Anda di halaman 1dari 28

TUGAS MATA KULIAH POLITIK HUKUM

RINGKASAN & TANGGAPAN


HAK ASASI MANUSIA DALAM TRANSISI POLITIK DI INDONESIA

DOSEN: Prof. Dr. Satya Arinanto S.H., M.H.

Nama

: Gloritho Latuny

NPM

: 1506780273

No Presensi : 19
Kelas

: B - Hukum Ekonomi Sore

PROGRAM PASCASARJANA ILMU HUKUM


FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA
2016
RINGKASAN

I;

Transisi Politik Menjadi Demokrasi

A; Dari Otoritarianisme ke Demokrasi : Kemunculan Negara-negara Demokrasi


Baru
Semenjak tahun 1970-an, telah terdapat gelombang pasang yang nyata dari
demokrasi-demokarasi baru yang muncul dari negara-negara yang masa lalunya
bersifat otoriter atau totaliter. Negara tersebut harus berekonsialisasi dengan
warisan masa lalunya yang berupa pelanggaran-pelanggaran HAM serta,
mengadopsi berbagai mekanisme yang berbeda dengan masa lalunya.
Menurut Samuel P.Huntington, dalam 2-3 dekade terakhir terlah terjadi
revolusi politik yang luar biasa dimana transisi dan otoritarianisme menuju
demokrasi telah terjadi di lebih 40 negara. Rezim otoritatian sebelumnya berubah
signifikan, termasuk pemerintahan militer di Amerika Latin dan sebagainya; rezim 1
partai komunis di Negara komunis, juga Taiwan;dictator personal di Spanyol,
Filipina, Rumania, dan dimana saja; serta oligarki rasial di Afrika Selatan. Proses
transisi menuju demokrasi ini juga bervariasi.
Dalam beberapa kasus di Negara Rezim Militer, kelompok reformis menguat
dalam rezim otoriter dan mengambil inisiatif untuk mendorong transisi salah satunya
muncul dari negosiasi antara pemerintah dengan kelompok oposisi. Ada juga yang
lahir dari digusurnya atau ambruknya rezim otoritarian. Terdapat intervensi Amerika
Serikat dalam menjatuhkan kedikdatoran dan menggantikannya dengan rezim yang
dipilih rakyat.
Menurut pandangan Anthony Giddens, tema-tema tentang berakhirnya politik,
dan Negara yang dilanda oleh pasar global, menjadi begitu menonjol dalam
literature akhir-akhir ini, sehingga apa saja yang bisa dicapai oleh pemerintah dalam
2

dunuia kontemporer saat ini layak diulang kembali. Dalam persfektif ini keberadaan
pemerintah adalah untuk:
1;

Menyediakan sarana untuk perwakilan kepentingan yang beragam;

2;

Menawarkan sebuah forum untuk rekonsiliasi kepentingan-kepentingan yang


saling bersaing;

3;

Menciptakan dan melindungi ruang publik yang terbuka, dimana debat bebas
mengenai isu kebijakan bisa terus dilanjutkan;

4;

Menyediakan beragam hal untuk memenuhi kebutuhan warga negara,


termasuk bentuk-bentuk keamanan dan kesejahteraan kolektif;

5;

Mengatur pasar menurut kepentingan publik dan menjaga persaingan pasar


ketika monopoli mengancam;

6;

Menjaga keamanan sosial melalui kontrol sarana kekerasan dan melalui


penetapan kebijakan;

7;

Mendukung perkembangan sumber daya manusia melalui peran utamanya


dalam sistem pendidikan;

8;

Menopang sistem hukum yang efektif;

9;

Memainkan peran ekonomis secara langsung, sebagai pemberi kerja dalam


intervensi makro maupun mikro ekonomi, plus infrastruktur;

10; Membudayakan masyarakatpemerintah merefleksikan nilai norma yang


berlaku secara luas, tetapi juga bisa membantu membentuk nilai dan norma
tersebut, dalam sistem pendidikan dan sistem-sistem lainnya;
11; Mendorong aliansi regional dan transnasional, serta meraih sasaran-sasaran
global.
Jika tidak didera oleh krisis ekonomi dan moneter, John Naisbitt telah
memprediksikan adanya 8 (delapan) kecenderungan besar yang membentuk
kembali perekonomian, pemerintahan dan kebudayaan di Asia sehingga akan
3

menjadi rival Barat dalam hal kekuatan dan pengaruh. Delapan kecenderungan
tersebut adalah :
1;

From nations-states to networks;

2;

From traditions to options;

3;

From export-led to consumer driven;

4;

From government-controlled to market-driven;

5;

From farms to suppercitys;

6;

From labor-intensive industry to high technology;

7;

From male dominance to the emergence of women;

8;

From West to East.


Dalam persfektif hukum tata Negara, kecenderungan keempat (from

government-controlled to market-driven) telah pula menimbulkan diskursus tentang


memudarnya batas-batas antarnegara (a borderless world), yang cenderung
membentuk suatu bangsa tanpa Negara.
Menurut pandangan Guibernau, bangsa tanpa Negara setidak-tidaknya akan
menghadapi 3 dilema sebagai berikut:
1; How to deal with internal diversity;
2; How to avoid violence as a strategy to achieve further autonomy and
recognition; and
3; How to avoid the creation of an expensive bureaucratic machine adding a
further of government to an already saturated political structure.
Persfektif lain yang juga penting ialah perbedaan antara rezim otoritarian
yang satu dengan yang lain. Berdarkan hasil studi rezim otoritarian berbeda, tidak
ada rezim otoritarian yang bisa dianggap monopolitik, dan juta tidak ada kekuatankekuatan lainnya yang memperjuangkan demokrasi yang dapat dianggap seperti itu.
Perbedaan-perbedaan demokarasi dan poliarki; antara demokrasi dan liberasisasi;
4

antara transisi dengan konsolidasi; antara kaum garis-keras dengan kaum garislunak atau para akomodasionis dalam koalisai otoritarian; dan anatara kaum
maksimalis, moderat, dan oportunis dalam koalisi yang mendukung liberalisasi.
Menurut Franz Magnis-Suseno, totaliterisme adalah istilah ilmu politikuntuk
menyebut suatu gejala paling mengejutkan dalam sejarah umat manusia, suatu
gejala yang secara mendadak mencuat dalam bagian pertama abd ke-20 yang baru
lalu. Dapat disimpulkan bahwa Negara totaliter adalah sebuah sistem politik yang
dengan

melebihi

bentuk-bentuk

kenegaraan

despotik

tradisional-secara

menyerluruh mengontrol, menguasai, dan memobilisasikan segala segi kehidupan


masyarakat.
Menurut George Orwell dalam bukunya Animal Farm.

Penguasa totaliter

tidak hanya mau memimpin tanpa gangguan dari bawah; ia tidak hanya mau
memiliki monopoli kekuasaan; juga bagaimana masyarakat hidup dan mati; bangun,
tidur, makan, belajar dan bekerja. Mengontrol apa yang mereka fikirkan, siapa yang
tidak ikut, akan dihancurkan.
Arendt membahas 2 rezim totaliter yang paling kondang yaitu pemerintahan
Nasional-Sosialisme (Nazi) dibawah kekuasaan Adolf Hitler (1933-1945) di Jerman
dan dalam kekuasaan Bolshevisme Soviet di bawah Jossif W.Stalin (1922-1953).
Salah satu contoh lain Negara totaliter di Asia adalah di Kamboja setelah Khmer
Merah mengambil alih kekuasaan.
Magnis-Suseno menyimpulkan bahwa Aendt termasuk orang pertama yang
mengarahkan perhatian pada kesamaan 2 rezim yang perbedaannya hanya di
permukaan. Thesis Arendt bahwa Bolshevisme dan Nasionalis-Sosialisme Keduaduanya- pada hakekatnya merupakan bentuk totaliterisme.
5

Menurut Lowenthal rezim-rezim otoritarian tidak dapat disamakan karena


muncul berbagai kasus-kasus memperlihatkan bahwa faktor-faktor internasionalsecara langsung atau tidak langsung- mungkin mengkondisi dan mempengaruhi
jalannya transisi, namun yang menjadi partisipan utama dan memberikan pengaruh
dominan berasal dari dalam negeri serta pentingnya lembaga-lembaga, prosedurprosedur, dan forum-forum yang membantu melegitimasi para penguasa diskursus
politik dlam masa transisi politik.
Hal yang sangat penting dalam kasus di atas adalah kepemimpinan dan
pertimbangan politis, peran individu-individu dalam proses historis yang kompleks,
ketepatan waktu. Kerumitan dari proses yang panjang menunjukkan berbagai cara
bagaimana transisi menghasilkan kejutan-kejutan, dan beberapa ironi dan parodok
yang dihasilkannya.
Berbagai cara transisi-transisi dari pemerintahan otoritarian dikondisi dan
dibentuk oleh keadaan-keadaan historis-yang mungkin unik di setiap Negara,
namun mengambil pola-pola yang bisa diramalkan-tentang bagaimana cara rezim
sebelumnya runtuh, oleh sifat dan lamanya periode otoritarian, oleh sarana yang
dipakai

rezim

otoritarian

untuk

memperoleh

legitimasi

dan

untuk

menanganiancaman-ancaman pada kekuasaannya, oleh inisiatif dan ketepatan


waktu gerakan-gerakan eksperimental kearah liberalisasi, oleh tingkat keamanan
dan keyakinan diri kelompok-kelompok elit rezim dan oleh keyakina

dan

kompetensi dari mereka yang memperjuangkan terbukanya prosespolitik, oleh ada


atau tidak adanya sumber daya financial, oleh pengaruh dari pihak-pihak luar, dan

oleh mode internasional yang memberikan legitimasi pada bentuk-bentuk transisi


tertentu.

B; Reposisi Hubungan Sipil-Militer


Menurut

Huntington

sesungguhnya

semua

rezim

otoritarian

apapun

mempunyai kesamaan, yaitu hubungan sipil-militer yang tidak begitu diperhatikan.


Hampir tidak ada hubungan sipil-militer seperti di negara demokrasi yang disebut
dengan kontrol sipil objektif Objective civilian control).
Istilah tersebut di atas mengandung hal-hal sebagai berikut:
1; Profesionalisme militer yang tinggi dan pengakuan dari pejabat militer akan
batas profesionalisme;
2;

Subordinasi yang efektif dari militer kepada pemimpin politik yang membuat
keputusan pokok tentang kebijakan luar negeri dan militer;

3;

Pengakuan dan persetujuan dari pihak pemimpin poltitik tersebut atas


kewenangan profesional dan otonomi bagi militer; dan akibatnya

4; Minimalisasi intervensi militer dalam politik dan minimalisasi intervensi politik


dalam militer.
Dalam rezim militer tidak ada control sipil, dan pemimpin serta organisasi
militer sering melakukan fungsi yang luas dan bervariasi yang jauh dari misi militer
yang normal. Dalam kediktatoran personal, penguasa melakukan aoa saja untuk
memastikan bahwa militer disuspi dan dikontrol oleh kaki tangan dan kroni-kroninya,
yang memecah belah dan bekerja untuk menjaga cengkeraman kekuasaan dictator.
Dalam pemerintahan satu partai, hubungan sipil-militer tidak begitu berantakan,
tetapi militer dipandang sebagai instrumen dari partai; pejabat militer harus
merupakan anggota partai; komisaris politik dan unsure-unsur partai parallel dengan

rangkaian komando militer, dan loyalitas tertingginya lebih diutamakan kepada


partai daripada kepada negaranya.
Negara-negara demokrasi baru menghadapi tantangan yang serius untuk
mereformasi hubungan sipil-militer mereka secara drastis diantaranya: membangun
kekuasaan di wilayah public, merancang konstitusi baru, menciptkan sistem
kompetisi partai dan institusi-institusi demokarasi lainnya, liberalisasi, privatisasi,
dan bergerak ke arah ekonomi dengan menahan laju inflasi dan pengangguran
mengurangi defisit anggaran, membatasi kejahatan dan korupsi, serta mengurangi
ketegangan dan konflik antaretnis dan kelompok agama.
Dalam sistem monarki tradisional, militer hanyalah berperan sebagai
semacam

penjaga

malam

(nahtwachterstaat),

atau

yang

dalam

sistem

pemerintahan modern disebut sebagai fungsi pertahanan keamanan (hankam).


Fungsi inilah yang dibedakan secara tajam dengan fungsi sipil yang mencaku
seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, kecuali hankam.
Di Negara-negara maju seperti Amreikapemimpin melakukan fungsi yang
luas bekerjasama dalam kuasa diktator. Ini merupakan tantangan demokrasi untuk
mereformasi hubungan sipil-militer. Negara harus membangun sistem kompetisi
partai dan institusi demokrasi lainnya, untuk bergerak ke arah ekonomi pasar,
meningkatkan ekonomi, menekan pengangguran, mengatasi kejahatan, korupsi,
dan konflik. Di Indonesia dominasi besar dan hegemoni dari militer pada masa
Orde Baru merupakan faktor struktural yang sangat sulit dinetralisir oleh kekuatan
sipil. Apalagi peran TNI yang sangat besar pada era Orde baru hingga mempunyai
kedudukan di DPR.

C. Perumusan Kebijakan Baru Untuk Menyelesaikan Rezim Sebelunya


Dengan perubahan politik dari totaliter ke demokrasi (transisi politik), maka
diperlukan kebijakan baru yang menurut Solon adalah memberikan perlindungan
8

terhadap populasi penduduk. Langkah ini disebut dengan kekuasaan hukum termasuk
di dalamnya adalah instrumen demokratis dari majelis rakyat, pengadilan yang adil, dan
perlindungan terhadap hak-hak anak. Kebijakan-kebijakan baru diperlihatkan oleh
Spanyol yang sejak 1939 dipimpin oleh Jendral Francisco Franco secara diktator yang
akhirnya pada tahun 1980-an diganti dengan rezim demokratis. Begitupula dengan
Chile yang telah membuka pelanggaran HAM di masa totaliter hingga permintaan maaf
untuk para korban.
Pada

pengadilan

atas

segala

tuntutan

untuk

kejahatan-kejahatan

dan

pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para diktator sebelumnya harus


dilakukan di bawah kondisi legitimasi yang ketat, dan didasarkan pada penghormatan
terhadap aturan-aturan hukum. Sebagai pedoman, Bronkhorst mengambil contoh dari
tokoh bernama Solon dari masa sejarah filsafat Yunani yang merevisi drastis sistem
sosial, ekonomi, politik Athena yang mencerminkan kebijakan pemerintahan modern
dalam mengadakan rekonsiliasi.
D. Demiliterisasi Tidak Hanya Berkaitan dengan Militer
Dalam wacana transisi politik, referensi terhadap militer ini mengingatkan kita
kepada suatu titik krusial: demiliterisasi bukan merupakan suatu masalah yang hanya
terkait dengan militer. Tradisi politik dari negara-negara yang para politisinya menolak
ketidakpastian dari proses demokrasi juga bisa saja meminta bantuan kepada pihak
militer untuk memberikan penyelesaian alternatifnya.
Harold Crouch, seorang pengamat militer Australia menyatakan bahwa kondisi
baru yang mengarah ke demokratisasi di Indonesia telah memaksa TNI untuk
Dwifungsi, yang selama ini dijadikan landasan untuk kekuasaan politiknya. Lima
langkah reformasi TNI adalah (1) pengurangan dalam perwakilan TNI-POLRI di
lembaga-lembaga perwakilan, (2) penghapusan kekaryaan pengalihan sementara para
9

perwira ke posisi sipil-, (3) netralitas politik, (4) pemisahan POLRI dari TNI, (5) orientasi
pertahanan. Negara harus membangun kekuasaan di wilayah publik, merancang
konstitusi baru, menciptakan sistem kompetisi partai dan institusi-institusi demokrasi
lainnya, liberalisasi, dan privatisasi. Dengan dilandasi oleh "Lima Langkah Reformasi
TNI" tersebut, tampak bahwa kepemimpinan TNI yang baru telah menunjukkan
dukungan terhadap demokratisasi dan secara berkala merujuk pada "supremasi sipil".
Namun,

proses

reformasi

tersebut

masih

tergantung

pada

bagaimana

TNI

menyelesaikan beberapa permasalahan berikut: (1) struktur teritorial Angkatan Darat,


(2) isu-isu yang berkaitan dengan suku, ras, agama (SARA), dan (3) tanggung jawab
militer. Bentuk reformasi di Indonesia muncul setelah terbentuk Struktur MPR baru
sehingga peran TNI dan POLRI untuk menjadi anggota DPR berakhir hingga berperan
sebagai fungsi pertahanan keamanan.
2. HAK ASASI MANUSIA DALAM TRANSISI POLITIK
A. Kasus Pembunuhan Steven Biko Di Arika Selatan
Salah satu bentuk pelanggaran HAM dalam transisi politik terjadi pada kasus
pembunuhan Steven Biko di Afrika Selatan. Dia adalah pendiri gerakan Kesadaran
Kaum Kulit Hitam yang paling kharismatik dan meninggal di penjara, terbaring telanjang
di atas tikar dari lantai batu di rumah sakit Pretoria dengan mulut penuh bekas pukulan
dan berbusa. Pembunuhan selama diterapkannya Apartheid menurut PBB adalah suatu
kejahatan kemanusiaan. Pelaku pembunuhan kejam ini mengajukan amnesty kepada
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan. Konstitusi Transisi Afrika Selatan
mengabulkan permintaan mereka dengan memperhatikan segala aspek yang akan
ditimbulkan dari putusan tersebut. Hal ini dapat terealisasi, namun dapat diberikan asal
semua mereka membeberkan fakta yang relevan.
10

B. Makna Keadilan Dalam Proses Rekonsiliasi


Ntsiki Biko, janda Steven Biko menilai rekonsiliasi haruslah datang dengan
keadilan dan menuntut penghukuman atas pembunuh suaminya hingga mengadukan
gugatan ke Mahkamah Konstitusi, walaupun akhirnya ditolak. Menurutnya rekonsiliasi
Afrika Selatan untuk memberikan Amnesti adalah inkonstitusional dan bertentangan
dengan hukum internasional. Dalam putusannya pada tanggal 16 Februari 1999, Komisi
Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan kemudian menyatakan untuk memberikan
amnesti terhadap para pembunuh Steven Biko, berdasarkan dua alasan sebagai
berikut: (1) Para pembunuh Biko belum memberikan kesaksian dengan sejujur-jujurnya
tentang kematian Biko kepada Komisi, (2) Pembunuhan Biko tidak terkait dengan tujuan
politik.
Menurut Bronkhorst, pelanggaran HAM haruslah dihukum, maka dari itu negara
memiliki hukum pidana. Selain itu dalam hukum internasional juga mengandung
peraturan penuntutan secara alamiah. Ada persetujuan yang meluas di kalangan para
ahli bahwa kewajiban untuk melakukan penuntutan secara alamiah didasarkan pada
putusan-putusan yang ada dalam hukum internasional. Tentunya, terdapat keadaankeadaan dimana asumsi ini tidak dapat dijamin keberlakuannya.

C. Perspektif Hukum Internasional

11

Sebagaimana diketahui, dalam gugatannya kepada Mahkamah Konstitusi Afrika


Selatan, Ntsiki Biko menyatakan bahwa kewenangan Komisi Kebenaran dan
Rekonsiliasi Afrika Selatan untuk memberikan amnesti adalah inkonstitusional dan
bertentangan dengan hukum internasional. Dalam berbagi transisi, fungsi khusus dari
penghukuman dan amnesti harus dibandingkan. Masyarakat internasional dapat dengan
sendirinya menegakkan ketentuan-ketentuan hukum dan menghukum kejahatan
terhadap kemanusiaan. Tentunya terdapat keadaan-keadaan dimana asumsi ini tidak
dapat dijamin keberlakuannya. Hal ini dikarenakan bahwa salah satu hal yang
memungkinkan tegak tidaknya aturan hukumadalah budaya hukum (legal culture), dan
budaya hukum merupakan suatu upaya pencapaian yang bersifat lokal.
Berkaitan dengan perspektif hukum internasional, ada dua sudut pandang yang
berprinsip pada inward looking dan outward looking. Di Indonesia, penganut outward
looking berpendapat bahwa semua ketentuan dari badan internasional harus
dilaksanakan. Konvensi, hukum internasional, dan international customary law dianggap
perlu. Sedangkan inward looking berpendapat keputusan internasional memang perlu
dihormati sebab konsep kedaulatan negara telah banyak digerogoti oleh peran PBB
dan arus globalisasi.

3. PENGALAMAN BEBERAPA NEGARA


A. Negara Amerika Latin
ODonnell melihat adanya heterogenitas Amerika Latin yang lebih tinggi dari pada
Eropa Selatan. Beberapa ahli ilmu politik menyebut situasi rezim di beberapa negara
Amerika Latin pra transisi politik sebagai otoriterisme birokratis. Contohnya adalah

12

Rezim Somoza di Nikaragua, Rezim Batista di Kuba, dan Rezim Stroessner di


Paraguay. Transisi di Eropa Selatan tergambar lewat negara Yunani dan Spanyol.
Sedangkan Peru tergambarkan sebagai negara otoriterisme populis.

B. Non- Amerika Latin


Di Spanyol Jendral Fransisco Franco yang menang dalam Perang Sipil Spanyol
memerintah secara totaliter, namun berakhir pada tahun 1980an dengan rezim
demokratis yang benar-benar berbeda dengan pemerintahan sebelumnya.
Di Yunani tergambar oleh kelompok perwira militer (junta) yang mengambil alih
kekuasaan dari Perdana Menteri George Papandreou yang menjamin untuk memegang
sementara kekuasaan dengan alasan mengontrol kekuatan komunis, menghindari
korupsi, dan mengembalikan Yunani ke demokrasi.
Jerman Timur setelah Perang Dunia menjadi blok komunis hingga pada masa
transisi dengan bersatunya Jerman Timur dan Barat pada bulan Oktober 1990. Di
tembok Berlin terpampang simbol tekanan Komunis dari Polisi Negara Jerman Timur.
Salah satu yang memperkuat Jerman ialah pengalamannya 40 tahun lebih dengan
konsep negara hukum menghasilkan keadilan transisional dalam era pasca komunis.

II KEADILAN TRANSISIONAL

13

1. PENGANTAR
A. Pemutusan Kaitan Dengan Masa Lalu, Pencarian Jalan Baru
Lebih

dari

20

bangsa

dalam

tempo

25

tahun

mencoba

untuk

menginstitusionalkan pencarian terhadap rekonsiliasi, hal ini memunculkan keadilan


transisional yang akrab dengan istilah-istilah keadilan retributif, keadilan restoratif,
klarifikasi historis, dan sebagainya. Menurut Bronkhorst, ada tiga hal yang perlu
dibahas dalam konteks keadilan pada masa transisi yaitu : (1) Kebenaran, (2)
Rekonsiliasi, dan (3) Keadilan.
Menurutnya Keadilan yang paling banyak menimbulkan perdebatan. Pentingnya
pencarian keadilan transisional negara-negara akan berbeda tergantung dari kondisi
masa lalu suatu negara. Perbedaan ini membuat upaya penyelesaian masalah
berkaitan dengan pelanggaran HAM berat menjadi berbeda.

B. Empat Permasalahan Utama : Politik Memori


Jika suatu negara yang otoriter berubah ke arah demokrasi maka permasalahan
sekarang adalah bagaimana masyarakat memperlakukan kejahatan lalu yang pernah
terjadi. Terkait permasalahan masa lalu, Ruti G.Teitel membedakannya berdasarkan
empat pertanyaan inti, yaitu:
1;

Bagaimana pemahaman masyarakat terhadap komitmen suatu rezim terhadap


aturan-aturan hukum yang dilahirkan?

2;

Tindakan-tindakan hukum apakah yang memiliki signifikasi transformatif?

3;

Apakah-jika ada- terdapat kaitan pertanggungjawaban negara terhadap masa


lalunya yang represif dan prospeknya untuk membentuk suatu tata pemerintahan
yang liberal?
14

4;

Hukum apakah yang potensial sebagai pengantar ke arah liberalisasi?

2. KONTEKS INTERNASIONAL PADA WAKTU TRANSISI


A. Internasionalisasi Permasalahan
Untuk

menjembatani

pemahaman

legalitas,

Hukum

Internasional

sering

dipergunakan dalam kasus-kasus pada masa pascakomunis, kontroversi upaya-upaya


menghidupkan kembali tuntutan-tuntutan politik lama. Menurut Kritz, pemerintahan
asing didorong untuk memberikan perlindungan bagi mereka yang berasal dari rezim
sebelumnya atau memfasilitasi pengeluaran atau ekstradisi mereka untuk diadili. Harus
dipertimbangkan bahwa jalan dimana permasalahan ini diselesaikan dapat secara
langsung mempengaruhi stabilitas transisi di berbagai negara dan tetap fokus pada
upaya transisi di seluruh dunia.

B. Hukum Internasional dan Keadilan Retroaktif


Konsep peradilan selain dari aturan hukum transisional adalah hukum
internasional.

Dalam

periode

perubahan

politik

hukum,

hukum

internasional

menawarkan suatu konstruksi alternatif dari hukum yang tetap berlangsung dan kekal.
Hukum Internasional berlaku untuk mengurangi dilema dari aturan hukum keadilan
pengganti pada waktu transisi dan untuk menjustifikasi legalitas berkaitan dengan
perdebatan mengenai prinsip retroaktif (azas berlaku surut).

C. Keadilan Retrospektif di Belgia, Perancis, dan Belanda


Seperti kasus masa lalu Cekoslovakia, Hongaria, dan Polandia yang pernah
tunduk akan kuasa komunis, para elit politik menggunakan pengadilan supranasional
15

hingga Komite Helsinki Internasional. Dibandingkan dengan Belgia, Perancis, dan


Belanda, menurut Huyse didapatkan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para
elit politik merupakan suatu fungsi dari menuju demokrasi. Permasalahannya adalah
bagaimana untuk mendudukan persoalan masa lalu tanpa mengganggu proses transisi
yang sedang berlangsung.
Di Belanda tahun-tahun dilalui dengan ketegangan, di Belgia perdebatanperdebatan tentang apa yang terjadi selama dan sesaat perang tidak pernah lepas, di
Perancis juga keadaan kian terpuruk. Di Belgia, Perancis dan Belanda mencerminkan
problematika dengan masa lalunya. Jika keseimbangan kekuatan pada masa transisi
tidak dapat diciptakan, maka pembeberan kejahatan dari rezim sebelumya tidak dapat
dibenarkan. Hal ini tepat menggambarkan pengertian Lawrence Weschler dalam
bukunya yang membahas mengenai penyelesaian masalah dengan para pelanggar
masa lalu adalah secara retrospektive, penyampaian kebenaran sampai pada tahap
tertentu perlu untuk menebus penderitaan korban bekas suatu rezim.

D. UU Lustrasi Cekoslovakia
Pada bulan Februari 1948 komunis mendesak pemerintahan koalisi untuk
mundur agar dapat mengambil kekuasan. Rezim komunis di Cekoslovakia tersebut
memberlakukan sistem pemerintahan Uni Soviet dimana partai melakukan kontrol
terhadap negara. Kelompok Nasionalis Borjuis menentang dan membersihkan negara
dari komunis, lebih dari 100.000 tahanan politik dipenjara, dipekerjakan di kamp buruh
dan sisanya dibunuh oleh pemerintah.

16

Dengan perekonomian yang ambruk, akhirnya program ekonomi yang baru


didiskusikan. Proses transisi menggunakan sistem Uni Soviet. Lalu pada Januari 1968
terjadi reformasi demokrasi dan ekonomi, tapi usaha kandas ketika Cekoslovakia
kembali diduduki oleh rezim komunis yaitu Uni Soviet, Jerman Timur, Hongaria,
Polandia, dan Bulgaria yang menginvansi mereka.
Hal tersebut menciptakan pemerintahan yang memberontak atas ketidakadilan
rezim komunis. Pada tanggal 4 Oktober 1991 diberlakukan Law on Lustration yang
bertujuan untuk mengungkap kasus 100.000 tahanan politik yang diidentifikasikan
komunis dan memberikan amnesti kepada 200.000 orang lainnya, walau pada akhirnya
mendapat kritikan dari dalam dan luar negeri. Dalam konteks ini Uhde menyatakan: "the
extent of human rights and lives is much higher than any law could have tackled. But
this does not mean that we should engage in a lifetime search for definitive and absolute
justice".

E. Akibat yang Lebih Sigifikan dan Empat Skenario Pasca Komunis


Para analis berpendapat bahwa dari faktor-faktor yang mempengaruhi arah dari
keadilan pascaotoritarian, yang paling menentukan adalah faktor keseimbangan antara
kekuatan masa lampau dan para elit penggantinya pada masa transisi. Para Analis juga
membuat beberapa skenario mengenai masa depan pascakomunisme dalam empat
kemungkinan, yaitu:
1;

Skenario pertama, booming like west. Dalam gambaran ini negara pascakomunis
secara gradual bertransformasi menjadi negara demokrasi pluralis yang stabil.

2;

Skenario kedua adalah dari suatu sistem otoritarian. Menurut Holmes,


menghasilkan gradasi dan diargumentasikan suatu pembedaan harus dibuat
17

antara kelompok populis, nasionalis, militer dan ada asusmsi adanya kembali ke
komunis.
3;

Skenario ketiga tidak mengarah pada transisi jagka panjang, dimana pemerintah
berubah dengan reformasi yang abnormal dan tetap berupaya mengubah arah.

4;

Skenario keempat adalah skenario yang tidak dapat atau tidak seharusnya
dideskripsikan; tidak dapat diprediksi sejak ia tidak dapat disesuaikan dengan
kategori-kategori yang eksis sebelumnya. Jika kejatuhan komunis belum
mengajarkan sesuatu dalam model kesempurnaan ilmu sosial, kita tidak dapat
meramal kemungkinan di masa depan.

3. KEADILAN DALAM MASA TRANSISI POLITIK


A. Pandangan Kelompok Realis Versus Kelompok Idealis
Perdebatan kelompok Realis dan Idealis mengenai hubungan hukum adalah
sebagai berikut: Dalam perdebatan tentang hubungan hukum dan keadilan dengan
liberalisasi terdapat dua pandangan yang saling berhadapan, yaitu apakah perubahan
politik dianggap penting untuk mendahului penegakkan aturan-aturan hukum, atau
sebaliknya, beberapa langkah hukum justru harus dilakukan untuk mendahului politik.
Menurut Teifel, dilema awal dimulai dari konteks keadilan dalam transformasi
politik: hukum dicerna sebagai suatu fenomena yang terletak di antara masa lalu dan
masa yang akan datang, antara retrospektif dan prospektif, antara individual dan
kolektif. Dalam fungsi sosial yang umum, hukum berfungsi untuk memberikan ketertiban
dan stabilitas; namun dalam masa pergolakan politik yang luar biasa, hukum berfungsi
menjaga ketertiban disamping ia juga memungkinkan transformasi. Terjadi pergeseran
dalam paradigma karenanya fungsi hukum menjadi berlawanan arah (paradoxical).
B. Hukum Hanyalah Suatu Produk dari Perubahan Politik

18

Penjelasan terbaik mengenai keadilan pada masa kini adalah dengan cara
menyeimbangkan konteks kekuasaan. Hukum hanyalah produk dari perubahan politik.
De Brito berpendapat bahwa hubungan antara keadilan politik dan demokrasi adalah
sesuatu yang kompleks. Implementasi kebijakan keadilan yang komprehensif dilakukan
oleh rezim-rezim pengganti yang nondemokratis diperlengkapi dengan lebih baik dalam
konteks filosofis dan psikologis. Fundamentalisme yang membatasi keadilan berlaku di
rezim demokratis. Pengadilan tidak akan dapat menetapkan secara sah kesalahan
masyarakat yang dinilai oleh setiap orang bahwa dia pantas dihukum.

C. Tergantung Pada Hubungan Antara Hukum dan Politik


Antinomi pandangan kelompok realis dan idealis mengenai keadilan pada transisi
politik, seperti halnya dalam penyusunan teori liberal/ kritis, terbagi dalam hubungan
antara politik dan hukum. Pada penyusunan teori liberal, hukum dipahami sebagai
pengikut konsep idealis, dimana ia tidak dipengaruhi konteks politik secara luas.
Sementara dalam susunan teori hukum kritis, menekankan pada eratnya hubungan
antara hukum dan politik. Dalam kaitannya, Mahfud MD mengemukakan dua pengertian
politik hukum, (1) politik hukum merupakan suatu kebijaksanaan hukum (legal policy)
yang

dilaksanakan

secara

nasional

oleh

pemerintah,

(2)

bagaimana

politik

mempengaruhi hukum dengan cara melihat konfigurasi kekuatan yang ada di belakang
pembuatan dan penegakan hukum itu.

.4. DILEMA PENERAPAN ATURAN HUKUM


A. Dasar Hukum Membawa Rezim Masa Lalu ke Pengadilan
19

Dalam Transisi, akan muncul suatu dilema transisional yang hadir pada
keseluruhan waktu sejarah politik. Bagaimana suatu aturan hukum ditegakkan, dan
bagaimana dengan dasar suatu rezim terdahulu di bawa ke pengadilan. Menurut Teitel,
dalam transformasi politik masalah legalitas berbeda dengan masalah teori hukum
sebagaimana ia muncul dalam demokrasi-demokrasi yang mantap dalam waktu-waktu
yang normal. Terdapat suatu penyusunan dari pertanyaan-pertanyaan inti tentang
legitimasi dari rezim baru, termasuk kondisi, peranan, dan pengadilan transisional.
Dilema keadilan transisional akan muncul dalam periode-periode terjadinya
perubahan politik substansial. Masalah institusional mengenai bagaimana membentuk
suatu hukum sesuai dengan rule of law akan dibebani kepada Mahkaman Konstitusi
yang baru didirikan dalam periode ini.

B. Perdebatan Hukum Tentang Penyelenggaraan Persidangan Terhadap Para


Mantan Kolaborator Nazi
Mengenai pelanggaran HAM yang terjadi pada masa NAZI Hitler, prinsip-prinsip
Nuremberg sebagai Pengadilan Militer pada tahun 1945-46 menyatakan bahwa
kejahatan

kemanusiaan

dapat

diadili

di

pengadilan

internasional.

Pengadilan

Nuremberg memiliki kewenangan untuk mengadili crimes against peace, war crimes,
dan crimes against humanity.

20

Debat antara Hart dan Fuller mencuat tentang fokus persidangan terhadap
kolaborator NAZI pada pascaperang. Hart berpendapat sebagai seorang yang
menganut aliran positivisme hukum menyatakan bahwa keseluruhan hukum yang
berlaku wajib dilaksanakan sebelum ada ketentuan-ketentuan hukum yang baru, jadi
bagaimanapun ketentuan hukum, walaupun tidak bermoral harus tetap dijalankan. Di
lain pihak Fuller berpendapat bahwa peraturan yang digunakan untuk menghukum para
Nazi adalah hukum yang baru dibuat berdasarkan demokrasi, karena telah berakhirnya
rezim

otoriter,

berakhir

pula

hubungan

hukum

Nazi

tersebut.

Pada

akhir

penyelesaiannya, akhirnya pemerintahan Jerman menggunakan pemikiran Fuller untuk


menghukum kolaborator Nazi tersebut.

TANGGAPAN
Dari Isi Buku Hak Asasi Manusia Dalam Transisi Politik Di Indonesia oleh Prof.
Dr. Satya Arinanto, SH, M.H., dapat dilihat bahwa terdapat suatu hukum yang mengatur
dimana jika ada kekuasaan yang otoriter berkuasa maka masyarakat pada negara
tersebut menginginkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Pada masa
perubahan dari rezim otoriter ke rezim demokrasi disebut transisi politik. Perubahan
situasi politik ke arah otoriter biasanya dilakukan dengan cara pemberontakan oleh
21

pihak militer. Namun, hal tersebut tidak terlepas dari kekuasaan orang sipil yang
menggerakkan atau bisa disebut sebagai otak dari pergerakan itu.
Perubahan dari otoritarian ke Demokrasi: Kemunculan Negara Demokrasi baru,
dapat

disimpulkan

mengenai

visi

tentang

masa

depan

bagi

penduduknya,

bagaimanapun, mereka harus berkonsiliasi dengan warisan masa lalunya yang berupa
pelanggaran pelanggaran HAM1. Melalui masa lalunya negara membentuk cara atau
mekanisme tersendiri untuk menghadapi masa lalunya. Mekanisme inilah yang
kemudian menjadi titik tolak adanya perubahan dalam suatu negara. Mekanisme
transisi muncul dari negosiasi antara pemerintah dengan kelompok oposisi atau
pengambilan inisatif untuk adanya transisi tersebut. Ini menunjukkan kepedulian untuk
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Terjadinya revolusi politik yang luar
biasa inilah merupakan momentum yang baik. Momentum perubahan rezim otoritarian
ke arah demokrasi merupakan hal yang diakui banyak manusia sebagai sistem nilai
yang paling menjanjikan masa depan umat manusia. Abraham Lincoln dalam pidato
Gettysburg mendefinisikan demokrasi sebagai "pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat,
dan untuk rakyat"2. Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam sistem demokrasi ada di
tangan rakyat dan rakyat mempunyai hak, kesempatan dan suara yang sama di dalam
mengatur kebijakan pemerintahan. Melalui demokrasi, keputusan yang diambil
berdasarkan suara terbanyak Untuk itulah proses revolusi politik ini disebarkan ke
negara negara barat dan negara berkembang. Namun negara negara barat ini
kemudian dapat diketahui memiliki kepentingan politik ganda dalam penyebaran isu

1 Arinanto, Satya. Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia, Jakarta: Pusat Studi Hukum
Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia. cet. 4, 2015, hal 97.
2 Lansford, Tom. Democracy: Political Systems of the World. New York: Marshall Cavendish; ISBN-13:
9780761426295, 2007, hal 9.

22

demokrasi tersebut. Terkait demokrasi di Indonesia, Demokrasi Indonesia juga


seharusnya berpedoman pada dasar negara, sehingga masyarakat Indonesia dapat
menjadi pribadi pancasila dan UUD 1945 yang ideal. Indonesia terdiri dari berbagai
macam etnis dan bahasa, suku dan budaya yang memperkaya keberagaman di
Indonesia. Saat ini negara yang masih belum stabil masih dalam fase berbenah diri.
Bhineka Tunggal Ika (beragam tapi tetap satu) janganlah hanya sebagai semboyan
belaka, namun realisasinya haruslah terjadi demi Indonesia yang lebih baik. Sosialisasi
nilai-nilai universal demokrasi dan sosialisasi nilai-nilai persatuan nasional haruslah
direalisasikan. Selain itu, masa transisi di Indonesia yang masih belum menunjukan
kehidupan demokrasi yang baik lebih dikarenakan negara hukum yang menjadi
landasan Indonesia belum dapat mengkonsolidasikan demokrasi. Persyaratan untuk
menuju konsolidasi demokrasi akhirnya memang sangat bertumpu pada proses
reformasi hukum. Hukum harus diciptakan untuk memberikan jaminan berkembangnya
masyarakat sipil dan masyarakat politik yang otonom, masyarakat ekonomi yang
terlembagakan, dan birokrasi yang mampu menopang pemerintahan yang demokratis.
Hukum harus dikembangkan untuk memperkuat masyarakat sipil (civil society) agar
mampu menghasilkan alternatif-alternatif politik dan mampu mengontrol dan memantau
pemerintah dan negara ketika menjalankan kekuasaannya 3. Serta Kepentingankepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan seharusnya dapat disingkirkan
terlebih dahulu untuk menyongsong negara demokrasi yang ideal dengan pertumbuhan
kesejahteraan masyarakat yang maksimal.

3 Yudhasmara, Demokrasi di Indonesia dan Sejarahnya, Diakses dari


http://demokrasiindonesia.wordpress.com/2012/07/20/demokrasi-di-indonesia-dan-sejarahnya/, pada
tanggal 26 Maret 2013 pukul 13.55.

23

Sukses atau gagalnya suatu transisi demokrasi menurut M. Akil Mochtar, SH.
MH., sangat tergantung pada empat faktor kunci yaitu komposisi elite politik, desain
institusi politik, kultur politik atau perubahan sikap terhadap politik dikalangan elite dan
non-elite, dan peran masyarakat madani (civil society) 4
Menurut M. Akil Mochtar, SH. MH. dalam rangka upaya membangun demokrasi
di Indonesia maka diperlukan adanya 8 faktor pendukung sebagai berikut: 5
1) Keterbukaan sistem politik
2) Budaya politik partisipatif egalitarian
3) Kepemimpinan politik yang berorientasi kerakyatan
4) Rakyat yang terdidik, cerdas dan peduli
5) Partai politik yang tumbuh dari bawah
6) Penghargaan terhadap hukum
7) Masyarakat Madani yang tanggap dan bertanggung jawab
8) Dukungan dari pihak asing dan pemihakan pada golongan mayoritas
Keadilan transisional, masyarakat diseluruh dunia sedang berupaya untuk
memutuskan kaitan dengan pemerintah otoriter dan mulai membangun demokrasi. 6
Pada perjalanan pemutusan kaitan banyak mekanisme yang ditempuh. Pencarian
kebenaran, rekonsiliasi dan keadilan itu sendiri merupakan peran penting dalam proses
transisi tersebut. Banyak hadirnya Komisi yang menangani segala macam kegagalan
masa lalu merupakan bentuk pencarian kebenaran dan proses mencapai keadilan itu
4 M. Akil Mochtar, SH. MH. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: 2005, hal 4.
5 Ibid, hal. 4.
6 Arinanto, Satya, Op.cit, hal.151.
24

sendiri. Pentingnya pembangunan konsepsi keadilan transisional ini juga seharusnya


dilaksanakan di Indonesia dengan merumuskan konsepsi keadilan transisional yang
sesuai. Dan Indonesia telah memiliki Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Dimana
Pada awalnya, Komnas HAM didirikan dengan Keputusan Presiden Nomor 50 Tahun
1993 tentang Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Sejak 1999 keberadaan Komnas
HAM didasarkan pada Undang-undang, yakni Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999
yang juga menetapkan keberadaan, tujuan, fungsi, keanggotaan, asas, kelengkapan
serta tugas dan wewenang Komnas HAM yakni berwenang melakukan penyelidikan
terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang berat dengan dikeluarkannya UU No. 26
Tahun 2000 tantang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Berdasarkan Undang-undang No.
26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, Komnas HAM adalah lembaga yang
berwenang menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Dalam melakukan
penyelidikan ini Komnas HAM dapat membentuk tim ad hoc yang terdiri atas Komisi
Hak Asasi Manusia dan unsur masyarakat. Komnas HAM berdasarkan Undang-Undang
Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, mendapatkan
tambahan kewenangan berupa Pengawasan. Dimana Pengawasan adalah serangkaian
tindakan yang dilakukan oleh Komnas HAM dengan maksud untuk mengevaluasi
kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang dilakukan secara berkala atau
insidentil dengan cara memantau, mencari fakta, menilai guna mencari dan
menemukan ada tidaknya diskriminasi ras dan etnis yang ditindaklanjuti dengan
rekomendasi.
Perjalanan mengenai HAM di Indonesia mengalami pasang surut. Sebab
meskipun dunia internasional mempercayakan kembali Indonesia sebagai anggota

25

dewan HAM PBB, namun fakta yang terjadi mengenai nasib penegakan HAM di
Indonesia justru masih sangat memprihatinkan. Berbagai konflik horisontal yang
menyangkut tentang hak - hak dasar manusia masih terus mewarnai kehidupan
masyarakat Indonesia. Negara yang telah menjadikan HAM sebagai salah satu
orientasi mutlak dalam menjalankan kehidupan bernegaranya ini ternyata belum
mampu untuk mengaplikasikan segala bentuk jaminan akan kebebasan warga
negaranya untuk mendapatkan hak asasinya. Berbagai peraturan yang membahas
tentang penegakan HAM telah dibuat oleh Indonesia sebagai instrumen baku untuk
menjamin tegaknya hak-hak dasar setiap warga negara Indonesia. Mulai dari UndangUndang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Undang-Undang Nomor 26
tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, Undang-Undang Nomor 11 tahun 2005 tentang
Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang diratifikasi dari International Covenant On
Economic, Social And Cultural Rights atau Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak
Ekonomi, Sosial Dan Budaya, dan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2005 tentang Hak
Sipil dan Politik yang juga merupakan hasil ratifikasi dari International Covenant On
Civil And Political Rights atau Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik.
Dari Pejabaran tersebut, pada dasarnya konsep Hak Asasi Manusia masih
menjadi perdebatan di seluruh dunia. Karena setiap negara datau daerah di seluruh
dunia memiliki pemahamannya masing-masing mengenai konsep Hak Asasi Manusia
itu sendiri yang terkadang saling bersinggungan satu sama lain. Oleh karena itu
sebagai manusia yang pada dasarnya dilindungi oleh hak tersebut, memperjuangkan
agar hak-hak yang dimiliki tersebut dilindungi oleh pemerintah agar terpenuhi segala
kebutuhan untuk bertahan hidup merupakan hal yang sangat signifikan dan harus

26

diperjuangkan oleh umat manusia diseluruh dunia berdasarkan keyakinan mengenai


hak asasi yang diyakini.

DAFTAR PUSTAKA
A; Buku

Arinanto, Satya. Hak Asasi Manusia dalam Transisi Politik di Indonesia, Jakarta: Pusat
Studi Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2015.
M. Akil Mochtar, SH. MH. Demokrasi dan Hak Asasi Manusia. Jakarta: 2005.

27

Lansford, Tom. Democracy: Political Systems of the World. New York: Marshall
Cavendish; ISBN-13: 9780761426295, 2007.
B; Internet
https://demokrasiindonesia.wordpress.com

28