Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II

ANALGETIKA pada MENCIT

Nama
Reza Pahlevi
Evie Rosiana Dewi
Lina Puspita Sari
28 Maret 2016

NIM
17141087B
17141088B
17141090B
Nilai

Ibu Ika Purwidyaningrum, M.Sc., Apt.

D3 FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
MARET 2016
I.

TUJUAN PRAKTIKUM

Mahasiswa dapat mengenal, mempraktekan dan membandingkan daya


analgetik parasetamol, CMC, dan kunyit menggunakan metode rangsang
kimia.
II.

DASAR TEORI
Analgetika atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (Tan hoan,1964, hal.295).
Nyeri adalah gejala penyakit atau kerusakan yang paling sering.Walaupun
sering berfungsi untuk mengingatkan, melindungi dan sering memudahkan
diagnosis, pasien merasakannya sebagai hal yang tak mengenakkan, kebanyakan
menyiksa dankarena itu berusaha untuk bebas darinya. Seluruh kulit luar mukosa
yang membatasi jaringan dan juga banyak organ dalam bagian luar tubuh peka
terhadap rasa nyeri,tetapi ternyata terdapat juga organ yang tak mempunyai
reseptor nyeri, seperti misalnya otak. Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal,
kimia atau listrik melampaui suatu nilai ambang tertentu (nilai ambang nyeri)dan
karena itumenyebabkan kerusakan jaringan dengan pembebasan yang disebut
senyawa nyeri (Mutschler,1999).
Semua senyawa nyeri (mediator nyeri) seperti histamine, bradikin,
leukotriendan prostaglandin merangsang reseptor nyeri (nociceptor )di ujungujung saraf bebasdi kulit, mukosa serta jaringan lain dan demikian menimbulkan
antara lain reaksiradang dan kejang-kejang. Nociceptor ini juga terdapat di seluruh
jaringan dan organtubuh, terkecuali di SSP. Dari tempat ini rangsangan disalurkan
ke otak melalui jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan sangat banyak
sinaps via sumsum- belakang, sumsum-lanjutan dan otak-tengah. Dari thalamus
impuls kemudianditeruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls dirasakan
sebagai nyeri (Tjaydan Rahardja, 2007).
Mediator nyeri penting adalah amin histamine yang bertanggungjawab untuk
kebanyakan reaksi alergi (bronchokonstriksi, pengembangan mukosa, pruritus)
dan nyeri. Bradikinin adalah polipeptida (rangkaian asam amino)yang dibentuk
dari protein plasma. Prostaglandin mirip strukturnya dengan asam lemak dan
terbentuk dari asam arachidonat. Menurut perkiraan zat-zat ini meningkatkan
kepekaan ujung-saraf sensoris bagi rangsangan nyeri yang diakibatkan oleh
mediator lainnya. Zat-zat ini berkhasiat vasodilatasi kuat dan meningkatkan
permeabilitas kapiler yang mengakibatkan radang dan udema. Berhubung
kerjanya serta inaktivasinya pesat dan bersifat local, maka juga dinamakan

hormon lokal. Mungkin sekali zat-zat ini juga bekerja sebagai mediator demam
(Collins,et.al., 2000).
Terkadang, nyeri dapat berarti perasaan emosional yang tidak nyaman dan
berkaitan dengan ancaman seperti kerusakan pada jaringan karena pada dasarnya
rasanyeri merupakan suatu gejala, serta isyarat bahaya tentang adanya gangguan
pada tubuh umumnya dan jaringan khususnya. Meskipun terbilang ampuh, jenis
obat ini umumnya dapat menimbulkan ketergantungan pada pemakai. Untuk
mengurangi atau meredakan rasa sakit atau nyeri tersebut maka banyak digunakan
obat-obat analgetik (seperti parasetamol, asam mefenamat dan antalgin) yang
bekerja dengan memblokir pelepasan mediator nyeri sehingga reseptor nyeri tidak
menerima rangsang nyeri (Green, 2009).
Adapun jenis nyeri beserta terapinya, yaitu (Medicafarma,2008):
a. Nyeri ringan
Contohnya: sakit gigi, sakit kepala, sakit otot karena infeksi virus, nyeri haid,
keseleo. Pada nyeri dapat digunakan analgetik perifer seperti parasetamol,
asetosaldan glafenin.
b. Rasa nyeri menahun
Contohnya: rheumatic dan arthritis. Pada nyeri ini dapat digunakan analgetik
anti-inflamasi, seperti: asetosal, ibuprofendan indometasin.
c. Nyeri hebat
Contoh: nyeri organ dalam, lambung, usus, batu ginjal, batu empedu. Pada
nyeri ini dapat digunakan analgetik sentral berupa atropine, butilskopolamin
(bustopan), camylofen ( ascavan).
d. Nyeri hebat menahun
Contoh: kanker, rheumatic, neuralgia berat. Pada nyeri ini digunakan analgetik
narkotik, seperti fentanil, dekstromoramida, bezitramida.
Penanganan rasa nyeri Berdasarkan proses terjadinya, rasa nyeri dapat
dilawan dengan beberapacara, yakni (Tan Hoan,1964, hal.296):
Merintangi terbentuknya rangsangan pada reseptor nyeri pada perifer dengan
analgetika perifer.
Merintangi penyaluran rangsangan di saraf-saraf sensoris, misalnya dengan
anestetika lokal.
Blockade pusat nyeri di ssp dengan analgetika sentral (narkotika) atau dengan
anestetika umum.
Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok yaitu
(Tan Hoan,1964, hal.296):
Analgetika perifer (non-narkotik ), yang terdiri dari obat-obat yang tidak
bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral, Seperti golongan salisilat seperti

aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya
seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dll.
Analgetik narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat,
seperti padafractura dan kanker .Analgesik opioid/analgesik narkotika
Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti
opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan
atau menghilangkan rasa nyeri.
Tetapi semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka
usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan
dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa
bahaya adiksi (Medicastore, 2006).
Ada 3 golongan obat ini yaitu(Medicastore, 2006):
a. Obat yang berasal dari opium-morfin
b. Senyawa semisintetik morfin
c. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.
Mekanisme kerja obat analgesik antipiretik serta obat anti-inflamasi
nonsteroid (NSAIDs) merupakan suatu kelompok obat yang heterogen, dan
beberapa obat memiliki perbedaan secara kimia. Namun, obat-obat NSAID
mempunyai banyak persamaan dalam efek terapi dan efek sampingnya.
Prototipe obat golongan ini adalah aspirin,sehingga sering disebut juga sebagai
aspirin like drugs. Efek terapi dan efek sampingdari obat golongan NSAIDs
sebagian besar tergantung dari penghambatan biosintesis prostaglandin. Namun,
obat golongan NSAIDs secara umum tidak menghambat biosintesis leukotrien
yang berperan dalam peradangan. Golongan obat NSAIDs bekerja dengan
menghambat enzim siklo-oksigenase, sehingga dapat mengganggu perubahan
asam arakhidonat menjadi prostaglandin. Setiap obat menghambat enzimsiklooksigenase dengan cara yang berbeda (Ian Tanu,1972, hal.231).
Parasetamol dapat menghambat biosintesis prostaglandin

apabila

lingkungannya mempunyai kadar peroksida yang rendah seperti di hipotalamus,


sehingga parasetamol mempunyai efek anti-inflamasi yang rendah karena lokasi
peradangan biasanya mengandung banyak peroksida yang dihasilkan oleh
leukosit (Ian Tanu, 1972, hal.231).
Aspirin dapat menghambat

biosintesis

prostaglandin

dengan

cara

mengasetilasi gugus aktif serin dari enzim siklo-oksigenase. Thrombosit sangat


rentan terhadap penghambatan enzim siklo-oksigenase karena thrombosit tidak
mampu mengadakan regenerasi enzim siklo-oksigenase(Ian Tanu, 1972, hal.231).

Semua obat golongan NSAIDs bersifat antipiretik, analgesik, dan antiinflamasi. Efek samping obat golongan NSAIDs didasari oleh hambatan pada
sistem biosintesis prostaglandin. Selain itu, sebagian besar obat bersifat asam
sehingga lebih banyak terkumpul dalam sel yang bersifat asam seperti di
lambung, ginjal, dan jaringan inflamasi. Efek samping lain diantaranya adalah
gangguan fungsi thrombosit akibat penghambatan biosintesis tromboksan A2
dengan akibat terjadinya perpanjangan waktu perdarahan. Namun, efek ini telah
dimanfaatkan untuk terapi terhadap thrombo-emboli (Gunawan, 2009).
Selain itu, efek samping lain diantaranya adalah ulkuslambung dan perdarahan
saluran cerna, hal ini disebabkan oleh adanya iritasi akibat hambatan biosintesis
prostaglandin PGE2 dan prostacyclin. PGE2 dan PGI2 banyak ditemukan di
mukosa lambung dengan fungsi untuk menghambat sekresi asam lambung dan
merangsang sekresi mukus usus halus yang bersifat sitoprotektan (IanTanu,1972,
hal.231).
Contoh obat analgesic dan antipiretik(Junaidi, 2009, hal.270-277):
1. Aspirin/asam asetil salisilat
Indikasi: Meringankan sakit kepala, pusing, sakit gigi, nyeri otot,
menurunkan demam. Dosis: dewasa 500-600 mg/4jam. Sehari maksimum
4 gram. Anak-anak 2-3 tahun 80-90 mg, 4-5 tahun160-240 mg, 6-8 tahun
240-320 mg, 9-10 tahun 320-400 mg, >11tahun 400-480 mg. Semua
diberikan tiap 4 jam setelah makan. Kontraindikasi: ulkus peptikum,
kelainan perdarahan, asma. Efek samping: gangguan gastrointestinal,
pusing, reaksi hipersensitif.
2. Asam mefenamat sebagai analgetik, obat ini adalah satu-satunya yang
mempunyai kerja yang baik pada pusat sakit dan saraf perifer. Asam
mefenamat cepat diserapdan konsentrasi puncak dalam darah dicapai
dalam 2 jam setelah pemberian, dan diekskresikan melalui urin. Indikasi:
untuk mengatasi rasa sakit dan nyeri yang ditimbulkan dari rematik
akutdan

kronis,luka

pada

jaringan

lunak,

pegal

pada

otot

dansendi,dismonore, sakit kepala, sakit gigi, setelah operasi dll. Dosis:


sebaiknya diberikan sewaktu makan, dan pemakaian tidak boleh lebih dari
7 hari. Anak-anak >6 bulan: 3-6,5mg/kgBB tiap 6 jam atau 4 kali perhari.
Dewasa dan anak >14tahun:dosisi awal 500 mg,kemudian 250mg setiap 6
jam. Kontraindikasi: kepekaan terhadap asam mefenamat, radang atau

tukak padasaluran pencernaan. Efek samping: dapat mengiritasi system


pencernaan,dan mengakibatkan konstipasiatau diare.
3. Parasetamol diserap dengan cepat dan tanpa menimbulkan iritasi disaluran
pencernaan, methemoglobin, atau konstipasi. Indikasi: menghilangkan
demam dan rasa nyeri pada otot/sendi yang menyertai influenza, vaksinasi
dan akibat infelsi lain, sakit kepala, sakitgigi, dismonere, artritis, dan
rematik. Dosis: tablet =anak-anak :0,5-1tab 3-4 kali perhari, dewasa:1-2
tab 3-4 kali perhari Sirup=bayi 0,25-0,5 sdt 3-4 kali perhari,anak-anak :2-5
tahun,1sdt 3-4 kali perhari, 6-12 tahun, 2 sdt 3-4 kali perhari. Di Indonesia
penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah
menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol
sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan
nefropati analgesik. Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya
dosis lebih besar tidak menolong. Dalam sediaannya sering dikombinasi
dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu
meningkatkan dosisnya (Medicastore,2006).
Ada beberapa cara pengujian efek analgetik antara lain, metode Sigmund&Witkin,
Bianci&Franceschini, Jansen&Jageneau, Gibson dan lain-lain yang dilakukan
dengan menilai kemampuan zat uji untuk menghilangkan rasa nyeri yang
diinduksikan pada hewan percobaan (mencit, tikus, marmut), yang meliputi
induksi secara mekanik, termik, elektrik dan secara kimia.
Metode
Bianci&Franceschin

Tempat induksi Jenis


Respon
Kulit
ekor Klip arteri Usaha

Golongan
Analgetika

jaringan dasar mekanik

narkotik

Jansen&Jageneau

pada mencit
Kulit kaki pada Hot

Siegmund,Witkin

mencit
Peritoneum

55-60 C
Fenil

Kontriksi

pada mencit

kuinon,

abdominal non narkotik

menggigit

klip
plate Meloncat

Analgetik
narkotik
Analgetik

Asam
Gibson

Asetat
Mukosa rectum Elektrik
pada mencit

Mencicit

Analgetik
non narkotik

III.

ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Timbangan hewan
2. Spuit injeksi
3. Jarum oral(ujung tumpul)
4. Beaker glass
5. Vial
6. Gelas ukur
7. Wadah pengamatan geliat.
Bahan:
1. Larutan CMC 0,5%
2. Larutan Parasetamol 1%
3. Larutan kunyit
4. Larutan steril asam asetat 3%
5. Etanol 70%
Hewan uji: mencit berumur 40-60 hari

IV.

CARA KERJA

Mencit dibagi menjadi beberapa kelompok

Masing-masing kelompok diberikan secara oral:

Kelompok I
Kelompok II
Kelompok III
Kelompok IV
Kelompok V

: Larutan CMC 0.5% dosis 1mg/20g


: Larutan Parasetamol 1% dosis 500mg/70kgBB
: Larutan Kunyit dosis 7mg/20gBB
: Larutan Kunyit dosis 14mg/20gBB
: Larutan Kunyit dosis 28mg/20gBB

Setelah 30 menit pemberian obat uji, berikan secara intraperitoneal larutan


steril asam asetat 3% dengan dosis 75mg/kgBB

Amati geliat mencit selama 30 menit dengan interval waktu tiap 5 menit

Hitung persen daya analgetik masing-masing obat uji dengan rumus:

% daya analgetik = 100 (P/K x 100)%

Keterangan : P = Jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi obat uji (analgetika)
K = Jumlah kumulatif geliat mencit yang diberi larutan CMC 0.5% (control)

V.

PERHITUNGAN DOSIS
1. Mencit I ( 18,28 g) = CMC 0,5% 1 ml/20 g
Volume pemberian = 1 ml
X

x=

20 g
18,28 g
18,28 g x 1 ml
20 g

= 0,914 ml

2. Mencit II (16,16 g) = Parasetamol 1% Dosis 500mg/70kgBB


500 mg x 0,0026 = 1,3 mg/20 g
1,3 mg 20 g
x
x=

16,16 g

16,16 gx 1,3 mg
20 g

= 1,0504 mg/16,16gBB

Volume pemberian:
1000 mg

100 ml

1,0504 mg

x=

1,0504 mg x 100 ml
1000 mg

= 0,11 ml

3. Mencit III (21,38 g) Kunyit dosis 7mg/20gBB Larutan stok 15gr/200ml

7 mg 20 g
x
21,38 g
21,38 g x 7 ml
x=
20 g

= 7,483 mg/21,38 gBB

Volume pemberian:
15000 mg 200 ml
7,483 mg x
7,483 mg x 200 ml
x=
15000mg

= 0,1 ml

4. Mencit IV (17,99 g) Kunyit dosis 14mg/20gBB Larutan stok 15gr/200ml


14 mg 20 g
x
17,99 g
17,99 g x 14 ml
x=
= 12,593 mg/17,99gBB
20 g
Volume pemberian:
15000 mg 200 ml
12,593 mg x
12,593 mg x 200 ml
x=
15000mg

= 0,17 ml

5. Mencit V (15,23 g) Kunyit dosis 28mg/20gBB Larutan stok 15gr/200ml


28 mg 20 g
x
15,23 g
15,23 g x 28 ml
x=
= 21,322 mg/15,23 gBB
20 g
Volume pemberian:
15000 mg 200 ml
21,322 mg x
21,322 mg x 200 ml
x=
15000mg

= 0,28 ml

Peritoneal ( Asam Asetat 3% Dosis 75mg/kgBB )


1. Mencit I
75 mg 1000 g
x
18,28 g
18,28 mg x 75 g
x=
= 1,371 mg/18,28 gBB
1000 g
Volume pemberian:
3000 mg 100 ml
1,371 mg x
1,371 mg x 100 ml
x=
3000 mg
2. Mencit II
75 mg 1000 g

= 0,05ml

16,16 g
16,16 mg x 75 g
x=
1000 g
x

= 1,212 mg/16,16 gBB

Volume pemberian:
3000 mg 100 ml
1,212 mg x
1,212 mg x 100 ml
x=
3000 mg
3. Mencit III
75 mg 1000 g
x
21,38 g
21,38 mg x 75 g
x=
1000 g

= 0,04ml

= 1,6035 mg/21,38 gBB

Volume pemberian:
3000 mg 100 ml
1,6035 mg x
1,6035 mg x 100 ml
x=
3000mg
4. Mencit IV
75 mg 1000 g
x
17,99 g
17,99 mg x 75 g
x=
1000 g

= 1,34925 mg/17,99 gBB

Volume pemberian:
3000 mg 100 ml
1,34925 mg x
1,34925 mg x 100 ml
x=
3000mg
5. Mencit V
75 mg 1000 g
x
15,23 g
15,23 mg x 75 g
x=
1000 g

= 0,04 ml

= 1,14225 mg/15,23 gBB

Volume pemberian:
3000 mg
100 ml
1,14225 mg x
1,14225 mg x 100 ml
x=
3000mg

VI.

= 0,05 ml

DATA HASIL PERCOBAAN

= 0,04 ml

Menc
it
1
2
3
4
5

Jumlah geliat menit ke-(tiap 5 menit)


1
2
3
4
5
6
CMC 0,5%

Kumulatif

% Daya analgetik

15
5
40
9
48
23,4

8
15
44
22
53
30,4

22
20
41
22
49
30,8

29
27
43
21
50
34

25
17
45
15
55
31,4

28
16
42
16
52
30,8

137
100
255
105
307
180,8

15
19
18
10
19
16,2

18
22
11
12
13
15,2

22
11
15
18
17
16,6

25
10
12
16
15
15,6

31
5
9
14
10
13,8

133
76
87
73
92
90,2

90,2
= 100-( 180,8

12
9
22
3
18
12,8

1
2
3
4
5

Asam
Mefenamat
1%
500mg/70k
gBB
x

6
10
22
3
21
12,4

10
25
20
13
23
18,2

15
15
24
14
26
18,8

13
20
25
14
21
18,6

16
41
15
19
27
17,6

20
24
8
19
18
17,8

80
105
114
82
136
103,4

103,4
= 100-( 180,8

1
2
3
4
5

Paracetamol
1%
500mg/70k
gBB

25
20
29
23
31
25,6

27
15
26
22
28
23,6

31
30
27
18
29
27

35
35
30
16
34
30

29
42
18
12
20
24,2

167
153
160
102
174
151,2

151,2
= 100-( 180,8

20
11
30
11
32
20,8

Na
diklofenak
0,5%
50mg/70kg
BB
x

4
5
6
2
4
4,2

7
3
4
11
5
7,8

6
7
3
28
4
9,6

8
8
2
15
2
7

0
9
0
9
0
3,2

5
5
0
17
0
5,4

30
40
15
82
19
37,2

37,2
= 100-( 180,8

x
1
2
3
4
5

1
2
3
4
5

Asetosal
1%
500mg/70k
gBB

x100%)
= 50,11%

x100%)
= 42,81%

x100%)
= 16,37%

x100%)
= 79,42%

VII.

ANALISA DATA

Test of Homogeneity of Variances(a,b,c,d,e,f,g,h,i,j)


a Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_1 because the sum of caseweights is less
than the number of groups.
b Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_1 because only one group has a computed
variance.
c Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_2 because the sum of caseweights is less
than the number of groups.
d Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_2 because only one group has a computed
variance.
e Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_3 because the sum of caseweights is less
than the number of groups.
f Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_3 because only one group has a computed
variance.
g Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_4 because the sum of caseweights is less
than the number of groups.
h Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_4 because only one group has a computed
variance.
i Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_5 because the sum of caseweights is less
than the number of groups.
j Test of homogeneity of variances cannot be performed for Mencit_5 because only one group has a computed
variance.

Robust Tests of Equality of Means(b,c,d,e,f)

Mencit_1

Welch
Brown-Forsythe

Mencit_2

Welch
Brown-Forsythe
Welch

Mencit_3
Mencit_4
Mencit_5

Statistic(a)
.
.

df1

df2

Sig.

.
.

.
.

.
.

Brown-Forsythe

Welch

Brown-Forsythe

Welch

Brown-Forsythe

.
a Asymptotically F distributed.
b Robust tests of equality of means cannot be performed for Mencit_1 because at least one group has the sum
of case weights less than or equal to 1.
c Robust tests of equality of means cannot be performed for Mencit_2 because at least one group has the sum
of case weights less than or equal to 1.
d Robust tests of equality of means cannot be performed for Mencit_3 because at least one group has the sum
of case weights less than or equal to 1.
e Robust tests of equality of means cannot be performed for Mencit_4 because at least one group has the sum
of case weights less than or equal to 1.
f Robust tests of equality of means cannot be performed for Mencit_5 because at least one group has the sum of
case weights less than or equal to 1.

STATISTIK ONE SAMPLE T-TEST


One-Sample Statistics

N
Perlakuan

Mean
3.0000

Std. Deviation
1.58114

Std. Error
Mean
.70711

%Daya analgetik

Axis Title

VIII.

90%
80%
70%
60%
50%
40%
30%
20%
10%
0% 0.00%

PEMBAHASAN
Analgetika adalah

79.42%
50.11%

42.81%
16.37%

obat

atau

senyawa

yang

dipergunakan

untuk

mengurangi atau menghalau rasa sakit atau nyeri. Tujuan dari percobaan kali
ini adalah mengenal, mempraktekkan, dan membandingkan daya analgetika
dari

obat parasetamol

berdasarkan

perbedaan

jumlah

dosis

pemberian

menggunakan metode rangsang kimia. Percobaan ini dilakukan terhadap


hewan percobaan, yaitu mencit (Mus muscullus). Metode rangsang kimia
digunakan berdasarkan atas rangsang nyeri yang ditimbulkan oleh zat-zat
kimia yang digunakan untuk penetapan daya analgetika.
Percobaan menggunakan metode rangsangan kimia yang ditujukan untuk
melihat respon mencit terhadap Steril Asam Asetat (SSA) 3% yang dapat
menimbulkan respon menggeliat dan menarik kaki ke belakang dari mencit ketika
menahan nyeri pada perut. Pada percobaan kali ini menggunakan SSA yang
berfungsi sebagai induksi nyeri dan mencit yang digunakan dalam percobaan
sebanyak 5 ekor.
Langkah pertama yang dilakukan adalah pemberian obat-obat analgetik
pada tiap mencit. Mencit pertama berlaku sebagai control yang diberikan larutan
CMC 0.5% secara per oral sebanyak 1,2 ml. Mencit kedua diberikan larutan

asetosal 1% 0,15ml, mencit ketiga diberikan larutan asam mefenamat 1% 0,16ml,


mencit keempat diberikan larutan paracetamol 1% 0,13ml, dan mencit kelima
diberikan larutan natrium diklofenak 0,5% 0,25ml. Setelah 5 menit masingmasing mencit diinjeksi secara intraperitoneal dengan larutan induksi Steril
Asam Asetat 3% dengan dosis yang berbeda. Pemberian dilakukan secara
intraperitoneal karena untuk mencegah penguraian steril asam asetat saat
melewati jaringan fisiologik pada organ tertentu. Dan laruran steril asam
asetat dikhawatirkan dapat merusak jaringan tubuh jika diberikan melalui rute
lain, misalnya per oral, karena sifat kerongkongan cenderung bersifat tidak tahan
terhadap pengaruh asam.
Larutan steril asam asetat diberikan setelah 5 menit karena diketahui
bahwa obat yang telah diberikan sebelumnya sudah mengalami fase absorbsi
untuk meredakan rasa nyeri. Selama beberapa menit kemudian, setelah diberi
larutan steril asam asetat 3% mencit akan menggeliat dengan ditandai dengan
kejang perut dan kaki ditarik ke belakang. Jumlah geliat mencit dihitung
setiap selang waktu 5 menit selama 30 menit. Pengamatan yang dilakukan
agak

rumit

karena

praktikan sulit

membedakan

antara

geliatan

yang

diakibatkan oleh rasa nyeri dari obat atau karena mencit merasa kesakitan
akibat penyuntikan intraperitoneal pada perut mencit.
Dari kurva diatas dapat diketahui urutan persentase daya analgetik dari yang
paling tinggi yaitu Na diklofenak 0,5% 79,42%, Asetosal 1% 50,11%, Asam
mefenamat 1% 42,81%, dan paracetamol 1% 16,37%. Sedangkan menurut
literature daya analgetik yang paling kuat adalah Na diklofenak, Asam mefenamat,
Parasetamol, Asetosal.
Parasetamol adalah obat analgetik yang memiliki daya analgetik dengan
presentasi yang tidak terlalu tinggi yaitu sebesar 16.37 %, dimana Parasetamol
yang

merupakan

Parasetamol

derivat-asetanilida

berkhasiat

sebagai

adalah

analgetik

metabolit
dan

dari fenasetin.

antipiretik. Umumnya

parasetamol dianggap sebagai zat anti nyeri yang paling aman, juga untuk
swamedikasi (pengobatan mandiri).
Pada mencit yang diperlakukan sebagai kontrol, tercatat jumlah rata-rata
kumulatif geliat selama 30 menit adalah sebanyak 180,8. Jumlah rata-rata
kumulatif tersebut lebih banyak dari rata-rata geliat mencit larutan obat uji.
Dalam praktikum kali ini, ada kemungkinan data yang didapatkan kurang
valid. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, antara

lain

faktor

penyuntikan yang salah atau kurang tepat sehingga volume obat yang
disuntikan tidak tepat. Dapat juga dikarenakan faktor fisiologis dari mencit,
mengingat hewan percobaan ini telah mengalami percobaan sebelumnya
sehingga dapat terjadi kemungkinan hewan percobaan yang stress dan juga
kelelahan. Penyimpangan pengambilan data juga dapat terjadi karena pengamatan
praktikan yang kurang seksama sehingga ada data geliat mencit yang mungkin
terlewat tidak diamati. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi hasil dan
perhitungan yang dibuat.
IX.

KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah dilakukan dapat ditarik beberapa kesimpulan
yaitu :
Analgetik merupakan obat yang dapat menghilangkan rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.
Dari kurva diatas dapat diketahui urutan persentase daya analgetik dari
yang paling tinggi yaitu Na diklofenak 0,5% 79,42%, Asetosal 1%
50,11%, Asam mefenamat 1% 42,81%, dan paracetamol 1% 16,37%.

X.

DAFTAR PUSTAKA
Purwidyaningrum, Ika dkk.2016. Petunjuk praktikum farmakologi d3 farmasi.
Universitas Setia Budi
http://sodiksedeng.blogspot.co.id/2013/04/uji-analgetik.html

Anda mungkin juga menyukai