Anda di halaman 1dari 18

FARMAKOTERAPI TERAPAN

HIPERTENSI
KELOMPOK 3
AGUS STYAWAN
EKA INDRASARI
WELLY ATIKA
WILHELMUS ANDYKA F. A

KASUS

Sam Street adalah laki-laki keturunan Afrika-Amerika berusia 62 tahun yang berkata
kepada dokter barunya untuk evaluasi dan tindak lanjut masalah medis. Dia umumnya
tidak memiliki keluhan, kecuali untuk sakit kepala ringan dan pusing setelah ia
mengkonsumsi obat pada pagi hari. Dia menyatakan bahwa ia tidak suka dengan diet
rendah sodium yang diberikan oleh dokter sebelumnya . Dia berkata "Biasa" batuk kronis
dan sesak napas, terutama ketika berjalan jarak sedang.

Riwayat Penyakit Dahulu :

Riwayat tekanan darah tinggi sejak 15 tahun yang lalu.

Diabetes mellitus Tipe 1

Penyakit paru obstruksi kronik

Pembesaran kelenjar prostat ( BPH)

Gagal ginjal kronik

KASUS

Riwayat Penyakit Keluarga :

Ayah pasien pada usia 71 tahun karena penyakit infark miokard akut.

Ibu pasien meninggal karena kanker paru pada usia 64 tahun, selain itu ibu juga memiliki riwayat penyakit tekanan
darah tinggi dan diabetes mellitus.

Riwayat Pengobatan :

Triamterene / hydroclorothiazide 37,5 mg / 25 mg po Q AM

Insulin 70/30, 24 unit Q AM, 12 units Q PM

Doxazosin 2 mg po Q AM

Albuterol INH 2 puffs Q 4-6 h PRN ( bila sesak napas / napas pendek )

Tiotropium DPI 18 mcg 1 capsul INH tiap hari

Salmeterol DPI 1 INH BID

Entex PSE 1 capsul Q 12 h PRN ( bila batuk pilek )

Acetaminophen 325 mg po Q 6 h PRN ( bila sakit kepala )

Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien adalah perokok sejak 28 tahun yang lalu, dan berhenti merokok sejak 3 tahun yang lalu, pasien juga minun
alkohol dalam jumlah yang cukup banyak. Pasien juga tidak patuh dengan anjuran dokter untuk diet rendah garam,
pasien memakan makanan apapun yang dia mau. Pasien tidak pernah olah raga secara teratur, dan saat ini
aktivitasnya terbatas karena penyakit paru obstruksi kroniknya. Pasien sudah pensiun dan hidup seorang diri.

KASUS

Hasil Lab

KASUS
Urin analisis

Vital Sign

Tekanan darah 168/92 mmhg ( dalam kondisi duduk tekan 170/90 mmhg)
Denyut nadi 76 kali / menit
Kecepatan Pernafasan 16 kali / menit
Suhu badan 37 C

FINDING
Subjektif
Nama Pasien : Tn. Sam Street
Jenis Kelamin : Laki laki
Umur : 62 tahun
Riwat Penyakit :
Riwayat tekanan darah tinggi sejak 15 tahun yang lalu.
Diabetes mellitus Tipe 1
Penyakit paru obstruksi kronik
Pembesaran kelenjar prostat ( BPH)
Gagal ginjal kronik

Riwayat Penyakit Sekarang :

nyeri kepala pusing

pilek

sesak nafas

nyeri dada

Riwayat Penggunaan Obat :

Triamterene / hydroclorothiazide 37,5 mg / 25 mg po Q AM

Insulin 70/30, 24 unit Q AM, 12 units Q PM

Doxazosin 2 mg po Q AM

Albuterol INH 2 puffs Q 4-6 h PRN ( bila sesak napas / napas pendek )

Tiotropium DPI 18 mcg 1 capsul INH tiap hari

Salmeterol DPI 1 INH BID

Entex PSE 1 capsul Q 12 h PRN ( bila batuk pilek )

Acetaminophen 325 mg po Q 6 h PRN ( bila sakit kepala )

OBJEKTIF

Hasil Lab

Analisis Urin
Yellow, clear, SG 1.007, pH 5.5, (+) protein, () glucose, () ketones, ()
bilirubin, () blood, () nitrite, RBC 0/hpf, WBC 12/ hpf, neg bacteria, 15
epithelial cells
Vital sign
Tekanan darah 168/92 mmhg ( dalam kondisi duduk tekan 170/90 mmhg)
Denyut nadi 76 kali / menit
Kecepatan Pernafasan 16 kali / menit
Suhu badan 37 C
Tinggi Badan : 188,976 cm
Berat Badan : 95 kg

ASSESSMENT
Hipertensinya tidak terkontrol dengan baik akibat ketidakpatuhan
pasien dalam pengobatan. Pasien diminta untuk diet rendah garam,
namun tidak dilakukan. Ketidakpatuhan pasien juga mungkin
disebabkan oleh ketidaktahuan pasien dalam pengobatan sehingga
mengakibatkan kegagalan terapi.
Pemberian entex PSE untuk mengatasi batuk dan flu yang diderita
pasien dinilai tidak efektif, karena kandungan pseudoefedrin yang
terdapat dalam entex dapat menyebabkan vasokonstriksi sehingga
dapat meningkatkan tekanan darah (sistol/diastol). Hal ini juga
dapat menjadi salah satu faktor tidak terkontrolnya tekanan darah
pasien.

Diabetes mellitus tipe 1 secara umum terkontrol dengan baik dengan adanya pemberian
insulin pada pagi dan malam hari.
Dari hasil lab, HbA1c masih berada pada rentang HbA 1c yang diinginkan yakni 6.2 %
(<7 %). Kadar glukosa darah berada pada rentang normal yakni 136 mg/dL (<200
mg/dL).
COPD (Chronic Obstructive Pulmonary Disease) secara umum terkontrol dengan
pemberian albuterol inhaler, tiotropium inhaler dan sallmeterol inhaler. Berdasarkan
hasil lab, COPD pasien berada pada derajat III (berat) dengan hasil FEV 1 (38%) dan
FEV1/FVC (51%).

BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) meningkat dengan adanya


pemberian doksasozin sehingga menyebabkan meningkatnya
frekuensi urinasi.
Pasien mengalami sakit kepala dan pusing setelah meminum obat
diakibatkan penggunaan doksasozin dan HCT (hidroklorotiazid)
pada pagi hari, karena efek samping pemberian antihipertensi yang
dapat menyebabkan hipotensi yang terjadi 30-90 menit setelah
pemberian dosis pertama.

RESOLUTION
Meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani diet rendah garam
agar tercapainya tujuan terapi (penurunan tekanan darah), berikan
edukasi lebih lanjut mengenai pentingnya diet rendah garam dan
tujuan terapi dari tiap-tiap obat dalam meningkatkan outcome terapi.
Pola hidup yang harus diterapkan untuk mendukung tercapainya
outcome terapi adalah tidur secara teratur dan tepat waktu,
hindari/hentikan konsumsi alkohol, makan makanan yang sehat
(sayuran dan buah-buahan) dan hindari makanan yang mengandung
kadar gula yang tinggi (untuk mengatasi diabetes).

Penggunaan entex PSE tetap diberikan untuk pasien untuk mengobati gejala batuk dan flu,
namun hanya diberikan saat mengalami batuk dan flu. Meskipun dapat menyebabkan
peningkatan tekanan darah, namun kemungkinan tidak terjadi secara signifikan.

Pengaturan pola hidup sangat diperlukan agar batuk dan flu tidak sering kambuh. Hal-hal
yang dapat dilakukan diantaranya : menghindari allergen penyebab flu dan batuk, hindari
makanan-makanan yang dibakar atau digoreng, minum air secara teratur sesuai kebutuhan
dan perbanyak makan sayur dan buah-buahan.

Terapi insulin yang diberikan 2 kali sehari sudah cukup optimal untuk mengatasi
diabetes mellitus dengan parameter sudah terkontrolnya kadar gula darah dan
HbA1c. Jadi terapi insulin tetap dilanjutkan dengan pemantauan kadar gula darah
dan HbA1c secara berkala.
Pasien diminta untuk menyediakan permen/gula untuk mengatasi terjadinya
hipoglikemik yang dapat terjadi secara mendadak.
Penggunaan obat albuterol inhaler, tiotropium inhaler dan sallmeterol inhaler
untuk terapi COPD sudah sesuai dan dapat tetap dilanjutkan, karena COPD pada
pasien masuk dalam kategori derajat III (berat).

Doksasozin diberikan selain sebagai antihipertensi juga mempunyai


efek sinergis dalam terapi BPH sehingga gejala BPH (sulit urinasi)
bisa teratasi dengan mengingkatnya frekuensi urinasi.
HCT (hidroklorotiazid) dihentikan pemakaiannya dan digantikan
dengan obat antihipertensi golongan ARB karena HCT
dikontraindikasikan untuk pasien dengan penyakit gagal ginjal
kronik.

MONITORING
Dilakukan pemantauan tekanan darah secara berkala pada pagi hari
setelah meminum obat dan malam hari sebelum tidur untuk
mengantisipasi terjadinya hipotensi.
Dilakukan pemantauan kadar gula darah dan HbA 1c untuk
mengetahui status diabetes mellitus yang diderita.
Pemantauan gejala sakit kepala dan pusing pada pagi hari setelah
meminum obat, masih berlangsung atau tidak.
Pemantauan fungsi ginjal melalui pemeriksaan urin secara berkala
tiap 3 bulan sekali atau sesuai keluhan.

THANK YOU