Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Flotasi berasal dari kata float yang berarti mengapung atau mengambang.
Flotasi dapat diartikan sebagai suatu pemisahan suatu zat dari zat lainnya pada
suatu cairan / larutan berdasarkan perbedaan sifat permukaan dari zat yang akan
dipisahkan, dimana zat yang bersifat hidrofilik tetap berada fasa air sedangkan zat
yang bersifat hidrofobik akan terikat pada gelembung udara dan akan terbawa ke
permukaan larutan dan membentuk buih yang kemudian dapat dipisahkan dari
cairan tersebut. Secara umum flotasi melibatkan 3 fase yaitu cair (sebagai media),
padat (partikel yang terkandung dalam cairan) dan gas (gelembung udara).
Flotasi adalah proses konsentrasi mineral berharga berdasarkan perbedaan
tegangan permukaan dari mineral didalam air (aqua) dengan cara mengapungkan
mineral ke permukaan. Mekanisme flotasi didasarkan pada adanya pertikel
mineral yang dibasahi (hidrofilik) dengan partikel mineral yang tidak dibasahi
(hidrofobik). Partikel - partikel yang basah tidak mengapung dan cenderung tetap
berada dalam fasa air.
Di lain pihak partikel - partikel hidrofobik (tidak dibasahi) menempel pada
gelembung, naik ke permukaan, membentuk buih yang membentuk partikel dan
dipisahkan. Metode ini biasanya digunakan di beberapa industri pertambangan
dengan menggunakan reagen utama Xanthate sebagai Collector (misalnya :
potassium amyl zanthate), pine oil sebagai frother dan campuran bahan kimia
organik lainnya sebagai pH modifiers. Reagen yang digunakan untuk
pengapungan pada umumnya tidak beracun, yang berarti bahwa biaya
pembuangan limbah/tailing menjadi rendah.
Berdasarkan uraian

di atas, dapat diketahui bahwa sebagai mahasiswa

Teknik Kimia, dirasa sangat membutuhkan pengetahuan tentang flotasi. Pada


makalah ini, kami membahas lebih detail mengenai pengertian flotasi, jenis-jenis

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

flotasi, prinsip flotasi, serta penerapan flotasi dalam kehidupan khususnya dalam
bidang industri kimia.
1.2. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah flotasi ini, diantaranya sebagai
berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan flotasi ?
2. Sebutkan jenis-jenis flotasi!
3. Bagaimana prinsip kerja flotasi ?
4. Apa saja syarat - syarat menggunakan metode flotasi ?
5. Faktor - faktor apa sajakah yang mempengaruhi flotasi ?
6. Bagaimana mekanisme dari flotasi ?
7. Bagaimana langkah kerja dari metode flotasi ?
8. Sebutkan peralatan-peralatan yang digunakan dalam proses flotasi!
9. Apa saja keunggulan dari metode flotasi ?
10. Bagaimana contoh aplikasi dari metode flotasi ?
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun rumusan masalah dalam makalah flotasi ini, diantaranya sebagai
berikut :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan flotasi;
2. Mengetahui jenis-jenis flotasi:
3. Mengetahui prinsip kerja flotasi;
4. Mengetahui syarat - syarat menggunakan metode flotasi;
5. Mengetahui faktor - faktor yang mempengaruhi flotasi;
6. Mengetahui mekanisme dari flotasi;
7. Mengetahi langkah kerja dari metode flotasi;
8. Mengetahui peralatan apa saja yang digunakan dalam proses flotasi;
9. Mengetahui keunggulan dari metode flotasi.
10. Mengetahui contoh aplikasi dari metode flotasi.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Flotasi


Flotasi adalah suatu proses dimana padatan, cairan atau zat terlarut dibawa
ke permukaan larutan dengan penggunaan gelembung udara (Haraide, 1975). Zat
yang diflotasi menempel pada permukaan gelembung udara sehingga terangkat ke
permukaan larutan yang untuk selanjutnya dapat dipisahkan dari larutan.
Untuk dapat diflotasi maka suatu zat harus bersifat hidrofob sehingga dapat
menempel pada gelembung udara. Zat yang tidak bersifat diflotasi yaitu hidrofil
dapat diubah menjadi hidrofob dengan penambahan suatu senyawa yang disebut
dengan kolektor berupa suatu surfaktan sehingga zat itu dapat pula di flotasi.
Flotasi adalah suatu proses pegolahan air yang dipakai untuk pemisahan
partikel solid dan cairan dari fase cairan. Proses pemisahan dapat terjadi karena
adanya gelembung-gelembung halus yang terdapat pada fase cairan yang naik ke
permukaan air akan mengangkut partikel-partikel yang ada pada fase cairan
tersebut (Rich, 1961).
Ada 3 macam tipe flotasi yang biasa dipakai pada proses pengolahan air
(Metcalf and Eddy, 1985) yaitu flotasi udara terdispersi (dispersed air flotation),
flotasi vakum (vacuum flotation) dan flotasi udara terlarut (dissolved air
flotation). Pada sistem flotasi udara terlarut, secara teoritis (Zabel and Melbourne,
1980 ; dan Janssens and Schers) udara yang dihasilkan kompresor dilarutkan
kedalam air pada tangki tekan, dan dilanjutkan dengan pelepasan udara yang telah
ditekan pada level atmosfer.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

2.2. Jenis-Jenis Flotasi


Adapun jenis-jenis dari flotasi ada 3 antara lain:
2.2.1. Aerasi Pada Tekanan Atmosfer (Air Flotation)
Udara akan masuk kedalam fluida dengan menggunakan mekanisme rotordisperser. Rotor yang terendam dalam fluida akan mendorong udara menuju
bukan disperser sehingga udara bercampur dengan air sehingga partikel yang
mengapung dapat disisihkan. Sistem ini memiliki keuntungan antara lain tidak
memerlukan area yang luas dan lebih efektif dalam menyisihkan partikel minyak.
2.2.2. Vacum Flotation
Limbah cair diaerasi hingga jenuh sehingga akan terbentuk gelembung
udara yang akan lolos ke atmosfer dengan mengangkat partikel-partikel ke atas
(www.geocities.com). Secara garis besar flotasi merupakan proses pemisahan
suatu zat yang ada di dalam zat cair (fluida) maupun gas dengan prinsip
pengapungan. Dimana zat yang akan dihilangkan berada di atas (hidrofobik)
sedangkan fluidanya berada di bawah (hidrofilik).
2.2.3. Dissolved Air Flotation (DAF)
Udara dilarutkan di dalam air buangan di bawah tekanan beberapa
atmosfer sampai jenuh, ke tekanan atmosfer. Akibat terjadinya perubahan tekanan
maka udara yang terlarut akan lepas kembali dalambentuk gelembung-gelembung
udara yang sangat halus. Dari keempat metode di atas, metode Disolves Air
Flotation (DAF) telah digunakan secara luas untuk pengolahan air limbah industi,
karena effisien untuk pemisahan padat cair pada material dengan spesifik
gravity yang < 1 atau tinggi.
Adapun metode Disolve Air Flotation (DAF) ada dua jenis yaitu :
Dengan Resirkulasi
Tanpa Resirkulasi.

Kedua jenis tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

Gambar 1. Disolves Air Flotation dengan Resirkulasi

Gambar 2. Disolves Air Flotation tanpa Resirkulasi


2.3. Prinsip Flotasi
Flotasi adalah suatu proses dimana padatan, cairan atau zat terlarut dibawa
ke permukaan larutan dengan penggunaan gelembung udara. Prinsip flotasi antara
lain :
Penempelan partikel (mineral) pada gelembung udara
Gelembung mineral harus stabil
Ada sifat float dan sink

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

Beberapa jenis partikel yang tercampur dapat dipisahkan salah satu jenisnya
dari campurannya atau bila memungkinkan dan dapat terpisah keseluruhan jenis
sehingga dapat terkonsentrasi dari tiap-tiap jenis. Pemisahan dari partikelpartikeldalam flotasi ini ditunjukkan oleh penentuan kontak antara tiga fasa yaitu
fasa partikel padat yang akan diapungkan, larutan aqua electrolit, dan gas
(biasanya dipakai udara) hampir semua zat anorganik dapat dibasahi oleh fasa
akua. Oleh karena itu, langkah pertama dalam flotasi adalah mengggantikan
sebagian dari antar fasa padat-cair menjadi antara fasa padat-gas. Sebagian
hasilnya didapat bahwa permukaan partikel akan menjadi hidrofobik.
2.4. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam Flotasi
Dalam flotasi ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya
adala sebagai berikut :
1. Diameter partikel harus disesuaikan dengan butiran mineral
2. Persen solid yang baik 25% - 45% (pryor), 15% - 30% (gaudin)
3. Sudut kontak yang baik sekitar 600 900,
Berarti usaha adhesinya besar sehingga udara dapat menempel pada
permukaan mineral yang mengakibatkan mineral dapat mengapung. Sudut
kontak merupakan sudut yan dibentuk antara gelembung udara dengan
mineral pada suatu titik singgung. Sudut kontak mempengaruhi daya kontak
antara bijih dengan gelembung udara. Untuk melepaskan gelembung dan
mineral dibutuhkan usaha adhesi (Wum).
4. pH Kritis
pH kritis merupakan pH larutan yang mempengaruhi konsentrasi kolektor
yang digunakan dalam pengapungan mineral. Pada gambar dibawah
menunjukkan hubungan antara konsentrasi sodium diethyl dithiophosphate
dan pH kritis. Mineral yang digunakan adalah pyrite, galena dan
chalcophyrite.

Konsentrasi

kolektor

tersebut

dapat

mengapungkan

chalcophyrite dari galena pada pH 7 9, galena dari pyrite pada pH 4 6 dan


chalcophyrite dari pyrite pada pH 4 9.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

2.5. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Flotasi


Faktor - faktor yang mempengaruhi flotasi adalah sebagai berikut :
1. Ukuran partikel
Ukuran partikel yang besar membuat partikel tersebut cenderung untuk
mengendap, sehingga susah untuk terflotasi.
2. pH larutan
Partikel cenderung mudah mengendap pada pH yang tinggi, sehingga dia lebih
susah terflotasi.
3. Surfaktan
Fungsi surfaktan adalah kolektor yang merupakan reagen yang memiliki
gugus polar dan gugus nonpolar sekaligus. Kolektor akan mengubah sifat
partkel hidrofil menjadi hidrofob.
4. Bahan kima lainnya misalnya koagulan
Penambahan koagulan dapat mengakibatkan ukuran partikel menjadi lebih
kecil.
5. Laju Udara
Laju udara berfungsi sebagai pengikat partikel yang memiliki sifat permukaan
hidrofobik, persen padatan. Untuk flotasi pada partikel kasar, dapat dilakukan
dengan persen padatan yang besar demikian juga sebaliknya. Besar laju
pengumpanan, berpengaruh terhadap kapasitas dan waktu tinggal.
6. Ukuran Gelembung Udara
7. Ketebalan Lapisan Buih
8. Penambahan Reagen Kimia
Dengan adanya perbedaan sifat permukaan hidrofobik dan hidrofilik perlu
adanya suatu reagen kimia untuk mengubah permukaan mineral.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

2.6. Macam-Macam Sel Flotasi


Sel flotasi berfungsi untuk menerima pulp dan dilakukan proses flotasi. Jenis
sel mendasarkan atas pemasukan udara, adalah :
Agitation Cell
Alat ini jarang digunakan, sebab adanya perkembangan dengan
diketemukannya sub aeration cell. Udara masuk ke dalam cell flotasi
karena putaran pengaduk.
Sub Aeration Cell
Udara masuk akibat hisapan putaran pengaduk. Alat ini paling praktis
sehingga banyak digunakan.
Pneumatic Cell
Alat ini jarang sekali yang menggunakan, udara langsung dihembuskan
ke dalam cell
Vacum and Pressure Cell
Udara masuk karena tangki dibuat vakum oleh pompa penghisap dan
udara dimasukkan oleh pompa injeksi.
Cascade Cell
Udara masuk karena jatuhnya mineral.
Syarat cell adalah :
Pulp tidak mengandap (dilengkapi dengan alat agitasi)
Ada pengatur tinggi pulp
Ada daerah yang relatif tenang sehingga butiran yang menempel gelembung

udara mudah naik ke permukaan


Konstruksi dibuat sehingga tidak terjadi short circuit
Mempunyai resirkulasi dan pengeluaran middling
Harus mempunyai penerimaan pulp dan pengeluaran busa yang menumpuk
Mempunyai permukaan bebas untuk gelembung-gelembng yang sudah

mengandung mineral, sehingga tidak mempengaruhi agitasi


Harus dilengkapi dengan pengeluaran froth.
2.7. Syarat-Syarat Dalam Flotasi
Syarat-syarat dari flotasi adalah sebagai berikut:
a. Mempunyai penerima pulp dan pengeluaran kosentrat.
b. Dapat menghasilkan/ada aliran udara yang dapat dimasukan kedalam sistem
tersebut.
c. Feed harus dalam bentuk pulp.
Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia
Universitas Lampung

2.8. Mekanisme Flotasi Secara Fisika dan Kimia

Gambar 3. Flotasi
1.

Flotasi secara fisika


Pengambilan bahan-bahan yang tersuspensi berukuran besar dan bahan yang

mudah mengendap atau bahan yang dapat terapung terlebih dahulu disingkirkan
atau dibuang. Cara yang paling efisien untuk menyisihkan bahan yang tersuspensi
berukuran besar dengan cara pengendapan. Sedangkan bahan yang tersuspensi
dapat mengendap dapat dipisahkan dengan cara pengendapan.
2.

Flotasi secara Kimia


Pemisahan menggunakan cara kimia biasanya menghilangkan partikel-

partikel yang sulit untuk diendapkan atau tidak mudah mengendap. Sehingga
dengan adanya penambahan bahan kimia tertentu yang diperlukan maka partikel
yang tidak mudah diendapkan menjadi mudah diendapan. Sebagai contoh
penyisihkan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada
konsentrasi yang rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasikannya dengan
klor (Cl2), kalsium permanganate, dll.
2.9. Langkah-Langkah Flotasi
Langkah-langkah flotasi adalah sebagai berikut :
1. Liberasi, analisis pendahuluan
Agar mineral terliberasi maka perlu dilakukan crushing atau grinding
yang diteruskan dengan pengayakan atau classifying. Ini dimaksudkan agar
Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia
Universitas Lampung

ukuran butir mineral dapat seragam sehingga proses akan lebih sukses atau
berhasil. Analisis pendahuluan dilakukan dengan menggunakan mikroskop
sehingga dapat dilihat derajat liberasinya dan kadar dari mineral tersebut.
Diupayakan dalam tahap ini juga dilakukan desliming, sebab slime akan
mengganggu proses flotasi.
2. Conditioning
Conditioning yaitu membuat suatu pulp agar nantinya pulp tersebut
dapat langsung dilakukan flotasi. Preparasi ini sebaiknya disesuaikan dengan
liberasi dalam proses basah, maka conditioning juga harus dilakukan pada
proses basah.Pada tahap pengkondisian, reagent yang diberikan adalah
modifier, collector dan terakhir frother.
3. Proses flotasi
Proses ini ditandai dengan masuknya gelembung udara kedalam pulp.
Gelembung uadara diinjeksikan kedalam tangki untuk mengapungkan
padatan sehingga mudah disisihkan. Dengan adanya gaya dorong dari
gelembung tersebut, padatan yang berat jenisnya lebih tinggi dari air akan
terdorong ke permukaan. Demikia pula halnya pada padatan yang berat
jenisnya lebih rendah daripada air. Hal ini merupakan keunggulan dari
teknik flotasi dibanding pengendapan karena dengan flotasi partikel yang
ringan dapat disisihkan dalam waktu yang bersamaan

2.10.

Reagen Flotasi
Agar proses flotasi dapat berlangsung maka diperlukan reagen flotasi.

Penggunaan reagen flotasi ini tidak dimaksudkan untuk mengubah sifat sifat
kimia dari partikel tersebut tetapi hanya mengubah sifat permukaan dengan
menyerap (adsorsi) reagen flotasi tersebut. Keberhasilan pemisahan mineral
secara flotasi ditentukan oleh ketepatan penentuan reagen kimia yang digunakan.
Secara garis besarnya reagen yang digunakan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
1. Kolektor
Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia
Universitas Lampung

10

2. Modifier
3. Frother
1.

Kolektor
Kolektor adalah suatu reagen yang memberikan sifat menempel pada udara

sehingga mineral tersebut senang pada udara. Collector merupakan zat organik
dalam bentuk asam, basa atau garam yang berbentuk heteropolar, yaitu satu
ujungnya senang pada air dan ujung lainnya senang pada udara.
Molekul kolektor berupa senyawa yang dapat terionisasi menjadi ion-ion
dalam air (ionizing collector) atau berupa senyawa yang tidak dapat terionisasi
dalam air (non ionizing collector). Non ionizing collector umumnya merupakan
hidrokarbon cair yang dihasilkan dari minyak maupun batubara (heptane = C 7H12,
toluen = C6H5CH3).
Sedangkan ionizing collector merupakan jenis kolektor yang molekulnya
memiliki struktur heteropolar, yaitu salah satu kutubnya bersifat polar (dapat
dibasahi air), sedangkan kutub lainnya bersifat non polar (tidak dapat dibasahi
air). Berdasarkan sifat, ionizing collector diklasifikasikan menjadi dua, yaitu
annionic collector dan cationinc collector.
Macam kolektor antara lain :

Xanthat, hasil reaksi alkohol, alkali dan sulfida karbon

Aerofloat, reaksi fenol dengan penta sulfida phosphor

Thio carbonalit (urae), sebagai serbuk halus

Fatty acid (asam lemak), untuk flotasi non logam

Oleic acid

Palmatic acid

A. Kemisorpsi
Dalam kemisorpsi, ion atau molekul dari larutan mengalami reaksi kimia
dengan permukaan, menjadi ireversibel terikat. Ini secara permanen mengubah
sifat permukaan. Kemisorpsi kolektor sangat selektif, karena ikatan kimia khusus
untuk tertentu atom.
Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia
Universitas Lampung

11

B. Physisorption
Dalam physisorption, ion atau molekul dari larutan menjadi reversibel terkait
dengan permukaan, melampirkan karena tarik elektrostatik atau van der Waals
ikatan. Zat physisorbed dapat desorbed dari permukaan jika kondisi seperti pH atau
komposisi larutan perubahan.
Physisorption jauh lebih selektif daripada kemisorpsi, sebagai pengumpul
akan menyerap pada setiap permukaan yang memiliki muatan listrik benar atau
derajat hidrofobisitas alamisodium oleat dan asam lemak dengan kutub kelompok
terjadi pada minyak nabati.
Collector untuk hematit dan logam lainnya mineral oksida.kuat kolektor,
rendah selektivitas Kurang-digunakan daripada asam lemak.kurang mengumpulkan
kekuatan, lebih tinggi selektivitas Karbon tetravalen, memiliki empat obligasi;
fosfor pentavalent dengan lima obligasi. atom belerang ikatan kimia permukaan
mineral sulfida.
C. Kolektor Nonionic
Minyak hidrokarbon, dan senyawa serupa, memiliki afinitas untuk
permukaan yang sudah sebagian hidrofobik. Mereka selektif menyerap pada
permukaan ini, dan meningkatkan hidrofobisitas mereka. Yang paling sering
melayang - bahan alami hidrofobik adalah batubara. Penambahan kolektor seperti
bahan bakar minyak dan minyak tanah secara signifikan meningkatkan
hidrofobisitas partikel batubara tanpa mempengaruhi permukaan abu pembentuk
mineral ikutan . Ini meningkatkan pemulihan batubara, dan meningkatkan
selektivitas antara partiles batubara dan bahan mineral.
Bahan bakar minyak dan minyak tanah memiliki beberapa keuntungan atas
kolektor khusus untuk flotasi :

Memiliki viskositas cukup rendah untuk membubarkan dalam bubur dan


tersebar di partikel batubara dengan mudah,

Sangat murah dibandingkan dengan senyawa lain yang dapat digunakan


sebagai pengumpul batubara.Selain batubara, juga memungkinkan untuk
mengapung mineral alami hidrofobik seperti molibdenit, unsur belerang, dan

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

12

bedak dengan kolektor nonionik. Kolektor nonionik membuat permukaan


sebagian

hidrofobik,

menambahkan

minyak

nonpolar

akan

sering

meningkatkan hidrofobisitas lebih lanjut dengan biaya rendah.


D. Kolektor anionik
Kolektor Anionik adalah asam lemah atau garam asam yang terionisasi dalam
air, menghasilkan kolektor yang memiliki ujung bermuatan negatif yang akan
melekat pada permukaan mineral, dan rantai hidrokarbon yang membentang ke
dalam cairan, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.

Gambar 4. Adsorpsi kolektor anionik ke permukaan padat.

Kolektor Anionic untuk Mineral Sulfida


Para kolektor yang paling umum untuk mineral sulfida adalah kolektor

sulfhidril, seperti berbagai xanthates dan dithiophosphates. Xanthates yang paling


sering digunakan, dan memiliki struktur yang mirip dengan apa yang ditampilkan
pada Gambar 8. Xanthates adalah kolektor sangat selektif untuk mineral sulfida,
karena mereka bereaksi secara kimia dengan permukaan sulfida dan tidak
memiliki afinitas untuk umum mineral gangue non-sulfida. Kolektor selektif
tinggi

lainnya digunakan dengan mineral sulfida, seperti dithiophosphates,

memiliki perilaku adsorpsi agak berbeda sehingga dapat digunakan untuk


beberapa pemisahan yang sulit menggunakan xanthates.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

13

Gambar 5. Struktur dari tipe kolektor xantat (etil xantat)

Kolektor anionik untuk Oksida Mineral


Para kolektor yang tersedia untuk flotasi mineral oksida yadalah ang tidak

selektif sebagai kolektor digunakan untuk sulfida flotasi mineral, karena mereka
menempel ke permukaan dengan daya tarik elektrostatik bukan oleh ikatan kimia
ke permukaan. Akibatnya, ada beberapa kolektor adsorpsi ke mineral yang tidak
dimaksudkan untuk mengapung.
Tipikal kolektor anionik untuk oksida flotasi mineral natrium oleat, garam
natrium dari asam oleat, yang memiliki struktur yang ditunjukkan pada Gambar 9.
kelompok anionic yang bertanggung jawab untuk melampirkan ke permukaan
mineral

adalah

gugus

karboksil,

yang

berdisosiasi

dalam

air

untuk

mengembangkan muatan negatif. Kelompok bermuatan negatif ini kemudian


tertarik ke permukaan mineral bermuatan positif.

Gambar 6. Struktur asam oleat, kolektor anionik sangat umum digunakan.


Karena partikel yang direndam dalam air mengembangkan muatan bersih karena
bertukar ion dengan cair, sering mungkin untuk memanipulasi kimia larutan
sehingga satu mineral memiliki muatan positif yang kuat , sementara mineral
lainnya memiliki muatan yang baik hanya positif lemah, atau negatif. Dalam
kondisi ini , kolektor anionik istimewa akan menyerap ke permukaan dengan
muatan positif terkuat dan membuat mereka hidrofobik.
Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia
Universitas Lampung

14

E. Kolektor kationik
Kolektor kationik menggunakan gugus amina bermuatan positif (ditunjukkan
pada Gambar 10) untuk melampirkan permukaan mineral. Karena gugus amina
memiliki muatan positif , dapat melampirkan ke bermuatan negatif permukaan
mineral. Kolektor kationik karena itu memiliki dasarnya efek sebaliknya dari
anion kolektor , yang menempel ke permukaan bermuatan positif. Kolektor
kationik terutama digunakan untuk flotasi silikat dan oksida langka - logam
tertentu, dan untuk pemisahan kalium klorida (vit) dari natrium klorida (garam
karang).

Gambar 7. Primer , sekunder , dan tersier gugus amina yang dapat


digunakan untuk kolektor kationik.

2.

Conditioner/Modifier
Merupakan suatu reagent, bila ditambahkan ke dalam pulp akan memberikan

pengaruh tertentu terhadap air atau mineral agar dapat membantu atau
menghalangi kerja dari collector. Pengaruh umum yang dihasilkan adalah
memperkuat atau memperlemah hydrophobisitas dari suatu permukaan mineral
tertentu. Modifier ini biasanya an organik.
Macam-macam conditioner/modifier:

Reagent pengontrol pH
Berfungsi untuk membuat suasana larutan menjadi asam atau basa. Pengaruh
pH dalam flotasi sangat penting sebab pH dapat mampengaruhi aksi dari reagent
lain terutama kolektor. Reagent kolektor akan bekerja dengan baik pada
permukaan mineral tertentu bila mencapai harga pH kritis. pH kritis adalah

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

15

ambang batas pH dimana kolektor dapat bekerja dengan baik pada minerl tertentu.
Harga pH kritis akan naik bersama naiknya kolektor yang dipakai.
Tinggi rendahnya pH ditentukan oleh konsentrasi ion-ion hidrogen dan ionion hidroksil (OH). Pengaruh ion-ion hidrogen hidroksil adalah terhadap hidrasi
permukaan bila tanpa kolektor dan adsorbsi kolektor pada permukaan mineral.
Kapur biasanya digunakan dalam flotasi sebagai Ca(OH)2 padat dan biasanya
kapur yang dimasukkan sebanyak 1,4 gram CaO per liter (tergantung pada
mineral yang dipisahkan). Kapur ini dapat dipakai sebagai reagent pengendap
dalam timbal sulfida dan emas. Yang digunakan sebagai pengontrol pH adalah ;
soda abu (NaCO3) dan Caustic Soda.

Depressing Agent (reagent pengendap)


Berfungsi untuk mencegah dan menghalangi mineral yang mempunyai
flotablita sama supaya tidak menempel pada gelembung udara. Biasanya yang
digunakan adalah seng sulfat (ZnSO4) untuk menekan mineral sfalerit dan sodium
sianida (NaCN) untuk menekan mineral pyrite. Zn(CN)2 + Na2SO4 ZnSO4 + 2
NaCNHasil reaksi tersebut dapat menekan sfalerit sehingga menjadi hydrofillic
dan mencegahadsorbsi colector. Macam yang lain antara lain : lime (kapur),
NaCN atau KCN dan Na sulfida.

Activating Agent (reagent pangaktif)


Berfungsi mengembalikan sifat flotabilit mineral sehingga tidak terpengaruh

oleh aksi reagent kolektor yang telah diberikan sebelumya. Contohnya tembaga
sulfat (CuSO4) terhadap mineral sfalerit. Mineral sfalerit tidak dapat diapungkan
dengan baik oleh kolektor xanthate. Proses pengaktifan tembaga sulfat pada
sfalerit akibat terbentuknya molekul tembaga sulfida (CuS) pada permukaan
mineral dengan reaksi ion CuS + Zn++ ZnS + Cu++

Sulfidizing Agent
Penambahan Na2S akan mengakibatkan endapan yang berupa selaput sulfida

pada mineral tersebut sehingga logam oksida dapat terselimuti sulfida. Pemakaian
sulfida yang berlebihan akan membuat sulfida itu mengandap.

Reagent Dispersi (dispersant, defloculator)

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

16

Berfungsi menjaga agar partikel-partikel mineral tidak membentuk gumpalan


tetapi tetap berada dalam suspensi. Fraksi mineral yang bersifat non polar
mempunyai kecenderungan untuk membentuk gumpalan, sedangkan mineralmineral yang polar tidak berkecenderungan demikian tetapi tetap melayang.
Reagent yang biasa digunakan adalah waterglass.
Kedudukan sebaran dapat dipertahankan oleh reagent waterglass akibat
adsorbsi ion-ionnya terhadap permukaan mineral. Reagent ini disebut juga
defloculating agent. Mineral yang senang pada udara itu biasanya menggumpal,
sedang yang senang terhadap air akan melayang dalam air, oleh karena itu
penambahan reagent ini bertujuan agar mineral tersebut menyebar. Reagent yang
sering dipakai adalah ; NaSiO2 (waterglass) dan Na3PO4 (trinatrium phosphat)
untuk butir yang halus. Untuk suatu reagent yang sama mungkin dapat bertindak
sebagai aktivator terhadap suatu mineral, tetapi merupakan depresant untuk
mineral yang lain.
3.

Frother
Frother (pembuih) akan terkonsentrasi pada antar muka udara dan air.

Kehadiran froter pada fasa cair pada larutan reagen kimia yang dipakai dalam
flotasi untuk membentuk buih atau busa. Reagen ini mempunyai permukaan yang
aktif dan biasanya pada flotasi berguna untuk meningkatkan gelembung udara
dan menolong supaya gelembung menyebar.
Ini berarti memperbaiki kondisi penempelan partikel mineral dan menaikaan
stabilitas busa. Kontak antar mineral udara dan air dikenal dengan kontak tiga fasa
dan sudut yang terbentuk antara mineral dengan antar muka udara-air yang diukur
pada fasa air disebut dengan sudut kontak. Sudut kontak = 0, berarti permukaan
padatan diselimuti air (hidropilik) dan sudut kontak = 180 0 udara menutupi
padatan. Sudut kontak sering digunakan sebagai ukuran kehidropobikan
permukaan mineral.
a.

Penggunaan Frother

Pemakaian frother pada proses flotasi sangat penting dilihat dari fungsinya yaitu :
Frother mencegah perpaduan gelembung udara dan menjaga kestabilan
gelembung untuk selama periode waktu yang cukup lama.
Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia
Universitas Lampung

17

Lapisan frother pada kulit gelembung udara menaikkan ketahanan gelembung


terhadap bermacam macam ketahanan dari luar.
Lapisan frother pada gelembung mengurangi kecepatan gelembung didalam
pulp, sehingga kontak gelembung dengan mineral mineral akan
menimbulkan kondisi yang lebih baik yang menguntungkan proses flotasi.
b.

Karakteristik Frother

Beberapa karateristik Frother adalah sebagai berikut :


Suatu substansi organik.
Molekulnya heteropolar terdiri dari satu atau lebih gugusan HC yang
dihubungkan satu grup yang polar.
Kelarutannya tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil.
Tidak ter-ion.
Busa atau buih akan segera patah detelah berpindah dari sell flotasi.
Mempunyai aktivitas kimia yang lemah.
Contoh Frother :
MIBC = Methyl Isobutyl Carbinol
Minyak pinus (kayu putih)
Terpentin
Pemakaian : 5 100 g/t
c.

Frothers Sintesis dan Alami


Frothers asli adalah produk alami , seperti minyak pinus dan asam cresylic .

Ini kaya bahan aktif permukaan yang menstabilkan gelembung buih , dan frothers
efektif . Sebagai produk alami , mereka tidak bahan kimia murni , melainkan
mengandung berbagai bahan kimia selain mereka yang frothers efektif . Beberapa
dari senyawa ini dapat bertindak sebagai pengumpul dengan menempel pada
permukaan mineral .
Akibatnya , frothers ini juga kolektor lemah. Meskipun hal ini dapat memiliki
keuntungan mengurangi jumlah kolektor yang perlu ditambahkan secara terpisah ,
memperkenalkan beberapa masalah dengan kontrol proses . Jika frother juga

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

18

seorang kolektor , maka menjadi sulit untuk mengubah karakteristik buih dan
karakteristik pengumpulan operasi flotasi secara mandiri .
Frothers sintetis seperti alkohol jenis dan polipropilena glikol -jenis frothers ,
memiliki keuntungan bahwa efektivitas mereka sebagai kolektor diabaikan . Oleh
karena itu mungkin untuk meningkatkan frother dosis tanpa juga mengubah
jumlah kolektor dalam sistem . Ini pada gilirannya membuat proses flotasi lebih
mudah untuk mengontrol .
2.11.

Peralatan Flotasi

Flotasi Cell
Beberapa variabel yang mempengaruhi hasil flotasi dengan menggunakan
flotasi cell adalah kecepatan pengaliran udara, gelas poros dari alat, densitas dari
pulp, ukuran alat ( ketinggian kolom dari dasar sampai permukaan pulp) dan
kondisi dari pulp (PH, adsorbsi, desorbsi). Dengan kondisi yang tertentu dari
kecepatan aliran udara, ukuran atau diameter bukaan (P = opening) dari gelas
poros menghasilkan gelembung udara dengan diameter yang kecil. Densitas dari
pulp, volume dari pulp dan ukuran alat juga merupakan faktor variabel yang
penting. Jika densitasnya terlalu tinggi, tabrakan antar partikel akan lebih besar
dan

kemungkinan

penempelan

partikel-partikel

yang

mengapung

harus

diapungkan. Salah satu faktor penentu dalam proses flotasi yang mempengaruhi
kemampuan flotasi dari mineral mineral adalah mesin flotasi perbaikan dari
perencanaan impeller dan bentuk dari pada cell, dan beberapa harga parameter
operasi seperti kecepatan impeller/konsumsi udara dan tenaga, memegang peranan
penting.

Setiap

perusahaan

mempunyai

karakteristik

tersendiri

dalam

merencanakan cell ini. Sebagai contoh ratio kedalaman dan panjang dari tank,
jumlah sudut sudut pada impeller dan ratio dari ketebalan impeller terhadap
diameternya mempuinyai harga harga berlainan.. Flotasi cell (flotation cell) dan
flotasi cell mikro (mikro flotation cell) merupakan contoh dari jenis alat flotasi.
Untuk skala laboratorium alat flotasi yang digunakan adalah mikroself flotasi.
Gambaran skematis dari flotasion cell ditunjukan pada gambar berikut ini.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

19

Pada proses flotasi mineral berharga bersama dengan reagen akan menempel pada
gelembung udara naik kepermukaan sedangkan sisanya berupa pasir halus dan air
laut ini disebut dengan tailing.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

20

2.12.

Keunggulan dan Kekurangan dari Flotasi


Keunggulan dari proses pengapungan (flotasi) adalah pada umumnya

cukup efektif pada bijih dengan ukuran yang cukup kasar (28 mesh) yang berarti
bahwa biaya penggilingan bijih dapat diminimalkan. Froth flotation sering
digunakan mengkonsentrasi emas bersama-sama dengan logam lain seperti
tembaga, timah dan seng. Partikel emas dari batuan okosida biasanya tidak
merespon dengan baik namun efektif terutama bila dikaitkan dengan emas sulfida
seperti pyrite, metode flotasi mampu memecahkan bijih yang tidak dapat diolah
dengan menggunakan metode pengolahan mineral konvensional.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

21

Kekurangan dari metode flotasi ini adalah tingginya biaya investasi


infrastruktur, biaya produksi juga lebih tinggi. Perkiraan bahwa hukum segregasi
investasi dalam infrastruktur adalah sekitar dua kali pabrik flotasi dari kapasitas
yang sama, biaya produksi akan menjadi 2 sampai 3 kali lebih tinggi. Segregasi
dalam pengobatan bijih tembaga oksida tahan api, tembaga kelas dalam bijih
harus lebih besar dari 2% untuk mendapatkan hasil yang lebih baik ekonomi.
Metode pemisahan digunakan untuk menyelesaikan hanya mereka yang
sebaliknya tidak dapat memproses bijih. Oleh karena itu, sebelum menggunakan
metode ini untuk menangani pengolahan bijih untuk sebuah studi komprehensif,
jika metode pengobatan lain, tidak disukai hukum segregasi.
2.13.

Penerapan dalam Kehidupan


Penerapan flotasi dalam kehidupan banyak digunakan di bidang

perindustrian, antara lain:

Pemurnian air (di PDAM dengan elektroflotasi)

Pengolahan air limbah

Desulfurinasi batubara

Industri metalurgi

Industri Kertas, daur ulang kertas

Pengolahan limbah logam


(Wikipedia, 2009)

Mekanisme yang Terjadi dalam Penerapan


Dalam industri misalnya pengolahan limbah industri yang kandungan
logamnya besar sebelum dibuang langsung kedalam sungai yang dapat
membahayakan makhluk hidup. Karena dengan proses flotasi dapat memisahkan
partikel yang berukuran kecil sekalipun secara sempurna. Pada flotasi ini separasi
dihasilkan dari gelembung-gelembung gas. Gas yang ditambahkan kedalam air
limbah akan mengalami kontak dengan partikel-partikel air limbah sehingga
partikel-partikel tersebut dapat mengapung kepermukaan karena adanya gaya

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

22

apung yang cukup besar yang dihasilkan gas tersebut (task-list.blogspot.com,


2008).
Pada intinya, penambahan gas pada pengolahan limbah akan berkontak
dengan limbah logam yang bersifat hidrofobik. Dimana gas ini yang bersifat
ringat akan memberikan gaya dorong ke hidrofobik sehingga hidrofobik akan
terpisah dari hidrofiliknya. Hidrofibik yang berupa limbah logam ini akan
mengapung karena adanya gaya dorong berupa gaya apung yang besar dari gas.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

23

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Flotasi adalah suatu proses dimana padatan, cairan atau zat terlarut dibawa
ke permukaan larutan dengan penggunaan gelembung udara. Jenis-jenis flotasi
yaitu Aerasi pada tekanan atmosfer (air flotation), Dissolved Air Flotation (DAF),
dan Vacum Flotation. Prinsip flotasi yaitu Penempelan partikel (mineral) pada
gelembung udara, gelembung mineral harus stabil, ada sifat Float dan sink.
Faktor - faktor yang mempengaruhi flotasi adalah ukuran partikel, pH
larutan, surfaktan, bahan kimia lainnya misalnya koagulan, laju udara, ukuran
gelembung

udara,

ketebalan

lapisan

buih,

serta

penambahan

reagen

kimia. Macam-macam sel flotasi yaitu agitation cell, sub aeration cell, pneumatic
cell, vacum and pressure cell, cascade cell.
Mekanisme flotasi didasarkan pada adanya pertikel mineral yang dibasahi
(hidropilik) dengan partikel mineral yang tidak dibasahi (hidropobik). Partikel partikel yang basah tidak mengapung dan cenderung tetap berada dalam fasa air.
Di lain pihak partikel - perikel hidropobik (tidak dibasahi) menempel pada
gelembung , naik ke permukaan, membentuk buih yang membentuk partikel dan
dipisahkan.
Aplikasi flotasi yaitu aplikasi baru untuk flotasi dari Bijih Tembaga
Teroksidasi. Keunggulan metode flotasi mampu memecahkan bijih yang tidak
dapat diolah dengan menggunakan metode pengolahan mineral konvensional.
Kekurangan dari metode flotasi ini adalah tingginya biaya investasi infrastruktur,
biaya produksi juga lebih tinggi.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

24

DAFTAR PUSTAKA

Aris Mukimin, 2006, Pengolahan Limbah Industri Berbasis Logam dengan


Teknologi Elektrokoagulasi Flotasi, Program Magister Ilmu Lingkungan,
Universitas Diponegoro Semarang
Metcalf dan Eddy, 1991, Wastewater Engineering: Treatment, Disposal and
Reuse, McGrawHill, New York
Othmer, Kirk, 1998, Consise Encyclopedia of Chemical Technology, John Wiley
and Sons, Inc., New York.
Rich, Linvil G. 1961. Unit Operations of Sanitary Engineering. New York, USA:
John Wiley & Sons Inc.
Ziyadanogullari, Recep and Firat Aydin, 2005, A New Application For Flotation
Of Oxidized Copper Ore, Dicle University, Faculty of Science and Art,
Chemistry Department, Turkey, Vol. 4, No. 2, pp 67-73, 2005.

Pemisahan Campuran Heterogen FLOTASI, Teknik Kimia


Universitas Lampung

25