Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional yang diarahkan guna
mencapai kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar
dapat mewujudkan derajad kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal yaitu dimana keadaan
sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara
sosial dan ekonomis (Bina Depnakes, 2003 ).
Misi dari pembangunan kesehatan sendiri yaitu mewujudkan Indonesia Sehat 2010, untuk
mewujudkan Indonesia 2010 maka diperlukan perencanaan yang matang, program yang jelas,
penggerakan pelaksanaan yang seksama dan sumber daya (manusia, pembiayaan, logistik) yang
memadai.
Fisioterapis sebagai salah satu pelaksana layanan kesehatan ikut berperan dan
bertanggungjawab dalam peningkatan derajat kesehatan, terutama yang berkaitan dengan obyek
disiplin ilmunya yaitu gerak dan fungsi.
A. LATAR BELAKANG
Dalam melakanakan praktek sering kali kita jumpai pasien dengan keluhan nyeri di sekitar leher.
Bahkan banyak pasien yang merasakan nyeri tersebut menjalar sampai ke lengan hingga jari
tangan bahkan bahu sulit untuk diangkat karena adanya kelemahan otot-otot bahu. Gangguan
tersebut merupakan kumpulan gejala-gejala yang dinamakan Cervical Root Syndrome atau lebih
dikenal dengan CRS. Nyeri yang menjalar tanpa atau adanya kelemahan otot-otot bahu
menyebabkan pasien kehilangan jam kerjanya karena dirasakan sangat mengangggu dalam
beraktifitas kerja maupun akifitas sehari-hari yang manggunakan bahu. Adanya pernmasalahan
yang timbul karena adanya gangguan fungsi gerak bahu dan tangan maka fisiotrapis berperan aktif
dalam menangani permasalahan mengurangi nyeri , mengurangi spasme dan meningkatkan
kekuatan otot bahu.
Nyeri cervical merupakan salah satu keluhan yang sering menyebabkan seseorang datang berobat
ke fasilitas kesehatan. Di populasi didapatkan sekitar 34% pernah mengalami nyeri cervical dan
hamper 14% mengalami nyeri tersebut lebih dari 6 bulan. Pada populasi diatas 50 tahun, sekitar
10% mengalami nyeri cervical (Turana, 2005). Dr. Ahmad Toha Muslim (2005) mengemukakan bahwa
sekitar 80 % penduduk di kota bandung pernah mengalami sakit leher.
Dalam kasus ini penulis menggunakan modalitas fisioterapi berupa Short Wave Diatermy ( SWD ).
Pemberian SWD diharapkan dapat merangsang serabut syaraf tipe II dan tipe III, sehingga akan
menghalangi masuknya impuls nosiseptif di tingkat medulla spinalis sehingga nyeri akan berkurang
dan selanjutnya akan memutus siklus nyeri-spasme-nyeri, Sedangkan modalitas yang kedua adalah
dengan ultra sonic . Ultra Sonic dapat mengurangi nyeri yang didapat dari efek thermalnya.
Dilihat dari tulang, ligament, tendon otot yang kesemuanya itu berbentuk keras sehingga

modalitas elektris fisioterapi yang penetrasinya dapat menembus jaringan keras adalah ultra sonic
(Comeron, 1999 ).
Kelemahan otot-otot bahu dan leher yang disebabkan oleh entrapment akar saraf servikal dapat
diatasi dengan menggunakan modalitas fisioterapi yang berupa terapi latihan. Jenis terapi latihan
yang digunakan untuk kondisi ini adalah adalah srengtening yaitu terapi latihan dengan
menggunakan metode Propioceptif Neuromusular Fasilitation (PNF) dan terapi latihan berupa
traksi cervical secara manual. Dengan traksi servical diharap terjadi penambahan ruangan pada
intervertebralis maka penyempitan yang dapat menekan akar saraf dapat berkurang, serta
diperoleh relaksasi otot-otot leher. Sedangkan dengan PNF berusaha memberikan rangsangan
sedemikian sehingga diharapkan timbul reaksi-reaksi yang sesuai dengan perangsangan yang
akhirnya gerakan-gerakan yang diinginkan tercapai. Berdasarkan prinsip PNF dari teori pergerakan
yang menyatakan bahwa PNF dapat memperbaiki kekuatan dan kondisi system neuro
musuloseletal. Tehnik ini bermanfaat untuk assisted otot-otot yang lemah sekaligus strengthening
otot-otot yang lebih kuat.
B. RUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan permasalahan pada kondisi CRS ini, maka penulis dapat merumuskan masalah
antara lain (1) Apakah Short wave Diatermy dan ultra sonic dapat mengurangi nyeri (2) Apakah
Terapi latihan dengan metode PNF dapat meningkatkan kekuatan oot dan meningkatkan Lingkup
Gerak Sendi? (3) Apakah traksi cervical manual dapat menguragi penyempitan pada vertebrae
cervialis.
C. TUJUAN PENULISAN.
Dalam penulisan makalah ini tujuan yang ingin penulis capai adalah untuk mengetahui (1)
Manfaat SWD dan ultra sonic terhadap pengurangan nyeri (2) Manfaat Terapi latihan dengan
metode PNF terhadap meningkatkan kekuatan oot dan meningkatkan Lingkup Gerak Sendi.(3)
Manfaat traksi cervical terhadap pengurangan penyempitan pada vertebrae cervicalis.
BAB II

A.
1.
2.

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Fungsional
1.
Sistem tulang
Arcus

Arcus adalah bangunan yang merupakan lempengan dan simetris antara kanan dan kiri, terletak
pada posterior corpus. Pangkal dari corpus ini disebut radiks arcus vertebralis. Di sebelah posterior
dari lengkung ini bertemu linea mediana posterior dan selanjutnya membentuk tonjolan seperti
duri yang disebut prosessus spinosus. Tonjolan meruncing pada batas dataran radiks dan arus ke
lateral disebut prosessus tranversus.
1.
Foramen vertebralis

Vertebra cervicalis membentuk suatu columna vertebralis, dengan sendirinya tiap foramen
vertebrae yang lain membentuk kanalis di dalam columna vertebralis yang ditempati oleh medulla
spinalis, yaitu foramen vertebralis.
1.
Vertebrae cervicalis
Vertebrae cevicalis terdiri dari tujuh vertebrae, yang masing-masing terhubung dengan yang lain.
Pada vertebra cervicalis satu sampai enam mempunyai corpus kecil. Processusnya
bersifat bifida (bercabang dua). Processus tranversusnya mempunyai foramen transversarium yang
membagi processus tranversum menjadi dua tonjolan yaitu tuberkulum anterius danposterius.
tetapi
pada
cervical
enam
terdapat
pembesaran
dari tuberkulum
anterius yang
disebut tuberkulum karotikus yang terletak di arteria karotikus.
Sedangkan pada vertebrae cervical tujuh terdapat perbedaan susunan dengan vertebrae cervicalis
lainya karena prosessus spinosusnya disini meruncing menuju ke dorsal dan tidak bercabang
menjadi dua lagi dan sangat menonjol sehingga mudah diraba dari luar, oleh karena itu vertebrae
cervical tujuh disebut vertebrae prominens. Selain itu perbedaan yang lainya adalah foramen
tranversarium sangat kecil, sebab belum dilalui oleh pembuluh darah.
1.
2.
Sistem otot
Sesuai dengan kondisi CRS ini maka dalam bab ini penulis akan membahas otot-otot yang
berhubungan dengan gerakan leher dan bahu yang meliputi flexor cervicalis otot-otot penggerak
utamanya adalah m. sternoleidomastoideus, m. sclaneus medius dan anterior posterior, dimana
otot-otot ini diinervasi oleh C1-8, eksensor cervicalis otot penggerak utamanya adalah m.
splennius cervicis, m. semi spinalis, m. longisimus cervicalis, m. ilioastalis cervicis (diinervasi C3T6), lateral flexi otot penggerak utamanya adalah m.sternoleidomastoideus, m. sclaneus
anterior, medius dan posterior (diinervasi C2-3), rotasi, penggerak utamanya adalah m. obliqus
capitis inferior, m. semispinalis cervicis, m. splenius cervicis, m. longus capitis (diinervasi C2T5).
Sedangkan otototot penggerak bahu adalah m. deltoid anterior, m. supra spinatus, dan m.
coraco radialis untuk gerakan flexi, m. latisimus dorsi dan m. teres mayor untuk ekstensi, m.
deltoid middle, m. supra spinatus untuk abduksi, m. latisimus dorsi, m. petoralis mayor, m. teres
minor dan m. coraco brachialis untuk adduksi, m. infraspinatus, m. teres minor untuk internal
dan eksternal rotasi.
1.
3.
Sistem persarafan
Sistem persarafan merupakan sistem penghantar yang berfungsi sebagai perantara impuls-impuls
saraf yang berjalan di kedua arah antara susunan saraf pusat dan jaringan tubuh lainya. Komponen
badan saraf terdiri dari serabut-serabut yang terikat menjadi satu oleh jaringan penyokong
konektif. Sistem persarafan yang terletak pada plexsus brachialis merupakan sistem saraf perifer
yang mana terdapat beberapa persarafan antara lain, n. medianus, n. ulnaris, n. cuaeus, dan n.
radialis (Chusid, 1993).
1.
a.
Nerves Musculocutaneus
Nerves Musculocutaneus timbul dari fascicularis lateral plexsus brachialis dan terdiri dari
serabut-serabut yang berasal dari segmen C5 dan C6. mula-mula nerves ini terletak di sebelah

lateral arteri axillaris, lalu menembus muscular coraco brachialis dan turun secara oblique di
sebelah lateral diantara musculus biceps dan brachialis (Chusid, 1993).
1.
b. Nerves axillaris (circumflexa, C5-C6)
Nerves axillaris berasal dari fasciculer post plexus brachialis dan terdiri dari serabut-serabut yang
berasal dari segmen C5 dan C6, kemudian serabut berjalan ke dorsal (Chusid, 1993).
1.
c. Nerves radialis (musculospiralis, C6-8 dan Th 1)
Nerves radialis merupakan cabang yang terbesar daripada batas bawah muscular pectoralis sebagai
kelanjutan langsung dari fasciculer pectoralis dan serabut-serabut yang berasal dari tiga segmen
thoracal pertama dari medulla spinalis. Selama berjalan turun sepanjang lengan, n. radialis ini
menyertai arteri profundus dan sekitar humerus serta di dalam sulcus musculospinalis. (Chusid,
1993).
1.
d. Nerves Medianus (C6-8, Th1)
Nerves medianus dipercabangkan dari pleksus brachialis dengan dua buah caput. Kedua caput
tersebut berasal dari fasikulus lateral dan fasikulus medial. Kedua caput tersebut bersatu pada
bawah otot pectoralis minor, jadi serabut-serabut dari dalam trunkus berasal dari tiga segmen
cervical yang bawah dan dari segmen thorakal pertama medulla spinalis di dalam lengan atas
bagian bawah (Chusid, 1993).
1.
e. Nerves Ulnaris (C8-Th1)
Nerves ulnaris merupakan cabang terbesar daripada plexsus brachialis. Serabut syaraf ini
terdiri dari serabut-serabut yang berasal dari segmen C8-Th1. Nerves ulnaris ini berasal dari batas
bawah musculus pectoralis minor dan berjalan turun pada sisi medial lengan dan
menembus septum intermuscular untuk
medialis (Chusid, 1993).

melanjutkan

perjalanan

dalam

sulcus

pada caput

B. Patologi dan Problematik Fisioterapi


1. Definisi
Cervical Root Syndrome adalah keadaan yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi akar-akar saraf
cervicalis, yang ditandai dengan nyeri di leher yang menyebar ke lengan atau tergantung pada
akar saraf yang tertekan (Dorland, 1985).
2. Etiologi
Beberapa kondisi pada leher banyak disebabkan oleh pergeseran atau penjepitan dari akar saraf
atau gangguan pada foramen intervertebralis mungkin disertai dengan tanda dan gejala dari CRS.
Kondisi tebanyak pada kasus ini disebabkan oleh proses degeneratif dan herniasi dari discus
intervertebralis (Gartland, 1974).
3. Patologi
Discus intervertebralis terdiri dari nucleus pulposus yang merupakan jaringan elastis, yang
dikelilingi oleh annulus fibrosus yang terbentuk oleh jaringan fibrosus. Kandungan air
dalamnucleus pulposus ini tinggi, tetapi semakin tua umur seseorang kadar air dalam nuleus

pulposus semakin berkurang terutama setelah seseorang berumur 40 tahun, bersamaan dengan itu
terjadi perubahan degenerasi pada begian pusat discus, akibatnya discus ini akan menjadi tipis,
sehingga jarak antara vertebrae yang berdekatan mejadi kecil dan ruangan discus menjadi sempit.
Selanjutnya annulus fibrosus mengalami penekanan dan menonjol keluar. Menonjolnya bagian
discus ini maka jaringan sekitarnya yaitu corpus-corpus vertebrae yang berbatasan akan terjadi
suatu perubahan. Perubahannya yaitu terbentuknya jaringan ikat baru yang dikenal dengan
nama osteofit. Kombinasi antara menipisnya discus yang menyebabkan penyempitan ruangan
discus dan timbulnya osteofit akan mempersempit diameter kanalis spinalis. Pada kondisi normal
diameter kanalis spinalis adalah 17 mm sampai 18 mm (Adam dan Victor, 1977). Tetapi pada
kondisi CRS, kanalis ini menyempit dengan diameter pada umumnya antara 9 mm sampai 10 mm
(Adorte dan Galsberg, 1980).
Pada keadaan normal, akar-akar saraf akan menempati seperempat sampai seperlima, sedangkan
sisanya akan diisi penuh oleh jaringan lain sehingga tidak ada ruang yang tersisa. Bila foramen
intervertebralis ini menyempit akibat adanya osteofit, maka akar-akar saraf yang ada didalamnya
akan tertekan. Saraf yang tertekan ini mula-mula akan membengkok. Perubahan ini menyebabkan
akar-akar saraf tersebut terikat pada dinding foramen intervertebralis sehingga mengganggu
peredaran darah. Selanjutnya kepekaan saraf akan terus meningkat terhadap penekanan, yang
akhirnya akar-akar saraf kehilangan sifat fisiologisnya. Penekanan akan menimbutkan rasa nyeri di
sepanjang daerah yang mendapatkan persarafan dari akar saraf tersebut.
1.

4.

Tanda gejala

Adapun gejala yang khas dari CRS yaitu rasa nyeri yang menjalar mengikuti alur segmentasi
serabut syaraf yang lesi sehingga disebut dengan nyeri radikuler, gangguan fungsi motoris yang
ditandai dengan kelemahan otot berdasarkan distribusi myotom, terjadi spasme otot, gangguan
sensibilitas pada segmen dermatom, gangguan postural yang terjadi akibat menghindari posisi
nyeri, dan pada kondisi kronis timbul kontraktur otot dan kelemahan otot pada regio cervical
(Adam dan victor, 1980).
1.
5.
Diagnosis banding
Banyak kondisi yang dapat menimbulkan nyeri pada leher dan bahu serta rasa tak nyaman pada
ekstremitas. Semua itu harus dibedakan dari mana asalnya dan bagaimana mekanisme terjadinya.
Diagnosis banding untuk CRS ini adalah :
1.

Carpal Tunnel Syndrome,

Adalah suatu gejala yang muncul bila ada penekanan nervus medianus oleh ligamen
transversum sehingga timbul kesemutan, nyeri menjalar ke tangan (Cailliet, 1991).
1.
Thoracic outlet syndrome
1.
a.
Anterior sclanei syndrome
Disebabkan karena adanya kompresi bundle neurovaskuler diantara otot sclanei dan
costa pertama. Gejalanya adalah numbness, tingling, di lengan dan jari-jari tangan. Biasanya

menggambarkan kesemutan datang dan pergi dari tangan dan jari tangan. Nyeri ini letaknya dalam
biasanya datang setelah duduk lama (Cailliet, 1991).
1.
b.
Petoralis minor syndrome
Muncul bila ada penekanan bundle neuromuscular diantara bagian antero lateral atas dan otot
pectoralis minor terjadi bila hiperabduksi humerus mengulur otot pectoralis minor ( Cailliet,
1991).
1.
Claviculocostal syndrome
Timbul karena adanya penekanan pada bundle neurovasculer saat melewati belakang clavicula di
sebelah anterior costa pertama, gejala lainnya adalah adanya dropy posture yaitu posturnya salah,
lelah, cemas, dam depresi. (Cailliet, 1991).
1.
6.
Komplikasi
Komplikasi dari CRS adalah atrofi otot-otot leher dan adanya kelemahan otot-otot leher dan bahu,
dan ketidakmampuan tangan untuk melakukan aktifitas (Sidharta, 1984).
1.
2.

7.
Problematika fisioterapi
Impairment, yaitu berupa nyeri, penurunan kekuatan otot bahu dan leher, serta penurunan
lingkup gerak sendi bahu dan leher..
3.
Functional limitation, berupa gangguan saat menengok dan menunduk, nyeri saat bangun tidur
dan tidur miring, nyeri saat mengangkat lengannya.
4.
Disability, yaitu tidak ada gangguan dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

C. Teknologi Fisioterapi
Modalitas fisioterapi yang digunakan dalam penanganan CRS ini adalah SWD, ultra sonic, dan
terapi latihan.
1.

1.

SWD (Short Wave Diatermy)

SWD adalah alat yang menggunakan energi listrik elektromagnetik yang dihasilkan arus
bolak-balik frekuensi tinggi. Frekuensi yang diperbolehkan pada penggunaan SWD adalah 27 MHz
dengan panjang gelombang 11 m. Energi elektromagnetik yang dipancarkan dari emitter akan
menyebar sehingga kepadatan gelombang semakin berkurang pada jarak semakin jauh.
Berkurangnya intensitas energi elektromagnetik juga disebabkan oleh penyerapan jaringan
(Banress, 1996).
Dalam kasus ini penulis menggunakan modalitas fisioterapi berupa Short Wave Diatermy ( SWD ).
Pemberian SWD diharapkan dapat merangsang serabut syaraf tipe II dan tipe III, sehingga akan
menghalangi masuknya impuls nosiseptif di tingkat medulla spinalis sehingga nyeri akan berkurang
dan selanjutnya akan memutus siklus nyeri, kemudian akan memberikan efek relaksasi otot-otot
lain yaitu mempengaruhi aliran darah lokal yang membuat spasme otot berkurang sehingga terapi
relaksasi dan nyeri dapat terhambat ( Cailliet, 1991).
1.
2.
Ultra Sonic

Gelombang ultra sonic adalah gelombang yang tidak dapat didengar oleh manusia. Merupakan
gelombang longitudinal yang gerakan partikelnya dari arah ke dan dari dan perambatannya
memerlukan media penghantar. Media pengahantar harus elastis agar partikel bisa merubah
bentuk dan kembali ke bentuk semula untuk memungkinkan gerakan ke dan dari. Dari sini
dijumpai daerah padat atau compression dan daerah renggang atau refraction (Sujatno dkk,
2002).
Dalam penggunakan modalitas ultra sonic beberapa ahli membuktikan bahwa ultra sonic efektif
untuk mengurangi nyeri, karena ultra sonic dapat meningkatkan ambang rangsang, mekanisme dari
efek termal panas. Selain itu pembebasan histamin, efek fibrasi dari ulta sonic terhadap gerbang
nyeri dan dari suatu percobaan ditemukan bahwa pemakaian ultra sound dengan pulsa rendah .
a. Efek Ultra sonic
1) Efek mekanik
Efek yang pertama kali didapat oleh tubuh adalah efek mekanik. Gelombang ultra sonic
menimbulkan adanya peregangan dan perapatan didalam jaringan dengan frekuensi yang sama
dengan frekuensi dari ultra sonic. Efek mekanik ini juga disebut dengan micro massage.
Pengaruhnya terhadap jaringan yaitu meningkatkan permeabilitas terhadap jaringan dan
meningkatkan metabolisme (Cameron, 1999).
Micro massage adalah merupakan efek terapeutik yang penting karena semua efek yang
timbul oleh terapi Ultra Sonic diakibatkan oleh micro massage ini (Cameron, 1999).
2)

Efek termal
Panas yang dihasilkan tergantung dari nilai bentuk gelombang yang dipakai, intensitas dan

lama pengobatan. Yang paling besar yang menerima panas adalah jaringan antar kulit dan otot.
Efek termal akan memberikan pengaruh pada jaringan yaitu bertambahnya aktivitas sel,
vasodilatasi yang mengakibatkan penambahan oksigen dan sari makanan dan memperlancar proses
metabolisme (Cameron, 1999).
3) Efek biologi
Efek biologi merupakan respon fisiologi yang dihasilkan dari pengaruh mekanik dan termal.
Pengaruh biologi ultra sonic terhadap jaringan antara lain:
a)

Memperbaiki sirkulasi darah

Pemberian ultra sonic akan menyebabkan kenaikan temperatur yang menimbulkan vasodilatasi
sehingga aliran darah ke daerah yang diobati menjadi lebih lancar. Hal ini akan memungkinkan
proses metabolisme dan pengangkutan sisa metabolisme serta suplai oksigen dan nutrisi menjadi
meningkat (Cameron, 1999).

b) Rileksasi otot
Rileksasi otot akan mudah dicapai bila jaringan dalam keadaan hangat dan rasa sakit tidak ada.
Pengaruh termal dan mekanik dari ultra sonic dapat mempercepat proses pengangkutan sel P (zat
asam laktat) sehingga dapat memberikan efek rileksasi pada otot (Cameron, 1999).
c) Meningkatkan permeabilitas jaringan
Energi ultra sonic mampu menambah permeabilitas jaringan otot dan pengaruh mekaniknya dapat
memperlunak jaringan pengikat.(Cameron, 1999).
d) Mengurangi nyeri
Nyeri dapat berkurang dengan pengaruh termal dan pengaruh langsung terhadap saraf. Hal ini
akibat gelombang pulsa yang rendah intensitasnya memberikan efek sedatif dan analgetik pada
ujung saraf sensorik sehingga mengurangi nyeri. Dan dasar dari pengurangan rasa nyeri ini
diperoleh dari, perbaikan sirkulasi darah, normalisasi dari tonus otot, berkurangnya tekanan dalam
jaringan, berkurangnya derajat keasaman (Cameron, 1999).
e). Mempercepat penyembuhan
Pemberian Ultra sonic mampu mempercepat proses penyembuhan jaringan lunak . Adanya
peningkatan suplai darah akan meningkatkan zat antibodi yang mempercepat penyembuhan dan
perbaikan pembuluh darah untuk memperbaiki jaringan ( Cameron, 1999).
g). Pengaruh terhadap saraf parifer
Menurut beberapa penelitian bahwa Ultra Sonic dapat mendepolarisasikan saraf efferent,
ditunjukkan bahwa getaran Ultra Sonic dengan intensitas 0,5-3 w/cm2 dengan gelombang kontinyu
dapat mempengaruhi exitasi dari saraf perifer. Efek ini berhubungan dengan efek panas.
Sedangkan dari aspek mekanik tidak terlalu berpengaruh (Sujatno dkk, 2002).
1.

3.

Terapi latihan

a. Dengan metode PNF


Terapi Latihan merupakan salah satu pengobatan dalam fisioterapi yang dalam pelaksanaanya
menggunakan latihan-latihan gerakan tubuh baik secara aktif maupun pasif. Atau pula dapat
didefinisikan sebagai suatu usaha untuk mempercepat proses penyembuhan dari suatu cidera yang
telah merubah cara hidupnya yang normal. Hilangnya suatu fungsi atau adanya hambatan dalam
melakanakan suatu fungsi dapat menghambat kemampuan dirinya untuk hidup
secaraindependent yaitu dalam melaksanakan aktifitas kerja (Priyatna, 1985).
Tujuan dari Terapi latihan adalah (1) Memajukan aktifitas penderita, (2) Memperbaiki otot
yang tidak efisien dan memperoleh kembali jarak gerak sendi yang normal tanpa memperlambat

usaha mencapai gerakan yang berfungsi dan efisien, (3) Memajukan kemampuan penderita yang
telah ada untuk dapat melakukan gerakan-gerakan yang berfungsi serta bertujuan, sehingga dapat
beraktifitas normal (Priyatna, 1985).
Jenis terapi latihan yang digunakan untuk kondisi CRS adalah Terapi latihan dengan menggunakan
metode Propioceptif Neuromusular Fasilitation (PNF) berusaha memberikan rangsangan
sedemikian sehingga diharapkan timbul reaksi-reaksi yang sesuai dengan perangsangan yang
akhirnya gerakan-gerakan yang diinginkan tercapai. Tujuan PNF adalah untuk meningkatkan
kekuatan otot. Berdasarkan prinsip PNF dari teori pergerakan yang menyatakan bahwa PNF dapat
memperbaiki kekuatan dan kondisi system neuro musuloseletal. Tehnik ini bermanfaat untuk
assisted otot-otot yang lemah sekaligus strengthening otot-otot yang lebih kuat tanpa melupakan
prinsip-prinsip dasar PNF dan teknik PNF.
Adapun prinsip-prinsip dasar yang berhubumgan dengan kasus CRS ini antara lain:
1.

Tahanan maksimal (optimal)

Tahanan maksimal maksudnya adalah tahanan maksimal yang masih bisa dilawan oleh
penderita dengan baik sehingga memungkinkan penderita untuk mempertahankan suatu posisi
(kontraksi isometric) dengan gerakan yang halus. Tahanan ini tergantung toleransi pasien ( Voss,
1985).
Pegangan pada lumbrical akan mempermudah dalam memberikan tahanan rotasi. Tahanan
diberikan sejak awal gerakan sampai titik lemah gerakan. Faktor-faktor mekanis seperti cara kerja
lever., letak as dan gaya berat (gravitasi) sangat mempengaruhi terhadap besar-kecilnya
tahanan yang diberikan ( Voss, 1985).
1.

2.

Manual contact

Manual contact dimaksudkan agar pasien mengerti arah gerakan yang diminta
oleh terapis dan sebaiknya dilakukan dengan kedua tangan sehingga mudah untuk memberikan
tahanan ataupun assisted ( Voss, 1985).
1.

Stimulasi verbal (komando)

Rangsangan suara dapat memacu semangat aktivitas penderita. Dalam


memberikan aba-aba kepada penerita harus jelas dan sering diulang-ulang.
1.

4.

Body position dan body mechanic

Terapis berdiri pada grove dan menghadap ke pasien sehingga memungkinkan


selalu memperhatikan pasien agar dalam melakukan latihan di rumah sama seperti yang diajarkan
terapis.

1.

Traksi dan aproksimasi.

Traksi adalah tarikan yang membuat saling menjauhnya segmen yang satu
terhadap segmen yang lain atau usaha mengulur segmen pada suatu ekstrimitas.
Aproximasi adalah saling menekanya atau memberikan tekanan pada suatu
segmern atau ekstrimitas. Aproximasi bertujuan untuk stabilisasi sendi.
1.
Pola gerak
Pola gerak pada ekstrimitas atas adalah flksi-abduksi-eksoroasi, fleksi-adduksieksorotasi, ektsensi, abduksi-eksorotasi, ekstensi-abduksi-endorotasi, ekstensi-adduksi-endorotasi.
Teknik yang digunakan pada kasus ini adalah repeated contration.Repeated
contration adalah suatu teknik isotonic untuk kelompok agonis, yang dilakukan pada bagianbagian
tertentu, dari lintasan gerakan dengan jalan memberikan restrech yang disusun dengan
kontraksi isotonic. Dan tujuan dari teknik ini antara lain memperbaiki kekuatan otot dan daya
tahan, memperbaiki lingkup gerak sendi secara aktif, menurunkan ketegangan atau penguluran
antagonis, serta penguatan (strengtening) (Wahyono, 2002).
b. Dengan traksi cervical.
Traksi adalah tarikan yang membuat saling menjauhnya segmen yang satu
terhadap segmen yang lain atau usaha mengulur segmen pada suatu ekstrimitas.
Dengan traksi cervical diharap terjadi penambahan ruangan pada
intervertebralis maka penyempitan yang dapat menekan akar saraf dapat berkurang, serta
diperoleh relaksasi otot-otot leher (Musthafa, 1988).
Dalam percobaan traksi yang diberikan pada susunan vertebrae cervicalis. oleh
Olachis dan Strohm disebutkan bahwa dalam keadaan lordosis servical normal. Traksi diberikan
dengan tarikan diperoleh regangan jarak antara prosessus spinosus pada vertebrae yng berbatasan
sebesar 1-1,5mm (Musthafa, 1988).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad tohamuslim (2005) Rehabilitasi Medik Cegah Kecacatan
Pasien; http://www.PikiranRakyat.com

Bambang Hastono, 2000, Organisasi Kesehatan; Bina Dipnakes ; Jakarta.


Bambang Hastono, Peningkatan Kualitas Layanan Kesehatan; Bina Dipnakes; Jakarta.
Cailliet, Rene, 1990; Neck and Arm Pain ; F.A Davis Company, Callifornia.

Chusid, J.G, 1993; Neuroanatomi Corelatif dan Neuro Fungsional ; Bagian satu, Gajah Mada
University Press, Yogjakarta.

De Wolf AN and Mens, 1994 ; Pemeriksaan Alat Penggerak Tubuh ; Bohn Stafleu Von Loghom, Houte
Seventeen.

Mustafa, Ihsan ; Penggunaan traksi pada penanggulangan nyeri; Kumpulan makalah TITAFI ke VI,
Jakarta, 1988

Michlovits, Susan, 1996; Thermal Agent in Rehabilitation ; Third Edition, Davis Company,
Philadelpia.

Priyatna, Heri,1985; Exercise Therapy ; Akademi Fisioterapi Surakarta.

Priyatna, Heri dan Suharyono, 1982 ; Joint Mobility ; Akademi Fisioterapi surakarta.

Sidharta, Priguna1984 ; Neurologi klinis dan Pemeriksaan ; Cetakan pertama, p.t Dian Rakyat,
Jakarta.

Taruna, Yuda ; Pendekatan Diagnosa Dan tatalaksana Pada Radikulopati


Cervical ;www.mediastore.com.

Voss, et all ; Propeoceptive Neuromusceletal Falititaion ; 3 rd, Harpes Row, Philadelpia, 1985.