Anda di halaman 1dari 5

Pada percobaan kali ini dilakukan analisis secara kulitatif dan kuantitatif pada bahan

baku parasetamol dengan menggunakan metode kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT).
Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah dapat mengetahui mutu dari bahan baku
parasetamol secara kualitatif dan kuantitatif. Metode yang digunakan untuk analisis bahan
baku parasetamol adalah kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT). Prinsip dari kromatografi
cair kinerja tinggi (KCKT) adalah pemisahan berdasarkan kepolaran, artinya komponen pada
suatu analit akan terpisah berdasarkan sifat kepolarannya masing masing komponen dan
sampel, apakah kepolarannya lebih mirip dengan fasa diam atau lebih mirip dengan fasa
gerak, maka bila sampel lebih mirip dengan fasa gerak maka akan terdistribusi lebih cepat
dari kolo. Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan salah satu teknik pemisahan
yang telah dimodifikasi sehingga menghasilkan pemisahan yang lebih baik karena dengan
adanya kemajuan pompa bertekanan tinggi, kolom dan detektor yang peka. Maka dengan
adanya komponen tersebut prinsip kerja dari kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) adalah
ketika sampel di injeksikan kedalam kolom maka sampel tersebut akan ternawa oleh fase
gerak dengan bantuan pompa bertekanan tinggi, didalam kolom akan terjadpemisahan
berdasarkan kepolaran, selanjutnya senyawa yang keluar dari kolom akan dideteksi dengan
detektor dan akan di terjemahkan dalam bentuk kromatogram.
Pada kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT terdapat komponen yang sangat penting
dalam pemisahan analit yaitu fasa gerak dan fasa diam. Pada praktikum kali ini fase diam
yang digunakan ODS yaitu okta destila silika. ODS merupakan kolom yang berisi silika yang
bersifat polar yang kemudian ditambahkan 18 atom C sehingga bersifat non polar. ODS
banyak digunakan karena mampu memisahkan senyawa dari kepolaran yang terendah hingga
tertinggi. Selanjutnya fase gerak yang digunakan adalah air : metanol = 3 : 1, maka dapat
disimpulkan bahwa fase gerak tersebut bersifat sangat polar. Fase gerak pada kromatografi
cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan proses
pemisahan dan fase gerak juga akan berinteraksi dengan solut yang berada pada sampel. Oleh
sebab itu diguanakan aquabidestila dan metanol pro HPLC, sebab aquabidestila dan metanol
pro HPLC sudah dirancang khusus sesuai dengan karaker yang harus dipenuhi oleh fase
gerak pada KCKT. Fase gerak yang digunakan pada KCKT harus benar benar terbebas dari
partikel dan gas, karena adanya gas dapat mengacaukan analisis oleh karena itu sebelum
dilakukan proses penyuntikan fase gerak biasanya disaring terlebih dahulu.
Digunakan fase diam ODS yang bersifat non polar dan fase gerak air : metanol = 3 : 1
yang bersifat polar, karena sampel uji yang akan kita pisahkan yaitu parasetamol yang

bersifat polar dengan ditandai adanya gugus OH pada strukturnya , sehingga parasetamol
tidak akan tertahan oleh fasa diam yang berada didalam kolom yang bersifat non polar dan
akan terdesak oleh fase gerak yang bersifat polar, sehingga parasetamol akan keluar kolom
terbawa dengan fase gerak dan akan di deteksi oleh detektor.
Oleh sebab itu pada percobaan kali ini digunakan kromatografi cair kinerja tinggi
(KCKT) dengan menggunakan jenis kromatografi partisi dan menggunakan fase terbalik.
Prinsip dari kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) partisi adalah pemisahan terjadi
berdasarkan partisi analit dalam dua komponen cairan yang tidak bercampur yaitu fase gerak
dan fase diam. Pemisahan akan terjadi berdasarkan perbedaan sifat kepolarannya. Fase
terbalik yaitu dimana kondisi fase gerak bersifat polar sedangkan fase diamnya bersifat
kurang polar.
Pada percobaan kali ini digunakan detektor pada sinar UV 234 nm, hal tersebut
berkaitan dengan struktur dari parasetamol yang memiliki gugus kromofor dan ikatan
rangkap terkonjugasi ( ikatan rangkap selang seling ) sehingga dapat menyerap sinar UV, dan
pengujian ini menggunakan panjang gelombang 234 nm dengan mempertimbangkan panjang
gelombang fase geraknya yaitu panjang gelombang methanol sebesar 205 nm dan air sebesar
190 nm. Selain dari itu dikaitkan dengan panjang gelombang maksimum dari parasetamol
yaitu 234 nm, maka serapan parasetamol akan terbaca pada gelombang maksimum tersebut.
Detektor yang menggunakan sinar UV memiliki karakteristik sensitivitas yang baik, slektif
terhadap gugus gugus dan struktur yang tak jenuh dan merupakan detektor yang sering
digunakan.
Analisis yang akan kita lakukan kali ini adalah analisis secara kualitatif dan analisis
secara kuantitatif. Analisis kualitatif yaitu dengan cara membandingkan waktu retensi larutan
uji dengan larutan standar. Waktu retensi adalah selang waktu yang diperlukan linarut mulai
saat injeksi sampai keluar dari kolom dan sinyalnya ditangkap oleh detektor. Waktu retensi
zat yang sama selalu konstan pada kromatografi yang sama oleh karena itu menjadi suatu
dasar analisi kulitatif. Sedangkan analisis kuantitatif yaitu dengan menggunakan metoda
kurva kalibrasi dan metoda one point.
Sebelum melakukan percobaan menggunakan KCKT terlebih dahulu membuat larutan
standar baku pembanding parasetamol dan larutan uji bahan baku parasetamol, pada
pembuatanya larutan diencerkan dengan menggunakan fase gerak dan diencerkan dengan
konsentrasi yang lebih kecil. Hal tersebut bertujuan agar sampel tidak terlalu pekat dan dapat

terbaca oleh detector. Selajutnya disaring dengan membran filter PTFE yang bertujuan untuk
menghilangkan adanya gelembung udara dan partikel asing. Selanjutnya melakukan uji
kesesuaian sistem. Uji Kesesuaian Sistem bertujuan untuk menilai apakah sistem
kromatografi yang di set sudah memenuhi syarat atau tidak, dan uji kesesuaian sistem
dilakukan dengan menginjeksikan berturt turut sebanyak 7x larutan standar kedalam
instrumen. Adapun parameter yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesesuaian sistem
meliputi; bilangan lempeng teoritis (N), tailing faktor, kapasitas dan SBR (simpangan baku
relatif). Tailing factor merupakan terjadinya pengekoran pada kromatogram sehingga
menyebabkan kromatogram menjadi tidak simetris, maka semakin besar harga tailing factor
maka kolom semakin kurang efisien. Dengan demikian harga harga tailing factor dapat
digunakan untuk melihat efisiensi kolom kromatografi. Idealnya puncak suatu kromatogram
memperlihatkan bentuk gaussian dengan derajat yang sempurna, simetris, tinggi. Namun
kenyataannya hal tersebut jarang dijumpai, namun dalam hal tersebut ada batas maksimal
dari tailing factor tersebut. Kali ini nilai dari tailing factor maksimal 2.
Uji kesesuaian sistem dinyatakan memenuhi syarat apabila nilai SBR < 2.0%. Pada
hasil pengamatan yang dilakukan nilai SBR telah memenuhi syarat yaitu diperoleh waktu
retensi nilai SBRnya sebesar 0,71083727, namun didapatkan luas area nilai SBRnya sebesar
2,704575556 dan dapat disimpulkan untuk uji keseuaian sistem tidak memenuhi syarat
karena nilai SBR pada luas area lebih dari 2.
Selanjutnya dilakukan pengujian pada larutan uji bahan baku parasetamol dengan
prosedur yang sama pada pengujian uji kesesuaian sistem tetapi hanya satu kali
penginjeksian. Didapat waktu retensi 3,153 dan luas area 44105976. Untuk mendapatkan
analisis kualitatif maka bandingkan waktu retensi antara larutan uji dengan larutan standar
harus sama atau mendekati pada percobaan didapat waktu retensi untuk larutan uji sebesar
3,153 dan untuk larutan standar sebesar 3,513. Maka dapat disimpulkan dari analisis
kualitatif bahan baku tersebut adalah parasetamol.
Selanjutnya dilakukan analisis kuantitatif yang bertujuan untuk menentukan kadar
parasetamol dari bahan baku parasetamol. Metode yang digunakan yaitu dengan metode
kurva kalibrasi dan metode one point. Pada metode kurva kalibras untuk perhitungan kadar
dilakukan dengan menggunakan persamaan garis y= bx + a, maka pada praktikum kali ini
didapatkan nilai y ( luas area yang didapat ketika sampel diinjeksikan) = 44105976, a
(didapat dari persamaan regresi ) = 335205,585, b (didapat dari persamaan regresi)=

551294,76. Dari persamaan tersebut maka dapat ditentukan x ( konsentrasi larutan standar )
dengan rumus = (y-a)/b maka didapatkan nilai x = 79,396 ppm. Maka untuk menetukan kadar
bahan baku parasetamol dapat dilakukan dengan membagi nilai x = 79,396 ppm dengan
konsentrasi larutan uji yang didapat dari perhitungan pengenceran yaitu 50,6 ppm dan
dikalikan 100%, maka di peroleh 156,90 %.
Selanjutnya penetapan kadar dilakukan dengan cara one point dengan menggunakan

persamaan Cu =

Lu
Ls

x Cs. Pada persamaan ini dapat menetukan konsentrasi larutan uji

(Cu) yaitu membagi kromatogram larutan uji (Lu) = 44105976 dengan memilih luas area
kromatogram larutan standar ( Ls) yang paling mendekati Lu yaitu 34730732, dan didapatkan
konsentrasi 65,224 ppm. Maka konsentrasi yang didapat tersebut dibagi dengan konsentrasi
larutan uji yaitu 50,6 ppm dan dikalikan 100 %. Dari metode one point ini didapatkan
konsentrasi sebesar 128,90 %.
Maka dapat disimpulkan bahwa pada metode penetapan kadar dengan menggunakan
kurva kalibrasi didapatkan kadar bahan baku parasetamol 156,90 % dan pada metode one
point yaitu 128,90 %. Namun pada literatur ( farmakope indonesia edisi IV ) telah ditetapkan
bahwa parasetamol mengandung tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% . Maka
bila dibandingkan dengan kadar yang tertera pada literatur dapat disimpulkan bahwa kadar
baha baku parasetamol yang di uji tidak memenuhi syarat. Dapat dikatakan metode yang
paling efektif diantara kurva kalibrasi dan one point yaitu metode one point. Hal tersebut
disebabkan kadar yang didapat dari penetapan one point 128,90% lebih mendekati kadar pada
literatur dibandingkan dengan kurva kalibrasi.
Adapun kelebihan dari kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) adalah pemisahan
yang relatif cepat, resolusi tinggi, detektor yang sangat sensitif, kolom yang dapat digunakan
kembali, ideal untuk zat zat yang termolabil dan volume yang cukup rendah, pemisahan lebih
efektif.

Kesimpulan :
-

Bahan yang di uji merupakan bahan baku parasetamol karena waktu retensi

larutan uji mendekati larutan standar.


Kadar bahan baku parasetamol dengan metode kurva kalibrasi didapatkan kadar

bahan baku parasetamol 156,90 % dan pada metode one point yaitu 128,90 %.
Bahan baku parasetamol yang diuji memiliki mutu yang kurang baik karena
memiliki kadar yang tidak sesuai dengan literatur.