Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM

FARMASI FISIKA
UJI DIFUSI

Disusun oleh :
Kelompok 3
Kelas II- A
Triana Rosmiati

P17335114004

Desti Virdani Putri

P17335114011

Anitha Desiala

P17335114030

Ajeng Septhiani

P17335114034

Kartika Mutiara N.

P17335114039

Dalfa Indriani

P17335114047

Penny Suryaningthias P.

P17335114050

Ismi Fildzah Putri

P17335114055

Rafika Zahraeni

P17335114062

Hana Hanifah Fadllan

P17335114065

Isnaeni Suryaningsih

P17335114068

Pembimbing Praktikum : Hanifa Rahma, M.Si., Apt.

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG


JURUSAN FARMASI
2015

A Judul

: Uji Difusi

B Hari, tanggal : Selasa, 29 September 2015


C Tujuan
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa mampu, untuk;
-

Menjelaskan pengertian difusi dan memnetukan kecepatan difusi suatu zat melalui

suatu penghalang (membran).


- Manggunakan sel difusi sederhana untuk melakukan uji difusi.
D Dasar Teori
Difusi, difusi didefinikan sebagai suatu proses perpindahan molekul suatu zat yang
dibawa oleh gerakan molekular secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan
konsentrasi aliran molekul melaui suatu batas, misalnya suatu membran polimer,
merupakan suatu cara yang mudah untuk menyelidiki proses difusi. Perjalanan suatu zat
melalui suatu batas bisa terjadi oleh suatu permeasi molekul sederhana atau oleh gerakan
melalui pori dan lubang (saluran). Difusi molekular atau permeasi melalui media yang
tidak berpori bergantung pada disolusi dari molekul yang menembus dalam keseluruhan
membran, sedang proses kedua menyangkut perjalanan suatu zat melalui pori suatu
membrane yan berisi pelarut dan dipengaruhi oleh ukuran relatif molekul yang
menembusnya serta diameter dari pori tersebut. Penjelasan proses difusi dijelaskan oleh
Hukum Fick (Martin,1993).
Hukum Fick Pertama, sejumlah M benda yang melalui satu satuan penampang
melintang S, dari suatu pembatas dalam satu satuan waktu t dikenal sebagai aliran yaitu J.
dM
J=
S . dt
M

= Massa (gram)

S
= Permukaan batas (cm2)
t
= waktu (detik)
Sebaliknya aliran berbanding dengan perbedaan konsentrasi, dC/dx:
dC
J =D
dx
D
C
x

= Koefisien difusi dari penetran (difusian) (cm2/detik)


= Konsentrasi (gram/ detik)
= Jarak (cm)
Tanda negatif pada persamaan tersebut menunjukan bahwa difusi terjadi dalam

arah berlawanan dengan naiknya konsentrasi (arah x positif). Dapat dikatakan juga bahwa
difusi terjadi dalam arah menurun konsentrasi difusian (Martin,1993).

Konstanta difusi (D) atau sering disebut difusitivitas, tidak selamanya konstan
(tetap), karena konstata tersebut bisa berubah harganya pada konsentrasi yang lebih tinggi.
Harga D juga dipengaruhi oleh temperatur, tekanan, sifat pelarut dan sifat kimia dari
difusian. Oleh karena itu D lebih tepat dikatakan sebagai suatu koefisien difusi daripada
suatu konstanta (Martin,1993).
Hukum Fick Kedua menyatakan bahwa perubahan konsentrasi terhadap waktu
dalam daerah tertentu adalah sebanding dengan perubahan dalam perbedaan konsentrasi
pada titik itu dalam sistem tersebut. Perbedaan dalam konsentrasi merupakan akibat dari
perbedaan dalam input dan output. Konsentrasi difusan dalam volume unsur berubah
terhadap waktu, yakni C/t, apabila aliran atau jumlah yang berdifusi berubah terhadap
jarak J/x, dalam arah x. Dari hal tersebut dapat diperoleh hukum Fick kedua, yakni:
C
c
=D
t
x
Dalam percobaan difusi, larutan dalam kompartemen reseptor dipindahkan dan
diganti secara terus-menerus dengan pelarut baru untuk menjaga agar konsentrasi selalu
rendah. Keadaan ini disebut keadaan sink (sink conditions) (Martin,1993).
Keadaan yang penting dalam difusi adalah keadaan atau masa-tunak (steady-state).
Dengan mengingat difusan awalnya dilarutkan dalam suatu pelarut dalam kompartemen
donor. Kurva dari hasil difusi terdapa cekungan terhadap sumbu waktu pada tingkat awal
dan kemudian menjadi garis lurus. Tahap awal merupakan keadaan nonsteady-state.
Selanjutnya, laju difusi konstan, kurva menjadi benar-benar garis lurus dan sistem berada
pada keadaan masa tunak (steady-state). Pada kurva didapat titik potong yang dikenal
sebagai waktu lag (lag time), tL. Waktu ini adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu
penetran (zat yang akan berpenetrasi) untuk memantapkan perbedaan konsentrasi yang
sama di dalam membran yang memisahkan kompartemen donor dari kompartemen
reseptor (Martin,1993).

E Alat dan Bahan


Alat :
Mortar dan stamper
Labu ukur 10 ml, 100 ml dan 1 liter
Pot salep plastic
Beaker glass

Membran sellulosa Whatman (dalam


praktikum digunakan kertas saring)
Spatel logam
Kaca arloji
Timbangan analitik

Termometer
Spektrofotometer UV-Vis
Pipet volume 5 ml
Ball pipet
Standar dan klem

Bahan :
Asam salisilat
Vaselin album
Akuadest

Pemanas elektrik dan magnetic stirrer


Vial 10 ml
Stopwatch
Spuitt 5 cc
Pipet tetes

NaOH
Etanol 96 %

F Prosedur Kerja
1. Membuat salep asam salisilat :
Asam salisilat ditimbang 0,8 g dan dimasukkan ke dalam mortar.
Ditambahkan 6 tetes etanol 96 % dan digerus homogen hingga semua etanol
menguap.
Ditambahkan vaselin album sebanyak 19,2 g sedikit demi sedikit sambil digerus
hingga homogen.
Salep asam salisilat kemudian ditimbang sebanyak 15 g.
2. Menentukan panjang gelombang maksimum asam salisilat dalam larutan NaOH 0,01 N :
Larutan NaOH 0,01 N dibuat dengan cara melarutkan 0,4 g NaOH di dalam
akuadest kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 1 liter, volume dicukupkan
hingga batas ukur dan dikocok hingga homogen.
Membuat larutan induk dengan konsentrasi 0,1 mg/ml dengan cara ; asam salisilat
ditimbang 10 mg, kemudian dilarutkan dengan larutan NaOH 0,01 N di dalam labu
ukur 100 ml, volume dicukupkan hingga batas ukur dan dikocok hingga homogen.
Larutan induk dipipet sebanyak 3 ml dan ditambahkan NaOH 0,01 N di dalam labu
ukur 10 ml, volume dicukupkan hingga batas ukur dan dikocok hingga homogen.
Konsentrasi larutan yang didapatkan 30 g/ml, ditentukan panjang gelombang
maksimumnya menggunakan spektrofotometer UV pada 200-400 nm.
3. Membuat kurva kalibrasi asam salisilat dalam larutan NaOH 0,01 N :
Kurva kalibrasi dan persamaan regresi dibuat dari data serapan larutan dengan
konsentrasi berbeda pada panjang gelombang maksimum yang didapat pada
prosedur nomor 2.
Larutan induk asam salisilat (0,1 mg/ml) dipipet sebanyak 1, 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 ml
kemudian ditambahkan NaOH 0,01 N di dalam labu ukur 10 ml, volume dicukupkan

hingga batas ukur dan dikocok hingga homogen. Sehingga konsentrasi yang
diperoleh 10, 20, 30, 40, 50, 60, dan 70 g/ml atau ppm.
Serapan zat pada setiap konsentrasi diukur pada panjang gelombang maksimumnya
menggunakan spektrofotometer UV.
Kurva dibuat dengan menghubungkan konsentrasi serapan asam salisilat, kemudian
data digunakan untuk menentukan persamaan regresi.
4. Menyiapkan sel difusi :
Sel difusi terdiri salep asam salisilat seberat 15 g yang diletakkan di atas permukaan
kertas saring sebagai membran semipermiabel.
Kertas saring kemudian diikatkan dengan kuat dan hati-hati pada pot salep untuk
mencegah terbentuknya kerutan dan timbulnya gelembung udara pada saat uji difusi.
5. Uji difusi :
Dengan menggunakan klem dan standar, sel difusi yang telah dipersiapkan
kemudian dicelupkan dengan permukaan pot menghadap ke bawah, ke dalam beaker
glass yang berisi NaOH 0,01 N sebanyak 200 ml di atas pemanas elektrik.
Pengaduk magnetik dihidupkan dengan kecepatan rendah pada skala tertentu dan
suhu diatur sebesar 37o1oC.
Pada menit ke 5, 10, 15, 20, dan 30 larutan penerima diambil sebanyak 5 ml
dimasukkan ke dalam vial 10 ml dan diganti dengan 5 ml larutan NaOH 0,01 N.
Kemudian serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV pada panjang
gelombang maksimum.
Kadar asam salisilat terlarut ditentukan dengan menggunakan persamaan regresi
yang diperoleh dari kurva kalibrasi, lalu dibuat kurva profil difusi asam salisilat
terhadap waktu.

G Data Pengamatan
a. Pembuatan NaOH 0,01 N
N=
0,01 =

g 1000
x
Mr
V
g
1000
x
40 1000 ml

= 0,4

g
1000 ml

= 0,4

g
L

Maka, NaOH yang diperlukan untuk membuat 1 L NaOH dengan konsentrasi 0,01 N
adalah 0,4 g.
b. Kurva baku asam salisilat 100 ppm
Berdasarkan hasil pengamatan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis,
didapatkan nilai adsorban larutan induk sebagai berikut:
Ppm

10

Adsorban Larutan Induk


0,219

20

0,383

30

0,625

40

0,393

50

1,112

60

1,350

70

1,563

Berdasarkan nilai adsorban diatas, maka didapatkan nilai:


r = 0,990
Persamaan regresi:
A = -0,0465
y = Bx + A
B = 0,0230
= 0,0230x 0,0465
Kurva adsorban larutan induk terhadap ppm:
1.8
1.6
1.4
1.2
1
Nilai adsorben 0.8
0.6
0.4
0.2
0
0

10

20

30

40
ppm

50

60

70

80

c. Nilai adsorban sample berdasarkan pengamatan menggunakan spektrofotometer UVVis


Waktu

Adsorban

sampel
0,149

10

0,219

15

0,245

20

0,329

30

0,430

Maka, persamaan regresi:


y=Bx+ A
y=0,0230 x 0,0465

d. Perhitungan kadar salep yang terdifusi


Salep sebanyak 15 g mengandung 0,6 g asam salisilat dalam medium NaOH 0,01 N
200 ml. Setiap pengambilan sampel 5 ml dari medium dalam waktu tertentu, diganti
dengan 5 ml larutan yang sama dengan medium.
1. Waktu 5 menit serapan = 0,149

3. Waktu 15 menit serapan = 0,245

y=0,0230 x0,0465

y=0,0230 x0,0465

0,149=0,0230 x0,0465

0,245=0,0230 x0,0465

0,0230 x=0,149+0,0465

0,0230 x=0,245+0,0465

0,0230 x=0,1955

0,0230 x=0,292

x=8,5 mg /ml

x=12,696 mg/ml

Co=8,5 mg/ml 200 ml=1687 mg

Co=12,696 mg/ ml 200 ml=2539,2 mg

Persen kadar=
FK =

1687 mg
100 = 281,17%
600 mg

5 ml
1687 mg=42,175 mg
200 ml

Persen kadar=
FK =

2539,2 mg
100 =423,2
600 mg

5 ml
2539,2mg=63,48 mg
200 ml

4. Waktu 20 menit serapan = 0,329


2. Waktu 10 menit serapan = 0,219

y=0,0230 x0,0465
0,219=0,0230 x0,0465

0,0230 x=0,219+0,0465
0,0230 x=0,266

x=11,565 mg/ml

y=0,0230 x0,0465

0,329=0,0230 x0,0465
0,0230 x=0,329+0,0465

0,0230 x=0,376
x=16,348 mg /ml

Co=16,348 mg/ ml 200 ml=3269,6 mg

Co=11,565 mg /ml 200 ml=2313 mg

Persen kadar=
FK =

2313 mg
100 =385,5
600 mg

5 ml
2313 mg=57,285 m
200 ml

5. Waktu 30 menit serapan = 0,430

y=0,0230 x0,0465

0,430=0,0230 x0,0465
0,0230 x=0,430+0,0465

0,0230 x=0,477
x=20,739 mg/ml

Co=20,739 mg/ ml 200ml=4147,8 mg


Persen kadar=
FK =

4147,8 mg
100 =691,3
600 mg

5 ml
4147,8 mg=103,895 mg
200 ml

Persen kadar=
FK =

3269,6 mg
100 =544,934
600 mg

5 ml
3269,6 mg=81,74 mg
200 ml

Maka, dapat disimpulkan:


Waktu

Persen terdifusi

281,70%

10

385,50%

15

423,20%

20

544,93%

30

691,30%

Kurva profil difusi asam salisilat terhadap waktu:


1.2
1
0.8
Persen terdifusi

0.6
0.4
0.2
0
5

10 15 20 25 30 35 40 45 50 55
Waktu (menit)

H Pembahasan
I Kesimpulan
J Daftar Pustaka
Martin, Alfred.1993.Farmasi Fisik Jilid I Edisi III.UI-Press : Jakarta