Anda di halaman 1dari 13

Makalah Ilmu Bahan Rekayasa

OKSIDASI N-BUTANA UNTUK PEMBUATAN ASAM ASETAT

Oleh:
Eka Tamara Pebriani

NIM: 21030112120007

Febiani Dwi Utari

NIM: 21030112130083

Heri Cahyono

NIM: 21030112140159

M. Dawam Pamungkas

NIM: 21030112110136

Rezza Taqwa Pradana

NIM: 21030112110058

TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2013
BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang Pendirian Pabrik


Asam asetat atau methane carbocyclic atau ethanoic acid adalah suatu
senyawa organik dengan rumus molekul CH3COOH. Asam asetat adalah bahan kimia
yang tidak berwarna dan berbau khas larut dalam air, alkohol, aseton, benzena dan etil
eter. Asam asetat juga sangat baik sebagai solvent senyawa organik.
Asam asetat dapat dipakai sebagai vynil asetat yang dapat digunakan sebagai
bahan bakuuntuk memproduksi senyawa poly vinil asetat digunakan untuk
memproduksi lapisan gelas dan fiber. Asam asetat daat juga dipakai sebagai bahan
baku pembuatan asam asetat anhydrid yang berguna sebagai zat untuk memproduksi
fiber selulose asetat dan plastik. Kegunaan lain dari asam asetat adalah pada bidang
farmasi, pembuatan zat aditif, fotografi, pembuatan terephalat dan insektidsida.
Namun hingga saat ini di dalam negeri baru ada satu produsen asam asetat
yakni PT. Indo Acidatama Chemical Industry yang memproduksi asam asetat sebesar
36.000 ton/tahun. Produksi asam asetat dalam lima tahun terakhir cenderung
meningkat meskipun sempat menurun di awal krisis ekonomi pada tahun 1997.
Dari tahun ke tahun kebutuhan asam asetat dalam negeri selalu meningkat.
Ini bisa dilihat dari data berikut :
TAHU
N
2001
2002
2003
2004
2005
2006

IMPOR

(TON/TH)
78.236
86.289
77.628
107.276
88.704
100.348
(Sumber: BPS)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kebutuhan asam asetat dalam negeri
setiap tahun cenderung meningkat, tetapi produksi dalam negeri sendiri hanya
menghasilkan 36.500 ton/tahun, maka masih ada kebutuhan sekitar 70.000 ton/tahun
yang sampai sekarang dicukupi dengan mengimpor bahan tersebut dari luar negeri.
Padahal itu sebenarnya dapat dipenuhi dengan produksi sendiri dalam negeri.
Ini bisa diketahui bahwa dari PT. Badak NGL CO di Bontang Kalimantan TImur
produksi LPG butanan per minggu bisa mencapai 25.000 ton. ini menunjukan potensi
dalam negeri yang sangat besar

Jadi jelaslah bahwa pendirian pabrik asam asetat di negeri ini perlu dilakukan
dengan alasan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
1.2.

Adanya bahan baku yang cukup untuk pembuatan asam asetat berskala komersial.
Dalam rangka pembelajaran teknologi.
Penghematan penggunaan devisa Negara
Membuka lapangan kerja baru
Peningkatan kemampuan ekonomi daerah
Sejarah
Cuka telah dikenal manusia sejak dahulu kala. Cuka dihasilkan oleh
berbagai bakteria penghasil asam asetat, dan asam asetat merupakan hasil samping
dari pembuatan bir atau anggur.
Penggunaan asam asetat sebagai pereaksi kimia juga sudah dimulai sejak
lama. Pada abad ke-3 Sebelum Masehi, Filsuf Yunani kuno Theophrastos menjelaskan
bahwa cuka bereaksi dengan logam-logam membentuk berbagai zat warna, misalnya
timbal putih (timbal karbonat), dan verdigris, yaitu suatu zat hijau campuran
dari garam-garam tembaga dan

mengandung tembaga

Bangsa Romawi menghasilkan sapa,

sebuah sirup yang

(II)
amat

manis,

asetat.
dengan

mendidihkan anggur yang sudah asam. Sapa mengandung timbal asetat, suatu zat
manis yang disebut juga gula timbal dan gula Saturnus. Akhirnya hal ini berlanjut
kepada peracunan dengan timbal yang dilakukan oleh para pejabat Romawi.
Pada abad ke-8, ilmuwan Persia Jabir ibn Hayyan menghasilkan asam asetat
pekat dari cuka melalui distilasi. Pada masa renaisans, asam asetat glasial dihasilkan
dari distilasi kering logam asetat. Pada abad ke-16 ahli alkimia Jerman Andreas
Libavius menjelaskan prosedur tersebut, dan membandingkan asam asetat glasial
yang dihasilkan terhadap cuka. Ternyata asam asetat glasial memiliki banyak
perbedaan sifat dengan larutan asam asetat dalam air, sehingga banyak ahli kimia
yang mempercayai bahwa keduanya sebenarnya adalah dua zat yang berbeda.
Ahli kimia Prancis Pierre Adet akhirnya

membuktikan

bahwa

kedua

zat

ini

sebenarnya sama.
Pada 1847 kimiawan Jerman Hermann Kolbe mensintesis asam asetat dari zat
anorganik untuk

pertama

adalah klorinasi karbon

kalinya.

Reaksi

disulfida menjadi karbon

kimia

yang

tetraklorida,

dilakukan
diikuti

dengan pirolisis menjadi tetrakloroetilena dan klorinasi dalam air menjadi asam
trikloroasetat, dan akhirnya reduksi melalui elektrolisis menjadi asam asetat.

Sejak 1910 kebanyakan asam asetat dihasilkan dari cairan piroligneous yang
diperoleh

dari

distilasi kayu.

Cairan

ini

direaksikan

dengan kalsium

hidroksida menghasilkan kalsium asetat yang kemudian diasamkan dengan asam


sulfat menghasilkan asam asetat.
1.3.

Penggunaan Produk
Produk asam asetat telah banyak digunakan oleh berbagai industri antara lain :
1. Industri PTA merupakan pengkonsumsi asam asetat terbesar yang digunakan
sebagai media pelarut katalis. Industri PTA cenderung memilih menggunakan
asam asetat yang berbahan baku methanol dengan tingkat kemurnian lebih tinggi
yang hingga kini belum diproduksi di dalam negeri.
2. Industri Ethyl Asetat sebagai bahan baku utama, dimana untuk memproduksi 1 ton
ethyl asetat diperlukan 680 kg asam asetat.
3. Industri tekstil, terutama industri pencelupan kain dimana asam asetat berfungsi
sebagai pengatur pH.
4. Industri asam cuka, asam asetat sebagai bahan baku utama.
5. Industri benang karet, sebagai bahan penggumpal ( co-agulant ) ketika latex
dikeluarkan dari extruder.
Sebagian besar (40-45%) dari asam asetat dunia digunakan sebagai bahan untuk
memproduksi monomer vinil asetat (vinyl acetate monomer, VAM). Selain itu asam
asetat juga digunakan dalam produksi anhidrida asetat dan juga ester. Penggunaan
asam asetat lainnya, termasuk penggunaan dalam cuka relatif kecil.

BAB II
RANCANGAN PROSES
II.1

Reaksi / Mekanisme Reaksi


Pada proses pembuatan asam asetat dengan proses oksidasi n-Butana
didasarkan pada reaksi sebagai berikut:
5
C 4 H 10 + O2 2 CH 3 COOH + H 2 O
2
Proses ini selektivitasnya antara 65 sampai dengan 80%. Asam asetat yang
dihasilkan mempunyai kemurnian 99.80%. Katalis yang digunakan adalah manganese
asetat.
Sebelum komersialisasi proses Monsanto, kebanyakan asam asetat diproduksi
melalui oksidasi asetaldehida. Namun, metode manufaktur ini masih yang paling

penting, meskipun tidak sekompetitif dengan metode karbonilisasi metanol.Dalam


produksi asetaldehida dapat dihasilkan melalui oksidasi dari butana atau nafta ringan,
atau hidrasi dari etilena. Ketika butana atau cahaya nafta dipanaskan dengan udara di
hadapan berbagai logam ion, termasuk mangan, kobalt dan kromium; peroksida
bentuk dan kemudian membusuk untuk menghasilkan asam asetat sesuai dengan
persamaan kimia:
2C4H10 + 5O2 4CH3COOH + 2H2O
Dalam reaksi ini dijalankan pada suhu dan tekanan yang tinggi namun tetap
menjaga butana dalam keadaan cair. Tipikal kondisi reaksinya ialah pada temperature
150C, tekanan 55 atm dan yield 70-80 %. Produk sampingan mungkin juga terbentuk
termasuk butanone, etil asetat, asam format, dan asam propionat. Produk sampingan
ini juga bernilai komersial, dan kondisi-kondisi reaksi dapat diubah untuk
menghasilkan lebih banyak dari mereka jika ini bermanfaat secara ekonomis. Namun,
pemisahan asam asetat dari produk tersebut dapat menambah biaya proses. Di bawah
kondisi yang sama dan menggunakan sejenis katalis sebagaimana digunakan untuk
oksidasi n-butana, asetaldehida dapat dioksidasi oleh oksigen di udara untuk
menghasilkan asam asetat (Prosen Hoescht AG)
2CH3CHO + O2 2CH3COOH
Dengan menggunakan katalis modern, reaksi ini dapat menghasilkan asam
asetat lebih besar dari 95%. Produk sampingan utama adalah etil asetat, asam format
dan formaldehida, yang semuanya memilki titik didih yang lebih rendah dari asam
asetat sehingga dapat dipisahkan dengan teknik destilasi.
Secara garis besar, mekanisme reaksi pembentukan asam asetat dari n-butana dan oksigen
dengan katalis manganese asetat adalah sebagai berikut:
1.

CH 3 CH 2 CH 2CH 3 + R CH 3 CH 2 CH CH 3 + RH

2.

Butyl radikal
CH 3 CH 2CH CH 3 +O2 CH 3 CH 2 CH CH 3
OO
Sec-butyl peroxy

3.

CH 3 CH 2CH CH 3 + RH CH 3CH 2CH CH 3 + R


OO
Sec-butyl peroxy

OOH

3+
+ Mn
2+ CH 3CH 2CH CH 3 +OH
CH 3 CH 2CH CH 3 + Mn

4.

OOH
5
CH 3 CH 2CH CH 3 + O 2 2 CH 3 COOH + H 2 O
2

5.

O
Reaksi yang terjadi melibatkan bahan baku dan katalis manganese asetat yang
berfungsi sebagai inisiator, yang akan mengarahkan pembentukan radikal bebas.
Radikal bebas yang terbentuk akan mengikat oksigen dari udara, kemudian dengan
bantuan katalis akan terbentuk asam asetat.
II.2

Tinjauan Termodinamika
Dilihat dari reaksi pembentukan asam asetat
C4H10
+
5/2 O2
CH3COOH
+
H2O
0
n-butana
oksigen
180 C, 50 atm
as. Asetat
air
H298 = -936,030 kJ/mol
Tanda negatif menunjukkan bahwa reaksi antara n-Butana dengan oksigen yang
membentuk asam asetat adalah reaksi eksotermis.
Dilihat dari energi bebas Gibbs (Gr0)
Gr0
= Gr0 produk - Gr0 reaktan
=[(2 x -392,952 kJ/mol) + (-229,467 kJ/mol)
(-15,767 kJ/mol)
= -999,605 kJ/mol = -99605 J/mol
K298 = exp [ - Gr0 / RT ]
= exp [ 999605 J/mol / 8.314 J/gmol x 298]
= exp 401,462
Karena harga K sangat besar berarrti laju reaksi ke kananan (k1) jauh lebih

II.3

besar daripada reaksi ke kiri (k2), sehingga dapat dikatakan reaksi adalah irreversible.
Tinjauan Kinetika
Kecepatan reaksi antara pembentukan asam asetat dari n-Butana dan oksigen secara
kinetika adalah:

0,4

r=k . Cn Butana( C AA / K . X O2

)]

Keterangan :
r= kecepatan reaksi pembentukan asam asetat
k

= konstanta kecepatan reaksi=c

K= konstanta kesetimbangan
CB= mol n-Butana
CAA=mol asam asetat
XO2= fraksi mol O2
Sedangkan harga k

ditentukan dengan persamaan Arrhenius:

k =A . e RT
k

= konstanta kecepatan reaksi

= frekuensi faktor tumbukan

= energi aktivasi dari reaksi

= konstanta gas ideal


= 1.98 cal/gm-mol.oK
= 1.98 Btu/lb-mol.oR
= 82.06 cm3.atm/gm-mol.oK

= suhu reaksi

1 Sesuai hukum Arrhenius maka semakin tinggi suhu operasi maka semakin besar nilai
konstanta kecepatan reaksi
2 Semakin besar nilai konstanta kecepatan reaksi, maka semakin cepat laju reaksinya sehingga
semakin banyak produk yang dihasilkan.

II.4Kondisi Operasi
1.Penyimpanan bahan baku:
Fase = cair
T = 300C
P = 3 atm
Lokasi = tangki penyimpan.
2.Tahap Pembentukan Produk

fase = cair
P = 50atm
Suhu reaktor = dipertahankan dengan aliran air pendingin yang disirkulasikan di shell
Suhu reaksi = dipertahankan sekitar 1800C

II.5

Diagram Alir

II.5.1 Blok Diagram


T : 1800C P: 50 atm
Katalis: manganese asetat
N-Butana

HE

REAKTOR

Udara (N2 dan O2)

(Cair)
FLASH DRUM

ABSORBER

Off Gas
n-Butana
STRIPPER

Asetaldehid, MEK

DISTILASI 1

DISTILASI 2

Air

MEK

DISTILASI 3

DISTILASI 4

DISTILASI 5

Asam formiat

Asam
Propionat

Asam asetat

II.5.2 Langkah Proses


Proses pembuatan asam asetat melalui proses oksidasi n-Butana dengan menggunakan katalis
manganese asetat secara umum digolongkan menjadi tiga tahap, yaitu :
1. Tahap penyiapan bahan baku
2. Tahap pembentukan produk
3. Tahap pemurnian
A. Penyiapan Bahan Baku
Bahan baku n-butana disimpan dalam kondisi cair pada T= 300C dan tekanan 3
atm pada tangki penyimpan. N-butana fresh dan bahan baku yang berasal dari recycle
yang mengandung n-butana, MEK, dan asetaldehid dialirkan dengan pompa menuju
reaktor , sebelumnya dilewatkan Heat exchanger (HE) untuk menaikkan suhu dari
300Cmenjadi 1800C.
Bahan baku udara dikompresi dengan compressor 3 stage untuk menaikkan
tekanan menjadi untuk minaikkan tekanan menjadi 50 atm.komprssor multistage
tersebut dilengkapi2 intercooler sehingga suhu dapat terjaga pada 1800C
B. Tahap pembentukan produk
Aliran arus keluar dari HE yang berisi n-butana fresh dan recycle n-butana,
MEK dan asetaldehid dimasukkan ke dalam reaktor yang telah berisi katalis manganese
asetat.kemudian disemprotkan udara dengan tekanan 50 atm melewati cairan tersebut
sehingga terjadi reaksi pembentukan asam asetat.
Jenis reaktor yang dipakai adalah bubble reaktor dengan berpendingin air.
Mengingat reaksi yang bersifat eksotermis yang menghasilakan panas. Reaktor bekerja
secara non isothermal non adiabatic. Suhu reaktor dipertahankan dengan aliran air
pendingin yang disirkulasikandi shell. Suhu reaksi dipertahankan sekitar 1800C agar
reaksi tetap berlangsung pada fase cair sehingga mempertahankan yield pada kondisi
yang diingikan. Jika suhu reaksi terlalu rendah maka yield akan kurang daripada yang
diharapkan,dan bila suhu terlalu tinggi maka akan merusak katalis manganese asetat.
Selanjutnya produk dari reaktor dialirkan ke condenser untuk dikondensasikan sebelum
dimasukkan flash drum.
C. Tahap Pemurnian
Produk dari kondensor dilewatkan ke flash drum, untuk memisahakan n-butana,
oksigen, dan nitrogen dari campuran produk. Campuran dialirkan ke absorber untuk
memisahakan n-butana dengan absorben kerosene dialirkan dari atas. Keluaran absorber
ada dua, keluaran nitrogen dan oksigen dibuang ke udara, sedangkan keluaran yang
berupa air dan n-butana dilewatkan stripper untuk pengambilan n-butana dengan cara
open steam.

Kemudian hasil bawah dari flash drum dimasukkan ke dalam kolom distilasi.
Dalam kolom distilasi pertama (D-01), dipisahkan komponen ringan yang lain yaitu
asetaldehid sebagai kandungan terbanyak dalam hasil atas. Sedangkan hasil bawah,
yang berisi campuran produk dipompa menuju kolom distilasi kedua (D-20). Di dalm
kolom ini dipisahakan MEK sebagai hasil atas. MEK ini kemudian di buang ke UPL.
Hasil bawahnya dipompa menuju kolom distilasi ketiga (D-03). Kolom distilasi ketiga
digunakan untuk memisahkan air. Hasil atasnya dengan mengandung air yang cukup
banyak di buang ke UPL. Hasil bawah dari kolom distilasi ketiga ini kemudian dipompa
ke kolom distilasi keempat (D-04. Hasil atasnya mengandung 90% asam formiat
ditampung dalam tangki. Hasil bawahnya berupa campuran produk di pompa ke kolom
distilasi kelima (D-05). Hasil atasnya berupa asam asetat dengan kemurnian 99,80%
sedangkan hasil bawahnya sebagian besar berupa asam propionat.

DAFTAR PUSTAKA
http://grharvianto.blogspot.com/2012/03/sejarah-penggunaan-dan-proses-produksi.html
(diunduh pada tanggal 8 Oktober 2013 pukul 21.00 WIB)
http://id.wikipedia.org/wiki/Asam_asetat#Penggunaan (diunduh pada tanggal 8 Oktober 2013
pukul 21.02 WIB)
puspitafirsty.files.wordpress.com/2011/04/bab-ii.doc (diunduh pada tanggal 8 Oktober 2013
pukul 20.30 WIB)