Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

TENTANG SISTEM PENCERNAAN


1. KONSEP DASAR
1.1 Definisi
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi
zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung,
usus halus, usus besar, rektum dan anus. Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang
terletak diluar saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu.
Sistem pencernaan berhubungan dengan penerimaan makanan dan mempersiapkan nya
untuk diasimilasi tubuh. Selain itu mulut memuat gigi untuk mengunyah makanan, dan lidah
yang membantu untuk cita rasa dan menelan. Beberapa kelenjar atau kelompok kelenjar
menuangkan cairan pencerna penting ke dalam saluran pencernaan. Saluran-saluran
pencernaan dibatasi selaput lendir (membran mukosa), dari bibir sampai ujung akhir
esofagus, ditambah lapisan-lapisan epitelium (Pearce Evelin C. 2009).
1.2 Anatomi Fisiologi

Gambar Anatomi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar saluran pencernaan,
yaitu pankreas, hati dan kandung empedu:
1.2.1 Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada hewan.
Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari sistem
pencernaan lengkap yang berakhir di anus.

Gambar Mulut
Mulut merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan. Bagian dalam dari mulut
dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang terdapat di
permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis, asam, asin dan pahit.
Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung dan lebih rumit, terdiri dari berbagai
macam bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah oleh gigi
belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah
dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzimenzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim
(misalnya lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung. Proses
menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.
1.2.2 Tenggorokan (Faring)

Gambar Tenggorokan
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan. Berasal dari bahasa
yunani yaitu Pharynk. Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe

yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan terhadap infeksi,
disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang
rongga mulut dan rongga hidung, didepan ruas tulang belakang. Ke atas bagian depan
berhubungan dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana, keadaan
tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan lubang yang disebut ismus
fausium. Tekak terdiri dari: Bagian superior = bagian yang sangat tinggi dengan hidung,
bagian media = bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior = bagian yang
sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut nasofaring, pada nasofaring bermuara
tuba yang menghubungkan tekak dengan ruang gendang telinga,Bagian media disebut
orofaring,bagian ini berbatas kedepan sampai diakar lidah bagian inferior disebut laring
gofaring yang menghubungkan orofaring dengan laring
1.2.3 Kerongkongan (Esofagus)

Gambar Kerongkongan (Esofagus)


Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu
makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan berjalan melalui
kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik. Sering juga disebut esofagus.
1.2.4 Lambung
Lambung atau bagian dari saluran pencernaan yang tidak mekar paling banyak terletak
terutama di daerah epigastrium diafragma dan didepan pankreas, dan sebagian di sebelah kiri
daerah umbilikus dan dikelilingi oleh usus besar, panjang usus halus 2,5 meter dalam
keadaan hidup, dibagi beberapa bagian yaitu duodenum yang panjangnya 25 cm, yeyunum
2 meter dan ileum 1 meter.

1)
2)
a)
b)

Gambar Lambung
Struktur lambung terdiri dari 4 lapisan yaitu:
Lapisan peritoneal luar yang merupakan lapisan serosa
Lapisan berotot yang terdiri atas 3 lapisan yaitu :
Selaput longitudinal yang tidak dalam dan tidak bersambung dengan otot oesofagus.
Serabut oblig yang terutama pada fundus lambung dan berjalan dari orifisum kardiak,

kemudian membelok ke bawah melalui kurvatura minor.


c) Serabut sirkuler yang paling tebal dan terletak di pilorus serta membentuk otot spingter
dan berada di bawah lapisan pertama
3) Lapisan sub mukosa yang terdiri dari jaringan areolar berisi pembuluh darah dan saluran
limfe
4) Lapisan mukosa yang terletak di sebelah dalam, tebal yang terdiri dari atas banyak
kerutan dan rugae yang hilang bila organ itu mengembang oleh karena berisi makanan
Membran mukosa dilapisi epitelium silindris dan berisi banyak cairan limfe. Fungsi
lambung terdiri dari :
(1) Fungsi motorik yaitu sebagai tempat penyimpanan makanan sampai makanan tersebut
sedikit-sedikit dicerna.
(2) Fungsi sekresi dan pencernaan yaitu mengeluarkan sekret cairan pencernaan, getah
lambung (HCl) yang mengasamkan semua makanan dan bekerja sebagai zat antiseptik
dan desinfektan sehingga banyak organisme yang ikut masuk bersama makanan dan
tidak berbahaya. Beberapa enzim pencernaan yang terdapat dalam getah lambung
diantaranya adalah pepsin yang akan memecahkan lemak menjadi asam lemak dan
gliserol.
(3) Fungsi usus halus antara lain:
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler
darah.
b. Menyederhanakan semua zat protein menjadi asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam bentuk monosakarida.

Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin
(sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi
masuknya kembali isi lambung ke dalam kerongkongan. Lambung berfungsi sebagai gudang
makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting : Lendir melindungi sel-sel
lambung dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa
menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung. Asam klorida
menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan oleh pepsin guna memecah protein.
Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan
cara membunuh berbagai bakteri. Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein).
1.2.5 Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di antara
lambung dan usus besar.

Gambar Usus Halus


Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati
melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang
membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding usus juga
melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan lemak.
1) Usus dua belas jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak setelah
lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari
merupakan bagian terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di
ligamentum Treitz. Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak
terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar
pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari
pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum
digitorum, yang berarti dua belas jari. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua
belas jari (duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk ke

dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang bisa di cerna oleh usus halus.
Jika penuh, duodenum akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan.
2) Usus Kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari
usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum). Pada
manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus
kosong. Usus kosong dan usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
3) Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada sistem
pencernaan manusia, ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan
jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau
sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam empedu.
1.2.6

Usus Besar (Kolon)


Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan rektum.

Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.

(1)
(2)
(3)
(4)

Usus besar terdiri dari :


Gambar Usus Besar
Kolon asendens (kanan)
Kolon transversum
Kolon desendens (kiri)
Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa

bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi
membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari
usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri
didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir
dan air, dan terjadilah diare.
(1) Usus Buntu (sekum)

Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, buta) dalam istilah anatomi adalah
suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus
besar. Organ ini ditemukan pada mamalia, burung, dan beberapa jenis reptil. Sebagian besar
herbivora memiliki sekum yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang
kecil, yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.
(2) Appendix
Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu. Infeksi pada
organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing. Apendisitis yang parah dapat
menyebabkan apendiks pecah dan membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau
peritonitis (infeksi rongga abdomen). Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam
bahasa Inggris, vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang
menyambung dengan caecum. Umbai cacing terbentuk dari caecum pada tahap embrio.
Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi bisa bervariasi dari 2
sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda
bisa di retrocaecal atau di pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum. Banyak
orang percaya umbai cacing tidak berguna dan organ vestigial (sisihan), sebagian yang lain
percaya bahwa apendiks mempunyai fungsi dalam sistem limfatik. Operasi membuang umbai
cacing dikenal sebagai appendektomi.
Rektum dan anus
Rektum (Bahasa Latin: regere, meluruskan, mengatur) adalah sebuah ruangan yang
berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini
berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini kosong karena
tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens
penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar
(BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di dalam rektum akan
memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk melakukan defekasi. Jika defekasi
tidak terjadi, sering kali material akan dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air
akan kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan
pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan
ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan,
dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh
(kulit) dan sebagian lannya dari usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot

sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar), yang
merupakan fungsi utama anus.
1.3 Tanda dan Keluhan Umum Sistem Pencernaan
1.3.1 Keluhan Utama
Keluhan utama didapat dengan menanyakan tentang gangguan terpenting yang
dirasakan pasien sampai perlu pertolongan. Keluhan utama pada pasien gangguan sistem
pencernaan secara umum antara lain:
a) Nyeri
Keluhan nyeri dari pasien sering menjadi keluhan utama dari pasien untuk meminta
pertolongan kesehatan yang bersumber dari masalah saluran gastrointestinal dan organ
aksesori. Dalam mengkaji nyeri, perawat dapat melakukan pendekatan PQRST, sehingga
pengkajian dapat lebih komprehensif. Kondisi nyeri biasanya bergantung pada penyebab
dasar yang juga mempengaruhi lokasi dan distribusi penyebaran nyeri.
b) Mual muntah
Keluhan mual muntah merupakan kondisi yang sering dikeluhkan dan biasanya selalu
berhubungan dengan kerja involunter dari gastrointestinal. Mual (nausea) adalah sensasi
subjektif yang tidak menyenangkan dan sering mendahului muntah. Mual disebabkan oleh
distensi atau iritasi dari bagian manasaja dari saluran GI, tetapi juga dapat dirangsang oleh
pusat-pusat otak yang lebih tinggi. Interpretasi mual terjadi di medulla, bagian samping, atau
bagian dari pusat muntah. Muntah merupakan salah satu cara traktus gastrointestinal
membersihkan dirinya sendiri dari isinya ketika hampir semua bagian atau traktus
gastrointestinal teriritasi secara luas, sangat mengembang, atau sangat terangsang.
c) Kembung dan Sendawa (Flatulens)
Akumulasi gas di dalam saluran gastrointestinal dapat mengakibatkan sendawa yaitu
pengeluaran gas dari lambung melalui mulut (flatulens) yaitu pengeluaran gas dari rektm.
Sendawa terjadi jika menelan udara dimana cepat dikeluarkan bila mencapai lambung.
Biasanya, gas di usus halus melewati kolon dan di keluarkan. Pasien sering mengeluh
kembung, distensi, atau merasa penuh dengan gas
d) Ketidaknyamanan Abdomen
Ketidaknyamanan pada abdomen secara lazim berhubngan dengan gangguan saraf
lambung dan gangguan saluran gastrointestinal atau bagian lain tubuh. Makanan berlemak
cenderung menyebabkan ketidaknyamanan karena lemak tetap berada di bawah lambung
lebih lama dari protein atau karbohidrat. Sayuran kasar dan makanan yang sangat berbumbu
dapat juga mengakibatkan penyakit berat. Ketidaknyamanan atau distress abdomen bagian
atas yang berhubungan dengan makanan yang merupakan keluhan utama dari pasien dengan

disfungsi gastrointestinal. Dasar distress gerakan abdomen ini merupakan gerakan peristaltic
lambung pasien sendiri. Defekasi dapat atau tidak dapat menghilangkan nyeri
e) Diare
Diare adalah peningkatan keenceran dan frekuensi feses. Diare dapat terjadi akibat
adanya zat terlarut yang tidak dapat diserap di dalam feses, yang disebut diare osmotic, atau
karena iritasi saluran cerna. Penyebab tersering iritasi adalah infeksi virus atau bakteri di usus
halus distal atau usus besar. Iritasi usus oleh suatu pathogen mempengaruhi lapisan mukosa
usus sehingga terjadi peningkatan produk-produk sekretorik termasuk mucus. Iritasi oleh
mikroba jga mempengaruhi lapisan otot sehingga terjadi peningkatan motilitas. Peningkatan
motilitas menyebabkan banyak air dan elektrolit terbuang karena waktu yang tersedia untuk
penyerapan zat-zat tersebut di kolon berkuran. Individu yang mengalami diare berat dapat
meninggal akibat syok hipovolemik dan kelainan elektrolit.
f) Konstipasi
Konstipasi didefinisikan sebagai defekasi yang sulit atau jarang. Frekuensi defekasi
berbeda-beda setiap orang sehingga definisi ini bersifat subjektif dan dianggap sebagai
penurunan relative jumlah buang air besar pada seseorang. Defekasi dapat menjadi sulit
apabila feses mengeras dan kompak. Hal ini terjadi apabila individu mengalami dehidrasi
atau apabila tindakan BAB ditunda sehingga memungkinkan lebih banyak air yang terserap
keluar sewaktu feses berada di usus besar.diet berserat tinggi mempertahankan kelembaban
feses dengan cara menarik air secara osmosis ke dalam feses dan dengan merangsang
peristaltic kolon melalui peregangan. Dengan demikian, orang yang makan makanan rendah
serat atau makananan yang sangat dimurnikan beresiko lebih besar mengalami konstipasi.
Olah raga mendorong defekasi dengan merangsang saluran GE secara fisik. Dengan
demikian, orang yang sehari-harinya jarang bergerak berisiko tinggi mengalami konstipasi.
1.4 Pemeriksaan Diagnostik Pada Sistem Pencernaan
Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari:
1) Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan untuk
memperoleh jaringan dari dalam tubuh)
2) Rontgen
3) Ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis,
menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan. Pada
beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu, ada juga
pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa; sedangkan
pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat
medis dan pemeriksaan fisik. Tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat samar

sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti. Kelainan
psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem pencernaan dan
menimbulkan gejala-gejalanya.
1.5 Komplikasi Yang Sering Muncul Pada Sistem Pencernaan
Menurut Linda Chandranata (2000) komplikasi dari gastrointestinal adalah:
1) Kanker esofagus, meliputi disfagia, tidak bisa makan dan perasaan penuh di perut adalah
tidak jelas dan dapat dihubungkan dengan beberapa kondisi lain. Gejala-gejala ini dapat
dengan mudah dihubungkan dengan konsumsi tipe makanan tertentu (pedas, gorengan,
dll).
2) Kanker lambung, rasa tidak nyaman epigastrik, tidak bisa makan dan perasaan gembung
setelah makan.. ini adalah gejala semu yang dengan mud ah dikaitkan dengan kegagalan
lambung.
3) Kanker pankreas, penurunan barat badan, ikterik dan nyeri daerah punggung atau
epigastrik adalah triad gejala yang umum.
4) Kanker hepar, nyeri abdomen yang sangat sakit , tumpul, dan pada kuadran atas kanan,
nyeri bersifat terus menerus, mengganggu tidur dan bertambah sakit saat posisi tidur
miring kekanan dan mungkin menyebar ke skapula kanan.
5) Kanker kolorektal, perubahan dalam defekasi, darah pada feses, konstipasi, perubahan
dalam penampilan fesestenesmus, anemia, dan perdarahan rektal merupakan keluhan
utama yang mungkin mengindikasikan adanya kanker kolorektal.
2. MANAJEMEN KEPERAWATAN
2.1 Pengkajian
2.1.1 Aktivitas istirahat
Gejala : kelemahan dan keletihan
2.1.2 Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri, dada pada pengrahan kerja.
Kebiasaan : perubahan pada TD
2.1.3 Integritas ego
Gejala : alopesia. Lesi cacat pembedahan
Tanda : menyangkal, menarik diri dan marah
2.1.4 Eliminasi
Gejala : perubahan pada pola defekasi misalnya : darah pada feses, nyeri pada defekasi.
Perubahan eliminasi urinarius misalnya nyeri tau rasa terbakar pada saat berkemih,
hematuria, sering berkemih.
Tanda : perubahan pada bising usus, distensi abdomen
2.1.5 Makanan/cairan

Gejala : kebiasaan diet buruk (rendah serat, tinggi lemak, aditif bahan pengawet). Anoreksia,
mual/muntah. Intoleransi makanan Perubahan pada berat badan; penurunan berat badan
hebat, berkurangnya massa
Tanda : perubahan pada kelembapan/turgor kulit edema.
2.1.6 Neurosensori
Gejala : pusing, sinkope
2.1.7 Nyeri/kenyamanan
Gejala : tidak ada nyeri atau derajat bervariasi misalnya ketidaknyamanan ringan sampai
berat ( dihubungkan dengan proses penyakit).
2.1.8 Pernafasan
Gejala : merokok (tembakau, hidup denagn serumah dengan yang merokok)
2.1.9 Keamanan
Gejala : pemajanan bahan kimia toksik Karsinogen, Pemajanan matahari lama/berlebihan
Tanda : demam, ruam kulit, ulserasi.
2.1.10 Seksualitas
Gejala : masalah seksualitas misakya dampak pada hubungan perubahan pada tingkat
kepuasan. Nuligravida lebih besar dari usia 30 tahun, Nuligravida, pasangan seks miltifel,
aktivitas seksual dini.
2.1.11 Interaksi sosial
Gejala : ketidakadekuatan/kelemahan sotem pendikung. Riwayat perkawinan (berkenaan
dengan kepuasan di rumah dukungan, atau bantuan).
2.2 Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi:
1) Nyeri berhubungan dengan proses penyakit
2) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, mual
3) Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi
Post Operasi:
1) Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi)
2) Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan)
3) Kerusakan intregritas kulit/jaringan b/d dengan insisi bedah.
2.2 Intervensi Keperawatan
Setelah merumuskan diagnosa keperwatan, dibuat rencana tindakan untuk mengurangi,
menghilangkan dan mencegah masalah klien. (Budianna Keliet, 2002).
Pre operasi:

1) Nyeri berhubungan dengan proses penyakit


Tujuan : keluhan nyeri berkurang atau tidak ada.
Kriteria Hasil yang diharapkan :
(1) Melaporkan nyeri yang dirasakan menuran atau menghilang
(2) Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan
(3) Tidak terdapatnya respon autonomic gelisah
Intervensi
1) Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, 1) Membantu
lamanya, dan intensitas (skala 0-10)

Rasional
dalam mengidentifikasi

derajat ketidaknyamanan dan kebutuhan

perhatikan petunjuk verbal dan non verbal.


untuk keefektifan analgesic.
2) Ukur tanda-tanda vital
2) Untuk mengetahui adanya peningkatan
3) Anjurkan keluarga untuk mengusap
nyeri.
punggung pasien.
3) Mengalihkan rasa nyeri yang dirasakan.
4) Ajarkan pasien untuk nafas dalam.
4) Memberikan relaksasi pada pasien.
5) Kolaborasi pemberian obat analgesic.
5) Untuk pengontrol nyeri sehingga
pemberian obat dengan tepat waktu.

2) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia, mual


Tujuan : pemenuhan nutrisi dapat teratasi
Kriteria Hasil :
(1)
(2)
(3)
(4)

Berat badan naik


Tidak terjadi penurunan berat badan yang signifikan
Nafsu makan meningkat
Tidak terjadi mula muntah.
Intervensi

Rasional

1)
2)
3)
4)

Pantau makanan setiap hari


1) Mengidentifikasi kekuatan/ defisiensi
Anjurkan untuk perwatan oral.
nutrisi.
Anjurkan makan sedikit-sedikit tapi sering
2) Membantu untuk meningkatkan nafsu
Anjurkan untuk makan makanan dalam
makan.
keadaan hangat.
3) Makan sedikit tapi sering memungkin
5) Dorong penggunaan tehknik relaksasi.
6) Dorong komunikasi terbuka mengenai
untuk intake per oral yang adekut.
4) Makan makanan dalam keadan hangat
masalah makan.
akan meransang nafsu makan dan
menghindari rasa mual dan muntah.
5) Memungkinkan pasien meningkatkan
masukan oral.
6) Sering sebagai sumber distress emosi,
khususnya untuk orang terdekat yang

menginginkan

untuk

memberikan

makanan pasien dengan sering, bila


pasien menolak maka orang terdekat
merasa ditolak.
3) Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi
Tujuan : Menunjukkan rentang yang tepat dari perasaan dan berkurangnya rasa takut.
Kriteria Hasil :
(1) Klien mengungkapkan tentang kecemasannya
(2) Klien terlihat tenang
(3) Klien mendapatkan dukungan dari keluarga.
Intervensi
Rasional
1) Kaji penyebab dari kecemasan klien. 1) Mempermudah
perawat
melakukan
2) Dorong klien untuk mengungkapkan
intervensi yang tepat.
pikiran atau perasaan.
2) Meberikan kesempatan untuk memeriksa
3) Berikan lingkungan terbuka dimana
takut realistis serta kesalahan konsep tentang
klien
merasa
aman
untuk
diagnosis.
mendiskusikan perasaanya.
3) Membantu klien untuk merasa diterima pada
4) Pertahankan kontak sesering mungkin
adanya kondisi tanpa perasaan dihakimi dan
dengan klien.
meningkatkan rasa terhormat.
5) Bantu klien/keluarga dalam mengenali
4) Memberikan keyakinan bahwa klien tidak
dan mengklasifikasikan rasa takut
sendiri atau ditolak.
untuk memulai mengembangkan 5) Dukungan dan konseling sesering diperlukan
strategi koping.

untuk memungkinkan individu mengenal


dan menghadapi rasa takut.

Post operasi:
1)Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik (luka insisi post operasi)
Tujuan : nyeri hilang dan terkontrol,
Kriteria hasil :
(1) Klien mengungkapkan nyeri berkurang atau terkontrol
(2) Ekspresi wajah rileks
(3) Klien tampak tenang
Intervensi
1) Kaji tingkat nyeri.
2) Observasi TTV.
3) Ajarkan tehnik reklasasi nafas dalam.

Rasional
1) Mengetahui tingkat nyeri yang dapat
memudahkan

untuk

tindakan selanjutnya

melakukan

4) Beri posisi yang menyenangkan bagi klien.

2) Untuk mengetahui keadaan umum


klien
3) Untuk

merelaksasi

otot

sehingga

mengurangi nyeri
4) Posisi yang menyenangkan
memberi

rasa

nyaman

dapat

sehingga

mengurangi rasa nyeri


2)

Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif (insisi post pembedahan)

Tujuan : Resiko infeksi tidak terjadi


Kriteria Hasil :
Luka sembuh dengan baik,
verband tidak basah dan tidak ada tanda infeksi ( kalor, dolor, rubor, tumor, fungsio laesa).
1)
2)
3)
4)
5)

Intervensi
Rasional
Kaji tanda-tanda infeksi dan vital sign
1) Mengetahui tanda-tanda infeksi dan
Gunakan tehnik septik dan antiseptik
menentukan intervensi selanjutnya.
Ganti Verban
2) Dapat
mencegah
terjadinya
Berikan
penyuluhan
tentang
cara
kontaminasi dengan kuman penyebab
pencegahan infeksi
Penatalaksanaan pemberian obat antibiotik
infeksi
3) Verban yang basah dan kotor dapat
menjadi tempat berkembang biaknya
kuman penyebab infeksi.
4) Memberikan pengertian kepada kien
agar

dapat

mengetahui

perawatan luka.
5) Obat antibiotik

dapat

tentang

membunuh

kuman penyebab infeksi.


3)

Kerusakan intregritas kulit/jaringan b/d dengan insisi bedah.

Tujuan : mencapai pemulihan luka tepat waktu tanda komplikasi


Kriteria Hasil :
(1)
(2)
(3)
(4)

Tidak terjadi infeksi


Adanya pertumbuhan jaringan garanula baru.
Jahitan luka tetap kering
Luka post op ttap bersih
Intervensi

1) Pantau
demam,

tanda-tanda
periksa

Rasional

vital,

luka

perhatikan 1) Pembentukan

dengan

sering

hematoma/terjadinya

infeksi, yang menunjang lambatnya

terhadap bengkak insisi berlebihan


2) Berikan pengikat atau penyokong untuk

pemulihan luka dan

meningkatkan

resiko pemisahan luka.


klien gemuk bila di indikasikan
2) Jaringan lemak sulit menyatuh, dan
3) Gunakan plester kertas untuk balutan
garis jahitan lebih udah terganggu.
sesuai indikasi
3) Penggantian baluta sering dapat
4) Tinjau ulang nilai laboraturium terhadap
mengakibatkan kerusakan kulit karena
anemia dan penurunan albumin serum.
perlekatan yang kuat.
4) Anemia dan pembentukan edema dapat
memenuhi pemulihan.

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C, 2001, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, ed.8, Vo.2, EGC,
Jakarta.
Doenges E. Marilynn,1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edt. Monica Ester, Yasmin Asih,- Ed.3.EGC, Jakarta.
Rondhianto, Keperawatan Perioperatif, http//www.google.co.id, diambil tanggal 4 Maret
2008
PP HIPKABI, 2007, Buku Panduan Dasar-Dasar Keterampilan Bagi Perawat Kamar Bedah,
HIPKABI Press, Jakarta.
A.Aziz Halimul Hidayat, 2004, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Salema
Medika.

Budi Kusuma, 2001, Ilmu Patologi, Penerbit Buku Kedokteran.Jakarta: EGC