Anda di halaman 1dari 90

TEKNIK PEMILIHAN OBAT

DAN
PENULISAN RESEP
YANG RASIONAL
Oleh :
Prof. Dr. H.M. NATSIR DJIDE, MS.
Apt
LAB.MIKROBIOLOGI BIOTEKNOLOG FARMASI
LAB. FARMASEUTIKA
FAKULTAS FARMASI UNHAS

Uji coba
Masalah : Seorang pasien bernama AMIN umur 24 tahun. Alamat
jl Pendidikan No. 125, Makassar
Setelah dilakukan pemeriksaan, maka keputusannya: di diagnosis
penyakit komplikasi:diputuskan dilakuan terapi dgn obat sbg berikut:
diberikan 3 macam btk Sediaan Obat :
a). resep racikan berupa Amoxicillin 1 kaplet, parasetamol 500 mg,
vitamin B kompleks 2 tablet dan lactosum secukupnya dibuat dlm
btk serbuk terbagi-bagi sebanyak 15 bungkus setiap bungkusnya
mengandung obat seperti dalam resep, dgn cara pakai 3 kali
sehari 1 kapsul sebelum makan dan diminta dimasukkan dlam
kapsul
b). Enzimpleks tablet sebanyak 15 biji dgn cara pakai 3 kali sehari
1 tablet sementara makan
c). Resep obat injeksi : Streptomycin sebanyak 2 flacon dan
cyploxacine 2 vial.
Tugasnya : tulis resep tersbt dgn benar dan rasional

Kerasionalan Terapi Pengobatan


Kerasionalan adalah penggunaan obat yg tepat secara medik dan
memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu.
Penggunaan obat yg rasional mensyaratkan bahwa pasien menerima
obat-obatan yg sesuai utk kebutuhan klinik mereka, dlm dosis yg
memenuhi kebutuhan individu itu sendiri, utk suatu periode waktu yg
memadai, dan dgn harga yg terendah uuk mereka dan masyarakatnya
Untuk memenuhi kriteria tsbt, dokter penulis resep harus mengikuti proses baku penulisan, yg ditempuh melalui suatu tahapan
prosedur tertentu yg disebut Standard Operating Procedure (SOP),
yaitu terdiri dr anamnesa, pemeriksaaan fisik, penegakan diagnosis,
pengobatan, dan tindakan selanjutnya.
Semua tahapan prosedur tersebut menentukan penggunaan obat yg
rasional

Terapi yg dpt dipilih utk pasien yg mengalami gangguan kesehatan


meliputi pemberian obat, pembedahan, psikiatrik, radiasi, fisioterapi,
konseling, pendidikan kesehatan, dan bahkan tanpa terapi.
Sebenarnya ada 2 tahap penting dlm memilih pengobatan;
- pertama mempertimbangkan terapi pilihan pertama yg merupakan
hasil proses seleksi berdasarkan langkah-langkah yg sesuai
- kedua adalah menimbang apakah pilihan ini cocok utk pasien yg
akan diobati
Langkah-langkah umum utk menentukan terapi rasional meliputi
menetapkan tujuan terapi, menyusun daftar berbgai terapi yg mungkin
manjur, dan memilih terapi-P (pribadi/pilihan) dgn cara membandingkan kemanjuran, keamanan, kecocokan, dan biayanya

Kriteria kerasionalan obat :


- Obat yang benar : pemilihan obat dan regimen
- Indikasi tepat : didasarkan pertimbangan medik
- Obat yg tepat : manfaat. Kenyamanan, kesesuaian bagi penderita
dan biaya
- Dispensing dan informasi yg benar kepatuhan penderita
Prinsip penggunaan terapi obat rasional :
- Tepat obat
- Tepat indikasi
- Tepat penderita
- Tepat dosis
- Tepat rute pemberian
- Tepat cara penyiapan
- Tepat waktu
- Waspada terhadap efek samping

Proses pemilihan terapi untuk mencapai terapi yg rasional terdiri dr


beberapa langkah, antara lain :
a. Tetapkan masalah pasien
b. Setelah melakukan diagnosa dan anamnesa kepada pasien,
dokter harus menemukan dan mengidentifikasi masalah pokok
yang menyebabkan penyakit dari pasien
c. Tentukan tujuan terapi
d. Setelah menetapkan masalah pasien, maka dilakukan pemilihan
terapi berdasarkan penentuan tujuan terapinya terlebih dahulu
e. Tentukan cocok tidaknya terapi untuk pasien
f. Setelah menentukan tujuan terapi, maka perlu dianalisa kecocokan dari terapi-P untuk pasien.
g. Mulai pengobatan
h. Berikan penjelasan utk meningkatkan kepatuhan pasien dalam
terapi dan penjelasan tentang obat, cara meminumnya, dan
peringatan
i. Pantau (hentikan) pengobatan

Ada tujuh tepat dalam penggunaan Obat Rasional yg penting yaitu :

1. Ketepatan Diagnostik
Diagnosis merupakan point yg paling mempengaruhi jenis terapi
yg akan diberikan kepada pasien.
Bila diagnosis kita tepat maka tentunya terapi yg diberikan juga
akan menjadi tepat, demikian juga sebaliknya bila diagnosis yg
ditegakkan tda\k tepat, maka pemilihan dan pemberian obat tdk
tepat

2. Ketepatan Indikasi
Indikasi mempengarui jenis atau macam obat yg kita berikan.
Apakah suatu obat perlu diberikan pd suatu penyakit atau tidak, hal
ini tergantung pd indikasinya.
Contoh apakah perlu memberikan antibiotika pd pasien diare?
jawabannya bisa ya bisa tidak tergantung indikasi pasien yg ditemui
di lapangan

3. Ketepatan Pemilihan Obat


Pengobatan diberikan berdasarkan buku pedoman atau buku
formularium yg sudah terbukti memberikan manfaat yg semaksimalnya dgn risiko terapi yg sekecil-kecilnya.

4. Ketepatan Dosis, Cara dan Lama Pemberian


Dosis pemberian obat yg tepat berdasarkan berat badan pasien,
biasanya ini diperhatikan pd pasien bayi dan anak-anak
Contoh :
Kotrimoxazole : 2 kali sehari
Amoxicillin, Metronidazole : 3 kali sehari
Tetrasiklin, kloramphenicol : 4 kali sehari
Contoh Lama pemberian :
Terapi penyakit ISPA / Pneumonia dgn kotrimoxazole dilakukan
selama : 5 hari
Pemberian Analgetika pada pasien penyakit otot dan persendian :
dihentikan bila gejala sakit sudah mereda
Obat untuk mengatasi Alergi diberikan bila perlu saja.

Contoh cara pemberian :


Ampicilin pemberian pd perut kosong (sebelum makan)
Tetrasiklin tdk bersaamaan dengan pemberian susu
Asetosal tidak pada penderita asma
Salep 2-4 hanya diberikan pd malam hari karena bila diberikan pd
siang hari dan terkena matahari maka memyebabkan salep menjadi
terurai dan dapat mengiritasi kuli sehingga kulit menjadi kemerahan
dan berwana belang-belang

5. Ketepatan Pemberian Informasi


Pemberian informasi mengenai obat selain oleh dokter yg memeriksa juga diberikan informasi mengenai obat oleh petugas obat/
farmasis. misalnya dijelaskan mengenai efek samping obat seperti
mengantuk sebaiknya pasien disarankan utk tdk menyetir, dan
lainnya

6. Ketepatan Penilaian terhadap Kondisi Pasien


Penilain kondidi pasien diperlukan utk mengetahui kondisi atau
keadaan sakitnya sekarang dan juga keadaan / riwayat penyakit
pasien terdahulu.
misalnya apakah ada riwayat alergi terahadap suatu obat tertentu
atau apakah sebelum datang ke RS/puskesmas pasien sempat
mendpt pelayana kesehatn, atau sudah mendapat terapi mengenai
penyakit yg diderita sebelumnya

7. Ketepatan dalam Tindak Lanjut


Dilakukan tindak lanjut kepada penderita setelah diberikan terapi
oleh dokter , keadaan pasien di pantau dan di follow up.
Biasanya hal ini diperlukan pada pasien yang menderita penyakit
kronis seperti hepertensi, kencing manis dan lainnya

TINDAKAN DOKTER
UNTUK PASIEN
ANAMNESIS

PEM. FISIK

DIAGNOSIS

NON OBAT

TERAPI

OBAT
Beri Obat
Beri Info
Evaluasi

LANGKAH TERAPI
RASIONAL
Tentukan Masalah Pasien.
Tentukan Tujuan Pengobatan
Pilih Terapi Yang Paling Sesuai Untuk
Pasien (Obat / Non Obat)
Berikan Pengobatan
Berikan Informasi, Instruksi,
Peringatan
Evaluasi (Atau Stop) Pengobatan

JENIS-JENIS TERAPI

Terapi Non Farmakologi


1. Pembedahan
2. Radioterapi (penyinaran)
3. Fisioterapi
4. Pengaturan Pola Makan
5. Pengaturan Pola Hidup
6. Konselling (KIE)

JENIS-JENIS TERAPI

Terapi Farmakologi
1. Terapi Profilaktif
Antibiotika Profilaktif tindakan
Bedah
2. Terapi Simtomatik
Meredakan Gejala (Demam, Pusing)
3. Terapi Kausal
Menghilangkan Penyebab (Infeksi)

TERAPI FARMAKOLOGI
Terapi Farmakologi diwujudkan
dalam bentuk peresepan atau
penulisan obat dalam resep.
Peresepan yang baik idealnya
mendekati penulisan resep yang
Rasional.

PENULISAN RESEP YANG


TEPAT DAN RASIONAL
Penulisan resep yang tepat dan rasional
merupakan penerapan berbagai ilmu
banyak variabel yg harus
diperhatikan
Variabel yang harus diperhatikan :
1. Unsur Obat
2. Kombinasi Obat
3. Pasien

PENULISAN RESEP YANG


TEPAT DAN RASIONAL

Rasional : Rasio kemanfaatan lebih besar dari


pd resiko efek samping yg ditimbulkan obat.
Penulisan resep yg rasional terdpt motto :
- Tepat Obat
- Tulisan harus jelas
- Tepat Dosis
dpt dibaca
- Tepat Bentuk sediaan - Menggunakan kode- Tepat Penderita
kode standar yg
- Tepat Indikasi
sesuai dgn kesepakatan

DAMPAK PERESEPAN YG
TIDAK RASIONAL
Bertambahnya kemungkinan
toksisitas obat yg diberikan.
Terjd interaksi obat satu dg obat
lain.
Tidak tercapai efektifitas obat yg
dikehendaki
Meningkatkan biaya pengobatan
penderita

PENGERTIAN UMUM
RESEP

Resep

adalah permintaan tertulis


dokter, dokter gigi, dokter hewan
kpd Apoteker di Apotek utk
membuatkan obat dalam bentuk
sediaan ttt & menyerahkan kpd
penderita
Satu resep Satu pasien

PENGERTIAN UMUM
RESEP

Dokter

umum & spesialis tdk ada


pembatasan jenis obat yg diberikan
pd Pasien.
Dokter gigi jenis obat yg berhubungan dg penyakit gigi.
Dokter hewan resep utk keperluan hewan

KERTAS RESEP
Resep ditulis diatas kertas resep dg
ukuran panjang 15-18 cm dan lebar
10-12 cm.
Permintaan obat melalui telepon
hendaknya dihindari !!!
Resep utk penderita hendaknya
dibuat rangkap dua, satu utk
pasien, satu lagi untuk
dokumentasi dokter.

MODEL KOP RESEP YANG


LENGKAP
1. Nama & alamat dokter, SIP,
No. tlp, jam & hari praktek
2. Nama kota serta tanggal
resep ditulis dokter
3.Tanda R/ atau recipe berarti
harap diambil Supersriptio

Dr. Hartono
Jl. Durian 1
Makassar
SID : . SIP : ..
Makasssar, 7 September
2014
R/

MODEL RESEP YANG


LENGKAP
4. Nama setiap jenis/bahan obat
a. Obat pokok (remedium cardinale)
mutlak harus ada
b. Bahan pembantu (adjuvan)
membantu kerja obat pokok,
# wajib
c. Corrigens (Coloris, Saporis, Odoris)
d. Konstituen (Air, Laktosa, Vaselin)

MODEL RESEP YANG


LENGKAP

5. Jumlahnya obat/bahan obat


a. Jumlah dinyatakan dalam satuan
berat (mcg, mg, g) untuk bahan
padat
b. Jumlah obat dinyatakan dalam
satuan isi (ml, liter, tetes) untuk
cairan.
c. Penulisan angka tanpa
keterangan lain gram

MODEL RESEP YANG


LENGKAP

6. Cara pembuatan atau bentuk


sediaan yg dikehendaki
Subscriptio.
misalnya m.f.l.a Pulv = buat sesuai
aturan pembuatan obat puyer
Ungt = salep
Potio = sirup
Caps = kapsul

MODEL RESEP YANG


LENGKAP

7. Aturan pemakaian obat oleh


Pasien umumnya ditulis dg bahasa
latin, aturan pakai ditandai dg
Signatura disingkat S.
8. Nama pasien dibelakang kata Pro :
a. Pasien Dewasa : Tn, Ny, Nn, Bpk, Ibu
diikuti nama)
b. Anak (An), Bayi (By)
c. Lengkapi dengan alamat

MODEL RESEP YANG


LENGKAP
9.Tanda tangan atau paraf dokter
yg menulis resep
Khusus Obat gol Narkotika hrs
dibubuhi tanda tangan lengkap dr.
Dalam satu kertas resep tdd > 1
R/ dipisah dg tanda # dan tiap R/
diparaf atau ditandatangani

Resep dikatakan sah bila mencantumkan hal-hal


berikut
1. Untuk resep dokter swasta terdpt nama, izin kerja,
alamat praktek dan rumah, serta paraf dokter pd
setiap signatura.
2. Resep dokter rumah sakit/klinik/poliklinik terdpt
nama dan alamat rumah sakit/klinik/poliklinik, nama
dan tanda tangan/paraf dokter penulis resep tersbt
serta bagian/unit di rumah sakit.
Pemberian tanda tangan untuk golongan narkotika
dan psikotropika.
Pemakaian singkatan bahasa latin dlm penulisan
resep harus baku

Cara penulisan resep ada 3 macam, yaitu


1. Formula magistralis dimana obat ini merupakan
racikan, sesuai dgn formula yg ditulis oleh dokter
yg membuat resep tersebut.
2. Formula officinalis dimana obat ini merupakan
racikan yg formulanya sudah standar dan dibakukan
dlm formularium Indonesia dan diracik oleh
apoteker apabila diminta oleh dokter pembuat resep.
3. Formula spesialistis dimana obat ini sudah jadi,
diracik oleh pembuatnya, dikemas dan diberi nama
oleh pabrik pembuatnya serta bentuk sediaannya
lebih kompleks.

FORMULA MAGISTRALIS
Formula ini dikenal dgn resep racikan.
Dlm hal ini, dokter selain menuliskan bahan obat, juga
bahan tambahan.
Bahan tambahan yg ditambahkan tergantung dari
sediaan yg di nginkan.
Oleh karena itu, penting sekali diperhatikan sifat obat,
interaksi farmasetik, macam bentuk sediaan dan
macam bahan tambahan yg dpt digunakan serta
pedoman penulisan resep magistralis

Hal-hal yg penting diperhatikan dlm formula magistralis:


1. Bahan obat, sedpt mungkin menggunakan bahan baku.
Penggunaan sediaan jadi/paten (tablet, sirup, dll )
sering menimbulkan masalah baik dlm pelayanan
(misalkan tdk dpt halus, tdk homogen, dan tdk stabil)
maupun kerasionalan terapi (antara lain perubahan
formula sediaan, perubahan bioaviabilitas obat, perubahan absorbsi, penurunan konsentrasi obat).
Pencampuran bahan yg lebih dr satu macam harus dilebih dari
satu macam harus dipertimbangkan adanyainteraksi
(farmasetik dan farmakologi) dan rasionalitas obat.

2.Btk sediaan yg dpt dipilih meliputi serbuk(pulveres


dan pulvis adspersorium), kapsul, larutan (solusio,
infusa),
suspensi, unguenta, cream dan pasta.
3.Penentuan bahan tambahan (corrigen saporis, corrigen
odoris, corrigen coloris, dan constituent/vehiculum).
Contoh penyusunan resep formula magistralis
Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL.
T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pd tanggal 15 Maret 2011,
menulis resep formula magistralis dgn btk sediaan
pulveres (puyer) sebanyak 10 bungkus, setiap bungkus
mengandung paracetamol 120 mg. Puyer ini diberikan
kpd Sari (2 tahun, 12 kg) dgn aturan pakai: bila panas
diberikan 3 X sehari, tiap kali satu bungkus

Keterangan:
Ambilkan paracetamol 120 mg dan Sacch. Lactis secukupnya
campur dan buatlah menurut aturan pembuatan puyer
sebanyak 10 bungkus, masing-masing bungkus mengandung
120 mg paracetamol dan sacch lactis secukupnya
Tandailah: bila panas dapat diberikan 3 X sehari 1 bungkus

Keterangan: Ambilkan paracetamol 1,2 g dan sacch lactis secukupnya


campur dan buatlah menurut aturan puyer sebanyak 10 bungkus.
Tandailah: bila panas dapat diberikan 3 X sehari 1 bungkus

Contoh formula officinalis

Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL.


T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 Maret
2011, menulis resep dengan menggunakan obat batuk
Potio nigra contra tussim, suatu formula standar dalam
Formularium Indonesia dan diberikan kepada Bp. Tono
dengan aturan pakai:bila batuk dapat diminum 4 X
sehari satu sendok makan, selama 10 hari

Keterangan: Dokter munggunakan formula standar dalam


Formularium Indonesia.
Komposisi obat tersebut: Pot nigr. c. tuss. 300 ml
R/ Succus liquiritae 10
Amm.Chloride
6
Sol amm.spirt. anis 6
Aqua dest. Ad
300 ml
Pemakaian 4-5 d.d. C.I

Keterangan: Dengan resep tersebut, dokter menggunakan


formula standar dalam sediaan jadi generik berlogo.
Komposisi obat tersebut: Ungt. Ophth. Chlorampenicol 1%.
Setiap gram salep mata mengandung 10 mg Chlorampenicol,
berat tiap tube 5 gram

FORMULA SPESIALISTIS
Resep yg ditulis dgn formula ini adalah obat paten dr
pabrik obat. Kadang pabrik obat membuat obat dgn
berbagai sediaan, kekuatan, dan kombinasi obat.
Bila penulisan resep ini kurang jelas atau tidak lengkap
dpt mengakibatklan kesalahan dlm pelayanan di apotek
Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL.
T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 maret2011,
menulis resep dgn menggunakan sediaaan paten Alerin
expektorant 120 ml dan diberikan kepada Bp.Tono dgn aturan
pakai:3 X sehari 2 sendok teh (volume cairan obat yg diminum
adalah 10 ml).

Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL.


T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 Maret 2011,
menulis resep dgn menggunakan sediaaan paten Alerin
expektorant 120 ml dan diberikan kepada Bp.Tono dgn aturan
pakai:3 X sehari 2 sendok teh (volume cairan obat yg diminum
adalah 10 ml).

Dokter Razi Maulana, SIP 087/2009 beralamat di JL.


T.Bendahara No. 1 Banda Aceh pada tanggal 15 Maret 2011
menulis resep dengan menggunakan sediaaan paten kaplet
Kalmoxicil in 500 mg sebanyak 20 biji dan diberikan kepada
Bp. Tono dengan aturan pakai:3 X sehari

Bagian-bagian resep

1. Inscriptio

2. Presciptio remidium cardinale dan


remidium adjuvant
3. Signatura (S. d.d.) + Pro
4. Subscriptio

PERTIMBANGAN
PEMILIHAN OBAT
MANFAAT

(Efficacy)
KEAMANAN (Safety)
HARGA (Cost)
KESESUAIAN (Suitability)

PERTIMBANGAN
PEMILIHAN BENTUK
SEDIAAN
1.
2.

Faktor Karateristik Bahan Obat


Faktor Penderita

PERTIMBANGAN
PENENTUAN DOSIS

Dosis
Dosis
Dosis
Dosis

Terapi
Pasien Anak
pasien Lansia
Pasien Obesitas

DOSIS OBAT UNTUK ANAK


UMUR

BERAT BADAN (KG)

DOSIS ANAK THD


DWS

1,13

2,5-5 %

1,81

4-8 %

2,27

5-10 %

Bayi Baru Lahir

3,18

12,5 %

2 bulan

4,54

15 %

4 bulan

6,35

19 %

12 bulan

9,98

25 %

3 tahun

14,97

33 %

7 tahun

22,68

50 %

10 tahun

29,94

60 %

12 tahun

35,52

75 %

14 tahun

54,43

80 %

Bayi Prematur

Dr. Hartono
Jl. Durian 1
Makssar
SID : . SIP : ..

Makassar, 7 September 2015


R/ Tiamfenikol
200 mg
Glucosa q.s
m.f.l.a pulv dtd No. X
S. 3 dd pulv I
#####
R/ Parasetamol Syr No. I Fl
S. 3 dd cth I
Pro : Siti Kirani (7 tahun)
Alamat :

KETENTUAN PENULISAN
RESEP

Dokter

bertanggungjawab penuh
terhadap resep yg ditulisnya.

Resep

ditulis sedemikian rupa hingga


dpt dibaca petugas apotek.

Resep

ditulis dg tinta warna hitam atau


biru shg tdk mudah terhapus

KETENTUAN PENULISAN
RESEP

Hindari penulisan rumus kimia obat


misal : H2O2, NaCl,
Hindari penulisan singkatan yg
meragu-kan
Boleh menulis lebih dari 1 R/ diatas
satu kertas resep.
Menyimpan turunan dari tiap resep
yg dituliskan.

KETENTUAN PENULISAN
RESEP

Sedpt mungkin dokter menulis resep


dihadapan pasien
Jangan bersikap ragu-ragu, mencoret
dan merobek kertas resep dihadapan
pasien.
Sebelum resep diberikan pasien
dibaca kembali apa yg telah ditulis.
Perhatikan kondisi ekonomi penderita.

KETENTUAN PENULISAN
RESEP

Tanggal

resep ditulis jelas


Bila Pasien ( Px) anak-anak
cantumkan umur atau berat badan.
Di bawah nama Px tulis alamat.
Utk jumlah obat yg diberikan
dihindari penggunaan angka
desimal

KETENTUAN PENULISAN
RESEP
Obat yg dinyatakan dg satuan unit,
jgn disingkat U.
Obat berupa cairan dinyatakan
satuan ml, hindari menulis cc.
Preparat cairan berupa obat minum
utk anak 50, 60, 100, 150 ml.

KETENTUAN PENULISAN
RESEP

Preparat cairan berupa obat minum utk


orang dewasa 200, 300 ml.

Obat tetes (mata, hidung, telinga)


diberikan 10 ml.

BAHASA LATIN DALAM


RESEP

Bahasa latin digunakan untuk penulisan :


1. Nama obat,
2. Ketentuan mengenai pembuatan
3. Bentuk obat
4. Petunjuk aturan pemakaian obat ditulis
berupa singkatan Signatura.

BAHASA LATIN

Utk menghindari salah interpretasi


singkatan bahasa Indonesia sedpt
mungkin dihindari
Contoh :
- Obat batuk Hitam jangan disingkat
o.b.h Potio nigra contra tussim
(Pot.nigra c.t)
- Kalau perlu jangan disingkat K.P
Pro re nata (p.r.n)

BAHASA LATIN DALAM


RESEP

Beberapa alasan penggunaan


Bahasa Latin :
1. Bahasa latin adalah bahasa mati
dan tdk dipakai dlm percakapan
sehari-hari.
2. bahasa latin mrp bahasa
Internasional dalam dunia profesi
kedokteran & farmasi.

BAHASA LATIN
DALAM RESEP

3. Dgan bahasa latin tdk akan terjadi


dualisme ttg bahan yg dimaksud dlm resep.
4. Dlm hal tertentu, karena faktor psikologi
ada baiknya Pasien tdk perlu mengetahui
obat yg diberikan kepadanya.

PENULISAN JUMLAH
OBAT

Penulisan jumlah obat dinyatakan


dlm angka romawi :
I =1
V =5
X = 10
L = 50
C = 100
M = 1000

SINGKATAN LATIN
DALAM RESEP

Singkatan latin yg sering dipakai di


resep
aa = sama banyak
a.c = sebelum makan
a.n= malam sebelum tidur
ad lib = secukupnya
a.u.e = untuk obat luar
a.u.i = untuk obat dalam

SINGKATAN LATIN
DALAM RESEP
C
=
cth =
conc =
dc =
dd =
dext =
dil =
dtd =

sendok makan (15 ml)


sendok teh (5 ml)
pekat
sedang makan
sehari
kanan
encer
berikan sebanyak dosis tersebut

SINGKATAN LATIN
DALAM RESEP
f.
= buat, harap dibuatkan
f.l.a = buat menurut cara semestinya
g
= gram
gr
= grain
gtt = tetes
gtt auric = obat tetes telinga
gtt nasal = obat tetes hidung
gtt opth = obat tetes mata

SINGKATAN LATIN
DALAM RESEP
i.m.m
inf =
inj =
iter =
lot =
m
=
m.f =
mg =

= berikan ke tangan dokter


infus
injeksi
harap diulang
obat cair untuk obat luar
campur , harap dicampur
campurlah dan buatlah
miligram

SINGKATAN LATIN
DALAM RESEP
o.m = tiap pagi
o.n = tiap malam
p.c = sesudah makan
p.r.n = kalau perlu
pulv = serbuk tunggal
pulveres = serbuk terbagi
S = tandailah
sol = larutan

SINGKATAN LATIN
DALAM RESEP
u.c = aturan pakai diketahui
u.e = obat luar
Ungt
= salep
Vespere = sore

RESEP CITO

Krn suatu hal Penderita harus mendapat


obat dg segera maka dokter memberi tanda
pada bagian atas resep dg menulis CITO !

Resep cito pembuatannya harus didahulukan


Dokter yg meminta resep cito hendaknya
betul-betul bila Pasien dalam kondisi gawat
dan penundaan pemberian obat akan
membahayakan jiwa pasien.
Persamaan istilah cito statim (amat
segera) atau P.I.M (Periculum in Mora =
berbahaya bila ditunda)

Dr. Hari
Jl. Durian 10
Makassar
SID : . SIP :

Makassar, 7 September 2015


R/ Cap Amoksisilin 500 mg No. XV
S. 3 dd cap I
(paraf)
Pro : Tn Amir
Usia : Dws

Dr. Hartono
Jl. Durian 1
Makassar
SID : . SIP : ..
Makassar, 7 September 2015

R/ CTM
2 mg
DMP
7,5 mg
Prednison
2 mg
mf.pulv dtd No. XV
S. 3 dd pulv
I
(paraf)
Pro : Siti Kirani
Umur : 7 tahun

Dr. Bambang
Jl. Sumbing 10
Makassar
SID : . SIP :
.........

Makassar, 7 September 2015

R/ Braxidin 1 tab
Domperidon 1 tab
Famotidin
1 tab
mf.pulv da in cap dtd No. XV
S. 3 dd cap I ac (paraf)
Pro : Ny. Mariani
Umur : Dws

RS. Dr. Pemdidikan UNHAS


Makasaar
Dokter : Timoty
Bagian : Kulit dan
Kelamin.
Makassar, 7 November 2014
R/ As salisilat
2%
Topcort cr
10 g
Ikaderm cr
10 g
m.f.l.a cream
S.u.e mane-vesp
(paraf)
Pro : Nn. Lisa
Usia : Dws

RS. Wahidin Sudirohosodo


Dokter : Junaedi
Makassar.
Tanggal : 7 September
2014
R / Infus Ringer Lactat 500 ml f
No. III
s. i. m.m
(paraf)
R/ Inj Cefotaxim 500 mg vial No. IV
s. i.m.m (paraf)
Pro : Tn Joni
Usia : Dws

RS. Wahidi Sudirohosodo


Dokter : Abdurahman
Tgl : 7 September
2014
R/ Venaron cap
No.
s. 3 dd cap I (paraf)
R/ Faktu oint tube No.
s. u.e anal pagi-sore
R/ Anusol HC supp No.
s.u.e an (paraf)
Pro : Tn. Gatutkaca
Usia : DWS

XII
I
(paraf)
X

Dr. Hari
Jl. Kartini No.132
Makassar
SID : . SIP
: ..
Makassar, 7 September 2015
R/ Bricasma syr No. I
s. 3 dd Cth (5 ml)
(paraf)
R/ Ventolin Inhaler
No. I f
s prn 1-3 dd puff I
(paraf)
R/ Dextamin Syr No. I
s. 2 dd cth (5 ml)
(paraf)
Pro : Pandu
Usia : 8 thn

RS. Wahidin Sudirohosodo


Dokter : Rudi
Bagian : Ilmu Kesehatan Anak
Makassar, 7 September
2014
R/ Nutrilin drop
s. I dd 0,5 ml
R/ Nipe drop
f
s. I dd 0,3 ml
Pro. : By Ary
Usia : 10 bln

No. I
(paraf)

No. I
(paraf)

RS. Pendidikan UNHAS


Dokter : Popi
Bagian : THT
Tanggal : 7 September
2014

R/ Ottopain ear drop f No. I


s. 3 dd gtt V auric Dext (paraf)
R/ Co amoxiclav
500 mg capl No. X
s. 3 dd capl I pc (paraf)
R/ Asam Mefenamat capl 500 mg No. VI
s. 3 dd capl I prn (paraf)
Pro. : Ibu Yatmi Asry
Usia : Dws

Klinik Mata Makassar


Dr. Tuty
Jl. Ratulangi No. 14, Makassar
SID : . SIP : .
Makassar 7 September 2015
R/ C. Tobro Minidose Strip
No. II
s. 3 dd gtt II ODS (paraf)
R/ Lutevit caps No. X
s. 3 dd caps I(paraf)
Pro :Tn. Mahmud
Usia : Dws

BENTUK SEDIAAN
OBAT PADAT

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT PADAT

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT PADAT

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT PADAT

CONTOH BENTUK SEDIAAN


OBAT CAIR
1. Solutio (larutan)
2. Suspensio (suspensi)
3. Emulsi
4. Eliksir
5. Guttae (tetes)
6. Injectio (injeksi)
7. Aerosol
8. Infus

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT CAIR

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT CAIR

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT CAIR

CONTOH BENTUK
SEDIAAN
OBAT CAIR

CONTOH BENTUK
SEDIAAN SETENGAH
PADAT

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Linimentum (obat gosok)


Ungentum (salep)
Pasta
Sapo (sabun)
Emplastrum (plester)
Krim
Gel

BENTUK SEDIAAN OBAT


SETENGAH PADAT

BENTUK SEDIAAN
OBAT SETENGAH
PADAT

TUGAS

Buat kop resep nama dokter (nama mhs)


Kota (asal kota mhs)
SIP (nim mhs)
Ukuran sepertiga folio

SEKIAN DAN
TERIMA KASIH