Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PROSES PENGOLAHAN EMAS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sumber Daya Alam


Dosen Pembimbing
Juliananda S.T., M.Sc.

Disusun Oleh :
Gilang Ramadan

(125061107111013)

Mochammad Wahyu M.

(135061100111028)

Achmad Rosid Ary Efendi

(135061107111013)

Mila Baarik Imansari

(145061101111009)

TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A. EMAS
Indonesia menjadi salah satu negara yang diincar para investor terkait
pengolahan emasnya. Hal ini disebabkan karena Indonesia memiliki cukup
banyak deposit emas. Banyaknya deposit emas ini dipengaruhi oleh aktivitas
vulkanis dan tektonis. Indonesia berada disalah satu wilayah Ring of Fire yang
menyebabkan jumlah aktivitas tektonis dan vulkanisnya cukup tinggi. Sehingga,
deposit emas didalam tanah dapat muncul ke permukaan tanah.
Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa,
kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs). Mineral pembawa emas
biasanya berasosiasi dengan mineral bawaan (gangue minerals). Mineral bawaan
tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil
mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan
sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas sangat bermacam macam
tergantung dari mineral bawaannya dan persen dari mineral pembawanya,
beberapa diantaranya adalah emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah
paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, kobalt, tembaga, dan
logam logam lainnya. Emas nativ merupakan emas dengan mineral logam
pembawanya berupa perak dibawah 20%. Sementara elektrum, kandungan perak
di dalamnya diatas 20% (Shikazono dan Shimizu, 1987).
Emas berdasarkan sumbernya terbagi atas dua yaitu emas primer dan emas
sekunder. Emas primer merupakan bongkahan batu induk besar yang
mengandung emas baik yang berukuran makroskopis maupun mikroskopis.
Umumnya emas primer terdapat jauh didalam kerak bumi. Sementara, emas
sekunder merupakan emas primer yang muncul ke permukaan tanah akibat
aktivitas vulkanis atau tektonis kemudian akibat proses pelapukan batuan dan
erosi maka serpihan batuan emas akan hanyut terbawa air. Sehingga emas
sekunder banyak ditemukan didaerah hilir sungai dan muara sungai.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang pengolahan bijih emas secara
fisik yang secara umum terdapat beberapa proses fisik dalam pengolahan bijih
emas sehingga menghasilkan Bijih emas olahan yang bersih dan tidak terdapat
banyak impuritiesnya dan dapat diproduksi dalam skala industri.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PERLAKUAN AWAL DARI PENGOLAHAN EMAS


1.1 Comminution
Kominusi adalah proses mereduksi ukuran dari ore agar mineral yang
mengandung emas dipisahkan (liberasi) dari mineral-mineral lain yang terkandung
dalam batuan induk.Tujuan liberasi bijih ini antara lain agar :

Meminimalisir kehilangan emas yang masih terperangkap dalam batuan induk


Meningkatkan persen ekstraksi emas
Proses kominusi ini terutama diperlukan pada pengolahan bijih emas primer.
Selama proses kominusi terjadi proses liberasi yaitu proses lepasnya emas dari batu
induknya. Derajat liberasi yang diperlukan dari masing-masing bijih untuk
mendapatkan perolehan emas yang tinggi pada proses ekstraksinya berbeda-beda
bergantung pada ukuran mineral emas dan kondisi keterikatannya pada batuan induk.
Proses kominusi ini dilakukan bertahap bergantung pada ukuran bijih dan
kondisi kandungan bebatuannya. Secara umum proses kominusi terbagi atas:
-

Crushing merupakan suatu proses peremukan ore (bijih) dari hasil


penambangan melalui perlakuan mekanis. Misalnya dengan menggunakan roll

crusher, jaw crusher, cone crusher.


Milling merupakan proses penggerusan lanjutan dari crushing, hingga
mencapai ukuran yang sangat halus dari hasil milling yang diharapkan yaitu
berkurang minimal 80% dari ukuran awal. Ada beberapa alat yang digunakan
dalam proses penggerusan seperti ball mill dan rod mill.
1.1.1

Peremukan Tahap Primer


Peremukan tahap primer merupakan tahap pertama saat umpan
yang

digunakan biasanya berasal dari hasil penambangan berupa

batuan induk emas yang ukurannya masih sangat besar bahkan sekitar 2
m (Ulrich, 1984). Alat peremuk yang digunakan pada umumnya adalah

jaw crusher dan gyratory rusher. Ukuran terbesar dari produk hasil
peremukan tahap primer ini adalah 200 mm. Dalam peremukan primer,
sirkuit unitnya adalah terbuka.
1.1.2 Peremukan Sekunder
Tahap ini merupakan tahap setelah peremukan primer, bijih emas
direduksi lagi hingga diameter ekuivalennya menjadi sekitar 15-35 mm.
Umpan yang dimasukkan kedalam unit berukuran dibawah 0,5 m.
Tahap peremukan sekunder menggunakan dua jenis crusher seperti
cone crusher atau impact crusher. Pada peremukan sekunder sirkuit
unitnya adalah gabungan tertutup dan terbuka.
1.1.3 Peremukan Tersier
Peremukan tersier merupakan peremukan material hingga ukuran
7-15 mm dengan menggunakan dua atau lebih tipe crusher. Apabila
menggunakan cone crusher untuk peremukan sekunder dan tersier,
maka menggunakan spesifikasi cone head yang berbeda.

Pada

peremukan tersier sirkuit unitnya adalah gabungan tertutup dan terbuka.


Pada sirkuit tertutup, produk hasil peremukan ditampung di pengayak.
Sehingga, material yang ukurannya belum memasuki kualifikasi akan
dikembalikan ke proses sebelumnya.
Alat yang banyak digunakan dalam peremukan tersier adalah ball
mill. Ball mill alat penggilingan bijih emas yang telah dikecilkan dari
batuan yang sangat besar. Ballmill merupakan suatu penggiling. dengan
bola-bola besi dengan ukuran tertentu. Bijih emas yang diperoleh
dimasukan kemudian digiling sampai halus sehingga emas terlepas dari
tanah.

1.2 Screening
Screening merupakan proses pemisahan butiran dan serpihan emas yang
sudah mulai terliberasi dari sebagian besar proses kominusi. Bijih emas yang
telah digerus akan diayak. Proses pengayakan didasarkan pada perbedaan massa
jenis. Emas memiliki massa jenis lebih besar dari tanah sehingga pada proses

pengayakan emas berada dibagian bawah maka tanah berada dibagian atas dapat
dengan mudah dibuang.
Gambar 1 Diagram Alir Operasi Kominusi
B. MEKANISME PEREMUKAN

Prinsip peremukan adalah adanya gaya luar yang bekerja atau diterapkan
pada bijih dan gaya tersebut harus lebih besar dari kekuatan bijih yang akan
diremuk. Mekanisme peremukannya tergantung pada sifat bijihnya dan
bagaimana gaya diterapkan pada bijih tersebut. Setidaknya ada empat gaya yang
dapat digunakan untuk meremuk atau mengecilkan ukuran bijih.
a. Compression
Peremukan dilakukan dengan memberi gaya tekan pada bijih.
Peremukannya dilakukan diantara dua permukaan plat. Pada kompresi,
energi akan bekerja pada titik tertentu. Gaya ini biasanya digunakan untuk
pengecilan padatan ukuran besar menjadi kasar. Beberapa alat yang
menerapkan prinsip compression ini ialah jaw crusher dan gyratory crusher.
Jaw crusher mereduksi ukuran partikel dengan menghimpit material
diantara dua plat baja. Dua diantaranya yaitu plat statis dan plat yang
dihubungkan dengan belt agar dapat bergerak. Material akan ditekan dengan
salah satu plat yang bergerak maju mundur. Material yang telah tereduksi
akan lolos ke bawah jaw crusher.

Gyratory crusher merupakan mesin penghancur yang terdiri atas


penumbuk berputar yang berbentuk seperti corong. Penumbuk tersebut akan
bergerak ke kiri dan ke kanan untuk menekan material yang masuk.
b. Impact
Proses pereremukan yang terjadi akibat adanya gaya berupa tumbukan
yang bekerja pada bebatuan. Metode impact ini adalah gaya compression
yang bekerja dengan kecepatan sangat tinggi. Dengan metode hantaman ini,
energi yang dihasilkan akan besar dan berkerja pada seluruh bagian benda
yang dihantamnya. Gaya ini menghasilkan ukuran kasar, sedang, ataupun
kecil. Beberapa alat yang menerapkan metode hantaman ini ialah impactor
dan hummer mill.
Hummer mill terdiri atas silinder yang berputar pada porosnya sehingga
dapat menghantam material secara berkala hingga menghasilkan ukuran
partikel yang diinginkan. Jarak antara hummer dengan bejana (clearance)
dapat dimodifikasi untuk menghasilkan ukuran partikel yang diinginkan.
c. Attrition
Atrisi merupakan metode peremukan atau pengecilan ukuran akibat adanya
gaya abrasi atau kikisan. Pada metode ini gaya hanya bekerja pada daerah
yang sempit (dipermukaan) atau terlokalisasi kemudia tergerus karena
bersentuhan dengan permukaan benda lain. Beberapa alat yang menerapkan
metode abrasi ini ialah ballmill dan rod mill.
d. Shear atau cutting
Pengecilan ukuran dengan cara pemotongan menggunakan rotary knife
cutter yang biasanya digunakan untuk material yang rapuh dan cenderung
lunak. Cara ini jarang dilakukan pada batuan induk emas. Gaya ini
menghasilkan ukuran yang jelas dan tepat.

Gaya

Alat

Produk

Sifat Gaya

Metode

Kompresi

Jaw crusher,
gyratory,
roll

Selang
ukuran
sangat sempit

Pembebanan
relatif lambat

Bijih ditekan
diantara dua
benda (plat
baja) keras

Impact

Hummar
mill,
impactor

Selang
ukuran
sangat lebar

Pembebanan
relatif cepat

Bijih dibentur,
dibanting,
dipukul
pada/oleh
benda keras

Attrition/Abrasi

Ball mill,
rod mill

Sangat halus

Pembebanan
relatif cepat

Bijih terkikis
dan digesek
pada bagian
permukaan

Shear/cutting

Rotary knife
cutter

Sesuai
keinginan

Pembebanan
relatif lambat

Bijih dipotong
sesuai ukuran
yang
diinginkan

Tabel 1. Mesin kominusi, gaya, dan distribusi ukuran yang dihasilkan

C. PROSES PEMISAHAN SECARA FISIKA


Metode dengan cara pemisahan secara fisika, berdasarkan alat yang
digunakan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Gravity
Magnetic
Liquation
Flotation
Adapun penjelasan pemisahan secara fisika dapat dilakukan dengan cara

sebagai berikut:
1. Gravity Separation / Pemisahan Gaya Berat
Konsentrasi / separasi dengan metode gravitasi memanfaatkan
perbedaan massa jenis emas (19.3 ton/m3) dengan massa jenis mineral lain
dalam batuan (yang umumnya berkisar 2.8 ton/m3), bentuk, dan ukuran.
Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue
minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin,

flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga
berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa
emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan
senyawa emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Biji emas
mengandungi antara 8% dan 10% perak, tetapi biasanya kandungan tersebut
lebih tinggi. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya kandungan
perak di dalamnya >20%. Apabila jumlah perak bertambah, warnanya menjadi
lebih putih (Agristo, 2012).
Peralatan konsentrasi yang menggunakan prinsip gravitasi yang umum
digunakan pada pertambangan emas skala kecil antara lain adalah :
a. Panning, adalah alat konsentrat emas yang menggunakan prinsip gravitasi
paling sederhana. Bentuk alat ini menyerupai piringan / pan yang digunakan
untuk mencuci dan memisahkan emas dari pasir, aluvial, tambang, pasir
sungai. Selain itu, bentuknya yang kecil dan portable sangat cocok untuk
melakukan perorangan, penambang kecil, dan langsung dilapangan untuk
menemukan bijih emas. Berat alat panning sekitar 3kg. Persen hasil yang
didapat pada alat ini, tergantung pada pengguna dan perlakuan pemisahannya.
Biasanya didapatkan 10% hasil dari total bahan yang masuk. Dapat dilihat
dengan gambar sebagai berikut:
Gambar 1. Alat Panning

b. Sluice Box, banyak digunakan pada tambang bijih emas dan timah untuk
lapisan aluvial. Dimana lapisan aluvial ini dialirkan dengan air bertekanan
tinggi menggunakan pompa sederhana untuk melepaskan butiran material
berupa fragmen aluvial. Selanjutnya aliran lumpur aluvial dialirkan kedalam

sluice box tersebut. Alat ini mempunyai effisiensi yang sama dengan
peralatan konsentrasi yang lain dan memiliki persen hasil sebesar 30%.

Gambar 2. Alat Sluice Box


c. Meja Goyang (Shaking Table), merupakan pemisahan material dengan cara
mengalirkan air pada suatu meja bergoyang, dengan menggunakan media
aliran tipis dari air (Flowing Film Concentration). berdasarkan perbedaan
berat dan ukuran partikel terhadap gaya gesek akibat aliran air. Partikel
dengan diameter yang sama akan memiliki gaya dorong yang sama besar.
Sedangkan apabila specific gravitynya berbeda maka gaya gesek pada
partikel berat akan lebih besar daripada partikel ringan. Karena pengaruh

gaya dari aliran, maka partikel ringan akan terdorong / terbawa lebih cepat
dari partikel berat searah aliran. Hasil yang diperoleh menggunakan alat ini,
sebesar 25%.
Gambar 1.3 Alat Shaking Table

2. Magnetic Separation / Pemisahan Secara Magnetik

Merupakan pemisahan campuran yang komponennya berupa zat padatan


berdasarkan perbedaan sifat magnetiknya. Zat yang memiliki sifat dengan
kemagnetan tinggi akan tertarik medan magnet. Sedangkan zat yang tidak
memiliki sifat kemagnetan tidak akan tertarik oleh medan magnet (Biz, 2011).
Pemisahan magnetik (magnetic separation), adalah proses pemisahan
dengan

dasar

apabila

mineral

memiliki

sifat

feromagnetik.

Teknik

pengejerjaannya adalah dengan mengalirkan serbuk mineral secara vertikal


terhadap medan magnet yang bergeraksecara horizontal. Dengan demikian
materi yang tidak tertarik magnet akan terpisahkan dari materi yang memiliki
sifat feromagnetik.
Metode ini dalam proses pengolahan emas biasanya dilakukan pada primary
concentrate / first concentrate / total concentrate yang banyak mengandung
mineral sulfida utamanya pyrite (FeS 2). Setelah dioksidasi dengan metode
roasting, pyrite akan berubah menjadi FeO3 yang bersifat feromagnetik. Dengan
perubahan sifat FeO3 yang bersifat feromagnetik, total concentrate dapat
direduksi kuantitasnya dengan menggunakan magnetic separator sehingga
mempermudah proses selanjutnya.
Kemampuan zat dalam merespon magnetik disebut magnetic susceptibility,
yang terbagi dalam:
a. Paramagnetik, sifat kemagnetannya rendah. Misalnya: hematite, ilmenit,
pyrhotite.
b. Feromagnetik, sifat kemagnetannya tinggi. Misalnya: besi, magnetite.
c. Diamagnetik, tidak memiliki sifat kemagnetan. Misalnya: kuarsa, feldspar,
mika, corundum, gypsum, zircom, emas.
3. Liquation
Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses pemisahan
yang dilakukan dengan cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam,
sehingga cairan logam akan terpisahkan dari pengotor. Aplikasi dari proses
pemisahan ialah saat memisahkan emas dan perak.
Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu :
Density (berat jenis)
Melting point (titik leleh)

Titik leleh emas adalah pada suhu 1064.18 oC, sedangkan titik cair perak
pada suhu 961.78oC sehingga perak akan mencair lebih dulu dari pada emas.
Namun untuk benar-benar terpisah, maka perak harus menunggu emas mencair
seluruhnya. Apabila dilihat dari berat jenisnya, maka berat jenis emas cair
sebesar 17.31 gram per cm3 sedangkan berat jenis perak sebesar 9.32 gram per
cm3. Hal ini berarti berat jenis emas lebih besar dari pada berat jenis perak.
Berdasarkan hukum dasar fisika, bila ada dua jenis zat cair yang berbeda
dan memiliki berat jenis yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat
jenis lebih kecil dari zat satunya, ia akan mengapung. Dengan demikian, cairan
perak akan terapung diatas lapisan cairan emas, seperti halnya cairan minyak
mengambang diatas lapisan air. Dari sana, perak dipisahkan dari emas, sampai
tidak ada lagi perak yang terapung. Dengan metode akan dihasilkan Au bullion
dan Ag bullion.

4. Flotasi
Teknik flotasi adalah suatu teknik pemisahan yang berdasarkan
perbedaan berat jenis dari masing-masing kandungan batuan. Flotasi digunakan
saat hanya ada sedikit emas yang terkandung dalam material karena ukurannya
yang mikroskopis sehingga sulit untuk dipisahkan. Pada penelitian yang
digunakan makalah ini menggunakan media tetrabromoetana (TBE) dengan
berat jenis 2,97 gram/mL. Material-material dalam hal ini merupakan logam
yang memiliki berat jenis yang lebih besar dari TBE akan tenggelam, sedangkan
material-material yang memiliki berat jenis lebih rendah daripada TBE akan
mengapung. Emas merupakan salah satu logam yang memiliki berat jenis yang
cukup tinggi, sehingga dalam pemisahan ini emas diperkirakan akan mudah
mengendap.
Pemisahan emas dengan menggunakan teknik flotasi dengan media TBE
menghasilkan kondisi optimum pemisahan bantuan dengan media TBE pada
fraksi ukuran batuan 88-177 m dengan kemampuan pemekatan sebesar 34 kali.
Kandungan emas yang berhasil dipisahkan mencapai kandungan 0,69%. Ukuran
partikel batuan berpengaruh terhadap persen konversi TBE. Pada fraksi ukuran
177-231 m memilki persen konversi terbesar yaitu sebesar 76,67%.

BAB III
PENUTUP
Dalam proses pengolahan bijih emas diperlukan untuk mencari alternatif metode
pengolahan bijih emas, dikarenakan adanya kerugian dengan menggunakan pengolahan
secara kimia yang berkaitan dengan limbahnya.
Umumnya industri pengolahan emas menggunakan sianida atau merkuri untuk
mendapatkan emas murni. Apabila penanganan limbah dari prosesnya tidak diregulasi
degan benar maka limbah tersebut akan berbahaya bagi masyarakat dan ligkungan
disekitarnya. Dalam hal ini perusahaan tambang emas harus dapat menentukan solusi
terbaik yang harus dilaksanakan agar dapat mengurangi dampak limbah kimia dengan
menggantinya dengan proses fisik yang lebih aman.
Meskipun jumlah emas yang dihasilkan dari proses pemisahan secara kimia
lebih besar dari pemisahan secara fisika, dengan adanya pengolahan secara fisika
diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan sehingga proses pengolahan bijih
emas jauh lebih aman.

DAFTAR PUSTAKA
Adams D, Mike (2005). Advances in Gold Ore Processsing. Western Australia: Mutis
Liber PTY Ltd.
Agristo, Andrest. 2012. Makalah Pengolahan Bahan Galian. Academia.com
Atasoy, Yavuz (2001). Primary Versus Secondary Crushing At St. Ives (wmc)
SAG Mill Circuit. Canada: University of British Columbia.
Badri, Rezgar (2013). Sulphidic Refractory Gold Ore Pre-Treatment by Selective and
Bulk Flotation Methods. Iceland: University of Iceland.
Biz, Ardra. 2011. Pemisahan Magnetic Separation. Ardrabiz.com
Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Process and Unit Operations 3 rd ed. University
of Minnesota : Prentice Hall
Israwaty, Ila (2013). Studi Pemisahan Emas dari Batuan Bijih Emas Asal Daerah
Poboya (Sulawesi Tengah) dengan Menggunakan Teknik Flotation and Sink
dengan Media Tetrabromoetana (TBE). Makassar: Universitas Negeri
Makassar.
Silva, Michael. 1986. Placer Gold Recovery Method. Sacramento: California
Department of Conservation Division of Mines and Geology.
Shikazono, N. dan Shimizu M. 1987. The Ag/Au Ratio of Native Gold and Electrum and
the Geochemical environment of Gold Vein Deposits in Japan. Jurnal Ilmu
Petrologi dan Cadangan Mineral Vol.22. Hal. 309-314 .
Ulrich, Gael D. 1984. A Guide to Chemical Engineering Process Design and
Economics. Canada: John Wiley & Sons, Inc.