Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lingkungan hidup merupakan satu kesatuan yang membentuk suatu wilayah (ekosistem),
didalamnya meliputi lingkungan alam hayati, non hayati dan buatan serta sosial. Kesatuan ruang
dengan semua benda, daya keadaan, makhluk hidup, termasuk didalamnya

manusia dan

perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta


makhluk hidup lainnya (UU no. 4/1982/tentang pokok pengelolaan lingkungan hidup).
Kerusakan lingkungan telah menjadi keprihatinan banyak pihak, baik di dalam negeri
maupun oleh dunia inernasional. Hal ini ditandai dengan meningkatnya bencana alam seperti
bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan yang semakin meningkat. Rendahnya daya dukung
Daerah Aliran Sungai ( DAS) sebagai suatu ekosistem di duga merupakan salah satu penyebab
utama terjadinya bencana alam yang terkait dengan air (water related disaster) tersebut.
Kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan sumber daya alam sebagai akibat dari
pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurang
keterpaduan antar sektor antar wilayah hulu-tengah-hilir, terutama pada era otonomi daerah.
Pada era otonomi daerah sumber daya alam ditempatkan sebagai salah satu sumber pendapatan
asli daerah (PAD).
Berdasarkan Pola Pengelolaan Sumberdaya Air WS Brantas merupakan Wilayah Sungai
terbesar kedua di Pulau Jawa, terletak di Propinsi Jawa Timur pada 11030 BT sampai 11255
BT dan 701 LS samp ai 815 LS. Sungai Brantas mempunyai panjang 320 km dan memiliki
luas wilayah sungai 14.103 km2 yang mencakup 25% luas Propinsi Jawa Timur atau 9%
luas Pulau Jawa. WS Brantas terdiri dari 4 (empat) Daerah Aliran Sungai (DAS) yaitu DAS
Brantas, DAS Tengah dan DAS Ringin Bandulan serta DAS Kondang Merak.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Bagimana kondisi fisik lingkungan sungai brantas?
2. Bagimana respon penduduk terkait dengan kondisi sungai brantas?
3. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan lingkungan sungai brantas?
1

4. Bagaimanakah perilaku masyarakat sekitar terkait dengan kerusakan lingkungan yang


terjadi disekitar DAS Brantas?
5. Bagaimana cara masyarakat sekitar sungai brantas menjaga lingkungan sungai dari
kerusakan?
6. Bagimana solusi dari masyarakat sekitar dan pemerintah terkait dengan kerusakan
tersebut?
C. Tujuan
Adapun tujuan dalam penelitian makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kondisi fisik lingkungan sungai brantas
2. Untuk mengetahui respon penduduk dengan terkait dengan kondisi sungai brantas
3. Untuk mengetahui factor-faktor yang menyebabkan kerusakan lingkungan sungai
brantas
4. Untuk mengetahui perilaku masyarakat sekitar terkait dengan kerusakan lingkungan
yang terjadi disekitar DAS Brantas
5. Untuk mengetahui cara masyarakat sekitar sungai brantas menjaga lingkungan
sungai dari kerusakan
6. Untuk mengetahui solusi dari masyarakat sekitar dan pemerintah terkait dengan
kerusakan tersebut

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kondisi Fisik Lingkungan Sungai Brantas
Kondisi sungai Brantas sangat memprihatikan sekali. Apalagi keadaan sungai
yang semakin lama semakin melebar, serta kualitas air yang dimiliki sungai sudah dalam
keadaan yang tak layak konsumsi. Selain itu terdapat banyaknya sampah yang berserakan
di pinggir sungai. Selain sampah limbah kotoran hewan, limbah rumah tangga juga
banyak dibuang ke sungai Brantas, apalagi hal ini dilakukan setiap harinya. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam mencermati kondisi fisik lingkungan sungai Brantas antara
lain :
Kondisi Lahan/Topografi
Lokasi penelitian yang berada di titk ke-6 sekitar DAS Brantas yang terdapat di
Kelurahan Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang merupakan lokasi yang sering
terjadi banjir pada saat sungai meluap. Dilihat dari kondisi fisiknya, pemukiman RW 3,5
dan 8 tersebut berada di lereng sungai yang kemiringannya kira-kira hampir 30. Lahan
yang ada kebanyakan sudah padat dengan pemukiman. Dengan kondisi yang kurang
datar, bisa bergelombang atau permukaan yang tidak sama di tiap titik. Antara tebing
sungai dan pemukiman kurang leih 1-2 meter. Sedangkan tinggi tebing sungai kira-kira 2
meter, dan di jarak antara tebing dan batas air sungai adalah sekitar 4 meter. Pada dasar
sungai, kebanyakan terdiri dari pasir yang berasal dari erosi sungai. Tebing sungai masih
berbentuk dari tanah liat bukan semen.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu narasumber, lokasi pengamatan
dulunya adalah rawa-rawa yang berada di pinggir sungai tersebut. Namun, karena seiring
perkembangan zaman, rawa-rawa tersebut ditimbun dan dibangun pemukiman penduduk.

Kualitas Air
Air merupakan komponen utama yang terdapat di lingkungan daerah aliran

sungai. Beberapa aspek yang dapat dilihat mengenai karakteristik air mana yang baik atau
tercemar dapat dilihat dari bau, warna dan kandungan zat kimianya. Dilihat dari
kandungan zat kimianya, pada pengamatan yang telah dilakukan kandungan zat kimia
dilihat dengan alat yang sederhana yaitu kertas lahmus untuk mengukur tingkat keasaman
air sungai. Sehingga akan diketahui bagaimana kelayakan air dapat digunakan oleh
3

masyarakat sekitar. Adapun beberapa kriteria air yang baik dikonsumsi manusia adalah
sebagai berikut :
1. Air harus jernih atau tidak keruh.
2. Tidak berwarna.
3. Rasanya tawar
4. Derajat keasaman (pH) nya netral sekitar 6,5 8,5
5. Tidak mengandug zat kimia beracun, misalnya arsen, timbal, nitrat, senyawa
raksa, senyawa sulfida, senyawa fenolik, amoniak serta bahan radioaktif.
6. Kesadahannya rendah.
7. Tidak boleh mengandung bakteri patogen seperti Escheria coli , yaitu bakteri
yang biasa terdapat dalam tinja atau kotoran.
Berdasarkan hasil pengamatan dan uji kertas lahmus pada tiap sampel
yaitu sampel air untuk sungai dan sampel untuk air sumur yang berada di sekitar
DAS Brantas adalah 6 untuk pH air sungai dan 7 untuk pH air sumur. Hal tersebut
menandakan bahwa kandungan pH pada air sungai memiliki tingkat keasaman
yang tinggi sehingga tidak cocok untuk konsumsi masyarakat sekitar. Sedangkan
untuk air sumur, tingkat keasamannya sudah sesuai dengan kriteria. Dengan
mengukur pH selain kita dapat mengetahui rasa dan kandungan air hasil cucian
atau limbah sampah, dapat juga mengambil kesimpulan bahwa patogen atau
bakteri yang berbahaya atau menimbulkan penyakit banyak berkembang didaerah
sungai.

Gambar 1: ph menujukan 7

Gambar 2: : pH

menujukan 6

Masyarakat kini sudah beralih pada air galon atau air PDAM untuk
kegiatan sehari-hari. Namun di lokasi penelitian terdapat sumur atau sumber yang
sejak dari dulu dijaga oleh warga sekitar agar tidak tercemar. Lokasinya berada
dipertengahan kampung, namun kondisinya kurang baik karena kurang
perawatan. Padahal kondisi airnya sangat jernih dan bertahun-tahun pula
digunakan warga untuk mandi, cuci dan lain-lain.meskipun banyak membantu
masyarakat, namun apresiasi warga belum cukup atau kurang sehingga

diharapkan air dapat selalu dimanfaatkan dan tidak habis.


Tanaman Sepanjang Aliran Sungai
Berdasarkan hasil pengamatan, beberapa karakteristik tanaman atau
tumbuhan yang terdapat di sekitar DAS Brantas (lokasi penelitian) adalah bambu,
5

pohon pisang, pohon pepaya, srikaya, dan lainnya. Kebanyakan tanaman yang ada
adalah tanaman tingkat sedang. Menurut narasumber, tanaman-tanaman tersebut
memang sengaja ditanam oleh penduduk sekitar untuk mengurangi erosi pada
tebing sungai.

Pada masa dulu, kebanyakan tanaman masih didominasi oleh tanaman


bambu. Namun setelah pembangunan pemukiman makin banyak, maka bambubambu tersebut ditebang dan dibabat habis agar tidak mencederai anak-anak.
Namun hal tersebuit menyebabkan erosi tetap terjadi dan masyarakat belum
mengerti. Menurutnya solusi dari permasalahan adalh dibuatnya tanggul atau

plengsengan. Namun hal tersebut masih belum ditanggapi dinas Perairan.


Kondisi Bangunan
Pembangunan disekitar daerah sungai Brantas sangat pesat. Mulai dari

pembangunan pemukiman, pabrik es, jembatan, dam dan lain-lain. Kebanyakan


pemukiman penduduk yang memadati daerah sekitar aliran sungai Brantas. Tanpa
memperhatikan ketentuan umum yang harus ditaati yaitu sekitas 7 meter dari DAS
Brantas, banyak para kontraktor rumah yang menjual tanah bahkan sampai 2 meter ke
arah DAS Brantas. Hal tersebut tidak menjadi pertimbangan khusus bagi pembeli
karena memang harga yang ditawarkan murah. Berdasarkan dari keterangan narasumber
pun, kebanyakan rumah yang ada didaerahnya memang bangunan baru dan hanya
sedikit orang yang tinggalnya lama dan itupun jaraknya lumayan jauh dari DAS
Brantas.
6

Beberapa proyek baru sedang dikembangkan dan diajukan oleh warga sekitar
yaitu pembuatan tanggul atau pelengsengan tebing sungai untuk mengurangi erosi air
sungai. Menurut mereka, arus sungai memang sangat deras apalagi kondisi morfologi
sungai yang berkelok sehingga erosi yang terbesar adalah daerah belakang belokkan.
Namun hal tersebut tidak ada kiemajuan atau tanggapan dari dinas Perairan yang ada
pada beberapa tahun yang lalu setiap hujan mengguyur atau daerah hulu hujan maka
yang terkena limpasannya adalah daerah hilir yaitu dengan banjir yang hampir setengah
meter pada tahun 2009. Berbeda dengan keadaan daerah sisi yang lain yaitu Kelurahan
Samaan, beberapa tanggul sudah dibuatkan karena memang kondisi permukaan
tanahnya lebih rendah daripada lokasi penelitian.
Pemanfaatan oleh Masyarakat
Dalam kesehariannya, DAS Brantas memberikan sedikit banyak kontribusi
terhadap kehidupan masyarakat. Baik sebagai sumber air atau daerah limpasan air hujan
DAS memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar dengan pasir yang dibawa oleh
aliran sungai. Beberapa warga mengambil pasir dengan peralatan yang sederhana yaitu
cangkul dan tembayan yang terbuat dari bambu. Mereka terus mengumpulkannya dan
ketika sudah banyak maka akan dijualnya ke pengepul. Menurut mereka, kegiatan yang
mereka lakukan tidak merusak lingkungan sungai. Namun pada dasarnya, dengan
kegiatan tersebut maka masyarakat akan menambah luas erosi yang terjadi di DAS
Brantas. Meskipun kegiatan tersebut tidak dilakukan setiap waktu, namun ada baiknya
hal tersebut juga dipikirkan secara bijaksana.
Selain bisa ditambang, masyarakat dengan sengaja menggunakan sungai sebagai
tempat pembibitan ikan air tawar yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Dengan begitu
masyarakat akan memperoleh keuntungan darinya dan menjadi hiburan tersendiri bagi
masyarakat sekitar. Namun memang beberapa oknum manusia tidak menghiraukan
tersebut sehingga dikhawatirkan kerusakan sungai akan mengganggu habitat ikan yang
ada.
Limbah rumah tangga sangat umum di buang di daerah sungai brantas karena
penduduk menganggap sungai merupakan jalan yang terbaik untuk membuang dan
dianggap aman. Padahal hal ini bisa merugikan saudara kita yang berada di daerah hilir
sungai brantas yang kesehariannya masih tergantung pada sungai ini. Limbah rumah
tangga yang sering dibuang yaitu air bekas mandi, bekas nyuci, pampers, bahkan pil KB.
7

Penduduk beralasan jika pampers tidak dibuang ke sungai atau dibuang ke tempat
pemungutan sampah, ditakutkan pampersnya terbakar. Hal ini yang sering dijadikan
alasan warga yang kepergok membuang sampah pampers khususnya di sungai brantas.
Selain limbah tersebut bisanya pil KB sering dibuang ke sungai, walaupun barangnya
sangat kecil, bahkan tidak kelihatan, tetapi efek dari pil KB mampu menimbulkan banyak
masalah yang besar. Hal ini disebabkan kandungan dalam pil KB banyak mengandung
zat-zat kimia, sehingga sangat berbahaya. Hal ini juga sudah diketahui oleh ketua RW,
dan ketua RW sudah melakukan sosialisasi terhadap penduduknya supaya tidak
membuang pil KB di daerah sungai. Bahkan sudah dijadikan larangan keras, bagi warga
setempat. Selain itu, juga sudah ada denda yang harus di bayar penduduk setempat jika
terpergoki sedang membuang sampah atau limbah ke sungai.
B. Respon Penduduk Terhadap Kondisi Sungai
Pada dasarnya penduduk juga mengetahui kondisi lingkungan sungai brantas
tersebut. tetapi mau dikata apa lagi, sungai ini harus membutuhkan kerja sama dari pihak
yang terkait, termasuk dari daerah hulu, tengah, dan hilir sungai tersebut. Penduduk juga
mengeluh tentang kondisi sungai tersebut, salah satu keluhannya yaitu bau dari sungai
yang menyengat, akibat warna sungai yang keruh, banyaknya sampah yang mampu
menimbulkan kombinasi terhadap kondisi warna sungai.
Menurut Pak Usamah (48 tahun) warga desa sekitar, kondisi sungai dari ini
semakin lama semakin parah, hal ini bisa dilihat dulu sekitar tahun 80 an sungai ini masih
tergolong sungai kecil, dan memiliki kondisi kualitas air yang baik. Sehingga airnya
dimanfaatkan penduduk sekitar untuk mencuci, mandi, dan bahkan digunakan untuk
keperluan sehari-hari yang lain. Tetapi, sekarang ini mengalami kondisi yang sangat
bertolak belakang dengan keadaan dulu. Sungai brantas ini mengalami keadaan yang
semakin lama semakin melebar, dan kondisi kualitas airnya tak layak digunakan. Jika
kondisi ini tidak mendapatkan respon dari pihak yang terkait maka tidak mungkin kondisi
sungai ini akan membawa dampak yang serius dan mampu membahayakan nyawa
manusia yang berada didekatnya. Salah satunya adanya keterkaitan antara penduduk hulu
(Batu, dan sekitarnya), penduduk tengah (kelurahan Penanggungan RW 3,5, dan 8), dan
daerah hilir (daerah Surabaya sekitarnya). Jika daerah bagian hulu tidak segera menyadari
akan kehancuran dan kerusakan lingkungan sungai maka kondisi sungai semakin parah
8

lagi, salah satunya yaitu membuang sampah, membuang limbah, dan membuang limbah
pabri banyak dilakukan oleh daerah hulu. Sehingga mampu memicu kondisi sungai
semakin parah.
C. Faktor-Faktor Penyebab Kerusakan
Faktor-faktor yang mampu menyebabkan kerusakan lingkungan di sungai brantas antara
lain:
1. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan sungai
2. Belum adanya kesadaran tentang rasa memiliki sungai
3. Kurangnya sosialisasi terkait dengan kerusakan sungai
4. Kurangnya perhatian dari pihak pemerintah terkait dengan kondisi masyarakat di
sekitar sungai Brantas
D. Menjaga Kelestarian Sungai
Penduduk sekiar menjaga kelestarian sungai dengan cara sebagai berikut:
1. Adanya sosialisasi untuk gotong royong membersihkan sungai dari sampah
2. Adanya sosialisasi untuk menanam pohon, walaupun itu berupa pohon pisang. Alasan
mereka menanam pohon pisang yaitu pohon pisang lebih kuat menahan dan
menopang kondisi air sungai brantas ketika banjir daripada dengan pring atau bambu
yang dulu ada disekitar bantaran sungai brantas ini. Alasan mereka tidak
menggunakan pring atau bamboo yaitu banyaknya anak kecil di daerah pemukiman
penduduk, sehingga kondisi pring memungkinkan untuk berkembang biaknya ular,
ditakutkan penduduk sekitar akan mengganggu kehidupan mereka.
3. Adanya penebaran ikan disungai untuk menjaga kebersihan sungai dari hama-hama
atau jentik-jentik penyakit, misalnya nyamauk yang paling berpotensi menyebabkan
timbulnya berbagai penyakit seperti DB, Malaria, dan lain-lain.
4. Adanya tempat pemancingan, di daerah sungai brantas, selain membantu membunuh
jentik-jentik, tempat ini juga mampu dijadikan penduduk sekiat sebagai ajang refleksi
dan kesenangan menyalurkan hobinya yaitu memancing ikan di sungai.
5. Adanya larangan kerasa untuk membuang limbah pil KB di sungai, dan sampah
disungai. Jika ketahuan atau kepergoki telah membuang sampah disungai maka akan
dikenai denda.
E. Solusi Dari Masyarakat Setempat Dan Pemerintah
Dalam pengaturan tentang pengairan atau yang termasuk ke dalam pengaturan DAS
pemerintah memiliki andil cukup besar dalam pemanfaatan dan kelestariannya. Lembaga daerah
yang mengatur tentang hal tersebut adalah Dinas Pengairan. Aturan lain yang mengatur tentang
9

pengelolaan sumberdaya air adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No : 67/ PRT/ 1993
tentang Panitia Tata Pengaturan Air Propinsi Daerah Tingkat I yang mengatur pembinaan tentang
pemilikan, penguasaan, pengelolaan, penggunaan, pengusahaan dan pengawasan atas air beserta
sumbersumbernya termasuk kekayaan alam di dalamnya. Selanjutnya aturan ini ditindaklanjuti
dengan Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Timur No 59 tahun 1994 tentang
Pembentukan Panitia Tata Pengaturan Air Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur. Tugas dan
fungsi pokok dari Dinas Pekerjaan Umum dan Pengairan dituangkan dalam Perda Propinsi Jawa
Timur No 23 tahun 2000.
Pada kenyataannya, pemerintah memang sudah mengatur dan memberikan penyuluhan
dan sosialisasi akan pentingnya kelestarian ekosistem kepada masyarakat sekitar DAS Brantas.
Beberapa penyuluhan dilakukan hanya beberapa kali saja. Sedangkan tindakan tegas oleh dinas
tersebut kepada masyarakat yang melanggar atau merusak lingkungan belum ada secara nyata.
Sedangkan para pemimpin desa juga hanya bisa melarang masyarakat atau memberikan larangan
lisan. Dan mereka juga tidak mampu mengatasi prilaku masyarakat yang sewenang wenang
tersebut. Pemda juga tidak selalu mengawasi dan mampu menertibkan prilaku masyarakat
tersebut.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka masyarakat sekitar berinisiatif memberlakukan
peraturan sendiri terkait dengan prilaku masyarakat yaitu dengan iuran 500 rupiah tiap rumah.
Meskipun tidak semua diberikan tempat untuk pembuangan sampah, namun masyarakat tetap
membuang sampah di sungai pada malam hari.

10

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan
yang bisa dilihat adalah sebagai berikut :
1. Lokasi penelitian yaitu titk ke-6 sekitar DAS Brantas yang terdapat di Kelurahan
Penanggungan Kecamatan Klojen Kota Malang adalah salah satu daerah yang memiliki
kualitas lingkungan yang kurang baik. Dilihat dari kondisi fisiknya, pemukiman RW 3,5
dan 8 tersebut berada di lereng sungai yang kemiringannya kira-kira hampir 30. Hal
tersebut mengakibatkan lokasi pengamatan menjadi rawan terkena limpasan air sungai
saat meluap.
2. Respon masyarakat terhadap kerusakan lingkungan disana lumayan baik, meskipun
beberapa warga masih kurang peduli terhadap kebersihan sungai dan sekitarnya.
Masyarakat

kebanyakan

bergotong

royong

dan

berinisisatif

sendiri

untuk

memberdayakan lingkungannya salah satunya untuk kolam ikan.


3. Faktor-faktor yang menentukan kerusakan pada sungai Brantas adalah selain karena
faktor alam yaitu erosi yang sangat tinggi, namun tidak diimbangi perilaku masyarakat
yang kurang baik.
4. Masyarakat sudah

berusaha

memperbaiki

lingkungan

mereka

dengan

cara

memperhatikan kebersihan, memberikan himbauan kepada warga, dan pengadaan tempat


sampah bagi warga dan tempat pembuangan limbah rumah tangga ke temapt yang lain.
5. Peran pemerintah dalam pencegahan dan penanggulangan kerusakan lingkungan yang
terjadi pada DAS Brantas dengan menghimbau warga saja namun belum langsung tepat
pada maslahnya. Mereka hanya datang pada saat-saat tertentu, dan dari Dinas Pengairan
pun kurang tanggap akan keinginan warga yaitu untuk pembuatan tanggul plengsengan
seperti kelurahan sisi sungai satunya yaitu Samaan.
B. Saran
Setelah mengetahui ulasan mengenai kerusakan lingkungan yang terjadi di DAS
Brantas, diusahakan kita sebagai manusia yang masih bergantung pada alam dan
membutuhkan alam untuk kelangsungan manusia sendiri hendaknya lebih membangun
jiwa atau kesadaran diri mengenai kebersihan dan upaya untuk menyeimbangkan kondisi
alam yang ada salah satunya adalah sungai. Dengan begitu, alam tidak akan bermasalah
dan tentunya manusia juga tidak akan tertimpa musibah.
11

DAFTAR PUSTAKA
http://www.ut.ac.id/html/suplemen/espa4213/espa4213a/sub2_8.htm
http://filterpenyaringair.com/7-indikator-tanda-air-yang-sehat/
Perda Kota Malang Tentang Tata Ruang Kota

12