Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

TEKNOLOGI & FORMULASI SEDIAAN SOLIDA


SEDIAAN TABLET PCM (METOD GRANULASI BASAH)
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II
RABU / 07.00 - 10.00 WIB
Pavin

260110132009

Editor & Tujuan

Najeeha A Hadi

260110132020

Teori Dasar & Daftar Pustaka

Mahalacimy Selvaraj

260110132005

Pre/Formulasi

Shakilaa Devi

260110132018

Prosedur & Perhitungan

Arul Kumaren

260110132012

Evaluasi & Pengolahan Data

Raj Kannah

260110132001

Pembahasan & Kesimpulan

LABORATORIUM TEKNOLOGI & FORMULASI SEDIAAN SOLIDA


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

I.

Tujuan
1. Mengetahui cara pembuatan tablet dengan metode granulasi basah.
2. Melakukan uji Quality Control (QC) terhadap tablet.

II.

Prinsip
1. Metode granulasi basah.
Metode granulasi basah iaitu proses pencampuran partikel zat aktif dan
eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan cairan
pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi massa lembab yang
dapat digranulasi.
2. Evaluasi tablet berdasarkan standar quality control (QC)

III.

Kekerasan tablet

Waktu hancur

Keseragaman bobot dan bentuk

Keseragaman ukuran

Friabilitas

Sifat aliran

Kadar air

Teori dasar

Menurut farmakope Indonesia edisi III. Tablet adalah sediaan padat,


kompak, dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler,
kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih
dengan atau tanpa zat tambahan.
Dimana zat tambahan yang digunakan dapat berfungsi sebagai bahan
pengisi, zat pengikat, zat pelincir, zat pengembang, zat pembasah atau zat lain
yang cocok.
Tablet adalah bentuk sediaan farmasi yang paling banyak dibuat /
diproduksi karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan dari bentuk sediaan
lainnya yaitu :
1.

Takaran obat cukup teliti dan serba sama untuk setiap tablet.

2.

Pembebasan obat dapat diatur sesuai dengan efek terapi yang diinginkan

3.

Rasa dan bau yang tidak menyenangkan dapat ditutupi dengan penyalutan

4.

Bahan obat yang dapat rusak oleh cairan atau enzim dalam saluran pencernaan
dapat diatasi dengan penyalutan.

5.

Mudah dalam pengemasan, pengepakan, transportasi dan penggunaannya

6.

Biaya produksi relaatif mudah dibandingkan dengan bentuk sediaan lain.


Dan memiliki kerugian / kelemahan yaitu :

1.

Sukar diberikan pada anak-anak dan penderita yang sukar menelan

2.

Biasanya efek terapi yang diinginkan lebih lambat

3.

Bentuk yang menarik dan rasa yang enak dapat menyebabkan anak-anak
semaunya saja.
Persyaratan khusus untuk sediaan tablet dalam farmakope Indonesia edisi III :

1.

Mengandung zat berkhasiat sesuai yang tertera pada etiket.

2.

Mempunyai keseragam ukuran yaitu diameter tidak lebih dari 3x dan tidak
kurang dari 11/3 tablet tebalnya.

3.

Mempunyai keseragam bobot.

4.

Kecuali dinyatakan lain, waktu hancur dari tablet tidak lebih dari 15 menit
untuk tablet tidak bersalut dan tidak lebih dari 60 menit untuk tablet bersalut
selaput.

Berdasarkan sifat fisika kimia dari bahan obat, maka tablet dapat dibuat dengan
berbagai cara :
1.

Cara kering

a.

Cetak langsung
Yang dimaksud dengan cetak langsung disini adalah proses pembuatan tablet
yang dilakukan dengan mencetak langsung bahan obat dengan atau tanpa
penambahan bahan pembantu. Dimana cara ini dapat digunakan untuk zat aktif
yang mempunyai sifat seperti :

Mudah mengalir

Dapat dimampatkan

Mudah dibasahi
Dan untuk tablet yang mempunyai bahan aktif 10% dari bobot tablet, maka
sifat tablet tergantung dari sifat bahan pembantu, dan jika bahan aktifnya <10%
maka yang menentukan sifat tablet adalah sifat dari bahan aktifnya.
Cara pembuatan tablet cetak langsung :

Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien

Mencampur semua komponen untuk tablet

Pencetakan tablet

b.

Granulasi kering / prekompresi


Cara ini merupakan proses pembuatan granul tanpa melibatkan air sama
sekali. Di manna campuran serbuk dicetak menjadi tablet besar dan keras (slug),
kemudian slug di ayak menjadi granul yang diinginkan. Cara slugging ini sangat
cocok untuk bahan aktif yang sifat alirnya kurang baik, peka terhadap panas dan
kelembaban.
Pada penyusunan formula untuk tablet

yang dibuat dengan cara

prekompresi ini perlu dipertimbangkan bahn-bahan pembantu yang dipilih


haruslah dapat menghasilkan slug yang keras. Kegagalan akan terjadi pada waktu
membuat granul dari slug akan terbentuk serbuk bukan granul.
Cara pembuatan tablet granulasi kering :

Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien

Mencampur semua komponen untuk tablet

Mencetak menjadi tablet besar dan keras untuk membuat slug

Pengayakan slug menjadi granul

Mencampur granul dengan bahan penghancur dan pelincir

Pencetakan tablet

2.

Cara basah

a.

Granulasi basah
Merupakan cara yang paling umum dan banyak dilakukan, karena hamper
semua jenis bahan aktif dapat diproses secara granulasi basah. Disebut granulasi
basah karena di dalam proses pembuatan granulnya mempergunakan larutan
bahan pengikat, dimana campuran serbuk ditambah dengan larutan bahan
pengikat atau dalam bentuk mucilage sampai terbentuk masa yang konsistensinya
dapat dikepal.
Cara pembuatan tablet granulasi basah :

Menghaluskan bahan aktif / aktif / eksipien

Mencampur semua komponen untuk tablet

Membuat larutan pengikat

Mencampur larutan pengikat dengan campuran bahan komponen obat, untuk


membentuk masa yang basah.

Mengayak secara kasar masa basah, dengan ayakan ukuran mesh 14.

Mengeringkan granul basah

Mengayak granul kering melalui ayakan ukuran mesh 16

Mencampur granul kering yang sudah diayak dengan bahan pelincir dan
penghancur luar.

Pencetakat tablet.

b.

Granulasi dasar
Tablet yang dibuat dengan granulasi dasar yaitu bahan obat yang tidak stabil
dengan adanya air atau terurai dengan adanya panas. Sifat aliran dan daya
kompresibilitasnya jelek, dimana tahap-tahap pengerjaannya sama dengan cara

granulasi basah. Hanya pada granulasi dasar bahan obat tidak di granulasi
bersama-sama dengan bahan pembantu, seperti bahan pengisi, penghancur dalam
tetapi ditambahkan pada tahap lubrikasi dalam bentuk serbuk halus atau fine
kedalam granul bersama-sama dengan penghancur luar dan bahan lubrikan.
Pada cara granulasi dasar ini perlu diperhitungkan terlebih dahulu jumlah
fine dalam masa cetak ini karena dapat menimbulkan kesulitan selama proses
pencetakan. Fine dalam cara ini berasal dari bahan obat, bahan penghancur luar,
bahan lubrikan juga berasal dari hasil pengayakan granul yang dikeringkan.
c.

Cara-cara khusus
Cara-cara khusus ini juga bertujuan untuk menghasilkan granul baik yang
mengandung bahan obat sendiri maupun granul-granul dari bahan pembantu
tablet. Granul-granul yang dihasilkan dengan cara ini digunakan untuk kondisikondisi tertentu karena harganya mahal.
Cara-cara khusus ini ada tiga cara pengerjaannya :

Soray congealing
Cara ini juga dikenal sebagai cara spray chilling yang mirip dengan cara
spray drying tetapi tanpa menggunakan panas.
Bahan obat yang dapat diproses dengan cara ini terlebih dahulu dilarutkan
atau disuspensikan dalam lelehan malam. Lelehan ini disemprotkan kedalam
udara yang mengalir, udara yang mengalir ini sejuk / dingin tergantung pada titik
beku dari produk, sebagai contoh monogliserida memerlukan udara dingin sekitar
10oC. granul yang dihasilkan dengan cara ini memiliki sifat mudah mengalir dan
sifat kemudahan dalam pencetakan.

Spray drying
Serbuk bahan obat / bahan-bahan pembantu tablet dalam keadaan halus
ditiup dengan angin turbulensi kemudian disemprotkan bahan penyalut dalam
bentuk larutan disperse secara berkala. Serbuk-serbuk yang baru dibasahi ini
dikeringkan dengan udara hangat yang telah disaring terlebih dahulu kemudian
hasil kering ini dibawa bersama udara tersebut ketempat penampungan.

Bahan obat dalam bentuk padat ataupun cairan dapat dip roses secara spray
drying ini seperti Vitamin A dan Vitamin D yang larut di dalam minyak dapat
disalut dengan larutan bahan pengikat sehingga tidak mudah terurai.
Bahan pembantu yang sering dip roses dengan cara ini adalah laktosa dan
pati, hasilnya berupa granul-granul yang dapat digunakan sebagai bahan pengisi,
bahan pengikat kering ataupun bahan penghancur.

Speronisasi
Proses pembuatan masa granul basah sama dengan cara granulasi basah
dimana bahan obat, bahan pengisi (bila perlu) digranulasi dengan larutan bahan
pengikat, masa basah ini dilewatkan terlebih dahulu kedalam alat Extrude
machine untuk membentuk batang silinder dengan diameter 0,5-12 mm, melalui
ayakan ukuran mesh tertentu baru dilewatkan kedalam Marumerizer dimana
batang-batang tersebut akan dirubah bentuknya menjadi bentuk spheris, akibat
gya sentrifugal dan gaya gesek dari ayakan yang berputar. Granul-granul spheris
ini kemudian dikeringkan.
Keuntungan cara spheronisasi ini adalah menghasilkan granul dengan
keseragaman bentuk dan ukuran disamping jumlah fine nya minimal.

IV.

Preformulasi Eksipien

Nama

Amprotab

Nama lain

Amylum Manihot

Pemerian

Serbuk halus, kadang-kadang berupa gumpalan kecil; putih;


tidsk berbau; tidak berasa.

pH

4,5 - 7,0

Kelarutan

Tidak larut dalam air dingin dan dalam etanol.

Stabilitas

Stabil dalam keadaan kering

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup, tempat sejuk dan kering.

Khasiat

Zat tambahan

Daftar Pustaka

F III, hal 93

Struktur Molekul

Rumus Molekul

C12H22O11

Nama

Laktosa

Nama Kimia

O--D-galactopyranosyl-(14)--D-glucopyranose

Berat Molekul

342,30

Pemerian

Laktosa adalah serbuk atau partikel kristal berwarna putih,


rasa manis dan tidak berbau.

Suhu Lebur

2320C

Kelarutan

Larut dalam air, sedikit larut dalam etanol 95% dan eter

Stabilitas

Laktosa dapat berubah warna menjadi kecoklatan dalam


penyimpanan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh panas,
kondisi lembap yang kelebabannya hingga 80%

Inkompatibilitas

Laktosa inkompatible dengan oksidator kuat, mengalami


reaksi maillard dengan amin primer dan sekunder bila
disimpan dalam kelembaban tinggi.

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup di tempat sejuk dan kering

Khasiat

Zat Tambahan

Daftar Pustaka

Handbook of Pharmaceutical Exipient


Halaman 359- 361

Struktur Molekul

Rumus Molekul

C36H70MgO4

Nama Kimia

Octadecanoic acid magnesium salt

Berat Molekul

591,29

Pemerian

Serbuk halus berwarna putih, bau samar rasa khas

Kelarutan

Praktis tidak larut dalam etanol 95%, eter dan air, sedikit
larut dalam benzen hangat

Stabilitas

Magnesium stearat stabil dan dapat disimpan dalam wadah


tertutup rapat dan kering

Inkompatibilitas

Dengan asam kuat, basa, garam besi. Hindari pencampuran


dengan bahan teroksidasi kuat.

Penyimpanan

Dalam wadah tertutup rapat

Kegunaan

Lubrikasi

Daftar Pustaka

F III hal 354

Rumus Molekul

Mg6(S12O5)4OH4

Nama Kimia

Talk

Pemerian

Sangat halus, warna putih sampai putih ke abu-abuan, tidak


berbau, berkilat, mudah melekat pada kulit.

Kelarutan

Tidak larut dalam hampir semua pelarut

Stabilitas

Talk merupakan bahan yang stabil, dapat di sterilisasi


dengan pemanasan sampai 1600C tidak kurang dari 1 jam
dapat juga disterilkan dengan gas etilen

Inkompatibilitas

Dengan kandungan ammonium kwartner

Penyimpanan

Wadah tertutp, rapat dan kering

Kegunaan

Glidan

Daftar Pustaka

F III hal 591

Rumus Molekul
Nama Kimia

Carboxy Metyl Cellulosium Natrium (Na-CMC)

Pemerian

Warna putih sampai krem, tidak berasa, tidak berbau

Kelarutan

Mudah terdispersi dalam air membentuk larutan koloid,


tidak larut dalam etanol

Stabilitas

Higroskopis dan dapat menyerap air pada kelembaban tinggi

Inkompatibilitas

Dengan larutan asam kuat, dan larutan garam dari beberapa


logam

Penyimpanan

Wadah tertutup rapat

Kegunaan

Suspending agent

Daftar Pustaka

F III, hal 132

Farmakope Indonesia Ed III, Indonesia : Departmen Kesehatan, 1979.

V.

Prosedur

Pembuatan fasa dalam

Bahan dalam seperti paracetamol ditimbang sebanyak 112.5g, CMC untuk 5%


ditimbang sebanyak 15g untuk pasta serta laktosa sebanyak 24g ditimbang.
Kemudian, beaker glass kosong pun ditimbang. Setelah itu, 15g CMC untuk pasta
disuspensikan dengan 100ml air dan diaduk hingga homogen. Selanjutnya, beaker
glass yang berisi CMC ditimbang. Lalu, paracetamol, laktosa dan CMC
dimasukkan ke dalam wadah untuk diaduk. Setelah itu, dicampurkan sedikit demi
sedikit dengan pasta CMC yang sudah jadi, diaduk sampai terbentuk massa yang
bias dikepal. Selanjutnya, beaker glass yang berisis sisa pasta CMC ditimbang.
Kemudian, massa ynag bias dikepal tersebut dilewatkan dalam mesh untuk
menghasilkan granul, dan granul-granul tersebut ditampung menggunakan
Loyang. Lalu, dikeringkan di dalam oven selama 18-24jam.
Penimbangan fasa luar.
Bahan-bahan untuk fase luar ditimbang. Magnesium sterate untuk 1% ditimbang
sebanyak 1.032g dan talkum untuk 1% ditimbang sebanyak 1.032g. Hasil
penimbangan ini didapatkan dari perhitungan yang sudah dilakukan sebelumnya.
Pencampuran fasa dalam dan fasa luar.
Granul yang sebelumnya sudah dikering diayak denagn menggunakan ayakan
dengan mesh. Kemudian fase luar meliputi talkum dan Magnesium stearate
dicampurkan dengan granul yang sudah diayak tersebut, diaduk hingga homogen.
Evaluasi granul
a. Uji Laju Alir (Powder Flow Tester)
Ditimbang 20g granul fase luar. Kemudian disiapkan stopwatch. Lalu disiapkan
alat untuk menentukan kecepatan alir serbuk dan sudut istirahat. Dipastikan
bagian bawah alat (berupa corong) telah tertutup rapat dan beri alas berupa kertas
pada bagian bawah alat untuk membuat plot diameter yang terbentuk.
Selanjutnya, dimasukkan granul ke dalam alat tersebut. Segera setelah bagian
penutup bawah dibuka, segera dicatat waktu yang dibutuhkan oleh serbuk untuk
mengalir. Lalu, dihitung diameter lingkaran gunung serbuk yang terbentuk, tinggi

puncak gunung serbuk, dan sudut istirahat. Selesai pengujian, alat dibersihkan
dari sampel dan alat ditutup dengan penutupnya.
b. Uji Kompresibilitas
1. Kalibrasi Alat Tap Density Tester
Alat diset pada posisi off, dialiri tegangan sebesar 220volt. Set jumlah tap yang
dingini pada tombol tap, lalu ditempatkan gelas ukur pada tempat pada alat tap
density tester. Dipindahkan posisi tombol on/off pada posisi on. Jika angka pada
jumlah tap menunjukkan angka 00000 maka proses tap akan berhenti. Dibaca
skala gelas ukur dalam ml dari hasil tap.
2. Persiapan Sampel Uji
Sampel uji disiapkan dan sampel tersebut dijadikan serbuk halus/kecil lalu
ditimbang sebanyak 20gram.
3. Penentuan Tap density Sampel
Gelas ukur 25ml ditimbang dengan menggunakan neraca analitik, dicatat
beratnya. Dimasukkan 20gram serbuk sampel ke dalam gelas ukur sampai tanda
batas. Dicatat volume atas dan bawah pada gelas ukur yang telah terpasang alat.
Tombol start dinyalakan selama 4 menit. Setelah 4 menit alat dimatikan.
Kemudian

dicatat

volume

akhir

granul

dan

dihitung

persentase

kompresibilitasnya.
c. Uji Susut Pengeringan (Loss on Drying)
Serbuk ditimbang sebanyak 10gram. Plat aluminium foil disimpan pada alat LOD
dan ditekan tare. Kemudian granul dimasukkan ke plat aluminium foil dan
diratakan. Selanjutnya, suhu diatur 700C selama 10menit. Lalu, massa akhir dan
5% LOD dicatat.
Pencetakan Tablet
Serbuk dimasukkan ke dalam alat Punch and Die. Kemudian alat diatur diameter
dan tebal tablet sesuai dengan perhitungan yang didapat. Alat dioperasikan manual

terlebih dahulu untuk mendapat 1 tablet yang akan diuji beratnya apakah sudah
sesuai dengan pehitungan yang didapat. Setelah mendapatkan tablet yang sesuai,
tablet dicetak kembali sampai serbuk habis. Kemudian diplih tablet yang akan
diuji pada pengujian tablet. Tablet yang dipilih akan dimasukkan ke dalam botol
obat.
Evaluasi Tablet
1) Uji Keseragaman Bobot
Sebanyak 20 tablet ditimbang menggunakan neraca digital. Kemudian alat
dinyalakan dan bobot masing-masing tablet dicatat.
2) Uji Keseragaman Ukuran
Sebanyak 20 atblet disiapkan dan masing-masing tablet diukur diameter dan
tebalnya dengan jangka sorong. Jarum sebelumnya sudah diatur sampai
menunjukkan angka nol. Lalu tuas pada jangka sorong ditarik, dan tablet
diletakkan pada tempatnya, untuk mengukur, tebal tablet diletakkan secara
mendatar dan untuk mengukur diameter tablet diletakkan pada posisi tegak.
Setelah itu, tebal dan diameter tablet dicatat.
3) Uji Kekerasan Tablet (Hardness Test)
Alat dinyalakan dan tombol diputar sehingga lampu penunjuk skala on menyala.
Jarum penunjuk kekerasan harus berada pada titik nol. Kemudian tablet diletakkan
secara vertical dan ditengah-tengah jarum penekan. Dudukan tablet dinaikkan
dengan memutar sekrup di bawahnya sampai tablet menekan jarum penekan dan
lampu stop menyala. Kemudian, lampu penunjuk skala akan bergerak dan
berhenti saat tablet pecah. Selanjutnya, lampu stop dipadamkan dan dicatat
tekanan yang dibutuhkan untuk memecah tablet. Prosedur yang sama dilakukan
untuk 20 butir tablet.
4) Uji Fribialitas

Sejumlah tablet ditimbang hingga diperoleh berat 6-6.5 gram dan bobot tablet
dicatat. Tablet yang sudah ditimbang dimasukkan ke dalam alat friability tester.
Alat ini dinyalakan selama 4 menit, kemudian alat dimatikan setelah 4 menit.
Selanjutnya, tablet yang masih utuh ditimbang bobotnya dan didapat bobot akhir.
Lalu, persentase friabilitasnya dihitung.
5) Uji Waktu Hancur
800ml air disiapkan dalam beaker glass. Selanjutnya, alat dinyalakan dengan
menekan tombol main switch. Dan suhunya pun diatur hingga 37 0C dengan
menekan tombol heater. Kemudian 6 tablet yang akan diuji dimasukkan ke
dalam tabung disintegrator. Lalu, cakram dimasukkan ke dalam tabung
disintegrator dengan posisi yang sama. Setelah itu, tabung disintegrator
dimasukkan ke dalam beaker glass dan beaker glass dimasukkan ke dalam box
disintegrator, tabung disintegrator digantungkan pada gantungan logam.
Selanjutnya, alat dinyalakan dengan menekan tombol start sambil memulai
menghitung waktu dengan stopwatch dan waktu hancur tiap tablet dicatat.
Pengujian dihentikan saat semula tablet hancur semua.
Perhitungan
Resep:
PCT
Laktosa
CMC 5%
Magnesium Sterate 1%
Talkum 1%
Formula
PCT: 375mg 300= 112.500mg= 112.5g
Laktosa: 80mg 300= 24.000mg= 24g

CMC 5%: 300ml5/100= 15g


Magnesium Sterate 1%: 1/100103.23g= 1.032g
Talkum 1%: 1/100103.23g= 1.032g
Bets: 50 tab

VI.

Data Pengolahan
1. Uji Kekerasan

NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
RATA RATA= 44,475
MEMENUHI SYARAT (40N-80N)

NILAI
25.0N
50.0N
45.0N
50.0N
37,5N
28,5N
55.0N
43,5N
60.0N
67,5N
56.0N
27.0N
48.0N
55.0N
66.0N
40.0N
26.0N
48.0N
47,5N
45.0N

2. Uji Bobot
NO

NILAI
1.
0.45
2.
0.46
3.
0.43
4.
0.48
5.
0.49
6.
0.44
7.
0.56
8.
0.50
9.
0.45
10.
0.50
11.
0.52
12.
0.48
13.
0.47
14.
0.47
15.
0.47
16.
0.52
17.
0.50
18.
0.58
19.
0.52
20.
0.50
RATA RATA= 0.4905
TIDAK MEMENUHI SYARAT (-5%=0.685; + 5%=0.753)

3. Uji Keseragaman Ukuran


NO

DIAMETER(MM)
1.

12.08

2.

12.16

3.

12.08

4.

12.02

5.

12.06

6.

12.04

7.

12.10

8.

12.06

9.

12.08

10.

12.08

RATA RATA=12.076
MEMENUHI SYARAT (SYARAT=1/3<d<3t)
4. Uji Waktu Hancur
NO

WAKTU(MENIT)
a)

5.24

b)

8.32

c)

9.35

d)

9.38

e)

9.38

f)

11.05

MEMENUHI SYARAT (SYARAT<15MENIT)


Evaluasi Granul
1. Uji Laju Alir

Ditimbang 20gram granul dengan fasa luar. Kemudian disiapkan stopwatch.


Lalu disiapkan alat untuk mempercepatkan alir serbuk dan sudut istirahat.
Dipastikan bahagian bawah alat yang berupa corong telah tertutup rapat dan beri
alas berupa kertas pada bahagian bawah alat untuk membuat plot diameter yang
terbentuk. Selanjutnya dimasukkan granul ke dalam alat tersebut. Segera setelah
bahagian penutup bawah dibuka, segera dicatat waktu yang dibutuhkan oleh
serbuk untuk mengalir lalu dihitung diameter lingkaran gunung serbuk yang
terbentuk, tinggi puncak gunung serbuk dan sudut istirahat.
2. Uji Kompresibilitas
Alat diset pada posisi off, dialiri tegangan 220volt. Set jumlah tap yang
diingini pada tombol tap lalu ditempatkan gelas ukur pada tempatnya di alat tap
density tester. Dipindahkan posisi tombol pada posisi on. Jika angka pada jumlah
tap menunjukkan angka 00000 maka proses tap akan berhenti. Dibaca skala gelas
ukur dalam ml dari hasil tap.
3. Uji Susut Pengeringan
Serbuk ditimbang sebanyak 10gram. Plat aluminium foil disimpan pada alat
LOD dan ditekan tare. Kemudian granul dimasukkan ke plat aluminium dan
diratakan. Selanjutnya suhu diatur 70 derajat selama 10 menit, lalu massa akhir
dicatat bersama dengan % LOD.

Pencetakan Tablet

Serbuk dimasukkan ke dalam alat Punch dan Die. Kemudian alat diatur
diameter dan tebal tablet sesuai dengan perhitungan yang didapat. Alat
dioperasikan manual terlebih dahulu untuk mendapatkan 1 tablet yang akan diuji
beratnya apakah sudah sesuai dengan perhitungan yang didapat. Setelah
mendapatkan tablet yang sesuai, tablet dicetak kembali sampai serbuk habis.
Kemudian dipilih tablet yang akan diuji pada pengujian tablet.
Evaluasi Tablet
1. Uji Keseragaman Bobot
Sebanyak 20 tablet ditimbang menggunakan neraca digital. Kemudian alat
dinyalakan dan bobot masing-masing tablet dicatat.
2. Uji Keseragaman Ukuran
Sebanyak 20 tablet disiapkan dan masing-masing tablet diukur diameter dan
tebalnya dengan jangka sorong. Jarum sebelumnya sudah diatur sampai
menunjukkan angka nol. Lalu tuas pada jangka sorong ditarik dan tablet
diletakkan pada tempatnya untuk mengukur tebal, tablet diletakkan secara
mendatar dan untuk mengukur diameter tablrt diletakkan pada posisi tegak.
Setelah itu, tebal dan diameter dicatat.
3. Uji Friabilitas
Sejumlah tablet ditimbang hingga diperoleh berat 6 hingga 6,5gram dan bobot
tablet dicatat.tablet yang sudah ditimbang dimasukkan kedalam alat friability
tester. Alat ini dinyalakan selama 4 menit. Kemudian alat dimatikan setelah 4
menit. Selanjutnya tablet yang masih utuh ditimbang bobotnya dan didapat bobot
akhir, lalu presentase friabilitasnya dihitung.

4. Uji Kekerasan Tablet


Alat dinyalakan dan tombol diputar sehingga lampu penunjuk skala on
menyala. Jarum penunjuk kekerasan harus berada pada titik nol.kemudian tablet
diletakkkan secara vertikel dan ditengah-tengah jarum penekan. Dudukan tablet
dinaikkan dengan memutar sekrup di bawahnya sampai tablet menekan jarum
penekan dan lampu stop menyala. Selanjutnya lampu stop dipadamkan dan
dicatatkan tekanan yang dibutuhkan untuk memecahkan tablet
a) Uji Waktu Hancur
800ml air disiapkan dalam beaker glass. Selanjutnya alat dinyalakan dengan
menekan tombol main switch. Kemudian 6 tablet yang akan diuji dimasukkan ke
dalam tabung disintegrator. Lalu cakram dimasukkan ke dalam tabung
disintegrator dengan posisi yang sama. Setelah itu, tabung disintegrator
dimasukkan ke dalam beaker glass dan beaker glass dimasukkan ke dalam box
disintegrator. Tabung disintegrator digantungkan pada gantungan logam.
Selanjutnya alat dinyalakan dengan menekan tombol start sambil memulai
menghitung waktu dengan stopwatch dan waktu

hancur tiap tablet dicatat.

Pengujian dihentikan saat semua tablet hancur semua.


Evaluasi Granul
a) Uji Laju Alir
Massa awal = 25g
Waktu = 2s
Diameter = 8.0cm
Jari jari = 4.0cm
Tinggi = 2.5cm
Laju alir = m/s = 25g/2s
= 12.5g/s (kriteria sangat baik, syarat>10)

Sudut Istirahat
tan=2.5cm/4cm
=0.63
=32.21(kriteria tidak baik,syarat<25)
b) Uji LOD
Massa awal = 10g
LOD = ((10g-9.695)/10g) x100%
= 3.05 %(kriteria tidak memenuhi syarat,syarat<2%)
c) Uji Kerapatan
Massa awal = 25g
V nyata = 40ml
V akhir = 32ml
P nyata = 25g/40ml = 0.63g/ml
P akhir = 25g/32ml = 0.78g/ml
% kompresibilitas = ((0.78-0.63)/0.78) x100% = 19.23%
Uji Friabilitas
Massa awal = 6.5gram
Massa akhir = 6.3gram
Friabilitas = (1-(6.3/6.5)) x100% = 3.10 %(tidak memenuhi syarat,<1%)

VII.

Pembahasan

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan tablet parasetamol dengan metode
granulasi basah. Granulasi basah merupakan salah satu cara pembuatan tablet
kompresi yang paling banyak digunakan. Caranya yaitu dengan memproses
campuran partikel zat aktif dengan eksipien menjadi partikel yang lebih besar
dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga terjadi
massa lembab yang dapat digranulasi.
Metode ini biasanya digunakan apabila zat aktif tahan terhadap lembab dan panas.
Umumnya zat aktif yang sulit dicetak langsung karena sifat aliran dan
kompresibilitasnya tidak baik. Prinsip dari metode granulasi basah adalah
membasahi massa tablet dengan larutan pengikat tertentu sampai mendapat
tingkat kebebasan tertenru pula, kemudian masa basah tersebut digranulasi.
Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk perekat yaitu cairan
pengikat sebagai penganti pengompakan, teknik ini membutuhkan larutan,
suspense atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya ditambahkan ke
dalam campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukkan kering
kedalam campuran serbuk atau cairan dimasukkan terpisah. Cairan yang
ditambahkan memiliki peranan yang sangat penting dimana jembatan cair yang
terbentuk diantara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah
cairan yang ditambahkan meningkat.
Gaya tegangan permukaan dan kapiler paling penting pada awal pembentukkan
granul, bila cairan sudah ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai
dispersi yang merata dan semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah
diperoleh masa basah atau lembab maka massa dilewatkan pada ayakkan dan
diberik tekanan alat pengiling atau oscilating granulator tujuannya agar terbentuk
granul sehingga luas permukaan meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih
cepat, setelah pengeringan granul diayak kembali.

Keuntungan metode granulasi basah adalah Memperoleh aliran yang baik,


Meningkatkan kompresibilitas dan sifat kohesinya, Untuk serbuk

dengan BJ

nyata rendah (voluminous) sehingga dapat mencegah kontaminasi silang, Dapat


digunakan untuk tablet dengan system pelepasan zat aktif terkendali, Mencegah
segregasi komponen sehingga diperoeh sediaan dengan keseragaman kandungan
yang baik, Distribusi keseragaman kandungan, dan Meningkatkan kecepatan
disolusi untuk obat yang kurang larut yaitu dengan cara pemilihan pengikat yang
sesuai dengan penambahan zat pengikat kelarutan obat. Manakala Kekurangan
metode granulasi basah , Banyak tahap dalam proses yang harus dikalibrasi, Biaya
cukup tinggi karena diperlukan ruang, energy, dan peralatan yang besar, Zat aktif
yang sensitive terhadap lembab dan panas tidak dapat dikerjakan dengan cara ini,
dan Remendemen akan lebih kecil karena hilangnya massa campur pada setiap
tahap.
Parasetamol

adalah

derivate

p-aminofenol

yang

mempunyai

sifat

antipiretik/analgesik. Sifat antipiretik disebabkan oleh gugus aminobenzen dan


mekanismenya diduga berdasarkan efek sentral. Stabilitas dan kondisi
penyimpanan yaitu kering, Laktosa adalah serbuk atau massa hablur keras putih
atau putih krem, tidak berbau dan rasa sedikit manis, stabil di udara tapi tidak
mudah menyerap bau. Mudah dan pelan-pelan larut dalam air, dan lebih mudah
larut dalam air mendidih, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam
kloroform dan eter. Khasiatnya adalah

bahan pengisi. CMC adalah carboxy

methyl cellulose yang merupakan serbuk, tidak berwarna, berbau lemah. Jika di
rendam dalam air akan mengembang dan menjadi lunak, berangsur-angsur
menyerap air 5-10 bobotnya. Larut dalam air panas dan jika didinginkan terbentuk
gudir, praktis tidak larut dalam etanOL (95%)P, dan air, jika dipanaskan lebih
mudah larut, larut dalam basa asetat P, khasiatnya adalah bahan pengikat.
Pada praktikum teknologi farmasi kali ini tentang pembuatan tablet parasetamol
dengan metode granulasi basah kami telah melakukan cara atau pembuatan granul
sebelum dikempa menjadi tablet. Pada proses pembuatan granul bahan campuran
yang digunakan pada percobaan kali ini adalah parasetamol 112.5 gram, laktosa

24 gram, CMC sebanyak 15% yaitu 15gram, dan aquadest 100 ml. Pada uji
evaluasi mutu granul , bobot granul yang hilang loose weight dari pembuatan
granul adalah sebesar 3.05 % (kriteria tidak memenuhi syarat,syarat<2%). Uji
Laju Alir dilakukan untuk mengetahui kadar laju alir granul dan didapati hasilnya
adalah 12.5g/s (kriteria sangat baik, syarat>10). Seterusnya dilakukan uji Sudut
Istirahat dan didapati =32.21(kriteria tidak baik,syarat<25). Manakala pada Uji
Kerapatan didapati kadar % kompresibilitas adalah sebanyak 19.23%.
Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan
permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan
pengiriman. Kerapuhan diukur dengan friabilator. Prinsipnya adalah menetapkan
bobot yang hilang dari sejumlah tablet selama diputar dalam friabilator selama
waktu tertentu. Tablet yang akan diuji sebanyak 20 tablet, terlebih dahulu
dibersihkan dari debunya dan ditimbang dengan seksama. Tablet tersebut
selanjutnya dimasukkan ke dalam friablitas tester, dan diputar sebanyak 100
putaran selama 5 menit, jadi kecepatan putarannya 20 putaran per menit. Setelah
selesai, keluarkan tablet dari alat, bersihkan dari debu dan timbang dengan
seksama. Kemudian dihitung persentase kehilangan bobot sebelum dan sesudah
perlakuan. Tablet dianggap baik bila kerapuhan tidak lebih dari 1% .
Uji kerapuhan berhubungan dengan kehilangan bobot akibat abrasi yang terjadi
pada permukaan tablet. Semakin besar harga persentase kerapuhan, maka semakin
besar massa tablet yang hilang. Kerapuhan yang tinggi akan mempengaruhi
konsentrasi/kadar zat aktif yang masih terdapat pada tablet. Tablet dengan
konsentrasi zat aktif yang kecil (tablet dengan bobot kecil), adanya kehilangan
massa akibat rapuh akan mempengaruhi kadar zat aktif yang masih terdapat dalam
tablet. Hal yang harus diperhatikan dalam pengujian friabilitas adalah jika dalam
proses pengukuran friabilitas ada tablet yang pecah atau terbelah, maka tablet
tersebut tidak diikutsertakan dalam perhitungan. Jika hasil pengukuran meragukan
(bobot yang hilang terlalu besar), maka pengujian harus diulang sebanyak dua
kali. Selanjutnya tentukan nilai rata-rata dari uji yang telah dilakukan. Pada uji

kerapuhan ( uji Friabilitas ) yang kami lakukan, didapatkan pengukuran bobot


yang hilang adalah sebesar 0.2grm dari 6.5gram yang digunakan untuk uji.
Seterusnya dilakukan Uji Keseragaman Bobot. Dengan cara Sebanyak 20 tablet
ditimbang menggunakan neraca digital. Kemudian alat dinyalakan dan bobot
masing-masing tablet dicatat. Ini dilakukan untuk memastikan yang setiap satu
tablet yang dibuat mempunyai bobot yang seragam dan hasil daripada uji nyang
dilakukan didapati rata-rata bobot adalah sebanyak 0.4905g dimana ini tidak
memenuhi syarat yaitu -5%=0.685; + 5%=0.753.
Selain itu dilakukan juga Uji Keseragaman Ukuran. Sebanyak 20 tablet disiapkan
dan masing-masing tablet diukur diameter dan tebalnya dengan jangka sorong.
Jarum sebelumnya sudah diatur sampai menunjukkan angka nol. Lalu tuas pada
jangka sorong ditarik dan tablet diletakkan pada tempatnya untuk mengukur tebal,
tablet diletakkan secara mendatar dan untuk mengukur diameter tablrt diletakkan
pada posisi tegak. Setelah itu, tebal dan diameter dicatat. Ini dilakukan untuk
memastikan yang semua tablet mempunyai ukuran yang seragam dan untuk
mengelakkan adanya berbedaan antara size dari ukuran tablet. Dan hasil yang
diperolehi adalah rata-rata 12.068cm.
Selepas itu dilakukan Uji Kekerasan Tablet. Alat dinyalakan dan tombol diputar
sehingga lampu penunjuk skala on menyala. Jarum penunjuk kekerasan harus
berada pada titik nol.kemudian tablet diletakkkan secara vertikel dan ditengahtengah jarum penekan. Dudukan tablet dinaikkan dengan memutar sekrup di
bawahnya sampai tablet menekan jarum penekan dan lampu stop menyala.
Selanjutnya lampu stop dipadamkan dan dicatatkan tekanan yang dibutuhkan
untuk memecahkan tablet. Ini dilakukan untuk memastikan tablet yang diproduksi
tidak cepat rapuh dank eras untuk masuk dan didisentegrasi di lambung. Hasil dari
uji yang dilakukan didapati rata-rata nilai 44,475N (MEMENUHI SYARAT (40N80N)
Terakhir dilakukan Uji Waktu Hancur dengan cara 800ml air disiapkan dalam
beaker glass. Selanjutnya alat dinyalakan dengan menekan tombol main switch.

Kemudian 6 tablet yang akan diuji dimasukkan ke dalam tabung disintegrator.


Lalu cakram dimasukkan ke dalam tabung disintegrator dengan posisi yang sama.
Setelah itu, tabung disintegrator dimasukkan ke dalam beaker glass dan beaker
glass dimasukkan ke dalam box disintegrator. Tabung disintegrator digantungkan
pada gantungan logam. Selanjutnya alat dinyalakan dengan menekan tombol start
sambil memulai menghitung waktu dengan stopwatch dan waktu hancur tiap
tablet dicatat. Pengujian dihentikan saat semua tablet hancur semua.hal ini
dilakukan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan oleh tablet yang disediakan
untuk disintegrasi yaitu hancur dilambung. Hasil didapati rata-rata 8.79menit
memenuhi syarat (SYARAT<15MENIT).

VIII.

Kesimpulan

Granulasi basah merupakan salah satu cara pembuatan tablet kompresi yang
paling banyak digunakan. Tablet adalah sediaan padat mengandung bahan obat
dengan atau tanpa bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi. Parasetamol
adalah derivate p-aminofenol yang mempunyai sifat antipiretik/analgesic. Dalam
metode granulasi basah memerlukan proses pengerjaan yang banyak, hal ini
menyebabkan metode granulasi basah memiliki keuntungan dan kerugian. Dan
setelah melakukan beberapa pengujian didapati tablet yang diproduksi hamper
memenuhi kebanyakan dari syarat yang ditetapkan.

IX.

Daftar Pustaka

Depkes RI, 1979, Farmakope Indonesia edisi III, Jakarta


Depkes RI, 1995, Farmakope Indonesia edisi IV, Jakarta
Firmansyah, 1989, Formula tablet, Universitas Andalas press
Bagian Farmakologi FK UI, 1995, Farmakologi dan Terapi edisi IV, Jakarta, UI press
Shargel, L, 1988, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan, Surabaya ; Airlangga
university press