Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
Malaria adalah penyebab paling sering kematian dan kesakitan pada anakanak dan dewasa, khusunya di negara tropis. Pengendalian malaria memerlukan
pendekatan terpadu yang meliputi prevensi (terutama pengendalian vektor) dan
terapi yang cepat dengan antimalaria yang efektif. Diperkirakan 35% penduduk
Indonesia tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria. Dari 484
Kabupaten/Kota yang ada di Indonesia, 338 kabupaten/kota erupakan wilayah
endemis malaria. Daerah dengan malaria klinis tinggi masih dilaporkan dari
kawasan Timur Indonesia yaitu provinsi Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku,
Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tenggara. Kasus malaria dilaporkan cukup tinggi
pada provinsi Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Bengkulu,
dan Riau.
Di daerah Jawa Bali, masih terjadi fluktuasi dari angka kesakitan malaria
yang diukur dengan annual parasite incidence (API) yaitu 0,95% pada tahun
2005, meningkat menjadi 1,9 pada tahun 2006 dan menurun kembali menjadi
1,6% pada tahun 2007. Jumlah penderita positif malaria di luar Jawa Bali diukur
dengan annual malaria incidence (AMI) menurun dari 24,75% pada tahun 2005
menjadi 23,98% pada tahun 2006 dan menjadi 19,67% pada tahun 2007.
Sedangkan angka kematian karena malaria berhasil ditekan dari 0,92% pada tahun
2005 menjadi 0,42% pada tahun 2006 dan menurun kembali menjadi 0,2% pada
tahun 2007.
Upaya untuk menekan angka kesakitan dan kematian dilakukan melalui
program pemberantasan malaria yang kegiatannya antara lain meliputi diagnosis
dini, pengobatan cepat dan tepat, surveilans dan pengendalian vektor yang
kesemuanya ditujukan untuk memutus mata rantai penularan malaria.
Upaya untuk menanggulangi hal tersebut, pemerintah Indonesia telah
merekomendasikan

obat

pilihan

pengganti

kloroquin

dan

sulfadoksim-

pirimethamin (SP) terhadap plasmodium yaitu kombinasi artemisinin (Artemisinin


Combination therapy/ACT). Pada tahun 2006, WHO telah menerbitkan pedoman

terapi malaria edisi pertama, dan sebagian besar negara endemis P.falciparum
telah memperbarui kebijakan terapi dari kloroquin (CQ) dan sulfadoksinpirimethamin (SP) menjadi terapi ACT.