Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN KASUS

HERPES LABIALIS REKUREN DISERTAI DENGAN


CHEILITIS EXFOLIATIF

Pembimbing:
drg. Manuel DHL, Sp. PM

Disusun oleh:
Maharani Rahmah, S.KG
NIM: 2014-16-085

Fakultas Kedokteran Gigi


Universitas Prof. DR Moestopo (Beragama)
2015

LAPORAN KASUS

HERPES LABIALIS REKUREN DISERTAI DENGAN CHEILITIS


EXFOLIATIF
Maharani Rahmah, S.KG
2014-16-085
Mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)
Bagian Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. DR Moestopo
(Beragama)

PENDAHULUAN
Herpes labialis rekuren merupakan penyakit infeksi virus herpes simplex atau bentuk
rekuren dari infeksi herpes simplex. Penyakit ini disebabkan oleh Reaktivasi HSV 1 Laten
dengan faktor predisposisi : demam, menstruasi, stress, radiasi UV , trauma dan pada keadaan
imunosupresi . Virus herpes simplex atau HSV dapat menimbulkan lesi di rongga mulut dan
orofaring. Pada orang yang terinfeksi HSV di dalam liurnya terkandung virus herpes
simpleks atau pada cairan tubuh lainnya sehingga dapat menular.2
Insidensi dari penyakit ini biasanya terjadi pada kelompok ekonomi menengah kebawah,
dan biasanya menyerang orang dewasa. Baik pria maupun wanita dapat terkena penyakit ini.
Dari suatu populasi terdapat kurang lebih 15% orang yang terinfeksi virus herpes simplex 1.
Apabila seseorang pernah terkena infeksi HSV maka apabila virus tersebut aktif kembali dan
terdapat pada saliva orang tersebut maka dapat menyebabkan herpes labialis rekuren atau
rekurensi infeksi herpes simplex di dalam rongga mulut atau RIH.2
Gambaran klinis dari penyakit ini diawali dengan timbulnya vesikel vesikel kecil yang
bergerombol, kemudian pecah dan mengalami ulserasi dan membentuk keropeng atau kusta.
Vesikel tersebut berisi cairan yang mengandung virus Herpes Simplex yang menular. Pada

daerah yang muncul lesi terasa gatal, sakit, nyeri dan rasa panas seperti terbakar. Sebelum
muncul lesi terdapat gejala prodromal seperti rasa panas seperti terbakar dan disertai dengan
demam.1,2 DD dari penyakit ini adalah diantarannya Eritema multiforme, herpes zoster,
impetigo dan karsinoma.2
Perawatan yang dapat dilakukan untuk penyakit ini yang paling utama adalah
meningkatkan daya tahan tubuh pasien yaitu dengan cara menginstruksikan pasien untuk
minum dan makan makanan yang bergizi serta istirahat teratur, selain itu instruksikan pasien
untuk mengurangi faktor pencetus yang diantarannya adalah paparan sinar matahari, yang
dapat dikurangi dengan penggunaan sun screen, hindari stress dan aktifitas berlebihan serta
pemberian Antivirus topikal dan sistemik.2
Cheilitis ekfoliatif adalah suatu keadaan dimana bibir pecah-pecah yang disebabkan oleh
defisiensi nutrisi, kurang asupan air dan paparan cahaya matahari. Eksfoliatif cheilitis dapat
diakibatkan faktor-faktor seperti stres dan beberapa kondisi kejiwaan yang berhubungan
dengan timbulnya penyakit. Cheilitis eksfoliatif dapat terjadi secara spontan. Etiologi dan
patogenesis cheilitis eksfoliatif tidak diketahui. Kebiasaan menggigit bibir, menjilati,
mengisap atau secara tidak sadar dapat mendasari terjadinya cheilitis eksfoliatif. Gambaran
klinis dari cheilosis adalah berupa lesi loss of integrity, bibi kering dan mengelupas yang
tidak sakit. Lesi terdapat pada bibir. Perawatan yang dapat dilakukan untuk Cheilosis adalah
pemberian lip balm dan menginstruksikan kepada pasien untuk tingkatkan konsumsi buah,
sayur, dan asupan air. Candida albicans, sepsis oral juga dapat menjadi etiologi dari cheilitis
eksfoliatif. Penyebab kondisi ini multifaktorial sehingga sulit untuk disembuhkan dan dapat
bertahan selama bertahun-tahun. Pengobatan terbaiknya adalah menghilangkan faktor
predisposisi atau psikologis.3

LAPORAN KASUS
Seorang pasien berusia 42 tahun datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas
Prof.DR. Moestopo (beragama) bagian klinik penyakit mulut dengan keluhan timbul luka
pada bibir atas kanan yang terasa gatal, panas, sakit saat berbicara dan mengelupas. Tiga hari
yang lalu pasien mengeluh badan terasa tidak enak, demam, meriang, lemah, pegal pegal dan
disertai rasa panas dari dalam tubuh dan juga pada bibir atas, kemudian diiringi dengan
timbulnya lentingan lentingan kecil berisi cairan pada bibir atas sebelah kanan. Lentingan
tersebut terasa gatal, panas dan sakit. Dua hari kemudian lentingan lentingan tersebut pecah
dan berubah menjadi keropeng. Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya, namun tidak terjadi
pada bibir, tetapi pada badan sebelah kanan kurang lebih 1 tahun yang lalu. Menurut
anamnesis, pasien berprofesi sebagai penjual gorengan di dekat rumahnya dan kuli serabutan
yang menyebabkan pasien sering terpapar sinar matahari. Pada pemeriksaan ekstra oral,
ditemukan krusta pada bibir atas kanan yang panyangnya kurang lebih 1cm dengan lebar
kurang lebih 0.3cm berwarna kecoklatan, bebatas eritema. Bibis kering dengan sedikit
mengelupas. Kebersihan mulut pasien baik. Menurut anamnesa pasien sedang berpuasa.

Pada bibir atas terdapat krusta dengan batas yang tidak jelas, panjang x lebar kurang lebih 1cm x 0.3cm.
Bibir bawah kering dan mengelupas.

DIAGNOSIS
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis yang dilakukan, diagnosis pasien
ini adalah Herpes Labialis Rekuren disertai dengan Cheilitis Eksfoliatif.

PERAWATAN
Perawatan pasien ini yaitu dengan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE)
disertai dengan pemberian obat.
1. Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)
KIE pada pasien ini dengan memberikan penjelasan kepada pasien bahwa luka pada
bibir atas kanan adalah penyakit disebut Herpes labialis yang merupakan penyakit
yang disebabkan oleh virus HSV-1 dan menular. Edukasi kepada pasien yaitu jangan
bertukar alat makan dengan keluarga, jangan menggaruk ataupun menyentuh lesi
karena lesi menular, bagian yang mengelupas pada bibir jangan di kelopek, istirahat
yang cukup, konsumsi makana yang bergizi, tingkatkan makan sayur sayuran, buah
buahan dan konsumsi air putih serta hindari paparan sinar matahari.

2. Pemberian obat
R/ Acyclovir 200mg No. XX
S 5 dd 1 Tab
R/ Acyclovir 5% tube No.I
S part dol 5x sehari
R/ Vitner Z No.X
S 1 dd cap 1
R/ Imboost Forte Tab. No. X
S 2 dd 1 Tab

Lip Balm

Setelah 3 minggu, krusta pada bibir sudah sembuh, dan bibir tidak terdapat lagi deskuamasi.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil anamnesa dan pemeriksaan klinis yang menunjukan adanya
krusta pada bibir atas sebelah kanan yang terasa gatal, panas, sakit saat berbicara dan
mengelupas panjangnya kurang lebih 1cm dengan lebar kurang lebih 0.3cm berwarna
kecoklatan, berbatas eritema. Bibir kering dengan sedikit mengelupas. Serta
berdasarkan anamnesa pasien yang menyatakan bahwa tiga hari yang lalu pasien
mengeluh badan terasa tidak enak, demam, meriang, lemah, pegal pegal dan disertai
rasa panas dari dalam tubuh dan juga pada bibir atas, kemudian diiringi dengan
timbulnya lentingan lentingan kecil berisi cairan pada bibir atas sebelah kanan.
Lentingan tersebut terasa gatal, panas dan sakit. Dua hari kemudian lentingan
lentingan tersebut pecah dan berubah menjadi keropeng. Hal seperti ini pernah terjadi
sebelumnya, namun tidak terjadi pada bibir, tetapi pada badan sebelah kanan kurang
lebih 1 tahun yang lalu. Dengan demikian diagosa penyakit ini adalah Herpes
Labialis Rekuren yang disertai dengan Cheilitis exfoliatif.

Resep obat yang diberikan pada perawatan ini Acyclovir tablet 200mg, Salep
Acyclovir 5% ,

vitamin Vitner Z dan Imboost Force tablet. Acyclovir tablet

dikonsumsi 5x sehari. Salep Acyclovir dioles pada ulser bibir 5 kali sehari. Vitner Z
diminum sekali sehari setelah makan. Imboost Forte Tablet diminum 2x satu hari
setelah makan. Dianjurkan rutin menggunakan dan meminum obat rutin sesuai
instruksi yang dijelaskan.
Acyclovir tablet peroral digunakan untuk mengobati Herpes Labialis sebagai
anti virus guna melawan virus herpes simplex. Acyclovir topikal digunakan untuk
mengobati Herpes Labialis atau luka melepuh akibat virus herpes simpleks yang
terjadi di sekitar bibir. Acyclovir topikal memperlambat pertumbuhan virus herpes
agar tubuh bisa lebih efektif melawan infeksi. Acyclovir topikal membantu
meredakan rasa sakit dan gejala yang muncul. Selain itu, obat ini juga membantu
mempercepat penyembuhan luka. Vitner z yang mengandung vitamin C, vitamin
E,vitamin B1, vitamin B2, vitamin B6, vitamin B12, dan Zn yang dapat mempercepat
regenerasi jaringan agar luka cepat sembuh. Suplemen Imboost Forte diberikan
bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh pasien dalam melawan virus herpes
simplex dalam tubuh pasien agar proses penyembuhan terjadi lebih cepat. Lip Balm
diberikan untuk menjaga kelembaban bibir agar bibir tidak kering dan pecah pecah.

KESIMPULAN
Pasien dengan penyakit Herpes Labialis Rekuren yang disertai dengan Cheilitis
Eksfoliatif dapat dirawatan dengan memberikan obat Acyclovyr tablet 200mg, Salep
Acyclovir 5% , vitamin Vitner Z dan Imboost Forte tablet yang disertai dengan
istruksi untuk tidak menggaruk ataupun menyentuh lesi karena lesi menular, bagian
yang mengelupas pada bibir jangan di kelopek, istirahat yang cukup, konsumsi

makana yang bergizi, tingkatkan makan sayur sayuran, buah buahan dan konsumsi
air putih serta hindari paparan sinar matahari.
Setelah diberikan perawatan dan istruksi, keadaan pasien membaik ditandai
dengan adanya peningkatan keadaan pada bibir yang sudah tidak ada lagi ulser dan
bibir sudah tidak mengelupas lagi.
Setelah pasien sembuh, obat dihentikan namun pasien terus diinstruksi untuk
menghindari atau memiminimalisir faktor faktor pencetus dengan istirahat yang
cukup, konsumsi makana yang bergizi, tingkatkan makan sayur sayuran, buah
buahan dan konsumsi air putih serta hindari paparan sinar matahari.

DAFTAR PUSTAKA
1. Altas berwarna. Lesi mulut yang sering ditemukan. Edisi 4. Robert P. Langlais.
Wolters Kluwer Health. 2015. Halaman ; 24, 162
2. Oral and Maxilofacial Medicine. Sacond edition. The Basis of Diagnosis and
Treatment. Crispian Scully. Churchill Livingstone. 2008. Halaman : 63, 134
3. Roveroni-Favaretto Lcia Helena Denardi, Lodi Karina Bortolin, Almeida Janete
Dias. Topical Calendula officinalis L. successfully treated exfoliative cheilitis: a case
report, Biomed Central, case journal, 2009 : 1-3