Anda di halaman 1dari 8

TUGAS

ETIKA PROFESI DAN


TATA KELOLA KORPORAT

Kelompok :

Pendidikan Profesi Akuntansi


Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tujuan umum berdirinya sebuah perusahaan adalah untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat, namun tetap memikirkan perolehan keuntungan yang
semaksimal mungkin. Agar tetap menjadi pilihan masyarakat, perusahaan harus
memberikan mutu dan keunggulan yang berbeda dari produk saingannya yang sejenis.
Kenyataannya untuk menjadi yang tebaik dan mempunyai kelebihan tersendiri
dibanding produk saingan memerlukan pembiayaan yang lebih dan akan mengurangi
keuntungan.
Pembuatan produk sejenis yang diproduksi oleh banyak produsen, meskipun
memiliki keunggulan masing-masing, semuanya harus memiliki standar produk yang
sama. Tujuannya adalah untuk menjaga kenyamanan dan keamanan konsumen. Hal ini
yang menjadi tantangan bagi para insyinyur bagaimana merancang produk yang sesuai
standar, memiliki keunggulan tersendiri, namun tetap memperoleh keuntungan
maksimal. Masalah ini dapat dikaitkan dengan etika profesi yang membahas tentang
seorang insyinyur harus memprioritaskan keselamatan konsumen dalam hasil rancangan
produknya. Sehemat apapun rencana biaya yang akan dikenakan pada sebuah produk
tidak boleh memberikan resiko negatif kepada penggunannya, yaitu membahayakan
kesehatan dan keselamatan pengguna.
Contoh kasus nyata pelanggaran dalam etika profesi yang pernah terjadi tentang
prioritas keselamatan konsumen adalah kasus Ford Pinto. Secara garis besar dapat
diceritakan bagaimana perusahaan Ford sebagai salah satu perusahaan penghasil mobil
yang cukup ternama membuat mobil yang sudah diketahui tidak aman untuk konsumen,
namun tetap diproduksi dengan estimasi penghematan biaya perbaikan yang
dibandingkan dengan pengeluaran biaya asuransi bila terjadi kecelakaan untuk
perolehan keuntungan maksimal. Tim kelompok mengangkat studi kasus ini untuk
dibahas dan dianalisis sebagai bahan pembelajaranperkuliahanEtikaProfesidan Tata
KelolaKorporat.

Rumusan Masalah
1. Untuk mengetahui apakah keputusan untuk tidak menginstal rubber bladder sudah
tepat? Untuk mendukung analisis ini, kita menggunakan pendekatan 5 pertanyaan
dalam mengambil keputusan secara etis.
2. Untuk mengetahui kesalahan dalam analisis biaya manfaat oleh Ford?
3. Untuk mengetahui haruskah Ford memberikan pilihan kepada konsumennya dalam
hal penginstalan rubber blader, katakanlah biaya yang dibebankan sebesar $20?
DESKRIPSI KASUS
Pada bulan Mei tahun 1968, Ford Motor Company, berdasarkan rekomendasi saat
itu wakil presiden Lee Iacocca, memutuskan untuk memperkenalkan mobil
terbarunyadalam menghadapi persaingan kuat dari Volkswagen. Demi mendapatkan
pangsa pasar yang besar, mobil tersebut dirancang dan dikembangkan secara cepat di
dalam negeri. Yang di maksud secara cepat di sini adalah bahwa desain dan pengujian
pra produksi biasanya membutuhkan waktu sekitar tiga setengah tahun dan pengaturan
produksi yang sebenarnya agak lebih lama, namun pada kenyataanya desain Ford Pinto
dimulai pada tahun 1968 dan produksi dimulai tahun 1970. Tujuan lain Ford Pinto
adalah memproduksi mobil dengan berat sebesar 2.000 pound, dengan label harga
sebesar $2.000 atau kurang. Dan ternyata selama beberapa tahun penjualan pertama
Pinto bisa dikatakan sangat bagus, karena total penjualan mencapai 3.200.000 unit dari
berbagai varian.
Proyek Pinto diawasi oleh Robert Alexander, wakil presiden teknik mobil, dan telah
disahkan oleh Komite Perencanaan Produk Ford, terdiri dari Iacocca, Alexander, dan
wakil presiden teknik mobil kelompok Ford, Harold MacDonald. Para insinyur di
seluruh Ford yang bekerja pada proyek tersebut bertanggungjawab kepada supervisor
langsung mereka, di mana melaukan hal yang sama selanjutnya kepada atasan mereka,
dan selanjutnya bagi Alexander dan MacDonald dan akhirnya Iacocca.
Banyak laporan yang dilewatkan dalam rantai komando selama desain dan proses
persetujuan, termasuk beberapa diantaranya yang menguraikan hasil tes tumbukan, dan
usulan untuk memperbaiki kecenderungan mobil meledak ke dalam kobaran api ketika
bagian belakang dipacu pada kecepatan 21 mil per jam.
Kecenderungan tersebut disebabkan karena Ford Pinto mengadopsi penempatan
tangki bahan bakar di bagian belakang. Pinto adalah sebuah proyek terburu-buru,

dimulai pada tahun 1968 dan mengambil lebih dari dua tahun untuk mencapai ruang
pamer. Akibatnya, keputusan desain rekayasa datang setelah keputusan gaya ke tingkat
yang lebih besar dari biasanya. Desain ini sangat berbahaya, karena jika terjadi tabrakan
pada bagian belakang Ford Pinto maka bisa menyebabkan ledakan, kemudian disusul
efek domino pintu mobil yang menjadi sulit dibuka sehingga penumpang akan
terperangkap di dalamnya. Selama desain dan produksi, bagaimanapun, tes tabrakan
mengungkapkan cacat serius dalam tangki bensin. Dalam tabrakan lebih dari 25 mil per
jam, tangki bensin selalu pecah. Untuk memperbaikinya diperlukan perubahan dan
memperkuat desain.
Perbaikan yang tersedia untuk Ford termasuk memposisikan tangki gas di atas roda
belakang, yang akan mengurangi ruang bagasi, atau menginstalasi rubber bladder di
tangki bensin. Ford bereksperimen dengan menggunakan instalasi rubber bladder,
tetapi tampaknya memutuskan bahwa bladder karet tidak efektif akan biaya. Kemudian,
sebagai bagian dari upaya lobi yang berhasil terhadap peraturan pemerintah untuk tes
wajib kecelakaan (tes kecelakaan tertunda delapan tahun sampai 1977), analisis biaya
manfaat Ford terungkap dalam studi perusahaan yang berjudul Fatalities Assosiated
with Crash-Included Fuel Leakage and Fires seperti yang telah dijelaskan sebelumnya
biaya instalasi bladder karet jauh melebihi manfaatnya.
Ford mengambil angka $200.000 untuk biaya kematian dari sebuah studi tentang
National Highway Traffic Safety Administration, yang menggunakan perkiraan atau
analisis tabular dalam kasus ini.

PEMBAHASAN MASALAH
1. Untuk mengetahui apakah keputusan untuk tidak menginstal rubber bladder
sudah tepat? Untuk mendukung analisis ini, kita menggunakan pendekatan 5
pertanyaan dalam mengambil keputusan secara etis.
Dalam kasus Ford Pinto ini, desainer dan pihak Ford secara keseluruhan tidak
memikirkan dampak berbahaya yang bisa terjadi. Desain dari mobil Ford Pinto tidak
memikirkan aspek keamanan dan keselamatan bahkan nyawa seseorang. Padahal
mobil ini diproduksi secara massal.Dilihat dari sisi konsumen, keputusan
perusahaan Ford tidak menginstal rubber bladder jelas sangat merugikan, karena

Ford sudah melakukan tindakan kecurangan dengan melakukan penghematan biaya


produksi dan tidak memperhatikan kualitas produk untuk keamanan dan
keselamatan pengendara. Sedangkan dilihat daris sisi Ford, jelas mereka lebih
mencari profit daripada harus menginstal rubber blader untuk keselamatan
penumpang.
Dengan menggunakan Pendekatan 5-Question Framework, maka hal-hal yang
mendukung analisis ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah ini menguntungkan?
Dilihat dari sisi Ford, hal ini sangat menguntungkan karena ini menekan biaya
produksi dengan tidak menginstal rubber bladder, Ford tidak menginstal rubber
bladder karena memakan banyak biaya sebesar $137.500.000, sedangkan jika
rubber bladder tidak dipasang maka biayanya hanya sebesar $49.530.000. Ini
berarti Ford Mobil Company bisa menghemat biaya sebesar $87.970.000.
Sedangkan kalau dilihat dari sisi konsumen ini sangat merugikan karena
keselamatan pengendara dan kualitas produk tidak diperhatikan.
2. Apakah ini sah di mata hukum?
Tidak diperhatikannya keselamatan penumpang serta buruknya kualitas produk
yang dihasilkan, jelas ini tidak sah di mata hukum. Seharusnya Perusahaan Ford
ini tidak layak dipasarkan karena tidak sesuai dengan peraturan pemerintah
dalam hal tes wajib kecelakaan.Perusahaan Ford jelas melanggar legalitas karena
dalam proses uji kecelakaan, Ford melakukan lobby dengan Pemerintah dan uji
kecelakaan ditunda selama 8 tahun, padahal Ford Pinto sudah dijual ke pasaran
sebelum uji kecelakaan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa Ford berusaha
menutupi kecacatan produknya kepada publik dengan tetap menjualnya tanpa
diinstal rubber bladder.
3. Apakah ini adil?
Setelah produk Ford Pinto selesai diproduksi dan diuji kelayakaannya oleh
Ford, ternyata mobil meledak saat ditabrak dari belakang karena tangki bensin
berada tepat dibawah bumper. Ford sendiri sudah mengetahui hal tersebut dan
mengajukan lobby kepada pemerintah untuk menunda uji kecelakaaan selama 8
tahun. Ford juga tidak berusaha menginstal rubber bladder karena biayanya
sangat tinggi. Hal ini tidak fair bagi konsumen/publik karena perusahaan tidak

mementingkan keselamatan penumpang dan perusahaan Ford juga menutupi


kenyataan tersebut dan tetap menjual Ford Pinto ke pasaran
4. Apakah ini benar?
Dalam kasus ini, Ford tidak mementingkan hak-hak konsumen dan tidak
menjamin keselamatan pengguna Ford Pinto. Konsumen/publik seharusnya
berhak mengetahui produk tersebut layak digunakan atau tidak dengan
spesifikasi produk yang jelas. Tetapi Ford justru menyembunyikan kenyataan
tersebut dan sama saja Ford melakukan kebohongan publik.
5. Apakah ini mendukung terhadap pengembangan yang berkelanjutan?
Jika setelah produk Ford Pinto dipasarkan dan terjadi insiden kecelakaan yang
diakibatkan oleh kesalahan Ford yang dengan sengaja tidak menginstal rubber
bladder, maka persepsi negatif masyarakat akan produk tersebut akan muncul
dan hal tersebut bisa merusak reputasi Ford. Hal ini berpengaruh pada
kelangsungan produk Ford Pinto di pasaran. Konsumen/publik menjadi lebih
berhati-hati memilih kendaraan yang aman untuk dikendarai
2. Untuk mengetahui kesalahan dalam analisis biaya manfaat oleh Ford?
Dalam kasus ini, Ford terlalu menekan biaya produksi sebesar $2000 untuk
memproduksi sebuah mobil dengan harapan memperoleh profit sebesar mungkin.
Ford mendesain mobil dengan meletakkan tangki bensin di bawah bumper belakang
dengan harapan membuat bagasi lebih luas. Saat uji kelayakan ternyata Ford Pinto
langsung meledak saat ditabrak dari belakang. Dari uji kelayakan tersebut
seharusnya Ford mendesain ulang Ford Pinto dengan menginstal rubber bladder di
tangki bensin. Tetapi hal tersebut tidak dilakukan karena membutuhkan biaya
sebesar $137.500.000. Apabila Ford tidak menginstal rubber bladder maka biayanya
hanya sebesar $49.530.000 sehingga menghemat $87.970.000. Hal ini menandakan
bahwa Ford tidak ingin kehilangan banyak biaya untuk mendesain ulang Ford Pinto
dengan rubber bladder dan mengesampingkan keselamatan penumpang.
3. Untuk mengetahui haruskah Ford memberikan pilihan kepada konsumennya
dalam hal penginstalan rubber blader, katakanlah biaya yang dibebankan
sebesar $20?
Tidak perlu karena rubber bladder seharusnya diinstal oleh Ford Pinto karena
kesalahan Ford Mobil Company. Konsumen seharusnya tidak perlu dibebani $20
untuk mendapatkan rubber bladder karena itu merupakan tanggung jawab
perusahaan Ford untuk keselamatan para pengguna Ford Pinto. Kebijakan

pembebanan $20 tersebut kami rasa tidak etis karena Ford sekaan-akan ingin
mendapat ganti rugi karena kesalahan mereka sendiri dan jika itu diumumkan ke
publik sama saja memberi tahu publik akan bahaya Ford Pinto tanpa instalasi
rubber bladder.

SARAN DAN KESIMPULAN


Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada kejadian Ford Pinto agar tidak terulang
kembali yaitu :
1. Peninjauan kembali terhadap desain Pinto tersebut. Segala bentuk kekurangan
instalasi baik itu rubber blader ataupun lainnya seharusnya dicermati kembalijangan
sampai ada satupun hal yang terlewati.
2. Dari sisi Pemerintah, ketegasan dalam hal pengawasan uji harusnya lebih
ditingkatkan lagi. Jangan sampai muncul lagi dikemudian hari lobby-lobby yang
pada akhirnya dapat merugikan konsumen, terlebih menyangkut nyawa seseorang.
3. Seharusnya dalam melakukan penjualan suatu produk ke konsumen hendaknya
harus tetap selalu memikirkan segala bentuk aspek yang mengutamakan keamanan
dan keselamatan seseorang dan jangan mementingkan keuntungan yang besar dari
hasil pembuatan produksi tersebut.
Dengan memberikan saran tersebut diharapkan agar tidak terulang kembali yang
banyak menelan korban jiwa. Dampak yang ditimbulkan akibat mengabaikan suatu
etika, apalagi menyangkut jiwa manusia akan memberikan kerugian yang jauh lebih
besar.
Kesimpulan
Dari penjelasan yang telahdipaparkandiatas, bahwa penyebab utama peristiwa
tersebut adalah rancangan mobil yang memiliki resiko besar untuk mengalami
kecelakan. Berdasarkan analisis biaya yang ditemukan perbedaan biaya yang cukup
besar antara melakukan perbaikan rancangan mobil dengan biaya ganti rugi atas hasil
kecelakaan. Biaya ganti rugi atas hasil kecelakaan lebih kecil daripada memperbaiki
rancangan mobil tersebut sehingga diputuskan oleh pihak ford untuk tetap memproduksi

mobil itu. Pihak ford lebih memilih untuk mempertaruhkan nyawa manusia yang besar
asuransinya tidak seberapa dan berbagai tuntutan pengadilan yang diestimasikan tidak
akan menelan biaya begitu besar dibandingkan dengan melakukan perbaikan terhadap
desain mobil.