Anda di halaman 1dari 2

Metode Juhasz

Dalam

perkembangan

metode water saturation,

terdapat

beberapa

trend

atau

kecenderungan yang terbentuk dalam perkembangannya. Hal ini juga sangat berkaitan dengan perkembangan Well Logging hingga saat ini . Kecenderungan yang pertama, Sebelum tahun 1950-an banyak metode water saturation berfokus pada clean sand formation yang muncul pada tahun-tahun awal munculnya metode water saturation (Worthington, P. F., 1985). Setelah itu pada tahun-tahun berikutnya atau 1950-an keatas banyak bermunculan metode water saturation berfokus pada shaly sand formation dengan model atau konsep dasar perhitungan volume kandungan shale atau Vsh (Worthington, P.F., 1985). Pada tahun-tahun selanjutnya metode water saturation masih berfokus pada shaly sand formation tetapi dengan konsep atau pendekatan yang berbeda, yaitu dengan konsep CEC (Cation Exchange Capacity) suatu pendekatan dengan melihat pertukaran ion yang terjadi pada shaly sand formation.

Shaly Sand Formation adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu formasi tidak hanya mengandung pasir saja, tetapi terdapat shale pada kandungan pasirnya (Crain, E. R., 2012). Pada shaly-sand formation perhitungan nilai saturasi air yang akan dilakukan cenderung lebih sulit jika dibandingkan dengan yang dilakukan pada clean formation. Hal ini terjadi karena shale yang hadir dalam suatu formasi dapat menyebabkan perubahan pembacaan nilai pada saat dilakukan pengukuran dengan menggunakan logging sehingga perlu dilakukannya koreksi. Kehadiran shale pada suatu reservoar dapat berdampak pada beberapa hal berikut ini (Kurniawan, 2005)

Metode Juhasz merupakan penyempurnaan dari metode Waxman-Smiths. Persamaan Waxman-Smits yang merupakan persamaan semi-empiris (kombinasi eksperimen dan pertimbangan teoritis). Berbagai eksperimen di lab untuk mendapatkan persamaan empiris secara langsung dari hubungan resistivitas, porositas dan saturasi di shaly sand belum pernah memberi hasil yang meyakinkan. Hal ini disebabkan oleh dua hal utama:

1. Sukar mensimulasi kondisi P dan T untuk fluida dari reservoir dan respon

dari tools seperti kondisi di bawah permukaan.

2. sukar mencapai Sw yang rendah pada sampel pada saat eksperimen (paling bisa

cuma sampai 20-30%) isu kapileritas.

Fakta ini yang mengharuskan kita membuat ekstrapolasi hasil lab agar dapat mencapai kondisi Sw terendah di setiap P dan T yang berbeda. Ektrapolasi ini lah yang dimodelkan secara matematis (teoritis) oleh Waxman dan Smits.

Modifikasi utama model Archie menjadi model WS adalah kehadiran elemen B.Qv di dalam persamaannya. (B.Qv) adalah kondutivitas lempung, sering disingkat Ce. Sementara B sendiri merupakan fungsi dari resistivitas air (Rw) dan Temp. Elemen lainnya, Qv adalah CEC

dalam satuan volume (ingat: CEC dalam meq/100g dan Qv dalam meq/ml). CEC didapat dari core. Selama beberapa tahun model WS tidak bisa memberi jawaban yang memuaskan. Sehingga Juhasz dalam publikasinya di SPWLA (1981) dengan gamblang memberi jawaban sederhana; jika tidak ada core, maka Qv dapat hitung dari fitting persamaan WS dengan resistivitas di zone air (water bearing) terdekat. Kemudian hitung Qv di shaly sand tersebut dengan mengalikan Qv di 100% shale (pure shale) dengan Vsh-nya. Qv ini disebut "normalized Qv", Qvn.

https://www.mail-archive.com/iagi-net@iagi.or.id/msg18669.html