Anda di halaman 1dari 78

Teasing Trent

by

Minx Malone

Sinopsis:
*Top 100 Kindle Romance Bestseller*
Satu-satunya permintaan dari sahabat baik
Trent yang pernah dilakukan untuknya adalah
untuk mengawasi saudara perempuan kembarnya
saat dia tugas militer di luar negeri. Menemani
Mara pada hari ulang tahunnya pastinya jadi
urusan yang biasa. Yang harus dia lakukan
hanyalah mengingat janji yang dibuat untuk
dirinya sendiri di perguruan tinggi untuk tidak
menyentuh Mara.
Yang mana semakin sulit dari hari ke hari.
Sejak Mara masuk ke kamar asrama mahasiswa
saudara kembarnya dan berhadapan dengan
Trent yang bertelanjang dada, dia tahu dia
adalah orangnya. Dia selalu ada di sana
bersama saudara kembarnya sebagai pendukung
terbesarnya atau bahu tempat menangis.
Masalahnya?
Trent tak tahu bagaimana perasaan dirinya.
Nah, ini adalah ulang tahun pertama tanpa
kembarnya dan Trent yang datang untuk

menemaninya. Sekarang adalah waktu yang


tepat untuk menggodanya sedikit. Mengenakan
pakaian yoga yang minim dan beberapa gelas
anggur, ia berencana untuk membawa Trent ke
tempat yang ia inginkan.
Di tempat tidurnya, selama dia bisa menahannya
di sana.
Jika rencana Mara berhasil, ia akan mendapat
lebih banyak lagi daripada sekedar kartu ucapan
ulang tahun.
*Peringatan*
Buku ini berisi yoga sebagai perangkat
penyiksaan erotis dan penampilan tak terduga
dari vibrator.
Teasing Trent merupakan prequel dari serial The
Alexander yang berjudul Surely this is Magic.
Ini adalah novella, jadi ceritanya to the point
dengan cepat. Tentu kalian ingin novella yang
disukai bisa dibaca lebih lama, tapi cerita ini
masih tetap menghibur dan menyenangkan.
Genre: Novella, Roman, Erotika
Copyright 2011 by Minx Malone

Bab 1
"Jaga tanganmu dan kau akan baik-baik saja."
Trent Townsend menaiki tangga menuju lantai
dua sebuah townhouse tua dan menghentakkan
lapisan salju dari sepatu botnya. Musim dingin di
Virginia biasanya ringan, tapi seakan alam tahun
ini tampaknya mengalami PMS. Hujan salju
selama tiga hari terakhir dan sepertinya akan
terus berlanjut. Dia tidak biasanya begitu senang
bisa keluar dari rumahnya meskipun dia tahu
malam ini akan nyaris mendekati penyiksaan
erotis.
"Apa pun lebih baik asalkan tidak terjebak di
rumah menonton reality TV." Demam kabin
adalah seperti penyakit. Dia tak tahan makan
sereal terus atau menonton sekali lagi siaran
ulang Jerry Springer tanpa kehilangan
kewarasannya. Dia menepuk sakunya,
merasakan gemerisik paket dibungkusan kecil.
Ini kesempatan pertama untuk memberikan
hadiah ulang tahun ke-25 bagi Mara karena ia

terlalu sibuk akhir pekan lalu.


Terlalu sibuk adalah alasan agar ia bisa menjauh
darinya.
Melihat Mara selalu membuatnya cukup keras
hingga ia bisa membuat lubang melalui
celananya, dan ia berjanji pada sahabat baiknya
yaitu Matt bahwa ia akan mengurus adiknya,
bukannya tergiur akan tubuhnya.
Mereka menjadi terlalu dekat selama setahun
terakhir. Sesuatu yang harus dihentikan ketika
tugas Matt berakhir bulan depan.
"Yang kau lakukan hanyalah melewati makan
malam. Jaga tanganmu dan segalanya akan
baik-baik saja."
Pintu di depan Trent terbuka lebar. Mara
Simmons berdiri di sisi lain mengamati dirinya
dengan dengan hati-hati. Hangat, mata
berwarna amber dengan bulu mata panjang,
menyipit saat ia bersandar di kusen pintu.
Rambut tebal hitamnya bergulir dari wajahnya
dan jatuh dan bergelombang di sisinya. Dia
tampak seperti seorang warrior princess siap

untuk melakukan pertempuran. Trent mengerang


saat tubuhnya segera merespon dengan salut.
"Apa kau masih memakai piyamamu?" Dia
mengutuk pelan saat ia melihat Mara dengan
tank top ketat dan celana pendek katun terkecil
yang pernah dilihatnya.
"Ini adalah pakaian olahragaku, aku sedang
melakukan yoga." Dia meletakkan satu tangan di
pinggulnya. Atasannya meregang di dadanya
dengan cara yang tepat, menekankan sosok
mungilnya. "Aku melihamu saat aku melewati
jendela. Aku tak mengira kau akan datang
secepat ini."
Dia meringis pada pilihan kata-katanya. Ia
hampir saja datang di mana ia berdiri. Celana
pendek yang praktis tak senonoh. Ada ber mil
mil kulit halus lembut yang terpampang. Kuku
Trent menekan ke dalam telapak tangannya.
Dia bahkan beraroma nikmat.
Dia adik Matt. Jaga tanganmu.
Trent menarik napas dalam-dalam. Dia
membutuhkan lebih dari sekedar mantra yang

lemah untuk mengingatkannya siapa yang akan


menendang pantatnya jika dia mengacaukan ini.
Apa yang dia butuhkan adalah seember es di
dalam celananya dan penutup mata.
"Kenapa kau hanya berdiri di situ bicara pada
diri sendiri, sih?" Mara menggelengkan
kepalanya dan meraih lengannya. Dia
menariknya di dalam dan menutup pintu di
belakangnya.
"Hanya berpikir keras. Aku melakukannya
kadang-kadang" Anehnya Trent merasa
defensif. Mengalami ereksi hebat bisa berefek
seperti itu pada seorang pria.
"Apa, berpikir?" Mara tertawa saat Trent melotot
padanya.
"Ha ha, sok tahu. Aku akan ingat itu jika lain kali
kau memerlukan bantuanku dengan sesuatu."
Trent berbalik untuk melihatnya mengunci
gerendel, matanya mengamati pada kakinya
yang panjang dan telanjang. Dia memakai cat
ungu cerah dan memakai sebuah cincin perak
kecil di kedua jari terakhir dari kaki kanannya.

Gelombang panas nyaris memaksanya untuk


berlutut. Gadis ini bahkan memiliki kaki yang
seksi. Untungnya dia tak punya kebiasaan untuk
bertelanjang kaki.
Dia berbalik dan menyibukkan diri dengan
melepas jaketnya. Dia harus fokus pada sesuatu
yang lain atau dia tak akan pernah melewati
malam ini.
Sialan Matt untuk menempatkan dia dalam posisi
ini. Itu seperti dia bergabung dengan militer dan
bermain sebagai pahlawan di luar negeri. Teman
kuliahnya itu adalah tipe pria yang Trent merasa
bangga karena mengenalnya. Matt telah datang
menolongnya berkali-kali hingga ia tak bisa
menghitung, dan satu-satunya yang pernah ia
minta adalah agar Trent mengawasi saudara
kembarnya Mara selama penugasannya. Dia
berharap dia tahu sejak awal betapa sulitnya
akan menepati janjinya itu.
Dan betapa sulitnya akan menjaga tanganku
sendiri.
"Jadi, seberapa cepat kau bisa bersiap-siap

untuk pergi?" Trent melipat mantelnya di atas


lengan sofa. Dia menatap sekeliling tempat itu
dengan pandangan ingin tahu. Dia sering
mengganti barang-barang, membawa perabotan
rumah yang ditemukan di sebuah toko barang
bekas atau menambahkan pernak pernik aneh
yang ia beli di eBay.
Tempatnya mencerminkan jiwa eklektiknya.
Furniture bermotif liar berwarna terang beradu
dengan dinding berwarna hijau mint di belakang
sofa. Dia membantunya mengecat warna gila itu
hanya beberapa bulan yang lalu. Dia bilang dia
akan menjadi "energik." trent malah berpikir itu
tampak seperti bagian dalam dari rumah
bermain.
"Yah, aku berpikir mungkin kita bisa tetap tinggal
di dalam" Mara menjatuhkan dirinya di sofa dan
meringkuk dengan kaki terselip di bawah dirinya.
Dalam posisi itu, atasannya membentang ketat
pada bagian payudaranya. Ia bisa melihat
tonjolan kecil di mana putingnya menempel pada
kain.

Sial.
"Aku tahu kau punya rencana besar bersenangsenang malam ini di kota tapi ... Aku tak tahu.
Aku hanya merasa enggan pergi keluar. Apa kau
keberatan?"
Trent berkedip beberapa kali dan kemudian
memaksa menjauhkan pandangannya. Dia
memandang berkeliling dengan putus asa. Ada
video yoga yang diputar di TV dan lampu di meja
samping sebelah sofa memancarkan cahaya
kuning lembut ke seluruh ruangan. Bau hangat
terpancar dari dapur, membuat mulutnya berliur.
"Kau memasak?"
Dia duduk tegak dan melemparkan salah satu
bantal berbulu hijau di sofa kearahnya. "Ya, aku
memasak. kau tak perlu terdengar begitu
terkejut. aku membuat lasagna dan menyewa
beberapa dvd. Kupikir kita bisa melakukan
makan malam dan nonton film di sini."
Mara memandanginya penuh harap, jadi Trent
mengangguk. Senyum mengembang di wajah dan
hatinya sedikit mempertimbangkan itu. Dia

melengos dan menyelipkan tangannya di saku


celana. Jika sesuatu yang sederhana seperti
tetap tinggal di dalam rumah membuat ekspresi
wajahnya seperti itu, ia akan dengan senang hati
melakukannya.
Trent duduk di tepi kursi mungil. Di suatu tempat
di dapur ada suara ding lembut dan Mara
melompat berdiri.
"Saatnya bagiku untuk memasukkan lasagna ke
dalam oven. Tak butuh waktu yang lama untuk
memanggang. Apa kau ingin bir sementara kita
menunggu?"
Tatapannya mengikuti goyangan pinggulnya saat
ia bergegas ke dapur.
"Trent? Halo, sadar Trent" Mara berdiri di
ambang pintu dapur, melambaikan tangannya
bolak-balik seperti pengawas lalu lintas udara.
Dia mendongak, rasa panas membanjiri pipinya
saat ia bertemu dengan tatapannya. "Hah?"
"Bir. kau ingin satu?" Dia mengucapkan katakata itu pelan-pelan. Bagus, sekarang dia pikir
dirinya adalah seorang idiot.

Dia menelan ludah dan mengangguk


bersemangat. "Tentu. Bir. Benar."
Mara menyipitkan mata ke arahnya sebelum
kembali ke dapur. Segera setelah ia diluar
pandangan, senyum tegang Trent langsung
jatuh.
Ini adalah tahun pertama Matt dalam tugasnya
dan dia khawatir Mara akan terlalu sering
sendirian, terutama pada hari ulang tahun
mereka. Orang tua mereka tidak tertarik lagi
melakukan perjalanan dari Florida begitu cepat
setelah liburan dan Mara tidak bisa mendapatkan
waktu liburan untuk terbang mengunjungi
mereka. Trent tidak lagi punya pacar jadi beban
untuk meluangkan sedikit waktu bersama Mara.
Dia telah mengatur makan malam ulang tahun
yang benar-benar aman di sebuah restoran
umum. Mereka akan makan, menari sedikit dan
pulang ke rumah, cerita selesai.
Rencana tersebut tidak termasuk makan malam
yang nyaman untuk dua orang, dilanjut menonton
film di sofa dengan hanya remote control sebagai

pendamping.
Dan itu pasti tidak termasuk menjilatinya dari
ujung kepala sampai jari kaki kecilnya yang dicat
ungu.
Sial.

Bab 2
"Jadi kuharap kau tak keberatan jika aku
menyelesaikan latihan rutinku. Makanan akan
siap dalam waktu sekitar satu jam" Mara kembali
dari dapur dan menaruh bir di atas meja sebelah
Trent. Dia bertengger di tepi sofa tunggal,
tampak tak nyaman sama sekali. Rambut pirang
gelapnya itu berdiri di atas kepalanya seakan dia
telah menggerakkan tangannya disana.
"Oh, tentu. Tak ada masalah." Dia meneguk
birnya dan menggosok kedua telapak tangannya.
Dia menatap ke segala arah kecuali ke arah
Mara.
Mara mengambil remote control dan menyalakan
DVD ke mana dia ingin mulai. Bukan berarti dia

benar-benar membutuhkan video. Dia sudah


berlatih sepanjang minggu bagaimana
menggodanya dan berkhayal tentang hal itu
selama bertahun-tahun.
Malam ini dia akhirnya akan merayu Trent.
Mereka menjadi semakin dekat daripada
sebelumnya sejak Matt ditugaskan ke luar
negeri. Dia tahu kakaknya yang meminta Trent
untuk menemaninya tapi dia tak keberatan sama
sekali. Dia adalah seorang wanita dewasa,
meskipun kakaknya mungkin berpikir sebaliknya.
Itu ironis, saudara kembar overprotective-nya
benar-benar mendorong apa yang dia minati
tepat di jalannya. Jika dia punya cara, ia akan
mendapatkan lebih banyak hal daripada sekedar
kartu ucapan ulang tahun.
" Namaste. Mari kita bernapas dalam-dalam dan
meraih langit."
Mengikuti instruksi dari suara melodi pada DVD,
Mara mengulurkan tangannya di atas kepalanya,
mengetahui tank top-nya akan naik dan
mempertunjukkan beberapa inci dari perut.

" Sekarang Angsa Menyelam; menyentuh tanah."


Mara membungkuk perlahan dan menyentuh
ujung jarinya ke lantai kayu yang mengkilap. Dia
mengintip Trent dari sudut matanya. Dia
memegang bir dengan genggaman yang sangat
keras. Mata biru langitnya menunjukkan
kelegaan diantara pipinya yang memerah.
" Raihlah langit lagi. Salam Matahari ."
Mara berbalik sehingga punggungnya
menghadap ke arah Trent. Dengan cara ini Trent
dapat melihat efeknya secara penuh ketika Mara
membungkuk. Dia terlihat lebih berlekuk daripada
biasanya, beberapa mantan pacarnya telah
berkomentar bahwa keindahan dari tubuh bagian
belakangnya bisa membuat seorang pria
bertekuk lutut.
Dia membungkuk perlahan, berusaha agar
kakinya tetap lurus, pantatnya terlihat sangat
jelas saat ia menyentuh lantai. Sebuah suara
tercekik datang dari belakangnya. "Kau baikbaik saja Trent?"
Ia berdeham beberapa kali. "Wow. Kau, Eh ...

benar-benar lentur."
Dia meluruskan punggungnya sedikit-sedikit
sambil mengulurkan tangan ke arah langit-langit
lagi. "Yah, aku melakukan yoga secara teratur
dan aku juga joging beberapa kali seminggu."
Dia mengeluarkan suara lembut yang bisa berarti
apapun mulai dari "Olah raga itu bagus" sampai
"Ayo lepaskan pakaianku."
" Turun ke bawah Menghadap Anjing. Sebarkan
jari-jarinya. Tenggelamkan tumitmu ke lantai. "
Mara tersenyum kecil saat ia beralih ke posisi
yang disebut Menghadap Anjing. Itu adalah salah
satu posisi favoritnya tetapi itu juga bonus
tambahan membiarkan dirinya menggoyangkan
pantatnya di depan wajah Trent.
"Tidak keberatan jika aku minta kau
memegangiku?" Mara tersenyum padanya
dengan cerah. Mudah-mudahan dia tidak cukup
tahu tentang yoga hingga sadar bahwa tidak
perlu bantuan orang lain dalam Yoga.
"Tentu, apa yang perlu aku lakukan?" Trent
melompat dan berdiri di sampingnya. Mara

mendongak pada saat yang tepat sehingga


memergoki Trent menatap pantatnya lagi.
"Aku mengalami sedikit sakit punggung jadi
kurasa aku hanya perlu kau untuk memegangku
ketika aku berdiri lagi."
Dia bergerak sedikit lebih dekat dan ragu-ragu
menyentuh pinggangnya. "Di sini?"
Dia berdiri tegak dan kemudian menarik Trent di
belakangnya. "Tepat di belakangku, sebenarnya.
Kita akan melakukan Salam Matahari dan aku
butuh sedikit bantuan ketika aku membungkuk."
Benar saja, suara instruktur yang menenangkan
mengatakan pada mereka untuk meraih langit
lagi. Mara mengulurkan tangannya ke atas,
merasakan jari Trent memegang dengan raguragu di atas kulitnya saat ia bergerak. Dia
menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Apakah
kau siap?"
Dia mengangguk pelan, seolah-olah dalam
keadaan linglung. "Tidak juga, tapi teruskan
saja. Aku tak ingin kau mengalami cedera."
" Sekarang Angsa Menyelam; menyentuh tanah."

Mara membungkuk perlahan, memiringkan


pantatnya sehingga ia menekan Trent dari
pinggul sampai ke paha.
"Oh sial ..." gumam Trent.
***
Trent menelan ludah. Dia tidak ragu pasti
sekarang Mara sadar persis sebetapa besar dia
menginginkannya. Bukti dari itu adalah sesuatu
yang saat ini berusaha untuk menyodok melalui
celana yoganya. Dia tidak pernah memikirkan
olah raga bisa sebegitu sensual sebelumnya,
tapi ia tak yakin apakah ia akan sanggup
bertahan melewati sesi yoga ini.
Dia melihat di mana pantatnya menempel di
pangkal pahanya. Pantatnya penuh dan
berbentuk hati, lebih dari cukup untuk mengisi
tangannya sesuai dengan yang dia suka. Jarijarinya tertekuk di pinggangnya dan Mara
mengeluarkan suara lembut.
"Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau
memerlukan bantuan untuk bangun?" Trent
berharap dia tidak mencengkeramnya terlalu

keras saat ia berada di tengah-tengah


fantasinya. Dia seharusnya membantu Mara
dengan peregangannya, bukannya
membayangkan dirinya berbaring di atas
tubuhnya.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya mengalami
kram di kaki." Mara duduk di lantai dengan tibatiba.
"Nah, setidaknya aku punya sedikit pengalaman
tentang kram. Aku biasanya mengalaminya
ketika aku bermain football. Coba aku lihat."
Trent berlutut di sampingnya dan membantu
meregangkan kakinya agar lurus. "Berbaringlah
dan biarkan aku memijatnya."
Segera setelah dia berbaring di punggungnya,
Trent segera menyadari bahwa ini adalah ide
yang sangat bodoh. Dia seharusnya menatap
punggungnya ketika ia memijat pahanya
sehingga dia tidak bisa melihat dia terangsang.
Benar .
Yah, jika ia melakukan hal ini dengan hati-hati
mungkin dia tidak akan tahu. Ia bisa menahan

kakinya dan meregangankannya keluar tanpa dia


sekilas melihat tongkat lompat galah ukuran
Olimpiade di celananya.
Mara sedikit terkejut ketika Trent mengangkat
kaki kanannya dan meletakkan di bahunya. Dia
mendongak, dan pandangan mereka bertemu
dan tertahan di sana. Untuk waktu yang lama,
Trent bertanya-tanya apakah mereka
membayangkan hal yang sama yaitu: Dia
memegang kakinya saat mereka berdua
telanjang.
"Aku hanya akan memberikan sedikit tekanan
dan kau bisa menekan balik kearahku." Ia
mencondongkan tubuhnya ke depan, memaksa
pahanya untuk menekan ke dadanya. "Itu saja.
tidak terlalu banyak tekanan, kan? Bagaimana
rasanya?"
Bagaimana rasanya? kau menyukai itu sayang?
"Sial." Trent menutup matanya ketika gambaran
erotis bermain lagi dalam pikirannya. Dia
membukanya lagi dan melihat Mara
mengawasinya. Mara mengangkat tangannya

dan dengan lembut mengelus rambut Trent.


Suara ding keras datang dari arah dapur dan
Mara pun tersentak. Trent melepas kakinya dan
mundur kebelakang, terkejut pada apa yang
hampir ia lakukan. Beberapa detik terlambat
maka jari-jarinya pasti sudah di pinggang celana
pendeknya dan akan menariknya ke samping.
Beberapa detik setelah itu, ia pasti telah memijat
dirinya dari dalam tepat di tengah-tengah ruang
tamunya.
"Kau harus pergi mengurus makanannya, Mara."
Dia menjauh darinya dan mengusap wajahnya.
Dia tampak terluka untuk beberapa detik
sebelum kemudian duduk tegak.
"Maaf. Aku hanya sedang bad mood hari ini. Aku
tak bermaksud untuk membawanya keluar
padamu princess ." Ia membungkuk dan mencium
ringan di dahinya sebelum kemudian duduk di
sofa.
"Tidak masalah. Terima kasih telah merawat
kakiku." Dia bangkit dengan gerakan anggun dan
berjalan ke arah DVD player. Layar menjadi

gelap untuk beberapa saat sebelum tulisan " An


Affair to Remember " berguling di layar TV.
"Kau akan menyiksaku dengan film chick flick
sekarang? Bukanlah itu sesuatu yang hanya
cewek lakukan untuk pacar-pacar mereka?"
Mara menoleh dan menjulurkan lidahnya keluar.
"Kau hampir bisa dibilang pacarku juga. kau
membawaku keluar untuk makan malam, kau
memperbaiki sesuatu ketika rusak dan kau
orangnya yang aku panggil ketika aku melihat
binatang kecil. Satu-satunya hal yang tidak kau
lakukan adalah ..." Dia dengan cepat
memalingkan muka. Pipinya berubah menjadi
merah muda.
"Aku akan pergi mengambil makanannya
sekarang." Dia bergegas pergi ke dapur.
Satu-satunya hal yang tidak kau lakukan adalah
bercinta denganku .
Pikiran itu menggantung di udara sama jelasnya
seolah-olah Mara mengucapkannya dengan
keras. Trent menjatuhkan kepala ke tangannya
dan mendesah. Dia benar-benar berharap Mara

tidak dalam suasana hati yang cerewet. Karena


jika pembicaraan mereka kembali urusan tugas
seorang pacar, ia takut ia akan memberinya
demonstrasi apa yang sebenarnya bisa dia
lakukan terhadap dirinya.
Bab 3
Mara menarik roti dari oven dan menaruhnya
dengan hati-hati di atas kompor. Dia
memandang anggur yang belum dibuka dan
lasagna yang sudah ia atur di piring terbaik.
Semuanya sudah siap - kecuali kepercayaan
dirinya.
Kumpulkan semua kepercayaan dirimu. Sudah
saatnya untuk mendapatkan apa yang kau
inginkan.
"kau perlu bantuan?" Suara Trent melayang
masuk dari ruang tamu.
Tentu saja big boy. Lepas saja pakaianmu
untukku. Ini akan menghemat waktu nanti.
"Tidak, terima kasih. Aku bisa sendiri" Mara
tertawa dan mengembuskan napas, memutar

kepalanya dari satu sisi ke sisi. Dia sudah


mendapat kram kaki dan mengatakan sesuatu
yang tolol dengan memanggil Trent sebagai
pacarnya. Menjadi penggoda ternyata adalah
pekerjaan yang sulit. Terutama ketika ia bahkan
tak yakin apakah itu berhasil.
Apapun hasilnya, aku harus menjalaninya.
Ketegangan seksual yang belum terselesaikan di
antara mereka sudah berlangsung terlalu lama.
Sejak tahun pertama di perguruan tinggi ketika
dia masuk ke kamar asrama Matt dan bertatap
muka dengan Trent yang sedang bertelanjang
dada, Mara sudah tahu.
Dia adalah orangnya.
Trent mengajarinya dalam bidang kimia, bersorak
untuknya pada pertandingan bola voli dan
membantu Matt mengintimidasi mantan
pacarnya. Dia selalu ada di sana bersama
saudara kembarnya sebagai pendukung
terbesarnya atau bahu untuk menangis,
tergantung yang mana paling ia dibutuhkan.
Saat itu Mara tak tahu bahwa ia jatuh cinta

padanya.
Mara mengambil dua piring lasagna dan
membawanya keluar ke meja ruang tamu. Trent
langsung duduk tegak ketika ia mendekat,
memberi ruang gerak padanya untuk manuver.
Trent tak mau beradu pandang dengannya
namun tatapannya tertuju berlama-lama pada
tonjolan payudaranya ketika ia membungkuk
untuk menempatkan makanan di atas meja.
Bagus.
Sekarang Mara hanya perlu membuat Trent
menjadi rileks. Jauh lebih mudah diucapkan
daripada dilakukan. Setelah sesi penyiksaan
yoga-nya, pria malang ini digantung lebih ketat
dibanding jemuran milik neneknya.
Dia bergegas kembali ke dapur dan meraih
keranjang roti dan botol anggur. Itu tidak
meninggalkan banyak ruang baginya untuk
memegang dua gelas anggur kosong tapi dia
berhasil membawanya ke atas lengannya.
Sedetik kemudian, ia menaruh semuanya di meja
ruang tamu dengan suara dentingan yang khas.

"Mara, yang harus kau lakukan hanyalah minta


bantuan." Trent terdengar agak geli. Mara
mengernyitkan hidung padanya. Trent
memperlakukan dia seperti sahabat tapi juga
adik perempuan yang menjengkelkan. Sesuatu
yang ia harap akan berubah akhir pekan ini.
"Tidak apa-apa. Aku sudah selesai semua.
Wine?" Mara sudah menuangkan dua gelas
sebelum Trent sempat menjawab dan ia
langsung meneguk cukup banyak wine miliknya.
Mara gugup sekali dan tatapan waspada di
wajah Trent tidak membantu keadaan sama
sekali.
Mereka menetap di sofa dan mengambil piring
mereka, keheningan di antara mereka nyaman.
Dia mencintai ketika mereka hanya
menghabiskan waktu santai bersama-sama
seperti ini. Trent tidak perlu mengisi keheningan
dengan obrolan berarti. Malam hanya terjadi
beberapa momen canggung, seperti ketika ia
memergoki Trent menatap mulutnya sambil
makan. Ia menjilat garpunya dan mata Trent-

pun melebar.
Setelah kejadian itu, Trent tidak berani
memandangnya lagi.
Trent makan lasagna dengan apresiasi yang
hangat. Menyenangkan untuk melihat dia
menikmati sesuatu yang ia masak. Ia merasa
kurang sering memanjakan dirinya.
Ketika Trent selesai, dia menurunkan piringnya
dan menggeliat, mengistirahatkan tangannya di
belakang sofa. "Itu bagus. Aku sudah lama
sekali tidak makan lasagna rumahan."
Mara mengirim pandangan licik padanya.
"Tidakkah dia-siapa-namanya pernah memasak
untukmu?" Ia tak bisa menahan nada
mencemooh dalam suaranya. Pacar terakhir
Trent telah menjadi perempuan menyebalkan
paling bonafide.
Trent tidak menjawab langsung, tapi sudutsudut bibirnya terangkat. "Aku menolak
menjawab untuk yang satu ini. aku tahu lebih
baik daripada mempersalahkan diri sendiri."
"Uh huh. Aku akan mengartikan itu sebagai

jawaban tidak" Mara menyingkirkan piring


mereka dan kemudian mengisi ulang kedua gelas
anggur mereka. Film di layar telah berakhir dan
kredit title sudah bergulir. Dia begitu terfokus
pada paha Trent yang menggesek pada pahanya
hingga ia hampir tidak menaruh perhatian pada
plot ceritanya.
Ketika ia mencondongkan badannya untuk
menaruh gelas anggur di meja di sisi
sampingnya, lengan mereka tersentuhan. Trent
menegang tapi tidak bergerak. Ketika ia berbalik
untuk memandangnya, wajah mereka begitu
dekat hingga mereka hampir berciuman.
Sekarang atau tak pernah sama sekali. Lakukan
saja sesuatu.
Mara lebih mendekat dan menyentuh bibirnya
pada bibirnya. Trent terdiam, matanya yang
gelap berubah menjadi lembut dan seperti
mengantuk saat ia memandang dirinya dari
bawah bulu matanya.
"Mara? Apa yang kau lakukan?" Bisiknya.
Dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan

menangkap bibirnya dengan ciuman lembut lagi


sebelum menggigit bibir bawahnya dengan
lembut. "Aku menciummu." Lalu ia mengayunkan
kakinya dan duduk di pangkuannya.
Mulut mereka bergabung dalam ciuman begitu
dalam dan basah hingga Mara lupa segala di
sekelilingnya. Trent meneroboskan tangan ke
rambutnya dan memantapkan posisinya saat ia
mengambil alih inisiatif ciuman, gigitan kecil
terasa sakit saat ia mencengkeram rambutnya
benar-benar merangsang. Dia menjilat ke dalam
mulutnya dan mengisap bibir bawahnya dengan
lembut. Mara mendesah lembut saat ia menekan
terhadap ereksi miliknya yang mengesankan.
Kemana dia telah sembunyikan selama ini?
"Wah, tunggu dulu." Trent beringsut mundur
tiba-tiba dan memindahkan tubuh Mara dengan
tidak terlalu lembut pada sofa di sampingnya.
"Ada apa? Kenapa kau berhenti?" Mara menarik
lutut ke dadanya, tiba-tiba merasa sangat
rentan. Ketika Trent berpaling padanya dengan
rasa bersalah terlihat di mata, Mara merasa

lebih buruk lagi.


"Oh, aku mengerti. Aku bukan tipemu atau apa
pun" Mara menahan keinginannya untuk
menunjuk pada ereksi yang terus-menerus. Dia
sangat paham bahwa seorang pria bisa menjadi
terangsang bahkan oleh seorang wanita yang
tidak begitu mereka sukai.
"Bukan karena itu Mara. Kau sangat cantik. Kau
adalah tipe semua pria. Tapi ini bukan ide yang
bagus. Untuk banyak alasan " Trent
menggerakkan tangannya di atas rambutnya
sampai ujungnya berdiri acak-acakan. "Kau
seperti adik perempuanku, demi Tuhan."
"Aku bukan adikmu." Mara memandang gelasgelas anggur setengah kosong di atas meja,
menonton jalan cahaya lampu bersinar di tepian
kaca. Sesuatu yang lebih baik daripada melihat
ke mata Trent saat ia menemukan cara untuk
membiarkan dirinya turun dengan mudah. Dia
punya harga diri lebih dari itu.
"Kau tahu apa yang aku maksudkan. Dengar,
aku mungkin harus pergi" Trent menunjukkan

maksudnya dengan pergi ke jendela untuk


melihat keluar. Mara menyaksikan hujan salju
yang stabil dari tempat duduknya di sofa.
Perutnya melilit. Dia benar-benar harus segera
pergi atau menghadapi risiko terjebak dalam
badai salju. Ulang tahun ternyata begini hasilnya.
Sedikit anggur, sebuah film lama dan ... satu
penolakan besar. Rencananya untuk merayu
telah gagal total. Lebih buruk lagi, sekarang
mereka akan bersikap canggung terhadap satu
sama lain.
"Yah, terima kasih telah datang jadi aku tak
harus merayakannya sendirian." Dia mencoba
untuk tidak membiarkan kekecewaannya muncul
melalui suaranya. Itu bukan salah Trent bahwa
dirinya mengharapkan sesuatu yang lebih pada
malam ini.
"Aku hanya akan menggunakan kamar mandimu
sebelum aku pergi. Kelihatannya aku akan
menyetir pulang dengan lambat menuju rumah"
Trent memamerkan seringai cepat sebelum
merunduk ke bawah lorong.

Mara membawa gelas anggur mereka ke dapur


dan memasukkan ke mesin cuci piring sebelum
kembali lagi untuk duduk di sofa. Ia membungkuk
dan mengintip di pintu kamar mandi, mencatat
bahwa cahaya di dalam masih tetap menyala.
Sepuluh menit berlalu sebelum ia bangkit dan
berdiri di depan pintunya.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan di sana?"
Gumamnya. Dia hampir mengetuk sebelum
menyadari akan potensi rasa malu yang ia
hadapi.
Dia berjalan mondar-mandir beberapa kali
sebelum memutuskan untuk berganti pakaian
sambil menunggu. Usahanya memakai sesuatu
yang seksi ternyata tidak berhasil. Ia mungkin
akan lebih merasa nyaman dengan celana
olahraga favoritnya.
Pintu kamarnya terbuka sedikit, jadi ia
mendorongnya terbuka. Pintu yang
menghubungkan kamar mandi dengan kamar
tidur terbuka lebar dan cahaya terang lampu
neon tumpah ke dalam ruangan.

"Aku tak ingat meninggalkan pintunya terbuka..."


Dia berhenti bicara di tengah kalimat.
Trent berada di dalam kamarnya. Berdiri di
samping tempat tidurnya.
Memegang vibrator berwarna pink miliknya.
Bab 4
Trent sekarang tahu bagaimana rasanya
mendapat lotere. Itu sedikit mirip perasaan
terkejut dicampur dengan banyak rasa tidak
percaya, kemudian diakhiri dengan kebingungan.
Ditambah orgasme. Dia cukup yakin dia sudah
mendapatkan salah satunya.
Mara, Mara kecil yang manis, memiliki vibrator.
Sebuah vibrator. Ditambah satu laci bendabenda lain yang membuatnya terkejut karena
Mara tahu tentang benda-benda itu.
Pintu ke kamar tidur tiba-tiba terbuka dan Mara
berhenti melangkah ketika dia melihatnya. Otak
Trent mengirimkan perintah untuk bergerak atau
setidaknya menjelaskan padanya bahwa ia tidak
bermaksud mengintip tapi hanya berusaha untuk

meninggalkan hadiah ulang tahunnya di meja.


Tapi tidak, dia hanya berdiri di sana dengan
mulut ternganga.
"Apa yang kau lakukan dengan semua ini..."
Trent berhenti, bingung untuk menggambarkan
isi laci yang ia temukan sudah terbuka.
"Sex toys?" Mara Menawarkan jawaban dengan
polos.
Miliknya langsung mengeras seperti batu hanya
karena mendengar kata-kata itu keluar dari
mulutnya. Keheningan membentang di antara
mereka saat ia memikirkan semua benda-benda
yang ada dalam lacinya. Dia melirik ke selimut
ungu di tempat tidurnya. Membayangkan Mara
telanjang, berbaring di atas selimut tebal,
kakinya yang panjang menyebar sementara ia
menggunakan sendiri vibrator memenuhi
pikirannya. Dia mengerang dan memejamkan
mata.
"Ya. Sex toys, jika kau bahkan dapat
menyebutnya begitu." Dia memegang klem
puting bertahtakan berlian imitasi. Mara bahkan

tidak terlihat malu. Di sisi lain, Trent merasa


malu karena tertarik untuk tahu apakah dia
pernah memakainya.
"Aku bukan anak kecil, Trent. Aku seorang
wanita dewasa." Dia menyilangkan lengannya
dan mendongakkan dagunya.
Trent mengepalkan tinjunya. "Percayalah,
princess, aku tahu itu. Aku sudah berusaha
untuk menjaga pikiranku tentang betapa dewasa
kamu selama setahun terakhir."
Mara membuka tangannya dan berjalan ke
arahnya. Tingginya tak sampai sedagu Trent.
"Nah, jika kau berpikir tentang aku seperti itu,
kenapa kau berhenti tadi? Dan kenapa kau tidak
pernah bilang apapun?"
"Mara, aku bukan tipe orang yang menetap. Kau
tahu itu."
Mara menatapnya cukup lama. Dia mengernyit di
bawah pengawasannya, tapi setidaknya dia telah
jujur. Mereka berdua bersama-sama adalah ide
yang buruk karena banyak alasan, mulai dari
hajaran yang akan ia terima dari kakaknya dan

berakhir dengan fakta sederhana bahwa Mara


layak mendapatkan yang lebih baik. Titik.
"Kau khawatir aku akan jadi terlalu lengket?"
Mara Terkekeh. Lalu berubah menjadi tawa
terbahak-bahak.
"Aku tidak melihat humornya di sini." Trent
merasa cemberut di wajahnya bertambah
semakin lama dia tertawa.
"Siapa bilang aku mencari pasangan untuk
menetap?" Mara melompat ke tempat tidur dan
menyilangkan kakinya. Ketika Trent berhasil
menjauhkan matanya dari pemandangan itu,
Mara mengangkat alisnya.
"Kau pikir aku tidak punya kebutuhan seperti
wanita lainnya? kau pikir aku tidak membutuhkan
seseorang untuk mengurus kebutuhanku?"
"Kebutuhan?" Trent membeo, tenggorokannya
langsung kering ketika Mara menggerakkan
tangan menelusuri pahanya dan berhenti di
sana. Dia menelan ludah dan berbalik. Dia
mengambil napas dalam-dalam dan kemudian
mengulanginya.

"Kenapa kau menceritakan semua ini?" Dia


marah tapi ia tak tahu siapa yang harus
disalahkan: Mara atau dirinya sendiri.
"Karena aku ingin orang itu adalah kau, Trent."
Suaranya sedikit bergetar pada akhirnya dan
Trent menoleh sedikit untuk melihat dia duduk.
Mara mencondongkan tubuhnya ke depan
sampai ia memasuki garis pandangannya. Trent
menutup matanya rapat-rapat. Melihat dia di
tempat tidur tidak memperbaiki situasinya.
"Tapi kalau aku tak bisa memilikimu, aku punya
vibrator dan imajinasiku. Ini adalah pilihan
terbaik berikutnya." suara Mara bergerak
mendekat. Ketika ia membuka matanya, dia
berdiri tepat di depannya.
"Aku tak bisa memikirkannya sekarang. Sudah
cukup sulit untuk tidak berpikir tentangmu seperti
itu tanpa membayangkan kau...." Ia bergerak
mundur saat Mara melangkah lebih dekat.
"Mungkin aku ingin kau memikirkanku seperti itu.
Mungkin aku sudah menginginkan itu untuk
waktu yang lama." Tangan mara bermain-main

dengan pinggang celana pendeknya,


memperlihatkan bagian atas celana dalam hitam
renda miliknya.
Trent mendadak berkeringat. "Ya Tuhan, Mara.
Kau membunuhku di sini. Aku yang seharusnya
menjagamu, bukannya mengambil keuntungan
darimu. Aku bahkan tak akan menyalahkan Matt
karena menendang pantatku jika kita melakukan
hal ini."
Mara berjinjit dan menekan bibirnya ke bibir
Trent. "Jika kau tak ingin aku seperti itu katakan
saja, tapi jangan gunakan kakakku sebagai
alasan. Dia tak ada hubungannya dengan ini."
Napas Mara yang sedikit terengah menyapu
lembut di atas pipinya.
Trent tertawa, tawa keras yang tidak
menunjukkan rasa geli sama sekali. "Dia tak
akan melihatnya seperti itu. Tapi sialan jika aku
tidak peduli tentang hal itu sekarang."
Mara bersandar padanya, payudaranya menekan
dada Trent. Dia menahan tak bergerak selama
dua detik sebelum akhirnya ia mengangkat

tubuhnya dan menahannya untuk suatu ciuman


yang keras.
Rasanya seperti tenggelam, dengan kaki Mara
yang panjang melilit pinggangnya dan rambut
tebal hitamnya jatuh di atas wajah Trent.
Bibirnya terasa manis dan seperti anggur merah
yang mereka minum sebelumnya. Trent menelan
suara erangan terkejut Mara saat ia meresapi
rasanya. Mara meleleh terhadap tubuhnya,
tubuhnya mereka melekat saat ia mencakar
dadanya, berjuang untuk berusaha lebih dekat.
Mara bergeser dalam pelukannya dan Trent
segera menemukan tangannya penuh dengan
pantat yang lembut ketika dia bersandar ke
dinding untuk menjaga keseimbangan mereka.
"Sialan, kau wanita mungil yang seksi."
Dia mencium bibirnya lagi, Mara memiringkan
kepalanya ke belakang sehingga Trent bisa
memasuki mulutnya seperti dia menginginkan
untuk memasuki tubuhnya. Dia menerima
gerakan itu dengan sedikit desahan di belakang
tenggorokannya. Ya tuhan, suara itu

membuatnya terangsang. Trent hanya bisa


membayangkan dia terdengar seperti itu ketika
dirinya berada di dalam tubuhnya.
"Apa kau yakin, Mara?" Dia mencium turun
sampai ke tenggorokannya, mengisap kulit
lembut di lekuk bahunya. "Tak akan ada jalan
kembali jika kita melakukan ini."
Mara menatapnya, mata cokelatnya lemah dan
lembut. "Ya Tuhan, kau terlalu banyak bicara."
Lalu dia mengulurkan tangan dan menangkap
ereksinya dalam cengkraman yang kokoh.
Seketika segala pikiran terbang dari otaknya, ia
berbalik dan membabi buta menuju ke arah
ranjang. Dia tersandung saat ia mencapai
tepinya dan mereka berdua jatuh di atas selimut.
Dengan satu tangan, Mara menarik pakaian atas
miliknya di atas kepalanya dan menjatuhkannya
ke lantai. Celana pendek dan celana dalam
renda hitam segera menyusul. Mara memberinya
pandangan nakal saat ia bergerak mundur
sampai dia bersandar ke bantal lembut di kepala
ranjang.

"Aku akan ke neraka untuk ini." Trent menarik


kemejanya atas kepalanya dan melangkah keluar
dari sepatunya. Membungkuk, ia segera melucuti
jins dan celana dalamnya. Semakin lama ia
memandang Mara berbaring dengan tenang,
tangannya menulusuri paha telanjangnya naik
dan turun, semakin cepat Trent bergerak.
Dia merangkak di atas tempat tidur sampai dia
melayang di atas tubuhnya. Dia menjulurkan
tangannya di atas puncak payudaranya yg
sekeras berlian, menikmati bagaimana napasnya
tersentak ketika ia terus menelusuri tangannya
ke kulit perutnya.
"Jangan menggodaku, Trent." Mara merintih
ketika ia mengitari pusarnya dengan ujung
jarinya, masuk ke dalam lekukan sensitif
tersebut beberapa kali sebelum melanjutkan
eksplorasi ke arah bawah. Gundukannya dicukur
kecuali sebagian kecil ikal gelap di bagian
atasnya.
"Aku bukan orang yang yang menggoda di sini.
Apakah kau melakukan ini untukku?" Dia

mengusap buku-buku jarinya di atas ikal


kecilnya, puas ketika dia menjerit dengan serak.
Dia mengulangi geraknya, menyentuh simpul
kecil dari saraf sensitif di bagian atasnya.
Kakinya jatuh terbuka saat ia bergidik.
"Ya, aku melakukannya untukmu. Aku berharap
kau akan menyukainya."
Dia membungkuk dan menjilatnya. Mara
mengerang dan melengkung punggungnya ke
atas, tubuhnya terentang dalam satu garis
panjang, berliku-liku.
"Aku jelas menyukainya princess." Melakukan
gigitan kecil padanya, menarik bibir bawahnya
melalui giginya dengan lembut.
"Oh ya Tuhan, Trent." Jari-jarinya melengkung
di atas sprei di samping kepalanya sampai ia
mencengkeram lembaran kain itu. Trent menekan
pahanya ke atas saat ia menjilat ke berkali-kali,
lidahnya mencari-cari rasa unik miliknya. Dia
mengerang dan bergetar dalam cengkeramannya.
Dia menyodorkan dua jari yang panjang ke
dalam dirinya dan tersenyum penuh kemenangan

ketika dia menjerit dan gemetar di bawah


mulutnya.
"Aku sangat berharap kau memiliki pelindung
dalam tas ajaibmu princess." Dia mengulurkan
tangannya dan menarik laci meja di samping
ranjang. Ia menghela napas ketika ia melihat
sekotak kondom di bagian belakang laci.
Dia merobek salah satu paket kecil dan
menggulungnya dengan cepat. Aroma tubuhnya
masih menempel di bibirnya, menggoda lubang
hidungnya. Dorongan untuk masuk ke dalam
dirinya, untuk menekan kakinya ke atas dan
mengambilnya, menderu melalui darahnya. Satu
panggilan primitif yang tak bisa dia abaikan.
Dia menempelkan keningnya yang basah
terhadap dirinya dan melihat ke matanya. Dia
menelan erangan kenikmatannya saat ia
menyesap mulutnya, tatapnya gelap ke arahnya
sepanjang waktu.
"Trent, aku telah memimpikan tentang ini begitu
lama." Suaranya pecah saat dia mendesak
masuk ke dalam dirinya dalam satu dorong keras

yang tiba-tiba. Dia begitu ketat hingga ia hampir


tak bisa bergerak. Mata Mara tertutup.
"Lihat aku. Lihatlah aku saat aku memilikimu."
Mata Mara melebar mendengar perintahnya. Itu
merupakan semacam sensansi tersendiri, berada
di dalam selubung ketat, merasakan Mara
gemetar saat ia masuk lebih dalam dan makin
dalam. Setiap fantasi yang pernah ia punyai
tentang dirinya jauh tidak sebanding dengan
realitasnya. Dia ada di sini, dengan Mara-nya,
kakinya di pinggangnya, kuku Mara menekan ke
bahunya.
Itu adalah mimpi basah yang menjadi kenyataan.
"Aku senang berada di dalammu. Aku tak punya
rencana untuk membiarkanmu keluar dari tempat
tidur ini untuk sementara waktu" Dia mengangkat
kakinya dan mengaitkan di atas bahunya,
bergeser lebih dalam, menggesek terhadap
dirinya dalam setiap daya dorong. Itu luar biasa
erotis untuk menonton payudara bundar
memantul bersamaan dengan dorongannya. Dia
menahan dengan telapak tangannya dan

memutar di antara jari-jarinya.


"Oh ya Tuhan!" Teriak Mara. Matanya bergetar
tertutup saat ia datang dan ia menjepit begitu
keras hingga Trent bergidik pada kekuatan
kenikmatannya. Mara terisak saat dia terus
bergerak di dalam dirinya, mengangkat dirinya
berlutut sehingga dia bisa bergerak lebih cepat,
lebih keras.
"Aku telah bermimpi tentang ini selama
bertahun-tahun..."
Kata-kata Trent teredam di atas lehernya saat
ia memeluk erat Mara ke dadanya dan meraung
saat ia datang. Trent merosot diatas tubuhnya
sejenak sebelum dia mengumpulkan kekuatan
untuk menarik keluar dan berguling ke samping.
Dia menggerakkan lengannya yang terasa berat
dan menarik punggung Mara sampai dia
menempel terhadap tubuhnya.
Dia mendongak dan tatapannya mendarat pada
bingkai foto Mara dan Matt. Temannya memeluk
Mara dan menatap kamera seolah-olah
menantang bagi siapa pun yang datang terlalu

dekat.
Yah, Trent sudah sedekat yang bisa ia lakukan
dan ia akan terkutuk jika ia akan menyesalinya.
Bab 5
"Berhentilah berpikir begitu keras." Mara
menatap dari balik bahunya dan meringkuk lebih
dalam ke pelukan Trent. "Aku hampir bisa
mendengar pikiranmu saling membentur di dalam
otakmu. Matikan saja untuk sementara waktu."
Trent mendesah tapi setidaknya dia berhenti
cemberut. "Itu lebih mudah diucapkan daripada
dilakukan. Setiap tindakan membawa
konsekuensi."
Mara menyangga tubuhnya dengan siku sampai
mereka saling berhadapan. "Tak ada yang salah
bahwa kita bersama-sama. Ini bukan urusan
siapapun kecuali kita sendiri. Tapi, jika ini kau
anggap hanyalah tindakan sekali saja untukmu,
aku bisa mengerti. Aku tak akan menahanmu jika
kau ingin pergi dariku."
Dia duduk dan menarik selimut untuk menutupi

payudaranya yang telanjang. "Sama yakinnya


seperti kau tak akan menahanku jika aku pergi
keluar dengan temanmu Jackson. Kita kebetulan
ketemu di kantor pos kemarin dan dia
mengajakku keluar."
Kata-kata itu baru saja keluar dari mulutnya
sebelum dirinya akhirnya telentang dengan Trent
berada di atas dirinya.
"Aku terkutuk jika aku melepaskan tanganku
darimu setelah beberapa tahun terakhir hanya
untuk melihatmu dengan babi seperti Jackson,"
geramnya.
Mara mendorong di bahunya. "Kenapa kau
peduli, Ini hanya one night stand, kan?"
Dia terhenti dan menatap Mara yang ada
dibawahnya. Matanya tertuju pada matanya
sampai Mara berhenti meronta di bawahnya.
"Ini bukan one night atau apapun. Kau milikku,
Mara. Aku jatuh cinta padamu ketika membantu
dengan laboratorium kimia-mu dan waktu kau
berpakaian seperti burrito pada Halloween untuk
menghiburku."

Dia meluncur lengan bawahnya dan memeluknya


ke ke arah jantungnya. Mara merasakan detak
jantungnya begitu kuat seperti suatu ketukan
tangan ke dadanya.
"Aku mencintaimu begitu lama dan aku sudah
berhenti menolak pikiran itu. Biarkan kepingkeping ini jatuh di tempat yang seharusnya."
Mara mengerjapkan air mata yang menggenang
di pelupuk matanya. Dia akhirnya mendengar
pria idamannya mengatakan "Aku mencintaimu"
dan dia tak ingin menjadi orang yang menangis
berantakan seperti yang akan terjadi.
"Aku juga mencintaimu sudah sangat lama,
Trent. Hanya memang butuh waktu untuk
mengumpulkan keberanian melakukan sesuatu
terhadap urusan ini."
Trent mengerling ke arahnya. "Yah, terima kasih
Tuhan untuk itu. Jika kau memutuskan
menggodaku saat kita masih kuliah, aku tidak
mungkin lulus. Itu pakaian yoga yang paling
minim yang pernah kulihat."
Mara menutup mulutnya dengan punggung

tangannya saat ia tertawa. "Jadi kurasa itu


bukan one night stand, ya?" candanya.
Trent menggeleng, tersenyum padanya dengan
sayang. "Tidak sama sekali. Kupikir tak akan ada
cukup malam yang tersisa dalam hidupku untuk
melakukan semua hal yang dapat kau bayangkan
aku bisa lakukan."
"Jadi kurasa kau sebaiknya tidak ke manamana. Dan mulai sekarang, kita harus jujur satu
sama lain. Tidak ada lagi sikap menjauhiku
karena kau pikir itu yang terbaik bagiku. Oke?"
Mara mencubit lengannya untuk membuat
penegasan.
Trent tertawa, suaranya bergemuruh di atas
kulitnya di mana mulut Trent menekan bahunya.
"Kukira kau sudah memerintahkannya padaku,
ya?"
Mara menyeringai ke arahnya dan membungkus
kakinya di sekeliling tubuhnya, menahan Terent
dalam buaian pahanya. Ereksinya menusuk perut
Mara seperti paku keras. Mara menarik napas
penuh apresiasi saat dia menggesek pada

tubuhnya.
"Benar. Kau tahu aku tidak menerima omong
kosong dari siapa pun. Bahkan pria yang
kucintai."
Dia menghela napas dan memiringkan
kepalanya, memberinya akses yang lebih besar
ke arah lehernya. Trent memberikan ciuman
kecil yang lembut di sepanjang kulitnya sampai
ia mencapai telinganya. Mara merintih ketika ia
menggigit-gigit daun telinganya.
"Kulitmu begitu lembut." Trent menggigit daun
telnganya dengan lembut dan Mara
mengencangkan jepitan paha ke tubuhnya. Jika
lebih lama lagi dan dia tak akan tahu apa yang
mereka bicarakan lagi.
"Well, aku senang semuanya telah berhasil
karena kalau tidak aku akan beralih ke Rencana
B." Trent menatap ke arahnya dengan terkejut.
Mara menyeringai dan membungkuk untuk
menggeledah isi lacinya. Butuh beberapa menit
untuknya sebelum ia menemukan apa yang ia
pesan dari internet seminggu sebelumnya.

Dia menjatuhkan tali beludru berwarna merah


marun di tempat tidur. Trent mengambilnya dan
mengangkat alis kearahnya.
"Mungkin kau harus tetap melanjutkan dengan
rencana B. Kalau-kalau aku perlu lebih
diyakinkan." Napasnya terasa lebih cepat
sekarang.
Mara merangkak naik dari dadanya dan
mendorong Trent sampai ia berbaring telentang.
Ia menarik tangan Trent di atas kepalanya dan
mengikatnya secara longgar pada besi tempa di
kepala ranjang dengan tali itu. Trent menarik
tangannya dengan lembut, matanya melebar
sedikit ketika Mara menepuk lengannya.
"Jangan bergerak." Mara membungkuk dan
mengambil salah satu dari puting kecil coklat di
antara bibirnya. Trent membengkak di bawahnya.
"Ya Bu." Dia mengerang ketika Mara menggesek
di atas ereksinya.
Dadanya seperti taman bermain, dengan otototot perut yang berkembang dengan baik dan
lekukan dari perutnya. Tak seorang pun akan

menebak ia bekerja di belakang meja melakukan


sesuatu yang membosankan seperti model
statistik. Dia memiliki tubuh seorang pria yang
bekerja di luar sepanjang hari. Sesuatu yang
Mara tahu dia bekerja keras untuk
mempertahankannya.
"Aku ingin memegang kendali untuk beberapa
saat. Aku ingin mengambilmu." Dia meluncur
turun dari tubuhnya, menggosok lengan dan
otot-otot pahanya yang kuat saat ia
melakukannya.
"Apa pun yang kau inginkan, princess." Ketika
kukunya menyerempet paha bagian dalam, Trent
mengerang dan tersentak di bawah tangannya.
Mara tertawa kecil. "Senang mengetahui bahwa
kau menghargai seorang wanita yang kuat."
Bukti dari gairahnya tepat ada di depan
wajahnya dan dia mengambil waktu sejenak
untuk mengagumi setiap incinya. Dia mengusap
hidungnya pada pangkalnya dan mengulanginya
beberapa kali sampai ke kepalanya. Ketika dia
akhirnya memasukkan di mulutnya, Trent

menjulang, mengencang melawan tali beludru


itu.
"Yah begitu...sialan, Mara." Dia menatapnya
dengan ekspresi mirip dengan ketakjuban ketika
dia mengisap miliknya kembali ke dalam
mulutnya, menggunakan tangannya untuk
meyangga diri di atas pahanya. Tak lama
kemudian, dia sudah punya irama yang
sempurna, naik turun bawahnya berulang kali
sampai dia mengenai bagian belakang
tenggorokannya setiap kali melakukannya.
"Aku akan datang," kata Trent. Tangannya
mengepal dan pinggulnya memompa ke atas
untuk memenuhi mulutnya. Trent menggertakkan
giginya dan menyaksikan saat dia memutarmutar lidahnya di sekitar kepala miliknya,
seolah-olah ia tak bisa mengalihkan pandangan
menjauh darinya. Matanya melebar saat dia
mempercepat iramanya, menarik dagingnya
melalui bibirnya dengan lembut, berulang-ulang.
"Ya Tuhan..." Ia membengkak di mulutnya saat ia
datang, pinggulnya mendorong ke atas dengan

irama yang canggung. Mara tetap disana


bersamanya setiap denyut pelepasannya,
menelan penuh semangat, mengisap dengan
lembut miliknya yang mulai melunak.
"Mara." Namanya keluar dari bibirnya seperti
doa. "Kau tak perlu melakukan itu."
Dia mencium naik ke arah atas dari paha hingga
ke otot-otot ketat di perutnya. "Aku ingin
melakukannya, percayalah." Jatungnya berdetak
tak teratur di bawah tangannya saat Mara
bersandar di dadanya. Lengan Trent meraih dan
membelai tengkuknya.
"Aku sangat gembira kau lupa menutup laci itu."
Dadanya bergoncang oleh kekuatan tawa
diamnya.
Mara mendongak sehingga dia bisa melihat
wajahnya. "Itu bukan hal penting sekarang, tapi
kau sendiri melakukan apa? Aku mulai berpikir
akan menyirammu masuk ke dalam toilet."
Trent mendengus. "Aku menjadi seorang
pengecut. Kupikir jika aku meninggalkan hadiah
ulang tahun di meja kamarmu, kau akan

menemukannya nanti dan aku tak harus benarbenar menyerahkannya sendiri padamu. Ini agak
canggung memberikan hadiah pada seseorang
yang baru saja kau..."
"Tolak?" Mara mengedipkan matanya ketika
Trent merengut.
"Aku tidak menolakmu. Aku hanya mencoba
untuk menjadi orang yang menyuarakan alasan.
Untuk sekali ini, aku menjadi orang yang
bertanggung jawab."
Mara berguling dan mengayunkan kakinya ke sisi
tempat tidur. "Nah, mulai sekarang, jangan
repot-repot. Aku tak tertarik kau menjadi orang
yang bertanggung jawab."
Dia melenggang menuju pintu yang
menghubungkan ke kamar mandi. "Aku tertarik
padamu untuk mengambilku dari belakang di
kamar mandi. Kecuali kalau kau terlalu lelah."
Dia berjalan ke kamar mandi tanpa menunggu
untuk melihat apakah ia akan mengikutinya.
Sedetik kemudian, pintu ke kamar mandi terbuka
lebar. Trent berdiri di pintu mengawasinya

dengan malu-malu.
"Aku akan menggosok punggungmu jika kau juga
menggosok punggungku."
Bab 6
Uap di udara begitu kental hingga dia tak bisa
melihat tangannya di depan wajahnya, tapi Trent
jelas melihat Mara. Dengan kepalanya
mendongak ke belakang dan air mengalir ke
bawah bahu dan payudaranya, ia tampak seperti
putri duyung nakal.
"Ini menakjubkan," Mara menggumam, memutar
bahunya di bawah semprotan air panas. Trent
setuju untuk alasan yang tidak ada hubungannya
dengan suhu air. Mandi bersama dengannya
adalah salah satu fantasi X-rated favoritnya.
Lengkap dengan efek suara.
"Aku tak pernah tahu kau begitu berisik." Ia
tertawa ketika mata Mara terbuka lebar saat
mengerang.
"aku tak bisa menahannya." Dia menunduk dan
tersenyum malu-malu padanya. "Selain itu, kau

juga tidak benar-benar tenang."


"Mmm, hmm." Trent nyaris tidak mendengarkan,
terlalu asyik dalam menelusuri daun telinga Mara
dengan lidahnya. Dia membalikkan punggung
Mara kearahnya dan memeluk ke arah tubuhnya.
Kulit licin, basahnya terasa lembut bagai
mentega. Tidak heran dia tak bisa menjauhkan
lidahnya dari tubuhnya.
"Mari kita lihat apakah aku bisa memberikan
sesuatu yang lain agar kau bisa menjerit." Dia
meletakkan tangannya ke dinding ubin dingin
dan mencondongkan tubuhnya ke depan. Posisi
miring pantat Mara kearahnya seperti suatu
persembahan.
Nah, itu yang aku bicarakan.
"Trent? Apa yang Kau lakukan?" Suaranya
bergetar tapi jelas bukan karena takut. Napas
Mara berubah menjadi dangkal dan, ketika dia
mengintip dari balik bahunya, matanya
berkilauan penuh dengan antisipasi.
"Aku hanya melakukan eksperimen. Aku hanya
bertanya-tanya apakah aku bisa membuatmu

bernyanyi untukku."
Dahinya berkerut kebingungan. "Bernyanyi?"
"Ya, hanya beberapa nada. Mungkin ini akan
berhasil." Dia menggeser satu jarinya ke dalam
intinya yang panas dari belakang. Mata Mara
menutup bergetar dan ia mengeluarkan erangan
panjang dan rendah.
"Itu bagus tapi kurasa kau perlu mencoba lagi.
Mungkin nada yang lebih tinggi sekarang." Trent
menyodorkan dua jari kedalam dirinya sekarang
dan Mara menjerit dan menjepit dengan keras.
"Trent! Kumohon ..."
Trent memainkan dia seperti sebuah instrumen,
jari-jarinya berputar-putar dan menggoda organ
sensitifnya sampai dia menjerit dalam satu
ratapan panjang, terus menerus. Ketika Trent tak
bisa bertahan lagi, dia meraih ke bawah dan
menggodanya dengan ereksi miliknya,
memasukkan kepala di dalam dirinya beberapa
kali sebelum ia akhirnya mendorong seluruhnya.
"Aku datang! Jangan berhenti!" Mara menggigil
dalam pelukannya, otot internalnya mengencang

dan melonggar dengan kekuatan begitu besar


hingga Trent tak akan terkejut jika miliknya akan
memar nantinya.
"Sialan kau terasa begitu nikmat, Mara. Seperti
kau tercipta untukku. Tercipta untuk menerima
ini." Dia melebarkan kaki Mara lebih terbuka
untuk miliknya. Air mengalir di atas mereka
menerpa ke bawah punggungnya saat ia
bergerak makin cepat, mendorong ke dalam
dirinya seperti orang gila. Hanya Mara bisa
membuatnya seperti ini, sedemikian gila untuk
memilikinya hingga ia lupa akal sehatnya. Satusatunya pikir di kepalanya adalah memberi cap
pada Mara bahwa adalah dia adalah miliknya.
"Trent, ini begitu nikamat. Aku tak bisa
menerimanya lagi," isaknya.
Dia merasa Mara bergetar dengan pelepasan
berikutnya sama seperti rasa familiar yang
mengalir di tulang punggungnya. Saat Trent
menaruh satu tangan di dinding di atas kepala
Mara, ia mendongakkan kepala ke belakang dan
menggeram saat ia terguncang seluruh

tubuhnya, menaiki gelombang kenikmatan yang


mengalir di antara mereka.
Trent membuka matanya beberapa saat
kemudian dan berkedip melalui tirai air yang
jatuh di atas wajahnya. Mara merosot maju ke
dinding ubin dengan satu kaki bersandar ke
langkan dari bak mandi. Jika ia bisa, ia akan
mengambil fotonya dan memberi label "kepuasan
sempurna." Tapi ketika ia menarik keluar darinya
ia baru menyadari apa yang ia lupakan.
Proteksi.
"Oh, sialan!" Tangannya memegang rambut
basahnya saat implikasi dari kata itu
menerpanya. Bukan saja dia benar-benar telah
melakukan tindakan tak senonoh terhadap adik
sahabatnya, tapi ia juga mungkin telah
membuatnya hamil.
"Aku benar-benar seorang bajingan." Dia
menarik Mara ke dalam pelukannya dan
menciumnya dengan lembut di pipinya. "Aku
tidak menggunakan pelindung. Apa ada
kemungkinan kau memakai pil?"

Mata Mara melebar sebelum ia akhirnya


menggeleng pelan. "Tidak, aku selalu punya
reaksi aneh terhadap pil. Tapi aku cukup yakin
waktunya tidak tepat."
Trent mematikan kran air dengan pergelangan
tangannya dan kemudian mengangkat tubuhnya
dalam pelukannya. "Ayo kita keringkan badan
dan kembali ke tempat tidur. Lalu aku bisa
memberikan hadiah ulang tahun yang menjadi
awal dari semua ini."
Mara membiarkan dia untuk mengangkatnya,
merebahkan kepalanya dengan lembut di
bahunya. Itu tampak bodoh tapi gerakan itu
langsung membuatnya merasa lebih kuat.
Manusia gua yang tersembunyi dalam dirinya
ingin mengangkatnya, membunuh binatang
buruan dengan tangan kosong dan lalu memberi
makan padanya. Dia ingin melindungi dirinya dan
bercinta dengannya.
Dan suatu hari mengamatinya tumbuh menjadi
bulat dengan anak yang dia kandung.
"Man, kau salah satu bajingan sakit," gumamnya

pada diri sendiri saat ia melangkah di atas


ambang bak mandi ke udara dingin dari kamar
mandi.
"Apa itu?" Mara berkedip menatapnya dengan
mengantuk.
Dia memeluknya sejenak sebelum menarik salah
satu handuk tebal yang ada di rak. "Tidak ada,
princess." Dia menurunkannya dengan lembut di
kakinya dan mengeringkan tubuhnya dengan
cepat. Dia mengusap sebagian besar air dari
tubuhnya sendiri sebelum melipat handuk dan
menempatkannya kembali rapi di rak.
Dia mengikuti Mara kembali ke kamarnya dan
menyaksikan saat ia merapikan tempat tidur
sebelum naik. Mara bergeser dan memberi ruang
bagi dirinya. Dia meluncur di bawah selimut.
Mara merangkak dan langsung menempel erat
pada tubuhnya.
"Aku sangat lelah. Kau mengurasku habishabisan." Suaranya terdengar lebih dalam,
penuh dengan tanda kelelahan. Tangan Mara
menelusuri dengan lebih lembut didadanya

sampai tiba-tiba berhenti. Dia melihat ke


bawah.
Mara sudah tertidur.
Trent mengingat sejenak untuk merefleksikan
kembali kejadian hari ini, menyadari betapa
beruntungnya dia karena segalanya yang telah
berjalan dengan baik. Ini bisa dengan mudah
menjadi satu kegagalan karena ciuman yang
tidak tepat waktu saat di sofa, dia tertangkap
basah melihat-lihat vibratornya, lupa memakai
kondom.
Dia tidak pernah punya seperti bencana giliran
sehari ke salah satu malam terbaik dalam
hidupnya. Tetapi pada akhirnya, ia meringkuk di
tempat tidur, hangat dan nyaman dengan wanita
yang dicintainya.
Tidak bisa lebih baik daripada ini.
Suara telepon berdering tiba-tiba membuat
Trent tersentak dari tidur nyenyaknya. Dia
menempelkan tangan kasar kewajahnya dan
menggeleng dengan keras. Siapa yang
menelepon pada jam begini? Kecuali ada

sesuatu yang terjadi pada salah satu orang


tuanya? Atau Mara?
Tangannya meraba-raba sampai akhirnya ia
menarik telepon keluar dari tempatnya.
"Halo?" Suaranya sepertinya dua oktaf lebih
dalam, serak sehabis tidur. Disebelahnya,
seseorang menggeliat dan ia ingat di mana ia
berada. Dan bahwa ia tidak menjawab
teleponnya sendiri.
" Siapa sebenarnya ini? "
Dia tahu suara serak siapa ini. Matt selalu
terdengar seperti seorang sersan pelatih, bahkan
sebelum dia menjadi sersan sekalipun.
"Sial." Untuk sesaat, Trent panik dan, hal
berikutnya yang dia tahu, dia mendengar nada
panggil.
"Sial. Mara, aku barusan memutus telpon
saudaramu."
Kepalanya muncul, ikal liar terbang di sekitar
wajahnya dalam satu pusaran. "Kau melakukan
apa?"
Sebelum dia bisa menjawab, telepon berdering

lagi. Dia menyerahkannya kearah Mara tanpa


kata. Meskipun dia tidak membutuhkan headset.
Suara Matt mungkin bisa didengar di wilayah
sebelah.
"Katakan pada pacar barumu bahwa aku akan
merobek dia jika ia memutus telponku lagi.
" Siapa sebenarnya dia, Mara? "
Mara duduk tegak dan matanya pergi ke Trent.
"Itu tidak sengaja, Matty. Aku mencoba untuk
meraih telepon."
"Dan mengapa dia menjawab teleponmu di
tengah malam begini?"
Mara memutar matanya. "Aku juga
menyayangimu, Matt. Aku sangat gembira kau
menelepon. Bagaimana kabarmu?"
Sisa percakapan mereka terlalu teredam untuk
Trent dengar tapi ia bisa membayangkan itu
tidaklah baik. Mara tidak terlihat terlalu senang
ketika dia menutup telepon.
"Maaf tentang itu. Dia tidak bisa menggunakan
telepon satelit terlalu sering jadi kadang-kadang
dia harus menelepon pada waktu yang benar-

benar aneh. Seharusnya aku memikirkannya,


seharusnya aku memperingatkanmu."
Trent duduk dan menariknya ke arah dadanya.
"Kau tak harus melakukan itu. kau seharusnya
tidak menyembunyikan siapa yang kau kencani
dari Matt."
Dia terkekeh. "Aku tahu aku terlepas dari
masalah terlalu mudah. Sekarang aku sudah
membuatnya kesal dan dia bahkan tidak tahu itu
adalah aku. Aku tak tahu bagaimana cara
memberitahunya."
Mara tersenyum. "Ini akan menjadi sebulan lagi
sebelum dia kembali ke rumah jadi kita tak perlu
khawatir tentang hal itu. sekarang Mari kita
kembali tidur."
Mereka meluncur kembali di bawah selimut dan
Mara membaringkan kepala di dadanya. Tapi itu
cukup lama sebelum salah satu dari mereka
jatuh terlelap.
***
Bab 7 - Tamat

Mara melayang, tubuhnya seperti ditambatkan di


atas awan. Sulur yang lembut dari kabut
berputar-putar di atas lengan dan kakinya,
menggelitik perutnya, meluncur di atas
putingnya. Dia merintih pada sentuhan yang
seperti kabut saat jari-jari menari-nari di
antara pahanya, menghindari di tempat yang
mana paling ia butuhkan.
Dia membuka matanya saat melihat Trent
berlutut di bawahnya, matanya menjadi gelap
ketika melihat Mara terjaga. Lidahnya melesat
keluar dan menelusuri tubuh bagian bawahnya.
Mara mencengkeram seprei saat ia berjuang
untuk tidak datang.
"Selamat pagi juga untukmu." kata Mara
terengah-engah. Dia diberi hadiah dengan
tarian lidah yang mendalam serta sensual. Pria
itu adalah seorang maestro dengan hal ini dan ia
dengan senang hati menjadi instrumen yang
sedang dia gunakan.
"Ketika aku bangun, kau berada dalam posisi
yang paling menarik. Aku tak bisa menahan diri."

Trent mengerang ketika Mara mengencangkan


otot di sekitar lidahnya. Mara menyetuh
payudaranya dan jari-jarinya memutar ujungnya.
"Sialan, kau wanita kecil yang panas. Kau
mencoba untuk menggodaku lagi?" Trent
mengganti lidahnya dengan jari dan Mara
langsung menjerit.
"Apa itu berhasil?" Mara mengangkat pinggulnya
dan mengikuti jarinya, matanya tertutup saat
Trent memasukkan jarinya yang lain.
"Tentu saja, itu berhasil." Dia berguling dan
menarik kondom lain dari laci di samping tempat
tidurnya. Mara duduk untuk menonton dia
memakainya. Itu sangat menarik. Jika saja ia
tahu apa yang Trent sembunyikan di dalam
celananya selama ini, ia mungkin tak akan
menunggu begitu lama untuk mendekatinya.
"Aku ingin kau di atasku menaikku, Mara." Ia
berbaring dan menarik Mara ke atas tubuhnya.
Dia menyebar kakinya dan membawanya ke
dalam dirinya.
"Sialan, kau terasa nikmat." Trent menggenggam

payudara penuh Mara di tangannya,


menahannya saat dia terus bergoyang di
atasnya. Ia menarik-narik putingnya sampai dia
merintih. Setiap kali ia mencubit, itu mengirimkan
energi langsung ke intinya.
"Naiki aku lebih keras. Bergeraklah di atasku."
Mara menggigil saat melihat ke bawah di mana
tubuh mereka bergabung, intensitas tatapannya
memberi dirinya keberanian yang dia butuhkan.
Dia mengangkat lutut dan menghentak dirinya ke
bawah, membawanya begitu dalam hingga dia
merasa sampai ke dalam tenggorokannya.
"Ya, seperti itu. lagi." perintahnya berpacu
melalui dirinya dan ia mengulangi geraknya,
mengambil setiap inci miliknya sedalam yang ia
bisa. Segera dia memiliki ritme: angkat, jatuh,
menggiling. Ketika Trent mulai mencubit
putingnya bersamaan dengan gerakan
pinggulnya, dia kehilangan kendali.
"Trent ... Trent!" Dia ambruk di dadanya saat ia
menggigil dalam kenikmatan. Trent memegang
pinggulnya sambil bergoyang. Dia menggerakkan

tubuhnya lagi dan kemudian memanggil


namanya.
Mereka berbaring selama beberapa menit,
terengah-engah bersama-sama. Mara tidak
benar-benar ingin bangun tapi dia pikir dia
harus pindah karena badannya mungkin terlalu
berat. Mengingat aktivitas yang ia berikan
padanya selama dua puluh empat jam terakhir,
pria ini pasti membutuhkan semua oksigen yang
dia bisa dapatkan.
Dia berguling ke samping saat ketukan keras
terdengar di pintu depan. "Oh, sekarang apa?
Aku tak perlu tukang penyekop salju sekarang!"
Trent menatapnya dengan aneh jadi dia
menyangga tubuh dengan sikunya. "Setiap kali
ada salju di sini, semua anak-anak tetangga
mengetuk pintu dan bertanya apakah kau
membutuhkan jalan ke rumahmu dibersihkan dari
salju."
Dia bangkit dan berjalan ke meja riasnya. Dia
merobek selembar kertas dari buku catatan
kecil. "Ini menyenangkan pada awalnya ketika

ada salju. Setelah itu, jadi mengganggu." Dia


menuliskan sesuatu dan kemudian
menyerahkannya pada Trent. "Bisakah kau
menempatkan ini di pintu sehingga mereka akan
berhenti mengetuk? Kalau tidak, kita tak akan
pernah mendapatkan ketenangan."
Trent menarik celana jins yang ia tinggalkan di
lantai malam sebelumnya. Ia menerima selembar
kertas itu dan gulungan kecil selotip dari Mara.
"Ku kira aku bisa, jika kau tak keberatan
membuatkan sarapan. Kau tahu bagaimana aku
memasak."
Mara tertawa dan menepuk lengannya. "Ya,
keracunan makanan akan terjadi. Ku kira bacon
dan telur tidak terlalu merepotkan. Tapi jangan
berpikir aku akan memasakkan sarapan untukmu
setiap pagi."
Trent masih tersenyum saat ia turun ke lantai
bawah. Dia menonton pantat Mara saat ia berlari
ke dapur. Dia cukup yakin bahwa mereka tak
akan bisa melewati sarapan sebelum mereka
melakukannya lagi di atas meja. Itu akan menjadi

penyesuaian besar ketika Matt pulang. Ia


berencana untuk tinggal dengan Mara sementara
ia mencari tempat yang baru. Trent tak bisa
membayangkan tidak bertemu Mara, tapi ia juga
tak bisa membayangkan kencan dengannya
sementara kakaknya tinggal bersama Mara.
Dia berbalik dan berjalan ke pintu, memegang
tulisan Mara "Tidak butuh jasa penyekop salju"
di satu tangannya. Dia bisa melihat bayangan di
luar pintu saat ia mendekat. Menilai dari
tingginya, itu mungkin salah satu dari anak
kuliah yang ingin mendapatkan uang belanja.
Trent menarik pintunya terbuka ...
... Dan dia di sambut tinju tepat di wajahnya.
****
Mara bersenandung sendiri sambil menarik
wajan favoritnya dari lemari bawah wastafel.
Lapisan salju yang tebal membuat halaman
belakang rumahnya terlihat seperti bola kapas
raksasa. Ini akan jadi menyenangkan jika Trent
tinggal untuk sementara waktu. Mereka bisa
membuat manusia salju atau minum cokelat

panas sambil duduk berdua.


Apakah akan aneh jika dia memintanya untuk
tinggal se hari? Dia tak ingin Trent merasa dia
mulai terlalu menempel padanya, tapi tak ada
yang dia lebih suka lakukan selain
menghabiskan hari bersalju bersama dirinya.
Dia mendengar bunyi gedebuk keras dan
kemudian suara benda jatuh.
"Trent? Apakah kau Oke?" Jantungnya seperti
ada di tenggorokannya, ia mengintip di sudut.
Ketika pikirannya akhirnya mencerna apa yang
dia lihat, dia melemparkan wajan yang masih dia
pegang dengan sekuat tenaga.
"Matt! Apa-apa sih yang kau lakukan?" Mara
berlari mendekat dan berlutut di samping Trent,
dia tidak K.O tapi hanya sedikit pusing. Dia
menggoyangkan kepalanya dengan keras dan
kemudian duduk.
"Ini urusan di antara kami, Mara." Trent berdiri
dan meregangkan rahangnya. "Kakakmu punya
hak untuk marah."
Mara menyilangkan lengannya. "Tidak, dia tidak

punya hak." Dia berpaling kearah Matt dan


memukul lengannya. Matt tidak tersentak sedikit
pun. "Kau tak punya hak untuk bersikap
menyebalkan. Terutama karena aku bahkan tak
tahu kau pulang lebih awal. kau layak untuk
terkejut."
Matt mengangkat bahu. "Aku sedang mencoba
untuk memberitahumu ketika aku menelepon tadi
malam tapi aku terganggu." Matanya pindah
kembali ke Trent dan ia menyeringai. "Selain itu,
aku memukulnya sebelum otakku memproses
siapa orang yang aku pukul itu. Jadi, dia yang
menutup teleponku?"
Trent menatapnya waspada, kemudian
mengangguk. "Aku benar-benar tidak
bermaksud melakukannya, tapi aku setengah
tidur."
Matt mengerutkan bibirnya. "Well, aku senang
aku memukulmu. Kau pantas pendapatkannya
karena membiarkanku berpikir adikku tinggal
bersama orang lain." Kemudian ia mendorong
melewati mereka dan melemparkan tasnya di

sofa.
Mara memandang Trent, tak yakin apa yang
harus dipikirkan. Dia mengikuti Matt dan
menyaksikan saat ia melepaskan jaket militernya.
"Tunggu dulu, jadi kau tidak marah karena Trent
dan aku, well, begitulah, kita ..."
"Kencan." Trent muncul di belakangnya dan
membungkus lengannya di tubuhnya.
Matt menyilangkan lengannya dan menyeringai.
"Kencan? Kalian lebih mirip jatuh cinta pada satu
sama lain, tetapi terlalu bodoh untuk
mengetahuinya."
Mara tertawa cekikikan dan menoleh ke arah
Trent. Dia tampak seperti barusan tertangkap
basah di luar rumah dengan celana merosot ke
bawah.
"Ku kira aku agak mencolok selama bertahuntahun, bertanya padamu apa yang sedang Trent
lakukan." Mara tersipu ketika Matt memutar
matanya.
"Kalian berdua menyedihkan. Kalian sudah
mengincar satu sama lain sejak masa kuliah dan,

sementara, aku harus mendengarnya dari kedua


arah. Aku berharap bahwa sementara aku pergi,
kau tahu, tugas melayani negara kita, bahwa
kalian berdua punya keberanian dan saling jatuh
cinta. Meskipun aku tak ingin mendengar tentang
hal itu." Dia memberikan pandangan pada
mereka berdua yang Mara yakin calon taruna
militer pun akan ketakutan.
"Tidak, Sir, Sersan Big Brother." Dia
menubrukkan dirinya ke dalam pelukannya,
tertawa ketika dia menarik ujung ekor kudanya.
"Kau lumayan mengagumkan, kau tahu itu?"
Dia menoleh pada Trent. Setelah beberapa lama,
Matt mengulurkan tangannya. Trent berjalan
mendekat dan mereka berjabat tangan dan
kemudian beradu bahu.
"Kau sudah seperti saudara laki-laki bagiku.
Tapi jangan menyakiti adikku atau aku benarbenar akan merobekmu."
Mereka saling menyeringai. Lalu Matt
memandang ke arah Mara dan berkata, "Ada
kemungkinan kau mengambil wajan itu? Aku

kelaparan."
Mara memandang laki-laki yang dicintainya dan
menggelengkan kepalanya.
Tapi dia pergi mengambil wajannya.

THE END

Anda mungkin juga menyukai