Anda di halaman 1dari 42

PANDUAN

PELAYANAN KASUS EMERGENCY


RSUI MADINAH KASEMBON 2015

RUMAH SAKIT UMUM ISLAM MADINAH KASEMBON


Jl. RAYA SUKOSARI KASEMBON - MALANG
Telp. (0354) 328144 , 326688

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pelayanan gawat darurat merupakan bentuk pelayanan yang bertujuan untuk
menyelamatkan kehidupan penderita, mencegah kerusakan sebelum tindakan/tenaga
kesehatanan selanjutnya dan menyembuhkan penderita pada kondisi yang berguna
bagi kehidupan. Karena sifat pelayanan gawat daruarat yang cepat dan tepat, maka
sering dimanfaatkan untuk memperoleh pelayanan pertolongan pertama dan bahkan
pelayanan rawat jalan bagi penderita dan keluarga yang menginginkan pelayanan
secara cepat. Oleh karena itu diperlukan tenaga kesehatan yang mempunyai
kemampuan yang bagus dalam mengaplikasikan asuhan pengkajian gawat darurat
untuk mengatasi berbagai permasalahan kesehatan baik aktual atau potensial
mengancam kehidupan tanpa atau terjadinya secara mendadak atau tidak di
perkirakan tanpa atau disertai kondisi lingkungan yang tidak dapat dikendalikan.
Asuhan gawat darurat adalah rangkaian kegiatan praktek pengkajian gawat
darurat yang diberikan kepada klien oleh tenaga kesehatan yang berkompeten di
ruang gawat darurat. Asuhan pengkajianyang diberikan meliputi biologis, psikologis,
dan sosial klien baik aktual yang timbul secara bertahap maupun mendadak, maupun
resiko tinggi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi asuhan pengkajian gawat
darurat, yaitu : kondisi kegawatan seringkali tidak terprediksi baik kondisi klien
maupun jumlah klien yang datang ke ruang gawat darurat, keterbatasan sumber daya
dan waktu,

adanya saling ketergantungan yang sangat tinggi diantara profesi

kesehatan yang bekerja di ruang gawat darurat, pengkajian diberikan untuk semua
usia dan sering dengan data dasar yang sangat mendasar, tindakan yang diberikan
harus cepat dan dengan ketepatan yang tinggi (Maryuani, 2009).
Mengingat sangat pentingnya pengumpulan data atau informasi yang mendasar
pada kasus gawat darurat, maka setiap tenaga kesehatan gawat darurat harus
2

berkompeten dalam melakukan pengkajian gawat darurat. Keberhasilan pertolongan


terhadap penderita gawat darurat sangat tergantung dari kecepatan dan ketepatan
dalam melakukan pengkajian awal yang akan menentukan bentuk pertolongan yang
akan diberikan kepada pasien. Semakin cepat pasien ditemukan maka semakin cepat
pula dapat dilakukan pengkajian awal sehingga

pasien tersebut dapat segera

mendapat pertolongan sehingga terhindar dari kecacatan atau kematian.


Pengkajian pada kasus gawat darurat dibedakan menjadi dua, yaitu : pengkajian
primer dan pengkajian sekunder. Pertolongan kepada pasien gawat darurat dilakukan
dengan terlebih dahulu melakukan survei primer untuk mengidentifikasi masalahmasalah yang mengancam hidup pasien, barulah selanjutnya dilakukan survei
sekunder. Tahapan pengkajian primer meliputi : A: Airway, mengecek jalan nafas
dengan tujuan menjaga jalan nafas disertai kontrol servikal; B: Breathing, mengecek
pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi adekuat; C:
Circulation, mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol perdarahan; D: Disability,
mengecek status neurologis; E: Exposure, enviromental control, buka baju penderita
tapi cegah hipotermia (Holder, 2002).
Pengkajian primer bertujuan mengetahui dengan segera kondisi yang
mengancam nyawa pasien. Pengkajian primer dilakukan secara sekuensial sesuai
dengan prioritas. Tetapi dalam prakteknya dilakukan secara bersamaan dalam tempo
waktu yang singkat (kurang dari 10 detik) difokuskan pada Airway Breathing
Circulation (ABC). Karena kondisi kekurangan oksigen merupakan penyebab
kematian yang cepat. Kondisi ini dapat diakibatkan karena masalah sistem pernafasan
ataupun bersifat sekunder akibat dari gangguan sistem tubuh yang lain. Pasien dengan
kekurangan oksigen dapat jatuh dengan cepat ke dalam kondisi gawat darurat
sehingga memerlukan pertolongan segera. Apabila terjadi kekurangan oksigen 6-8
menit akan menyebabkan kerusakan otak permanen, lebih dari 10 menit akan
menyebabkan kematian. Oleh karena itu pengkajian primer pada penderita gawat
darurat penting dilakukan secara efektif dan efisien (Mancini, 2011).

BAB II
TINJAUAN TEORI

Tenaga kesehatanan pada pasien yang mengalami injuri oleh tim trauma agak
berbeda dengan pengobatan secara tradisional, di mana penegakan diagnosa,
pengkajian dan manajemen penatalaksanaan sering terjadi secara bersamaan dan
dilakukan oleh dokter yang lebih dari satu. Seorang leader tim harus langsung
memberikan pengarahan secara keseluruhan mengenai penatalaksanaan terhadap
pasien yang mengalami injuri, yang meliputi (Fulde, 2009) :
1. Primary survey
2. Resuscitation
3. History
4. Secondary survey
5. Definitive care
A. Primary Survey
Primary survey menyediakan evaluasi yang sistematis, pendeteksian dan
manajemen segera terhadap komplikasi akibat trauma parah yang mengancam
kehidupan. Tujuan dari

Primary survey adalah untuk mengidentifikasi dan

memperbaiki dengan segera masalah yang mengancam kehidupan. Prioritas yang


dilakukan pada primary survey antara lain (Fulde, 2009) :
1. Airway maintenance dengan cervical spine protection
2. Breathing dan oxygenation
3. Circulation dan kontrol perdarahan eksternal
4. Disability-pemeriksaan neurologis singkat
5. Exposure dengan kontrol lingkungan
Sangat penting untuk ditekankan pada waktu melakukan primary survey
bahwa setiap langkah harus dilakukan dalam urutan yang benar dan langkah
berikutnya hanya dilakukan jika langkah sebelumnya telah sepenuhnya dinilai dan
berhasil. Setiap anggota tim dapat melaksanakan tugas sesuai urutan sebagai sebuah
tim dan anggota yang telah dialokasikan peran tertentu seperti airway, circulation,
dll, sehingga akan sepenuhnya menyadari mengenai pembagian waktu dalam
keterlibatan mereka (American College of Surgeons, 1997). Primary survey perlu
terus dilakukan berulang-ulang pada seluruh tahapan awal manajemen. Kunci untuk

tenaga kesehatanan trauma yang baik adalah penilaian yang terarah, kemudian diikuti
oleh pemberian intervensi yang tepat dan sesuai serta pengkajian ulang melalui
pendekatan AIR (assessment, intervention, reassessment).
Primary survey dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain (Gilbert.,
DSouza., & Pletz, 2009) :
a) General Impressions
1. Memeriksa kondisi yang mengancam nyawa secara umum.
2. Menentukan keluhan utama atau mekanisme cedera
3. Menentukan status mental dan orientasi (waktu, tempat, orang)
b) Pengkajian Airway
Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa responsivitas
pasien dengan mengajak pasien berbicara untuk memastikan ada atau tidaknya
sumbatan jalan nafas. Seorang pasien yang dapat berbicara dengan jelas maka
jalan nafas pasien terbuka (Thygerson, 2011). Pasien yang tidak sadar mungkin
memerlukan bantuan airway dan ventilasi. Tulang belakang leher harus dilindungi
selama intubasi endotrakeal jika dicurigai terjadi cedera pada kepala, leher atau
dada. Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh obstruksi lidah pada
kondisi pasien tidak sadar (Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian airway pada pasien antara lain :
1. Kaji kepatenan jalan nafas pasien. Apakah pasien dapat berbicara atau
bernafas dengan bebas?
2. Tanda-tanda terjadinya obstruksi jalan nafas pada pasien antara lain:
a. Adanya snoring atau gurgling
b. Stridor atau suara napas tidak normal
c. Agitasi (hipoksia)
d. Penggunaan otot bantu pernafasan / paradoxical chest movements
e. Sianosis
3. Look dan listen bukti adanya masalah pada saluran napas bagian atas dan
potensial penyebab obstruksi :
a. Muntahan
b. Perdarahan
c. Gigi lepas atau hilang
d. Gigi palsu
e. Trauma wajah

4. Jika terjadi obstruksi jalan nafas, maka pastikan jalan nafas pasien terbuka.
5. Lindungi tulang belakang dari gerakan yang tidak perlu pada pasien yang
berisiko untuk mengalami cedera tulang belakang.
6. Gunakan berbagai alat bantu untuk mempatenkan jalan nafas pasien sesuai
indikasi :
a. Chin lift/jaw thrust
b. Lakukan suction (jika tersedia)
c. Oropharyngeal airway/nasopharyngeal airway, Laryngeal Mask
Airway
d. Lakukan intubasi
c) Pengkajian Breathing (Pernafasan)
Pengkajian pada pernafasan dilakukan untuk menilai kepatenan jalan nafas
dan keadekuatan pernafasan pada pasien. Jika pernafasan pada pasien tidak memadai,
maka langkah-langkah yang harus dipertimbangkan adalah: dekompresi dan drainase
tension pneumothorax/haemothorax, closure of open chest injury dan ventilasi buatan
(Wilkinson & Skinner, 2000).
Yang perlu diperhatikan dalam pengkajian breathing pada pasien antara lain :
1. Look, listen dan feel; lakukan penilaian terhadap ventilasi dan oksigenasi
pasien.
a. Inspeksi dari tingkat pernapasan sangat penting. Apakah ada tanda-tanda
sebagai berikut : cyanosis, penetrating injury, flail chest, sucking chest
wounds, dan penggunaan otot bantu pernafasan.
b. Palpasi untuk adanya : pergeseran trakea, fraktur ruling iga, subcutaneous
emphysema, perkusi berguna untuk diagnosis haemothorax dan
pneumotoraks.
c. Auskultasi untuk adanya : suara abnormal pada dada.
2. Buka dada pasien dan observasi pergerakan dinding dada pasien jika perlu.
3. Tentukan laju dan tingkat kedalaman nafas pasien; kaji lebih lanjut mengenai
karakter dan kualitas pernafasan pasien.
4. Penilaian kembali status mental pasien.
5. Dapatkan bacaan pulse oksimetri jika diperlukan
6. Pemberian intervensi untuk ventilasi yang tidak adekuat dan / atau oksigenasi:
a. Pemberian terapi oksigen
b. Bag-Valve Masker
c. Intubasi (endotrakeal atau nasal dengan konfirmasi penempatan yang
benar), jika diindikasikan
6

d. Catatan: defibrilasi tidak boleh ditunda untuk advanced airway


procedures
7. Kaji adanya masalah pernapasan yang mengancam jiwa lainnya dan berikan
terapi sesuai kebutuhan.
d) Pengkajian Circulation
Shock didefinisikan sebagai tidak adekuatnya perfusi organ dan oksigenasi
jaringan. Hipovolemia adalah penyebab syok paling umum pada trauma. Diagnosis
shock didasarkan pada temuan klinis: hipotensi, takikardia, takipnea, hipotermia,
pucat, ekstremitas dingin, penurunan capillary refill, dan penurunan produksi urin.
Oleh karena itu, dengan adanya tanda-tanda hipotensi merupakan salah satu alasan
yang cukup aman untuk mengasumsikan telah terjadi perdarahan dan langsung
mengarahkan tim untuk melakukan upaya menghentikan pendarahan. Penyebab lain
yang mungkin membutuhkan perhatian segera adalah: tension pneumothorax, cardiac
tamponade, cardiac, spinal shock dan anaphylaxis. Semua perdarahan eksternal yang
nyata harus diidentifikasi melalui paparan pada pasien secara memadai dan dikelola
dengan baik (Wilkinson & Skinner, 2000)..
Langkah-langkah dalam pengkajian terhadap status sirkulasi pasien, antara
lain :
1. Cek nadi dan mulai lakukan CPR jika diperlukan.
2. CPR harus terus dilakukan sampai defibrilasi siap untuk digunakan.
3. Kontrol perdarahan yang dapat mengancam kehidupan dengan pemberian
penekanan secara langsung.
4. Palpasi nadi radial jika diperlukan:
a. Menentukan ada atau tidaknya
b. Menilai kualitas secara umum (kuat/lemah)
c. Identifikasi rate (lambat, normal, atau cepat)
d. Regularity
5. Kaji kulit untuk melihat adanya tanda-tanda hipoperfusi atau hipoksia
(capillary refill).
6. Lakukan treatment terhadap hipoperfusi
e) Pengkajian Level of Consciousness dan Disabilities
Pada primary survey, disability dikaji dengan menggunakan skala AVPU :
1. A - alert, yaitu merespon suara dengan tepat, misalnya mematuhi perintah
yang diberikan.

2. V - vocalises, mungkin tidak sesuai atau mengeluarkan suara yang tidak bias
dimengerti
3. P - responds to pain only (harus dinilai semua keempat tungkai jika
ekstremitas
4. awal yang digunakan untuk mengkaji gagal untuk merespon)
5. U - unresponsive to pain, jika pasien tidak merespon baik stimulus nyeri
maupun stimulus verbal.
f) Expose, Examine dan Evaluate
Menanggalkan pakaian pasien dan memeriksa cedera pada pasien. Jika pasien
diduga memiliki cedera leher atau tulang belakang, imobilisasi in-line penting untuk
dilakukan. Lakukan log roll ketika melakukan pemeriksaan pada punggung pasien.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemeriksaan pada pasien adalah
mengekspos pasien hanya selama pemeriksaan eksternal. Setelah semua pemeriksaan
telah selesai dilakukan, tutup pasien dengan selimut hangat dan jaga privasi pasien,
kecuali jika diperlukan pemeriksaan ulang (Thygerson, 2011).
Dalam situasi yang diduga telah terjadi mekanisme trauma yang mengancam
jiwa, maka Rapid Trauma Assessment harus segera dilakukan:
1.

Lakukan pemeriksaan kepala, leher, dan ekstremitas pada pasien

2. Perlakukan setiap temuan luka baru yang dapat mengancam nyawa pasien
luka dan mulai melakukan transportasi pada pasien yang berpotensi tidak
stabil atau kritis. (Gilbert., DSouza., & Pletz, 2009)

Alur Primary Survey pada Pasien Medical Dewasa (Pre-Hospital Emergency


Care Council, 2012).

Alur Primary Survey pada Pasien Trauma Dewasa (Pre-Hospital Emergency


Care Council, 2012).

B. Secondary Assessment
Survey sekunder merupakan

pemeriksaan secara lengkap yang dilakukan

secara head to toe, dari depan hingga belakang. Secondary survey hanya dilakukan
setelah kondisi pasien mulai stabil, dalam artian tidak mengalami syok atau tandatanda syok telah mulai membaik.

10

1. Anamnesis
Pemeriksaan data subyektif didapatkan dari anamnesis riwayat pasien yang
merupakan bagian penting dari pengkajian pasien. Riwayat pasien meliputi keluhan
utama, riwayat masalah kesehatan sekarang, riwayat medis, riwayat keluarga, sosial,
dan sistem. (Emergency Nursing Association, 2007). Pengkajian riwayat pasien
secara optimal harus diperoleh langsung dari pasien, jika berkaitan dengan bahasa,
budaya, usia, dan cacat atau kondisi pasien yang terganggu, konsultasikan dengan
anggota keluarga, orang terdekat, atau orang yang pertama kali melihat kejadian.
Anamnesis yang dilakukan harus lengkap karena akan memberikan gambaran
mengenai cedera yang mungkin diderita. Beberapa contoh:
a. Tabrakan frontal seorang pengemudi mobil tanpa sabuk pengaman: cedera
wajah, maksilo-fasial, servikal. Toraks, abdomen dan tungkai bawah.
b. Jatuh dari pohon setinggi 6 meter perdarahan intra-kranial, fraktur servikal
atau vertebra lain, fraktur ekstremitas.
c. Terbakar dalam ruangan tertutup: cedera inhalasi, keracunan CO.
Anamnesis juga harus meliputi riwayat AMPLE yang bisa didapat dari pasien
dan keluarga (Emergency Nursing Association, 2007):
A: Alergi (adakah alergi pada pasien, seperti obat-obatan, plester, makanan)
M: Medikasi/obat-obatan (obat-obatan yang diminum seperti sedang
menjalani pengobatan hipertensi, kencing manis, jantung, dosis, atau
penyalahgunaan obat
P:

Pertinent medical history (riwayat medis pasien seperti penyakit yang


pernah diderita, obatnya apa, berapa dosisnya, penggunaan obat-obatan
herbal)

L:

Last meal (obat atau makanan yang baru saja dikonsumsi, dikonsumsi
berapa jam komponen ini)

E:

Events, hal sebelum kejadian, selain itu juga periode menstruasi termasuk
dalam -hal yang bersangkutan dengan sebab cedera (kejadian yang
menyebabkan adanya keluhan utama)

Ada beberapa cara lain untuk mengkaji riwayat pasien yang disesuaikan
dengan kondisi pasien.
Pada pasien dengan kecenderungan konsumsi alkohol, dapat digunakan
beberapa pertanyaan di bawah ini (Emergency Nursing Association, 2007):
a. C. have you ever felt should Cut down your drinking?
b. A. have people Annoyed you by criticizing your drinking?
c. G. have you ever felt bad or Guilty about your drinking?
11

d. E. have you ever had a drink first think in the morning to steady your
nerver or get rid of a hangover (Eye-opener)
Jawaban Ya pada beberapa kategori sangat berhubungan dengan masalah
konsumsi alkohol.
Pada kasus kekerasan dalam rumah tangga akronim HITS dapat digunakan
dalam proses pengkajian. Beberapa pertanyaan yang diajukan antara lain : dalam
setahun terakhir ini seberapa sering pasanganmu (Emergency Nursing Association,
2007):
a. Hurt you physically?
b. Insulted or talked down to you?
c. Threathened you with physical harm?
d. Screamed or cursed you?
Akronim PQRST ini digunakan untuk mengkaji keluhan nyeri pada pasien
yang meliputi :
a. Provokes/palliates : apa yang menyebabkan nyeri? Apa yang membuat
nyerinya lebih baik? apa yang menyebabkan nyerinya lebih buruk? apa
yang anda lakukan saat nyeri? apakah rasa nyeri itu membuat anda
terbangun saat tidur?
b. Quality : bisakah anda menggambarkan rasa nyerinya?apakah seperti diiris,
tajam, ditekan, ditusuk tusuk, rasa terbakar, kram, kolik, diremas? (biarkan
pasien mengatakan dengan kata-katanya sendiri.
c. Radiates: apakah nyerinya menyebar? Menyebar kemana? Apakah nyeri
terlokalisasi di satu titik atau bergerak?
d. Severity : seberapa parah nyerinya? Dari rentang skala 0-10 dengan 0 tidak
ada nyeri dan 10 adalah nyeri hebat
e. Time : kapan nyeri itu timbul?, apakah onsetnya cepat atau lambat? Berapa
lama nyeri itu timbul? Apakah terus menerus atau hilang timbul?apakah
pernah merasakan nyeri ini sebelumnya?apakah nyerinya sama dengan
nyeri sebelumnya atau berbeda?
Setelah dilakukan anamnesis, maka langkah berikutnya adalah pemeriksaan
tanda-tanda vital. Tanda tanda vital meliputi suhu, nadi, frekuensi nafas, saturasi
oksigen, tekanan darah, berat badan, dan skala nyeri.

12

Berikut ini adalah ringkasan tanda-tanda vital untuk pasien dewasa


menurut Emergency Nurses Association,(2007).

13

Komponen
Suhu

Nilai normal
36,5-37,5

Keterangan
Dapat di ukur melalui oral,
aksila, dan rectal. Untuk
mengukur suhu inti
menggunakan kateter arteri
pulmonal, kateter urin,
esophageal probe, atau
monitor tekanan intracranial
dengan pengukur suhu.
Suhu dipengaruhi oleh
aktivitas, pengaruh
lingkungan, kondisi

Nadi

60-100x/menit

penyakit, infeksi dan injury.


Dalam pemeriksaan nadi
perlu dievaluais irama
jantung, frekuensi, kualitas

Respirasi

12-20x/menit

dan kesamaan.
Evaluasi dari repirasi
meliputi frekuensi,
auskultasi suara nafas, dan
inspeksi dari usaha
bernafas. Tada dari
peningkatan usah abernafas
adalah adanya pernafasan
cuping hidung, retraksi
interkostal, tidak mampu
mengucapkan 1 kalimat

Saturasi oksigen

>95%

penuh.
Saturasi oksigen di monitor
melalui oksimetri nadi, dan
hal ini penting bagi pasien
dengan gangguan respirasi,
penurunan kesadaran,
penyakit serius dan tanda
vital yang abnormal.
Pengukurna dapat
dilakukan di jari tangan

Tekanan darah

120/80mmHg

atau kaki.
Tekana darah mewakili dari
gambaran kontraktilitas
jantung, frekuensi jantung,
volume sirkulasi, dan
tahanan vaskuler perifer.
Tekanan sistolik
menunjukkan cardiac
output, seberapa besar dan
seberapa kuat darah itu

14

2. Pemeriksaan fisik
a. Kulit kepala
Seluruh kulit kepala diperiksa. Sering terjadi pada penderita yang datang
dengan cedera ringan, tiba-tiba ada darah di lantai yang berasal dari bagian belakang
kepala penderita. Lakukan inspeksi dan palpasi seluruh kepala dan wajah untuk
adanya pigmentasi,

laserasi, massa, kontusio, fraktur dan luka termal, ruam,

perdarahan, nyeri tekan serta adanya sakit kepala (Delp & Manning. 2004).

b. Wajah
Ingat prinsip look-listen-feel. Inspeksi adanya kesimterisan kanan dan kiri.
Apabila terdapat cedera di sekitar mata

jangan lalai memeriksa mata, karena

pembengkakan di mata akan menyebabkan pemeriksaan mata selanjutnya menjadi


sulit. Re evaluasi tingkat kesadaran dengan skor GCS.
1) Mata

: periksa kornea ada cedera atau tidak, ukuran pupil apakah


isokor atau anisokor serta bagaimana reflex cahayanya,
apakah pupil mengalami miosis atau midriasis, adanya
ikterus, ketajaman mata (macies visus dan acies campus),
apakah konjungtivanya anemis atau adanya kemerahan,
rasa

nyeri,

gatal-gatal,

ptosis,

exophthalmos,

subconjunctival perdarahan, serta diplopia


2) Hidung

:periksa adanya perdarahan, perasaan nyeri, penyumbatan


penciuman,

apabila

ada

deformitas

(pembengkokan)

lakukan palpasi akan kemungkinan krepitasi dari suatu


fraktur.
3) Telinga

:periksa adanya nyeri, tinitus, pembengkakan, penurunan


atau hilangnya pendengaran, periksa dengan senter
mengenai keutuhan membrane timpani atau adanya
hemotimpanum

4) Rahang atas

: periksa stabilitas rahang atas

5) Rahang bawah: periksa akan adanya fraktur


6) Mulut

dan faring: inspeksi pada bagian

mucosa terhadap tekstur,

warna,kelembaban, dan adanya lesi; amati lidah tekstur,


warna, kelembaban, lesi, apakah tosil meradang, pegang
dan tekan daerah pipi kemudian rasakan apa ada massa/
tumor, pembengkakkan dan nyeri, inspeksi amati adanya
15

tonsil meradang atau tidak (tonsillitis/amandel). Palpasi


adanya respon nyeri
c. Vertebra servikalis dan leher
Pada saat memeriksa leher, periksa adanya deformitas tulang atau krepitasi,
edema, ruam, lesi, dan massa , kaji adanya keluhan disfagia (kesulitan menelan) dan
suara serak harus diperhatikan, cedera tumpul atau tajam, deviasi trakea, dan
pemakaian otot tambahan. Palpasi akan adanya nyeri, deformitas, pembekakan,
emfisema subkutan, deviasi trakea, kekakuan pada leher dan simetris pulsasi. Tetap
jaga imobilisasi segaris dan proteksi servikal.

Jaga airway, pernafasan, dan

oksigenasi. Kontrol perdarahan, cegah kerusakan otak sekunder.


d. Toraks
Inspeksi

: Inspeksi dinding dada bagian depan, samping dan belakang


untuk adanya trauma tumpul/tajam,luka, lecet, memar, ruam ,
ekimosiss, bekas luka, frekuensi dan kedalaman pernafsan,
kesimetrisan

expansi

dinding

dada,

penggunaan

otot

pernafasan tambahan dan ekspansi toraks bilateral, apakah


terpasang pace maker, frekuensi dan irama denyut jantung,
(lombardo, 2005)
Palpasi : seluruh dinding dada untuk adanya trauma tajam/tumpul,
emfisema subkutan, nyeri tekan dan krepitasi.
Perkusi

: untuk mengetahui kemungkinan hipersonor dan keredupan

Auskultasi

: suara nafas tambahan (apakah ada ronki, wheezing, rales) dan

bunyi jantung (murmur, gallop, friction rub)


e. Abdomen
Cedera intra-abdomen kadang-kadang luput terdiagnosis, misalnya pada
keadaan cedera kepala dengan penurunan kesadaran, fraktur vertebra dengan
kelumpuhan (penderita tidak sadar akan nyeri perutnya dan gejala defans otot dan
nyeri tekan/lepas tidak ada). Inspeksi abdomen bagian depan dan belakang, untuk
adanya trauma tajam, tumpul dan adanya perdarahan internal, adakah distensi
abdomen,

asites, luka, lecet, memar, ruam, massa, denyutan, benda tertusuk,

ecchymosis, bekas luka , dan stoma. Auskultasi bising usus, perkusi abdomen, untuk
mendapatkan, nyeri lepas (ringan). Palpasi abdomen untuk mengetahui adakah
kekakuan atau nyeri tekan, hepatomegali,splenomegali,defans muskuler,, nyeri lepas
yang jelas atau uterus yang hamil. Bila ragu akan adanya perdarahan intra abdominal,
dapat dilakukan pemeriksaan DPL (Diagnostic peritoneal lavage, ataupun USG
16

(Ultra Sonography). Pada perforasi organ berlumen misalnya usus halus gejala
mungkin tidak akan nampak dengan segera karena itu memerlukan re-evaluasi
berulang kali. Pengelolaannya dengan transfer penderita ke ruang operasi bila
diperlukan (Tim YAGD 118, 2010).
f. Pelvis (perineum/rectum/vagina)
Cedera pada pelvis yang berat akan nampak pada pemeriksaan fisik (pelvis
menjadi stabil), pada cedera berat ini kemungkinan penderita akan masuk dalam
keadaan syok, yang harus segera diatasi. Bila ada indikasi pasang PASG/ gurita untuk
mengontrol perdarahan dari fraktur pelvis (Tim YAGD 118, 2010).
Pelvis dan perineum diperiksa akan adanya luka, laserasi , ruam, lesi, edema,
atau kontusio, hematoma, dan perdarahan uretra. Colok dubur harus dilakukan
sebelum memasang kateter uretra. Harus diteliti akan kemungkinan adanya darah dari
lumen rectum, prostat letak tinggi, adanya fraktur pelvis, utuh tidaknya rectum dan
tonus musculo sfinkter ani. Pada wanita, pemeriksaan colok vagina dapat menentukan
adanya darah dalam vagina atau laserasi, jika terdapat perdarahan vagina dicatat,
karakter dan jumlah kehilangan darah harus dilaporkan (pada tampon yang penuh
memegang 20 sampai 30 mL darah). Juga harus dilakuakn tes kehamilan pada semua
wanita usia subur. Permasalahan yang ada adalah ketika terjadi kerusakan uretra
pada wanita, walaupun jarang dapat terjadi pada fraktur pelvis dan straddle injury.
Bila terjadi, kelainan ini sulit dikenali, jika pasien hamil, denyut jantung janin
(pertama kali mendengar dengan Doppler ultrasonografi pada sekitar 10 sampai 12
kehamilan minggu) yang dinilai untuk frekuensi, lokasi, dan tempat. Pasien dengan
keluhan kemih harus ditanya tentang rasa sakit atau terbakar dengan buang air kecil,
frekuensi, hematuria, kencing berkurang, Sebuah sampel urin harus diperoleh untuk
analisis.(Diklat RSUP Dr. M.Djamil, 2006).
g. Ektremitas
Pemeriksaan dilakukan dengan look-feel-move. Pada saat inspeksi, jangan
lupa untuk memriksa adanya luka dekat daerah fraktur (fraktur terbuak), pada saat
pelapasi jangan lupa untuk memeriksa denyut nadi distal dari fraktur pada saat
menggerakan, jangan dipaksakan bila jelas fraktur. Sindroma kompartemen (tekanan
intra kompartemen dalam ekstremitas meninggi sehingga membahayakan aliran
darah), mungkin luput terdiagnosis pada penderita dengan penurunan kesadaran atau
kelumpuhan (Tim YAGD 118, 2010). Inspeksi pula adanya kemerahan, edema, ruam,
lesi,

gerakan, dan sensasi harus diperhatikan,

kontraktur, sedangkan

paralisis, atropi/hipertropi otot,

pada jari-jari periksa adanya clubbing finger

serta catat
17

adanya nyeri tekan, dan hitung berapa detik kapiler refill (pada pasien hypoxia lambat
s/d 5-15 detik.
Penilaian pulsasi dapat menetukan adanya gangguan vaskular. Perlukaan berat
pada ekstremitas dapat terjadi tanpa disertai fraktur.kerusakn ligament dapat
menyebabakan sendi menjadi tidak stabil, keruskan otot-tendonakan mengganggu
pergerakan. Gangguan sensasi dan/atau hilangnya kemampuan kontraksi otot dapat
disebabkan oleh syaraf perifer atau iskemia. Adanya fraktur torako lumbal dapat
dikenal pada pemeriksaan fisik dan riwayat trauma. Perlukaan bagian lain mungkin
menghilangkan gejala fraktur torako lumbal, dan dalam keadaan ini hanya dapat
didiagnosa dengan foto rongent. Pemeriksaan muskuloskletal tidak lengkap bila
belum dilakukan pemeriksaan punggung penderita. Permasalahan yang muncul
adalah :
1) Perdarahan dari fraktur pelvis dapat berat dan sulit dikontrol, sehingga
terjadi syok yang dpat berakibat fatal
2) Fraktur pada tangan dan kaki sering tidak dikenal apa lagi penderita dalam
keadaan tidak sada. Apabila kemudian kesadaran pulih kembali barulah
kelainan ini dikenali.
3) Kerusakan jaringan lunak sekitar sendi seringkali baru dikenal setelah
penderita mulai sadar kembali (Diklat RSUP Dr. M.Djamil, 2006).
h. Bagian punggung
Memeriksa punggung dilakukan dilakukan dengan log roll, memiringkan
penderita dengan tetap menjaga kesegarisan tubuh). Pada saat ini dapat dilakukan
pemeriksaan punggung (Tim YAGD 118, 2010). Periksa`adanya perdarahan, lecet,
luka, hematoma, ecchymosis, ruam, lesi, dan edema serta nyeri, begitu pula pada
kolumna vertebra periksa adanya deformitas.
i. Neurologis
Pemeriksaan neurologis yang diteliti meliputi pemeriksaan tingkat kesadaran,
ukuran dan reaksi pupil, oemeriksaan motorik dan sendorik. Peubahan dalam status
neirologis dapat dikenal dengan pemakaian GCS. Adanya paralisis dapat disebabakan
oleh kerusakan kolumna vertebralis atau saraf perifer. Imobilisasi penderita dengan
short atau long spine board, kolar servikal, dan alat imobilisasi dilakukan samapai
terbukti tidak ada fraktur servikal. Kesalahan yang sering dilakukan adalah untuk
melakukan fiksasai terbatas kepada kepala dan leher saja, sehingga penderita masih
dapat bergerak dengan leher sebagai sumbu. Jelsalah bahwa seluruh tubuh penderita
memerlukan imobilisasi. Bila ada trauma kepala, diperlukan konsultasi neurologis.
18

Harus dipantau tingkat kesadaran penderita, karena merupakan gambaran perlukaan


intra cranial. Bila terjadi penurunan kesadaran akibat gangguan neurologis, harus
diteliti ulang perfusi oksigenasi, dan ventilasi (ABC). Perlu adanya tindakan bila ada
perdarahan epidural subdural atau fraktur kompresi ditentukan ahli bedah syaraf
(Diklat RSUP Dr. M.Djamil, 2006).
Pada pemeriksaan neurologis, inspeksi adanya kejang, twitching, parese,
hemiplegi atau hemiparese (ganggguan pergerakan), distaksia ( kesukaran dalam
mengkoordinasi otot), rangsangan meningeal dan kaji pula adanya vertigo dan
respon sensori
C. Focused Assessment
Focused assessment atau pengakajian terfokus adalah tahap pengkajian pada
area pengkajiangawat darurat yang dilakukan setelah primary survey, secondary
survey, anamnesis riwayat pasien (pemeriksaan subyektif) dan pemeriksaan obyektif
(Head to toe). Di beberapa negara bagian Australia mengembangkan focused
assessment ini dalam pelayanan di Emergency Department, tetapi di beberapa Negara
seperti USA dan beberapa Negara Eropa tidak menggunakan istilah Focused
Assessment tetapi dengan istilah Definitive Assessment (Okeefe et.al, 1998).
Focused assessment untuk melengkapi data secondary assessment bisa
dilakukan sesuai masalah yang ditemukan atau tempat dimana injury ditemukan.
Yang paling

banyak dilakukan dalam tahap ini adalah beberapa pemeriksaan

penunjang diagnostik atau bahkan dilakukan pemeriksaan ulangan dengan tujuan


segera dapat dilakukan tindakan definitif.
D. Reassessment
Beberapa komponen yang perlu untuk dilakukan pengkajian kembali
(reassessment) yang penting untuk melengkapi primary survey pada pasien di gawat
darurat adalah :
Komponen
Airway

Pertimbangan
Pastikan bahwa peralatan airway : Oro
Pharyngeal Airway, Laryngeal Mask
Airway , maupun Endotracheal Tube
(salah satu dari peralatan airway) tetap
efektif untuk menjamin kelancaran jalan
napas. Pertimbangkan penggunaaan
peralatan dengan manfaat yang optimal
dengan risiko yang minimal.
19

Breathing

Pastikan oksigenasi sesuai dengan


kebutuhan pasien :

Pemeriksaan definitive rongga


dada dengan rontgen foto
thoraks, untuk meyakinkan ada
tidaknya masalah seperti
Tension pneumothoraks,
hematotoraks atau trauma
thoraks yang lain yang bisa
mengakibatkan oksigenasi tidak
adekuat

Circulation

Penggunaan ventilator mekanik


Pastikan bahwa dukungan sirkulasi
menjamin perfusi jaringan khususnya
organ vital tetap terjaga, hemodinamik
tetap termonitor serta menjamin tidak
terjadi over hidrasi pada saat
penanganan resusitasicairan.

Disability

Pemasangan cateter vena central

Pemeriksaan analisa gas darah

Balance cairan

Pemasangan kateter urin

Setelah pemeriksaan GCS pada primary


survey, perlu didukung dengan :

Pemeriksaan spesifik neurologic


yang lain seperti reflex
patologis, deficit neurologi,
pemeriksaan persepsi sensori
dan pemeriksaan yang lainnya.

Exposure

CT scan kepala, atau MRI

Konfirmasi hasil data primary survey


dengan

Rontgen foto pada daerah yang


mungkin dicurigai trauma atau
20

fraktur

USG abdomen atau pelvis

E. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan lanjutan hanya dilakukan setelah ventilasi dan hemodinamika
penderita dalam keadaan stabil (Diklat RSUP Dr. M.Djamil, 2006). Dalam melakukan
secondary survey, mungkin akan dilakukan pemeriksaan diagnostik yang lebih
spesifik seperti :
1)

Endoskopi
Pemeriksaan penunjang endoskopi bisa dilakukan pada pasien dengan

perdarahan dalam. Dengan melakukan pemeriksaan endoskopi kita bisa mngethaui


perdarahan yang terjadi organ dalam. Pemeriksaan endoskopi dapat mendeteksi lebih
dari 95% pasien dengan hemetemesis, melena atau hematemesis melena dapat
ditentukan lokasi perdarahan dan penyebab perdarahannya. Lokasi dan sumber
perdarahan yaitu:
a.

Esofagus

arises,erosi,ulkus,tumor
b.

Gaster

: Erosi, ulkus,

tumor, polip, angio displasia, Dilafeuy, varises


gastropati kongestif
c.

Duodenum : Ulkus, erosi,

Untuk kepentingan klinik biasanya dibedakan perdarahan karena ruptur


varises dan

perdarahan bukan karena ruptur varises (variceal bleeding dan non

variceal bleeding) (Djumhana, 2011).


2)

Bronkoskopi
Bronkoskopi adalah tindakan yang dilakukan untuk melihat keadaan intra

bronkus dengan menggunakan alat bronkoskop. Prosedur diagnostik dengan


bronkoskop ini dapat menilai lebih baik pada mukosa saluran napas normal,
hiperemis atau lesi infiltrat yang memperlihatkan mukosa yang compang-camping.
Teknik ini juga dapat menilai penyempitan atau obstruksi akibat kompresi dari luar
atau massa intrabronkial, tumor intra bronkus. Prosedur ini juga dapat menilai ada
tidaknya pembesaran kelenjar getah bening, yaitu dengan menilai karina yang terlihat
tumpul akibat pembesaran kelenjar getah bening subkarina atau intra bronkus
(Parhusip, 2004).
3)

CT Scan

21

CT-scan merupakan alat pencitraan yang di pakai pada kasus-kasus emergensi


seperti emboli paru, diseksi aorta, akut abdomen, semua jenis trauma dan menentukan
tingkatan dalam stroke. Pada kasus stroke, CT-scan dapat menentukan dan
memisahkan antara jaringan otak yang infark dan daerah penumbra. Selain itu, alat
ini bagus juga untuk menilai kalsifikasi jaringan. Berdasarkan beberapa studi terakhir,
CT-scan dapat mendeteksi lebih dari 90 % kasus stroke iskemik, dan menjadi baku
emas dalam diagnosis stroke (Widjaya, 2002). Pemeriksaaan CT. scan juga dapat
mendeteksi kelainan-kelainan seerti perdarahan diotak, tumor otak, kelainan-kelainan
tulang dan kelainan dirongga dada dan rongga perur dan khususnya kelainan
pembuluh darah, jantung (koroner), dan pembuluh darah umumnya (seperti
penyempitan darah dan ginjal (ishak, 2012).
4)

USG
Ultrasonografi (USG) adalah alat diagnostik

non invasif menggunakan

gelombang suara dengan frekuensi tinggi diatas 20.000 hertz ( >20 kilohertz) untuk
menghasilkan gambaran struktur organ di dalam tubuh.Manusia dapat mendengar
gelombang suara 20-20.000 hertz .Gelombang suara antara 2,5 sampai dengan 14
kilohertz digunakan untuk diagnostik. Gelombang suara dikirim melalui suatu alat
yang disebut transducer atau probe. Obyek didalam tubuh akan memantulkan kembali
gelombang suara yang kemudian akan ditangkap oleh suatu sensor, gelombang pantul
tersebut akan direkam, dianalisis dan ditayangkan di layar. Daerah yang tercakup
tergantung dari rancangan alatnya. Ultrasonografi yang terbaru dapat menayangkan
suatu obyek dengan gambaran tiga dimensi, empat dimensi dan berwarna. USG bisa
dilakukan pada abdomen, thorak (Lyandra, Antariksa, Syaharudin, 2011)
5)

Radiologi
Radiologi merupakan salah satu pemeriksaan penunjang yang dilakukan di

ruang gawat darurat. Radiologi merupakan bagian dari spectrum elektromagnetik


yang dipancarkan akibat pengeboman anoda wolfram oleh electron-elektron bebas
dari suatu katoda. Film polos dihasilkan oleh pergerakan electron-elektron tersebut
melintasi pasien dan menampilkan film radiologi. Tulang dapat menyerap sebagian
besar radiasi menyebabkan pajanan pada film paling sedikit, sehingga film yang
dihasilkan tampak berwarna putih. Udara paling sedikit menyerap radiasi,
meyebabakan pejanan pada film maksimal sehingga film nampak berwarna hitam.
Diantara kedua keadaan ekstrem ini, penyerapan jaringan sangat berbeda-beda
menghasilkan citra dalam skala abu-abu. Radiologi bermanfaat untuk dada,
abdoment, sistem tulang: trauma, tulang belakang, sendi penyakit degenerative,
metabolic dan metastatik (tumor). Pemeriksaan radiologi penggunaannya dalam
membantu diagnosis meningkat. Sebagian kegiatan seharian di departemen radiologi
22

adalah pemeriksaan foto toraks. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan
ini. Ini karena pemeriksaan ini relatif lebih cepat, lebih murah dan mudah dilakukan
berbanding pemeriksaan lain yang lebih canggih dan akurat (Ishak, 2012).
6)

MRI (Magnetic Resonance Imaging)


Secara umum lebih sensitive dibandingkan CT Scan. MRI juga dapat

digunakan pada kompresi spinal. Kelemahan alat ini adalah tidak dapat mendeteksi
adanya emboli paru, udara bebas dalam peritoneum dan faktor. Kelemahan lainnya
adalah prosedur pemeriksaan yang lebih rumit dan lebih lama, hanya sedikit sekali
rumah sakit yang memiliki, harga pemeriksaan yang sangat mahal serta tidak dapat
diapaki pada pasien yang memakai alat pacemaker jantung dan alat bantu
pendengaran ( Widjaya,2002 ).

23

BAB III
KEGAWATDARURATAN PSIKIATRI
Kedaruratan psikiatri merupakan cabang dari Ilmu Kedokteran Jiwa dan
Kedokteran Kedaruratan, yang dibuat untuk menghadapi kasus kedaruratan yang
memerlukan intervensi psikiatrik. Tempat pelayanan kedaruratan psikiatri antara lain
di rumah sakit umum, rumah sakit jiwa, klinik dan sentra primer. Kasus kedaruratan
psikiatrik meliputi gangguan pikiran, perasaan dan perilaku yang memerlukan
intervensi terapeutik segera, antara lain: (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto,
2010)
a.
b.
c.
d.
e.

Kondisi gaduh gelisah.


Tindak kekerasan (violence)
Tentamen Suicidum/percobaan bunuh diri
Gejala ekstra piramidal akibat penggunaan obat
Delirium

Evaluasi
Menilai kondisi pasien yang sedang dalam krisis secara cepat dan tepat
aadalah tujuan utama dalam melakuka evaluasi kedaruratan psikiatrik. Tindakan
segera yang harus dilakukan secara tepat adalah:
a. Menentukan diagnosis awal
b. Melakukan identifikasi faktor-faktor presipitasi dan kebutuhan segera pasien
c. Memulai terapi atau merujuk pasien ke fasilitas yang sesuai
Dalam proses evaluasi, dilakukan:
1. Wawancara Kedaruratan Psikiatrik
Wawancara dilakukan lebih terstruktur, secara umum fokus wawancara
ditujukan pada keluhan pasien dan alasan dibawa ke unit gawat darurat.
Keterangan tambahan dari pihak pengantar, keluarga, teman atau polisi dapat
melengkapi informasi, terutama pada pasien mutisme, tidak kooperatif,
negativistik atau inkoheren. Hubungan dokter-pasien sangat berpengaruh
terhadap informasi yang diberikan. Karenanya diperlukan kemampuan
mendengar, melakukan observasi dan melakukan interpretasi terhadap apa
yang dkatakan ataupun yang tidak dikatakan oleh pasien, dan ini dilakukan
dalam waktu yang cepat.

2. Pemeriksaan Fisik

24

Pemeriksaan psikiatrik standar

meliputi: riwayat perjalanan penyakit,

pemeriksaan status mental, pemeriksaan status fisik/neurologik dan jika perlu


pemeriksaan penunjang. Yang pertama dan terpenting yang harus dilakukan oeh
seorang dokter di unit gawat darurat adalah menilai tanda-tanda vital pasien. Tekanan
ddarah, suhu, nadi adalah sesuatu yang mudah diukur dan dapat memberikan
informasi bermakna. Misalnya seorang yang gaduh gelisah dan mengalami halusinasi,
demam, frekuensi nadi 120 per menit dan tekanan darah meningkat, kemungkinan
besar mengalami delirium dibandingkan dengan suatu gangguan psikiatrik. Lima hal
yang harus ditentukan sebelum menangani pasien selanjutnya:
a. Keamanan pasien
Sebelum mengevaluasi pasien, dokter harus dapat memastikan bahwa
situasi di UGD, jumlah pasien di ruangan tersebut aman bagi pasien. Jika
intervensi verbal tidak cukup atau kontraindikasi, perlu dipikirkan
pemberian obat atau pengekangan.
b. Medik atau psikiatrik?
Penting bagi dokter untuk menilai apakah kasusnya medik, psikiatrik atau
kombinasi keduanya, sebab penanganannya akan jauh berbeda. Kondisi
medik umum seperti trauma kepala, infeksi berat dengan demam inggi,
kelainan metabolisme, intoksikasi atau gejala putus zat seringkali
menyebabkan gangguan fungsi mental yang menyerupai gangguan
psikiatrik umumnya. Dokter gawat darurat tetap harus menelusuri semua
kemungkinan penyebab gangguan fungsi mental yang tampak.
c. Psikosis
Yang penting bukanlah penegakan diagnosisnya, tetapi seberapa jauh
ketidakmampuannya dalam menilai realita dan buruknya tilikan. Hal ini
dapat mempengaruhi sikapnya terhadap pertolongan yang kita berikan
serta kepatuhannya dalam berobat.
d. Suicidal atau homicidal
Semua pasien dengan kecenderungan bunuh diri harus dobservasi secara
ketat. Perasaan-perasaan yang berkaitan dengan tindak kekerasan atau
pikiran bunuh diri harus selalu ditanyakan kepada pasien.
e. Kemampuan merawat diri sendiri
Sebelum memulangkan pasien, harus dipertimbangkan apakah pasien
mampu merawat dirinya sendir, mampu menjalankan saran yang
dianjurkan. Ketidakmampuan pasien dan atau keluarganya untuk merawat
pasien di rumah merupakan salah asatu indikasi rawat inap.
Adapun indikasi rawat inap antara lain adalah:
25

a. Bila pasien membahayakan diri sendiri atau orang lain,


b. Bila perawatan di rumah tidak memadai, dan
c. Perlu observasi lebih lanjut.
Pertimbangan Dalam Penegakan Diagnosis Dan Terapi
1. Diagnosis
Meskipun pemeriksaan gawat darurat tidak harus lengkap, namun ada
beberapa hal yang harus dilakukan sesegera mungkin untuk keakuratan data ,
misalnya penapisan toksikologi ( tes urin untuk opioid, amfetamin),
pemeriksaan radiologi, EKG dan tes laboratorium. Data penunjang seperti
catatan medik sebelumnya, informasi dari sumber luar juga dikumpulkan
sebelum memulai tindakan.
2. Terapi
Pemberian terapi obat atau pengekangan harus mengikuti prinsip terapi
Maximum tranquilization with minimum sedation. Tujuannya adalah untuk:
a. Membantu pasien untuk dapat mengendalikan dirinya kembali
b. Mengurangi/menghilangkan penderitaannya
c. Agar evaluasi dapat dilanjutkan sampai didapat suatu kesimpulan akhir
Obat-obatan yang sering digunakan adalah:
a. Low-dose

High-potency

antipsychotics

seperti

haloperidol,

trifluoperazine, perphenazine dsb


b. Atypical antipsychotics, seperti risperidone, quetiapine, olanzapine.
c. Injeksi benzodiazepine. Kombinasi benzodiazepine dan antipsikotik
kadang sangat efektif.
A. Keadaan Gaduh Gelisah
Keadaan gaduh gelisah bukanlah diagnosis dalam arti kata sebenarnya, tetapi
hanya menunjuk pada suatu keadaan tertentu, suatu sindrom dengan sekelompok
gejala tertentu. Keadaan gaduh gelisah dipakai sebagai sebutan sementara untuk suatu
gambaran psikopatologis dengan ciri-ciri utama gaduh dan gelisah. (Maramis dan
Maramis, 2009).
Etiologi
Keadaan gaduh gelisah merupakan manifestasi klinis salah satu jenis psikosis
(Maramis dan Maramis, 2009):
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Delirium
Skizofrenia katatonik
Gangguan skizotipal
Gangguan psikotik akut dan sementara
Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
Amok

26

1. Psikosis karena gangguan mental organik: delirium


Pasien dengan keadaan gaduh-gelisah yang berhubungan dengan sindroma
otak organik akut menunjukkan kesadaran yang menurun. Sindroma ini dinamakan
delirium. Istilah sindroma otak organik menunjuk kepada keadaan gangguan fungsi
otak karena suatu penyakit badaniah (Maramis dan Maramis, 2009).
Penyakit badaniah ini yang menyebabkan gangguan fungsi otak itu mungkin
terdapat di otak sendiri dan karenanya mengakibatkan kelainan patologik-anatomik
(misalnya

meningo-ensefalitis,

gangguan

pembuluh

darah

otak,

neoplasma

intracranial, dan sebagainya), atau mungkin terletak di luar otak (umpamanya tifus
abdominalis, pneumonia, malaria, uremia, keracunan atropine/kecubung atau alcohol,
dan sebagainya) dan hanya mengakibatkan gangguan fungsi otak dengan manifestasi
sebagai psikosa atau keadaan gaduh-gelisah, tetapi tidak ditemukan kelainan
patologik-anatomik pada otak sendiri (Maramis dan Maramis, 2009).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada sindrom otak organik akut
biasanya terdapat kesadaran menurun sedangkan pada sindrom otak organik menahun
biasanya terdapat dementia. Akan tetapi suatu sindrom otak organik menahun
(misalnya tumor otak, demensia paralitika, aterosklerosis otak, dan sebagainya) dapat
saja pada suatu waktu menimbulkan psikosis atau pun keadaan gaduh gelisah. Untuk
mengetahui penyebabnya secara lebih tepat, perlu sekali dilakukan evaluasi internal
dan neurologis yang teliti (Maramis dan Maramis, 2009).
2. Skizofrenia dan gangguan skizotipal
Bila kesadaran tidak menurun, maka biasanya keadaan gaduh gelisah itu
merupakan manifestasi suatu psikosis dari kelompok ini, yaitu psikosis yang tidak
berhubungan atau sampai sekarang belum diketahui dengan pasti adanya hubungan
dengan suatu penyakit badaniah seperti pada gangguan mental organik.
Skizofrenia merupakan psikosis yang paling sering didapat di negara kita.
Secara mudah dapat dikatakan bahwa bila kesadaran tidak menurun dan terdapat
inkoherensi serta afek-emosi yang inadequate, tanpa frustasi atau konflik yang jelas
maka hal ini biasanya suatu skizofrenia. Diagnosa kita diperkuat bila kelihatan juga
tidak ada perpaduan (disharmoni) antara berbagai aspek kepribadian seperti proses
berpikir, afek-emosi, psikomotorik dan kemauan (kepribadian yang retak, terpecahbelah atau bercabang = schizo; jiwa = phren), yaitu yang satu meningkat, tetapi yang
lain menurun. Pokok gangguannya terletak pada proses berpikir (Maramis dan
Maramis, 2009).
Dari berbagai jenis skizofrenia, yang sering menimbulkan keadaan gaduhgelisah ialah episode skizofrenia akut dan skizofrenia jenis gaduh-gelisah katatonik.
27

Di samping psikomotor yang meningkat, pasien menunjukkan inkoherensi dan afekemosi yang inadequate. Proses berpikir sama sekali tidak realistik lagi (Maramis dan
Maramis, 2009).
3. Gangguan psikotik akut dan sementara
Gangguan ini timbul tidak lama sesudah terjadi stress psikologik yang
dirasakan hebat sekali oleh individu. Stress ini disebabkan oleh suatu frustasi atau
konflik dari dalam ataupun dari luar individu yang mendadak dan jelas, umpamanya
dengan tiba-tiba kehilangan seorang yang dicintainya, kegagalan, kerugian dan
bencana.Gangguan psikotik akut yang biasanya disertai keadaan gaduh-gelisah adalah
gaduh-gelisah reaktif dan kebingungan reaktif (Maramis dan Maramis, 2009).
4. Psikosis bipolar
Psikosisbipolar termasuk dalam kelompok psikosa afektif karena pokok
gangguannya terletak pada afek-emosi. Tidak jelas ada frustasi atau konflik yang
menimbulkan gangguan mental ini. Belum ditemukan juga penyakit badaniah yang
dianggap berhubungan dengan psikosa bipolar, biarpun penelitian menunjuk kearah
itu. Tidak ditemukan juga disharmoni atau keretakan kepribadian seperti pada
skizofrenia; pada jenis depresi ataupun mania, bila aspek afek-emosinya menurun,
maka aspek yang lain juga menurun, dan sebaliknya (Maramis dan Maramis, 2009).
Pada psikosa bipolar jenis mania tidak terdapat inkoherensi dalam arti kata
yang sebenarnya, tetapi pasien itu memperlihatkan jalan pikiran yang meloncat-loncat
atau melayang (flight of ideas). Ia merasa gembira luar biasa (efori), segala hal
dianggap mudah saja. Psikomotorik meningkat, banyak sekali berbicara (logorea) dan
sering ia lekas tersinggung dan marah (Maramis dan Maramis, 2009).
5. Amok
Amok adalah keadaan gaduh-gelisah yang timbul mendadak dan dipengaruhi
oleh faktor-faktor sosiobudaya. Karena itu PPDGJ-III (Pedoman Penggolongan
Diagnosa Gangguan Jiwa ke-III di Indonesia) memasukkannya ke dalam kelompok
Fenomena dan Sindrom yang Berkaitan dengan Faktor Sosial Budaya di Indonesia
(culture bound phenomena). Efek malu (pengaruh sosibudaya) memegang
peranan penting. Biasanya seorang pria, sesudah periode meditasi atau tindakan
ritualistic, maka mendadak ia bangkit dan mulai mengamuk. Ia menjadi agresif dan
destruktif, mungkin mula-mula terhadap yang menyebabkan ia malu,tetapi kemudian
terhadap siapa saja dan apa saja yang dirasakan menghalanginya. Kesadaran menurun
atau berkabut (seperti dalam keadaan trance). Sesudahnya terdapat amnesia total atau
28

sebagian. Amok sering berakhir karena individu itu dibuat tidak berdaya oleh orang
lain, karena kehabisan tenaga atau karena ia melukai diri sendiri, dan mungkin
sampai ia menemui ajalnya(Maramis dan Maramis, 2009).
Menilai dan Memprediksi Perilaku Kekerasan
Tanda-tanda adanya perilaku kekerasan yang mengancam (Sadock, et al, 2007):
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pernah melakukan tindakan kekerasan beberapa saat yang lalu


Kata-kata keras /kasar atau ancaman akan kekerasan
Membawa benda-benda tajam atau senjata
Adanya perilaku agitatif
Adanya intoksikasi alkohol atau obat
Adanya pikiran dan perilaku paranoid
Adanya halusinasi dengar yang memerintahkan untuk melakukan tindak

h.
i.
j.
k.

kekerasan.
Kegelisahan katatonik
Episode manik
Episode depresi agitatif
Gangguan Kepribadian tertentu

Menilai resiko terjadinya perilaku kekerasan (Sadock, et al, 2007):


a. Adanya ide-ide untuk melakukan kekerasan
b. Adanya faktor demografik seperti jenis kelamin laki-laki, usia 15 24 tahun,
status sosioekonomi yang rendah, dukungan sosial yang rendah
c. Adanya riwayat kekerasan sebelumnya, penjudi, pemabuk, penyalahgunaan
zat psikoaktif,percobaan bunuh diri ataupun melukai diri sendiri, psikosis
d. Adanya stresor (masalah pernikahan, kehilangan pekerjaan, dan lainnya)
Tatalaksana
Bila seorang dalam keadaan gaduh gelisah dibawa kepada kita, penting sekali
kita harus bersikap tenang. Dengan sikap yang meyakinkan, meskipun tentu waspada,
dan kata-kata yang dapat menenteramkan pasien maupun para pengantarnya, tidak
jarang kita sudah dapat menguasai keadaan (Maramis dan Maramis, 2009).
Bila pasien masih diikat, sebaiknya ikatan itu disuruh dibuka sambil tetap
berbicara dengan pasien dengan beberapa orang memegangnya agar ia tidak
mengamuk lagi. Biarpun pasien masih tetap dipegang dan dikekang, kita berusaha
memeriksanya secara fisik. Sedapat-dapatnya tentu perlu ditentukan penyebab
keadaan gaduh gelisah itu dan mengobatinya secara etiologis bila mungkin (Maramis
dan Maramis, 2009).
Suntikan intramuskular suatu neuroleptikum yang mempunyai dosis
terapeutik tinggi (misalnya chlorpromazine HCL), pada umumnya sangat berguna
untu mengendalikan psikomotorik yang meningkat. Bila tidak terdapat, maka
suntikan neuroleptikum yang mempunyai dosis terapeurik rendah, misalnya
29

trifluoperazine, haloperidol (5 10 mg), atau fluophenazine dapat juga dipakai,


biarpun efeknya tidak secepat neuroleptikum kelompok dosis terapeutik tinggi. Bila
tidak ada juga, maka suatu tranquailaizer pun dapat dipakai, misalnya diazepam (5
10 mg), disuntik secara intravena, dengan mengingat bahwa tranquilaizer bukan suatu
antipsikotikum seperti neuroleptika, meskipun kedua-duanya mempunyai efek
antitegang, anticemas dan antiagitasi (Maramis dan Maramis, 2009).
Efek samping neuroleptika yang segera timbul terutama yang mempunyai
dosis terapeutik tinggi, adalah hipotensi postural, lebih-lebih pada pasien dengan
susunan saraf vegetatif yang labil atau pasien lanjut usia. Untuk mencegah jangan
sampai terjadi sinkop, maka pasien jangan langsung berdiri dari keadaan berbaring,
tetapi sebaiknya duduk dahulu kira-kira satu menit (bila pasien sudah tenang)
(Maramis dan Maramis, 2009).
Penjagaan dan perawatan yang baik tentu juga perlu, mula-mula agar ia
jangan mengalami kecelakaan, melukai diri sendiri, menyerang orang lain atau
merusak barang-barang. Bila pasien sudah tenang dan mulai kooperatif, maka
pengobatan dengan neuroleptika dilanjutkan per oral (bila perlu suntikan juga dapat
diteruskan). Pemberian makanan dan cairan juga harus memadai. Kita berusaha terus
mencari penyebabnya, bila belum diketahui, terutama bila diduga suatu sindrom otak
organik yang akut. Bila ditemukan, tentu diusahakan untuk mengobatinya secara
etiologis (Maramis dan Maramis, 2009).

Gambar Diagram-alur penanggulangan keadaan gaduh-gelisah.

30

Pasien dengan amok, bila sampai kepada kita, biasanya sudah tidak
mengamuk lagi, kita tinggal berusaha tambah menentramkan saja dan mengobati
keadaan fisik bila sudah terganggu sewaktu dia dalam keadaan amok. Psikosis
skizofrenia dan bipolar memerlukan pengobatan jangka panjang dengan neuroleptika
(Maramis dan Maramis, 2009).
B. Tindak kekerasan (violence)
Violence atau tindak kekrasan adalah agresi fisik yang dilakukan oleh seseorang
terhadap orang lain. Jika hal itu diarahkan kepada dirinya sendiri, disebut mutilasi diri
atau tingkah laku bunuh diri (suicidal behavior). Tindak kekerasan dapat timbul
akibat berbagai gangguan psikiatrik, tetapi dapat pula terjadi pada orang biasa yang
tidak dapat mengatasi tekanan hidup sehari-hari dengan cara yang lebih baik.
a. Gambaran klinis dan diagnosis
Gangguan psikiatrik yang sering berkaitan dengan tindak kekerasan adalah:
1. Gangguan psikotik, seperti skizofrenia dan manik, terutama bila paranoid
dan
2.
3.
4.
5.
6.

mengalami

halusinasi

yang

bersifat

suruhan

(commanding

hallucination),
Intoksikasi alkohol atau zat lain,
Gejala putus zat akibat alkohol atau obat-obat hipnotik-seddatif
Katatonik furor
Depresi agitatif
Gangguan kepribadian yang ditandai dengan kemarahan dan gangguan
pengendalian impuls (misalnya gangguan kepribadian ambang dan

antisosial),
7. Gangguan mental organik, terutama yang mengenai lobus frontalis dan
temporalis otak.
Faktor risiko lain terjadinya tindak kekerasan adalah :
1. Adanya pernyataan seseorang bahwa ia berniat melakukan tindak
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

kekerasan,
Adanya rencana spesifik,
Adanya kesempatan atau suatu cara untuk terjadinya kekerasan,
Laki-laki,
Usia muda (15-24 tahun),
Tatus sosioekonomi rendah,
Adanya riwayat melakukan tndak kekrasan,
Tindakan antisosial lainnya
Riwayat percobaan bunuh diri.

Tujuan pertama menghadap pasien yang potensial untuk melakukan tindak


kekerasan adalah mencegah kejadian itu. Tindakan selanjutnya aadalah membuat
diagnoss sebagai dasar rencana penatalaksanaan, termasuk cara-cara untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya tindak kekerasan berikutnya.

31

Panduan wawancara dan Psikoterapi


a. Bersikaplah suportif dan tidak mengancam, tegas dan berikan batasan yang
jelas bahwa kalau perlu pasien dapat diikat (physical restraints). Tentukan
batasan itu dengan memberikan pilihan (misalnya pilih obat atau diikat), dan
bukan dengan menyuruh pasien secara provokatif: minum tablet ini
sekarang
b. Kaakan langsung kepada pasien bahwa tindak kekerasan tidak dapat
diterima,
c. Tenangkan pasien bahwa ia aman di sini. Tunjukkan dan tularkan sikap
tenang dan penuh kontrol.
d. Tawarkan obat kepada pasien untuk membantunya lebih tenang.
Evaluasi dan penatalaksanaan
1) Lindungi diri anda
a. Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersenjata
b. Jangan pernah mewawancarai pasien yang bersikap beringas (violent)
seorang diri atau di ruang tertutup. Lepaskan hal-hal yang bisa
dijambak/ditarik seperti kalung atau dasi.
c. Jangan melakukan pengikatan pasien seorang diri, serahkan urusan itu
pada anggota staf yang terlatih.
d. Duduklah dengan jarak paling tidak sepanjang lengan
e. Jangan menantang atau menentang pasien psikotik.
f. Jangan duduk berdekatan dengan pasien paranoid, yang muungkin
merasa bahwa anda mengancamnya
g. Waspadalah terhaddap tanda-tanda munculnya kekrasan. Selalu
persiapkan rute untuk melarikan diri seandainya pasien menyerrnag
anda. Jangan pernah membelakangi pasien
2) Waspada terhadap tanda-tanda munculnya kekerasan, antara lain:
a. Adanya kekerasan terhadap orang atau benda yang terjadi belum lama
b.
c.
d.
e.
f.

ini, gigi yang dikatupkan serta telapak yang dikepal,


Ancaman verbal,
Agitasi psikomotor,
Intoksikasi alkohol atau obat atau zat lain,
Waham kejar, dan
Senjata atau benda-benda yang dapat digunakan sebagai senjata

(seperti garpu, asbak)


3) Pastikan bahwa terdapat jumlah staf yang cukup untuk mengikat pasien
secara aman.
4) Pengikatan pasien hanya dilakukan oleh mereka yang telah terlatih. Biasanya
setelah pasien diikat diberikan benzodiazepin atau antipsikotik untuk
menenangkan pasien.
5) Lakukan evaluasi diagnostik yang tepat, meliputi TTV, pemeriksaan fisik
dan wawancara pskiatrik.
Terapi Psikofarmaka
32

Terapi obat tergantung diagnosisnya. Biasanya untuk menenagkan pasien


diberikan obat antipsikotik atau benzodiazepin:
-

Flufenazine, trifluoperazine atau haloperidol 5mg per oral atau IM,


Olanzapine 2,5-10 mg per IM, maksimal 4 injeksi per hari, dengan dosis

rata-rata per hari 13-14mg,


Atau lorazepam 2-4 mg, diazepam 5-10mg per IV secara pelahan (dalam 2
menit).

Bila dalam 20-30 menit kegelisahan tidak berkurang, ulangi dengan dosis yang
sama. Hindari pemberian antipsikotik pada pasien yang mempunyai risiko kejang.
Utnuk penderia epilepsi, mula-mula berikan antikonvulsan misalnya carbamazepine
lalu berikan benzodiazepine. Pasien yang menderita ganggauan organik kronik
seringkali memberikan respon yang baik dengan pemberian -blocker seperti
propanolol. (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010)
C. Bunuh diri (suicide)/ Tentamen Suicidum
Bunuh diri atau suicide atau tentamen suicidum adalah kematian yang diniatkan
dan dilakukan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti
Hadisukanto, 2010) atau segala perbuatan seseorang yang dapat mengakhiri hidupnya
sendiri dalam waktu singkat (Maramis dan Maramis, 2009).Ada

macam-macam

pembagian bunuh-diri dan percobaan bunuh-diri. Pembagian Emile Durkheim masih


dapat dipakai karena praktis, yaitu:
1. Bunuh diri egoistik
Individu ini tidak mampu berintegrasi dengan masyarakat. Hal ini disebabkan
oleh kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang menjadi individu itu seolaholah tidak berkepribadian. Kegagalan integrasi dalam keluarga dapat menerangkan
mengapa mereka tidak menikah lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri
dibandingkan dengan mereka yang menikah. Masyarakat daerah pedesaan
mempunyai integrasi social yang lebih baik dari pada daerah perkotaan, sehingga
angka suiside juga lebih sedikit.
2. Bunuh diri altruistik
Individu itu terikat pada tuntutan tradisi khusus ataupun ia cenderung untuk
bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan suatu kelompok, ia merasa bahwa
kelompok tersebut sangat mengharapkannya. Contoh: Hara-kiri: di Jepang,
puputan di Bali beberapa ratus tahun yang lalu, dan di beberapa masyarakat
primitive yang lain. Suiside macam ini dalam jaman sekarang jarang terjadi, seperti

33

misalnya seorang kapten yang menolak meninggalkan kapalnya yang sedang


tenggelam.
3. Bunuh diri anomik
Hal ini terjadi bila tedapat gangguan keseimbangan integrasi antara individu
dengan masyarakat, sehingga individu tersebut meningglakan norma-norma kelakuan
yang biasa. Individu itu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau
kelompoknya tidak dapat memberikan kepuasan kepadanya karena tidak ada
pengaturan dan pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya. Hal ini menerangkan
mengapa percobaan bunuh diri pada orang cerai pernikahan lebih banyak dari pada
mereka yang tetap dalam pernikahan. Golongan manusia yang mengalami perubahan
ekonomi yang drastis juga lebih mudah melakukan percobaan bunuh diri.
Helber Hendin mengemukakan beberapa hal psikodinamika bunuh-diri sebagai
berikut:
1.

Kematian sebagai pelepasan pembalasan (Death as retaliatory


abandonment).
Suiside dapat merupakan usaha untuk mengurangi preokupasi tentang rasa
takut akan kematian. Individu mendapat perasaan seakan-akan ia dapat
mengontrol dan dapat mengetahui bilamana dan bagaimana kematian itu.

2.

Kematian sebagai pembunuhan terkedik (ke belakang) (Death as


retroflexed murder).
Bagi individu yang mengalami gangguan emosi hebat, suiside dapat
mengganti kemarahan atau kekerasan yang tidak dapat direpresikan. Orang ini
cenderung untuk bertindak kasar dan suiside dapat merupakan penyelesaian
mengenai pertentangan emosi dengan keinginan untuk membunuh.

3.

Kematian sebagai penyatuan kembali (Death as reunion).


Kematian dapat mempunyai arti yang menyenangkan, karena individu itu
akan bersatu kembali dengan orang yang telah meninggal (reuni khayalan).

4. Kematian sebagai hukuman buat diri sendiri (Death as self punishment).


Menghukum diri sendiri karena kegagalan dalam pekerjaan jarang terjadi pada
wanita, akan tetapi seorang ibu tidak mampu mencintai, maka keinginan
menghukum dirinya sendiri dapat terjadi. Dalam rumah sakit jiwa, perasaan
tak berguna dan menghukum diri sendiri merupakan hal yang umum. Mulamula mungkin karena kegagalan, rasa berdosa karena agresi, individu itu
mencoba berbuat lebih baik lagi, tetapi akhirnya ia menghukum diri sendiri
untuk menjauhkan diri dari tujuan itu.
34

Faktor Risiko
Berikut ini faktor-faktor resiko untuk bunuh diri (Sadock, et al, 2007):
a.

Jenis kelamin
Perempuan lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri dibanding laki-laki.

Akan tetapi, keberhasilan bunuh diri lebih tinggi pada laki-laki. Hal ini berkaitan
dengan metode bunuh diri yang dipilih. Laki-laki lebih banyak dengan gantung diri,
meloncat dari tempat tinggi, dengan senjata api. Perempuan lebih banyak dengan
overdosis obat-obatan atau menggunakan racun.
b.

Usia
Kasus bunuh diri meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada laki-laki,

angka bunuh diri tertinggi pada usia di atas 45 tahun sedangkan pada perempuan
angka bunuh diri tertinggi pada usia di atas 55 tahun. Orang yang lebih tua lebih
jarang melakukan percobaan bunuh diri, tetapi lebih sering berhasil.
c.

Ras
Di Amerika Serikat ras kulit putih lebih banyak melakukan bunuh diri

dibanding ras kulit hitam.


d.

Status perkawinan
Pernikahan menurunkan angka bunuh diri, terutama jika terdapat anak di

rumah. Orang yang tidak pernah menikah dua kali lebih beresiko untuk bunuh diri.
Perceraian meningkatkan resiko bunuh diri. Janda atau duda yang pasangannya telah
meninggal juga memiliki angka bunuh diri yang tinggi.
e.

Pekerjaan
Semakin tinggi status sosial semakin tinggi resiko bunuh diri, tetapi status

sosial yang rendah juga meningkatkan resiko bunuh diri. Pekerjaan sebagai dokter
memiliki resiko bunuh diri tertinggi dibanding pekerjaan lain. Spesialisasi psikiatri
memiliki resiko tertinggi, disusul spesialis mata dan spesialis anestesi. Pekerjaan lain
yang memiliki resiko tinggi untuk bunuh diri adalah pengacara, artis, dokter gigi,
polisi, montir, agen asuransi. Orang yang tidak memiliki pekerjaan memiliki resiko
lebih tinggi untuk bunuh diri.
f.

Kesehatan fisik
Satu dari tiga orang yang melakukan bunuh diri memiliki masalah kesehatan

dalam 6 bulan sebelum bunuh diri. Hilangnya mobilitas fisik, nyeri hebat yang
kronik, pasien hemodialisis meningkatkan resiko bunuh diri.
g.

Gangguan mental

35

Sekitar 95% dari semua orang yang mencoba atau melakukan bunuh diri
memiliki gangguan mental. Gangguan mental tersebut terdiri dari depresi 80%,
skizofrenia 10%, dan demensia atau delirium 5%. Di antara semua pasien dengan
gangguan mental, 25% kecanduan juga kepada alkohol.
h.

Kecanduan alkohol
Sekitar 15% pasien kecanduan alkohol melakukan bunuh diri. Sekitar 80%

pasien bunuh diri akibat kecanduan alkohol adalah laki-laki. Sekitar 50% dari pasien
kecanduan alkohol yang bunuh diri mengalami kehilangan anggota keluarga atau
pasangan dalam satu tahun terakhir.

i.

Gangguan kepribadian
Sebagian besar orang yang bunuh diri memiliki gangguan kepribadian.

Gangguan kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan depresi. Selain


itu juga merupakan faktor predisposisi untuk kecanduan alkohol. Gangguan
kepribadian juga dapat menyebabkan konflik dengan keluarga dan orang lain.
Gangguan Jiwa yang sering Berkaitan dengan Bunuh Diri, adalah gangguan
mood, keterantungan alkohol, skizofrenia. Pencegahan tindak bunuh diri yang
terbaik adalah dengan mendeteksi dini dan menatalaksana gangguan jiwa yang
mungkin menjadi faktor kontribusi tadi.
Mengenali pasien yang berpotensi bunuh diri
Kemungkinan bunuh diri dapat terjadi apabila (Tomb, 2004):
a.
b.

Pasien pernah mencoba bunuh diri


Keinginan bunuh diri dinyatakan secara terang-terangan maupun tidak, atau
berupa ancaman: kamu tidak akan saya ganggu lebih lama lagi (sering

c.
d.

dikatakan pada keluarga)


Secara objektif terlihat adanya mood yang depresif atau cemas
Baru mengalami kehilangan yang bermakna (pasangan, pekerjaan, harga diri,

e.

dan lain-lain)
Perubahan perilaku yang tidak terduga: menyampaikan pesan-pesan,
pembicaraan serius dan mendalam dengan kerabat, membagi-bagikan

f.

harta/barang-barang miliknya.
Perubahan sikap yang mendadak: tiba-tiba gembira, marah atau menarik diri.

Panduan Wawancara dan Psikoterapi

36

a.

Pada waktu wawancaa, pasien mungkin secara spontan menjelaskan adanya

ide bunuh diri. Bila tidak, tanyakan langsung.


b. Mulailah dengan menanyakan:
1. Apakah anda pernah merasa ingin menyerah saja?
2. Apakah anda pernah merasa bahwa lebih baik kalau anda mati saja?
c. Tanyakan isi pikiran pasien:
1. Berapa sering pikiran ini muncul?
2. Apakah pikiran tentang bunuh diri ini meningkat?

d. Selidiki :
1. Apakah pasien bisa mendapatkan alat dan cara untuk melaukan rencana
bunuh dirinya?
2. Apakah mereka sudah mengambilkah aktif, isalnya mengumpulkan
obat?
3. Seberapa pesimiskah mereka?
4. Aakah mereka bisa memikirkan bahwa kehidupannya akan membaik?
Evaluasi dan Penatalaksanaan
Pertolongan pertama biasanya dilakukan secara darurat di rumah (di tempat
kejadian) dan atau di Unit Gawat Darurat di rumah sakit, di bagian penyakit dalam
atau bedah. Dilakukan pengobatan terhadap luka-luka dan atau keracunan. Bila
keracunan atau luka sudah dapat diatasi maka dilakukan evaluasi psikiatrik. Tidak ada
hubungan antara beratnya gangguan fisik dengan beratnya gangguan psikologis.
Penting sekali dalam pengobatan untuk menangani juga gangguan mentalnya. Untuk
pasien dengan depresi dapat diberikan psikoterapi dan obat antidepresan (Maramis
dan Maramis, 2009).
Ketika sedang mengevaluasi pasien dengan kecendrungan bunuh diri, jangan
tinggalkan mereka sendiri di ruangan. Singkirkan benda-benda yang dapat
membahayakan dari ruang tersebut. Etika mengevaluasi pasien yang baru melakukan
percobaan bunuh diri, buatlah penilaian apakah hal itu direncanakan atau dilakukan
secara impulsif.
Penatalaksanaan tergantung dari diagnosis yang ditegakkan. Pasien yang
depresi berat boleh saja berobat jalan asalkan keluarganya dapat mengawasi pasien
secara ketat di ruma. De bunuh diri pada pasien alkoholik umumnya hilang setelah
sesudah menghentkan pengguanan alkohol itu. Pasien dengan gangguan kepribadian
akan berespon baik bila mereka ditangani secara empatik dan dibantu untuk
memecahkan masalah dengancara rasionald an bertanggung jawab.
Rawat inap jangka panjang diperlukan bagi pasien yang cendrung dan
mempunyai kebiasaan melukai diri sendiri serta parasuicides. Parasuicides yaitu

37

mereka yang berulangkali melakukan hal-hal berbahaya tetapi menyangkal adanya


ide-ide bunuh diri. (Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto, 2010)
Terapi psikofarmaka
Seorang yang sedang dalam krisis karena baru ditinggal mati biasanya akan
berfungsi lebih baik setelah mendapat tranquilizer ringan, tertama bila tidurnya
terganggu. Obat pilihannya adalah golongan benzodiazepine, misalnya lorazepam
3x1 mg per hari selama 2 minggu. Jangan memberukan obat dalam jumlah banyak
sekaligus terhdap pasien(rrespkan sedikit-seikit saja) dan pasien harus kontrol dalam
bebeapa hari.
D. Sindroma Neuroleptik Maligna
Sindrom neuroleptik maligna adalah suatu sindrom toksik yang behubungan
dengan penggunaan obat antipsikotik. Gejalanya meliputi : kekakuan otot, distonia,
akinesia mutisme dan agitasi.
o Gambaran Klinis dan Diagnosis
Ditandai oleh demam tinggi (dapat mencapai 41,5C), kekakuan otot yang
nyata sampai seperti pipa (lead-pipe rigidity), instabilitas otonomik (takikardia,
tekanan darah yang labil, keringat berlebih) dan gangguan kesadaran. Kekakuan yang
parah dapat menyebabkan rhabdomyolysis, myaglobinuria dan akhirnya gagal ginjal.
Penyulit lain dapat berupa tombosis vena, emboli paru dan kematian. Biasanya terjadi
dalam hari-hari pertama pengguanaan antipsikotik pada saat dosis mulai ditingkatkan,
umunya dalam 10 hari pertama pengobatan antipsikotik. Sindrom neuroleptik
maligna paling mungkin terjadi pada pasien yang menggunakan antipsikotik potensi
tinggi dalam dosis tinggi atau dosis yang meningkat cepat.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis sindrom neuroleptik maligna ditegakkan jika
terdapat demam dan kekakuan otot yang parah disertai dengan 2 atau lebih gejala
berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Diaforesis
Disfagia
Tremor
Inkontinensia
Penurunan kesadaran
Mutism
Takikardia
Tekanan darah yang meningkat atau labil
Leukositosis
Bukti laboratorium adanya kerusakan otot rangka

o Patofisiologi
Patofisiologi sindrom neuroleptik maligna belum diketahui secara jelas.
Timbulnya sindrom neuroleptik maligna akibat obat yang menghambat reseptor D2
38

menghasilkan hipotesis bahwa penghambatan reseptor D2 pada berbagai area di otak


menjelaskan gejala klinis yang timbul. Hambatan reseptor D2 di formatio retikularis
dapat menurunkan kesadaran. Hambatan reseptor D2 di jalur nigrostriatal dapat
menyebabkan rigiditas. Hambatan reseptor D2 di hipotalamus dapat menyebabkan
instabilitas otonom, gangguan pelepasan panas. Hiperpireksia terjadi akibat disfungsi
hipotalamus dan kekakuan otot
o Faktor resiko
Jenis kelamin laki-laki dua kali lebih beresiko dibanding perempuan.Faktor
predisposisi munculnya sindrom neuroleptik maligna adalah dehidrasi, malnutrisi,
kelelahan, injeksi intramuskular neuroleptik, cedera kepala, infeksi, intoksikasi
alkohol, pengunaan antipsikotik bersama dengan litium (Hall and Chapman, 2006).
Gangguan ini dapat pula terjadi pada pasien yang baru menghentikan terapi dengan
obat-obatan agoni dopaminergik seperti carbidopa, levodopa, amantadine dan
bromocriptine.
o Panduan Wawancara dan Psikoterapi
Sindrom neuroleptik maligna adalah kegawatdaruratan medik sehingga perlu
dirawat di ICU. Kesadarannya terganggu, tanyakan perjalanan penyakitnya pada
keluarga dan teman-temannya.
o Evaluasi dan Penatalaksanaan
a. Pertimbangkan kemungkinan sindrom neuroleptik maligna pada pasien yang
mendapat antipsikotik yang mengalami demam serta kekakuan otot.
b. Bila terdapat rigiditas rinan yang tidak berespon terhdap antikolinergik biasa
dan bila demamnya tak jelas sebabnya, buatlah diagnosis sementara sindroma
c.
d.
e.
f.

neuroleptik maligna.
Hentikna pemberian antipsikotik segera.
Monitor tanda-tanda vital secara berkala.
Lakukan pmeriksaan laboratorium
Hidrasi cepat intrvena daapt mencegah erjadinya renjatan dan menurnkan

kemungkinan terjadiny agagal ginjal.


g. Sindrom ini biasanya berlangsung selama 15 hari. Setelah sebuh, masalah
kemudian adalah pemberian naipsikotik selanjutnya apakah mengganti dari
kelas yang berbeda atau kembali ke antipsikotik semula yang efektif.
o Terapi Psikofarmaka
a. Amantadine 200-400 mg PO/hari dalam dosis terbagi

39

b. Bromocriptine 2,5 mg PO 2 atau 3 kali/hari , dapat dianikan sampai 45


mg/hari
c. Levodopa 50-100 mg/hari IV dlam infus terus-menerus
DAFTAR PUSTAKA

American College of Surgeons. (1997). Advanced trauma life support for


doctors. instructor course manual book 1 - sixth edition. Chicago.
Curtis, K., Murphy, M., Hoy, S., dan Lewis, M.J. (2009). The emergency
nursing assessment process: a structured framedwork for a systematic approach.
Australasian Emergency Nursing Journal, 12; 130-136
Delp & manning. (2004) . Major diagnosis fisik . Jakarta: EGC.
Diklat Yayasan Ambulance Gawat Darurat 118. (2010). Basic Trauma Life Support
and Basic Cardiac Life Support Edisi Ketiga. Yayasan Ambulance Gawat Darurat
118.
Diklat RSUP Dr. M. Djamil Padang. (2006). Pelatihan Penanggulangan
Penderita Gawat darurat (PPGD). RSUP. Dr.M.Djamil Padang.
Djumhana, Ali. (2011). Perdarahan Akut Saluran Cerna Bagian Atas. FK. UNPAD.
Diakses dari http://pustaka.unpad.ac.id/ tanggal 28 april 2013.
Emergency Nurses Association (2007). Sheehy`s manual of emergency care 6th
edition. St. Louis Missouri : Elsevier Mosby.
Fulde, Gordian. (2009). Emergency medicine 5th edition. Australia : Elsevier.
Gilbert, Gregory., DSouza, Peter., Pletz, Barbara. (2009). Patient assessment
routine medical care primary and secondary survey. San Mateo County EMS Agency.
Gindhi, R.M., Cohen, R.A., dan Kirzinger, W.K. (2012). Emergency room use
among aults aged 18-64: early release of estimates from the national health interview
survey, January-June 2011. Diakses pada tanggal 28 April 2013, dari
http://www.cdc.gov/nchs/data/nhis/earlyrelease/emergency_room_use_januaryjune_2011.pdf
Holder, AR. (2002 ).Emergency room liability. JAMA.
Institute for Health Care Improvement. (2011). Nursing assessment form with
medical emergency team (MET) guidelines. Diakses pada tanggal 28 April 2013, dari
http://www.ihi.org/knowledge/Pages/Tools/NursingAssessmentFormwithMETGuideli
nes.aspx.
Ishak, 2012. Pemeriksaan radiologi dan laboratorium untuk fisioterapis.
Diakses dari http://www.slideshare.net/IshakMajid/radiologi-laboratorium-a4 tanggal
5 Mei 2013
40

Lombardo, D. (2005). Patient asessment.


In: Newbury L., Criddle L.M., ed. Sheehys manual of emergency care, ed
6. Philadelphia: Mosby.
Lyandra, april, Budhi, Antariksa, Syahrudin. (2011). Ultrasonografi Toraks. Jurnal
Respiratori Inonesia Volume 31 diakses dari http://jurnalrespirologi.org/ tanggal 28
April 2013.
Lyer, P.W., Camp, N.H.(2005). Dokumentasi Ketenaga kesehatanan, Suatu
Pendekatan Proses Ketenaga kesehatanan, Edisi 3. Jakarta: EGC
Mancini MR, Gale AT.(2011). Emergency care and the law. Maryland: Aspen
Publication.
Maryuani, Anik & Yulianingsih. (2009). Asuhan kegawatdaruratan. Jakarta :
Trans Info Media Medis.
Okeefe, M.F.,Limmer D., Grand, H.D., Murray, R.H., Bergebon J.D., (1998).
Emergency Care, eighth Ed., New Yersey, Prentice Hall. Inc. A. Simon & Schuster
Co.
Parhusip. (2004). Bronkoskopi. Diakses dari http://repository.usu.ac.id tanggal
28 april 2013.
Practitioner Emergency Medical Technician. (2012). Clinical practice guidelines for
pre-hospital emergency care. Ireland : Pre-Hospital Emergency Care Council. ISBN
978-0-9571028-2-8.
The National Institue for Health and Clinical Excellence. (2007). Head
injury: triage, assessment, investigation and early management of head injury in
infant, children and adults. London: The National Institue for Health and Clinical
Excellence
Thygerson, Alton. (2006). First aid 5th edition. Alih bahasa dr. Huriawati
Hartantnto. Ed. Rina Astikawati. Jakarta : PT. Gelora Aksara Pratama.
Vanderbilt Medical Center. (2011). Viewing and printing adult ED nursing
assessment documentation. Diakses pada tanggal 28 April 2013, dari
http://www.mc.vanderbilt.edu/documents/sss2/files/View_Print_Adult_ED_Nurs_Ass
ess_Doc_2_10_11.doc
Widjaya, Cristina. (2002). Uji Diagnostik pemeriksaan kadar D-dimer plasma
pada diagnosis stroke iskemik. FK. UNPAD. Diakses dari http://eprints.undip.ac.id
tanggal 28 april 2013.
Wilkinson, Douglas. A., Skinner, Marcus. W. (2000). Primary trauma care
standard edition. Oxford : Primary Trauma Care Foundation. ISBN 0-95-39411-0-8.
Elvira, Sylvia D dan Gitayanti Hadisukanto ed. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta:
Badan Penerbit FKUI
41

Maramis, W.F. dan Maramis, A.A. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa.
Edisi 2. Surabaya: Airlangga University Press.
Sadock, B.J., Sadock, V.A., et al. 2007. Kaplan & Sadock's Synopsis of
Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York:
Lippincott Williams & Wilkins.
Tomb, D.A. 2004. Buku Saku Psikiatri. Edisi 6. Jakarta: EGC.

42