Anda di halaman 1dari 9

PENYAKIT IVDD, HIPDISPLASIA, HERNIA, DAN PROLAPSUS ANI

Khaidir Umar ( O111 12 102 ), Ichwani Syam Mustapa ( O 111 12 101 ),


Fridayanti Kusuma Indah ( O 111 12 104), Andi Hismal Gifari ( O111 12 260 ), Silvana Arpin
( O111 12 264 )
2

Bagian Bedah & Radiologi. Departemen Klinik, Reproduksi & Patologi


Program Studi Kedokteran Hewan (PSKH), Universitas Hasanuddin (UNHAS)
Korespondensi penulis: khaidirumar21@gmail.com
Abstrak
Tujuan praktikum ini adalah mengenal berbagai ragam perubahan klinik dan patologis,
merumuskan diagnosis dan diagnosis banding serta rencana tindakan penanganan penyakit
seperti kasus IVDD, Hipdisplasia, Hernia, serta prolapsus Ani. Seekor anak kucing berumur 1
bulan bernama Harimau Tibet, dengan status belum pernah di vaksinasi, memiliki nafsu
makan yang baik, keadaan feses normal, serta belum pernah diberikan obat cacing. Harimau
Tibet dengan anamneses demikian, memiliki tempratur 37,6 C, frekuensi jantung 180
x/menit, frekuensi nadi 168 x/ menit, serta frekuensi nafas 58x/menit hal ini dianggap normal
dikarenakan kucing masih berumur 1 bulan serta pada saat pemeriksaan kondisi tubuh
Harimau Tibet dalam kondisi rileks. Kasus pada kucing mudah ditangani mengingat kondisi
anjing dalam keadaan sehat. Adapun prognosa dari IVDD, fausta; Hipdisplasia, dubiusinfausta; Hernia dubius; Prolapsus ani, fausta.
Kata kunci: kucing, hipdisplasia, hernia, prolapsus ani
Pendahuluan
dibandingkan
ras
lain,
seperti
Dachshund, Bulldog, Pekingese, Cocker
IVDD
Spaniels dan Beagles. Beberapa anjing
Kondisi
ini
terjadi
karena
ras kecil juga memiliki kemungkinan
protrusion yaitu perluasan yang
lebih besar akan kondisi ini karena
melebihi batas normal dan ectrusion
mereka cenderung beraktivitas lebih
atau rupture pada material disc pada
lincah dibandingkan anjing ras besar.
tulang
belakang
(invertebral
Anjing dengan kelebihan berat badan
discs). Kondisi
ini
mengakibatkan
atau obese juga memiliki kemungkinan
degenerasi dari disc, kebanyakan terjadi
lebih besar akan kondisi ini.
karena benturan yang keras seperti
Hipdisplasia
traumatic, tergelincir atau terjatuh pada
Hip dysplasia dapat ditemukan
tumpuan posisi tulang belakang.
pada anjing, kucing, dan manusia, tapi
Aktivitas keseharian anjing seperti
untuk artikel ini kami berkonsentrasi
melompat-lompat, menaiki tangga atau
hanya pada anjing. Pada anjing, ini
berguling-guling
yang
dilakukan
terutama penyakit keturunan besar dan
sepanjang waktu dapat memicu
terjadinya kondisi ini.
raksasa. Gembala Jerman, Labrador
Retriever, Rottweiler, Great Danes,
Namun beberapa ras anjing di
Golden Retriever, dan Bernard Saint
desain
dengan
kemungkinan
tampaknya memiliki insiden yang lebih
mengalami kejadian ini lebih tinggi
tinggi, bagaimanapun, ini semua

keturunan sangat populer dan mungkin


akan
berakhir
diwakili
karena
popularitas mereka.
Di sisi lain, sighthounds seperti
Greyhound atau Borzoi memiliki
insiden yang sangat rendah penyakit
ini. Penyakit ini dapat terjadi dalam
medium berukuran keturunan dan
jarang di trah kecil. Hal ini terutama
penyakit purebreds meskipun dapat
terjadi pada jenis campuran, khususnya
jika itu adalah salib dua anjing yang
rentan untuk mengembangkan penyakit
ini.
Hernia
Hernia merupakan penonjolan
keluar dari suatu organ atau bagiannya
melewati suatu cincin yang masih di
dalam rongga anatomis tubuh. Hernia
biasanya terjadi penonjolan keluar dari
isi abdomen melewati lubang pada
dinding abdomen, diafragma, atau
perineum. Adanya cincin atau dinding
yang terbuka merupakan faktor utama
terjadinya hernia. Bagian anatomis
terjadinya hernia biasanya digunakan
untuk klasifikasi hernia (Read dan
Bellenger, 2003).
Hernia
dapat
diklasifikasikan
menjadi hernia dapatan maupun
kongenital. Hernia dapatan dapat
disebabkan oleh salah satunya adalah
trauma bedah atau terbukanya luka
sayatan bedah (Read dan Bellenger,
2003).
Terapi yang dapat dilakukan untuk
menangani kasus ini adalah tindakan
pembedahan abdomen ventral medianus
untuk mengeksplorasi cincin hernia
(Fossum, 2007). Keberhasilan dari
tindakan bedah ini tergantung dari
tingkat keparahannya.

Prolapsus ani
Prolapsus ani pada prinsipnya terkait
dengan endoparasitism atau enteritis
pada hewan muda, dan tumor atau
hernia perineum pada hewan setengah
baya dan lebih tua. Namun, kondisi
yang menyebabkan tenesmus dapat
menyebabkan
prolaps
rektum.
Kelemahan jaringan ikat perirectal dan
perianal, kontraksi peristaltik tidak
terkoordinasi, dan peradangan atau
edema membran mukosa rektum
mempengaruhi
terjadinya
prolaps
rektum. Prolaps rektum bisa terjadi
lengkap atau tidak lengkap. Prolaps
lengkap hanya melibatkan mukosa.
Setiap bagian dari seluruh lingkar
anorektal mungkin akan terpengaruh.
Prolaps tidak lengkap melibatkan
seluruh lapisan dinding rektum dan
seluruh lingkar. Jumlah eversi dapat
meningkat karena tenesmus yang terus
menerus (Fossum, 2002).
Tinjauan Pustaka
1. IVDD
a. Etiologi
Etiologi Penyakit IVD
terjadi secara sekunder akibat
degenerasi diskus yg dimulai pada
perifer nukleus Penyebabnya yakni
trauma, mekanisme autoimmun,
enzym lysosomal dan faktor
genetik.
b. Diagnosa
Diagnosa
ditentukan
berdasarkan gejala klinis yg
muncul. Lakukan uji refleks
ekstrimitas (neurological signs).
Umumnya dengan uji refleks jari
kaki (dengan cara menyentuhkan
jari kaki ke pinggir meja).
Uji
fungsi-fungsi
SSP
Radiografi (x-rays) & myelogram
dgn injek bahan kontras 0.3 mg
iohexal/kg (240 mg iodine/ml).

MRI (magnetic resonance imaging)


perlu untuk meneguhkan diagnosa
Diagnose banding. Penyakit
ini harus dibedakan dengan iritasi
meningal
atau
transverse
myelopathy karena kasus-kasus
lain.
c. Patogenesa
Menurut Harsen terdapat 2
tipe dari degenerasi discus.
Pertama biasanya terdapat pada
jenis-jenis
anjing
chondrodystrophoid
(misalnya
dashshund, Pekingese) pada umur
muda, yang di dahului dengan
metamorfosis
chondroid
dari
nucleus pulposus. Pada umur 1
tahun hampir semua nucleus
mengalami perubahan dan bisa
terjadi kalsifikasi.
Kedua, biasanya terdapat
pada
jenis-jenis
anjing
nonchondrodystrophoid pada usia
setengah umur atau lebih, yang
didahului
oleh
metamorfosis
fibroid dari nucleus. Kalsifikasi
biasanya jarang terjadi.
Degenerasi
ini
mempengaruhi semua discus dari
columna vertebrales. Sesudah
terjadi degenerasi nucleus, mulai
terjadi degenerasi anulus dan
nucleus bisa menonjol. Pada tipe I
dari Hansen terjadi ruptura total
dari anulus, sedangkan pada tipe II
terjadi ruptura partial. Ruptura bisa
terjadi ke ventral, lateral dan
dorsal, tetapi penting secara klinis
adalah
yang
dorsal
karena
mengiritasi meningen dan menekan
medulla
spinalis.
Meskipun
degenerasi terjadi pada semua
discus, tetapi prolapsus paling

sering terjadi pada T11 L3 karena


beban mekanis yang paling berat.
d. Pencegahan dan Pengobatan
Dengan kombinasi tindakan
medis (menghilangkan edema) dan
operatif.
Tindakan
operatif
dilakukan untuk menghilangkan
kompresi
yaitu
dengan
laminectomy
atau
melubangi
discus (disc fenestration).
2. Hipdisplasia
a. Etiologi
Peningkatan jumlah peptida
(protein) dari colagen type III
didalam cairan synovial dilaporkan
dapat mempengaruhi sambungan,
tetapi jaringan dan cairan tersebut
dihasilkan dari anjing dewasa
dengan osteoarthritis bukannya dari
anjing yang berada dalam tahap
awal hip-dysplasia.
Peningkatan cairan synovial
intraarticular dari hasil peradangan
dalam sambungan juga akan
menyebabkan
ketidakstabilan.
Peningkatan level relaxin, estrogen,
dan precursors estrogen yang
diperoleh dalam jumlah besar
didalam susu Labrador Retrievers
dapat masuk dalam peredaran
dalah anak anjing saat menyusui.
Hormon ini mempunyai suatu efek
kuat pada metabolisme jaringan
sendi. Salah satu hipotesanya
adalah anak anjing tersebut peka
efek kepada laxity-inducing relaxin
oleh estrogen dengan konversi dari
testosterone yang dihasilkan dari
susu induk yang terdiagnosa
dysplasia. Relaxin telah dikenal
dapat mempengaruhi kelemahan
pada estrogen-primed jaringan
pelvis pada proses kelahiran dan

oleh karena itu dapat juga berperan


untuk capsular laxity.

untuk optimal restorasi persendian


dan fungsi kaki.

b. Gejala Klinis
Hip-dysplasia
adalah
mempunyai ciri kuantitatif atau
kompleks
yang
merupakan
rangkaian dari tak dapat dilihat
(tanpa gejala klinis) sampai yang
parah. Hal ini merupakan kaitan
antara
pengaruh
lingkungan
(seperti gizi dan latihan, dan yang
lain) dengan konstitusi genetik
yang
mempengaruhi
derajat
abnormalitas
tersebut
dapat
terlihat. Ekspresi gen ini mungkin
telah dimodifikasi oleh sejumlah
faktor lingkungan, namun faktor
lingkungan tidak menyebabkan
hip-dysplasia, tetapi mereka boleh
menentukan apakah hal tersebut
dapat memenculkan gejala klinis
dan besaran derajat tingkat
keparahannya. Sebagai contoh,
dimana anjing yang membawa gen
untuk hip-dysplasia jika diberi
makan
suatu
diet
bersifat
melindungi
bisa
nampak
phenotypically normal setelah usia
delapan tahun.
c. Penanganan dan Pengobatan
Terapi dapat berupa pengobatan dan
pembedahan. Pengobatan dapat
dilakukan dengan obat anti arthritis
(misal : aspirin, corticosteroid, dan
carprofen). Apabila kejadiannya
tidak ringan sering dilakukan
dengan pembedahan. Ada tiga jenis
teknik pembedahan yang dilakukan
yaitu pectineal myotenectomy untuk
mengurangi rasa sakit, triple pelvic
osteotomy
untuk
mencegah
subluksasio, femoral head and neck
resection
untuk
mengurangi
arthritis, dan total hip replacement

3. Hernia
a. Etiologi
Tipe hernia paling umum adalah
hernia umbilical. Hernia tersebut
terjadi ketika pusar perut anak
kucing tidak tertutup dengan baik
setelah lahir. Lubang yang biasanya
sedikit kecil dan muncul sebagai
kantung ditengah perut, ditutupi
oleh kulit. Hernia umbilikus tidak
darurat dan dapat diperbaiki ketika
hewan steril. Perbaikan hernia
umbilikus melalui
pengambilan
beberapa jahitan pada dinding
abdominal dan kulit. Insisi steril
biasanya dapat diperluas sampai
kedalam dan kemudian penutup
hernia umbilikus (Mitchell, 2004).
Tipe lain, disebut dengan
hernia inguinal, muncul sebuah
kantung pada regio paha. Lemak
abdominal atau organ dapat
didorong keluar dari lubang ini
pada dinding abdominal. Hernia
inguinal dapat karena gangguan
congenital atau terjadi sebagai hasil
dari trauma fisik. Hernia inguinal
biasanya tidak berbahaya, tapi
karena dapat meluas, harus segera
ditangani (Mitchell, 2004).
Dua hernia lain yang
biasanya ditemukan di kucing
adalah hernia diafragmatika dan
hernia pericardial-diafragmatika.
Tipe hernia ini terjadi pada rongga
dada dan didiagnosa dengan sinar
X. Hernia diafragmatika sering
karena trauma. Hernia perikardialdiafragmatika
merupakan
gangguan congenital (Mitchell,
2004).

Hernia abdominal biasanya


terjadi sekunder sampai trauma,
seperti kecelakaan atau luka
gigitan; biarpun, adakalanya terjadi
sebagai lesi congenital. Hernia
abdominal
cranial
congenital
(dengan kata lain cranial sampai
umbilicus)
telah
dilaporkan
berhubungan
dengan
peritoneoperikardial
hernia
diafragmatika pada anjing dan
kucing. Hernia abdominal adalah
hernia semu karena tidak mengisi
kantung
hernia.
Ketika
dihubungkan dengan trauma benda
tumpul, hernia tersebut muncul
sebagai hasil dari rupture dinding
dari dalam disebabkan oleh
peningkatan
pada
tekanan
intraabdominal saat otot abdominal
berkontraksi. Kebanyakan area
umum untuk hernia abdominal
traumatika adalah region prepubis
dan flank. Hernia ligamentum
pubis kranial sering dihubungkan
dengan fraktur pubis. Hernia
parakostal dapat bermigrasi dari isi
abdominal
sepanjang dinding
thoraks. Pada kasus yang jarang isi
abdominal masuk ke dada karena
kecacatan otot interkostal (Fossum,
2007).
b. Gejala Klinis
Pada semua kasus hernia,
gejala klinis yang terjadi pada
kucing mengalami pembesaran dan
pengerasan pada bagian tersebut
misalnya pada Hernia abdominal,
bagian abdomen kucing terlihat
membesar dan mengeras. Pada
dilihat tersebt dapat di reposisi
melalui cincin dibagian abdomen.

c. Terapi dan pengobatan


Terapi
terhadap
pasien hernia
dapat dilakukan tindakan operasi.
Untuk hernia bersifat reducible dan
tidak terputir, maka operasi
dilakukan
dengan
langsung
mereposisikan isi dari hernia
tersebut ke tempat semula. Untuk
hernia bersifat irreducible, maka
perlu dilakukan perbersaran dari
cincin
hernia
kemudian
direposisikan. Sedangkan untuk
hernia yang mengalami adhesif,
maka perlu melepaskan terlebih
dahulu
adhesi
kemudian
melakukan reposisi.
4. Prolapsus Ani
a. Gejala Klinis
Prolaps ani terjadi ketika
seluruh lapisan jaringan anal /
dubur, bersama dengan lapisan
dubur,
menonjol
melalui
pembukaan
anal
eksternal.
Penonjolan lapisan rektum melalui
pembukaan anal eksternal, disebut
sebagai prolaps anal.
Kucing dengan prolaps
rektum akan menunjukkan gejala
tegang
terus-menerus
secara
sementara melalui buang air besar.
Sebagian kecil dari lapisan rektum
akan terlihat selama ekskresi,
setelah itu akan mereda. Selain itu
juga akan ada massa terus-menerus
jaringan menonjol dari anus
kucing. Pada tahap kronis prolaps
lengkap, jaringan ini mungkin
hitam atau biru dalam penampilan.
Hewan akan menunjukkan
dyschezia,
tenesmus
yang
berkaitan
dengan
penyakit
anorektal atau inflamasi kolon

(typhilitis, colitis, proctitis). Pada


pemeriksaan fisik tampak adanya
masa silindris panjang yang keluar
dari rektum, pada prolaps rektum
parsial hanya mukosa rektum yang
keluar.
b. Diagnosa
Diagnosa dilakukan dengan
melihat sejarah atau anamnesa
kemudian melakukan inspeksi
secara visual dibagian sekitar anus.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan
keluarnya mukosa anus dari dalam
anus.
c. Pengobatan dan Terapi
Terapi Menurut Tobias
(2010), manajemen preoperasi
untuk prolaps ani meliputi faktor
penyebab dari prolaps ani, palpasi
rektal, dan reposisi prolaps ani itu
sendiri. Pada kasus ini, hewan
tersebut mengalami diare yang
berkepanjangan selama kurang
lebih
tiga
hari
yang
mengakibatkankan
keluarnya
sebagian dari rektum karena
keseringan tenesmus.
Setelah dilakukan palpasi
rektal
dan
dicoba
untuk
melakukuan
reposisi
dari
prolapsnya,
ternyata
prolaps
tersebut tidak bisa untuk direposisi
dan harus dilakukan operasi yaitu
amputasi sebagian rektum yang
keluar. Sebelum dilakukan operasi,
hewan penderita prolaps ani
diterapi terlebih dahulu untuk
menghentikan diare. Terapi yang
diberikan yaitu injeksi antibiotik
dan vitamin B komplek, antidiare,
dan diberikan diet khusus untuk
intestinal, serta diberikan terapi
cairan. Setelah dua sampai tiga hari

pasien sudah tidak mengalami


diare, maka dilakukan operasi.
Hasil Praktikum
Data dalam bentuk tabel (salinan
kartu rekam medis)
Diskusi
Hernia adalah suatu persembulan
organ visceral abdominal melalui suatu
lubang (gerbang), masuk ke dalam suatu
kantong yang terdiri dari peritoneum,
tunica flava dan kulit. Penyebab terjadinya
hernia biasanya karena congenital, atropi
otot atau fascia dan proses traumatic,
proses peradangan pada muskulus di
bagian perut (abses umbilicalis) (Read dan
Bellenger, 2003).
Untuk prognosa pada kasus hernia
yaitu fausta, artinya hernia masih dapat
disembuhkan (Read dan Bellenger, 2003).
Prolapsus rektum adalah protrusio
atau keluarnya satu atau lebih lapisan
rektum melalui anal orifisium. Prolapsus
yang terjadi dapat bersifat parsial atau
komplet bergantung pada struktur yang
terlibat. Pada prolapsus rektum parsial,
hanya lapisan mukosa yang keluar,
sementara pada prolapsus rektum komplet
semua lapisan
rektum
ikut
keluar
(Sherding, 1996).
Prolapsus rectum ini dapat terjadi
pada semua bangsa anjing dan tidak
tergantung jenis kelamin. Sebagian besar
kasus terjadi pada hewan yang lebih
muda.Faktor predisposisi penyakit ini
adalah tumor pada kolon, rektum dan anus.
Faktor yang lain adalah adanya benda
asing, sistitis, hernia perineal, prostatitis,
obstruksi urethra dan distokia. Hewan
akan mudah mengalami prolapsus akibat
dyschezia dan tenesmus yang terus

menerus.Pada umumnya faktor yang


menyebabkan prolapsus adalah dyschezia
dan
tenesmus yang berlangsung lama dan terus
menerus.
Kondisi
tersebut
bersifat individual.
Gejala
tersebut
biasanya merupakan dampak dari penyakit
kolon atau rektum. Faktor lain yang
berperan adalah kelemahan jaringan ikat
dan muskulus perirektal dan perianal,
inkoordinasi kontraksi peristaltik, serta
inflamasi atau edema pada mukosa rectum
(Sherding, 1996).
Hip Displasia pada anjing adalah
pembentukan abnormal dari soket pinggul,
dalam bentuk yang lebih parah, yang
akhirnya dapat menyebabkan kepincangan
melumpuhkan dan menyakitkan arthritis
sendi. Hip dysplasia adalah salah satu
kondisi hewan yang paling banyak
dipelajari pada anjing, dan penyebab yang
paling umum dari radang sendi pinggul.
Tingkatan Hip Displasia ada dari mulai
yang ringan sampai sangat serius;
beberapa anjing memiliki tanda-tanda
ringan, sedangkan pada kasus anjing lain
dapat mengalami kesakitan yang lebih
besar, atau bahkan kesulitan berjalan. Pada
kasus berat membutuhkan pembedahan,
dan untuk sebagian besar anjing operasi
yang ideal adalah penggantian pinggul
lengkap (Cargill dkk, 2000).

Kesimpulan
Hip-dysplasia merupakan salah
satu penyakit kelemahan sendi yang
menyebakab ketidakharmonisan hubungan
articulatio coxofemoralis

Hip-dysplasia
pada
anjing
merupakan salah satu penyakit yang dapat
diturunkan, perkecualian pada trauma
neonatal.
Prolapsus rectum ini dapat terjadi
pada semua bangsa anjing dan tidak
tergantung jenis kelamin. Sebagian besar
kasus terjadi pada hewan yang lebih
muda.Faktor predisposisi penyakit ini
adalah tumor pada kolon, rektum dan anus.
Faktor yang lain adalah adanya benda
asing, sistitis, hernia perineal, prostatitis,
obstruksi urethra dan distokia.
Hernia
dapat
diklasifikasikan
menjadi
hernia
dapatan
maupun
kongenital.
Hernia
dapatan
dapat
disebabkan oleh salah satunya adalah
trauma bedah atau terbukanya luka sayatan
bedah.
Menurut (Tjahjadi, 2009) hernia
yang terbentuk berdasarkan letak anatomis
tempat hernia tersebut terbentuk, maka
hernia
dapat
dibagi
atas
hernia
diafragmatika, hernia pelvika, hernia
umbilikalis, hernia inguinalis lateralis
(yang apabila berlanjut menjadi hernia
skrotalis), hernia inguinalis medialis,
hernia kruralis, hernia perinealis, dan
hernia ventralis.
Pustaka Acuan
Cargill, John C., and Thorpe, Susan
Vargas. 2000. "Causative Factors
of Canine Hip Dysplasia"
woodhavenlabs
Read R.A. dan Bellenger CR. 2003.
Textbook of Small Animal Surgery
Vol 1, 3rd edition. Editor: Slatter
D. USA: Saunders.

Denny, Hamish R. 2004. "Management of


Hip Dysplasia". 29th World
Congress of the World Small
Animal Veterinary Association.
Rhodes, Greece
Fries, Cindy L and A M Remedios.1995.
"The pathogenesis and diagnosis of
canine hip dysplasia": review.
Canin Veterinay Journal 36, 494502
Leanne Kate T. 2005. Genetic Analysis of
Canine Hip Dysplasia. Dissertation
of Texas A&M University. Texas.

Lidbetter, David.2002. "Decision Making


in Hip Dysplasia". The Veterinarian
Sydney Magazine Publishers Pty
Ltd. Sydney
Mitchell E. W. 2004. Guide to A Healthy
Cat. Wiley Publishing, Inc.,
Hoboken, New Jersey.
Tobias, Karen M. 2010. Manual of Small
Animal Soft Tissue Surgery. WileyBlackwell: State Avenue, Ames,
Iowa.
Todhunter Rory J. "Canine Hip
Dysplasia". Sheepdog Publishers.