Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Untuk dapat menyelenggarakan Pembangunan Kesehatan dengan
sebaik-baiknya perlu diketahui hakikat pembangunan nasional adalah
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh
masyarakat Indonesia serta tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi
setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan yang optimal
Sampai saat ini penyakit diare atau juga sering disebut
Gastroenteritis, masih merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari
masyarakat Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan Puskesmas
atau Balai Pengobatan, hampir selalu termasuk dalam kelompok

kelompok penyebab utama bagi masyarakat yang berkunjung ke puskesmas.


Angka kesakitan adalah sekitar 200 400 kejadian diare diantara 1000
penduduk setiap tahunnya. Dengan demikian di Indonesia dapat ditemukan
penderita diare sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar (70
80%) dari penderita ini adalah anak dibawah umur lima tahun ( 40 juta
kejadian). Kelompok ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kejadian
diare (Perawatan Anak Sakit, Ngastiyah, 1997)
Maka dari itu pengawasan terhadap kesehatan anak merupakan
penunjang penurunan angka kematian bayi dan balita.tak lepas dari itu
semua, hubungan yang harmonis antara anak dan orang tua diharapkan
mampu mengurangi infont loss. Karenanya dalam pemberian perawatan
anak, haruslah dengan pendekatan yang holistik. Sebagai tenaga kesehatan,
kita diharapkan lebih berwawasan luas dalam menghadapi perawatan anak
sakit. Dan menyarankan kepada orang tua agar menjaga kebersihan
makanan, lingkungan dan memperhatikan tumbuh kembang anaknya

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Mahasiswa dapat menerapkan asuhan kebidanan pada ibu nifas
sehingga dapat memperluas, memperbanyak pengetahuan dan
ketrampilan mengenai asuhan kebidanan pada An D Usia 12 bulan
dengan Gastroenteritis.
1.2.2. Tujuan Khusus
Setelah penyusunan asuhan kebidanan ini diharapkan mahasiswa
dapat :
a. Melakukan pengkajian data subyektif pada An D Usia 12
bulan dengan Gastroenteritis
b. Melakukan pengkajian data obyektif pada An D Usia 12 bulan
dengan Gastroenteritis
c. Menentukan analisa data dengan menegakkan diagnosa pada An
D Usia 12 bulan dengan Gastroenteritis
d. Melakukan penatalaksanaan yang telah direncanakan pada An
D Usia 12 bulan dengan Gastroenteritis
1.3. Manfaat
1.3.1 Mahasiswa
Mahasiswa dapat memahami tentang konsep dasar Gastroenteritis.
1.3.2 Institusi
Sebagai referensidan bahan baca tambahan untuk menambah
pengetahuan mahasiswa kebidanan STIKES Dian Husada serta dapat
membuat laporan asuhan kebidanan pada pasien deng Gastroenteritis.
1.3.3 Lahan Praktik
RSUD Bangil meningkatkan asuhan pelayanan yang komprehensif
pada pasien dengan Gastroenteritis

1.4. Metode Penelitian


Wawancara
Yaitu pengumpulan data dengan tanya jawab langsung kepada ibu, klien,
keluarga, walaupun tim kesehatan yang terkait untuk mendapatkan data
subjektif.
1.4.1 Observasi
Yaitu pengamatan secara langsung terhadap perubahan yang terjadi
pada klien.
1.4.2 Pemeriksaan Fisik
Yaitu pemeriksaan pada klien meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi
dan perkusi.
1.4.3 Studi Kepustakaan
Yaitu mempelajari buku-buku makalah yang ada hubungannya dengan
persalinan dan masalah yang ditemukan.
1.4.4 Pemeriksaan Penunjang
Yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosa seperti pemeriksaan laboratorium.
1.5

Metode Penulisan
Metode penulisan yang dipakai dalam penyusunan studi kasus ini
adalah penulisan secara deskriptif berupa studi kasus yaitu metode yang
mempunyai tujuan utama membuat gambaran tentang suatu keadaan secara
nyata.

1.6

Teknik Pengumpulan Data


Untuk pengumpulan data yang diperlukan, penulis menggunakan
teknik pengumpulan data sebagai berikut.
1.6.1 Studi Kepustakaan
Yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh dari literatur, bukubuku

serta

makalah

Gastroenteritas.
1.6.2 Wawancara

yang

relevan

yang

berkaitan

dengan

Yaitu pengumpulan data dengan tanya jawab langsung antara tenaga


kesehatan, pasien, keluarga, tenaga kesehatan lainnya untuk
memperoleh data subyektif.
1.6.3 Pemeriksaan Fisik
Yaitu suatu teknis pengumpulan

data

dengan

melakukan

pemeriksaan meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi.


1.6.4 Observasi
Yaitu suatu teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan
langsung kepada klien secara berkala/berencana.
1.6.5 Studi Dokumentasi
Yaitu teknik pengumpulan data yang diperoleh melihat data yang
sudah ada dalam status klien, catatan medik/penunjang lainnya.
1.7

Sistematika Penulisan
Menjelaskan sistematika penulisan mulai dari pendahuluan sampai
dengan penutup.
BAB I
PENDALUAN
1.1
Latar Belakang
1.2
Rumusan Masalah
1.3
Tujuan
1.3.1 Umum
1.3.2 Khusus
1.4
Manfaat
1.5
Metode Penulisan
1.6
Teknik Pengumpulan Data
1.7
Sistematika Penulisan
BAB II

TINJAUAN TEORI

BAB III

TINJAUAN KASUS

BAB IV

PEMBAHASAN

BAB V

PENUTUP
5.1
5.2

DAFTAR PUSTAKA

Kesimpulan
Saran

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. Pengertian Gastroenteritis


Diare adalah peradangan pada daerah lambung dan usus halus termasuk
didalamnya mukosa dan sub mukosa dari usus halus.

Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair dengan
frekuensi lebih banyak dari biasanya. Bayi dikatakan diare bila sudah lebih
dari 3 kali buang air besar, sedangkan neonatus dikatakan diare bila sudah
lebih dari empat kali buang air besar. (Suryanah, 1997)
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada
bayi dan lebih 3 kali pada anak, konsistensi feces encer dapat berwarna
hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja.
(Ngastiyah, 1997 : 143)
2.2. Penyebab Utama dari Gastroenteritis adalah :
2.2.1

Faktor Infeksi
a.

Infeksi Enteral : Infeksi saluran pencernaan makanan yang


merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral
meliputi sebagai berikut :
1. Infeksi Bakteri
Vibrio, E. Coli, Salmonella, shigella, comylobacteri,
Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya
2. Infeksi Virus
Enterovirus (virus Echo), Cuxsarkie, Poliomyelitis,
Adeno virus, Astrovirus, dan lain lain
3. Infeksi Parasit
Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyvirus, Sanongyloides),
Protozoa, (Entamoeba, Histolytica, Gradia Lamblia,
Trichomonas Hominis), jamur (Candida Albicans)

b.

Parenteral : Infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti :


otitis

media

akut

(OMA),

tonsilitis/tonsilofaringitis,

bronkopneumonia, ensefalitis, dan sebagainya. Keadaan ini


terutama pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun
2.2.2

Faktor Malabsorbsi
a.

Malabsorbsi karbohidrat

Disakarida

(intoleransi

laktosa,

maitosa

dan

sakrosa),

monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa)


pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering intoleransi
laktosa

2.2.3

b.

Malabsorbsi lemak

c.

Malabsorbsi protein

Faktor Makanan
Adalah makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan

2.2.4

Faktor Psikologis
Adalah rasa takut dan cemas (Jarang, tetapi dapat terjadi pada anak
yang lebih besar)

2.3. Patofisiologis
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronis akan terjadi :
a.

Kehilangan

air

dan

elektrolit

(terjadinya

dehidrasi)

yang

mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa


b.

Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran


bertambah)

c.

Hipoglikemia

d.

Gangguan sirkulasi darah

e.

Meningkatkan motilitas dan cepatnya pengosongan pada intestinal


merupakan akibat dari gangguan absorbsi dan ekskresi cairan dan
elektrolit yang berlebih.

f.

Cairan, sodium, potasium dan bikarbonat, berpindah dari rongga


ekstraseluler ke dalam tinja, sehingga mengakibatkan dehidrasi
kekurangan elektrolit dan dapat terjadi asidosis metabolik. (Surjadi,
2001 : 83)

SKEMA

MOTILITAS

Cepatnya pengosongan
pada intestinal
Gangguan absorbsi, ekskresi
cairan dan elektrolit yang
berlebihan
Cairan, sodium, potasium,
bikarbonat pindah dari
rongga ekstraseluler ke tinja
Kekurangan air (dehidrasi)
Gangguan keseimbangan
asam-basa (asidosis metabolik)
Gambar : Gangguan absorbsi cairan dan elektrolit yang berlebihan

Diare yang terjadi merupakan proses dari :


1.

Transportasi aktif akibat rangsangan toksin bakteri terhadap elektrolit


ke dalam usus halus. Sel dalam mukosa intestinal mengalami iritasi
dan meningkatkan sekresi cairan dan elektrolit. Mikroorganisme yang
masuk akan merusak sel mukosa intestinal sehingga menurunkan urea
permukaan intestinal. Perubahan kapasitas intestinal dan terjadi
gangguan observasi cairan dan elektrolit

2.

Peradangan

akan

menurunkan

kemampuan

intestinal

untuk

mengobservasi cairan dan elektrolit dari bahan-bahan makanan, dan


terjadi sindrom malabsorbsi
3.

Meningkatkan motilitas intestinal dapat mengakibatkan gangguan


absorbsi intestinal.

(Suriadi, 2001 : 83)

2.4. Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :
1.

Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga

usus

yang

berlebihan

ini

akan

merangsang

usus

untuk

mengeluarkannya sehingga timbul diare.


2.

Gangguan Sekresi
Akibat rangsangan tertentu misalnya toksin pada dinding usus akan
terjadi peningkatan sekresi air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

3.

Gangguan Motilitas Usus


Hiper peristaltik akan menyebabkan berkurangnya kesempatan usus
untuk menyerap makanan, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila
peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh
berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulan diare pula.

2.5. Gambara Klinis


Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu tubuh biasanya meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare/buang air
besar lebih dari 4 kali sehari. Tinja dari encer sampai cair, kadang-kadang
disertai lendir atau lender campur darah. Warna tinja makin lama berubah
kehijau-hijauan karena bercampur dengan empedu. Anus dan daerah
sekitarnya timbul lecet karena sering defekasi dan tinja makin lama makin
asam sebagai akibat makin banyak asam laktat yang berasal dari laktosa
yang tidak di absorbsi oleh usus selama diare.
Gejala muntah dapat timbul sebelum atau sesudah diare dan dapat
disebabkan karena lambung turut meradang atau akibat gangguan
keseimbangan asam basa dan mulai nampak, yaitu berat badan turun, turgor
kulit menurun, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung (pada bayi),
selaput bibir dan mulut serta kulit tampak kering. Bila keadaan semakin
berat akan terjadi dehidrasi dengan gejala sebagai berikut : rasa haus, mulut
kering, mata cekung, dan pada bayi ubun-ubun cekung. Kehilangan berat
badan normal, turgor kulit menurun (lebih dari 2 dehidrasi berat), kulit
kehilangan kekenyalan, nadi lemah dan cepat.
(Suryanah, 1996 : 157)

2.6. Tahapan Dehidrasi


1. Dehidrasi ringan : Berat badan menurun 3 % - 5 %, dengan volume
cairan yang hilang kurang dari 50 ml/kg.
2. Dehidrasi sedang : Berat badan menurun 6 % - 9 %, dengan volume
cairan yang hilang 50-90 ml/kg.
3. Dehidrasi berat

: Berat badan menurun lebih dari 10 % dengan


volume cairan yang hilang sama dengan atau lebih
dari 100 ml/kg.
(Suriadi, 2001 : 85)

2.7 Penilaian Derajat Dehidrasi


Penilaian
Keadaan Umum

Ringan
Baik

Sedang
Gelisah

Mata
Air mata
Mulut dan lidah
Rasa haus

Normal
Ada
Basah
Minum biasa
tidak haus

Cekung
Tidak ada
Kering
Haus, ingin
minum banyak

Berat
Lesu, lungkai, atau
tidak sadar
Sangat cekung kering
Tidak ada
Sangat kering
Malas minum atau
tidak bisa minum

Kembali
cepat
Tanpa
dehidrasi

Kembali lambat

Kembali sangat lambat

Dehidrasi
ringan/ sedang

Dehidrasi berat

Periksa :
Turgor kulit

Hasil
pemeriksaan

(Arief Mansjoer : 472)

2.8 Pencegahan Gastroenteritis


Tugas penting petugas kesehatan membantu klien diare dengan
meyakinkan dan membantu anggota masyarakat, menerima tindakan
pencegahan tertentu dan terus mempraktekkannya. Tindakan pencegahan ini
adalah :
1.

Pemberian Air Susu Ibu

a. Berikan ASI selama 4-6 bulan pertama kemudian berikan


ASI bersama makanan lain sampai paling kurang anak
berusia satu tahun
b. Untuk menyusui dengan nyaman dan aman, ibu harus :
1) Jangan beri cairan tambahan (seperti air, air gula, susu
bubuk)
2) Memulai pemberian ASI segera setelah bayi lahir
3) Menyusukan sesuai keperluan
4) Keluarkan susu secara manual untuk mencegah
pembendungan payudara selama masa pemisahan dari
bayi
c.

Jika ibu bekerja diluar rumah dan tidak mungkin membawa


bayinya, maka berikan ASI sebelum meninggalkan rumah

d.

Ibu seharusnya terus memberikan ASI sewaktu bayinya sakit


dan setelah sakit. Hal ini sangat penting, jika bayi menderita
diare

2. Perhatikan cara menyapih


a.

Pada usia 4-6 bulan bayi harus diperkenalkan dengan


makanan penyapih yang bergizi dan bersih, tahap awal
sebaiknya makanan saring lunak

b.

Kemudian diet anak seharusnya menjadi semakin bervariasi


dan mencakup makanan pokok, kacang atau kacang polong,
produk susu, telur dan daging, serta sayuran hijau dan
sayuran jingga

c.

Anak harus diberikan buah-buahan atau sari buah

d.

Anggota keluarga seharusnya mencuci tangan sebelum


menyiapkan makanan penyapih dan sebelum memberi makan
bayi

e.

Makanan harus disiapkan di tempat bersih, menggunakan


wadah dan peralatan yang bersih

f.

Makanan yang tidak dimasak harus dicuci dengan air bersih


sebelum dimakan

g.

Makanan yang dimasak harus dimakan sewaktu masih hangat


atau panaskan dahulu sebelum dimakan

h.

Makanan yang disimpan harus ditutup, jika mungkin


masukkan ke dalam rumah

3. Gunakan banyak air bersih


a.

Air harus diambil dari sumber terbersih yang tersedia

b.

Sumber air harus dilindungi dengan menjauhkannya dari


hewan, melokasi kakus agar jaraknya lebih jauh dari 10 meter
dari sumber air

c.

Air harus dikumpulkan dan disimpan dalam wadah bersih,


gunakan gayung bersih bergagang untuk mengambil air

d.

Air untuk masak dan minum bagi anak harus dididihkan

4. Cuci tangan
a.

Semua anggota keluarga seharusnya mencuci tangan dengan


baik
1) Setelah membersihkan anak yang telah buang air besar dan
setelah membuang tinja anak
2) Setelah buang air besar
3) Sebelum menyiapkan makanan
4) Sebelum makan
5) Sebelum memberi makan anak

b.

Orang tua atau kakak seharusnya mencuci tangan anak yang


lebih kecil

5. Menggunakan kakus
a. Semua anggota keluarga seharusnya mempunyai kakus bersih
yang masih berfungsi
b. Kakus harus dijaga bersih dengan mencuci permukaan yang
kotor secara teratur
c. Jika tidak ada kakus, anggota keluarga harus :
1) Buang air besar jauh dari rumah

2) Jangan buang air besar tanpa alas kaki


3) Tidak mengizinkan anak mengunjungi daerah buang air
besar sendiri
6. Membuang tinja anak kecil pada tempat yang tepat
a.

Kumpulkan tinja anak kecil atau bayi secepatnya, bungkus


dengan daun atau kertas koran dan kuburkan atau buang di
kakus

b.

Bantu anak untuk buang air besarnya ke dalam wadah yang


bersih dan mudah dibersihkan

c.

Bersihkan anak segera setelah anak buang air besar dan cuci
tangannya

7. Imunisasi terhadap campak


a.

Anak harus diimunisasi terhadap campak secepat mungkin


setelah usia 9 bulan
(Petrus Andrianto, 1992 : 29-33)

2.2 Konsep Asuhan Kebidanan Pada Bayi Dan Anak Dengan Diare
2.2.1 Pengkajian
a. Data Subyektif
Identitas meliputi identifikasi anak dan kedua orang tuanya.
Nama anak

: untuk memudahkan memanggil

Umur

: untuk mengetahui usia bayi

Jenis Kelamin : laki-laki dan perempuan

Orang tua
Nama

: menghindari kekeliruan bila terdapat kesamaan


nama bayi

Usia

: mengetahui kematangan fisik, psikis dan sosial


dalam pola perawatan anak

Pendidikan

: menentukan pola pemberian KIE oleh petugas


kesehatan

Agama

: mengidentifikasi pola perawatan bayi menurut


kepercayaan yang dianut

Suku bangsa : mengidentifikasi

variasai

respon

atau

kecenderungan prespektif tiap suku yang berbeda


Pekerjaan

: mengkorelasi

pengaruh

pekerjaan

tertentu

terhadap kesehatan bayi


Penghasilan : mengetahui taraf hidup
Alamat

: untuk

memudahkan

bila

akan

dilakukan

kunjungan rumah
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang sering disampaikan adalah frekuensi BAB
yang sering (>3 x) dengan konsistensi cair, encer, seperti ampas
dan bercampur lendir serta darah. Kondisi anak biasanya lemas,
rewel, mules, dan tidak nafsu makan.
c. Riwayat Kesehatan
Mengkaji riwayat kesehatan anak sebelumnya yang mungkin
dapat berpengaruh pada penyakit yang dideritas saat ini.
d. Riwayat kesehatan keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menular (TBC, Sifilis, dll), menahun (epilepsi, diare kronik, asma,
dan lain-lain)

e.

Riwayat imunisasi
Umur
0 - 7 hari

Jenis Imunisasi
Hepatitis B1

bulan

BCG

bulan

HB2, Polio 1, DPT 1

bulan

HB3, Polio 2, DPT 2

bulan

DPT3 Polio 3

bulan

Campak, polio 4

f. Riwayat tumbuh kembang 0-12 bulan


BB : 3 10 kg
TB : 46 80 cm
1. Gerakan motorik kasar
Berdiri tanpa bantuan
Jalan dibantu
Duduk tanpa dibantu
2. Gerakan motorik halus
Menjimpit benda
Menjatuhkan pungut benda
Memindah benda atau tangan
Meraih benda
3. Komuniaksi aktif
Mengucap papa, mama
Meniru suara
Mengungkapkan keinginan sederhana
Memekik
Mengoceh
4. Kecerdasan
Reaksi perintah sederhana
Meniru gerakan da...da....
Masak keluarakn benda
Main ciluk baa
Meniru ekspresi orang lain
Mengenalkan orang lian
5. Menolong diri sendiri
Pegang gelas sendiri
Merentangkan tangan saat pakaian
Makan biskuit sendiri

6. Tingkah laku sosial


Meniru lambaian tangan
Perhatuan bila dipanggil
Reaksi ada dengan kata tidak
Reaksi berbeda terhadap orang
Tersenyum spontan.
g. Pola kehidupan sehari-hari
1. Nutrisi
Membedakan kebiasaan makan anak sebelum dan elama sakit.
Untuk mengetahui kecukupan gizi
2. Eliminasi
Membandingan pola BAB dan BAK anak sebelum dan selama
sakit
3. Aktifitas
Mengkaji kebiasaan aktivitas anak sbeelum dan selama sakit
4. Istirahat
Pada umumnya istirahat anak selama sakit berkurang atau
terganggu
5. Pola kebersihan
Mengkaji kebiasaan anak yang dapat mempengaruhi penyakit
diare.
b.

Data obyektif
KU

: lemah, lesu

Kesadaran : composmentis
TTV

Suhu : cenderung naik, normalnya 36,50 C 370C


Nadi

: cenderung meningkat, normalnya 70 90 x / menit

RR

: cenderung meningkat, normalnya 16 24 x / menit

BB

: 10-16 kg

TB

: normalnya 80 100 cm

Lila

: 13-16 cm

Pemeriksaan fisik :
1. Inspeksi
Kepala

: fotanela anterior cekung (+)

Muka

: pucat, perubahan raut muka

Mata

: cowong

Mulut

: pada umumnya kering, kemerahan, mukosa,


membran kering, lidah kotor.

Perut

: perhatikan turgor kulit, adanya dilatasi

Anus

: kebersihan (-)

Ekstremitas : turgor menurun


2. Palpasi
Abdomen

: pembesaran organ didaerah abdomen (-), nyeri


tekan (-)

3. Auskultasi
Perut

: bising usus (+), peristaltik menurun

4. Perkusi
Abdomen

: meteorismus (+)

5. Pemeriksaan penunjang / lab.


1. Pemeriksaan faeces.
a. Makroskopis dan mikroskopis
b. pH dan kadar gula dengan kertas lakmus dan tablet
clinitest indikasi dugaan intoleransi gula.
c. Pemeriksaan biakan dan uji resistensi.
2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam
darah, dengan ASTRUP jika memungkinkan.
3. Pemeriksaan kadar ureum atau kreatinin foal ginjal.
4. Pemeriksaan elektrolit Na, K, Ca, dan P dalam serum
(terutama jika disertai kejang)
5. Pemeriksaan inkubasi duodenum untuk mengetahui jasat
renik atau parasit secara kualitatif terutama pada diare
kronik.

2.1.2

Identifikasi Diganosa dan Masalah


Dx

: Bayi ......umur.....dengan diare.

Ds

: Frekuensi BAB dan konsistensi

Do

: KU

: lemah

TTV

: cenderung naik

Pemeriksaan fisik
1.

Inspeksi
Kepala

: fontanela anterior cekung (+)

Muka

: pucat, perubahan raut muka

Mata

: cowong

Mulut

: kering, kemerahan, mukosa, membran


kering, lidah kotor

Perut

: turgor kulit menurun

Anus

: kebersihan (-), lecet (+)

Ekstremitas : turgor menurun


2.

Palpasi
Abdomen

: pembesaran organ di daerah abdomen

3.

Auskultasi
Perut

: bising usus (+)

4.

Perkusi
Perut

: meteorismus (+)

Pemeriksaan faeses konsistensinya, warna dan jumlah.


2.1.3 Antisipasi Masalah Potensial
1) Dehidrasi
2) Febris
3) Gangguan elektrolit
2.1.4 Identifikasi Kebutuhan Segera
Rehidrasi oral
2.1.5 Intervensi
1. Intervensi

Tujuan

: Setelah dilakukan asuhan kebidanan diharapkan


dalam waktu 1x30 menit ibu mengerti dan mampu
mengulangi penjelasan yang telah disampaikan.

Kriteria hasil :
KU

: baik

TTV

: dalam batas normal

Konsistensi padat, lembek, cairan warna kuning

Tidak terjadi komplikasi.

Intervensi :
1) Observasi BB
R/ Mendeteksi adanya kekurangan nutrisi.
2) Lakukan pemeriksaan fisik
R/ Antisipasi adanya komplikasi
3) Observasi TTV dan KU
R/ Deteksi adanya komplikasi
4) Lakukan pemeriksaan laboratorium, misal : feses
R/ Pemeriksaan lab mendukung diagnosa pasti penyebab
diare.
5) Beri oralit
R/ Menjaga keseimbangan tekanan osmotik dan kadar
elektrolit dalam tubuh.
6) Observasi feces dan konsistensinya.
R/ Deteksi adanya intoleransi gula
7) Beri anti biotik
R/ Antibiotikdapat menekan pertumbuhan kuman penyebab
toksik

2.1.6 IMPLEMENTASI
Langkah
penyuluhan

ini

pada

merupakan

pelaksanaan

klien

keluarga,

dan

rencana

mengarahkan

melaksanakan rencana asuhan secara efisien dan aman.

asuhan
atau

2.1.7 EVALUASI
Mengevaluasi keefektifan dari ashuan yang diberikan, ulangi
kembali manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang
sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau merencenakan kembali
yang belum terlaksanakan.
S : Hasil pemeriksan yang di dapatkan dari penjelasan keluarga
pasien.
O : Hasil pemeriksaan yang di dapatkan sesuai hasil pemeriksaan.
A : Kesenjangan yang terjadi pada pasien yang di dapatkan dari data
subyektif dan obyektif.
P : Pelaksanaan asuhan rencana sesuai rencana yang telah di susun
sesuai dengan keadaan dalam rangka mengatasi masalah pasien.
(Sulistyawati, 2009)

BAB III
TINJAUAN KASUS

3.1

Pengkajian
Tanggal : 20 April 2015

Jam

: 11.07 WIB

No Reg : 25.81.78
1. DATA SUBYEKTIF
2. Biodata
Nama anak

: An. D

Umur/tanggal lahir : 12 bulan/ 26-05-2014


Jenis kelamin

: Perempuan

Status anak

: Anak kandung

Anak ke

:I

Alamat

: Tebas, Gondangwetan

2. Identitas orang tua


Nama ayah

: Tn. G

Nama ibu

: Ny. M

Umur

: 38 tahun

Umur

: 29 tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMU

Pendidikan

: SMU

Pekerjaan

: Swasta

Pekerjaan

: IRT

Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

Suku/bangsa : Jawa/Indonesia

Alamat

Alamat

: Tebas

: Tebas

3. Keluhan utama
Ibu mengatakan anaknya berak cair hari ini . sudah 5x.
4. Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan anaknya berak cair sudah 5 hari yang lalu pada
tanggal 15-04-2015,hari ini anaknya berak cair 5x.

5. Riwayat penyakit keluarga

Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti


TBC, hepatitis, dan tidak ada yang menderita penyakit keturunan
seperti jantung, DM, astma dan lain-lain.
6. Riwayat kehamilan dan persalinan
a. Pre natal
Ibu mengatakan waktu hamil rajin mengontrolkan kandungannya
di Bidan desa Tebas, selama hamil ibu tidak pernah sakit dan
tidak pernah dirawat di rumah sakit.
b. Natal
Ibu mengatakan anaknya lahir pada tgl 26 April 2014, normal
langsung menangis, ditolong bidan. Usia kehamilan 9 bulan,
melahirkan bayi dengan BBL : 3500 gram, PB : 53 cm.
c. Post natal
Ibu mengatakan sejak lahir sampai sekarang anaknya masih diberi
ASI dan tidak pernah diberi susu formula.
7. Riwayat kesehatan yang lalu
a. Riwayat kesehatan klien
Ibu mengatakan anaknya selama ini tidak pernah sakit sampai
masuk rumah sakit.
b. Penggunaan obat-obatan
Ibu mengatakan tidak pernah memberikan obat-obatan kepada
anaknya, ibu hanya memberikan obat dari dokter jika anaknya
sakit.
c. Riwayat operasi/tindakan lainnya
Ibu mengatakan anaknya tidak pernah dioperasi.
d. Riwayat alergi
Ibu mengatakan selama ini anaknya tidak pernah alergi dengan
jenis makanan maupun obat-obatan.
e. Kecelakaan

Ibu mengatakan selama ini anaknya tidak pernah mengalami


kecelakaan.
f. Imunisasi
Ibu mengatakan anaknya sudah mendapatkan imunisasi BCG,
Hepatitis 1, Hepatitis 2, Hepatitis 3, Hepatitis 4, polio 1, polio 2,
polio 3, polio 4, DPT I, DPT 2, DPT 3, campak.
8. Riwayat psikologi
Anak sejak lahir dirawat oleh ibunya dan bapaknya, kadang juga
dibantu oleh neneknya, hubungan anak dengan keluarga baik.
9. Pola kebiasaan sehari-hari
No

Kebiasaan

Sebelum Sakit

Saat Sakit

.
1. Nutrisi

Ibu

mengatakan Ibu mengatakan

anak-nya

makan makan

bubur

anaknya

nasi 2 kali sehari 1 porsi,minum ASI, minum


porsi kecil
-

Minum

air

ASI

putih

1-2

gelas

dan kecil/hari.

PASI
2

Istirahat

Ibu

mengatakan Ibu mengatakan

anaknya

anaknya tidur siang jam sulit tidur karena rewel,


10.00-12.00 dan jam setiap
13.00-15.00,

ditidurkan

selalu

pada menangis

malam hari tidur jam


3

Eliminasi

20.00-05.00
Ibu
mengatakan Ibu mengatakan

anaknya

anaknya BAB 1x/hari, BAB cair + 5 x/sehari, BAK


konsistensi

lembek, + 3-4 x/sehari, warna jernih,

BAK + 6-8 x/ sehari, bau khas


warna jernih, bau khas

No Kebiasaa
n
.
4

Sebelum Sakit

Selama Sakit

Personal

Ibu mengatakan anaknya Ibu mengatakan

hygiene

mandi 2 x/sehari dengan diseka 2 x/sehari, ganti baju


sabun

mandi,

anaknya

keramas setiap hari atau setiap kali

setiap hari dengan sampo, kotor atau basah


ganti baju setiap hari atau
setiap

kali

kotor

atau

basah
2. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum

: Lemah

Kesadaran
Suhu

: Composmentis
: 39,2 oC

Nadi

: 110 x/menit

RR

: 30 x/menit

BB sekarang

: 6,4 kg

BB sebelum sakit

: 9 kg

2. Pemeriksaan fisik
Kepala

: Rambut hitam, pertumbuhan belum merata,


perabaan halus, kulit kepala bersih, tidak ada
benjolan di kepala

Muka

: Terlihat pucat, tidak oedema

Mata

: Kedua bola mata simetris, tidak conjungtivitis,


sklera mata tidak ikterus, tidak ada oedema pada
palpebra, conjungtiva pucat, mata cowong

Hidung

: Simetris, kebersihan cukup, tidak ada polip, tidak


ada pernafasan cuping hidung,

Telinga

: Simetris, kebersihan cukup, tidak ada secret atau


serumen yang keluar

Mulut

: Bibir tidak pucat dan agak kering, tidak pecahpecah, tidak ada stomatitis, gigi bersih, gigi susu
sudah tumbuh, tidak ada caries, lidah tidak kotor

Leher

: Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada


pembesaran

kelenjar

limfe

dan

tidak

ada

polydactily, tidak

ada

pembendungan vena jugularis


Ketiak

: Tidak ada pembesaran kelenjar limfe

Dada

: Tidak ada tarikan intercostae

Tangan

: Simetris,

tidak

ada

sindactily, turgor kulit agak menurun, tonus otot


baik
Perut

: Tidak membuncit,

tidak

ada tanda hernia

inuginalis, tidak ada bekas luka operasi, tidak ada


pembesaran hepar, bising usus meningkat
Pelipatan paha

: Bersih, tidak ada pembesaran kelenjar limfe,


tidak ada hernia inguinalis

Kaki

: Simetris, tibia baik, tidak ada polydactily, tidak


ada syndactily.

Punggung

: Simetris, tidak ada benjolan, tidak ada spina


spina bifida

Anus

: Kurang bersih, lecet

Genetalia

: Bersih, labia mayora menutupi labia minora

3. Pemeriksaan penunjang
3.

ANALISA DATA
An D Usia 12 bulan dengan Gastroenteritis

4.

PENATALAKSANAAN
1. Berikan penjelasan pada ibu tentang penyakit anaknya, Ibu mengerti
2. Memberitahu pada keluarga hasil pemeriksaan
N

: 110 x/menit

: 39,2 oC

RR

: 33x/menit

BB

:6,4 kg

3. Meminta persetujuan pada keluarga untuk dilakukan perawatan lebih


lanjut, keluarga setuju
4. Menjurkan penderita untuk minum banyak (sedikit-sedikit sering)
agar tidak terjadi dehidrasi, Ibu mengerti
5. Menganjurkan pada ibu untuk tetap menjaga personal hygiene
dengan mengganti popok sesering mungkin, Ibu memahami
6. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diet bktktp rendah serat
7. Kolaborasi dengan dokter anak dalam pemberian terapi
RL 350 CC/3 jam
Antasid 3x 70mg
Zing 1x 200mg
Lacto B 1X1

BAB IV
PEMBAHASAN

Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang sering kita jumpai
dimasyarakat, terutama pada anak-anak. Masalah yang sering menyertainya antara
lain dehidrasi, mual muntah dan peningkatan suhu tubuh. Pada keadaan yang
tidak ditangani dengan benar, diare dapat menyebabkan komplikasi pada organ
hati dan ginjal. Selain itu, diare yang menyerang anak-anak dapat dengan cepat
membawa pada kemungkinan kematian yang besar jika ditangani dengan
terlambat.
Pada tinjauan pustaka, penulis telah menjelaskan penanganan diare secara
klinis dan cara pencegahannya. Sementara itu, penanganan diare secara sistematis
telah dijelaskan berdasarkan metode varney pada sub bab konsep asuhan
kebidanan pada bayi / anak dengan diare.
Selama melakukan tindakan penanganan diare pada bayi usia 12 bulan,
penulis mendapatkan beberapa terapi yang kurang lengkap dilaksanakan
dilapangan. Misalnya pada pemeriksaan lab yang dianjurkan adalah DL, VL,
Widal, dan Weil felix. Pada kenyataannya dilapangan tidak dapat melaksanakan
tindakan tersebut karena keterbatasan saran dan prasarana selain itu juga masalah
keterbatasan dana bagi pasien.Sementara pada data yang lain, penulis tidak
menemukan perbedaan yang menyolok antara teori dengan praktek dilapangan.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik pada asuhan kebidanan pada bayi / bayi
dengan diare ini, antara lain :
-

Perlunya kecepatan dalam mengumpulkan data

Kecepatan dan ketepatan dalam diagnosa dan mengantisipasi masalah

Kecepatan dan kecermatan dalam merencanakan tindakan dan pemberian


terapi.

Ketelitian dan mengevaluasi.

5.2 Saran
Peningkatan sarana dan prasarana sebagai ujung tombak pelayanan
kesehatan dimasyarakat harus diperhatikan dengan baik. Hal ini bertujuan
untuk memberikan pelayanan yang tepat, cepat dan tertarik di masyarakat,
khususnya di bidang kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA
Andrianto, Petrus. 1992 Penatalaksanaan dan Pencegahan Diare Akut. Jakarta :
EGC.
Berham, Richard. 1993. Ilmu Kesehatan Anak Bagian 2. Jakarta : EGC.
L. Cecily. 2003. Keperawatan Mediatrik Edisi 3. Jakarta : EGC.
Markum. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1. Jakarta : FKUI.
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta : EGC.
Nursalam. 2005. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta : Salemba Medika.
Saifudin, Abdul. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan dan Neonatal.
Jakarta : EGC.
Suriadi. 2001. Asuhan Keperawatan Jilid II. Jakarta : EGC.
Suryanah. 1996. Keperwatan Anak Untuk Siswa SPK. Jakarta : EGC.