Anda di halaman 1dari 13

Batu Empedu Asimtomatik (AsGS) Diterapi atau tidak?

Abstrak
Dengan tersedianya USG perut, frekuensi kasus batu empedu tanpa gejala (AsGS)
yang dapat didiagnosa meningkat. Pengambilan keputusan perlu memperhitungkan riwayat
AsGS serta risiko kolesistektomi. Penelitian tentang indak lanjut dalam jangka panjang
dari wilayah Barat secara konsisten telah menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari
batu empedu tanpa gejala yang menyebabkan perkembangan dari gejalanya atau menjadi
suatu komplikasi. Beberapa subkelompok pasien (misalnya orang-orang dengan sindrom
hemolitik kronik) telah terbukti memiliki risiko lebih tinggi terkena gejala dan komplikasi
serta kolesistektomi profilaksis telah disarankan untuk kelompok ini. Pembagian kelompok
pasien yang telah jelas dalam kategori risiko rendah atau tinggi masih jauh dari ideal dan
indentifikasi lebih baik untuk faktor risiko serta stratifikasi risiko yang diperlukan. Secara
keseluruhan, baik operasi terbuka dan laparoskopi kolesistektomi, umumnya merupakan
prosedur yang aman. Namun, kejadian cedera duktus empedu (dengan segala konsekuensi
yang serius) semakin tinggi dengan laparoskopi kolesistektomi dan hal ini harus di
pertimbangan sebelum menawarkan kolesistektomi profilaksis ke pasien asimtomatik yang
tidak diharapkan meneria keuntungan beberapa resiko klinis dari hal tersebut.
Kanker kandung empedu jarang terjadi di sebagian besar negara maju dunia dan
kolesistektomi

profilaksis

umumnya

tidak

direkomendasikan

untuk

mencegah

perkembangan GBC (Gall Blader Cancer). Mengingat luas geografis / variasi etnis pada
kejadian GBC di seluruh dunia dan hubungan yang kuat dari GBC dengan batu empedu,
mungkin tidak bijaksana untuk ekstrapolasi hasil penelitian riwayat AsGS dari satu negara
ke negara yang lain. Sejak India utara menjadi salah satu negara dengan insiden GBC
tertinggi di dunia, sangat penting untuk memiliki data tentang riwayat AsGS pada pasien
dari daerah ini untuk memungkinkan perumusan pedoman yang tepat untuk pengelolaan
AsGs.
Kata kunci
batu empedu asimtomatik (tanpa gejala). Kolesistektomi. kanker kandung empedu. cedera
saluran empedu

Semakin tinggi frekuensi deteksi batu empedu (GS) terjadi karena ketersediaan
yang mudah dan penggunaan diagnostik USG untuk berbagai keluhan pada perut serta '
check-up Rutin ', ditambah dengan munculnya baru-baru ini kolesistektomi laparoskopi
sebagai pengobatan standar dari GS telah memfokuskan perhatian pada masalah batu
empedu tanpa gejala (AsGS). 'Untuk diterapi atau tidak' adalah suatu dilema yang paling
sering dihadapi ahli bedah. Pengobatan yang optimal dari AsGS (dasarnya seperti kondisi
klinis yang lain) akan memperhitungkan riwayat AsGS dan mempertimbangkan potensi
manfaat pengobatan terhadap risiko pengobatan yang dalam hal ini, morbiditas dan
mortalitas dari kolesistektomi. Hal tersebut merupakan tantangan klinis dalam
pengambilan keputusan untuk menyeimbangkan proyeksi prognosis dari penatalaksanaan
versus resiko, usaha, ketidaknyamanan dan biaya dari suatu pengobatan secara langsung
'untuk pasien tertentu'. Menurut definisinya, Prosedur dianggap tepat jika manfaat
kesehatan melebihi risiko kesehatan dengan batasan yang cukup besar, sehingga membuat
prosedur layak dilakukan. Tulisan ini akan mencoba untuk meringkas informasi yang
tersedia di literatur mengenai riwayat dari AsGS pada umumnya serta dalam situasi klinis
khusus, dan risiko kolesistektomi, untuk menempatkan masalah tersebut dalam suatu
perspektif.
Definisi
GS yang tidak menyebabkan gejala sesuai GS pada umumnya atau gejala suatu komplikasi
dan didiagnosis pada saat USG rutin untuk kondisi perut lainnya disebut GS tanpa gejala.
Secara klasik, nyeri akibat GS (sering keliru dianggap 'Kolik' empedu) dirasakan di
kuadran kanan atas atau epigastrium, dapat menyebar ke bagian belakang atau scapula
kanan, biasanya berkembang pesat, parah, stabil dan gejala tidak berkurang oleh ubatobatan yang tersedia dirumah. Apakah 'gejala dispepsia' dalam ketiadaan nyeri bilier khas
dapat dikaitkan dengan GS, masih menjadi isu perdebatan. Komplikasi yang termasuk
kolesistitis akut (Yang mungkin berkembang menjadi empiema, menjalar ke perforasi
kandung empedu (GB) atau bahkan gangren dari GB, kolangitis (Karena ganggguan
duktus empedu) dan pankreatitis. Meskipun memiliki hubungan yang kuat, bukti hubungan
kausal antara GS dan terjadinya kanker kandung empedu (GBC) kurang, dan dengan
demikian mungkin bukan GBC dengan komplikasi lain dari GS, tetapi tidak dapat
menyangkal fakta bahwa pada daerah dengan kejadian GBC tinggi, termasuk India utara,
kemungkinan ini mejadi menggantung seperti pepatah pedang Damocles dalam pikiran

dokter bedah yang mengobati penyakit ini. Faktanya tetap bahwa setelah didiagnosa, GBC
adalah penyakit dengan prognosis suram dengan obat yang langka. Perasaan takut bahwa
pasien biasanya merasa (dan ahli bedah sering merasakan) setiap kali kemungkinan GBC
di kemudian hari bahkan disebutkan pada pasien dengan AsGs, sangat sering
mempengaruhi pilihan terapi.
Beban Masalah
Keseluruhan prevalensi penyakit GS di negara paling maju , termasuk Amerika
Serikat, Inggris, Italia dan negara Skandinavia, adalah antara 10% dan 20%. Prevalensi
meningkat seiring dengan usia pada laki-laki dan perempuan. Pada usia 65, sekitar 30%
dari perempuan memiliki GS, dan pada usia 80 tahun, 60% dari laki-laki dan perempuan
memiliki GS. Sebagian besar ini (70-85%) tidak menunjukkan gejala. Di India, menurut
Khuroo et Al. melaporkan 6,1% (laki-laki 3,1% dan perempuan 9,6%) prevalensi GS
dalam pendidikan di atas usia 15 tahun dari Kashmir di India utara; 94% dari mereka tanpa
gejala pada saat di diagnosis.
Tujuan Pengobatan (Profilaksis)
Ketika mempertimbangkan pengobatan AsGS, kita tidak boleh lupa bahwa
tujuannya bukan mengobati kondisi kronis atau melemahkan, tapi pencegahan masalah
potensial di masa depan seperti nyeri bilier atau komplikasi empedu (termasuk GBC). Oleh
karena itu, meskipun kami menggunakan istilah 'pengobatan' apa yang kita benar-benar
lakukan adalah 'pencegahan'. Ha; ini berlaku untuk semua intervensi profilaksis, risiko
yang diharapkan untuk pasien harus mendekati nol.
Kami ingin memperkenalkan perbedaan halus antara istilah 'profilaksis'
kolesistektomi (untuk mencegah gejala dan komplikasi dari GS, misalnya, dalam penelitian
dari negara Barat) dan kolesistektomi 'Pencegahan (untuk mencegah GBC, masalah ini
lebih relevan di daerah dengan tingkat insiden GBC yang tinggi).
Pilihan pengobatan
Dari yang paling konservatif sampai yang paling agresif, pilihan pengobatan dapat
mencakup - manajemen AsGS (ditunggu dan dipantau); kolesistektomi jika pasien
bergejala; kolesistektomi selektif (dalam beberapa kasus) atau kolesistektomi rutin (dalam

semua kasus). Keuntungan dan kerugian dari tiga pendekatan tersebut diringkas dalam
Tabel 1.

Riwayat Alami
"There is no innocent Gallstone (William J Mayo, MD, 1904)
Lebih dari satu abad setelah pernyataan di atas, saat ini cukup bukti bahwa sebagian
kasus kebetulan ditemukan, klinis GS tanpa gejala jarang memiliki signifikansi klinis. Di
kebanyakan negara-negara barat, mayoritas pasien dengan AsGS tetap asimtomatik
sepanjang hidup mereka dan tidak memerlukan pengobatan apapun. Studi otopsi
menunjukkan bahwa lebih dari 90% dari pasien diotopsi dengan GS meninggal bukan
karena penyakit ini. Kematian sebagai komplikasi utama dari AsGS sangat jarang dan
biasanya terjadi pada orang tua sebagai konsekuensi dari komplikasi bilier atau pasca
operasi.
Dalam sebuah penelitian yang signifikan oleh Gracie dan Ransohoff, 123 anggota
fakultas Universitas Michigan, ditemukan memiliki GS di skrining rutin, ditindaklanjuti
selama 15 tahun. Pada 5, 10 dan 15 tahun masa tindak lanjut, 10%, 15% dan 18%, masing
masing menjadi gejala. Tingkat perkiraan di mana subyek berkembang menjadi nyeri bilier
adalah 2% per tahun untuk pertama 15 tahun tanpa penurunan berikutnya dari waktu ke
waktu; 0,3% kohort mengembangkan komplikasi empedu dan sluruhnya didahului dengan
kolik bilier. risiko mutlak berkembang menjadi GBC adalah <1%.
Menurut data dari penelitian Italian Group for Epidemiology and Prevention of
Cholelithiasis, tingkat komplikasi pada pasien tanpa gejala sangat rendah (0,3-1,2%).

Sebuah studi tindak lanjut AsGS menunjukkan bahwa selama periode 20-tahun,
hanya 18% orang yang dikembangkan empedu nyeri, dan probabilitas tahunan rata-rata
pengembangan nyeri bilier adalah 2% untuk 5 tahun pertama, 1% selama kedua 5 tahun
dan 0,5% dan 0,1% selama ketiga dan keempat 5 tahun, masing-masing; tidak satupun dari
orang meninggal penyakit GS.
Menurut National Institute of Health Consensus Conference, 10% pasien
mengalami gejala selama 5 tahun pertama dan 20% pada usia 20 tahun.
McSherry et al. meneliti 135 pria tanpa gejala dan wanita dengan GS yang merupakan
pelanggan ansuransi Rencana Kesehatan dari New York. Dari seluruh responden, 10%
Gejala yang berkembang dan hanya 7% yang memeerlukan kolesistektomi dengan nilai
median waktu penelitian yaitu 46,3 bulan. Temuan serupa telah dilaporkan baru-baru ini
dari Norwegia dan Italia, dan salah satu penelitian bisa meramalkan bahwa setelah 20
tahun, sekitar dua-pertiga dari individu dengan AsGS akan tetap bebas dari gejala (Tabel
2). Data tersebut menunjukkan bahwa GS asimtomatik pada anak-anak dan bayi sangat
berhubungan dengan terjadinya komplikasi dengan tingkat rendah dan dapat dikelola
secara konservatif, kecuali komplikasi parah telah terjadi. Resolusi spontan GS telah
dilaporkan pada 16,5% bayi dan anak-anak dengan AsGS.

Untuk menyimpulkan, kebanyakan studi (semua dari Barat dengan angka kejadian
GBC yang rendah), terutama yang dilakukan pada tahun 1980, menunjukkan hal berikut:
-

Perkembangan menjadi lebih buruk

dari penyakit yang asimtomatik

menjadi simtomatik relatif rendah, mulai dari 10-25% selama periode 5-

15 tahun.
Semakin lama pasien tetap asimtomatik, sangat kecil kemungkinan
mereka untuk menjadi simtomatik.

Mayoritas pasien jarang menjadi parah, berpotensi

untuk terjadi

komplikasi yang mengancam kehidupan, seperti kolangitis supuratif akut


atau pankreatitis akut berat, yang awalnya tanpa memiliki setidaknya satu
episode nyeri bilier.
Apakah riwayat kejadian dari AsGS berdasarkan Area geografis dan Kelompok
Etnis?
Ada indikator untuk menunjukkan bahwa ini mungkin tidak seperti itu (vide infra),
terutama sejauh pengembangan GBC yang bersangkutan. Ada, tapi sayangnya, tidak ada
penelitian besar untuk riwayat kejadian GBC dari wilayah dengan kejadian yang tinggi
untuk membuktikan keraguan ini. Secara individual, terutama perempuan dari Chili, telah
dilaporkan untuk perkembangan gejala GS penyakit pada usia yang lebih muda dan > 50%
dari mereka menjadi bergejala (simtomatik). Bahkan, sejak Chile menjadi salah satu negara
dengan tingkat insiden GBC tertinggi di dunia, kolesistektomi biasanya disarankan untuk
GS antara usia 30- 40 tahun pada wanita dan 40-50 tahun pada pria, terlepas dari ada atau
tidak adanya gejala . Tidak ada data riwayat dari AsGS, seperti yang tersedia dari India.
Stratifikasi risiko
Upaya telah dilakukan untuk stratifikasi risiko pada pasien dengan AsGS untuk
mengidentifikasi pasien yang memiliki bakat alami dan evolusi mungkin berbeda dan
mereka :
-

meningkatkan

simtomatik.
meningkatkan risiko berkembang menjadi suatu komplikasi.
Meningkatkan kecurigaan / risiko menjadi suatu GBC.

Subkelompok khusus
Sindrom Hemolitik kronis

risiko

konversi

dari

asimtomatik

ke

Bakat alami batu empedu pada pasien dengan sindrom hemolitik kronik (misalnya,
sickle cell disease) berbeda dari pasien lain dengan AsGS dalam beberapa cara terjadinya.
Onset dari GS adalah pada usia muda, oleh karena itu, meningkatkan risiko seumur hidup
untuk menjadi suatu komplikasi; 50% mengalami komplikasi dalam 3- 5 tahun setelah di
diagnosis. Komplikasi batu empedu dan veno krisis oklusif dapat hadir dengan manifestasi
yang sama (nyeri, demam, leukositosis dan penyakit kuning, sehingga diagnosis
membingungkan. Bahkan, komplikasi empedu sering memicu krisis veno-occlusive. Dan
juga, operasi darurat untuk komplikasi berhubungan dengan morbiditas yang secara
signifikan lebih tinggi, mortalitas dan peningkatan jumlah rawat inap di rumah sakit.
Sebagai pilihan, kolesistektomi profilaksis dianjurkan untuk diagnosis GS sebelum ada
pengembangan gejala atau komplikasi.
Penerima Transplantasi
Pengobatan AsGS pada pasien yang menjalani transplantasi dianggap penting
karena merupakan kebutuhan untuk imunosupresi pasca operasi. Beberapa obat
imunosupresan seperti siklosporin dan tacrolimus yang pro lithogenic. Kesulitan dalam
diagnosis kolesistitis akut, karena kemungkinan terdapat tanda dan gejala yang terselubung
akibat

imunosupresi,

menyebabkan

keterlambatan

dalam

diagnosis,

dan

dapat

menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Tujuan dari kolesistektomi


profilaksis adalah untuk menghilangan fokus septik yang mungkin menyebabkan
komplikasi parah pada pasien dengan immunosupresi. Dan juga, mortalitas pada
kolesistektomi darurat telah dilaporkan lebih tinggi terjadi pada pasien dengan
imunosupresi.
Berdasarkan pertimbangan secara teoritis, penelitian terbaru pada pasien dengan
transplantasi ginjal menunjukkan tidak ada peningkatan morbiditas, mortalitas atau dengan
penatalaksanaan dari AsGS dan kolesistektomi hanya ketika mereka menjadi simtomatis.
Kao et al. melaporkan perbandingan kematian 5: 1.000 kematian untuk kolesistektomi
profilaksis setelah transplantasi jantung dibandingkan dengan angka 80: 1.000 kematian
dan 44: 1.000 kematian untuk kolesistektomi sebelum transplantasi, masing-masing. Pada
umumnya, sebagian besar studi terbaru melaporkan hasil yang baik dari penatalaksanaan
pada pasien yang menjalani transplantasi jantung dan sumsum tulang dan menyarankan
kolesistektomi setelah simtomatik itu aman.

Pemulihan Perioperatif
Pada pasien dengan AsGS yang menjalani operasi perut yang tidak terkait dengan
GS, (hingga 70%) tingginya insiden gejala batu empedu dan / atau komplikasi setelah
operasi telah dilaporkan. Ia telah mengamati bahwa kolesistektomi diperlukan hingga 40%
dari kelompok pasien ini dalam waktu satu tahun sejak operasi awal. Kolesistektomi
profilaksis pada saat operasi awal biasanya disarankan. Namun, harus dilakukan hanya jika
kolesistektomi tidak menambah risiko, pasien telah diinformasikan dan setuju untuk
prosedur tambahan; membutuhkan perencanaan untuk pembedahan dan kontraindikasi
ketika bahan prostetik sedang digunakan.
Diabetes Melitus
Dahulu, pasien dengan diabetes mellitus (DM) yang diduga berisiko tinggi untuk
terjadinya GS serta komplikasi GS seperti kolesistitis akut, dan selanjutnya morbiditas
perioperatif dan kematian dilaporkan secara signifikan lebih tinggi pada pasien dengan
DM. Hal itu juga mengarah pada neuropati otonom terkait pada orang dengan diabetes
mungkin menunda diagnosis komplikasi seperti kolesistitis akut untuk dilakukan
kolesistektomi profilaksis, oleh karena itu penelitian yang lebih baru telah membantah
sebagian anggapan ini. Analisis sebagai pertimbangan keputusan menggunakan data
terbaru menunjukkan bahwa kolesistektomi profilaksis tidak jelas manfaatnya dan tidak
rutin dianjurkan untuk penderita diabetes dengan AsGS. Hal ini didukung dengan data
yang tersedia meskipun terbatas, menunjukkan bahwa pasien AsGS dengan DM tidak
mendapatkan manfaat dari skrining untuk GS dan kolesistektomi yang seharusnya hanya
dilakukan dalam kasus-kasus cholelithiasis simtomatis, seperti halnya dari populasi umum.
Tingkat risiko operasi tambahan pada pasien yang operasi dengan riwayat DM
untuk kolesistitis akut juga telah ditinjau dan hasil studi tidak merekomendasikan
kolesistektomi pada penderita diabetes dengan AsGS untuk kolesistektomi profilaksis,
namun, sangat dianjurkan pada penderita diabetes dengan GS simtomatik dan kolesistitis
akut.
Sirosis Hepatis
Sirosis hati merupakan faktor risiko yang terdokumentasi dengan baik untuk
pembentukan GS. Ini adalah penyebab paling sering batu bilirubinate, yang paling

mungkin terjadi pada hemolisis kronis yang disebabkan oleh nekrosis hati dan
hipersplenisme. Namun, di sebagian besar pasien ini, GS tidak menunjukkan gejala dan
operasi jarang diperlukan. Ketika diindikasikan kolesistektomi, hanya untuk yang
simtomatik atau komplikasi, dikaitkan dengan risiko morbiditas tinggi pada pasien ini,
terutama pada tahap lanjut dari sirosis.
Bakat alami AsGS pada pasien dengan sirosis telah dibahas dalam beberapa
penelitian menunjukkan bahwa meskipun prevalensi AsGS tinggi dalam populasi ini,
sebagian besar pasien tidak berkembang menjadi fase simtomatik. Risiko GS menjadi
simtomatik telah dilaporkan secara signifikan lebih rendah pada pria dan pada sirosis
alkoholik dibandingkan pada wanita dengan sirosis, terutama dengan riwayat keluarga GS
dan usia lanjut. Risiko perkembangan menjadi komplikasi sangat rendah, tetapi kematian
yang terkait dengan episode akut cholecystitis tinggi. kolesistektomi insidental tidak
dianjurkan pada pasien sirosis dengan AsGS, tapi harus segera dilakukan bila gejala
datang jika terjadi setelah operasi pertama harus direkomendasikan
Batu saluran empedu
Subkelompok pasien dengan AsGS yang telah dikaitkan batu saluran empedu
dilaporkan berada pada risiko yang lebih tinggi (hingga 50%) berkembang menjadi
komplikasi yang parah, dan dengan demikian dianjurkan untuk kolesistektomi profilaksis.
Kanker Kandung Empedu
Hubungan antara GS dan GBC tetap merupakan teka-teki yang belum terpecahkan.
Kesejajaran dalam epidemiologi antara keduanya mencolok. Risiko GBC telah dilaporkan
meningkat dengan meningkatnya ukuran GS dan dengan meningkatnya jumlah batu terutama jika batu menempati volume yang besar dari GB. perubahan progresif terjadi di
dinding GB pada kolesistitis kronis, hiperplasia, metaplasia, displasia, karsinoma untuk
kanker invasif telah dilaporkan dari Chile. Insiden GBC juga dilaporkan lebih tinggi pada
pasien dengan kolesistitis xanthogranulomatous dan sindrom Mirizzi yang biasanya
berhubungan dengan penyakit GS lama. Hubungan antara GS dan GBC cenderung menjadi
kompleks, seperti terbukti dari fakta bahwa banyak daerah geografis di mana GS tidak
memiliki prevalensi tinggi menjadi GBC dan bahwa tidak semua GBC berhubungan
dengan batu (Tabel 3).

Salah satu fitur unik dari GBC adalah geografis yang sangat mencolok, etnis dan
jenis kelamin bervariasi dalam kejadian di seluruh dunia, menunjukkan pengaruh yang
kuat dari faktor genetik dan lingkungan.
Di sebagian besar negara di bagian Barat, GBC jarang. Tingkat insiden tertinggi
GBC ditemukan di India utara dan Pakistan, Asia Timur (Korea dan Jepang), Eropa Timur
(Slowakia, Polandia dan Republik Ceko) dan Amerika Selatan (Columbia dan Chile). Area
insiden rendah termasuk Eropa Barat dan Amerika Utara. Di India, GBC adalah salah satu
penyebab paling umum kematian terkait kanker pada wanita di negara bagian utara dan
utara-timur. Insiden spesifik GBC terkait usia pada wanita di Delhi bervariasi dari 8 /
100.000 sampai 48 / 100.000. Tercatat tingkat kejadian tertinggi untuk GBC di dunia
dilihat di Delhi. Jumlah di India selatan yang sangat rendah (1 / 100.000 per tahun) bila
dibandingkan. Pasien dengan GS di India utara telah dilaporkan untuk menjadi GBC pada
usia lebih dini. Di daerah dengan prevalensi tinggi, GBC adalah salah satu kanker
gastrointestinal yang paling umum, terutama pada wanita, dan memberikan kontribusi
signifikan terhadap angka kematian terkait kanker.
GBC adalah kanker yang paling sering diamati pada populasi asli Amerika Utara
dan Selatan - populasi ini juga memiliki peningkatan prevalensi GS pada
usia lebih dini. Telah dilaporkan bahwa perempuan di Amerika Utara berkembang menjadi
GBC dengan frekuensi yang lebih besar pada perokok berat berkembang menjadi kanker
paru-paru.
Mengingat prognosis buruk GBC kecuali yang didiagnosis dini dan pencegahan
mutlak dengan kolesistektomi, kasus telah dibuat untuk kolesistektomi sebagai
pencegahan, terutama pada wanita muda yang sehat dengan AsGS di India utara.
Mengingat tingkat prevalensi diperkirakan 4%, menyediakan kolesistektomi preventif
bahkan dalam satu negara (misalnya, Uttar Pradesh dengan perkiraan populasi 150 juta)
akan berarti biaya mengejutkan dan logistik tidak terkendali. Diharapkan kejadian 0,20,4% yang cedera saluran empedu (BDI) di kolesistektomi laparoskopi untuk jumlah besar
yang tidak dapat diabaikan.

Tidak ada studi prospektif tentang bakat alalmi AsGS yang diteliti dari daerah
dengan prevalensi tinggi GBC seperti India utara. Data untuk membuat estimasi kuantitatif
risiko progresifitas GBC tidak tersedia dan identifikasi yang jelas dari risiko tinggi subkelompok (penanda molekuler, karakteristik batu, dll) belum memungkinkan.
Terapi Batu Empedu Tanpa Gejala
Kolesistektomi Terbuka
Kolesistektomi terbuka (OC) adalah pengobatan standar dari GS selama lebih dari
satu abad sebelum status ini dengan cepat diambil alih oleh kolesistektomi laparoskopi.
penelitian besar dengan tidak ada atau kematian sangat rendah sering dilaporkan. Roslyn et
al. dalam studi berbasis populasi besar 42.474 pasien, melaporkan angka kematian sangat
rendah (keseluruhan - 0,17%, 0,03% pada pasien <65 tahun dan 0,5% pada pasien> 65
tahun). Tingkat BDI rendah sekitar 0,2%.
Kolesistektomi Laparoskopi
Menariknya kolesistektomi laparoskopi (LC) sangat berpengaruh terhadap
berkurangnya nyeri, dari segi cosmetik lebih baik, pemulihan awal dan lebih cepat bisa
beraktivitas kembali; telah menjadi pengobatan standar dari GS tanpa melalui kerasnya uji
coba terkontrol secara acak, untuk mengetahui kesulitan yang mungkin dihadapi oleh para
dokter bedah. keseluruhan morbiditas dan mortalitas yang sebanding dengan OC; Namun,
membingungkan, bahkan setelah lebih dari dua dekade pengalaman, tingkat BDI setelah
LC (kolesistektomi laparoskopi) pasti dan secara signifikan lebih tinggi daripada pasien
setelah OC [54-61] (Tabel 4).
Aspek yang paling terlihat dari tingkat BDI setelah LC, terlepas dari fakta bahwa
biaya lebih dari dua kali lipat setelah OC, hal ini tampaknya tidak terkait dengan 'kurva
belajar' dari ahli bedah. Di Amerika Serikat, sepertiga dari 1.600 ahli bedah mendapati BDI
selama LC. Sepertiga dari 704 luka-luka terjadi setelah 200 pasien yang dokter bedah
cholecystectomies. Di Kanada, 50% dari ahli bedah, termasuk mereka yang memiliki
pengalaman yang cukup dan mereka yang bekerja di pusat-pusat dengan jumlah pasien
besar, mengalami BDI setelah LC.

Biaya BDI sangat besar, baik dari segi uang dan trauma fisik serta psikologis untuk
pasien dan keluarga. Efek dapat berkisar dari nyata peningkatan morbiditas dari batu
empedu intra-abdominal, empedu fistula dan saluran empedu striktur gagal hati dan
hipertensi portal yang membutuhkan transplantasi hati dan bahkan kematian. Mortalitas
setelah BDI telah berkisar dari 4% sampai 9%. Kebutuhan untuk beberapa intervensi dan
meningkatnya angka rawat inap di rumah sakit mengarah ke aspek biaya yang
mengakibatkan sebagian besar pasien harus membayar mahal. Pasien-pasien ini,
kebanyakan adalah pasien sehat, dewasa muda, kebutuhan terapi seumur hidup dan
menghadapi risiko seumur hidup dan meningkatnya resiko kematian; kematian pada usia
produktif. Tidak mengherankan, telah dilaporkan bahwa kualitas hidup pasien dioperasi
karena BDI telah dilaporkan bahkan setelah perbaikan sukses pasca kolesistektomi
striktur saluran empedu. Secara personal, implikasi keluarga dan sosial dari BDI yang di
kolesistektomi biasanya tidak dibahas dalam literatur medis. Bahwa operasi tersebur
mengakibatkan malpraktek dan litigasi dan tidak akan membuat siapapun terkejut. Sebuah
studi terbaru dari Inggris, yang meneliti prevalensi dan hasil litigasi mengklaim NHS
Litigasi Authority, melaporkan bahwa cedera duktus empedu adalah klaim yang paling
umum untuk NHSLA setelah kolesistektomi laparoskopi, dan hasil dalam klaim proporsi
tertinggi sukses dan jumlah terbesar yang dibayarkan kepada petugas.

Apa yang harus kita lakukan selanjutnya?


Mempertimbangkan fakta bahwa bukti alami AsGS merupakan sesuatu yang besar
namun jinak, kejadian komplikasi rendah dan satu atau lebih episode kolik bilier
biasanya mendahului suatu komplikasi yang serius (dan sehingga memperingatkan tentang
transisi dari asimtomatik ke tahap simptomatis ketika pengobatan dilakukan), tatalaksana
dari AsGS harus di kolesistektomi dengan selektif yaitu hanya untuk subkelompok yang
berisiko tinggi (vide supra). Dengan tidak adanya data dari seluruh dunia, rekomendasi ini
tentu berdasarkan data dari penelitian yang dilakukan di Barat.
Jadi bagaimanapun mendesaknya untuk dibutuhkan eksplorasi geografis /
perbedaan etnis dalam bakat alami terjadinya AsGS dan lebih khusus mengidentifikasi
pasien yang termasuk subkelompok yang berisiko tinggi. Di negara India utara, masalah
GBC adalah sesuatu yang sangat penting dan perlu untuk mencari data dengan dasar studi
jangka panjang, khusus untuk melihat tingkat perkembangan gejala, komplikasi dan GBC
di populasi ini. Sampai data dan bukti tersebut tersedia, ahli bedah dan pasien bersamasama akan mengambil keputusan tergantung pada mereka penilaian risiko individu dan
pilihannya. Pasien pasti harus mitra menyadari dalam keputusan Setelah menjelaskan
risiko dan intervensi pasti ada manfaat langsung, tetapi memiliki risiko yang juga
berbahaya. Ada beberapa kasus yang disarankan untuk dilakukan pencegahan (untuk GBC)
kolesistektomi dalam muda (20-an atau 30-an) pasien dengan GS memiliki jumlah yang
besar di India utara tetapi, samapai saat ini tidak ada data atau bukti yang mendukungnya.
dalam beberapa waktu dekat yang lalu Cochrane database Systematic Review
(2007) mengamati berikut:
-

Tidak ada penelitian yang membandingkan kolesistektomi versus tanpa

kolesistektomi pada pasien dengan GS tanpa gejala (Asimtomatik).


Evaluasi lebih lanjut dari studi observasional, dengan keadaan akhir seperti
ikterus obstruktif, GS yang berhubungan dengan pankreatitis dan / atau GBC
untuk durasi yang cukup dari tindak lanjutan, diperlukan sebelum perancangan
penelitian untuk mengevaluasi apakah kolesistektomi atau tidak kolesistektomi
yang dianggap lebih baik untuk GS asimtomatik. 'Ketersediaan kolesistektomi
laparoskopi seharusnya tidak memperluas indikasi untuk pengangkatan kandung
empedu. NIH Consensus Conference Report 1993.