Anda di halaman 1dari 34

MIOKARDITIS

DEFINISI
Miocarditis adalah peradangan pada otot jantung atau miokardium. hal ini disebabkan oleh
penyakit-penyakit infeksi, akan tetapi dapat sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan dan efek
toxin bahan-bahan kimia dan radiasi (FKUI, 1996). Miocarditis adalah peradangan dinding otot jantung
yang disebabkan oleh infeksi atau penyebab lain sampai yang tidak diketahui (idiopatik) (Dorland,
2002). Miokarditis adalah inflamasi fokal atau menyebar dari otot jantung (miokardium) (Doenges,
1999). Indrus Alwi dalam Buku Ilmu Penyakit Dalam,2009 mengatakan miokarditis adalah penyakit
inflamasi pada miokard yang bisa disebabkan karena infeksi akut atau respon autoimun pasca infeksi
viral.
Pada sebagian besar, miokarditis tidak dapat diduga karena disfungsi jantung bersifat
subklinis, asimtomatik dan sembuh sendiri (self limited) oleh karena miokarditis asimtomatik, maka data
epidemiologi yang ada berasal dari penelitian pasca mortem. Pada pemeriksaan pasca mortem
miokarditis ditemukan sekitar 1-9%, sehingga dapat diduga miokarditis adalah penyebab utama
kematian.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa miocarditis adalah peradangan/inflamasi otot
jantung yang disebabkan oleh berbagai penyebab, terutama agen-agen infeksi yang dapat berakibat
fatal bagi si penderita.

ETIOLOGI
Umumnya miokarditis ini disebabkan oleh penyakit akan tetapi dapat juga disebabkan oleh
sebagai akibat reaksi alergi terhadap obat-obatan serta efek toksik bahan-bahan kimia radiasi dan
infeksi.
Pada miokarditis karena difteri yaitu kerusakan miokardium disebabkan toksik yang
dikeluarkan hasil mikrobakteri. Toksin akan menghambat sintesis protein dan secara mikroskopis akan
didapatkan miosit dengan infiltrasi lemak serat otot mengalami nekrosis hialin.
Beberapa organism dapat menyerang dinding arteri kecil, terutama pada arteri koronaria
intramuskuler yang akan memberikan reaksi radang perivaskuler miokardium. Hal ini dsebabkan oleh
pseudomonas serta beberapa jenis jamur seperti aspergilus dan kandida. Sebagian kecil
mikroorganisme menyerang langsung terhadap sel-sel miokardium yang menyebabkan reaksi radang.

Miokarditis biasanya diakibatkan oleh proses infeksi, infeksi, terutama oleh virus, bakteri, jamur,
parasit, protozoa, dan spirozeta atau dapat juga disebabkan oleh keadaan hipersensitifitas seperti
demam rematik.

PATOFISIOLOGI
Jantung merupakan organ otot. Bila serabut otot sehat, jantung dapat berfungsi dengan baik,
jika ada cedera katup yang berat; dan serabut otot rusak maka hidup dapat terancam. Miokarditis dapat
menyebabkan dilatasi jantung, thrombus dalam dinding jantung, infiltrasi sel darah yang beredar
disekitar pembuluh koroner, serabut otot dan degenerasi serabut otot itu sendiri.
Kerusakan miokard oleh kuman-kuman infeksius ini dengan melalui tiga mekanisme dasar :

Invasi langsung ke miokard.

Proses imunologis terhadap miokard.

Mengeluarkan toksin yang merusak miokard.

Proses miokarditis viral ada 2 tahap :


1. Fase akut berlangsung kira-kira satu minggu, dimana terjadi invasi virus ke miokard, replikasi
virus dan lisis sel. Kemudian terbentuk neutralizing antibody dan virus akan dibersihkan atau
dikurangi jumlahnya dengan bantuan makrofag dan natural killer cell (sel NK).
2. Pada fase berikutnya miokard diinfiltrasi oleh sel-sel radang dan system immune akan
diaktifkan antara lain dengan terbentuknya antibody terhadap miokard, akibat perubahan
permukaan sel yang terpajan oleh virus. Fase ini berlangsung beberapa minggu sampai
beberapa bulan dan diikuti kerusakan miokard dari yang minimal sampai yang berat (FKUI,
1999).

TANDA DAN GEJALA


Menurut DEPKES, 1993 tanda dan gejala miokarditis adalah :

Menggigil,

demam,

anoreksia,

nyeri

dada,

dispnea

dan

disritmia,

tamponade

ferikardial/kompresi (pada efusi perikardial).


Menurut Griffith, 1994 tanda dan gejala yang timbul pada klien dengan miokarditis :

Letih, napas pendek (cepat dan sesak), detak jantung tidak teratur, demam,dan gejala-gejala
lain karena gangguan yang mendasarinya.

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis pada miokarditis yaitu sebagai berikut :
1. Tergantung pada jenis infeksi dan kerusakan jantung.
2. Gejala ringan atau tidak sama sekali
3. Sering mengalami kelalahan dan dipsnea, bedebar-debar,
4. Merasa tidak nyaman di dada dan perut atas
5. Terdapat bunyi jantung tambahan, gallop ventrikel dan mungkin pembesaran jantung.

PENATALAKSANA
Penanganan pada pasien dengan Miokarditis adalah :

Pasien diberi pengobatan khusus terhadap penyebab yang mendasari (penisilin untuk

streptokokus hemolitikus).
Pasien dibaringkan ditempat tidur untuk mengurangi beban jantung. Berbaring juga membantu

mengurangi kerusakan miokardial residual dan komplikasi miokarditis.


Fungsi jantung dan suhu tubuh harus selalu dievaluasi.
Bila terjadi gagal jantung kongestiv harus diberikan obat untuk memperlambat frekuensi
jantung dan meningkatkan kekuatan kontraksi.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang mugkin muncul jika terkena Miokarditis adalah :

Kardiomiopati

Payah jantung kongresif

Efusi pericardial

AV block total

Trobi kardiak

Gagal jantung

Asuhan Keperawatan Miokarditis

A. DEFINISI
Miokarditis akut adalah proses inflamasi di miokardium.

B. PATOFISIOLOGI
Proses infeksi terutama oleh virus, bakteri, jamur, parasit, protozoa dan spinoseta atau adanya
keadaan hipersensitivitas ( demam rematik ) merupakan penyebab terjadinya miokarditis. Jadi
miokarditis dapat terjadi pada psien dengan infeksi akut yang menerima terapi imunosupresif atau yang
menderita endokarditis infeksi. Miokarditis bisa menyebabkan dilatasi jantung, trombus dalam dinding
jantung ( mural trombi ) infiltrasi sel darah yang beredar di sekitar pembuluh koroner dan diantara
serabut otot dan degenerasi serabut otot itu sendiri.

C. MANIFESTASI KLINIS

Gejala miokarditis ini dipengaruhi oleh jenis infeksi, derajat kerusakan jantung dan kemampuan
miokardium memulihkan diri. Gejalanya biasanya ringan atau bahkan tidak sama sekali. Pasien dengan
miokarditis mungkin hanya mengalami kelelahan dan dispneu, berdebar-debar dan kadang rasa tidak
nyaman di dada dan perut atas. Dengan adanya pemeriksaan klinis mungkin memperlihatkan
pembesaran jantung, suara jantung tambahan, irama gallop dan bising sistolik. Dan biasanya terdengar
friction rub pericardial bila pasien mengalami perikarditis juga. Denyut alternans ( denyut dimana
terdapat perubahan reguler antara denyut kuat dan lemah ) mungkin ditemukan. Demam dan takikardia
sering ada dan gejala gagal jantung kongesti bisa terjadi.

D. PENATALAKSANAAN
Pasien diberi pengobatan khusus terhadap penyebab yang mendasarinya, bila diketah ( misalnya
penisillin untuk streptokokkus hemolitikus ) dan dibaringkan di tempat tidur untuk mengurangi beban
jantung. Berbaring juga membantu mengurangi kerusakan miokardial residual dan komplikasi
miokarditis.pengobatan pada dasarnya sama dengan yang digunakan untuk gagal jantung kongestif.
Fungsi jantung dan suhu tubuh selalu di evaluasi untuk menentukan apakah penyakit sudah
menghilang dan apakah sudah terjadi gagal jantung kongestik. Bila terjadi disritmia pasien
harusdirawat di unit yang mempunyai sarana pemantauan jantung berkesinambungan sehingga
personel dan peralatan selalu tersedia bila terjadi disritmia yang mengancam jiwa.
Bila telah terjadi gagal jantung kongestif, harus diberi obat untuk memperlambat frekuensi
jantung dan meningkatkan kekuatan kontraktilitas.stoking elastik dan latihan aktif dan pasif harus
dilakukan karena embolisasi dari trombus vena dan mural trombi dapat terjadi.Pasien dengan
miokarditis sangat sensitif terhadap digitalis, maka pasien harus dipantau dengan ketat akan adanya
toksisisitas digitalis ( dibuktikan dengan adanya disritmia, anoreksia, nausea, muntah, bradikardia, sakit
kepala dan malaise )

E. PENCEGAHAN
Pencegahan dapat dilakukan dengan imunisasi yang tepat dan penanganan awal nampaknya sangat
penting dalam menurunkan insidensi miokarditis. Setelah mengalami suatu episode miokarditis
biasanya masih tersisa pembesaran jantung. Aktifitas fisik harus ditingkatkan dengan perlahan-lahan
dan bertahap , pasien di instruksikan untuk melaporkan gejala yang dirasakan saat aktifitas meningkat
seprti jantung berdenyut cepat sekali, olahraga yang kompetitif dan alkohol sama sekali harus dihindari.

F. PENGKAJIAN
1. Aktifitas / Istirahat

Gejala : kelelahan dan kelemahan


Tanda : Takikardi, penurunan TD, Dispnea dengan aktifitas
2. Sirkulasi
Gejala : Riwayat demam rematik, penyakit jantung kongenital, Infark miokard, bedah jantung
( CABG / penggantian katup / by pass kardiopulmonal lama ), palpitasi, jatuh pingsan
Tanda : Takikardia, disritmia , perpindahan TIM ( Titik influks Maksimal ) kiri dan inferior
(pembesaran jantung ) Friction Rub perikardial biasanya intermitten ( terdengar di batas
sternal kiri ) murmur aortik, mitral ,stenosis / insufisiensi trikuspid, perubahan dalam
murmur yang mendahului, disfungsi otot papilar, irama gallop ( S3 dan S4 ), bunyi
jantung normal pada awal perikarditis akut , edema, DVJ ( GJK ) petekie ( konjungtiva,
membran mukosa ) hemoragi splinter ( punggung kuku ) nodus osler ( jari/ ibu jari ) lesi
janiwae ( telapak tangan / telapak kaki )
3. Eliminasi
Gejala : Riwayat penyakit ginjal / gagal ginjal. Penurunan frekuensi/ jumlah urine.
Tanda : urine pekat dan gelap
4. Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri pada dada anterior ( sedang sampai berat/ tajam ) diperberat oleh inspirasi, batuk,
gerakan menelan, berbaring, hilang dengan duduk bersandar ke depan ( perikarditis )
tidak hilang dengan nitrogliserin. Nyeri dada /punggung/ sendi ( endokarditis )
Tanda : perilaku distraksi misal gelisah
5. Pernafasan
Gejala : Nafas pendek ; nafas pendek kronis memburuk pada malam hari ( miokarditis )
Tanda : Dispneu nokturnal, batuk, inspirasi mengi, takipnea, krekels dan ronki, pernafasan
dangkal
6. Keamanan
Gejala : Riwayat infeksi virus, bakteri, jamur ( miokarditis ) penurunan sistem imun, misal
program terapi imunosupresi
Tanda : Demam
7. Penyuluhan / pembelajaran

Gejala : terapi IV jangka panjang atau penggunaan kateter indwelling atau penyalahgunaan obat
parenteral.
Pertimbangan rencana pemulangan : DRG menunjukkan rerata 5,5 hari.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. EKG : Dapat menunjukkan iskemia, hiopertropi, blok konduksi, disritmia ( peninggian ST
dapat terjadi pada kebanyakan lead ) depresi PR
2. Enzim jantung : CPK mungkin tinggi, tetapi isoenzim MB tidak ada
3. Sinar X dada : dapat menunjukkan pembesaran jantung ,infiltrasi pulmonal.

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


1. Nyeri akut b/d inflamasi miokardium
Tujuan : - nyeri hilang/terkontrol
- Peningkatan rasa nyaman pasien
Intervensi :
a. selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan awitan dan faktor pemberat dan penurun R/ nyeri
perikarditis secara khas terletak substernal dan dapat ke leher dan punggung. Namun ini
berbeda dari iskhemia miokardium / nyeri infark, pada nyeri ini buruk pada inspirasi dalam ,
gerakan atau berbaring dan hilang dengan duduk tegak/ membungkuk.
b. berikan lingkungan yang tenang dan tindakan kenyamanan misal perubahan posisi , gosokan
punggung ,penggunaan kompres panas / dingin, dukungan emosional
R/ tindakan ini dapat menurunkan ketidaknyamanan fisik dari emosional pasien
c. kolaborasi : berikan obat-obatan sesuai indikasi
- Agen nonsteroid misal : indometasin ( indocin ) ,ASA ( Aspirin )
R/ dapat menghilangkan nyeri, menurunkan respon inflamasi.
- Anti piretik misal : ASA/ asetaminofen ( tylenol )

R/ untuk menurunkan demam dan meningkatkan kenyamanan


- Steroid
R/ dapat diberikan untuk gejala yang lebih berat
d. berikan oksigen suplemen sesuai indikasi
R/ memaksimalkan ketersediaan oksigen untuk menurunkan beban kerja jantung dan menurunkan
ketidaknyamanan berkenaan dengan iskhemia
2. Intoleransi aktifitas b/d inflamasi dan degenerasi sel-sel otot miokard
Tujuan : toleransi aktifitas dapat tercapai
Intervensi :
a. Kaji respon pasien terhadap aktifitas, perhatikan adanya perubahan dalam keluhan kelemahan,
keletihan dan dispnea berkenaan dengan aktifitas.
R/ Miokarditis menyebabkan inflamasi dan kemungkinan kerusakan fungsi sel-sel miokardial, sebagai
akibat GJK
b. rancang perawatan dengan periode istirahat/tidur tanpa gangguan
R/ memberikan keseimbangan dalam kebutuhan dimana aktifitas bertumpu pada jantung,
meningkatkan proses penyembuhan dan kemampuan koping emosional
c. bantu pasien dalam program latihan progresif bertahap sesegera mungkin untuk turun dari tempat
tidur, mencatat respon tanda vital dan toleransi pasien pada peningkatan aktifitas
R/ saat inflamasi/ kondisi dasar teratasi, psien mungkin mampu melakukan aktifitas yang diinginkan
kecuali kerusakan miokard yang permanen / terjadi komplikasi
d. berikan oksigen suplemen
R/ peningkatan ketersediaan oksigen untuk ambilan miokard untuk mengimbangi peningkatan
konsumsi oksigen yang terjadi dengan aktifitas.
3. Penurunan curah jantung, resiko tinggi terhadap degenerasi miokardium
Tujuan : menurunkan beban lkerja jantung dan meningkatkan rasa nyaman
Intervensi :
a. dorong tirah baring dalam posisi semifowler

R/ menurunkan beban kerja jantung, memaksimalkan curah jantung


b. berikan tindakan kenyamanan misal : gosokan pungggung dan perubahan posisi, aktifitas hiburan
dalam toleransi jantung
R/ meningkatkan relaksasi dan mengarahkan kembali perhatian.
c. berikan obat-obatan sesuai indikasi, misal digitalis, diuretik
R/ dapat diberikan untuk meningkatkan kontraktilitas miokardium dan menurunkan beban kerja jantung
pada adanya GJK
d. Antibiotik/ antimikrobial intravena
R/ diberikan untuk mengatasi patogen yang teridentifikasi yang mencegah keterlibatan / kerusakan
jantung lebih lanjut
e. siapkan pasien untuk pembedahan bila di indikasikan
R/ penggantian katup mungklin perlu untuk memperbaiki curah jantung

4. kurang pengetahuan ( kebutuhan belajar ) tentang kondisi/ pengobatan


Tujuan : pasien mengetahui tentang apa yang ssedang di hadapinya
-

Terjadi perubahan prilaku pada diri pasien yang lebih kooperatif

Intervensi :
a. jelaskan efek inflamasi pada jantung secara individual kepada pasien. Ajarkan untuk memperhatikan
gejala sehubungan dengan komplikasi/ berulangnya dan gejala yang dilaporkan dengan segera pada
pemberi perawatan contoh demam ,peningkatan nyeri dada tak biasanya ,peningkatan berat badan
,peningkatan toleransi terhadap aktifitas.
R/ untuk bertanggung jawab terhadap kesehatan sendiri, pasien perlu memahami penyebab khusus,
pengobatan dan efek jangka panjang yang diharapkan dari kondisi inflamasi sesuai dengan gejala /
tanda yang menunjukkan kekambuhan / komplikasi
b. anjurkan pasien / orang terdekat tentang dosis, tujuan, efek samping obat , kebutuhan diet/
pertimbangan khusus, aktifitas khusus ,aktifitas yang di izinkan/ dibatasi
R/ informasi perlu untuk meningkatkan perawatan diri , peningkatan keterlibatan pada program
terapeutik mencegah komplikasi
d. kaji ulang perlunya antibiotik jangka panjang / terapi antimikrobial

R/ perawatan di rumah sakit lama/ pemberian antibiotik IV/ antimikrobial perlu sampai kultur darah
negatif/ hasil darah lainnya menunjukkan tak ada infeksi
e. tingkatkan praktik kesehatan seperti nutrrisi yang baik , keseimbangan antara aktifitas/ istirahat ,
pantau status kesehatan sndiri dan melaporkan tanda infeksi
R/ kekuatan imun dan tahanan terhadap infeksi
f. identifikasi faktor resiko pencetus yang dapat dikontrol pasien contoh penggunaan obat IV dan
penanganan masalah
R/ pasien mungkin termotivasi dengan adanya masalah jantung untuk mencari dukungan untuk
menghentikan penyalahgunaan obat / prilaku merusak

ENDOKARDITIS
PENDAHULUAN

Endokarditis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme pada endokard
atau katub jantung. Infeksi endokarditid biasanya terjadi pada jantung yang telah mengalami
kerusakan. Penyakit ini didahului dengan endokarditis, biasanya berupa penyakit jantung bawaan,
maupun penyakit jantung yang didapat. Dahulu Infeksi pada endokard banyak disebabkan oleh bakteri
sehingga disebut endokariditis bakterial. Sekarang infeksi bukan disebabkan oleh bakteri saja, tetapi
bisa disebabkan oleh mikroorganisme lain, seperti jamur, virus, dan lain-lain.
Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan,
tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau
penyakit kronik. Perjalanan penyakit ini bisa; akut, sub akut, dan kronik, tergantung pada virulensi
mikroorganisme dan daya tahan penderita. Infeksi subakut hampir selalu berakibat fatal, sedangkan
hiperakut/akut secara klinis tidak pernah ada, karena penderita meninggal terlebih dahulu yang
disebabkan karena sepsis. Endokarditis kronik hampir tidak dapat dibuat diagnosanya, karena
gejalanya tidak khas.

PEMBAHASAN
A. DEFINISI ENDOKARDITIS

Endokarditis merupakan peradangan pada katup dan permukaan endotel jantung. Endokarditis bisa
bersifat endokarditis rematik dan endokarditis infeksi. Terjadinya endokarditis rematik disebabkan
langsung oleh demam rematik yang merupakan penyakit sistemikkarena infeksi streptokokus.
Endokarditis infeksi (endokarditis bakterial) adalah infeksi yang disebabkan oleh invasi langsung oleh
bakteri atau organisme lain, sehingga menyebabkan deformitas bilah katup. Mikroorganisme
penyebabnya mencakup: streptokokus, enterokokus, pneumokokus, stapilokokus, fungi/jamur, riketsia,
dan streptokokus viridans.
Endokarditis infeksi yang sering terjadi pada manula mungkin terjadi akibat menurunnya respons
imunologi terhadap infeksi, perubahan metabilisme akibat penuaan, dan meningkatnya prosedur
diagnostik invasif, khususnya pada penyakit genitourinaria. Terjadi insiden yang tinggi pada
endokarditis stapilokokus diantara pemakai obat intravena, penyakit yang terjadi paling sering pada
orang-orang yang secara umum sehat. Endokarditis yang didapat di rumah sakit terjadi paling sering
pada klien dengan penyakit yang melemahkan, yang menggunakan kateter indweler, dan yang
menggunakan terapi intravena atau antibiotik jangka panjang. Klien yang diberi pengobatan
imunosupresif atau steroid dapat mengalami endokarditis fungi.

B.

PATOFISIOLOGI
Endokarditis paling banyak disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang

hidup dalam saluran napas bagian atas. Sebelum ditemuklan antibiotik, maka 90 - 95 % endokarditis
infeksi disebabkan oleh strptokokus viridans, tetapi sejak adanya antibiotik streptokokus viridans 50 %
penyebab infeksi endokarditis yang merupakan 1/3 dari sumber infeksi. Penyebab lain dari infeksi
endokarditis yang lebih patogen yaitu stapilokokus aureus yang menyebabkan infeksi endokarditis
subakut. Penyebab lainnya adalah streptokokus fekalis, stapilokokus, bakteri gram negatif
aerob/anaerob, jamur, virus, ragi, dan kandida.

Faktor-faktor prediposisi dan faktor pencetus:

Faktor predisposisi diawali dengan penyakit-penyakit kelainan jantung dapat berupa penyakit jantung
rematik, penyakit jantung bawaan, katub jantung prostetik, penyakit jantung sklerotik, prolaps katub
mitral, post operasi jantung, miokardiopati hipertrof obstruksi.
Endokarditi infeksi sering timbul pada penyakit jantung rematik dengan fibrilasi dan gagal jantung.
Infeksi sering pada katub mitral dan katub aorta. Penyakit jantung bawaan yang terkena endokarditis
adalah penyakit jantung bawaan tanpa ciyanosis, dengan deformitas katub dan tetralogi fallop. Bila ada
kelainan organik pada jantung, maka sebagai faktor predisposisi endokarditis infeksi adalah akibat
pemakaian obat imunosupresif atau sitostatik, hemodialisis atau peritonial dialisis, serosis hepatis,
diabetis militus, penyakit paru obstruktif menahun, penyakit ginjal, lupus eritematosus, penyakit gout,
dan penyalahan narkotik intravena.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut,
kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan. Kuman
paling sering masuk melalui saluran napas bagian atas selain itu juga melalui alat genital dan saluran
pencernaan, serta pembuluh darah dan kulit. Endokard yang rusak dengan permukaannya tidak rata
mudah sekali terinfeksi dan menimbulakan vegetasi yang terdiri atas trombosis dan fibrin. Vaskularisasi
jaringan tersebut biasanya tidak baik, sehingga memudahkan mikroorganisme berkembang biak dan
akibatnya akan menambah kerusakan katub dan endokard, kuman yang sangat patogen dapat
menyebabkan robeknya katub hingga terjadi kebocoran. Infeksi dengan mudah meluas ke jaringan
sekitarnya, menimbulkan abses miokard atau aneurisme nekrotik. Bila infeksi mengenai korda tendinae
maka dapat terjadi ruptur yang mengakibatkan terjadinya kebocoran katub.

C. TANDA DAN GEJALA

Sering penderita tidak mengetahui dengan jelas. Sejak kapan penyakitnya mulai timbul , misalnya
sesudah cabut gigi, mulai kapan demam, letih-lesu, keringat malam banyak, nafsu makan berkurang,
berat badan menurun, sakit sendi, sakit dada, sakit perut, hematuria, buta mendadak, sakit pada
ekstremitas (jari tangan dan kaki), dan sakit pada kulit.

Gejala umum
Demam dapat berlangsung terus-menerus retermiten / intermiten atau tidak teratur sama
sekali. Suhu 38 - 40 C terjadi pada sore dan malam hari, kadang disertai menggigil dan keringat
banyak. Anemia ditemukan bila infeksi telah berlangsung lama. pada sebagian penderita ditemukan
pembesaran hati dan limpha.

Gejala Emboli dan Vaskuler


Ptekia timbul pada mukosa tenggorok, muka dan kulit (bagian dada). umumya sukar dibedakan
dengan angioma. Ptekia di kulit akan berubah menjadi kecoklatan dan kemudian hilang, ada juga yang
berlanjut sampai pada masa penyembuhan. Emboli yang timbul di bawah kuku jari tangan (splinter
hemorrhagic).

Gejala Jantung
Tanda-tanda kelainan jantung penting sekali untuk menentukan adanya kelainan katub atau
kelainan bawaan seperti stenosis mitral, insufficiency aorta, patent ductus arteriosus (PDA), ventricular
septal defect (VCD), sub-aortic stenosis, prolap katub mitral. Sebagian besar endocarditis didahului
oleh penyakit jantung, tanda-tanda yang ditemukan ialah sesak napas, takikardi, palpasi, sianosis, atau
jari tabuh (clubbing of the finger). Perubahan murmur menolong sekali untuk menegakkan diagnosis,
penyakit yang sudah berjalan menahun, perubahan murmur dapat disebabkan karena anemia . Gagal
jantung terjadi pada stadium akhir endokarditis infeksi, dan lebih sering terjadi pada insufisiensi aorta
dan insufisiensi mitral, jarang pada kelainan katub pulmonal dan trikuspid serta penyakit jantung
bawaan non valvular .

Endokarditis infeksi akut


Infeksi akut lebih sering timbul pada jantung yang normal, berbeda dengan infeksi sub akut,
penyakitnya timbul mendadak, tanda-tanda infeksi lebih menonjol, panas tinggi dan menggigil,
jarang ditemukan pembesaran limfa, jari tabuh, anemia dan ptekia . Emboli biasanya sering terjadi

pada

arteri yang besar sehingga menimbulkan infark atau abses pada organ bersangkutan.

Timbulnya murmur menunjukkan kerusakan katub yang sering terkena adalah katub trikuspid berupa
kebocoran, tampak jelas pada saat inspirasi yang menunjukkan gagal jantung kanan, vena jugularis
meningkat, hati membesar, nyeri tekan, dan berpulsasi serta udema. Bila infeksi mengenai aorta akan
terdengar murmur diastolik yang panjang dan lemah. Infeksi pada aorta dapat menjalar ke septum inter
ventricular dan menimbulkan abses. Abses pada septum dapat pecah dan menimbulkan blok AV . Oleh
karena itu bila terjadi blok AV penderita panas tinggi, kemungkinan ruptur katub aorta merupakan
komplikasi yang serius yang menyebabkan gagal jantung progresif. Infeksi katub mitral dapat menjalar
ke otot papilaris dan menyebabkan ruptur hingga terjadi flail katub mitral.

A. KASUS
Bapak Amir usia 32 tahun, datang kerumah sakit dengan keluhan sesak napas dan nyeri
tenggorokan. Suhu tubuhnya tinggi dan menggigil disertai batuk. Pasien mengatakan saat aktivitas
merasakan kelemahan, ktidak mampuan pada bahu dan tangan disertai nyeri pada sendi dan
punggung. Pak Amir terlihat gelisah, dengan wajah menyeringai karena menahan rasa nyeri pada
daerah dadanya. Sehingga pak Amir mengeluh tidak bisa tidur dan nafsu makannya menurun karena
sering merasa mual dan ingin muntah.

ASUHAN KEPERAWATAN ENDOKARDITIS


1. PENGKAJIAN

I.

Identitas Klien

Nama

: Bapak Amir

Umur

: 32 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Suku/Bangsa

: WNI

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan

: SMA

Alamat

: Jombang

No. Register

: 894

Tanggal MRS

: 7 Desember 2009

Diagnosa Medis : Endokarditis

II.

Riwayat Keperawatan (Nursing Hostory)

a. Keluhan Utama
Pasien mengeluhkan terasa sesak napas dan sakit tenggorokan yang disertai kelemahan,
nyeri sendi dan punggung.

b. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien kerumah sakit dengan keluhan sesak napas dan nyeri tenggorokan. Suhu tubuhnya
tinggi dan menggigil disertai batuk. Pasien mengatakan saat aktivitas merasakan kelemahan, ketidak
mampuan pada bahu dan tangan disertai nyeri pada sendi dan punggung. Pasien terlihat gelisah,
dengan wajah menyeringai karena menahan rasa nyeri pada daerah dadanya. Sehingga pasien
mengeluh tidak bisa tidur dan nafsu makannya menurun karena sering merasa mual dan ingin muntah.
c. Riwayat penyakit Dahulu
Pasien mengatakan dulu pernah menderita infeksi tenggorokan sehingga pasien pernah
mendapatkan pengobatan antibiotik jangka panjang.
d. Riwayat Penyakit keluarga
Pasien mengatakan ada keluarganya (kakeknya) meninggal karena serangan jantung mendadak.
2 .PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan TTV:
TD

: 110/70 mmHg (N: 120/80 mmHg)

RR

: 35x/menit (N: 12-20x/menit)

: 73x/menit (70-100x/menit)

: 37 0 C ( N: 36,6-37,2 0 C)

Pemeriksaan fisik yang dilakukan terdiri atas pengkajian B1-B6


B1 (Brething)
B2 (Bleeding)

Klien terlihat sesak dan frekuensi napas melebihi normal (35x/menit). Klien
didapati batuk.
Inspeksi
Adanya parut. Keluhan lokasi nyeri di daerah substernal dan nyeri diatas
perikardium. Penyebaran meluas didada, terjadi nyeri, serta ketidak
mampuan bahu dan tangan.
Palpasi
Denyut nadi perifer melemah.
Auskultasi
Tekanan darah menurun (110/70 mmHg). Ada murmur. Adanya pembesaran
jantung.
Perkusi
Pada batas jantung terjadi pergeseran untuk kasus lanjut pembesaran
jantung.

B3 (Brain)

Kesadaran Compos Mentis. Sakit tenggorokan, dan kemerahan di


tenggorokan disertai eksudat serta nyeri sendi dan punggung. Adanya sakit
kepala, iskemia sementara.

B4 (Bladder)

Volume keluaran urine kurang dari defisit cairan

B5 (Bowel)

Klien mengalami mual, muntah, anoreksia, dan BB turun. Adanya


pembesaran dan nyeri tekan pada kelenjar limfe, nyeri abdomen.

B6 (Bone)

Aktivitas gejala: kelelahan, tidak dapat tidur, pola hidup menetap, dan jadwal
olahraga tidak teratur. Tanda: takikardia, dispnea pada istirahat/aktivitas.
Higiene: kesulitan melakukan tugas perwatan diri.

3. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
Laboratorium

Ekokardiografi

KETERANGAN
-

Leukosit dengan jenis neutrofil


Anemia monokrom normositer
LED meningkat
Imunoglobulin serum meningkat
Fiksasi antigama (+)
Hemolitik komplemen dan komplemen C3 dalam serum menurun
Bilirubin meningkat
Pada urin ada proteinuria dan hematuria
Vegetasi besar (> 5 mm)
Prolaps mitral, fibrosis, dan katup mitral

4. PENATALAKSANAAN MEDIS
Pemberian obat yang sesuai dengan uji resistensi dipakai obat yang diperkirakan sensitif
terhadap mikroorganisme yang diduga. Bila penyebabnya streptokokus viridan yang sensitif terhadpa
penicillin G , diberikan dosis 2,4 - 6 juta unit per hari selama 4 minggu, parenteral untuk dua minggu,
kemudian dapat diberikan parenteral / peroral penicillin V karena efek sirnegis dengan streptomicin,
dapat ditambah 0,5 gram tiap 12 jam untuk dua minggu . Kuman streptokokous fecalis (post operasi
obs-gin) relatif resisten terhadap penisilin sering kambuh dan resiko emboli lebih besar oleh karena itu
digunakan penisilin bersama dengan gentamisin yang merupakan obat pilihan. Dengan dosis penisilin
G 12 - 24 juta unit/hari,dan gentamisin 3 - 5 mg/kgBB dibagi dalam 2 - 3 dosis. Ampisilin dapat dipakai
untuk pengganti penisilin G dengan dosis 6 - 12 gr/hari . Lama pengobatan 4 minggu dan dianjurkan
sampai 6 minggu. Bila kuman resisten dapat dipakai sefalotin 1,5 gr tiap jam (IV) atau nafcilin 1,5 gr
tiap 4 jam atau oksasilin 12 gr/hari atau vankomisin 0,5 gram/6 jam, eritromisin 0,5 gr/8 jam lama

pemberian obat adalah 4 minggu. Untuk kuman gram negatif diberikan obat golongan aminoglikosid :
gentamisin 5 - 7 mg/kgBB per hari, gentamisin sering dikombinsaikan dengan sefalotin, sefazolia 2 - 4
gr/hari , ampisilin dan karbenisilin. Untuk penyebab jamur dipakai amfoterisin B 0,5 - 1,2 mg/kgB per
hari (IV) dan flucitosin 150 mg/Kg BB per hari peroral dapat dipakai sendiri atua kombinasi. Infeksi yang
terjadi katub prostetik tidak dapat diatasi oleh obat biasa, biasanya memerlukan tindakan bedah. Selain
pengobatan dengan antibiotik penting sekali mengobati penyakit lain yang menyertai seperti : gagal
Jantung . Juga keseimbangan elektrolit, dan intake yang cukup .
5. ANALISIS DATA
DATA
DS : px mengeluh dadanya
terasa nyeri, juga sendi
dan punggungnya
DO: - Dispnea (+)
KU : lemah
TD : 110/70 mmHg
S : 390 C
TD : 110/70 mmHg
RR : 35x/menit
N : 73x/menit

ETIOLOGI
Endokarditis

MASALAH
Gangguan rasa nyaman
nyeri

Fenomena Emboli

Faktor predisposisi

suplai darah kemiokardium

PPJP

Nyeri
DS: px mengatakan nyeri dan
sesak pada dadanya
DO: - Dispnea (+)
N: 73x/menit
TD: 110/70 mmHg
RR: 35x/menit
KU: lemah
S: 390 C

Endokarditis
Fenomena reaksi sensivitas
Penimbunan leukosit
Peningkatan modul & jar parut
Kerusakan bilah katup

Pe perfusi jaringan

Penutupan/kekakuan katup
Regurgitasi&stenosis katup
mitral
Curah jantung
Pe perfusi jaringan
DS: px mengatakan lemah
sendi dan bahu, dan saat
aktivitas
terasa
lemah
DO: - KU: lemah
Dispnea (+)
CRT > 2 detik
N: 73x/menit
TD: 110/70 mmHg
RR: 35x/menit
KU: lemah
S: 390 C

Endokarditis

Itoleransi aktivitas

Fenomena reaksi sensivitas


Penimbunan leukosit
Regurgitasi& stenosis katup
mitral
Curah jantung
Aliran darah tdk adekuat
kesistemik
Kelemahan fisik
Itoleransi aktivitas

DS: px mengatakan tidak


nafsu makan dan selalu ingin
muntah
DO: : - KU: lemah
Dispnea (+)
BB: menurun
TD: 110/70 mmHg
RR: 35x/menit
S: 390 C
Nyeri pada daerah
tenggorokan

Endokarditis

Pemenuhan nutrisi kurang


dari adekuat

Respons imunologis trhdp


infeksi
Inflamasi sistemik (anoreksia,
BB menurun)
Pemenuhan nutrisi kurang dari
adekuat

D.6 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1.

Gangguan rasa nyaman nyeri b.d penurunan suplai darah ke miokardium sekunder karena
penurunan perfusi

2.

Gangguan perfusi perifer b.d tromboemboli atau kerusakan sekunder katup-katup pada endokarditis

D.7 INTERVENSI KEPERAWATAN


Aktual/resiko nyeri yang berhungan dengan penurunan suplai darah ke miokardium sebagai akibat
sekunder penurunan perfusi
Tujuan: dalam waktu 3X24 jam terdapat penurunan respon nyeri dada.
Kriteria: secara subyektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri dada, secara obyektif didapatkan
TTV dalam batas normal, wajah rileks, tidak terjadi penurunan perfusi perifer, urine output lebih dari
600 ml/hr.
INTERVENSI
a.

RASIONAL

Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas,


a.
Variasi penampilan dan perilaku klien karena
lama, dan penyebarannya.
nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
b.

b.

Lakukan manajemen nyeri keperawatan.


Istirahatkan klien

Istirahat akan menurunkan kebutuhan O 2 jaringan


perifer sehingga akan menurunkan kebutuhan
mlokardium serta akan meningkatkan suplai
darah dan O2 ke jaringan nyeri.

Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus


nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan

Manajemen lingkungan : lingkungan tenang


membantu meningkatkan kondisi O2 yang akan
dan batasi pengunjung
berkurang apabila banyak pengunjung yang
berada di ruangan.

Ajarkan teknik relaksasi pernafasan dalam

Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri

Meningkatkan asupan O2 sehingga akan


menurunkan nyeri sekunder dari iskemia jaringan
otak.

c.

Lakukan manajemen sentuhan

Kolaborasi
antiangina

pemberian

terapi

Distraksi
(pengalihan
perhatian)
dapat
menurunkan stimulis internal dengan mekanisme
peningkatan produksi endorfin dan enkefalin yang
dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak
dikirimkan ke korteks serebri, sehingga
menurunkan persepsi nyeri.
farmakologis

c.

Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa


sentuhan dukungan psikologis dapat membantu
menurunkan nyeri. Masase ringan dapat
meningkatkan aliran darah sehinggha secara
otomatis membantu suplai darah dan oksigen ke
area nyeri serta menurunkan sensasi nyeri.
Obat-obatan anti nyeri akan memblok stimulus
nyeri supaya tidak dipersepsikan oleh korteks
serebri.

Gangguan perfusi perifer yang berhubungan dengan tromboemboli atau kerusakan sekunder katupkatup pada endokarditis.
Tujuan: dalam waktu 3x24 jam tidak terjadi gangguan perfusi perifer
Kriteria: mempertahankan perfusi jaringan yang adekuat sesuai dengan kebiasaan individu seperti
kebiasaan makan, tanda-tanda vital yang pasti, tekanan nadi perifer, serta keseimbangan intake dan
output.
INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri:
a.

Evaluasi status mental. Catat adanyaa. Indikasi adanya emboli sistemik ke otak.
hemiparialisis tersembunyi, muntah, peningkatan
tekanan darah.

b. Kaji nyeri dada, dispnea yang tiba-tiba ditandaib. Emboli aterial pada jantung atau organ penting
lain dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung
dengan takipnea, nyeri pleuritis, dan sianosis.
atau distrimia kronis. Kongesti vena dapat
menunjukkan tempat trombus pada vena-vena
yang dalam dan emboli paru.
c.
Inaktivitas/bedrest yang lama dapat
c. Observasi edema pada ekstremitas. Catat menimbulkan terjadinya kongesti vena dan
kecenderunagan atau lokasi nyeri, tanda-tanda trombus vena.
Homan (Homan Sign) positif.
d. Indikasi adanya emboli ginjal.
d. Observasi adanya hematuria yang ditandai oleh
nyeri pinggang dan oliguria.
e. Catat keluhan nyeri parut kiri atas menjalar ke

bahu, kelemahan lokal, dan abdominalngiditas. e. Indikasi emboli kandung empedu.


f. Meningkatkan/mempertahankan bedrest sesuai
dengan anjuran.
f.
Kolaborasi:
g. Gunakan stoking antiomboli sesuai indikasi.

g.

h. Berikan antikogulan seperti heparin atau warfarin


h.
(coumadin).

Untuk membantu mencegah penyebaran atau


perpindahan emboli pada px dengan endokarditis.
Pada bedrest yang lama berasiko tinggi
mengalami tromboemboli.
Menggunakan sirkulasi perifer dan arus balik
vena serta mengurangi resiko trombus pada vena
supervisial/vena yang lebih dalam.
Heparin dapat digunakan secara propilaksis
pada pasien dengan bedrest yang lama seperti
sepsis atau CHF dan sebelum/sesudah operasi
penggantian katup. Coumadin adalah pengobatan
jangka panjang yang digunakan setelah operasi
penggantian katup atau pada emboli perifer.

BAB III
SIMPULAN

Kesimpulan
Bahwa didapatkan dari pembahasan dan data yang diperoleh. Endokarditis paling banyak
disebabkan oleh streptokokus viridans yaitu mikroorganisme yang hidup dalam saluran napas bagian
atas.
Endokarditis infeksi yang sering terjadi pada manula mungkin terjadi akibat menurunnya
respons imunologi terhadap infeksi, perubahan metabilisme akibat penuaan, dan meningkatnya
prosedur diagnostik invasif, khususnya pada penyakit genitourinaria.
Endokarditis tidak hanya terjadi pada endokard dan katub yang telah mengalami kerusakan,
tetapi juga pada endokar dan katub yang sehat, misalnya penyalahgunaan narkotik perintravena atau
penyakit kronik.
Faktor pencetus endokarditis infeksi adalah ekstrasi gigi atau tindakan lain pada gigi dan mulut,
kateterisasi saluran kemih, tindakan obstretrik ginekologik dan radang saluran pernapasan.

PERIKARDITIS
1. Pengertian
Perikarditis adalah inflamasi pada selaput perikardium, baik pariental maupun visceral yang
membungkus jantung.
2.

Etiologi

1. Penyebab idiopatik atau nonspesifik


2. Infeksi
a. Bakteri : streptokokus, stapilokokus, meningokokus, gonokokus
b. Virus : coxsakie, influenza
c. Jamur : riketsia, parasit
3. Kelainan jaringan ikat-sistemik lupus eritematosus, demam rematik, atritis rematik, poliarteritis.
4. Keadaan hipersensitivitas-reaksi imun, reaksi obat, serum sicknes
5. Penyakit struktur disekitarnya-infark miokardium, aneurisma dissecting, penyakit pleura dan paru
(pneumonia)
6.

Penyakit neoplasia

sekunder akibat metastasis dari kanker paru dan kanker payudara

leukemia

primer (mesotelioma)

7.

Terapi radiasi

8.

Trauma-cedera dada, pembedahan jantung, pemasangan pacemaker

9.

Gagal ginjal dan uremia

10. Tuberkulosis
3.

Patofisiologi Perikarditis

Proses radang yang terjadi dapat menimbulkan penumpukan cairan efusi dalam rongga
pericardium dan kenaikan tekanan intracardial,kenaikan tekanan tersebut akan mempengaruhi daya
kontraksi jantung,akhirnya menimbulkan proses fibrotic dan penebalan pericardial,lama kelamaan
terjadi kontriksi pericardial dengan pembentukan cairan,jika berlangsung secara kronis menyebapkan
fibrosis dan klasifikasi.
4.

Tanda dan Gejala Perikarditis


Tanda yang khas:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
5.
a.
-

Friction rub(suara tambahan)adalah bising gesek yang terjadi karena kantong berisi cairan
membengkak.
Gejala-gejala :
Sesak nafas saat bekerja
Panas badan 39 c -40c
Malaesa
Kadang nyeri dada
Effuse cardial
Nyeri dapat menyebar dari leher,bahu,punggung atau perut
Rasa tajam menusuk
Berkeringat
Test Diagnostik Perikarditis
Pemeriksaan fisik
Vital sign:-tekanan darah menurun
-Nadi cepat/dysretmia
-inspeksi:
keluhan utama:

Lemah,kesakitan
Gelisah
Sesak nafas

-palpasi

Nyeri tekan pada dada


-auskultasi

Pericardial friction rubs


b.pemeriksaan penunjang

6.

ECG:elevasi segnem S-T


Echocardiogram:pericardial effution
Enzim jantung:peningkatan CPK
Laboratorium:tanda tanda radang

Komplikasi
1.Efusi pericardium
2.Tamponade jantung
Salah satu reaksi radang pada perikarditis adalah penumpukan cairan(eksudasi)didalam
rongga perikard yang disebut dengan efusi pericard.
Efusi perikard ditentukan oleh jumlah dan kecepatan pembentukan cairan perikard. Efusi yang
banyak atau timbul cepat akan menghambat pengisian ventrikel, penurunan volume akhir diastolic
sehingga curah jantung sekuncup dan semenit berkurang. Kompensasi nya adalah takhikardia, tetapi
pada tahap berat atau kritis akan menyebabkan gangguan sirkulasi dengan penurunan tekanan darah
serta gangguan perfusi organ dengan segala akibatnya yang disebut tamponade jantung.
Bila reaksi radang ini berlanjut terus, perikard mengalami fibrosis jaringan parut luas,
penebalan, kalsifikasi dan juga terisi eksudat yang akan menghambat proses diastolic ventrikel,
mengurangi isi sekuncup dan semenit serta mengakibatkan kongesti sistemin (perikarditis konstriktiva).

7.

Penatalaksanaan
Tujuan penanganan adalah:

1.
2.
3.

Menentukan penyebab
Memberikan terapi yang sesuai dengan penyebabnya
Waspada terhadap kemungkinan terjadinya tamponade jantung
Obat : Dexamethasone dan Ampicillin
ASPEK LEGAL
Dalam kasus ini, peran perawat sebagai advokat harus bertanggung jawab membantu klien
dan keluarga dalam hal inform concern atas tindakan keperawatan yang dilakukan. Selain itu juga
harus mempertahankan dan melindungi hak-hak klien serta memastikan kebutuhan klien terpenuhi.

SEGI ETIK KEPERAWATAN


Otonomi
Prinsip bahwa individu mempunyai hak menentuka diri sendiri, memperoleh kebebasan dan
kemandirian
Perawat yg mengikuti prinsip ini akan menghargai keluhan gejala subjektif (misal : nyeri), dan
meminta persetujuan tindakan sebelum prosedur dilaksanakan
Nonmaleficience
Prinsip menghindari tindakan yg membahayakan. Bahaya dpt berarti dgn sengaja, risiko atau
tidak sengaja membahayakan.
Contoh : kecerobohan perawat dalam memberikan pengobatan menyebabkan klien mengalami
cedera
Beneficience
Prinsip bahwa seseorang harus melakukan kebaikan. Perawat melakukan kebaikan dengan
mengimplementasikan tindakan yg menguntungkan/bermanfaat bagi klien.
Dapat terjadi dilema bila klien menolak tindakan tersebut, atau ketika petugas kesehatan
berperan sebagai peneliti
Justice
Prinsip bahwa individu memiliki hak diperlakukan setara.
Cth : ketika perawat bertugas sendirian sementara ada beberapa pasien di sana maka perawat
perlu mempertimbangkan situasi dan kemudian melakukan tindakan secara adil.
Fidelity
Prinsip bahwa individu wajib setia terhadap komitmen atau kesepakatan dan tgg jawab yg
dimiliki.
Kesetiaan jg melibatkan aspek kerahasiaan / privasi dan komitmen adanya kesesuaian antara
informasi dgn fakta.
Veracity
Mengacu pada mengatakan kebenaran. Bok (1992) mengatakan bahwa bohong pada orang yg
sakit atau menjelang ajal jarang dibenarkan.
Kehilangan kepercayaan thd perawat dan kecemasan karena tdk mengetahui kebenaran
biasanya lebih merugikan.

Ditinjau dari segi etik keperawatan, dalam kasus Perikarditis ini perawat harus menggunakan
prinsip etika otonom dimana sebelum diadakan tindakan operasi pasien harus ditanyai terlebih dahulu
setuju atau tidak (inform concern).

ASUHAN KEPERAWATAN
DENGAN DIAGNOSA PERIKARDISITIS
DI RUANG PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT X

I. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Tanggal pengkajian : 20 september 2010

Pukul : 08.00 Wib

Oleh : Mahasiswa A
I. Identitas
A. Pasien
Nama
Tempat, tanggal lahir
Agama
Status Perkawinan
Pendidikan
Pekerjaan
Lama bekerja
Suku/ Bangsa
Tanggal masuk RS
No RM
Ruang
Diagnosis Medis

: Bpk. K
: Salatiga, 14 Oktober 1960
: Katholik
: Kawin
: S1
: Manajer
: 20 Tahun
: Jawa /Indonesia
: 18 September 2010
: 000-001-0004-987654
: Penyakit Dalam
: Perikarditis

B. Keluarga / Penanggung jawab


Nama
: Ny. G
Hubungan
: Istri
Umur
: 48 Tahun
Pendidikan
: D III
Pekerjaan
: Karyawan
Alamat
: Jln. Budi Utomo, no.19 - Salatiga

I. Riwayat Penyakit
A. Kesehatan pasien
1. Keluhan Utama
: nyeri di daerah dada kiri dan juga sekitar leher
2. Keluhan Tambahan
: badan terasa panas, sesak nafas
3. Alasan Utama masuk
: rasa salkit yang semakin parah.
4. Riwayat penyakit sekarang :
Pasien mengatakan awalnya timbul rasa nyeri di daerah dada kiri, dan juga disekitar leher.
Tindakan yang dilakukan pasien adalah menghentikan semua aktivitas yang berat. Hasil dari tindakan
pasien tidak ada rasa nyeri semakin bertambah. Kemudian pasien memutuskan untuk periksa ke RS X
pada pakul 08.00 WIB. Di IGD pasien di periksa vital sign dengan suhu : 38 0C, RR 26 x/menit tidak
teratur, hasil auskultasi dada ditemukan suara tambahan friction rub, kemudian dilakukan pemeriksaan
labaoraturium di dapat nilai leokusit 18.000 /uL dan nilai LED : 50 mm / jam.
5. Riwayat penyakit yang lalu :

Nama penyakit yang lalu : Perikarditis

Upaya pengobatan
: Oprasi pembedahan

Hasil
: Sembuh
Alergi :
Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap makanan maupun obat.

II. PEMERIKSAAN FISIK


Tinggi badan
Berat badan
Pemeriksaan vital sign
Tekanan darah
Suhu
Nadi
Respirasi

: 170 cm
: 55 Kg
:
: 90 / 50 mmHg
: 38,20C
: 90 x / menit tidak teratur
: 25 x / menit

Keadaan umum

Pasien tampak sakit berat


Pasien menggunakan O2
Pemeriksaan dada

Inspeksi
Dada simetris, tidak ada kelainan bentuk dada, warna coklat, ictus di ICS 6 SIMC

Palpasi
Ada getaran ictus cordis / tril, lebar ictus cordis 2 cm

Perkusi
Atas ICS 2
Bawah ICS 9
Kanan ICS 4 sentralis distra
Kiri
ICS 4

Auskultasi
Friction rub (+)Q

ANALISA DATA
No.
1.

DATA
MASALAH / P
Ds : pasien mengatakan takut Ansietas

PENYEBAB / E
Ancaman kematian

mati dan tidak mau di oprasi


karena pernah ada
pengalaman tetangganya
sakit jantung meninggal di
kamar oprasi.
Do : pasien gelisah dan
murung
2.

Ds : Pasien mengatakan

Kurang pengetahuan

takut mati dan tidak mau di

mengenai kondisi,

oprasi karena pernah ada

kebutuhan pengobatan

Kesalahan konsep

pengalaman tetangga yang


sakit jantung yang mati di
kamar operasi.
3.

Ds :
Pasien mengatakan nyeri
di daerah dada kiri dan juga
di sekitar leher dengan skala
nyeri
Pasien mengatakan nyeri
semakin berat saat bernafas,
merubah posisi tidur dan
memutar badan.
Pasien mengatakan nyeri
berkurang bila berdiri
Pasien mengatakan badan
panas
Do : Pasien berposisi

Nyeri

imflamasi perikardium

membungkuk ke depan atau


sering sesekali duduk di
tempat tidur
Nadi 90 x permenit, tidak
teratur
Terdapat palsusparadoksus

DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN


NO
1.

1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian ditandai oleh:
Ds : pasien mengatakan takut mati dan tidak mau di oprasi karena pernah ada
pengalaman tetangganya sakit jantung meninggal di kamar oprasi.

2.

Do : pasien gelisah dan murung

2.

Kurang pengetahuan mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan


kesalahan konsep di tandai oleh :
Ds : Pasien mengatakan takut mati dan tidak mau di oprasi karena pernah ada
pengalaman tetangga yang sakit jantung yang mati di kamar operasi.

Nyeri berhubungan dengan imflamasi pericardium di tandai oleh :


Ds :
Pasien mengatakan nyeri di daerah dada kiri dan juga di sekitar leher dengan skala
nyeri
Pasien mengatakan nyeri semakin berat saat bernafas, merubah posisi tidur dan
memutar badan.
Pasien mengatakan nyeri berkurang bila berdiri
Pasien mengatakan badan panas
Do : Pasien berposisi membungkuk ke depan atau sering sesekali duduk di tempat tidur
Nadi 90 x permenit, tidak teratur
Terdapat palsusparadoksus

RENCANA KEPERAWATAN

No
1

Diagnosa Kepeawatan dan


Data penunjang
Nyeri berhubungan dengan

Tindakan Keperawatan
Tujuan dan Kriteria
Intervensi
Setelah dlakukan tindakan 1.

Rasional

Selidk keluhan nyeri1.

Tindakan ini dapat

inflamasi pericardium di

keperawtan 1x 24 jam, rasa

dada perhatikan

menurunkan

tandai dengan oleh :

nyeri berkurang dengan

awitan dan factor

ketidaknyamanan fisik

Ds :

criteria : Ds= pasien

pemberat.

pasien mengatakan

mengatakan nyeri berkurang

nyeri d bagian dada kir dan

(skala 5)

juga disekitar daerah leher

DO= pasien lebih rileks

(skala 7)

2.

Berikan lingkungan
yang tenang dan
tindakan yang
nyaman, misalnya

pasien mengataka nyeri

perubahan posisi,

dan emosional pasien.


2. Nyeri pericardium
secara khas terletak di
sub sterna dan dapat
menyebar ke leher dan
punggung. Namun ini
berbeda dari
ischemiamyokard,

semakin berat saat

gosokan punggung

pada nyeri ini menjadi

bernafas ,merubah posisi

dukung emosional

memburuk pada

tidur dan memutar badan

inspirasi dalam,

,pasien

gerakan atau berbaring

mengatakan nyeri

dan hilang dengan

berkurang bila berdiri .

duduk tegak atau

pasien mengatakan badan

membungkuk dan

panas.

catatan: nyeri dada


dapat atau tidak

Do :pasien sering

menyertai endokarditis

membungkung ke depan

dan myokarditis,

atau sesekali duduk di

tergantung pada

tempat tidur.
3.

Nadi 90 x/menittidak teratur


.
Terdapat palsus
paradogsus.

adanya ischemia.
Penjelasan yang

Beri penjelasan

benar membuat klien

kepada klien akibat

mengerti sehingga

nyeri .

dapat diajak kerja

Friction Rub (+)

4.

Leukosit = 18.000/uL

sama.
Analgetik dapat
mengurangi rasa nyeri.

LED = 50 ml/jam
4.

Kolaborasi dengan
dokter dengan

2.

Kurangnya pengetahuan

Setelah dilakukan tindakan 1.

pemberian analgetik
Jelaskan efek
1.

mengenai kondisi

keperawtan selama 12 jam

inflamasi pada

jawab pada kesehatan

kebutuhan pengobatan

pasien mau mengikuti

jantung. Ajarkan untuk

sendiri pasien perlu

berhubungan dengan

prosedur yang disarankan

memeperhatikan

memahami penyebab

kesalahan konsep ditandai

oleh pihak kesehatan dengan

gejala sehubungan

khusus atau

oleh:

criteria :

dengan komplikasi

pengobatan dan efek

DS :

DS : pasien mengatakan

atau berulangnya dan

jangka panjang

Pasien mengatakan takut

mau dioperasi

gejala yang dilaporkan

diharapkan dari kondisi

mati dan tidak mau

perikardiosentesis

dengan segera pada

inflamasi sesuai

dioperasi, karena pernah

DO : pasien lebih rileks

pemberi perawtan

dengan tanda gejala

ada pengalman

Untuk bertanggung

yang menunjukkan

tetangganya sakit jantung

kekambuhan atau

meninggal di ruang operasi.

komplikasi

DAFTAR PUSTAKA
http://irh4mgokilz.wordpress.com/2011/06/15/asuhan-keperawatanmiokarditis/

http://odasunrisenurse.blogspot.com/2011/05/asuhan-keperawatan-perikarditis.html