Anda di halaman 1dari 12

Asam sulfat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Asam sulfat

Nama IUPAC[sembunyikan]
Asam sulfat
Nama lain[sembunyikan]
Minyak vitriol
Identifikasi
Nomor CAS
Nomor EINECS
Nomor RTECS

[7664-93-9]
231-639-5
WS5600000
Sifat

Rumus molekul
Massa molar
Penampilan
Densitas
Titik lebur
Titik didih
Kelarutan dalam air
Keasaman (pKa)
Viskositas

H2SO4
98,08 g/mol
cairan bening, tak berwarna, tak berbau
1,84 g/cm3, cair

MSDS
Klasifikasi EU
Indeks EU

ICSC 0362
Korosif (C)
016-020-00-8

tercampur penuh
3
26,7 cP (20 C)
Bahaya

0
3
2

NFPA 704

W
Frasa-R
Frasa-S
Titik nyala

R35
(S1/2), S26, S30, S45
tak ternyalakan
Senyawa terkait

Asam kuat terkait

Senyawa terkait

Asam selenat
Asam klorida
Asam nitrat
Asam sulfit
Asam peroksimonosulfat
Sulfur trioksida
Oleum

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku


pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)
Sangkalan dan referensi

Asam sulfat, H2SO4, merupakan asam mineral (anorganik) yang kuat. Zat ini larut dalam
air pada semua perbandingan. Asam sulfat mempunyai banyak kegunaan dan merupakan
salah satu produk utama industri kimia. Produksi dunia asam sulfat pada tahun 2001
adalah 165 juta ton, dengan nilai perdagangan seharga US$8 juta. Kegunaan utamanya
termasuk pemrosesan bijih mineral, sintesis kimia, pemrosesan air limbah dan
pengilangan minyak.

Daftar isi

1 Keberadaan
o 1.1 Asam sulfat di luar angkasa
1.1.1 Atmosfer Venus
1.1.2 Pada permukaan es Europa
2 Pembuatan
3 Sifat-sifat fisika
o 3.1 Bentuk-bentuk asam sulfat
o 3.2 Polaritas dan konduktivitas
4 Sifat-sifat kimia
o 4.1 Reaksi dengan air
o 4.2 Reaksi lainnya
5 Kegunaan

5.1 Siklus sulfur-iodin


6 Sejarah
7 Keselamatan
o 7.1 Bahaya laboratorium
o 7.2 Bahaya industri
8 Pembatasan hukum
9 Referensi
10 Pranala luar
o

Keberadaan
Asam sulfat murni yang tidak diencerkan tidak dapat ditemukan secara alami di bumi
oleh karena sifatnya yang higroskopis. Walaupun demikian, asam sulfat merupakan
komponen utama hujan asam, yang terjadi karena oksidasi sulfur dioksida di atmosfer
dengan keberadaan air (oksidasi asam sulfit). Sulfur dioksida adalah produk sampingan
utama dari pembakaran bahan bakar seperti batu bara dan minyak yang mengandung
sulfur (belerang).
Asam sulfat terbentuk secara alami melalui oksidasi mineral sulfida, misalnya besi
sulfida. Air yang dihasilkan dari oksidasi ini sangat asam dan disebut sebagai air asam
tambang. Air asam ini mampu melarutkan logam-logam yang ada dalam bijih sulfida,
yang akan menghasilkan uap berwarna cerah yang beracun. Oksidasi besi sulfida pirit
oleh oksigen molekuler menghasilkan besi(II), atau Fe2+:
2 FeS2 + 7 O2 + 2 H2O 2 Fe2+ + 4 SO42 + 4 H+
Fe2+ dapat kemudian dioksidasi lebih lanjut menjadi Fe3+:
4 Fe2+ + O2 + 4 H+ 4 Fe3+ + 2 H2O
Fe3+ yang dihasilkan dapat diendapkan sebagai hidroksida:
Fe3+ + 3 H2O Fe(OH)3 + 3 H+
Besi(III) atau ion feri juga dapat mengoksidasi pirit. Ketika oksidasi pirit besi(III) terjadi,
proses ini akan berjalan dengan cepat. Nilai pH yang lebih rendah dari nol telah terukur
pada air asam tambang yang dihasilkan oleh proses ini.

Asam sulfat di luar angkasa


Atmosfer Venus
Asam sulfat diproduksi di atmosfer bagian atas Venus dari karbon dioksida, sulfur
dioksida, dan uap air secara fotokimia oleh cahaya matahari. Foton ultraviolet dengan

panjang gelombang kurang dari 169 nm dapat mengakibatkan fotodisosiasi karbon


dioksida menjadi karbon monoksida dan oksigen atomik.
Oksigen atomik sangatlah reaktif. Ketika ia bereaksi dengan sulfur dioksida yang
merupakan sekelumit bagian dari atmosfer Venus, sulfur trioksida dihasilkan, dan ketika
bergabung dengan air, akan menghasilkan asam sulfat.
CO2 CO + O
SO2 + O SO3
SO3 + H2O H2SO4
Di bagian atas atmosfer Venus yang lebih dingin, asam sulfat terdapat dalam keadaan
cair, dan awan asam sulfat yang tebal menghalangi pandangan permukaan Venus ketika
dipandang dari atas. Awan permanen Venus menghasilkan hujan asam yang pekat sama
halnya atmosfer bumi menghasilkan air hujan.
Atmosfer Venus menunjukkan adanya siklus asam sulfat. Setelah tetesan hujan asam
sulfat jatuh ke lapisan atmosfer yang lebih panas, asam sulfat akan dipanaskan dan
melepaskan uap air, sehingga asam sulfat tersebut menjadi lebih pekat. Ketika mencapai
temperatur di atas 300 C, asam sulfat mulai berdekomposisi menjadi sulfur trioksida dan
air (dalam fase gas). Sulfur trioksida sangatlah reaktif dan berdisosiasi menjadi sulfur
dioksida dan oksigen atomik, yang akan kemudian mengoksidasi karbon monoksida
menjadi karbon dioksida.
Sulfur dioksida dan uap air kemudian naik secara arus konveksi dari lapisan tengah
atmosfer menuju lapisan atas, di mana keduanya akan diubah kembali lagi menjadi asam
sulfat, dan siklus ini kemudian berulang.
Pada permukaan es Europa
Spektrum inframerah dari misi Galileo NASA menunjukkan adanya absorpsi khusus pada
satelit Yupiter Europa yang mengindikasikan adanya satu atau lebih hidrat asam sulfat.
Interpretasi spektrum ini kontroversial. Beberapa ilmuwan planet lebih condong
menginterpretasikan spektrum ini sebagai ion sulfat, kemungkinan sebagai bagian dari
mineral Europa.[1]

Pembuatan
Asam sulfat diproduksi dari belerang, oksigen, dan air melalui proses kontak.
Pada langkah pertama, belerang dipanaskan untuk mendapatkan sulfur dioksida:
S (s) + O2 (g) SO2 (g)
Sulfur dioksida kemudian dioksidasi menggunakan oksigen dengan keberadaan katalis
vanadium(V) oksida:

2 SO2 + O2(g) 2 SO3 (g) (dengan keberadaan V2O5)


Sulfur trioksida diserap ke dalam 97-98% H2SO4 menjadi oleum (H2S2O7), juga dikenal
sebagai asam sulfat berasap. Oleum kemudian diencerkan ke dalam air menjadi asam
sulfat pekat.
H2SO4 (l) + SO3 H2S2O7 (l)
H2S2O7 (l) + H2O (l) 2 H2SO4 (l)
Perhatikan bahwa pelarutan langsung SO3 ke dalam air tidaklah praktis karena reaksi
sulfur trioksida dengan air yang bersifat eksotermik. Reaksi ini akan membentuk aerosol
korosif yang akan sulit dipisahkan.
SO3(g) + H2O (l) H2SO4(l)
Sebelum tahun 1900, kebanyakan asam sulfat diproduksi dengan proses bilik.[2]

Sifat-sifat fisika
Bentuk-bentuk asam sulfat
Walaupun asam sulfat yang mendekati 100% dapat dibuat, ia akan melepaskan SO3 pada
titik didihnya dan menghasilkan asam 98,3%. Asam sulfat 98% lebih stabil untuk
disimpan, dan merupakan bentuk asam sulfat yang paling umum. Asam sulfat 98%
umumnya disebut sebagai asam sulfat pekat. Terdapat berbagai jenis konsentrasi asam
sulfat yang digunakan untuk berbagai keperluan:

10%, asam sulfat encer untuk kegunaan laboratorium,


33,53%, asam baterai,
62,18%, asam bilik atau asam pupuk,
73,61%, asam menara atau asam glover,
97%, asam pekat.

Terdapat juga asam sulfat dalam berbagai kemurnian. Mutu teknis H2SO4 tidaklah murni
dan seringkali berwarna, namun cocok untuk digunakan untuk membuat pupuk. Mutu
murni asam sulfat digunakan untuk membuat obat-obatan dan zat warna.
Apabila SO3(g) dalam konsentrasi tinggi ditambahkan ke dalam asam sulfat, H2S2O7 akan
terbentuk. Senyawa ini disebut sebagai asam pirosulfat, asam sulfat berasap, ataupun
oleum. Konsentrasi oleum diekspresikan sebagai %SO3 (disebut %oleum) atau %H2SO4
(jumlah asam sulfat yang dihasilkan apabila H2O ditambahkan); konsentrasi yang umum
adalah 40% oleum (109% H2SO4) dan 65% oleum (114,6% H2SO4). H2S2O7 murni
terdapat dalam bentuk padat dengan titik leleh 36 C.
Asam sulfat murni berupa cairan bening seperti minyak, dan oleh karenanya pada zaman
dahulu ia dinamakan 'minyak vitriol'.

Polaritas dan konduktivitas


H2SO4 anhidrat adalah cairan yang sangat polar. Ia memiliki tetapan dielektrik sekitar
100. Konduktivitas listriknya juga tinggi. Hal ini diakibatkan oleh disosiasi yang
disebabkan oleh swa-protonasi, disebut sebagai autopirolisis.[3]
2 H2SO4 H3SO4+ + HSO4
Konstanta kesetimbangan autopirolisisnya adalah[3]
Kap(25 C)= [H3SO4+][HSO4] = 2,7 104.
Dibandingkan dengan konstanta keseimbangan air, Kw = 1014, nilai konstanta
kesetimbangan autopirolisis asam sulfat 1010 (10 triliun) kali lebih kecil.
Walaupun asam ini memiliki viskositas yang cukup tinggi, konduktivitas efektif ion
H3SO4+ dan HSO4 tinggi dikarenakan mekanisme ulang alik proton intra molekul,
menjadikan asam sulfat sebagai konduktor yang baik. Ia juga merupakan pelarut yang
baik untuk banyak reaksi.
Kesetimbangan kimiawi asam sulfat sebenarnya lebih rumit daripada yang ditunjukkan di
atas; 100% H2SO4 mengandung beragam spesi dalam kesetimbangan (ditunjukkan
dengan nilai milimol per kg pelarut), yaitu: HSO4 (15,0), H3SO4+ (11,3), H3O+ (8,0),
HS2O7 (4,4), H2S2O7 (3,6), H2O (0,1).[3]

Sifat-sifat kimia
Reaksi dengan air
Reaksi hidrasi asam sulfat sangatlah eksotermik. Selalu tambahkan asam ke dalam air
daripada air ke dalam asam. Air memiliki massa jenis yang lebih rendah daripada asam
sulfat dan cenderung mengapung di atasnya, sehingga apabila air ditambahkan ke dalam
asam sulfat pekat, ia akan dapat mendidih dan bereaksi dengan keras. Reaksi yang terjadi
adalah pembentukan ion hidronium:
H2SO4 + H2O H3O+ + HSO4HSO4- + H2O H3O+ + SO42Karena hidrasi asam sulfat secara termodinamika difavoritkan, asam sulfat adalah zat
pendehidrasi yang sangat baik dan digunakan untuk mengeringkan buah-buahan. Afinitas
asam sulfat terhadap air cukuplah kuat sedemikiannya ia akan memisahkan atom
hidrogen dan oksigen dari suatu senyawa. Sebagai contoh, mencampurkan pati
(C6H12O6)n dengan asam sulfat pekat akan menghasilkan karbon dan air yang terserap
dalam asam sulfat (yang akan mengencerkan asam sulfat):
(C6H12O6)n 6n C + 6n H2O

Efek ini dapat dilihat ketika asam sulfat pekat diteteskan ke permukaan kertas. Selulosa
bereaksi dengan asam sulfat dan menghasilkan karbon yang akan terlihat seperti efek
pembakaran kertas. Reaksi yang lebih dramatis terjadi apabila asam sulfat ditambahkan
ke dalam satu sendok teh gula. Seketika ditambahkan, gula tersebut akan menjadi karbon
berpori-pori yang mengembang dan mengeluarkan aroma seperti karamel.

Reaksi lainnya
Sebagai asam, asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan basa, menghasilkan garam sulfat.
Sebagai contoh, garam tembaga tembaga(II) sulfat dibuat dari reaksi antara tembaga(II)
oksida dengan asam sulfat:
CuO + H2SO4 CuSO4 + H2O
Asam sulfat juga dapat digunakan untuk mengasamkan garam dan menghasilkan asam
yang lebih lemah. Reaksi antara natrium asetat dengan asam sulfat akan menghasilkan
asam asetat, CH3COOH, dan natrium bisulfat:
H2SO4 + CH3COONa NaHSO4 + CH3COOH
Hal yang sama juga berlaku apabila mereaksikan asam sulfat dengan kalium nitrat.
Reaksi ini akan menghasilkan asam nitrat dan endapat kalium bisulfat. Ketika
dikombinasikan dengan asam nitrat, asam sulfat berperilaku sebagai asam sekaligus zat
pendehidrasi, membentuk ion nitronium NO2+, yang penting dalam reaksi nitrasi yang
melibatkan substitusi aromatik elektrofilik. Reaksi jenis ini sangatlah penting dalam
kimia organik.
Asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan logam via reaksi penggantian tunggal,
menghasilkan gas hidrogen dan logam sulfat. H2SO4 encer menyerang besi, aluminium,
seng, mangan, magnesium dan nikel. Namun reaksi dengan timah dan tembaga
memerlukan asam sulfat yang panas dan pekat. Timbal dan tungsten tidak bereaksi
dengan asam sulfat. Reaksi antara asam sulfat dengan logam biasanya akan menghasilkan
hidrogen seperti yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini. Namun reaksi dengan
timah akan menghasilkan sulfur dioksida daripada hidrogen.
Fe (s) + H2SO4 (aq) H2 (g) + FeSO4 (aq)
Sn (s) + 2 H2SO4 (aq) SnSO4 (aq) + 2 H2O (l) + SO2 (g)
Hal ini dikarenakan asam pekat panas umumnya berperan sebagai oksidator, manakala
asam encer berperan sebagai asam biasa. Sehingga ketika asam pekat panas bereaksi
dengan seng, timah, dan tembaga, ia akan menghasilkan garam, air dan sulfur dioksida,
manakahal asam encer yang beraksi dengan logam seperti seng akan menghasilkan garam
dan hidrogen.
Asam sulfat menjalani reaksi substitusi aromatik elektrofilik dengan senyawa-senyawa
aromatik, menghasilkan asam sulfonat terkait:[4]

Kegunaan
Asam sulfat merupakan komoditas kimia yang sangat penting, dan sebenarnya pula,
produksi asam sulfat suatu negara merupakan indikator yang baik terhadap kekuatan
industri negara tersebut.[5] Kegunaan utama (60% dari total produksi di seluruh dunia)
asam sulfat adalah dalam "metode basah" produksi asam fosfat, yang digunakan untuk
membuat pupuk fosfat dan juga trinatrium fosfat untuk deterjen. Pada metode ini, batuan
fosfat digunakan dan diproses lebih dari 100 juta ton setiap tahunnya. Bahan-bahan baku
yang ditunjukkan pada persamaan di bawah ini merupakan fluorapatit, walaupun
komposisinya dapat bervariasi. Bahan baku ini kemudian diberi 93% asam suflat untuk
menghasilkan kalsium sulfat, hidrogen fluorida (HF), dan asam fosfat. HF dipisahan
sebagai asam fluorida. Proses keseluruhannya dapat ditulis:
Ca5F(PO4)3 + 5 H2SO4 + 10 H2O 5 CaSO42 H2O + HF + 3 H3PO4
Asam sulfat digunakan dalam jumlah yang besar oleh industri besi dan baja untuk
menghilangkan oksidasi, karat, dan kerak air sebelum dijual ke industri otomobil. Asam
yang telah digunakan sering kali didaur ulang dalam kilang regenerasi asam bekas (Spent
Acid Regeneration (SAR) plant). Kilang ini membakar asam bekas dengan gas alam, gas
kilang, bahan bakar minyak, ataupun sumber bahan bakar lainnya. Proses pembakaran ini
akan menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2) dan sulfur trioksida (SO3) yang kemudian
digunakan untuk membuat asam sulfat yang "baru".
Amonium sulfat, yang merupakan pupuk nitrogen yang penting, umumnya diproduksi
sebagai produk sampingan dari kilang pemroses kokas untuk produksi besi dan baja.
Mereaksikan amonia yang dihasilkan pada dekomposisi termal batu bara dengan asam
sulfat bekas mengijinkan amonia dikristalkan keluar sebagai garam (sering kali berwarna
coklat karena kontaminasi besi) dan dijual kepada industri agrokimia.
Kegunaan asam sulfat lainnya yang penting adalah untuk pembuatan aluminium sulfat.
Alumunium sulfat dapat bereaksi dengan sejumlah kecil sabun pada serat pulp kertas
untuk menghasilkan aluminium karboksilat yang membantu mengentalkan serat pulp
menjadi permukaan kertas yang keras. Aluminium sulfat juga digunakan untuk membuat
aluminium hidroksida. Aluminium sulfat dibuat dengan mereaksikan bauksit dengan
asam sulfat:
Al2O3 + 3 H2SO4 Al2(SO4)3 + 3 H2O
Asam sulfat juga memiliki berbagai kegunaan di industri kimia. Sebagai contoh, asam
sulfat merupakan katalis asam yang umumnya digunakan untuk mengubah
sikloheksanonoksim menjadi kaprolaktam, yang digunakan untuk membuat nilon. Ia juga

digunakan untuk membuat asam klorida dari garam melalui proses Mannheim. Banyak
H2SO4 digunakan dalam pengilangan minyak bumi, contohnya sebagai katalis untuk
reaksi isobutana dengan isobutilena yang menghasilkan isooktana.

Siklus sulfur-iodin
Siklus sulfur-iodin merupakan sederet proses termokimia yang digunakan untuk
mendapatkan hidrogen. Ia terdiri dari tiga reaksi kimia yang keseluruhan reaktannya
adalah air dan keseluruhan produknya adalah hidrogen dan oksigen.
2 H2SO4 2 SO2 + 2 H2O + O2
I2 + SO2 + 2 H2O 2 HI + H2SO4
2 HI I2 + H2

(830 C)
(120 C)
(320 C)

Senyawa sulfur dan iodin didaur dan digunakan ulang. Proses ini bersifat endotermik dan
haruslah terjadi pada suhu yang tinggi. Siklus sulfur iodin sekarang ini sedang diteliti
sebagai metode yang praktis untuk mendapatkan hidrogen. Namun karena penggunaan
asam korosif yang pekat pada suhu yang tinggi, ia dapat menimbulkan risiko bahaya
keselamatan yang besar apabila proses ini dibangun dalam skala besar.

Sejarah

Besi(II) sulfat heptahidrat

Tembaga(II) sulfat pentahidrat


Alkimiawan abad ke-8 Abu Musa Jabir bin Hayyan (Geber) dipercayai sebagai penemu
asam sulfat. Asam ini kemudian dikaji oleh alkimiawan dan dokter Persia abad ke-9 Ar-

Razi (Rhazes), yang mendapatkan zat ini dari distilasi kering mineral yang mengandung
besi(II) sulfat heptahidrat, FeSO4 7H2O, dan tembaga(II) sulfat pentahidrat, CuSO4
5H2O. Ketika dipanaskan, senyawa-senyawa ini akan terurai menjadi besi(II) oksida dan
tembaga(II) oksida, melepaskan air beserta sulfur trioksida yang akan bergabung menjadi
larutan asam sulfat. Metode ini dipopulerkan di Eropa melalui terjemahan-terjamahan
buku-buku Arab dan Persia.
Asam sulfat dikenal oleh alkimiawan Eropa abad pertengahan sebagai minyak vitriol.
Kata vitriol berasal dari bahasa Latin vitreus yang berarti 'gelas', merujuk pada
penampilan garam sulfat yang seperti gelas, disebut sebagai garam vitriol. Garam-garam
ini meliputi tembaga(II) sulfat (vitriol biru), seng sulfat (vitriol putih), besi(II) sulfat
(vitriol hijau), besi(III) sulfat (vitriol Mars), dan kobalt(II) sulfat (vitriol merah).
Garam-garam vitriol tersebut merupakan zat yang paling penting dalam alkimia, yang
digunakan untuk menemukan batu filsuf. Vitriol yang sangat murni digunakan sebagai
media reaksi zat-zat lainnya. Hal ini dikarenakan asam vitriol tidak bereaksi dengan
emas. Pentingnya vitriol dalam alkimia terlihat pada moto alkimia Visita Interiora
Terrae Rectificando Invenies Occultum Lapidem ('Kunjungi bagian dalam bumi dan
murnikanlah, anda akan menemukan batu rahasia') yang ditemukan dalam L'Azoth des
Philosophes karya alkimiawan abad ke-15 Basilius Valentinus, .
Pada abad ke-17, kimiawan Jerman Belanda Johann Glauber membuat asam sulfat
dengan membakar sulfur bersamaan dengan kalium nitrat, KNO3, dengan keberadaan
uap. Kalium nitrat tersebut terurai dan mengoksidasi sulfur menjadi SO3, yang akan
bergabung dengan air membentuk asam sulfat. Pada tahun 1736, Joshua Ward, ahli
farmasi London, menggunakan metode ini untuk memulai produksi asam sulfat berskala
besar.
Pada tahun 1746 di Birmingham, John Roebuck mengadaptasikan metode ini ke dalam
suatu bilik, yang dapat menghasilkan asam sulfat lebih banyak. Proses ini disebut sebagai
proses bilik, yang mengijinkan produksi asam sulfat secara efektif. Setelah berbagai
perbaikan, metode ini menjadi proses standar produksi asam sulfat selama hampir dua
abad.
Pada tahun 1831, saudagar asam cuka Britania Peregrine Phillips mematenkan proses
kontak, yang lebih ekonomis dalam memproduksi sulfur trioksida dan asam sulfat.
Sekarang, hampir semua produksi asam sulfat dunia menggunakan proses ini.

Keselamatan
Bahaya laboratorium

Tetesan 98% asam sulfat akan dengan segera membakar kertas tisu menjadi karbon
Sifat-sifat asam sulfat yang korosif diperburuk oleh reaksi eksotermiknya dengan air.
Luka bakar akibat asam sulfat berpotensi lebih buruk daripada luka bakar akibat asam
kuat lainnya, hal ini dikarenakan adanya tambahan kerusakan jaringan dikarenakan
dehidrasi dan kerusakan termal sekunder akibat pelepasan panas oleh reaksi asam sulfat
dengan air.
Bahaya akan semakin meningkat seiring dengan meningkatnya konsentrasi asam sulfat.
Namun, bahkan asam sulfat encer (sekitar 1 M, 10%) akan dapat mendehidrasi kertas
apabila tetesan asam sulfat tersebut dibiarkan dalam waktu yang lama. Oleh karenanya,
larutan asam sulfat yang sama atau lebih dari 1,5 M diberi label "CORROSIVE"
(korosif), manakala larutan lebih besar dari 0,5 M dan lebih kecil dari 1,5 M diberi label
"IRRITANT" (iritan). Asam sulfat berasap (oleum) tidaklah dianjurkan untuk digunakan
dalam sekolah oleh karena bahaya keselamatannya yang sangat tinggi.
Perawatan pertama yang standar dalam menangani tumpahnya asam sulfat ke kulit adalah
dengan membilas kulit tersebut dengan air sebanyak-banyaknya. Pembilasan dilanjutkan
selama 10 sampai 15 menit untuk mendinginkan jaringan disekitar luka bakar asam dan
untuk menghindari kerusakan sekunder. Pakaian yang terkontaminasi oleh asam sulfat
harulah dilepaskan dengan segera dan segera bilas kulit yang berkontak dengan pakaian
tersebut.
Pembuatan asam sulfat encer juga berbahaya oleh karena pelepasan panas selama proses
pengenceran. Asam sulfat pekat haruslah selalu ditambahkan ke air, dan bukannya
sebaliknya. Penambahan air ke asam sulfat pekat dapat menyebabkan tersebarnya aerosol
asam sulfat dan bahkan dapat menyebabkan ledakan. Pembuatan larutan lebih dari 6 M
(35%) adalah yang paling berbahaya, karena panas yang dihasilkan cukup panas untuk
mendidihkan asam encer tersebut.

Bahaya industri
Walaupun asam sulfat tidak mudah terbakar, kontak dengan logam dalam kasus tumpahan
asam dapat menyebabkan pelepasan gas hidrogen. Penyebaran aerosol asam dan gas
sulfur dioksida menambah bahaya kebakaran yang melibatkan asam sulfat.

Asam sulfat dianggap tidak beracun selain bahaya korosifnya. Resiko utama asam sulfat
adalah kontak dengan kulit yang menyebabkan luka bakar dan penghirupan aerosol asap.
Paparan dengan aerosol asam pada konsentrasi tinggi akan menyebabkan iritasi mata,
saluran pernapasan, dan membran mukosa yang parah. Iritasi akan mereda dengan cepat
setelah paparan, walaupun terdapat risiko edema paru apabila kerusakan jaringan lebih
parah. Pada konsentrasi rendah, simtom-simtom akibat paparan kronis aerosol asam
sulfat yang paling umumnya dilaporkan adalah pengikisan gigi. Indikasi kerusakan kronis
saluran pernapasan masih belum jelas. Di Amerika Serikat, batasan paparan yang
diperbolehkan ditetapkan sebagai 1 mg/m. Terdapat pula laporan bahwa penelanan asam
sulfat menyebabkan defisiensi vitamin B12 dengan degenarasi gabungan subakut.

Pembatasan hukum
Perdagangan internasional asam sulfat dikontrol oleh Konvensi Perserikatan BangsaBangsa Tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika tahun 1988,
yang meletakkan asam sulfat di Tabel II konvensi tersebut sebagai bahan kimia yang
sering diguakan dalam produksi gelap narkotika ataupun psikotropika.[6] Di Indonesia,
konvensi ini disahkan oleh Undang-Undang Dasar Nomor 7 Tahun 1997.[7]
https://id.wikipedia.org/wiki/Asam_sulfat