Anda di halaman 1dari 7

LEARNING OBJECTIVE

1.
2.
3.
4.
5.

Perbedaan secara klinis perdarahan cedera kepala dan gambaran dari CT-Scan?
Penanganan post hospital?
Patofisiologi penurunan kesadaran, pupil ansiokor, dan kejang akibat trauma?
Mekanisme terjadinya cedera kepala?
Indikasi CT-Scan?
JAWABANNYA

1. Perdarahan intrakranial:
a. EPIDURAL HEMATOMA
Hematoma epidural merupakan pengumpulan darah diantara tengkorak dengan
duramater ( dikenal dengan istilah hematom ekstradural ). Hematom jenis ini biasanya
berasal dari perdarahan arteriel akibat adanya fraktur linier yang menimbulkan laserasi
langsung atau robekan arteri-arteri meningens (Meningea media). Berdasarkan
kronologisnya hematom epidural diklasifikasikan menjadi :
1.Akut : ditentukan diagnosisnya waktu 24 jam pertama setelah trauma
2.Subakut : ditentukan diagnosisnya antara 24 jam 7 hari
3.Kronis : ditentukan diagnosisnya hari ke 7
Gejala klinis hematom epidural terdiri dari trias gejala;
1. Interval lusid (interval bebas)
Setelah periode pendek ketidaksadaran, ada interval lucid yang diikuti dengan
perkembangan yang merugikan pada kesadaran dan hemisphere contralateral.
Lebih dari 50% pasien tidak ditemukan adanya interval lucid, dan ketidaksadaran
yang terjadi dari saat terjadinya cedera. Sakit kepala yang sangat sakit biasa terjadi,
karena terbukanya jalan dura dari bagian dalam cranium, dan biasanya progresif
bila terdapat interval lucid. Interval lucid dapat terjadi pada kerusakan parenkimal
yang minimal. Interval ini menggambarkan waktu yang lalu antara ketidak sadaran
yang pertama diderita karena trauma dan dimulainya kekacauan pada diencephalic
karena herniasi transtentorial. Panjang dari interval lucid yang pendek
memungkinkan adanya perdarahan yang dimungkinkan berasal dari arteri.
2. Hemiparesis
Gangguan neurologis biasanya collateral hemipareis, tergantung dari efek
pembesaran massa pada daerah corticispinal. Ipsilateral hemiparesis sampai
penjendalan dapat juga menyebabkan tekanan pada cerebral kontralateral peduncle
pada permukaan tentorial.
3. Anisokor pupil
Yaitu pupil ipsilateral melebar. Pada perjalananya, pelebaran pupil akan mencapai
maksimal dan reaksi cahaya yang pada permulaan masih positif akan menjadi
negatif. Terjadi pula kenaikan tekanan darah dan bradikardi.pada tahap ahir,
kesadaran menurun sampai koma yang dalam, pupil kontralateral juga mengalami
pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjukkan reaksi cahaya lagi yang
merupakan tanda kematian.
b. SUBDURAL HEMATOMA
Perdarahan subdural ialah perdarahan yang terjadi diantara duramater dan araknoid.
Perdarahan subdural dapat berasal dari:

1. Ruptur vena jembatan ( "Bridging vein") yaitu vena yang berjalan dari ruangan
subaraknoid atau korteks serebri melintasi ruangan subdural dan bermuara di dalam
sinus venosus dura mater.
2. Robekan pembuluh darah kortikal, subaraknoid, atau araknoid
Klasifikasi
1. Perdarahan akut
Gejala yang timbul segera hingga berjam - jam setelah trauma.Biasanya terjadi
pada cedera kepala yang cukup berat yang dapat mengakibatkan perburukan lebih
lanjut pada pasien yang biasanya sudah terganggu kesadaran dan tanda vitalnya.
2. Perdarahan sub akut
Berkembang dalam beberapa hari biasanya sekitar 2 - 14 hari sesudah trauma. Pada
subdural sub akut ini didapati campuran dari bekuan darah dan cairan darah .
3. Perdarahan kronik
Biasanya terjadi setelah 14 hari setelah trauma bahkan bisa lebih.Perdarahan kronik
subdural, gejalanya bisa muncul dalam waktu berminggu- minggu ataupun bulan
setelah trauma yang ringan atau trauma yang tidak jelas, bahkan hanya terbentur
ringan saja bisa mengakibatkan perdarahan subdural apabila pasien juga
mengalami gangguan vaskular atau gangguan pembekuan darah. Pada perdarahan
subdural kronik , kita harus berhati hati karena hematoma ini lama kelamaan bisa
menjadi membesar secara perlahan- lahan sehingga mengakibatkan penekanan dan
herniasi. Hematoma akan membesar dan menimbulkan gejala seprti pada tumor
serebri. Sebagaian besar hematoma subdural kronik dijumpai pada pasien yang
berusia di atas 50 tahun.
Gejala klinis
Gejala klinisnya sangat bervariasi dari tingkat yang ringan (sakit kepala) sampai
penutunan kesadaran. Kebanyakan kesadaran hematom subdural tidak begitu hebat
deperti kasus cedera neuronal primer, kecuali bila ada effek massa atau lesi lainnya.
Gejala yang timbul tidak khas dan meruoakan manisfestasi dari peninggian tekanan
intrakranial seperti : sakit kepala, mual, muntah, vertigo, papil edema, diplopia akibat
kelumpuhan n. III, epilepsi, anisokor pupil, dan defisit neurologis lainnya.kadang kala
yang riwayat traumanya tidak jelas, sering diduga tumor otak.

c. INTRASEREBRAL HEMATOM
Merupakan perdarahan yang terjadi didalam jaringan otak. Merupakan disfungsi
neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer substansi otak yang
terjadi secara spontan, bukan oleh karena trauma kapitis. Perdarahan intraserebral
paling sering terjadi ketika tekanan darah tinggi kronis melemahkan arteri kecil,
menyebabkannya robek. Penggunakan kokain atau amfetamin dapat menyebabkan
tekanan darah tinggi dan perdarahan sementara.
. Klasifikasi intraserebral hematom menurut
Letaknya:
1. Hematom supra tentoral.
2. Hematom serbeller.

3. Hematom pons-batang otak.


Klinis penderita tidak begitu khas dan sering (30%-50%) tetap sadar, mirip dengan
hematom ekstra aksial lainnya. Manifestasi klinis pada puncaknya tampak setelah 2-4
hari pasca cedera, namun dengan adanya scan computer tomografi otak
diagnosanya dapat ditegakkan lebih cepat.
Kriteria diagnosis hematom supra tentorial: nyeri kepala mendadak dan penurunan
tingkat kesadaran dalam waktu 24-48 jam. Tanda fokal yang mungkin terjadi:
- Hemiparesis / hemiplegi.
- Hemisensorik.
- Hemi anopsia homonim
- Parese nervus III.
Kriteria diagnosis hematom serebeller ;
- Nyeri kepala akut
- Penurunan kesadaran
- Ataksia
- Tanda tanda peninggian tekanan intrakranial
Kriteria diagnosis hematom pons batang otak:
- Penurunan kesadaran koma
- Tetraparesa
- Respirasi irreguler
- Pupil pint point
- Pireksia
- Gerakan mata diskonjugat.

d. PERDARAHAN INTRAVENTRIKULER
Terdapatnya darah hanya dalam sistem ventrikuler, tanpa adanya ruptur atau laserasi
dinding ventrikel. Disebutkan pula bahwa PIVH merupakan perdarahan intraserebral
nontraumatik yang terbatas pada sistem ventrikel.
Sedangkan perdarahan sekunder intraventrikuler muncul akibat pecahnya pembuluh
darah intraserebral dalam dan jauh dari daerah periventrikular, yang meluas ke sistem
ventrikel. Sindrom klinis IVH menurut Caplan berupa :
1. Sakit kepala mendadak
2. Kaku kuduk
3. Muntah
4. Letargi
5. Penurunan Kesadaran
e. PERDARAHAN SUBARAKHNOID
Subarachnoid hemorrhage adalah pendarahan ke dalam ruang (ruang subarachnoid)
diantara lapisan dalam (pia mater) dan lapisan tengah (arachnoid mater) para jaringan
yang melindungi otak (meninges). Perdarahan subarachnoid merupakan penemuan
yang sering pada trauma kepala akibat dari yang paling sering adalah robeknya
pembuluh darah leptomeningeal pada vertex di mana terjadi pergerakan otak yang

besar sebagai dampak, atau pada sedikit kasus, akibat rupturnya pembuluh darah
serebral major. Pasien yang mampu bertahan dari pendarahan subarachoid kadang
mengalami adhessi anachnoid, obstruksi aliran cairan cerebrospinal dan hidrocepalus.
Cedera intrkarnial yang lain kadang juga dapat terjadi.
Adapun gejala klinis Perdarahan subarachnoid:
- Gejala penyakit berupa nyeri kepala mendadak seperti meledak, dramatis,
berlangsung dalam 1 2 detik sampai 1 menit.
- Vertigo, mual, muntah, banyak keringat, menggigil, mudah terangsang, gelisah dan
kejang.
- Dapat ditemukan penurunan kesadaran dan kemudian sadar dalam beberapa menit
sampai beberapa jam.
- Dijumpai gejala-gejala rangsang meningen
- Perdarahan retina berupa perdarahan subhialid merupakan gejala karakteristik
perdarahan subarakhnoid.
- Gangguan fungsi otonom berupa bradikardi atau takikardi, hipotensi atau
hipertensi, banyak keringat, suhu badan meningkat, atau gangguan pernafasan.
(Sumber: Brunner & Suddarth. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta,
EGC, 2002, Rowland LP. Meritts Neurology. 11th Edition. Philadelphia, Wolters Kluwer CO :
303-337)

2. Persiapan post-hospital:
1. Perencanaan sebelum penderita tiba
2. Perlengkapan airway sudah dipersiapkan, dicoba dan diletakkan di tempat yang mudah
dijangkau
3. Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan, disiapkan dan diletakkan pada tempat yang
mudah dijangkau
4. Pemberitahuan terhadap tenaga laboratorium dan radiologi apabila sewaktu-waktu
dibutuhkan.
5. Pemakaian alat-alat proteksi diri
Sumber: Basuki, Endro, Sp.BS,dr; 2003, Materi Pelatihan GELS (General Emergency Life Support),
Tim Brigade Siaga Bencana (BSB), Jogjakarta.

3. Penyebab terjadinya pupil ansiokor:


Pada hematom epidural, perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan dura meter.
Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria
meningea media robek. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di daerah
bersangkutan. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital.
Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan
jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale. Perdarahan yang terjadi
menimbulkan hematom epidural, desakan oleh hematoma akan melepaskan durameter
lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar.
Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus
temporalis otak kearah bawah dan dalam. Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus
mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. Keadaan ini menyebabkan timbulnya

tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis. Tekanan dari herniasi unkus
pda sirkulasi arteria yang mengurus formation retikularis di medulla oblongata
menyebabkan hilangnya kesadaran. Di tempat ini terdapat nuclei saraf cranial ketiga
(okulomotorius). Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak
mata.
Penyebab terjadinya penurunan kesadaran:
Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera kepala
dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi karena
berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke
otak yang menurun, misalnya akibat syok.
Karena itu, pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas, gerakan nafas yang
adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup.
Sumber: Sidharta P, Mardjono M, Neurologi Klinis Dasar, Dian Rakyat, Jakarta, 2010
Harsono, Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. Gajah Mada University Press, 2007

4. Benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan:


1. Kepala diam dibentur oleh benda bergerak
Kekuatan benda yang bergerak akan menyebabkan deformitas akibat percepatan,
perlambatan dan rotasi yang terjadi secara cepat dan tiba-tiba terhadap kepala dan
jaringan otak. Trauma tersebut bisa menimbulkan kompresi dan regangan yang bisa
menimbulkan robekan jaringan dan pergeseran sebagian jaringan terhadap jaringan
otak yang lain.
2. Kepala yang bergerak membentur benda yang diam
Kepala yang sedang bergerak kemudian membentur suatu benda yang keras, maka
akan terjadi perlambatan yang tiba-tiba, sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan
di tempat benturan dan pada sisi yang brlawanan. Pada tempat benturan terdapat
tekanan yang paling tinggi, sedang pada tempat yang berlawanan terdapat tekanan
negatif paling rendah sehingga terjadi rongga dan akibatnya dapat terjadi robekan.
3. Kepala yang tidak dapat bergerak karena menyender pada benda lain dibentur oleh
benda yang bergerak.
Pada kepala yang tergencet pada awalnya dapat terjadi retak atau hancurnya tulang
tengkorak. Bila gencetannya hebat tentu saja dapat mengakibatkan hancurnya otak.
Adapun mekanisme cedera kepala yang dapat menimbulkan trauma, ialah :
Perubahan patofisiologi setelah cedera kepala adalah kompleks. Trauma bisa disebabkan
oleh mekanisme yang berbeda, dan sering berkombinasi. Perubahan- perubahan setelah
trauma adalah terjadi pada tingkat molekuler, biokimia, seluler, dan pada tingkat
makroskopis

Cedera Otak Primer dan Kontusio Serebri

Cedera otak primer disebabkan oleh kerusakan mekanik pada jaringan otak dan pembuluh
darah pada saat terjadinya trauma. Pada tingkat makroskopis bisa terlihat terputusnya
jaringan otak; pada tingkat mikroskopik bisa terlihat kerusakan parenkhim sel (sel neuron,
axon, dan glia) dan mikrosirkulasi (arteriol, capiler, dan venula) (Selladurai,et al,2007).
Kontusio serebri adalah tipe kerusakan otak fokal terutama disebabkan oleh kontak antara
permukaan otak dan tonjolan permukaan tulang dasar tengkorak, menuerut ICD-9
kontusio cerebri adalah luka memar pada otak akibat tubrukan / impact terhadap kepala
atau suatu trauma acceleration/deceleration .
Diantara banyak peristiwa molekouler paskacedera otak hal yang paling penting adalah
Sur-1 yang memberi kontribusi berkembangnya kontusio serebri. Secara umum area
kontusio serebri dibagi tiga yaitu; Epicenter, Pericotusional penumbra, dan Parapenumbra
area. Pada epicenter terputusnya pembuluh darah terjadi segera. Pada penumbra dan
parapenumbra area pukulan energi tidak merobek jaringan, tetapi mengawali peristiwa
molekuler sensitif-mekanik yang mengiduksi overexpresi dari Sur- 1. Sur-1 adalah
regulator subunit dari non-selektif kation channel (NCCa-ATP) yang ditemukan oleh
Simard group dan berimplikasi pada patophisiologi edema serebri dan bertransformasi dari
kontusio menjadi hemoragic. Induksi overekspresi Sur-1 meningkatkan pembengkakan sel
dan kematian onkotik sel astrocyte, neuron, dan sel endothelial. Pecahnya endotelial sel
mengakibatkan microhemoragic yang berakibat terbentuknya perdarahan baru dan
konsekuensi perdarahan menjadi progresif pada traumatik kontusio serebri
Gambaran CT scan pada kontusio serebri lokasi biasanya tanpak pada permukaan korteks
dan terlibat gray matter, pada sentral area terlihat hiperdense dan bercampur dengan area
hipodense yang merupakan bagian dari hemoragic necrosis atau bagian jaringan otak yang
rusak dan bagian otak yang edema (pericontusional edema)
Tidak ada aliran darah pada area sentral kontusio serebri dan pengurangan aliran darah
pada daerah perikontusional edema, dimana autoregulasi terganggu (vasoparalysis). Oleh
karena itu pada daerah perilesional ada kerusakan parsial sel yang rentan terhadap setiap
pengurangan perfusi oleh pengurangan MAP (mean arterial pressure), peningkatan
tekanan intrakranial atau vasokonstriksi setelah hipocapnia akibat dari hiperventilasi
Perkembangan dari lesi kontusio serebri adalah (1) Komponen perdarahan berkembang;
penyatuan fokus fokus perdarahan kecil dapat terjadi; komponen perdarahan dari
kontusio serebri dapat mencapai maximal dalam waktu 12 jam pascatrauma pada 84%
pasien; koangolopati dan alkoholik dapat memperbesar risiko bertambahnya komponen
perdarahan pada kontusio serebri, (2) Meningkatnya pembengkakan zona sentral kontusio
dan zona perikontusional; kerusakan parsial sel parenkim pada sentral kontusio juga pada
zona perikontusional bisa menyebabkan bengkak (cytotoxic edema). Pada area nekrotik
dari kontusio makromolekuler yang didegradasi menjadi molekul yang lebih kecil dapat
meningkatkan osmolaritas jaringan dan bisa menyebabkan perpindahan cairan dari
intravasculer ke area necrosis kontusio (osmolar edema). Pembengkakan area sentral
kontusio menyebabkan penekanan zona perikontusional dan menyebabkan iskhemik lebih

lanjut dan edema. Perikontusional edema dapat mencapai maximal 48-72 jam setelah
cedera
Cedera Otak Sekunder
Cedera otak sekunder merujuk kepada efek setelah peristiwa cedera primer, secara klinis
efek diaplikasikan setelah postraumatik hematom intrakranial, edema otak dan
peningkatan tekanan intrakranial dan pada fase lebih lambat hidrocephalus dan infeki.
Cedera otak sekunder adalah peristiwa sistemik yang terjadi setelah trauma yang potensial
cedera ini dapat menambah kerusakan neuron, axon, dan pembuluh darah otak. Cedera
otak sekunder yang terpenting adalah hipoxia ,hipotensi, hipercarbia, hiperexia, dan
gangguan elektrolit
Sumber:
Anonim._____.
Cedera
Kepala:
Penatalaksanaan
Fase
Akut.
http://www.kalbefarma.com/files/cdk/files/16PenatalaksanaanFaseAkut077.pdf/16PenatalaksanaanF
aseAkut077.html

5. Indikasi dari penggunaan CT-Scan pada kasus trauma kepala:


1. Bila secara klinis (penilaian GCS) didapatkan klasifikasi trauma kepala sedang dan
berat
2. Trauma kepala ringan yang disertai fraktur tengkorak
3. Adanya kecurigaan dan tanda terjadinya fraktur basis krani
4. Adanya defisit neurologi, seperti kejang dan penurunan gangguan kesadaran
5. Sakit kepala yang hebat
6. Adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau herniasi jaringan otak
7. Kesulitan dalam mengeliminasi kemungkinan perdarahan intraserebral
Sumber: Basuki, Endro, Sp.BS,dr; 2003, Materi Pelatihan GELS (General Emergency Life Support),
Tim Brigade Siaga Bencana (BSB), Jogjakarta.