Anda di halaman 1dari 3

Nama

: Shofi Fajriah Ilmi


NIM
: G44110014
Dosen pengampu
: M Rafi S.Si, M.Si
Tugas resume metode High Througput Screening (HTS)
High Throughput Screening (HTS) adalah salah satu metode alternatif cara yang paling
efektif dan efisien untuk melakukan penapisan (seleksi), mengetahui potensi suatu
mikroorganisme (bakteri, actinomycetes, fungi maupun yeast) dalam jumlah besar serta
memperoleh hasil dengan cepat. Metode ini banyak digunakan dalam penelitian bidang
biokimia, khususnya untuk pencarian senyawa bioaktif yang dihasilkan oleh suatu
mikroorganisme sebagai bahan obat baru bagi dunia farmasi dan kesehatan. Sistem HTS
menyediakan titik awal untuk melakukan desain obat dan memahami interaksi maupun
peranan dari satu proses biokimia pada suatu fenomena biologis. Instrumen pendukung teknik
HTS terdiri atas microplate titter sebagai pelat pengujian/tempat untuk melakukan reaksi
biokimiawi antara cairan sampel yang dianalisis dengan pereaksi kimia dan buffer, perangkat
lunak pengolah data dan perangkat kontrol otomatis, dan microplate reader yang dilengkapi
dengan detektor yang sensitif terhadap reaksi biokimiawi yang terjadi berdasar reaksi
perubahan warna maupun kekeruhan. Microplates titer yang digunakan mempunyai jumlah
sumur atau lubang sebanyak 384, 1536 atau 3456. Jumlah lubang merupakan kelipatan dari
96 yang mencerminkan 96 sumur asli microplate titer dengan ukuran tiap-tiap lubang 8
x129mm.
Metode deteksi pada HTS diantaranya, spektroskopi, spektrometri massa, kromatografi,
kalorimetri, difraksi sinar X, Surface plasmon resonance, mikroskopi, metode radioaktif.
Metode yang dibahas adalah metode spektroskopi fluoresens dan spektroskopi luminesens.

Prinsip kerja metode HTS ini dilihat dari parameter yang diukur, yaitu fluoresens yang
terjadi setelah sampel dianalisis dan direaksikan. Terjadinya perubahan warna oleh
microplate reader dengan bantuan software pengolah data diinterpretasikan sebagai nilai
absorbans. Nilai absorbans adalah nilai yang menunjukkan jumlah partikel sinar UV/Visible
maupun floresens yang dilepaskan oleh sumber cahaya microplate reader dan mampu diserap
oleh partikel warna dari suatu sampel. Semakin tinggi fluoresensi yang dihasilkan maka
semakin tinggi nilai absorbansi yang tinggi. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin
tinggi potensi dari suatu analit dalam menghasilkan suatu senyawa bioaktif yang memiliki
aktivitas farmakologis. Agar diperoleh hasil analisis HTS yang akurat maka selain melakukan

analisis terhadap analit, juga dilakukan pengukuran terhadap suatu standar yang telah
diketahui konsentrasinya.
Secara umum, metode HTS digunakan untuk proses penapisan awal terhadap ribuan
bahkan jutaan analit dalam sekali pelaksanaan kerja. Setelah melalui proses penapisan awal
dengan metode HTS, selanjutnya analit yang terpilih kemudian dapat dioptimasikan dengan
malakukan analisis lanjutannya dengan beberapa alat lain seperti spektrofotometri, HPLC
(High Performance Liquid Chromatography), GC (Gas Chromatography) maupun analisis
molekular dengan PCR (Polymerase Chain Reaction). Teknik HTS juga mendukung dalam
proses identifikasi dan pengungkapan potensi mikroba yang menghasilkan senyawa bioaktif.
Aplikasi metode spektroskopi fluoresens:
1. Fluorescence Polarisation (FP)
FP (Fluoresensi polarisasi) dapat
mengukur pengikatan molekul kecil
dengan protein yang jauh lebih besar.
Menurut teori FP, molekul yang tidak
berikatan
dengan
tracer
akan
menunjukkan polarisasi yang lebih
rendah, karena molekul terikat jatuh
lebih cepat.
2. Fluorescence correlation spectroscopy (FCS)
Berdasarkan fluktuasi sinyal fluoresens
yang disebabkan hamburan dari molekul
tunggal.
Aplikasinya
diantara
lain
untuk
menginvestigasi
biomolekul
pada
konsentrasi sangat rendah (tingkat
molekul tunggal) pada permukaan,
dalam larutan, dan sel-sel hidup,
digunakan dalam tes mengikat dan tes
enzimatik, dinamika struktur dan
molekul protein dalam in vivo dan in
vitro, penemuan obat, dan transportasi
protein