Anda di halaman 1dari 17

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA
1.1

Definisi
Retensio plasenta adalah keadaan dimana plasenta belum lahir
selama setengah jam setelah janin lahir (Maryunani,dkk., 2009). Retensio
Plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah jam
setelah persalinan bayi. (Manuaba, 2010).
Retensio plasenta adalah tertahannya atau belum lahirnya plasenta
hingga atau melebih waktu 30 menit setelah bayi lahir. Hampir sebagian
besar gangguan pelepasan plasenta disebabkan oleh gangguan kontraksi
uterus (Prawiroharjo, 2008).
Retensio plasenta adalah plasenta yang tidak terpisah dan
menimbulkan hemorrhage yang tidak tampak, dan juga didasari pada
lamanya waktu yang berlalu antara kelahiran bayi dan keluarnya plasenta
yang diharapkan. Beberapa ahli klinik menangani setelah 5 menit.
Kebanyakan bidan akan menunggu satu setengah jam bagi plasenta untuk

1.2

keluar sebelum menyebutnya tertahan (Varneys, 2007).


Etiologi
Retained placenta occurs when the retro-placental myometrium
fails to contract. There is evidence that this may also occur during labour
leading to dysfunctional labour. It is likely that this is caused by the
persistence of one of the placental inhibitory factors that are normally
reduced prior to the onset of labour, possibly progesterone or nitric oxide.
(Afr Health Sci, 2001)
1.2.1 Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena melekat dan
tumbuh lebih dalam. Menurut tingkat perlekatannya:
A. Bila plasenta belum lepas sama sekali, tidak akan terjadi
perdarahan tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas maka
akan

terjadi

perdarahan.

Ini

indikasi

untuk

segera

mengeluarkannya.
B. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih
atau rektum penuh. Oleh karena itu keduanya harus
dikosongkan.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

C. Melalui periksa dalam/tarikan pada tali pusat dapat diketahui


apakah plasenta sudah lepas atau belum, dan bila lebih dari
1.2.2

30 menit maka dapat dilakukan plasenta manual.


Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim, namun belum keluar
karena atoni uteri atau adanya konstriksi pada bagian bawah rahim
(akibat kesalahan penanganan kala 3) yang akan menghalangi

plasenta keluar (palsenta inkarserata). (Maryunani,dkk., 2009).


Secara fungsional retensio plasenta dapat terjadi karena his kurang kuat
(penyebab terpenting), dan plasenta sukar terlepas karena tempatnya
(insersi di sudut tuba), bentuknya (plasenta membranasea, plasenta
anularis), dan ukurannya (plasenta yang sangat kecil). Plasenta yang sukar
lepas karena penyebab diatas disebut plasenta adhesive. (Rukiyah,dkk.,
1.3

2010)
Patofisiologi
Setelah bayi dilahirkan, uterus secara spontan berkontraksi.
Kontraksi dan retraksi otot-otot uterus menyelesaikan proses ini pada akhir
persalinan. Sesudah berkontraksi, sel miometrium tidak relaksasi,
melainkan menjadi lebih pendek dan lebih tebal. Dengan kontraksi yang
berlangsung kontinyu, miometrium menebal secara progresif, dan kavum
uteri mengecil sehingga ukuran juga mengecil. Pengecian mendadak
uterus ini disertai mengecilnya daerah tempat perlekatan plasenta
(Prawirohardjo, 2008).
Ketika jaringan penyokong plasenta berkontraksi maka plasenta
yang tidak dapat berkontraksi mulai terlepas dari dinding uterus. Tegangan
yang ditimbulkannya menyebabkan lapis dan desidua spongiosa yang
longgar memberi jalan, dan pelepasan plasenta terjadi di tempat itu.
Pembuluh darah yang terdapat di uterus berada di antara serat-serat otot
miometrium yang saling bersilangan. Kontraksi serat-serat otot ini
menekan pembuluh darah dan retraksi otot ini mengakibatkan pembuluh
darah terjepit serta perdarahan berhenti (Prawirohardjo, 2008).
Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah sering ada pancaran darah
yang mendadak, uterus menjadi globuler dan konsistensinya semakin
padat, uterus meninggi ke arah abdomen karena plasenta yang telah
berjalan turun masuk ke vagina, serta tali pusat yang keluar lebih panjang

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

(Manuaba, 2010). Sesudah plasenta terpisah dari tempat melekatnya maka


tekanan yang diberikan oleh dinding uterus menyebabkan plasenta
meluncur ke arah bagian bawah rahim atau atas vagina. Kadang-kadang,
plasenta dapat keluar dari lokasi ini oleh adanya tekanan inter-abdominal.
Namun, wanita yang berbaring dalam posisi terlentang sering tidak dapat
mengeluarkan plasenta secara spontan. Umumnya, dibutuhkan tindakan
artifisial untuk menyempurnakan persalinan kala tinggi. Metode yang
biasa dikerjakan adalah dengan menekan dan mengklovasi uterus,
bersamaan dengan tarikan ringan pada tali pusat.
Sebab plasenta belum lahir bisa oleh karena plasenta belum lepas
dari dinding uterus dan plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan.
Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan. jika
lepas sebagian, terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk
mengeluarkannya. Plasenta belum lepas dari dinding uterus karena
kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta (plasenta
adhesiva) serta plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili
korialis menembus desidua sampai miometrium sampai di bawah
peritoneum (plasenta akreta-perkreta). Plasenta yang sudah lepas dari
dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkan oleh tidak adanya
usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III, sehingga
terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi
1.4

keluarnya plasenta (inkarserasio plasenta).


Klasifikasi
Retensio plasenta terdiri dari beberapa jenis, antara lain :
1.4.1 Plasenta adhesiva adalah implantasi yang kuat dari jonjot korion
plasenta sehingga menyebabkan kegagalan mekanisme separasi
1.4.2

fisiologis.
Plasenta
implantasi
plasenta

akreta
jonjot
hingga

adalah
korion
mencapai

sebagian lapisan miometrium.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

1.4.3

Plasenta inkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta hingga

1.4.4

mencapai/melewati lapisan miometrium.


Plasenta perkreta adalah implantasi jonjot korion plasenta yang
menembus lapisan miometrium hingga mencapai lapisan serosa

1.4.5
1.5

dinding uterus.
Plasenta inkarserata adalah tertahannya plasenta di dalam kavum

uteri, disebabkan oleh konstriksi ostium uteri (Cuningham, 2011).


Diagnosis
Retensio plasenta menjadi ciri utama:
1.5.1 Setelah 30 menit dari kelahiran bayi belum ada tanda- tanda
pelepasan plasenta (uterus globular, semburan darah seketika,
1.5.2

pemanjangan tali pusat).


Perdarahan post partum, jumlahnya perdarahan tergantung pada
derajat perlekatan plasenta, seringkali perdarahan ditimbulkan

1.6

ketika mencoba untuk mengeluarkan plasenta secara manual


Penatalaksanaan
Menurut Manuaba (2010), Penanganan retensio plasenta atau sebagian
plasenta adalah:
1.6.1 Resusitasi. Pemberian oksigen 100%. Pemasangan IV-line dengan
kateter yang berdiameter besar serta pemberian cairan kristaloid
(sodium klorida isotonik atau larutan ringer laktat yang hangat,
apabila memungkinkan). Monitor jantung, nadi, tekanan darah dan
saturasi oksigen. Transfusi darah apabila diperlukan yang
dikonfirmasi dengan hasil pemeriksaan darah.
1.6.2 Drips oksitosin (oxytocin drips) 20 IU dalam 500 ml larutan Ringer
laktat atau NaCl 0.9% (normal saline) sampai uterus berkontraksi.
1.6.3 Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil
lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.
1.6.4 Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta.
Indikasi manual plasenta adalah: Perdarahan pada kala tiga
persalinan kurang lebih 400 cc, retensio plasenta setelah 30 menit
anak lahir, setelah persalinan buatan yang sulit seperti forsep tinggi,
versi ekstraksi, perforasi, dan dibutuhkan untuk eksplorasi jalan
lahir, tali pusat putus.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

1.6.5 Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat


dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa
plasenta. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan
dengan kuretase. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan
hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan
kuretase pada abortus.
1.6.6 Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan
dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral.
1.6.7 Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk
pencegahan infeksi sekunder.
Dalam melakukan penatalaksanaan pada retensio plasenta sebaiknya bidan
mengambil beberapa sikap dalam menghadapi kejadian retensio plasenta
yaitu:
1.6.8 Sikap Umum Bidan: melakukan pengkajian data secara subjektif
dan objektif antara lain: keadaan umum penderita, apakah ibu
anemis, bagaimana jumlah perdarahannya, keadaan umum
penderita, keadaan fundus uteri, mengetahui keadaan plasenta,
apakah plasenta inkaserata, melakukan tes plasenta lepas dengan
metode kustner, metode klein, metode starsman, metode manuaba,
1.6.9

memasang infus dan memberikan cairan pengganti.


Sikap Khusus Bidan: pada kejadian retensio plasenta atau plasenta
tidak keluar dalam waktu 30 menit bidan dapat melakukan
tindakan manual plasenta yaitu tindakan untuk mengeluarkan atau
melepas plasenta secara manual (menggunakan tangan) dari tempat
implatansinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavum
uteri (Depkes, 2008). Manual removal of placenta is advised at
anything between 20 minutes and over 1 hour into the third stage.
The choice of timing is a balance between the post-partum
hemorrhage risk of leaving the placenta in situ, the likelihood of
spontaneous delivery within 60 minutes and the knowledge from
caesarean section studies that the manual removal itself causes
haemorrhage. However spontaneous expulsion after 60 minutes is
very rare. (O. I. Akinola et al., 2013).

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

Prosedur Plasenta Manual dengan cara:


A. Persiapan tindakan plasenta manual:
1. Peralatan sarung tangan steril, sebaiknya sarung tangan
panjang.
2. Desinfektan untuk genetalia eksterna (Manuaba, 2008).
3. Konsultasi dengan dokter.
4. Wanita harus terpasang infuse intravena yang paten.
5. Kandung kemih harus dikosongkan ( Varney 2009).
B. Prosedur tindakan plasenta manual:
1. Seluruh tangan (termasuk ibu jari) dimasukkan ke dalam
uterus dengan menelusuri tali pusat hingga ke plasenta.

2. Tangan kedua memegang uterus (fundus) per abdomen.


3. Ketika tangan anda mencapai plasenta, segera raba seluruh
permukaan plasenta pada sisi janin untuk memperoleh
gambaran anatomi mengenai ukuran plasenta dan tempat
insersi tali pusat.
4. Telusuri tepi plasenta untuk menemukan bagian yang
terlepas guna menentukan bidang yang tepat untuk memulai
melepaskan plasenta dari uterus.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

5. Posisikan punggung tangan Anda melawan dinding uterus.


6. Beri tanda dengan jari Anda, di antara plasenta dan uterus,
untuk menentukan garis pembelahan.
7. Sapu jari-jari Anda ke belakang dan ke depan dari sisi ke
sisi, memotong melalui desidua dengan tepi luar jari
kelingking Anda, ujung-ujung jari Anda, dan ibu jari.
8. Anda akan merasakan adanya ruang berongga ketika
plasenta terpisah dari uterus. Kemudian Anda perlu
membalik tangan Anda untuk melepas bagian anterior
plasenta. Ini akan membuat punggung tangan Anda tetap
melawan dinding uterus.
9. Seluruh plasenta harus berada di dalam telapak tangan Anda
sebelum Anda mengeluarkannya. Pastikan plasenta terlepas
seluruhnya sebelum di keluarkan supaya uterus tidak
terbalik ketika Anda mengeluarkan tangan Anda ( dan
plasenta).

10.Keluarkan seluruh plasenta sekaligus; jangan hanya


menarik sepotong karena potongan itu akan mudah robek
dari bagian plasenta yang tersisa sehingga pengkajian
plasenta menjadi sulit dan berpotensi tidak akurat.
Keluarkan plasenta perlahan-lahan, sementara tangan Anda
Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

yang berada di luar uterus mempertahankan uterus


berkontraksi pada saat uterus dikosongkan.
11. Selaput ketuban kemungkinan perlu ditarik perlahan.
Lakukan dengan cara yang sama seperti ketika Anda
mengeluarkan plasenta dan selaput ketuban.
12.Pastikan uterus berkontraksi dan segera inspeksi plasenta,
selaput ketuban dan tali pusat ( Varney, 2009).
13.Komplikasi plasenta manual adalah:
a. Perforasi uterus.
b. Infeksi terjadi karena adanya sisa plasenta atau
membran dan bakteri yang masuk ke dalam rahim.
c. Atonia uteri (Manuaba, 2010).
Untuk memperkecil komplikasi dapat dilakukan tindakan
profilaksis dengan memberikan uterotonika intravena
secara intramuskular, memberikan antibiotik, memasang
infus dan mempersiapkan transfusi darah (Manuaba, 2010).
Jika disadari adanya plasenta akreta sebaiknya usaha untuk
mengeluarkan plasenta secara manual dihentikan dan
segera dilakukan histerektomi dan mengangkat pula sisasisa dalam uterus.
1.7 Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
1. Perdarahan.
2. Infeksi.
3. Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan
4.
5.
6.

penurunan perfusi organ.


Sepsis.
Syok hipovolemik
Kebutuhan terhadap histerektomi dan hilangnya potensi untuk

memiliki anak selanjutnya.


1.8 Prognosis
Prognosis retensio plasenta tergantung dari lamanya, jumlah darah yang
hilang, keadaan pasien sebelumnya, serta efektifitas terapi. Diagnosa dan
penatalaksanaan yang tepat sangat penting..

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

BAB II
KONSEP MANAJEMEN KEBIDANAN PADA RETENSIO PLASENTA
2.1

Data Subjektif
2.1.1 Biodata yang mencakup identitas klien dan suami
A. Nama: untuk mengetahui dan mengenal klien serta mencegah
kekeliruan dalam memberikan penanganan.
B. Umur: Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko
seperti umur kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum
matang, mental dan psikisnya belum siap, sehingga dapat
memicu kejadian retensio plasenta saat persalinan. Sedangkan
umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan
dalam masa nifas.
C. Agama: untuk memberikan motivasi pasien sesuai dengan
agama yang dianut dan untuk membimbing atau mengarahkan
pasien dalam berdoa.
D. Pendidikan: Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui

tingkat

pendidikan,

sehingga

bidan

dapat

memberikan konseling sesuai dengan tingkat pendidikannya.


E. Suku/bangsa: untuk mengetahui pembawaan atau ras dan
berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-hari.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

F.

Pekerjaan: Untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial

ekonominya, karena hal ini berpengaruh pada gizi pasien.


G. Alamat: untuk mengetahui dimana lingkungan tempat
tinggalnya dan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan.
2.1.2 Keluhan Utama
Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan oleh klien
sehingga menyebabkan timbulnya gangguan pada dirinya. Pada
pasien dengan retensio plasenta ada 2 keluhan yaitu :
A. Pasien dengan retensio plasenta tanpa perdarahan
Klien mengatakan telah melahirkan anak ke .. pada tanggal
.., jam.., jenis kelamin.. lahir normal. BB.. gram.
Plasenta belum lahir setelah menit. Perut tidak merasa
mules dan keluar darah merembes sedikit sedikit.
B. Pasien retensio plasenta dengan perdarahan
Ibu mengatakan telah melahirkan 30 menit yang lalu dan
plasenta belum lahir, keluar darah banyak sesudah melahirkan.
2.1.3 Riwayat Perkawinan
Menanyakan umur pernikahan, status perkawinan dan setelah
menikah berapa lama baru hamil. Gunanya untuk mengetahui
fungsi alat reproduksi pasien baik atau tidak. Kejadian retensia
plasenta ini dapat berkaitan dengan usia ibu yang tidak dalam usia
reproduksi yang sehat dimana wanita yang melahirkan anak pada
usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor
risiko terjadinya perdarahan pascasalin.
2.1.4 Riwayat Menstruasi
Menanyakan tentang menarche, siklus, banyak darah, keluhan serta
HPHT untuk menentukan tafsiran persalinan dan usia kehamilan
karena hal ini merupakan salah satu cara untuk mengetahui apakah
siklus

menstruasi

pasien

normal.

Pada

kasus

infertilitas

kemungkinan akan terjadi retensio plasenta karena lapisan


endometriumnya tipis.
2.1.5 Riwayat Obstetrik
Menyatakan tentang kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
normal atau tidak.
A. Kehamilan yang lalu, kemungkinan ada atau tidaknya anemia.
Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

10

B. Persalinan yang lalu, kemungkinan klien pernah mengalami


persalinan spontan atau dengan tindakan, persalinan aterm atau
post-term.

Riwayat

bekas

operasi

pada

uterus

dapat

mengakibatkan retensio plasenta.


C. Nifas yang lalu, kemungkinan keadaan involusi uterus, lochea,
infeksi dan laktasi berjalan dengan normal atau disertai dengan
komplikasi. Terdapat riwayat perdarahan post partum berulang
karena dapat menyebabkan retensio plasenta.
D. Anak, untuk mengetahui umur anak, keadaan anak hidup atau
meninggal. Jarak yang terlalu pendek, kurang dari 2 tahun juga
merupakan faktor penyebab perdarahan post partum.
2.1.6 Riwayat Kehamilan Sekarang
A. HPHT, untuk mengetahui usia kehamilan dan tafsiran
persalinan.
B. Keluhan-keluhan umum yang terjadi pada TM I, II, dan III,
untuk mengetahui kemungkinan adanya tanda-tanda bahaya
pada ibu hamil. Pada kasus plasenta previa kemungkinan dapat
mengakibatkan retensio plasenta karena dibagian istmus
uterus, pembuluh darah sedikit sehingga perlu masuk jauh
kedalam.
C. Obat / suplemen termasuk jamu-jamuan yang di konsumsi :
untuk mengetahui apakah si ibu mempunyai kebiasaan makan,
minum obat-obatan / jamu, merokok, gaya hidup yang tidak
sehat selama waktu hamil atau tidak.
D. Imunisasi, Kemungkinan apakah ibu ada mendapatkan
2.1.7

imunisasi TT selama kehamilan.


Riwayat Persalinan Sekarang
Dikaji untuk mengetahui cara persalinan, penolong persalinan,
lama persalinan, penyulit yang menyertai persalinan, serta lamanya
persalinan pada kala III plasenta belum lahir sampai dengan 30
menit setelah bayi lahir dan teraba kontraksi uterus yang lembek
dan pada masalah plasenta yang belum keluar biasanya disertai
perdarahan yang lebih dari 500 cc atau ada juga yang tidak disertai
perdarahan.

2.1.8

Riwayat Kesehatan

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

11

A. Riwayat kesehatan yang lalu


Untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat penyakit akut
atau kronis seperti: jantung, ginjal, DM, hipertensi, asma,
epilepsi, PMS dan mengalami operasi pada uterus atau tidak.
B. Riwayat kesehatan keluarga
Mengetahui apakah keluarga ada yang mengalami penyakit
seperti: jantung, ginjal, asma, TBC, hipertensui, DM, epilepsi
2.1.9

dan PMS atau tidak.


Riwayat Kontrasepsi
Untuk mengetahui apakah klien pernah menggunakan alat
kontrasepsi atau tidak. Dengan meningkatkan penerimaan keluarga
berencana maka dapat memperkecil terjadinya retensio plasenta
karena dengan kasus banyak anak (grandemultipara) merupakan

salah satu predisposisi retensio plasenta.


2.1.10 Riwayat Sosial, Ekonomi, dan Budaya
Menurut Manuaba (2008) meliputi:
A. kehamilan ini direncanakan atau tidak, diterima atau tidak,
jenis kelamin yang diharapkan: laki-laki atau perempuan.
B. Perasaan ibu tentang kehamilan.
Untuk mengetahui bagaimana hubungan pasien dengan
lingkungan sekitarnya, keadaan ekonomi pasien mampu atau
kurang mampu, serta adanya kebudayaan klien yang dapat
mempengaruhi kesehatan kehamilan dan persalinannya.
2.1.11 Riwayat Psikologis
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya,
wanita mengalami banyak perubahan emosi/psikologi selama masa
nifas seperti cemas, takut, dan kekhawatiran dengan masalah yang
dihadapinya, sementara ia menyesuaikan diri untuk menjadi ibu
(Retna, 2008).
2.1.12 Pola kehidupan sehari-hari
Untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi
pemenuhan nutrisi, proses eliminasi, aktifitas sehari-hari, istirahat
dan personal hygiene dan kebiasaan-kebiasaan yang dapat
2.2

mempengaruhi kesehatan saat hamil dan bersalin.


Data Objektif
2.2.1 Pemeriksaan Umum

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

12

A. Keadaan Umum: untuk mengetahui keadaan ibu secara umum


karena pada retensio plasenta KU ibu kurang baik.
B. Keadaan Emosional: untuk mengetahui apakah keadaan
emosional ibu stabil atau tidak
C. Pemeriksaan Tanda Vital
Pemeriksaan tanda vital dilakukan setiap kali dibutuhkan
berdasarkan keadaan klien. Pemeriksaan tanda vital berfungsi
sebagai pemantau keadaan klien yang mudah berubah bila
terjadi gangguan pada fungsi organ. Pemeriksaan tanda vital
pada pasien dengan Retensio Plasenta yaitu:
1. Pemeriksaan tanda vital pada pasien Retensio Plasenta yang
disertai perdarahan:
Nadi cepat >110 x/menit (Normal 60-90 x/menit).
Pernapasan cepat >30 x/menit (Normal 16-24 x/menit).
Tekanan darah turun, sistole < 90 mmHg (Normal 110/70130/90 mmHg).
Suhu, normal 36,5-37,5oC
2. Pemeriksaan tanda vital pada pasien Retensio Plasenta
tanpa perdarahan :
Nadi cepat >110 x/menit (Normal 60-90 x/menit).
Pernapasan cepat >30 x/menit (Normal 16-24 x/menit).
Tekanan darah naik, sistole > 90 mmHg (Normal 110/70-

2.2.2

130/90 mmHg).
Suhu, normal 36,5-37,5oC
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan sebagai data penunjang terhadap data
yang digunakan untuk mencari masalah pemeriksaan fisik yang
didapat akibat retensio plasenta
A. Inspeksi
Muka: Pucat/ tidak , berkeringat bila terjadi perdarahan banyak
Mata: Conjungtiva pucat apabila terjadi perdarahan banyak
Mulut: bibir pucat/tidak, lidah pucat/tidak
Genetalia: Perdarahan pervaginam sedikit sampai banyak, tali
pusat terjulur sebagian
B. Palpasi
TFU 2 jari bawah pusat pada retensio plasenta inkorserata,
TFU sepusat pada retensio plasenta akreta,
Bentuk uterus diskoit pada retensio plasenta akreta,

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

13

Bentuk uterus agak globuler pada retensio plasenta inkarserata,


Kontraksi uterus keras pada retensio plasenta inkarserata,
Kontraksi uterus cukup pada retensio plasenta akreta,
Kontraksi uterus lembek,
Ekstremitas teraba dingin.
2.2.3

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang digunakan untuk memastikan diagnosa
yang telah ditegakkan dan digunakan untuk mencari penyebab
timbulnya masalah. Pemeriksaan Hb, didapatkan Hb kurang dari 11
gr% apabila retensio plasenta disertai dengan perdarahan.
Pemeriksaaan
hemoglobin

darah
(Hb)

lengkap:

dan

untuk

hematokrit

menentukan

(Hct),

melihat

tingkat
adanya

trombositopenia, serta jumlah leukosit. Pada keadaan yang disertai


2.3

dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.


Analisa data
2.3.1 Diagnosis dan Masalah Aktual
A. Diagnosa pada ibu bersalin kala III dengan retensio plasenta
adalah sebagai berikut:
Dx: Ny. X P.... Ab.... umur.....tahun inpartu kala III dengan
retensio plasena.
Ds: Ibu mengeluh lemah, pusing dan berkeringat dingin
(Saifuddin, 2006), Keluhan plasenta belum lepas 30 menit
setelah bayi lahir, perdarahan sedikit atau banyak, persalinan
lama.
Do: keadaan umum ibu dan tanda vital (tekanan darah, nadi,
suhu, pernafasan), perdarahan pervaginam, kontraksi uterus,
TFU.
B. Masalah yang muncul pada ibu bersalin dengan retensio
plasenta adalah kecemasan terhadap yang dialami pasien

2.3.2

berupa perdarahan (Halloway, 2003).


C. Kebutuhan
1. Informasi tentang keadaan ibu.
2. Informasi tentang tindakan yang dilakukan oleh bidan.
3. Dorongan moril dari keluarga dan tenaga kesehatan.
4. Pemenuhan kebutuhan cairan.
5. Penghentian perdarahan.
Diagnosis dan Masalah Potensial

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

14

A. Potensial terjadi syok haemorrage karena adanya perdarahan


pasca persalinan.
B. Potensial terjadi infeksi puerperium pada tindakan manual
2.4

plasenta (Wiknjosastro, 2007).


Penatalaksanaan
2.4.1 Mandiri
A. Anjurkan pasien untuk tirah baring total dengan menghadap ke
kiri atau tredelenburg. Miring ke kiri agar tidak menekan vena
cava inferior dan posisi tredelenburg mencegah terjadinya
komplikasi syok akibat kurangnya aliran darah balik ke otak.
B. Beri cairan infuse dekstrosa 5 % dan Ringer Laktat melalui
intravena untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik akibat
kehilangan cairan plasma atau darah.
C. Pantau tanda-tanda vital.
D. Berikan oksigen ( jika ibu mengalami sesak )
E. Berikan informed consent pada pasien/keluarga
F.

untuk

persetujuan dan bukti terhadap tindakan yang dilakukan.


Lakukan manual plasenta sesuai prosedur bila dalam keadaan
darurat dengan indikasi perdarahan di atas 400 cc dan terjadi

retensio plasenta setelah menunggu jam.


G. Siapkan pasien dan keluarga untuk dilakukan rujukan ke
fasilitas kesehatan yang memadai, agar pasien mendapat
penanganan yang tepat dari tenaga kesehatan yang berwenang
2.4.2

(dokter SpOG).
Kolaborasi
Kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan dalam pelaksanaan
plasenta manual dan pemberian antibiotik. Fungsi interdependent

2.4.3

dalam melahirkan plasenta dan mencegah infeksi.


Rujukan
2.4.1 Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang tindakan yang
akan dilakukan, yaitu melakukan rujukan karena kondisi
pasien yang perlu penanganan intensif dan segera
menghubungi rumah sakit yang menjadi tempat rujukan.
2.4.2 Melakukan rujukan dengan BAKSO KUDA yaitu:
B (Bidan): Pastikan klien didampingi oleh tenaga kesehatan
yang

kompeten

dan

memiliki

kemampuan

untuk

melaksanakan kegawatdaruratan.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

15

A (Alat): Bawa perlengkapan dan bahan-bahan yang


diperlukan seperti spuit, infus set, tensimeter dan stetoskop.
K (Keluarga): Beritahu keluarga tentang kondisi terakhir ibu
(klien) dan alasan mengapa ia dirujuk. Suami dan anggota
keluarga yang lain harus menerima ibu (klien) ke tempat
rujukan.
S (Surat): Beri surat ke tempat rujukan yang berisi
identifikasi ibu (klien), alasan rujukan, uraian hasil rujukan,
asuhan atau obat-obat yang telah diterima ibu.
O (Obat): Bawa obat-obat esensial yang diperlukan selama
perjalanan merujuk.
K (Kendaraan): Siapkan kendaraan yang cukup baik untuk
memungkinkan ibu (klien) dalam kondisi yang nyaman dan
dapat mencapai tempat rujukan dalam waktu cepat.
U (Uang): Ingatkan keluarga untuk membawa uang dalam
jumlah yang cukup untuk membeli obat dan bahan
kesehatan yang diperlukan di tempar rujukan.
DA (Darah): Siapkan darah untuk sewaktu-waktu
membutuhkan transfusi darah apabila terjadi perdarahan.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

16

DAFTAR PUSTAKA
Anik, Maryunani., Yulianingsih. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dalam
Kebidanan. Jakarta: CV. Trans Info Media
Manuaba, IBG.,dkk. 2010. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan Dan KB. Jakarta
: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Rukiyah, Ai Yeyeh.,dkk. 2010. Asuhan Kebidanan IV (Patologi Kebidanan ).
Jakarta: CV. Trans Info Media.
Jurnal
Afr Health Sci. Aug 2001. The Retained Placenta. Makerere University Medical
School. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2704447/, 02 Maret 2016.
O. I. Akinola et al. 2013. Manual removal of the placenta: Evaluation of some
risk factors and management outcome in a tertiary maternity unit. A case
controlled study. Open Journal of Obstetrics and Gynecology 3 279-284.
http://dx.doi.org/10.4236/ojog.2013.32052, 02 Maret 2016.

Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

17

Anda mungkin juga menyukai