Anda di halaman 1dari 8

Casey Sloan

INDO 3020
Final Paper

HIV/AIDS dikodai di Indonesia

Selama bertahun-tahun, di Indonesia sedikit diketahui jumlah kasus warga

negara yang terinfeksi HIV atau menderita penyakit AIDS. Sejumlah kasus-kasus

HIV/AIDS yang secara resmi diakui di bangsa itu agak rendah. Yang kita tidak tahu

adalah kalau jumlah rendah ini betul-betul mencerminkan keadaan yang nyata - yaitu,

selama ini belum ada banyak kasus HIV/AIDS di Indonesia - atau informasi itu salah;

maksudnya, sebetulnya ada lebih banyak orang yang terinfeksi HIV daripada yang

diakui degan resmi.

Jelasnya, pada tahun delapanpuluhan, penularan-penularan HIV sudah terjadi di

antara orang Indonesia. Namun, tes mendis unutuk HIV masih disalahpahami dan sulit

mempergunakan bagi orang biasa pula, maka sejumlah orang warga negara Indonesia

yang terinfeksi HIV/AIDS belum ditentukan. Kenyataan dari Departamen Kesehatan

Indonesia pada tahun 2007 menunjukkan angka 17,207 sebagai sejumlah sepenuhnya

kasus-kasus orang yang diinfeksi HIV yang diketahui dengan resmi, termasuk 6,066

orang yang sudah penyakitnya maju didiagnosis sebagai AIDS dan 2,360 yang sudah

meninggal dunia oleh karena penyakit itu. Ini informasi yang resmi, dari pemerintah.

Tetapi, sejumlah orang terinfeksi betul-betul diperkirakan sepuluh kali nomor yang

tersebut sedikit-dikitnya (Boellstorff, 2009:356).


Pokoknya, sejumlah orang yang terkena HIV/AIDS di Indonesia, juga yang

terancam menjadi terinfeksi nanti, sekarang agak tinggi, sekalipun kelompok itu lebih

kecil dulu. Jadi, pertanya-tanyaan adalah: Kenapa begitu sulit bikin perkiraan angka

yang kurang-lebih benar mengenai kasus-kasus HIV di bangsa itu?; Kenapa begitu sulit

memahami dan mengetahui keadaan AIDS di Indonesia?; dan kenapa masalah

kesehatan yang serius sekali ini kelihatannya semakin buruk daripada menjadi lebih

baik? Jawaban terhadap semua pertanyaan ini adalah noda yang dikaitkan dengan

penyakit ini di Indonesia.

Tentu saja, di seluruh dunia AIDS dinodai sebab fakta bahwa penyakit ini

ditularkan melalui berhubungan seks dengan orang yang terinfeksi tanpa pakai condom

atau menggunakan jarum suntik bersama dengan orang seperti itu (yaitu, penyakitnya

ditularkan lewat cairan tubuh). Tindak-tanduk seperti ini biasanya dianggap tidak

sopan. Oleh karena itu, sering dipikirkan cuma orang yang melakukan tingkah-laku

yang asusila yang terkena penyakit ini menjadi terinfeksi HIV.

Di Indonesia, sudah lama HIV/AIDS dianggap sebagai penyakit asing, sesuatu

dari luar negeri yang dibawa ke dalam Indonesia oleh seorang asing. Kasus pertama

yang diakui secara resmi di Indonesia terjadi pada tahun 1987, terlibat seorang

wisatawan berasal dari Belanda. Dia meninggal sambil mengunjungi pulau Bali.

Kejadian ini mendukung kepercayaan bahwa HIV/AIDS adalah sesuatu yang tidak asli

Indonesia dan sepunuhnya tidak mencerminkan gaya hidup orang pribumi. Tom

Boellstorff menunjukkan “AIDS” masih tetap nama untuk penyakit itu, meskipun sigkatan
itu dari Bahasa Inggris dan sebetulnya agak sulit mengucapkan bagi orang yang

terbiasa berbahasa Indonesia. Dia menambahkan dan menjelaskan:

Lying outside even phonological belonging, understandings of HIV/AIDS are


bound up in ideas about what constitutes Indonesian norms for sexual and moral
behavior, about what it means to be “Eastern” and “Indonesian” as opposed to
“Western” [Boellstorff, 2009:356].

(Bahkan di luar pribadian bahasa, pemahaman mengenai HIV/AIDS dikaitkan


dengan pikiran tentang apa yang termasuk norma-norma kelakuan seksuil dan
akhlak, tentang apa maknanya menjadi “orang Timur” dan “orang Indonesia”
daripada “orang Barat.”)

Sebuah artikle yang diterbitkan dalam majalah Tempo pada tahun 1994 adalah

contoh pimikiran ini. Artikle itu dimulai dengan permainan dengan kata-kata yang

dipakai sebuah kutipan Sukarno, seorang palawan peran kemerdekaan Indonesia dan

presiden pertama. Bahasa Inggris dipakai, ditulis: “Go to hell with your aids.” Dulu,

wakti Sukarno mengatakan itu, dia maksud Indonesia sudah menjadi bangsa yang

mencapai merdeka sendiri dan uang bantuan (“aid”) tidak diperlukan dari bangsa-

bangsa barat, seperti Belanda dan Amerika Serikat.

Waktu itu, bangsa baru itu di bawah pemerintah Sukarno, seorang anggota

Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut Sukarno, bantuan dari negara-negara barat

adalah perangkap saja, sehingga Indonesia semakin mirip negara-negara itu dan

dipengaruhi olehnya pula. Tetapi Sukarno bilang, “go to hell with your aids.”

Maksudnya negara Indonesia mandiri, tidak harus mengikuti Amerika Serikat, meniru-

nirunya, dan menjadi seperti mereka. Kurang-lebih tigapuluh tahun kemudian, di artikle

tersebut, pernyataan Sukarno itu masih sesuai, tapi sekarang Indonesia tidak menolak
uang bantuan dari (“aid”) negara-negara barat, malah penyakit mereka (AIDS) (Kroeger,

2003:245).

Pemikiran ini, yaitu bahwa HIV/AIDS masih dianggap sebagai sebuah penyakit

asing, dijelaskan sebab pemerintah Indonesia masih menunjukkan keseganan

mempromosikan pesan kesehatan umum mengenai seks aman. Sebetulnya ada

banyak orang di Indonesia, mungkin seorang anggota LSM, yang mengajurkan

mempromosikan seks aman lewat pendidikan umum tentang seks yang terbuka,

mempromosikan dengan tegas penggunaan kondom, dan lain lain. Meskipun,

pemerintah menolak usul-usul itu karena mereka takut kampanye seperti itu akan

mendukung seks pranikah. Kelakuan seperti itu dikaitkan dengan orang barat yang

semua suka “seks bebas.” Menurut pemerintah Indonesia, ini tidak cocok dengan

kehidupan asli Indonesia. Menteri Kesehatan Masyarakat, Hadi Abednego,

mengatakan, “Ini tidak kebudayaan kita (orang Indonesia)” (Kroeger, 2003:245).

Dulu, pada jaman Orde Baru, Suharto mempromosikan ide bahwa warga negara

Indonesia yang baik adalah orang yang punya keluarga. Menurut ide ini, kita

seharusnya berhubungan seks di dalam konteks buat keluarga saja, yaitu unutk

membiakkan. Di dalam rumah keluarga adalah tempat di mana akhlak bangsa

Indonesia seharusnya terun-menerun. Orang-orang yang ikut serta seks bebas,

termasuk seks pranikah, melanggani tempat pelacuran, dan orang homoseks. Semua

macam seks ini dianggap tidak cocok dengan akhlak resmi bangsa Indonesia.

Seperti yang tersebut, HIV/AIDS dikaitkan dengan kelakuan seksuil yang tidak

sopan seperti itu. Oleh karena itu, kalau pemerintah mengakui adanya masalah
penyakit mematikan ini, artinya mereka mengakui adanya “seks bebas” juga. Sama

dengan mempromosikan penggunaan kondom. Kalau kita mengajar anak remaja

tentang seks aman dan cara yang benar pemakaian kondom, kita juga harus mengakui

anak remaja itu berhubungan seks pranikah. Jadi, pemandangan pemerintah Indonesia

- sayangnya pemikiran yang mengalir terus ke orang banyak - adalah bahwa hanya

orang yang menyimpang terkena HIV/AIDS.

Tentu saja, semua orang yang terlibat pemerintah Indonesia tidak mengikuti gaya

hidup yang dipromosikan oleh pemerintah. Leslie Butt, seorang ahli antropologi, buat

riset di Papua, khususnya di Wamena di mana ada kurang-lebih 2,000 orang tentara,

atau satu sedadu per lima orang Papua. Meskipun ideologi pusat dari pemerintah

adalah bahwa pelacuran dan industri seks itu tidak sah dan seharusnya ditekan,

sebetulnya mereka melindungi industri itu. Contohnya, seharusnya mereka

mengangkap pelacur-pelacur di Wamena dan membetot mereka, tapi sebaliknya: sering

mereka menjaga pintu masuk rumah pelacur sehingga langganan kaya boleh masuk

dan pulang secara rahasia (Butt, 2005:423).

Pengetahuan orang Papua tentang tidak bagus karena alasan-alasan yang

tersebut. Mereka tahu saja penyakit itu dikaitkan dengan seks bebas. Nah, karena

Papua ada provinsi dengan sejumlah orang terinfeksi HIV tertinggi di seluruh nusantara,

orang tentara (kebanyakan yang orang Indonesia) melindungi pelacuran di sana, dan

kebanyakan pelacur adalah perempuan Indonesia daripada perempuan Papua, ada

desas-desus di antara orang Papua bahwa pemerintah Indonesia mencoba mematikan

orang Papua lewat pelacur yang terinfeksi HIV. Jelasnya, HIV/AIDS adalah maslah
yang agak penting, khusunya di Papua, tapi pemerintah Indonesia tidak bersedia

memberitahu kepada warga negara di sana bagaimana penyakit itu bisa melawan,

malah kelihatannya mereka mendukung HIV di Papua lewat kedatangan banyak pelacur

yang terinfeksi.

Desas-desus tentang HIV/AIDS menunjukkan informasi kurang bagus di

Indonesia tentang bagaimana penyakit itu bisa ditularkan. Pada tahun 1996, Karen

Kroeger buat riset tentang desas-desus HIV/AIDS yang waktu itu sedand orang banyak

anggota kelas menegah menyebar-luaskan. Begini, katanya kasus-kasus semakin

banyak di mana seseorang yang ada di mal perbelanjaan, atau tempat moderen seperti

itu, tiba-tiba disuntik oleh sesuatu yang tajam. Mereka melihat-lihat tapi nggak bisa

menemukan siapa atau apa yang menyuntiknya. Kemudian, setelah mereka sudah

pulang, di coceknya ditemukan sebuah kartu bertulisan: “Welcome to the AIDS Club”

(Selamat datang perkumpulan AIDS) (Kroeger, 2003).

Kroeger mengobrol bersama dengan banyak orang yang bersikeras betul-betul

kenal seseorang yang disuntik, langsung ke rumah sakit, dan ternyata ujian HIV

menunjukkan mereka sudah terinfeksi (atau, biasanya, mereka kenal seseorang yang

kenal seseorang yang mengalami itu). Sebetulnya, tidak mungkin kita bisa terinfeksi

lewat disuntik seseuatu tajam di mal. Lebih lagi, kalau kita betul-betul terinfeksi HIV,

tidak mungkin langsung tes positif begitu cepat (Kroeger, 2003: 248). Cerita-cerita ini

yang Kroeger dengar adalah desas-desus saja. Tapi adanya pemikiran ini

menggambarkan kekurangan informasi tentang HIV/AIDS di Indonesia, bahkan di


antara kelompok orang yang tinggal di sebuah kota besar di Jawa, menjadi anggota

kelas menengah pula.

Jelasnya, mereka tahu HIV ada di Indonesia dan bisa ditularkan lewat cairan

tubuh. Tetapi, sudah lama pemerintah Indonesia kurang bersedia mengumumkan

informasi yang nyata tentang HIV/AIDS dan secara benar melawannya sebab pemikiran

HIV/AIDS sebagai penyakit barat yang terkait dengan “seks bebas.” Sebagai akibatnya,

sulit menyebarkan informasi yang baik dan benar tentang HIV, sehingga orang-orang

yang mungkin terancam menjadi terinfeksi penyakit ini tidak bisa menahannya. Selain

itu, kemungkinan besar banyak orang yang sudah terinfeksi belum sadar fakta buruk itu

karena begitu sulit diujian unutuk HIV. Lebih lagi, mungkin mereka tidak mau diujian

sebab noda-noda yang dikaitkan dengan HIV/AIDS.

Tom Boellstorff, seorang ahli antropologi yang berasal dari Amerika Serikat, buat

riset tentang LSM HIV/AIDS yang berkerjasama dengan orang homoseks dan waria,

dua kelompok yang terancam penyakitnya. Dalam sebuah pertemuan di mana salah

satu orang yang ikut mengakui dia sudah terinfeksi HIV, banyak orang mengatakan

belum diujian karena mereka takut. Mereka tidak mau tahu kalau sudah terinfeksi atau

tidak, karena kalau sudah, pasti dinodai. Mereka sudah dinodai sebagai orang “gay”

atau waria, berapa lagi kalau diketahui mereka terinfeksi HIV? Kalau tidak terinfeksi,

masih dinodai. Pergi diujian berarti mungkin sudah terinfeksi karena mengikuti tingkah-

laku yang asusila. Jadi, kalau ujian itu baik atau tidak, yang menerima menjadi dinodai

lagi (Boellstorff, 2009:354).


Di dalam pertemuan orang homoseks dan waria yang dipelajari Tom, seorang

waria yang bernama Nuri akhirnya mengakui kepada semua di sana bahwa dia

terinfeksi HIV. Mereka semua heran. Nuri mengambil risiko dinodai, tapi setelah

mengungkapkan rahasia itu, semua di sana memulai bertanya. Jelasnya, mereka ingin

tahu tengan HIV/AIDS: Bagaimana menjadi terinfeksi?; Gimana kejadian kesehatan

setelah ditularkan?; Apa sih obatnya yang harus diminum untuk menahan efek-efek

penyakit itu?

Hanya lewat ngomong tentang HIV/AIDS secara terbuka informasi yang benar

bisa disebarkan. Akhirnya, kalau percakapan dan pendidikan mengenai HIV/AIDS

menjadi semakin terbuka, orang banyak, khususnya anak remaja yang dianggap salah

satu kelompok yang paling terancam terinfeksi HIV, bisa menghindari infeksi. “Saat ini,

anak muda harus tahu tentang seksualitas. Anak muda itu nggak bisa cuma dikasih

ceramah-ceramah agama yang sering bilang, berhungan seksual sebelum menikah itu

dosa. Penjelasan modal seperti itu cuma bikin tambah penasaran aja” (Yusari, 2009).