Anda di halaman 1dari 23

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3

Kimia A 2013

I.
II.
III.
IV.

V.

JUDUL PERCOBAAN

Penentuan Orde Reaksi pada Laju


Ketengikan Minyak Kelapa Sawit dengan
Metode Titrasi
Iodometri
HARI/TANGGAL PERCOBAAN
: Rabu/ 22 April 2015 (09.30 WIB)
SELESAI PERCOBAAN
:Rabu/ 22 April 2015 (12.30 WIB)
TUJUAN PERCOBAAN :
1. Mengetahui besarnya bilangan peroksida pada
minyak kelapa sawit
2. Mengetahui cara penentuan ketengikan minyak
kelapa sawit
3. Mengetahui orde reaksi pada proses
TINJAUAN PUSTAKA

ketengikan minyak kelapa sawit


:

Minyak jagung adalah minyak yang diekstraksi atau diperas dari biji
jagung, bersifat setengah kering, berwarna kekuningan dan digunakan untuk
membuat sabun, dan pelumas. Minyak ini mulai mengeluarkan asap pada
kisaran suhu 204C - 213C. Karena tahan dalam suhu tinggi tanpa
mengeluarkan asap, minyak jagung cocok digunakan untuk memasak
banyak jenis makanan. Minyak jagung seringkali digunakan sebagai
alternatif pengganti minyak sawit karena diduga memiliki kandungan asam
lemak jenuh yang lebih rendah. Minyak jagung juga memiliki rasa yang
hampir hambar.
Minyak jagung mengandung asam oleat 20%-50%, asam linoleat
35%-60%,

fosfolipid

2%

serta

bahan

tak

tersabunkan

2%

(tokoferol,sitosferol dan lilin). Selain itu, zat-zat yang terkandung dalam


minyak jagung murni adalah 99% triasilgliserol dengan asam lemak tak
jenuh ganda (PUFA) 59%, Asam lemak tak jenuh tunggal 24% dan asam
lemak jenuh (SFA) 13%. Yang tak kalah penting, minyak jagung juga
mengandung ubiquinon, alfatokoferol tinggi dan gamma-tokoferol yang
tinggi sehingga dapat menghindarkan dari "ketengikan" oksidatif. Nutrisi
penting lain dalam minyak jagung yang tidak kalah penting adalah vitamin
E yang sangat baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan juga
bertindak sebagai antioksidan dengan mencegah kerusakan akibat radikal
bebas.

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

Minyak ini menyediakan asam lemak esensial dan energi. Asam linoleat
dalam minyak jagung merupakan asam lemak esensial yang digunakan
untuk integritas kulit, membran sel, sistem kekebalan dan untuk sintesis
icosanoid. Icosanoid merupakan unsur yang penting untuk unsur-unsur
reproduksi, kardiovaskuler, ginjal, pencernaan dan ketahanan terhadap
penyakit. Mengkonsumsi minyak jagung efektif untuk menurunkan kadar
kolesterol darah. Untuk mendapatkan manfaat yang optimal, perlu dipilih
minyak jagung yang berbahan jagung non-transgenik.
Ketengikan Minyak
Ketengikan oksidatif merupakan ketengikan yang disebabkan oleh
oksidasi oksigen diudara secara spontan jika bahan yang mengandung
minyak dan lemak dibiarkan kontak dengan udara. Minyak dan lemak
mudah mengalami oksidasi spontan adalah minyak yang mengandung
asam lemak tak jenuh. Ketengikan merupakan proses autooksidasi dan
kerusakan yang terjadi pada bau, rasa lemak dan makanan berlemak. Hal
tersebut dikarenakan terdapat satu atau lebih iaktan rangkap yang mudah
terserang oksigen sehingga menimbulkan ketengikan. Bau tengik yang
dihasilkan pada proses ketengikan disebabkan oleh terbentuknya senyawasenyawa hasil akhir pemecahan hidroperoksida seperti asam-asam lemak
rantai pendek, aldehid, keton yang bersifat volatil. Rasa tengik juga
disebabkan karena terbentuknya aldehid tak jenuh (akreolin) yang dapat
menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan.
Bilangan Peroksida
Didefinisikan sebagai jumlah meq peroksida dalam setiap 1000 g(1
kg) minyak atau lemak. Bilangan peroksida ini menunjukkan tingkat
kerusakan minyak atau lemak. Pada percobaan ini, peningkatan bilangan
peroksida digunakan sebagai indikator dan peringatan bahwa minyak
sebentar lagi akan berbau tengik.
Titrasi iodometri
Iodimetri yaitu titrasi yang melibatkan iodin. mengacu kepada titrasi
dengan suatu larutan iod standar .Sedangkan metode titrasi tak langsung
dinamakan iodometri , adaah berkenaan dengan titrasi dari iod yang
dibebaskan dalam reaksi kimia . Potensial reduksi normal dari sistem
reversibel adalah 0,5345 volt.
I2 (s) + 2e- 2I-

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

Persamaan diatas mengacu kepada suatu larutan-air yang jenuh


dengan adanya iod padat, reaksi setengah sel ini akan terjadi, misalnya
menjelang akhir titrasi dari iodida dengan suatu zat pengoksidasi seperti
kalium permangganat , ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif
rendah. Dekat permulaan atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion
iodida terdapat berlebih, terbentuklah ion triiodida :
I2(aq) + I- I3Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi setengah sel itu lebih
baik ditulis sebagai berikut :
I3- + 2e- I3Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt .Maka iod atau
ion triiodida merupakan zat pengoksidasi yang jauh lebih lemah ketimbang
kalium permangganat, kaliumdikhromat dan serium (IV) sulfat. Dalam
kebanyakan titrasi langsung dengan iod ,digunakan suatu larutan iod dalam
kalium iodide, dan karena itu spesi reaktifnya adalah ion triiodida . Untuk
tepatnya ,semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya
ditulis dengan I3- dan bukan dengan I2 , misal :
I3- + 2S2O32- 3I- + S4O62akan lebih akurat dari pada :
I2 + 2S2O32- 2I- + S4O62Namun demi kesederhanaan, persamaan dalam buku biasanya lebih
banyak ditulis dengan rumus-rumus iod molekuler dari pada ion triiodida.
Zat-zat pereduksi yang kuat ( zat-zat dengan potensial yang jauh lebih
rendah) ,seperti timah(II)klorida, asam sulfat, hydrogen sulfida , dan
natrium tiosulfat bereaksi lengkap dan cepat dengan iod, bahkan dalam
larutan asam . dengan zat oereduksi yang agak lemah ,misal arsen
trivalent, atau stibium trivalent ,reaksi yang lengkap hanya akan terjadi
bila larutan dijaga tetap netral atau sangat sedikit suasana asam.Pada
kondisi ini potensial reduksi dari zat pereduksi adalah minimum , atau
daya mereduksinya adalah maksimum. Jika suatu zat pengoksidasi kuat
diolah dalam larutan yang netral atau larutan yang asam ,dengan ion iodide
yang sangat berlebih , yang terakhir bereaksi sebagai zat pereduksi,dan
oksidan akan direduksi secara kuantitatif. Dalam hal-hal demikian ,
sejumlah iod yang ekuivalen akan dibebaskan ,lalu dititrasi dengan larutan

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

standar suatu zat pereduksi, biasanya natrium tiosulfat. Indikator yang


digunakan pada titrasi iodimetri dan iodometri adalah larutan kanji .
Hukum laju reaksi (The Rate Law) menunjukkan korelasi antara laju
reaksi (V) terhadap konsentrasi laju reaksi (k) dan konsentrasi reaktan
yang dipangkatkan dengan bilangan tertentu (orde reaksi). Hukum laju
reaksi dapat dinyatakan sebagai berikut:
aA + Bb Cc

+ Dd

v = k [A]x [B]y
x dan y adalah bilangan perpangkatan (orde reaksi) yang hanya dapat
ditentukan melaluieksperimen. Nilai x maupun y tidak sama dengan
koefisien reaksi a dan b.Bilangan perpangkatan x dan y memperlihatkan
pengaruh konsentrasi reaktan A dan B terhadap laju reaksi. Orde total
(orde keseluruhan) atau tingkat reaksi adalah jumlah orde reaksi reaktan
secara keseluruhan. Dalam hal ini, orde total adalah x + y.
Reaksi Orde Satu
Reaksi dengan orde satu adalah reaksi dimana laju bergantung pada
konsentrasireaktan yang dipangkatkan dengan bilangan satu. Secara umum
reaksi dengan orde satu dapatdigambarkan oleh persamaan reaksi berikut:
A Produk
Laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan: v = [A]/t dan juga
dapat dinyatakan dalam persamaan : v = k [A].
Satuan k dapat diperoleh dari persamaan:
k = v/[A] = M.s-1/M = s-1 atau 1/s
Dengan menghubungkan kedua persamaan laju reaksi
[A]/t = k [A]
Maka akan diperoleh persamaan sebagai berikut:
ln { [A]t / [A]0 }= kt
atau

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

ln [A]t = kt + ln [A]0
dimana :
ln = logaritma natural
[A]0 = konsentrasi saat t = 0 (konsentrasi awal sebelum reaksi)
[A]t = konsentrasi saat t = t (konsentrasi setelah reaksi berlangsung selama
t detik)

VI.

Alat dan Bahan


Alat:
Gelas kimia
gelas ukur
erlenmeyer
buret
kaki tiga dan kasa
corong
Bahan

2 buah
2 buah
3 buah
1 buah
1 buah
1 buah

Minyak jagung
asam asetat glasial
larutan Na2S2O3 0,1N
Aquades
kloroform
KI jenuh
Amilum 1 %

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

VII.

Alur Kerja
1. Tahap perlakuan sampel
10 mL sample
Dididihkan dengan lama pemanasan
15, 30, 45, 60 menit dan waktu tak
terhingga (selama 90 menit)
Dibiarkan ditempat terbuka
Hasil pengamatan

2. Penentuan bilangan peroksida


30 tetes sample
Diambil dari masing-masing
pemansan
Ditambah 3,6 mL asam asetat glacial
dan 2,4 mL kloroform
Ditambah 2 tetes larutan KI
Didiamkan selama 1 menit dan
sewaktu-waktu digoyang
Ditambah 6mL aquades
Ditambah 2 tetes Na2S2O3
Larutan jernih + V Na2S2O3
Ditambah 2 tetes amilum 1%
Dititrasi dengan Na2S2O3

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

3. Titrasi blanko
3,6 mL asam asetat glacial dan
2,4 mL kloroform
Ditambah 2 tetes larutan KI
Didiamkan selama 1 menit dan
sewaktu-waktu digoyang
Ditambah 6mL aquades
Ditambah 2 tetes Na2S2O3
Larutan jernih + VDitambah
Na2S2O3 2 tetes amilum 1%
Dititrasi dengan Na2S2O3

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

VIII.

Data Hasil Pengamatan


No.

Prosedur percobaan

Sebelum
Perlakuan sampel
25 mL sample

1.
2.

Hasil Pengamatan

Dididihkan dengan lama


pemanasan 15, 30, 45, 60
menit dan waktu tak
terhingga (selama 90
menit)

Sampel
minyak

Dugaan/Reaksi

Sesudah
Setelah
:

dipanaskan :

pemanasan

berwarna

berwarna

sampel

kuning

kuning

+,

semakin

lama

kualitasnya

tengik

dan

semakin

kuning

HC

semakin
Tahap penentuan bilangan peroksida

lama Kualitas minyak


semakin buruk yang
warna
dibuktikan dengan
semakin semakin tengiknya bau
baunya minyak.

buruk
R-CH=CH-R + O=O

warna

Hasil pengamatan

kuning,

semakin
pemanasan

Dibiarkan ditempat
terbuka

2.
3.

Semakin

Kesimpulan

R' R

CH

Minyak tiap

pekat
Sampel

pemanasan :

minyak

pemanasan

sampel

semakin buruk seiring

berwarna

+asam asetat

kualitas

minyak

penambahan

kuning

glasial

semakin buruk, dan

Semakin

lama

Kualitas

pemanasan

minyak
waktu
yang

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

No.

Prosedur percobaan

Hasil Pengamatan
Sebelum

1 gram sample tiap waktu


pemanasan
Ditambah 3,6 mL asam
asetat glacial dan 2,4 mL
kloroform
Ditambah 2 tetes larutan
KI
Didiamkan selama 1 menit
dan sewaktu-waktu
digoyang
Ditambah 6 mL aquades
Ditambah 2 tetes Na2S2O3
Ditambah 2 tetes amilum
1%
V Na2S2O3
Dititrasi dengan Na2S2O3

Dugaan/Reaksi

Sesudah

Asam asetat
glasial

larutan

tak

berwarna
Kloroform :
tidak
berwarna
KI
jenuh:
larutan tidak
berwarna
Larutan

larutan tidak

orde reaksinya adalah

berwarna
+ kloroform :

orde 1
KI + ROOH + H2O

larutan

KOH + ROH + I2

berwarna
putih
+ KI jenuh :

S2O32- + I2 S4O62- +
2I-

putih
+

Reaksi ketengikan :
R-CH=CH-R + O=O

amilum:

larutan

tidak

berwarna

berwarna
Natrium

putih
+amilum

tiosulfat:

larutan

larutan tidak

berwarna

berwarna

putih

H2O

semakin

tengiknya bau minyak


dan
banyaknya

semakin
volume

untuk titrasi.
Reaksi
ketengikan
merupakan

reaksi orde 1 yang


dibuktikan

dengan

nilai R pada orde 1

HC

dibuktikan

minyak

larutan
berwarna

Kesimpulan

R' R

CH

yang mendekati 1

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

No.

Prosedur percobaan

Hasil Pengamatan
Sebelum

Dugaan/Reaksi

Sesudah
+

Kesimpulan

Na2S2O3

:larutan
berwarna
biru
+
Na2S2O3berle
bih

:larutan

tidak
berwarna
Volume
titrasi (dalam

3.
4.

Titrasi blanko

Asam asetat
glasial

mL):
V1= 1.7
V2= 1.8
V3= 2.1
V4= 2.2
V5= 3.7
Asam asetat
glasial

S2O32- + I2 S4O62- + Volume larutan blanko


tidak melebihi volume
2I-

10

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

No.

Prosedur percobaan

Hasil Pengamatan
Sebelum

3,6 mL asam asetat glacial +2,4


mL kloroform
Ditambah 2 tetes larutan KI

larutan

tak

berwarna
Kloroform :
tidak

Didiamkan selama 1 menit


dan sewaktu-waktu
digoyang

berwarna
KI
jenuh:

Ditambah 6mL aquades

berwarna
Larutan

Ditambah 2 tetes Na2S2O3


Ditambah 2 tetes amilum
1%
Dititrasi dengan Na2S2O3
V Na2S2O3

larutan tidak

kloroform

larutan

Kesimpulan
titrasi sampel minyak
tiap pemanasan

berwarna
putih
+ KI jenuh :
larutan
berwarna
putih
+

amilum:

larutan

tidak

berwarna

berwarna
Natrium

putih
+amilum

tiosulfat:

larutan

larutan tidak

berwarna

berwarna

Dugaan/Reaksi

Sesudah

H2O

putih
+
Na2S2O3
:larutan

11

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

No.

Prosedur percobaan

Hasil Pengamatan
Sebelum

Sesudah

Dugaan/Reaksi

Kesimpulan

berwarna
biru
+
Na2S2O3berlebi
h :larutan tidak
berwarna
V0= 1.5 ml

12

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

IX.

Analisis dan Pembahasan


Pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui orde reaksi pada ketengikan
minyak, bilangan peroksida pada ketengikan minyak, dan menentukan ketengikan
minyak jagung. Percobaan ini didasarkan pada pembentukan peroksida yang merupakan
ketengikan minyak. Oleh sebab itu dilakukan percobaan penentuan bilangan peroksida.
HC

R-CH=CH-R + O=O

R' R

CH
O

Penentuan bilangan peroksida ini dilakukan dengan cara memanaskan minyak yang
bertujuan untuk mengoksidasi lemak jenuh pada minyak. Oksidasi pada lemak jenuh
dalam minyak ini mengakibatkan terbentuknya peroksida yang mengakibatkan semakin
kuatnya bau tengik pada minyak dan turunnya kualitas minyak. Tiap waktu pemanasan
(15,30,45,60,90 menit) diambil sebanyak 30 tetes dan ditambah dengan asam asetat
glasial untuk menghidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Kemudian setelah
ditambah asam asetat glasial, dilakukan penambahan kloroform yang bertujuan untuk
melarutkan minyak agar minyak dapat larut secara sempurna sehingga dapat bereaksi
dengan KI setelah ditambahkan larutan KI. Setelah itu ditambah amilum yang bertujuan
sebagai indicator telah terbentuknya I2 dalam campuran tersebut. Campuran ini kemudian
dititrasi dengan tiosulfat untuk mentitrasi I2 yang terbentuk menjadi I2
CH3(CH2)14COOH + KI + H2O CH3(CH2)14COH + I2 + 2 KOH
Setelah dilakukan titrasi didapatkan hasil sebagai berikut :
V1= 1.7 mL
V2= 1.8 mL
V3= 2.1 mL
V4= 2.2 mL
V5= 3.7 Ml
Dan Pada tahap titrasi blanko, didapatkan volime titrasi sebesar 3.6 mL yan diperoleh
dengan cara mereaksikan asam asetat glacial dengan 2.4 mL kloroform sehingga
menghasilkan larutan berwarna putih, kemudian ditambahkan 2 tetes larutan KI jenuh
menghasikan larutan berwarna putih. Setelah didiamkan selama 1 menit dengan sesekali
dikocok, ditambahkan 6 mL aquades menghasilkan larutan berwarna putih, dan ditambah
dengan 2 tetes amilum 1%, dititrasi dengan Na2S2O3 menghasilkan larutan berwarna biru,
ketika dititrasi dengan Na2S2O3 1 M berlebih, menghasilkan larutan tak berwarna.

13

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

Sehingga dengan perhitungan (yang terlampir) didapatkan nilai k untuk orde 1 dan
orde 2 yang disajikan dalam table berikut:
K orde 1
0.002239
0.000894
0.000339
0.000212
0.00007092

K orde 2
0.006296
0.002222
0.000864
0.000582
0.000208

Dan dengan metode grafik didapatkan hasil :

Dari data grafik diperoleh nilai R pada orde 1 lebih mendekati 1, sehingga dapat
disimpulkan bahwa reaksi ini merupakan reaksi orde 1. Dan dengan perhitungan
peroksida diperoleh data

14

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013
t
15
30
45
60
90

Volume titrasi tiap


pemanasan
1.7
1.8
2.1
2.2
3.7

Bilangan
peroksida
25.01
37.51
75.03
87.53
275.11

Dari perhitungan peroksida didapatkan bahwa bilangan peroksida semakin


meningkat seiring peningkatan waktu pemanasan. hal ini disebabkan karena semakin
lama pemanasan maka semakin banyak peoksida yang dihasilkan dan bilangan peroksida
semakin meningkan. Meningkatnya bilangan peroksida ini menunjukkan semakin
buruknya kualitas minyak.
Prinsip penentuan angka peroksida adalah senyawa yang terdapat dalam minyak
akan mengoksidasi KI sehingga terbentuk I2 bebas yang diikat oleh larutan Natrium
thiosulfat sehingga jumlah thiosulfat equivalen dengan jumlah I 2 bebas yang berarti
equivalen dengan jumlah senyawa peroksida dalam minyak tersebut. Bilangan peroksida
terbesar pada pemanasan 90 menit, yang menunjukkan pada waktu ini minyak dalam
kondisi paling tengik.
X. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah kami lakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Semakin lama pemanasan semakin besar pula bilangan peroksidanya, dan semakin
besar bilangan peroksida semakin besar pula tingkat ketengikan minyak.
t
15
30
45
60
90

Volume titrasi tiap


pemanasan
1.7
1.8
2.1
2.2
3.7

Bilangan
peroksida
25.01
37.51
75.03
87.53
275.11

2. Ketengikan minyak jagung dapat ditentukan dengan menentukan bilangan


peroksidanya. Semakin besar bilangan peroksida ketengikan semakin besar.
3. Dari metode penentuan orde reaksi grafik diketahui bahwa laju reaksi ketengikan
minyak merupakan reaksi orde 1.

15

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

XI.

Lampiran Foto
No.

Foto

Keterangan
Isikan foto dan wrap
pada kolom

1.

2.
3.
4.
5.

16

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

XII.
XIII.

Jawaban Pertanyaan
Daftar Pustaka
Anonim. 2013. Orde Reaksi. http://acedemia.edu/orde_reaksi (diakses pada tanggal
27 April 2015 pukul 12.40)
Clark, Jim. 2004. Orde Reaksi dan Persamaan Laju Reaksi. http://www.chem-istry.org/materi_kimia/kimia_fisika1/laju_reaksi1/order_reaksi_dan_persamaan_l
aju_reaksi/ .Diakses pada tanggal 27 April 2015 ; 20.04 WIB)
Day, R.A. Jr and Underwood, A.L.1986.Kimia Analisis Kualitatif. Jakarta : Erlangga
Hiskia, Achmad. 1992. Elektrokimia dan Kinetika Kimia, Penuntun Belajar Kimia
Dasar. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Universitas
Indonesia-UI-Press:Jakarta.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta: UI Press.
Sucinta,
W.
2010.
Tinjauan
Pustaka.
(online),
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20060/3/Chapter%20II.pdf;

diakses

pada

tanggal 27 April 2015 pukul 20.28 WIB


Tim Dosen Kimia Fisika III.2015. Penuntun Pratikum Kimia Fisika III. Surabaya
;Laboratorium Kimia Fisika III jurusan Kimia, UNES
.

17

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

XIV.

Perhitungan
PERHITUNGAN

A. Penentuan bilangan peroksida


Bilangan peroksida dapat ditentukan dengan persamaan matematis
berikut :

Keterangan:
a = volume Na2S2O3 yang diperlukan pada titrasi sample tiap pemanasan
b = volume Na2S2O3 yang diperlukan pada titrasi larutan blanko
Untuk mengetahui bilangan peroksida dari sampel maka harus diketahui
terlebih dahulu berat dari sampel dengan perhitungan sebagai berikut:
Diketahui:
asam palmitat = 0,853 g/cm3
Volume sampel = 1,5 mL (30 tetes)
Maka dengan persamaan berikut akan diperoleh massa sampel.

Setelah diperoleh massa sampel maka ditentukan bilangan peroksidanya


dengan cara mengambil cuplikan tiap pemanasan dan mentitrasinya :
1. Pemanasan 15 menit titrasi sampel (a) = 1.5 mL dan titrasi blanko (b )=
1.7 mL

2. Pemanasan 30 menit titrasi sampel (a) = 1.5 mL dan titrasi blanko (b )=


1.8 mL

18

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

3. Pemanasan 45 menit titrasi sampel (a) = 1.5 mL dan titrasi blanko (b )=


2.1 mL

4. Pemanasan 60 menit titrasi sampel (a) = 1.5 mL dan titrasi blanko (b )=


2.2 mL

5. Pemanasan 90 menit titrasi sampel (a) = 1.5 mL dan titrasi blanko (b )=


1.7 mL

B. Penentuan orde rekasi


Orde reaksi dapat ditentukan dengan 2 cara, yaitu metode grafik dan
metode perhitungan. Untuk metode perhitungan ditentukan nilai k untuk orde 1
dan orde 2 serta dibandingkan. Nilai k dapt dicari dengan persamaan matematis
untuk reaksi orde 1 :
Dan untuk reaksi orde 2 nilai k dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan:

Keterangan :
a : mol asam palmitat yang diperoleh dari titrasi sampel
x : mol I2 yang tersisa
Penentuan mol asam palmitat mulamula (a)

Penentuan mol I2 sisa (x)

Reaksi yang terjadi:

19

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

2S2O32I2 +2e
2S2O32-+ I2

S4O62- + 2e
2IS4O62- + 2I

Pemanasan 15 menit
mmol.ekivalen (I2) =
mmol I2

mmol.ekivalen(S2O32-)

=
=

=
Pemanasan 30 menit
mmol.ekivalen (I2) =
mmol I2

0.17 mmol
mmol.ekivalen (S2O32-)

=
=
=

Pemanasan 45 menit
mmol.ekivalen (I2) =
mmol I2

0.18 mmol
mmol.ekivalen (S2O32-)

=
=
=

Pemanasan 60 menit
mmol.ekivalen (I2) =
mmol I2

0.21 mmol
mmol.ekivalen (S2O32-)

=
=
=

Pemanasan 120 menit


mmol.ekivalen (I2) =
mmol I2

0.22 mmol
mmol.ekivalen (S2O32-)

=
=

20

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

0.37 mmol

1. Dengan cara integral non-grafik

Orde 1
Berikut ini merupakan persamaan untuk mencari nilai k pada orde 1.

t = 15 menit k =
k=

= 0.002238781

t = 30 menit k =
k=

= 0.000894132

t = 45 menit k =
k=

= 0.000339367

t = 60 menit k =
k=

= 0.000211706

t = 90 menit k =
k=

= 0.00007092

Orde 2
Berikut ini merupakan persamaan untuk mencari nilai k pada orde 2.

t = 15 menit k =

21

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

k=
t = 30 menit

k=

=0.006296296
k=
= 0.002222222

t = 45 menit k =
k=

= 0.000864198

t = 60 menit k =
k=

= 0.000582011

t = 90 menit k =
k=

= 0.000207632

Dengan metode grafik didapatkan hasil sebagai berikut :

Nilai R pada grafik orde 1 sebesar 0.9834, sedangkan untuk orde 2 didapatkan
grafik sebagai berikut :

22

Laporan Praktikum Kimia Fisika 3


Kimia A 2013

Nilai R pada grafik orde 2 0.8744

23