Anda di halaman 1dari 12

ISSN 0215 - 8250

101

POLA ASUH AUTHORITATIVE ORANG TUA DALAM KAITANNYA


DENGAN KEMANDIRIAN EMOSIONAL REMAJA
oleh
Risa Panti Ariani
Jurusan PKK
Fakultas Pendidikan Teknologi Kejuruan, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Masalah pokok yang melatarbelakangi penelitian ini adalah adanya
kesenjangan antara harapan dan kenyataan mengenai kemandirian emosional
remaja pada keluarga yang menerapkan pola asuh authoritative. Tujuan penelitian
ini untuk mengetahui informasi yang dapat menjelaskan hubungan antara variabel
pola asuh authoritative orang-tua dengan variabel kemandirian emosional remaja
serta menganalisis faktor-faktor yang memberikan kontribusi bagi kemandirian
emosional remaja. Hipotesis penelitian yang diuji adalah terdapat hubungan positif
antara pola asuh authoritative orang-tua dengan kemandirian emosional remaja.
Untuk menguji hipotesis dibuat dua macam alat ukur berupa kuesioner dengan
skala Likert berbentuk data ordinal. Pengambilan data dilaksanakan pada SMUN I
di kota Bogor dengan populasi seluruh siswa kelas III. Dari populasi 362 siswa,
diperoleh jumlah responden sebanyak 207 orang dijaring melalui purposive
sampling sesuai karakteristik responden. Setelah pengambilan data penelitian,
diperoleh responden yang termasuk dalam kelompok pola asuh authoritative
orang-tua, sebanyak 200 orang sampel penelitian. Kemudian, analisis data
dilakukan dengan teknik korelasi Rank-Spearman. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara pola asuh authoritative
orang-tua dengan kemandirian emosional remaja, rs = 0,7970. Hal ini berarti pola
asuh authoritative yang diterapkan oleh orang-tua sangat mendukung kemandirian
emosional remaja
Kata kunci : pola asuh, authoritative; kemandirian, emosional
ABSTRACT
The background of this study is that there is a disparity between
expectations and reality in development of emotional autonomy in a family that
uses authoritative parenting style. The aim of this study is find information that
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

102

can explain relationship between variable authoritative parenting style with the
development of emotional autonomy of adolescence and also analize any factors
that might give contribution to development of emotional autonomy of
adolescence. The hypothesis to be tested is : there is a positive relationship of
authoritative parenting style with the development of emotional autonomy of
adolescence. To test the hypothesis, two questionnaires of Likert are made of
ordinal data. The questionnaires are handed out to all 12 th grade public school
SMU N 1 Bogor. Out of the total of 362 students, 207 students are filtered by
purposive sampling of respondent characteristic. After gathering the date, 200
students are taken into group that belong to authoritative parenting style. Then
data Analysis use the technique Rank-Spearman correlation. The result of this
research indicates that there is a significant positive relationship between parental
responsiveness with adolescences emotional autonomy rs = 0,7970. This means
that authoritative parenting style of the parents espous Emotional Autonomy of
Adolescence.
Key Words: parenting style, authoritative, Autonomy, Emotional

1. Pendahuluan
Kemandirian merupakan salah satu aspek penting yang harus dicapai
individu pada masa remaja. Hal ini sesuai dengan pandangan Steinberg (1993:286)
yang menyatakan bahwa bagi remaja, keinginan untuk mencapai kemandirian
sama pentingnya dengan usaha untuk membangun identitas. Kemandirian akan
membantu remaja mempunyai rasa percaya diri untuk mengambil keputusan
dalam menyelesaikan suatu masalah bagi dirinya.
Fenomena yang diamati peneliti adalah keluhan remaja yang masih diatur
oleh orang-tuanya, seperti masalah jam malam, cara berpakaian, pemilihan studi,
pengembangan minat dan bakat remaja serta masalah berpacaran. Remaja
memandang orang-tua memiliki otoritas terhadap dirinya, dan remaja tidak dapat
memandangnya sebagai orang dewasa lainnya yang dapat diajak berdiskusi
mengenai masalah-masalah yang dihadapinya. Remaja tidak mampu menolak
keinginan orang-tuanya, walaupun tidak sesuai dengan keinginannya sendiri.
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

103

Remaja mengandalkan orang-tuanya dalam pengambilan keputusan, tidak merasa


yakin untuk mengemukakan pendapatnya, keinginannya, dan rencananya, serta
remaja akan menjadi rapuh dengan ketidak mandiriannya secara emosional.
Masalah kemandirian emosional ini paling banyak terjadi antara orang-tua
dan anaknya pada periode remaja dibandingkan dengan periode lainnya.
Keinginan untuk memperoleh kemandirian emosional merupakan dorongan
internal dalam mencari jati diri. Remaja menginginkan kebebasan pribadi untuk
mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang-tuanya. Meskipun dapat
mendiskusikannya dengan orang-tua, tetapi remaja tidak ingin tergantung secara
emosional. Masalah ini menyebabkan konflik berkepanjangan sehingga
menimbulkan hubungan yang tidak harmonis, sikap pertentangan, dan hubungan
semakin jauh antara orang-tua dan anaknya.
Pola asuh orang-tua dipandang sebagai faktor eksternal yang
mempengaruhi proses pembentukan kemandirian emosional remaja karena
lingkungan yang paling dekat dengan remaja. (Steinberg, 1993:143). Steinberg
berpendapat melalui pengelompokkan pola asuh dapat meringkas dan menguji
hubungan antara pengasuhan praktis (perlakuan orang tua) dengan perkembangan
psikososial remaja.
Secara umum, pola pendekatan dan interaksi orang-tua dengan anak dalam
pengelolaan pendidikan keluarga, lazim disebut pola asuh keluarga. (Dantes,
1992:3). Menurut Nyoman Dantes, dalam pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar
menyatakan para ahli pendidikan secara umum mengklasifikasikan pola asuh
orang-tua menjadi tiga, yaitu pola asuh otoriter (authoritarian), pola asuh liberal
(permissive), dan pola asuh demokrasi (authoritative). Pengelompokkan pola asuh
oleh Diana Baumrind (dalam Steinberg, 1993:141-143) diuraikan sebagai berikut.
(1) Authoritative, merupakan pola asuh orang-tua yang hangat, tetapi tegas. Orangtua mempunyai aturan standar untuk tingkah laku anaknya dan mempunyai
harapan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan dan kemampuan remaja
(Authoritative parent are warm but firm. They set standards for the childs conduct
but form expectations that are consistent with the childs developing needs and
capabilities). (2) Authoritarian, pola asuh yang mengutamakan kepatuhan dan
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

104

penyesuaian. Orang-tua cenderung menghukum dan absolut melalui tindakan


disiplin yang keras. Orang-tua cenderung mendorong tingkah laku yang bebas,
tetapi membatasi perkembangan kemandirian emosional remaja. (3) Indulgent,
merupakan asuh yang ramah dan menerima remaja, tetapi sangat pasif dalam
menerapkan disiplin. Orang-tua memberi sedikit tuntutan dan memberi kebebasan
yang besar pada remaja. (4) Indifferent, pola asuh yang sangat pasif dalam
memenuhi kebutuhan dan tidak ada tuntutan terhadap remaja. Orang-tua
meluangkan sesedikit mungkin waktu dan energi dalam berinteraksi dengan
remaja.
Posisi pola asuh Authoritative orang-tua dapat digambarkan, melalui
tingkat parental responsiveness yang tinggi dan parental demandingness yang
tinggi sebagai berikut:

Demandingness
Tinggi

Authoritative
Melalui
gambar 2.1, Steinberg, (1993:141) menjelaskan sebagai berikut:
Indulgent
Tinggi
Responsiveness
Rendah
Tinggi
Authoritarian
Indifferent
Rendah
Gambar 1. Posisi Pola pengasuhan Authoritative Orang-tua
Pola pengasuhan Authoritative mempersyaratkan kedua aspek perlakuan
orang-tua yang sama-sama tinggi dalam parental responsiveness dan parental
demandingness sesuai pendapat Steinberg, dalam buku Adolescence
(1993:141).
A parent who is very responsive but not at all demanding is labeled indulgent,
whereas one who is equally responsive but also very demanding is labeled
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

105

authoritative. Parents who are very demanding but not responsive are
authoritarian; parents who are neither demanding nor responsive are labeled
indifferent.
Secara umum, remaja dengan pola asuh Authoritative lebih kompeten
dalam psikososial daripada kelompok pola asuh lainnya. Remaja lebih
bertanggung jawab, percaya diri, mudah menyesuaikan diri, kreatif, memiliki
keingin tahuan yang besar, mudah sosialisasi, dan sukses di sekolah. Remaja
dengan pola asuh authoritarian menjadi remaja yang sangat bergantung, pasif,
kurang sosialisasi, kurang percaya diri, dan prestasinya rendah. Remaja dengan
pola asuh Indulgent menjadi remaja yang kurang dewasa, kurang bertanggung
jawab, mudah terpengaruh kelompoknya, dan tidak bisa memimpin. Remaja
dengan pola asuh Indifferent menjadi remaja yang mau menang sendiri, mudah
terlibat kenakalan remaja, pergaulan bebas (free sex), pengguna narkoba, dan
minuman alkohol. (Lamborn et. al., 1991; Pulkkinen, 1982; dalam Steinberg,
1993:143)
Dalam penelitian-penelitian pada berbagai etnik dan kelompok sosialekonomi ditemukan adanya hubungan antara pola asuh authoritative dengan
perkembangan remaja yang sehat. (Dornbusch et. al., 1987, Maccoby & Martin,
1983, Steinberg et. al., 1991 dalam Steinberg, 1993:143). Sehingga timbul
pertanyaan, bagaimana hubungan pola asuh authoritative dengan kemandirian
emosional remaja?. Masalah dalam penelitian ini, Apakah ada hubungan antara
pola asuh Authoritative orang-tua dengan kemandirian emosional remaja?.
Maksud dari penelitian ini adalah menghimpun informasi secara sistematis
dan terencana mengenai hubungan antara perlakuan orang-tua dalam bentuk pola
asuh Authoritative dengan kemandirian emosional remaja.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola
asuh authoritative orang-tua dengan kemandirian emosional remaja. Selain itu,
penelitian ini juga menganalisa secara kualitatif mengenai karakteristik dari pola
asuh authoritative orang-tua dan kemandirian emosional remaja, serta faktorfaktor lain yang mempengaruhi kemandirian emosional remaja.

_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

106

Penelitian ini diharapkan dapat menggali informasi dan pengetahuan yang


bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam kajian
psikologi perkembangan; manfaat bagi orang-tua untuk dapat mengembangkan
kemandirian emosional remaja melalui penerapan pola asuh authoritative didalam
keluarga.
Terdapat tiga jenis dari kemandirian remaja, yaitu kemandirian emosional,
kemandirian tingkah laku dan kemandirian nilai sebagai dasar pencapaian
kemandirian remaja. Kemandirian emosional pada remaja berkembang lebih dulu
sebagai dasar perkembangan kemandirian remaja karena kemandirian tingkah laku
dan kemandirian nilai mempersyaratkan kemandirian emosional yang cukup
(Steinberg, 1993:303-304) Dengan bertambahnya usia remaja, maka kemandirian
tersebut berkembang secara berurutan mulai dari kemandirian emosional,
kemandirian tingkah laku dan kemandirian nilai. Steinberg (1993:289)
menjelaskan karakteristik ketiga kemandirian sebagai berikut.
The first emotional autonomy-that aspect of independence related to changes in
the individuals close relationships, especially with parent. The second
behavioral autonomy-the capacity to make independent decisions and follow
through with them. The third characterization involves an aspect of independence
referred to as value autonomy-which is more than simply being able to resist
pressures to go along with the demands of other; it means having a set a
principles about right and wrong, about what is important and what is not.
Meskipun perkembangan kemandirian merupakan masalah psikososial
sepanjang kehidupan manusia, namun perkembangan kemandirian emosional
remaja sangat dipengaruhi oleh perubahan fisik yang dapat memicu perubahan
emosional, perubahan kognitif untuk pemikiran logis sebagai dasar dari tingkah
laku dan perubahan nilai dalam peran sosial (Steinberg, 1993:313) Menurut
Havighurst (Hurlock, 1997:10), salah satu tugas perkembangan remaja adalah
memperoleh kemandirian emosional dari orang-tuanya atau orang dewasa lainnya.
Perkembangan kemandirian emosional remaja itu dimulai dari proses perubahan
hubungan emosional antara remaja dengan orang-tuanya. Remaja mulai
mengambil jarak dalam berinteraksi dengan orang-tua, tetapi tidak putus
hubungan. Meskipun memiliki sedikit konflik, remaja merasa bebas
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

107

mengemukakan pendapatnya, dapat berdiskusi dan saling menyayangi. Hubungan


tersebut akan berubah secara berulang-ulang dan diperbarui terus-menerus selama
masa remaja (Steinberg, 1993:289).
Penelitian ini membahas dua variabel yang terdiri dari pola asuh
authoritative orang-tua dan kemandirian emosional remaja. Kemandirian
emosional remaja merupakan kemampuan remaja sebagai individu untuk mengatur
diri sendiri secara bertanggung jawab, tetapi tidak terikat secara emosional dengan
orang-tuanya. Kemandirian emosional remaja dibagi menjadi empat komponen,
yaitu de-idealized, parent as people, nondependency, dan individuated. Pola asuh
authoritative merupakan perlakuan hangat sehari-hari yang dirasakan remaja
dalam berinteraksi dengan orang-tuanya, tetapi tegas dalam memegang aturan
didalam keluarga melalui perlakuan responsiveness dan demandingness yang
tinggi dalam area emosional, kognisi, interpersonal dan sosial untuk mengatur
dirinya sendiri, serta mengatasi masalah remaja. Hipotesis penelitian ini adalah
terdapat hubungan yang positif antara pola asuh authoritative orang-tua dengan
kemandirian emosional remaja.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menekankan pada metode korelasional yang bersifat ex post
facto karena informasi yang dihimpun merupakan keterangan berdasarkan
kejadian atau pengalaman yang telah berlangsung. Populasi penelitian ini adalah
remaja akhir sebagai siswa/siswi kelas III Sekolah Menengah Umum Negeri I di
kota Bogor sebanyak 362 orang. Tahap pertama, diperoleh responden sebesar 207
orang, karena sebanyak 155 siswa tidak memenuhi karakteristik responden
penelitian. Pada tahap kedua, diperoleh 200 responden dengan menggunakan
standar ideal median untuk menentukan siswa yang memiliki orang-tua dengan
pola asuh authoritative.
Untuk memperoleh data, peneliti menyusun item-item kuesioner yang
digunakan sebagai alat ukur. Konstruk kuesioner pola asuh authoritative orang-tua
berdasarkan konsep Parenting Style dari Baumrind (dalam Steinberg, 1993:6,143)
dengan ciri-ciri The Baundaries of Adolescence. Kuesioner kemandirian emosional
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

108

remaja dari konsep Steinberg tentang Emotional Autonomy (Steinberg, 1993:291192). Kedua kuesioner ini dikonstruksi dalam bentuk skala Likert dengan lima
kategori jawaban.
Uji coba kuesioner dilakukan dengan menggunakan 40 orang responden
kelas III secara acak, setelah itu dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan
menggunakan teknik korelasi Rank Spearman. Penentuan kesahihan item dengan
kriteria untuk skala psikologis sebaiknya digunakan patokan harga koefisien
korelasi minimal 0.30. Uji reliabilitas antara belahan menggunakan teknik korelasi
Spearman-Brown (Harun Al Rasyid, 1996:6). Koefisien reliabilitas dalam
penelitian ini adalah 0.925788, untuk kuesioner pola asuh Authoritative orang-tua;
dan 0.815702 untuk kuesioner kemandirian emosional remaja, ini berarti
reliabilitas kedua kuesioner tinggi. Penelitian ini dikehendaki kuasa uji = 0.99,
artinya kalau menerima Ho yang seharusnya ditolak hanya 1 %, level of
significance yang digunakan adalah = 0.01 dengan pengujian satu arah.
3. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Hasil penelitian diperoleh koefisien korelasi Rank Spearman (rs) sebesar
0.7970, t hitung sebesar 181,25; dan t tabel (satu arah) 0.01 = 2.340. Ini berarti pada
taraf signifikansi 0.01, maka Ho ditolak dan H1 diterima. Berdasarkan aturan
Guilford kedua variabel tersebut memiliki korelasi sangat tinggi dengan hubungan
antar variabel sangat erat. Hubungan ini bersifat positif, artinya pola asuh
authoritative orang-tua sangat mendukung kemandirian emosional remaja.
Pembahasan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa melalui pola asuh
authoritative orang-tua akan mendorong perkembangan kemandirian emosional
remaja. Kemandirian emosional dapat menjadi dasar perkembangan kemandirian
tingkah laku dan kemandirian nilai pada remaja. Peneliti menemukan bahwa,
remaja yang memiliki kemandirian emosional berasal dari keluarga yang
menerapkan pola asuh authoritative, berarti keluarga yang hangat dan mengontrol
secara tegas, peraturan-peraturan yang telah disepakati.
Fakta empiris hasil penelitian ini tampaknya memberi indikasi bahwa pola
asuh authoritative mendorong pencapaian kemandirian emosional pada remaja
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

109

akhir melalui perlakuan orang-tua yang mendorong anak remajanya untuk dapat
mengambil keputusan sendiri dengan cara orang-tua memberikan pujian dan
menyatakan harapan yang dapat dicapai remaja sesuai perkembangannya. Selain
itu, orang-tua mendukung penampilan remaja dalam batas-batas kesopanan,
mendiskusikan rencana kelanjutan sekolah, memberi kesempatan remaja untuk
mengembangan bakat dan minatnya dan memberi kebebasan remaja untuk
mengatur waktu belajar sendiri. Akan tetapi, beberapa hal yang tidak disukai
orang tua seperti orang-tua tidak menyukai jenis musik anak remajanya, selain itu
juga orang-tua tidak suka anak remajanya mencari tambahan uang saku.
Kehangatan dalam hubungan keluarga sehari-hari dengan kedua orangtuanya tampak pada perlakuan orang-tua yang suka bercanda, memperhatikan
kegiatan remaja di luar sekolah dan memperhatikan lingkungan pergaulannya.
Akan tetapi hanya sedikit orang-tua yang bisa menerima keterbatasan remajanya
jika mendapat nilai buruk dalam pelajaran di sekolah. Ketegasan dalam peraturan
yang sudah disepakati tampak pada keharusan remaja memberi tahu, bila akan
terlambat pulang. Selain itu orang tua mengijinkan remaja berpacaran, tetapi tidak
menginginkan pacar yang berbeda suku.
Secara deskriptif kuantitatif, kemandirian emosional remaja dapat
dikategorikan dengan menggunakan standar ideal median. Remaja yang memiliki
tingkat kemandirian emosionalnya tinggi sebanyak 199 orang, sedangkan remaja
yang memiliki tingkat kemandirian emosionalnya rendah hanya 1 orang.
Kemandirian emosional remaja tampak pada kemampuan remaja memandang
orang tuanya de-idealized, melalui orang-tua pernah melakukan kesalahan, tidak
hanya mendengar pendapat orang-tuanya, tidak mengandalkan orang-tuanya dan
dapat mengerti keterbatasan orang-tua. Akan tetapi, remaja menganggap orangtuanya sebagai teladan yang sempurna. Remaja mampu memandang orang-tuanya
parent as people, melalui remaja dapat menolak pendapat orang-tuanya dan
remaja dapat mengungkapkan perasaannya dengan bebas pada orang-tua. Remaja
lebih mengandalkan dirinya sendiri dan mampu bertanggung jawab non
dependency melalui remaja dapat mengatasi perasaannya sendiri dan remaja
harus bertanggung jawab pada apa yang dilakukannya sendiri. Akan tetapi, sedikit
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

110

remaja mengharapkan orang-tua turut bertanggung jawab pada pilihannya, karena


orang-tua mendukung pilihannya. Remaja mampu memiliki pribadi yang berbeda
individuated, melalui remaja mempunyai pandangan berbeda dengan orangtuanya, remaja ingin punya privasi sendiri dan remaja merasa berhak untuk
mengatur keuangannya sendiri, tetapi sebagian remaja memiliki cita-cita dan
kebiasaan yang sama dengan orang tuanya.
Temuan lain dari penelitian ini dengan menggunakan analisis deskriptif,
sebagai berikut. (1) kemandirian emosional berkembang sesuai dengan
bertambahnya usia remaja, (2) perbedaan jenis kelamin tidak mengakibatkan
perbedaan kemandirian emosional remaja, (3) anak tunggal mempunyai
kemandirian emosional lebih tinggi dibandingkan anak yang bukan tunggal, tetapi
urutan saudara (anak pertama, tengah dan bungsu) tidak membedakan kemandirian
emosionalnya, (4) remaja lebih banyak berinteraksi dengan ibunya, tetapi
kemandirian emosionalnya tidak berbeda dengan remaja yang lebih banyak
berinteraksi dengan ayahnya, (5) pendidikan orang-tua tinggi, kemandirian
emosional remaja juga tinggi, dan (6) ternyata remaja yang pasif lebih tinggi
kemandirian emosionalnya dari pada remaja yang aktif.
4. Penutup
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang
signifikan antara pola asuh authoritative orang-tua dengan kemandirian emosional
remaja. Ini berarti, bahwa pola asuh authoritative orang-tua mendorong
perkembangan kemandirian emosional remaja, karena kedua variabel mempunyai
hubungan yang sangat erat.
Aspek guna laksana hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai
pihak yang terkait melalui saran-saran pada orang-tua yang memiliki anak remaja,
untuk menerapkan pola asuh authoritative karena dapat mendukung
perkembangan kemandirian emosional remaja. Hasil penelitian ini dapat
digunakan untuk penelitian lanjutan pada psikologi perkembangan secara cross
sectional, budaya, gender dan sudut pandang lainnya, karena penelitian ini baru
_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

111

tahap studi eksploratif sehingga belum cukup informasi untuk menjelaskan


persoalan-persoalan remaja.

_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004

ISSN 0215 - 8250

112
DAFTAR PUSTAKA

Conger, J. J., 1977, Adolescence and Youth, New York: Harper & Row.
Dacey, J. & Kenny, M., 1997, Adolescent Development, Second Edition, New
York: WCB/Mc Graw-Hill, Inc.
Dantes, Nyoman, 1992, Pola Asuhan dalam Hubungannya dengan Pendidikan
Nilai di Lingkungan Keluarga: Suatu Analisis Makropedagogik, Pidato
Pengukuhan Jabatan Guru Besar, Singaraja: Universitas Udayana.
Friedenberg, L., 1995, Psychological Testing: Design, Analysis, and Use,
Massachusetts: Allyn and Bacon, A Simon & Scuster Company.
Grobman, K. H, 2003, Diana Baumrind's Theory of Parenting Styles: Original
Descriptions of the Styles (1967), http://www.devpsy.org/teaching/parent/
baumrind_styles.html
Harun Al Rasyid, 1996, Statistik Sosial, Bandung: PPs. Universitas Padjadjaran.
-------, 1996, Teknik Sampling dan Skala Pengukuran, Bandung: Fakultas
Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Hurlock, E. B., 1997, Developmental Psychology, A Life-Span Approach, Fifth
Edition, Alih Bahasa: Istiwidayanti dan Soedjarwo, Cetakan keenam,
Jakarta: Erlangga.
Oliva, A., 2000, Personal, Social and Family Correlates of Emotional Autonomy
in Adolescence, Universidad de Sevilla. Avda. San Francisco
http://www.pdipas.us.es/o/oliva/jena/20paper.doc
Steinberg, L., 1993, Adolescence, Third Edition, New York: Mc Graw-Hill, Inc.
-------, 2003, Psychosocial Development During Adolescence Autonomy, Chapter
Outline, http://highered.mcgraw-hill.com/sites/0072414561/student_view0/
part3/chapter9/chapter_outline.html

_____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 4 TH.
XXXVII Oktober 2004