Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH KIMIA FISIK II

KESTIMBANGAN FASA

DISUSUN OLEH
KELOMPOK III
SYAFRIAN AZMI

(F1C114042)

LUCIANA SIHOTANG

(F1C114046)

PATRICIA THEODORA S

(F1C114050)

SYUHADA FRATIWI

(F1C114054)

PUTRI CYNTHIA D.

(F1C114060)

DOSEN PENGAMPU:

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS JAMBI
2016

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah

memberikan

rahmat

dan

karunia-Nya

sehingga

penulis

dapat

menyelesaiakan makalah dengan judul KESETIMBANGAN FASA. Makalah


ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kelompok dalam mata kuliahan Kimia
Fisik II.
Atas bimbingan ibu dosen dan saran dari teman-teman maka disusunlah
makalah ini. Semoga dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat berguna
bagi kami semua dalam memenuhi salah satu syarat tugas kami di perkuliahan.
Karya tulis ini diharapkan bisa bermanfaat dengan efisien dalam proses
perkuliahan.
Dalam menyusun makalah ini, penulis banyak memperoleh bantuan dari
berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang
terkait. Dalam menyusun karya tulis ini penulis telah berusaha dengan segenap
kemampuan untuk membuat karya tulis yang sebaik-baiknya.
Sebagai pemula tentunya masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam
makalah ini, oleh karenanya kami mengharapkan kritik dan saran agar makalah ini
bisa menjadi lebih baik.
Demikianlah kata pengantar makalah ini dan penulis berharap semoga
makalah ini dapat digunakan sebagaimana mestinya. Amin.
Jambi, 28 Maret 2013
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1

Latar Belakang..........................................................................................1

1.2 Tujuan.............................................................................................................1
1.3 Rumusan Masalah..........................................................................................2
1.4 Manfaat...........................................................................................................2
BAB II......................................................................................................................3
PEMBAHASAN......................................................................................................3
2.1 Kesetimbangan Fasa.......................................................................................3
a. Perbedaan Kesetimbangan Kimia dan Kesetimbangan fasa.....................3
b. Kriteria Kesetimbangan............................................................................5
2.2 Istilah Istilah Dalam Kesetimbang Fasa.......................................................6
a. Fasa (P).........................................................................................................6
b. Komponen (C)..............................................................................................6
c. Derajad Kebebasan (F).................................................................................7
d. Aturan Fasa...................................................................................................7
2.3 Grafik Dan Diagram Dalam Kestimbangan Fasa...........................................7
a. Berdasarkan bentuk.......................................................................................9
1.

Diagram fasa 2 D...................................................................................9

2.

Diagram fasa 3 D.................................................................................10

b. Berdasarkan jumlah komponen..................................................................11


1.

Sistem Satu Komponen........................................................................11

2.

Sistem Dua Komponen (Biner)...........................................................12

3.

Sistem Tiga Komponen (Terner).........................................................18

2.4 Hukum-Hukum Dalam Kestimbangan Fasa.................................................21


a. Hukum Raoult.............................................................................................21
b. Hukum Hendry...........................................................................................23

BAB III..................................................................................................................24
KESIMPULAN......................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................25

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bagian sesuatu yang menjadi pusat perhatian dan dipelajari disebut
sebagai sistem. Suatu sistem heterogen terdiri dari berbagai bagian yang homogen
yang saling bersentuhan dengan batas yang jelas. Bagian homogen ini disebut
sebagai fasa dapat dipisahkan secara mekanik. Tekanan dan temperatur
menentukan keadaan suatu materi kesetimbangan fasa dari materi yang sama.
Kesetimbangan fasa dari suatu sistem harus memenuhi syarat berikut :
a. Sistem mempunyai lebih dari satu fasa meskipun materinya sama
b. Terjadi perpindahan reversibel spesi kimia dari satu fasa ke fasa lain
c. Seluruh bagian sistem mempunyai tekanan dan temperatur sama
Kesetimbangan

fasa

dikelompokan

menurut

jumlah

komponen

penyusunnya yaitu sistem satu komponen, dua komponen dan tiga komponen
Pemahaman mengenai perilaku fasa berkembang dengan adanya aturan fasa
Gibbs. Sedangkan persamaan Clausius dan persamaan Clausius Clayperon
menghubungkan perubahan tekanan kesetimbangan dan perubahan suhu pada
sistem satu komponen. Adanya penyimpangan dari sistem dua komponen caircair ideal konsep sifat koligatif larutan dapat dijelaskan.
1.2 Tujuan
a) Mempelajarai tentang kesetimbangan fasa.
b) Mengetahui apa saja istilah istilah dalam kesetimbang fasa.
c) Mengetahui perbedaan grafik dan diagram serta macam-macam diagram
dalam kestimbangan fasa.
d) Mengetahui hukum-hukum yang berlaku di dalam kestimbangan fasa.

1.3 Rumusan Masalah


a) Apa perbedaan kesetimbangan fasa dengan kestimbangan kimia?
b) apa saja istilah istilah dalam kesetimbang fasa?

c) Apa perbedaan grafik dan diagram serta macam-macam diagram dalam


kestimbangan fasa?
d) Apa saja hukum-hukum yang berlaku di dalam kestimbangan fasa?
1.4 Manfaat
a) Mengetahui tentang kesetimbangan fasa.
b) Mengetahui apa saja istilah istilah dalam kesetimbang fasa.
c) Mengetahui perbedaan grafik dan diagram serta macam-macam diagram
dalam kestimbangan fasa.
d) Mengetahui hukum-hukum yang berlaku di dalam kestimbangan fasa.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kesetimbangan Fasa
a. Perbedaan Kesetimbangan Kimia dan Kesetimbangan fasa
Kesetimbangan kimia adalah suatu keadaan di mana tidak ada perubahan
yang teramati selama bertambahnya waktu reaksi. Jika suatu kimia telah mencapai
keadaan kesetimbangan maka konsentrasi reaktan dan produk menjadi konstan
sehingga tidak ada perubahan yang teramati dalam sistem. Meskipun demikian,
aktivitas molekul tetap berjalan, molekul-molekul reaktan berubah mnjadi produk
secara terus-menerus sambil molekul-molekul produk berubah menjadi reaktan
kembali dengan kecepatan yang sama.
Jika kecepatan reaksi maju dan reaksi balik adalah sama, dan dikatakan
bahwa kesetimbangan kimia telah dicapai. Harus diingat bahwa kesetimbangan
kimia melibatkan beberapa zat yang berbeda sebagai reaktan dan produk.
Kesetimbangan antara dua fase zat-zat yang sama disebut kesetimbangan fisika,
perubahan yang terjadi adalah proses fisika. Dalam peristiwa ini, molekul air yang
meninggalkan fase cair adalah sama dengan jumlah molekul yang kembali ke fase
cair.
H2O(C) H2O(g)
Perhatian para kimiawi tercurah kepada proses kesetimbangan kimia,
misalnya reaksi dapat dibalik yang melibatkan nitrogen disebut oksida (NO 2) dan
nitrogen tetraosida (N2O4) yang dinyatakan sebagai berikut.
N2O4(g) 2NO2(g)
Kemajuan reaksi ini mudah dimonitor karena N2O4 adalah suatu gas tak
berwarna, sedangkan NO2 adalah gas berwarna coklat tua. Andaikan sejumah
tertentu gas N2O4 diinjeksikan ke dalam labu tertutup, maka segera tampak warna
coklat yang menunjukkan terbentuknya molekul NO2. Intensitas warna terus
meningkat dengan berlangsungnya peruraian N2O4 terus-menerus sampai
kesetimbangan tercapai. Pada keadaan ini, tidak ada lagi perubahan warna yang
diamati.
Kesetimbangan Fasa adalah suatu keadaan dimana suatu zat memiliki
komposisi yang pasti pada kedua fasanya pada suhu dan tekanan tertentu,
3

biasanya pada fasa cair dan uapnya. Diagram fasa merupakan cara mudah untuk
menampilkan wujud zat sebagai fungsi suhu dan tekanan. Dalam diagram fasa,
diasumsikan bahwa zat tersebut diisolasi dengan baik dan tidak ada zat lain yang
masuk atau keluar sistem. Pemahaman tentang diagram fasa akan terbantu dengan
pemahaman hukum fasa Gibbs, hubungan yang diturunkan oleh fisikawanmatematik Amerika Josiah Willard Gibbs (1839-1903) di tahun 1876. Aturan ini
menyatakan bahwa untuk kesetimbangan apapun dalam sistem tertutup, jumlah
variabel bebas-disebut derajat kebebasan F- yang sama dengan jumlah komponen
C ditambah 2 dikurangi jumlah fasa P, yakni,
F=C+2-P
Jadi, dalam titik tertentu di diagram fasa, jumlah derajat kebebasan adalah
2 yakni suhu dan tekanan; bila dua fasa dalam kesetimbangan-sebagaimana
ditunjukkan dengan garis yang membatasi daerah dua fasa hanya ada satu derajat
kebebasan-bisa suhu atau tekanan. Pada ttik tripel ketika terdapat tiga fasa tidak
ada derajat kebebasan lagi. Dari diagram fasa, dapat mengkonfirmasi apa yang
telah diketahui, dan lebih lanjut, dapat mempelajari apa yang belum diketahui.
Misalnya, kemiringan yang negatif pada perbatasan padatan-cairan memiliki
implikasi penting sebagaimana dinyatakan di bagian kanan diagram, yakni bila
tekanan diberikan pada es, es akan meleleh dan membentuk air. Berdasarkan
prinsip Le Chatelier, bila sistem pada kesetimbangan diberi tekanan,
kesetimbangan akan bergeser ke arah yang akan mengurangi perubahan ini. Hal
ini berarti air memiliki volume yang lebih kecil, kerapatan leb besar daripada es;
dan semua kita telah hafal dengan fakta bahwa s mengapung di air. Sebaliknya, air
pada tekanan 0,0060 atm berada sebagai cairan pada suhu rendah, sementara pada
suhu 0,0098 C, tiga wujud air akan ada bersama. Titik ini disebut titik tripel air.
Tidak ada titik lain di mana tiga wujud air ada bersama. Selain itu, titik kritis
(untuk air, 218 atm, 374C), yang telah Anda pelajari, juga ditunjukkan dalam
diagram fasa. Bila cairan berubah menjadi fasa gas pada titik kritis, muncul
keadaan antara (intermediate state), yakni keadaan antara cair dan gas. Dalam
diagram fasa keadaan di atas titik kritis tidak didefinisikan.

b. Kriteria Kesetimbangan
Kesetimbangan antara beberapa fasa dapat dinyatakan dengan besaranbesaran intensif T (suhu), P (tekanan) dan (potensial kimia). Kriteria suatu
kesetimbangan diperlihatkan oleh perubahan energi bebas Gibbs (G) yang
dinyatakan melalui persamaan :

dengan potensial kimia () :


Pada keadaan setimbang, potensial kimia suatu komponen adalah sama pada
setiap fasa, contoh pada kesetimbangan H2O

H2O

(l )

(g)

maka H2O

(l )

H2O (g ), yang dapat dibuktikan sebagai berikut :

Artinya potensial kimia akan berharga sama bila sistem dalam


kesetimbangan. Persamaan (7) memperlihatkan bila i > i maka akan terjadi
aliran potensial dari fasa menuju fasa dan sering disebut sebagai
kesetimbangan material. Demikian pula bila T >T maka akan terjadi aliran suhu
dari fasa menuju fasa hingga tercapai kesetimbangan termal. Kesetimbangan
mekanik akan tercapai bila terjadi aliran tekanan dari fasa menuju fasa .

2.2 Istilah Istilah Dalam Kesetimbang Fasa


a. Fasa (P)
Sering istilah fasa diidentikkan dengan wujud atau keadaan suatu materi,
misalnya es berwujud padat, air berwujud cair atau uap air yang berwujud gas.
Konsep ini tidak benar karena sistem padatan dan sistem cairan dapat terdiri dari
beberapa fasa. Sedangkan gas cenderung bercampur sempurna sehingga dalam
sistem gas hanya terdapat satu fasa. Fasa dapat didefinisikan sebagai setiap bagian
sistem yang :
a) homogen dan dipisahkan oleh batas yang jelas.
b) sifat fisik dan sifat kimia berbeda dari bagian sistem lain.
c) dapat dipisahkan secara mekanik dari bagian lain sistem itu.
Contoh
sistem satu fasa : Dua cairan yang bercampur homogen
sistem 2 fasa : cairan polar (misal air) dan non polar (misal

:minyak) sistem belerang padat (monoklin dan rombik)


sistem 3 fasa : es, uap air dan air
CaCO3 (s) CO2 (g) + CaO (s)

b. Komponen (C)
Jumlah komponen suatu sistem dinyatakan sebagai jumlah meinimum
spesi kimia yang membentuk sistem tersebut yang dapat menentukan susunan
setiap system fasa sistem.
Contoh :

H2O (g) H2O (l ) jumlah komponen C = 1


N2 (g) + 3 H2 (g) 2 NH2 (g) jumlah komponen C = 3 untuk perbandingan
mol N2 dan H2 1:3 jumlah komponen C = 2 bila perbandingan mol
N2:H2 = 1 : 3

c. Derajad Kebebasan (F)


Derajad kebebasan (F) dari suatu sistem setimbang merupakan variabel
intensif independen yang diperlukan untuk menyatakan keadaan sistem tersebut.
Untuk menentukan derajad kebebasan dibutuhkan aturan fasa.
d. Aturan Fasa
Aturan fasa mengatur hubungan antara jumlah komponen, jumlah fasa dan
6

derajad kebebasan suatu sistem. Menurut aturan fasa


F = C-P+2
Contoh Soal :
Dalam gelas tertutup terdapat kesetimbangan antara es dan air maka
derajad kebebasan sistem tersebut :
F=12+2=1
artinya jika temperatur tertentu, maka tekanan dan komposisi tertentu.

2.3 Grafik Dan Diagram Dalam Kestimbangan Fasa


Diagram Fasa adalah diagram yang menampilkan hubungan antara
temperatur dimana terjadi perubahan fasa selama proses pendinginan dan
pemanasan yang lambat dengan kadar karbon. Tidak seperti struktur logam murni
yang hanya dipengaruhi oleh suhu, sedangkan struktur paduan dipengaruhi oleh
suhu dan komposisi. Pada kesetimbangan, struktur paduan ini dapat digambarkan
dalam suatu diagram yang disebut diagram fasa (diagram kesetimbangan) dengan
parameter suhu (T) versus komposisi (mol atau fraksi mol). (Fase dapat
didefinisikan sebagai bagian dari bahan yang memiliki struktur atau komposisi
yang berbeda dari bagian lainnya). Diagram fasa khususnya untuk ilmu logam
merupakan suatu pemetaan dari kondisi logam atau paduan dengan dua variabel
utama umumnya ( Konsentrasi dan temperatur). Diagram fasa secara umum
dipakai ada 3 jenis :
1.

Diagram fasa tunggal/Uner ( 1 komponen/Komposisi sama dengan Paduan )

2.

Diagram fasa Biner ( 2 komponen unsur dan temperatur)

3.

Diagram fasa Terner ( 3 komponen unsur dan temperatur)


Diagram fasa tunggal memiliki komposisi yang sama dengan paduan, misalnya
timbale dan timah. Diagram fasa biner misalnya paduan kuningan ( Cu-Zn), (CuNi) dll. Diagram fasa terner misalnya paduan stainless steel (Fe-Cr-Ni) dll.
Diagram pendinginan merupakan diagram yang memetakan kondisi struktur
mikro apa yang anda akan dapatkan melalui dua variabel utama yaitu
( Temperatur dan waktu) disebut juga diagram TTT atau juga dua variabel utama
yaitu (temperatur dan cooling rater) disebut juga diagram CCT. Diagram ini
berguna untuk mendapatkan sifat mekanik tertentu dan mikrostruktur tertentu,
7

Fasa bainit misalnya pada baja hanya terdapat pada diagram TTT bukan diagram
isothermal Fe-Fe3C. Kegunaan Diagram Fasa adalah dapat memberikan informasi
tentang struktur dan komposisi fase-fase dalam kesetimbangan. Diagram fasa
digunakan oleh ahli geologi, ahli kimia, ceramists, metallurgists dan ilmuwan lain
untuk mengatur dan meringkas eksperimental dan data pengamatan serta dapat
digunakan untuk membuat prediksi tentang proses-proses yang melibatkan reaksi
kimia antara fase.
Komponen umum diagram fasa adalah garis kesetimbangan atau batas
fase, yang merujuk pada baris yang menandai kondisi di mana beberapa fase dapat
hidup berdampingan pada kesetimbangan. Fase transisi terjadi di sepanjang garis
dari ekuilibrium. Titik tripel 2 adalah titik pada diagram fase di mana garis dari
ekuilibrium berpotongan. Tanda titik tripel kondisi di mana tiga fase yang berbeda
dapat ditampilkan bersama. Sebagai contoh, diagram fase air memiliki titik tripel
tunggal yang sesuai dengan suhu dan tekanan di mana padat, cair, dan gas air
dapat hidup berdampingan dalam keadaan kesetimbangan yang stabil. Titik
solidus adalah Garis yang memisahkan bidang semua cairan dari yang
ditambah cairan kristal. Titik likuidus adalah Garis yang memisahkan bidang
semua cairan dari yang ditambah cairan kristal. Titik kritis adalah titik dimana
bagian ujung kurva tekanan dari uap air, ini menunjukkan bahwa pada temperatur
dan tekanan yang sangat tinggi, fase cair dan gas menjadi tidak dapat dibedakan.
Yang dikenal sebagai fluida superkritis. Pada air, titik kritis ada pada sekitar 647
K dan 22,064 MPa (3.200,1 psi). Temperatur di atas mana zat tersebut stabil
dalam keadaan cair. Terdapat sebuah kesenjangan antara solidus dan likuidus yang
terdiri dari campuran kristal dan cairan.
a. Berdasarkan bentuk
Berdasarkan bentuknya, diagram fasa dibedakan menjadi dua, yaitu:
diagram fasa 2D, dan 3D:
1. Diagram fasa 2 D
Diagram fasa yang paling sederhana adalah diagram tekanan-temperatur
dari zat tunggal yang sederhana, seperti air. Sumbu sesuai dengan tekanan dan

suhu. Diagram menunjukkan fasa, dalam ruang tekanan-suhu, garis-garis batas


keseimbangan atau fase antara tiga fase padat, gas, dan cair.

Sebuah diagram fase khas. Garis putus-putus memberikan perilaku


anomali air. Garis hijau menandai titik beku dan garis biru titik didih,
menunjukkan bagaimana mereka bervariasi dengan tekanan. Kurva pada diagram
fasamenunjukkan titik-titik di mana energi bebas (dan sifat turunan lainnya)
menjadi non-analitis: turunannya berkenaan dengan (suhu dan tekanan dalam
contoh ini) koordinat perubahan terputus-putus (tiba-tiba). Misalnya, kapasitas
panas dari wadah dengan es akan berubah tiba-tiba sebagai wadah dipanaskan
melewati titik lebur. Ruang terbuka, di mana energi bebas adalah analitik, sesuai
dengan daerah fase tunggal. Daerah satu fasa dipisahkan oleh garis non-analitis, di
mana transisi fase terjadi, yang disebut batas fase. Dalam diagram di sebelah kiri,
batas fasa antara cair dan gas tidak berlanjut tanpa batas. Sebaliknya, berakhir
pada sebuah titik pada diagram fase yang disebut titik kritis. Ini mencerminkan
fakta bahwa, pada suhu dan tekanan sangat tinggi, fase cair dan gas menjadi
tidak dapat dibedakan, dalam apa yang dikenal sebagai fluida superkritis. Pada air,
titik kritis terjadi pada sekitar Tc = 647,096 K (1,164.773 R), pc = 22,064 MPa
(3,200.1 psi) dan c = 356 kg / m.Keberadaan titik cair-gas kritis
mengungkapkan ambiguitas sedikit pelabelan daerah fase tunggal. Ketika terjadi
dari cairan ke fase gas, satu biasanya menyeberangi batas fase, namun adalah
mungkin untuk memilih jalan yang tidak pernah melintasi batas dengan pergi ke

kanan titik kritis. Dengan demikian, fase cair dan gas dapat berbaur terus menerus
ke satu sama lain.
Batas fase padat-cair hanya dapat diakhiri dengan titik kritis jika fase padat
dan cair memiliki grup simetri yang sama. Batas fase padat-cair dalam diagram
fase zat yang paling memiliki kemiringan positif, semakin besar tekanan pada zat
tertentu, semakin dekat bersama-sama molekul-molekul zat dibawa ke satu sama
lain, yang meningkatkan efek dari kekuatan antarmolekul substansi itu. Dengan
demikian, substansi memerlukan suhu yanglebih tinggi untuk molekul untuk
memiliki energi yang cukup untuk keluar pola tetap dari fase padat dan memasuki
fase cair. Konsep serupa juga berlaku untuk perubahan fase cair-gas air, karena
sifat tertentu, adalah salah satu daribeberapa pengecualian aturan.
2. Diagram fasa 3 D
Adalah mungkin untuk membuat grafik tiga dimensi (3D) yang
menunjukkan tiga kuantitas termodinamika. Sebagai contoh, untuk sebuah
komponen tunggal, koordinat 3D Cartesius dapat menunjukkan temperatur (T),
tekanan (P), dan volume jenis (v). Grafik 3D tersebut kadang-kadang disebut
diagram P-v-T. Kondisi kesetimbangan akan ditungjukkan sebagai permukaan tiga
dimensi dengan luas permukaan untuk fase padat, cair, dan gas. Garis pada
permukaan tersebut disebut garis tripel, di mana zat padat, cair, dan gas dapat
berada dalam kesetimbangan. Titik kritis masih berupa sebuah titik pada
permukaan bahkan pada diagram fase 3D. Proyeksi ortografi grafik P-v-T 3D
yang menunjukkan tekanan dan temperatur sebagai sumbu vertikal dan horizontal
akan menurunkan plot 3D tersebut menjadi diagram tekanan-temperatur 2D.
Ketika hal ini terjadi, permukaan padat-uap, padat-cair, dan cair-uap akan menjadi
tiga kurva garis yang akan bertemu pada titik tripel, yang merupakan proyeksi
ortografik garis tripel.

10

b. Berdasarkan jumlah komponen


Berdasarkan jumlah komponen penyusunnya, diagram fasa dibedakan
menjadi tiga, yaitu:
1. Sistem Satu Komponen
Untuk sistem 1 komponen aturan fasa berubah menjadi F= 3-P. Karena
fasa tidak mungkin = 0, maka derajad kebebasan masimum adalah 2 artinya
sistem 1 komponen paling banyak memiliki 2 variabel intensif untuk menyatakan
keadaan sistem yaitu P (tekanan) dan T (suhu). Diagram fasa adalah diagram yang
menggambarkan keadaan sistem (komponen dan fasa) yang dinyatakan dalam 2
dimensi. Dalam diagram ini tergambar sifat- sifat zat seperti titik didih, titik leleh,
titik tripel. Sebagai contoh adalah diagram fasa 1 komponen adalah diagram fasa
air.

11

Diagram ini menggambarkan hubungan antara tekanan dan suhu pada


sistem 1 komponen air. Titik tripel memperlihatkan suhu dimana air mempunyai 3
fasa yaitu padat, cair dan gas.
2. Sistem Dua Komponen (Biner)
Sistem 2 komponen dapat berupa campuran dari fasa cair- gas, cair- cair,
fasampadat- cair, ataupun padat- padat. Karakteristik setiap campuran sangat khas,
misalnya ada sistem cair- cair yang membentuk campuran yang homogen atau 1
fasa pada segala P,T dan komposisi, tetapi ada pula yang hanya membentuk 1 fasa
pada P,T atau komposisi tertentu. Diagram fasa untuk sistem dua komponen
digambarkan sebagai fungsi komposisi terhadap tekanan atau komposisi terhadap
suhu. Oleh sebab itu aturan fasa berubah menjadi F = C P+1 karena salah satu
variabel (P atau T) dalam keadaan konstan. Derajad kebebasan (F) menjadi = 2-P
Sistem dua komponen cair- gas ideal
Yang dimaksud dengan sistem dua komponen cair- gas adalah sistem yang
terdiri dari cairan dengan uapnya. Sistem dikatakan ideal bila memenuhi hukum
Raoult pada semua rentang konsentrasi. Untuk campuran biner ideal, proses
pencampuran tidak menimbulkan efek kalor karena energi interaksi antara
komponen 1 dan komponen 2 sama dengan energi interaksi antara sesama partikel
komponen 1 maupun sesama partikel komponen 2.

Hukum Raoult
Raoult adalah seorang ahli kimia dari Perancis, ia mengamati bahwa pada
larutan ideal yang dalam keadaan seimbang antara larutan dan uapnya, maka
perbandingan antara tekanan uap salah satu komponennya ( misal A) P A/PA

sebanding dengan fraksi mol komponen (X A) yang menguap dalam larutan pada
suhu yang sama. Misalkan suatu larutan yang terdiri dari komponen A dan B
menguap, maka tekanan uap A (PA) dinyatakan sebagai :
PA = PAo. XA

12

PA adalah tekanan uap jenuh di atas larutan


XA adalah fraksi mol komponen A
PA adalah tekanan uap A murni
o

Larutan yang memenuhi hukum ini disebut sebagai larutan ideal. Pada
kondisi ini, maka tekanan uap total (Pt) akan berharga.

dan bila digambarkan maka diagram tekanan uap terhadap fraksi mol adalah
seperti diperlihatkan pada gambar.

Diagram pada gambar merupakan hubungan antara suhu dan komposisi


kedua komponennya pada suhu konstan. Komposisi komponen dapat berupa
fraksi mol atau persen mol. Harga tekanan total larutan ideal pada berbagai variasi
komponen diperlihatkan oleh garis yang menghubungkan PB dan PA. Salah contoh
larutan ideal adalah larutan benzena- toluena. Teori ini merupakan dasar bagi
metode pemisahan kimia, misalnya destilasi untuk memurnikan atau mengisolasi
suatu senyawa. Banyaknya destilat yang dihasilkan dapat dihitung dengan
membandingkan antara tekanan parsial senyawa yang diinginkan dengan tekanan
total campuran. Secara matematis dapat dituliskan sebagai;
XA,V = PA/ Pt atau XB,V = PB/Pt
dengan
XA,V = fraksi mol A bentuk uap
PA, V = Tekanan uap parsial A
Pt = tekanan total A dan B
13

Contoh soal 3 :
3 mol aseton dan 2 mol kloroform dicampur pada suhu 35 oC . Tekanan uap jenuh
aseton dan kloroform pada suhu tersebut adalah 360 dan 250 torr
a) Bila larutan tersebut dianggap ideal, hitung tekanan uap larutan tersebut
b) Bila larutan tersebut mempunyai tekanan uap sebesar 280 torr,
bagaimanakah komposisi cairan awal campuran tersebut

14

Dua komponen cair- cair misibel sebagian


Campuran dua macam senyawa cair- cair kadangkala tidak menghasilkan
suatu campuran yang homogen, karena kedua cairan itu tidak larut (misibel)
sempurna. Duacairan dikatakan misibel sebagian jika A larut dalam B dalam
jumlah yang terbatas, dan sebaliknya. Secara eksperimen dapat diperoleh diagram
fasa suhu terhadap komposisi cair- cair pada tekanan tetap, seperti pada gambar
berikut :

TC : temperatur kritik, titik kritis yaitu suhu yang menunjukkan bahwa pada
temperature tersebut adalah batas terendah sistem dalam keadaan dua fasa , di atas
temperature tersebut kedua cairan melarut sempurna dalam segala komposisi.
Pada diagram tersebut jika suhu dibuat konstan, misal T1, sistem dimulai
dari B murni (titik C), maka penambahan A sedikit dmi sedikit hingga batas titik
D (fraksi mol XA1) akan didapat cairan satu fasa. Bila penambahan A diteruskan,
hingga titik E misalnya, maka akan didapatkan dua fasa atau dua lapisan. Jika
penambahan diteruskan sampai mencapai titik F, maka penambahan berikutnya
akan menghasilkan satu lapisan atau satu fasa. Contoh dari sistem ini adalah
sistem fenol- air.
Komposisi kedua lapisan dalam keseimbangan ditunjukkan oleh
perbandingan fasa 1 dan fasa 2, dalam diagram di atas diperlihatkan oleh
hubungan massa fasa L1 : massa fasa L2 = FE : DE.

15

Sistem dua komponen padat- cair


Kesetimbangan fasa sistem 2 komponen padat- cair banyak digunakan
dalam proses pembuatan logam paduan. Ada banyak macam jenis kesetimbangan
dua komponen padat- cair , misalnya :

Kedua komponen misibel dalam fasa cair dan imisibel dalam fasa padat
Kedua komponen membentuk senyawa dengan titik leleh yang kongruen
Kedua komponen membentuk senyawa dengan titik leleh yang inkongruen
Kedua komponen membentuk larutan padat
Kedua komponen misibel dalam fasa cair dan misibel sebagian dalam fasa
padat
Sistem 2 komponen yang kedua komponennya misibel dalam fasa cair dan

imisibel dalam fasa padat Jenis kesetimbangan ini banyak dijumpai dalam
kehidupan sehari- hari, misalnya ada 2 macam logam yang dalam keadaan padat
tidak bercampur tetapi ketika dicairkan keduanya akan bercampur homogen
membentuk 1 fasa. Diagram fasanya digambarkan seperti pada gambar 4. Titik
TA dan TB adalah suhu leleh A dan B murni. Sedangkan titik E adalah titik
eutektik yaitu suhu terendah dimana masih terdapat komponen cair. Sedangkan
derajad kebebasan untuk setiap daerah mempunyai harga yang berbeda- beda,
misalnya daerah larutan cair mempunyai fasa = 1, maka derajad kebebasan pada P
tetap akan berharga F = 2.

16

Untuk 2 komponen yang membentuk senyawa baru dengan perbandingan


mol tertentu, maka diagram fasa dapat digambarkan seperti gambar 5 berikut :

Diagram fasa untuk cairan misibel dan padatan imisibel yang membentuk
1 senyawa baru.

17

3. Sistem Tiga Komponen (Terner)


Sistem tiga komponen mempunyai derajad kebebasan F = 3-P, karena
tidak mungkin membuat diagram dengan 4 variabel, maka sistem tersebut dibuat
pada tekanan dan suhu tetap. Sehingga diagram hanya merupakan fungsi
komposisi. Harga derajad kebebasan maksimal adalah 2, karena harga P hanya
mempunyai 2 pilihan 1 fasa yaitu ketiga komponen bercampur homogen atau 2
fasa yang meliputi 2 pasang misibel. Umumnya sistem 3 komponen merupakan
sistem cair-cair- cair. Jumlah fraksi mol ketiga komponen berharga 1. Sistem
koordinat diagram ini digambarkan sebagai segitiga sama sisi dapat berupa % mol
atau fraksi mol ataupun % berat seperti gambar 6 berikut :

Titik G mempunyai koordinat 25 % mol A, 10 % mol B dan 65 % molC.


Titik G dapat dibuat dengan memotongkan garis yang mempunyai komposisi 25
% mol A yaitu garis sejajar BC, 10 % mol B yaitu garis sejajar AC dan garis
sejajar AB dengan % mol 65 %.

18

Penentuan konsentrasi campuran didalam segitiga sama sisi diatur dalam


rancangan dibawah ini :

Pada titik A = 100% Air, 0% B da 0% C


Pada titik B = 100% CHCl3, 0% A dan 0% C
Pada titik C = 100% CH3COOH, 0% A dan 0% B
Garis // AC berturut turut memiliki prosentase CHCl 3 yang besrnya 10%,
20%, 30% dan seterusnya sampai 100% pada titik B. Hal ini sejalan juga dengan
garis // AB dalam prosentase asam cuka dan // BC dalam prosentase air.
Titik M memiliki komposisi 60% air, 40% kloroform dan 0% asam cuka.
Titik N memiliki komposisi 30% air, 20% kloroform dan 50% asam cuka. Jika
prosentase dinyatakan dalam prosen berat maka untuk menetapkan posisi suatu
campuran dalam grafik dapat digunakan garis garis yang sejajar tadi.

19

Contoh : campuran 2 gr kloroform dengan 5 gr air dalam 3 gr asam cuka,


kedudukan system dalam grafik berada pada titik D. bentuk diagram kelarutan airasam cuka-kloroform yang sudah ada pada suhu dan tekanan kamar dapat dilihat
sbb :

Kurva yang melengkung dalam segitiga merupakan kelarutan antar ketiga


zat. Didalam kurva terdiri dari 2 fase cair cair yaitu asam cuka dan kloroform
yang larut dalam air (L1) dan asam cuka dengan air yang larut dalam kloroform
(L2).
Garis dasi atau tie line merupakan garis penentuan komosisi yang letaknya
tidak sejajar dengan garis AB. Contohnya garis PQ yang menunjukkan
bahwakesetimbangan antar 2 fase ditentukan oleh komosisi P dan Q . Jadi garis
PQ akan dapat dilukis jika campuran dengan komposisi R yang berada ada garis
tersebut memiliki 2 lapisan (L1 dan L2) dengan komposisi titik P dan Q.
Jika kita memiliki campuran 1 gr air ditambah 4 gr kloroform
dalam Erlenmeyer maka kedudukan system berada pada titik K. Jika
campuran tersebut dikocok akan diperoleh 2 fasa cair yang tidak dapat
campur (cairan berwarna keruh). Dengan mentitrasi campuran oleh asam
cuka maka system akan berjalan dari titik K menuju titik C. dengan
pengocokan hati hati selama titrasi akan diperoleh tetesan terakhir ketika
kekeruhan tepat hilang. Pada saat ini, system tepat menjadi satu fasa dititik
K.
Gambar 7 adalah contoh diagram fasa 3 komponen cair- cair sistem
aseton- air eter pada 30 0C, 1 atm dengan koordinat persen mol . Daerah
di bawah kurva adalah daerah 2 fasa yaitu air- aseton dan eter- aseton.

20

Dalam gambar terlihat pada komposisi ekstrem air dapat bercampur


sempurna dengan eter. Sedangkan aseton dapat bercampur homogen baik
dengan air maupun eter.

2.4 Hukum-Hukum Dalam Kestimbangan Fasa


a. Hukum Raoult
Raoult adalah seorang ahli kimia dari Perancis, ia mengamati
bahwa pada larutan ideal yang dalam keadaan seimbang antara larutan dan
uapnya, maka perbandingan antara tekanan uap salah satu komponennya
( misal A) PA/PA sebanding dengan fraksi mol komponen (XA) yang
o

menguap dalam larutan pada suhu yang sama. Misalkan suatu larutan yang
terdiri dari komponen A dan B menguap, maka tekanan uap A (P A)
dinyatakan sebagai :
PA = PAo. XA
PA adalah tekanan uap jenuh di atas larutan
XA adalah fraksi mol komponen A
PA adalah tekanan uap A murni
o

Larutan yang memenuhi hukum ini disebut sebagai larutan ideal.


Pada kondisi ini, maka tekanan uap total (Pt) akan berharga.
dan bila digambarkan maka diagram tekanan uap terhadap fraksi mol
adalah seperti diperlihatkan pada gambar.

21

Diagram pada gambar

merupakan hubungan antara suhu dan

komposisi kedua komponennya pada suhu konstan. Komposisi komponen


dapat berupa fraksi mol atau persen mol. Harga tekanan total larutan ideal
pada berbagai variasi komponen diperlihatkan oleh garis yang
menghubungkan PB dan PA. Salah contoh larutan ideal adalah larutan
benzena- toluena. Teori ini merupakan dasar bagi metode pemisahan
kimia, misalnya destilasi untuk memurnikan atau mengisolasi suatu
senyawa. Banyaknya destilat yang dihasilkan dapat dihitung dengan
membandingkan antara tekanan parsial senyawa yang diinginkan dengan
tekanan total campuran. Secara matematis dapat dituliskan sebagai
XA,V = PA/ Pt atau XB,V = PB/Pt
dengan
XA,V = fraksi mol A bentuk uap
PA, V = Tekanan uap parsial A
Pt = tekanan total A dan B

b. Hukum Hendry
pada temperatur konstan, jumlah gas yang terlarut dalam suatu
larutan akan berbanding lurus dengan tekanan parsial gas yang berada
dalam kesetimbangan larutan. Atau dapat juga dinyatakan kelarutan gas
dalam cairan berbanding lurus terhadap tekanan parsial gas diluar cairan.
tekanan uap parsial suatu zat terlarut didalam larutan encer sebanding secara
proporsional dengan fraksi molnya
Grafik Hukum Henry

22

Pada rentang komposisi dimana pelarut mentaati hukum raoult maka zat terlarut
mentaati hukum henry
Hukum Henry menyatakan bahwa korelasi keseimbangan untuk
sistem ideal dan larutan yang cukup encer dapat dinyatakan dengan:
Persamaan Hukum Henry :
Pb = kBCB
Dengan :

Pb = tekanan parsial A di fasa uap


CB = konsentrasi A di fasa cair
KB = tetapan Henry

Keterbatasan Hukum Henry


1. Hanya berlaku untuk larutan encer
2. Tidak ada reaksi kimia antara zat terlarut dengan pelarut, karena jika ada

reaksi kimia maka kelarutannya dapat terlhat sangat besar


Example : CO2, H2O, NH3, SO2 dan HCl

23

BAB III
KESIMPULAN
1. Perbedaan

kesetimbangan

fasa

dengan

kestimbangan

kimia

adalah

Kesetimbangan Fasa adalah suatu keadaan dimana suatu zat memiliki


komposisi yang pasti pada kedua fasanya pada suhu dan tekanan tertentu,
biasanya pada fasa cair dan uapnya. Sedangkan Kesetimbangan kimia adalah
suatu keadaan di mana tidak ada perubahan yang teramati selama
bertambahnya waktu reaksi. Jika suatu kimia telah mencapai keadaan
kesetimbangan maka konsentrasi reaktan dan produk menjadi konstan
sehingga tidak ada perubahan yang teramati dalam sistem.
2. Istilah istilah yang biasanya digunakan dalam kesetimbang fasa antara lain
fasa (p), komponen ( c), derajat kebebasan (f), dan aturan fasa.
3. Perbedaan grafik dan diagram adalah serta macam-macam diagram dalam
kestimbangan fasa di kelompokkan menjadi dua kelompok; (a) berdasarkan
bentuknya, diagram fasa dibedakan menjadi dua, yaitu:diagram fasa 2
dimensi, dan diagram fasa 3 dimensi, (b) berdasarkan jumlah komponen
penyusunnya, diagram fasa dibedakan menjadi tiga, yaitu: Diagram 1
komponen, 2 komponen, dan 3 komponen.
4. hukum-hukum yang berlaku di dalam kestimbangan fasa diantaranya; hokum
Roult yang menyatakan pada larutan ideal yang dalam keadaan seimbang
antara larutan dan uapnya, maka perbandingan antara tekanan uap salah satu
komponennya ( misal A) PA/PA sebanding dengan fraksi mol komponen (X A)
o

yang menguap dalam larutan pada suhu yang sama dan hokum Hendry yang
menyatakan pada temperatur konstan, jumlah gas yang terlarut dalam suatu
larutan akan berbanding lurus dengan tekanan parsial gas yang berada dalam
kesetimbangan larutan. Atau dapat juga dinyatakan kelarutan gas dalam cairan
berbanding lurus terhadap tekanan parsial gas diluar cairan

24

DAFTAR PUSTAKA
Atkins, PW. 1994, Physical Chemistry, 5th.ed. Oxford : Oxford University Press.
Hiskia Achmad, 1992, Wujud Zat dan Kesetimbangan Kimia. Bandung: Citra
Aditya Bakti.
Hiskia Achmad, 1996, Kimia Larutan. Bandung, Citra Aditya Bakti.
KH Sugiyarto, 2000, Kimia Anorganik I, Yogyakarta : FMIPA UNY.
M. Fogiel, 1992, The Essentials of Physical Chemistry II, New Jersey : Research
and Education Association.
Surdia NM, 1980, Kimia Fisika I (terjemahan Robert A. Alberty dan F Daniels),
cetakan ke 5, John Willey and Sons.
https://id.wikipedia.org/wiki/Diagram_fase. diakses 26 maret 2016.

25