Anda di halaman 1dari 57

GANGGUAN DAN KELAINAN

KESEIMBANGAN OTOT
PENGUNYAHAN
Drg Ervin Rizali M.Kes AIFM

Proses Penelanan

Tiga kelompok otot utama yang


mempengaruhi oklusi selama
penelanan adalah:

Triangular force concept


adalah keseimbangan antara
otot-otot lidah,
masseter&buccinators, dan
orbicularis oris.
Triangular force concept
didasarkan pada kenyataan
bahwa dalam sebuah pola
penelanaan normal tekanan
fisik yang lebih besar otototot orofasial adalah posterior
dan lateral. Penelanan
menggunakan gaya spesifik
di dalam kavitas oral ( dari 1
hingga 6 pound tekanan )
kira-kira 2000 kali dalam
setiap periode 24 jam.

Fungsi otot-otot triangular


force

Otot-otot mastikasi melekat pada


mandibula dan terutama
bertanggungjawab dalam elevasi,
protrusi, retrusi, dan gerakan
mandibula ke arah lateral.
Lebih khususnya, otot-otot tersebut
dipersyarafi oleh bagian ketiga dari
nervus kelima, yang disebut divisi
mandibula atau V3. Supply darah
untuk otot-otot ini berasal dari arteri
maksilari, dimana ini merupakan
cabang dari arteri carotid eksterna.

1. Otot Bucinator

Otot buccinator seringkali


ditunjuk sebagai otot aksesori
dari mastikasi (accessory
muscle of mastication)
Seseorang dengan paralisis dari
otot fasial (Bells palsy,atau
stroke) akan kesulitan dalam
mengunyah makanan. Makanan
akan menumpuk pada vestibula
bukal karena otot buccinator
tidak mampu mendorong
makanan kembali ke permukaan
oklusal.
Selain itu otot buccinators juga
membantu memaksa
mengeluarkan udara .
Syaraf yang berperan yakni
syaraf facial (cabang bukal)

2. Otot Orbicularis Oris

3. Otot Massetter
Ketika M. masseter
berkontraksi,
mandibula akan
berelevasi sehingga
mulut tertutup.
Suplai syarafnya yakni
cabang messenterik
dari divisi mandibula
(n. trigeminal).
Terbagi menjadi pars
superfisialis dan pars
profunda

4. Otot Mentalis
Ketika otot ini
berkontraksi, akan
menarik kulit dagu
sampai
terangkat/naik.

Otot intrinsik

Otot intrinsik

Fungsi: Mendatarkan dan


melebarkan lidah

Otot ekstrinsik

Otot ekstrinsik

Mekanisme
Ketidakseimbangan
Triangular Force terhadap
Sistem Stomatognatik

Pola Tekanan dan Maloklusi


Adanya ketidakseimbangan otot
orofasial dan penelanan yang
abnormal memiliki keterkaitan
dengan malokusi yaitu kemampuan
dari gigi-geligi untuk menahan
tekanan pada posisi normal dan
abnormal

Adanya tekanan yg berlebihan ini


bervariasi, dan bergantung pada
beberapa faktor, yaitu :
Keturunan
Lingkungan
Orofasial
Nutrisi
Keadaan penyakit
Tekanan emosional
Kombinasi dari berbagai faktor di atas

Tekanan Fisik

Tekanan Emosional
faktor
tekanan
emosional
memiliki
efek yang
lemah pada
jaringan dan
mengurangi
daya tahan
pada pola
tekanan
fisik.

Etiologi
Ketidakseimbangan
Triangular Concept

a. Lidah abnormal
Jika lidah diantara atau melawan
incisivus sentral, malposisi ini dapat
menjadi diagnostik untuk ketidak
seimbangan otot ororfacial dan
penelanan yang abnormal.

b. Bernafas Melalui Mulut


menunjukan
adanya
ketidakseimbanag
an pada otot-otot
wajah
Sering bernafas
melalui mulut ini
dapat juga disertai
peninggian pada
arkus palatum

perluasan tonsil dan


adenoid akan
membahayakan
kemampuan bagian
posterior lidah disekitar
dinding pharyngeal
selama tahap istirahat
dan penelanan

Penempatan yang
keliru pada bagian
posterior dari lidah
memperbesar
bagian anterior lidah

ankyloglossia

makroglossia

Manifestasi
Ketidakseimbangan
Triangular Force

Tipe Kelainan Oklusi akibat


ketidakseimbangan Triangular
Force

The simple anterior swallow


The Complete swallow
Open Bite : dental open bite, skeletal
open bite
Closed Bite
Bimaxilary Protrution
Class III occlusion : Pseudo, Skeletal
Posterior Occlusal : Unilateral
Swallowing, Bilateral Swallowing

Simple Anterior Swallow


Otot Lidah berperan sebagai
penekan (moving force) utama
Otot lidah berada di antara gigi anterior
rahang bawah dan atas saat
penelanan.
Otot lidah menekan gigi-geligi anterior
RA gigi bergerak lebih ke labial
Otot masseter dan buccinator,
orbicularis oris, mentalis normal

The Complete Swallowing


Problem
Lidah sebagai penekan dan
penghambat
Penghambat mencegah gigi
posterior beroklusi
Lidah berada di antara gigi posterior
(molar)
Otot Masseter melemah atrofi
Otot Orbicularis oris melemah
Otot mentalis overdeveloped

Dental Open Bite


Etiologi : ketidakseimbangan
triangular force dan kebiasaan buruk
Lidah sbg penekan (moving force)
dan penghambat (impeding force)
Lidah (impeding force) menghmbt
erupsi normal dr gigi anterior RA dan
RB
Otot masseter normal atau lemah,
tergantung pd oklusi posterior
Otot Orbicularis oris normal atau
lemah, tergantung pd ektrusi lidah
saat menelan
Otot mentalis overdeveloped

Skeletal Open Bite


Etiologi faktor tumbuh kembang
Perawatan sebaiknya dengan oral surgery, dan
orthodontik yang dikombinasikan dgn terapi fungsi otot

Bimaxillary Protrution
Gigi geligi RA dan RB
bergerak ke arah labial
karena tekanan dr lidah dan
otot orofasial
Lidah sbg penekan (moving
force) pd gigi RA dan RB
Otot masseter normal atau
lemah, tergantung oklusi
posterior
Otot orbicularis lemah,
karena lidah menonjol dr balik
incisivus
Otot mentalis
overdeveloped

Class III Occlusion


1. Pseudo III occlusion
Lidah menekan gigi geligi
RB bergerak ke arah labial
Otot Orbicularis oris
bergerak menekan gigi
anterior RA menekan
insisif ke arah lingual
Otot Masseter
Perkembangan normal
Kemungkinan trdpt
ankyloglosia (short frenum)
pada tipe ini

Class III Occlusion


2. Skeletal Class III Occlusion
(true underbite)
Gigi geligi RA dan RB tidak
berkembang normal
Ketidakseimbangan skeletal
pada RA dan RB
Rongga mulut kurang
menyediakan tempat untuk
lidah pd saat menelan
shg lidah menekan dan
menghambat gigi geligi
Perawatan operasi
(bedah mulut), orthodontik,
myofunctional therapy

Closed Bite
Terdapat celah 1-2 mm antara anterior
edge gigi anterior bawah dengan posterior
edge gigi anterior atas.
Pd kelainan kongenital tidak trdapat
celah
Mandibula membuka ketika menelan, lidah
mengisi celah tsb, menekan gigi incisivus
atas
Lidah sbg penekan
Otot masseter lemah jika gigi posterior
tidak oklusi
Fungsi otot orbicularis oris melemah
Otot mentalis normal

Kelainan Oklusi Posterior

Penelanan Unilateral
Posisi lidah 45o, menekan gigi-geligi pada
area bikuspid dan molar gigi insisif lateral
Menekan insisif lateral sampai dgn molar
pertama membuat celah (bukaan) pada
area tsb
Biasanya diikuti dgn cacat berbicara
Lidah sbg penekan dan penghambat,
khususnya pada daerah posterior
Otot masseter normal, kecuali jika posterior
tidak beroklusi
Otot orbicularis dan mentalis normal

Penelanan Bilateral
Tanda-tanda :
Lidah penekan dan penghambat
Otot Masseter lemah, tdk terjadi
oklusi posterior
Kekuatan otot orbicularis oris
normal
Otot Mentalis normal selama tdk ada
aktivitas perioral yg berlebihan

Kelainan jaringan oral

Kelainan Sendi
Temporomandibular

TMJ dysfunction syndrome


TMJ disturbance
occlusomandibular disturbance and myoartrophy of the
temporomandibular joint
pain-dysfunction syndrome
myofascial pain-dysfiunction syndrome, and temporomandibular paindysfunction syndrome

Definisi :
Suatu gangguan yang mempengaruhi atau dipengaruhi oleh kelainan bentuk (deformitas),
penyakit, ketidaksejajaran (misalignment), atau
disfungsi artikulasi Temporomandibular. Hal ini
termasuk pembelokan (defleksi) oklusi sendi
Temporomandibular, dan berhubungan dengan respon
otot.

Kategori TMD
Kategori 1 : Kelainan otot oklusi tanpa defect
intra-kapsular.
Kategori 2 : kelainan intrakapsular yang
berhubung- an langsung dengan
ketidakseimbangan oklusal dan memberikan
fungsi setelah oklusi kembali benar.
Kategori 3 : kelainan intrakapsular tidak dapat
di-perbaiki atau dikembalikan namun karena
adanya perubahan adaptasi, fungsi dapat
dikembalikan jika hubungan otot oklusi kembali
seimbang.
Kategori 4 : kelainan intrakapsular non adapted
yang berhubungan dengan disharmoni primer /
sekunder ataupun yang tidak berhubungan.

Cara Mendiagnosa TMD


Proses untuk mendiagnosis penyakit Orofasial
dimulai dengan pengertian tentang sinyal yang
dikirim oleh rasa sakit (pain).
Jika terdapat rasa sakit pada sistem mastikasi,
termasuk area TMJ, tahap pertama dalam
menganalisis yaitu untuk menentukan apa sumber
penyakit tersebut.
TMD tidak hanya tentang rasa sakit (pain). Rasa
sakit adalah gejala umum dari perubahan bentuk
struktural, tetapi tidak semua perubahan bentuk
struktural dapat menyebabkan rasa sakit.
Inilah mengapa diagnosis banding pada TMD
mencari tanda (sign) dan gejala (symptom).
Tujuan dari pemeriksaan klinis adalah untuk
memper-kirakan parah atau tidaknya clicking, nyeri,
dan disfungsi yang merupakan karakteristik dari
gejala patologis TMJ.

Gejala Umum Kelainan TMJ

Rasa sakit / nyeri (Arthralgia).


Sakit kepala-leher.
Sakit telinga, tinitus.
Bunyi (Grinding, Crunching,
menciut / Grating dan meletus /
Popping).
Pembatasan gerak.
Deviasi & Defleksi pembukaan
mulut.

Macam-macam Clicking
Initial, Intermediate, Terminal dan
Reciprocal Clicking.
Initial Clicking tanda dari berkurangnya
hubungan kondilus dengan disk.
Intermediate Clicking tanda dari
ketdkserasian pemukaan kondilus dengan
artikular disk, yang meluncur satu sama lain
selama pergerakan.
Terminal Clicking paling sering muncul
dan merupakan efek dari kondilus yang
berpindah terlalu jauh ke anterior, dalam
relasinya dengan disk, pada pembukaan
rahang maksimum.

Metode Diagnosa TMD


Auskultasi
Palpasi
Pemeriksaan
Radiografi
Pemeriksaan
Fisik