Anda di halaman 1dari 15

TUGAS KELOMPOK IV

KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMENT DALAM


KEPERAWATAN
(PERAN PEMIMPIN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN)
DISUSUN OLEH :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

NURAFNI SUID
NURMIN ABAS
NURUL KH PODUNGGE
PIAN USMAN
RAHMATIYA THALIB
RESETIA GUNAWAN MATODJO
RIAN RIFALDI KADULAH
RINDI BELLA PUTRI TINUMBIA
RISKA USMAN
IIIA DIV KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO


T.A 2015/2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT, yang telah memberikan
rahmatnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah manajemen dan kepemimpinan dlm
keperawatan

ini yang berjudul PERANPEMIMPIN DALAM PENGAMBILAN

KEPUTUSAN.
Penulisan makalah ini adalah untuk bisa menambah nilai tugas kami. Dalam
penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan, mengingat akan
kemampuan yang di miliki penulis terbatas. Untuk itu penulis mohon maaf.
Dalam Penilisan makalah ini penulis menyampaikan terimakasih kepada pihak-pihak
yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Gorontalo, Oktober 2015

Kelompok IV

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
Kata Pemgantar.........................................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Tujuan...........................................................................................................1
BAB II Pembahasan
2.1 Perilaku individu dalam pengambilan keputusan..................................................2
2.2 Strategi pengambilan keputusan............................................................................2
2.3 Proses Pengambilan keputusan...........................................................................2
2.4 Gaya pengambilan keputusan.............................................................................2
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan..........................................................................................................3
3.2 Saran.................................................................................................................................3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Dalam kerangka manajemen, kepemimpinan merupakan sub sistem
dari pada manajemen. Karena mengingat peranan vital seorang pemimpin
dalam menggerakan bawahan dalam pengambilan keputusan , maka timbul
pemikiran di antara para ahli untuk bisa jauh lebih mengungkapakan
peranan apa saja yang menjadi beban dan tanggung jawab pemimpin dalam
mempengaruhi bawahannya.
Bicara tentang kepemimpinan banyak para ahli memberikan definisi
tentangnya.

Sehingga,

salah

seorang

ahli

menyimpulkan

bahwa

Kepemimpinan merupakan salah satu fenomena yang paling mudah


di

observasi

dipahami

tetapi

(Richard

menjadi
L.

salah

Daft,1999).

satu

hal

yang

Mendefinisikan

paling

sulit

kepemimpinan

merupakan suatu masalah yang kompleks dan sulit, karena sifat dasar
kepemimpinan

itu

sendiri

memang

sangat kompleks. Akan tetapi,

perkembangan ilmu saat ini telah membawa banyak kemajuan sehingga


pemahaman tentang kepemimpinan menjadi lebih sistematis dan objektif.
Dalam hubungannya dengan dinamika organisasi, maka kepemimpinan tidak
bisa

lepas

dari

pembagiannya

serta

keterkaitannya

dengan

pengambilan keputusan, mengelola konflik dan membangun tim .


1.2 Tujuan
Mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan perilaku individu dalam pengambilan keputusan
2. Mengidentifikasi strategi pengambilan keputusan
3. Menjelaskan proses pengambilan keputusan
4. Menjelaskan gaya pengambilan keputusan

BAB II
PEMBAHASAN

aspek

2.1 Perilaku Individu Dalam Pengambilan Keputusan


Salah satu peran dan fungsi seorang pemimpin adalah penentu keputusan bagi sebuah
komunitas atau sebuah organisasi. Maka seorang atau sekelompok pemimpin dituntut oleh
statusnya untuk memiliki kemampuan yang baik dalam pengambilan keputusan. Kemampuan
yang baik dalam pengambilan keputusan harus tercermin pada tiga hal: cara, hasil
keputusan dan kemampuan menyampaikan hasil keputusan.
Pemberian wewenang adalah wujud dari keinginan berkontribusi dari bawahan dalam
pemberian keputusan sehingga dengan pengontrolan adalah wujud dari kontribusi bawahan
terhadap pengambilan keputusan. Kontribusi yang diberikan kepada pemimpin tujuan
akhirnya bukan kepada pemimpin itu sendiri, melainkan kontribusi terhadap usaha
mewujudkan nilai-nilai dan cita-cita organisasi atau komunitas. Oleh karena itu proses
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin harus dipastikan selaras dengan nilainilai dan cita-cita organisasi atau komunitas. Maka menjadi jelas bahwa proses pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh pemimpin harus transparan dan dapat diukur. Proses
pengambilan keputusan yang tidak transparan dan tidak terukur secara hakiki menjadi proses
pembusukan sebuah organisasi atau sebuah komunitas. Dan secara khusus akan menjadi
proses pengeroposan kepemimpinan itu sendiri. Pengeroposan ini akan menjadikan
kepemimpinan kehilangan legitimasi. Dan ketika kepemimpinan kehilangan legitimasi, maka
kecenderungannya adalah gaya kepemimpinan semakin otoriter.
Untuk menghasilkan proses pengambilan keputusan yang baik, yang transparan dan
terukur, pemimpin harus menetapkan mekanisme dan nilai-nilai acuan pengambilan yang
dapat diakses oleh orang-orang yang dipimpin. Akses terhadap mekanisme dan nilai-nilai
yang menjadi acuan dalam pengambilan keputusan ini akan memungkinkan terjadinya
kontribusi dan partisipasi yang lebih intens. Kontribusi dan partisipasi yang lebih intens ini
akan semakin memperkokoh legitimasi pemimpin dan kualitas keputusan-keputusan yang
dihasilkannya.
Pada akhirnya, keputusan yang baik adalah keputusan yang dapat dimengerti oleh orangorang yang dipimpin. Pengambilan keputusan merupakan salah satu fungsi dari seorang
pemimpin. Pengambilan keputusan merupakan proses penerjemahan dari sebuah keinginankeinginan berbagai pihak. Pengambilan keputusan adalah soal yang berat karena sering
menyangkut kepentingan banyak orang.Tidak ada sesuatu yang pasti dalam pengambilan

keputusan . Pemimpin harus memilih di antara alternatif yang ada dan kemungkinan
implikasi atau akibat suatu pengambilan keputusan tertentu.
Pengambilan keputusan pada hakekatnya adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap
hakekat suatu masalah . Pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari
alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan tindakan yang menurut perhitungan
merupakan tindakan yang paling tepat. Dari pengertian ini dapat diartikan beberapa hal.
Dalam proses pengambilan keputusan tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan.
Pengambilan keputusan harus didasarkan kepada sistematika tertentu, antara lain : dengan
mempertimbangkan kemampuan organisasi, personnel yang tersedia, situasi lingkungan yang
akan digunakan untuk melaksanakan keputusan yang diambil.
Sebelum suatu masalah dapat dipecahkan dengan baik, hakekat dari masalah tersebut
harus diketahui dengan jelas.
Pemecahan masalah tidak dapat dilakukan dengan coba-coba tetapi harus didasarkan pada
fakta yang terkumpul secara sistematis, baik dan dapat dipercaya.
Keputusan yang baik adalah keputusan yang diambil dari berbagi alternatif yang ada
setelah alternatif-alternatif itu dianalisa secara matang.

2.2 Strategi Pengambilan Keputusan

Esensi dari sebuah pengambilan keputusan adalah proses penentuan pilihan (Sharf,
1992:303). Secara alami, manusia akan diperhadapkan kepada berbagai pilihan dan secara
alami juga ia dilatih mengambil keputusan dari pilihan-pilihan hidup yang dialaminya. Oleh
karena itu sesungguhnya manusia akan terus menerus menentukan pilihan hidup dari waktu
ke waktu sampai akhir kehidupan. Proses inilah yang disebut dengan pengambilan keputusan
(Sharf, 1992 : 303). Jadi, esensi dari sebuah pengambilan keputusan adalah proses penentuan
pilhan. Hanya saja pada kenyataannya ada individu yang mampu dengan tepat mengambil
keputusan ada juga yang tidak mampu.
Kenyataan ini terjadi karena berbagai hal. Kenyataan seperti ini terjadi mungkin
disebabkan oleh kesalahan strategi yang digunakannya. Oleh sebab itu pada bagian ini
dikemukakan strategi pengambilan keputusan, yang di dalamnya dibahas tentang tipe strategi
pengambilan keputusan, mengantisipasi sebuah pilihan, dan tahapan pengambilan keputusan.
Menurut Dinklage (Sharf, 1992 : 305) ada delapan tipe strategi pengambilan keputusan.
Empat strategi merupakan cara yang tidak menghasilkan suatu keputusan keputusan, yakni
tipe delaying, fatalistic, compliant, dan tipe paralytic. Empat tipe lainnya dipandang sebagai
cara yang efektif dalam mengambil keputusan, yakni tipe intuitive, impulsive, agonizing, dan
tipe planful.
1. Delaying
Pada prinsipnya tipe strategi ini merupakan salah satu dari model penangguhan atau semacam
prokrastinasi. Individu memutuskan bahwa ia akan mengambil keputusan pada waktu yang
lama. Termasuk dalam contoh strategi ini adalah siswa yang menunggu sampai kesempatan
paling akhir dalam menyelesaikan tugas dan dibiarkannya tugas itu berlarut-larut sampai
kehabisan waktu sehingga tugasnya tidak sempat dikumpulkan.
2. Fatalistic
Tipe ini merupakan salah satu tipe yang tidak menentukan piihan. Individu dengan tipe ini
tidak melakukan aksi apapun terhadap pilihan-pilihan yang ada. Misalnya, siswa bangun tidur
kesiangan dan waktu masuk sekolah tinggal 20 menit lagi. Dalam menghadapi situasi ini ia
berpikir dalam waktu 20 menit tidak mungkin cukup untuk mandi, shalat sudah kesiangan,
dan jalan ke sekolah 10 menit. Lalu ia memutuskan untuk berdiam saja. Padahal pada situasi

seperti ini mungkin tidak usah mandi yang penting cuci muka dan merapikan badan, lalu
wudlu dan shalat, setelah itu cari ojeg tercepat, atau lari untuk pergi kesekolah tepat waktu.
3. Compliant
Tipe strategi ini terjadi jika seseorang mengalah pada rencana pihak lain yang telah membuat
keputusan untuknya. Ia sangat pasif atau terbebani oleh otoritas figur. Contoh yang amat
klasik antara lain: orang tua memutuskan anaknya untuk menjadi doctor tetapi anaknya tidak
mau masuk dunia kedokteran.
4. Tipe Paralytic
Tipe strategi terjadi ketika seseorang sangat takut atau sangat cemas untuk membuat suatu
keputusan. Ia merasa tidak mampu memutuskan. Ia mungkin merasa tertekan atau didesak
oleh dirinya sendiri atau orang lain untuk membuat keputusan, tetapi takut oleh konsekuensi
dari keputusan yang diambilnya.
5. Intuitive
Strategi intuitif merupakan strategi dalam membuat keputusan yang berdasarkan pada
perasaan dari pada pemikiran. Hasilnya disebut keputusan intuitif. Keputusan ini mungkin
tepat, tetapi tidak disertai atas hasil analisis keunggulan diri seperti bakat, kemampuan, minat,
dan lainlain.
6. Impulsive
Strategi impulsif adalah proses pengambilan keputusan yang tidak mempertimbangkan
alternatif lain. Pada strategi ini individu begitu menggebu-gebu pingin langsung mengambil
keputusan tertentu. Ia tidak mengidentipikasi dan menganalisis alternatif lain.
7. Agonizing
Agonize berarti menyakitkan sekali. Strategi agonizing berarti strategi pengambilan
keputusan yang hasilnya sangat mungkin menyakitkan atau membuat orang kepayahan
ataucapediakrenakan kurang memiliki informasi yang lengkap tentang keputusan yang
diambilnya. Misalnya, seseorang yang paham betul bahwa dirinya ingin menjadi seorang

teknokrat, tetapi ia tidak memahami cabang-cabang keteknikan, teknik apa yang harus
diambil. Mungkin ia memperoleh tentang spesialisasi keteknikan dari sekolah tetapi tidak
lengkap.
8. Planful
Pada strategi ini, individu dapat membuat perencanaan ketika mengambi keputusan. Ia
memutuskan atas dasar perencanaannya itu. Ia mempertimbangkan baik perasaan maupun
pengetahuan tentang kemampuan, bakat, minat, dan nilai-nilai dalam membuat suatu
keputusan, termasuk keputusan karier.

2.3 Proses Pengambilan Keputusan


Secara umum proses pengambilan keputusan terdiri atas 3 tahap, antara lain sebagai berikut :
Proses pengambilan keputusan terdiri dari 3 tahap yaitu penemuan masalah, pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan.
a.

Penemuan masalah

Tahap ini merupakan tahap untuk mendefinisikan masalah dengan jelas, sehingga perbedaan
antara masalah dan bukan bukan masalah ( misalnya isu) menjadi jelas. Sehingga masalah
yang dihadapi dapat di cari model dan jalan keluar yang sesuai.
b.

Pemecahan Masalah

Tahap ini merupakan tahap penyelesaian terhadap masalah yang sudah ada atau sudah jelas.
Langkah-langkah yang diambil adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi alternatif-alternatif keputusan untuk memecahkan masalah
2. Perhitungan mengenai faktor-faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya atau di
luar jangkauan manusia, identifikasi peristiwa-peristiwa di masa datang (state of
nature)
3. Pembuatan alat (sarana) untuk mengevaluasi atau mengukur hasil, biasanya berbentuk
tabel hasil (pay off table)
4. Pemilihan dan penggunaan model pengambilan keputusan.
c.

Pengambilan keputusan

Keputusan yang diambil adalah berdasarkan pada keadaan lingkungan atau kondisi yang ada,
seperti kondisi pasti, kondisi beresiko, kondisi tidak pasti, dan kondisi konflik.
Beberapa pendapat mengenai proses pengambilan keputusan yang dikemukakan oleh:
a.

Herbert A simon

b.

Richard I. Levin

c.

Sir Francis Bacon

d.

Prof. Dr. Mr. S Prajudi Atmosudirjo

a.

Herbert A. Simon
Menurut Herbert A. Simon proses pengamblan keputusan dibagi menjadi 3 fase yaitu

1) Fase Intelijensia
Fase ini merupakan informasi untuk keadaan yang memungkinkan dalam rangka
pengambilan keputusan
2) Fase Disain
Fase ini merupakan kegiatan perencanaan dalam pengambilan dari keputusan terdiri
dari :
a). Identifikasi masalah
b). Formulasi masalah
3) Fase Pemilihan
Fase ini merupakan fase seleksi alternatif atau tindakan.

b.

Menurut Richard I. Levin

Menurut Richard I. Levin proses pengambilan keputusan terdiri dari 6 tahap yaitu :
1) Observasi
Tahap ini berupa (aktifitas proses) kunjungan lapangan, konprensi, observasi, dan
riset yang dapat menjadi informasi dan data penunjang
2) Analisis dan pengenalan masalah
Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) penentuan penggunaan, penentuan tujuan,
dan penentuan batasan-batasan yang dapat menjadi pedoman atau petunjuki yang jelas
untuk mencari pemecahan yang dibutuhkan.
3) Pengembangan Model
Tahap ini dapat berupa (aktivitas proses) peralatan pengambilan keputusan antar
hubungan model matematik, riset yang dapat menjadi (output proses) model yang
berfungsi di bawah batasan lingkungan yang telah ditetapkan.
4) Memilih data masukan yang sesuai
Tahap ini dapat berupa data internal dan ekternal, kenyataan, pendapat, serta data
bank computer yang dapat menjadi (output process) input yang memadai untuk
mengerjakan dan menguji model yang digunakan.
5) Perumusan dan pengetesan yang dapat dipertanggungjawabkan
Tahap ini berupa pengujian, batasan, dan pembuktian yang dapat menjadi pemecahan
yang membantu pencapaian tujuan.
6) Penerapan Pemecahan
Tahap ini berupa pembahasan perilaku, pelontaran ide, pelibatan manajemen, serta
penjelasan yang menjadi pemahaman manajemen untuk menunjang model operasi
dalam jangka yang lebih panjang.

c.

Menurut Sir Francis Bacon

Menurut Sir Francis Bacon proses pengambilan keputusan terdiri dari 6 tahap yaitu :
1) Merumuskan/mendefinisikan masalah
Tahap ini merupakan usaha untuk mencari permasalahan yang sebenarnya
2) Pengumpulan informasi yang relevan
Tahap ini merupakan pencarian faktor-faktor yang mungkin terjadi sehingga dapat
diketahui penyebab timbulnya masalah.
3) Mencari alternatif tindakan
Tahap ini merupakan pencarian kemungkinan yang dapat ditempuh berdasarkan data
dan permasalahan yang ada.
4) Analisis Alternatif
Tahap ini merupakan analisis terhadap setiap alternative menurut krietria tertentu
yang sifatnya kualitatif dan kuantitatif
5) Memilih alternatif terbaik
Tahap ini merupakan pemilihan alternative terbaik yang dilakukan atas kriteria dan
skala prioritas tertentu
6) Melaksanakan keputusan dan evaluasi hasi;
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dan pengambilan tindakan. Umumnya
tindakan ini dituangkan ke dalam rencana tindakan. Evaluasi hasil memberikan
masukan/umpan balik yang berguna untuk memperbaiki suatu keptusan atau
mangubah tujuan semula karena telah terjadi perubahan-perubahan.

d.

Prof. Dr. Mr. S. Prajudi Atmosudirjo

Menurut Prof. Dr. Mr. S Prajudi Atmosudirjo proses pengambilan keputusan terdiri
dari 5 tahap yaitu :
1) Seseorang mula-mula harus menyadari dan menempatkan diri sebagai pimpinan
dalam organisasi dan bertanggung jawab sebagai pimpinan organisasi serta harus
memutuskan sesuatu jika dalam organisasi tersebut muncul masalah
2)

Masalah yang dihadapi, terlebih dahulu harus ditelaah, mengingat masalah

tersebut memiliki macam-macam sifat, bentuk dan kompleksitasnya.


3) Setelah ditelaah, kemudian harus dianalisis situasi yang mempengaruhi organisasi
dan masalahnya
4) Menelaah keputusan yang dibuatnya, terutama yang ditelaah adalah alternatifalternatif yang dikemukakan dengan konsekuensi masing-masing untuk kemudian
dipilih satu di antara alternative-alternatif tersebut yang dianggap paling tepat.
5)

Setelah

keputusan

diambil,

kemudian

keputusan

itu

dilaksanakan.

Keberhasilannya tergantung pada jiwa dan manajemen dari kepemimpinan.

2.4 Gaya Pengambilan Keputusan


Secara teoritis ada 4 gaya pengambilan keputusan yang biasanya dilakukan oleh seorang
pemimpin. Keempat gaya tersebut adalah:
1. Gaya Direktif
Cenderung

bersifat

efisien,

logis,

pragmatis,

sistematis

dalam

memecahkan masalah
Berfokus pada fakta dan penyelesaian masalah secara lebih cepat

Cenderung berfokus jangka pendek


Gemar menggunakan kekuasaan,

ingin

menggambarkan kekeuasaan yang otokratik.

2. Gaya Analitik

dan

Hasil keputusan didasarkan atas inputan hasil analisis

mengontrol,

secara

umum

Lebih banyak mempertimbangkan beragam informasi dan alternetif dibandingkan

gaya direktif
Pengambilan keputusan diambil dalam jangka waktu agak lama
Menggambarkan
pemimpin
yang

otokratik

3. Gaya Konseptual

Memecahkan

Suka mempertimbangkan banyak pilihan dan kemungkinan masa depan


Melibatkan banyak orang untuk memperoleh beragam informasi dan banyak

menggunakan intuisi dalam peng keputusan


Berani mengambil resiko dan seringkali menemukan solusi yang kreatif
Ketidakpastian
dalam
pengambilan

masalah

dengan

pandangan

yang

luas

keputusan

4. Gaya Perilaku

Cenderung bekerja dengan orang lain dan terbuka dalam pertukaran pendapat
Cenderung menerima saran, sportif dan bersahabat
Suka informasi yang verbal dan menghindari konflik serta peduli pada kebahagiaan

org lain
Terkadang, keputusannya tidak tegas dan sulit mengatakan tidak jika keputusan
tersebut akan berdampak kerugian pada orang lain.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Peran seorang pemimpin diambil dalam pengambilan keputusan sangat diperlukan.


diperlukan pengetahuan dan keilmuan tentang kepemimpinan, sehingga
seseorang yang ditakdirkan menjadi pemimpin tidak gagap dan bingung
dengan jabatannya. Pengambilan keputusan pada hakekatnya adalah suatu pendekatan
yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah . Pengumpulan fakta-fakta dan data,
penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan tindakan yang
menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat

3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini kami sadar bahwa makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Maka dari itu saya mengharapkan dan saya menerima dengan tangan
terbuka masukan ataupun saran yang dapat mendukung dan membangun demi
kesempurnaan pembuataan makalah ini dari pembaca.