ^/3. Dengan aemitian

Amplitudo
Tegangan (pu)

Tegangan Ketahanan Isolasi


Peralatan

Tegangan

Tegangan Impuls

Impuls Petir
(mikrosekon)

Hubung-Buka

(milisekon)

Tegangan Sesaat Maksimum


S isrem (Konrinu)

Tegangan
-Fasa-ke-Tanah

Lebih AC
(sekon)

GAMBAR 4.2
Durasi dan besaran tegangan pada sistem tenaga listrik

V-uk.

Bab

55

Pelindung Tegangan Lebih

puncak tegangan maksimum fasa-ke-tanah sama dengan V, =(t/2v^uo.)/y'3. Nilai yp


diambil sama dengan 1,0 pu.
Ada tiga bahaya yang dapat terjadi pada sistem tenaga listrik akibat tegangan lebih

impuls petir, yaitu:

1.

2.
3.

Jika sistem pembumian menara transmisi buruk, maka arus petir yang mengalir
melalui menara akan menimbulkan tegangan yang tinggi pada puncak menara,
sehingga beda potensial yang dipikul isolator transmisi naik dan dapat menimbulkan
peristiwa lewat denyar (flashover) pada isolator tersebut.
Jika suatu tegangan impuls petir tiba di suatu gardu maka tegangan lebih tersebut

akan merusak isolasi peralatan yang terdapat pada gardu.


Jika gelombang tegangan impuls petir merambat menuju ujung jaringan transmisi
yang terbuka, maka gelombang tegangan impuls petir akan dipantulkan, merambat
kembali menuju titik sambaran, sehingga tegangan pada titik pantulan menjadi dua
kali tegangan impuls petir yang datang.

Melihat bahaya yang dapat terjadi akibat tegangan lebih, maka perlu dilakukan
tindakan untuk mengurangi tegangan lebih yang tiba pada peralatan sistem agar tegangan
lebih tersebut tidak melebihi kekuatan isolasi peralatan. Ada dua cara yang dilakukan,
yaitu memasang alat pelindung tegangan lebih dan kawat tanah.

4.2

PRINSIP KERJA ALAT PELINDUNG TEGANGAN LEBIH

Alat pelindung tegangan lebih dipasang paralel dengan peralatan yang dilindungi.
Lokasinya diatur sehingga tegangan lebih impuls melalui alat pelindung terlebih dulu
sebelum melalui alat yang dilindungi. Pada Gambar 4.3 diperlihatkan suatu alat pelindung
tegangan lebih yang dipasang pada sambungan kabel dengan jaringan hantaran udara.
Pada keadaan tegangan jaringan normal, sampai 1 ,l tegangan normal, pelindung berperan
sebagai isolasi atau idealnya tidak mengalirkan arus dari jaringan ke tanah. Tetapi jika
suatu tegangan lebih impuls tiba pada terminal alat pelindung, maka alat pelindung
segera berubah menjadi penghantar dan mengalirkan arus impuls ke tanah sehingga
amplitudo tegangan lebih yang merambat menuju peralatan yang dilindungi berkurang
menjadi di barvah ketahanan tegangan impuls peralatan yang dilindungi.
Kawat
pembumian

20

------' Teminal

$#
&t

GAMBAR 4.3
Arester jenis saluran dan pemasangannya pada jaringan distribusi

kv

56

Peralatan Tegangan Tinggi

Suatu alat pelindung tegangan lebih akan mengalirkan arus petir ke tanah. oleh
karena itu, alat pelindung tegangan lebih harus dirancang sedemikian rupa, sehingga
ketika mengalirkan arus ke tanah, alat pelindung tidak mengalami kerusakan.
Ada tiga jenis alat pelindung tegangan lebih pada sistem tenaga listrik, yaitu sela
batang, arester jenis tabung atau arester ekspulsi, dan arester jenis katup. Berikut ini
akan dijelaskan prinsip kerja masing-masing alat-alat pelindung regangan lebih tersebut.

4.3

SELA BATANG

Konstruksi dan Prinsip Kerja


Pelindung yang paling sederhana adalah sela batang. Konstruksinya diperlihatkan pada
Gambar 4.4. Sela batang digunakan untuk melindungi bushing transformator, isolator
saluran udara tegangan tinggi, pemutus daya dan sebagai pelindung cadangan.
Pelindung ini terdiri dari dua elektroda batang dan satu isolator pendukung. Satu
elektroda dihubungkan ke kawat jaringan dan elektroda lainnya dihubungkan ke tanah.
Tegangan yang menimbulkan percikan pada sela elektroda bergantung kepada panjang
sela (s). Oleh karena itu, panjang sela dapat diatur sehingga percikan terjadi pada nilai
tegangan yang diinginkan. Tegangan yang membuat terjadinya percikan disebut tegangan
percik sela (%). Jika beda tegangan anrara sela (If melebihi tegangan percik seia (7,),
maka akan terjadi percikan pada sela. Jika tegangan pada jaringan tetap ada, maka
percikan akan berubah menjadi busur api, sehingga sela elektroda terhubung singkat.
Waktu yang dibutuhkan tegangan impuls positif untuk menimbulkan percikan
pada sela lebih pendek daripada waktu yang dibutuhkan tegangan impuls negatif.
Ditemukan juga bahwa tegangan tembus sela elektroda batang-batang bergantung pada
panjang elektroda batang yang dibumikan. Jika panjang elektroda tersebut pendek, maka
tegangan tembus impuls positif jauh lebih rendah daripada tegangan impuls negatif.
Untuk mengatasi perbedaan tegangan tembus ini, panjang elektroda batang biasanya
dibuat 1,5 - 2,0 kali panjang sela. Panjang sela diatur sedemikian sehingga t.gurgun
tembusnya tidak kurang daripada 70vo tegangan ketahanan impuls peralatan yang
dilindungi. Panjang sela untuk berbagai tegangan sistem diperlihatkan pada Tabel 4.1.

Karvat janngan

GAMBAR 4,4
Pelindung tegangan lebih sela batang

Bab

pelindung Tegangan Lebih

57

TABEL 4.1
Panjang Sela Batang untuk Berbagai Tegangan Sistem

Tegangan (kY)

Panjang sela (cm)

JJ

23

66

35

132

65

275

t23

Arus Susulan
Pada Gambar 4.5 diperlihatkan suatu sistem yang dilengkapi alat pelindung
sela batang.
Panjang sela diatur sedemikian sehingga terpercik jika mlmikul tegangan sebesar
v,.
Misalkan suatu tegangan impuls petir merambat menuju transformator. Jika t.gurgin
impuls petir telah tiba pada terminal pelindung, maka tegangan sela batang naik mengikuti
kenaikan tegangan impuls, seperti diperlihatkan pada Gambar 4.6.
Ketika tegangan pada sela mencapai tegangan percik sela (v,), sela terpercik sehingga
kedua elektroda batang terhubung singkat. Akibatnya, t"gurrgi, di terminal pelindung
tiba-tiba menjadi nol dan arus petir mengalir ke tanah. Arus petir berlangsung dalam
waktu mikrosekon dan menimbulkan busur api pada sela. Setelah arus petir
nol, busur
api pada sela tetap berlangsung karena dipertahankan tegangan bolak-balik frekuensi
daya sendiri. Dengan kata lain, sela elektrodatetap terhubung iingkat. Akibatnya
timbul
arus hubung singkat frekuensi daya yang disebut dengan arus susulan. Arus
susulan ini
diputuskan dengan membuka pemutus daya, akibatnya terjadi pemutusan aliran
daya;

Tegangan lebih

Pemutus

Trafo

daya

Sela batang

GAMBAR 4.5
Sistem dengan pelindung sela batang

Gelombang impuls
yang tiba di trafo jika
pelindung tidak ada

I
Gelombang impuls
yang tiba di trafo.jika
pelindung bekerja

GAMBAR 4.6
Tegangan pada sela batang

58'

Peralatan Tegangan Tinggi

suatu keadaan yang tidak diinginkan terjadi pada suatu sistem tenaga listrik. Besarnya
arus susulan ini tergantung kepada impedansi jaringan, impedansi pembumian netral

sistem dan impedansi pembumian alat pelindung.


Seandainya sela tidak terpercik, maka tegangan lebih akan menimbulkan lompatan
api pada isolator pendukung sela batang. Untuk mencegah terjadinya lompatan api
tersebut, maka harus dipenuhi syarat-syarat di bawah ini:
Vte-brs sela

= 0'8

Vto-putan api isolator

S:>!

4.t
4.2

Kelemahan alat pelindung

a.
b.

ini

adalah sebagai berikut'

Jika pelindung tegangan lebih sela batang bekerja, harus terjadi pemutusan aliran
daya pada sistem. Itu sebabnya, pelindung tegangan lebih sela batang umumnya
digunakan sebagai pelindung tegangan lebih cadangan'
Tegangan percik sela lebih besar pada tegangan impuls bermuka curam, sehingga
panjang sela harus diperkecil jika digunakan sebagai pelindung terhadap tegangan
impuls petir. Tetapi panjang sela yang pendek membuat sela terpercik jika dikenai
tegangan impuls hubung-buka.

c.
d.
4.4

Bekerjanya sela batang dipengaruhi kondisi udara sekitar, karena medium yang
berada di antara sela adalah udara yang tegangan tembusnya bergantung kepada
temperatur, tekanan dan kelembaban.
Bekerjanya sela batang juga tergantung kepada polaritas tegangan impuls.

ARESTER EKSPULSI
Sebelumnya telah dijelaskan bahrva alat pelindung tegangan lebih sela batang tidak dapat

memutuskan arus susulan. Untuk memutuskan arus susulan tersebut, dikembangkan


alat pelindung tegangan lebih yang disebut arester. Ada dua jenis arester, yaitu arester
ekspulsi dan arester katup.
Arester jenis ekspulsi digunakan pada sistem tenaga listrik bertegangan hingga
33 kV. Konstruksinya diperlihatkan pada Gambar 4.7. Arester ini mempunyai dua
sela yang terhubung seri, yaitu sela luar dan sela dalam. Sela dalam ditempatkan di
dalam tabung serat (fiber). Elektroda sela dalam yang dibumikan, dibuat berbentuk
pipa. Keberadaan kedua pasang elektroda ini membuat arester ini mampu memikul
tegangan tinggi frekuensi daya tanpa menimbulkan korona dan arus bocor ke tanah.
Tegangan tembus sela luar dibuat lebih rendah daripada tegangan lompatan api isolator
pendukung sela luar. Demikian juga tegangan tembus sela dalam dibuat lebih rendah
daripada tegangan lompatan api tabung serat.
Bila pada terminal arester tiba suatu tegangan impuls petir, maka sela dalam
dan sela Iuar sama-sama terpercik, sehingga arus petir mengalir ke tanah. Arus petir
menimbulkan busur api pada kedua sela. Karena arus petir berlangsung dalam tempo
mikrosekon, maka energi panas yang terjadi pada busur api relatif rendah. Setelah arus
petir menjadi nol, mengalir arus susulan yang ditimbulkan tegangan frekuensi daya.
Karena arus susulan berlangsung dalam tempo milisekon, maka energi panas yang
terjadi pada busur api relatif besar. Panas pada busur api didisipasikan ke tabung serat.
Akibatnya, bahan organik pada permukan dalam tabung serat menguap dan menghasilkan
gas bertekanan tinggi. Gas tersebut terdorong keluar dari lobang pipa elektroda sela
dalam yang dibumikan. Gas ini mendinginkan busur api pada sela dalam, sehingga

Bab

Pelindung Tegangan Lebih

59

Konduktor transmisi
Sela luar

Elektroda
Saluran
pembuangan gas

GAMBAR 4.7
Arester ekspulsi

menimbulkan deionisasi. Arus susulan merupakan arus sinusoidal. Artinya, dalam satu
periode, arus susulan dua kali bernilai nol. Ketika arus susulan mencapai nol, busur
api mengecil, dan pada saat itulah busur api dipadamkan oleh gas yang diproduksi
tabung serat. Jika busur api sudah padam, maka arus susulan tidak berlanjut lagi. Arus
susulan paling lama bertahan selama dua periode, tapi biasanya sudah padam dalam
waktu setengah periode arus susulan.
Kemampuan gas memadamkan busur api bergantung kepada besarnya energi panas

busur api. Energi panas busur api bergantung kepada besar arus susulan yang mengalir
pada arester, sedangkan besar arus susulan bergantung kepada tegangan sistem dan
parameter impedansi sistem. Jika arus susulan besar, busur api yang ditimbulkannya
juga besar, sehingga gas yang diproduksi tabung serat tidak mampu lagi memadamkan
busur api tersebut. Akibatnya, arus susulan tetap berlanjut. Maka, pemakaian arester ini
terbatas hanya pada sistem yang kapasitas daya hubung singkatnya rendah, umumnya
pada sistem yang bertegangan sampai 33 kV. Arester ini dapat digunakan untuk
melindungi transformator distribusi bertegangan 3 - 15 kY tetapi belum memadai
untuk melindungi transformator daya. Arester ini dapat juga digunakan pada saluran
transmisi untuk mengurangi besar tegangan impuls petir yang masuk ke gardu induk.
Keuntungan arester ini adalah sebagai berikut:

a.
b.
c.
d.

Karena konstruksinya sederhana, harganya tidak begitu mahal.


Unjuk kerjanya lebih baik daripada pelindung jenis sela batang, karena dapar
memadamkan sendiri arus susulan.
Karakteristik volt-waktu arester ini lebih baik daripada sela batang.
Pemasangannyamudah.
Sedangkan kelemahan arester

a.
b.
c.

ini adalah sebagai berikut:

Setelah beberapa kali bekerja, arester harus diganti, karena setiap kali arester
bekerja, tabung serat arester mengeluarkan gas yang mengakibatkan sebagian
material tabung terkelupas.
Adanya gas buangan ketika arester bekerja membuat arester tidak dapat ditempatkan
berdampingan dengan peralatan yang akan dilindungi.
Karakteristik volt-waktu arester ini masih kurang baik, sehingga ticlak dapat
digunakan untuk melindungi peralatan yang harganya mahal.

60

Peralatan Tegangan Tinggi

4.5

ARESTER KATUP
Berdasarkan sela perciknya, arester katup terdiri dari arester sela pasif, arester sela aktif

dan, arester tanpa sela percik. Arester sela pasif digunakan pada jaringan distribusi
hantaran udara; arester sela aktif digunakan pada jaringan tegangan tinggi dan titik
pusat jaringan distribusi; sedangkan arester tanpa sela digunakan untuk semua tingkat
tegangan.

Arester Katup Sela Pasif


Konstruksi arester jenis katup sela pasif diperlihatkan pada Gambar 4.8. Arester ini
terdiri dari sela percik, resistor non-linier dan isolator tabung. Sela percik terdiri dari
beberapa susunan elektroda plat-plat yang terhubung seri. Sela percik dan resistor non-

linier keduanya ditempatkan dalam tabung isolasi tertutup, sehin-ega kerja arester ini
tidak dipengaruhi oleh keadaan udara sekitar.
Resistor non-linier terbuat dari beberapa piring silikon karbida (silicort carbide)
yang terhubung seri. Ukuran diameter piring kurang lebih 90 mm, sedangkan tebalnya
kurang lebih 25 mm. Nilai resistansi resistor ini sangat besar ketika melewatkan arus
lemah, tetapi nilai resistansinya sangat rendah ketika dilewati arus kuat. Karakteristik
arus dan tegangan suatu resistor non-linier dapat dinyatakan dengan Persamaan 4.3.

I=KV"

4.3

Untuk bahan karbon silikon, a berkisar antara 2 - 6, sedangkan nilai K bergantung


kepada ukuran dan bentuk geometris piring silikon karbida. Karakteristik ketidaklinierannya ditentukan sifat listrik kontak antar permukaan piring silikon karbida.
Jika tegangan impuls petir tiba di terminal arester dan sela arester terpercik, maka
rangkaian ekuivalen arester adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 4.9a.
Jika resistansi resistor non-linier adalah R, dan arus petir yang dialirkan ke tanah
adalah ir, maka tegangan pada terminal arester ketika mengalirkan arus petir
adalah:

f,,

V,=ioR

4.4

Misalkan karakteristik resistor non-linier adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 4.9b
dan arus petir yang mengalir pada arester adalah seperti diperlihatkan pada Gambar
4.9c. Dalam selang waktu 0 - /,, arus petir naik dan mencapai nilai puncak i, = I*.
Dalam selang waktu ini resistansi R mengecil, sehingga kenaikan tegangan terminal
arester dibatasi hanya sampai V,. Seandainya nilai resistor R konstan, maka ketika arus
petir mencapai nilai puncak (/,,,), tegangan di terminal arester sama dengan V,. Artinya

Konduktor transmisi
Sela percik

Resistor non-linier

GAMBAR 4.8
Arester katup

Bab

Pelindung Tegangan Lebih

61

(,)

(b)

GAMBAR 4.9
Rangkaian ekuivalen dan karakteristik arester

tegangan sistem tetap tinggi, sehingga tujuan perlindungan tidak tercapai. Dalam selang
waktu /, - /2, arus petir menurun, nilai resistor R membesar. Ketika arus petir menjadi
nol, masih tersisa arus susulan (l") yang relatif kecil. Arus susulan ini juga akan semakin

kecil karena resistansi R semakin membesar, akhirnya tersisa arus yang lebih kecil
lagi, yaitu arus kendali (i*). Biasanya arus kendali ini kurang lebih 50 A. Ketika arus
kendali sama dengan nol, busur api pada sela padam sehingga arus kendali menjadi
nol dan tidak berlanjut lagi. Seluruh proses di atas diperlihatkan pada Gambar 4.10.
Pada Gambar 4. 10 terlihat bahrva besarnya arus susulan tergantung kepada waktu
tibanya tegangan petir. Jika tegangan petir tiba ketika tegangan sesaat sistem mendekati
nilai puncaknya, maka arus susulannya besar. Jika tegangan impuls tiba ketika tegangan
sesaat sistem mendekati nilai nol, maka arus susulannya kecil.
Tegangan di teminal arester sama dengan tegangan di terminal peralatan yang
dilindunginya. Tegangan petir yang tiba pada suatu peralatan yang dilindungi dengan
arester katup diperlihatkan pada Gambar 4. ll di halaman 62. Karena tegangan yp
berlangsung lebih lama daripada V,, maka tingkat tegangan perlindungan arester ini
ditetapkan sama dengan Vr.

Arester Katup Sela Aktif


Konstruksi arester katup sela aktif hampir sama dengan arester katup sela pasif.
Perbedaanya terletak pada metode pemadaman busur api pada sela percik. Pada arester

Keterangan:

{o = Tegangan imPuls Petir

{, = Tegangan gagal sela arester


Vr, = Tegangan sisa
l,

= Atus petir

1. = Arus susulan
1* = Arus kendali +50 A
v,,,

I Arus petir nol

Arester bekerja
Tegangan impuls petir tiba pada
terminal arester

GAMBAR 4.10
Tegangan dan arus pada arester katup sela pasif

62

Peralatan Tegangan Tinggi

Bentuk gelombang
yang tiba di peralatan
jika tidak ada arester
Bentuk gelombang yang
tiba di peralatan jika
arester bekerja

GAMBAR 4.11

Tegangan impuls yang tiba pada peralatan

katup sela aktif, ada suatu usaha untuk memadamkan busur api, yaitu memperpanjang
dan mendinginkan busur api dengan cara membangkitkan medan magnet pada sela
percik. Prinsip kerjanya dapat dijelaskan dengan bantuan Gambar 4'12'
Arester katup sela aktif terdiri dari sela utama (G,), kumparan (X), sela bantu (G6)
dan resistor non-linier. Semuanya dimasukkan dalam tabung isolasi porselen. Jika suatu

tegangan impuls petir membuat sela utama arester terpercik, maka mula-mula, arus
petir mengalir ke tanah melalui sela utama, kumparan dan resistor non-linier (Gambar
4.12a). Karena tegangan impuls petir merupakan tegangan berfrekuensi tinggi, maka
impedansi kumparan menjadi besar, sehingga tegangan pada terminal kumparan menjadi
tinggi. Beda tegangan yang tinggi pada terminal kumparan, mengakibatkan sela bantu
terpercik. Dengan terperciknya sela bantu, maka arus petir mengalir melalui sela bantu,
sedangkan kumparan tidak lagi dilalui arus petir (Gambar 4.12b). Setelah arus petir
menjadi nol, mengalir arus susulan berfrekuensi daya' Pada frekuensi daya, impedansi
kumparan sangat rendah, sehingga sebagian arus susulan mengalir melalui kumparan,

I'

Jaringan

Jaringan

Jr'=*

G,,

Jaringan

--[r

ll,,

J-+
Gu

--------->
Gb

<Resistor

Resistor

Nonlinier

Nonlinier

(a) Aliran

arus sesaat setelah


ada arus petir.

GAMBAR 4.12
Rangkaian arester katup sela aktif

(b) Aliran

arus ketika
arus petir tinggi.

(c)

Aliran arus ketika


terjadi arus susulan

Bab

Jaringan

Pelindung Tegangan Lebih

63

Jaringan

Tegangan Tinggi

I-K

u,_

tr-:
G,

G,-

''^J

T--c
qH

Gbl

n
,fl
,J

Resistor Nonlinier

Resistor

Nonlinier
Resistor

NonJinie

GAMBAR 4.13
Arester katup sela aktif tegangan tinggi

GAMBAR 4.14
Arester katup sela aktif tanpa sela bantu

mengakibatkan busur api pada sela bantu tidak stabil dan akhirnya padam. Selanjutnya,
semua arus susulan mengalir melalui kumparan (Gambar 4.12c). Arus susulan pada
kumparan membangkitkan medan magnet yang menerpa busur api pada sela utama,
membuat lintasan busur api semakin panjang dan temperatur busur api berkurang,
sehingga ketika arus susulan bernilai nol, busur api pada sela utama padam.
Jika arester ini hendak digunakan pada jaringan bertegangan lebih tinggi, maka
ditambah satu atau lebih set "sela utama-kumparan-sela bantu" seperti diperlihatkan
pada Gambar 4.13. Sela bantu dapat juga diganti dengan resistor non-linier seperti
diperlihatkan pada Gambar 4.14.

Arester Katup Tanpa Sela Percik


Konstruksi arester jenis tanpa katup diperlihatkan pada Gambar 4.I5 di halaman 64.
Arester ini tidak menggunakan sela percik seperti halnya kedua jenis arester katup
terdahulu, tetapi hanya menggunakan resistor non-linier yang terbuat dari logam oksida
(Metal-Oxide). Karena bahan utamanya adalah logam oksida, dalam praktik sehari-hari
arester ini dinamai Arester MO.
Resistor non-linier terbuat dari beberapa kolom logam oksida. Satu kolom terbuat
dari beberapa lempeng logam oksida yang disusun bertindih atau secara listrik terhubung
seri. Lempeng oksida logam berbentuk silinder, diameter 30 - 100 mm dan panjang
20 - 45 mm. Kolom-kolom logam oksida dikurung oleh beberapa batang penyangga.
Batang penyangga di beberapa tempat diikat oleh cincin pengikat, sehingga susunan
lempeng logam oksida terpadu dengan kokoh. Di antara satu kolom logam oksida
dengan kolom logam oksida lain diselipkan medium logam, berbentuk tabung yang
terbuat dari bahan aluminium. Medium logam ini berfungsi untuk menghubungkan dua
kolom logam oksida dan sekaligus berfungsi sebagai pendingin.
Resistor logam oksida dimasukkan dalam bejana isolasi porselen. Di kedua ujung
resistor dipasang per untuk menghubungkan logam oksida dengan penutup bejana yang
terbuat dari diafragma logam tahan korosi. Umumnya diafragma dibuat dari bahan baja

murni tingkat tinggi atau nikel. Jika logam oksida mengalami pemanasan berlebihan,

64

Peralatan Tegangan Tinggi


Diafragma baja
Pegas

Seal

Ventilasi

Semen perekat

Logam oksida
Logam pengantara

Badan penyangga

Cincin pengikat

Ventilasi

GAMBAR 4.15
Konstruksl arester logam oksida

tekananudaradiruangbejanaisolasinaiktinggi,sehinggaudaradapatmenembus
diafragmadankeluardarilobangventilasiyangterdapatpadakeduaujungarester'

4.16.
Karakteristik suatu bahan logam oksida diperlihatkan pada Gambar
jaringan' pada keadaan normal'
Karena resistor non-linier teriambung langsung ke
sangat rendah' besarnya
arester mengalirkan arus berfrekuensi daya ke tanah. Arus ini
dalam orde I0-o

u-p"r"

pada tegangan hingga 350 kV. Tanggapannya terhadap tegangan

lebih tiba di
lebih berlangsung cepat; yaitu dalam orde 0,5 nanosekon. Jika tegangan
resistansi resistor
terminal arester, arus ya;g mengalir ke tanah semakin tinggi dan
ke tanah, kenaikan
non-linier menurun. Maka, ketika-arus petir mengalir melalui arester

teganganpadaterminalaresterdapatdibatasihinggatidaksampaimerusakperalatan
yang dilindungi.
kiloampere,
Arester ini dapat mengalirkan arus dari orde ampere hingga beberapa
kilovolt. Kelemahan arester
sedangkan tegangan kerjanya dari orde volt hingga ratusan
yang besar; dan
ini adalah mengalirkan u-, Uo"or kontinu ke tanah; menyerap energi
piring-piring logam oksida'
mengandung kapasitansi, yaitu kapasitansi yang dibentuk

4.6

TEGANGAN PENG.ENAL ARESTER


tetapi tetap memberikan
Tegangan pengenal suatu arester harus dipilih serendah mungkin,

yang cukup kepada peralatan yang dilindungi, dan pada tegangan tersebut,
pemilihan tegangan pengenal
arester tetap berumur panla.rg. Berikut ini akan diuraikan
utama dalam menentukan
pertimbangan
Dasar
arester bersela percik dan aresier tanpa sela.

p"Itinirniun

daya. oleh karena itu,


tegangan pengenal tersebut adalah tegangan tertinggi frekuensi
dijelaskan tentang
dahulu
terlebih
pengenal,
selelum menguraikan pemilihan tegangan
listrik'
tenaga
sistem
tegangan tertinggi frekuensi daya pada suatu

Bab

Pelindung Tegangan Lebih

65

200

+-l

I 100

1000

900
800
d

700

co

600

.o
F

500
400
300
200

100
0

10-2

10-4

102

101

Puncak Arus (A)

GAMBAR 4.16
Karakteristik tegangan

- arus (y -

/) logam oksida

Tegangan Tertinggi Sistem


Dalam praktiknya, arester mengalirkan arus petir yang amplitudonya puluhan ribu
ampere dan arus susulan berfrekuensi daya yang amplitudonya ribuan ampere. Arus
petir berlangsung dalam orde mikrosekon, sedangkan ams susulan berlangsung dalam
orde milisekon, sehingga energi panas yang terdisipasi pada arester oleh arus petir
sangat kecil dibandingkan dengan energi panas akibat arus susulan. Oleh karena itu,
dasar pertimbangan dalam memilih suatu arester adalah besamya arus susulan yang
akan mengalir pada arester tersebut.
Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa adanya arus susulan karena dipertahankan oleh
tegangan frekuensi daya. Dengan kata lain, besar arus susulan sebanding dengan tegangan

operasi sistem saat arester bekerja. Oleh karena itu, perlu diketahui tegangan frekuensi
daya tertinggi yang mungkin dipikul oleh suatu arester.
Arester terpasang di antara fasa jaringan dengan tanah. Maka, dalam pemilihan
arester perlu diperhitungkan tegangan fasa-ke-tanah tertinggi yang mungkin terjadi
selama operasi. Tegangan fasa-ke-tanah tertinggi dapat ditentukan dengan pertimbangan:

1.
2.

3.

Ada kalanya, suatu sistem beroperasi pada tegangan maksimum, yakni tegangan
kerja tertinggi yang diizinkan pada sistem tersebut. Umumnya tegangan maksimum
suatu sistem tidak lebih daripada 1,1 kali tegangan nominal sistem.
Saat sistem beroperasi pada tegangan maksimum, selalu ada kejadian yang membuat
tegangan sistem melebihi tegangan maksimum. Misalnya, saat suatu jaringan panjang
berbeban sangat rendah, maka tegangan pada ujung penerima melebihi tegangan
ujung pengirim. Pelepasan beban PLTA yang tiba-tiba membuat turbin berputar
lebih cepat, sehingga tegangan keluaran generator lebih tinggi daripada keadaan
normal. Kandungan harmonisa pada tegangan sistem juga menaikkan tegangan di
atas tegangan maksimum.
Jika salah satu fasa sistem terhubung singkat ke tanah, maka tegangan pada fasa
yang tidak terganggu sama dengan frr/: Ul tegangan operasi. Faktor k, bergantung
kepada metode pembumian netral sistem, impedansi urutan nol dan impedansi
urutan positif sistem. Dalam praktiknya, untuk sistem yang tidak dibumikan nilai
ftc = 1,0. Untuk sistem yang dibumikan efektif nilai ft, < 0,8 dan untuk sistem
yang dibumikan tidak efektif nllai kr = 0,8 - 1,0.

66

Peralatan Tegangan

linggi

Misalkan suatu sistem memiliki tegangan nominal vno*. Tegangan maksimum


fasa.ke-fasa sistem adalah V.,k. = 1,1 %o-.Tegangan maksimum fasa-ke-tanah adalah:

,.-v'uk'=l.l%l*
.mfi
,/z
Jz

4.5

Analisis hubung singkat sistem tenaga listrik menyatakan bahwa pada peristiwa
hubung singkat satu fasale tanah, tegangan fasa yang sehat akan naik menjadi &,y'3
kali tegangan normal. Bila hubung singkat terjadi ketika tegangan sistem sama dengan
tegangan maksimum (V-*J, maka tegangan tertinggi fasa yang sehat adalah:
Vu

= krl3 v*f,

4.6

ftg Y*uk,

Tegangan Pengenal Arester Sela Pasif dan Sela Aktif


Suatu arester dipasang di antara kawat fasa dan tanah. Oleh karena itu, dalam keadaan
tidak normal, arester mungkin memikul tegangan sebesar V,, (Persamaan 4.6). Oleh
karena itu, suatu arester harus mampu memikul tegangan sebesar Vr,'

Telah dijelaskan sebelumnya, saat sistem beroperasi pada tegangan maksimum,


selalu ada kejadian yang membuat tegangan sistem naik melebihi tegangan maksimum'
Dengan memperhitungkan kenaikan tersebut, maka tegangan pengenal arester ditetapkan

1,05 Vn
Yp"rg"nul

1,05 Vu

l,O5

1,1

k, %o.

4.7

Dalam praktiknya, untuk sistem yang tidak dibumikan nilai kr = 1,0; untuk sistem yang
dibumikan efektif nilai fr, = 0,8; dan untuk sistem yang dibumikan tidak efektif nilai
kn = 0,8 - 1,0. Jika nilai ftr< 0,75, maka tegangan pengenal arester ditambah dengan
fiktor keamanan 7,5Vo, sehingga tegangan pengenal arester menjadi:
Yp.ng.nur

= 1,075 (1,1 k.Vno

4'8

Suatu sistem dibumikan efektif jika salah satu syarat di bawah ini dipenuhi:
a. (RolX,) < 1 dan (X,lX) < 3, di mana R, adalah resistansi urutan nol, X,
aOitafi reaktansi urutan nol dan X, adalah reaktansi urutan positif sistem dilihat

b.

dari titik lokasi penempatan arester.


Semua titik netral transformator dibumikan langsung. Jika hanya sebagian dari
transformator yang netralnya dibumikan, sistem tidak dibumikan efektif.

c.

Arus hubung singkat satu fasa ke tanah

>

0,6 arus hubung singkat tiga fasa simetris.

Sistem yang dibumikan tidak efektif adalah sistem di mana tidak semua titik netral
transformator dibumikan, atau pembumiannya dilakukan melalui resistor atau reaktor.

Tegangan Pengenbl Arester Tanpa Sela Percik


Arester tanpa sela percik mengalirkan arus frekuensi daya pada keadaan normal maupun

ketika memikul tegangan lebih frekuensi daya. Arus pada keadaan normal berlangsung
kontinu, sedangkan arus akibat tegangan lebih frekuensi daya berlangsung sementara.
Suatu arester harus mampu mengalirkan arus kontinu dan arus sementara tersebut tanpa
menimbulkan kerusakan pada arester.
Tegangan yang menimbulkan arus kontinu disebut tegangan operasi kontinu (V,*)
dan tegangan yang menimbulkan arus sementara disebut tegangan tertinggi frekuensi
d,aya (V,,), seperti diperlihatkan pada Persamaan 4.6.

Bab

Pelindung Tegangan

Lebih

67

Jika sistem bekerja pada tegangan maksimum (V_4r), dan diperhitungkan


mengandung harmonisa yang membuat tegangan naik sekitar 5Vo, maka tegangan
operasi kontinu arester adalah:

V,_

1,05

ymaks

4.9

./3

Tegangan pengenal berdasarkan tegangan kontinu adalah:


vpolr

1,25 vou

1,25

"r ''" ./35*'

= 0,758 v

4.10

Jika terjadi hubung singkat satu fasa ke tanah, maka arester pada fasa yang

sehat

memikul tegangan tertinggi frekuensi daya seperti diperlihatkan pada Persamaan 4.6.

Vu= krV^u"
Arus yang diakibatkan v,,menimbulkan pemanasan pada resistor non-linier (izrt). Jika
V, berlangsung lama, panas yang diakibatkannya semakin besar dan temperatur resistor
non-linier semakin tinggi. Maka, tegangan pengenal arester harus diatur sehingga panas
yang terjadi akibat tegangan Y, tidak menaikkan temperatur resistor nonlinier melebihi
temperatur yang diizinkan. Setiap pabrik pembuat resistor non-linier, selalu memberikan
spesifikasi faktor ketahanan tegangan lebih sementara (k,1) dari resistor non-linier
yang diproduksinya. Faktor ini menyatakan perbandingan tegangan lebih sementara di
atas tegangan operasi kontinu yang diizinkan untuk suatu resistor non-linier. Faktor
ini bergantung pada lamanya tegangan tertinggi itu berlangsung. pada Gambar 4.17
diperlihatkan contoh faktorketahanan tegangan lebih sementara suatu resistor non-linier.
Jika tegangan lebih sementara sama dengan V,,, maka tegangan pengenal (tegangan
operasi kontinu) adalah:

V
' pt,=V,,
kr,

4.tt

Tegangan pengenal yang dipilih adalah tegangan pengenal yang terbesar di antara kedua
tegangan V*o dan Vr,,. Kemudian nilainya dibulatkan ke atas agar dapat dibagi dengan

tiga (Standar IEC 6m99-4).


k,r,
1.3

t,2
1,1

1,0

0,9
0,8
t (sekon)

0.7
1,0

10

GAMBAR 4.17
Contoh faktor ketahanan tegangan lebih sementara

1000

10000

68

Peralatan Tegangan Tinggi

Berikut ini diberikan contoh penentuan tegangan nominal suatu arester tanpa sela
yang dipergunakan pada sistem 150 kV. Titik netral sistem ditanahkan efektif dengan
ft, = 0,8. Tegangan maksimum sistem dimisalkan Y*uo, - 1,1 %o..= 165 kV' Tegangan
lSbih frekuensi daya berlangsung maksimum I sekon. Karakteristik resistansi non-linier
arester seperti diperlihatkan pada Gambat 4.13.
Tegangan pengenal menurut tegangan kontinu adalah:
Vpo1,= 0'758 V.ukr= 0'751

165

= 125 kV

Tegangan tertinggi frekuensi daya adalah:

Vu= ke V*uk. = 0'8


Menurut Gambar 4.13, kth

165

= l32kY

= 1,I9

Tegangan pengenal menurut tegangan tertinggi frekuensi daya adalah:


r/

'p, -

Vll

krt

111

kv

ll25 kV) lebih besar daripada Vptt (lll kV), maka tegangan pengenal ditetapkan
b5idasarkan Vro1,. yaitu 125 kV. Tegingan di atas 125 kV yang dapat dibagi dengan
Vook

tiga adalah tfOt<V, maka tegangan pengenal arester ditetapkan sama dengan 126 kV.

4.7

KLASIFIKASI DAN SPESIFIKASI ARESTER


Ditinjau dari penggunaannya, arester terdiri dari tiga jenis:

a.

Jenis gardu: Dipasang pada sistem 3

b.

Jenis Jaringan: Dipasang pada sistem 20

312 kV dan dirancang untuk mengalirkan arus

petir di atas 100 kA. Digunakan untuk melindungi gardu induk dan transformator
daya.

c.

- 73 kV dan dirancang untuk mengalirkan


arus petir 65 - 100 kA. Digunakan untuk melindungi transformator distribusi,
transformator kapasitas rendah dan gardu kecil.
Jenis distribusi: Dipasang pada sistem 8 - 15 kV dan dirancang untuk mengalirkan
arus petir di bawah 65 kA. Digunakan untuk melindungi transformator distribusi.

Spesifikasi suatu arester harus sesuai dengan kebutuhan. Oleh karena itu, sebelum
membeli suatu arester, perlu ditetapkan spesifikasi arester yang akan dibeli. Produsen
arester juga wajib mempublikasikan spesifikasi arester yang diproduksi. Sebelumnya
telah dijelaskan, dilihat dari ada-tidaknya sela percik, arester terdiri dari duajenis, yaitu:
arester bersela, yaitu arester yang memiliki sela percik; dan arester tanpa sela. Karena
prinsip kerja dan karakteristik kedua jenis arester tersebut berbeda, maka butir-butir
ipesifikasi kedua jenis arester itu juga berbeda. Berikut ini akan dijelaskan butir-butir
spesifikasi arester bersela dan arester tanpa sela.

Spesifikasi Arester dengan Sela Percik


Mengacu kepada standar IEC 60099-1, spesifikasi arester dengan sela percik yang perlu
diketahui adalah sebagai berikut.

a.

Tegangan pengenal
Adalah tegangan efektif tertinggi frekuensi daya yang mungkin dipikul oleh arester.
Cara menentukannya telah diuraikan pada sub-bab 4.6 terdahulu. Tegangan pengenal
standar arester bersela percik diperlihatkan pada Tabel 4.2'

Bab

69

Pelindung Tegangan Lebih

TABEL 4.2
Tegangan Pengenal Standar Arester Bersela Percik (kVrms)
0,175

-l

18

30

42

'75

108

150

0,280

4,5

10.5

21

33

51

84

120

t'7

0,500

12

24

36

54

96

126

186

15

27

39

60

102

r38

198

0.660

Untuk tegangan di atas 198


b.

kY

tegangan pengenal arester harus dapat dibagi 6.

Arus peluahan nominal


Data ini menentukan klasifikasi arester menurut kemampuannya mengalirkan

arus

peluahan 10120 p,s. Standar arus peluahan nominal arester adalah:


. 10 kA, 10/20 ps; digunakan pada gardu induk, gardu yang berada di kawasan
yang sering terjadi petir, dan pada sistem bertegangan > 66 kV'
. 5 kA, l0l2O p.s\ digunakan pada gardu bertegangan < 66 kV'
. 2,5 kA, 10/20 prs; digunakan pada sistem bertegangan < 22 kY'
. 1,5kA, lOl20 y,s; digunakan pada sistem distribusi bertegangan '< 22kY'

Frekuensi pengenal
Sama dengan frekuensi sistem, 50 Hz atau 60 Hz.
d.

Tegangan percik frekuensi daYa


Adalah besar tegangan efektif frekuensi daya yang membuat terjadinya percikan di
sela arester. Tegangan percik frekuensi daya harus cukup tinggi agar sela arester
tidak terpercik jika terjadi hubung singkat satu fasa ke tanah maupun ketika terjadi
operasi hubung-buka (switching operation). Biasanya, tegangan percik frekuensi
daya ditetapkan > 1,5 kali tegangan pengenal arester.
Tegangan percik impuls petir maksimum
Adalah puncak tegangan impuls l,2l5O pcs, yang membuat sela arester pasti terpercik
utu, yurg membuat arester pasti bekerja. Misalnya ada suatu arester mempunyai
tegangan percik impuls maksimum 65 kV. Jika arester ini diuji dengan tegangan
impuls poiitll 65 kV - l,2l5O p,s, sebanyak 5 kali, maka sela arester akan terpercik
5 kali. Demikian juga halnya jika diuji dengan tegangan impuls negatif. Tegangan
percik impuls petir maksimum untuk berbagai tegangan pengenal arester katup
sela percik diperlihatkan pada kolom 2 dan3, Tabel 4.3.
Tegangan percik muka gelombang impuls
Adalah tegangan yang membuat sela arester terpercik dalam tenggang waktu muka
gelombang impuls. Jika tegangan impuls seperti pada kolom 4, 5 dan 6 dari Tabel
4.3, dikenakan lima kali berurutan, maka sela arester akan terpercik pada semua
urutan, baik pada tegangan impuls positif maupun tegangan impuls negatif.

Tegangan percik impuls hubung'buka


Adalah puncak tegangan impuls hubung-buka yang membuat sela arester terpercik'
Jika tegangan impuls hubung dikenakan lima kali berurutan, maka sela arester akan
terpercik pada semua urutan, baik pada tegangan impuls positif maupun tegangan
impuls negatif. Spesiflkasi ini diberlakukan hanya untuk arester bertegangan nominal
di atas 200 kV. Tegangan percik impuls hubung-buka diperlihatkan pada Tabel 4.4.

70

Peralatan Tegangan linggi

TABEL 4.3
Tegangan Percik lmpuls Petir Maksimum
Tegangan Percik

Tegangan Percik

Impuls Maksimum

Muka Gelombang Impuls

(kY, puncak)

Tegangan
Pengenal V,

Tegangan Percik

(kYr..)

t0 kA

2,5kA,5 kA
dan 10 kA

Kecuraman
Muka Gelombang

Maksimum

(kY puncak)

(kY/p.s)
10

kA

2,5l5lt0kA

0,15<%s0,3

8,0 %

10

12,0 V,

<v^= 0,6
0,6 <vn= 1,2
7,2 <V,= lO
10 <V^= 120

6,0 v"

10

7,5 V"

5,0 %

10

6,0 vn

<v"=2@

0,3

t2o

200< y"

= 300
300 <V,= 420
v,>

420

4,t5 V,

3,6 V"

8,3

2,8V"

3,33 V,

7,0 V,

3,2V

3,8s %

2,6V"

3,0 V,

6,0 V,

3,0 v"

3,45 V,

Vn

v,

2,6V,

1300

3,0

2,5

Vn

1500

2.9 Vn

2,5 V,

2000

2,9 V"

TABEL 4.4
Tegangan Percik lmpuls Hubung-Buka
Tegangan Pengenal Y"

(kV*)

Tegangan Percik Impuls Hubung-Buka

Maksimum (kY puncak) Arester 10 kA

200< y"

2,75 V,

= 300
300 <V,= 420
v,> 420

h.

2,45 V,
2,45 V,

Ketahanan arus imPuls tinggi


Suatu arester harus mampu memikul arus impuls tinggi di atas arus nominalnya,
seperti diperlihatkan pada Tabel 4.5.

TABEL 4.5
Ketahanan Arus lmPuls

i.

-linggi

Kelas Arester (kA)

Arus Impuls Tinggi (kA)

t0

100

65

2,5

25

1,5

10

Ketahanan arus durasi Panjang


Arester harus mampu memikul arus impuls berdurasi panjang. Untuk arester l0
kA, kelas kerja berat (heavy duty), arus durasi panjang sama dengan arus yang

Bab

Pelindung Tegangan

Lebih

77

diperoleh melalui pelepasan muatan generator arus impuls pada tegangan tidak
kurang 5OVo daipada tegangan peluahan V.. Muatan dilepaskan melalui melalui
induktansi rendah dan resistor (R). Tegangan peluahan V", nilai resistansi resistor
(fi) dan durasi arus impuls diperlihatkan pada Tabel 4.6.
TABEL 4.6
Ketahanan Arus Durasi Paniang Arester 10 kA, Kelas Keria Berat

Durasi Tegangan
Puncak ps

Tegangan Peluahan

(Ohm)

3,3 Vn

2000

3,0 V,

t,8 v,

2000

2,6 Vn

1,2

v,

24AO

2,6

0,8 %

2800

2,4 V,

0,5

v,

3200

2,2 V,

Kelas

Resistansi Resistor

Generator (V")

Vn

Untuk arester kerja-ringan, arus dan durasi waktu diperlihatkan pada Tabel 4.7.
TABEL 4.7
Standar Arus Durasi Panjang Arrester Kelas Kerja-Bingan
Kelas Arester (kA)

Puncak Arus Impuls (kA)

Durasi (ps)

10

r50

2000

75

1000

)\

50

500

Tegangan sisa
Adalah amplitudo tegangan di terminal arester saat arester mengalirkan arus petir
nominal. Besar arus peluahan nominal arester telah diberikan pada butir b di atas.
Tegangan sisa harus lebih rendah daripada tegangan sisa standar yang diperlihatkan
pada Tabel 4.8.
TABEL 4.8
Standar Tegangan Sisa
Tegangan Pengenal % (kV,-.)

Tegangan Sisa Maksimum (kY puncak)


10

kA

2,5

kA, 5 kA dan

v,

0,15<y,,=0,3

8,00

0,3<y"< 0.6
0,6<v-< t,2
1,2 <v, < l0

6.00 v,

lo<v < 120


120 <v < 200
n

200<y"<
300<v,<

>420

5,OO

V,

3,60 V,
2.8 V"

3,33 V,

2,6

3.00

V,,

300

2,6 V,

420

2,5 V,
2.5

V,,

10

kA

72

Peralatan Tegangan Tinggi

k.

Tegangan dasar (cut-off voltage)


Adalah tegangan efektif ac maksimum pada terminal arester, dan pada tegangan
tersebut arus susulan masih dapat dipadamkan.

t.

Tegangan gagal sela


Jika tegangan pengenal suatu arester adalah V,, maka tegangan gagal selanya adalah
besar tegangan yang membuat sela arester tembus listrik saat dikenai tegangan
impuls yang kecuraman muka gelombangnya (100 x V,,)l(l2p.s). Sebagai contoh:
Tegangan pengenal suatu arester adalah 30 kV dan tegangan gagal selanya adalah
120 kV. Artinya, sela arester akan tembus listrik pada tegangan 120 kV jika arester
ini dikenai tegangan impuls dengan kecuraman muka gelombang (100 x 30 kV)/
(l2p"s) = 250 kV/p.s. Untuk lebih jelasnya, lihat Gambar 4.18.

Karakteristik voltase - waktu (V - t)


Adalah karakteristik yang menyatakan hubungan tegangan percikan sela arester
dan waktu percikan, seperti diperlihatkan pada Gambar 4.19. Karakteristik ini
dibutuhkan untuk melihat keberhasilan arester melindungi peralatan.
Jika tegangan impuls yang datang adalah %,. maka isolator B terlebih dahulu
terpercik, yaitu ketika / = /,. Kemudian arester terpercik ketika r = I: dan isolator
A terpercik ketika r = /r. Dalam hal ini arester gagal melindungi isolator B, tetapi
berhasil melindungi isolator A.
Jika tegangan impuls yang datang adalah V.", maka arester terlebih dahulu

terpercik, yaitu ketika t = t4.Kemudian isolator-B terpercik ketika r = /s dan


isolator A terpercik ketika r = 10. Dalam hal ini arester berhasil melindungi kedua
isolator.

Margin
Ketahanan suatu peralatan memikul tegangan impuls, jika dipasang pada suatu
sistem bertegangan tefientu, disebut BIL (Basic Impulse Level). Untuk tegangan
sistem tertentu, telah ditetapkan BIL setiap peralatan yang akan dipasang pada
sistem tersebut. Contohnya dapat dilihat pada Lampiran 3. Selisih BIL peralatan
yang dilindungi dengan tingkat proteksi arester yang melindunginya disebut margin.
Margin biasanya ditetapkan 20 - 307o dari BIL peralatan yang dilindungi.

Arus peluahan maksimum


Adalah nilai puncak tertinggi dari arus impuls 5/10 p.s yang dapat dialirkan arester
tanpa merusak arester. Dewasa ini, arus peluahan maksimum arester dirancang 100
kA untuk jenis gardu dan 65 kA untuk arester jenis saluran.

GAMBAR 4.18
Tegangan gagal sela

Bab

Tegangan

impuls
3

73

Pelindung Tegangan Lebih

A = Isolator 1
B = Isolator 2
C = Arester

I (ps)

t1 GAMBAR 4.19
Karakteristi k voltase-wa ktu

p.

Kemampuan hubung singkat


Kemampuan arester memikul arus hubung singkat di titik penempatan arester atau
arus hubung singkat internal tanpa menimbulkan kerusakan pada arester.

q.

Tingkat perlindungan
Adalah tegangan tertinggi pada terminal arester saat arester mengalirkan arus impuls
petir. Tingkat proteksi untuk arester jenis ekspulsi dan jenis katup diperlihatkan
pada Gambar 4.2O. Untuk arester jenis ekspulsi, tingkat perlindungan ditetapkan
sama dengan tegangan percik sela (V,), sedangkan untuk aresterjenis katup, tingkat
proteksi ditetapkan sama dengan tegangan Vr, karena V, berlangsung lebih lama
daripada Vo. Jlka margin diambil 307o dan V, adalah tingkat proteksi atau tegangan
sisa arester, maka BIL peralatan yang dilindungi arester adalah:

BIL

4.12

= 1,3 Vp

t(

(a) Jenis ekspulsi

GAMBAR 4.20
rngkat proteksi arester

(b) Jenis katup

i-rs)

74

Peralatan Tegangan'linggi

sisa atau tingkat Proteksi untuk berbagai


Pada Tabel 4.9 diperlihatkan tegangan
tegangan Pengenal arester'
TABEL 4.9

Tingkat Proteksi Arester


Tegangan Sisa/

Tingkat Proteksi (kV)

arester
Panjang dan jarak rambat badan

r.

bobot polusi di lokasi


b"d"; ;;; arester ditetapkan berdasarkan jarak rambat adalah:
bobot polusi dengan
pemasangan ut"tt"t t"""Uut' Hubungan
16 mr/kv
. Bobot polusi ringan
ruilkV
20
. Bobot polusi sedang

Jarak rambat

.
.

Bobot polusi berat


Bobot Polusi sangat berat

25 mm/kV
31 mrr/kv

Percik
Spesifikasi Arester tanpa Sela

tegangan kontinu, tegangan lebih

berhadapan.dengan
Suatu arester tanpa sela percik,
lebih
lebih impils hulung buka dan tegangan
tegangan
daya,
sementara frekuensi
keempat
dengan
arester tanPa sela berhug::gl'
impuls petir. Butir-butir spesiRtrasi
sela
IEC;0099-4' spesifikasi arester tanpa
jenis teganga, t"r,.Uut' fi*lr*t standar

adalah sebagai berikut'


V""g p"".f, aiketahui

a.

(Continuous operating voltage)

Tegangan operasi kontinu


terus
daya yang dapat dipikul arester secara
Adalah tegangan efektif frekuensi
menerus.

b.

Tegangan resealing

arus
arester, dan pada tegangan tersebut
Adalah uutu, t"guigan pada terminal

susulanmasihdapatdipadamkan.TeganganiniharusSamaataulebihbesardaripada
tegangan oPerasi kontinu'

c.

Tegangan pengenal (rated' voltage)


lebih
kemampuan arester memikul tegangan
Adalah tegangan yang menyatakan
Tegangan
4.6.3.
gut ini telah dijelaskan lada sy!^bab
sementara selamaio i"ton.
pada Tabel 4'10'
pengenal ,turrdut uJuluh seperti diperlihatkan

Bab

Pelindung Tegangan Lebih

75

TABEL 4.10
Standar Tegangan Pengenal Arester Tanpa Sela
Kelas Tegangan Pengenal (kY"-.)

Selisih Antar Tegangan Pengenal (kV"*.)

<3

Dalam pertimbangan

3-30
30-54
54-96

t2

- 288
288 - 396
396 - 756
96

d.

18

24

Frekuensi pengenal
Sama dengan frekuensi sistem 50 Hz atau 60 Hz.

Tegangan sisa (residual voltage)


eOatatr besar puncak tegangan impuls yang terjadi di antara kedua terminal
arester ketika arester tersebut menyalurkan arus impuls. Jenis arus impuls dalam
menentukan tegangan sisa adalah sebagai berikut.
. Arus impuls hubung-buka: (30 - 100)/(60 - 200) ps, i = 2 kA
. Arus impuls petir: 8/20 ps, i '40 kA
. Arus impuls tinggi: 4/10 ps, i - 100 kA, umumnya pada arester 65 dan100

kA.
Tegangan

ini

harus di bawah tegangan ketahanan terhadap tegangan impuls.

Arus nominal
ps menurut standar, dan digunakan untuk
impuls petir nominal umumnya 2'5; 5;
arus
mengklasifikasikan arester. Puncak
untuk tegangan nominal < 36
digunakan
10; atau 20 kA. Arus nominal 2,5 kA
.<
10
kA digunakan untuk tegangan
kv;
132
kV; 5 kA untuk tegangan pengenal
tegangan nominal di atas 360
untuk
nominal 3 - 360 kV; dan 20 kA digunakan
kV hingga 756 kV.

Adalah besar puncak arus impuls

8120

Tegangan ketahanan imPuls Petir


Adalahtegangan impuls petir maksimum yang dapat dipikul arester tanpa menimbulkan percikan pada badan arester. Tegangan ketahanan impuls petir sama dengan
1,3 kali tingkat proteksi tegangan impuls arester.

h.

Tegangan ketahanan impuls hubung-buka


Adalah tegangan impuls hubung-buka maksimum yang dapat dipikul arester tanpa
>
menimbulkan percikan pada badan arester. Untuk arester tegangan pengenal
200 kY arus nominal 10 kA dan 20 kA, tegangan ketahanan impuls hubung-buka
sama dengan 1,25 kali tingkat proteksi tegangan impuls hubung-buka'
Tegangan ketahanan tegangan frekuensi daya
Adalah tegangan frekuensi daya maksimum yang dapat dipikul arester tanpa
menimbulkan percikan pada badan arester. Arester 1,5 kA; 2,5 kA; dan 5 kA harus
mampu memikul tegangan frekuensi daya yang puncaknya sama dengan 0,88 tingkat
proteksi tegangan impuls petir dalam waktu satu menit. Untuk arester < 200 kV
arus nominal 10 kA dan 20 kA, harus mampu memikul tegangan frekuensi daya

76

Peralatan Tegangan Tinggi

yang puncaknya sama dengan 1,06 tingkat proteksi tegangan impuls hubung-buka
dalam waktu satu menit.
J.

Thermal runaway
Adalah batas kehilangan energi pada arester agar tidak melebihi kemampuan
disipasi panas semua komponen arester (badan, terminal, dan lain-lain). Jika
kehilangan energi melebihi kemampuan disipasi panas arester, maka temperatur
resistor non-linier akan naik dan pada akhirnya dapat merusak resistor tersebut.

k.

Kemampuan arus gangguan


Kemampuan arester mengalirkan arus gangguan saat terjadi kerusakan pada salah
satu piring resistor non-linier. Arester harus mampu mengalirkan arus gangguan
tersebut agar tidak terjadi kerusakan fatal pada tabung arester' Oleh karena itu'
kemampuan arus gangguan harus sama atau lebih besar dengan arus hubung singkat
maksimum fasa-ke-tanah pada titik pemasangan arester.

Ketahanan arus hubung singkat


Adalah batas arus frekuensi daya yang dapat mengalir pada arester tanpa menimbulkan kerusakan pada arester. Arus ini harus lebih besar daripada arus hubung singkat
satu fasa ke tanah di lokasi arester'

Kelas peluahan (Line discharge class)


Kelas peluahan didasarkan atas kemampuan arester menyerap energi yang diinjeksikan tegangan impuls hubung-buka pada arester. Pada Tabel 4.11 diperlihatkan lima
kelas peluahan.
TABEL 4.11
Kelas Peluahan (Ltne Discharge Class\
Tegangan Peluahan

Kelas

Impedansi lmpuls
Transmisi (Z = ohm)

Durasi Tegangan
Puncak (ps)

4,9 V,

2000

3,2

V,,

2.4 V,

2000

3,2

V,,

7,3

Vn

2400

2,8 V,

0.8 v,,

2800

2,6 V

0.5 %

3200

2.4 V

(kv-DC)

Catatan: % = Tegangan nominal arester (harga efektif)


Kelas peluahan dapat juga ditentukan berdasarkan tegangan tertinggi sistem seperti
diperlihatkan pada Tabel 4.12.
TABEL 4.12
Kelas Peluahan lvlenurut Tegangan Tertinggi Sistem
Kelas

Tegangan Tertinggi Sistem (kV)

< 245
< 300
< 420
< 550

<

2
3

800

Bab

77

Pelindung Tegangan Lebih

n.

Arus impuls waktu 2ms


Kemampuan arester memikul arus impuls berdurasi 2 milisekon.

o.

Jarak rambat badan arester


Jarak rambat badan isolator ditentukan berdasarkan bobot polusi isolator di kawasan
penempatan arester

4.8

LOKASI PENEMPATAN ARESTER


Arester ditempatkan sedekat mungkin dengan peralatan yang dilindungi dengan tujuan:

1.
2.

3.

Untuk mengurangi peluang tegangan impuls merambat pada kawat penghubung


arester dengan peralatan yang dilindungi.
Saat arester bekerja, gelombang tegangan impuls sisa merambat pada kawat penghubung transformator dengan arester. Setelah gelombang tegangan itu tiba pada
terminal transformator, gelombang tegangan tersebut akan dipantulkan, sehingga
total tegangan pada terminal arester dua kali tegangan sisa. Peristiwa ini dapat
dicegah jika arester dipasang langsung pada terminal transformator.

Jika kawat penghubung arester dengan transformator yang dilindungi cukup


panjang, maka induktansi kawat itu harus diperhitungkan. Misalkan induktansi
kawat penghubung adalah L, tegangan sisa arester adalah 1R, dan kecuraman
muka gelombang afl.ls impuls adalah dildt, maka tegangan yang tiba pada terminal
transformator adalah:

V=IR+L

di

4.13

dt

Jika ada kapasitor pada terminal peralatan yang dilindungi, maka kecuraman
gelombang tegangan impuls yang menuju peralatan akan berkurang, sehingga dildt
berkurang. Dalam hal ini, tidak menjadi masalah jika ada kawat penghubung arester
dengan peralatan yang dilindungi.
Karena keterbatasan tempat, ada kalanya arester ditempatkan dengan jarak tertentu
dari peralatan yang dilindungi. Jarak arester dengan peralatan yang dilindungi berpengaruh
terhadap besar tegangan yang tiba pada peralatan. Telah disebutkan sebelumnya, jika
jarak arester terlalu jauh, maka tegangan yang tiba pada peralatan dapat mencapai dua
kali tegangan yang datang. Hal ini dapat dijelaskan dengan konsep gelombang berjalan.
Pada Gambar 4.21 di halaman 78. diperlihatkan suatu gelombang tegangan impuls,
merambat pada suatu jaringan yang impedansi impulsnya 2,, menuju suatu jaringan
yang impedansi impulsny a Zr. Titlk I adalah titik persambungan kedua jaringan, dapat
berupa titik sambung jaringan hantaran udara dengan kabel, atau titik sambung jaringan
dengan transformator atau ujung dari suatu jaringan, atau sambungan jaringan transmisi
dengan rel daya gardu induk. Tegangan pada titik T dapat dinyatakan sebagai berikut:

et=ef+er
Karena arus yang dipantulkan berpolaritas negatif, maka arus pada

i, =

i.f

- i,

4.t4

titik T

adalah'.

4.15

Menurut Hukum Ohm:

ef
et
e,
,, _
,'_
ZI
ZI'
Z;

4.16

78

Peralatan Tegangan linggi

Keterangan:
er = Gelombang
rr = Gelombang
e, = Gelombang
j. = Gelombang
er = Gelombang
l, = Gelombang

r, <e,<-

tegangan yang datang


arus yang datang
tegangan yang dipantulkan
arus yang dipantulkan
tegangan yang diteruskan
arus yang datang diteruskan

GAMBAR 4.21
Gelombang berjalan dan pantulannya

Substitusi Persamaan 4.16 ke dalam Persamaan 4. 15 menghasilkan:

Zr--

Z,-

4.1',l

zl

Dari Persamaan 4.14 diperoleh tegangan e. dan jika tegangan ini disubstitusikan

ke

dalam Persamaan 4.17, maka didapatkan:

er-

el

22 21
-=-et

el

z1

2rf

et

Zr' Zr-

zl

* Z,+2,
zJ,

atau

n,

atau

,=J*

2ur

zr

22,

rr*r,

4.18

Dengan cara yang sama, tegangan yang dipantulkan dapat diturunkan, hasilnya adalah
sebagai

berikut:
, =

Z, _ Z,
.f

"

#,
-

co, dan tegangan yang terjadi pada

2e,

4.20

Jlka Z, adalah suatu transformator, maka Z,


terminal transformator adalah:
e,

4.19

Artinya, nilai tegangan pada terminal transformator dua kali tegangan yang datang
menuju terminal transformator.
Sekarang dimisalkan ada suatu arester terpasang di antara jaringan dengan transformator seperti diperlihatkan pada Gambat 4.22.
Suatu gelombang tegangan (er) merambat menuju terminal transfotmator dan ketika
gelombang tiba di terminal arester, arester bekerja sehingga gelombang yang diteruskan
ke transformator adalah seperti gelombang e, dalam hal ini kecuraman muka gelombang
sama dengan gelombang semula dan puncaknya sama dengan tegangan percik sela
arester (%). Menurut Persamaan 4.20, tegangan pada terminal transformator adalah
dua kali tegangan yang datang. Karena tegangan yang datang merupakan fungsi waktu,
maka tegangan pada terminal transformator juga merupakan fungsi waktu. Jika r = 0
dihitung saat gelombang e., tiba di terminal arester dan kecepatan merambat gelombang

Bab

Pelindung Tegangan Lebih

79

GAMBAR 4.22
Transformator dan arester terpisah

adalah v, maka waktu tempuh gelombang dari terminal arester ke terminal transfomator
adalah:

l=,

4.21

Tegangan pada terminal transfomator terbentuk dalam2t atatZllu, yaitu waktu tempuh
tegangan pantulan menuju arester ditambah dengan waktu tempuh tegangan pantulan
negatif dari arester kembali menuju terminal transformator. Tegangan maksimum terminal
transformator pada pantulan pertama gelombang dapat dinyatakan sebagai berikut:

Aa)

V,=Vr+ 2tl
V,=Vo

atau

dengan:

+ zl,f,

4.23

= jarak maksimum arester dengan peralatan (m)

rlvt _ tegangan pada terminal transformator


r/yd _ tegangan percik arester (kV)
kecuraman muka gelombang tegangan
lt-

\_

v--

impuls (kV/pcs)

kecepatan rambat tegangan impuls (m/fts)

Dalam praktiknya, tegangan mungkin lebih tinggi daripada perkiraan di atas karena
terjadinya osilasi sebagai akibat adanya induktansi penghantar yang menghubungkan
arester dengan transformator dan adanya kapasitansi dari transformator itu sendiri.
Di samping itu, saat arester bekerja mengalirkan arus petir ke bumi, maka terjadi
jatuh tegangan pada resistansi penghantar penghubung arester dengan jaringan dan
penghubung arester dengan elektroda pembumian. Jatuh tegangan ini dipengaruhi
oleh kenaikan arus petir dan akan mengakibatkan kenaikan tegangan antara terminal
arester dengan bumi. Adanya perbedaan potensial pembumian transformator dengan
potensial pembumian arester juga menambah tegangan di antara isolasi transformator.
Sehubungan dengan hal-hal di atas, adalah lebih baik membuat penghantar penghubung
sependek mungkin dan menghubungkan elektroda pembumian arester dengan elektroda
pembumian transformator. Resistansi pembumian diusahakan serendah mungkin, dan
akan lebih baik jika dapat dibuat di bawah satu ohm.
Jika diketahui tegangan impuls maksimum yang dapat dipikul transformator (BIL)
dalam kV, maka jarak maksimum arester dari peralatan dapat ditentukan sebagai berikut:

80

Peralatan Tegangan Tinggi

l_
lmaks

% *uk,

4.9

v (vt

maks

vu)

4.24

2\

= tegangan impuls maksimum yang dapat dipikul transformator (kV).

KAWAT TANAH
Kawat tanah diikat pada puncak menara transmisi, ditarik sejajar dengan kawat fasa,
seperti diperlihatkan pada Gambar 4.23.
Kegunaan kawat tanah adalah untuk melindungi karvat fasa transmisi agar tidak
disambar petir. Jika terjadi sambaran petir pada transmisi, maka yang diterpa petir adalah

kawat tanah. Di samping itu, kawat tanah memberi jalan bagi gelombang tegangan
impuls petir, sehingga impedansi impuls yang dilalui arus petir semakin rendah. Hal
ini lebih mudah dipahami dengan bantuan Gambar 4.24. Jika petir menyambar puncak
menara, maka satu kawat tanah menjadi dua kawat paralel bagi arus petir, sehingga
impedansi impuls yang ditemui sambaran petir adalah impedansi ekuivalen dari tiga
impedansi yang terhubung paralel.
Kawat tanah dengan kawat fasa transmisi membentuk kopeling magnetik dan
elektrik. Kopeling magnetik dan elektrik akan mengurangi kegagalan isolasi sistem.
Dengan kata lain, kawat tanah dapat mengurangi kegagalan isolasi sistem.
Kawat tanah umumnya terbuat dari bahan baja galvanis. Dewasa ini, bahan dan
ukuran kawat tanah dibuat sama dengan kawat fasa transmisi. Pemilihan kawat tanah
lebih ditekankan pada aspek kekuatan mekanis daripada aspek elektriknya.
Ada dua hal penting dalam merancang kawat tanah, yaitu sudut proteksi dan zona
proteksi. Sudut proteksi adalah sudut yang dibentuk sumbu vertikal yang melalui kawat
tanah dengan garis yang menghubungkan kawat tanah dengan kalvat fasa paling luar.
Pada Gambar 4.23a diperlihatkan sudut proteksi sebesar a. Pada umuflmya, a = 30o.

Kawat tanah

(a)

GAMBAR 4.23
Kawat tanah pada transmisi

\.b)

(c)

Bab

Pelindung Tegangan Lebih

81

1
v

4
v

t,
?
iu
Tanpa Kawat Tanah
Lr-L,

Satu Kawat Tanah

r11l
Z. Z 'Z '2.

GAMBAR 4.24
Pengaruh kawat tanah terhadap impedansi impuls

Zona proteksi adalah kawasan di bawah kawat tanah, yang membatasi tempat objek-

objek yang dilindungi kawat tanah. Peluang suatu objek yang berada pada kawasan
tersebut terkena sambaran petir adalah sangat kecil. Zona proteksi yang diberikan oleh
kawat tanah transmisi diperlihatkan pada Gambar 4.25 di halaman 82. Zona proteksi
bergantung kepada banyaknya kawat tanah dan ketinggian kawat tanah di atas tanah.
Antara kaki menara dengan tanah terdapat resistansi kontak yang disebut dengan
resistansi kaki menara. Jika petir menyambar menara, maka arus petir mengalir ke tanah
melalui menara. Ketika menara menghantarkan arus ke tanah, terjadi jatuh tegangan
pada resistansi kaki menara, mengakibatkan menara bertegangan tinggi. Tegangan
tinggi pada menara dapat mengakibatkan terjadinya beda tegangan yang besar antara
kawat fasa dengan menara maupun antara kawat fasa dengan kawat tanah. Jika beda
tegangan tersebut melebihi tegangan lewat denyar isolator, akan terjadi lewat denyar dari

kawat fasa ke menara atau hubung singkat fasa-ke-tanah. Untuk mencegah terjadinya
lewat denyar pada isolator, maka harus ada jarak yang aman antara kawat fasa dengan
struktur menara maupun dengan kawat tanah. Mengingat bahwa penambahan jarak kawat
fasa ke struktur menara akan menambah biaya struktur menara, maka cara yang lebih

ekonomis adalah membatasi kenaikan tegangan pada menara. Hal

ini

dapat dicapai

dengan mengurangi resistansi kaki menara.


Resistansi kaki menara dapat dikurangi dengan mempermudah arus petir mengalir
ke tanah, yaitu dengan menambah luas permukaan konduktif yang mengadakan kontak

dengan tanah. Berikut

ini akan dijelaskan dua cara untuk menambah luas

permukaan

konduktif tersebutPertama, menanam tegak beberapa elektroda batang di sekitar kaki menara, yang
terhubung konduktif dengan kaki menara. umumnya, diameter elektroda +15 mm dan
panjangnya +2,5 - 3 m. Untuk membatasi tegangan menara, resistansi kaki menara
dibatasi hingga 10 ohm. untuk mencapai nilai resistansi di bawah l0 ohm, jumlah dan
panjang elektroda batang diperbanyak. Di daerah yang struktur tanahnya keras atau
berbatu-batu, panjang elektroda dapat mencapai 50 m. Resistansi kaki menara akan
semakin rendah, jika panjang dan tebal atau diameter elektroda semakin besar. Tetapi,
adalah lebih baik menggunakan elektroda batang yang tipis tetapi panjang daripada

82

Peralatan Tegangan 1 rnggi

(.r) Satu kawat tanah

(b) Dua kawat tanah

GAMBAR 4.25
Zona proteksi kawat tanah transmisi

elektroda batang tebal tetapi pendek. Bila elektroda berupa pipa konduktif, lebih baik
menambah panjang elektroda daripada menambah diameternya.
Cara kedua, adalah dengan metode counterpoise, yaitu dengan menanam beberapa kawat baja galvanis atau ACSR di dalam tanah pada kedalaman 0,5 - 1 m di
bawah permukaan tanah. Panjang kawat 50 - 100 m, digelar memanjang di bawah
kawat transmisi dan sejajar dengan kawat transmisi. Kemudian kawat-kawat tersebut
dihubungkan ke kaki menara, seperti diperlihatkan pada Gambar 4.26. Kawat dapat
juga digelar di bawah kaki menara dengan arah radial, atau kombinasi kawat radial
dengan kawat memanjang. Metode ini dapat mengurangi impedansi impuls menara
hingga mencapai 25 ohm.
Kaki Menara

Kaki Menara

Kawat Tunggal Kontinu

t
4.

Kawat Radial

f;

Kombinasi Kawat Kontinu


dengan Kawat Radial

GAMBAR 4.26
Counterpoise pada kaki menara transmisi

Bab 5

Sakelar Pemisah

ntuk menjaga kontinuitas pelayanan, maka komponen-komponen sistem tenaga


listrik harus dipelihara secara teratur. Ketika pemeliharaan tersebut dilaksanakan,
komponen yang akan menjalani pemeliharaan harus dipisahkan dari sistem, sehingga
benar-benar bebas dari tegangan tinggi. Dengan demikian operator dapat melaksanakan
pemeliharaan dengan aman. Untuk mencegah terjadinya bahaya tegangan tinggi. operator
harus melihat dengan jelas bahwa komponen yang akan menjalani pemeliharaan benarbenar sudah terpisah dari rangkaian sistem. Hal ini dapat dilakukan dengan suatu alat
yang disebut sakelar pemisah (disconnecting switcll.
Dalam bab ini dijelaskan peran sakelar pemisah pada sistem tenaga listrik; jenis
dan konstruksi sakelar pemisah; spesifikasi, pemilihan dan pengujian sakelar pemisah.

5.1

KONSTRUKSI SAKELAR PEMISAH


Pada Gambar 5.1 diperlihatkan dua contoh sakelar pemisah.

Penggerak

Lengan

Kontak
Terminal
Isolator
Pendukung

Rangka Pendukung

(a) Tegangan menengah

GAMBAR 5.1
Sakelar pemisah

(D) Tegangan tinggi

84

Peralatan Tegangan Tinggi

Komponen utama suatu sakelar pemisah adalah: rangka pendukung, isolator


pendukung, lengan pemisah, kontak, terminal dan penggerak. Untuk sakelar pemisah
seperti Gambar 5.|a, lengan pemisah digerakkan secara manual dengan menggunakan
tongkat pengait. Untuk sakelar pemisah tegangan tinggi, lengan pemisah digerakkan
dengan penggerak mekanik atau penggerak elektrik. Penggerak mekanik maupun
elektrik dapat dioperasikan dengan menekan tombol "on-off' yang berada di bawah
sakelar pemisah atau dengan kendali jarak jauh. Rangka pendukung harus sedemikian
tingginya, sehingga operator dapat berdiri di bawahnya.
Sakelar pemisah dapat memisahkan dan menghubungkan sistem dengan suatu
rangkaian atau peralatan berarus lemah (+J ampere), atau pemisahan rangkaian yang
*"ni*bulku, beda tegangan antar terminal sakelar pemisah tidak signiflkan. Sakelar
pemisah dirancang mampu memutuskan arus peluahan transmisi pendek dan arus
magnetisasi transformator. Pada keadaan normal, sakelar pemisah harus dapat melewatkan
arus beban kontinu; dan arus hubung singkat dalam waktu terbatas. Ketika melewatkan
arus hubung singkat, kontak harus tetap tertutup dan pada komponen konduktif sakelar
pemisah tidak terjadi panas yang berlebihan. Konstruksi sakelar pemisah harus terbuka,
sehingga status operasinya (tertutup atau terbuka) dapat terlihat dengan jelas oleh
operator. Dengan demikian, operator yakin bahwa peralatan atau jaringan yang akan
dirawat benar-benar sudah bebas dari tegangan tinggi.
Perbedaan sakelar pemisah dengan pemutus daya diperlihatkan pada Tabel 5.1.

TABEL 5.1
Perbedaan sakelar pemisah dengan pemutus daya

Sakelar Pemisah 1DS)

Pemutus Daya (CB)


Memisahkan rangkaian

Memisahkan rangkaian

Mampu mengalirkan arus beban kontinu

Mampu mengalirkan arus beban kontinu

Mampu memikul tegangan sistem

Mampu memikul tegangan sistem

Dapat memutuskan arus beban

Tidak dapat memutuskan arus beban, kecuali


arus beban +5

Dapat memutuskan arus hubung singkat

Tidak dapat memutuskan arus hubung singkat

Dapat menghubungkan sumber dengan suatu

Tidak dapat menghubungkan sumber dengan


suatu jaringan yang sedang terhubung singkat

jaringan yang sedang terhubung singkat


Dapat menghubungkan beban besar pada
suatu rangkaian

Tidak dapat menghubungkan beban besar

Ketika membuka suatu rangkaian, timbul


tegangan tinggi di antaratedua kutubnya

Ketika membuka suatu rangkaian, beda


tegangan di antara kedua kutubnya tidak

pada suatu rangkaian

tinggi
Ketika membuka, timbul busur api berenergi
besar pada sela kontak, sehingga perlu usaha
pemadaman busur api
Operasi penutupan dan Pembukaan

berlangsung cepat

Ketika membuka, timbul busur api berenergi


rendah pada sela kontak, sehingga busur api
padam sendiri
Operasi penutupan dan pembukaan
berlangsung lebih lambat

Bab

5,2

85

Sakelar Pemisah

FUNGSI SAKELAR PEMISAH


Sebelumnya telah dijelaskan bahwa jenis gardu terdiri dari gardu beban, gardu pembangkit
dan gardu hubung. Banyaknya sakelar pemisah yang digunakan pada suatu gardu

tergantung kepada jenis gardu tersebut. Pada Gambar 5.2 diperlihatkan contoh lokasi
penempatan sakelar pemisah pada suatu gardu induk.
Berdasarkan penempatannya, sakelar pemisah dibagi atas tiga jenis, yaitu: sakelar
pemisah jaringan (DS,), sakelar pemisah bus (DS6) dan sakelar pemisah trafo (DS,).
Dengan Gambar 5.2 dapat diperlihatkan peranan sakelar pemisah dalam pemeliharaan
peralatan sistem tenaga listrik. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa suatu kawat transmisi
dengan tanah membentuk susunan kapasitor. Oleh karena itu, ketika suatu transmisi
dipisahkan dari sistem, kawat transmisi akan menyimpan muatan listrik. Selain daripada
itu, awan bermuatan di sekitar transmisi dan sambaran petir langsung maupun tidak
langsung, dapat juga menginduksikan muatan listrik pada kawat transmisi. Oleh karena

itu, kawat transmisi yang sudah dipisahkan dari sistem harus selalu dibumikan.
Jika pemutus daya CB, akan menjalani pemeliharaan, maka kedua sakelar pemisah

DS, dan DS, harus dibuka agar CB, benar-benar bebas dari tegangan tinggi, baik
tegangan yang berasal dari sumber maupun yang berasal dari induksi muatan pada
kawat transmisi. Sebenarnya tegangan pada CB, dapat ditiadakan dengan membuka
CB, dan DSr, tetapi kawat transmisi masih bertegangan karena masih menyimpan
muatan. Oleh karena itu, agar CB, benar-benar bebas dari tegangan, maka CB, harus
dipisahkan dari jaringan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka DS, dan DSr.
Jika pemeliharaan hendak dilakukan pada transmisi, maka prosedurnya adalah
sebagai berikut: CB, dan CBrdlbuka terlebih dahulu; setelah itu, DS, pada kedua ujung
transmisi dibuka; kemudian kawat transmisi dibumikan agar transmisi tidak menyimpan
muatan listrik. Pembumian kawat transmisi dapat dilakukan dengan menambah satu
sakelar pada DS,. Sakelar ini disebut sakelar pembumian, berfungsi untuk menghubungkan

kawat transmisi ke tanah sesaat setelah sakelar pemisah membuka. Hal yang sama juga
dilakukan ketika memisahkan kapasitor shunt dari sistem.

Porsea

Dari Pematang

Siantar

_-___________> r. Tl
......-........:..........._Y

/_1

Keterangan:
-J- = Sakelar Pemisah

tr
O

""""
-->

f\114-n$
\-)___/ i.
z I 'J

+flr_

DS,

DSO

CB.
Tarutung

= Pemutus Daya

=Trafo
= Trafo

= Beban

GAMBAR 5.2
Lokasi penempatan sakelar pemisah

Ke

Tele

86

Peralatan Tegangan

5.3

JENIS KONSTRUKSI SAKELAR PEMISAH

tnggi

Dilihat dari jumlah kutubnya, sakelar pemisah dibagi atas dua jenis, yaitu sakelar
pemisah kutub tunggal (satu fasa) dan sakelar pemisah tiga kutub (tiga fasa). Berdasarkan
lokasi pemasangannya, sakelar pemisah dibagi atas pasangan dalam dan pasangan luar.
Berdasarkan posisi perletakannya, sakelar pemisah dibagi atas tigajenis, yaitu horizontal,
vertikal (Gambar 5.3a) dan terbalik (Cambar 5.3b).
Ditinjau dari arah gerakan lengan pemisah, sakelar pemisah dibagi atas gerak
lengan vertikal (Gambar 5.14) dan gerak lengan horizontal (Gambar 5.lb). Sedangkan
ditiniau dari jumlah kontaknya, sakelar pemisah dibagi atas dua jenis, yaitu kontak
tunggal dan kontak ganda. Jenis kontak tunggal ada dua, yaitu lengan pemisah tunggal
dan lengan pemisah ganda. Skema operasi "tutup-buka" jenis sakelar pemisah kontak
tunggal dan kontak ganda diperlihatkan pada Gambar 5.4.
Untuk menyederhanakan nama sakelar pemisah, maka jenis sakelar pada Gambar
5.4 diberi nama sebagai berikut: sakelar pemisah vertikal (Gambar 5.44), sakelar
pemisah lengan ganda (Gambar 5.4b), dan sakelar pemisah lengan berputar (Gambar
5.4c). Berikut ini akan dijelaskan konstruksi ketiga jenis sakelar pemisah tersebut.

(a) Posisi vertikal

thl Posisi terbalik

GAMBAR 5.3
Sakelar pemisah vertikal dan terbalik

Kontak

I *.,*o

"/

Tutup

t'
Buka

o\.

I
I

A..L

l/
I

Tutup

(a) Kontak tunggal lengan


tunggal

lI

Buka

(D) Kontak tunggal lengan


ganda

GAMBAR 5.4
Skema "tutup-buka" sakelar pemisah

y*

i
x

A'

lh"**
Tutup

(c)

Kontak ganda

Buka

Bab

Sakelar Pemisah

87

Sakelar Pemisah Vertikal


Sakelar pemisah vertikal paling banyak digunakan pada sistem tenaga listrik dan penggunaannya sangat luas. Konstruksinya diperlihatkan pada Gambar 5.5.
Jika penggerak mekanik (2) dioperasikan, maka isolator (4) berputar, menggerakkan
pendorong pegas (9), sehingga pegas (10) terenergisasi menahan lengan (6) agar tetap

pada posisi horizontal. Jika penggerak mekanik (J) dioperasikan berlawanan dengan
operasi semula, maka isolator (4) berputar berlawanan dengan arah semula, pendorong
pegas (9) bergesel sehingga pegas (10) membebaskan energi untuk menggerakkan
lengan (6) secara vertikal. Karena gerakan lengan pada sakelar pemisah ini adalah
vertikal, maka sakelar pemisah ini disebut sakelar pemisah vertikal.
Sakelar pemisah di atas dan juga sakelar tegangan tinggi lainnya, mempunyai dua

sakelar, yaitu sakelar utama dan sakelar pembumian (12). Dalam praktiknya, setelah
sakelar utama dibuka, sakelar pembumian ditutup. Kedua sakelar ini mempunyai
hubungan interlok, sehingga sakelar pembumian dapat ditutup setelah sakelar utama
terbuka dan sakelar utama tidak dapat ditutup sebelum sakelar pembumian dibuka.
Kontak bergerak terbuat dari bahan aluminium atau tembaga yang dilapisi dengan
perak. Kontak tetap dilengkapi dengan pegas plat untuk menekan kontak bergerak dengan
tekanan yang konstan. resistansi kontak tidak berubah signifikan, meskipun sudah lama
digunakan. Kontak dapat rusak karena arus hubung singkat. oleh karena itu, kontak
dirancang sedemikian, sehingga mudah diganti. Karena konstruksi kontaknya kompak,
sakelar ini mampu memikul arus hubung singkat yang tinggi.
Sakelar pemisah juga dilengkapi dengan kontak bantu untuk keperluan indikasi
posisi kontak. Kontak bantu dihubungkan ke lampu indikasi pada ruang kontrol, sehingga
operator dapat mengetahui status buka-tutup sakelar pemisah.
Jika kekuatan dielektrik antara fasa dengan fasa dan antara terminal dengan terminal
pada kutub yang sama lebih tinggi daripada kekuatan dielektrik ke tanah, maka sakelar
pemisah dilengkapi dengan sela pelindung.

Keterangan:
1 = Rangka pendukung
2 = Penggerak mekanik
3 = Pemutar isolator
4 = Isolator berputar
5 = Isolator tetap
6 = Lengan pemisah

7
8
9

= Kontak
= Terminal

= Pendorong pegas

10 = Pegas pemegang lengan

l1 = Sela pelindung
= Sakelar pembumian

12

GAMBAR 5.5
Sakelar pemisah vertikal

88

Peralatan Tegangan llnggi

Keterangan:
I = Rangka pendukung
2 = Penggerak mekanik
3 = Pemutar
4 = Isolator
5 = Lengan pemisah
6 = Kontak
7 = Sela pelindung
8 = Sakelar pembumian
9 = Teminal

GAMBAR 5.6
Sakelar pemisah lengan ganda

Sakelar Pemisah Lengan Ganda


Konstruksi sakelar pemisah lengan ganda diperlihatkan pada Gambar 5.6. Sakelar
ini hanya membutuhkan dua isolator pendukung. Untuk sistem tiga fasa, sakelar ini
membutuhkan 6 unit isolator, sedangkan sakelar pemisah jenis lain membutuhkan 9
unit isolator. Sakelar ini digunakan jika jarak bebas antara sakelar dengan hantaran
udara di atasnya terbatas. Jarak terminal antar fasa lebih besar dibandingkan dengan
sakelar pemisah yang lain. Untuk menghemat pemakaian ruang, maka kedua isolator
pendukung dapat disusun dalam bentuk "V" seperli diperlihatkan pada Gambar 5.7.

Sakelar Pemisah Lengan Berputar


Konstruksi sakelar pemisah lengan berputar diperlihatkan pada Gambar 5.8. Ketika
sakelar terbuka, lengan pemisah tidak bertegangan, sehingga ruang antar fasa dapat

GAMBAR 5.7
Sakelar pemisah lengan ganda dengan isolator pendukung disusun berbentuk "V"

Bab

Sakelar Pemisah

89

Keterangan:
1 = Rangka pendukung
2 = Penggerak mekanik
3 = Pemutar
4 = Isolator
5 = Lengan pemisah
6
7
8
9

= Kontak
= Sela pelindung
= Sakelar pembumian
= Terminal

GAMBAR 5.8
Sakelar pemisah lengan berputar

dibuat sama dengan ruang antar fasa sakelar kontak tunggal-lengan tunggal (sakelar
vertikal). Sakelar ini digunakan jika jarak bebas antara sakelar dengan hantaran udara
di atasnya sangat terbatas. Ketika memutar lengan pemisah, penggerak mekanik sakelar

ini membutuhkan energi yang rendah, karena penggerak mekanik tidak dibebani dengan
pegas sepefii halnya pada sakelar pemisah vertikal. Karena kedua ujung lengan pemisah

masing-masing diikat oleh satu kontak (ada dua kontak pengikat), maka sakelar ini
dapat memikul arus hubung singkat yang tinggi, memutuskan arus magnetisasi dan
arus pengisian transmisi (line discharge) yang lebih besar dibandingkan dengan jenis
sakelar pemisah yang lain.
Jika ruang untuk instalasi terbatas, maka kedua isolator pendukung (4) dapat
disusun dalam bentuk "V" seperti diperlihatkan pada Gambar 5.9.

GAMBAR 5,9
Sakelar pemisah lengan berputar dengan isolator pendukung disusun berbentuk"V"

90

Peralatan Tegangan linggi

5.4

INTERLOK SAKELAR PEMISAH


Kesalahan operasi sakelar pemisah dapat merusak peralatan lain dalam sistem, sehingga

biaya pemeliharaan berlambah. Untuk mencegah kesalahan operasi, dibuat interlok


antara sakelar pemisah dengan pemutus daya, antara sakelar pemisah dengan sakelar
pembumian dan antara sakelar pemisah dengan sakelar pemisah yang lain. Interlok dapat
dijelaskan dengan mengambil contoh sistem seperti diperlihatkan pada Gambar 5.10.
Interlok harus memenuhi syarat-syarat di bawah ini:

.
.
.
.

Sakelar pemisah (DS) tidak dapat ditutup sebelum pemutus daya (.PD) terkunci
pada posisi terbuka.
Sakelar pembumian (ES) dapat ditutup hanya ketika sakelar pemisah terkunci pada
posisi terbuka dan tidak ada busur api.
Sakelar pemisah dapat ditutup hanya ketika pemutus daya dan sakelar pembumian
dalam keadaan terbuka.
Pemutus daya hanya dapat ditutup setelah semua sakelar pemisah terkunci dalam
posisi tertutup atau dalam posisi terbuka.

Ada tiga cara mengadakan interlok, yaitu dengan hubungan mekanik, dengan
menggunakan kunci, atau dengan menggunakan solenoid. Cara pertama digunakan
pada sakelar pemisah yang dioperasikan manual. Interlok dilakukan dengan membuat
hubungan mekanik antara poros sakelar utama dengan poros sakelar pembumian,
sehingga sakelar utama tidak dapat ditutup jika sakelar pembumian masih terhubung.
Sebaliknya, sakelar pembumian tidak dapat ditutup jika sakelar utama masih terhubung.
Cara kedua digunakan pada sakelar pemisah yang dioperasikan dengan perangkat
elektromekanik. Kunci berfungsi untuk meluluskan atau mencegah operasi sakelar
pemisah dan pemutus daya. Selain mengadakan interlok antara sakelar pembumian
dengan sakelar utama, cara ini dapat mengadakan interlok antara satu sakelar pemisah
dengan sakelar pemisah lain pada jaringan yang sama, maupun interlok antara sakelar
pemisah dengan pemutus daya. Cara ketiga digunakan untuk meyakinkan pemutus
daya sudah terbuka sebelum sakelar pemisah dibuka. Solenoid dipasang pada sakelar

pemisah, dan dapat dioperasikan dengan sakelar kendali.

---T--.d
-]G1l
I

-n

GAMBAR 5.10
Jaringan keluaran suatu sistem

l^

DS

Bab

5.5

91

Sakelar Pemisah

PENGENAL SAKELAR PEMISAH


Menurut IF,C 60694, suatu sakelar pemisah umunmya dilengkapi dengan informasi
tentang nilai nominal dari:

Tegangan Nominal
Tegangan pengenal suatu sakelar pemisah ditetapkan sama dengan tegangan tertinggi

sistem. Tegangan tertinggi sistem menurut standar IEC adalah: 3,6 kV; 7,2 kY;
12 kV; 17,5 kV; 24 kY;36 kV; 52 kY 72,5 kY; 100 kV; 123 kY:. 145 kV; 170
kY;245 kV; 300 kY;362 kY; 420 kV; 550 kV; 800 kV

Tingkat Isolasi
Adalah ketahanan sakelar pemisah memikul tegangan impuls petir standar, tegangan
impuls hubung-buka standar dan tegangan frekuensi daya. Untuk sakelar pemisah
dengan tegangan nominal hingga 245 kV, nilainya diperlihatkan pada Tabel 5.2.
Sedangkan untuk sakelar pemisah dengan tegangan nominal lebih daripada 245
kV dapat dilihat pada IEC 60694. Nilai pada tabel adalah nilai ketika atmosfer
dalam keadaan standar.
TABEL 5.2

Tingkat lsolasi Sakelar Pemisah


Tegangan
Pengenal

Ketahanan Tegangan Impuls


Standar 1,2150 ps

Ketahanan Tegangan AC
50 Hz l Menit

kV-rms

Ke Tanah dan

Antara Titik

Ke Tanah dan

Antara Titik

Antar Kutub

yang Dipisahkan

Antar Kutub

yang Dipisahkan

3,6

10

t2

20140*

23146*

1a

20

23

40160*

46170*

t2

28

32

60175*

70185*

24

50

60

951125*

36

70

80

145t170*

t65t195*

7)\

140

160

325

375

145

185

210

450

520

245

360

415

850

950

10/140*

*) Untuk tingkat keamanan yang lebih tinggi

Frekuensi

Nominal

Nilai standar frekuensi nominal adalah 16

-,

Hz, 25 Hz, 50 Hz and 60 Hz.

Arus Nominal
Adalah arus (rms) tertinggi yang dapat dialirkan sakelar pemisah dalam waktu
tidak terbatas. Arus pengenal standar sakelar pemisah yang dijumpai dewasa ini
antara lain adalah: 200,400,630, 800, 1250, 1600,2000,2500,3150,4000,5000,
6300 A.

Kenaikan Temperatur
Batas maksimum kenaikan temperatur komponen peralatan sakelar pemisah adalah

40 'C di atas temperatur sekelilingnya.

92

Peralatan Tegangan llnggi

Ketahanan Arus Waktu Singkat


Adalah nilai tertinggi arus efektif yang dapat dipikul sakelar pemisah dalam
satu sekon. Hal ini perlu, karena adakalanya sakelar pemisah mengalirkan arus
hubung singkat yang berlangsung dalam waktu singkat. (Arus hubung singkat
berlangsung singkat karena segera diputuskan oleh pemutus daya atau sekering)'
sama dengan arus hubung
dengan ketahanan arus
sama
pemisah
atau
sakelar
penempatan
pada
lokasi
singkat
pemisah tersebut.
sakelar
dengan
seri
yang
terhubung
pemutus
daya
waktu singkat
50;
16;20:'25;31,5;40;
12,5;
10;
8;
adalah:
besarnya
yang
ada
Menurut standar
63: 100 kA.

Nilai ketahanan arus waktu singkat sekurang-kurangnya

Ketahanan Arus Puncak


Adalah nilai tertinggi puncak arus yang dapat dipikul sakelar pemisah dalam satu
sekon. Hal ini berhubungan dengan arus hubung singkat yang mengalir pada sakelar
pemisah. Jika frekuensi sistem adalah 50 Hz, nilai puncak arus sama dengan 2,5
kali nilai ketahanan arus singkat, sedangkan pada frekuensi sistem 60 Hz, nilai
puncak arus sama dengan 2,6 kali nilai ketahanan arus singkat'

Durasi Hubung Singkat


Durasi hubung singkat standar adalah satu sekon.

Kemampuan Arus Penutupan Hubung Singkat


Kemampuan ini dinyatakan hanya pada sakelar pembumian, berhubungan dengan
arus yang dialirkan sakelar pembumian ketika menghubung-singkatkan jaringan

ke tanah.
Tegangan Nominal Catu DaYa
Tegangan catu daya peralatan bantu untuk penutupan dan pembukaan sakelar
pemisah, umumnya adalah seperti diperlihatkan pada Tabel 5'3'
TABEL 5.3
Tegangan Catu Daya Peralatan Bantu Sakelar Pemisah

AC Satu Fasa (Volt)

120

AC Tiga Fasa (Volt)


1201208

1101125

Tekanan Gas Nominal

Data ini hanya ada jika sakelar pemisah menggunakan gas sebagai isolasi atau
menggunakan gas untuk keperluan operasi tutup-buka. Standar tekanan gas adalah:
0,5 MPa; 1 MPa; 1,6 MPa; 2 MPa;3 MPa; 4 MPa.

Zona Kontak Nominal


Kontak tetap suatu sakelar pemisah dapat bergeser dari kedudukan normalnya,
karena adanya gaya yang dialami kontak tetap. Gaya tersebut adalah akibat adanya
tiupan angin pada konduktor penghubung, rel daya dan peralatan bergerak. Zona

Bab

Sakeiar Pemisah

93

kontak nominal adalah toleransi pergeseran kontak tetap suatu sakelar pemisah.
Spesiflkasi zona kontak diberikan oleh pabrikan. Pemakai harus yakin bahwa
pergeseran kedudukan kontak tetap tidak melebihi toleransi yang diberikan pabrikan.

Beban Mekanik Nominal Terminal


Konduktor penghubung (padu atau fleksibel) merupakan beban statis bagi terminal
suatu sakelar pemisah. Jika pada konduktor penglubung tersebut mengalir arus
hubung singkat, maka gaya antar konduktor akan meningkat tajam dan merupakan
beban mekanik bagi terminal sakelar pemisah. Kombinasi beban statis dan gaya
akibat arus hubung singkat disebut beban mekanik dinamis.

Kemampuan Transfer Arus ke Bus


Adalah kemampuan sakelar pemisah mentransfer arus dari suatu rel daya ke rel
daya yang lain. Dibutuhkan untuk sakelar pemisah di atas 52 kV.
Kemampuan Arus Induksi Sakelar Pembumian
Adalah kemampuan sakelar pemisah memutuskan dan mengalirkan arus induksi
pada suatu jaringan akibat adanya kopling kapasitif dan kopling induktif jaringan
tersebut dengan jaringan lain. Hal ini dipertimbangkan hanya pada sakelar pemisah
transmisi jaringan ganda atau sakelar pemisah transmisi bergandengan.

5.6

PENGUJIAN SAKELAR PEMISAH


Pengujian sakelar pemisah terbagi atas uji jenis dan uji rutin. Uji jenis terdiri dari:

.
.
.
.
.
.
.
.
.

Pengujian tegangan tinggi impuls


Pengujian tegangan tinggi ac
Pengujian perangkat kontrol
Pengujian temperatur
Pengukuran resistansi kontak
Pengujian hubung singkat
Pengujian sakelar pembumian

Uji

pengoperasian

Pengujian ketahanan rnekanik

uji rutin terdiri dari:


Pengujian tegangan tinggi ac

Sedangkan

.
.
.
.

Pengujian perangkat kontrol

Uji

pengoperasian

Pengukuran resistansi kontak

Prosedur dan tegangan pengujian harus mengacu kepada standar pengujian yang dianut,
misalnya IEC 60694 dan IEC 62211-102.

5.1

PEMILIHAN SAKELAR PEMISAH


Pengadaan suatu sakelar pemisah melaiui empat tahap, yaitu:

1.
2.

Tahap pertama, pemakai menentukan spesiflkasi.


Tahap kedua, pemakai memesan kepada pabrikan sesuai dengan spesiflkasi yang
ditetapkan pada tahap pertama di atas.

94

Peralatan Tegangan llnggi

3.
4.

Tahap ketiga, pabrikan mengajukan penawaran kepada pemakai.


Tahap keempat, pemakai menetapkan pembelian.

Berikut ini akan dijelaskan hal-hal yang dilakukan pada tahap pertama sampai
dengan tahap ketiga.

Penentuan Spesifikasi
Dalam pemilihan sakelar pemisah dan sakelar pembumian, perlu dipertimbangkan perkembangan sistem, sehingga sakelar mampu menyesuaikan diri jika terjadi perkembangan
beban pada masa yang akan datang. Langkah persiapan sebelum menetapkan data
nominal suatu sakelar pemisah adalah menghimpun informasi dari lapangan mengenai
hal-hal di bawah ini:

.
.
.
.
.
.
.

Arus beban normal dan arus beban lebih


Kondisi gangguan
Beban statis dan dinamis terminal hasil rancangan gardu induk
Bentuk konduktor penghubung (konduktor padu atau fleksibel)
Keadaan lingkungan yang menyangkut: temperatur, ketinggian, kelembaban, jenis
dan tingkat bobot polusi, dan keadaan khusus lainnya
Unjuk kerja yang dibutuhkan (ketahanan mekanis)

Tujuan penggunaan sakelar pemisah (pemisah jaringan, pemisah rel daya, atau
sakelar pembumian)

Berdasarkan informasi di atas, dilakukan penentuan data nominal atau karakteristik


sakelar pemisah seperti tersebut pada sub-bab 5.5.

lnformasi untuk Pemesanan


Ketika memesan suatu sakelar pemisah, kepada pabrikan perlu diberikan informasi
tentang hal-hal di bawah ini.

1.

Tegangan nominal dan tertinggi, jumlah fasa, frekuensi nominal dan pembumian
sistem

2.
3.

Atmosfer (temperatur, ketinggian, polusi) lokasi pemasangan sakelar pemisah


Informasi yang berhubungan dengan karakteristik sakelar pemisah:
. Jenis pasangan (pasangan luar atau pasangan dalam)

'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Tegangan nominal
Tingkat ketahanan isolasi terhadap: tegangan impuls petir, tegangan lebih pada
frekuensi daya dan tegangan impuls hubung buka (untuk sakelar pemisah di
atas 300 kV)

Frekuensi nominal
Arus normal nominal
Arus waktu singkat nominal dan arus puncak nominal
Arus penutupan nominal dan arus induksi nominal sakelar pembumian
Durasi arus hubung singkat yang melalui sakelar pemisah
Beban mekanis (statis dan dinamis) terminal
Bentuk konduktor penghubung (konduktor padu atau fleksibel)
Tata letak pemasangan
Isolator: jumlahnya, jenis bahannya dan profll siripnya
Tingkat bobot polusi di lokasi pemasangan sakelar pemisah

Bab

o
.
.
.
.
'

Sakelar Pemisah

95

Zona kontak
Keperluan: transfer arus ke bus, sakelar pembumian atau pemisah
Unjuk kerja yang dibutuhkan (ketahanan mekanis)
Jumlah kutub
Jarak antar fasa
Ruang untuk operator

Informasi yang berhubungan dengan karakteristik mekanik sakelar pemisah:

'
.
.
.
.
o
5.

Metode pengoperasian: manual atau dengan penggerak mekanik; independen,


interlok atau dengan waktu tunda
Catu daya
Ketinggian lokasi pengoperasian
Jumlah dan jenis kontak bantu (auxiliary switch)
Tingkat perlindungan sela pelindung
Kemampuan tekanan kerja bejana jika menggunakan gas

Pengujian rutin yang perlu disaksikan pemakai sebelum pengiriman:


. Tebal lapisan cat, lapisan galvanis, dan lain-lain
. Pencegahan korosi
. Pengawatan kendali
' Aksesori dan dokumen-dokumen pemasangan, pengoperasian, penyimpanan
dan pengangkutan
. Waktu pengoperasian

Hal-hal khusus

lnformasi Penawaran Pabrikan


Informasi yang disertakan pada penawaran harus memenuhi semua spesifikasi yang
dibutuhkan pemakai dan menyebutkan penyimpangan dari spesifikasi tersebut. Sebagai
tambahan, pabrikan harus memberikan uraian rinci tentang peralatan dan melengkapilya
dengan gambar dan sertifikat pengujian. Informasi yang perlu diberikan pabrikan tepaOa
pemakai adalah sebagai berikut.

1.

2.

Nilai nominal dan karakteristik sakelar pemisah yang ditawarkan:

.
.
.
.
.
.
.
'
.
.
.
'

Jumlah kutub
Pemasangan terbuka atau tertutup
Tegangan

Tingkat ketahanan isolasi


Arus normal
Frekuensi

Arus waktu singkat nominal dan arus puncak nominal


Arus penutupan nominal dan arus induksi nominal sakelar pembumian
Arus transfer nominal
Kelas ketahanan mekanik
Kelas ketahanan elektrik (sakelar pembumian)

Hal-hal khusus

Corak konstruksi, meliputi:


. Jumlah pemisah per kutub
. Jarak pemisah per kutub
. Zona kontak
. Pencegahan korosi
' Gaya reaksi kontak pada saat pembukaan dan penutupan sakelar pemisah

96

Peralatan Tegangan linggi

-)-

Mekanisme pengoperasran:

.
.
.

Jenis pengoperasian
Tegangan catu daya atau tekanan untuk pengoperasian
Arus yang dibutuhkan untuk pengoperasian. Arus maksimum dan tegangan
maksimum pada terminal alat penggerak mekanik

Jumlah (volume) dan tekanan udara atau minyak yang dibutuhkan untuk

.
.
.
.
.
.

pengoperasiannya
Jumlah dan jenis kontak bantu
Daya untuk pengoperasian
Berat sakelar pemisah dan alat mekanisnya
Rancangan letak setiap alat mekanis
Rancangan sinyal indikasi status "tutup-buka" sakelar pemisah
Waktu pengoperasian membuka dan menutup

4.

Sertiflkat dan laporan hasil pengujian


Pabrikan harus memberikan sertifikat dan laporan hasil pengujian sakelar pemisah,
baik untuk suatu komponen maupun untuk keseluruhan sakelar pemisah.

5.

Dimensi dan informasi lainnya


Pabrikan harus memberikan dimensi keseluruhan sakelar pemisah baik pada
status membuka maupun pada status menutup. Dimensi tersebut diperlihatkan
pada gambar teknik sakelar pemisah. Berat keseluruhan sakelar pemisah juga
harus diinformasikan. Di samping itu, pabrikan juga harus memberikan petunjuk
pemeliharaan sakelar pemisah.

Bab 6

Trafo Tegangan

ntuk memonitor dan mengendalikan kinerja suatu sistem tenaga listrik, diperlukan
alat ukur, lampu indikator dan relai proteksi. pengukuran tegangan tinggi tidak
dapat dilakukan langsung seperti halnya pengukuran tegangan rendah, karena
selain berbahayabagi operator, adalah sulit membuat voltmeter yang mampu mengukur

langsung tegangan tinggi. Lampu indikator dan relai proteksi, juga membutuhkan
tegangan rendah. Oleh karena itu, diperlukan trafo tegangan untuk mentransformasi
tegangan sistem ke suatu tegangan rendah agar dapat diukur dengan voltmeter dan
dapat dimanfaatkan untuk keperluan lampu indikator dan relai proteksi.
Berikut ini akan dijelaskan prinsip kerja dan jenis-jenis trafo regangan; kesalahan
pengukuran dengan menggunakan trafo tegangan; spesiflkasi dan pemilihan trafo
tegangan; dan pengujian trafo tegangan.

6.1

JENIS TRAFO TEGANGAN


Pada Gambar 6.1 diperlihatkan contoh suatu trafo tegangan. Trafo tegangan adalah trafo

satu fasa step-down yang mentransformasi tegangan sistem ke suatu tegangan rendah

yang besarannya sesuai untuk lampu indikator, alat ukur, relai dan alat sinkronisasi.
Transformasi tegangan ini dilakukan atas pertimbangan harga peralatan tegangan tinggi
yang mahal, dan bahaya yang dapat ditimbulkan tegangan tinggi bagi operator. Tegangan
perlengkapan seperti indikator, meter dan relai dirancang sama dengan tegangan terminal
sekunder trafo tegangan yang dirancang dalam ratusan volt.

GAMBAR 6.1
Trafo tegangan

98

Peralatan Tegangan Tinggi

Ada dua jenis trafo tegangan, yaitu: trafo tegangan magnetik dan trafo tegangan
kapasitif. Trafo tegangan kapasitif, selain untuk keperluan pengukuran, sekaligus dapat
digunakan untuk keperluan komunikasi Qtower line carrier). Berikut ini akan diuraikan
tentang konstruksi dan karakteristik kedua jenis trafo tegangan tersebut.

6.2

TRAFO TEGANGAN MAGNETIK


Komponen utama suatu trafo tegangan magnetik adalah: kumparan primer, kumparan
sekunder, dan inti baja silikon. Susunan dan hubungan ketiga komponen tersebut ditunjukkan pada Gambar 6.2. Ketiga komponen tersebut dicetak dalam isolasi padat atau
dimasukkan dalam suatu bejana berisi isolasi cair atau gas' Dalam praktiknya, badan
trafo tegangan selalu terhubung ke tanah.
Prinsip kerja trafo tegangan sama dengan trafo daya. Kumparan primer dihubungkan
jaringan
tegangan tinggi yang akan diukur, sehingga arus mengalir pada kumparan
ke

primer. Arus pada kumparan primer menimbulkan fluks magnetik pada inti trafo
tegangan. Fluks tersebut akan menginduksikan gaya gerak listrik yang rendah pada
kumparan sekunder sehingga pada terminal kumparan sekunder terdapat beda tegangan
yang sebanding dengan tegangan jaringan yang diukur.
Karakteristik yang membedakan trafo tegangan dengan trafo daya adalah:

a.
b.

Kapasitasnya kecil (10

150 VA), karena bebannya hanya peralatan yang meng-

konsumsi daya rendah, seperti voltmeter, kWh-meter, wattmeter, relai jarak,


sinkronoskop dan lampu indikator.
Karena digunakan kontinu dan menjadi beban bagi sistem yang menggunakannya,
maka trafo tegangan dirancang mengkonsumsi energi yang sekecil mungkin.

c.

Untuk mengurangi kesalahan pengukuran, trafo tegangan dirancang sedemikian

d.

agar tegangan sekunder sebanding dan sefasa dengan tegangan primer.


Tegangan pengenal sekunder trafo tegangan umumnya ditetapkan 100

atau

(l@ - Bq $

E = Kumparan eksitasi
l( = Kumparan kompensasi
Ii = Kumparan tegangan tinggi

GAMBAR 6.2
Trafo tegangan magnetik

V.

230 V

Bab

Trafo Tegangan

99

s
T

(a) Kutub tunggal

(b) Kutub ganda

(c) Tiga fasa

GAMBAR 6.3
Rangkaian trafo tegangan magnetik

Ada tiga jenis trafo tegangan magnetik, yaitu: trafo tegangan kutub tunggal, trafo
tegangan kutub ganda dan trafo tegangan tiga fasa. Rangkaian listrik masing-masing
jenis trafo tegangan tersebut diperlihatkan pada Gambar 6.3.
Pada trafo tegangan kutub tunggal, salah satu terminalnya dibumikan seperti ditunjukkan pada Gambar 6.3a. Jika digunakan pada sistem tiga fasa V,,, maka dibutuhkan
tiga unit trafo tegangan kutub tunggal masing-masing dengan perbandingan tegangan
(Vtl\/3 - 100/./3) volt; kemudian kumparan primernya dan kumparan sekundernya,
masing-masing dihubungkan dalam hubungan bintang.
Di samping untuk pengukuran sistem tiga fasa, trafo tegangan kutub tunggal dan
trafo tegangan tiga fasa dapat sekaligus digunakan untuk mencatu tegangan kepada relai
proteksi arus-tanah. Dalam ha1 ini, trafo tegangan dilengkapi lagi dengan kumparan
tambahan yang digunakan untuk mendeteksi adanya arus gangguan tanah. Kumparan
tambahan ini disebut kumparan proteksi. Kumparan proteksi ketiga unit trafo tegangan
dihubungkan seri seperti diperlihatkan pada Gambar 6.4.
Jika besaran tegangan pada ketiga kumparan proteksi sama (Vo- = Vr, = V., =
maka
selama operasi normal, tidak ada tegangan pada terminal a-b,karenajumlah
{,),
vektoris ketiga tegangan sekunder Vor, 7r, dan Vr- adalah sama dengan nol (y, = 0).
Tetapi, jika terjadi hubung singkat fasa-ke-tanah pada salah satu fasa sistem (misalkan
di fasa R), maka tegangan pada fasa R menjadi sama dengan nol, sedangkan tegangan
pada fasa S dan 7 naik /3 kali daripada tegangan semula, sehingga di belitan sekunder
trafo tegangan P7, dan PZ, dibangkitkan tegangan ^/3V,,. Tegangan pada terminal a-b
sama dengan resultan vektoris tegangan sekunder trafo tegangan PZ, dan PTr, yang

i
ri

Kumparan
pengukuran

Kumparan
proteksi

GAMBAR 6.4
Bangkaian kumparan tambahan trafo kutub tunggal

I0o

':': zrz'

egangan lrnggi

besarnya tiga kali nilai tegangan fasa ke netral (3(,). Tegangan ini memicu relai
proteksi arus-tanah untuk bekerja. Tegangan pengenal kumparan proteksi biasanya dipilih
sedemikian sehingga ketika terjadi hubung singkat satu fasa ke tanah pada sistem, Vo
mencapai nilai yang sama dengan tegangan sekunder fasa-ke-fasa.
Bentuk badan trafo tegangan kutub tunggal dan kutub ganda diperlihatkan pada
Gambar 6.5. Trafo tegangan kutub ganda digunakan untuk pengukuran daya dan energi
sistem tiga fasa. Kedua terminalnya diisolir terhadap bumi seperti diperlihatkan pada
Gambar 6.5c.

Dilihat dari terminal belitan primernya, trafo tegangan kutub tunggal terdiri

atas

trafo tegangan tanpa bushing (Gambar 6.54) dan trafo tegangan dengan bushing (Gambar
6.5b). Trafo tegangan dengan bushing digunakan untuk tegangan di atas 11 kV.
Konstruksi trafo tegangan kutub tunggal lebih sederhana daripada trafo kutub
ganda, karena tebal isolasi pada trafo tegangan kutub tunggal dapat dibuat bertingkat
sesuai dengan tekanan elektrik yang dipikulnya; sedangkan pada trafo tegangan kutub
ganda, seluruh kumparan tegangan tinggi harus diisolasi terhadap bagian-bagian yang
dibumikan dengan tebal isolasi yang sama, agar trafo tegangan dapat memikul tegangan
pengujian penuh. Oleh karena itu trafo tegangan kutub ganda hanya digunakan untuk
tegangan pengenal sampai 30 kV sedangkan trafo tegangan kutub tunggal dipergunakan

untuk tegangan pengenal yang lebih tinggi.


Beberapa macam konstruksi trafo tegangan magnetik diperlihatkan pada gambar 6.6.
Pemilihan jenis konstruksi trafo tegangan magnetik bergantung kepada nilai tegangan
operasi dan tempat instalasi. Untuk pemakaian pasangan dalam, trafo ukur tegangan
biasanya diisolasi dengan resin epoksi, di mana semua kumparan dan kadang-kadang
termasuk inti besi dicetak dalam bahan isolasi resin padat (Gambar 6.6a). Untuk operasi
pasangan luar, trafo resin epoksi masih dapat dipakai untuk tegangan pengenal yang

tidak terlalu tinggi.

untuk tegangan yang lebih tinggi dipakai trafo kutub tunggal dengan isolasi
minyak-kertas. Rancangan trafo kutub tunggal isolasi minyak-kertas terdiri dari dua
jenis, yairu: jenis tangki logam dan jenis tabung isolasi. Pada jenis pertama, badan aktif
trafo tegangan dimasukkan dalam bejana baja. Pada bejana dipasang bushing untuk
melewatkan tegangan tinggi ke terminalnya (Gambar 6.6b). Pada jenis kedua, badan
aktif trafo semua dibungkus dengan tabung porselen (Gambar 6.6c). Jenis terakhir
ini, biasanya digunakan untuk tegangan yang lebih besar daripada 66 kV. Pemilihan

(b) Kutub tunggal dengan baslrlng

GAMBAR 6.5
\ --s:'-<s l'a{o tegangan kutub tunggal dan kutub ganda

(c) Kutub ganda

Terminal
tegangan tlnggr

Bushing dari
porselen

Porselen

(a) Badan resin


epoksi

(b) Badan baja

<-

(c) Badan porselen

GAMBAR 6.6
Konstruksi badan trafo tegangan magnetik

jenis konstruksi trafo tegangan bergantung pada susunan bahan aktif trafo (inti dan
kumparan). Dilihat dari segi pemakaian tempat, jenis tabung isolasi adalah lebih baik
karena konstruksinya lebih kecil. Konstruksinya sangat berbeda dengan jenis tangki
Iogam yang harus menggunakan tabung porselen dengan diameter yang lebih besar.

6.3

TRAFO TEGANGAN KAPASITIF


Untuk pengukuran tegangan di atas 110 kV adalah lebih ekonomis menggunakan tratb
tegangan kapasitif daripada menggunakan trafo tegangan magnetik, karena konstruksi
isolasi trafo tegangan kapasitif lebih sederhana daripada trafo tegangan magnetik. Trato
tegangan kapasitif akan lebih ekonomis lagi jika digunakan sekaligus untuk pengiriman
sinyal melalui konduktor transmisi (power line carrier), yaitu sinyal komunikasi data.
sinyal audio dan sinyal kendali jarak j auh (telecontrol). Trafo tegangan kapasitif digunalian
juga untuk pengukuran energi pada konsumen industri. Sangat andal digunakan untuk
mencatu tegangan ke relai elektronik yang bekerja sangat cepat, terutama jika trato
tegangan kapasitif menggunakan peredam osilasi elektronik. Rangkaian ekuivalen tralc
tegangan kapasitif diperlihatkan pada Gambar 6.7 di halaman 102.
Bagian utama trafo tegangan kapasitif adalah pembagi tegangan kapasitif C -C
Secara teknis, dengan merancang nilai kapasitansi C, dan C, tegangan pada kari..: :
Crdapat diperoleh dalam orde ratusan volt (sesuai dengan kebutuhan alat uku:. ::,.atau lampu indikator), tetapi cara ini tidak ekonomis. Oleh karena itu. kapa.::':-. .'
dan C, dirancang sedemikian rupa, sehingga tegangan pada kapasitor C, ;':t: .dalam orde puluhan kilovolt, umumnya 5, 10, 15 dan 20 kV. Di antari k':--: dengan beban diselipkan suatu trafo tegangan magnetik yan-e disetul J,:'-.-:- '--'
penengah (intermediate transformer). Terminal kapasitor C. dihubuni(i . : --. *.'
primer trafo penengah, sehingga tegangan primer trafo penengah sami a.:. -: - ' j --- - --'
=
pada terminal kapasitor Cr. Tegangan primer trafo penengah rdalam :.1- :,- --;- - -'.
volt), diturunkan oleh trafo penengah menjadi ratusan volt. umum:'.: -''=-.& I r-.-

102

,e'aralan Tegangan Tinggi

Keterangan:

{,

= Tegangan fasa ke netral transmisi

tegangan tinggi
Cz = Kapasitor tegangan rendah

C, = Kapasitor

V, = Tegangan primer trafo Penengah


% = Tegangan sekunder trafo penengah

GAMBAR 6.7
Rangkaian ekuivalen trafo tegangan kapasitif

100r/3 volt. Ketika hubungan antara terminal kumparan primer trafo tegangan yang
dibumikan dengan inti atau badan trafo tegangan dibuka, kumparan primer dirancang
mampu memikul tegangan frekuensi daya sebesar 3 kV,,,, dalam durasi singkat.
Jika rugi-rugi pada trafo penengah diabaikan dan impedansi bebannya tidak
terhingga (terminal belitan sekunder terbuka), maka hubungan tegangan v,,, v, dan v,
dinyatakan sebagai:
v,,

C,+C,

6.1

c(

vl

-l

v1

v2

=A

6.2

vn
v2

Dalam hal ini:

a=
c

Q,=

a=
p

6.3

=ArXA,=4,

faktor pembagi tegangan kapasitor


laktor transformasi trafo penengah
faktor transformasi sistem pengukuran

Jika rugi-rugi pada trafo penengah dan impedansi beban diperhitungkan, maka faktor
pemUagi tegangan kapasitor (a,) dan faktor transformasi sistem pengukuran \ao)_ akan
teruUatr. Untuk mengkompensaii perubahan tersebut, maka di antara kapasitor C, dengan
trafo penengah disisipkan suatu induktor kompensasi (l) seperti yang pada Gambar 6'8'
iilru zuadalah impedansi ekuivalen gabungan trafo penengah dengan beban dilihat
dari sisi t"gungun tinggi, maka hubungan tegangan jaringan dengan tegangan primer

trafo penengah menjadi:

V,, C, + C,
Vt

---l

Ct

l-alL(Ct+C2)

jaC,Zo

6.4

Bila nilai L. C,dan C, dipilih sedemikian, sehingga memenuhi hubungan di bawah ini:
a2

L (C,+ Cr) =

6.5

. !-:

Keterangan:
fasa ke netral :l-i.:r :
= Kapasitor tegangan tinggi
= Kapasitor tegangan rendah

V,, =Tegangan

Cr

C,

TP =Trafo

R
I

SP

IIF

=
=
=
=
=

penengah (interntediaic'

Resistor

Induktor kompensasi
Sela pelindung
Peralatan komunikasi frekuensi tinggr
Impedansi peredam

Z
V, = Tegangan Primer trafo Penengah
% = Tegangan sekunder trafo penengah
S = Sakelar (ditutupjika tidak digunakan

unruii

pengiriman sinyal komunikasi)

GAMBAR 6.8
Rangkaian lengkap trafo tegangan kapasitif

maka perbandingan V, dengan V, akan tetap seperti dinyatakan pada Persamaan 6.1.
Artinya, impedansi trafo penengah maupun impedansi beban (Z) tidak berpengaruh
terhadap faktor

a,..

Jika terjadi tegangan lebih pada jaringan transmisi, tegangan pada kapasitor C.
akan naik dan dapat menimbulkan kerusakan pada kapasitor tersebut. Untuk mencegah
kerusakan tersebut dipasang sela pelindung (SP). Sela pelindung akan terpercik pada
tegangan yang lebih rendah daripada tegangan ketahanan isolasi kapasitor C, sehing-sa
kapasitor C, terlindung dari bahaya tegangan lebih yang terjadi pada jaringan. Jika sela
pelindung terpercik, terminal C, terhubung singkat ke tanah, sehingga mengalir arus
yang besar ke tanah. Untuk membatasi arus yang besar tersebut, sela pelindung (SP)
dihubungkan seri dengan suatu resistor (R).
Trafo penengah merupakan induktor non-linier. Trafo penengah ini membentuk
rangkaian tertutup dengan kapasitor Cr. Artinya, kapasitor C, membentuk rangkaian
tertutup dengan suatu induktor non-linier. Rangkaian seperti ini berpeluang menimbulkan
gejala feroresonansi. Osilasi feroresonansi dapat menyebabkan tegangan lebih lang
cukup besar dan menghasilkan panas yang tidak diinginkan pada inti dan kumparan
trafo penengah. Untuk meredam efek ferroresonansi tersebut, maka pada terminal belitan
sekunder trafo penengah dipasang suatu impedansi peredam (D yang tidak ada efeknre
terhadap galat dan respon sistem pengukuran.
Peristiwa hubung singkat pada jaringan mengakibatkan terjadi osilasi tegangan
sisi sekunder trafo tegangan, karena dua hal berikut ini:

Karena

b.

Cr

;-

Vz

d* I

Kapasitor C,, induktor kompensasi L dan peredam Z membentuk

ranekeli: ....: '

Amplitudo awal osilasi bergantung pada:

a.
b.
c.

Perbedaan energi yang tersimpan pada kapasitor C, dengan C.


Burden trafo dan induktansi peredam Z
Tegangan sesaat belitan primer ketika hubung singkat ter-iadi- A=:'-:-': , :
osilasi akan menjadi maksimum jika hubung singkat terjadi kel:k, ii!r-: :- '- "' '

.ja-gan llnggi
beiitan primer sama dengan nol dan menjadi minimum jika hubung singkat terjadi
ketika tegangan sesaat belitan primer sama dengan maksimum.
Osilasi dapat berlangsung beberapa siklus. Jika relai proteksi bekerja akibat adanya
osilasi di sisi sekunder trafo tegangan, maka hal ini akan menimbulkan kesalahan operasi.
Oleh karena itu, relai proteksi harus memiliki waktu tunda operasi kira-kira l0 - 30
milisekon. Trafo kapasitif yang diproduksi saat ini dapat meredam osilasi dalam 20

milisekon. Namun. jika relai proteksi harus bekerja dalam 20 milisekon, maka trafo
ukur yang digunakan sebaiknya adalah jenis trafo tegangan magnetik 3-phase 5 limb,
yaitu trafo yang reluktansinya rendah. Trafo reluktansi rendah memudahkan keberadaan
fluks urutan nol, sehingga pada keadaan hubung singkat, urutan nol, urutan positif dan
urutan negatif tegangan tetap ada.
Perlu dicatat bahrva ketika terjadi pemutusan tiba-tiba karena adanya kesalahan
hubung singkat padajaringan, maka kawat yang terhubung dengan trafo tegangan kapasitif
akan menyimpan muatan statis. Dengan kata lain rangkaian ini dapat menghasilkan
tegangan lebih hubung-buka (swlrclring over voltage) yang tinggi. Hal seperti ini tidak
terjadi pada trafo tegangan magnetik, sehingga trafo ini dapat dihubungkan ke jaringan
tanpa resiko tegangan lebih. Maka, adakalanya trafo tegangan magnetik digunakan untuk
pengukuran tegangan tegangan tinggi meskipun trafo tegangan kapasitif sebenarnya
Iebih ekonomis untuk pengukuran tegangan tinggi. Perlu diingat bahwa konstruksi
isolasi trafo tegangan kapasitif lebih sederhana daripada trafo tegangan magnetik.
Rancangan konstruksi suatu trafo tegangan kapasitif biasanya seperti diperlihatkan
pada Gambar 6.9. Karena adanya pembagi kapasitif, maka konstruksinya dapat dibuat
hanya dalam bentuk trafo kutub tunggal. Kumparan proteksi dapat juga disediakan
dengan cara yang persis sama seperti pada trafo magnetik. Kapasitor C, dan C, terbuat
dari beberapa elemen kapasitor gulung yang dielektriknya terbuat dari bahan kertasminyak. Elemen-elemen kapasitor dihubungkan secara seri dan disusun di dalam suatu
tabung porselen yang ramping. Induktor kompensasi dan trafo penengah ditempatkan

c,7F
^ __)_

:T
C,T

:1-

Keterangan:
C, = Kapasitor tegangan tinggi
C. = Kapasitor tegangan rendah
L = Induktor kompensasi
P = Kumparan primer
V = Kumparan sekunder untuk
pengukuran
G = Kumparan sekunder untuk
relai arus tanah
r( = Terminal untuk alat

Komunikasi

GAMBAR 6.9

:-

s:--. s :'a'c tegangan kapasitif

' 'li

di dalam bejana logam. Di luar bejana disediakan temlrnal untlrk :;:i .:.(r\1. Terminal ini dapat dibumikan jika trafo tegangan kapasitii lr;.,' ,
untuk komunikasi. Agar efektif sebagai kopeling kapasitor. maka klpu.-:.:
C, dan C., harus memiliki nilai minimum 4400 pF.

6.4

GALAT (ERRORI
Ketika mengukur suatu besaran listrik, hasil ukur yang ditunjukkan alat uku: :,-.r

persis sama dengan nilai sebenarnya dari besaran listrik yang diukur. Selisih anl:rrr :r. j
besaran yang sebenarnya dengan nilai yang ditunjukkan alat ukur disebut kesalar":.
Galat adalah kesalahan pengukuran relatif, yakni perbandingan antara kesalahan dens,:'
nilai sebenarnya. Jika nilai sebenarnya dari besaran yang diukur adalah Ai. dan niL.
yang ditunjukkan alat ukur adalah ly', maka besar galat adalah:

IN _N
Galat=l+lxl\jVo
I

lN,

hA

Untuk pengukuran daya dan energi bolak-balik, ada dua besaran yang perlu diuku:
yaitu tegangan dan sudut fasa tegangan. Oleh karena itu, jika trafo tegangan akan
digunakan untuk pengukuran daya dan energi bolak-balik, maka galat yang terjadi ketik;.
mengukur besaran-besaran tersebut perlu diketahui. Berikut ini akan dijelaskan galei
yang berhubungan dengan kedua besaran tersebut jika pengukuran dilakukan den-san
trafo tegangan.

Galat Trafo Tegangan Magnetik


Jika tegangan suatu sistem diukur dengan menggunakan trafo tegangan, maka ditemukan
dua jenis galat, yaitu galat rasio dan galat sudut. Untuk menjelaskan arti dari kedua

galat ini, pada Gambar 6.10a diperlihatkan rangkaian ekuivalen suatu trafo tegangan
dilihat dari sisi primer atau sisi tegangan tinggi. Diagram fasor tegangan dan arus pada
rangkaian tersebut diperlihatkan pada Gambar 6. 10b.
Dalam halini Zrr' , R"' dan X"' masing-masing adalah impedansi beban nol, ekuivalen
resistansi dan ekuivalen reaktansi bocor kumparan trafo dilihat dari sisi tegangan tingsr
Nilai ketiga impedansi tersebut dapat diperoleh dari percobaan beban nol dan percobaar
hubung singkat trafo tegangan yang bersangkutan.
Impedansi dan tegangan alat ukur dilihat dari sisi tegangan tinggi adalah:

Zu' =

Z'

{1,r2

,. -

Zr,

V.'

(a) Rangkaian ekuivalen trafo dilihat dari sisi

(D) Diagram fasor arus dan

tegangan tinggi

GAMBAR 6.10
Rangkaian ekuivalen trafo dan diagram fasor tegangan

arus

:e:"-...

106

,e'e,aian Tegangan llnggi

dan

6'8

Vr' = anV,

adalah:
Dalam hal ini a, adalah rasio transformasi nominal trafo tegangan yang besarnya

,,=ffi
Vl-no.inul

6.9

maka Vr'sama
Jika impedansi beban tidak terhingga dan rugi-rugi trafo diabaikan,
v,, Adanla
dengan
sama
adalah
benar
dan sefasa d"rgun v,. Artinya, nllai vr'yang
fasaVr'berbeda
sudut
dan
besaran
impedansi alat-ukur dun *gi-*gi trafo membuat
vr' menimbulkan
dengan besaran dan sudut fasa v,. Perbedaan besaran v, dengan
(7):
rasio
kesalahan relatif yang disebut dengan galat

lv-' - v.l
, =l- , ll x loo7o

6.10

berikut:
Menurut Persamaan 6'8, V2' = anVr, maka galat rasio dapat dituliskan sebagai

raV--V.t

, =l- ,- lx 1oo7o
Beda sudut fasa

v,

6'11

dengan vr' seharusnya sama dengan nol. Jika terjadi perbedaan


dengan Vr' sebesar 6, maka trafo tegangan dinyatakan memiliki

sudut fasa antara i,


galat sudut sebesar 6.
Mengacu kepada diagram fasor pada Gambar 6'10b, hubungan fasor tegangan
primer dan sekunder dapat dituliskan sebagai berikut'

Y,

T,'

6.12

+ 1'' Z"'

Z"'=P,'+ jx"'

Dalam hal ini

Arus beban dilihat dari sisi tegangan tinggi adalah:

_I'=:
.

v.'

6.13

2,,'

Substitusi Persamaan 6.13 ke Persamaan 6 12 menghasilkan:

V'r

v' xZ' =lt/ + z'\-V.'

= V-'
'2 +:l
Z,

v'=
') / T-z,\

-Ll
Zu,/

6.14

6.15

(t+:rl

\ z't

itu' galat
Terlihat bahwa Vr' tergantung kepada impedansi alat ukur (Z ,')' Karena
yang
terpasang
beban
atau
ukur
alat
impedansi
kepada
rasio dan galat sudut iergantung
sekunder
pada tenninal sisi sekunder trafo. Beban yang terhubung pada terminal sisi
Gambar
pada
galat
diperlihatkan
terhadap
beban
irafo ukur disebut burden. Pengaruh
6.11.

'r 0-?

cos

cos (p

= 0,5

1,0

(b) Pengaruh beban terhadap galat sudut

(a) Pengaruh beban terhadap gaiat rasio

GAMBAR 6.11
Pengaruh beban terhadap galat trafo tegangan

Persamaan 6.15 menunjukkan bahwa galat trafo tegangan terjadi karena adan\i
impedansi Z"' . Seandaiflya Zet = 0, maka galat sama dengan nol dan galat tidak
dipengaruhi oleh beban trafo. Oleh karena itu, resistansi dan reaktansi bocor kumparan
trafo ukur tegangan harus dirancang sekecil mungkin. Besarnya Z"' bergantung kepada
frekuensi, maka galat trafo ukurjuga bergantung kepada frekuensi. Pada Gambar 6.11

diperlihatkan pengaruh frekuensi terhadap galat.

Galat Trafo Tegangan Kapasatif


Rangkaian ekuivalen trafo tegangan kapasitif diperlihatkan pada Gambar 6. 13 di halaman
108. Dalam hal ini C,-C, adalah pembagi tegangan kapasitif; X* adalah reaktansi induktor
kompensasi; Zo', R"' dan X"' adalah parameter trafo penengah dilihat dari sisi primer:
sedangkan Zu' adalah impedansi alat ukur atau beban dilihat dari sisi primer.
Seandainya induktor kompensasi, trafo penengah dan beban tidak ada, maka
menurut Persamaan 6.4, nllai tegangan pada kapasitor C, adalah:

C'
v=
c C,+C, v=

6.16

Seandainya tidak ada rugi-rugi di antara terminal kapasitor C, dengan terminal alat
ukur dan impedansi alat ukur adalah tak-terhingga, maka tegangan Vr.' = V,. Artinla.
nilai Vr' yang benar sama dengan V.
y6

GAMBAR 6.12
Pengaruh frekuensi terhadap galat

NE

Peralatan Tegangan 1 rnggi

V,,

GAMBAB 6.13
Rangkaian ekuivalen trafo kapasitif dilihat dari sisi tegangan tinggi

Jika tegangan fasa ke netral sistem (V,) dan semua impedansi pada rangkaian di atas
diketahui, maka dengan analisis rangkaian listrik, tegangan Vr' dapat dihitung. Dengan
demikian, galat rasio trafo tegangan kapasitif dapat dinyatakan seperti persamaan di

bawah ini:

lr,'

- ,,1 x l00%o

lv,

= l-l

la,v,
_t_l

-l

6.11

- v)

vc

I00Vo

6.18

Kesalahan sudut pada trafo tegangan kapasitif adalah beda sudut fasa antara fasor
V, dengan fasor Vr' . Jika referensi tegangan dalam analisis rangkaian adalah

6 dan hasil analisis memberikan


kapasitif sama dengan 6.

nr' =Vr'< 6, maka kesalahan

n ,, = V n I

sudut trafo tegangan

Batas Galat
Suatu alat ukur dinyatakan sangat akurat jika galatnya sangat
kelas ketelitian suatu alat ukur bergantung kepada galat alat
ketelitiannya, trafo tegangan dibagi atas beberapa kelas. Pada
kelas ketelitian trafo tegangan dan penggunaannya.
Batas galat pada Tabel 6.1 berlaku untuk kondisi sebagai
Tegangan yang

Beban
Faktor daya

6.5

kecil. Oleh karena itu,


ukur tersebut. Menurut
Tabel 6.1 diperlihatkan
berikut:

diukur : (0,8 -

:
:

1,2) tegangan nominal


(0,25 - 1,0) burden nominal
0.8 lagging

PENGENAL TRAFO TEGANGAN


Setiap trafo tegangan diberi tanda pengenal yang menginformasikan karakteristik trafo
tegangan tersebut. Besaran-besaran yang diberikan dalam tanda pengenal tersebut adalah:

Tegangan Nominal Primer


Adalah besar tegangan primer yang dicantumkan pada papan nama trafo tegangan.
Pada trafo tegangan kutub ganda yang digunakan untuk pengukuran tegangan sistem

TABEL 6.1
Kelas Ketelitian Trafo Tegangan
Kelas

Y (vo)

6 (Menit)

0,1

+0,1

+5

Penggunaan

Di laboratorium untuk: pengujian presisi. seba,sai .u:


standar pada pengujian trafo tegangan, dan kalibrasi

0,2

+0,2

+10

Untuk laboratorium pengujian kWh-meter ketelitian ting=


dan sub-standar pada pengujian trafo tegangan industri

0.5

+0,5

+20

Meter industri presisi dan sebagai sub-standar pada


pengujian wattmeter penunjuk

1,0

+1.0

+40

Meter industri presisi, sub-standar pada pengujian \\'attmeler


penunjuk, meter komersial dan industri, wattmeter penunjuk.
wattmeter grafis dan voltmeter

3,0

+3.0

+720

Voltmeter atau meter yang tidak mementingkan kesalahan


sudut. Untuk proteksi yang prinsip kerjanya didasarkan akan
adanya perbedaan fasa arus dengan tegangan. Misalnya.
relai arus terarah, relai daya balik dan relai jarak terarah

5,0

+5O

t300

Trafo proteksi yang prinsip kerjanya tidak didasarkan akan


adanya perbedaan fasa arus dengan tegangan. Misalnya.
relai tegangan rendah dan relai tegangan lebih

10.0

+10,0

+600

Trafo tegangan residu

tiga fasa, dan terhubung antara fasa dengan tanah, tegangan pengenal dinyatakan
dalam besaran Vlt/3. Dalam hal ini, V adalah tegangan fasa-ke-fasa sistem standar
menurut IEC 60038.

Tegangan Nominal Sekunder


Adalah besar tegangan sekunder yang dicantumkan pada papan nama trafo tegangan
dan dinyatakan dalam besaran Vlr/3. Oalamhal ini, V adalah tegangan fasa-ke-fasa
sekunder. Jika ada kumparan tambahan untuk proteksi arus-ke-tanah, tegangan
pengenalnya dinyatakan dalam besaran V/3. Dalam praktiknya, tegangan nominal
sekunder umumnya adalah 100, 110, ll5, 120,200 dan 230 Y.

Rasio Nominal
Perbandingan tegangan nominal primer dengan tegangan nominal sekunder.

Burden
Adalah beban pada terminal sekunder yang dinyatakan dalam besarnya daya
yang dikomsumsi beban pada faktor daya dan tegangan nominal sekunder.

Burden Nominal
Adalah burden yang mengakibatkan galat sama dengan galat nominal

(\.\

''.

dicantumkan pada papan nama.

Daya Nominal
Adalah daya keluaran (VA) trafo tegangan ketika bebannya sama dengan bui.l::
nominal dan tegangan sekundernya sama dengan tegangan nominal seku:,:::
Pada umumnya daya nominal adalah: 10, 15, 25, 30, 50, 75, 100. 150. lr r,. 1 r
400,500 VA. Daya nominal yang lebih disukai adalah yang diberi !an- r:. -Pernyataan daya nominal pada trafo tegangan tiga fasa adalah dara per :.-.

lt0

-egangan linggi
'e'a a:ar

Galat Nominal
Adalah galat yang terjadi ketika tegangan primer sama dengan tegangan nominal
primer dan beban sama dengan burden nominal.
Faktor Tegangan
Adalah suatu faktor pengali terhadap tegangan nominal primer yang menghasilkan
batas tertinggi tegangan pada kumparan primer trafo tegangan dalam waktu
terbatas. Dalam batas waktu tertentu, suatu trafo tegangan dapat bekerja di atas
tegangan nominalnya. Batas tertinggi tegangan kerja suatu trafo tegangan adalah
Vr_.uk, = Faktor Tegangan X Vr_no.inur. Faktor tegangan bergantung kepada metode
penyambungan kumparan primer trafo tegangan pada sistem, dan metode pembumian
sistem. Nilai faktor tegangan untuk berbagai metode pembumian sistem diperlihatkan
pada Tabel 6.2 berikut.
TABEL 6.2
Faktor Tegangan Menurut IEC 60044-2

Faktor

Metode
Pembumian Sistem

Metode Penyambungan

Tegangan

Waktu

Kumparan Primer

t,2

Kontinu

Antara fasa dengan fasa

Antara titik bintang transformator


dengan tanah

1,2

Kontinu

1,5

30 sekon

1,2

Kontinu

t,9

30 sekon

1,2

Kontinu

t,9

8 Jam

Antara fasa dengan tanah Netral sistem dibumikan efektif

Antara fasa dengan tanah Netral sistem dibumikan tidak


efektif. dan sistem dilengkapi
dengan pemutus arus tanah otomatis
Antara fasa dengan tanah Netral sistem terisolasi dari tanah
aLau uluurIllKail uetlBaIr KullrpaIaI
kompensasi, dan sistem tidak
dilengkapi dengan pemutus arus
tanah otomatis

Ketahanan Tegangan Frekuensi Daya

Adalah kemampuan trafo tegangan memikul tegangan frekuensi daya

di

atas

nominal dalam waktu terbatas (Tabel 6.3).


Ketahanan Tegangan Impuls
Adalah batas tertinggi puncak tegangan impuls petir standar dan tegangan impuls
hubung-buka yang dapat dipikul trafo tegangan (Tabel 6.3).
Ketahanan Tegangan Impuls Terpotong

Adalah kemampuan trafo tegangan memikul tegangan impuls terpotong yang


puncaknya 1,15 kali tegangan impuls penuh. Ha1
antara pabrikan dengan pemakai.

6.6

ini perlu jika ada kesepakatan

BEBAN TRAFO TEGANGAN


Beban trafo tegangan umumnya adalah alat ukur, lampu indikator dan relai. Daya yang
dikonsumsi alat ukur, lampu indikator dan relai pada umumnya dalam orde puluhan
r olt-ampere seperti diperlihatkan pada Tabel 6.4.

3z=;- -a'- =]'=- =:TABEL 6.3


Ketahanan Tegangan Frekuensi Daya dan Tegangan lmpuls Tra{o Tega^-::-

Ketahanan Terhad ap
Tegangan Tertinggi

Peralatan

(V
. . kV-rms)
' maks/

Tegangan Frekuensi

0,72

1,2

3.6

10

'7)

20

Daya (kY-rms)

Tegangan Impuls

Petir Standar
(kY-Puncak)

40
60

28

60
75

r7,5

38

75
95

24

50

36

'10

t45

52

95

250

'12,5

140

325

100

185

450

185

450

230

550

t45
170

245
300

362
420
525
765

95

t25
170

230

550

275

650

275

650
750

325

(k!'-Puncalit

20
40

t2

t23

Tegangan Impuls
Hubung-Buka Standar

4@

950
1050

395
460

950
1050

'750

4@

1050

510

tt75

850
950

570
630

1300
1425

1050
1050

630
680

1425
1550

1050

1950
2100

t4?5

395

880

975

850

tt75
1550

Catatan: Nilai tertinggi diambil untuk peralatan pasangan yang berhadapan langsung denr::
tegangan lebih petir. Misalnya, peralatan yang dihubungkan langsung dengan
transmisi atau melalui kawat pendek

112

Peralatan Tegangan Tinggi

TABEL 6,4

Konsumsi Daya Meter dan Relai


Meter/Relai

Konsumsi (YA)

Konsumsi (YA)

Voltmeter

kwh & kVARh-meter

7<

Wattmeter

Perekam PF-Meter

7.5

PF- Meter

Perekam daya

"t,5

Sinkronoskop

15

Perekam tegangan

Frekuensimeter

6.7

Meter/Relai

75

8-70

Relai

PEMILIHAN TRAFO TEGANGAN


Hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan trafo tegangan adalah tegangan
nominal primer dan sekunder, frekuensi nominal, daya nominal dan kelas ketelitian yang
dibutuhkan. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah arus durasi panjang kumparan
proteksi, faktor tegangan dan durasi yang diizinkan jika bekerja pada tegangan di atas
nominal. Untuk trafo tegangan kapasitif, perlu dipertimbangkan peran kapasitor yang
dipilih terhadap kondisi transien sistem atau interaksinya dengan relai sistem proteksi.
Jika diharuskan untuk memilih antara trafo tegangan magnetik atau trafo tegangan
kapasitif, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, di antaranya yang terpenting
adalah: penggunaannya, penempatan trafo dan biaya. Pada Tabel 6.5 diperlihatkan
perbandingan trafo tegangan magnetik dengan trafo tegangan kapasitif.
Pada Tabel 6.6 diperlihatkan jenis trafo yang cocok untuk beberapa keperluan.

TABEL 6.5
Perbandingan Trafo Tegangan Magnetik dengan Trafo Tegangan Kapasitif

Trafo Tegangan Magnetik


Ketelitian bergantung kepada faktor

Trafo Tegangan Kapasitif

transformasi

Ketelitian bergantung kepada: pembagi


tegangan kapasitif; reaktansi; dan faktor
transformasi trafo intermediasi

Ketelitian tidak sensitif terhadap perubahan

Ketelitian sensitif terhadap perubahan

frekuensi

frekuensi

Dapat terjadi ferroresonansi dengan sistem

Ferroresonansi dilokalisasi pada rangkaian


sekunder

Tidak memiliki fasilitas untuk PLC

Dapat digunakan untuk PLC

Memiliki respon yang baik terhadap transien

Responsnya kurang baik terhadap transien


ada gangguan pada sistem

jika ada gangguan pada sistem

jika

Dapat digunakan pada stasiun pembangkit

Dilengkapi dengan sela proteksi

Tidak mempengaruhi ketahanan isolasi sistem

Adanya kapasitansi mempengaruhi ketahanan


isolasi sistem

Tingkat tegangan pengujian rendah

Tingkat tegangan pengujian lebih tinggi

Menimbulkan kenaikan tegangan tanah yang


rendah pada ketika dipisahkan dari sistem

Menimbulkan kenaikan tegangan tanah yang


tinggi pada ketika dipisahkan dari sistem

Bab

Trafo Tegangan

113

TABEL 6.6

Jenis Trafo Tegangan Untuk Berbagai Keperluan


Jenis T[afo

Untuk Keperluan
Voltmeter, kWh-Meter, Sinkronisasi,
relai jarak tanpa PLC

Trafo tegangan magnetik

Komunikasi tanpa meter dan relai

I unit trafo tegangan kapasitif per sirkuit

Relai jarak dengan PLC

Komunikasi dan meter

1 unit trafo tegangan kapasitifdan 2 unit trafo


tegangan magnetik atau 3 unit trafo tegangan kapasitif

unit trafo tegangan kapasitifper fasa

Berikut ini diberikan contoh pemilihan trafo tegangan berdasarkan pertimbangan


penggunaan dan biaya. Misalkan sistem mempunyai pen.vulan-s lebih daripada dua
dan sistem membutuhkan alat sinkronisasi. Dalam hal ini. salah satu susunan \an-s
diperlihatkan pada Gambar 6. 14 dapat di,eunakan.
Pada Gambar 6.14a terlihat satu set trato kapasitif dipasang pada setiap penr ulang.
Setiap set mencatu te-sangan ke relai jarak lang terpasang pada setiap penlulang. Untuk
sinkronisasi dipasang satu unit tratb tegangan kapasitif atau trafo magnetik pada setiap
fasa rel day'a. Pemasangan trafo tegan_san kapasitif pada rel da1 a lebih disukai. karena
trafo sejenis telah digunakan pada peny'ulang. Dengan demkian. bial'a pengadaan trafo
tegangan semakin rendah, sebab biaya pengadaan 1{ unit trafo sejenis adakalanla lebih
murah daripada biaya pengadaan y'y' unit trafo berbeda jenis.

Bus 2

I unit
TTM

Tfi
*T:,1
Line

(a)
Keterangan:

TTM = Trafo

TTK =

PTK =

tegangan magnetik
Trafo tegangan kapasitif
Pembagi tegangan kapasitif

GAMBAR 6.14
Susunan trafo tegangan pada dua gardu induk

(b)

114

Peralatan Tegangan

rnggi

Pada Gambar 6.14b hanya trafo tegangan kapasitif yang digunakan pada penyulang.
Jumlah trafo tegangan kapasitif pada setiap penyulang bergantung kepada kebutuhan.
Untuk keperluan meter, sinkronoskop dan relai, tegangan diperoleh dari trafo tegangan
magnetik yang dipasang satu set per rel daya. Dalam hal ini, kapasitas trafo tegangan
magnetik harus cukup besar supaya mampu melayani konsumsi daya semua peralatan
meter, sinkronoskop dan relai. Susunan mana yang akan dipilih dari kedua susunan di
atas akhirnya ditetapkan berdasarkan pertimbangan biaya.

6.8

PENGUJIAN TRAFO TEGANGAN


Pengujian tegangan tinggi yang dilakukan terhadap trafo tegangan terdiri dari uji
jenis, uji rutin dan uji khusus. Uji jenis dilakukan pada suatu jenis trafo tegangan
untuk menyatakan bahwa semua trafo sejenis telah memenuhi spesifikasi yang
dibutuhkan, termasuk spesifikasi yang tidak diuji pada uji rutin. Jika hasil pengujian
sedikit menyimpang dari spesifikasi, hal itu masih dapat diterima, asalkan sudah ada
kesepakatan sebelumnya antara pabrikan dan pembeli mengenai penyimpangan itu.
Uji rutin dilakukan terhadap setiap unit trafo tegangan, sedangkan uji khusus adalah
pengujian di luar lingkup uji jenis dan uji rutin, yang sebelumnya disepakati pabrikan
dengan pembeli. Berikut ini akan dijelaskan lingkup pengujian yang dilakukan untuk
masing-masing uji jenis, uji rutin dan uji khusus.

Uji Jenis
Dalam uji jenis dilakukan pengujian sebagai berikut:

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Pengujian
Pengujian
Pengujian
Pengujian
Pengujian

kenaikan temperatur
ketahanan
ketahanan
ketahanan
ketahanan

memikul arus hubung singkat


tegangan tinggi impuls petir
tegangan tinggi impuls hubung-buka
tegangan tinggi ac pada kumparan primer dan sekunder pada

kondisi basah
Pengukuran galat
Pengukuran tegangan interferensi radio (radio interference voltage)
Pengujian peluahan sebagian Qtartial discharge)
Pengukuran rugi-rugi dielektrik
Penyetelan panjang sela pelindung
Pengujian ferroresonansi

Uii Rutin
Setelah

uji jenis selesai, dilakukan pengujian rutin. Uji rutin terdiri dari:

.
.

Verifikasi terminal dan polaritas

.
.
.

Pengukuran galat;
Pengujian ketahanan tegangan tinggi ac pada setiap seksi isolasi; dan
Pengujian peluahan sebagian

Pengujian ketahanan tegangan tinggi ac pada kumparan primer dan kumparan


sekunder

Jika ada pengujian yang non-standar, dan hasilnya tidak sesuai dengan spesifikasi,
maka pengujian diulang kembali, setelah pengujian yang lain selesai. Jika pengujian

Bab6 TrafoTegangan

115

ketahanan tegangan ac pada kumparan primer akan diulang, maka tegangan penguji":
yang dikenakan hanya 807c daripada tegangan yang dispesifikasikan.

Uii Khusus
Uji khusus adalah pengujian

yang telah disepakati sebelumnya oleh pabrikan dan


pembeli. Lingkup pengujian pada uji khusus yang dilakukan adalah:

.
.
.
.

6.9

Pengujian ketahanan tegangan impuls terpotong


Pengukuran kapasitansi dan rugi-rugi dielektrik kapasitior pembagi tegangan
Pengujian mekanikal
Pengukuran tegangan lebih yang ditransmisikan pada kumparan primer

INFORMASI DALAM PEMBELIAN TRAFO TEGANGAN


Dalam setiap pembelian trafo tegangan, perlu diberikan informasi yang lengkap tentang
sistem dan iklim kawasan pemasangan trafo tegangan. Informasi berikut ini merupakan
hal-hal yang perlu diberikan pada suatu trafo tegangan.

'
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Tegangan nominal primer dan sekunder


Tegangan sistem tertinggi dan pembumiannya
Tingkat isolasi sistem
Jumlah fasa dan hubungannya
Frekuensi

Perbandingan transformasi
Kapasitas keluaran per fasa
Kelas ketelitian
Kelas isolasi
Faktor tegangan dan tenggang waktunya
Pembumian trafo tegangan
Jenis pasangan dan kondisi lokasi pemasangan
Batas dimensi
Penggunaan

Di bawah ini diberikan contoh spesifikasi


Tegangan nominal primer
Tegangan nominal sekunder
Ketahanan tegangan frekuensi daya
Ketahanan tegangan impuls petir
Tegangan nominal kumparan proteksi
Daya keluaran
Faktor tegangan

Arus durasi panjang kumparan proteksi

sua .tu

trafo tegangan:

t32.oool"/3 Y
100//3 v
275 kV
650 kV (puncak)
100/3 v
100 vA, KI.0,2

l.9Vnomlnal .4iam
9A,4jam

Kapasitansi

12.000 pF x.l0%o

Frekuensi

50 Hz

li

t
I
I
I
I
I

Bab 7

Trafo Arus

ama halnya dengan trafo tegangan, trafo arus tegangan tinggi digunakan untuk
memonitor kinerja suatu sistem tenaga listrik. Pengukuran arus pada jaringan
tegangan tinggi tak dapat dilakukan langsung seperti padajaringan tegangan rendah,
karena selain berbahaya bagi operator, membuat amperemeter yang mampu mengukur
langsung arus yang mengalir pada jaringan tegangan tinggi adalah hal yang sulit.
Pada sistem tenaga listrik ditemukan juga relai-relai proteksi yang mengontrol
kinerja sistem tenaga listrik. Relai-relai tersebut juga membutuhkan besaran sensor
berupa arus lemah. Oleh karena itu, diperlukan trafo arus untuk mentransformasi arus
kuat pada suatu jaringan ke suatu nilai arus lemah supaya dapat diukur amperemeter
dan dapat dimanfaatkan sebagai besaran sensor pada relai proteksi.
Berikut ini akan dijelaskan tentang fungsi, prinsip kerja dan karakteristik trafo
arus. Kemudian akan diuraikan tentang jenis-jenisnya, definisi-definisi yang berkaitan
dengan karakteristik trafo arus dan cara menentukan spesifikasi suatu trafo arus untuk
suatu keperluan tertentu. Di samping itu diberikan juga penjelasan tentang jenis-jenis
pengujian tegangan tinggi yang dilakukan pada suatu trafo arus tegangan tinggi.

7.1

FUNGSI TRAFO ARUS


Trafo arus digunakan untuk pengukuran arus yang besarnya ratusan ampere dan arus
yang mengalir dalam jaringan tegangan tinggi. Jika arus yang hendak diukur mengalir
pada jaringan tegangan rendah dan besarnya di bawah 54, maka pengukuran dapat
dilakukan secara langsung dengan menggunakan suatu ammeter yang dihubungkan seri
dengan jaringan. Tetapi jika arus yang hendak diukur mengalir pada jaringan tegangan
tinggi, meskipun besarnya di bawah 5A, maka pengukuran tidak dapat dilakukan secara
langsung dengan menggunakan suatu ammeter, karena cara yang demikian berbahaya
bagi operator. Cara itu juga berbahaya bagi ammeter yang digunakan karena isolasi
ammeter tidak dirancang untuk memikul tegangan tinggi. Jika arus yang hendak
diukur mengalir pada jaringan tegangan rendah dan besamya lebih daripada 5A, maka
pengukuran tidak dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan suatu ammeter,
karena pada umumnya, batas kemampuan ammeter hanya mengukur arus di bawah 5A.

Bab

(a) Tegangan rendah

(&) Tegangan menengah

117

Trafo Arus

(c) Tegangan tinggi

GAMBAR 7.1
Trafo arus

Pada Gambar 7.1 diperlihatkan contoh trafo arus yang digunakan untuk tegangan
rendah, tegangan menengah dan tegangan tinggi.
Di samping untuk pengukuran arus, trafo arus juga dibutuhkan untuk pengukuran
daya dan energi; dibutuhkan juga untuk keperluan telemeter dan relai proteksi. Kumparan
primer trafo arus dihubungkan seri dengan jaringan atau peralatan yang akan diukur
arusnya, sedangkan kumparan sekunder dihubungkan dengan meter atau relai proteksi.
Pada umumnya peralatan ukur dan relai membutuhkan arus 1 atau 5A.
Trafb arus bekerja sebagai trafo yang terhubung singkat. Rentang kerja trafo arus
yang digunakan untuk pengukuran biasanya 0,05 sampai l,2kali arus yang akan diukur.
Trafo arus untuk tujuan proteksi dirancang sedemikian sehingga mampu mengalirkan
arus lebih daripada 10 kali arus nominalnya.

7.2

PRINSIP KERJA TRAFO ARUS


Trafo arus dibutuhkan untuk mengubah arus kuat menjadi arus lemah sebesar 1--i

A yang sebanding dan satu fasa dengan arus primer. Pada Gambar 7.2 diperlihatka::

Kumparan

(a) Bagian utama trafo arus

GAMBAR 7.2
Bagian utama dan rangkaian ekuivalen trafo arus

(b) Rangkaian ekuirale: ---.,'

118

tre'aratan Tegangan linggi

bagian utama trafo arus dan rangkaian ekuivalennya dilihat dari sisi sekunder. Prinsip
kerjanya sama dengan trafo daya satu fasa. Jika pada kumparan primer mengalir arus
1,. maka pada kumparan primer timbul gaya gerak magnet sebesar N,1,. Gaya gerak
magnet ini memproduksi fluks pada inti. Fluks ini membangkitkan gaya gerak listrik
pada kumparan sekunder (82).
Jika terminal kumparan sekunder tertutup, maka pada kumparan sekunder mengalir
arus 1r. Arus ini menimbulkan gaya gerak magnet NrI, pada kumparan sekunder. Bila
pada trafo arus tidak ada rugi-rugi daya (trafo ideal), maka berlaku persamaan:

N,I, = N,I,

7.1

atau

,,

Iz =*,
Nl
Dalam hal

ini:

N,
N2

Il
I2

7.2

Jumlah belitan kumparan primer


Jumlah belitan kumparan sekunder
Arus pada kumparan primer (A)
Arus pada kumparan sekunder (A)

Tegangan pada terminal sekunder (Vr) bergantung kepada impedansi Zr, yaitu
impedansi gabungan peralatan dan kabel penghubung yang tersambung pada terminal
sekunder trafo arus. Tegangan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:

Vz=

IzZz

7'3

Jika resistansi dan reaktansi bocor kumparan trafo arus dinyatakan dalam impedansi
internal 2,, maka gaya gerak listrik pada kumparan sekunder harus lebih besar daripada
tegangan sekunder agar rugi-rugi tegangan pada impedansi Z,dapat dikompensasi. Oleh
karena itu, persamaan di bawah ini harus dipenuhi:

Er-Vr- Ez- IrZr=

IrZ,

7.4

atau

Ez= IzZ,+ I,Zi= Iz(Zr+ Z)

7'5

Dalam praktiknya trafo arus selalu mengandung arus eksitasi atau arus beban
Ams beban nol menimbulkan fluks bersama (d) yang dibutuhkan untuk
membangkitkan gaya gerak listrik E . Hubungan fluks bersama (@) dengan gaya gerak
listrik E, adalah sebagai berikut:

nol

(1p).

Ez=
Dalam hal ini:

f=

o=
A_
B_

4,44

Nz

d = 4,44 f

N2

AB

7.6

Frekuensi tegangan (Hz)

Fluks bersama (weber)


Luas penampang inti trafo arus (m2)
Rapat medan magnetik (weber/m2)

Gaya gerak listrik inilah yang mempertahankan aliran arus I, pada impedansi
(22 + Z). Maka, ampere belitan yang ditimbulkan arus beban nol (N,10) harus dapat
mengimbangi ampere belitan yang ditimbulkan arus primer (N,1,) dan ampere belitan
yang ditimbulkan arus sekunder (N212). Hubungan tersebut dapat dituliskan dalam
bentuk fasor:

Bab

119

Trafo Arus

'i-

N,Io-N,I,+NrI,
Jika arus

1o

diabaikan maka

N,I, = -N2lz atau besaran N,1, = Nr1r,

atau sama

dengan Persamaan 7.1 di atas.


Dalam perencanaan suatu trafo arus, ditetapkan batas tertinggi arus kontinu yan-e
mengalir pada belitan primer dan belitan sekunder, masing-masing disebut arus nominal

primer dan arus nominal sekunder. Perbandingan arus nominal primer dengan

arus

nominal sekunder disebut faktor rasio nominal.


Pada rangkaian sekunder suatu trafo arus ditemukan tiga impedansi yang terhubung
seri, yaitu: impedansi belitan sekunder trafo arus; impedansi kabel penghubung terminal

trafo arus dengan meter atau relai; dan impedansi relai atau meter. Jumlah

semua

impedansi tersebut disebut burden.


Perbedaan utama trafo arus dengan trafo daya adalah:

a.

Jumlah belitan kumparan primer trafo arus sangat sedikit, tidak lebih daripada

lima belitan.

b.

Arus primer tidak dipengaruhi arus beban yang terhubung pada kumparan

c.
d.

sekundernya, karena arus primer ditentukan oleh arus pada jaringan yang diukur.
Semua beban pada kumparan sekunder dihubungkan seri.
Terminal sekunder trafo arus tidak boleh terbuka, oleh karena itu terminal kumparan

sekunder harus selalu dihubungkan dengan beban atau dihubung singkat jika
bebannya belum dihubungkan.

Berikut ini akan drjelaskan mengapa terminal sekunder trafo arus tidak boleh
terbuka. Jika arus sekunder nol, maka Persamaan 7.7 menjadi:
N,1o

= N,

1,

Karena 11 tidak berubah, maka fasor Nt10 yang berubah semakin besar sehingga sama
dengan fasor N, 1,. Telah dijelaskan bahwa Nrlo membangkitkan fluks bersama td'
pada inti trafo. Oleh karena itu, kenaikan N,1o akan memperbesar fluks bersama td'
Rugi-rugi inti suatu trafo arus berbanding kuadrat dengan fluks, sehingga kenaikan
fluks bersama (@) akan memperbesar rugi-rugi inti. Rugi-rugi inti menimbulkan pana.
pada inti trafo, sehingga temperatur inti semakin tinggi. Akibatnya isolasi kumparan
trafo arus rusak. Hal ini akan menimbulkan hubung singkat pada kumparan tratb. Di
samping itu, gaya gerak listrik yang dibangkitkan pada kumparan sekunder juga aka:r
bertambah besar. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan pada isolasi kumparan.

7.3

GALAT TRAFO ARUS


Sama halnya dengan trafo tegangan, pada trafo arus ditemukan juga galat risiLr Jan
galat sudut. Galat ini terjadi karena adanya arus beban nol pada trafo aru:. Pen,saruh
arus beban nol ini dapat terlihat pada diagram fasor.
Pada diagram fasor di Gambar 7.3 di halaman 120 terlihat bahsa aru: ttban nol

mengakibatkan dua hal. yaitu:

a.

I, N.
i- i,

b.

Arus 1, tidak satu fasa lagi dengan 1r, hal ini menimbulkan kesalahan sudut.

hal ini menimbulkan galat rasio.

120

Pe:a a:ar Tegangan

linggi

Rasio nominal suatu trafo arus adalah perbandingan jumlah belitan sekunder dengan
jum-lah belitan primer, atau:

, N,
*r=N=

1,,

7.8

L,

Jika suatu ketika suatu trafo arus mengukur sembarang arus 1,, dan arus di belitan
sekundernya adalah Ir, maka menurut Gambar 1.3, galat rasio trafo arus tersebut adalah:

- Nrlr
-N/,
N212

y=

-l*J,-r,l

11,

rooz,

7.9

sedangkan galat sudut (6), yaitu beda sudut fasa fasor (NrI,) dengan fasor
adalah sama dengan jumlah proyeksi NrI, dan N,Io pada N,1,, yaitu:

Nrlr = NrI,

cos

NzIz cos

6+

(-Nrlr). N,1,

N,1o cos a

6 + N,1o cos (es - 6 -

9rS

Karena 6 = 0, maka N,1, menjadi:

Nrlr = NrI, + N,Io cos (go -

IrX"'

GAMBAR 7.3
Diagram fasor ampere belitan trafo arus

qz)

1.10

Bab

121

Trafo Arus

Dari Persamaan 7.10, diperoleh arus primer:

It

IrN, + 1oN, cos (Eo


=

ez)
1

Nl

Jika rasio trafo arus ketika mengukur sembarang arus

1,

adalah O, =

Persamaan 7.11 dibagi dengan 1r, maka diperoleh:

lt N, .
ki= -=l2 Nl

Io cos (90

dan

9r)

12

In cos (go

= ir-

l,

.11

gz)

1.12

Persamaan 7.9 dapat dituliskan sebagai berikut:

1=

kn-tJI2lxrcos"
r1tr2
|

k - kl

7.13

r00vo

Tlx

Substitusi Persamaan 7.12 ke Persamaan 7.13 menghasilkan:

kt^
kn

I,

1o

cos (go

9r)

-1 x lo0%o

1.t4

Persamaan 7.14 menunjukkan bahwa galat bergantung kepada arus beban nol (/o).
= 0, maka galat y = 0. Keadaan seperti ini tercapai hanya pada trafo arus ideal,
yaitu trafo arus tanpa rugi-rugi inti. Karena 5 sangat kecil, maka tg 5 dapat dianggap
sama dengan 6, sehingga galat sudut 5 dapat ditulis sebagai berikut:

Jika

1n

6=tg5=

1n

N, sin (Eo - Ez)


N, 1, cos 5

Karena eo= 90", maka sin (Eo - E) = coS gz. Selain itu, 5 = 0, maka cos 6
Dengan demikian, galat sudut dapat ditulis:

d=--

7.15

= l.

I^ N, cos g,

N, I,
1o

g,
Nr. I,
cos

1o

cos g,

k, I,

7.16

1V,

Persamaan l.l4 dan 7.16 menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempen-earuhi galat
suatu trafo arus adalah:

a.
b.
c.
d.

arus beban nol (1s)


arus sekunder (1r)
faktor daya (9r)
frekuensi (karena I, Is, e0 dan E, bergantung kepada frekuensi)

122

Peralatan Tegangan I rnggi

Pada Gambar 7.4 diperlihatkan pengaruh arus sekunder terhadap galat rasio dan galat
sudut. Dilihat dari sisi sekunder, arus beban nol pada suatu trafo arus dapat dituliskan
sebagai berikut:

Io=
Dalam hal

ini:

11

I
Po

lL,

=
=
=
=

HI
N2

=-llo BI
lL, Nz

7.17

Gaya gerak magnetik (A/m)


Panjang lintasan magnetik pada inti trafo arus (m)
Permeabilitas udara = 4 r x 10-7 H/m
Permeabilitas relatif inti trafo

Dari Persamaan J.6 dapat diperoleh nilai rapat magnetik B, dan jika nilai ini
disubstitusikan ke dalam Persamaan '7.17 maka akan menghasilkan:

'o

4.4

E. I
A po tr, Nr'

7.r8

Menurut persamaan di atas, arus 1o dapat diperkecil dengan cara:


memperpendek lintasan rangkaian magnetik (/)
membuat inti dari bahan yang permeabilitasnya
luas penampang inti trafo (A)
memperbanyak jumlah belitan sekunder (Nr)

(p,) tinggi; atau

memperbesar

Dari beberapa hubungan penting ini dapat dilihat bahwa perancangan trafo
arus sangat unik. Galat sebanding dengan panjang jalur magnet pada inti besi (/)
dan berbanding terbalik dengan luas penampang inti besi A. Hal penting lain yang
berpengaruh terhadap parameter trafo arus adalah gaya gerak magnet pada kumparan
primer dan sekunder. Hubungan kedua gaya gerak magnetik tersebut adalah sebagai
berikut:

1,, N, = 1,, N,

1,2 ohm, cos

1.19

= 0,6
1,2 ohm, cos

0,6 ohm, cos

9=

1,0

= 0.6
0.6 ohm. cos

(a) Galat rasio

GAMBAR 7.4
Pengaruh arus sekunder terhadap galat trafo arus

(b) Galat sudut

.p

1,0

Bab

Trafo Arus

123

0,0 0,1 0,2 0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 t,0
GAMBAR 7.5
Kurva magnetisasi baja silikon dan baja nikel

Galat dapat juga diperkecil dengan memperbanyak jumlah belitan sekunder (Nr).
Tetapi, penambahan jumlah belitan sekunder harus dibarengi dengan penambahan jumlah
belitan primer agar Persamaan '7.19 tetap terpenuhi. Akibatnya, jika terjadi hubung
singkat pada sistem, maka arus hubung singkat yang mengalir pada belitan primer akan
membangkitkal gaya gerak magnetik (A/111,.) yang sangat besar pada belitan primer.
Gaya gerak magnetik ini menimbulkan tekanan dinamis yang besar pada kumparan
trafo arus. Oleh karena itu, penambahan jumlah belitan primer ada batasnya.
Untuk memperoleh trafo arus berakurasi tinggi, inti trafo arus dibuat dari bahan
campuran besi-nikel. Permeabilitas bahan ini relatif tinggi, tetapi menghasilkan ga1 a
gerak listrik rendah, karena saturasi rapat fluks (B) yang dihasilkannya rendah. Pada
kurva magnetisasi yang diperlihatkan pada Gambar 7.5 terlihat bahwa nilai terting_ei
rapat fluks baja-nikel sekitar 7 x 103 gauss. Trafo arus yang digunakan untuk proteksi.
intinya dibuat dari campuran baja-silikon, yakni bahan yang mempunyai saturasi rapar
fluks yang tinggi. Pada Gambar 7.5 diperlihatkan bahwa saturasi rapat fluks baja-silikor:
besarnya di atas 16 x 103 gauss.
Jika dilakukan penambahan I dalam rangka mengurangi kuat medan elektrik pac:
isolasi trafo arus, maka galat akan bertambah. Agar galat tidak bertambah, maka l:'.
penampang inti harus diperbesar, akibatnya volume inti trafo bertambah secara kuadr:::i.
oleh karena itu dibutuhkan jenis konstruksi yang sangat kompak untuk mendapa:i.-panjang inti besi yang sekecil mungkin.

7.4

GALAT KOMPOSIT
Pada Gambar 7.6 diperlihatkan karakteristik magnetisasi suatu trafo arus. K::-.t:magnetisasi trafo arus ideal adalah berupa garis lurus berwarna gelap ,.r -;;-_r
karakteristik magnetisasi trafo arus aktual adalah seperti garis beru.ami -ir:-

-.

124

Peralatan Tegangan Tinggi

GAMBAR 7.6
Kurva magnetisasi trafo arus

Dalam praktiknya, pada trafo arus dengan inti besi tertutup (tanpa sela), ketika
puncak arus pada belitan primernya melebihi 1,s, kurva arus sesaat pada belitan
sekundernya tidak lagi berbentuk sinusoidal murni. Keadaan seperti ini dapat terjadi
jika pada belitan primer mengalir arus hubung singkat. OIeh karena itu, galat rasio
tidak dapat lagi dihitung dengan Persamaan 7.9. Pada keadaan seperti ini, galat disebut
galat komposit yang dihitung dengan persamaan 7.20'

Galat komporU =

=
=
iz =
Z=
k =

Dalam hal ini: 1r

1r

lf r0,,,. -

7a

1.20

Nilai efektif arus primer


Arus sesaat Primer
Arus sesaat sekunder

Periode gelombang arus sesaat (7--)


Jststem
Rasio transformasi nominal

Unjuk kerja suatu trafo arus ketika belitan primernya dialiri arus hubung singkat,
digambarkan dengan faktor arus lebih n. untuk menyatakan bahwa ketika arus primer
sama dengan nlb,, galat masih dalam batas yang ditentukan. Untuk suatu trafo arus,
telah dibuat suatu standar untuk menyatakan batas galat dan faktor pengali arus lebih,
misalnya: O,5lM5;10P20; dan lain-lain. Simbol Mmenunjukkan trafo arus adalah untuk
pengukuran; dan simbol P menunjukkan bahrva trafo arus adalah untuk proteksi' Trafo
arus O,5lM5, menunjukkan bahwa trafo arus adalah untuk pengukuran, dan jika arus
primer sama dengan lima kali arus nominal primer, maka batas galat tertinggi adalah
0,57o. Simbol 10P20 menunjukkan bahrva trafo arus adalah untuk keperluan proteksi,
< 109a.
dan ketika arus primer 20 kali arus nominal primer, total galat

Bab

7.5

Trafo Arus

125

BURDEN TRAFO ARUS


Sebelumnya telah dinyatakan bahrva burden adalah semua impedansi yang ditemukan
pada rangkaian sekunder trafo arus. Burden dinyatakan dalam impedansi dan faktor
daya atau daya dalam VA. Burden nominal suatu trafo arus ditetapkan lebih besar
daripada burden total yang akan terdapat pada rangkaian sekunder trafo arus tersebut.
Jumlah semua impedansi pada rangkaian sekunder adalah:
Burden total = Z, + Z,r+ Zr

1.21

Dalam hal ini, Z, adalah impedansi kumparan sekunder trafo arus, Zu adal.ah impedansi
alat ukur, relai, atau peralatan yang terhubung pada terminal sekunder trafo arus; dan
Zr adalah impedansi kabel penghubung peralatan dengan terminal trafo arus.
Impedansi kabel penghubung dapat dianggap hanya berupa resistansi (R*). Nilai
tahanannya bergantung pada penggunaan trafo arus. Jika jarak antara terminal trafo
arus dengan peralatan adalah / (meter), resistivitas kabel adalah p (ohm . mm2/m; dan
luas penampang kabel adalah A (mm2), maka nilai resistansi kabel penghubung adalah
seperti diperlihatkan pada Tabel 7.1.
Jika S,, (VA) adalah burden satu peralatan pada rangkaian sekunder trafo arus dan
arus nominal peralatan tersebut dalam ampere adalah 1,,, maka impedansi peralatan
tersebut dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini:

s
7,--+
o I:

1.22

Burden berbagai alat ukur diperlihatkan pada Tabel 7.2, sedangkan burden berbagai

relai diperlihatkan pada Tabel 7.3.

TABEL 7.1

Nilai Resistansi Kabel Penghubung

Nilai Resistansi Kabel


Penggunaan C?
Meter satu fasa

Penghubung (ohm)

Rr=

2pl
A

ol

Meter tiga fasa beban setimbang

R.KA
-',

Meter tiga fasa beban tidak setimbang

R,_
*A

Relai gangguan fasa-ke-tanah


Netral sistem dibumikan

Rr=+

Relai gangguan fasa-ke-tanah


Netral sistem tidak dibumikan

R.KA

Relai gangguan tiga fasa

_'
R,rA

2ol

ol

=L

ol

126

Peralatan Tegangan Tinggi

Burden nominal yang tercantum pada papan nama suatu trafo arus adalah total
burden tertinggi pada rangkaian sekunder trafo arus, yang membuat kesalahan pengukuran
sama dengan ketelitian yang tercantum pada papan nama trafo arus tersebut. Burden

nominal trafo arus yang sudah distandarisasi antara lain adalah: 2,5; 5; 7,5; l0;,

15;"

dan 30 VA.
TABEL 7.2

Burden Alat Ukur Pada 54,/50 Hz


Alat Ukur

Burden

(vA)
Ammeter

Wattmeter

Faktor daya-meter

Perekam arus

Perekam daya

Perekam faktor daya

kWh dan KVAR meter

TABEL 7.3

Burden Relai Pada Arus Nominal


Jenis Relai

Burden (VA)

Relai Arus Lebih

1,5-5

Relai arus lebih-waktu terbalik


Relai arus balik

1,8

Relai daya balik

0,07

3,5

Relai dava

0,23

1t,5

Relai diferensial
Relai Jarak

7.6

0,8-6
2-25

FAKTOR KEJENUHAN
Pada Gambar 7.6, terlihat bahwa ketika arus primer mencapai 1,,, rapat magnet pada

inti trafo arus mengalami kejenuhan. Perbandingan arus primer yang membuat rapat
magnet pada inti trafo arus mengalami kejenuhan (1,,), dengan arus nominal primer(11,)

disebut faktor kejenuhan (fl*), atau:

,F k _

I,B
l.l

Iu,_ q,

7.23

B, dapat dianggap konstan dan tidak bergantung pada besaran burden, sedangkan
B,berbanding lurus dengan impedansi burden. Dengan demikian faktor kejenuhan dapat
dituliskan sebagai berikut.

r-1-1
'k
B,

7.24

Bab

Trafo Arus

127

Faktor kejenuhan bergantung kepada impedansi burden. Maka, faktor kejenuhan


harus dinyatakan untuk nilai burden tertentu. Jika faktor kejenuhan ketika impedansi
burden nominal (2,,) adalah Fr,,, maka faktor kejenuhan pada sembarang burden ({)
adalah:

Fr, = Fn,,

Z
1.25

Untuk keperluan proteksi, inti trafo arus harus lambat mengalami kejenuhan:
biasanya memiliki faktor kejenuhan tinggi yakni Fo = 10. Sedangkan trafo arus untuk
pengukuran harus segera jenuh. agar ketika arus hubung singkat mengalir pada belitan
primer, arus tidak naik secara linier mengikuti arus hubung singkat tersebut. Dengan
demikian. peralatan pada beiitan sekunder trafo arus tidak mengalami kerusakan. Maka.
trafo arus untuk pen-eukuran memiliki faktor kejenuhan rendah, yakni F.. = 5. Untuk
penggunaan pengukuran. trafo arus biasanya dioperasikan pada bagian kurva magnetisasi
yang linier.
Faktor kejenuhan dapat juga dipergunakan untuk memperkirakan luas penampan-e

inti suatu trafo arus:


F'"

l2nz"

A =Ci '"
NDalam hal

ini:

A.I
C.I

)
(cm-)

= Luas penampang inti trafo arus


= Konstanta yang bergantung kepada

1.26

bahan

inti (untuk baja cold

rolled oriented nilainya adalah 25)


F,
I^zil

Z,
N2

7.7

= Faktor kejenuhan nominal


= Arus nominal sekunder
= Impedansi burden nominal
= Jumlah belitan sekunder

KETAHANAN TERHADAP ARUS HUBUNG SINGKAT


Trafo arus terhubung seri dengan jaringan sehingga belitan primer trafo arus haru.
mampu memikul arus hubung singkat yang terjadi pada jaringan. Jika trafo arus ru>;r.
ketika belitan primernya dialiri arus hubung singkat, maka relai proteksi yang menr;r
beban trafo arus tidak bekerja. Dengan kata lain, peralatan sistem tidak terlinduns:
Setiap trafo arus harus dilengkapi dengan informasi tentang besaran dan du::arus waktu singkat. Informasi ini diperoleh dengan menghitung arus hubuns :ir-.;r..
terbesar jika gangguan hubung singkat terjadi di lokasi pemasangan trafo &ru:. :i:dapat juga diperoleh dari data daya pemutusan pemutus daya yang bekerja sama c--. i ; trafo arus tersebut. Jika penentuan besaran dan durasi arus waktu singkat tidaii :,r-'maka ketika terjadi hubung singkat trafo arus dapat mengalami kerusakan.
Adanya arus hubung singkat pada belitan trafo arus mengakibatkan du: i-*,- *efek, yaitu efek termal dan efek gaya dinamis.

Arus Terma! Waktu Singkat


Arus termal waktu singkat (1,r) adalah arus efektif tertinggi yang dapar C,; , - -.
selama I (satu) sekon tanpa menimbulkan perubahan sifat mekanik c:- r--_t
listrik pada trafo arus itu-sendiri. Besar arus termal waktu sinskar *.':---t--.

128

r:-aratan Tegangan Tlnggi

besar atau sama dengan arus hubung singkat tertinggi yang diperkirakan akan mengalir
pada kumparan primer trafo arus. atau tidak boleh kurang daripada kapasitas pemutusan

arus pemutus daya yang bekerja sama dengan trafo arus tersebut. Arus termal waktu
singkat dapat juga dihitung dengan rumus di bar.vah ini.

/" =yr6
s,,,

'7.21

Dalam hal ini, s,,. adalah tingkat daya hubung singkat sistem jika hubung singkat
terjadi di titik instalasi trafo arus; dan v adalah tegangan fasa-ke-fasa sistem.
Jika arus termal waktu singkat dinyatakan dalam sembarang waktu /,, maka arus
termal waktu singkat dihitung dengan rumus di bar,vah ini.

Irr.(=

T,,

7.28

fl

Perbandingan arus termal waktu singkat dengan arus nominal primer (1,,,) disebut

faktor termal waktu singkat, atau:

Faktor Termal Waktu Singkat (FTWS) =

II

1.29

Arus Dinamis Waktu Singkat


Puncak arus hubung singkat pada periode transien dapat mencapai 2,5 kali arus termal
waktu singkat, 1rr. Arus ini menimbulkan gaya elektromagnet pada belitan primer trafo
arus. Trafo arus harus mampu memikut gaya elektromagnetik tersebut. Arus dinamis waktu
singkat (Ior) adalah nilai puncak arus tertinggi yang dapat mengalir di kumparan primer
trafo arus selama setengah periode, tanpa menimbulkan perubahan pada karakteristik
trafo. Nilai standar IEC arus dinamis waktu singkat (puncak) adalah: 2,5 x 1,, untuk
frekuensi sistem 50 Hz dan 2,6 x Ir, untuk frekuensi sistem 60 Hz.
Perbandingan arus dinamis waktu singkat dengan puncak arus nominal primer
trafo arus (1,,,) disebut faktor dinamis waktu singkat, atau:

Faktor Dinamis Waktu Singkat (FTW$ =

1,,

1.30

Tekanan mekanis yang dialami trafo arus pada saat hubung singkat bergantung
pada nilai puncak arus tertinggi, jumlah belitan kumparan primer dan konfigurasi
kumparan. Tekanan mekanis dapat dikurangi dengan mengurangi jumlah belitan dan
memperkecil diameter kumparan. Puncak arus tertinggi yang dapat dipikul suatu trafo
arus bergantung kepada faktor dinamis waktu singkat. Faktor ini umumnya adalah 50
100' Untuk trafo arus komersil dapat dirancang antara 200 400. Jika faktor dinamis
-

rvaktu singkat lebih dari 400, maka sebaiknya digunakan trafo arus jenis konduktor
tunggal. Tetapi trafo arus jenis konduktor tunggal mempunyai burden, ketelitian dan
faktor batas ketelitian yang terbatas. Jika ternyata burden, ketelitian dan faktor batas
ketelitian tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan, maka dipilih trafo arus jenis belitan
yang arus nominal primernya ditinggikan sedemikian sehingga faktor dinamis waktu
singkat tidak melebihi 400.

Bab

Trafo Arus

129

7.8 JENIS-JENIS TRAFO ARUS


Jenis trafo arus dapat dibagi menurut jumlah dan konstruksi kumparan primernra:
menurut jumlah rasio: menurut jumlah inti; menurut ketelitian; menurut reaktansi dan
menurut konstruksi isolasinya. Berikut ini akan dijelaskan jenis-jenis trafo arus menurut
keempat pemba,uian tersebut.

Jenis Menurut Jumlah dan Konstruksi Kumparan Primer


Jenis trafo arus ditinjau dari konstruksi belitan primernya terdiri dari jenis kumparan
(wotrnd npa) dan jenis konduktor tunggal. Jenis konduktor tunggal terdiri dari duajenis.
jenis cincin dan jenis bar. Bentuk ketiga jenis trafo ini diperlihatkan pada Gambar 7.7.
Jenis cincin belum dilen-skapi dengan belitan primer, hanya terdiri dari inti dan
belitan sekunder, tetapi dapat langsung dirangkaikan pada konduktor yang arusnya akan
diukur. Jenis cincin terbagi la-ei atas jenis bushing dan jenis terbuka. Jenis bushing
digunakan untuk mengukur arus pada konduktor yang sudah diisolasi penuh. Misalnya.
untuk mengukur arus keluaran trafo daya, trafo arus dipasang pada bushing trafo daya.
Dalam hal ini, isolasi belitan primer dengan inti trafo arus adalah isolasi dari bushin-e
itu sendiri, sehingga tidak dibutuhkan lagi isolasi tambahan. Trafo arus jenis cincin
terbuka, intinya dilengkapi dengan isolasi untuk mengisolir belitan primer dengan inti.
Trafo arus ini digunakan untuk pengukuran arus pada konduktor telanjang, misalnya
rel daya pada panel daya.
Trafo arus jenis kumparan digunakan untuk pengukuran arus rendah, untuk burden
yang besar dan untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi. Jumlah belitan
primernya bergantung kepada arus primer yang akan diukur, biasanya dibatasi tidak
lebih daripada 5 belitan dan dirancang menghasilkan gaya gerak magnet kira-kira 1200
ampere-belitan. Meskipun dimungkinkan memperoleh trafo arus yang memiliki burden
besar dan ketelitian yang tinggi, adalah tidak lazim memilih trafo arus yang burden
dan ketelitiannya melebihi daripada kebutuhan. Penambahan jumlah belitan primer akan
mengurangi kemampuan trafo arus memikul efek termal dan gaya dinamis yang terjadi
pada kumparannya, ketika kumparan primer dialiri arus hubung singkat sistem.
Trafo arus jenis konduktor tunggal digunakan untuk pengukuran arus besar (ribuan
ampere). Konstruksinya sangat sederhana dan kokoh sehingga trafo arus ini mampu
menahan arus hubung singkat yang besar, atau dengan kata lain mampu memikul efek
termal dan gaya dinamis yang terjadi pada kumparannya, ketika kumparan primer

(a) Jenis

kumparan

(D) Jenis cincin

GAMBAR 7.7
Jenis trafo arus dilihat dari konstruksi kumparan primer

(c') Jenis bar

130

Peralatan Tegangan Tinggi

dialiri arus hubung singkat sistem. Tetapi, trafo arus jenis konduktor tunggal dengan
arus nominal primer rendah memiliki ketelitian yang rendah. Hanya pada arus primer
nominal > 1000 A diperoleh ketelitian yang lebih tinggi. Ketelitian trafo arus jenis
konduktor tunggal dapat juga ditinggikan dengan menambah luas penampang intinya
(memperbesar A pada Persamaan 7.18). Akibatnya, dibutuhkan volume isolasi yang
semakin besar, sehingga biayanya menjadi lebih tinggi.

Jenis Menurut Jumlah Rasio


Berdasarkan jumlah rasio yang disediakan trafo arus terbagi atas dua jenis, yaitu trafo
arus rasio tunggal dan trafo arus rasio ganda. Untuk memperoleh trafo arus rasio
ganda, jumlah belitan kumparan primer diperbanyak. Kumparan-kumparan itu dapat
dihubungkan seri atau paralel. Trafo arus rasio ganda dapat juga diperoleh dengan
mengubah jumlah belitan sekundemya.
Agar trafo arus dapat digunakan untuk mengukur arus yang besar, maka belitan
primer biasanya dibagi menjadi beberapa kelompok yang dapat dihubungkan seri atau

paralel. Dengan demikian arus primer nominal trafo arus dapat diatur, misalnya 1,2
dan 4 kali arus nominal. Perubahan arus primer nominal membuat rasio arus nominal
bervariasi, namun galat tetap tidak berubah untuk setiap rasio yang dipilih, karena amperebelitan tidak berubah pada setiap rasio. Tetapi, ketika belitan primer dihubungkan seri,
ketahanan arus waktu singkat lebih rendah daripada ketika belitan primer dihubungkan
paralel, dan ketahanan arus hubung singkat trafo arus menjadi berkurang.
Rasio ganda pada trafo arus jenis kumparan diperoleh dengan merangkai kumparan
primernya dalam hubungan seperli diperlihatkan pada Gambar 7.8. Jika arus nominal
tiap unit kumparan dimisalkan 100 A, maka dengan rangkaian seperti diperlihatkan
pada Gambar 7.8b, diperoleh arus nominal sebesar 200 A; dan dengan rangkaian seperti
diperlihatkan pada Gambar 7.8c, diperoleh arus nominal sebesar 400 A. Rancangan
seperti ini sangat menguntungkan, terutama jika tidak ada arus hubung singkat yang
mengalir pada sisi primernya, misalnya trafo arus yang digunakan di laboratorium.
Dengan cara seperti ini, dapat diperoleh beberapa ragam rasio tanpa mengorbankan
burden dan ketelitian.
Untuk memperoleh arus nominal primer dan arus waktu singkat yang tinggi,
kumparan primer trafo arus terbuat dari konduktor tunggal. Pada trafo arus jenis konduktor
tunggal, rasio ganda diperoleh dengan membuat sadapan di kumparan sekundernya.
Tetapi perlu diperhatikan bahwa daya keluaran sebanding dengan kuadrat ampere-belitan
sekundernya. Jika rasio dikurangi menjadi setengah, maka kapasitas dayanya berkurang
menjadi seperempat daripada semula, tetapi arus termal waktu singkat tetap seperti
semula. Kelas ketelitian dinyatakan pada saat semua belitan sekunder digunakan.

t,tt1(X)A

(b) 200 A

GAMBAR 7.8

?:ro<aian kumparan primer untuk memperoleh rasio ganda

(c) ,+00 A

Bab

Trafo Arus

131

Jenis Menurut Jumlah lnti


Trafo arus dapat juga dibuat memiliki beberapa inti, dan masing-masing inti dililir
dengan sebuah belitan sekunder, tetapi dieksitasi oleh satu belitan primer. Dengan
cara ini, sifat-sifat inti dapat dioptimalkan sehingga sifat inti yang satu cocok unruk
pengukuran dan sifat inti yang lain cocok untuk proteksi.
Berdasarkan jumlah intin1,a, trafo arus dapat dibagi atas dua jenis, yaitu trafrr
arus inti tunggal dan trafo arus inti
Trafo arus inti ganda digunakan jika sistem
-eanda.
membutuhkan arus untuk pengukuran dan proteksi. Pada Gambar 7.9 diperlihatkan
trafo arus dua inti, satu intinya digunakan untuk keperluan proteksi dan satu lagi untuk
keperluan pengukuran.
Jika terjadi gangguan pada sisi primer suatu trafo arus, gangguan itujuga dirasakan
pada rangkaian sekunder trafo arus tersebut. Relai proteksi pada rangkaian sekunder
trafo arus tidak membutuhkan ketelitian yang tinggi, tetapi harus dapat mentransformasi
arus gangguan, sehingga relai bekerja, dan sistem proteksi beroperasi dengan baik.
Inti trafo arus untuk pengukuran terbuat dari bahan yang jenuh pada arus rendah.
sehingga besar arus belitan sekunder tetap dalam batas kemampuan ammeter sekalipun
arus di belitan primer naik beberapa puluh kali arus nominalnya, sehingga ammeter
tidak menjadi rusak ketika arus primer sangat besar. Sebaliknya, inti yang digunakan
untuk relai proteksi harus terbuat dari bahan yang jenuh pada arus tinggi, sehingga
arus sekunder tetap sebanding dengan arus primer sekalipun arus primer naik sampai
sepuluh atau lima belas kali arus nominal primer.

Jenis Menurut Ketelitian


Ciri suatu trafo arus yang digunakan untuk pengukuran adalah: bekerja pada kondisi
sistem normal; membutuhkan ketelitian tinggi; burden rendah; dan jenuh pada tegangan
rendah. Kelas ketelitian dan galat trafo arus standar diperlihatkan pada Tabel 7.4.
Ketelitian trafo arus yang digunakan untuk proteksi, ditentukan oleh galat komposit
tertinggi yang diizinkan pada saat batas ketelitian arus primer sama dengan 1'ang
ditetapkan untuk kelasnya. Galat komposit terjadi karena adanya galat rasio.
-ealat
sudut dan perbedaan bentuk gelombang arus sekunder dengan arus primer. Biasanr a
dinyatakan dalam persen arus primernya seperti dinyatakan dalam Persamaan 7.20.

GAMBAR 7.9
Trafo arus inti ganda

't32

Peralatan Tegangan

rnggi

TABEL 7.4

Kelas Ketelitian Trafo Arus Pada 100% Arus Nominal


Kelas

(vr)

5 (menit)

Penggunaan

0.1

+0,1

+5

Pengujian yang teliti dan sebagai sub-standar pada pengujian trafo


arus yang digunakan di laboratorium

0.2

+O)

+10

Untuk laboratorium, pengujian meter berketelitian tinggi dan


sebagai sub-standar pada pengujian trafo arus

(C0 industri

0"5

+O5

+30

Untuk alat ukur industri berketelitian tinggi, komersial dan industri

1.0

+1,0

+60

Untuk meter komersial dan meter yang dipakai pada industri

3.0

+3,0

Untuk wattmeter dan ammetet

5n

+5O

Untuk pengukuran di mana ketelitian rasio tidak terlalu penting

Kelas trafo arus ini dinyatakan dengan tanda "nP", dalam hal ini n menunjukkan
kelas ketelitian dan P menunjukkan trafo arus adalah untuk keperluan proteksi. Batas
ketelitian trafo arus yang digunakan untuk proteksi diperlihatkan pada Tabel 7.5.
TABEL 7.5

Batas Ketelitian Trafo Arus Proteksi


Galat Rasio (y) ketika
Arus Primer = Arus
Nominal

Galat Sudut (6) ketika

5P

+1,0

+60,0

t0P

+3,0

10

l5P

+5,0

15

Kelas

Arus Primer = Arus

Galat Komposit ketika 7

Nominal

dan6=GalatNominal
5

Kelas ketelitian trafo arus untuk berbagai relai proteksi diperlihatkan pada Tabel 7.6.
TABEL 7.6

Kelas Ketelitian Trafo Arus Untuk Berbagai Relai Proteksi


No

Penggunaan
Relai arus lebih reaksi cepat(Instantaneous
overcurrent relay)

Kelas

l5P
Faktor batas ketelitian

(FBn

Relai arus lebih, karakteristik arus terbalik dan


waktu tunda minimum tertentu (Inverse and
definite minimum time lag)

l0P

Relai arus tanah karakteristik arus terbalik dan


waktu tunda minimum tertentu (Inverse and
definite minimum time lag earth fault relq-)

lOP atau l5P di mana


S, x FBK= 150
S, = Daya keluaran nominal
Setting arus relai ) 2OVo
Burden relai pada setting arus
nominal < 4 VA

yang tidak membutuhkan stabilitas ketika terjadi

gangguan fasa-ke-fasa dan peningkatan waktu


yang teliti
4

Relai arus tanah yang membutuhkan kestabilan


ketika terjadi gangguan fasa-ke-fasa dan
pertambahan waktu yang teliti

S, x FBK= 150

Relai diferensial dan relai jarak

5Pdan 10P

5P

=5

Bab

Trafo Arus

133

Jenis Menurut Reaktansi


Dalam pemilihan trafo arus untuk keperluan proteksi, perlu diperhatikan fluks remanensi
pada inti trafo arus tersebut. Pada Gambar 7.10. diperlihatkan fluks remanensi tratb
arus inti tertutup (ungapped core) dan inti dengan sela udara (air-gap core).
Jika arus eksitasi dinaikkan, nilai fluks naik tidak mulai dari nol, tetapi naik mulai
dari nilai fluks remanensi (ry',, dan tlt,). Terlihat bahwa pada inti teftutup, sampai arus
eksitasi sebesar 1., fluks tidak berbanding lurus dengan arus eksitasi; sedangkan pada
inti bersela, sampai arus eksitasi sebesar 1., fluks masih dianggap berbanding lurus
dengan arus eksitasi.
Ketrka arus eksitasi sama dengan 1", fluks pada trafo arus inti tertutup (ry',) lebih
besar daripada fluks pada trafo arus inti dengan sela udara (/r,). Karena induktansi
sebanding dengan fluks, maka ketika arus eksitasi sama dengan 1,, induktansi trafo
arus inti tertutup lebih besar daripada induktansi trafo arus dengan sela udara. Dengan
demikian, dilihat dari reaktansi eksitasi, trafo arus dapat dibagi dua jenis, yaitu trafo
arus reaktansi tinggi dan trafo arus rektansi rendah.
Pada trafo arus reaktansi tinggi, fluks tidak berbanding lurus dengan arus eksitasi,
maka reaktansinya tidak tetap dan tidak dapat diduga, sehingga kinerja trafo arus
reaktansi tinggi tidak dapat dianalisis berdasarkan pengetahuan akan arus eksitasi.
resistansi kumparan dan rasio belitan. Kinerja trafo arus reaktansi tinggi ditetapkan
atas kesepakatan antara pemakai dengan produsen.
Pada trafo arus reaktansi rendah, fluks berbanding lurus dengan arus eksitasi,
sehingga induktansi atau reaktansinya konstan. Dengan demikian kinerja trafo arus ini
dapat diperkirakan dengan mengetahui arus eksitasi, resistansi belitan sekunder dan rasio
belitan. Dalam menganalisis kinerja suatu trafo arus reaktansi rendah, diperlukan data:
arus nominal primer; rasio belitan sekunder dengan belitan primer; tegangan lutut; arus
eksitasi ketika tegangan sama dengan tegangan lutut atau dalam persentase tegangan
lutut; dan resistansi kumparan sekunder pada temperatur 75 oC.

Inti Tertutup

I"

GAMBAR 7.10
Fluks remanensi inti tertutup dan inti bersela udara

134

' :' z a'.a' -eEargan f inggi

Jenis Menurut Konstruksi tsolasi


Pada Gambar 7' I

I diperlihatkan trafo

arus epoksi-resin jenis pendukung dan jenis bushing.

Konstruksi trafo arus dengan isolasi epoksi-resin sering dipakai uniuk pasangan
lua"r,
jaringan tegangan menengah sampai tegangan 110 kV.
Tiafo arus epoksi-resin memiliki
kekuatan gaya dinamis hubung singkat yang tinggi, sebab semua belitannya
tertanam
dalam bahan isolasi.

Trafo arus tegangan tinggi untuk gardu induk pasangan luar, dibuat dengan
isolasi
minyak-kertas yang ditempatkan dalam tabung porselen. Jenis konstruksi
trafo arus ini
dibedakan atas susunan bagian-bagian aktifnya (inti, belitan), yaitu: jenis
tangki logam,
jenis tabung isoiasi dan jenis gardu. Trafo arus jenis gardu mlmiliki
kelebihan, karena
penyulang pada rangkaian primernya lebih pendek, sehingga banyak digunakan
untuk
arus nominal dan arus hubung singkat yang besar. Trafo arus jenii tangki
logam, jenis
tabung isolasi dan jenis gardu diperlihatkan pada Gambar 1.12.
Pada sistem isolasi koaksial seperti pada kabel, bushing trafo dan rel
daya yang
diisolasi dengan SFu, selalu dimungkinkan untuk membuat trafo arus jenis konduktoi
tunggal tanpa menggunakan isolasi khusus. Dalam hal ini sering digunakan
inti berbentuk
cincin yang dikenakan mengelilingi isolasi kabel, bushing atau-rel. tselitan sekunder
dibelitkan secara seragam pada cincin, dengan demikian terminal sekunder
trafo arus
dapat dibuat pada lapisan terluar isolasi atau pada bagian isolasi yang
dibumikan. pada
Gambar 7.13 diperlihatkan sebuah trafo arus, inti cincin, dipasang piaa rel
daya gardu
isolasi SFu (GIS).

7.9

TINGKAT ISOLASI TRAFO ARUS


Trafo arus harus mampu memikul tegangan sistem pada keadaan normal
maupun ketika
terjadi tegangan lebih. Oleh karena itu, trafo arus memiliki suatu spesifikasi yang
disebut
tingkat isolasi, yaitu nilai tegangan uji frekuensi daya, tegangan uli impuls prli,
t,ztso
ps dan tegangan uji impuls hubung-buka 25ol25oo ps, yarg dapat dipikul rrafo
arus
tersebut. Trafo arus yang akan dipasang pada sistem tegangan di bawah
300 kv harus
memiliki spesifikasi tegangan uji frekuensi daya pada kondisi kering dan basah;
dan

Keterangan:
i = Kumparan primer
2 = Kumparan sekunder
3

(.a)

GAMBAR 7.11
Trafo arus jenis pendukung dan jenis bushing

= Inti

Bab

Trafo Arus

135

Keterangan:

I = Kumparan primer
2 = Kumparan sekunder
3 = Inti

I
2
3

(a) Tangki baja

tbt Isolasi silinder

(c) Jenis gardu

GAMBAR 7.12
Trafo arus tegangan trnggi

Keterangan:
1. Konduktor internal sebagai
kumparan primer
2. Inti berbentuk cincin
3. Kumparan sekunder
4. Elektroda pelindung
5. Tabung luar
6. Kontak terminal sekunder
1. Tutup penyekat gas

GAMBAR 7.13
Trafo arus pada rel daya gardu isolasi SF6

tegangan uji impuls petir. Trafo arus yang akan dipasang pada sistem tegang?r Z .r r
kV harus memiliki spesifikasi tegangan uji frekuensi daya pada kondisi kerin-s: lc!a:._i:l
uji impuls petir; dan tegangan uji impuls hubung-buka pada kondisi basah. \t::.,:-'
IEC 61869-1, tingkat isolasi trafo arus adalah seperti diperlihatkan pada Tate. - Kekuatan dielektrik isolasi trafo arus berkurang jika ditempatkan pa,1. . .,..
yang ketinggiannya lebih dari 1000 m di atas permukaan laut. Oleh karena iI-. t -ir.:'
isolasi trafo arus harus disesuaikan dengan lokasi penempatannya. \aitu -irj :.---faktor koreksi ketinggian (kr) dikalikan dengan tingkat isolasi pada kea.:.::. :':-;'

r35

=='a arao Tegangan i rnggi

(=

1000 m). Menurut IEC 61869-1, fakror koreksi ketinggian dapar dihirung dengan

rumus berikut:

zx(I/-1000)

a*

kr=e

7.31

Dalam hal ini, 11 = tinggi lokasi di atas permukaan laut (meter); ru I untuk tegangan
=
dan m = o,j5 untuk tegangan uji

uji frekuensi daya dan tegangan uji impuls petir;


impuls hubung-buka.
TABEL 7.7

lrngkat lsolasi Trafo Arus


Ketahanan Terhadap Uji
Tegangan Tertinggi

Peralatan
(r-,u", kv- rms)

Tegangan Frekuensi

Daya (kV-rms)

Kering i

Tegangan lmpuls

Hubung-Buka
(kV-Puncak)

(kV-Puncak)

36

70

52

95

95

250

1)<

140

140

32s

123

230

230

550

145

275

2'/5

650

t70

325

325

750

245

460

460

t050

70

t70

300

460

1050

362

510

1175

9s0

420

630

1425

1050

550

680

l -5.50

117 5

800

975

2100

1550

Catatan: Pengujian di ketinggian

7.10

Basah

Tegangan

Impuls Petir

<

8s0

1000 m di atas permukaan laut. Titik netrol tlibumikan

TEGANGAN LUTUT
Jika pada belitan sekunder suatu trafo arus diberi tegangan sinusoidal frekuensi nominal.
sedangkan terminal primernya terbuka. maka akan diperoleh kurva eksitasi seperti
diperlihatkan pada Gambar 7.14.

Tegangan lutut adalah nilai et'ektif tegangan pada sisi sekunder, yang memberi
penambahan arus eksitasi lebih 50clc daripada arus eksitasi sebelumnya, jika tegangan
bertambah l0o/o daripada nilai tegangan tersebut (lihat Errpada Gambar 7.14). Tegangan
lutut perlu diperhitungkan jika trafo arus bakal digunakan untuk relai proteksi, terutama

jika trafo arus digunakan untuk relai diferensial dan relai jarak. Jika suatu trafo arus
akan digunakan untuk relai yang beroperasi cepat, ternyata tidak memiliki tegangan
lutut sebesar yang dibutuhkan, maka relai akan bekerja lebih lambat, sehingga relai
gagal memproteksi sistem.
Menurut IEC 60044-1, spesilikasi suatu trafo arus dapat ditetapkan berdasarkan
tegangan lutut (E *). Tegangan lutut lebih rendah daripada gaya gerak listrik nominal

Bab

Trafo Arus

137

E:r = Tegangan lutul

GAMBAR 7,14
Kurva magnetisasi dan tegangan lutut

600-1-1-6. Oleh karena itu.


secara pendekatan. E.^ dapat ditetapkan sama dengan 0.88.,,.
Gaya gerak listrik nominal belitan sekunder (E.,,) sama atau lebih besar daripada
gaya gerak listrik maksimum pada belitan sekunder (Ez*rr.,). Gaya gerak listrik E-,n,o*.
dihitung dengan Persamaan 7.5, dengan menggantikan 1, sama dengan arus ter-tinggi

belitan sekunder (E.,,) 1an-s ditetapkan berdasarkan IEC

yang mungkin terjadi pada belitan sekunder. Arus sekunder tertinggi terjadi ketika
belitan primer dialiri arus hubung singkat tertinggi. Dengan demikian, tegangan lutut
dapat ditetapkan seperti persamaan di barvah ini:
E2k

>

0,8

E2_uk.

1.32

Berikut ini diberikan dua contoh perhitungan tegangan lutut, yaitu tegangan lutut
trafo arus yang digunakan untuk relai diferensial dan relai jarak.

Tegangan Lutut Trafo Arus untuk Relai Diferensial


Untuk relai diferensial diperlukan dua set trafo arus dan setiap set terdiri dari tiga
unit trafo arus. Tegangan lutut tidak perlu diperhatikan jika karakteristik magnetisasi
kedua set trafo arus adalah sama; galat arus pada setiap nilai arus juga sama; dan inti
trafb arus tidak jenuh ketika belitan primer dialiri arus hubung singkat tertinggi. Tetapi
dalam praktiknya adakalanya hal tersebut tidak terpenuhi. Jika demikian halnya, galat
rasio trafo arus perlu diperiksa agar galat tersebut tidak terlalu besar ketika terjadi arus
hubung singkat yang terbesar.
Arus hubung singkat keadaan tunak suatu trafo daya biasanya tidak lebih dari
10 - 15 kali arus nominalnya. Tetapi untuk relai diferensial kecepatan tinggi. arur
hubung singkat yang diperhitungkan a$alah arus transiennya. Arus transien ini bergantuns
kepada perbandingan resistansi dan reaktansi (R/)Q sistem ditinjau dari sumber \&Irlp;:
titik lokasi trafo arus. Nilai R/X bergantung kepada lokasi trafo arus dan akan sen.:.r..:.
besat jika trafo arus semakin dekat dengan generatof. l{ubungan arus transier, I
primer dengan arus hubung s'rngkat keadaan tunak (1,r.--..) adalah:

138

Peralatan Tegangan

rnggi

'r,=

(UJ

I,t.\( -nlaKs

1.33

Jika hasil perhitungan menurut Persamaan 7.33 lebih kecil daripada 20 kali arus
nominal trafo daya yang diproteksi (1r), maka Ir, ditetapkan sama dengan 20 1,. Iika
arus transien di atas tidak dapat dihitung dengan pasti, maka 1,, secara pendekatan
dapat diambil sama dengan 20 1,,.
Jika arus hubung singkat transien tertinggi yang mungkin mengalir pada belitan
primer trafo arus adalah Ir,, maka arus sekunder tertinggi adalah Iz, Ir,x Ir,,lIr,,. pada
=
keadaan arus sekunder =
adalah:
E2

Iz, maka gaya gerak listrik maksimum pudu b"litu, sekunder

Ir, (R, + Rr + R, + ks)


-uk, =

E2-uk,

='r,?(R,

+ R. +

fi

7.34

rrl

7.3s

Dalam hal ini:


Ir, = Arus hubung singkat tertinggi yang mungkin mengalir pada belitan primer
R, = Resistansi kumparan sekunder trafo arus

R. = Resistansi relai
Sr. = Daya nominal relai
Ir, = Arus nominal relai
Rr = Resistansi kabel penghubung tanpa kabel balik
k, = I jika impedansi pembumian sistem tinggi atau sistem tidak dibumikan
= 2 jika sistem dibumikan langsung

Tegangan lutut belitan sekunder masing-masing trafo arus ditetapkan dengan


persamaan berikut ini:
E2k

>

0,8

,,,?6,+

ft. +

*.

or)

7.36

Setelah tegangan lutut diketahui, maka faktor kejenuhan trafo arus yang dibutuhkan
dapat dihitung, yaitu perbandingan tegangan lutut dengan tegangan nominal sekunder
trafo arus. atau:
TKlll

(q

Dalam hal

ini: Fr =
1r,, =
S,, =

V,L
7.31

Faktor kejenuhan
Arus nominal sekunder (A)
Daya nominal trafo

Terlihat bahwa untuk daya nominal yang tetap, faktor kejenuhan dapat diperkecil
dengan memperkecil arus nominal sekunder atau memperkecil tegangan lutut. Tegangan
lutut dapat diperkecil dengan memperbesar ukuran kabel penghubung. Cara yurg dipitil,
adalah cara yang memberi pengurangan biaya terbesar.

Tegangan Lutut Trafo Arus untuk Relai Jarak


Trafo arus yang digunakan untuk relai jarak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1.

Ketika hubung singkat terjadi pada ujung terjauh zona proteksi pertama, relai
mengukur impedansi hubung singkat dengan galat rasio trafo arus tidak lebih

daripada 3

54o.

Bab

139

Trafo Arus

Inti trafo arus tidak mengalami kejenuhan ketika belitan primer dialiri arus hubung
singkat tertinggi.
bahr.va waktu kerja relai tidak begitu terpengaruh oleh efek
yang
disebabkan
adanya komponen dc pada arus transien, maka tegangan
kejenuhan
persamaan di bawah ini:
harus
memenuhi
lutut trafo arus

Untuk meyakinkan

Ezr

0,8 1r,..r

?n"6,+

R* +

Il.)

7.38

Dalam hai ini, 1,,.-, adalah arus pada belitan primer jika hubung singkat terjadi
pada ujung zona proteksi pertama; dan ft,. adalah konstanta untuk memperhitungkan
keberadaan komponen dc pada arus hubung singkat tersebut. Pada sistem berfrekuensi
50 Hz, nilai konsantd k,, = 4 untuk LIR < 30 ms, dan k,, = 6 untuk LIR > 30 ms.
Resistansi kabel penghubung R*, dihitung menurut Tabel 7.1. LIR adalah perbandingan
induktansi dengan resistansi jaringan sistem, jika titik gangguan hubung singkat terjadi
pada ujung zona proteksi pertama.

1 .11

FAKTOR PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN TRAFO ARUS


Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan suatu trafo arus adalah:

Standar
Standar yang dapat digunakan sebagai acuan antara lain adalah IEC, IEEE atau
standar nasional (SNI atau SPLN).

Arus Nominal Primer


Adalah batas tertinggi arus kontinu pada belitan primer trafo arus. Arus nominal
primer antara lain adalah: 10,15, 30, 50,15, 100, 150, 200, 300, 500, 750, 1000.
1500, 2000, 3000, 5000, 7500 dan 10.000 A. Arus nominal primer dipilih 10 40Vo leblh tinggi daripada perkiraan arus yang akan diukur.

Arus Nominal Sekunder


Adalah batas tertinggi arus kontinu pada belitan sekunder trafo arus, biasanya: -i
A, 2 A dan 1 A. Arus nominal 2 A dan 1 A digunakan: jika kabel penghubunr
cukup panjang sehingga jumlah impedansi meter atau relai dengan impedansi
kabel lebih besar daripada impedansi burden; dan jika jumlah belitan kumparan
sekunder sedikit sehingga rasio tidak dapat diubah dengan mengubah jumlah belitan
sekundernya.

.
.
.

Rasio Nominal
Adalah perbandingan arus nominal primer dengan arus nominal sekunder.
Frekuensi Nominal
Frekuensi nominal sama dengan frekuensi sistem, 50 Hz atau 60 Hz.

Galat (Error)
Ada tiga jenis galat trafo arus, yaitu galat rasio, galat sudut dan -salat
Burden
Burden ditentukan berdasarkan pertimbangan beban (meter atau relai ,.
kabel penghubung trafo arus dengan beban.

k,r:::' '

:-

'

140

Peralatan Tegangan 1 rnggi

Arus Eksitasi
Adalah nilai efektif arus sekunder bila belitan sekunder diberi tegangan sinusoidal
frekuensi nominal, sedangkan terminal primer dibiarkan terbuka.

Arus termal kontinu


Adalah arus kontinu tertinggi yang menimbulkan temperatur trafo arus sama dengan
temperatur yang diizinkan. Jika nilai nominal arus termal kontinu tidak diberikan,
nilainya dapat ditetapkan sama dengan arus nominal primer. Ada kalanya diberi
faktor pengali untuk menyatakan kemampuannya memikul arus termal kontinu
di atas nominalnya, misalnya 1,2 kali arus nominal. Ketelitian harus tetap (tidak
boleh berubah) ketika arus kontinu di atas arus nominal.

Arus termal waktu singkat


Adalah arus tertinggi yang dapat mengalir pada belitan primer selama satu sekon
tanpa menimbulkan kerusakan pada komponen trafo ams, maupun menimbulkan
perubahan karakteristik trafo arus. Nilainya ditentukan dengan menghitung arus
hubung singkat terbesar yang melewati kumparan primer trafo arus. Nilai standar
arus termal waktu singkat (rms) adalah: 6,3; 8; l0; 12,5; 16 20; 25 31,5: 40;
50;63;80; dan 100 kA.
Arus dinamis waktu singkat
Ditentukan dengan menghitung arus hubung singkat terbesar yang melewati
kumparan primer trafo arus. Untuk frekuensi sistem 50 Hz, arus dinamis waktu
singkat sama dengan 2,5 kali arus termal waktu singkat; sedangkan untuk frekuensi
sistem 60 Hz, arus dinamis waktu singkat sama dengan 2,6kali arus termal waktu
singkat.

Arus keamanan instrumen (Rated Instrument Security Cunent)


Adalah arus primer efektif terendah (1,,) yang menimbulkan arus sekunder (1r,)
dikalikan dengan rasio transformasi (ft,). Nilainya tidak melebihi 0,9 arus primer;
dan burden pada saat itu sama dengan burden nominal trafo arus. Pernyataan ini
dapat dituliskan sebagai:

k, Ir, 10,9

11"

7.39

Faktor keselamatan instrumen (Instrument Security Factor)


Adalah perbandingan arus keamanan dengan arus nominal primer (1,,,) atau dapat
dituliskan:

,F ,

I.r,t
Ir,,

7.40

Ketelitian
Ketelitian trafo arus bergantung kepada fungsinya. Ketelitian trafo arus untuk
keperluaan pengukuran lebih tinggi daripada ketelitian trafo arus untuk keperluan
proteksi.

Arus primer batas ketelitian (Rated Accuracy Limit Primary Current)


Adalah arus primer tertinggi (11,,,) di mana ketelitian trafo arus belum melebihi
batas ketelitiannya.

Jumlah kumparan primer dan sekunder


Jumlah kumparan primer dan sekunder bergantung kepada banyak rasio yang
dibutuhkan dan jenis beban yang akan dipasang pada terminal sekunder trafo arus.
Umumnya trafo arus dilengkapi dengan dua kumparan sekunder, satu untuk alat
ukur dan satu lagi untuk keperluan relai proteksi.

Bab

Trafo Arus

141

Faktor batas ketelitian (Accuracy Limit Factor)


Adalah perbandingan arus primer batas ketelitian (11*) dengan arus nominal primer
(1,,), atau dinyatakan sebagai berikut:

ALF =

I;:

1.41

Untuk meter den_ean inti yang terbuat dari besi, faktor batas ketelitian tidak perlu
tinggi. Untuk keamanan alat ukur, lebih disukai memakai trafo arus yang intinya
jenuh pada nilai arus sedikit di atas rentang arus kerja alat ukur. Untuk relai
diferensial diperlukan dua set trafo arus. Tiap set harus mempunyai karakteristik
yang sama. Faktor batas ketelitian untuk relai jarak, biasanya diambil 20, jarang di
barvah 10. Faktor batas ketelitian berhubungan dengan burden. Jika burden hanya
setengah daripada burden nominal, maka faktor batas ketelitian dapat menjadi dua

kali lipat.
Tegangan lutut
Tegangan lutut diperhitun-gkan bila trafo arus dipergunakan untuk relai proteksi.

Jenis trafo arus

Jika digunakan bersama pemutus da1'a minyak (bulk oil circuit breaker), maka
trafo arus jenis bushing adalah lebih murah. Untuk jenis pemutus daya yang lain
digunakan trafo arus jenis tong-sak (posr). Ada kalanya trafo arus jenis tonggak
dengan belitan terpisah digunakan bersama dengan pemutus daya minyak. Hal ini
dilakukan karena keterbatasan burden dan ketelitian trafo arus jenis bushing. Jika
arus nominal sekunder dirancang 5 A, kabel ukur yang digunakan cukup panjang
dan trafo arus yang akan digunakan adalah jenis bushing, maka harus diperiksa
apakah burden total dapat dipikul oleh trafo tersebut.

Jumlah inti
Jumlah inti bergantung kepada jenis beban (meter dan relai) yang akan dilayani
trafo arus. Jika sistem proteksi terdiri dari proteksi primer dan proteksi cadangan.
maka dibutuhkan trafo arus dengan inti terpisah.

Tingkat isolasi
Tingkat isolasi trafo arus ditentukan menurut IEC 61869-1, seperti diperlihatkan
pada Tabel 7.7.

Kondisi lingkungan instalasi trafo arus


Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan, yaitu: bobot polusi dan temperatur ratarata sefia ketinggian lokasi instalasi trafo arus di atas permukaan laut.

1.12

PENGUJIAN TRAFO ARUS


Seperti halnya trafo tegangan, trafo arus juga harus melalui pengujian. Adu ti"u j-...
pengujian pada trafo arus, yaitu: (a) ujijenis, (b) uji rutin dan (c) uji tambahan. Prt.e;-:
pengujian dilakukan sesuai dengan standar yang disepakati pembeli dengan prcr.lu-.':

Uji Jenis
Uji jenis terdiri dari:

penandaan terminal dan polaritas

142

Peralatan Tegangan lrnggi

.
.
.
.
.
.
.
.
.

ketahanan tegangan tinggi ac frekuensi sistem pada kedua kumparan trafo arus
tegangan lebih antar belitan
pengukuran galat
pengujian arus waktu singkat
pengujian kenaikan temperatur
pengujian tegangan tinggi impuls
pengukuran ketelitian (khusus untuk trafo arus pengukuran)
arus keamanan instrumen (khusus untuk trafo arus pengukuran)

pengukuran galat rasio, sudut dan komposit (khusus untuk trafo proteksi)

Uji Rutin
Uji rutin meliputi:

.
.
.
.
.

penandaan terminal dan polaritas


ketahanan tegangan tinggi ac frekuensi sistem pada kedua kumparan trafo arus
tegangan lebih antar belitan

pengukuran galat rasio, sudut dan komposit (khusus untuk trafo proteksi)
pengukuran ketelitian (khusus untuk trafo arus pengukuran)

Uji Tambahan
Uji tambahan untuk trafo

'
.
.
.

1,13

arus proteksi reaktansi rendah adalah:


tegangan lutut
arus eksitasi
tahanan kumparan sekunder; dan
perbandingan belitan primer dengan sekunder

INFORMASI DALAM PEMBELIAN TRAFO ARUS


Informasi tentang keadaan sistem, iklim dan instalasi perlu dikemukakan dalam pengadaan
suatu trafo arus. Sekurang-kurangnya mengenai hal-hal tersebut di bawah ini:

'
'
.
.
.
.
.
.
.
.
.

tegangan dan jenis pengetanahan sistem


tingkat isolasi
frekuensi sistem
rasio arus nominal dan jumlah rasio
keluaran nominal untuk setiap inti
faktor batas ketelitian arus

kelas ketelitian untuk setiap inti


arus termal kontinu
arus waktu singkat dan masa berlangsungnya
kondisi cuaca, lingkungan dan ketinggian lokasi penempatan trafo arus; dan
lokasi pemasangan (pasangan dalam atau pasangan luar)

Khusus untuk trafo arus kelas 5P perlu diinformasikan hal-hal tersebut di bawah ini:
. arus nominal kumparan primer
. rasio belitan nominal (N,/Nr)

'
.
.

tegangan lutut
tahanan kumparan sekunder maksimal
batas arus eksitasi

Bab 8

lsolator dan Bushing

ada instalasi tenaga

listrik dan peralatan listrik dijumpai konduktor-konduktor yang

berbeda potensialnya, sehingga dibutuhkan isolator untuk mengisolir konduktor


dengan konduktor, maupun mengisolir konduktor dengan bagian peralatan yang
terhubung secara listrik dengan tanah. Dalam bab ini, akan dijelaskan fungsi, konstruksi.
jenis-jenis, sifat elektrik dan sifat mekanik isolator; pengaruh polutan terhadap unjuk
kerja isolator; distribusi tegangan pada isolator dan usaha untuk meratakan distribusi
tegangan tersebut; dan pengujian tegangan tinggi pada isolator.

8.1

FUNGSI ISOLATOR
Pada transmisi hantaran udara, suatu konduktor dengan konduktor lain diisolir dengan
udara, sedangkan konduktor dengan menara atau tiang pendukung diisolir dengan bahan
isolasi padat yang disebut isolator. Jadi, isolator berfungsi sebagai pendukung konduktor
dan sekaligus memisahkan konduktor bertegangan dengan bagian yang bertegan-gan ntrl.
Selain pada transmisi, isolator juga drjumpai pada jaringan distribusi hantaran udara.
gardu induk dan panel pembagi daya. Padajaringan distribusi hantaran udara digunakan
sebagai penggantung atau penopang konduktor. Pada gardu induk digunakan seba-sai
pendukung sakelar pemisah, pendukung konduktor penghubung dan pen-egantun-s rel
daya. Pada panel pembagi daya, rel dengan rel dipisahkan oleh udara. sedangkan rel
dengan kerangka pendukung dipisahkan oleh isolator. Pada Gambar 8.1 diperlihatkan
isolator tegangan tinggi pada suatu transmisi hantaran udara dan sakelar pemisah.
Bushing adalah isolator yang digunakan untuk mengisolir badan suatu peralatan
dengan konduktor bertegangan tinggi yang menerobos badan peralatan tersebut. Bushing
ditemukan pada transformator, kapasitor tegangan tinggi, pemutus dal a dan trafo ukur'
Pada Gambar 8.2 diperlihatkan bushing pada trafo dan pemutus daya tegangan tinggi.

14

:.'.

a'.an Tegangan

rnggi

(a) Isolator transmisr

(b) Isolator sakelar pemisah

GAMBAR 8.1
lsolator pada transmisi dan sakelar pemisah

(a) Bushing trafo

(b) Bushing pemutus daya

GAMBAR 8.2
Bushing pada trafo dan pemutus daya

8.2

KONSTRUKSI ISOLATOR
Pada Gambar 8.3, diperlihatkan contoh suatu isolator dan potongan penampangnya.
Terlihat bahwa bagian utama suatu isolator terdiri dari bahan dielektrik, kap dan fitting.
Di samping itu terdapat juga semen perekat antara dielektrik dengan kap dan antara

dielektrik dengan Iitting.


Umumnya dielektrik isolator terbuat dari bahan porselen, gelas dan bahan komposit.
Kap dan fitting terbuat dari besi tuang atau baja; dan untuk arus tinggi digunakan besi
tuang non-magnetik atau logam putih agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada

jepitan akibat magnetisasi. Konstruksi kap dan fitting, dan cara merekatnya ke bahan
dielektrik, akan menentukan kekuatan mekanis isolator. Bahan perekat yang umumnya
digunakan adalah semen.
Persyaratan umum yang harus dipenuhi dalam merancang isolator, antara lain
adalah:

Setiap lubang pada bahan isolasi, harus memiliki sumbu yang sejajar dengan
sumbu memanjang atau sumbu tegak isolator. Lubang dibuat pada temperatur
penempaan isolator.

Bab

lsolator dan Bushing

145

Kap

GAMBAR 8.3
Penampang isolator piring

a
a

Tidak memiliki lekukan yang runcing agar pada isolator tidak terjadi medan
elektrik yang tinggi.
Permukaan isolator harus licin dan bebas dari partikel-partikel runcing.
Untuk menghindari terjadinya peluahan sebagian, maka isolator tidak boleh
mengandung rongga udara.
Tidak ada resiko meledak dan pecah.

Dimensi sirip dan jarak rambat diatur sedemikian sehingga isolator mudah
dibersihkan. Pembersihan dimaksud adalah pembersihan secara alami oleh hujan
atau pembersihan rutin. Kedua pembersihan tersebut adalah dalam rangka membuang
bahan polutan yang menempel pada permukaan isolator.
Jarak rambat isolator harus diperbesar, jika isolator dipasang pada kawasan yang
dihuni banyak burung.
Bahan perekat harus memiliki kekuatan adhesi yang tinggi.

8.3

PARAMETER ISOLATOR
Parameter geometris suatu isolator adalah suatu besaran yang membedakan profll suatu

isolator dengan isolator lainnya. Parameter-parameter geometris suatu isolator dapat


dijelaskan dengan bantuan Gambar 8.4.
Parameter-parameter yang membedakan suatu isolator dengan isolator lainnl'a
adalah sebagai berikut:
pt

GAMBAR 8.4
Profil dan parameter suatu isolator

146

De'a aian Tegangan lrnggi

Jarak minimum antar sirip (shed)


Jarak minimum antar sirip c perlu dipertimbangkan agar dua sirip berdekatan tidak
dapat dijembatani air hujan. Berdasarkan pengalaman, nilai c minimal adalah 30
mm. Untuk isolator yang panjang totalnya lebih kecil atau sama dengan 550 mm
atau isolator yang mempunyai rentangan sirip (shed overharg) p lebih kecil atau
sama dengan 40 mm, maka nilai c hingga 20 mm masih dapat diterima.

Pertlandingan jarak antar sirip dengan rentangan sirip (s/p)


Perbandingan ini menentukan sifat pencucian alami (self cleaning) isolator. Nilainya
tidak kurang dari 0,8. Pengalaman menunjukkan bahwa untuk isolator jenis sirip
mendatar (tanpa rusuk), nilai tersebut dapat direduksi menjadi 0,65.
Perbandingan jarak rambat dengan jarak bebas ({d)
Perbandingan ini dipertimbangkan untuk mencegah terjadinya hubung singkat
lokal. Nilainya tidak lebih rendah daripada 5. Perbandingan diambil pada bagian
isolator yang paling buruk, misalnya pada bagian bawah isolator jenis anti kabut.

Sirip Selang-seling (Alternating shed)


Parameter ini dipertimbangkan jika ada dua ukuran diameter sirip yang letaknya
berselang-seling. Pada isolator yang seperti ini, selisih diameternya (p, - p; ttdak
boleh kurang daripada 15 mm supaya kedua sirip tidak terhubung oleh air hujan.
Kemiringan sirip
Kemiringan perlu dipertimbangkan karena hal ini menyangkut sifat pencucian sendiri
isolator. Sudut permukaan atas isolator harus membentuk sudut lebih daripada 5'
kecuali untuk sirip tanpa rusuk. Untuk isolator sirip tanpa rusuk, besar sudut itu
dapat dikurangi menjadi 2'.

Faktor jarak rambat (creepage factor)

ini diperlukan jika isolator terdiri dari gabungan beberapa unit isolator,
untuk menunjukkan karakteristik isolator secara keseluruhan. Parameter ini
merupakan perbandingan antara total jarak rambat (/,) dengan jarak terpendek
Parameter

antara bagian-bagian logam yang dikenakan tegangan normal pada isolator (s,).
Nilainya dianjurkan tidak lebih daripada 3,5 di daerah yang bobot polusinya ringan
dan sedang. dan tidak lebih daripada 4 untuk daerah yang bobot polusinya berat
dan sangat berat.

Faktor profil (PF)


Faktor profil adalah perbandingan jarak bocor yang disederhanakan (simplified
leakage distance), i., dengan jarak rambat isolasi sebenarnya (ttctual insulating
creepage distance), 1., yang diukur antara dua titik yang ditetapkan sebagai spasi
(s). Nilai PF bergantung pada banyak ukuran sirip dan dapat dituliskan sebagai:
Untuk isolator satu ukuran sirip:

,DD,

(2o + sl
'

l,

8.1

Untuk isolator dengan sirip berselang-seling:

PF=

(2p,+2pr+s)
8.2

Dalam hubungannya dengan tingkat bobot polusi, nilai PI'dianjurkan sebagai berikut
. PF lebih besar daripada 0,8 untuk tingkat polusi ringan dan sedang.
. PF lebih besar daripada 0,7 untuk tingkat polusi berat dan sangat berat.

Bab

8.4

147

Isolator dan Bushing

JENIS ISOLATOR HANTARAN UDARA


Dilihat dari lokasi pemasangan, isolator terdiri dari isolator pasangan dalam (indoor)
dan isolator pasangan luar (outdoor). Isolator pasangan luar dibuat bersirip untuk
mempetpanjang lintasan arus bocor dan mencegah terjadinya jembatan air yang terbentuk

jika isolator dibasahi air hujan.


Dilihat dari fungsinya isolator terdiri dari isolator pendukung dan isolator gantung
(suspensiorr). Isolator pendukung terbagi atas tiga jenis, yaitu: isolator pin, isolator post
dan isolator pin-post yang diperlihatkan pada Gambar 8.5.
Isolator jenis pin digunakan untuk jaringan distribusi hantaran udara tegangan
menengah, dipasang pada palang tiang tanpa beban tekuk, seperti diperlihatkan pada
Gambar 8.6a. Isolator pin dapat juga digunakan untuk tiang yang mengalami beban
tekuk, dalam hal ini isolator dipasang ganda pada palang ganda, seperti diperlihatkan
pada Gambar 8.6b. Jenis pin-post digunakan untuk jaringan distribusi hantaran udara
tegangan menengah, dipasang pada tiang yang mengalami gaya tekuk.

7----\
7------q

(a) Pin

(D) Post

(c) Pin-post

GAMBAR 8.5
Jenis-jenis isolator pendukung

traato

(a) Isolator Pin Pada Tiang tanpa Gaya

GAMBAR 8.6
Pemasangan isolator pin dan pin-post

(b) Isolator Pin pada Tiang Tarik

148

Peralatan Tegangan Tinggi

()
n

;If:-\
:l 1v\
tlJ!..-}U
_-k+*,
, L_---l
/#1
,/
,/
--P\ *
**
"8" -- *'
Sela
Busur
i
fr-----

.,\

Il
11

/41

{l

jllt

._l
-*"j-a
r...
-".--------,J

fs){1

l-------!
F*""e-"""qa

ll -------"rr*-

1t

il
ll

*"*:='"ru-,:,.4

(a)

Piring

(D) Isolator Batang

(c) Isolator Rantai

GAMBAR 8.7
Bentuk-bentuk isolator gantung

Isolatorjenis post digunakan untuk pasangan dalam, antara lain sebagai penyangga
rel daya pada panel tegangan menengah. Isolator jenis post tidak bersirip seperti halnya
jenis pin-post, karena isolator ini dirancang untuk pasangan dalam.
Dilihat dari bentuknya, isolator gantung terdiri dari dua jenis, yaitu isolator piring
(Gambar 8.la) dan isolator batang tonggak (Gambar 8.7b).
Untuk transmisi tegangan tinggi, isolator piring dirangkai berbentuk rantai, seperti
diperlihatkan pada Gambar 8.1c. Tegangan lebih pada jaringan dapat menimbulkan
peristiwa lewat denyar, yaitu terjadinya busur api yang merambat melalui permukaan
isolator. Oleh karena itu, isolator rantai dilengkapi dengan tanduk busw (arcing horn)
agar busur api akibat peristiwa lewat denyar tidak merambat melalui permukaan isolator.

Isolator piring digunakan juga untuk jaringan hantaran udara tegangan menengah.
Pada jaringan tegangan menengah isolator piring digunakan pada tiang akhir dan tiang
sambungan seperti diperlihatkan pada Gambar 8.8.

(a) Isolator Piring Pada Tiang Penyambung

GAMBAR 8.8
Rangkaian lengkap trafo tegangan kapasitil

(r) Isolator Piring Pada Tiang Akhir

Bab

8.5

lsolator dan Bushing

149

BAHAN DIELEKTRIK ISOLATOR


Karakteristik elektrik dan mekanik suatu isolator bergantung pada konstruksi dan bahan
yang digunakan. Telah dijelaskan sebelumnya bahwa salah satu bagian utama suatu
isolator adalah bahan dielektrik. Bahan dielektrik isolator harus memiliki kekuatan
dielektrik yang ting-ei dan tidak dipengaruhi oleh kondisi udara di sekitarnya.
Dewasa ini. ada tiga jenis bahan dielektrik yang digunakan untuk isolator, yaitu
porselen, gelas. dan bahan komposit. Berikut ini akan dijelaskan tentang sifat-sifat
umum dan pembuatan ketiga jenis bahan dielektrik tersebut.

Porselen
Bahan dielektrik untuk isolator umumnya adalah porselen, karena kekuatan dielektriknya
tinggi dan tidak dipengaruhi oleh kondisi udara di sekitarnya. Pada Gambar 8.9 ditunjukkan isolator yang terbuat dari bahan porselen.
Sampel uji porselen lang tebalnl'a 1.5 mm, dalam medan elektrik seragam,
mempunyai kekuatan elektrik sebesar 22 - 28 kV,,,,,/mm. Jika tebal porselen bertambah
maka kekuatan elektriknya berkurang. karena medan elektrik di dalam isolator semakin

tidak seragam. Bila tebal bertambah dari 10 mm hingga 30 mm, kekuatan elektrik
berkurang dari 80 kV,.,,,./mm menjadi 55 kV,,,,./mm. Kekuatan dielektrik porselen pada
tegangan impuls. 50 - 70% lebih tinggi daripada kekuatan dielektrik frekuensi daya.
Kekuatan mekanik porselen bergantung kepada cara pembuatannya. Porselen sangat
jika
baik
bekerja memikul beban tekan, tetapi sifat mekanisnya memburuk jika memikul
beban tekuk dan semakin memburuk jika memikul beban tarik. Kekuatan mekanis
porselen standar berdiameter 2 - 3 cm adalah 45.000 kg/cm2 untuk beban tekan; 700 kg/
cm2 untuk beban tekuk; dan 300 kg/cm2 untuk beban tarik. Kekuatan mekanik porselen
suatu isolator bergantung pada: konstruksijepitan, cara menghubungkan porselen dengan
jepitan, dan luas penampang porselen. Kekuatan mekanik porselen berkurang dengan
penambahan luas penampang porselen dan pengurangan itu lebih besar pada kekuatan
mekanik beban tarik dan beban tekuk.

Gelas
Dewasa ini, gelas semakin banyak digunakan sebagai bahan dielektrik isolator. Pada
Gambar 8.10 diperlihatkan isolator piring dan isolator pin yang terbuat dari gelas.

(rz) Isolator

GAMBAR 8.9
lsolator dari bahan porselen

Piring

(b) Isolator Pin

150

Peralatan Tegangan

rnggi

(a) Isolator pin bahan gelas

(D) Isolator Pidng bahan gelas

GAMBAR 8.10
lsolator gelas

Isolator gelas lebih murah daripada porselen, sedangkan karakteristik elektrik dan
karakteristik mekanisnya tidak jauh berbeda dengan porselen. Karakteristik elektrik
dan mekanik gelas bergantung pada komposisi kimiawi dari gelas, khususnya pada
kandungan alkali yang terdapat dalam gelas. Adanya larutan alkali dalam komposisi
gelas akan menambah sifat higroskopis permukaan isolator sehingga konduktivitas
permukaan isolator semakin besar. Akibatnya, sifat elektrik isolator gelas alkali tinggi
lebih buruk daripada gelas alkali rendah, juga lebih buruk daripada porselen. Kekuatan
elektrik gelas alkali tinggi adalah 17,9 kY,,,,.lmm dan gelas alkali rendah adalah 48
kV,,,,/mm, yakni dua kali lebih tinggi daripada kekuatan elektrik porselen.
Jika isolator gelas alkali tinggi memikul tegangan tinggi searah, arus bocor pada
isolator tersebut dapat menimbulkan penguraian kimiawi pada gelas. Oleh karena
itu, isolator gelas alkali tinggi tidak digunakan untuk instalasi tegangan searah. Pada
tegangan bolak-balik, penguraian kimiawi karena arus bocor secara praktis tidak terjadi,
sehingga penuaan isolator akibat arus bocor berlangsung lebih lambat.
Dilihat dari proses pembuatannya, isolator gelas terdiri dari dua jenis, yaitu gelas
yang dikuatkan (annealed g/rzss) dan gelas yang dikeraskan (hardened glass). Kekuatan
mekanik sampel uji gelas yang dikuatkan lebih besar daripada porselen, karena regangan
mekanik internal pada gelas mudah dihilangkan pada saat proses penguatan. Pada
porselen, regangan internal secara praktis tetap ada. Hal ini akan mengurangi kekuatan
mekanis porselen. Gelas alkali tinggi memiliki koefisien pemuaian yang tinggi, sehingga
isolator gelas mudah pecah. Peristiwa ini sangat mungkin terjadi jika isolator gelas
dioperasikan pada suatu lokasi yang temperaturnya berubah-ubah dengan tajam. Hal
ini membuat gelas alkali tinggi dibatasi pemakaiannya hanya untuk instalasi pasangan
dalam, tidak untuk instalasi yang mengalami perubahan temperatur yang tajam. Isolator
untuk instalasi pasangan luar terbuat dari gelas alkali rendah yang dikuatkan.
Gelas alkali tinggi digunakan hanya jika isolator akan dikeraskan. Pengerasan
isolator gelas alkali tinggi bertujuan untuk memperoleh isolator yang memiliki kekuatan
rnekanik yang tinggi. Pengerasan dilakukan dengan memanaskan isolator gelas alkali
tinggi sampai mencapai temperatur 650 'C. Setelah itu, udara dingin ditiupkan ke dalam
gelas. Selama peniupan udara berlangsung, gelas mengalami pendinginan, sehingga
lapisan luar gelas menjadi keras, sedangkan bagian dalam gelas mengalami penyusutan.
Proses ini bertujuan untuk membuat lapisan luar gelas memiliki kekuatan tarik dan
bagian dalam gelas memiliki kekuatan tekan, sehingga jika suatu beban tarik dikenakan
pada sebuah isolator gelas yang dikeraskan, maka kerusakan mulai terjadi jika gaya
tarik pada lapisan luar melebihi kekuatan tarik gelas. Dengan demikian isolator gelas
yang dikeraskan lebih baik daripada isolator gelas yang dikuatkan.

Bab

lsolator dan Busl-

ra.

-:

Isolator gelas alkali rendah yang dikeraskan dapat menahan beban dinan:.- -. - .
baik, sehingga masih layak dipakai sekalipun pernah jatuh dari tempat tin-eg . . - ongkos pembuatannya tinggi, karena pemanasan harus berlangsung sampai ten'.:,--.
gelas mencapai 780 'C. Isolator ini hanya digunakan jika dibutuhkan kekuatan n-.:. - '
yang tinggi dan stabil pada setiap perubahan temperatur.

Bahan Komposit
Isolator porselen dan gelas memiliki karakteristik elektrik yang baik, tetapi menr.

kelemahan, yaitu: massanya berat; mudah pecah; dan kemampuannya menahan tegani.'
berkurang karena polutan yang mudah menempel pada permukaannya. Untuk mengatr-.
kelemahan tersebut dikembangkan jenis isolator komposit. Bahan komposit tertLr.

untuk isolator adalah kertas. Tetapi, akhir-akhir ini yang paling diminati dan teru.
dikembangkan adalah karet silikon (silicon rubber).
Isolator komposit kertas digunakan untuk isolator hantaran udara jenis post, marrtel
peralatan uji tegangan tinggi dan bushing. Isolator komposit ini dibuat dari bahan kertas
yang dikeringkan melalui pemanasan. Pada temperatur tinggi, kertas dilapisi dengan
pernis, kemudian digulung membentuk tabung. Selanjutnya, tabung tersebut diarvetkan
melalui proses pemanasan sehingga tabung menjadi kokoh, permukaannl'a berkilat, dan
tidak menjadi lembut jika mengalami pemanasan ulang. Akhirnya permukaan isolator
kertas dipernis lagi. Isolator kertas yang diproses seperti ini menghasilkan isolator yang
kekuatan elektrik dan kekuatan mekanik yang cukup tinggi.
Struktur suatu isolator komposit diperlihatkan pada Gambar 8.11. Bagian utama
suatu isolator komposit adalah: inti berbentuk batang (rod) yang terbuat dari bahan
komposit, sarung yang terbuat dari bahan komposit, fiting yang terbuat dari bahan
logam dan bahan antar-muka (interface).
Inti berfungsi memikul beban mekanis isolator; dan terbuat dari fber-reinfurced
plastic (,ERP), yaitu komposit gelas dengan resin epoksi. Sarung merupakan komponen
yang menentukan sifat elektrik isolator komposit. Ada beberapa bahan r ang dapat
digunakan untuk sarung isolator, antara lain: ethylene propylene rubber (EPRt. erhtlene
prop_,-lene diene methl-lene (EPDM, polytetroJluoro ethylene efFD dan karet silikon
(silicone rtbber, SR). Bahan yang dapat digunakan untuk fltting, antara lain: baja
tempaan, besi lunak (malleable c:ast iron'), aluminum, besi tuang grafit, dan lain-lain.
Antar-muka berfungsi sebagai medium antara sarung dengan inti; dan seba-eai medium
antara sarung dengan fitting. Antar-muka terbuat dari bahan polymer, resin hidrolisis
atau metal stable silicon.
Isolator komposit memiliki keunggulan dibandingkan dengan isolator porselen
maupun isolator gelas, karena isolator komposit memiliki sifat sebagai berikut:

ffi
Sarung

Fitting

%ffi

Inti berbentuk tabung (rod)

GAMBAR 8.11
lsolator komposit

Fitting

;ii.'

152

Peralatan Tegangan

l.
2.
3.
4.
5.
6.
1.
8.
9.

rnggi

Ringan, karena rapat massanya lebih rendah daripada isolator porselen atau gelas.
Pembuatannya lebih mudah.
Tidak ada rongga udara, sehingga tidak terjadi peluahan sebagian di dalam bahan
isolator komposit.
Untuk memperoleh jarak rambat yang panjang, sarung dibuat berbentuk sederetan
sirip tipis, sehingga bentuk isolator lebih sederhana.
Tekanan karena angin terhadap isolator lebih rendah, karena sirip-siripnya tipis.
Karena bentuknya yang sederhana dan bobotnya ringan, maka mudah membawa

dan memasangnya.
Permukaan sarung memiliki sifat menolak air (hydrophobic), sehingga polutan
yang terbawa air tidak menempel permukaan sarung.
Karena polutan tidak menempel pada permukaan isolator, maka tegangan lewat
denyarnya tidak menurun karena polusi. Dengan kata lain, isolator komposit cocok
dipasang pada daerah yang bobot polusinya berat.
Jika tingkat ketahanan tegangannya hendak dinaikkan, cukup mengganti sarungnya
dengan sarung yang jarak rambatnya lebih panjang.

Kelemahan yang dimiliki isolator komposit antara lain adalah:

1.
2.
3.
4.
5.

Harga material dasar untuk pembuatan komposit mahal.


Kekuatan mekanisnya lebih rendah.
Kurang terpadu karena ditemukan beberapa antar-muka.
Penuaan lebih cepat, karena timbulnya kerusakan pada permukaan isolator akibat:
reaksi suatu unsur kimia pada permukaan isolator; karena radiasi sinar ultra violet;
karena panas dan korona yang timbul pada fitting.
Ketidakcocokan bahan antar muka yang digunakan dapat menimbulkan korosi
atau keretakan.

Dari beberapa jenis sarung komposit yang sudah disebutkan terdahulu, sarung karet
silikon lebih disukai, karena memiliki beberapa keunggulan sebagai berikut:

l.
2.
3.
4.
5.
6.

Sifat hydrophobicnya lebih baik daripada bahan komposit yang lainnya.


Karena sifat hydrophobicnya yang baik, maka polutan tidak menempel pada
permukaan isolator, sehingga isolator tidak membutuhkan pembersihan rutin.
Karena polutan tidak menempel pada permukaan isolator, maka arus bocor yang
melalui permukaan isolator karet silikon lebih rendah, sehingga tegangan lewat
denyarnya lebih tinggi.
Kekuatan mekanisnya lebih tinggi daripada bahan komposit lainnya.
Sifatnya tidak berubah karena perubahan cuaca.
Lebih tahan terhadap korona, radiasi ultraviolet dan panas.

Pada Tabel 8.1 diperlihatkan contoh spesifikasi suatu isolator komposit.

8.6

KARAKTERISTIK ELEKTRIK ISOLATOR


Ditinjau dari segi kelistrikan, isolator dan udara membentuk suatu sistem isolasi yang
berfungsi untuk mengisolir suatu konduktor bertegangan dengan kerangka penyangga
yang dibumikan sehingga tidak ada arus listrik yang mengalir dari konduktor tersebut
ke tanah. Ada dua hal yang dapat menyebabkan sistem isolasi ini gagal melaksanakan
fungsinya. y'aitu terjadinya tembus listrik pada udara di sekitar permukaan isolator

f
r
t:

153
TABEL 8.1

Spesifikasi Suatu lsolator Komposit


Parameter
Tegangan nominal

Satuan
kV

Besaran

l:6

Panjang keseluruhan

mm

f -it,r-t

Paniang efektif (jarak busur)

mm

llut

Jumlah sirip
Diameter sirip besar

mm

9l

Diameter sirip kecil

mm

l{}

Jarak antar sirip berdiameter sama

mm

51

Jarak rambat permukaan

mm

Bobot

kg

Tegangan lewat denyar frekuensi daya (kondisi basah)


Tegangan lewat denyar impuls petir

Kekuatan lentur beban mekanis

KV

-l

l0()

r6
18_5

kVrun.uu

550

KN

l0

yang disebut peristiwa lewat-denyar (fiashover) dan tembus listrik pada isolator yang
menyebabkan isolator pecah. Kegagalan suatu isolator dapat terjadi karena bahan
dielektrik isolator tembus listrlk (breakdown) atas karena terjadinya lewat denyar udara
pada permukaan isolator. Dalam kasus yang pertama, karakteristik listrik tidak dapat
pulih seperti semula dan sebagian dari isolator mengalami kerusakan mekanis sehingga
tidak dapat digunakan lagi dan harus diganti. Pada peristiwa lewat denyar, terjadr
busur api yang menimbulkan pemanasan pada permukaan isolator dan menimbulkan
hubung singkat fasa-ke-tanah. Jika relai proteksi bekerja, tegangan pada isolator menjadi
nol, akibatnya busur api padam. Dengan demikian, isolator tidak sempat men-salami
pemanasan yang lama sehingga terhindar dari kerusakan.
Semua isolator dirancang sedemikian hingga tegangan tembusnya jauh lebth
tinggi daripada tegangan lewat denyarnya. Dengan demikian, dasar pemilihan kekuatan
dielektrik suatu isolator adalah tegangan lewat denyarnya. Kekuatan dielektrik sur:::
isolator dan nilai tegangan tertinggi isoiator yang tidak menimbulkan leu'at denr ":.
dapat diperkirakan dari tiga karakteristik dasar isolator, yaitu: tegangan leu'at den'..:
bolak-balik pada keadaan kering; tegangan lewat denyar bolak-balik pada keuc:::-.
basah; dan karakteristik tegangan-waktu impuls standar.
Tegangan lewat denyar bolak-balik digunakan untuk memperkirakan kek-.:.:elektrik isolator jika memikul tegangan lebih internal, sedangkan karakteristik ii!;rl:rwaktu digunakan untuk memperkirakan kekuatan elektrik isolator jika memikul i.:..:'.j::

lebih impuls petir.


Tegangan lewat denyar bolak-balik pada kondisi kering adalah karakter:.::. -:,:-."
isolator yang dipasang pada ruangan tertutup. Tegangan lervat denyar ditent"i":. :,J.
keadaan permukaan isolator kering dan bersih. Tegangan lewat denlar dinr:rs:: :.-:
keadaan udara standar, yaitu ketika temperatur udara 20 'C dan tekanen ::,.:i -tsr'
mmHg. Tegangan lewat denyar kering pada sembarang temperatur dan lei::.": *J-::.
ditentukan dengan persamaan di bawah ini:

154

Peralatan Tegangan Tinggi

V=6V

8.3

Dalam hal ini, v adalah tegangan lewat denyar isolator pada sembarang keadaan
udara; v adalah tegangan lewat denyar isolator pada keadaan standar; dan d adalah
faktor koreksi udara. Jikar! adalah temperatur udara ("C) dan b adalah tekanan udara
(mmHg), maka faktor koreksi udara adalah:

d*

0.386
273 + {t

'

8.4

Jika kelembaban udara makin tinggi, maka tegangan lewat denyar bolak-balik
isolator makin tinggi. Jika V adalah tegangan lewat denyar isolator pada keadaan udara
standar dan kelembaban 1l g/m3, maka tegangan lewat denyar isolator pada sembarang
temperatur, tekanan dan kelembaban udara dapat ditentukan sebagai berikut:

v =0v'
kut

8'5

Dalam hal ini, k,, adalah faktor koreksi yang bergantung kepada kelembaban udara.
ko dengan kelembaban diperoleh secara empiris dan
hasilnya adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 8.12.
Tegangan lewat denyar bolak-balik basah suatu isolator sangat penting diketahui
jika isolator itu akan dipasang di ruang terbuka. Tegangan ler,vat denyar bolak-balik
basah suatu isolator merupakan gambaran kekuatan dielektrik isolator tersebut ketika
basah karena air hujan. Sifat air hujan yang membasahi suatu isolator dicirikan atas tiga
hal, yaitu intensitas, arah dan konduktivitas air yang membasahi isolator tersebut. Oleh
karena itu, dalam pengujian tegangan lewat denyar bolak-balik basah suatu isolator,
air yang membasahi isolator perlu distandarisasi. Menurut IEC, persyaratan air yang
membasahi isolator ketika pengujian adalah sebagai berikut:

Kurva yang menyatakan hubungan

.
.
.

Intensitas penyiraman 3 mm/menit


Resistivitas air (p) = 10.000 ohm ' cm
Arah penyiraman air membentuk sudut 45o dengan sumbu tegak isolator

Tegangan lewat denyar bolak-balik basah suatu isolator juga bergantung kepada
kondisi udara, tetapi berdasarkan pengalaman, yang lebih berpengaruh adalah tekanan
udara, sedangkan temperatur tidak begitu berpengaruh. Jika lewat denyar terjadi pada
suatu isolator yang basah, maka peluahan melintasi air dan celah udara pada pada
permukaan isolator. Oleh karena itu, kenaikan tegangan lewat denyar bolak-balik basah
akibat kenaikan tekanan udara tidak sama pada setiap jenis konstruksi isolator. Jika
celah udara yang dilalui peluahan lebih panjang, maka pengaruh tekanan udara terhadap
tegangan lewat denyar basah semakin besar. Umumnya, setengah daripada lintasan

peluahan merupakan celah udara. Dengan anggapan ini, tegangan lervat denyar basah
pada sembarang tekanan udara dapat ditentukan sebagai berikut;

v=0,5

b\
(r * 160
)
-l

8.6

Dalam hal ini, v adalah tegangan lewat denyar basah pada tekanan udara standar.
Karakteristik tegangan-waktu ditentukan hanya pada keadaan kering dan permukaan
bersih, karena penurunan kekuatan elektrik isolator akibat air dapat diabaikan, hanya
sekitar 2 - 3ok. Karakteristik tegangan-waktu diperoleh melalui pengujian isolator dengan
tegangan impuls standar baik polaritas positif maupun polaritas negatif. Menurut IEC,

Bab

1.22

Impuls Penuh

Jenis Peralatan

t.20

l,l8

r\

\\
\\\
\ \\
\

C
1,10

t,08
1,06
O

1,04

I,I2

1,5

1,5

40

40

.L
5

Sela Batang

Isolator Suspensi

Isolator Post

Isolator Peralatan

Bushing

is
\

t,02

155

lsolator dan Bushing

1,00

0,98
0,96
0,94

nq,

\-

\N s
\ s\
\

F
E

\
\

0,90
0,88
B

0,86
A

0.84

810t2141618202224
Kelembaban Mutlak Udara (g/cm3)

GAMBAR 8,12
Faktor koreksi kelembaban udara

waktu muka dan waktu ekor tegangan impuls standar adalah 1,2 x 50 pr,s. Tegangan
lewat denyar impuls pada sembarang temperatur dan tekanan udara dihitung dengan
Persamaan 8.3. Perlu diperhatikan bahwa faktor koreksi kelembaban k,,pada Gambar 8.7
berlaku untuk tegangan impuls terpotong pada waktu lebih daripada l0 mikrosekon. Jika

tegangan impuls terpotong di bawah 10 mikrosekon, koreksi dapat dikurangi sebanding


dengan waktu pemotongan tegangan impuls. Sebagai contoh, menurut Gambar 8.7. k,,
= 1,06 jika tegangan impuls terpotong lebih daripada 10 mikrosekon. Dalam hal ini,
penambahan faktor koreksi adalah sebesar 0,06. Seandainya tegangan impuls terpotong

155

Peralatan Tegangan Tinggi

8 mikrosekon, maka penambahan faktor koreksi adalah 0,06 x 8/10 = 0,048; dengan
demikian faktor koreksi menjadi ft,, = 1,048.
Pengujian impuls dilakukan dengan tegangan impuls standar penuh dan impuls
terpotong 2 mikrosekon. Isolator harus mampu memikul tiga kali tegangan impuls
standar penuh dan setelah itu harus mampu memikul tiga kali tegangan impuls standar
terpotong.

8.7

KARAKTERISTIK MEKANIS ISOLATOR


Karakteristik mekanis suatu isolator ditandai dengan kekuatan mekanisnya, yaitu beban
mekanis terendah yang mengakibatkan isolator tersebut rusak. Kekuatan mekanis
ditentukan dengan membebani isolator dengan beban yang bertambah secara bertahap
hingga isolator rusak. Kekuatan mekanis suatu isolator dinyatakan dalam tiga jenis
pembebanan, yaitu kekuatan mekanis tarik, kekuatan mekanis tekan dan kekuatan
mekanis tekuk.
Sebelum menetapkan kekuatan mekanis suatu isolator konstruksi tertentu, perlu
diketahui lebih dahulu beban mekanis yang akan dipikulnya di lapangan. Jika isolator
akan digunakan pada jaringan hantaran udara, maka isolator harus mampu memikul
berat konduktor dan beban tarik. Berat konduktor bergantung kepada luas penampang
konduktor, jenis bahannya, jarak gawang dan ada-tidaknya beban lain pada konduktor.
Tegangan mekanis karena beban tarik bergantung pada luas penampang konduktor, jarak
gawang, temperatur dan kecepatan angin. Bila jaringan hantaran udara menggunakan
isolator jenis pin, maka semua beban di atas umumnya akan menimbulkan beban tekuk
pada isolator. Bila jaringan hantaran udara menggunakan isolator gantung, maka semua
beban di atas akan menimbulkan regangan.
Isolator post biasanya digunakan untuk panel pembagi daya. Beban utama yang
dipikulnya adalah berupa gaya tekuk akibat gaya mekanik antar konduktor, baik pada
kondisi operasi nomal maupun ketika konduktor dialiri arus hubung singkat.
Dalam pengujian kekuatan mekanis suatu isolator, kerusakan tidak selamanya
terlihat, khusus pada pengujian isolator gantung, karena kerusakan dapat terjadi di
dalam jepitan logam sehingga terlindung dari pandangan mata. Oleh karena itu, untuk
isolator gantung, pengujian kekuatan mekanis dilakukan sambil memberi tegangan
listrik pada isolator sebesar '70 - 807a tegangan lewat denyar bolak balik kering. Beban
mekanis terendah yang menyebabkan isolator tembus listrik dinyatakan sebagai kekuatan
mekanisnya. Tembus listrik ditandai dengan telputusnya hubungan listrik pada trafo uji
yang digunakan untuk mencatu tegangan pada isolator.
Karakteristik mekanis utama dari suatu isolator gantung adalah kekuatan mekanis
satu jam, dan biasanya karakteristik ini dicantumkan pada permukaan setiap isolator
gantung. Karakteristik ini ditentukan dengan membebani isolator secara bersamaan
dengan beban mekanis sebesar 757c kekuatan mekanis dan beban elektrik sebesar
15 - 80Vo tegangan lervat denyar bolak-balik kering. Isolator harus mampu memikul
beban tersebut selama satu jam tanpa menimbulkan kerusakan pada isolator. Dalam
praktik, beban tertinggi yang dapat dipikul isoiator ditetapkan sebesar satu setengah
kali kekuatan mekanis satu .jam.

Bab

8.8

lsolator dan

ISOLATOR TERPOLUSI
Setelah melalui waktu yang lama, isolator-isolator pasangan luar akan dic: -polutan yang dibawa oleh udara. Berikut ini akan dijelaskan tentang pen-sarL: tersebut terhadap kinerja isolator; pengaruh bobot polutan pada suatu kana:rr:. ,- -.
perancangan isolator pada kawasan tersebut; dan cara menentukan bobot polui.- : - suatu kawasan.

Pengaruh Polutan Terhadap Kinerja lsolator


Polutan yang terkandung

di

udara dapat menempel pada permukaan isolator

;.

berangsur-angsur membentuk suatu lapisan tipis pada permukaan isolator. Unsur polui.
yang paling berpengaruh terhadap unjuk kerja isolator adalah garam yang terbawa trle:
angin laut. Lapisan garam ini bersifat konduktif terutama pada keadaan cuaca len'rbar,.
berkabut atau ketika hujan gerimis. Jika cuaca seperti ini terjadi, maka akan mengalrr
arus bocor dari kawat fasa jaringan ke tiang penyangga melalui lapisan konduktif 1 ang
menempel di permukaan isolator.

Pada Gambar 8.13 diperlihatkan suatu isolator pendukung yang permukaann\a

dilapisi polutan konduktif dan rangkaian ekuivalennya. Lapisan polutan konduktii


tersebut dapat dianggap sebagai suatu resistansi yang menghubungkan kedua jepitan
Iogam isolator. Resistansi lapisan polutanjauh lebih rendah daripada resistansi dielektrik
padat isolator. Jika jepitan (a) bertegangan dan jepitan (D) dibumikan, maka arus bocor
(Qakanmengalirmelaluilapisankonduktif dari jepitan akeb, sedangkanarus)'ans
melalui dielektrik padat isolator dapat diabaikan.
Adanya arus bocor ini akan menimbulkan panas yang besarnya sebanding den-ean
kuadrat arus bocor dikalikan dengan resistansi lapisan polutan dari a ke d. Panas i ang
terjadi akan mengeringkan lapisan polutan dan pengeringan arval terjadi pada kau'asan
permukaan isolator yang berdekatan dengan jepitan logam isolator, karena di kau,asan
ini konsentrasi arus lebih tinggi. Pengeringan tersebut akan membuat resistansi lapisan
polutan di kawasan jepitan isolator semakin besar. Misalkan lapisan polutan yan-e sudah
kering adalah sepanjang a - b dan tahanannya adalah R,,0. Akibatnya, beda tegansan
pada lapisan polutan yang kering (V,r) semakin besar dan menimbulkan kuat medan
elektrik di antara titik a dan b semakin tinggi. Jika kuat medan elektrik ini melebihi
kekuatan dielektrik udara di sekitar isolator, maka akan terjadi peluahan dari titik ,;

Logam

--..--->

V*= IoR*

Lapisan kering

Lapisan polutan

Lapisan

poluran

-->
Lo-uam -------->

GAMBAR 8.13
lsolator terpolusi dan rangkaian ekuivalenny

frffLlK
Brdtn Pcrpustlkcrn
dan Kcrrsipatr
propinsi !"T.?":19*

158

Peralatan Tegangan Tlnggi

ke titik b. Busur api akibat peluahan ini membuat lapisan polutan yang kering (.a - b)
terhubung singkat, akibatnya arus bocor semakin besar. Arus bocor ini akan memanaskan
lapisan polutan yang masih basah dan proses seperti di atas terulang lagi sehingga
terjadi peluahan dari titik & ke titik c. Akibatnya panjang busur api akibat peluahan
semakin bertambah, yaitu dari a ke c. Demikian seterusnya, secara berangsur-angsur
busur api semakin panjang, dan ketika busur api telah menghubungkan kedua jepitan
logam isolator (a - d), maka terjadilah peristiwa lewat-denyar pada isolator.
Oleh karena itu, dalam perencanaan isolator suatu jaringan, perlu adanya informasi
tentang tingkat bobot polusi di kawasan yang akan dilintasi jaringan tersebut. Informasi
ini merupakan pedoman bagi perencana untuk menentukan parameter isolator yang layak
digunakan pada kawasan tersebut. Sehubungan dengan hal ini, IEC telah menerbitkan
standar IEC 815 sebagai pedoman dalam pemilihan isolator di kawasan terpolusi.
Dengan standar ini, dapat dihitung jarak rambat isolator untuk suatu kawasan yang
telah diketahui tingkat bobot polusinya.

Penentuan Jarak Rambat Isolator


Jarak rambat nominal adalah jarak rambat total isolator atau lintasan terpendek menelusuri
semua permukaan isolator yang menghubungkan bagian konduktif atas isolator dengan

bagian konduktif bawah isolator. Menurut standar IEC 815, jarak rambat nominal
minimum suatu isolator, adalah sebagai berikut:

l,=JorxVxko
Dalam hal ini:

8.7

l,

= Jarak rambat nominal minimum (mm)


= Jarak rambat spesi{ik minimum (mm/kV)
Tegangan fasa-ke-fasa tertinggi sistem (kV)
kr= Faktor koreksi yang bergantung pada diameter isolator

/^,

V=

Jika isolator akan digunakan untuk mengisolir bagian yang bertegangan fasa-ke-fasa,
maka jarak rambat harus dikalikan dengan /3.
Jarak rambat spesifik suatu isolator bergantung pada tingkat bobot polusi di
kawasan pemasangan isolator. Menurut standar IEC 815, tingkat bobot polusi isolator
dibagi atas empat tingkatan. Besar jarak rambat spesifik isolator pada masing-masing
tingkat bobot polusi diperlihatkan pada Tabel 8.2.
Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa kinerja isolator menurun dengan
betambahnya diameter rata-rata isolator. Oleh karena itu, perlu suatu faktor koreksi
karena pertambahan diameter isolator. Faktor koreksi ini diperlukan untuk menaikkan
jarak rambat isolator, sehingga kinerja isolator semakin baik. Faktor koreksi sehubungan
dengan ukuran diameter isolator diperlihatkan pada Tabel 8.3.
TABEL 8.2

Nilai Jarak Rambat Spesifik Untuk Berbagai Tingkat Bobot Polusi

Tingkat Bobot Polusi

,I", (mm/kV)

Ringan

l6

Sedang

20

Berat

25

Sansat Berat

31

Bab

lsolator dan Bushing

159

TABEL 8.3

Faktor Koreksi Diameter lsolator Menurut IEC 815


Diameter Rata-rata (mm)

Faktor Koreksi (ft,)

300<D <500

Penetapan Tingkat Bobot Polusi lsolator


Menurut standar IEC 815, ayat 2, ada tiga metode untuk menentukan tingkat bobot
polusi isolator di suatu kawasan, yaitu:

a.
b.
c.

Berdasarkan analisa kualitatif kondisi lingkungan seperti diberikan pada Lampiran .1.
Berdasarkan evaluasi terhadap pengalaman lapangan tentang perilaku isolator yang
sudah terpasang di kawasan tersebut.
Berdasarkan pengukuran polutan isolator yang sudah terpasang/sudah beroperasi.

Menurut standar IEC 815, penentuan tingkat bobot polusi menurut metode (c) di
atas dapat dilakukan dengan salah satu cara di bawah ini;

1.

Mengukur konduktivitas volume bahan polutan yang dikumpulkan dari lapangan


dengan alat ukur direksional.

2.
3.

Mengukur deposit garam ekuivalen dari polutan yang menempel di permukaan


isolator atau metode "Equivalent Salt Deposit Density" (ESDD).
Mengevaluasi jumlah lewat denyar yang terjadi pada berbagai rentengan isolator
yang berbeda ukuran panjangnya.

4.
5.

Mengukur konduktivitas permukaan isolator-isolator sampel.


Mengukur arus bocor isolator pada tegangan operasi sistem (nilai arus tertinggi
selama beberapa kurun waktu tertentu yang berurutan).

Berikut ini akan dijelaskan prosedur pengukuran ESDD. Untuk melarutkan polutan
isolator, diambil air destilasi sebanyak 500 ml. Air pelarut ini ditempatkan dalam ruangan
pendingin hingga temperatur air mencapai 20 'C. Air diaduk agar temperaturnya merata.
Ketika temperatur air mencapai 20 "C, konduktivitas air diukur dengan alat pengukur
konduktivitas (conductivitymeter). Konduktivitas air pelarut disetarakan dengan larutan
garam NaCl dalam air murni. Kesetaraannya ditentukan dengan mencari konsentrasi
garam dalam larutan air murni yang konduktivitasnya sama dengan konduktivitas air
pelarut (D,). Konsentrasi garam dalam suatu larutan air murni pada temperatur 20 oC,
dapat dihitung dengan persamaan di bawah ini:

p = (5,7 x 0ro),.0,

g.g

Dalam hal ini, D adalah konsentrasi garam (kg/m3) dan 0ro adalah konduktivitas larutan
pada temperatur 20 "C (S/m). Selanjutnya polutan yang menempel pada isolator dilarutkan

dalam air pelarut. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan hati-hati, agar polutan dari luar
isolator tidak ikut terlarut dalam air. Larutan ditempatkan dalam ruangan pendingin
hingga temperaturnya mencapai 20 'C. Ketika temperatur larutan polutan mencapai
20 "C, konduktivitas larutan diukur dengan conductivitymeter. Kemudian dihitung

160

Tegangan finggi

konsentrasi ekuivalen garam larutan polutan dengan Persamaan 8.8, dan dimisalkan
hasilnya adalah Dr. Jika luas permukaan isolator telah diketahui, maka ESDD dihitung
dengan rumus di bawah ini:

(D _D)

K=G "
-a

8.9

Dalam hal ini, K adalah ESDD (mg/cm'?); G adalah volume air destilasi dalam gelas
ukur (cm3); dan A adalah luas permukaan isolator (cm2). Hubungan antara ESDD dengan
bobot polusi diperlihatkan pada tabel di Lampiran 4.
Luas permukaan isolator bergantung kepada bentuk isolator. Pada Tabel 8.4
diperlihatkan luas permukaan tiga jenis isolator.
TABEL 8.4
Luas Permukaan lsolator
Bentuk Isolator

Luas Permukaan (A)

A=ZIR.H,
+

(R"+ nr) 1@, +

{n,_nl

* v (Ra+ nrt 1@;+ fR,_Rl

D.+D
A=rriLL

A=3

(2rrRrH,)

+ 2tr (R,+ nr)

{r1,T

1n,

nl

8.9 DISTRIBUSI TEGANGAN PADA ISOLATOR RANTAI


Dua konduktor yang dipisahkan oleh suatu dielektrik atau susunan "konduktor-dielektrikkonduktor" merupakan suatu susunan kapasitor. Semua isolator merupakan dua konduktor
yang dipisahkan oleh suatu medium dielektrik. Oleh karena itu, suatu isolator merupakan
suatu kapasitor. Kap isolator dengan menara, juga kap dengan konduktor transmisi
membentuk susunan kapasitor. Kehadiran kedua kapasitansi terakhir ini mengakibatkan
distribusi tegangan pada isolator rantai tidak merata.

Q^^

Logaml /E\
Diel e krri

_t_

ti

.---l;------=:

/--]--\

-ra
I -opam -/
(a) Isolator

161

Kapasitor

J
(b) Isolator Bersih

GAMBAR 8.14
Ekuivalen listrik suatu isolator piring

Berikut ini akan dijelaskan susunan kapasitansi dan pendekatan menghitun-e distribu\i
tegangan pada isolator rantai; dan cara-cara meratakan distribusi tegangan tersebur.

Kapasitansi lsolator
Pada Gambar 8.14a diperlihatkan suatu isolator piring. Isolator tersebut membenruk
suatu susunan "konduktor-dielektrik-konduktor". Oleh karena itu, suatu isolator dapat

dianggap merupakan suatu kapasitor (Gambar 8.14b). Jika pada permukaan isolator
ditemukan polutan yang membentuk suatu resistansi pada permukaan isolator, maka
isolator dianggap merupakan kapasitor yang paralel dengan suatu resistor (Gambar 8.14c).
Jika beberapa isolator piring dirangkai menjadi isolator rantai seperti diperlihatkan
pada Gambar 8.15, maka akan dijumpai tiga kelompok susunan "konduktor-dielektrikkonduktor", masing-masing dibentuk oleh:

a.
b.
c.

Kap isolator-dielektrik isolator-fitting. Susunan ini membentuk kapasitansi sendiri


isolator (C,).
Kap isolator-udara-menara. Susunan ini membentuk kapasitansi kap isolator dengan
menara yang dibumikan (Cr) yang disebut kapasitansi tegangan rendah.
Kap isolator-udara-konduktor transmisi. Susunan ini membentuk kapasitansi kap
isolator dengan konduktor tegangan tinggi. Kapasitansi ini disebut kapasitansi
tegangan tinggi (C.).

Konduktor
Transmisi

GAMBAR 8.15
Susunan "konduktor-dielektrik-konduktor" pada isolator rantai

162

Peralatan Tegangan

llnggi

Konduktor
Transmisi

GAMBAR 8.16
Rangkaian ekuivalen isolator rantai empat piring pada kondisi bersih

Dengan demikian, pada kondisi isolator rantai bersih (pada permukaan isolator tidak
ada polutan), rangkaian ekuivalennya adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 8.16.
Pada umumnya, nilai kapasitansi-kapasitansi di atas adalah:

.
.
.

Kapasitansi isolator Cr = 50 - 70 pF
Kapasitansi kap isolator dengan menara Cr. = 4 - 5 pF
Kapasitansi kap dengan konduktor transmisi C, = 0,5 -

pF

Pendekatan Perhitungan Distribusi Tegangan


Berikut ini diberikan dua metode untuk menghitung distribusi

tegangan pada isolator


persamaan
diferensial.
metode
dan
rantai, yaitu dengan metode Hukum Kirchhoff

Metode Hukum Kirchhoff


Rangkaian ekuivalen isolator rantai untuk menghitung distribusi tegangan dengan metode

Hukum Kirchhoff adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 8.17.


Hukum Kirchhoff pada titik (l) adalah sebagai berikut:

l,,+i,,=irr*i,.

8.10

Jika tegangan pada suatu kapasitor C adalah V dan frekuensi tegangan tersebut adalah
I maka arus pada suatu kapasitor adalah i, = 2nfCV. Dengan demikian, Persamaan
8.10 dapat dituliskan sebagai berikut:

vt ,v,,-v,_ vt
2rtfc, - 2rit , - z.np rv\
ct
-+

lvh

- v) vl
cr =-+c,

v2
c1

v2

2rrK,

8.1

8.12

Bab

soraio'ca. Busn

ng

Menara

c1

rq

| ,,,

.,

iC,

<__
c2

V,,

tq

t"

GAMBAR 8.17
Rangkaian ekuivalen isolator rantai untuk perhitungan distribusi tegangan dengan Metode

Hukum Kirchhoff

Hukum Kirchhoff pada titik (2) adalah:

i,r+irr=irr+i*

8. 13

_(V, + Vr),
- q -q
----r,
q-

V,, (V,,- Vt-

V2l

V,

- l) adalah sebagai berikut:


il(n - l) +i {(, ll -i^t\.n ' tt +i.

8.1.1

Hukum Kirchhoff pada titik (n

815

tn

v
rV -V -V--.....-V
Cr
Cr
(r-l)

lD

(V, + V, + ..... +

{,,_,,)

tn-t)

.)

V.

Lr

Jika jumlah isolator piring adalah n, maka Hukum Kirchhoff akan memberikar.
1) persamaan. Di samping (" - l) persamaan itu masih ada satu persamaan tesii.:r:
yang diperoleh, yaitu:
v,,,

= v, + v2 + v,+

""""""""""'

y,,

\1

Sehingga ada n persamaan dengan n tegar,gan (If yang tidak diketahui Dengan
......., V,n_,y dan V, dapat dihitung.
demikian, Vu V, V3, . .

164

Peraiatan Tegangan

rnggi

.l
{
^1

V +dV

J
dC.

Konduktor

O*

(rq

GAMBAR 8.18
Rangkaian ekuivalen elementer isolator rantai

Metode Persamaan Diferensial


Dengan metode ini, perhitungan distribusi tegangan pada isolator rantai sama dengan
perhitungan distribusi tegangan pada transmisi panjang. setiap kapasitansi yang dijumpai
pada isolator rantai dianggap sebagai elemen kapasitansi seperti diperlihatkan pada
Gambar 8.18.

Jika panjang seluruh isolator adalah L, maka kapasitansi setiap elemen adalah
sebagai berikut:

dct = C,

8. 18

dCr=

Crf

8.19

dCr=

C.f

8.20

Tegangan pada satu elemen kapasitor adalah:

dv,=_,:,!_!,;
jaC,'

8.21

Karena di, << i,, maka di, dapat diabaikan, sehingga Persamaan 8.21 menjadi:

,r, -u",-jrctd^
"

8.22

Jumlah arus pada titik X adalah:

di,=dir-di,
dir=

V,

di, = (V

8.23

j, Cr*

Selanjutnya dV, didiferensiasikan terhadap

V,) jtt C.

r,

8.24

maka diperoleh:

8.2s

BaoS .:;::'::-:_=.

(FV
I_

dx2

di

165

\ -^

- jaC,Ldx

'l?V'
N=-jrDC,Ldx
d(i2

i3)

Jika Persamaan 8.24 dan 8.25 disubstitusikan ke dalam Persamaan 8.27. didap.ii":

dV,

_V^,Cr+C,, VC,
d-r- tit q '-Fc,

r l.

tr+c.
,=1?

Iika

lv

- unit isolator ke-n


I - Jumlah isolator piring (AI)

maka tegangan pada isolator ke-n dihitung dari


dirumuskan sebagai berikut:
C^

V,=Afsinh(a.n\+A
-l

A_

ft

,trn ta (n

v
a2 sinh

titik yang dibumikan (menara)

I.fll +

dapar

8.10

8.-t

(a . N)

CV

D7

"- 6i*6'

8.32

Dalam hal ini: V adalah tegangan transmisi fasa ke netral n adalah nomor unit isolator:
dan N adalah jumlah unit isolator piring yang digunakan.

Menurut Persamaan 8.30, kurva distribusi tegangan pada isolator rantai adalah
seperti diperlihatkan pada Gambar 8.19. Terlihat, jika tegangan yang dipikul isolator
adalah tegangan bolak balik, maka distribusi tegangan pada setiap isolator tidak merata.
VIV

C. dan C, =

GAMBAR 8.19
Distribusi tegangan pada isolator rantai

0.

166

Peralatan Tegangan

rnggi

Jumlah isolator piring yang digunakan, kapasitansi Cr C2, dan C., mempengaruhi
tegangan yang dipikul setiap unit isolator. Makin banyak jumlah isolator yang digunakan,
maka tegangan yang dipikul setiap unit isolator makin kecil. Penambahan jumlah unit
isolator perlu dilakukan jika tegangan isolator yang terdekat ke kawat fasa lebih besar
daripada kekuatan dielektrik isolator tersebut.

Dalam pemilihan jenis isolator suatu transmisi perlu diketahui eflsiensi isolator
yang akan dipilih. Efisiensi suatu isolator dideflnisikan sebagai berikut:

q-

Tegangan yang dipikul isolator rantai


N x Tegangan unit isolator yang terdekat dengan kawat

fasa

8.33

Jika efisiensi suatu isolator semakin rendah, maka tegangan pada unit isolator yang
paling dekat dengan karvat fasa semakin besar. Kenaikan tegangan ini perlu diwaspadai
supaya jangan sampai lebih besar daripada kekuatan dielektrik isolator.
Jika kekuatan dielektrik isolator yang dipakai rendah, maka tegangan unit isolator yang
paling dekat ke kawat fasa harus diperkecil. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah
jumlah isolator. Penambahan ini akan memperkecil efisiensi isolator. Dengan kata lain,
jika kekuatan dielektrik isolator piring yang dipakai rendah, maka efisiensi isolator
makin kecil.

Pemerataan Distribusi Tegangan pada lsolator Rantai


Pada Gambar 8.19 telah diperlihatkan pengaruh kapasitansi Crdan C, terhadap distribusi
tegangan pada isolator rantai. Tegangan pada setiap piring isolator tidak sama meskipun
kapasitansi masing-masing isolator piring sama. Keadaan ini membuat ada unit isolator

yang mengalami tekanan elektrik yang tinggi, sehingga pada kap atau fitting isolator
tersebut teriadi korona; sementara unit isolator lain mengalami tekanan elektrik yang
rendah. Oleh karena itu, perlu suatu usaha untuk meratakan distribusi tegangan pada
isolator rantai, supaya nilai tegangan pada setiap piring isolator mendekati sama.
Ada empat cara untuk meratakan distribusi tegangan pada isolator rantai, yaitu:

1.
2.

3.
4.

Memperkecil C, dengan menambah panjang lengan menara. Tetapi cara ini sangat
mahal, karena berdampak kepada peningkatan kekuatan konstruksi menara.
Melapisi permukaan isolator dengan bahan semikonduktor resistansi tinggi. Pada
keadaan basah, bahan pelapis ini akan dialiri arus bocor yang tinggi, sehingga arus
kapasitansi dapat diabaikan. Dengan demikian, arus bocor hanya melalui resistansi
permukaan isolator dan besarnya sama pada setiap piring isolator. Jika resistansi
permukaan isolator sama, maka tegangan pada setiap unit isolator adalah sama.
Kapasitansi setiap isolator piring dibuat bervariasi. Piring isolator yang memiliki
kapasitansi terbesar dipasang mengikat konduktor transmisi, sedangkan piring
isolator yang memiliki kapasitansi terkecil dipasang pada lengan menara.
Memperbesar C., seperti yang akan dijelaskan berikut ini.

Kurva distribusi tegangan yang ideal adalah linier (kurva l), yaitu jika kapasitansi
ke menara Crdan kapasitansi tegangan tinggi C, tidak ada. Jika hanya ada kapasitansi
ke menara, maka kurvanya menurun (kurva 2); dan jika hanya ada kapasitansi
tegangan tinggi, maka kurvanya naik (kurva 3). Jika kedua kapasitansi ini (C, dan
C,) diperhitungkan, maka kurva distribusi tegangan merupakan resultan kurva 2 dan
kurva 3 yang diperoleh dengan superposisi kedua kurva tersebut (kurva 4). Untuk
mendapatkannya, kurva 3 dikurangi sebesar AV, yaitu besar penyimpangan kurva 2 dari
kurva distribusi linier (kurva 1). Hal ini memperjelas bahwa distribusi tegangan semakin

Bab

lsolator dan Bushing

167

og

/\
---==I

Elektroda
i

Perata

Konduktor

GAMBAR 8.20
Contoh bentuk-bentuk elektroda perata dan pemasangannya

linier akibat adanya kapasitansi tegangan tinggi. Dengan kata lain, efek kapasitansi ke
menara dapat dikompensasi dengan memperbesar nilai kapasitansi tegangan tinggi. Hal
ini dilakukan dengan membuat elektroda perata pada jepitan konduktor. Bentuk-bentuk
elektroda perata dan pemasangannya diperlihatkan pada Gambar 8.20.
Misalkan titik (1) pada Gambar 8.17 adalah unit ke-l dari N unit piring rang
membentuk suatu isolator rantai. Untuk nilai C, tertentu dan C, yang konstan, C,. harus
dibuat sedemikian besarnya sehingga tegangan pada tiap piring isolator sama. Tegan-ean
pada setiap isolator piring adalah Vr,= V,nlN. Jika syarat ini dipenuhi, maka seharusnya
1,,

= i,, = /,:

=
= 1rr,- rr = ir, dipenuhi.
Persamaan arus pada titik sambung tersebut adalah:
(Vt,,' V)

Cr= V, ot C,

8.3.1

Cr=

8.3s

atau

(Vk

Vp)

Akhirnya diperoleh:

C.=

C,

Vr, C,

vpt

V -V

8.36

Jika kapasitansi ke menara C, diketahui baik melalui pengukuran atau pen-uhitun-ean.


maka dapat dicari nilai kapasitansi tegangan tinggi C. agar diperoleh distribusi tegangan
yang merata.

8.10

BUSH I NG
Pada peralatan-peralatan listrik, ditemukan konduktor bertegangan tinggi yang dilervatkan
menerobos badan suatu peralatan yang dibumikan, melalui suatu lubang terbuka yang

dibuat sekecil mungkin. Untuk itu, dibutuhkan suatu pengikat padu yang berfungsi
mengikat konduktor tersebut ke badan peralatan, dan mengisolir konduktor tersebut
dengan badan peralatan yang dibumikan. Pengikat padu ini disebut bushing.

168

Peralatan Tegangan

linggi

Berikut ini akan dijelaskan tentang konstruksi suatu bushing, distribusi tegangan pada
isolator bushing dan cara-cara meratakan distribusi tegangan tersebut.

Konstruksi Bushing
Konstruksi suatu bushing sederhana diperlihatkan pada Gambar 8.21. Bagian utama
suatu bushing adalah inti atau konduktor, bahan dielektrik dan flens yang terbuat dari
logam. Fungsi inti adalah menyalurkan arus dari bagian dalam peralatan ke terminal
luar dan bekerja pada tegangan tinggi. Dengan bantuan flens isolator bushing diikatkan
pada badan peralatan yang dibumikan.
Bushing untuk tegangan AC sampai 30 kV dibuat dari bahan porselen atau damar
tuang. Untuk tegangan yang lebih tinggi, dielektrik yang lebih disukai adalah minyak
trafo; gulunganhardboard atau softpaper; dan kombinasi dielektrik cair dengan dielektrik
padat. Kemudian, bahan dielektrik tersebut dimasukkan ke dalam tabung porselen.
Gambar 8.21 memperlihatkan tekanan elektrik aksial E yang dapat menimbulkan
peluahan luncur pada permukaan dielektrik. Tekanan elektrik radial E,dapat menimbulkan

peluahan parsial pada rongga-rongga yang terdapat di antara flens dengan dielektrik
paling luar dan di antara inti dengan dielektrik bagian dalam. Untuk mencegah peluahan
ini, maka di antara dielektrik dengan flens diberi lapisan konduktif dengan teknik
penyemprotan; dan ujung lapisan yang terbentuk ditekuk untuk mengurangi efek medan
pinggir. Untuk mencegah peluahan parsial pada ruang-ruang udara terbuka yang terdapat

di antara inti dengan dielektrik, maka di antara inti dengan dielektrik dibuatjuga lapisan
konduktif atau diusahakan agar inti berpadu dengan dielektrik. Misalnya dengan memilih
dielektrik dari bahan damar tuang, sehingga inti melekat langsung dengan dielektriknya,
dengan demikian peluahan parsial pada ruang di antara inti dengan dielektrik dapat
dicegah. Masalah peluahan luncur dapat juga diatasi dengan mengurangi efek medan
pinggir, yaitu dengan menekuk ujung elektroda dan membuat elektroda melekat ke bahan
dielektrik. Kemudian dengan pemilihan profil dielektrik yang tepat, maka kuat medan
pada bidang miring yang berbatasan dengan udara dapat dikurangi di barvah nilai yang
diizinkan. Jika tegangan suatu bushing porselen ditinggikan, maka pada suatu tegangan
tertentu akan terjadi peluahan parsial pada rongga-rongga udara yang terdapat di antara
inti dengan dielektrik; dan jika tegangan terus dinaikkan maka akhirnya akan terjadi
peristiwa lewat-denyar. Dengan perkataan lain, peristiwa lewat denyar pada bushing
porselen lebih dahulu diawali dengan peristiwa peluahan parsial. Pada bushing damar

Flens

Flens

GAMBAR 8,21
Konstruksi suatu bushing sederhana

Bab

so

a:c'

la- B-sr

no

169

tuang, peristiwa lewat denyar tidak diarvali dengan peristi\\'a peluahan parsial. karena
pada bushing ini tidak ditemukan rongga-rongga udara di antara inti dengan dielektrik.
Karena damar mudah dilekatkan ke metal dan dapat dicetak dalant berbagai bentuk.
maka jenis isolasi damar menawarkan berbagai kemungkinan bentuk konstruksi.

Pemerataan Distribusi Tegangan pada Bushing

Prinsip pemerataan distribusi tegangan pada awalnya tidak mempertimbangkan jenis


bahan dielektrik, tetapi akhirnya hal itu harus diperhatikan karena adanra huL,uncan
tegangan awal peluahan pada pinggir elektroda yang runcing dengan ketebalan bahan
dielektrik yang menyelubungi elektroda tersebut. Jika tidak memakai tabir elekrrtrda
sebagai pengendali medan pinggir, maka harus dipilih bahan dielektrik 1'ane tipis.
Telah diperlihatkan pada Gambar 8.20, bahwa tekanan elektrik yang dialami trleh
suatu bushing terdiri dari medan elektrik radial (E ) dan aksial ({). Tekanan elekrrik
kritis terdapat pada bidang batas permukaan dielektrik dengan media sekitar. Komponen
radial kuat medan listrik E dapat menyebabkan tembus listrik pada bahan dielektrik.
sementara komponen aksial

pada keadaan tertentu dapat menyebabkan peluahan luncur

di sepanjang bidang batas. Kekuatan elektrik bahan dielektrik ditentukan oleh tesangan
yang menimbulkan terjadinya lewat denyar pada bidang batas, karena nilainra lebih
rendah daripada tegangan yang menimbulkan terjadinya tembus listrik pada dielektrik.
Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa tekanan elektrik arah aksial jauh lebih kriti.
daripada tekanan elektrik arah radial.
Bushing untuk tegangan di atas 60 kV biasanya dilengkapi dengan elektroda perara
distribusi tegangan, yaitu elektroda tipis yang dipasang di antara flens dengan inti
seperti diperlihatkan pada Gambar 8.22a. Elektroda ini disebut elektroda perata atau
seringjuga disebut elektroda pengantara (intermediate electrode). Penambahan elektroda
perata membuat diameter flens semakin besar. Untuk mengurangi penambahan diameter
bushing, maka bahan elektroda perata dibuat dari logam tipis (foil). Dengan adanra
beberapa elektroda perata di antara inti dengan flens, maka ada beberapa kapasitor vang
terhubung seri di antara inti dengan flens seperti diperlihatkan pada Gambar 8.22b.

Flens

Flens

-I

r:'l
C.
Elektroda
perata

,-T-"'

*
Konduktor

(inti)

(a) Bushing dengan elektroda perata

GAMBAR 8.22
Konstruksi suatu bushing dengan elektroda perata

(D) Kapasitansi bu.hing

170

Peralatan Tegangan Tinggi

Elektroda perata

<--

Tanpa elektroda perata

Dengan elektroda perata

f,

(a) Bushing dengan dua elektroda perata

f,

(D) Distribusi medan

fl

listrik

GAMBAR 8.23
Efek elektroda perata terhadap distribusi medan elektrik

Dengan mengatur diameter dan panjang elektroda perata, nilai kapasitansi setiap
kapasitor dapat dibuat sama (Cr = Cz) sehingga beda potensial antara suatu bidang batas
dengan bidang batas lainnya menjadi sama rata. Hal ini mendorong perlunya dibuat
pembagian kapasitansi yang merata, yang dalam praktiknya hanya dapat direalisasi jika
bahan isolasi terbuat dari gulungan pita tipis. OIeh karena itu, prinsip perata tegangan
hanya dapat digunakan jika bahan dielektrik bushing terbuat dari hardboard atau soft
paper dan fllm plastik.
Pada Gambar 8.23, diperlihatkan efek elektroda perata terhadap distribusi medan
elektrik pada suatu bushing silindris.

Perhitungan Tegangan Awal Peluahan (Inception Voltage)


Tebal lapisan dielektrik di antara dua elektroda perata sangat kecil dibandingkan dengan
diameternya. Sehingga perhitungan tegangan awal peluahan dapat dilakukan seperti
halnya pada model kapasitor plat sejajar, di mana tegangan awal peluahan parsial
bolak-balik pada pinggir elektroda dapat dihitung secara pendekatan, yaitu:

v,

= ko(;-)'''

,,.u,

8.37

Dalam hal ini, s adalah tebal lapisan dielektrik dalam cm dan k* adalah faktor konfigurasi
yang bergantung pada jenis elektroda dan dielektrik. Nilai k* dapat diasumsikan seperti
diperlihatkan pada Tabel 8.5.
TABEL 8.5

Faktor Konfigurasi Elektroda


Konfigurasi
Pinggir/ujung logam:

kk

di udara
dalam SFu

tt

21

Pinggir metal atau grafit dalam minyak

30

Pinggir grafit di udara

12

Bab

lso ato' ca"

E-s: .o

171

Kapasitansi Satu Lapisan

Agar pemakaian dielektrik optimal maka ukuran elektroda perata diatur sedemikian
sehingga beda tegangan pada setiap lapisan merata. Jika beda tegangan inti dengan
bumi adalah V dan jumlah lapisan dielektrik adalah N, maka beda tegangan pada setiap
lapisan adalah:

8.lS

L,v =
N

Untuk memperoleh keadaan di atas, kapasitansi setiap kapasitor ) ang dibentui:


oleh dua elektroda berdekatan harus sama (C, = C,

= ......' = C,-t = C,). Ada

du;.

kemungkinan yang dapat dilakukan untuk memperoleh keadaan tersebut. yaitu: mensatur
tebal lapisan dielektrik atau diameter elektroda, atau mengatur panjang elektroda perala.
Ukuran elektroda perata suatu bushing dapat dihitung dengan bantuan Gambar
8.24.Pada gambar diperlihatkan suatu lapisan dielektrik yang berada di antara elektroda
perata ke n dengan elektroda perata (n - l). Lapisan dinomori mulai dari titik pusat
inti (n = 0) sampai ke pinggir flens (n = Af. Misalkan tebal lapisan dielektrik adalah:

S =r -r

n-

8.39
|

Jika setisih pinggir dua elektroda berdekatan di sisi kiri b,,, sama dengan di sisi
kanan b,n, maka diperoleh bushing yang simetris. Selisih pinggir elektroda kiri dan
kanan akan berbeda jika dielektrik yang berbatasan dengan isolator bushing berbeda.
misalnya pada trafo daya, sebagian isolator bushing berbatasan dengan udara dan
sebagian lagi berbatasan dengan minyak trafo. Dalam hal ini, bagian isolator bushing
yang berbatasan dengan udara lebih panjang daripada bagian isolator bushing yang
berbatasan dalam minyak trafo.
Dengan mengabaikan efek medan pinggir, maka kapasitansi yang dibentuk dua
elektroda berdekatan adalah sebagai berikut:
un -

2re..e
urn
ln

8.40

=a
In-t

di mana e. adalah permeabilitas relatif bahan dielektrik isolator bushing.


Karena semua kapasitor C, terhubung seri satu dengan lainnya, dan tegangan pada
setiap satu kapasitor sama sebesar A% maka kapasitansi C, = konstan - C.

{
s

t
Elektroda perata

ke(n-l)
+

r;

t
GAMBAR 8,24
Ukuran elektroda perata

I
$

172

)a'z e:a^

-,egangan Trnggi

i
,i,

Ada dua kemungkinan pemerataan tegangan yang dilakukan, yaitu pemerataan


arah radial dan pemerataan arah aksial. Berikut ini akan dijelaskan perhitungan dimensi
elektroda perata untuk masing-masing jenis pemerataan tersebut.

Pemerataan Tegangan dalam Arah Radial


Untuk pemerataan tegangan pada arah radial, maka kuat medan radial E,= AVIS,, harus
konstan. Hal ini dapat dipenuhi apabila tebal lapisan dielektrik S, konstan. D.rgun
Persamaan 8.40 dapat diturunkan kapasitansi C,,*,:

2re^e
U t

(-

il+ I

a n+

8.41

ln,
il

Agar tegangan pada setiap lapisan sama, maka harus dipenuhi persyaratafl C,*t=
c,. Dengan mempersamakan Persamaan 8.40 dengan persamaan 8.41, maka diperoleh:
r' *
r

1n

,+

ll

I -

8.42

ln=a
I
-

Bila lapisan dielektrik sangat tipis dibandingkan terhadap radius elektroda,

S,,

= /n * rn_ r11 r,,, maka dapat dituliskan:

atau

a,,*1ao,,+

8.43

Dengan Persamaan 8.43 dapat ditentukan tebal lapisan berikutnya dengan menggunakan data tebal lapisan sebelumnya. Biasanya, radius lapisan paling dalam diketahui

lebih dahulu, yaitu sama dengan radius inti bushing. Radius inti ditentukan dengan
mempertimbangkan arus yang akan dialirkannya. Tebal dielektrik s,, dapat dihitung
dengan mengetahui AV yang dirancang pada satu lapisan dielektrik dan nilai maksimal
medan radial E, yang diizinkan terjadi pada bahan dielektrik:

',,"-

Av

8.44

E,
^,,r,

Jika panjang

ao

ditetapkan. maka ukuran elektroda-elektroda yang lain dapat ditentukan.

Pemerataan Tegangan dalam Arah Aksial


Untuk pemerataan tegangan arah aksial, kuat medan aksialnya harus konstan:

-LV
ab

= konstqn

Kemudian selisih pinggir elektroda berdekatan pada setiap sisi


harus sama panjang dan konstan:
bt,,

8.45

(kiri dan

kanan)

konstan = br
konstan
=
=b

Dengan demikian panjang satu elektroda dapat dituliskan:

ar*l=
Agar

C,,_,

C,,, maka syaratnya adalah:

a,,

b,

b,

8.46

il
t,

173

h+=\f h+,

t
1L

I
'l

8.-17

Dengan pendekatan bahwa lapisan dielektrik dianggap san-eat tipis dit'andingkan


terhadap radius elektroda, atau S, = r,, - r,,_r11 r,,, maka dapat dituliskan:

=t

ar
or.

s+5

Dimensi lapisan berikutnya diperoleh dengan menggunakan data dimensi lapiran


sebelumnya. Panjang lintasan lelvat denyar L dihitung dengan pendekatan seL'acrt
berikut (lihat Gambar 8.22a):

L=Nb
Urutan perhitungan dimensi bushing menurut prinsip perata aksial adalah seba-sai berikut
I

2.

3.
4.

Tentukan terlebih dahulu tumlah lapisan N dengan berpedoman kepada pen-salantan.


bahrva tegangan pengujian tegangan AC (yr) di antara dua lapisan adalah :ekitir
12 kV. Sebagai contoh, untuk bushing 110 kV dengan V, sebesar 260 k\'. ntakr
jumlah lapisannya adalah sekitar N = 260112 = 22.
Pilih panjang lewat denyar L dengan pertimbangan bahwa pada tegangan L'. kuat
medan rata-rata pada permukaan bidang batas harus lebih rendah daripada bata.
yang ditentukan. Untuk udara batas kuat medan dapat dimisalkan sekitar 3 - -:
kV/cm; dan di dalam minyak bergantung kepada konstruksi dan komponen minr ak
yang digunakan. Tetapi secara umum dapat diambil nilainya sekitar 2 sampai l
kali lebih tinggi daripada yang diizinkan untuk udara. Dengan diketahuinla L.
maka panjang b, dan b,dapat dihitung dengan Persamaan 8.49.
Biasanya, radius inti l dan panjang total an sudah diketahui sebelumnya. Kemudian
ditetapkan nilai awal r,, dengan demikian nilai r yang lain dapat dihitung dengan
Persamaan 8.48.
Akhirnya, dilakukan pemeriksaan terhadap hasil perhitungan. Harus dipenuhi s1 arat
bahwa kuat medan radtal E, tertinggi ketika tegangan sama dengan tegangan u.ji
(Vr), tiaat boleh melebihi kekuatan dielektrik bahan dielektrik, dan tegangan kerja
tefiinggi yang diizinkan harus jauh lebih kecil daripada V" (lihat Persamaan 8.i-r.

Bab

Kapasitor Tegangan Tinggi

l1/aOasitor tegangan tinggi adalah peralatan yang digunakan pada instalasi tegangan
tinggi, terutama untuk memperbaiki faktor daya (cos 9) sistem tenaga listrik.
J\
I \Dewasa ini, pemakaian kapasitor untuk perbaikan faktor daya semakin ekstensif,
karena kapasitor sudah dapat dikendalikan dengan alat-alat elektronik, sehingga nilai
kapasitansi kapasitor dapat diperoleh sesuai dengan yang dibutuhkan.
Dalam bab ini akan dijelaskan tentang klasifikasi, jenis, faktor-faktor yang dipertimbangkan dalam perancangan suatu kapasitor tegangan tinggi; karakteristik operasi
suatu kapasitor; spesiflkasi kapasitor dan pengujian tegangan tinggi yang perlu

dilakukan pada suatu kapasitor.

9.1

JENIS-JENIS KAPASITOR
Kapasitor tegangan tinggi dapat diklasifikasikan menurut penggunaannya, yaitu kapasitor
sistem tenaga listrik, kapasitor laboratorium tegangan tinggi dan kapasitor pembangkit

frekuensi tinggi

(o

silator).

Jenis kapasitor tegangan tinggi yang digunakan pada sistem tenaga listrik adalah:

1'

Kapasitor daya frekuensi 50 atau 60 Hz. Kapasitor ini ada tiga jenis, yaitu: kapasitor
shunt, kapasitor seri dan kapasitor penyadap.
a. Kapasitor shunt digunakan untuk kompensasi beban induktif, perbaikan faktor
daya dan untuk pengaturan tegangan ujung transmisi.
b. Kapasitor seri digunakan pada transmisi daya yang sangat panjang, bertujuan
untuk mengkompensasi reaktansi induktif transmisi. Dengan demikian, jatuh
tegangan dan komsumsi daya reaktif pada reaktansi transmisi dapat dikurangi.
c. Kapasitor penyadap digunakan untuk untuk menyadap daya dari jaringan
tegangan tinggi. Cara ini dilakukan untuk elektriflkasi suatu daerah yang
membutuhkan daya tidak begitu besar, misalnya elektrifikasi desa yang tidak
jauh dari jaringan transmisi.

2.

Kapasitor gandeng, yaitu kapasitor yang digunakan untuk pembawa sinyal

3.

komunikasi antar gardu induk atau antar pusat pembangkit (Power Line Carrier).
Kapasitor pembagi tegangan, yaitu kapasitor yang digunakan untuk pengukuran
tegangan transmisi dan rel daya.

Bab

4.

9 Kaoas::'-

175

Kapasitor filter, kapasitor yang digunakan untuk men-shilangkan [3s,.r11r:: p;c.a


konverter, terutama pada sistem transmisi arus searah.

5.

Kapasitor perata, yaitu kapasitor yang digunakan untuk meratakan ;i.::l.ousi


tegangan pada peralatan tegangan tinggi seperti pada pemutus dar

il

ir
trt

a.

Untuk mencapai nilai kapasitansi dan tegangan kerja yang diin-einkan. ada kaianr a
beberapa kapasitor dihubung paralel, atau dihubung seri, atau kombinari huL'ungan
paralel-seri. Umumnya kapasitor tegangan tinggi dipasang pada gardu induk pasansan
luar, pada jaringan tegangan menengah. Kapasitansinya dapat dibuat mencapai ratu.an
mikrofarad dengan tegangan kerja antara l0 - 20 kV. Pada Gambar 9.1 diperlihatkan
tiga contoh kapasitor yang sering ditemukan pada sistem tenaga listrik.
Jenis kapasitor yang digunakan di laboratorium tegangan tinggi adalah:
Kapasitor perata, yaitu kapasitor yang digunakan untuk meratakan gelombang

t.

tegangan keluaran pembangkit tegangan tinggi searah.


2.

Kapasitor impuls, yaitu kapasitor yang digunakan untuk pembangkit arus dan

3.

tegangan tinggi impuls.


Kapasitor standar, yaitu kapasitor yang digunakan untuk pengukuran faktor rugirugi dielektrik (tg 5).

4.

Kapasitor pembagi tegangan, yaitu kapasitor yang digunakan untuk pen-eukuran


tegangan tinggi.

Kapasitor frekuensi tinggi digunakan pada rangkaian osilator pemancar radio


komunikasi, tungku induksi, fllter harmonisa, konverter frekuensi, dan lain-lain. Jika
frekuensi tegangan naik, maka rugi-rugi dielektrik pada suatu kapasitor semakin besar.
Maka, kapasitor frekuensi tinggi harus mampu memikul panas yang diakibatkan rugi-

rugi dielektrik.
Meski pada tegangan yang sangat tinggi, kapasitor dapat dibuat mendekati ideal.
yakni: rugi-rugi rendah dan tanpa induktansi sendiri. Satu unit kapasitor seperti yang
diperlihatkan pada Gambar 9.1a, dibentuk dari beberapa sel kapasitor.
Selanjutnya, beberapa unit kapasitor dapat dirangkaikan membentuk kapasitor bank
seperti diperlihatkan pada Gambar 9.2 di halaman 176.

(a) Satu unit kapasitor daya

GAMBAR 9.1
Kapasitor sistem tenaga listrik

(D) Kapasitor pada pemutus daya

(c) Pembagi tegangan

176

Peralatan Tegangan Tinggi

GAMBAR 9.2
Kapasitor bank

9.2

KONSTRUKSI SEL KAPASITOR


Elektroda suatu sel kapasitor terbuat dari foil aluminium panjang, yang tebalnya +7
mikron, dan dipisahkan oleh dielektrik tipis, seperti diperlihatkan pada Gambar 9.3.
Bahan dielektrik adalah kertas khusus yang tebalnya 6 - 24 prm dikombinasikan
dengan bahan impregnasi. film plastik (polypropylene, polyeth.v-lene, styroflex) atau
gabungan keduanya. Partikel konduktif yang ada pada kertas, dapat menimbulkan hubung
singkat antara kedua elektroda foil aluminium. Untuk mencegah hubung singkat tersebut,
dielektrik dibuat beberapa lapis, sekurang-kurangnya dua lapis. Masing-masing lapisan

tidak boleh mempunyai titik-titik lemah, karena pada titik-titik lemah mudah terjadi
tembus listrik. Untuk mencegah hal ini, dielektrik disusun bertindih satu sama lain.
Jika p, adalah peluang adanya titik lemah pada satu lapisan dielektrik, maka peluang
pada setiap satu lapisan dari n lapisan terjadi titik lemah pada tempat yang sama adalah
pr'. Jika memungkinkan, untuk film plastik dipilih 2lapisan; sedangkan untuk kertas
yang diperkirakan mempunyai peluang titik lemah lebih besar, dibuat 3 - 6 lapisan.
Pemilihan tebal dielektrik bergantung kepada tegangan kerja kapasitor. Tegangan
yang dapat diterapkan di antara dua foil adalah 2 kV. Tegangan ini menimbulkan kuat

Foil Aiuminium

GAMBAR 9.3
Bahan dasar suatu sel kapasitor

Kertas-impregnasi

Bab

Kapasitor Tegangan lrnggi

177

medan elektrik sebesar 13 - 18 v/pcm pada dielektrik jenis kertas,40 v/p,m pada
dielektrik komposit dan lebih daripada 50 V/,um pada dielektrik film.
Susunan bahan seperti diperlihatkan pada Gambar 9.3 digulung berbentuk plat
dan di-press, supaya hasil gulungannya tipis. Bahan tersebut digulung dengan hati-hati
agar tidak ada pertikel yang menyelusup di antara foil dengan dielektrik. Rongga udara
harus ditiadakan, agar tidak terjadi peluahan sebagian ketika kapasitor beroperasi.
Sel kapasitor yang sudah terbentuk plat, dibungkus dengan beberapa lapis kertas
isolasi keras, lalu dicelupkan ke dalam isolasi cair alami atau sintetis, kemudian
dikeringkan di dalam ruang vakum tinggi. Hal ini dilakukan agar tidak ditemukan
rongga udara pada sel kapasitor dan permukaan dielektrik tidak bergelombang. Untuk
mencegah adanya rongga, maka dielektrik dipilih dari bahan fllm. Dewasa ini, telah
digunakan alat ultrasonik untuk memeriksa acla-tidaknya rongga udara di dalam kapasitor.

untuk memperoleh tegangan kerja dan daya yang lebih tinggi, beberapa sel
kapasitor dihubungkan dalam kombinasi seri dan paralel. Untuk memenuhi kapasitas
daya yang diinginkan, maka beberapa sel kapasitor dihubungkan pararer, sedangkan
untuk memenuhi tegangan yang diinginkan, maka beberapa sel kapasitor dihubungkan
seri. Sel-sel kapasitor ini disusun berdampingan dan diikat, kemudian dimasukkan
dalam suatu bejana atau tangki seperti diperlihatkan pada Gambar 9.4.
Sel kapasitor (4) disusun berdampingan dengan sel kapasitor lain. Antara satu sel
kapasitor dengan sel kapasitor lain diberi isolasi pembatas (7) untuk mencegah kerusakan
pada sel kapasitor lain jika sel kapasitor di sebelahnya mengalami kerusakan. Jika
satu sel kapasitor mengalami tembus listrik. maka terminal sel kapasitor seakan-akan
terhubung singkat, sehingga pada sel kapasitor mengalir arus hubung singkat. oleh
karena itu, tiap sel kapasitor ada kalanya dilengkapi dengan sekering untuk memutuskan
arus hubung singkat tersebut. Untuk mengisolir susunan sel kapasitor dengan tangki
digunakan isolasi kertas (5). Kemudian isolasi kertas dan semua sel kapasitor diikat
dengan plat pengikat (3). Akhirnya rakitan kapasitor dimasukkan dalam tangki baja atau
bejana isolasi (1). Untuk menghantarkan panas yang terjadi pada kapasitor ke medium
sekitar, maka tangki diisi dengan minyak isolasi yang tidak mengandung gelembung
udara (8).

Keterangan:
1. Tangki
2. Terminal
3. Plat pengikat
4. Kapasitor sel (4 unit)
5. Isolasi kertas
6. Papan logam pelindung
7. Isolasi pembatas sel
8. Minyak isolasi

GAMBAR 9.4
Konstruksi suatu unil kapasitor tegangan tinggi

178

Peralatan Tegangan linggi

9.3

DAYA DAN ENERGI SUATU KAPASITOR


Pada Gambar 9.5 diperlihatkan suatu kapasitor yang terbuat dari plat sejajar. Jika
suatu kapasitor yang tebal dielektriknya s, diberi tegangan bolak-balik V berfrekuensi
/ sedangkan efek medan pinggir pada kapasitor diabaikan, maka dielektrik kapasitor
akan memikul medan elektrik sebesar:

E=

e.l

Elektroda dan dielektrik suatu kapasitor selalu dirancang sedemikian, sehingga kuat
medan elektrik pada dielektriknya merata.
Suatu kapasitor plat sejajar mempunyai kapasitansi sebesar:

^=
C

eoey'

-?

(farad)

9.2

Dalam hal ini: eo adalah permeabilitas udara (farad/m); e. adalah permeabilitas relatif
dielektrik; A adalah luas plat 1m2;; dan s adalah tebal dielektrik (m).
Kapasitor akan menyimpan daya sebesar:

,/
P

v2

2r

C=

\:

(+)

2r

eo

e,A

9.3

Kerapatan daya, yaitu daya persatuan volume kapasitor adalah:

p=E2rrJxoe,

9.4

Dengan cara yang sama, diperoleh energi yang tersimpan pada kapasitor
tesansan searah

v:

o,
w = vzc = 0,5(#)'
+
"o ".

jika diberi
9.s

Kerapatan energi, yaitu energi persatuan volume kapasitor adalah:

wl = 0,5 rt r,
"o
dan energi yang tinggi diperoleh jika

Kerapatan daya
dan beroperasi pada kuat medan elektrik yang tinggi.

9.6

konstanta dielektrik e, tinggi,

J'

t
*

i
GAMBAR 9.5
Kapasitor plat sejajar

Bab

Kapasitor Tegangan lrnggi

179

Tegangan mula dan kuat medan kapasitor plat sejajar tanpa perata kapasitansi

Pada kapasitor plat sejajar sederhana seperri diperlihatkan pada Gambar 9.5,
cenderung terjadi peluahan luncur pada pinggir elektrodanya, meskipun tegangan masih
relatif rendah. Jika peluahan ini berlangsung lama, maka dielektrik berangsur-angsur
rusak. oleh karena itu, tegangan operasional kapasitor harus lebih rendah daripada
tegangan awal terjadinya peluahan. Jika kapasitor diberi tegangan bolak-balik, maka
tegangan awal peluahan V" dapat diperoleh dengan pendekatan, yaitu;
V"

='tls

9.'7

Dengan demikian kuat medan yang menyebabkan peluahan pada dielektrik adalah:

-V"Ir!3

I
f;

i
I

9.8

Hubungan ketebalan dielektrik (s) dengan pengurangan tegangan awal peluahan


(%) diperlihatkan pada Gambar 9.6. Agar peluahan sebagian tidak rerjadi, kuat
medan operasional E harus lebih rendah daripada kuat medan awal E". Kuat medan
operasional yang tinggi dapat dicapai jika medan pinggir dikendalikan. Medan pinggir
dapat dikendalikan dengan memperbesar jari-jari kelengkungan pinggir elektroda atau
dengan mempertipis lapisan dielektrik. Tetapi, perlu diingat bahwa penggunaan lapisan
dielektrik yang tipis membuat tegangan kerja kapasitor semakin rendah.
contoh kapasitor plat sejajar yang menggunakan perata kuat medan elektrik pada
pinggir elektrodanya adalah kapasitor keramik seperti diperlihatkan pada Gambar 9.7.

Elektroda

I
I

Penampang kapasitor keramik

180

Peralatan Tegangan linggi

Pinggir elektroda dibuat berbentuk lekukan dan menonjol. Kapasitor seperti ini
dapat digunakan untuk rangkaian frekuensi tinggi bertegangan sampai dengan l0 kV.
Dielektrik yang digunakan adalah campuran khusus titanium dioksida, permitivitas
relatifnya s, = 30 - 80. Faktor disipasi titanium dioksida menurun dengan naiknya
frekuensi. Pada frekuensi di atas 1,0 MHz, tg 6 < 10-3 dan kekuatan dielektriknya
Ea = 100 - 200 kVicm. Lapisan elektroda dibuat dengan menyemprotkan logam ke
permukaan dielektrik. Sambungan-sambungan disolder dengan halus. Pada kapasitor
jenis ini, medan pinggir mempengaruhi nilai kapasitansi efektif kapasitor.

s.4

ii

KAPASITilfi GUTUNG
Untuk memperoleh suatu kapasitor yang mampu memikul tegangan tinggi dan memiliki
kapasitansi yang besar, digunakan lembaran dielektrik tipis dan luas permukaannya besar.
Tetapi, jika tebal dielektrik semakin tipis, tekanan medan elektrik pada dielektrik semakin
tinggi, sehingga kapasitor membutuhkan bahan dielektrik yang kekuatan dielektriknya
tinggi. Jika luas permukaan dielektrik besar dan digelar mendatar, kapasitor akan membutuhkan ruang yang besar. Agar dimensi kapasitor kecil atau tidak membutuhkan ruang
yang besar, maka lembaran elektroda dan dielektriknya digulung dengan ketat. Hal ini
dapat dilakukan jika elektroda dan dielektrik terbuat dari bahan yang sangat tipis dan
mudah digulung. Umumnya, bahan elektroda dibuat dari foil aluminium, dan dielektrik
dibuat dari beberapa lapis bahan dielektrik yang sangat tipis.

Pada Gambar 9.8 diperlihatkan suatu gulungan sel kapasitor berbentuk plat.
Elektroda kapasitor jenis ini biasanya terbuat dari foil aluminium yang tebalnya kurang
lebih 10 g,m. Karena akan digulung, maka dibutuhkan minimal dua lembar dielektrik.
Letak foil dan dielektrik disusun berselang-seling seperti diperlihatkan pada Gambar
9.8. Dengan cara seperti ini, luas efektif elektroda dapat mencapai beberapa meter
kuadrat. Terminal dibuat dengan cara menyusun foil elektroda sedemikian, sehingga
tepi elektroda yang satu tidak tumpang-tindih dengan tepi elektroda yang lain. Cara
lain adalah menyisipkan terminal di antara foil elektroda dengan dielektrik. Letak kedua
terminal itu dibuat berseberangan dan jarak kedua terminal dibuat sejauh mungkin.
Tegangan operasi satu ssl kapasitor gulung terbatas karena dielektriknya tipis.
Maka, untuk memperoleh kapasitor yang tegangan kerjanya lebih tinggi, beberapa
sel kapasitor gulung disusun bertindih kemudian sel-sel kapasitor dihubungkan seri.
Susunan seperti diperlihatkan pada Gambar 9.94, dilakukan pada sel kapasitor gulung
berbentuk datar, sedangkan susunan seperti diperlihatkan pada Gambar 9.9b, dilakukan
pada sel kapasitor gulung berbentuk silinder.

t
.i

{6
f;

Keterangan:

1dan2= Foil aluminium


3 dan 4 = Foil kertas isolasi

Kapasitor gulung berbentuk plat

Bab

Kapasitor Tegangan Tinggi

181

I
2
3

Keterangan:
l. Sel kapasitor
2. Isolasi

3.
4.

(a) Kapasitor gulung plat

Konektor
Terminal

(b) Kapasitor gulung silinder

Sambungan seri eksternal kapasitor gulung

Sambungan seri internal kapasitor gulung

Agar tinggi tumpukan kapasitor gulung silinder tidak terlalu besar, maka dilakukan
hubungan seri internal di samping hubungan eksternal. Untuk tujuan ini, beberapa
foil elektroda disisipkan sekaligus menjadi penghubung ke elektroda yang lain seperti
diperlihatkan pada Gambar 9. 10. Hanya foil elektroda yang pertama dan yang terakhir
yang nampak dan berperan sebagai terminal.

qfi

ffiAr,JtAtu$Ahi SUATLJ KAPASITilffi GiJLUhi$

Kapasitansi ffiu$ungan
Parameter elektroda dan dielektrik suatu kapasitor gulung diperlihatkan pada Gambar 9.1 1.

Misalkan tebal dielektrik adalah s dan lebar foil logam yang tumpang-tindih adalah B.
Karena digulung, maka kapasitansi yang diperoleh menjadi dua kali lipat. Jika panjang
seluruh foil logam adalah L, maka besarnya kapasitansi yang diperoleh adalah:

C=2eoe,

BL
.s

9.9

Jarak tepi b dibutuhkan untuk mencegah terjadinya lewat denyar (flashover), biasanya

dibuat5-10mm.

182

Peralatan Tegangan llnggi

Sambungan seri internal kapasitor gulung

Media !rnpregnasi Dielektrik


Jenis dielektrik kertas yang digunakan untuk suatu sel kapasitor, umumnya adalah
isolasi kertas-impregnasi. Bahan impregnasi dapat berupa minyak mineral atau cairan
sintetis. Kekuatan dielektrik minyak mineral lebih tinggi, tetapi memiliki kelemahan
seperti disebutkan di bawah ini:

l.
2.
3.
4.
5.

Konstanta dielektriknya rendah.

Distribusi tegangan tidak seragam.

Minyak mineral mudah teroksidasi, dan hasil oksidasinya berupa asam, air

dan

lumpur halus.
Mudah disusupi rongga udara. Pada tegangan tertentu, pada rongga udara akan
terjadi peluahan listrik yang menghasilkan hidrogen dan molekul hidrokarbon
berbobot rendah.
Mudah terbakar, sehingga membutuhkan alat pencegah kebakaran. Penambahan

alat ini menambah biaya pembuatan kapasitor.


Dengan menggunakan bahan cairan sintetis, dimensi kapasitor semakin kecil karena:

1.
2.

Konstanta dielektrik cairan sintetis relatif lebih tinggi.


Cairan sintetis sulit disusupi rongga udara sehingga peristiwa peluahan pada rongga
udara tidak membatasi tegangan operasinya. Dengan demikian, kapasitor dapat
dioperasikan pada tegangan yang lebih tinggi.

Jenis bahan impregnasi yang digunakan pada suatu kapasitor bergantung kepada
penggunaan kapasitor. Berikut ini akan dibahas jenis-jenis bahan impreganasi yang
digunakan pada berbagai jenis kapasitor.
Kapasitor pembagi tegangan dan kapasitor gandeng selalu diusahakan beroperasi
pada temperatur yang rendah. Temperatur kerja kapasitor tergantung pada kapasitansi,
sedangkan kapasitansi tergantung pada jenis dielektrik. Dielektrik yang lebih disukai
untuk kapasitor temperatur rendah adalah kertas yang diimpregnasi dengan minyak
mineral. Dengan cara ini dapat diperoleh e, = 4,2 dan tg 6 < 0,27o. Jika tegangan
awal peluahan terlewati dan berlangsung dalam waktu yang lama, maka bahan ini akan
melembut (terbentuk X-wax) dan tembus listrik akan terjadi pada tepi elektroda.
Untuk kapasitor daya digunakan dielektrik kertas atau kertas-foil yang diimpregnasi
dengan askarel (chlorinated diphenyl). Kertas yang diimpregnasi dengan askarel, menghasilkan dielektrik yang permitivitas relatifnyd , = 5,5. Dengan demikian, kapasitor
yang menggunakan jenis dielektrik ini, memiliki kerapatan daya yang besar. Bahan

Bab

Kapasitor Tegangan I rnggi

183

impregnasi askarel dapat dioperasikan pada kuat medan yang sedikit lebih tinggi,
sehingga tegangan kapasitor dapat ditinggikan. Hal ini akan meningkatkan kerapatan
daya kapasitor. Peningkatan permitivitas dan tegangan operasi kapasitor memberi
kesimpulan: kerapatan daya pada dielektrik kertas-askarel jauh lebih besar daripada
kerapatan daya pada dielektrik kertas-minyak, sedangkan faktor disipasinya hampir
sama. Walaupun demikian, pemakaian askarel dapat menimbulkan asam hidroklorik
yang berbahaya pada pinggir logam, sehingga kapasitor harus beroperasi pada tegangan
di bawah tegangan awal peluahan. Selain askarel, masih ada media impregnasi lain
(misalnya, isoprop,-lbiphery;l), yang lebih baik ditinjau dari sudut pandang lingkungan.
Dengan menggunakan bahan ini, diperoleh dielektrik yang permitivitas relatifnya lebih
rendah (e, = 2,1). tetapi dapat beroperasi pada kuat medan elektrik yang lebih tinggi.
Kapasitor impuls membutuhkan kerapatan energi yang tinggi dan ditolerir bekerja
pada tegangan di atas tegangan aival peluahan. asalkan tegangan itu berlangsung
dalam waktu yang singkat. Bahan impregnasi pada kapasitor ini dapat berupa minyak
mineral. Selain daripada minyak mineral, kastroli dapat juga digunakan sebagai bahan
impregnasi. Bahan impregnasi kastroli membuat permeabilitas relatif kertas mencapai e,
= 5. Meskipun faktor disipasinya tinggi, hampir 17o,hal ini tidak begitu mengganggu.
Dalam hal khusus, gas secara teknis dapat dipakai sebagai media impregnasi, yakni

jika digunakan fllm plastik. Sebagai contoh, dengan film polyetilen dapat diperoleh
rugi-rugi dieletrik yang rendah tg 6 < l0-a dan e. = 10.

Kuat Medan pada Kapasitor


Besaran elekrik yang paling penting pada suatu kapasitor tegangan tinggi adalah kuat
medan elektrik ketika kapasitor beroperasi, sebab kerapatan daya dan energi sebanding
dengan kuadrat kuat medan elektrik tersebut. Kuat medan elektrik pada suatu kapasitor
ada batasnya, karena medan elektrik yang beriangsung lama akan menimbulkan penuaan
pada bahan dielektrik. Di samping itu, medan elektrik dapat juga menimbulkan peluahan
sebagian pada dielektrik. Untuk tegangan bolak-balik, kuat medan elektrik dibatasi oleh
tegangan awal peluahan. Tegangan awal peluahan susunan dielektrik kertas-minyak
mineral pada tekanan p = I bar, adalah:

vr=

\0.5

,, (+)

(dalam kV untuk s dalam cm)

9.10

Jika suatu kapasitor menggunakan 5 lapis dielektrik kertas-minyak, tebal masingmasing lapisan adalah l0 pcm dan e, = 4,2,maka menurut Persamaan 9.10, tegangan
awal peluahan kapasitor adalah V" = 1 kV. Oleh karena itu, batas operasi kuat medan
yang aman berada di bawah 20 Y lp,m. Pengalaman menunjukkan bahwa tegangan awal
peluahan dielektrik kertas-askarel sedikit lebih tinggi daripada tegangan awal peluahan
dielektrik kertas-minyak.
Pada kapasitor yang bekerja pada tegangan tinggi searah, unjuk-kerja kapasitor
hampir tidak dipengaruhi efek medan pinggir. Dalam pengujian tegangan tinggi searah,
perhatian terfokus pada tegangan tembus kritis gulungan, bukan terhadap tegangan awal
peluahan. Pengamatan menunjukkan bahwa untuk ketebalan dielektrik s tertentu, kekuatan
dielektrik (E ) meningkat tajam jika dielektrik menggunakan lapisan kertas yang lebih
tipis. Peningkatan kekuatan dielektrik ini adalah akibat berkurangnya peluang titik lemah,
karena semakin tipis kertasnya semakin banyak jumlah lapisan yang dibutuhkan. Pada
Tabel 9.1 pada halaman 184 diperlihatkan pengaruh jumlah lapisan terhadap kekuatan
dielektrik kertas-askarel, jika diuji dengan tegangan searah. Kerapatan kertas yang diuji
adalah 1,2 glcm3, sedangkan tebalnya 10 - 60 p,m.

184

Peralatan Tegangan Tinggi

Pengaruh Jumlah Lapisan Terhadap Kekuatan Dielektrik

Jumlah Lapisan

Er(Ylp.m)

100

170

230

Kertas dielektrik diusahakan setipis mungkin. Pada saat ini kertas dielektrik
untuk kapasitor sudah dapat dibuat setebal 6 pm. Tetapi, jika kertas semakin tipis,
biaya pembuatan kertas semakin mahal. Oleh karena itu, perlu dilakukan kompromi
antara pemilihan ketebalan kerlas dengan biaya pembuatan kertas, agar diperoleh biaya
pengadaan kertas yang optimum.
Kuat medan efektif yang dapat diterima pada suatu kapasitor bergantung kepada
keperluan kapasitor dan jenis dielektrik yang digunakan pada kapasitor tersebut. Pada
Tabel 9.2 diperlihatkan kuat medan efektif yang dapat diterima untuk berbagai jenis

kapasitor dan dielektrik.

Kuat Medan Efektif Berbagai Jenis Kapasitor dan Dielektrik


Jenis Kapasitor

Dielektrik

E (Ylp.m)

Kertas diimpregnasi askarel

15-20

Kertas foil diimpregnasi askarel

35-40

Kapasitor Gandeng dan Pengukuran AC

Kertas diimpregnasi minyak mineral

10

Kapasitor Perata (DC)

Kertas diimpregnasi minyak mineral

Kapasitor Daya AC

80

t5

100

ffiancangan Kapasltor Impuls


Pelepasan muatan yang tiba-tiba pada suatu kapasitor tegangan tinggi, menimbulkan
tekanan mekanik yang tinggi pada gulungan dan sambungannya. Hal ini harus diperhitungkan khususnya pada kapasitor impuls, tetapi juga untuk kapasitor tegangan
searah dan bolak-balik yang dalam praktik dapat mengalami lewat denyar eksternal.
Pada Gambar 9.12 diperlihatkan gaya elektrostatik dan gaya elektromagnet yang terjadi
pada suatu kapasitor. Gaya elektrostatik pada permukaan kapasitor (F1) dapat dihitung
dengan persamaan energi:

<--

F<_

(a)

Gaya mekanik listrik dalam kapasitor gulung

Bab

Kapasitor Tegangan lrnggi

185

Nilai sesaat tegangan dan arus kapasitor

r, =*@ot,Ey

9.11

, maka diperoleh F1 = 10s N/m2 = I


Fr mula-mula akan dipikul gulungan,
tekanan
tiba-tiba,
peluahan
bar. Seandainya terjadi
berosilasi, maka tekanan yang
peluahan
Bila
tiba-tiba.
dengan
kemudian menghilang
frekuensi peluahan, akibatnya
kali
dua
frekuensi
juga
dengan
akan berosilasi
terjadi
logam dan lembaranpada
elektroda
yang
kuat
bolak-balik
timbul tekanan mekanik
Jika dimisalkan E =T5Ylptmdan e, = 4,2

lembaran isolasi.
Gaya elektromagnetik yang diperlihatkan dalam Gambar 9.12b adalah hal yang
sangat penting diperhitungkan. Konstruksi penghubung antar gulungan harus memiliki
kualitas dan kekuatan mekanis yang tinggi agar mampu memikul gaya elektromagnetik
tersebut. Arus peluahan i akan menimbulkan medan magnet. Kuat medan magnet ini
harus diusahakan seminimum mungkin, yaitu dengan membuat arah arus pada setiap
gulungan foil sama dengan arah aksial.
Nilai sesaat tegangan (v) dan arus (l) pada suatu kapasitor impuls yang sedang
bekerja melepaskan muatannya diperlihatkan pada Gambar 9.13. Tekanan elektrik yang
ditrasilkannya dinyatakan oleh faktor osilasi ft. Umur suatu kapasitor impuls dinyatakan
dalam frekuensi pengoperasian kapasitor membuang muatan. Kapasitor impuls untuk
eksperimen fisika, biasanya dirancang memiliki umur sekitar N = 10.000 peluahan
pada faktor k = 0,8. Jika kuat medan operasional sebuah kapasitor semakin tinggi (k
semakin besar), maka umur kapasitor akan semakin pendek' Penurunan kuat medan
operasional dari k -- 0,8 menjadi k = 0,5, dapat menaikkan umur kapasitor menjadi
empat kali lebih lama. Nilai umum kuat medan operasional kapasitor impuls sama
dengan kapasitor tegangan searah, yaitu E = 80 - 100 V/mm.

9.6

JEI\lIS KUNSTRUKSI UNIT KAPASITfiffi


Kapasitor daya umumnya terbuat dari kumparan gulungan plat yang dipress dalam
bentut paket-paket kubus, dan ditutup rapat oleh pembungkus logam. Cara ini menjamin
perpindahan panas yang baik pada kapasitor. Dinding pembungkus logam memiliki
efek membran, sehingga pemuaian bahan pengisi kapasitor tidak menimbulkan tekanan
pada dielektrik. Karena kapasitor daya umumnya bertegangan menengah dan berkutub

t
186

Peralatan Tegangan I rnggi

Keterangan:
1. Bushing porselen
2. Tangki baja
3. Kapasitor gulung plat
4. Isolasi kertas atau papan tekan
5. Konduktor pipih

Konstruksi kapasitor daya

y*g terletak di antara gulungan


dengan badan, semuanya dapat ditata dengan baik. Gambar 9. 14 memperlihatkan contoh

dua, maka penghubung antar terminal, dan isolasi

konstruksi kapasitor daya.


Kapasitor gandeng dan juga kapasitor pembagi tegangan kapasitif, dirancang untuk
tegangan 110 kV ke atas, tetapi karena kapasitas dayanya rendah maka persoalan panas
tidak menjadi masalah, sehingga gulungan dapat ditempatkan dalam bejana porselen.
Pada Gambar 9.15 diperlihatkan contoh konstruksi sebuah kapasitor gandeng. Gulungan
plat yang diperlihatkan pada gambar dapat juga diganti dengan gulungan silindris yang
dihubungkan seri secara internal. Dielektrik tidak boleh berhubungan dengan udara luar,
oleh karena itu bejana kapasitor harus tertutup rapat. Untuk mengantisipasi timbulnya
pengembangan dielektrik ketika kapasitor beroperasi, maka pada bagian atas bejana
kapasitor dipasang bantalan gas atau puputan.
Kapasitor impuls harus memiliki induktansi yang rendah, baik induktansi yang
terjadi dalam gulungan maupun yang terdapat pada ujung terminalnya. Agar induktansi
kapasitor rendah, maka terminal dibuat dari konduktor pita atau konduktor koaksial dan
panjang konduktor dibuat seminimum mungkin. Kapasitor untuk generator tegangan
impuls di atas 200 kV konstruksinya dibungkus dengan bahan isolasi. Sebagai contoh,
pada Gambar 9.16 diperlihatkan konstruksi sebuah kapasitor impuls. Perbedaannya dengan
kapasitor daya adalah dalam hal pemakaian konduktor penghubung. Pada kapasitor ini,

terminal tegangan tinggi dibuat berupa konduktor pita sedangkan terminal tegangan
rendahnya adalah tangki kapasitor itu sendiri.

9"7

STKERINfi KAPASITOR BANK


Telah dijelaskan sebelumnya, bahwa kapasitor bank dibentuk dari beberapa unit kapasitor

satu fasa. Mula-mula beberapa unit kapasitor dihubungkan paralel membentuk satu
kelompok kapasitor. Kemudian beberapa kelompok kapasitor dihubungkan seri membentuk kapasitor bank satu fasa. Selanjutnya, tiga kapasitor bank satu fasa dihubungkan
bintang atau delta, untuk memperoleh kapasitor bank tiga fasa. Untuk lebih jelasnya,
contoh susunan kapasitor bank diperlihatkan pada Gambar 9.17.

:t,

Bab

Kapasitor Tegangan lrnggi

Keterangan:
1. Terminal
2. Bejana porselen
3. Kapasitor gulung plat
4. Gips penekan
5. Bushing terminal

187

Keterangan:
1. Terminal berbentuk pita
2. Bushing
3. Tangki baja
4. Kapasitor gulun_e plat
5. Isolasi kenas atau papan-tekan

tegangan rendah

Konstruksi kapasitor gandeng

Konstruksi kapasitor impuls

Kapasitor bank dilengkapi dengan sekering untuk memutuskan arus jika terjadi
hubung singkat atau kerusakan pada satu unit kapasitor. Sekering dapat dipasang
pada rangkaian eksternal seperti diperlihatkan pada Gambar 9.lla. Dengan cara ini,
sekering akan memisahkan unit kapasitor yang rusak dari kapasitor bank, sehingga
tidak menimbulkan kerusakan pada unit kapasitor yang lain, dan unit-unit kapasitor
yang tidak rusak tetap bekerja. Tetapi, ada dua masalah yang dihadapi dengan cara
s

I
t

! -.2
i "'-"'1"...l";

r-f-,vSekering
E+t+t 44il
_L_L-t iii
AA,A
,}_C_O
r--r-' AAA
#
a

Bank

Kapasitor;
per

Fasa

i
i

\i

hhB _Llt
hhh tEEEI
_Lii
i_L _L l:
AAA
AAA
.'f

KelomRok
l(np2sit61

Sekering

'--t
i

!ru iia
)+ )+

_t+

Unit Kapasitor
(a) Sekering eksternal

Sekering pada kapasitor bank

(b) Sekering intemal

188

Peralatan Tegangan Tinggi

ini: Pertama, meskipun yang rusak hanya satu sel kapasitor, yang dipisahkan dari
kapasitor bank adalah satu unit kapasitor. Pemisahan satu unit kapasitor menyebabkan
perubahan kapasitansi kapasitor bank yang signifikan, sehingga tegangan kapasitor bank
tidak setimbang. Kedua, jika kapasitor dipasang di ruangan terbuka, maka polusi dapat
menimbulkan deteriorasi pada sekering. Untuk mengatasi kedua masalah ini, sekering
dipasang pada rangkaian internal unit kapasitor seperti diperlihatkan pada Gambar 9. 17b.
Dalam hal ini, jika terjadi kerusakan pada satu sel kapasitor, maka hanya sel kapasitor
tersebut yang dipisahkan dari kapasitor bank, sehingga perubahan nilai kapasitansi
kapasitor bank tidak sebesar caru yar,g pertama. Kelemahannya adalah bahwa cara ini
membutuhkan lebih banyak sekering.
Adakalanya kapasitor bank tidak dilengkapi dengan sekering. Dalam hal ini
beberapa unit kapasitor dihubungkan seri membentuk satu rantai kapasitor. Kemudian,
beberapa rantai kapasitor dihubungkan paralel membentuk kapasitor bank satu fasa
seperti diperlihatkan pada Gambar 9.18.
Jika satu unit kapasitor rusak atau terhubung singkat, kenaikan arus pada rangkaian
luar kapasitor bank tidak signifikan, sehingga kapasitor bank tetap dapat beroperasi.
Keuntungan lain yang dimiliki kapasitor tanpa sekering dibandingkan dengan kapasitor
bank yang dilengkapi sekering eksternal, adalah:

.
.
.
.

Dilihat dari luar instalasinya lebih sederhana dan kompak.


Biaya instalasinya lebih murah.
Peluang bagi binatang atau material eksternal untuk menghubung-singkatkan
konduktor penghubung unit-unit kapasitor sangat kecil.
Tidak membutuhkan ruang untuk sekering.

Kelemahan kapasitor tanpa sekering adalah:

Unit kapasitor yang rusak harus diganti dengan unit kapasitor yang spesifikasi dan
dimensinya sama, sehingga harus selalu ada cadangan unit kapasitor yang persis

.
.

sama dengan aslinya.

Menemukan unit kapasitor yang rusak dan menggantinya dengan kapasitor baru,
memerlukan waktu yang lebih lama.
Jika terjadi arus ke tanah akibat ketidaksetimbangan kapasitansi masing-masing
fasa, relai arus tanah bekerja memisahkan kapasitor bank dari sistem, dan hubung

m
,^,A,A

ffi
r-ru
ffi
ffi

,A,A,A

A,A,A,A,A,A,A,^,A

Kapasitor bank per-fasa tanpa sekering

,^AA

Bab

Kapasitor Tegangan

Tinggi

189

singkat antara bushing atau bagian internal kapasitor bank dengan tangki membuat
sistem mengalami gangguan hubung singkat fasa-ke-tanah, dan mengakibatkan
pemutus daya membuka.

S"S

KilNM}5I ilPIRASI KAPASITilH


Umumnya, kapasitor dapat beroperasi kontinu melebihi spesifikasi nominal kapasitor,
tetapi dengan batas seperti diperlihatkan pada Tabel 9.3.

Batas Tertinggi Operasi Kapasitor

Batas Tertinggi (7o)


Jenis Operasi

Nominal

Tegangan puncak

t20

Efektif

110

Tegangan

Daya Reaktif

135

Arus

180

Jika kapasitor bank ditempatkan pada lokasi terbuka, maka temperatur di sekitar
kapasitor sama dengan temperatur udara dan temperatur itu tidak dapat dikendalikan.
Di samping itu, kapasitor akan diterpa angin dan sinar matahari. Ada beberapa hal yang
berpengaruh terhadap temperatur sekitar dan temperatur operasi suatu kapasitor, yaitu:

.
.
.

Radiasi matahari dan sumber panas lain di sekitar kapasitor.


Keluaran daya reaktif, karena keluaran daya reaktif sebanding dengan rugi-rugi
pada kapasitor.
Jarak antar kapasitor, karena pendinginan bergantung kepada luas ruang di antara
suatu kapasitor dengan kapasitor yang lain.

Dalam pengoperasian suatu kapasitor, faktor-faktor berikut ini perlu diperhatikan, yaitu:

.
.
.
o
.
.

Temperatur udara di sekitar kapasitor harus di bawah ambang batas.


Ketinggian lokasi kapasitor tidak lebih daripada 1800 m di atas permukaan laut.
Tegangan antara terminai dengan dinding bejana atau tangki kapasitor tidak melebihi
tegangan yang ditetapkan untuk kelas isolasinya.
Tegangan operasi tidak mengandung harmonisa; frekuensi tegangan operasi sama
dengan frekuensi nominal.
Temperatur sekitar tidak melebihi ambang batas maksimum, dan ada-tidaknya
tekanan pada kapasitor akibat radiasi panas yang bersumber dari benda-benda di
sekitarnya.

Asap, debu dan getaran mekanis yang mungkin menerpa unit-unit kapasitor.

Untuk memperpanjang umur suatu kapasitor bank, dilakukan cara sebagai berikut:

.
.
.

Susunan unit-unit kapasitor harus memiliki jalan bagi sirkulasi udara.


Menempatkan kapasitor di kawasan temperatur rendah.
Mendinginkan kapasitor dengan udara paksa.

190

Peralatan Tegangan Tinggi

9.9

SPESIFIKASI KAPASITOR
Spesifikasi utama suatu kapasitor yang perlu diketahui adalah:

.
.

Tegangan nominal
adalah tegangan pengenal unit kapasitor. Umumnya 230; 460; 575;2400; 4160;
6900;7200;7910; 12.000; dan 13.800 volt.

Daya nominal
Daya reaktif pengenal unit kapasitor atau kapasitor bank dinyatakan dalam kVAR.
Umumnya 50, 100, 150, 200, 300, dan 400kVAR per unit. Jika bekerja di bawah
atau di atas tegangan nominal, maka daya reaktif yang dihasilkan kapasitor menjadi:
Daya reaktif = Daya no*in^t

Tegangan kerja \'


, ( '"g"rs"^
Tegangan ,a**"li

Frekuensi
Frekuensi kapasitor untuk perbaikan faktor daya adalah 50 atau 60 Hz. Daya
reaktif kapasitor berbanding lurus dengan frekuensi sistem. Jika kapasitor bekerja
di luar frekuensi nominal, maka daya reaktifnya adalah:
Daya reaktif = Daya nominal

/ Frekuensi keria \
(ffi,
"

Temperatur sekitar maksimum


Temperatur rata-rata udara di luar kapasitor yang tertinggi dalam satu hari. Biasanya
antara (40 - 46) 'C, bergantung kepada cara pemasangannya.

Level tegangan impuls


Adalah ketahanan suatu kapasitor memikul tegangan lebih impuls. Besarnya level
tegangan impuls ditetapkan menurut standar yang dianut.

Resistor peluahan
Terminal unit kapasitor dihubungkan dengan suatu resistor untuk membuang muatan
kapasitor jika kapasitor tidak bekerja. Besar tahanan resistor harus sedemikian,
sehingga ketika kapasitor dilepaskan dari jaringan, tidak lebih daripada 5 menit
kemudian, tegangan pada terminal turun menjadi 50 V. Untuk kapasitor hingga
600 V waktu peluahan tidak lebih satu menit.

Ketahanan tegangan lebih frekuensi daya


Adalah tegangan lebih frekuensi daya yang dapat dipikul kapasitor dalam waktu
singkat. Suatu kapasitor diharapkan mampu memikul tegangan lebih 1,3 pu selama
satu menit dan kapasitor tidak rusak jika mengalami tegangan seperti itu sebanyak

300 kali.

Arus lebih transien


Ketika suatu kapasitor dienergisasi atau dire-energisasi, pada kapasitor mengalir
arus lebih transien. Kemampuan suatu kapasitor memikul arus lebih transien,
bergantung kepada probabilitas peristiwa arus lebih transien tersebut dalam setahun.
Jika peristiwa arus lebih transien diperkirakan 4000 kali dalam setahun, maka arus
lebih transien yang diizinkan adalah 400 pu.

Arus bocor
Adalah arus yang mengalir dari gulungan kapasitor ke badan bejana kapasitor.

Faktor rugi-rugi
adalah faktor yang menyatakan besarnya rugi-rugi dielektrik pada sistem isolasi
kapasitor.

ttr

Bab

9.10

Kapasitor Tegangan

Trnggi

191

PENGUJIAN KAPASITOR
Sama halnya dengan peralatan tegangan tinggi sebelumnya, kapasitor juga mengalami
pengujian tegangan tinggi. Pengujian tegangan tinggi dilakukan sesuai dengan standar
yang dianut. Jenis pengujian yang dilakukan terhadap suatu kapasitor adalah: uji jenis,
uji rutin dan uji lapangan.

Uji Jenis
Pengujian dilakukan terhadap sejumlah sampel dari satu jenis kapasitor untuk melihat
kesesuaiannya dengan standar. Item yang sudah diujikan terhadap satu jenis kapasitor,

tidak diulang kembali. Pengujian yang dilakukan pada uji jenis adalah:

Pengujian ketahanan tegangan impuls


Dalam hal ini, tegangan pengujian diaplikasikan antara terminal dengan badan
kapasitor.

Pengujian bushing
Jika tegangan impuls standar diterapkan tiga kali, dan pada bushing tidak terjadi
lewat denyar, maka bushing dinyatakan lulus uji. Jika terjadi peristiwa lewat
denyar, maka pengujian dilakukan lagi seperti sebelumnya. Jika pada pengujian
tahap kedua ini tidak terjadi lervat denyar pada bushing, maka bushing dinyatakan
lulus uji.
Pengujian stabilitas termal
Suatu kapasitor dinyatakan stabil, jika temperatur badan tangki kapasitor hampir
konstan, bervariasi hanya +3 oC, selama kapasitor bekerja 24 jam.

Pengujian radio influence voltage (RIV)


Pengujian dilakukan pada tegangan ll5Vo tegangan nominal pada temperatur
kamar. Ketika pengujian dilakukan, bushing harus bersih dan kering. Jika frekuensi
tegangan pengujian dibuat I MHz, RIV tidak melebihi 250 mV.

Pengujian peluruhan tegangan


Dalam pengujian ini, kapasitor dimuati dengan tegangan searah sebesar puncak
tegangan nominal. Ketika kapasitor dire-energisasi, waktu yang dibutuhkan hingga
tegangan sisa turun menjadi 50 V tidak lebih I menit untuk kapasitor < 600 V

dan tidak lebih daripada 5 menit untuk kapasitor

>

600 V.

Pengujian peluahan hubung singkat


Pengujian ini dilakukan untuk memverifikasi integritas konduktor-konduktor penghubung yang terdapat di dalam kapasitor.

Uji Rutin
Uji rutin dilakukan pabrikan terhadap setiap kapasitor yang baru diproduksi. Sebelum
pengujian dilakukan, kapasitor dibersihkan terlebih dahulu. Uji rutin dilakukan pada
temperatur (25 t 5) 'C. Pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pengujian tegangan lebih waktu singkat


Tiap kapasitor harus mampu memikul tegangan lebih frekuensi daya sebesar dua
kali tegangan nominal selama 10 sekon atau tegangan searah sebesar 4,3 kali
tegangan nominal.

192

Peralatan Tegangan llnggi

Pengujian terminal-ke-badan bejana


Pengujian ini dilakukan pada kapasitor dengan dua terminal. Tidak dilakukan pada
kapasitor yang memanfaatkan badan bejananya menjadi salah satu terminal.

Pengujian kapasitansi
Pengujian ini dilakukan pada setiap unit kapasitor untuk menunjukkan bahwa
keluaran daya reaktif kapasitor tidak lebih dari 1107o daya reaktif nominal ketika
kapasitor diberi tegangan dan frekuensi nominal.
Pengujian kebocoran
Pengujian ini dilakukan untuk meyakinkan kapasitor telah bebas dari kebocoran.
Artinya, lipatan-lipatan elemen dielektrik dan rongga-rongga yang sudah diisi,
semuanya sudah tertutup dengan rapat.

Pengujian resistor peluahan


Pengujian ini dilakukan dengan mengenergisasi kapasitor hingga tegangannya
sama dengan t/2 t"gungun efektif nominal. Kemudian kapasitor dire-energisasi,
sedemikian hingga tegangan kapasitor harus turun dari menjadi 50 V dalam batas
waktu yang telah ditetapkan.
Pengukuran rugi-rugi dielektrik
Dilakukan untuk menunjukkan bahwa rugi-rugi dielektrik kapasitor tidak melebihi
rugi-rugi yang ditetapkan pada spesifikasi kapasitor.

Pengujian sekering
Pengujian dilakukan pada kapasitor yang dilengkapi sekering internal. Kapasitor
dienergisasi dengan tegangan searah hingga tegangannya sama dengan 1,7 tegangan
efektif nominal. Kemudian kapasitor dire-energisasi, dengan menghubung-singkatkan
terminal tanpa melalui impedansi. Selisih kapasitansi kapasitor setelah pengujian
dengan kapasitansi sebelum pengujian, harus lebih rendah daripada nilai kapasitansi

kapasitor yang terpisah

jika

satu sekering internal beroperasi.

LJji E-apamgmn
Setelah pemasangan suatu kapasitor selesai, dan sebelum kapasitor dienergisasi, diadakan

lagi pengujian di lapangan. Tujuan pengujian ini adalah untuk meyakinkan bahwa
spesifikasi kapasitor tidak berubah walaupun kapasitor telah mengalami goncangan selama
dalam pengangkutan dan pemasangan. Pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Pengukuran kapasitansi
Pengukuran dilakukan dengan kapasitansi-meter, pada tegangan beberapa persen
daripada tegangan nominal. Jika kapasitansi kapasitor nalk l0Vo, itu adalah pertanda
adanya sel atau unit kapasitor yang rusak.

Pengujian energisasi tegangan rendah


Dilakukan untuk mengukur reaktansi kapasitif kapasitor pada tegangan rendah.
Kapasitor diberi tegangan +120 Y dan pada saat yang bersamaan diukur arus yang
mengalir pada kapasitor. Dengan menggunakan data arus dan tegangan tersebut,
reaktansi kapasitif dapat dihitung.

Pengujian kekuatan isolasi


Pengujian dilakukan dengan tegangan tinggi sesuai dengan standar yang dianut.

ffimtu

ruffi

Yrmfrm Dayffi

rafo daya memiliki peranan sangat penting dalam sistem tenaga listrik. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya, bahwa transmisi sistem tenaga listrik harus bertegangan tinggi
agar rugi-rugi daya tidak melebihi rugi-rugi yang diinginkan. Maka, dibutuhkan
trafo daya untuk menyalurkan daya dari generator bertegangan menengah ke transmisi
bertegangan tinggi; dan untuk menyalurkan daya dari transmisi bertegangan tinggi ke
jaringan distribusi. Kebutuhan trafo daya bertegangan tinggi dan berkapasitas besar,
menimbulkan persoalan dalam perencanaan isolasi, ukuran dan bobotnya.

Dalam bab ini, dibahas hal-hal terkait isolasi trafo daya, seperti: bahan dan
susunan isolasi; perataan distribusi tegangan pada kumparan trafo; metode pendinginan;

dan pengujian isolasi trafo. Untuk melihat peran isolasi pada suatu trafo daya, perlu
dipahami lebih dahulu prinsip kerja dari suatu trafo daya.

1fi"

rffiIruS

$THJA TffiAFil ilAYA

Pada Gambar 10. 1 diperlihatkan konstruksi umum suatu trafo daya.

Keterangan:
1. Kumparan tegangan

tinggi
2. Kumparan tegangan

rendah
3.

Intl

4. Minyak isolasi
5. Tangki baja
6. Bushing tegangan
rendah
7

. Bushing tegangan

tinggi

123
(a) Kumparan piring

Konstruksi trafo

(b) Kumparan silinder

rF
194

Peralatan Tegangan

rnggi

Terlihat bahwa bagian utama suatu trafo adalah inti, dua set atau lebih kumparan,
dan isolasi. Inti trafo terbuat dari lembaran-lembaran baja silikon yang satu dengan
lainnya diisolasi dengan pernis. Kumparan terbuat dari bahan tembaga. Kumparan yang
dihubungkan ke sumber energi disebut kumparan primer, sedangkan kumparan yang
dihubungkan ke beban disebut kumparan sekunder. Bahan isolasi trafo tersusun dari
kombinasi bahan dielektrik cair dengan dielektrik padat.
Jika kumparan primer dihubungkan ke sumber tegangan bolak balik, sementara
kumparan sekunder dalam keadaan tidak dibebani, maka di kumparan primer mengalir
arus yang disebut dengan arus beban nol (1n). Arus ini akan membangkitkan fluks bolakbalik pada inti. Fluks bolak-balik ini dilingkupi oleh kumparan primer dan kumparan
sekunder, sehingga pada kedua kumparan timbul gaya gerak listrik yang besarnya:

E, = 4,44

/N,

(volt)

10.1

Ez=4,44fNr$(volt)

t0.2

Pada persamaan di atas: E, adalah gaya gerak listrik pada kumparan primer; {
adalah gaya gerak listrik pada kumparan sekunder; N, adalah jumlah belitan kumparan
primer; N, adalah jumlah belitan kumparan sekunder; f adalah frekuensi tegangan
sumber dalam Hz; dan @ adalah fluks magnetik pada inti dalam weber.

Jika kumparan sekunder dibebani, maka pada kumparan tersebut mengalir

arus

sekunder (1r). Arus sekunder akan menimbulkan fluks pada inti trafo yang berlawanan
dengan fluks yang ditimbulkan arus 1r. Dengan kata lain, arus sekunder menimbulkan
demagnetisasi pada inti trafo. Untuk mengimbanginya, maka arus di kumparan primer
harus bertambah menjadi 1,, hingga dipenuhi:

N,

1o=Ntlt-N2

12

10.3

Gaya gerak listrik yang dibangkitkan pada kumparan menimbulkan medan elektrik
yang kuat pada isolasi kumparan, teristimewa pada isolasi di sekitar belitan kumparan
tegangan tinggi. Arus yang mengalir pada pada kumparan akan menimbulkan rugi-rugi
tembaga (i2r). Fluks pada inti akan menimbulkan rugi-rugi arus eddy dan rugi-rugi
histeresis, dan jumlah kedua rugi-rugi ini disebut rugi-rugi inti. Pemanasan karena rugirugi tembaga dan rugi-rugi inti akan menaikkan temperatur isolasi trafo. Di samping itu,
arus pada kumparan juga menimbulkan gaya mekanik, dan ketika dialin arus hubung
singkat, gaya ini menimbulkan tekanan yang berat pada isolasi. Oleh karena itu, sistem
isolasi harus memiliki syarat sebagai berikut: kekuatan dielektrik harus melebihi kuat
medan elektrik tertinggi yang ditemukan pada komponen trafo; sanggup memikul gaya
mekanis yang ditimbulkan arus hubung singkat; dan dapat mendisipasikan panas yang
terjadi pada trafo ke medium sekitar dengan baik.

10.2

SUSUNAN DAN PENYAMBUNGAN KUMPAHAN


Ketika terjadi hubung singkat pada transmisi, kumparan trafo daya yang menyalurkan
energi listrik ke transmisi tersebut akan dialiri arus yang tinggi. Arus tinggi ini
menimbulkan gaya elektromekanik pada kumparan-kumparan trafo daya, sehingga
isolasi kumparan-kumparan mengalami tekanan mekanik. Kumparan tegangan tinggi
trafo daya juga membangkitkan kuat medan elektrik yang menimbulkan tekanan elektrik
pada bahan isolasi. Di samping tekanan elektrik dan tekanan mekanik, isolasi juga
mengalami tekanan termal, karena adanya rugi-rugi panas pada inti dan kumparan

Bab

10

195

Trafo Daya

trafo. Oleh karena itu, isolasi trafo daya harus disusun dan dihubungkan sedemikian
rupa, sehingga mampu memikul tekanan mekanik, tekanan elektrik dan tekanan termal.

Jenis Susunan Kumparan


Kumparan primer dengan kumparan sekunder suatu trafo daya harus bergandengan
erat secara magnetik. Kumparan dapat dibuat berbentuk piringan (disc winding) dan
dibelitkan satu poros pada suatu inti (Gambar 10. la) atau berbentuk silindris (cylindrical
winding) dan dibelitkan pada semua kaki inti (Gambar 10.10). Kumparan-kumparan
disusun simetris, agar ketika mengalirkan arus hubung singkat, gaya elektromagnetik
yang terjadi merata pada setiap belitan. Trafo tegangan tinggi umumnya menggunakan
kumparan silindris, karena biaya isolasinya lebih murah.
Belitan tegangan tinggi dapat dibuat dari beberapa elemen kumparan yang semuanya
terhubung seri. Elemen-elemen kumparan tersebut dapat disusun bertindih (Gambar
10.2a), atau berlapis (Gambar 10.2b). Kumparan tegangan tinggi membutuhkan jarak
bebas yang lebih besar, baik untuk pengisolasian kumparan ke gandar, maupun untuk
pengisolasian satu kumparan dengan kumparan lainnya.

Penyambungan Kumparan Bertindih


Pada susunan kumparan bertindih, ukuran setiap elemen kumparan dibuat sama. Elemen-

elemen kumparan dihubungkan secara seri oleh konduktor penghubung. Setiap elemen
kumparan dihubungkan dengan elemen kumparan lainnya, dengan hubungan bersilang
atau hubungan berurut. Kedua cara itu diperlihatkan pada Gambar 10.3.
Pada hubungan silang (Gambar 10.3a), konduktor penghubung melintasi ruang
yang terdapat di antara satu elemen kumparan dengan elemen kumparan berikutnya
sehingga menimbulkan masalah khusus bagi isolasi; tetapi beda tegangan antara dua
elemen kumparan yang berjarak sama dari sumbu inti adalah sama (AV, = LV,).
Pada hubungan berurut (Gambar 10.3b), tidak ada masalah isolasi karena kehadiran
konduktor penghubung, karena penghubung elemen-elemen kumparan tidak melalui ruang
di antara elemen-elemen kumparan. Tetapi, yang menjadi masalah adalah perbedaan
tegangan antara dua titik pada kumparan berdekatan yang berjarak sama dari sumbu
inti. Jika jumlah unit kumparan dimisalkan 5 unit dan tegangan kerja semua kumparan
adalah 1,0 pu, maka tegangan satu elemen kumparan adalah 0,2 pu. Beda potensial
antara titik a pada elemen kumparan paling atas dengan titik b pada elemen kumparan
di bawahnya (kedua titik berjarak r, dari sumbu inti) adalah LVou= g. Beda potensial

BXffiflH
BXSXSSH

-l
MI

Kumparan

<.-|

'

Kumparan

silinder

ffi

Btrffi

ffiffi

ffiffiffi
Bffi ffi

ffiffi
ffiffi

mi
-t

E#6}XH

rdrir
ws,ffi[x]fls

rffi

Inti <----------------J
(a) Kumparan bertindih

Susunan kumparan tegangan tinggi

H*fl

HffiJI

ffiBA
*I*ffi kffi
[]sfl Eig#q

piring

tffii

ffiffiffi

Ew

<(b) Kumparan berlapis

HSH

lffi$

196

Peralatan Tegangan llnggi

1,0 pu

l0 ,8 pu

AV

0,8 pu

'f
fj

0,8 pu

AY

,6 pu

0,8 pu

0,4 pu

0,6 pu

0,4 pu
!

0,2 pu

0,4 pu
0,2 pu

0,4 pu

Konduktor

Konduktor

penghubung

f"

,i-r__)i

penghubung

o,o pu

-1-+

(b) Hubungan berurut

(a) Hubungan siiang

Cara penyambungan elemen kumparan

antara titik c pada elemen kumparan paling atas dengan titik d pada elemen kumparan
di bawahnya (kedua titik berjarak rrdat', sumbu inti) adalah LV"r=0,4 pu. Jadi, beda
potensial di antara satu titik pada suatu kumparan yang berjarak r dari sumbu inti
dengan satu titik pada kumparan berdekatan yang juga berjarak r dari sumbu inti,
bervariasi dari nol sampai dua kali tegangan satu elemen kumparan.

Berbeda dengan hubungan silang, satu elemen kumparan pada hubungan berurut

tidak dapat dibelitkan berkesinambungan, tetapi harus dihubungkan satu persatu.


Jika luas penampang konduktor cukup besar, maka satu elemen kumparan dibuat
dari satu konduktor tunggal. Elemen kumparan yang seperti ini disebut elemen kumparan
belitan tunggal. Jarak elemen kumparan dari inti (radius penampang kumparan) dibuat
bervariasi, sedemikian besarnya, sehingga satu elemen kumparan melingkupi elemen
kumparan yang lain. Penyambungan antar elemen kumparan untuk kasus ini dapat
dilakukan seperti diperlihatkan pada Gambar 10.4. Ketiga cara penyambungan pada
Gambar 10.4 memungkinkan elemen-elemen kumparan berkesinambungan tanpa solderan.

Kumparan
Primer

Kumparan
Sekunder

Kumparan

Kumparan

Kumparan
Sekunder

Primer

Primer

Kumparan
Sekunder

+
I

'7

4l

.5

10t

11

15 14 t3 12

t8

--/---9 20
21

Inti
(a)

(.b)

Penyambungan elemen kumparan belitan tunggal

(c)

Bab

10

Trafo Daya

197

Fenyambungan Elerfieru Kurnparan *erlapis


Pada Gambar 10.5 diperlihatkan tiga cara penyambungan elemen-elemen kumparan
tegangan tinggi. Dilihat dari arah belitan, susunan elemen-elemen kumparan tegangan
tinggi suatu trafo daya dibagi atas dua jenis, yaitu:

1.
2.

Arah belitan berlawanan (Gambar 10.5a). Dalam hal ini, arah belitan dua elemen
kumparan yang berdampingan dibuat berlawanan, sehingga arah gaya gerak listrik
pada kedua elemen kumparan tersebut menjadi berlawanan.
Arah belitan sama (Gambar 10.5b dan 10.5c). Dalam hal ini, arah belitan semua
elemen kumparan dibuat sama, sehingga arah gaya gerak listrik pada setiap elemen
kumparan sama. Untuk jenis arah belitan sama, ada dua cara penyambungan, yaitu
hubungan internal dan hubungan eksternal.

Perbedaan ketiga cara penyambungan di atas terletak pada panjang konduktor


penyambung. Konduktor penyambung terpendek dijumpai pada jenis arah belitan
berlawanan (Gambar 10.5a) dan kemudian konduktor penyambung pada kumparan arah
belitan sama-hubungan intemal. Pada kumparan arah belitan sama-sambungan internal

(Gambar 10.5b), konduktor penyambung melewati ruang di antara elemen-elemen


kumparan. Hal seperti ini kurang baik. Maka, konduktor penyambung dilewatkan dari
luar elemen kumparan (hubungan eksternal) seperti diperlihatkan pada Gambar 10.5c.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah beda tegangan di antara dua elemen
kumparan yang berdampingan. Untuk jenis arah belitan berlawanan, beda tegangan antara
elemen kumparan berdampingan menjadi berlipat ganda, yaitu pada titik sambungan
yang arah gaya gerak listriknya berlawanan arah, misalnya V.u dan V,rpada Gambar
10.5a.

ISfi LASI KiJ|\fl PAHAI\I

1CI.3

T[fiANfiAf\ TI[\lGGi

Konstruksi isolasi trafo daya, khususnya trafo daya bertegangan tinggi, adalah sangat
rumit. Masing-masing komponen transformer, yaitu belitan, elemen kumparan tegangan

---*

= Arah GGL

-*

=Arah GGL

-*-*
(a)

Arah belitan
berlawanan

(D) Arah belitan samasambungan intemal

Penyambungan elemen kumparan berlapis

(c)

=Arah GGL
Arah belitan samasambungan extemal

198

Peralatan Tegangan linggi

tinggi dan kumparan tegangan rendah harus diisolasi satu sama lain; elemen kumparan
diisolasi juga terhadap inti dan gandar dibumikan. Dengan demikian isolasi trafo daya
dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu:

l.
2.

3.

Isolasi minor, yaitu isolasi yang memisahkan satu belitan dengan belitan lain
dalam satu elemen kumparan.
Isolasi mayor, yaitu isolasi yang memisahkan kumparan tegangan tinggi dengan
bagian yang bertegangan rendah. Isolasi ini terbagi lagi atas isolasi utama. yang
memisahkan kumparan tegangan tinggi dengan kumparan tegangan rendah; dan
isolasi gandar, yang memisahkan belitan tegangan tinggi dengan gandar.
Isolasi fasa, yaitu isolasi antara kumparan tegangan tinggi dengan kumparan
tegangan tinggi yang lain pada trafo tiga fasa.

Isolasi mayor, isolasi minor dan isolasi fasa, ketiganya disebut isolasi kumparan
tegangan tinggi. Penamaan ini diberikan karena kumparan tegangan tinggi merupakan
elektroda yang harus diisolasi terhadap bagian-bagian trafo yang bertegangan rendah.
Bahan isolasi yang utama digunakan, baik untuk isolasi mayor maupun isolasi minor,
adalah minyak trafo dikombinasikan dengan dielektrik padat.

Dielektrik Padat lsolasi Kumparan Tegangan Tinggi


Dielektrik padat yang biasa digunakan pada trafo daya adalah papan-tekan, bakelit,
kertas, kain pita dan minyak-kertas. Sifat isolasi minyak-kertas lebih baik daripada
jenis isolasi yang lain, khususnya untuk trafo daya pengenal besar dan bertegangan
tinggi. Untuk instalasi tegangan menengah dan pasangan dalam, biasanya digunakan
trafo isolasi epoksi resin, dengan demikian resiko terbakar karena kerusakan pada trafo
semakin kecil.
Dilihat dari fungsinya, dielektrik padat pada trafo daya dibedakan atas tiga jenis.
yaitu sebagai: pembungkus, lapisan isolasi dan partisi.
Pembungkus adalah dielektrik yang membungkus suatu lilitan dalam satu elemen
kumparan. Pembungkus terbuat dari dielektrik padat tipis, tebal keseluruhannya tidak
lebih daripada I - 2 mm, biasanya terbuat dari bahan kertas atau isolasi pernis.
Pembungkus melekat sangat rapat pada permukaan konduktor kumparan dan tidak
merubah intensitas medan elektrik pada sekeliling konduktor kumparan. Penggunaan
pembungkus efektif jika medan agak uniform. Pembungkus akan merintangi partikel
menempel pada konduktor, hal ini mencegah pembentukan jembatan konduktif pada
frekuensi daya terutama pada kasus minyak dikotori oleh serat dan kelembaban.
Jika elemen kumparan dibentuk dari konduktor berpenampang kecil (hanya beberapa
mm2), maka digunakan kawat atau batang tembaga yang dibungkus dengan pemis.
Jika kumparan membutuhkan konduktor yang luas penampangnya lebih besar, maka
dipilih konduktor segi empat yang dibungkus dengan kertas. Kumparan yang akan
dialiri arus yang besar, dibentuk dari konduktor yang sudah dipernis; dan dibungkus
dengan dielektrik kertas berbentuk pita yang tebalnya 0,02 - 0,2 mm, dan dibelitkan
semi-bertindih.
Lapisan isolasi lebih tebal daripada pembungkus (dapat mencapai 10 mm) untuk
mereduksi intensitas medan elektrik di sekitar elektroda yang dilapisi isolasi tersebut.
Berlawanan dengan pembungkus, lapisan isolasi digunakan pada medan elektrik yang
sangat tidak seragam, sehingga keberadaannya akan meratakan distribusi tegangan
elektrik. Bahan lapisan isolasi adalah kertas-tekan atau kertas-lembut yang disusun
sedemikian, hingga memiliki alur untuk aliran minyak penukar panas. Tekanan elektrik
bolak-balik 50 Hz pada minyak dalam alur diizinkan antara 50 - 100 kV/cm. Pemakaian

Bab

10

Trafo Daya

199

kertas-keras untuk tegangan tinggi harus dihindarkan. Jika memungkinkan,


dipergunakan

kertas-tekan yang memiliki kekuatan mekanis dan kekuatan dielektrik


yang tinggi.
Dimensi dielektrik ketas diperhitungkan sehingga tembus listrik sementara
pada minyak.
tidak mengurangi kekuatan dielektrik minyak hingga di bawah batas yang ditentukan.
Partisi pada trafo daya dibuat dari papan-tekan-elektrik, diolah dari kertas
bakelit
dan dibentuk menjadi plat, silinder, dan bentuk lain yang lebih rumit. partisi
dipasang
pada kawasan medan tidak seragam, tetapi dampak keberadaannya
berbeda.
Pada medan elekrrik yang sangat tidak seragam, partisi dari dielektrik padat
memainkan peranan yang sama dengan partisi yang berada dalam suatu
sela susunan
elektroda jarum-piring. oeh karena itu, partisi harus ditempatkan di daerah
di mana
medan elektrik maksimum. Adanya partisi tipis dalam minyak dapat
menambah tegangan
tembus minyak pada 50 Hz menjadi dua kali lipat. Tetapi keberadaan partisi,
akan
menimbulkan ionisasi pada daerah dengan medan elektrik tertinggi, ketika tegangan
masih di bawah tegangan tembus minyak. Ionisasi yang berlangrrrg L-u
tidak diizinkan
karena hal itu tidak hanya menguraikan minyak tupi
;rgu b".urigrr.-ungsur merusak
parlisi. oleh karena itu metoda ini hanya dapat digunaku, ,rtrk tenaiklan
tegangan
tembus minyak pada kasus tegangan yang berlangsung dalam waktu
singkat. paaa
Gambar 10.6 diperlihatkan efek partisi terhadup t"gurgun tembus minyak
di antara
elektroda jarum-piring.
Dimensi partisi harus besar agar tidak terjadi peluahan pada pinggir parlisi.
Dalam

praktiknya, dimensi partisi yang digunakan pada trafo rrarus set<ecit


mungkin tetapi
dibentuk sedemikian hingga membuat medan elektrik lebih rata daripada yang

dapat

diterima. Pada medan yang seragam, fungsi utama partisi adalah mencegah
terbentuknya
jembatan konduktif dalam minyak. oleh karena iiu,
efek partisi dalam minyak murni
tidak banyak, tapi berguna jika minyak bercampur dengan serat. Dalam hal
ini, partisi
akan beraktivitas sebagai pencegah terbentuknya jembatan konduktif
dalam minyak.
Semua efek partisi yang diutarakan di atas berlaku jika tebal panisi jauh
lebih kecil
daripada panjang sela elektroda. Jika partisi terlalu tebal, maka kuat
medan elektrik
dalam minyak akan bertambah besar, karena permitivitas minyak lebih
rendah daripada
permitivitas dielektrik padat. Meski demikian, partisi tidak dapat dibuat
terlalu tipis agar

V.

r,e"t

2007o

S=100mm

Keterangan:

Vn =tegangan tembus tanpa partisi

=jarak elektrodajarum dengan panisi

Efek partisi terhadap tegangan tembus

V.s

= tegangan tembus dengan partisi


= panjang sela elektroda utama

200

Peralatan Tegangan

rnggi

kekuatan mekanisnya tetap memadai. Di samping itu, pembentukan jembatan konduktif,


meski dalam waktu singkat, akan membuat sebagian besar tegangan dikenakan pada
partisi. Maka, kekuatan dielektrik partisi harus cukup tinggi. Kekuatan dielektrik partisi
dapat diperbesar dengan menambah tebal partisi, biasanya dibuat 4 - 9 mm.
Dielektrik padat pada trafo sering hanya berfungsi sebagai pemikul beban mekanis.

Peluahan permukaan dapat terjadi pada minyak di sepanjang permukaan dielektrik


padat. Tegangan lewat denyar pada permukaan dielektrik padat yang berada dalam
minyak tergantung kepada bentuk medan elektrik, karena bentuk medan elektrik akan
menentukan komponen tangensial dan komponen normal medan elektrik. Jika komponen
tangensial rendah, maka kemungkinan terjadinya peluahan permukaan semakin kecil.

Mlinyak Trafo
Minyak isolasi pada sutau trafo daya harus memiliki daya hantar panas yang baik agar
dapat membawa panas yang terjadi pada inti dan kumparan ke medium sekitamya.
Kekuatan dielektrik sistem isolasi dan umur suatu trafo bergantung sepenuhnya pada
kualitas minyak isolasi. Oleh karena itu, minyak isolasi yang digunakan pada suatu
trafo harus memenuhi syarat-syarat di bawah ini:

.
.
.
.
.
.

.
.

Mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi.


Mempunyai daya hantar panas yang baik.
Mempunyai berat jenis yang rendah. Jika berat jenis minyak rendah, maka partikelpartikel yang melayang di dalam minyak akan segera mengendap pada dasar tangki.
Ha1 ini sangat membantu dalam mempertahankan homogenitas minyak.
Memiliki kekentalan yang rendah. Minyak yang encer lebih mudah dialirkan atau
bersirkulasi, sehingga mendinginkan trafo lebih baik.
Memiliki titik tuang rendah. Minyak dengan titik tuang yang rendah akan berhenti
mengalir pada temperatur yang rendah.
Mempunyai titik nyala yang tinggi. Karakteristik titik nyala mempengaruhi penguapan minyak. Jika titik nyala minyak rendah, maka minyak mudah menguap.
Ketika minyak menguap, volumenya berkurang, minyak semakin kental dan reaksi
dengan udara di atas permukaan minyak membentuk bahan yang dapat meledak.

Tidak merusak material isolasi dan material lain trafo.


Unsur kimianya harus stabil agar usia pemakaiannya panjang.

Menurut SPLN 49-1-1982, spesiflkasi minyak isolasi baru adalah seperti diberikan
pada Lampiran 5, sedangkan spesifikasi minyak isolasi yang sudah pernah dipakai
diberikan pada Lampiran 6.
Biasanya, setelah suatu trafo beroperasi dalam waktu lama, akan terjadi pengasaman
pada minyak isolasinya. Asam yang terjadi pada minyak cenderung mengakibatkan isolasi
kumparan rapuh dan mudah retak, terutama ketika dikenai tekanan mekanik yang terjadi
ketika kumparan dialiri arus hubung singkat. Tingkat keasaman yang tinggi sering ditandai
dari bau yang menyengat. Pengasaman dalam minyak diikuti dengan pembentukan
lumpur yang dapat menyumbat lorong-lorong pendingin, sehingga pembuangan panas
terhambat dan temperatur minyak meninggi. Hal ini dapat mengakibatkan tembus listrik
termal. Oleh karena itu, tingkat keasaman minyak trafo perlu diperiksa secara teratur,
minimal sekali dalam setahun.
Tingkat keasaman dinyatakan dari hasil pengujian beberapa sampel. Ukuran yang
digunakan adalah banyaknya potasium hidroksida yang dibutuhkan untuk menetralkan
keasaman 1 gram sampel. Jika tingkat keasaman mencapai 0,5, minyak harus dikondisikan

200

Peralatan Tegangan Tinggi

kekuatan mekanisnya tetap memadai. Di samping itu, pembentukan jembatan konduktif,


meski dalam waktu singkat, akan membuat sebagian besar tegangan dikenakan pada
partisi. Maka, kekuatan dielektrik partisi harus cukup tinggi. Kekuatan dielektrik partisi
dapat diperbesar dengan menambah tebal partisi, biasanya dibuat 4 - 9 mm.
Dielektrik padat pada trafo sering hanya berfungsi sebagai pemikul beban mekanis.

Peluahan permukaan dapat terjadi pada minyak di sepanjang permukaan dielektrik


padat. Tegangan lewat denyar pada permukaan dielektrik padat yang berada dalam
minyak tergantung kepada bentuk medan elektrik, karena bentuk medan elektrik akan
menentukan komponen tangensial dan komponen normal medan elektrik. Jika komponen
tangensial rendah, maka kemungkinan terjadinya peluahan permukaan semakin kecil.

MIf;*yak T'rmfo
Minyak isolasi pada sutau trafo daya harus memiliki daya hantar panas yang baik agar
dapat membawa panas yang terjadi pada inti dan kumparan ke medium sekitarnya.
Kekuatan dielektrik sistem isolasi dan umur suatu trafo bergantung sepenuhnya pada
kualitas minyak isolasi. Oleh karena itu, minyak isolasi yang digunakan pada suatu
trafo harus memenuhi syarat-syarat di bawah ini:

.
.
.
.
.
.

.
.

Mempunyai kekuatan dielektrik yang tinggi.


Mempunyai daya hantar panas yang baik.
Mempunyai berat jenis yang rendah. Jika berat jenis minyak rendah, maka partikelpartikel yang melayang di dalam minyak akan segera mengendap pada dasar tangki.
Hal ini sangat membantu dalam mempertahankan homogenitas minyak.
Memiliki kekentalan yang rendah. Minyak yang encer lebih mudah dialirkan atau
bersirkulasi, sehingga mendinginkan trafo lebih baik.
Memiliki titik tuang rendah. Minyak dengan titik tuang yang rendah akan berhenti
mengalir pada temperatur yang rendah.
Mempunyai titik nyala yang tinggi. Karakteristik titik nyala mempengaruhi penguapan minyak. Jika titik nyala minyak rendah, maka minyak mudah menguap.
Ketika minyak menguap, volumenya berkurang, minyak semakin kental dan reaksi
dengan udara di atas permukaan minyak membentuk bahan yang dapat meledak.

Tidak merusak material isolasi dan material lain trafo.


Unsur kimianya harus stabil agar usia pemakaiannya panjang.

Menurut SPLN 49-1-1982, spesifikasi minyak isolasi baru adalah seperti diberikan
pada Lampiran 5, sedangkan spesifikasi minyak isolasi yang sudah pernah dipakai
diberikan pada Lampiran 6.
Biasanya, setelah suatu trafo beroperasi dalam waktu lama, akan terjadi pengasaman
pada minyak isolasinya. Asam yang terjadi pada minyak cenderung mengakibatkan isolasi
kumparan rapuh dan mudah retak, terutama ketika dikenai tekanan mekanik yang terjadi
ketika kumparan dialiri arus hubung singkat. Tingkat keasaman yang tinggi sering ditandai
dari bau yang menyengat. Pengasaman dalam minyak diikuti dengan pembentukan
lumpur yang dapat menyumbat lorong-lorong pendingin, sehingga pembuangan panas
terhambat dan temperatur minyak meninggi. Hal ini dapat mengakibatkan tembus listrik
termal. Oleh karena itu, tingkat keasaman minyak trafo perlu diperiksa secara teratur,
minimal sekali dalam setahun.
Tingkat keasaman dinyatakan dari hasil pengujian beberapa sampel. Ukuran yang
digunakan adalah banyaknya potasium hidroksida yang dibutuhkan untuk menetralkan
keasaman 1 gram sampel. Jika tingkat keasaman mencapai 0,5, minyak harus dikondisikan

Bab

10

201

Trafo Daya

seperti semula atau diganti. Sementara itu, trafo daya tidak dibolehkan memikul beban
Iebih; tingkat keasaman minyak isolasi trafo diperiksa setiap bulan; dan jika perlu, inti
serta kumparan diangkat untuk melihat ada-tidaknya endapan lumpur pada inti dan
kumparan. Jika ada endapan lumpur, maka bagian-bagian trafo yang berlumpur harus
dibersihkan dengan minyak bersih yang disemprotkan.
Jika tingkat keasaman mencapai 1,5, trafo daya tidak boleh dioperasikan lagi, dan
minyaknya harus diganti. Inti dan kumparan harus diangkat dan dibersihkan dengan
minyak baru, dan jika perlu dilakukan pembongkaran kumparan. Jika tingkat keasaman
> 4, maka bekas-bekas endapan lumpur pada inti dan kumparan tidak mungkin dibuang,
lebih praktis menggantinya secara keseluruhan.

I*,4

SUSLJhJAN

iS*LASI AfiAY*ffi TffiAFil

MAYA

Isolasi mayor adalah bahan dielektrik yang memisahkan kumparan tegangan tinggi
dengan kumparan tegangan rendah dan gandar. Susunan isolasi mayor trafo daya sampai
tegangan 35 kV diperlihatkan pada Gambar 10.7.
Isolasi di antara kumparan tegangan tinggi dengan kumparan tegangan rendah

merupakan sela minyak yang terbagi-bagi oleh partisi. Kuat medan elektrik tertinggi
terdapat di sudut pinggir atas kumparan tegangan tinggi. Oleh karena itu, dimensi tabung
isolasi (2) dan isolasi gandar (6) harus memadai agar tidak terjadi peluahan pada sudut
pinggir tersebut. Dimensi isolasi mayor trafo daya dapat dilihat pada Tabel 10.1.
Pada tegangan yang lebih tinggi medan elektrik pada sudut pinggir atas kumparan
tegangan tinggi semakin besar, sehingga konstruksi isolasi pada sudut pinggir atas
kumparan semakin rumit. Pada Gambar 10.8 diperlihatkan susunan isolasi trafo daya
tegangan di atas 35 kV. Di antara kumparan tegangan tinggi (3) dan tegangan rendah
(4) terdapat tabung isolasi kertas-tekan (2), yang membagi minyak menjadi beberapa

bagian, sehingga dalam minyak tidak terbentuk jembatan konduktif, yang dapat
menghubung-singkatkan kumparan tegangan tinggi dengan kumparan tegangan rendah.
Untuk mencegah terjadinya peluahan dari sudut ujung kumparan trafo menerobos
minyak, maka digunakan cincin bersudut (7). Semakin tinggi tegangan nominal trafo
semakin banyak tabung isolasi dan cincin bersudut yang digunakan, sehingga konstruksi
isolasi trafo menjadi lebih rumit.
Sebuah elektroda cincin (8) ditempatkan di tiap kumparan untuk menyeragamkan
medan elektrik di kawasan ujung kumparan. Elektroda ini disebut cincin perata. Tegangan

Dimensi lsolasi Mayor Trafo Daya


Jarak ke inti
(4, mm)

Jarak ke gandar
(8, mm)

Jumlah silinder
dan tebal (mm)

Uji tegangan

Kumparan

3-6

8-10

I x2,5

25

l0

to-t2

20-25
25-30
70-80

1x3
1x5

35

Kelas Tegangan

KVms

35

2'1-30

110

5'7

6',7

110

2x6

200

150

95-10

180

275

220

130

260

3x6
4x6

85

400

202

r5
6

7
8

Keterangan:

Keterangan:

l.
2.
3.
4.
5.
6.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Inti
Tabung isolasi
Kumparan tegangan tinggi
Kumparan tegangan rendah

Gandar
Isolasi gandar

Susunan isolasi trafo daya 35 kV

Inti
Tabung isolasi
Kumparan tegangan tinggi
Kumparan tegangan rendah

Gandar
Isolasi gandar
Cincin bersudut

Cincin perata tegangan

Susunan isolasi trafo daya di atas 35 kV

pada satu cincin perata sama dengan tegangan lilitan terakhir kumparan yang dinaungi
cincin tersebut. Satu cincin perata harus terisolasi dari cincin perata yang lain, agar tidak
terjadi hubung singkat antar kumparan. Cincin perata dibalut dengan kertas-lembut.
Kumparan dan tabung isolasi diikat secara mekanis oleh cincin bersudut (7) dan
balok pengantara (6). Bahan cincin bersudut adalah kertas-tekan. Agar sirkulasi minyak
tetap terjamin, maka bahan-bahan ini disusun dengan jarak yang tepat.

10.5

DISTRIBUSI TEGANGAN PADA BELITAN


Panjang konduktor pembentuk kumparan tegangan tinggi trafo daya dapat mencapai
ribuan meter. Karena kumparan dibelitkan pada inti besi yang dibumikan, maka terdapat
kapasitansi antara kumparan dengan tanah (C"), induktansi sendiri (L) dan induktansi
bersama antara dua belitan yang berdampingan (M.Di samping itu, terdapat kapasitansi
yang dibentuk satu belitan dengan belitan lain (C). Jika terminal trafo dihubungkan
secara tiba-tiba ke suatu sumber tegangan, maka pada kumparan tegangan tinggi akan
timbul gelombang berjalan seperti halnya pada transmisi panjang. Jika suatu tegangan
impuls diberikan pada terminal-terminal trafo, maka akan terjadi osilasi tegangan yang
dapat menimbulkan tekanan elektrik yang tinggi pada lokasi tertentu dalam kumparan.
Tekanan elektrik yang tinggi tidak diizinkan terjadi pada isolasi suatu kumparan.
Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian yang intensif untuk menentukan distribusi
tegangan di sepanjang konduktor yang membentuk suatu kumparan trafo. Berikut ini
akan diberikan perkiraan distribusi tegangan awal dan metode meratakan distribusi
tegangan pada kumparan tegangan tinggi trafo daya.

Bab

10

Trafo Daya

203

Perkiraan Distribusi Tegangan Awatr


Rangkaian ekuivalen satu elemen pendek kumparan adalah seperti diperlihatkan pada
Gambar 10.9. Analisa gelombang berjalan pada rangkaian seperti Gambar 10.9 sangat
rumit. Oleh karena itu, untuk menghitung distribusi tegangan pada suatu kumparan,
rangkaian ekuivalen pada Gambar 10.9 disederhanakan dengan mengabaikan induktansi
sendiri dan induktansi bersama. Dengan demikian, rangkaian ekuivalen kumparan
tegangan tinggi trafo daya menjadi seperti diperlihatkan pada Gambar 10.10.
Rangkaian ini sangat sederhana namun asumsi ini masih dapat digunakan. Jika
pada terminal kumparan tegangan tinggi diberikan suatu tegangan langkah impuls (Vo),
maka hanya kapasitansi jaringan yang diasumsikan berperan. Jika titik netral dibumikan
(V,= 0), maka distribusi tegangan sepanjang kumparan dapat diturunkan dengan prinsip
perhitungan distribusi tegangan pada isolator rantai yang telah dijelaskan pada sub-bab
8.9 terdahulu, dan hasilnya adalah sebagai berikut:
sinh (n - x) a
sinh no

V,=Vo

r0.4

Jika titik netral terisolasi (tidak dibumikan, 1, = 0), maka distribusi tegangan
sepanjang kumparan adalah:

V =Vo

cosh (r - x) d
cosh na

dalam hal ini

10.5

=\E

10.6

Rangkaian ekuivalen satu elemen pendek kumparan

1_

HH
ttl
tt
L,C

vl

'o

,-T\

C,

/-T\

C.

Rangkaian ekuivalen kumparan trafo

"{ ---------->

t/
V

-5

-t--f-_l_r.
I.]-r
.l-r ",
tl

204

Peralatan Tegangan Tinggi

Misalkan resultan kapasitansi ke tanah C ,", = nC dan resultan kapasitansi bersama


"
"
= Cln . Dengan pemisalan ini diperoleh:
d

=nd

tr-

\i:

10.7

Umumnya nilai 4,", = 0,5 - 10.


Secara teori, distribusi tegangan pada kumparan tegangan tinggi ketika r = 0,
sering disebut distribusi tegangan awal. Distribusi tegangan awal untuk berbagai nilai
d.", sementara titik netral dibumikan adalah seperti diperlihatkan pada Gambar 10.11.
Menurut gambar ini, ketika / = 0, distribusi tegangan sepanjang belitan kumparan
tidak merata, sebagian besar tegangan dipikul oleh beberapa elemen kumparan. Tekanan
elektrik maksimum terdapat pada seksi pertama belitan dan dapat dihitung dengan
pendekatan (sinh a,". = cosh a.",). Dengan pendekatan ini, besarnya tekanan elektrik
maksimum untuk titik netral dibumikan maupun tidak dibumikan adalah:

(!Lr,

).,u,

(%*)* o = -

Seandainya distribusi tegangan merata


tegangan di setiap seksi adalah:

di

r/-vo
v,---ll

o,",

10.8

sepanjang seksi kumparan, maka

10.9

Jika persamaan 10.9 dibandingkan dengan persamaan 10.8, maka dapat disimpulkan
bahwa ketika r = 0, tekanan elektrik pada seksi peftama kumparan naik a,", kali dari nilai
tekanan elektrik setelah mekanisme transien hilang. Jadi, nilai d,"" sangat menentukan
kenaikan tekanan elektrik pada seksi pertama kumparan. Maka, kumparan trafo harus
dirancang sedemikian hingga rasio kapasitansi ke tanah (C") dengan kapasitansi bersama

(C) sekecil mungkin.


Selama berlangsungnya mekanisme transient, penyimpangan distribusi tegangan
awal terhadap distribusi tegangan akhir sangat berpengaruh terhadap tekanan tegangan

t
I

ou

V,

v,

o'q

Distribusi awal dengan titik netral ditanahkan

Bab

'1

Trafo Daya

205

impuls pada kumparan. Meredam osilasi dengan memperbesar resistansi kumparan tidak
dilakukan, karena hal itu akan memperbesar rugi-rugi tembaga trafo. Suatu trafo daya
harus memiliki rugi-rugi yang kecil selama operasi normal. Satu-satunya cara adalah
menghindarkan terjadinya osilasi yang berbahaya. Jika perbedaan distribusi tegangan
awal dengan distribusi tegangan akhir semakin kecil, maka kemungkinan terjadinya
osilasi juga akan semakin kecil.

P*merataail Sistribusl Tegangan


Telah diperlihatkan pada perhitungan di atas bahwa seksi pertama kumparan tegangan
tinggi (terhitung dari terminal input) mengalami tekanan elektrik yang tinggi, melebihi
daripada normalnya. Oleh karena itu, isolasi seksi pertama kumparan dibuat lebih kuat.
Tetapi cara seperti ini harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai mengakibatkan
kapasitansi antar lilitan berkurang. Jika hal ini terjadi, maka d,", akan semakin besar
sehingga distribusi tegangan menjadi semakin tidak merata.
Kelebihan tekanan elektrik dapat juga dikurangi dengan meratakan distribusi
tegangan awal. Konsep pemerataan distribusi tegangan pada kumparan trafo daya analog
dengan pemerataan distribusi tegangan pada isolator rantai, seperti yang dibahas pada
sub-bab 8.9. Pada isolator rantai. pemerataan distribusi tegangan dilakukan dengan
menambah kapasitansi antara terminal tegangan tinggi dengan persambungan dua unit
isolator. Hal seperti itu dapat dilakukan untuk pemerataan distribusi tegangan pada
kumparan tegangan tinggi, yaitu menambah kapasitansi antara seksi kumparan dengan
terminal tegangan tinggi. Konsep penambahan kapasitansi ini diperlihatkan pada Gambar
10.12a. Dalam praktiknya, penambahan kapasitansi ini dilakukan dengan memberi
cincin perata tegangan dan memasang tabir konduktif mengelilingi seksi kumparan,
yang dihubungkan dengan terminal tegangan tinggi, seperti diperlihatkan pada Gambar
10.12b.

Cara kedua untuk meratakan distribusi tegangan awal adalah seperti diperlihatkan
pada Gambar 10.13. Dengan memparalelkan suatu kapasitor dengan kapasitansi antar
belitan, maka kapasitansi total antar belitan (C) semakin besar, sehingga C_. makin kecil,
dan mengakibatkan distribusi tegangan pada kumparan semakin merata. Dalam hal ini,
keberadaan kapasitor tambahan membuat sirkulasi minyak di antara belitan terhalang.
Oleh karena itu, konstruksi isolasi seperti ini digunakan untuk trafo bertegangan nominal
sampai 35 kV saja.

\\

Tabir

konduktif

(a)

Penambahan kapasitansi antara seksi kumparan dengan terminal tegangan tinggi

206

Peralatan Tegangan

rnggi

c..
Kapasitor

c..

(a)

\b)

Pemerataan distribusi tegangan dengan memperbesar kapasitansi antar belitan

Cara yang paling efektif untuk menambah kapasitansi antar belitan adalah dengan
membuat kumparan tegangan tinggi terdiri dari beberapa lapis kumparan silinder

konsentris, di mana kumparan dihubungkan seperti diperlihatkan pada Gambar 10. 14.
Susunan kumparan yang biasa digunakan pada trafo daya bertegangan tinggi adalah
susunan kumparan interleaved yang skemanya diperlihatkan pada Gambar l0.l5a.
Aliran arus pada susunan kumparan ini diperlihatkan pada Gambar 10.150. Susunan
ini bertujuan untuk memperbesar kapasitansi antar belitan.
Suatu kumparan belitan tunggal yang dihubungkan seperti diperlihatkan pada Gambar
10.14, memiliki a.,, = 12; sedangkan dengan susunan interleaved seperti diperlihatkan
pada Gambar 10.15, didapat nilai a,", = 4, bahkan dengan rancangan khusus didapat
d,"" = 2'
Semua metode pemerataan distribusi tegangan di atas tidak membuat distribusi
tegangan benar-benar rata, tetapi dapat menurunkan tegangan lebih pada seksi kumparan
dan membatasi amplitudo osilasi natural yang terjadi pada belitan trafo. Dalam pemilihan
susunan kumparan, perlu diingat bahwa semakin banyak penghubung antar kumparan
yang bersilang, semakin bertambah pekerjaan konstruksi, sehingga biaya pembuatan
trafo semakin mahal.

Keterangan:
1. Belitan tegangan tinggi
2. Belitan tegangan rendah
3. Sumbu belitan

Skema kumparan berlapis konsentris

Bab

Kumparan

Tesansan Tinssi
Sumbu

"1

Inti

i2

i- -j- --r

l:'ll
ry1 Ewi#$;i;l
lri>

he*s#d

--*T
I

z' l+'

l
i

L-_.J-----W1

Y}

rli \

Ei-yffiffi$
;

--.i*-'[#**-r
I.oI

'"--#ltH--r

---.1:ft:l*,r
i
laldl

1_

207

iti

,-l,T

i i* 1*E*-,
,1i=I '-*lz'l-lti_l

iir

'

''-*14', l--I

rEl*r

.-.jllftl--. I --t--] z'kiil


ilil
i '-'Hftr--' I i L-'lo'l---r
!-_ "FFl__:-_
--'_-lrJ-i

i_ _r

Trafo Daya

i----_-l

l*
-*l#61-r I
I

rcl

17',ls'[rq]*ffi3

ru
--[*i3*-j

10

(a)

'

(e)

Susunan kumparan i nterleaved

10.0

MTTODE PENDINGINAN TRAFO DAYA


Jika suatu trafo sedang beroperasi, maka timbul rugi-rugi inti dan tembaga pada trafo,
yang berubah menjadi panas. Minyak pendingin berperan menghantarkan panas yang

terjadi pada inti dan kumparan trafo ke udara bebas. Ada dua bahan pendingin yang
digunakan pada trafo daya, yaitu minyak mineral dan minyak sintetis.
Dilihat dari sirkulasi minyak dalam trafo, metode pendinginan dibagi atas dua
jenis:

l.

Minyak bersirkulasi sendiri. Dalam hal ini, minyak digunakan sebagai media yang

2.

trafo akan menaikkan temperatur minyak, dan akibatnya minyak akan bersirkulasi
secara alami. Ketika minyak bersirkulasi, panas yang timbul pada inti dan kumparan
dibawa ke permukaan tangki trafo.
Minyak bersirkulasi paksa (forced oil). Dalam hal ini, minyak di dalam trafo
bersirkulasi atas bantuan sebuah pompa. Dengan cara ini diperoleh sirkulasi minyak
yang lebih baik dibandingkan dengan cara di atas.

merendam

inti dan kumparan trafo (oil immerseQ.

Panas pada

inti dan belitan

Dilihat dari metode penghantaran panas dari minyak ke udara bebas, pendinginan
trafo dibagi atas tiga jenis, yaitu:

Pendinginan dengan udara alami (air natural cooled)


Dalam hal ini, panas dari permukaan tangki trafo disebarkan ke udara bebas secara
alami. Pada trafo daya yang besar, luas permukaan tangki tidak cukup untuk
menyebarkan panas yang dihasilkan oleh rugi-rugi inti dan tembaga. Oleh karena
itu, permukaan tangki diperbesar dengan menambah radiator.

Pendinginan dengan hembusan udara (air blast cooled)


Dalam hal ini panas pada permukaan radiator disebarkan ke udara terbuka dengan
meniupkan udara ke permukaan radiator. Tiupan udara tersebut diperoleh dari kipas.
Dengan cara ini, untuk daya yang sama, ukuran trafo dapat dikurangi, sehingga
biaya pembuatannya lebih murah. Trafo ini tidak boleh dibebani jika kipas udara
tidak berfungsi.

208

Peralatan Tegangan Tinggi

Pendinginan dengan air (water coolefi


Trafo dilengkapi dengan alat penukar panas berupa pipa-pipa yang di dalamnya
mengalir air pendingin. Keuntungan yang diperoleh dengan metode ini akan lebih
nyata jika air dapat diperoleh tanpa biaya. Kecuali pada pembangkit listrik tenaga
air, metode ini tidak akan menghemat biaya jika masih diperlukan peralatan khusus
untuk penyediaan air dan tempat pembuangan limbah. Trafo jenis ini tidak boleh
dibebani jika pompa aimya tidak berfungsi.

Skema ketiga jenis pendingin di atas diperlihatkan pada Gambar


demikian diperoleh enam jenis pendinginan pada trafo daya, yaitu:

10.

16 Dengan

1.

Minyak bersirkulasi sendiri

2.

Minyak bersirkulasi sendiri - pendingin udara yang dihembuskan (Oil Immersed

3.
4.

Air Blast/OB)
Minyak bersirkulasi sendiri - pendingin air (Oil Immersed Water Cooled/OW).
Minyak bersirkulasi paksa - pendingin udara alami (Forced Oil Natural Air

pendingin udara alami

(Oil

Immersed Natural

Cooled/Olg

5.

6.

CooledlOFM
Minyak bersirkulasi paksa - pendingin udara yang dihembuskan (Forced Oil Air
Blast Cooled/OFB)
Minyak bersirkulasi paksa - pendingin air (Forced Oil Water CooledlOFW)

Jenis pendinginan menentukan biaya dari suatu trafo. Ada kalanya trafo memiliki
dua metode pendinginan seperti ON/OFN atau ON/OB atau ONIOFB atau kadangkadang dengan tiga sistem sepefii ONIOB/OFB. Pemilihan jenis pendinginan yang

digunakan tergantung kepada pembebanan. Ketika trafo berbeban rendah, digunakan


metode pendinginan ON. Bila beban melampaui nilai yang ditentukan, maka kipas atau
pompa dihidupkan. Jika suatu trafo mempunyai lebih daripada satu metode pendinginan,
maka daya pengenal untuk setiap metode pendinginan biasanya dicantumkan pada papan
nama trafo. Contohnya, suatu trafo dengan pendinginan ON/OB,45160 MVA. Hal ini
berarti selama beban dibawah 45 MVA kipas tidak akan bekerja. Kipas akan bekerja
seca-ra automatis ketika beban pada trafo melampaui 45 MVA.
Trafo dengan pendinginan jenis ON sangat menguntungkan, karena lebih sederhana,
tidak menggunakan kipas atau pompa sehingga tidak membutuhkan bantuan motor listrik.
Pada unit yang kecil sampai 10 MVA, penghematan biaya karena perubahan metode

Radiator

Radiator
(a) Pendingin udara alami

Jenis pendinginan trafo

(D) Pendingin udara ditiupkan

(c) Pendingin air

Bab

10

Trafo Daya

209

pendinginan dari jenis ON ke jenis pendinginan lainnya tidak begitu nyata. Tetapi
pada unit yang lebih besar, perubahan jenis pendinginan dari O1l ke jenis pendinginan
yang lain akan menghemat biaya pembuatan dan mengurangi berat dan dimensi trafo,
sehingga pengangkutannya lebih mudah dan biaya pembuatan fondasinya lebih murah.

,Ifl,7

P[&J6UJIAi{ THAFO DAYA


Harga suatu trafo daya tegangan tinggi relatif mahal dibanding dengan harga komponen
lain dalam sistem tenaga listrik. Di samping itu, trafo daya harus memiliki keandalan
yang tinggi agar kesinambungan pelayanan sistem tenaga listrik tetap terjamin. Oleh
karena itu, pengujian trafo daya sebelum terpasang dan sesudah beroperasi mutlak
dilakukan. Pen_eujian trafo daya dibagi atas jenis, yaitu:

.
.
.

Uji rutin
Uji jenis
Uji tambahan

IEC telah mengeluarkan standar pengujian suatu trafo. Dalam standar ini dapat
ditemukan tentang kondisi pengujian, hal-hal yang perlu diuji dan prosedur pelaksanaan.
Secara umum. pengujian rutin trafo meliputi hal-hal sebagai berikut:

.
.
.
.
.
.
.
.

Pengukuran resistansi belitan


Pengukuran rasio, polaritas dan hubungan fasa
Impedansi hubung singkat

Rugi-rugi berbeban
Rugi beban nol dan arus beban nol
Resistansi isolasi
Pengujian ketahanan tegangan lebih dengan induksi
Pengujian ketahanan tegangan lebih dengan sumber terpisah

Pengujian jenis dilakukan untuk rancangan baru suatu trafo atau jika dibutuhkan
oleh pembeli. Pengujian jenis terdiri atas:

.
.

Pengujian ketahanan tegangan impuls


Pengujian kenaikan temperatur

Trafo harus dirancang sedemikian rupa sehingga lulus dari pengujian jenis ketahanan
tegangan impuls. Kelulusan ini menunjukkan bahwa jumlah dan distribusi isolasi telah
tersusun dengan baik, sehingga mampu memikul tekanan elektrik karena tegangan
transien, khususnya isolasi antar belitan. Hal ini sangat penting untuk trafo yang kelas
tegangannya lebih tinggi dan trafo yang kumparannya dilengkapi dengan sadapan.
Adanya keharusan untuk mengadakan pengujian tegangan impuls tidak berpengaruh
kepada penambahan bahan isolasi, tetapi mengharuskan penataan susunan isolasi
kumparan yang mampu memikul tekanan elektrik transien.
Ada kalanya diadakan juga pengujian impuls terpotong, karena setelah trafo beroperasi ada kemungkinan trafo tersebut dikenai tegangan impuls terpotong.
Pengujian tambahan adalah pengukuran impedansi fasa urutan nol dan hal lain
yang dibutuhkan oleh pembeli.
Hasil pengujian dibandingkan dengan gambaran yang telah dikemukakan pabrik.
Jika perbedaan antara hasil pengukuran dengan ketetapan yang dibuat pabrik tidak lebih
besar daripada toleransi yang diizinkan, maka trafo dinyatakan lulus uji.

Lampiran

Lampiran

211

Karakteristik Konduktor
Tembaga dan Aluminium
Tabel

1.1

Ukuran
Konduktor
(circular mil)
r 000 000
900 000
800 000
750 000

Karakteristik Konduktor Tembaga


(Menurut British Standard (BS))

g7,3o/o

Diameter

Kekuatan

Berat

Luar

Patah

(lb/mil)

(in)

0b)

1.151

43 830

16 300

1 300

0.0368

0.06"t2

37

t.092

39 510

14 670

1 220

37

1.092

35 120

13 040

1 130

0.0349
0.0329

JI

0.997

33 400

t2 230

31 1'70
27 020
22 510
21 590

tt4 0

0.0308

978

090
040
940

0.03

0.963

815

840

0,074
0,0826
0.0878
0.0937
0.1086
0.1296

815

840

Jumlah

Pilinan
.1

700 000

Daya
Hantar Arus

GMR

(f0

(A)

Resistansi pada
50"C/50 Hz

(ohm/mil)

600 000

0.891

500 000

0.8 14

500 000

0.81

450 000
400 000
350 000
350 000
300 000

0.17

9 750

7336

780

o.726

7 560

6521

o.679

5 590

s706

730
670

0,0260
0.0256
0.0243
0,0229
0.0214

0.71

5 140

5706

6"to

0.0225

0,1 84

0.629

3 510

4891

6t0

0.0199

0,214

300 000

0.657

3 170

610

0.0208

0,2t4

250 000

0.574

1 360

489r
4076

540

0.0181

250 000

0.6

4076

540

0.528

3450

480

0.0190
0.0167

0,2s7
0,257

211 600

1 130
9617

211 600

o 55?

9483

3450

0-028-5

0.t296
0.t437
0.1613
0.1 84

0,303

211 600

0,522

9t54

3450

167 800

t2

o-492

7556

2'736

167 800

'7

7366

2736

133 100
105 000

0,464
0.414

490
480
420
420

5926

21'10

360

0.t252

0.481

0.368

4752

1720

310

0,0111

0,607

83 690

0.328

3804

1364

270

0.0099

0,765

83 690

-')

270

0.0i02

0,757

082

.,

0.32

107

230
240

0.0088

66 370
66 370
s2 630
52 630
52 630
41'740
41 740

3620
3045
2913

I 3.51

66 3'tO

0.36
o )q)

0,258

3003

1061

220

0,0084

0.964
0,95s
0.945

0,26

2433

858

0,0079

t.216

-)

0,285

2359
2439

850

200
200

0.0081

841

190

0.0075

1,204
1,192

1879

674

180

0.001L

1,518

1970

667

t70

1,503

1505

534

150

0.0066
0.0064

JJ 100

-)

0,229
0.254
0.204
o.226

0.0175

0,303

0,0158

0,303

0.0116

0,0140

0.382
0.382

0.0090

1,914

(berlanjut)

212

Peralatan Tegangan Tinggi

lJkuran
Konduktor
(circular mil)

Jumlah
Pilinan

Diameter

Kekuatan

Berat

Resistansi pada

Patah

0b/mil)

(f0

(in)

0b)

Daya
Hantar Arus
(A)

GMR

Luar

50'C/50 Hz
(ohm/mil)

1591

529

40

424
420

30

90

0.0059
0.0057
0.0053
o.0047
0.0042

1,895

1205

Daya

GMR

Hantar Arus

(cm)

Resistansi pada
50"C/50 Hz

100

26 250
26 250
20 820

0.1819
0,20r

0,162

280

0,1443

030

) f -l

826

264

-) -.,

16 510

Tabel

1.2

Ukuran
Konduktor
(circular mil)

0, I 285

Karakteristik Konduktor Tembaga


(Dalam Satuan MSI)
Jumlah
Pilinan

Diameter

Luar
(cm)

Kekuatan
Patah
(ke)

20

l0

2.4t

)1()
3.0

3.8

97 ,3Vo

Berat
(ke/km)

(A)

(ohm/km)

3',7

) q)1\

9 881

4594

300

1.1216

0,0419

900 000

3'7

2,7'737

7 921

4t34

220

1,0637

0.0461

1 000

000

800 000

37

2.7'737

5 930

3675

130

t.0021

0.0515

750 000

37

2.5324

5 150

3441

090

0.9'723

o.0547

700 000

37

2.4460

4 138

3216

040

0,9387

0.0584

600 000

3't

2 256

2756

940

0,8686

0.067'7

500 000

37

2.2631
2.0676

2297

840

2.0599

2297

840

0.7924
0,7802

0,0808

500 000

0 210
9793

450 000

9558

8958

2067

780

0.7406

0,0895

400 000

.8440

7965

838

730

0.6980

0, 005

350 000

724'7

7071

608

670

350 000

,8034

6867

608

670

0.6522
0,6858

300 000

.5977

6128

378

610

0.6056

0, JJJ

300 000

.6688

5974

378

610

0.6340

0, JJJ

250 000

,4580

5153

149

540

0.5526

0 601

2s0 000

,5240

5048

540

0,579'l

0 601

21t 600

,34tl

4362

972

480

0.5084

0, 888

211 600

4021

430t

972

490

0,5334

0, 888

1r5q

4152

972

480

0,4813

0 888

67 800

t2

,249'7

3427

771

420

0,3532

67 800

'7

1786

3341

711

420

0.4279

0,2380
0,2380

211 600

149

0,0808

t47
t47

33 100

,0516

2688

612

360

3,8159

0.2997

05 000

'7

0,9347

2155

485

310

0,3392

0.3782

83 690

'7

0.8331

725

384

210

0.3023

0,4767

83 690

0.9144

642

381

270

0.3097

0,47

66 310

0,74t7

381

305

230

0.269t

0.6007

66 370

362

302
299

240
220

0,2752
0,2548

0.5951

0,8128
0.6553

32t

66 370
52 630

0.6604

I04

242

200

0.2399

0,7577

52 630

0.7239

070

240

200

0.2454

0;t502

52 630

0.5817

106

237

190

0,2271

0;7427

4t

0.6452

852

190

180

0,2185

0.94s9

740

r7

0,5888

(berlanjut)

Lampiran
Ukuran
Konduktor
(circular mil)

4t

Jumlah
Pilinan

Diameter
(cm)

Kekuatan
Patah
(kg)

Luar

(kdkm)

Daya

GMR

Hantar Arus
(A)

(cm)

Resistansi pada
50"C/50 Hz

(ohm/km)

740

0.5 182

894

88

70

0.2021

33 100

-')

0,5740

683

50

50

94s

t,1926

11 100

0.4620

722

49

40

0, 798

1.1808

26 250

0.5105

547

t9

30

731

1,5017

26 250

0,4115

581

t8

20

0 603

1,4892

20 820

0.3665

467

94

10

0, 426

1.87s5

0.3264

375

74

0 271

2.3678

l6 -5 t0

Tabel

1.3

90

0.9365

Karakteristik Konduktor ACSR


(Menurut British Standard (BS))

Ukuran
Konduktor

.Iumlah

Diameter

Kekuatan

Pilinan

Luar

Tertinggi

CNI/AWG

AI/St

(in)

(rb)

Berat

590 000

54t19

.5450

510 500

54t19

431 000

54t19

351 000

54/19

272000

Berat
(lb/mil)

Daya

GMR

Hantar
Arus (A)

(f0
0,0520

0.067s

56 000

10 777

389

,5060

53 200

Resistansi pada
50"C/50 Hz

(ohm/mil)

10 237

340

0,0507

0.071

,4650

.50

400

9699

300

0.0493

0.0749

.4240

47 600

9160

1250

o.04'79

0,0792

54119

3820

44 800

8621

200

0,0465

0,084

1 192 -500

54119

,3380

41 100

8082

160

0,0450

0,0894

1 113 000

54t19

2930

40 200

7544

110

0.0435

0.0957

I 033 000

54t'7

2460

37 100

7019

060

0,0420

0,i025

954 000

54t7

960

34 200

64'.79

010

0,0403

0,118

900 000

54t"1

1620

32 300

61t2

970

0,0391

0 175

213

874 000

54t't

1460

31 400

5940

950

0,0386

0, 218

795 000

54/7

.0930

28 500

5399

900

0.0368

795 000

26t'.7

080

31 200

5770

900

0,0375

0 288

795 000

30119

1400

38 400

6517

910

0.0393

0, 288

7t5 500

54t7

,0360

26 300

4859

830

0,0349

0, 4'72

715 500

26/7

,0510

28 100

5 193

840

0.0355

0, 442

715 s00

30t19

,0810

34 600

5865

840

0.0372

0.1442

666 600

54t7

.0000

24 500

4527

800

0,0337

0.1 59

636 000

J4/ /

0,9770

23 600

4319

770

0,0329

0.1678

636 000

26/'l

0.9900

2-5

000

4616

780

0,0335

0,1618

636 000

30fi9

l .01 90

31 500

5213

780

0,0351

0,1618

605 000

54t7

0.9530

22 500

4109

0.1755

26t7

0.9660

24 100

4391

750
'/60

0,032t

605 000

0,0327

0,t72

556 500

2617

0.9270

22 400

4039

730

0,0313

0,1859

556 500

30t7

0,9530

27 200

4588

730

0.0328

0,18s9

500 000

30t7

0.9040

24 400

4122

690

0.0311

0.206

358

(berlanjut)

2'14

Peralatan Tegangan Tinggi

Kekuatan
Tertinggi
0b)

Berat

Daya

GMR

Resistansi pada

0b/mil)

Hantar

(f0

50'C/50 Hz
(ohm/mil)

0,0290

0.2t6

Ukuran
Konduktor
CI\{/AWG

Jumlah
Pilinan

Diameter

AI/St

(in)

477 000

26t7

0.8580

t9

477 000

30t7

0.8830

23 300

3933

6'70

0.0304

0,216

397 500

26t7

0,7830

6 190

2885

590

0,0265

0.259

397 500

30t7

0,8060

9 980

3277

600

0.0278

0.259

336 400

2611

0,72t0

4 050

2442

s30

0.0244

0,306

336 400

30t7

0.7410

"l 040

27"t4

530

0.0255

0,306

490

0.0230

0,342

Luar

430

Arus (A)
670

3462

300 000

26t7

0.6800

2 650

2178

300 000

3017

0.7000

s 430

2473

500

0,0241

0.342

2617

fi 64)

936

460

0.02t'7

0,385

266 800

Tabel

1.4

250

Karakteristik Konduktor ACSR (Dalam Satuan MSI)


Berat
(kg/km)

Daya

GMR

Hantar
Arus (A)

(cm)

Resistansi pada
50"C/50 Hz

Jumlah

Diameter

Kekuatan

Pilinan

Luar

Tertinggi

AVSt

(cm;

(kg)

590 000

54/t9

3,9243

25 40t.15

3031

.t4

1389

5849

0.0419

1 510 500

54119

3.8252

24131,09

2884.96

t340

5453

0.0441

431 000

s4t19

3.7211

22 861.04

2733.34

300

5026

0,0465

000

s4n9

3.6170

21 590.98

2581.44

1250

,4599

0,0492

t 272 000

54n9

3,5103

20 320.92

2429,54

200

,4173

0,0522

1 192 500
1 113 000

Ukuran
Konduktor
CM/AWG

1 351

(ohm/km)

54n9

1qR5

8 642.63

2277.64

160

.3715

0.0555

54t19

3.2842

I234.40

2t26.03

l1l0

,3258

0,0595

54t7

3.1648

6 828,26

978,07

r060

,280r

0,0637

954 000

54t7

3.0378

5 512.85

825,89

1010

.2283

0.0733

900 000

54t7

2,9515

4 65r.02

722,46

970

191'7

0.0730

87 4000

54/'7

2,9108

4 242,79

673,99

950

t765

0.0'757

79 5000

54t'7

2,7762

2927.37

52t,53

900

t2t6

0.0844

79 5000

26t7

2.8t43

4152.0'7

626,08

900

1429

0.0800

79 5000

30t19

2.8956

7 41't.93

836,60

910

19'78

0.0800

369.35

830

,0637

0,0915

1 033

000

71 5500

54/7

2,6314

71 5500

26t1

2,6695

2745.94

463,47

840

.0820

0,0896

71 5500

30fi9

2.7457

5 694.28

652,86

840

,1338

0.0896

66 6600

54t7

2.5400

275.78

800

,027t

0,0988

704;t't

217.17

'770

,0027

0,1043

r 339.80

1300,87

780

,0210

0.1005

929.47

113,00

63 6000

5417

2,4816

63 6000

26t7

2,5t46

63 6000

30fi9

2.5883

4 288.15

469,t1

780

.0698

0,100s

60 5000

5417

2.4206

0 205.82

157.98

750

0.9784

0.1090

60 5000

26t7

2.4536

0 93]l.57

237.46

760

0.9966

0.1069

55 6500

26t7

2,3546

0 160,46

t38.26

730

0.9540

0.1155

L0

(berlanjut)

Lampiran
Ukuran
Konduktor

Jumlah

Diameter

Kekuatan

Pilinan

Luar

Tertinggi

CIWAWG

AYSt

(cm)

(ke)

556 500

30/-7

2.4206

t2 337,70

Berat
(kg/km)

Daya

GMR

Resistansi pada

Hantar
Arus (A)

(cm)

50'C/50 Hz
(ohmikm)

t292.98

730

0.9997

0, 155

500 000

30t7

2.2962

I 161 .65

690

0,9479

477 000

2617

2,1793

8813"29

9'75.65

670

0.8839

0.1342

477 000

30t1

2.2428

10 568.69

1108.39

670

0.9265

0. 342

397 500

2611

1.9888

'7343.65

813,04

590

0,8077

0, 609

397 500

30t-7

2.0472

9062;7'7

923.51

600

0,8473

0 609

336 4oO

26t7

1,83 13

6372.9'7

688.20

530

0.7437

0 901

336 400

30t7

,8821

7'729,21

781;t6

530

0,7772

0, 901

300 000

26t7

1)T)

5737.94

613.80

490

0,7010

0,2t25

300 000

30t7

.7'780

6998.92

696,93

500

0.7345

0,2125

266 800

26t'7

1,6307

5102,91

545.60

460

0.6614

0.2392

Tabel

1.5

067,64

280

Karakteristik Konduktor Tembaga Telanjang


dengan Penampang Segi Empat

Ukuran
Lebar x Tebal

Ukuran

(mm x mm)

Penampang
(mm2)

Daya Hantar Arus ac 50-60 Hz

Ill llll

Berat
(kg/m)

E-Cu F

TI

0.529

37

t77

312

398

Jenis

12x5

59,5

12x10

119,5

r.063

37

285

553

811

20x5

99,1

0,882

37

2'14

500

690

20x10

t99

l,'77

30

42'7

825

1180

30x5

149

l.33

37

379

672

896

30x10

299

2,66

30

5'.73

r060

1480

40x5
40x10

t99

t,77

37

482

836

1090

399

30

7t5

1290

1770

2280

50x5

249

I 55
) )')

37

583

994

1240

1920

50x10

499

4.44

30

852

1510

2040

2600

60x5

299

2.66

30

688

t 150

t440

22lO

60x10

599

5,33

30

985

1120

2300

2900

80x5

399

s5

30

885

1450

17-50

2720

80x10

799

7.11

30

1240

21tO

2790

3450

100x5

499

4,44

30

1080

t730

2050

3190

100

10

988

8,89

30

1490

2480

3260

3980

120

10

1200

t0,7

30

t740

2860

3740

4500

160

10

600

14,2

30

2220

3590

4680

5530

2000

t7,8

30

2690

4310

5610

6540

200 x 10

Jarak antar konduktor minimal 50 mm.

2'15

216

Peralatan Tegangan Tinggi

Tabe!

1.6

Karakteristik Konduktor Aluminium Telanjang dengan Penampang


SegiEmpat

Ukuran

Ukuran

Lebar x Tebal

Berat

Jenis

(mmxmm)

Penampang
(mm2)

(kg/m)

E-AI F

12x

5qs

0,r60

72x10

19.5

Daya Hantar Arus ac 50-60 Hz

EI

TII

10

t39

263

375

0.322

10

"t1

440

652

214

20x5

99,1

0.268

l0

392

537

20x10

199

0,538

10

331

643

942

30x5

t49

0,403

10

295

526

699

30x10

299

0.808

t0

445

832

TTIT

200

40x5

t99

0,538

10

376

658

851

40x10

399

1.08

10

557

1030

t460

1900

50x5

249

0,673

10

445

786

995

1520

499

1.35

10

667

t210

t7 t0

22t0

50

10

60x5

299

0.808

l0

533

910

I 130

1750

599

1,62

10

774

390

1940

2480

80x5

399

1.08

10

688

1150

1400

2180

80x10

799

2,16

10

983

1720

6,5

846

60

10

2380

2990

390

100x5

499

1,35

1660

2580

100

10

999

)70

6,5

190

2050

2790

3470

100

15

500

4,04

6,5

450

2500

3220

3380

120

10

r200

3,24

6,5

1390

2360

3200

3930

120

15

800

4.86

6,5

1680

2850

3650

4350

160

10

600

4,32

6,5

780

2960

4000

4820

160

15

2400

6,47

6.5

2130

3540

45 10

5210

200 x 10

2000

5.40

6,5

2160

3560

4'790

5710

200 x 15

3000

8,09

6,5

2580

4230

-5370

6t 90

.Tarak antar

konduktor minimal 50 mm

Lampiran

217

Lampiran 2

Karakteristik Mekanis
Tembaga dan Aluminium

Kekuatan

Modulus

Kekuatan

Kekuatan

Material

Regang o"
1N/mm2)'

Young E
(N/mm2)

MulurMin.

Mulur Max.

E-Cu-F20

200

11

104

E-Cu-F2-5

250

1t

101

E-Cu-F30

300

11

E-Cu-F37

370

t1 X

E-Al-F 6.5/7

65t70

Material

Kode

Dasar

o-,.

(N/mm2)

a-,*

(N/mm2)

Konduktivitas
pada 20'C
(m,/W.mm2)

120

57

200

290

56

101

250

360

56

to*

330

400

55

6,5 x 104

25

80

35.4

80

6,5 x

104

50

100

35.2

E-AI-F i0

100

6,5 x

104

70

t20

34,8

E-AI-F

r30

6,5 x 104

90

160

34,5

100

65 x

70

Tembaga

E-AI-F
Aluminium

Al-F

Paduan

Aluminium

13

10

E-Al Mg Si
0.5 F 17
E-Al Mg Si

0.5F 22
Copper-clad

Cu (15Vo)

Aluminium

Clad-Al

104

34

170

'7

104

t20

180

32

220

7x104

160

240

30

130

8x104

100

130

42,3

218

Peralatan Tegangan Tinggi

Lampiran 3

BIL Menurut Standar IEC 71-1972

Tabel3.1

BIL Peralatan Untuk Tegangan 1kV < V."k"

Tegangan Maksimum Kontinu,


Y-uur, Fasa-Fasa, rms

(kv)

Tabel

3.2

Tegangan

Maksimum
Sistem, V-ru"

(kv"_.)
300

362

52 kV

Tegangan Nominal Ketahanan

Tegangan Nominal Ketahanan

Impuls Petir (Nilai Puncak)

Frekuensi Daya (rms)

List I

(kv)

List 2 (kY)

(kV)

3,6

20

40

l0

1a

40

60

20

t2

60

'75

28

r7,5

'/5

95

38

24

9-5

125

50

36

t45

170

70

BIL Sistem Untuk Tegangan > 300 kV

Dasar
1pr, =

V-"u"f

245

Tegangan Impuls

Pertlandingan

Tegangan

Hubung-Buka
Nominal

Tegangan Ketahanan

Ketahanan

Impuls Petir

lmpuls Petir

dengan

Nominal

Impuls Hubung-Buka

(kVprn"ur)

Per unit

kYp.n""k

3,06

7s0

t3

850

3,45

850

21

950

2,86

850

3,2

950

2.96

2;76
420

950

14J
3,06

1050

T2

950

24

1050

t2

1050

24

117 5

12

1050

24

n'75

t2

tl'7

24

36

1425

300

(berlanjttt)

Lampiran
Tegangan

Maksimum
Sistem, V-u1"

(kv"_,)

525

Dasar

t p,, = V-"urf,

Tegangan Impuls

Pertrandingan

Tegangan

Hubung-Buka
Nominal

Tegangan Ketahanan

Ketahanan

Impuls Petir

Impuls Petir

Per unit

kvprn."k

2,45

1050

429

t175

2.74

2.08

'765

625

219

1300

t425

2.28

dengan

Nominal

Impuls Hubung-Buka

(kVpun"ur)

1.12

1175

1.24

1300

1.36

r425

1.12

r.32

550

l.l0

425

1.19

550

r.38

800

1.09

550

1.28

800

1.4'l

2100

2.48

1550

300
425

1.21

.l6

800

1.26

1950

1.55

2400

Tabel 3.3 BIL Peralatan Tegangan f inggi > 300 kV


Tegangan

Ketahanan Tegangan lmpuls Standar

Maksimum

(kVpon""r)

Sistem

(k\-,)

145

Isolasi Penuh

Isolasi Direduksi

Isolasi Penuh

lsolasi Direduksi

650

550

275

230

450
900

39-5

362

420

525

825

360

750

325

300

5'70

t75

510

050

461

6'75

'740

550

680

425

630

300

570

800

790

675

'740

-550

680

425

765

185

460

1050

245

Ketahanan Tegangan Frekuensi Daya


Fasa-Netral (kv"-r)

630

2400

2100

980

1950

920

800

870

100

220

Peralatan Tegangan Tinggi

Lampiran 4

Tingkat Bobot Polusi lsolator


Berdasarkan Analisis Kualitatif
dan Metode ESDD

No.

Tingkat Bobot

Ciri Lingkungan Berdasarkan Analisis Kualitatif

Polusi

Ringan

Karvasan tanpa industri dan pemukiman yang dilengkapi


sarana pembakaran dengan kepadatan rumah rendah
Kawasan dengan kepadatan industri rendah atau pemukiman,
tetapi sering terkena angin dan/atau hujan
Kawasan pertanian

ESDD
(mg/cm2)

0,06

Kawasan pegunungan

Semua kawasan ini harus terletak paling sedikit 10 - 20 km dari laut


dan bukan kawasan terbuka bagi hembusan angin langsung dari laut.

2.

Sedang

Kawasan industri, khususnya yang tidak menghasilkan


asap polusi dan/atau pemukiman yang dilengkapi sarana

0,20

pembakaran dengan kepadatan rumah sedang.


Kawasan dengan kepadatan rumah tinggi dan/atau kawasan
industri kepadatan tinggi, tetapi sering terkena angin dan/
atau hujan.

Kawasan terbuka bagi angin laut tetapi tidak terlalu dekat


dengan pantai (paling sedikit berjarak beberapa kilometer
dari pantai).
Kawasan dengan kepadatan industri tinggi dan pinggiran
J.

Berat

4.

Sangat Berat

kota besar dengan kepadatan sarana pembakaran yang tinggi


dan menghasilkan polusi.
Karvasan dekat laut atau kawasan yang senantiasa terbuka
bagi hembusan angin laut yang relatif kencang.
Kawasan yang umumnya cukup luas, terkena debu konduktif
dan asap industri yang khususnya menghasilkan endapan
konduktif tebal.

Kawasan yang umumnya cukup luas sangat dekat dengan


pantai dan terbuka bagi semburan air laut atau hembusan
angin laut yang sangat kencang dan mengandung polutan.
Kawasan padang pasir yang ditandai dengan tidak adanya
hujan untuk jangka waktu lama, terbuka bagi angin kencang
yang membawa pasir dan garam, serta terkena kondensasi
yang tetap.

0,60

>0,60

Lampiran

221

Lampiran 5

Spesifikasi Minyak lsolasi dalam


Kondisi Baru

Sifat

No.
I

Kejernihan

Massa jenis

(20'C)

Satuan

g/cm3

Viskositas 20'C

cSt

<40

Kinematika -15"C

cSt

< 800

-30'c
nyala

Titik tuang

OC

Angka kenetralan

Korosi beleranp

Iegangan tembus

Iitik

Kelas 2

tEC296

< 0.895

tEC296
<25

mg KOH/s

>

140

-30

angka kenetralan
- kotoran

-40

tEC296

tEC296

kV/2.5 mm

>50

Ketahanan oksidasi

IEC296 A

Tidak korosif

b. sesudah diolah

ll

130

tRC296

>30

Faktor kebocoran dielektrik

tEC296

< 0,03

a. sebelum diolah

l0

tEC296
tEC296

< 800

>

Metode Uji

Jernih

cSt
OC

Kelas

< 0.05

mg KOH/g

< 0,40

Vo

< 0.10

tEC296
IEC 250
IEC 474
74

&IEC

222

Peralatan Tegangan Tinggi

Lampiran 6

Spesifikasi Minyak lsolasi


Setelah Dipergunakan
No.

Sifat Minyak

Tegangan tembus

Tegangan

Batas Yang

Peralatan (kY)

Diizinkan

> 170

> 50 kV/2.5 mm

70 - 110

> 40 kV/2.5 mm

<70

> 30 kV/2.5 mm

> 170

<20 mgll

< 1'70

> 30 mg/l

Semua tegangan

<0,2 -2,0

IEC 247 & IEC 250 (90'C)

Kandungan air

Faktor kebocoran

dielektrik

Metode Uji

IEC 156

ISO R 760

Resistivitas

Semua tegangan

1,0 gigaohm'm

IEC 93 & IEC247

Angka kenetralan

Semua tegangan

< 0,5 mg KOH/g

IEC296

Sedimen

Tidak terukur

IEC296

Titik nyala

Tegangan permukaan

Kandungan gas

Pemanasan

maksimum 15oC

> 15 x
>

170

10'3 Nm-l

TEC296

IEC296
Sedang diteliti IEC

223

Daftar Pustaka

l.
2.
3.
.1.
5.

& PV. Gupta, "Substcttion Design and Equipment", Dhanpat Rai & Sons, Delhi,
t919
Kuffel E. &ZaenglW.S.."High-Voltage Engineering", Pergamon Press, Oxtbrd, 1984
Gallagher T.J. & Pearmain A).,"High Voltage Measurement, Testing and Design", John Wiley & Sons,
Nerv York. 1983
Razevig D.Y.,"High Volrage Engineerlng" , Khanna Publishers, Delhi-6, 1912
DieterK. & Hermann K.,"High-Voltage lnsulationTechnology", Friedr. Vierveg & Sohn, Braunschweig,
Partap Singh Satnam

985

6. KreugerF.H.,"lndusrrial High Voltage",Delft University Press, 1992


7. KreugerF.H.,"PartialDischargeDetectioninHigh-Voltage Engineering",Butterworths,London, 1989
8. Alston L.L. (Editor) ."High-Voltage Technology", Oxford University Press, 1968
9. Schwab, A .J . ." Hi glt Voltage Measurement Technique' ', MIT Press, Cambridge, Massachusetts, 1972
10. Bowdler, G.W."Measurernents in High-VoltageTest Circuits", PergamonPress, Oxford, 1973
11. Gupta, P Y. ,''A Course in Electrical Engineering Materials", Dhanpat Rai & Son's, Ner.v Delhi, India,
I

12.
13.
14.
15.
I

6.

17.

18.
19.

20.
21 .
22.
23.

980.

Kapur, P L.,"A Textbook o;f ELectricol Engineering Materials".Khanna Publisher, Delhi, 1984.
Yu, Koritsky, " A Tett Book of Electrical Engineering Materials" , Mir Publishers, Moscow, I 970.

Bradrvell.A(Editorl."Electrical Insulation, IEEElectricalandElectronicMaterialsandDevicesSerie,s


2", Peter Peregrinus Ltd, 1983
Arismunandar.A.."TeknikTeganganTinggi",Pradnya Paramita, Jakarta, 1984
Kind, D., " Pengantur Teknik Eksperimental Tegangan Tinggi" , 1993
Naidu, M. S., "Hrglr Vtltage Engineering",Tata Mc Graw Hill Publishing, 1983
IEC Repofi, " Guide .for The Selection Of Insulator In Respect OJ Polluted Conditions" . Publication No.
815.1986
SPLN 10-3B, "Tingkat lntensitas Polusi Sehubungan Dengan Pedoman Pemilihan Isokttor", Perusahaan
Umum Listrik Negara, 1993
IEC, "Ceramic or Gluss lnsulator Units For AC Sl,stem-Definitions, Test Methods and Acceptance
Criteria", Geneva, Swiss. 1993
lEC, " lnstrument trans.formers-Part I : Current transformers" ,lEC 60044- I Publication, 2003
lEC, " lnstrument transformers Part 2 : lnductiye voltage transJbrmers", IEC 60044-2 Publication, 2003
lEC, "Comntctn Specifications.for High-voltage Switchgear and Controlgear Standards". tEC 60694
Publication, 2002

24.

lEC,"Surgearresters-Partl:Non-linearResistorTypeGappedSurgeArresters;forA.C.",IEC60099-1

25.

IEC, "Szlrge Arresters - Part 4: Metal-oride Surge Arresters Without Gaps for A.C.", IEC 60099-4

Publication. 1999
Publication. 2009

26.
27.
28.
29.
30.

31.

lEC, "High-voltage Switchgear and Controlgear - Part 102: Alternating Current Disconnectors and
Earthirtg Switches" , IEC 6221 1-102 Publication, 2003
IEC."IEC Standard Voltages",IEC 60038 E,d.7.0,2009
IEC,"lnstrumentTransJormers - Part I: General Requirements",lEC61869-1,2001
Charoon U. Vatana, "Contamination lnvestigdtion ln Southern Thailand', Energi Listrik Volume III,
N0.3, Desember 1993
IEEE Working Group On Insulator Contamination,"Application Guide For Insulators In AContaminated
Environment" . Ceraver Sediver Publication. June 1 984
Lambeth P.J.- Auxel H.- Verma M.P, " Methods OJ Measuring The Severity O;f Natural Pollution As It
Affects W Insulatctr P e rformance", Electra CIGRE No. 20, 191 2, p. 31 -52

224

Peralatan Tegangan Tinggi

32.

Schneider

K.H. "The Measurement Of Site Pollution Severirl And lts Application To Insulator

Dimensioning For AC S"rstem". Electra CIGRE N0. 64, 19'79, p 101 - 116
Bernhard Boehle, "Srrlrcft gear ManuaL" , Asea Brown Boveri, Mannheim. 1988

33.
34. Eaton,J.Robert,"E/ectricPowerTransmissictnS_vsrems".Prentice-Hall.Inc.,NewJersey,1983
35. Rakosh Das Begamudre. "Ettra High Voltage AC Trartsmission Engineering", Wiley Eastern Limited,
New Delhi. 1987

36.
37.
38.
39.
40.

Charles A. Gross, "Prlwer S-ystem Anolysis", John Wiley & Sons, 1986
Turan G.. "Modern Power System Anal1,sis",JohnWiley & Sons, 1988
Heinz Frick. "Mekunika kknik Statika dan Kegunaannya", Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2000

41.

Garzon, R.D., "High Voltage Circuit Breakers-Design and Application". Marcel Dekker Inc., Nerv York.

PablaA.S&Abdu1 Hadi."SistemDistribusiDctyaListrik".PenerbitErlangga,Jakarta.
1994
Wadhrva, C.L.,"High Voltage Engineering". Nerv Age International (P) Limited, Publisher, New Delhl,
2007
1997

42. Hinrichsen Y.,"Metal-Oxide Surge Arrester Fundamentals" Siemens AG, Berlin, 2001
43. Cooray V. Edito1"Liglltnittg Protection", The Institution ofEngineering andTechnology, London,2010
44. Natarajan R., "Pou,er S,lslem Capacitors". CRC Press Taylor & Francis Group, USA, 2005
45. SPLN 60-7, "Kamar Uji Instrument Ukur Listrik Bagiun 7: Prosedur U.ji Trcnsformator Instrunen",
Perusahaan Umum Listrik Negara, Jakarta, 1992

46.
41 .

SPLN 49-1, "Miryak lsokrsi", Perusahaan Umum Listrik Negara, Jakarta, 1982
ABB Editor, "Instrument Trans.forners Application Guide", ABB High Voltage Products Department,

48.

Ludvika. Sweden,2009
Haddad A. and Warne D., Editor, "Adra nces in High

Voltctge Engineermg", The

Institution of Engineering

and Technology, London, 2007

19.

50.
51.

China Transporvers Electric Co., Ltd., *230kV-500kV High Voltage Gas Insulated Switchgear (GIS)".
http://rvrvrv.china-power-transformer.com/, 9 September 20 1 1
Shanglrai Yongjin Electric Equiprnent, "Prefabricuted Cable termination and Silicott Rubber Cold
.tft rint". http://rvwrv.chi naqualityshoes.com, 9 September 20 I 1
Chirra Electronic Products Wholesale Center, "Vacum CircLtit Breoker", Copyright Notice O 2011

o-digitirl.com Limited

52.

53.
54.

Toshiba, "GSPF 245 HP Circuit Breaker", TOSHIBA Corporation, 2009


Science Service."Electric Circuits, Breakers: Air Blast CircLit Breoker", http://scienceservice.si.edu/
pages/0 I 5021.htm
Foshan Shunde Jia Dian Electric Co., Ltd., " SGS Approved Compo.site Housing Gapless Metal Oxide
Arrester (YH5WS-17/50)", Copyright @ 2011 Focus Technology Co., Ltd

55.

Foshan Shunde Jia Dian Electric Co., Ltd.,"SGS Approved Outdoor AC High-Voltage Disconnect Switch
(GWg )", Copyright O 201 1 Focus Technology Co., Ltd.

56.

Wenzhou Haivo Electrical Co., Ltd., "Ouxbctr AC High Voltage Disconnector (Mod.el GWI)", Copyright
O 2011 zen-cart.cn. Powered by ZenCart

57.
58.
59.
60.
61.
62.
6-1.

64.
65.

66.

China Huayi Elec. Apparatus Group,"GIY5 Outdoor HV Disconnect Switch",

2005-201i JP

Communications, Inc, http://www.manufacturer.com


Techno Associates Mdyut PVT Ltd., " Potential Transformer" , http://www.technovidyut.com, 28-08-2011
Jiangsu Jingke Smart Electric Co., Ltd, "Capacitor Vctltage TransJctrrrer", Focus Technology Co., Ltd.,
Copyright O 20 I I, http://jsjingke.en.made-in-china.com
Baoguang Group Co. Ltd., "Voltage Transfornter" , Copyright O 2006 - 20 i I Asia.ru, http://wrvrv.asia.ru/
en/Productlnfo/1 1 I I 383.html
Baoguang Group Co.,Ltd.." 10- 12KV High voltage current transformer" ,Copyright @ 2009 All Baoguang
Group Co., Ltd.
Himalayal, "lnsulntor, Arrester, Shielding Fitting, Instruments Transrttrmer and Capacitor", Copyright
20 1 1 Hi malayal Corporation Limited, http://rvwrv.himalayal.com
Yueqing Langir Electric Co., Ltd.. "MBO Series CLtrrent Transformer", Copyright O 2011 Focus
Technology Co., Ltd.
Electricity By Photos (NEW), http://emadrlc.blogspot.com/2011-04-01-archive.html
HSP Hochspannungsgerate GmbH, "Transfurmer Oil Bushing", Direct Industry 2011, http://www.
directindustry.com
Siemens, "High Voltage Power Capacitors & Capacitor Banfts" Published by and copyright 2009.
Siemens AG, Energy Sectol www.siemens.com/energy

225

lndeks

A
actLtal insulating creepage
air-gap core 133

distance

146

F
faktor ketahanan tegangan lebih sementara 67
ferroresonansi 53. 112

alat pengukur konduktivitas 159

flashover 55.

alat proteksi arester

Forced Oil Air Blast Cooled 208


Forced Oil Natural Air Cooletl 208

annealed g/ass 150

arcing

horn

148

Arester MO 63
arus hubung singkat 33
arus magnetisasi 89
arus pengisian transmisi 89
arus subtransien 34
arus transien 34
arus tunak 34

auxiliary

.iu

lrclr

95

B
29

breakdown 153
bulk oil circuit breeker 141
busur

api

12

hardened glass 150


hydrophobic 152

I
intermediate electrode 169
intermediate transformer 701

conductivitymeter 159
counterpoise 82

ionisasi 13, 14
isolator gantung 147
isolator pendukung 147

cylindrical winding 195


D
daya hantar arus (current carrr-ing capacit-l) 42
15

disconnecting s'witch 83

disc winding 195


E
elektroda
elektroda
elektroda
elektroda

G
gardu induk step down 2
gardu induk step up 2
gas SF6 16
gelas yang dikeraskan 150
gelas yang dikuatkan 150
geometric mean radius 43

induktor kompensasi 102

deionisasi 13.

Forced Oil Woter Cooled 208

Basic Intpulse Level 72

bilik kontak

153

pengantara 169

perata 5
perata ekstemal

J
jarak bocor yang disederhanakan 146
jarak rambat isolasi sebenarnya 146
jari-jari geometris rata-rata 43
jatuh tegangan 43

perata intermediasi 5

emisi 13. 16
emisi medan tinggi 16
emisi termal 16
Equivalent Salt Deposit Density 159

kapasitas arus sesaat (momentary dutv-') 35


kapasitor {ilter 175

kapasitor gandeng

lM

kapasitor impuls 175


kapasitor laboratorium tegangan tinggi 174
kapasitor pembagi tegangan 774
kapasitor pembangkit frekuensi tinggi (osilator)
174

226
kapasitor
kapasitor
kapasitor
kapasitor
kapasitor
kapasitor

Peralatan Teg

relai proteksi 12

penl'adap 17.1
perata 175

seri

rentangan sirip 146


resistor non-linier 23

174

shunt

17,1

sistem tenaga

standar

listrik

174

sakelar pemisah 83

175

kompresor 28

self cleaning 746

kontak bantu 95
kontak bergerak 27
kontak tetap 27
kumparan interleaved 206

shed overhang

i46

line discharge 89

sifat elektronegatif 31
sifat menolak air 152
sifat pencucian alami 146
simplified leakage distance 146
suspension 141
switching operation 9, 69
switching over voltage 104

metode Hukum Kirchhoff 162


minyak bersirkulasi paksa 207

tanduk busur 148


tegangan gagal sela 72
tegangan interferensi radio 114

logging

108

minyak bersirkulasi sendiri 207

kontinu

tegangan kerja

tegangan lebih hubung-buka 104

Oil Immersed Air Blast 208


Oil Immersed Natural Cooled 208
Oil Immersed Water Cooled 208

tegangan lebih impuls hubung-buka 9

tegangan lebih impuls petir 9


tegangan lebih pada frekuensi daya 9
tegangan lutut 136
tegangan pemulihan (.recovery voltage)

partial discharge 114


peluahan sebagian (partial discharge) 41,114
pemadaman busur

api

tegangan telpaan

18

pemilahan busur api 18


pemutus daya (circuit breaker)
pemutus daya minyak 26, 141
pemutus daya SF6 31
pemutus daya udara 25
pemutus daya udara tekan 28
pemutus daya vakum 30

power line carrier 98,

sela
tegangan sisa 7i

tegangan percik

telecontrol

l0

tembus

balik

101

listrik

153

radio interference voltage


rangkaian induktif 22
rangkaian kapasitif 2l
rangkaian L-C 24
rangkaian resistif 20
rangkaian R-L 23

U
ungapped

core

v
varistor

I "'::""?'J;'j;1:*.
Timut
Jarqa

23

drop

-il"iLtF
Pr"Ut"t

13

l0l

trafo daya step down 2


trafo daya step up 2
trafo penengah 101
trafo tegangan kutub ganda 100
trafo tegangan kutub tunggal 99
trafo tegangan magnetik 98
trafo tegangan tiga fasa 99
turbogenerator 35

relai diferensial 137


relai jarak 138

56

43

133

t9