Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ETIKA PROFESI TEKNIK INFORMATIKA

ETIKA KOMPUTER

Dosen: Hasbi, S.Pd., M.Pd.

DISUSUN OLEH KELOMPOK 5:


- MUH. GHAZALI

1304411379

- EFRI

1304411150

- NOVIA ERISTA

1304411167

- YAYUK PRATIWI

1304411086

FAKULTAS TEKNIK KOMPUTER


UNIVERSITAS COKROAMINOTO PALOPO
TAHUN 2016

Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia, rahmat,
dan Ridho-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini
penulis membahas tentang Etika Komputer. Makalah disusun dengan tujuan untuk
memenuhi salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan mata kuliah Etika Profesi Teknik
Inofrmatika juga diharapakan memberikan pengetahuan lebih kepada pembaca.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, karena pengetahuan dan pengalaman penulis yang masih terbatas. Namun
demikian penulis berusaha semaksimal mungkin untuk menyusun makalah ini dengan sebaikbaiknya. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengaharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis berharap
semoga makalah ini dapat memberikan manfaat.

Palopo, 29 Maret 2016

Penulis

Daftar Isi
Kata Pengantar....................................................................................................................... i
Daftar Isi............................................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan ................................................................................................................ 1
1.1.Latar Belakang..................................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ............................................................................................... 2
1.3.Tujuan ................................................................................................................. 2
Bab II Pembahasan ............................................................................................................... 3
2.1. Etika Penggunaan Komputer.............................................................................. 3
2.2. Isu-isu Pokok Etika Komputer............................................................................ 6
2.3. Cybercrime.......................................................................................................... 8
Bab III Penutup ..................................................................................................................... 10
3.1. Kesimpulan------------------------------------------------------------------------------- 10
3.2. Saran-------------------------------------------------------------------------------------- 10
Daftar Pustaka ....................................................................................................................... 11

ii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menurut Robert H Blissmer 1985 mengatakan bahwa Komputer adalah suatu
alat elektronik yang mampu melakukan beberapa tugas seperti menerima input, memproses
input, menyimpan perintah-perintah dan menyediakan output dalam bentuk informasi.
Perkembangan global internet sebagai milik publik mengisyaratkan adanya
harapan-harapan akan terjadinya perubahan ruang dan jarak. Perkembangan tersebut juga
diramalkan akan menuju pada terbentuknya intensitas dengan sistem tingkah laku tertentu,
melalui pola-pola pengujian dengan unsur-unsur dominan berupa pengalaman dan budaya
dalam penggunaan informasi. Semua itu pada gilirannya harus diakui oleh hukum mana pun
disemua belahan bumi, yang tentu saja berbeda-beda dampaknya terhadap kaitan antara
hukum dengan ekonomi, politik ataupun ideologi.
Hubungan antara hukum dan teknologi internet tentu saja akan menjadi hal yang
unik. Faktor yang utama adalah undang-undang itu sendiri harus siap namun dalam kenyataan
apabila ada kasus yang baru biasanya kita belum siap untuk menentukan hukumannya.
Dunia cyber sebagai manifestasi sistem informasi dan telekomunikasi yang terpadu dalam
suatu jaringan global, adalah ruang tanpa batas yang dapat diisi dengan sebanyak mungkin
katagori. Baik yang sudah ada, akan ada, dan mungkin akan terus berkembang.
Hukum dan alat perlengkapannya tentu juga terus berkembang, kesiapan para
aparat atau sumber daya manusia dari penegak hukum harus ditingkatkan terutama dalam hal
ini adalah POLRI, yang menjadi masalah adalah apakah undang-undang dapat berkembang
sepesat dan secepat perkembangan dunia cyber. Bahkan pada taraf unlimited world (dunia
yang tiada batas) yang bisa melanda semua kategori yang sempat terpikirkan manusia
seperti u-commerce, u-banking, u-trade dan lain-lain.
Diperkirakan kejahatan dengan menggunakan teknologi komputer ini telah
menyebabkan kerugian yang cukup besar. Fasilitas untuk pembuktian yang masih sangat
kurang dimiliki oleh aparat penegak hukum Hal ini disebabkan karena ada beberapa kejahatan
komputer yang tidak terdeteksi oleh korban, tidak dilaporkannya oleh masyarakat kejahatan
ini kepada pihak yang berwenang.

Kemajuan teknologi komputer, teknologi informasi dan teknologi komunikasi


menimbulkan suatu tindak pidana baru yang memiliki karakteristik yang berbeda dengan
tindak pidana konvensional. Penyalahgunaan komputer sebagai salah satu dampak dari ketiga
perkembangan tersebut tidak terlepas dari sifatnya yang khas sehingga membawa persoalan
baru yang agak rumit untuk dipecahkan, berkenaan dengan masalah penanggulangannya.
1.2.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis membuat rumusan masalah sebagai
berikut :

1.3. Tujuan

Apakah etika komputer itu?


Apakah isu-isu dalam etika komputer?
Apakah cybercrime itu?
Untuk mengetahui definisi dari etika komputer serta cakupan-cakupan yang
termasuk didalamnya.
Untuk mengetahui apa saja isu-isu dalam etika komputer
Untuk mengetahui definisi dari cybercrime

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Etika Penggunaan Komputer
Etika dalam penggunaan komputer sedang mendapat perhatian yang lebih besar
daripada sebelumnya. Masyarakat secara umum memberikan perhatian terutama karena
kesadaran bahwa komputer dapat menganggu hak privasi individual. Dalam dunia bisnis salah
satu alasan utama perhatian tersebut adalah pembajakan perangkat alat lunak yang
menggerogoti pendapatan penjual perangkat lunak hingga milyaran dolar setahun. Namun
subyek etika komputer lebih dalam daripada masalah privasi dan pembajakan. Komputer
adalah peralatan sosial yang penuh daya, yang dapat membantu atau mengganggu masyarakat
dalam banyak cara, semua tergantung pada cara penggunaannya.
Ada tiga alasan utama minat masyarakat yang tinggi pada etika komputer,
yaitu:
1. Kelenturan logika (logical malleability) adalah kemampuan memprogram komputer
untuk melakukan apapun yang diinginkan. Komputer bekerja tepat dan sesuai seperti
yang diinstruksikan oleh pembuat program. Kelenturan logika inilah yang bisa
menakutkan masyarakat, tetapi pada dasarnya masyarakat tidak takut terhadap
computer. Sebaliknya masyarakat bisa takut terhadap orang-orang yang memberi
perintah di belakang komputer.
2. Faktor transformasi. Alasan kepedulian pada etika komputer ini didasarkan pada
fakta bahwa komputer dapat mengubah secara drastis cara melakukan sesuatu. Sebagai
contoh yang baik adalah surat elektronik (e-mail) yang tidak hanya memberikan cara
berkomunikasi yang lain, tetapi memberikan cara berkomunikasi yang sama sekali
baru. Transformasi seruapa dapat dilihat cara mengadakan rapat. Jika pada masa lalu
rapat harus dilakukan dengan berkumpul secara fisik, maka saat ini dapat dilakukan
dalam bentuk konferensi video (video conference).
3. Faktor tak kasat mata (invisibility factors). Alasan lain minat masyarakat pada etika
komputer adalah karena semua operasi internal komputer tersembunyi dari
penglihatan. Operasi internal yang tidak nampak ini membuka peluang pada nilai-nilai
pemrograman yang tidak terlihat (perintah-perintah yang programer kodekan menjadi
program yang mungkin dapat atau tidak menghasilkan pemrosesan yang diinginkan
pemakai), perhitungan rumit yang tidak terlihat (bentuk program-program yang
sedemikian rumit sehingga tidak dimengerti oleh pemakai), dan penyalahgunaan yang
tidak terlihat (tindakan yang sengaja melanggar batasan hukum dan etika).

Oleh karena itu masyarakat sangat memperhatikan etika komputer, masyarakat


mengharapkan bisnis diarahkan oleh etika computer. Dengan demikian dapat meredakan
kekhawatiran tersebut. Etika adalah kepercayaan tentang hal yang benar dan salah atau
yang baik dan yang tidak. Etika dalam sistem informasi dibahas pertama kali oleh Richard
Mason (1986), yang mencakup PAPA, yaitu :
1.
2.
3.
4.

Privasi
Akurasi
Properti
Akses
Privasi menyangkut hak individu untuk mempertahankan informasi pribadi dari

pengaksesan oleh orang lain yang memang tidak diberi izin untuk melakukannya. Contoh
kasus:
1. Junk mail
2. Manajer pemasaran mengamati e-mail bawahannya
3. Penjualan data akademis
Akurasi terhadap informasi merupakan faktor yang harus dipenuhi oleh sebuah
sistem informasi. Ketidakakurasian informasi dapat menimbulkan hal yang menggangu,
merugikan, dan bahkan membahayakan. Contoh kasus: Terhapusnya nomor keamanan
sosial yang dialami oleh Edna Rismeller Akibatnya, kartu asuransinya tidak bisa
digunakan bahkan pemerintah menarik kembali cek pensiun sebesar $672 dari rekening
banknya.
Hak cipta adalah hak yang dijamin oleh kekuatan hukum yang melarang
penduplikasian kekayaan intelektual tanpa seizin pemegangnya. Hak seperti ini mudah
untuk didapatkan dan diberikan kepada pemegangnya selama masa hidup penciptanya
plus 70 tahun. Contoh : Paten merupakan bentuk perlindungan terhadap kekayaan
intelektual yang paling sulit didapatkan karena hanya akan diberikan pada penemuanpenemuan inovatif dan sangat berguna. Hukum paten memberikan perlindungan selama
20 tahun. Hukum rahasia perdagangan melindungi kekayaan intelektual melalui lisensi
atau kontrak.
Pada lisensi perangkat lunak, seseorang yang menandatangani kontrak menyetujui
untuk tidak menyalin perangkat lunak tersebut untuk diserahkan pada orang lain atau
dijual.
Fokus dari masalah akses adalah pada penyediaan akses untuk semua kalangan.
Teknologi informasi diharapkan malah tidak menjadi halangan dalam melakukan
pengaksesan terhadap informasi bagi kelompok orang tertentu, tetapi justru untuk
mendukung pengaksesan untuk semua pihak.
4

MORAL, ETIKA DAN HUKUM


Moral : tradisi kepercayaan mengenai perilaku benar atau salah
Etika : satu set kepercayaan, standart atau pemikiran yang mengisi suatu individu,

kelompok dan masyarakat.


Hukum : peraturan per ilaku yang dipaksakan oleh otoritas berdaulat,seperti
pemerintah pada rakyat atau warga negaranya.

Penggunaan komputer dalam bisnis diarahkan oleh nilai-nilai moral dan etika dari para
manajer, spesialis informasi dan pemakai dan juga hukum yang berlaku. Hukum paling
mudah diiterprestasikan karena berbentuk tertulis. Dilain pihak etika dan moral tidak
didefinisikan secara persis dan tidak disepakati oleh semua anggota masyarakat.
-

Hak Sosial Dan Komputer

Masyarakat memiliki hak-hak tertentu berkaitan dengan penggunaan komputer, yaitu :


Hak atas computer (Deborah Johnson) :
1. Hak atas akses komputer
yaitu setiap orang berhak untuk mengoperasikan komputer dengan tidak harus
memilikinya.
2. Hak atas keahlian komputer
Pada kenyataannya dengan keahlian di bidang komputer dapat membuka peluang
pekerjaan yang lebih banyak.
3. Hak atas spesialis komputer
Pemakai komputer tidak semua menguasai akan ilmu yang terdapat pada
komputer yang begitu banyak dan luas. Untuk bidang tertentu diperlukan spesialis
bidang komputer.
4. Hak atas pengambilan keputusan komputer
Meskipun masyarakat tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan
mengenai bagaimana komputer diterapkan, namun masyarakat memiliki hak
tersebut.

Hak atas informasi (Richard O. Masson) :


1. Hak atas privasi
Sebuah informasi yang sifatnya pribadi baik secara individu maupu dalam suatu
organisasi mendapatkan perlindungan atas hukum tentang kerahasiannya.
2. Hak atas akurasi
Komputer dipercaya dapat mencapai tingkat akurasi yang tidak bisa dicapai oleh
sistem nonkomputer, potensi ini selalu ada meskipun tidak selalu tercapai.
3. Hak atas kepemilikan
5

Ini berhubungan dengan hak milik intelektual, umumnya dalam bentuk programprogram komputer yang dengan mudahnya dilakukan penggandaan atau disalin
secara ilegal. Ini bisa dituntut di pengadilan.
4. Hak atas akses
Informasi memiliki nilai, dimana setiap kali kita akan mengaksesnya harus
melakukan account atau izin pada pihak yang memiliki informasi tersebut. Sebagai
contoh kita dapat membaca data-data penelitian atau buku-buku online di Internet
yang harus bayar untuk dapat mengaksesnya.
2.2. Isu-isu Pokok Etika Komputer
1. Kejahatan Komputer
Kejahatan komputer dapat diartikan sebagai Kejahatan yang ditimbulkan karena
penggunaan komputer secara ilegal (Andi Hamzah, 1989). Selanjutnya, seiring dengan
perkembangan pesat teknologi komputer, kejahatan bidang ini pun terus meningkat. Berbagai
jenis kejahatan komputer yang terjadi mulai dari kategori ringan seperti penyebaran virus,
spam email, penyadapan transmisi sampai pada kejahatan-kejahatan kategori berat seperti
misalnya carding (pencurian melalui internet), DoS (Denial of Services) atau melakukan
serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan target sehingga ia tak dapat memberikan
layanan lagi, dan sebagainya.
2. Cyber Ethics
Salah satu perkembangan pesat di bidang komputer adalah internet. Dengan internet
tersebut, satu komputer dapat berkomunikasi secara langsung dengan komputer lain di
berbagai belahan dunia.
Perkembangan internet memunculkan peluang baru untuk membangun dan
memperbaiki pendidikan, bisnis, layanan pemerintahan dan demokrasi. Namun, Permasalahan
baru muncul setelah terjadi interaksi yang universal diantara pemakainya. Harus dipahami
bahwa pengguna internet berasal dari berbagai negara yang mungkin saja memiliki budaya,
bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda. Di samping itu, pengguna internet merupakan
orang-orang yang hidup dalam dunia anonymouse yang tidak memiliki keharusan
menunjukkan identitas asli dalam berinteraksi. Hal itu membuat kita tidak saling mengenal
dalam arti kata yang sesungguhnya atau bahkan satu penghuni dunia maya mungkin tidak
akan pernah bertatap muka dengan penghuni yang lainya. Sementara itu, munculnya berbagai
layanan dan fasilitas yang diberikan dalam internet memungkinkan seseorang untuk bertindak

tidak etis. Permasalahan-Permasalah tersebut di atas, menuntut adanya aturan dan prinsip
dalam melakukan komunikasi via internet.
3. E-commerce
Secara umum dapat dikatakan bahwa e-commerce adalah Sistem perdagangan yang
menggunakan mekanisme elektronik yang ada di jaringan internet. Dalam pelaksanaannya, ecommerce minimbulkan beberapa isu menyangkut aspek hukum perdagangan dalam
penggunaan sistem yang terbentuk secara online networking management tersebut.
Dengan berbagai permasalahan yang muncul menyangkut perdagangan via internet
tersebut, diperlukan acuan model hukum yang dapat digunakan sebagai standar transaksi.
4. Pelanggaran Hak Atas Kekayaan Intelektual
Sebagai teknologi yang bekerja secara digital, komputer memiliki sifat keluwesan
yang tinggi. Sifat itu di satu sini menimbulkan banyak keuntungan, tetapi di sisi lain juga
menimbulkan permasalahan, terutama menyangkut hak atas kekayaan intelektual. Beberapa
kasus pelanggaran atas hak kekayaan intelektual tersebut antara lain adalah pembajakan
perangkat lunak, softlifting (pemakaian lisensi melebihi kapasitas penggunaan yang
seharusnya), penjualan CDROM ilegal atau juga penyewaan perangkat lunak ilegal. Indonesia
merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat pembajakan perangkat lunak cukup
tinggi. Kebanyakan pembajakan di Indonesia adalah pembajakan yang dilakukan oleh end
user seperti penggunaan satu lisensi untuk banyak PC, pelanggaran kontrak lisensi serta
pemuatan perangkat lunak bajakan di PC.
5. Tanggung Jawab Profesi
Seiring perkembangan teknologi pula, para profesional di bidang komputer sudah
melakukan spesialisasi bidang pengetahuan dan sering kali mempunyai posisi yang tinggi dan
terhormat di kalangan masyarakat. Oleh karena alasan tersebut, mereka memiliki tanggung
jawab yang tinggi, mencakup banyak hal dari konsekuensi profesi yang dijalaninya. Para
profesional menemukan diri mereka dalam hubungan profesionalnya dengan orang lain,
mencakup pekerja dengan pekerjaan, klien dengan profesional, profesional dengan
profesional lain, serata masyarakat dengan profesional.
Hubungan ini melibatkan suatu keanekaragaman minat, dan Kadang-kadang minat
ini dapat masuk ke dalam bertentangan satu sama lain. Para profesional komputer yang
bertanggung jawab, tentunya sadar dengan konflik kepentingan yang mungkin terjadi dan
berusaha untuk menghindarinya.
7

Di Indonesia, Organisasi profesi dibidang komputer yang didirikan sejak 1974 yang
bernama IPKIN (Ikatan Profesi Komputer dan Informatika), juga sudah menetapkan dode etik
yang disesuaikan dengan kondisi perkembangan pemakaian teknologi komputer di Indonesia.
Kode etik profesi tersebut menyangkut kewajiban pelaku profesi terhadap ilmu pengetahuan
dan teknologi, kewajiban pelaku profesi terhadap masyarakat, kewajiban pelaku profesi
terhadap sesama pengemban profesi ilmiah, serta kewajiban pelaku profesi terhadap sesama
umat manusia dan lingkungan hidup.
2.3. Cybercrime
Definisi dan Jenis Kejahatan Dunia Cyber. Sebagaimana lazimnya pembaharuan
teknologi, internet selain memberi manfaat juga menimbulkan ekses negatif dengan
terbukanya peluang penyalahgunaan teknologi tersebut. Hal itu terjadi pula untuk data dan
informasi yang dikerjakan secara elektronik. Dalam jaringan komputer seperti internet,
masalah kriminalitas menjadi semakin kompleks karena ruang lingkupnya yang luas.
Kriminalitas di internet atau cybercrime pada dasarnya adalah suatu tindak pidana yang
berkaitan dengan cyberspace, baik yang menyerang fasilitas umum di dalam cyberspace
ataupun kepemilikan pribadi. Jenis-jenis kejahatan di internetterbagi dalam berbagai versi.
Salah satu versi menyebutkan bahwa kejahatan ini terbagi dalam dua jenis, yaitu kejahatan
dengan motif intelektual.
Biasanya jenis yang pertama ini tidak menimbulkan kerugian dan dilakukan untuk
kepuasan pribadi. Jenis kedua adalah kejahatan dengan motif politik, ekonomi atau kriminal
yang berpotensi menimbulkan kerugian bahkan perang informasi. Versi lain membagi
cybercrime menjadi tiga bagian yaitu pelanggaran akses, pencurian data, dan penyebaran
informasi untuk tujuan kejahatan.
Secara garis besar, ada beberapa tipe cybercrime:
a. Joy computing, yaitu pemakaian komputer orang lain tanpa izin. Hal ini termasuk
pencurian waktu operasi komputer.
b. Hacking, yaitu mengakses secara tidak sah atau tanpa izin dengan alat suatu terminal.
c. The Trojan Horse, yaitu manipulasi data atau program dengan jalan mengubah data atau
instruksi pada sebuah program, menghapus, menambah, menjadikan tidak terjangkau
dengan tujuan untuk kepentingan pribadi pribadi atau orang lain.
d. Data Leakage, yaitu menyangkut bocornya data ke luar terutama mengenai data yang
harus dirahasiakan. Pembocoran data komputer itu bisa berupa berupa rahasia negara,
perusahaan, data yang dipercayakan kepada seseorang dan data dalam situasi tertentu.
e. Data Diddling, yaitu suatu perbuatan yang mengubah data valid atau sah dengan cara
tidak sah, mengubah input data atau output data.
f. To frustate data communication atau penyia-nyiaan data komputer.
8

g. Software piracy yaitu pembajakan perangkat lunak terhadap hak cipta yang dilindungi
HAKI.
Dari ketujuh tipe cybercrime tersebut, nampak bahwa inti cybercrime adalah
penyerangan di content, computer system dan communication system milik orang lain
atau umum di dalam cyberspace (Edmon Makarim, 2001: 12). Pola umum yang
digunakan untuk menyerang jaringan komputer adalah memperoleh akses terhadap
account user dan kemudian menggunakan sistem milik korban sebagai platform untuk
menyerang situs lain. Hal ini dapat diselesaikan dalam waktu 45 detik dan
mengotomatisasi akan sangat mengurangi waktu yang diperlukan (Purbo, dan
Wijahirto,2000: 9).
Fenomena cybercrime memang harus diwaspadai karena kejahatan ini agak
berbeda dengan kejahatan lain pada umumnya. Cybercrime dapat dilakukan tanpa
mengenal batas teritorial dan tidak diperlukan interaksi langsung antara pelaku dengan
korban kejahatan. Bisa dipastikan dengan sifat global internet, semua negara yang
melakukan kegiatan internet hampir pasti akan terkena imbas perkembangan cybercrime
ini.
Berdasarkan survey AC Nielsen 2001 Indonesia ternyata menempati posisi ke
enam terbesar di dunia atau ke empat di Asia dalam tindak kejahatan di internet. Meski
tidak disebutkan secara rinci kejahatan macam apa saja yang terjadi di Indonesia maupun
WNI yang terlibat dalam kejahatan tersebut, hal ini merupakan peringatan bagi semua
pihak untuk mewaspadai kejahatan yang telah, sedang, dan akan muncul dari pengguna
teknologi informasi

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Indonesia merupakan salah satu negara pengguna komputer terbesar di dunia
sehingga penerapan etika komputer dalam masyarakat sangat dibutuhkan. Indonesia
menggunakan dasar pemikiran yang sama dengan negara-negara lain sesuai dengan sejarah
etika komputer yang ada.
Pengenalan teknologi komputer menjadi kurikulum wajib di sekolah-sekolah,
mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA sederajat). Pelajar,
mahasiswa dan karyawan dituntut untuk bisa mengoperasikan program-program komputer
dasar seperti Microsoft Office. Tingginya penggunaan komputer di Indonesia memicu
pelanggaran-pelanggaran dalam penggunaan internet.
Adanya etika komputer berfungsi agar mengubah penggunaan komputer pada halhal yang negatif. Sekarang ini selain hal tersebut etika komputer juga telah memiliki dasar
hukum untuk mengontrol pelanggaran-pelanggaran dalam etika komputer.
3.2. Saran
Untuk menghormati hasil karya orang lain/ciptaan orang lain sebaiknya
menggunakan produk yang asli jangan yang bajakan.

Daftar Pustaka

Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi. Yogyakarta: Kanisius.


Simarmata, Janner. 2008. Pengenalan Teknologi Komputer dan Informasi.
Yogyakarta: Penerbit Andi.
Wahyono, Teguh. 2009. Etika Komputer: Tanggung Jawab Profesional di Bidang
Teknologi Informasi. Yogyakarta.

11