Anda di halaman 1dari 6

TOLERANSI OSMOTIK ERITROSIT HEWAN POIKILOTERMIK DAN

HOMEOTERMIK TERHADAP BERBAGAI TINGKAT KEPEKATAN


MEDIUM
Marisanti
(130210103003)
Fisiologi Hewan C
Marisanti195@gmail.com
Abstrak
Percobaan tentang toleransi osmotik eritrosit hewan poikilotermik dan
homeotermik terhadap berbagai tingkat kepekatan medium, yang telah
dilaksanakan di Laboratorium Biologi Ruang 19, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Jember. Bahan yang digunakan adalah sel darah eritrosit
mencit (Mus musculus) dan Kadal (Mabouya multifasciata) dengan perlakuan
fisik dengan menetesi sel darah eritrosit mencit (Mus musculus) dan Kadal
(Mabouya multifasciata) dalam seri larutan garam fisiologis (0,7 %, 0,9 %, 1 %)
dan larutan aquades. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada larutan aquades
sel eritrosit mencit maupun kadal mengalami lisis, pada perlakuan larutan NaCl
dengan konsentrasi 0,9 sel eritrosit mencit mengalami lisis, pada konsentrasi 0,7
% keadaan sel eritrosit normal. Sedangkan pada sel eritrosit kadal normal pada
perlakuan larutan NaCl 0,7 % namun, pada konsentrasi 0,9 % mengalami
peristiwa lisis. Pada larutan NaCl 1 % sel eritrosit mengalami krenasi.
Kata Kunci : poikilotermik,
multifasciata,
eritrosit,

homeotermik

PENDAHULUAN
Semua partikel dalam larutan
karena energi kinetiknya selalu
dalam keadaaan terus bergerak.
Gerak partikel dalam larutan tersebut
dikenal sebagai gerak Brown. Dalam
larutan cair, molekul-molekul zat
terlarut secara konstan bertabrakan
dengan molekul zat pelarut, dan
energi kinetik yang diteruskan ke
partikel zat terlarut menyebabkannya
bergerak secara acak ke seluruh
larutan. Bila tidak ada faktor
eksternal pada larutan, arah gerak

Mus

musculus,

Mabouya

molekul zat terlarut adalah acak


(Soewolo, 2000 : 11).
Bila ada dua larutan yang
berbeda
konsentrasinya
ditaruh
dalam dua wadah yang dipisahkan
dengan membran yang permeabel
(dapat dilewati air dan zat terlarut),
maka jumlah zat terlarut yang
bergerak
dari
larutan
yang
berkonsentrasi tinggi ke konsentrasi
yang lebih rendah lebih banyak
daripada dari konsentrasi larutan
disebut difusi (Soewolo, 2000 : 11).
Membran
semipermeabel
adalah lembar tipis, berpori-pori

terbuat dari selulosa atau bahan


sintetik. Ukuran pori-pori membran
memungkinkan difusi zat dengan
berat molekul rendah seperti urea,
kreatinin, dan asam urat berdifusi.
Molekul air juga sangat kecil dan
bergerak bebas melalui membran,
tetapi kebanyakan protein plasma,
bakteri, dan sel-sel darah terlalu
besar untuk melewati pori-pori
membran. Perbedaan konsentrasi zat
pada dua kompartemen disebut
gradien konsentrasi (Supeno, 2010).
Pada perbatasan setiap sel,
membran
plasma
(plasma
membrane)
berfungsi
sebagai
perintang
selektif
yang
memungkinkan lalu-lintas oksigen,
nutrien, dan zat buangan yang cukup
untuk melayani keseluruhan sel
(Peraga
6.7).
untuk
setiap
mikrometer persegi membran, hanya
sejumlah kecil zat tertentu yang
dapat melintasi setiap detik, sehingga
rasio luas permukaan terhadap
volume merupakan hal yang kritis
(Campbell, dkk. 2008 : 107).
Seperti
molekul-molekul
kecil yang lain, molekul air juga
bergerak dari satu sisi membran ke
sisi yang lain secara difusi. Difusi air
melintasi membran yang permeabel
selektif disebut osmosis. Untuk
memahami osmosis, dapat digunakan
contoh berikut. Misalnya kita
mempunyai kantong yang bersifat
permeabel selektif yang dapat
dilewati air dengan bebas, tetapi
tidak dapat dilewati zat terlarut
dalam air. Kantung kita isi dengan air

dan garam dapur (NaCl), kemudian


kantung tersebut kita masukkan ke
dalam air suling dalam suatu bak.
Dengan perlakuan seperti itu akan
nampak bahwa kantung pelan-pelan
mengelembung karena air masuk ke
dalam kantung. Disisni terjadilah
aliran air dari daerah konsentrasi air
tinggi (di luar kantung) ke daerah
konsentrasi air rendah (di dalam
kantung). Karena kantung tersebut
terbuat dari membran permeabel
selektif, maka NaCI yang ada dalam
kantung tidak dapat menerobos
keluar membran, sehingga kantung
mengelembung (Soewolo, 2000 :
19).
Konsentrasi air diukur dari
jumlah molekul air per milimeter. Air
murni memiliki konsentrasi air lebih
tinggi daripada air garam, artinya
bahwa dalam satuan ukuran yang
sama, dalam air murni terdapat
molekul air lebih besar daripada
dalam
air
garam.
Perbedaan
konsentrasi
inilah
yang
menyebabkan terjadinya aliran air
tersebut (osmosis) (Soewolo, 2000 :
19).
Akibat masuknya air ke
dalam kantung permeabel, maka
terjadi peningkatan tekanan pada
membran. Peningkatan tekanan ini
disebut tekanan osmotik. Makin
tinggi perbedaan konsentrasi dua
larutan, makin tinggi pula tekanan
osmotiknya, dan makin cepat pula
aliran air berpindah dari konsentrasi
air ke tinggi ke konsentrasi air
rendah (Soewolo, 2000 : 19).

Tekanan osmotik penting misalnya


pada gerakan air melintasi kapiler
darah dalam jaringan tubuh. Jadi
osmosis membantu menyeimbangkan
konsentrasi air pada dua sisi
membran dan penting dalam
mekanisme homeostasis (Soewolo,
2000 : 19).
Sel darah merah/eritrosit
mempunyai membran sel yang
bersifat semi permiabel terhadap
lingkungan
sekelilingnya
yang
berada
diluar
eritrosit,
dan
mempunyai batas-batas fisiologi
terhadap tekanan dari luar eritrosit.
Tekanan membran eritrosit dikenal
dengan tonisitas yang berhubungan
dengan tekanan osmosis membran itu
sendiri.
Kekuatan
maksimum
membran eritrosit menahan tekanan
dari luar sampai terjadinya hemolisis
dikenal dengan kerapuhan atau
fragilitas
(Swenson,
2005)
(Siswanto, dkk. 2014).
Cairan ekstraseluler dengan
kandungan ion dan nutriennya
diperlukan
oleh
sel
untuk
mempertahankan kehidupan sel.
Semua sel hidup memerlukan
lingkungan (cairan) di sekitar sel,
sehingga cairan ekstra seluler disebut
lingkungan internal dalam tubuh. Sel
akan mampu untuk hidup, bertumbuh
dan berfungsi secara optimal
sepanjang tersedia oksigen, glukosa,
asam amino, ion, dan substansi
lemak dengan konsentrasi yang
cukup dalam lingkungan internal,
stabilitas lingkungan internal itu
dipertahankan oleh fungsi regulasi

dari ginjal (Guyton dan Hall, 2006)


(Anthara & Suartha, 2011).
Regulasi normal cairan dalam
tubuh
untuk
mempertahankan
keseimbangan
(homeostasis)
lingkungan internal banyak faktor
yang terlibat seperti kandungan
elektrolit cairan, asam basa cairan
tubuh, osmolalitas plasma, peranan
hormon (antidiuretik, angiotensin II)
dan pengeluaran Na dari ginjal
(Wingfield, 2009; Hartanto, 2007;
Einstein et al. 1995) (Anthara &
Suartha, 2011).
METODOLOGI PENELITIAN
Percobaan ini menggunakan
sel
darah
eritrosit
hewan
poikilotermik
(Mabouya
multifasciata) dan Homeotermik
(Mus musculus). Alat dan bahan yang
digunakan meliputi mikroskop, kaca
benda, kaca penutup, pipet tetes,
papan dan alat seksio, larutan NaCl
(0,7 %, 0,9 % dan 1 %), larutan
aquades.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
percobaan
menunjukkan
bahwa
umumnya
cairan eritrosit hewan poikilotermik
isotonis dengan 0,7 % NaCl dan
cairan eritrosit hewan homeotermik
isotonis dengan 0,9 % NaCl. Bila
eritrosit dimasukkan kedalam larutan
hipotonis, maka akan mengalami
lisis. Sebaliknya bila eritrosit
dimasukkan ke dalam cairan
hipertonis, maka akan terjadi krenasi.
Hasil pengamatan yang diperoleh

pada percobaan ini dapat dilihat pada


tabel berikut :
K kontrol
Aquades
1
Eritrosit
Mencit
400x

Eritrosit
Mencit
400x

Eritrosit
Kadal
1000x
NaCl
0,7 %

Eritrosit
Kadal
1000x
NaCl
NaCl
0,9 %
1%

Eritrosit
Mencit
400x

Eritrosi
t
Mencit
400x

Eritrosi
t
Mencit
400x

Eritrosit
Kadal
1000x

Eritrosi
t
Kadal
1000x

Eritrosi
t
Kadal
1000x

Eritrosit
Mencit
1000x

Eritrosi
t
Mencit
1000x

Eritrosi
t
Mencit
1000x

Pada
praktikum
ini
melakukan
percobaan
tentang
toleransi osmotik eritrosit hewan

poikilotermik dan homeotermik


terhadap berbagai tingkat kepekatan
medium. Perlakuan pertama yang
dilakukan
adalah
melakukan
pengambilah
sel eritrosit pada
mencit (Mus musculus). Langkah
kerja pertama adalah membunuh
mencit dengan cara dislokasi leher
(Cervical dislocation) kemudian
membedah mencit tersebut terlebih
dahulu selanjutnya mengambil sel
darah eritrositnya yang ditetesi pada
kaca benda dan ditutup dengan kaca
penutup serta diamati dibawah
mikroskop yang digunakan sebagai
kontrol. Selanjutnya mengambil sel
darah eritrosit mencit yang baru dan
diberi perlakuan yang ditetesi dengan
larutan aquades, dan peristiwa yang
terjadi adalah sel darah mengalami
lisis yaitu, karena sel eritrosit
dimasukkan kedalam larutan yang
hipotonis yaitu larutan aquades
sehingga zat pelarut masuk kedalam
eritrosit dan membran eritrosit tidak
mampu menahan tekanan zat pelarut
yang
masuk.
Untuk
langkah
selanjutnya adalah membius kadal
(Mabouya multifasciata) dengan
khloroform kemudian membedah
tubuh kadal dan mengambil sel
eritrositnya. Sel eritrosit tersebut
juga dilakukan perlakuan sama
seperti sel darah mencit tersebut.
Pertama diamati tanpa memberikan
perlakuan apapun pada sel eritrosit
kadal
sehingga
dilakukan
pengamatan dibawah mikroskop
yang digunakan sebagai kontrol.
Yang kedua sel eritrosit kadal ditetesi

dengan aquades dan hal sama sel


darah tersebut mengalami fenomena
lisis.
Pada perlakuan selanjutnya
menggunakan larutan NaCl dengan
berbagai tingkat kepekatan yaitu,
NaCl 0,7 %, NaCl 0,9 %, dan NaCl 1
%,. Darah yang digunakan pun sama
seperti perlakuan yang dilakukan
pada
pembahasan
sebelumnya
namun
pada
perlakuan
yang
membedakan adalah jenis larutan
yang ditetesi baik pada mencit (Mus
musculus) dan kadal (Mabouya
multifasciata). Pada sel eritrosit
mencit yang ditetesi dengan NaCl
0,7 % terjadi peristiwa lisis,
sedangkan sel eritrosit yang ditetesi
larutan NaCl 0,9 % sel eritrosit tidak
mengalami
perubahan
apapun
(normal). Pada sel eritrosit yang
ditetesi dengan larutan NaCl 1 %
mengalami
fenomena
krenasi.
Krenasi suatu peristiwa dimana sel
eritrosit dimasukkan ke dalam
larutan hipertonis, maka cairan akan
keluar dari dalam sel eritrosit.
Sel darah eritrosit kadal juga
ditetesi dengan NaCl 0,7 % namun
tidak terjadi apapun sel eritrosit tetap
seperti keadaan awal (normal), ketika
sel eritrosit ditetesi dengan NaCl 0,9
% terjadi peristiwa lisis, sedangkan
eritrosit yang ditetesi larutan NaCl 1
% maka fenomena krenasi terjadi.
Berdasarkan hasil dari percobaan
yang dilakukan maka toleransi
osmotik
eritrosit
hewan
poikilotermik (kadal) isotonis dengan
0,7
%
NaCl
dan
erittrosit

homeotermik
(mencit)
isotonis
dengan 0,9 % NaCl. Maka sel
eritrosit pada kadal lebih toleransi
terhadap larutan yang lebih encer
(NaCl 0,9 %) daripada garam
fisiologisnya, sedangkan sel eritrosit
mencit lebih toleran terhadap larutan
yang lebih pekat (NaCl 0,9 %)
daripada garam fisiologisnya.

KESIMPULAN
Maka dapat disimpulakan bahwa sel
eritrosit pada kadal lebih toleransi
terhadap larutan yang lebih encer
(NaCl 0,9 %) daripada garam
fisiologisnya, sedangkan sel eritrosit
mencit lebih toleran terhadap larutan
yang lebih pekat (NaCl 0,9 %)
daripada garam fisiologisnya.
DAFTAR PUSTAKA
Athara, I made Suma & I nyoman
Suartha. 2011. Homeostasis
Cairan Tubuh pada Anjing
dan Kucing. Jurnal Buletin
Veteriner Udayana Vol.3
No.1 ISSN : 2085-2495. Bali.
Campbell, A. Neil. Dkk. Biologi
Edisi ke Delapan Jilid 1.
Jakarta : Erlangga.
Siswanto. Dkk. 2014. Kerapuhan Sel
Darah Merah Sapi Bali.
Jurnal Veterinel Vol. 15 No.
1 : 64-67. Bali.
Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi
Hewan. Jakarta : Proyek
Pengembangan Guru
Sekolah Menengah IBRD
Loan No. 3979.

Supeno, Bambang. 2010. Studi Cara


Kerja Hemodialisa Elektronik
Ditinjau Dari Sudut Pandang
Asuhan Keperawatan. Jurnal
Rekayasa Vol. 7 No. 2 ISSN :
1693-9816.