Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI

Halaman Daftar Isi...............................................................................................1


BAB I

PENDAHULUAN.......................................................................2

BAB II

PEMBAHASAN..................................................................................3
A. Pengertian Industri Petrokimia ...................................................... 3
B. Bahan Baku Industri Petrokimia.....................................................3
C. Cara-Cara Mendapatkan Bahan Baku Industri Petrokimia ........... 8
D. Penyediaan Bahan Baku Industri Petrokimia ................................ 9
E. Produk-Produk Industri Petrokimia .............................................. 9
F. Proses Pengolahan Petrokimia.......................................................12
G. Penggunaan dan Pemanfaatan Produk-Produk Petrokimia...........19

BAB III PENUTUP .........................................................................................22


A. Kesimpulan...................................................................................22
B. Saran ...........................................................................................22
Daftar Pustaka .................................................................................................. 23

BAB I
PENDAHULUAN
Industri petrokimia secara umum dapat didefinisikan sebagai industri
yang berbahan baku utama produk migas (naphta, kondensat yang merupakan
produk samping eksploitasi gas bumi, gas alam), batubara, gas metana batubara,
serta biomassa yang mengandung senyawa-senyawa olefin, aromatik, n-parrafin,
gas sintesa, asetilena dan menghasilkan beragam senyawa organik yang dapat
diturunkan dari bahan-bahan baku utama tersebut, untuk menghasilkan produkproduk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi daripada bahan bakunya. Kondisi
ketersediaan bahan baku dari produk migas yang makin terbatas dan mahal
mengakibatkan mulai munculnya pencarian-pencarian bahan baku pengganti,
diantaranya gas etana, batubara, gas dari coal bed methane, dan limbah refinery
(coke).
Indonesia mempunyai sumber yang potensial untuk pengembangan klaster
industri petrokimia yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia
seperti sandang, papan dan pangan. Produk-produk petrokimia merupakan produk
strategis karena merupakan bahan baku bagi industri hilirnya (industri tekstil,
plastik, karet sintetik, kosmetik, pestisida, bahan pembersih, bahan farmasi, bahan
peledak, bahan bakar, kulit imitasi).

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Industri Petrokimia
Bahan-bahan atau produk yang terbuat dari bahan dasarnya minyak dan
gas bumi disebut petrokimia. Bahan-bahan petrokimia dapat digolongkan: plastik,
serat sintetik, karet sintetik, pestisida, detergen, pelarut, pupuk, berbagai jenis obat
dan vitamin.
Sementara itu, yang dimaksud industri petrokimia adalah industri yang
berhubungan dengan minyak bumi yang mengkaitkan suatu produk-produk
industri minyak bumi yang tersedia, dengan kebutuhan masyarakat akan bahan
kimia atau bahan konsumsi dalam kehidupan sehari-hari.
B. Bahan Baku Industri Petrokimia
Proses petrokimia umumnya melalui tiga tahapan, yaitu:
a
b
c

Mengubah minyak dan gas bumi menjadi bahan dasar petrokimia


Mengubah bahan dasar petrokimia menjadi produk antara, dan
Mengubah produk antara menjadi produk akhir yang dapat
dimanfaatkan.

Pada dasarnya hampir semua produk petrokimia umumnya berasal dari


tiga jenis bahan baku dasar, yaitu : olefin, aromatika, dan gas sintesis(syn-gas).
1. Olefin (alkena alkena)
Olefin merupakan bahan dasar petrokimia paling utama. Produksi olefin di
seluruh dunia mencapai miliaran kg per tahun. Di antara olefin yang terpenting
(paling banyak diproduksi) adalah etilena (etena), propilena (propena), butilena
(butena), dan butadiena.
Olefin pada umumnya dibuat dari etena, propana, nafta, atau minyak gas
( gas- oil) melalui proses perengkahan (cracking). Etana dan propana dapat
berasal dari gas bumi atau dari fraksi minyak bumi; nafta berasal dari fraksi
minyak bumi dengan molekul C-6 hingga C-10 ; sedangkan gas oil berasal dari
fraksi minyak bumi dengan molekul dari C- 10 hingga C 30 atau C-40.
CH2 = CH2
Etilena

CH2 = CH - CH3
Propilena

CH3 - CH = CH - CH3
Butilena
2. Aromatika (benzena dan turunannya)

CH2 = CH - CH = CH2
Butadiena

Aromatika adalah benzena dan turunanaya. Aroamatika dibuat dari nafta


melalui proses yang disebut reforming. Di antara aromatika yang terpenting
adalah benzene (C6H6), toluene (C6H6CH3), dan xilena (C6H4(CH3)2). Ketiga jenis
senyawa ini secara kolektif disebut BTX.
3. Gas Sintetis
Gas sintetis (syn-gas) adalah campuran dari karbon monoksida (CO) dan
hidrogen (H). Syn gas dibuat dari reaksi gas bumi atau LPG melalui proses yang
disebut steam reforming atau oksidasi parsial. Steam reforming adalah campuran
metana (gas bumi) dan uap air dipanaskan pada suhu dan ekanan tinggi dengan
bantuan katalis ( bahan pemercepat reaksi). Sedangkan, oksidasi parsial yaitu
metana direaksikan dengan sejumlah terbatas oksigen pada suhu dan tekanan
tinggi.
Reaksi stean reforming : CH4(g) + H2O CO(g) + 3H2(g)
Reaksi oksidasi parsial : 2CH4(g) + O2 2CO(g) + 4H2(g)
Petrokimia dari Ofelin
Jalur olefin yaitu untuk membentu gas-olefin (gas etilena, propilena dan
butena/butadiena) adalah suatu senyawa hidrokarbon tidak jenuh, yang
mempunyai ikatan rangkap terbuka yang sangat reaktif , sehingga dengan
mudah dapat berpolimerisasi antara satu dengan yang lainnya membentuk
bahan/produk polimer. Gas olefin dapat dapat diproduksi dengan 2 cara yaitu
olefin dengan bahan baku nafta dan dengan bahan baku etana.
1) Ofelin dangan bahan baku nafta
Jika bahan baku berasal dari nafta fraksi berat (C15 C23) dan dari jenis minyak
parafin, maka akan terbentuk campuran molekul parafin dan olefin :
C23H48 C8H18 + C15H30 C3H8 + C12H22 (cracking)
Proses ini dapat terjadi terus menerus hingga terbentuk cokes :
C12H22 C2H6 + C10H16 C2H4 + C8H12 2 CH4 + C6H4
(Ofelin dengan bahan baku etana)

Jika bahan baku yang digunakan adalah gas etana, maka reaksi cracking yang
terjadi adalah sebagai berikut :
C2H6 2 C2H4 + H2 (cracking)
Berikut adalah beberapa produk petrokimia yang berbahan dasar etilena :
a) Polietilena
Polietilena adalah plastik yang paling banyak diproduksi. Plastik polietilena
antara lain digunakan sebagai kantong plastik dan plastik pembungkus / sampul.
Plastik polietilena ( maupun plastik lainya) yang kita kenal, selain mengandung
polietilena juga menggandung berbagai bahan tambahan, misalnya bahan pengisi,
plasticer,dan pewarna.
b) PVC
PVC atau polivinilklorida juga merupakan plasik, yang antara lain
digunakan untuk membuat pipa (paralon) dan pelapis lantai.
c) Etanol
Etanol adalah bahan yang sehari hari biasa kita kenal sebagai alkohol.
Etanol digunakan untuk bahan bakar atau bahan antara untuk berbagai produk
lain, misalnya asam asetat.
Alkohol dibuat dari etilena:
CH2 = CH2 + H2O CH3 CH2OH
d) Etilena glikol atau glikol
Glikol digunakan sebagai bahan anti beku dalam radiator mobil di daerah
beriklim dingin.

Berikut adalah beberapa produk petrokimia yang berbahan dasar propilena:


a) Polipropilena
Plastik polipropilena lebih kuat dibandingkan dengan plastik polietilena.
Polipropilena antara lain digunakan untuk karung plastik dan tali plastik.
b) Gliserol
Zat ini antara lain digunakan sbagai bahn kosmetik ( pelembab ) industri
makanan, dan bahn peledak ( nitrogliserin).
5

c) Isopropil alkohol
Zat ini digunakan sebagai bahan antara untuk berbagai produk petrokimia
lainya, misalnay aseton( bahan pelarut, digunakan sebagai pelarut pelais kuku /
kutek).

Berikut adalah beberapa produk petrokimia yang berbahan dasar butadiena:


a) Karet sintetis , seperti SBR ( styrene-butadiene-rubber) dan neoprena
b) Nilon, yaitu nilon 6,6
Petrokimia dari Aromatika
Aromatik yaitu dengan pembentukan fraksi-fraksi aromatik (benzena,
toulena dan xilena). Senyawa aromatic adalah suatu senyawa hidrokarbon tidak
jenuh yang mempunyai rangkaian ikatan atom C secara siklis berupa ikatan atom
antara C6-C8 yang sangat reaktif sehingga akan mudah bereaksi atau
berpolimerisasi antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk produk
polimer.
Pada industri petrokimia berbahan dasar benzena, umumnya benzena diubah
menjadi stirena,kumena,dan sikloheksena.
a) Stirena digunakan untuk membuat karet sintetis, seperti SBR dan polistirena.
b) Kumena digunakan untuk membuat fenol, selanjutnya fenol digunakan untuk
membuat perekat dan resin.
c) Sikloheksena digunakan terutama untuk membuat nilon, misalnya nilon-6,6
dan nilon-6.
Selain itu, sebagian benzena digunakan sebagi bahan dasar untuk membuat
detergen, misalnya ABS dan LAS.
Beberapa contoh produk petrokimia berbahan dasar totulen dan xilena antara
lain:
a) Bahan peledak, yaitu trinitrotoluena (TNT)
b) Asam tereftalat yang merupakn bahan dasar untuk membuat serat seperti
metiltereftalat.

Petrokimia dari Gas-Sintetis(Syn-Gas)


Seperti telah disebutkan, gas- sintetik (sn-gas) merupakn campuran dari
karbon monoksida (CO) dan hidrogen(H2). Dan untuk memproduksi gas sintetik
melalui 3 cara:
a) Reaksi steam reforming untuk membentuk amonia yang reaksinya
berlangsung dengan bantuan katalis Ni pada suhu 1.400 1.600 oF, pada
tekanan 400-500 psi.
2 CH4 + O2 + 2 H2O + N2 2 CO2 + 4 NH3
b) Reaksi stream reforming pada pembentukan methanol

dan

cara

memproduksinya menggunakan 2 macam proses yaitu pada tekanan tinggi


dan tekanan rendah. (Lurgi High Pressure Process dan ICI Low Pressure
Process)
c) Reaksi oksidasi parsial pada pembentukan gas sintetik yang dilanjutkan
dengan reaksi pirolisis pada suhu 1300-1500oC dan tekanan 100-150 atm.
Berbagai contoh petrokimia dari syn-gas adalah :
a) Amonia (NH3)
N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g)
Amonia dibuat dari nitrogen dan hidrogen. Pada industri petrokimia gas
nitrogen diperoleh dari udar, sedangkan gas hidrogen dari syn-gas. Sebagian
besar produk amonia digunakan untuk membuat pupuk seperti [CO(NH2)2]
urea, [(NH4)2SO4]; pupuk ZA, dan (NH4NO3); amonium nitrat. Sebagian
lainya digunakan untuk membuat berbagai senyawa nitrogen lain, seperti
asam nitrat dan berbagai bahan untuk membuat resin dan plastik.
b) Urea [CO(NH2)2]
CO2(g) + 2NH3(g) NH2COH4(S)
NH2CONH4(S) CO(NH2)2(S) + H2O(g)
Sebagian besar urea digunakan sebagai pupuk. Kegunaan yang lain yaitu
untuk makanan ternak,industri perekat, plastik, dan resin.
c) Metanol (CH3OH)
CO(g) + 2H3(g) CH3OH(g)
Metanol dibuat dari syngas melalaui perpanasan suhu dan tekanan tinggi
dengan bantuan katalis. Sebagian besar metanol diubah menjadi
formaldehida. Sebagian yang lain digunakan untuk membuat serat , dan
campuran bahan bakar.
d) Formaldehida (HCHO)
CH3OH(g) HCHO(g) + H2(g)

Formaldehida dibuat melalui oksidasi metanol dengan bantuan katalis.


Larutan Formaldehida dalam air dikenal dengan nama formalin. Formalin
digunakan untuk mengawetkan preparat biologi (termasuk mayat). Akan
tetapi, penggunaan utama dari Formaldehida adalah untuk membuat resin
urea- Formaldehida dan lem. Lem Formaldehida banyak digunakan untuk
industri kayu lapis.
C. Cara-Cara Mendapatkan Bahan Baku Industri Petrokimia
Berikut ini diuraikan cara-cara mendapatkan bahan baku Industri
Petrokimia.
1. Gas Metana (CH4) Dari pengeboran gas di lapangan. Gas metana dari
2.
3.
4.
5.
6.
7.

kilang BBM (off gases) dijadikan gas buangan


Gas Etana (C2H6) Dari lapangan gas bumi
Gas Etilena (C2H4) Cracking gas etana, nafta dan kondensat
Gas Propana (C3H8) Absorpsi dan ekstraksi
Gas Propilena (C3H6) Cracking gas etana, propane, nafta dan kondensat
Gas Butana (n-C4H10) Ekstraksi dan absorpsi
Kondensat (C5H12 C11H24) Ekstraksi dan absorpsi. Selain itu, juga dapat

diperoleh dari kilang BBM


8. Benzena, Toluena dan Xilena (BTX Aromatik) Catalytic reforming
9. Nafta (C6H14 C12H26) Proses distilasi
10. Kerosin (C12H26) Distilasi atmosferik
11. Short Residue / waxy residue
D. Penyediaan Bahan Baku Industri Petrokimia di Indonesia
Berikut ini akan di uraikan ketersediaan bahan baku Industri Petrokimia
yang ada di Indonesia, diantaranya gas bumi, bahan baku kondesat, bahan baku
nafta, dan bahan baku residu.
1. Ketersediaan Cadangan Gas Bumi (C1-C4)
Ketersediaan cadangan gas bumi 60%-80% kandungannya adalah gas
metana. Ketersediaan tersebut hampir merata dan menjangkau dareah
padat penduduk dan pusat industri.
2. Ketersediaan Bahan Baku Kondensat (C5-C11)
Kondensat dalam negeri selama ini diekspor ke luar negeri. Jika
kandungan Produk paraffin dan olefinnya besar jalur olefin center. Jika
kandungan naftene dan aromatic besar jalur aromatic center

3. Ketersediaan Bahan Baku Nafta (C6-C12)


Diperoleh dari kilang Cilacap dan Balikpapan dan produksinya
diekspor ke luar negeri.
4. Ketersediaan Bahan Baku Residu / Low Sulfur Waxy Residu (LSWR)
Berasal dari Kilang Dumai, Sungai Pakning, dan Eksor I Balongan.
E. Produk produk Industri Petrokimia
Produk petrokimia merupakan produk lanjut dari hasil pengolahan minyak
dan gas bumi guna memperoleh nilai tambah yang lebih besar. Produk petrokimia
yang dihasilkan dari hasil pengolahan minyak bumi berupa naptha, dan kondensat
adalah produk aromatik (benzene, toluene dan xylene) dan produk olefin
(ethylene, propylene dan butadiene) yang merupakan bahan baku untuk industri
sandang, karet, sintetis, plastik.
Produk petrokimia yang dihasilkan dari pengolahan gas bumi adalah
methanol, urea, ammonia yang merupakan bahan baku untuk industri perekat,
pupuk. Industri petrokimia Pertamina yang berbahan baku minyak dan gas bumi
antara lain Kilang Metanol di Pulau Bunyu Kalimantan Timur, Kilang Purified
Terephthalic Acid (PTA) dan Kilang Polypropylene (Polytam) di Plaju, Sumatra
Selatan, Kilang Paraxylene dan Benzene di Cilacap, Jawa Tengah.
Secara garis besar produk produk Industri Petrokimia dapat dibedakan
menjadi dua macam, yaitu :
1. Industri Petrokimia Hulu (Upstream Petrochemical)
Industri petrokimia hulu yaitu industri yang menghasilkan produk
petrokimia yang masih berupa produk dasar atau produk primer dan produk antara
atau produk setengah jadi (masih merupakan bahan baku untuk produk jadi).
Pada daftar berikut disebelah kiri diurutkan beberapa bahan baku yang
dapat dipakai untuk industri petrokimia hulu. Semuanya merupakan atau terdiri
dari hidrokarbon yang merupakan produk-produk industri minyak dan gas bumi.
Dari atas sampai kebawah (gas oil) konsistensinya semakin berat d.p.l. dari
gas sampai kecairan. Disebelah kanan diurutkan beberapa produk-produk industri
petrokimia hulu yang kadang-kadang disebut first generation petrochemicals
atau juga basic petrochemicals atau petrochemical building blocks.

Feedstocks

Petrochemical Product

Fuel Coproduct

Methane

Methanol

Pyrolysis Gasoline

Ethane

Ethylene

Pyrolysis Fuel Oil

Propane

Propylene

Raffinate

Butane

Butadiene

Mixed C4s

Condensate

Benzene

Naphta

Toluene

Gas Oil

Xylenes

Reformate
Raffinate
Pyrolysis Gasoline
Perlu ditambahkan bahwa LPG dapat berasal dari alam dari perut bumi
dan dapat pula berasal dari operasi pengilangan. LPG juga mengandung senyawasenyawa tak jenuh dari C3 dan C4, yakni propylene dan butene/butadiene.
2. Industri Petrokimia Hilir (Downstream Petrochemical)
Industri petrokimia hilir yaitu industri yang menghasilkan produk
petrokimia yang sudah berupa produk akhir dan/atau produk jadi.
Oleh

karena

itu,

maka

produk

petrokimia

berdasarkan

proses

pembentukannya dan pemanfaatannya dapat dibagi atas 4 jenis, yaitu:


1. Produk dasar
Produk dasar terdiri dari gas CO dan H2 sintetik, etilena, propilena,
butadiene, benzene. toluene, xilena, dan n-parafin.
2. Produk antara
Produk antara diantaranya adalah amonia, inetanol, carbon black, urea, etil
alkohol, etilklorida, Rumen (cumene), propilen-oksida, butil alkohol,
isobutilena, nitrobenzene, nitrotoluena, PTA (purified terephthalic acid),
TPA (terephthalic acid), DMT (dimethyl terephthalate), kaprolaktam
(caprolactain), LAB (liner alkyl benzene).
3. Produk akhir

10

Produk akhir antara lain adalah urea, carbon black, formaldehida, asetilena,
poli etilena, poli propilena, poli vinil klorida, poli stirena, TNT (trinitro
toluene), poli ester, nilon, poli uretan, LAB-sulfonate (Surfactant).
Contoh produk antara dan produk akhir Industri

Carbon Black

Urea

4. Produk jadi
Pada umumnya berupa barang-barang atau bahan-bahan yang dalam
kehidupan kita sehari-hari banyak dipakai di rumah tangga seperti: plastikplastik untuk produk-produk elektronik dan telekomunikasi (radio, tv, film
alat-lat komputer, kabel-kabel telefon, kabel-kabel listrik), plastik-plastik
untuk rumah tangga (ember plastik, kantong/karung plastik, botol-botol
kemasan plastik), peralatan plastik untuk industri mobil dan pesawat terbang
(bemper mobil, jok/busa mobil, jok/busa kapal terbang, ban pesawat
terbang). Baju dan kaus kaki yang kita pakai dibuat dari benang poliester
dan nilon, ban mobil dari bahan campuran karet dan carbon black, sabun
bubuk deterjen dibuat dari LAB-sulfonate dan lain sebagainya.
Contoh produk jadi Industri Petrokimia

F. Proses Pengolahan Petrokimia


1 Pembuatan Metanol

11

Methanol dapat digunakan sebagai lem untuk industri plywood, bahan bakar
pesawat, bahan bakar jenis methylfuel, bahan pelarut jenis nitro cellulose,
insektisida,dehidrator gas alam, dan sebagai bahan baku untuk industri protein
sintesis dengan fermentasi berkesinambungan.
Dewasa ini metanol diproduksi dalam skala industri terutama berdasarkan
perubahan katalitik dari gas sintesa (catalityc conversion of synthesis
gas). Berdasarkan tekanan yang digunakan proses pembuatannya dibagi menjadi:
a. Proses tekanan tinggi.
Pada proses ini pembuatan metanol dioperasikan pada tekanan 300 bar,
menggunakan

katalis

krom

oksida

seng

oksida

untuk

perubahan

katalitik dari CO dan CO2 dengan H2 menjadi metanol pada suhu 320 sampai
400 oC. Kekurangan proses ini adalah mahalnya komponen yang diperlukan untuk
tekanan tinggi, biaya energi yang lebih tinggi, serta biaya peralatan yang relatif
cukup tinggi.
b. Proses tekanan rendah.
Pada proses ini tekanan yang digunakan ialah 50-150 bar dan suhu 200
500 oC. Jenis katalis yang digunakan ialah dasar tembaga (copper based catalyst).
Keunggulan dari proses ini adalah biaya investasi yang lebih rendah,biaya
produksi yang lebih rendah, kemampuan operasi yang lebih baik dan lebih
fleksibel dalam penentuan ukuran pabrik.
Proses-proses yang menggunakan tekanan rendah antara lain adalah sebagai
berikut:
1. Proses Lurgi
Proses ini patennya dimiliki oleh Lurgi Oel Gas Chemie GmbH.
Gambaran prosesnya secara garis besar adalah sebagai berikut. Gas alam
dilewatkan dalam proses desulfurisasi untuk menghilangkan kontaminan sulfur.
Proses ini berlangsung kira-kira pada suhu 350-380 0C dalam reaktor
desulfurisasi. Kemudian gas dikompresi dan dialirkan ke dalam unit reformer,
dalam

hal

ini

LURGI reformer dan autothermal

reformer.

Dalam

unit reformer gas dicampur dengan uap panas dan diubah menjadi gas H 2, CO2, dan
CO dengan tiga macam langkah pembentukan. Gas hasil kemudian didinginkan
dengan serangkaian alat penukar panas. Panas yang dimiliki oleh gas hasil

12

digunakan untuk membuat uap panas. Pemanas awal gas alam, pemanas
air umpan masuk boiler dan alat re-boiler di kolom distilasi. Gas hasil tersebut
kembali dikompresi hingga 80-90 bar tergantung pada optimasi proses yang ingin
dicapai. Setelah dikompresi gas hasil kemudian dikirim ke dalam reaktor
pembentukan metanol. Reaktor yang digunakan ialah LURGI tubular reaktor
(proses isotermal) yang mengubah gas hasil menjadicrude methanol. Crude
methanol hasil kemudian dikirim ke dalam unit kolom distilasi untuk
menghasilkan kemurnian metanol yang dihasilkan.
2. The ICI Low Pressure Methanol (LPM) Process
Proses ini merupakan proses yang paling umum digunakan dalam proses
pembutan metanol. Paten dari proses ini dimiliki oleh Imperial Chemical Industry
(ICI) dan sekarang lisensinya dipegang oleh anak perusahannya yaitu Synetik.
Deskripsi prosesnya adalah sebagai berikut, umpan gas alam dipanaskan
dan dikompresi lalu kemudian didesulfurisasi sebelum dimasukkan ke
dalam saturator. Setelah didesulfurisasi gas alam kemudian di masukkan ke
dalam saturator, di dalam saturator gas alam dikontakkan dengan air panas. Pada
proses ini sekitar 90% kebutuhan steam untuk proses dapat dicapai. Selanjutnya
gas alam kemudian dipanaskan ulang dan ditambahkan kekurangan steam yang
dibutuhkan untuk proses. Campuran gas alam dengan uap panas ini kemudian
dikirim kedalam methanol synthesys reformer (MSR). Di dalam MSR ini gas alam
dirubah menjadi H2,CO2, CO. Gas hasil ini kemudian didinginkan dengan
serangkaian alat penukar panas. Panas yang dihasilkan digunakan untuk
memanaskan air umpan masuk boiler,menghasilkan uap panas dan kebutuhan
yang lain. Lalu gas hasil ini dikirim ke dalam methanol converter (ICI tube
cooled reactor). Reaksi yang berlangsung dengan bantuan katalis dalam reaktor
ini menghasilkancrude methanol dan bahan lain, hasil dari reaktor kemudian
dipisahkan dengan separator, gas yang masih belum terkonversi dipakai sebagai
bahan bakar MSR.Crude methanol yang sudah dipisahkan dari bahan lain
kemudian dikirim ke unit distilasi fraksionasi untuk menghasilkan metanol yang
lebih murni.

13

3. The ICI Leading Concept Methanol (LCM) Process


Proses ini merupakan perbaikan dari proses ICI LPM, terutama dalam hal
unit reformer. Prosesnya adalah sebagai berikut. Umpan masuk gas alam
pertama-tama di desulfurisasi sebelum memasuki saturator. Dalam saturator gas
alam dikontakkan dengan air panas yang dipanaskan oleh gas hasil yang keluar
dari Advanced Gas Heated Reformer (AGHR). Pengaturan sirkuit saturator ini
memungkinkan untuk mendapatkan sebagian uap panas yang dibutuhkan untuk
proses dan mengurangi sistem uap panas dari boiler.Tetapi berbagai macam
modifikasi

proses

dapat

dilakukan

tergantung

dari

pemilihan

sistem reformer dan converter.


Campuran gas alam dan uap panas ini kemudian dipanaskan sebelum
memasuki AGHR, dalam AGHR gas campuran memasuki tabung-tabung yang
berisi katalis yang dipanaskan oleh gas hasil dari reformer kedua. Kira-kira 25 %
gas alam terkonversi dalam AGHR menjadi CO2. Setelah keluar dari AGHR gas
alam memasuki reformer kedua kemudian ditambahkan semburan oksigen yang
merubah gas alam dengan bantuan katalis menjadi gas hasil yaitu H2, CO2, dan CO.
Gas hasil ini suhunya berkisar 1000 0 C dan hanya mengandung sangat sedikit
metana yang tidak terkonversi. Aliran gas hasil lalu dilewatkan melalui shell side
dari AGHR dan serangkaian alat penukar panas untuk memaksimalkan
penggunaan panas. Lalu gas dikompresi sehingga 80 bar.
Gas yang telah dikompresi kemudian dikirim ke methanol converter untuk
mengubahnya menjadi metanol dan air. Metanol hasil kemudian dikirim ke unit
distilasi fraksionasi untuk memurnikannya.
Pada tekanan sedang 1 hingga 2 MPa (1020 atm) dan temperatur tinggi
(sekitar

850 C),

metana

bereaksi

dengan

uap

air

(steam)

dengan

katalis nikel untuk menghasilkan gas sintesis menurut reaksi kimia berikut:
CH4 + H2O CO + 3 H2
Reaksi ini, umumnya dinamakan steam-methane reforming atau SMR,
merupakan reaksi endotermik dan limitasi perpindahan panasnya menjadi batasan
dari ukuran reaktor katalitik yang digunakan.

14

Metana juga dapat mengalami oksidasi parsial dengan molekul oksigen untuk
menghasilkan gas sintesis melalui reaksi kimia berikut:
2 CH4 + O2 2 CO + 4 H2
reaksi ini adalah eksotermik dan panas yang dihasilkan dapat digunakan secara insitu untuk menggerakkan reaksi steam-methane reforming. Ketika dua proses
tersebut dikombinasikan, proses ini disebut sebagai autothermal reforming. Rasio
CO and H2 dapat diatur dengan menggunakan reaksi perpindahan air-gas (the
water-gas shift reaction):
CO + H2O CO2 + H2,
untuk menghasilkan stoikiometri yang sesuai dalam sintesis metanol.
Karbon monoksida dan hidrogen kemudian bereaksi dengan katalis kedua
untuk menghasilkan metanol. Saat ini, katalis yang umum digunakan adalah
campuran tembaga, seng oksida, dan alumina, yang pertama kali digunakan
oleh ICI pada tahun 1966. Pada 510 MPa (50100 atm) dan 250 C, ia dapat
mengkatalisis produksi metanol dari karbon monoksida dan hidrogen dengan
selektifitas yang tinggi:
CO + 2 H2 CH3OH
Sangat perlu diperhatikan bahwa setiap produksi gas sintesis dari metana
menghasilkan 3 mol hidrogen untuk setiap mol karbon monoksida, sedangkan
sintesis metanol hanya memerlukan 2 mol hidrogen untuk setiap mol karbon
monoksida. Salah satu cara mengatasi kelebihan hidrogen ini adalah dengan
menginjeksikan karbon dioksida ke dalam reaktor sintesis metanol, dimana ia
akan bereaksi membentuk metanol sesuai dengan reaksi kimia berikut:
CO2 + 3 H2 CH3OH + H2O
Walaupun gas alam merupakan bahan yang paling ekonomis dan umum
digunakan untuk menghasilkan metanol, bahan baku lain juga dapat digunakan.

15

Ketika tidak terdapat gas alam, produk petroleum ringan juga dapat digunakan.
Di Afrika Selatan, sebuah perusahaan (Sasol) menghasilkan metanol dengan
menggunakan gas sintesis dari batu bara.

Gambar 1.2 Diagram Alir Proses Reforming Gas Alam


Gambar 1.2 menunjukan Proses natural gas menjadi syngas secara umum.
Pertama-tama dihilangkan kandungan sulfur terlebih dahulu kemudian natural gas
di reformasi di primary dan secondary reformer menjadi H2 dan CO. Syn gas
yang terbentuk di sintesakan ke dalam reaktor untuk membentuk methanol.
2

Pembuatan Plastik
Produk plastik berkualitas tinggi dapat dihasilkan dengan

penambahan bahan aditif (ingredient) ke bahan baku seperti


filler (bahan pengisi), plastisizer (membuat plastik elastis),
colorant

(bahan

pewarna),

dan

miscellaneous

(stabilizer,

inhibitor, katalis, dll). Salah satu metode yang digunakan untuk


mengkonversi

plastik

menjadi

barang

jadi

adalah

metode

extrusion. Metode ekstrusi ini terdiri dari tiga tahap yaitu :

Dry extrusion, dimana feed bahan baku plastik


berbentuk

bubuk

dimasukkan

ke

extruder

untuk

dikeringkan

Proses pendinginan

16

Plastik lunak yang sudah ditambah aditif dimasukkan

ke dalam molding.
3

Pembuatan Detergen

Raw
material

Measur
ing

Blend
ing

Cuttin
g

Inspect
ion
Crushi
ng +
recycle

Marki
ng

Extrudi
ng
Coolin
g
Packi
ng
Produ
ct

Detegen merupakan pembersih sintetis yang terbuat dari


bahan-bahan turunan minyak bumi yang memiliki daya cuci yang
lebih baik daripada sabun.
Proses pembuatan detergen dimulai dengan membuat bahan
penurun

tegangan

permukaan

yang

kemudian

dilanjutkan

pengolahan dengan basa. Teknik pengolahan detergen dapat


dilakukan menggunakan berbagai macam teknik misalnya teknik
biologi yaitu dengan bantuan bakteri, koagulasi-flokulasi-flotasi,
adsorpsi karbon aktif, lumpur aktif, khlorinasi dan teknik
representatif lainnya tergantung dari efektifitas kebutuhan.
Detergen pertama yang dihasilkan adalah detergen dari
bahan natrium lauril sulfat (NSL) yang berasal dari lemak
trilausil.

Namun,

karena

proses

produksinya

yang

mahal,

penggunaan NSL untuk detergen ini tidak digunakan lagi.


Selanjutnya, digunakan alkil benzena sulfonat sebagai pengganti
NSL. Akan tetapi, ABS memiliki dampak negatif terhadap
lingkungan karena molekul ABS ini tidak dapat diurai oleh
mikroorganisme. Lalu dikembangkan detergen dari lauril alkil
sulfonat (LAS) yang dapat diurai oleh mikroorganisme sebagai

17

pengganti

ABS.:

Proses pembuatan LAS adalah dengan mereaksikan Lauril


Alkohol dengan asam Sulfat pekat menghasilkan asam Lauril
Sulfat dengan reaksi:
C12H25OH + H2SO4 = C12H25OSO3H + H2O
Proses pembuatan detergen dari minyak bumi ini mengikuti
jalur aromatik dalam industri petrokimia. Detergen merupakan
produk hilir dari bahan baku olefin yang bereaksi secara aromatic
dengan benzena. Berikut adalah skema pembuatan detergen
alkil benzena

Dari skema di atas, dapat diketahui proses pembuatan


detergen alkil benzena melalui jalur aromatik. Alkil aril sulfonat
terbentuk dari sulfonasi alkil benzena yang mengandung inti
dengan satu atau lebih rangkaian alkil. Alkil benzene yang biasa
digunakan adalah jenis deodesil benzena. Pembuatan deodesil
benzena ini dilakukan dengan alkilasi benzena dengan alkena
dengan bantuan katalis asam.
G. Penggunaan dan Pemanfaatan Produk-produk Petrokimia
Penggunaan dan Pemanfaatan Menurut Sektor Industri :
1. Penggunaan dalam Industri Pupuk dan Pestisida

18

Produk amoniak / urea dalam negeri sebagian besar digunakan sebagai


pupuk pertanian, dan adhesive urea formaldehida.
Dalam industri pestisida, sebagaian bahan aktif pestisida, pelarut dan
aditifnya merupakan produk akhir petrokimia seperti senyawa carbamate,
thiocarbamate, surfaktan organik, organoklorida, alkohol, dsb.
2. Penggunaan dalam Industri Serat Sintetik
Produk petrokimia yang digunakan untuk serat sintetik adalah TPA
(terepthalic acid), DMT (dimethyl terepthalate), PTA (purified terepthalic
acid), dan kaprolaktam.
3. Penggunaan dalam Industri Bahan Plastik
PE (polietilena), PP (polipropilena), PVC (poli vinil klorida), dan PS
(polistirena).
4. Penggunaan Dalam Industri Adhesive Resin
Urea formaldehida, melamin formaldehida dan fenol formaldehida.
5. Penggunaan dalam Industri Deterjen
Alkil benzena, alkil benzene sulfonat (ABS), dan selulosa karboksi metil
(CMC).
6. Penggunaan dalam Industri Elastomer
Karet sintetik yang digunakan untuk industri ban adalah SBR dan karet
butil sebesar 20%.
7. Penggunaan dalam industri Kimia, Khusus Industri Zat Pewarna (Dyestuff
Industry), Phthalic anhydride (pewarna tekstil) dan carbon black.

Contoh produk Industri Petrokimia

Kantong plastik dari polietilena

Tutup sebuah kotak permen dari propilena

Pemanfaatan produk Industri Petrokimia lainnya :

19

1. Aspal
Kegunaan aspal digunakan untuk pelapis tanggul, pelapis tahan air, sebagai
bahan isolasi, pelapisa anti korosi pada logam dan juga sebagai bahan
campuran pada pembuatan briket batubara.
2. Lilin
Kegunaan lilin sebagai cadangan bila lampu dari PLN padam. Lilin jenis ini
oleh pertamina diproduksi dengan nama Hard Semi White Wax dan Fully
Refined White Wax. Selain untuk penerangan, kedua jenis lilin tersebut dapat
digunakan sebagai kertas lilin pembungkus, bahan baku semir serta pengkilap
lantai dan mebel.
3. Polytam PP (Polipropilena Pertamina)
Kantong plastik, karung plastik, film, produk cetakan (moulding) dan tali
rafiaadalah produk yang sangat memasyarakat. Produk tersebut dibuat dengan
menggunakan bahan polytam pp.
4. Petrolium Cokes
Bila cokes diproduksi dengan bahan dasar tanaman cola, maka petrlium cokes
tersiri dari dua macam yakni; Green coke merupakan produk samping dari
proses pengolahan residu untuk bahan dasar minyak. Green coke bermanfaat
sebagai bahan baku Calcined coke,yang berfungsi sebagai reduktor dalam
proses peleburan timah,bahan bakar padat atau bahan penambahan kadar
karbon pada industri logam.Satunya lagi adalah Calcined coke berguna
sebagai elektroda dalam proses pengolahan aluminium pada industri Kalsium
Karbida (CaC2), bahan baku industri elektroda grafit, bahan bakar padat atau
bahan penambah kadar karbon pada industri modern, dan sebagai unsur
pengisi pada industri baja (sebagai karbon).
5. Solvent
Pertamina memproduksi lima macam solvent, yakni;
a) Low Aromatic White Spirit (LAWS) yang berguna sebagai pengencer cat
dan vernis, pelarut untuk warna cetakan, industri tekstil (printing), bahan
pembersih (dry cleaning solvent), bahan baku pestisida.
b) Special Boiling Point (SBP-XX) yang berguna sebagai adhesive dan
pelarut karet, pelarut pada industri (cat dan tinner,tinta cetak,industri
farmasi seperti perekat pada salonpas), industri kosmetika.
c) Special Gas Oil, digunakan pada industri farmasi, khususnya pembuatan
pil kina, sbagai solvent dalam proses ekstraksi kulit kina.

20

d) Minasil-M, digunakan sebagai industri cat, thinner vernis, industry tinta


cetak, industri karet dan adhesive, dan industri farmasi.
e) Pertasol CA dan CB, petasol CA banyak digunakan sebagai pengencer
pada cat, lacquers, venis, pelarut dan pengencer pada tinta cetak.
6. Processing Oil
Processing Oil terdiri dari dua macam yakni Minarex - B yang berguna,
sebagai processing oil pada industri telapak ban kendaraan bermotor, bantalan
jembatan, sol sepatu kanvas dan sol karet cetak. Paraffinic Oil 60 dan 95
bermanfaat sebagai processing oil pada telapak ban, sepatu dan sol karet,
karpet karet, pipa plastik, pengganti dioktilptalat pada industri tinta cetak.
7. Kimia Pertanian
Produk kimia pertanian terbagi menjadi dua macam, yakni; Tenac Stiker yang
bermanfaat sebagai bahan perekat dan perata pestisida. Sedangkan TB 192
berguna untuk menutup luka tanaman / bidang sadap tanaman karet,
mencegah pengeringan bidang sadap.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam bidang industri, bahan atau zat yang berasal dari minyak bumi
dinamakan petrokimia. Sementara itu, industri yang berhubungan dengan minyak
bumi dinamakan industri petrokimia. Hampir semua produk petrokimia berasal
dari tiga jenis bahan dasar yaitu ofelin, aromatika, dan gas sintesis. Jalur-jalur
dalam pembuatan produk petrokimia yang ekonomis dapat ditempuh dengan tiga
jalur utama yaitu jalur gas sintetik, jalur olefin, dan jalur aromatik. Umumnya
produk petrokimia berupa barang-barang atau bahan-bahan yang dalam kehidupan
kita sehari-hari banyak dipakai di rumah tangga seperti: plastik-plastik untuk
produk-produk elektronik, telekomunikasi, dan rumah tangga, peralatan plastik
untuk industri mobil dan pesawat terbang. Penggunaan dan pemanfaatan menurut
sektor industri antara lain sebagai industri pupuk dan pestisida, industri serat
sintetik, industri bahan plastik, industri bahan baku cat, industri adhesive resin,

21

industri detergen/pencuci, industri elastomer/ karet sintetik, dan industri kimia


khusus.
B. Saran
Hasil Industri Petrokimia menghasilkan berbagai macam produk yang
penting bagi kehidupan manusia, namun masih dapat ditemukan juga hasil dari
produk Industi Petrokimia yang tidak ramah lingkungan seperti halnya plastik.
Oleh karena itu kita sebagai konsumen sebaiknya berusaha untuk mengurangi
pemakaian

produk

tersebut

secara

berlebihan.

Kita

juga

tidak

boleh

mengeksploitasi penggunaan bahan baku Industri Petrokimia. Jadi tetap


pergunakan bahan baku Industri Petrokimia secukupnya serta berusaha untuk
meminimalisir dampak negatif yang ditimbulkan.

DAFTAR PUSTAKA
http://agro.kemenperin.go.id/e-klaster/file/roadmap/KIPBANTEN_1.pdf
http://chemistry35.blogspot.com/2011/04/industri-petrokimia.html
http://rieko.wordpress.com/2009/11/26/industri-petrokimia-part-2/#more-319
http://staff.ui.ac.id/internal/132127784/material/INDUSTRIPETROKIMIA
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=industri
%20petrokimia&source=web&cd=2&ved=0CDcQFjAB&url=http%3A%2F
%2Fstaff.ui.ac.id%2Finternal%2F132127784%2Fmaterial
%2FINDUSTRIPETROKIMIA

22

23