Anda di halaman 1dari 7

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

DAFTAR PERTANYAAN
SEMINAR HASIL
1. Bagaimana mekanisme perbaikan sel hepatosit oleh
propolis terhadap histopatologi hepar?
JAWAB:
Terapi ekstrak etanol propolis Trigona sp. mengandung
senyawa flavonoid yang mampu menjadi antioksidan dan
antiinflamasi. Flavonoid merupakan antioksidan yang kuat
dalam meredam radikal bebas dan mampu meningkatkan
fungsi dari antioksidan endogen, memperbesar level enzim
antioksidan.

Kandungan

flavonoid

pada

ekstrak

etanol

propolis Trigona sp. sebagai antioksidan mampu memberikan


satu atom hidrogen (H+) kepada radikal bebas sehingga
radikal bebas menjadi lebih stabil. Jika radikal bebas tersebut
stabil, maka peroksidase lipid membrane sel akan berkurang,
dan mampu menekan kerusakan membrane sel.
Flavonoid mampu menghambat sel T helper 2 (Th2)
sehingga TNF-, IL-4, IL-13 menjadi tidak teraktivasi. TNF-
yang tidak teraktivasi maka dapat menghambat produksi
neutrofil

sehingga

produksinya

menurun,

dan

tidak

teraktivasinya IL-4 dan IL-13 akan membantu menekan


terjadinya inflamasi. Penghambatan pada produksi neutrofil
dapat

membantu

dalam

menurukan

pelepasan

enzim

protease sehingga enzim proteolitik terhambat dan dapat


menurunkan tingkat kerusakan pada hepar melalui proses
regenerasi sel. Kerusakan jaringan akibat zat toksik memicu
terjadinya

pembelahan

sel

sampai

perbaikan

jaringan

tercapai. Oleh karenanya hepar memiliki daya regenerasi


yang tinggi dibandingkan organ lain, maka hepar akan
melakukan mekanisme regenerasi sel jaringan mengalami
perbaikan.

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

Proses regenerasi sel diperlukan oleh organ/jaringan untuk


memperbaiki

sel

yang

mengalami

kerusakan.

Proses

perbaikan pada kelompok terapi ekstrak etanol propolis


Trigona sp. diawali dengan terjadi proses inflamasi. Jaringan
yang mengalami inflamasi akan beradaptasi, namun saat
jaringan tersebut sudah tidak dapat melakukan adaptasi maka
jaringan akan menjadi nekrosis. Jaringan nekrosis akan
difagosit oleh makrofag dan neutrofil dengan tujuan untuk
mengawali proses perbaikan jaringan. Inflamasi merupakan
respon jaringan protektif terhadap kerusakan jaringan, yang
bertujuan

untuk

menghancurkan,

mengurangi

jaringan

nekrotik. Respon inflamasi bertujuan untuk membersihkan


debris

atau

penyembuhan.

mempersiapkan
Proses

jaringan

selanjutnya

untuk

adalah

proses

proliferasi.

Proliferasi merupakan tahap pembelahan sel sehingga akan


terbentuk jaringan yang baru yang akan menggantikan
jaringan yang

mengalami

nekrosis.

Jaringan

baru

yang

terbentuk akan berdiferensiasi menjadi sel-sel hepatosit. Sel


hepatosit

tersebut

memiliki

sifat

khusus

yaitu

dapat

menjalankan fungsi kerja sebagaimana sel hepatosit.


2. Bagaimanakah peran SGPT dalam keadaan normal?
JAWAB:
Enzim ini secara normal terdapat dalam sitoplasma sel
hati, akan tetapi enzim ini akan keluar ke cairan ekstraseluler
bila ada gangguan permeabilitas membrane. Kebocoran
membrane terjadi karena adanya gradient konsentrasi yang
tinggi antara lingkungan intraseluler dan ekstraseluler.
3. Bagaimana mekanisme keluarnya SGPT?
JAWAB:
Enzim SGPT keluar menuju kedalam

aliran

disebabkan karena beberapa faktor.


a. Perubahan-perubahan permeabilitas plasma sel hati

darah

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

Pada jaringan yang normal muatan elektrolit di luar sel dan


di dalam sel berada dalam keadaan setimbang. Untuk
mencapai keadaan setimbang tersebut sel melakukan
proses transport aktif Na+ dan K+ dengan menggunakan
energy yang berasal dari metabolism basal. Jika terjadi
kerusakan sel, maka sel tidak mampu memompa ion Na+
keluar dari sel. Adanya ion Na+ yang berlebihan dalam sel
akan menyebabkan terjadi perubahan morfologis sel yang
disebut

pembengkakan.

Ketika

sel

telah

mengalami

pembengkakan, maka lama-kelamaan sitoplasma akan


pecah, sehingga enzim yang ada di dalam intraseluler akan
keluar menuju sirkulasi darah.
b. Perubahan pada jaringan hati yang berhubungan dengan
permeabilitas sel hati dan kebocoran, termasuk:
- Adanya mikrolesi yang tidak terlihat secara makroskopik
biasanya bersifat reversible.
4. Apabila ROS berikatan dengan organela di dalam sel,
maka

membrane

akan

rusak.

Hubungan

antara

organela dengan kerusakan membrane seperti apa?


JAWAB:
Radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh, akan
berikatan dengan membrane fosfolipid, sehingga akan terjadi
proses autolysis. Apabila terjadi proses autolysis, maka akan
mengakibatkan disorganisasi sistem membrane,

sehingga

enzim yang berada didalam intra seluler akan melakukan


kontak dengan organel lain dan menghancurkannya. Apabila
organel

kontak

dengan

enzim

tersebut,

maka

akan

mengganggu proses metabolism sel. Seperti mitokondria,


mitokondria
mampu

akan

mengalami

menjalankan

glukanase

akan

kerusakan

fungsinya

secara

menghancurkan

sehingga
normal.

dinding

sel

tidak
Enzim
yang

menyebabkan dinding sel menjadi berpori. Selain itu, jika


membrane fosfolipid diikat oleh ROS, maka akan terjadi

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

peningkatan permeabilitas membrane, sehingga membrane


akan rusak dan terjadi kematian sel.
5. Perbedaan antara degenerasi hidropis dan degenerasi
lemak? Serta perbedaan karioreksis dan piknosis?
JAWAB:
Degenerasi lemak merupakan perubahan morfologi dan
penurunan

fungsi

organ

hepar

yang

disebabkan

oleh

akumulasi lemak yang terdapat di dalam sitoplasma sel hepar,


sehingga pada sel terlihat bercak-bercak lemak kecil berwarna
jernih. Perlemakan, ditandai dengan adanya penimbunan
lemak dalam parenkim hepar, dapat berupa bercak, zonal
atau merata. Pada pengecatan inti terlihat terdesak ke tepi
rongga sel terlihat kosong diakibatkan butir lemak yang larut
pada saat pemrosesan.
Degenerasi
hidropis

(Pembengkakan

sel)

adalah

bertambahnya ukuran sel akibat penimbunan air dalam sel,


dimana sel hepar membesar yang mengakibatkan sinusoid
menyempit sehingga aliran darah terganggu. Pembengkakan
sel disebabkan karena peningkatan permeabilitas sel, dimana
sel tidak mampu mempertahankan homeostatis ion dan cairan
sehingga terjadi perpindahan cairan ekstrasel ke dalam sel.
Pembengkakan sel hepar ditandai dengan adanya vakuola
akibat

membengkaknya

hepatosit

yang

menyebabkan

sinusioid menyempit dan sitoplasma tampak keruh.


6. Bagaimana cara mengisolasi serum?
JAWAB:
Setelah tikus dibedah, kemudian darah diambil menggunakan
spuit 5 cc melalui intra cardial. Pengambilan darah dilakukan
dengan hati-hati, agar darah di dalam jantung dapat diambil
secara sempurna. Posisi spuit harus 450 supaya darah mudah
diambil. Kemudian darah didalam spuit dipindah kedalam
tabung venoject dengan tutup berwarna merah (tanpa EDTA),
lalu dimiringkan dengan posisi 450 agar didapatkan serum.

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

7. Apakah perbedaan serum dan plasma?


JAWAB;
a. Plasma adalah cairan berwarna kuning muda yang didapat
dengan cara memutar sejumlah darah yang sebelumnya
ditambah dengan antikoagulan.
Kandungannya:

b. Serum adalah komponen yang bukan berupa sel darah,


juga bukan faktor koagulasi. Serum juga disebut sebagai
plasma darah tanpa fibrinogen. Serum darah terdiri dari
semua protein (yang tidak digunakan untuk pembekuan
darah)

termasuk

cairan

elektrolit,

antibody,

antigen,

hormone, dan semua substansi eksogen.


Cara meletakkan tabung harus diposisikan miring agar
serum yang keluar volumenya lebih banyak. Bila tabung
dimiringkan maka sel-sel akan menempuh jarak pendek
kedinding tabung kemudian menggelincir kedasar tabung.
Hasilnya: sedimentasi sel menjadi lebih cepat.
8. Apakah maksud dari radikal bebas?
JAWAB:
Radikal bebas (Bahasa Latin: radicalis) adalah molekul
yang mempunyai sekelompok atom dengan elektron yang
tidak berpasangan. Radikal bebas adalah bentuk radikal yang
sangat reaktif dan mempunyai waktu paruh yang sangat
pendek. Jika radikal bebas tidak diinaktivasi, reaktivitasnya

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

dapat merusak seluruh tipe makromolekul seluler, termasuk


karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat.
9. Ketika setelah diberi antioksidan, bagaimana kondisi
SGPTnya?
JAWAB:
Kandungan flavonoid di dalam propolis Trigona sp. dapat
menurunkan

efek

dari

radikal

bebas

dengan

cara

menghambat peroksidase lipid melalui aktivasi peroksidase


terhadap hemoglobin, yang merupakan antioksidan endogen
(enzimatis). Peroksidase berfungsi untuk mencegah terjadinya
penimbunan H2O2 yang akan menjadi berbahaya jika berikatan
dengan O2-, karena dapat membentuk radikal OH yang
merupakan radikal bebas paling efektif dan dapat merusak
membrane sel dengan memutus asam lemak tak jenuh
Pemberian dosis ekstrak propolis Trigona sp. yang berbeda
memberikan hasil yang berbeda pula. Dari hasil penelitian
dosis 0,12 mL/ekor paling baik dalam menghambat kenaikan
kadar SGPT. Pada perlakuan 5 menunjukkan hasil yang lebih
rendah daripada perlakuan lainnya. Penurunan kadar SGPT ini
disebabkan

oleh

kemampuan

flavonoid

yang

berfungsi

sebagai antioksidan sehingga menetralisir metabolik toksik


hasil metabolisme kloramfenikol. Pemberian propolis Trigona
sp. ini juga mampu menghambat dan mencegah terjadinya
oksidasi selular dan inflamasi, dua faktor utama yang dapat
menyebabkan

kerusakan

sel

hepatosit,

sehingga

dapat

menghambat kenaikan kadar SGPT dalam darah. Semakin


tinggi dosis ekstrak propolis Trigona sp. semakin besar
penurunan kadar SGPT yang terjadi. Propolis memiliki aktivitas
anti inflamasi yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh
karena memiliki kandungan CAPE (Caffeic Acid Phenetyl Ester)
di dalamnya. Selainitu CAPE merupakan salah satu komponen
yang terkandung dalam propolis dan memiliki efek sebagai

FITRIYATUNNISA ZULISA/115130101111055

anti inflamasi, anti viral, anti kanker, imunomodulator dan


antioksidan dengan mekanisme menghambat tiap produksi
Reaktive Oxygen Species (ROS).
10. Apakah pengertian dari xenobiotik?
JAWAB:
Xenobiotik adalah komponen yang tidak memiliki nilai gizi
dan berpotensi toksik. Salah satu contoh komponen xenobiotik
adalah obat. Komponen ini akan diekskresikan oleh ginjal,
akan tetapi untuk proses eliminasi yang sempurna, maka
perlu adanya pengubahan komponen menjadi hidrofilik (larut
dalam air). Proses konversi menjadi komponen yang larut
dalam air tersebut dilakukan oleh hepar