Anda di halaman 1dari 4

Epistaksis pada Penderita Hipertensi

ABSTRAK
Nama
: Tn. R
Umur
: 42 tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Alamat
: Tengaran, Semarang
Agama
: Islam
Pekerjaan
: Swasta
Status Pernikahan: Menikah
No. RM
: 1617326***
Masuk RS
: 04/03/2016 pukul 18.51 WIB
ISI
Seorang laki-laki usia 42 tahun datang ke IGD dengan keluhan mimisan sejak tadi
malam. Hidung sebelah kanannya mengeluarkan darah segar sejak 2 hari yang lalu, selain itu
hidung sebelah kiri juga semapat mengeluarkan darah setelah hidung kanannya disumbat. Sudah
minum obat dari Puskesmas saat pagi harinya namun perdarahannya masih terulang di
sore/malam harinya. Dari Puskesmas dijelaskan bahwa mimisannya disebabkan karena
kebiasaannya bersin dengan keras, dan hanya diberikan obat yang diminum pada pagi hari.
Riwayat mimisan sekitar 10 tahun yang lalu, sedangkan hipertensi, diabetes, jantung, dan ginjal
disangkalnya. Namun tekanan darahnya saat di IGD dan masih mimisan menunjukkan adanya
hipertensi. Keluarga tidak mempunyai riwayat keluhan serupa maupun penyakit seperti
hipertensi, diabetes, jantung, ginjal, dan stroke. Tanda-tanda vital: TD 151/100 mmHg, N
86x/menit, T 36,6oC, RR 18x/menit dengan SpO2 97%. Status lokalis didapatkan nasal dextra
terlihat adanya perdarahan yang mengalir, sedangkan nasal sinistra tampak ada bekas darah, post
nasal drip tidak terlihat jelas namun pasien mengaku sebelumnya merasakan keleler-keleler
seperti menelan darah.

DIAGNOSIS
Diagnosis kerja Epistaksis posterior
Diagnosis banding Epistaksis anterior

TERAPI
Hari I

Inf. RL 20 tpm

Inj. Asam tranexamat 3 x 500 mg


Inj. Vitamin K 1 ampul
Cek darah rutin cito
Pasang tampon nasalis dextra

Hari II

Aff tampon nasalis dextra ulangi pasang tampon, berikan tampon kapas yang baru dan
telah dibasahi dengan adrenalin 1 : 10.000 lalu tunggu selama 3-5 menit dan pastikan
sudah tidak ada perdarahan
BLPL
BNS 3 x 3 spray
Neurodex 2 x 1 tablet

DISKUSI
Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung, rongga hidung atau
nasofaring dan mencemaskan penderita serta para klinisi. Epistaksis bukan suatu penyakit,
melainkan gejala dari suatu kelainan yang mana hampir 90% dapat berhenti sendiri. Berdasarkan
lokasi sumber perdarahannya, epistaksis dapat dibagi menjadi epistaksis anterior (dari pleksus
Kiesselbach atau dapat juga dari bagian depan konkha inferior) dan epistaksis posterior (dari
pleksus Woodrooff). Pendarahan pada epistaksis anterior biasanya menetes dan dapat berhenti
sendiri, berbeda dengan epistaksis posterior yang biasanya hebat dan jarang berhenti dengan
sendirinya.
Epistaksis posterior sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau
pasien dengan penyakit kardiovaskuler. Ada 2 hipotesis yang menerangkan kenapa epistaksis
dapat terjadi pada pasien-pasien dengan hipertensi. Pertama, hipertensi yang lama memiliki
kerusakan pembuluh darah yang kronis, ini berisiko terjadi epistaksis terutama pada kenaikan
tekanan darah yang abnormal. Kedua, epistaksis dengan hipertensi cenderung mengalami
perdarahan berulang pada bagian hidung yang kaya dengan persarafan autonom yaitu bagian
pertengahan posterior dan bagian diantara konka media dan konka inferior.
Lesi lokal di hidung yang menyebabkan stagnan aliran pembuluh darah seperti infeksi,
atau penyebab lainnya yang menghancurkan dinding pembuluh darah atau mukoperiostealnya
yang dapat menjadi pemicu terjadinya epistaksis, maka hipertensi dan aterosklerosis baru akan
memainkan peranannya dalam memperberat epistaksis. Ada 3 faktor lain yang dapat membuat
samar diagnosis epistaksis yang disebabkan oleh hipertensi yaitu: 1) kelainan anatomi hidung, 2)
bukti adanya kerusakan organ target lain dan 3) kelainan hemostasis. Dalam suatu penelitian
didapatkan dari 213 orang pasien yang datang ke unit gawat darurat dengan epistaksis,
mempunyai tekanan darah sistolik 161 (157-165) mmHg dan tekanan darah diastolik 84 (82-86)
mmHg serta pada hipertensi stadium 3 (180/110 mmHg). Hipertensi tidak berhubungan

dengan beratnya epistaksis yang terjadi, tetapi hipertensi terbukti dapat membuat kerusakan yang
berat pada pembuluh darah di hidung (terjadi proses degenerasi perubahan jaringan fibrous di
tunika media) yang dalam jangka waktu lama merupakan faktor risiko terjadinya epistaksis.
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan perdarahan,
mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis. Penatalaksanaan epistaksis dengan
hipertensi secara umum sama dengan kasus epistaksis lainnya. Penilaian pertama yang harus
dilakukan adalah menilai stabilitas hemodinamik pasien. Kehilangan darah yang banyak serta
diperhatikan tanda-tanda terjadinya syok hipovelemik. Salah satu manifestasi klinis yang
tersering adalah epistaksis yang berulang hingga memerlukan transfusi darah. Bila perlu dengan
pemasangan suatu tampon hidung anterior atau posterior dan transfusi plasma kriopresipitat,
faktor VIII atau faktor pembekuan lain. Ligasi terhadap arteri sfenopalatina dan nasalis posterior
dengan menggunakan metode endoskopi berhasil menghentikan epistaksis yang berulang. Hal
yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan epistaksis dengan hipertensi adalah penanganan
lanjutan untuk hipertensinya setelah mereka mendapatkan pengobatan di unit gawat darurat.

KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik serta laboratorium pada pasien ini dapat
disimpulkan bahwa pasien mengalami epistaksis posterior et causa hipertensi. Prinsip
penatalaksanaan epistaksis dengan hipertensi secara umum sama dengan kasus epistaksis
lainnya, namun hal yang tidak kalah pentingnya dalam penanganan epistaksis dengan hipertensi
adalah penanganan lanjutan untuk hipertensinya. Pada pasien ini epistaksis dapat berhenti jika
tekanan darahnya kembali normal, dan dapat terulang lagi epistaksisnya jika tekanan darahnya
naik. Hubungan hipertensi dengan terjadinya epistaksis masih belum jelas, perubahan endotel
pembuluh darah arteri pada kasus hipertensi menjadi dasar adanya hubungan antara epistaksis
dengan hipertensi.

REFERENSI
1. Abelson TI. Epistaksis dalam: Scaefer, SD. Rhinology and Sinus Disease Aproblem-Oriented
Aproach. St. Louis, Mosby Inc, 1998: 43 9.
2. Ballenger JJ. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Alih bahasa staf ahli bagian
THT FK UI. Jilid 1. Edisi 13. Jakarta, Binarupa Aksara,1994: 1 27, 112 6.
3. Herkner H, Laggner AN, Muller M, Formanek M, Bur A et al. Hypertension in Patients
Presenting With Epistaxis. Annals of Emergency Medicine 2000; 35(2): 126-30.
4. Ibrashi F, Sabri N, Eldawi M, Belal A. Effect of Atherosclerosis and Hypertension on Arterial
Epistaxis. J Laryngol Otol 1978; 877-81.

5. Knopfholz J, Lima JE, Neto DP, Faria NJR. Association between Epistaxis and Hypertension: A
one year Follow-up After an Index Episode of Nasal Bleeding in Hypertension Patients.
International Journal of Cardiology 2009; 134: 107-9.
6. Lubianca JF, Fuchs FD, Facco Sr et al. Is Epistaxis Evidence of End Organ Damage in Patients
With Hypertension? Laryngoscope 1999; 109: 1111-5.
7. Massick D, Tobin EJ. Epistaxis. In: Cummings CW, Flint DW, Harker LA et al editors.
Cummings Otolaryngology Head & Neck Surgery, 4th Ed Vol 2. Philadelphia : Elsevier
Mosby, 2005. 942-61.
8. Nuty WN, Endang M. Perdarahan hidung dan gangguan penghidu, Epistaksis. Dalam: Buku ajar
ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Edisi 3. Jakarta, Balai Penerbit FK UI, 1998: 127
31.
9. Schwartzbauer HR, Shete M, Tami TA. Endoscopic Anatomy of the Sphenopalatine and
Posterior Nasal Arteries: Implications for the Endoscopic Management of Epistaxis.
American Journal of Rhinology 2003; 17(1): 63-6.
10. Wormald PJ. Epistaxis. In: Bailey BJ, Johnson JT et al editors. Otolaryngology Head and Neck
Surgery, 4th Ed Vol 1. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2006. p. 506-14.
PENULIS
Hanifah Khoirunnisa, Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok, RSUD Kota
Salatiga, Jawa Tengah.
Dokter pembimbing klinik: dr. Yunie Wulandari, Sp.THT-KL.