Anda di halaman 1dari 12

Timun Mas

Timun Mas adalah seorang gadis cantik yang baik hati, cerdas, dan pemberani.
Itulah sebabnya, ia sangat disayangi oleh ibunya yang bernama Mbok Srini. Suatu
ketika, sesosok raksasa jahat ingin menyantap Timun Mas. Berkat keberaniannya, ia
bersama ibunya berhasil melumpuhkan raksasa jahat itu. Kenapa raksasa itu
hendak

memangsa

Timun

Mas?

Lalu,

bagaimana

Timun

Mas

dan

ibunya

mengalahkan raksasa itu? Kisah menarik ini dapat Anda ikuti dalam cerita Timun
Mas berikut ini.
***
Alkisah, di sebuah kampung di daerah Jawa Tengah, hiduplah seorang janda paruh
baya yang bernama Mbok Srini. Sejak ditinggal mati oleh suaminya beberapa tahun
silam, ia hidup sebatang kara, karena tidak mempunyai anak. Ia sangat
mengharapkan kehadiran seorang anak untuk mengisi kesepiannya. Namun,
harapan itu telah pupus, karena suaminya telah meninggal dunia. Ia hanya
menunggu keajaiban untuk bisa mendapatkan seorang anak. Ia sangat berharap
keajaiban itu akan terjadi padanya. Untuk meraih harapan itu, siang malam ia selalu
berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diberi anak.
Pada suatu malam, harapan itu datang melalui mimpinya. Dalam mimpinya, ia
didatangi oleh sesosok makhluk raksasa yang menyuruhnya pergi ke hutan tempat
biasanya ia mencari kayu bakar untuk mengambil sebuah bungkusan di bawah
sebuah pohon besar. Saat terbangun di pagi hari, Mbok Srini hampir tidak percaya
dengan mimpinya semalam.
Mungkinkah keajaiban itu benar-benar akan terjadi padaku? tanyanya dalam hati
dengan ragu.
Namun, perempuan paruh baya itu berusaha menepis keraguan hatinya. Dengan
penuh harapan, ia bergegas menuju ke tempat yang ditunjuk oleh raksasa itu.
Setibanya di hutan, ia segera mencari bungkusan itu di bawah pohon besar. Betapa
terkejutnya ia ketika menemukan bungkusan yang dikiranya berisi seorang bayi,
tapi ternyata hanyalah sebutir biji timun. Hatinya pun kembali bertanya-tanya.

Apa maksud raksasa itu memberiku sebutir biji timun? gumam janda itu dengan
bingung.
Di tengah kebingungannya, tanpa ia sadari tiba-tiba sesosok makhluk raksasa
berdiri di belakangnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Ha... ha... ha...! demikian suara tawa raksasa itu.
Mbok Srini pun tersentak kaget seraya membalikkan badannya. Betapa terkejutnya
ia karena raksasa itulah yang hadir dalam mimpinya. Ia pun menjadi ketakutan.
Ampun, Tuan Raksasa! Jangan memakanku! Aku masih ingin hidup, pinta Mbok
Srini dengan muka pucat.
Jangan takut, hai perempuan tua! Aku tidak akan memakanmu. Bukankah kamu
menginginkan seorang anak? tanya raksasa itu.
Be... benar, Tuan Raksasa! jawab Mbok Srini dengan gugup.
Kalau begitu, segera tanam biji timun itu! Kelak kamu akan mendapatkan seorang
anak perempuan. Tapi, ingat! Kamu harus menyerahkan anak itu kepadaku saat ia
sudah dewasa. Anak itu akan kujadikan santapanku, ujar raksasa itu.
Karena begitu besar keinginannya untuk memiliki anak, tanpa sadar Mbok Srini
menjawab, Baiklah, Raksasa! Aku bersedia menyerahkan anak itu kepadamu.
Begitu Mbok Srini selesai menyatakan kesediaannya, raksasa itu pun menghilang.
Perempuan itu segera menanam biji timun itu di ladangnya. Dengan penuh
harapan, setiap hari ia merawat tanaman itu dengan baik. Dua bulan kemudian,
tanaman itu pun mulai berbuah. Namun anehnya, tanaman timun itu hanya
berbuah satu. Semakin hari buah timun semakin besar melebihi buah timun pada
umumnya. Warnanya pun sangat berbeda, yaitu berwarna kuning keemasan. Ketika
buah timun masak, Mbok Srini memetiknya, lalu membawanya pulang ke gubuknya
dengan susah payah, karena berat. Betapa terkejutnya ia setelah membelah buah
timun itu. Ia mendapati seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Saat akan
menggendongnya, bayi itu tiba-tiba menangis.

Ngoa... ngoa... ngoa... !!! demikian suara bayi itu.


Alangkah bahagianya hati Mbok Srini mendengar suara tangisan bayi yang sudah
lama dirindukannya itu. Ia pun memberi nama bayi itu Timun Mas.
Cup... cup... cup..!!! Jangan menangis anakku sayang... Timun Mas! hibur Mbok
Srini.
Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembuyikan kebahagiaannya. Tak
terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang sudah mulai keriput.
Perasaan

bahagia itu membuatnya lupa kepada janjinya bahwa dia akan

menyerahkan bayi itu kepada raksasa itu suatu saat kelak. Ia merawat dan
mendidik Timun Mas dengan penuh kasih sayang hingga tumbuh menjadi gadis
yang cantik jelita. Janda tua itu sangat bangga, karena selaing cantik, putrinya juga
memiliki kecerdasan yang luar biasa dan perangai yang baik. Oleh karena itu, ia
sangat sayang kepadanya.
Suatu malam, Mbok Srini kembali bermimpi didatangi oleh raksasa itu dan berpesan
kepadanya bahwa seminggu lagi ia akan datang menjemput Timun Mas. Sejak itu,
ia selalu duduk termenung seorang diri. Hatinya sedih, karena ia akan berpisah
dengan anak yang sangat disayanginya itu. Ia baru menyadari bahwa raksasa itu
ternyata jahat, karena Timun Mas akan dijadikan santapannya.
Melihat ibunya sering duduk termenung, Timun Mas pun bertanya-tanya dalam hati.
Suatu sore, Timun Emas memberanikan diri untuk menanyakan kegundahan hati
ibunya.
Bu, mengapa akhir-akhir ini Ibu selalu tampak sedih? tanya Timun Mas.
Sebenarnya Mbok Srini tidak ingin menceritakan penyebab kegundahan hatinya,
karena dia tidak ingin anak semata wayangnya itu ikut bersedih. Namun, karena
terus didesak, akhirnya ia pun menceritakan perihal asal-usul Timun Mas yang
selama ini ia rahasiakan.
Maafkan Ibu, Anakku! Selama ini Ibu merahasiakan sesuatu kepadamu, kata Mbok
Srini dengan wajah sedih.

Rahasia apa, Bu? tanya Timun Mas penasaran.


Ketahuilah, Timun Mas! Sebenarnya, kamu bukanlah anak kandung Ibu yang lahir
dari rahim Ibu.
Belum selesai ibunya bicara, Timun Mas tiba-tiba menyela.
Apa maksud, Ibu? tanya Timun Mas.
Mbok Srini pun menceritakan semua rahasia tersebut hingga mimpinya semalam
bahwa sesosok raksasa akan datang menjemput anaknya itu untuk dijadikan
santapan. Mendengar cerita itu, Timun Mas tersentak kaget seolah-olah tidak
percaya.
Timun tidak mau ikut bersama raksasa itu. Timun sangat sayang kepada Ibu yang
telah mendidik dan membesarkan Timun, kata Timun Mas.
Mendengar perkataan Timun Mas, Mbok Srini kembali termenung. Ia bingung
mencari cara agar anaknya selamat dari santapan raksasa itu. Sampai pada hari
yang telah dijanjikan oleh raksasa itu, Mbok Srini belum juga menemukan jalan
keluar. Hatinya pun mulai cemas. Dalam kecemasannya, tiba-tiba ia menemukan
sebuah akal. Ia menyuruh Timun Mas berpura-pura sakit. Dengan begitu, tentu
raksasa itu tidak akan mau menyantapnya. Saat matahari mulai senja, raksasa itu
pun mendatangi gubuk Mbok Srini.
Hai, Perempuan Tua! Mana anak itu? Aku akan membawanya sekarang, pinta
raksasa itu.
Maaf, Tuan Raksasa! Anak itu sedang sakit keras. Jika kamu menyantapnya
sekarang, tentu dagingnya tidak enak. Bagaimana kalau tiga hari lagi kamu datang
kemari? Saya akan menyembuhkan penyakitnya terlebih dahulu, bujuk Mbok Srini
mengulur-ulur waktu hingga ia menemukan cara agar Timur Mas bisa selamat.
Baiklah, kalau begitu! Tapi, kamu harus berjanji akan menyerahkan anak itu
kepadaku, kata raksasa itu.

Setelah Mbok Srini menyatakan berjanji, raksasa itu pun menghilang. Mbok Srini
kembali bingung mencari cara lain. Setelah berpikir keras, akhirnya ia menemukan
cara yang menurutnya dapat menyelamatkan anaknya dari santapan raksasa itu. Ia
akan meminta bantuan kepada seorang pertapa yang tinggal di sebuah gunung.
Anakku! Besok pagi-pagi sekali Ibu akan pergi ke gunung untuk menemui seorang
pertapa. Dia adalah teman almarhum suami Ibu. Barangkali dia bisa membantu kita
untuk menghentikan niat jahat raksasa itu, ungkap Mbok Srini.
Benar, Bu! Kita harus membinasakan raksasa itu. Timun tidak mau menjadi
santapannya, imbuh Timun Mas.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, berangkatlah Mbok Srini ke gunung itu.
Sesampainya di sana, ia langsung menemui pertapa itu dan menyampaikan maksud
kedatangannya.
Maaf, Tuan Pertapa! Maksud kedatangan saya kemari ingin meminta bantuan
kepada Tuan, kata Mbok Srini.
Apa yang bisa kubantu, Mbok Srini? tanya pertapa itu.
Mbok Srini pun menceritakan masalah yang sedang dihadapi anaknya. Mendengar
cerita Mbok Srini, pertapa itu pun bersedia membantu.
Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar! seru pertapa itu seraya berjalan masuk ke
dalam ruang rahasianya.
Tak berapa lama, pertapa itu kembali sambil membawa empat buah bungkusan
kecil, lalu menyerahkannya kepada Mbok Srini.
Berikanlah bungkusan ini kepada anakmu. Keempat bungkusan ini masing-masing
berisi biji timun, jarum, garam dan terasi. Jika raksasa itu mengejarnya, suruh
sebarkan isi bungkusan ini! jelas pertapa itu.
Setelah mendapat penjelasan itu, Mbok Srini pulang membawa keempat bungkusan
tersebut. Setiba di gubuknya, Mbok Srini menyerahkan keempat bungkusan itu dan

menjelaskan tujuannya kepada Timun Mas. Kini, hati Mbok Srini mulai agak tenang,
karena anaknya sudah mempunyai senjata untuk melawan raksasa itu.
Dua hari kemudian, Raksasa itu pun datang untuk menagih janjinya kepada Mbok
Srini. Ia sudah tidak sabar lagi ingin membawa dan menyantap daging Timun Mas.
Hai, perempuan tua! Kali ini kamu harus menepati janjimu. Jika tidak, kamu juga
akan kujadikan santapanku! ancam raksasa itu.
Mbok Srini tidak gentar lagi menghadapi ancaman itu. Dengan tenang, ia
memanggil Timun Mas agar keluar dari dalam gubuk. Tak berapa lama, Timun Emas
pun keluar lalu berdiri di samping ibunya.
Jangan takut, Anakku! Jika raksasa itu akan menangkapmu, segera lari dan ikuti
petunjuk yang telah kusamapaikan kepadamu, Mbok Srini membisik Timun Mas.
Baik, Bu! jawab Timun Mas.
Melihat Timun Mas yang benar-benar sudah dewasa, rakasasa itu semakin tidak
sabar ingin segera menyantapnya. Ketika ia hendak menangkapnya, Timun Mas
segera berlari sekencang-kencangnya. Raksasa itu pun mengejarnya. Tak ayal lagi,
terjadilah kejar-kerajaan antara makhluk raksasa itu dengan Timun Mas. Setelah
berlari jauh, Timun Mas mulai kecapaian, sementara raksasa itu semakin mendekat.
Akhirnya, ia pun mengeluarkan bungkusan pemberian pertapa itu.
Pertama-tama Timun Mas menebar biji timun yang diberikan oleh ibunya. Sungguh
ajaib, hutan di sekelilingnya tiba-tiba berubah menjadi ladang timun. Dalam
sekejap, batang timun tersebut menjalar dan melilit seluruh tubuh raksasa itu.
Namun, raksasa itu mampu melepaskan diri dan kembali mengejar Timun Mas.
Timun Emas pun segera melemparkan bungkusan yang berisi jarum. Dalam
sekejap, jarum-jarum tersebut berubah menjadi rerumbunan pohon bambu yang
tinggi dan runcing. Namun, raksasa itu mampu melewatinya dan terus mengejar
Timun Mas, walaupun kakinya berdarah-darah karena tertusuk bambu tersebut.

Melihat usahanya belum berhasil, Timun Mas membuka bungkusan ketiga yang
berisi garam lalu menebarkannya. Seketika itu pula, hutan yang telah dilewatinya
tiba-tiba berubah menjadi lautan luas dan dalam, namun raksasa itu tetap berhasil
melaluinya dengan mudah. Timun Emas pun mulai cemas, karena senjatanya hanya
tersisa satu. Jika senjata tersebut tidak berhasil melumpuhkan raksasa itu, maka
tamatlah riwayatnya. Dengan penuh keyakinan, ia pun melemparkan bungkusan
terakhir yang berisi terasi. Seketika itu pula, tempat jatuhnya terasi itu tiba-tiba
menjelma menjadi lautan lumpur yang mendidih. Alhasil, raksasa itu pun tercebur
ke dalamnya dan tewas seketika. Maka selamatlah Timun Emas dari kejaran dan
santapan raksasa itu.
Dengan sekuat tenaga, Timun Emas berjalan menuju ke gubuknya untuk menemui
ibunya. Melihat anaknya selamat, Mbok Srini pun langsung berucap syukur kepada
Tuhan Yang Mahakuasa. Sejak itu, Mbok Srini dan Timun Mas hidup berbahagia.
***
Demikian dongeng Timun Mas dari daerah Jawa Tengah, Indonesia. Cerita di atas
memberikan pelajaran bahwa orang yang selalu berniat jahat terhadap orang lain
seperti raksasa itu, pada akhirnya akan celaka. Selain itu, cerita di atas juga
mengandung pelajaran bahwa dengan usaha dan kerja keras segala rintangan dan
cobaan dalam hidup ini dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini ditunjukkan oleh
Mbok Srini dan Timun Mas. Berkat usaha dan kerja kerasnya, mereka dapat
membinasakan raksasa jahat yang hendak memangsa Timun Mas.

Act 1
Narrator : Once upon a time, in a place deep inside the forest, there were a green
giant named Buto Ijo and a sacred hermit. They were best friends since toddlers.
One day, the hermit came to the grotto to see his best friend.
Hermit : Is anyone inside? [Walks inside the grotto]
Buto Ijo : Im here.
Hermit : There you are my best friend, what are you doing?
Buto Ijo : Eating. Isnt it obvious?
Hermit : Oh I see. What are you eating?
Buto Ijo : [No response, just continue eating]
Hermit : Youre so annoying! Can I have some?
Buto Ijo : [Turns his body away, not willing to share his foods with the hermit]
Hermit : [Angry] As usual, you never share me your foods though I always shared
mine to you! You stingy giant! I loathe you!
Buto Ijo : As if I care! [Continue eating]
Hermit : Someday your greed will get its return! Dont regret it! Im leaving! [Gets
out of the grotto with anger]
Act 2
Narrator : One day, there was pleasant couple. They lived in a village near the
forest. They lived happily. Unfortunately, they didnt have any children yet.
Everyday they prayed to God for a child.
Mother : Oh God please give us a child. I promise I will always protect my child.
Please answer our prayer. Thank you God.

Narrator : The green giant, Buto Ijo, coincidentally passed by the couples house. He
heard what they were praying for.
Buto Ijo : Whoahahaha! I heard that!
Mother : [gasps] Oh my God! W-Who are you?
Buto Ijo : Im Buto Ijo.
Father : [comes toward his wife] Whats with the noise? Who is that, honey?
Mother : Oh my husband, Buto Ijo is in front of our house. Im scared. He will kill
both of us!
Buto Ijo : Whoahahaha Im not going to kill you. But I will fulfill your request
to have a child.
Father : You are just joking, arent you?
Buto Ijo : NoNo Im serious, yes, Im really serious. If you dont believe me it
doesnt matter.
Mother : All right All right. My husband, lets see what he can do to help us.
Buto Ijo : [Gives the seeds] Look, here are some cucumber seeds. Plant these seeds,
then youll get a daughter.
Father : Do you mean it? Its so easy.
Buto Ijo : Yes, I mean it. But remember, on her seventeenth birthday, Ill come back
to take the girl.
Mother : Oh, husband please I want a child! Lets try his offer!
Father : But Oh well, if you insist, Ill take his offer.
Mother : [Bows down] Oh, thank you, husband! Thank you a lot, Buto Ijo!
Buto Ijo : Whoahahaha. See you again seventeen years from now, humans.
And remember your promise. [Go away]
Act 3
Narrator : The next day, the couple planted the seeds. Months later, a golden
cucumber grew in the yard. The cucumber was getting bigger and bigger each day.
Mother : Look! Look! The cucumber grew very big! Its so fantastic!
Father : Yeah, you right. What a very big one.
Mother : Its ripe already. Does it work? How can this big thing give us a daughter?
Father : I dont know. Dont ask me.
Mother : I think its time for us to open it up. I wonder what makes its so big. Dont
you think so?
Father : Yes. Lets cut it into two.
Narrator :Carefully, they cut the cucumber into two. To their surprise, they found a
beautiful baby girl inside the cucumber. How joyful they were.
Mother : [gasps] Oh my goodness! There is a baby girl inside this cucumber! Is it for
real? Or am I dreaming?
Father : Yes it is. You want me to pinch you to prove it?
Mother : Err No thanks. [Holds the baby out] This baby is so cute! God, thank you
so much! Thank you so much!
Father : What will we name her?
Mother : I think I will name her Timun Mas, husband. Because she came from the

cucumber and she is cute. That name really suits her, isnt it?
Father : I agree with you.
Act 4
Narrator : Years passed by and Timun Mas grew into a lovely girl. Her parents were
very proud of her but their hearts hurt so badly when they remembered their
promise to Buto Ijo. The couple then remembered that there was a sacred hermit
living inside the forest. So they went there for the help.
Mother : [Knocking the door] Excuse us.
Hermit : [Comes toward the door and opens it] May I ask who you both are?
Mother : My name is Sarni. This is my husband. We both are farmers living in the
village near the forest.
Hermit : What do you want from me?
Father : We need your help.
Hermit : Okay, please come in. Tell me the whole story.
Narrator : The couple told the hermit about their wish and how Buto Ijo fulfilled it.
And also the promise they made with the Giant. The hermit listened to them
carefully as him nodded for the umpteenth time, until the couple finished their story.
Hermit : As expected, Buto Ijo did horrible thing as he wished. His greed explained
everything. We need to do something.
Mother : Please, good Hermit, help us. Dont let Buto Ijo take one dearest daughter.
Shes been with us for seventeenth years.
Father : My wife is right, good hermit. What shall we do?
Hermit : Please be still and stop crying. Look, here is the bundle. There are four
things and messages inside. They will help Timun Mas run away from the giant.
Father : [Takes the bundle] Are you sure they will work?
Hermit : Believe me, it will. Buto Ijo must be punished for his action.
Mother : Thank you very much, good hermit!
Act 5
Narrator : It so happened that one day on Timun Mass seventeenth birthday, Buto
Ijo came for the couples promise.
Buto Ijo : Whoahaha... Hey, peasant, where is your lovely daughter? I come here
to pick her up. Remember the promise you said to me!
Father : Please be patient, Buto Ijo. Timun Mas, my daughter, is playing in the field.
Buto Ijo : What a shit! I know youre lying! But never mind, Ill find her by myself!
[Turns away to find Timun Mas]
Father : Im glad hes gone. Timun Mas, come here, child.
TimunMas : Yes, daddy, Im coming. Whos that?
Mother : He is Buto Ijo, the green giant. For some reason, hes looking for you. Im
sure hell come back here soon.
TimunMas : Oh my God, whatll he do to me?
Father : Listen to me, Timun Mas, all you have to do is run away from him. [Gives
the bundle to Timun Mas] Take this bundle with you. It contains chili seeds, salt,

cucumber seeds, and shrimp paste.


TimunMas: What should I do with these?
Father : Throw each of them when the giant gets closer to you. These will help you
get away from the giant.
TimunMas : What about you, mom and dad?
Mother : Dont worry about us. Oh my God, the giant is coming! Now, run, Timun
Mas! Run as fast as you can! Please be careful!
TimunMas : Thank you, mom and dad! You too please take care of yourselves! [Runs
away]
Act 6
Narrator : After that, the giant chased Timun Mas and he was getting closer and
closer. Timun Mas then took a handful of salt from the bundle. She spread out the
salt and magically a wide sea appeared between them.
TimunMas : Take that you evil giant!
Buto Ijo : [Smirks] Hohoho. You think you can run away from me! No way in hell!
Whoahahaha. Cmon Ill get you! [Swims through the sea]
TimunMas : Oh my God! How did he do that?? I dont know he can swim!
Buto Ijo : Wait for me, you little girl!
TimunMas : Oh no! Hes getting closer to me. Theres no other choice! Take this,
giant!
Narrator : And then she took the chili seeds and threw them at the giant. Suddenly
the seeds grew into some trees and trapped him. The next thing he knew, the trees
grew some thorns as sharp as a knife.
Buto Ijo : OuchOuch! How the hell these trees grew into thorns?? It hurts badly!
TimunMas : Take that one too, evil creature!
Buto Ijo : So, you want to play with me huh? Youll regret it when you lose!
TimunMas : Oh no! He is still chasing me! I must run faster!
Narrator : Once again, the giant almost caught Timun Mas. So, Timun Mas took the
cucumber seeds and threw them onto the ground.
Buto Ijo : What now? Whats this? Cucumbers are everywhere! They look delicious! I
guess its better for me to have appetizers first.
TimunMas : HoshHoshOh Im out of breath. But the giant was eating the
cucumbers. This is my chance to run away!
Buto Ijo : [Yawns] WhoaaahIm very sleppy. I want to sleep first. After that Ill find
Timun Mas. Wait for me girl, Ill come and make you my dinner tonight!
Narrator : Timun Mas kept on running as fast as she could. But soon she was very
tired herself. And things were getting worse as the giant had woken up.
Buto Ijo : WhoaaahIm fresh again! Hey, Timun Mas, you cant run away from me.
Ill get you! Hohoho
TimunMas : Oh, God, he has woken up! What shall I do, God? Please help me!
Buto Ijo : So, you want to play hide and seek, dont you? Where are you? Cmon,
cmon little girl come to your papa!
TimunMas : God! Please help me!!

Buto Ijo : There you are, little girl! One more step and Ill catch you!
TimusMas : This is my last hope! [Throws something] Take that, Buto Ijo!
Narrator : Desperately she then threw her last weapon, the shrimp paste. Magically,
the paste turned into a big swamp.
Buto Ijo : Oh, no, whats this? Its so sticky and smells fishy! Timun Mas! I swear I
will swallow you as soon as I catch you!
Narrator : The giant fell into the swamp but his hands almost reached Timun Mas.
Suddenly the swamp pulled him to the bottom and his hands lost her.
TimunMas : Finally Im free!
Buto Ijo : Oh, no help! Help me! Someone help me!
TimunMas : No one will help you, giant, because youre a bad person.
Buto Ijo : Please help me!! I swear I wont do something bad again! Promise me!
Hermit : [comes out of the blue] Are you sure about your words?
Buto Ijo : Arggh Hermit! Finally you come! Please help me!
TimunMas : [shocks] Who are you?
Hermit : [Turns his face to Timun Mas] Ah, am I scared you? Let me introduce
myself. I am a hermit. So just call me hermit. You dont need to know my real name.
And this giant is my best friend.
Buto Ijo : Yes, I am his best friend! Please get me out of here!
Hermit : [Turns back to Buto Ijo] I will help you out if you promise you wont do bad
things again and stop being a greedy person.
Buto Ijo : Yes, I promise! I promise I will be a good person! You can count on me!
Narrator : Finally, the good hermit helped Buto Ijo, his best friend. As soon as the
giant got out of the swamp, it was disappear. Then the giant apologized to Timun
Mas as well as to the hermit. Fortunately they both forgave him. From then on, Buto
Ijo lived as a good giant and always helped the peasants with their fields. As for
Timun Mas, she lived happily with her parents with no fear anymore.