Anda di halaman 1dari 3

MARID CANDRA S.

Manfaat Hukum Adat Dalam Hukum Nasional


Hukum Adat merupakan hukum yang berlaku dan berkembang dalam lingkungan
masyarakat di suatu daerah. Ada beberapa pengertian mengenai hukum adat. Menurut M.M.
Djojodiguno hukum adat yaitu suatu karya masyarakat tertentu yang bertujuan tata yang adil
dalam tingkah laku dan perbuatan di dalam masyarakat demi kesejahteraan masyarakat
sendiri. Menurut R. Soepomo, hukum adat adalah hukum yang tidak tertulis yang meliputi
peraturan hidup yang tidak ditetapkan oleh pihak yang berwajib, tetapi ditaati masyarakat
berdasar keyakinan bahwa peraturan tersebut mempunyai kekuatan hukum. Menurut Van
Vollenhoven hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku positif dimana di satu pihak
mempunyai sanksi sedangkan di pihak lain tidak dikodifikasi. Sedangkan Surojo
Wignyodipuro memberikan definisi hukum adat pada umumnya belum atau tidak tertulis
yaitu kompleks norma-norma yang bersumber pada perasaan keadilan rakyat yang selalu
berkembang meliputi peraturan tingkah laku manusia dalam kehidupan sehari-hari, senantiasa
ditaati dan dihormati karena mempunyai akibat hukum atau sanksi. Dari empat definisi di
atas, dapat disimpulkan bahwa Hukum Adat merupakan sebuah aturan yang tidak tertulis dan
tidak dikodifikasikan, namun tetap ditaati dalam masyarakat karena mempunyai suatu sanksi
tertentu bila tidak ditaati. Padahal, dalam sebuah negara hukum, berlaku sebuah asas yaitu
asas legalitas. Asas legalitas menyatakan bahwa tidak ada hukum selain yang dituliskan di
dalam hukum. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum. Namun di suatu sisi bila hakim
tidak dapat menemukan hukumnya dalam hukum tertulis, seorang hakim harus dapat
menemukan hukumnya dalam aturan yang hidup dalam masyarakat. Diakui atau tidak,
namun Hukum Adat juga mempunyai peran dalam Sistem Hukum Nasional di Indonesia.
Hukum adat merupakan nilai-nilai yang hidup dan berkembang di dalam masyarakat
suatu daerah. Walaupun sebagian besar Hukum Adat tidak tertulis, namun ia mempunyai daya
ikat yang kuat dalam masyarakat. Ada sanksi tersendiri dari masyarakat jika melanggar
aturan hukum adat. Hukum Adat yang hidup dalam masyarakat ini bagi masyarakat yang
masih kental budaya aslinya akan sangat terasa. Penerapan hukum adat dalam kehidupan
sehari-hari juga sering diterapkan oleh masyarakat. Bahkan seorang hakim, jika ia
menghadapi sebuah perkara dan ia tidak dapat menemukannya dalam hukum tertulis, ia harus
dapat menemukan hukumnya dalam aturan yang hidup dalam masyarakat. Artinya hakim
juga ha rus mengerti perihal Hukum Adat. Hukum Adat dapat dikatakan sebagai hukum
perdata-nya masyarakat Indonesia.
Dalam seminar Hukum Adat dan Pembinaan Hukum Nasional di Yogyakarta tahun
1975, ditegaskan tentang sifat Hukum Adat sebagai Hukum Nasional atau hukum yang
bersumber pada kepribadian bangsa. Seminar tersebut menghasilkan kesimpulan-kesimpulan
antara lain sebagai berikut:
a. Kedudukan dan Peranan Hukum Adat
1. Hukum adat merupakan salah satu sumber yang penting untuk memperoleh bahanbahan bagi Pembangunan Hukum Nasional, yang menuju Kepada Unifikasi pembuatan
peraturan perundangan dengan tidak mengabaikan timbul/tumbuhnya dan
berkembangnya hukum kebiasaan dan pengadilan dalam pembinaan hukum.
2. Pengambilan bahan-bahan dari hukum adatadalam penyusunan Hukum Nasional pada
dasarnya berarti:

MARID CANDRA S.

Penggunaan konsepsi-konsepsi dan azas-azas hukum dari hukum adat untuk


dirumuskan dalam norma-norma hukum yang memenuhi kebutuhan masyarakat
masa kini dan mendatang dalam rangka membangun masyarakat yang adil dan
makmur berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar.
Penggunaan lembaga-lembaga hukum adat yang dimodernisir dan disesuaikan
dengan kebutuhan zaman tanpa menghilangkan ciri dan sifat-sifat kepribadian
Indonesianya.
Memasukkan konsep-konsep dan azas-azas hukum adat ke dalam lembaga-lembaga
hukum dari hukum asing yang dipergunakan untuk memperkaya dan
memperkembangkan Hukum Nasional, agar tidak bertentangan dengan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar 1945.
3. Di dalam pembinaan hukum harta kekayaan nasional, hukum adat merupakan salah
satu unsur sedangkan di dalam pembinaan hukum kekeluargaan dan hukum kewarisan
nasional merupakan intinya.
4. Dengan terbentuknya hukum nasional yang mengandung unsur-unsur hukum adat,
maka kedudukan dan peranan hukum adat itu telah terserap di dalam hukum nasional.
b. Hukum Adat dalam Perundang-Undangan
1. Hukum Adat, melalui perundang-undangan, putusan hakim, dan ilmu hukum
hendaknya dibina ke arah Hukum Nasional secara hati-hati.
2. Hukum Perdata Nasional hendaknya merupakan hukum kesatuan bagi seluruh rakyat
Indonesia dan diatur dalam Undang-Undang yang bersifat luwes yang bersumber pada
azas-azas dan Jiwa hukum adat.
3. Kodifikasi dan Unifikasi hukum dengan menggunakan bahan-bahan dari hukum adat,
hendaknya dibatasi pada bidang-bidang dan hal-hal yang sudah mungkin dilaksanakan
pada tingkat nasional. Bidang-bidang hukum yang diatur oleh hukum adat atau hukum
kebiasaan lain yang masih bercorak lokal ataupun regional, sepanjang tidak
bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 serta tidak
menghambat pembangunan masih diakui berlakunya untuk kemudian dibina ke arah
unifikasi hukum demi persatuan bangsa.
4. Menyarankan untuk segera mengadakan kegiatan-kegiatan unifikasi hukum harta
kekayaan adat yang tidak erat hubungannya dengan kehidupan spirituil dan hukum
harta kekayaan barat, dalam perundang-undangan sehingga terbentuknya hukum harta
kekayaan nasional.
5. Menyarankan agar dalam mengikhtiarkan pengarahan hukum kekeluargaan dan hukum
kewarisan kepada unifikasi hukum nasional dilakukan melalui lembaga peradilan.
6. Hendaklah dibuat Undang-undang yang mengandung azas-azas pokok hukum
perundang-undangan yang dapat mengatur politik hukum, termasuk kedudukan hukum
adat.
c. Hukum Adat dalam Putusan Hakim
1. Hendaklah hukum adat kekeluargaan dan kewarisan lebih diperkembangkan ke arah
hukum yang bersifat bilateral/parental yang memberikan kedudukan yang sederajat
antara pria dan wanita.
2. Dalam rangka pembinaan Hukum Perdata Nasional hendaknya diadakan publikasi
jurisprudensi yang teratur dan tersebar luas.

MARID CANDRA S.

3. Dalam hal terdapat pertentangan antara undang-undang dengan hukum adat hendaknya
hakim memutus berdasarkan undang-undang dengan bijaksana.
4. Demi terbinanya Hukum Perdata Nasional yang sesuai dengan politik hukum negara
kita, diperlukan hakim-hakim yang berorientasi pada pembinaan hukum.
5. Perdamaian dan kedamaian adalah tujuan tiap masyarakat karena itu tiap sengketa
Hukum hendaklah diusahakan didamaikan.
d. Pengajaran dan Penelitian
1. Pendidikan hukum bertujuan untuk menghasilkan sarjana hukum yang memiliki
pengetahuan tentang hukum dan lingkungan sosial ketrampilan teoritis dan praktis dan
berkepribadian. Dalam pengajaran hukum maka sepatutnya diajarkan pula metode dan
teknik penelitian hukum sebagai mata kuliah tersendiri supaya dapat menunjang
penelitian hukum lainnya.
2. Penelitian-penelitian hukum adat seyogyanya memprioritaskan identifikasi dan
inventarisasi hukum adat masyarakat-masyarakat setempat untuk kepentingan
pembinaan hukum nasional maupun untuk kepentingan pelaksanaan penegakan hukum
dan pendidikan umum. Pelaksanaan hal-hal yang dinyatakan tadi dilakukan menurut
tahap-tahap sebagai berikut:
Identifikasi dan inventarisasi daerah-daerah yang hukum adatnya pernah diteliti dan
belum pernah diteliti.
Melakukan penelitian terhadap daerah-daerah yang belum pernah diteliti hukum
adatnya dan mengadakan penelitian kembali terhadap daerah yang pernah diteliti
hukum adatnya.
Penulisan-penulisan monografis terhadap hasil-hasil penelitian sub a di atas agar
dapat dijadikan pegangan bagi pembentuk hukum, pelaksana hukum dan pendidikan
hukum.
Keberadaan hukum adat dalam tata hukum nasional di Indonesia akan tetap eksis. Dalam hal
ini Prof. Soepomo memberikan pandangannya sebagai berikut:
1) Bahwa dalam lapangan hidup kekeluargaan, hukum adat masih akan menguasai
masyarakat Indonesia.
2) Bahwa hukum pidana dari suatu negara wajib sesuai dengan corak dan sifat-sifat
bangsanya atau masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, maka hukum adat pidana akan
memberi bahan-bahan yang sangat berharga dalam pembentukan KUH Pidana baru untuk
negara kita.
3) Bahwa hukum adat sebagai hukum kebiasaan yang tik tertulis akan tetap menjadi sumber
hukum baru dalam hal-hal yang belum / tidak ditetapkan oleh undang-undang.Hukum adat
adalah aturan tidak tertulis yang hidup di dalam masyarakat adat suatu daerah dan akan
tetap hidup selama masyarakatnya masih memenuhi hukum adat yang telah diwariskan
kepada mereka dari para nenek moyang sebelum mereka. Oleh karena itu, keberadaan
hukum adat dan kedudukannya dalam tata hukum nasional tidak dapat dipungkiri
walaupun hukum adat tidak tertulis dan berdasarkan asas legalitas adalah hukum yang
tidak sah. Hukum adat akan selalu ada dan hidup di dalam masyarakat