Anda di halaman 1dari 15

PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA

JUDUL PROGRAM
Penerapan MOL (Mikroorganisme Lokal) dari Bonggol Pisang ( Musa paradisiaca )
sebagai Biostarter dalam Pembuatan Kompos

BIDANG KEGIATAN PKM- P

Diusulkan oleh :

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


SURAKARTA
2009

PROPOSAL
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA PENELITIAN
(PKM-P)
a.

JUDUL
PENERAPAN MOL (MIKROORGANISME LOKAL) DARI BONGGOL PISANG
(Musa paradisiaca) SEBAGAI BIOSTARTER DALAM PEMBUATAN KOMPOS.

b. LATAR BELAKANG MASALAH


Produktivitas padi yang menurun harus diimbangi dengan meningkatnya
kebutuhan pupuk kimia yang berfungsi meningkatkan kesuburan tanah. Di Ciamis petani
menggunakan urea sampai tiga kuintal per 100 bata yang menghabiskan dana setengah
juta. Dana sebesar ini memposisikan petani menjadi pihak yang tidak bisa mentukan
harga produknya, hal in yang menyebabkan petani selalu miskin (Tarmo : 2008).
Kelangkaan pupuk juga terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Para petani
mengaku dari jatah pupuk bersubsidi masih mengalami kekurangan 25 ton dari kebutuhan
86 hektar padi. Kekurangan utamanya jenis ZA yang susah diodapatkan, padahal pupuk
ZA merupakan tahap terakhir pemupukan setelah urea (Anonim : 2009).
Untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut harus ditemukan solusinya,
karena itulah kami mengambil topik penerapan mol (mikroorganisme lokal) dari binggol
pisang sebagai bio starter dalam pembuatan kompos untuk di teliti. Untuk mengatasi
kekurangan pupuk ZA kita bisa mengantinya dengan kompos. Bagi petani kompos
merupakan pupuk yang sering diaplikasikan ke lahan dan untuk membantu proses
dekomposisi bahan bahan organik menjadi kompos diperlukan dekomposer atau starter.
Berbagai macam bahan starter beredar di pasara (misal EM4). Untuk mengganti starter
kimia maka dipergunakan biostarter yaitu mol (mikroorganisme lokal) dari bonggol
pisang dalam pembutan kompos organik yang berasal dari bahan bahan yang ada di
sekitar kita tanpa mengeluarkan banyak biaya, sehingga petani bisa menambah
penghasilan.
Mol (mikroorganisme lokal) merupakan sekumpulan mikroorganisme yang bisa
diternakkan, fungsinya dalam konsep zero waste sebagai starter (mempercepat
pengomposan) dalam pembuatan kompos organik. Dengan mol ini maka konsep
pengomposan ini dapat selesai dalam waktu tiga minggu. Mol ini berasal dari bonggol
pisang (Musa parasidiaca) karena mudah ditemukan di sekitar masyarakat dan kurang
dimanfaatkan secara maksimal. Bonggol pisang cukup banyak mengandung karbohidrat
(66,2%), maka pemanfaatannya sebagai bahan makanan (pengganti beras dan gandum
paling sederhana) dan juga dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan alcohol
(Munadjim, 1983).
Komposnya terbuat dari jerami yang mudah ditemukan dan kurang dimanfaatkan.
Bandingkan jika jerami itu didiamkan saja dan alam yang memproses, diperlukan waktu
empat bulan, baru jerami itu menjadi kompos. Jadi kita menghemat waktu lebih dari tiga
bulan ( Vidi Januardani : 2009)
Pengelolaan lahan pertanian ramah lingkungan melalui pemanfaatn
mikroorganisme lokal (mol) dalam pembuatan kompos diharapkan mampu memelihara

kesuburan tanah, meningkatkan populasi mikroba tanah dan kelestarian lingkungan


sekaligus dapat mempertahankan atau meningkatkan produktivitas tanah. Apalagi
pembuatan kompos ini mengutamakan penggunaan bahan organik dan pendaurulangan
sampah rumah tangga yang difermentasikan oleh mol sebagai dekomposernya ( Anonim :
2008 )
Diharapkan dengan adanya bio starter mol dapat mengurangi ketergantungan
masyarakat terhadap starter kimia dan mengurangi sampah organik di sekitar guna
dimanfaatkan sebagai bahan pembutan kompos yang hasilnya dapat dipergunakan dalam
pertanian yang menghemat biaya pula.
c.

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang massalah di atas dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut :
1. Bagaimana cara memanfaatkan bonggol pisang (Musa paradisiaca) menjadi mol
yang akan digunakan sebagai bio starter?
2. Bagaimana cara membuat kompos organik dengan bio starter yang hemat biaya dan
ramah lingkungan?

d. TUJUAN
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan baku pembuatan MOL ( Mikro
Organisme Lokal ) yang mudah ditemukan di masyarakat.
2. Membuat MOL ( Mikro Organisme Lokal ) bonggol pisang sebagai starter dalam
pembuatan kompos.
3. Mengaplikasikan MOL bonggol pisang sebagai biostarter dalam pembuatan kompos.
4. Megurangi ketergantungan masyarakat terhadap starter kimia.
e.

LUARAN YANG DIHARAPKAN


Luaran yang diharapkan dari program ini adalah :
1. Produk berupa MOL yang digunakan sebagai biostarter dalam pembuatan kompos
dan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap starter kimia.
2. Produk kompos yang dibuat dengan biostarter MOL bonggol pisang.

f.

KEGUNAAN
Kegunaan dari program ini adalah :
1. Memberi alternatif starter dalam pembuatan kompos dengan pemanfaatan bonggol
pisang yang diolah menjadi MOL.
2. Menumbuhkembangkan aplikasi ilmu-ilmu bioteknologi berbasis mikroba yang
dikemas secara sederhana sehingga bisa dinikmati masyarakat.

g.

TINJAUAN PUSTAKA
1. BIOSTARTER
Bioaktivator adalah suatu campuran senyawa yang berfungsi sebagai biostimulans
yang dapat merangsang kerja bakteri untuk menguraikan hidrokarbon minyakbumi yang
masuk ke dalam lingkungan laut. Prinsip kerjanya adalah mengimbangi munculnya
defisiensi nutrisi akibat kelebihan hidrogen dan karbon dalam lingkungan laut. Dengan

bioaktivator tersebut, lingkungan laut mengalami keseimbangan kembali unsur-unsur gizi


yang diperlukan oleh biota dan ekosistem untuk melanjutkan proses regenerasinya.
Upaya membuat suatu formula bioaktivator telah dilakukan di Universitas Hasanuddin
sejak sepuluh tahun yang lalu. Saat ini formula tersebut, Bioaktivator UH-1 (BUH-1),
telah digunakan untuk berbagai kajian in-vitro dalam mendegradasi minyakbumi dalam
lingkungan laut. Hasil kajian menunjukkan adanya prospek yang baik untuk
dikembangkan lebih jauh. Dalam waktu 336 jam, BUH-1 terbukti mendegradasi
minyakbumi 240 persen lebih besar dibanding dengan tanpa penggunaan BUH-1 tersebut
(Damma, 1993). Kondisi yang sama untuk lingkungan sungai bahkan menghasilkan
penambahan kemampuan mendegradasi menjadi lima kali lipat (Edward, 1995).
Penelitian aplikasi sedang dipersiapkan dan menunggu kesempatan riset terapan yang
memadai. Bantuan dan kerjasama dengan pihak-pihak terkait mutlak diperlukan Contohcontoh biostarter antara lain stardec dan EM-4 ( Alvian noor : 2003).
EM-4 adalah kultur campuran dari mikroorganisme yang menguntungkan bagi
pertumbuhan tanaman. Sebagian besar mengandung mikroorganisme Lactobacillus sp.
bakteri penghasil asam laktat, serta dalam jumlah sedikit bakteri fotosintetik
Streptomyces sp. dan ragi. EM-4 mampu meningkatkan dekomposisi limbah dan sampah
organik, meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman serta menekan aktivitas serangga
hama dan mikroorganisme patogen.
EM-4 diaplikasi sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman dan populasi
mikroorganisme di dalam tanah dan tanaman, yang selanjutnya dapat meningkatkan
kesehatan, pertumbuhan, kuantitas dan kualitas produksi tanaman secara berkelanjutan.
EM-4 juga dapat digunakan untuk mempercepat pengomposan sampah organik
atau kotoran hewan, membersihkan air limbah, serta meningkatkan kualitas air pada
tambak udang dan ikan.
EM4 sendiri mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri
fotosintetik dan jamur pengurai selulosa. Bahan untuk pembuatan bokashi dapat
diperoleh dengan mudah di sekitar lahan pertanian, seperti jerami, rumput, tanaman
kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergajian. Namun bahan yang paling baik
digunakan sebagai bahann pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi
yang sangat baik untuk mikroorganisme. Keuntungan em-4 antara lain ;
1. Memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
2. Meningkatkan ketersediaan nutrisi tanaman, serta menekan aktivitas serangga hama
dan mikroorganisme patogen.
3. Meningkatkan dan menjaga kestabilan produksi tanaman dan menjaga kestabilan
produksi.
4. Mempercepat proses fermentasi pada pembuatan Kompos. kompos yang dibuat
dengan teknologi EM disebut dengan BOKASHI.
5. Memperbaiki komposisi dan jumlah mikroorganisme pada perut ternak sehingga
pertumbuhan dan produksi ternak meningkat (Songgolangit : 2008).
2. BONGGOL PISANG
Tanaman ini banyak ditemukan di Indonesia, terutama, di daerah yang banyak
mendapat sinar matahari. Pohon pisang bisa mencapai ketinggian 3 m. Batangnya yang
berupa batang semu berpelepah berwarna hijau sampai coklat.

Tumbuhan ini berdasarkan klasifikasi ilmiahnya tergolong dalam keluarga besar


Musaceae, sebagaimana penggolongan dari tingkat Kingdom hingga species berikut ini:

Kingdom
: Plantae

Division
: Magnoliophyta

Class
: Liliopsida

Orde
: Zingiberales

Family
: Musaceae

Genus
: Musa

Species
: Musa Paradisiaca
(Tjiptrosoepomo Gembong : 1989)
Jantung pisang yang merupakan bunga pisang berwarna merah tua keunguan. Di
bagian dalamnya terdapat bakal pisang. Bonggol pisang, yakni bagian terbawah dari
batang semu yang berada di dalam tanah, mengandung banyak cairan yang bersifat
menyejukkan dan berkhasiat menyembuhkan Kandungan & manfaat: Pisang bersifat
mendinginkan. Zat tanin pada pisang bersifat antiseptik, sedangkan zat saponin
berkhasiat mengencerkan dahak. Pisang, terutama pisang raja, mengandung kalium yang
bermanfaat melancarkan air seni. Selain itu, juga mengandung vitamin A, B, C, zat gula,
air, dan zat tepung ( Rosy : 2005)
Zat mineral yang terkandung dalam bonggol pisang antara lain :
Tabel 1. Daftar Komposisi Bahan Makanan
Kalori Protein Lemak Hidrat Ca
P
Fe
Vitamin Air
(si)
(si)
(mg)
(mg)
(mg)
(mg)
(%)
arang
(mg)
(mg)
Basah
43
0,6
11,6
15
60
0,5
0,01
12
86
kering 245
3,4
66,2
60
150
2
0,04
4
20
(Daftar Komposisi Bahan Makanan, Dir. Gizi, 1979).
Berdasarkan komposisi kimia bonggol pisang tersebut maka bonggol pisang dapat
dipergunakan sebagai bahan makanan yang cukup baik, karena bonggol pisang cukup
banyak mengandung karbohidrat (66,2%), maka pemanfaatannya sebagai bahan makanan
(pengganti beras dan gandum paling sederhana) dan juga dapat digunakan sebagai bahan
baku pembuatan alkohol. Alkohol tersebut dapat berfungsi sebagai pengganti bahan bakar
minyak (BBM). Alkohol yang diperoleh tersebut juga dapat dipergunakan sebagai bahan
industri kimia, bahan kecantikan dan kedokteran (Munadjim : 1983).
Sumber Pati/Hidrat arangBonggol pisang basah mengandung kira-kira 11% pati.
Pati ini dapat dipisahkan dengan metode pengepresan. Bonggol pisang yang masih segar
dihancurkan/diparut dengan mesin penghancur (parut), kemudian dimasukkan ke dalam
mesin pengepres. Pati akan mengendap dan airnya ditampung dalam bejana untuk
diendapkan. Pati yang diperoleh dikeringkan hingga bebas air. Pengeringan dapat
dilakukan dengan sinar matahari atau dengan alat khusus. Agar pati tidak lekas rusak,
maka pengeringan dilakukan secepat mungkin ( Anonim : 2009 ).
3. MOL
Mikroorganisme lokal (MOL) adalah aktivator atau starter kompos yang
diperlukan untuk mempercepat pengomposan namun dibuat sendiri dan berasal dari

sampah organik rumah tangga. Keunggulanan penggunaan MOL tentu saja karena murah
meriah tanpa biaya
MOL adalah kumpulan mikro organisme yang bisa diternakkan, fungsinya
dalam konsep zero waste adalah untuk starter pembuatan kompos organik. Dengan MOL
ini maka konsep pengomposan bisa selesai dalam waktu 3 mingguan.
Cara-cara lain dalam membuat mol misal dari bahan sampah dapur yang mudah
membusuk, sayur kemarin yang basi. Bisa juga dari bahan lain misalnya keong sawah
yang ditumbuk, buah nenas yang busuk. Tinggal pilih bahan yang paling mudah didapat
disekitar kita. Setelah bahan dipilih dari salah satu di atas, kemudian dimasukkan ke
dalam drum plastik, dan diberi air, hingga bahan tenggelam. Setelah 4 atau 5 hari MOL
ini sudah bisa dipakai.
Selain untuk starter kompos, MOL bisa juga dipakai untuk pupuk cair dengan
cara diencerkan terlebih dahulu, 1 bagian MOL dicampur 15 bagian air ( Vidi
Januardani : 2009)
Tiga bahan utama yang menyusun mol adalah :
1. Karbohidrat : Bisa dari Air cucian beras (Tajin), nasi bekas (basi), singkong, kentang,
gandum. Bahan yang paling sering digunakan adalah air tajin.
2. Glukosa : bisa dari gula Merah bata diencerkan dengan air(diulek sampai halus) , bisa
dari cairan gula pasir , bisa dari gula batu dicairkan, bisa dari air gula , air kelapa
3. Sumber Bakteri : Bisa dari keong, kulit buah-buahan misalnya tomat, pepaya, dan lain
- lain, lalu bisa juga dari air kencing, atau apapun yang mengandung sumber
bakterinya ( Ivan Hadinata : 2009).
Pada umumnya mikro organisme hanya membutuhkan 2 komponen hidup, yaitu
air dan udara. Sedikit berbeda dengan makro organisme atau makhluk hidup yang terlihat
mata, membutuhkan tiga komponen hidup air, udara dan tanah. Mikro organisme tidak
membutuhkan tanah sebagai media penunjang hidupnya tetapi mereka bisa hidup di tanah
dan lebih mudah berkembang di tanah.
Mikro organisme selalu ada disetiap makhluk hidup yang makro, mereka tumbuh
dimana ada air dan udara. Oleh karena itu mengumpulkan mikro organisme bukanlah
pekerjaan yang sulit, karena mereka selalu ada di setiap makhluk hidup. Itulah sebabnya
pengumpulan mikro organisme dilakukan melelui media makhluk hidup yang sudah mati,
karena pada makhluk hidup yang sudah mati mereka (mikro organisme) berkembang
lebih cepat.
a. Prinsip-prinsip membuat MOL
Pada prinsipnya tidak berbeda dengan prinsip-prinsip pembuatan kompos, hanya
saja prinsip pembuatan MOL membutuhkan lebih banyak air dan sedikit udara, untuk
mempercepat pertumbuhan Mikro Organisme di tambahkan gula atau bahan-bahan
organik yang manis, seperti air kelapa, air tebu, air nira, dan buah-buahan yang manis.
b. Bahan-bahan membuat MOL
Juga tidak berbeda dengan bahan-bahan kompos, hanya saja volume bahan
organiknya lebih sedikit dan lebih banyak air, di tambah dengan gula atau bahan organik
yang manis.
c. Macam - macam pembuatan mikro organisme lokal (MOL) yaitu:
Pertama, dengan menggunakan air rebusan dari air kacang kedelai. Cara
pembuatan mikro organismenya dengan cara rebus air kedelai, untuk 10 liter air di
campur dengan gula merah kg.

Kedua, dengan menggunakan air kelapa sebagai larutan organisme, untuk 10 liter
air kelapa dicampur dengan gula merak sebanyak kg ditambah dengan buah-buahan
busuk (pisang, pepaya, semangka, dan lainnya). Buah yang rasanya manis banyak
mengandung unsur K (Calori).
Ketiga, jika menggunakan larutan keong mas atau limbah ikan. Dengan cara ini
cukup ditambah air kelapa sebanyak 10 liter dicampur dengan gula merah kg,
kemudian dicampur dengan keong mas sebanyak 2 kg di tambah dengan limbah ikan
secukupnya. Untuk menghilangkan bau yang tidak sedap cukup ditambah dengan emponempon kunyit sebanyak kg dan lengkuas sebanyak kg.
Keempat, kemudian jika dengan menggunakan batang pisang. Bahan yang perlu
dipersiapkan adalah air sebanyak 10 liter, gula merah kg, batang pisang (ati/ares) 5 cm.
Bahan-bahan ini banyak mengandung unsur N dan K.
4. KOMPOS
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan
organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba
dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik (Modifikasi
dari J.H. Crawford, 2003). Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik
mengalami penguraian secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang
memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur
dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini
meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup,
mengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. Sampah terdiri dari dua
bagian, yaitu bagian organik dan anorganik. Rata-rata persentase bahan organik sampah
mencapai 80%, sehingga pengomposan merupakan alternatif penanganan yang sesuai
Teknologi pengomposan sampah sangat beragam, baik secara aerobik maupun
anaerobik, dengan atau tanpa aktivator pengomposan. Aktivator pengomposan yang
sudah banyak beredar antara lain PROMI (Promoting Microbes), OrgaDec, SuperDec,
ActiComp, BioPos, EM4, Green Phoskko Organic Decomposer dan SUPERFARM
(Effective Microorganism)atau menggunakan cacing guna mendapatkan kompos
(vermicompost). Setiap aktivator memiliki keunggulan sendiri-sendiri.
Pengomposan secara aerobik paling banyak digunakan, karena mudah dan murah
untuk dilakukan, serta tidak membutuhkan kontrol proses yang terlalu sulit. Dekomposisi
bahan dilakukan oleh mikroorganisme di dalam bahan itu sendiri dengan bantuan udara.
Sedangkan pengomposan secara anaerobik memanfaatkan mikroorganisme yang tidak
membutuhkan udara dalam mendegradasi bahan organik.
Hasil akhir dari pengomposan ini merupakan bahan yang sangat dibutuhkan untuk
kepentingan tanah-tanah pertanian di Indonesia, sebagai upaya untuk memperbaiki sifat
kimia, fisika dan biologi tanah, sehingga produksi tanaman menjadi lebih tinggi. Kompos
yang dihasilkan dari pengomposan sampah dapat digunakan untuk menguatkan struktur
lahan kritis, menggemburkan kembali tanah pertanian, menggemburkan kembali tanah
petamanan, sebagai bahan penutup sampah di TPA, eklamasi pantai pasca penambangan,
dan sebagai media tanaman, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Bahan baku pengomposan adalah semua material organik yang mengandung
karbon dan nitrogen, seperti kotoran hewan, sampah hijauan, sampah kota, lumpur cair

dan limbah industri pertanian. Berikut disajikan bahan-bahan yang umum dijadikan
bahan baku pengomposan.
Tabel 2. Bahan bahan yang umum untuk dijadikan kompos
Asal

Bahan
1. Pertanian
Limbah dan residu tanaman
Jerami dan sekam padi, gulma, batang
dan tongkol jagung, semua bagian
vegetatif tanaman, batang pisang dan
sabut kelapa
Limbah & residu ternak
Kotoran padat, limbah ternak cair,
limbah pakan ternak, cairan biogas
Azola, ganggang biru, enceng gondok,
Tanaman air
gulma air
2. Industri
Limbah padat

Limbah cair

Sampah

Serbuk gergaji kayu, blotong, kertas,


ampas tebu, limbah kelapa sawit,
limbah pengalengan makanan dan
pemotongan hewan
Alkohol, limbah pengolahan kertas,
ajinomoto, limbah pengolahan minyak
kelapa sawit
Limbah rumah tangga
Tinja, urin, sampah rumah tangga dan
sampah kota

Kompos ibarat multi-vitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan


kesuburan tanah dan merangsang perakaran yang sehat Kompos memperbaiki struktur
tanah dengan meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan
kemampuan tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah
yang bermanfaat bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas
mikroba ini membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan
senyawa yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga
diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya
daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan
disimpan, lebih berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat yang ditinjau dari beberapa aspek:
a. Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah.
2. Mengurangi volume/ukuran limbah.
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya.
b. Aspek Lingkungan :
1) Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah.
2) Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan.
c. Aspek bagi tanah/tanaman:

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Meningkatkan kesuburan tanah.


Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah.
Meningkatkan kapasitas jerap air tanah.
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah.
Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen).
Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman.
Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah.
Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman.
Proses pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah
dicampur. Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu
tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan
senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba
mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan
diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50 o - 70o C.
Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah
mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi. Pada saat ini terjadi
dekmposisi/penguraian bahan organik yang sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam
kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2,
uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsurangsur mengalami penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut,
yaitu pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi
penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 40%
dari volume/bobot awal bahan.

Gambar 1. Proses pengomposan


Proses pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau
anaerobik (tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik,
dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik. Proses
dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut proses
anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan selama proses pengomposan karena akan
dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses aerobik akan menghasilkan senyawa-senyawa
yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam asetat, asam butirat, asam
valerat, puttrecine), amonia, dan H2S.

Gambar 2. Profil suhu dan populasi mikroba selama proses pengomposan


Organisme yang terlibat dalam proses pengomposan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini:
Tabel 3. Organisme yang berperan dalam pengomposan
Kelompok
Organisme
Jumlah/gr kompos
Organisme
109 - 109; 105 108; 104 Mikroflora
Bakteri; Aktinomicetes; Kapang
106
Mikrofanuna
Protozoa
104 - 105
Makroflora
Jamur tingkat tinggi
Cacing tanah, rayap, semut, kutu,
Makrofauna
dll
Setiap organisme pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan
dan bahan yang berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut
akan bekerja giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya
kurang sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke tempat
lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses pengomposan
sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.
Adapun Faktor-faktor yang memperngaruhi proses pengomposan antara lain.
Pertama, rasio C/N Rasio C/N yang efektif untuk proses pengomposan berkisar antara 30:
1 hingga 40:1. Mikroba memecah senyawa C sebagai sumber energi dan menggunakan N
untuk sintesis protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C
untuk energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba akan
kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Kedua, ukuran Partikel Aktivitas mikroba berada diantara permukaan area dan
udara. Permukaan area yang lebih luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan
bahan dan proses dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga
menentukan besarnya ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas
permukaan dapat dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
Ketiga, aerasi Pengomposan yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup
oksigen(aerob). Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang
menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam
tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh posiritas dan kandungan air
bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob yang
akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan melakukan
pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
Keempat, porositas Porositas adalah ruang diantara partikel di dalam tumpukan
kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume rongga dibagi dengan volume
total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan udara. Udara akan mensuplay Oksigen

untuk proses pengomposan. Apabila rongga dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan
berkurang dan proses pengomposan juga akan terganggu.
Kelima, kelembaban (Moisture content) Kelembaban memegang peranan yang
sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung
berpengaruh pada suplay oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik
apabila bahan organik tersebut larut di dalam air. Kelembaban 40 - 60 % adalah kisaran
optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%, aktivitas
mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada kelembaban 15%.
Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci, volume udara berkurang,
akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan terjadi fermentasi anaerobik yang
menimbulkan bau tidak sedap.
Keenam, temperatur/suhu Panas dihasilkan dari aktivitas mikroba. Ada hubungan
langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen. Semakin tinggi temperatur
akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin cepat pula proses
dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada tumpukan kompos.
Temperatur yang berkisar antara 30 - 60oC menunjukkan aktivitas pengomposan yang
cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60oC akan membunuh sebagian mikroba dan hanya
mikroba thermofilik saja yang akan tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan
membunuh mikroba-mikroba patogen tanaman dan benih-benih gulma.
Ketujuh, pH Proses pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH
yang optimum untuk proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran
ternak umumnya berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan
menyebabkan perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh,
proses pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH
(pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung
nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos yang
sudah matang biasanya mendekati netral.
Kedelapan, kandungan Hara Kandungan P dan K juga penting dalam proses
pengomposan dan bisanya terdapat di dalam kompos-kompos dari peternakan. Hara ini
akan dimanfaatkan oleh mikroba selama proses pengomposan. Kandungan Bahan
Berbahaya Beberapa bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya
bagi kehidupan mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah
beberapa bahan yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami
imobilisasi selama proses pengomposan.
Kesembilan, lama pengomposan Lama waktu pengomposan tergantung pada
karakteristik bahan yang dikomposakan, metode pengomposan yang dipergunakan dan
dengan atau tanpa penambahan aktivator pengomposan. Secara alami pengomposan akan
berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga kompos benar-benar
matang.
Tabel 4. Kondisi yang optimal untuk mempercepat proses pengomposan
Kondisi
Konsisi yang bisa diterima
Ideal
Rasio C/N
20:1 s/d 40:1
25-35:1
Kelembaban
40 65 %
45 62 % berat
Konsentrasi oksigen tersedia
> 5%
> 10%
Ukuran partikel
1 inchi
bervariasi

Bulk Density
pH
Suhu

1000 lbs/cu yd
5.5 9.0
43 66C

1000 lbs/cu yd
6.5 8.0
54 -60oC

h. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan adalah eksperimen dengan melakukan
percobaan di laboratorium.
1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Kegiatan dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi Program Studi Pendidikan
Biologi jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, kegiatan ini dilaksanakan selama 3
bulan.
2. Bahan dan Alat yang Digunakan
a. Adapun bahan yang digunakan antara lain :
1) Bonggol pisang
10 kg
2) Gula merah
12 kg
3) Air beras
60 liter
4) Air
b. Alat yang digunakan antara lain :
1) Tong plastik
2) Plastik penutup
3) Selang plastik
4) Botol
c.
Pasokan Bahan Baku
Untuk bonggol pisang dapat diambil dari kebun atau budidaya, gula merah
diperoleh dengan membeli, dan air beras dapat diperoleh dengan membuat rendaman
beras kemudian diambil airnya.
1. Langkah Operasional
1) Menyiapkan semua alat dan bahan
2) Menumbuk / menghaluskan bonggol pisang, kemudian menempatkan dalam
wadah plastik bersama dengan air beras
3) Memasukkan gula merah dalam adonan tersebut, kemudian mengaduk hingga
rata
4) Menyimpan adonan tersebut dalam tong plastic
5) Menutup tong plastik tersebut dengan menggunakan plastik penutup dengan rapat
6) Memberi lubang udara dengan cara memasukkan selang plastik yang
dihubungkan dengan botol yang sedah terisi air ( ujung selang plastik harus
terendam dalam air ).
7) Membiarkan fermentasi anaerob tersebut berlangsung selama 15 hari
GAMBAR RANCANGAN PERCOBAAN PEMBUATAN MOL
(Mikroorganisme Lokal Bonggol Pisang)

Selang plastik
Drum berisi campuran
bonggol pisang, gula jawa
dan Air beras

Botol
Berisi
air

Gambar 3. Rancangan pembuatan MOL


Langkah Operasional Pembuatan Kompos :
1. Pembuatan kompos dengan MOL
1) Memotong jerami pendek pendek sekitar 3 4 cm
2) Menempatkan campuran tersebut pada wadah yang telah disiapkan
3) Mengaduk campuran tersebut hingga merata
4) Memasukkan kompos ke dalam tong plastik yang bagian bawahnya sudah dilapisi
tanah
5) Menutup campuran kompos tersebut dengan tanah, kemudian memasukkan pipa
plastik yang telah dilubangi kedalam tong tersebut
6) Melubangi tutup tong plastik sebagai jalan pipa untuk keluar masuk udara.
7) Menutup tong plastik tersebut dan membiarkannya selama sebulan.
2. Pembuatan kompos dengan stardec
1) Memotong jerami pendek pendek sekitar 3 4 cm.
2) Menambahkan stardec pada tumpukan jerami yang telah dipotong tadi.
3) Menempatkan campuran tersebut pada wadah yang telah disiapkan.
4) Mengaduk campuran tersebut hingga merata.
5) Memasukkan kompos ke dalam tong plastik yang bagian bawahnya sudah
dilapisi tanah.
6) Menutup campuran kompos tersebut dengan tanah, kemudian memasukkan pipa
plastik yang telah dilubangi kedalam tong tersebut.
7) Melubangi tutup tong plastik sebagai jalan pipa untuk keluar masuk udara.
8) Menutup tong plastik tersebut dan membiarkannya selama sebulan.
3. Pembuatan kompos tanpa starter
1) Memotong jerami kecil kecil,sekitar 3-4 cm.
2) Memasukkan kompos ke dalam tong plastik yang bagian bawahnya sudah dilapisi
tanah.
3) Menutup campuran kompos tersebut dengan tanah, kemudian memasukkan pipa
plastik yang telah dilubangi kedalam tong tersebut.
4) Melubangi tutup tong plastik sebagai jalan pipa untuk keluar masuk udara.
5) Melakukan pembalikan seminggu sekali namun bila tanpa menggunakan
decomposer tentunya waktu yang dibutuhkan untuk proses pengomposan lebih
lama < 2bulan.
i.

JADWAL KEGIATAN PROGRAM


Tabel 5. Jadwal kegiatan PKM-P

No

Kegiatan

Bulan
I

1.
2.

II

III

IV

VI

Tahap Persiapan
administrasi
alat dan bahan
Eksperimen
Eksperimen I
Evaluasi I
Eksperimen II
Evaluasi II
Eksperimen III
Evaluasi III
Pelaporan awal

3.
Pelaporan akhir
4.

RANCANGAN BIAYA
PEMBUATAN MOL (Mikroorganisme Lokal) BONGGOL PISANG
Tabel 6. Rancangan biaya
No
A. PERALATAN
RINCIAN
JUMLAH
PENUNJANG
1
Drum plastic
6 @300.000,Rp1.800.000,2
Selang Plastik
6 @100.000,Rp 600.000,3
Ember + tutup
3 @ 50.000,Rp. 150.000,4
Penumbuk
1 @165.000,Rp. 165.000,5
Botol
3 @ 50.000,Rp. 150.000,6
Pisau
5 @ 20.000,RP. 100.000,7
Pipa Pralon
6 @ 35.000,Rp. 210.000,8
Pengaduk
3 @ 30.000,Rp. 90.000,9
Solder
1 @ 195.000
Rp. 195.000,10
Kertas Label
3 @ 10.000
Rp. 30.000,11
Sarung tangan karet
5 @ 50.000
Rp. 250.000,12
Termometer
3 @ 100.000
Rp.300.000,13
Masker
5 @ 35.000
Rp.175.000,14
Timbangan
1 @ 230.000,Rp. 230.000,15
Garpu Pembalik
3 @ 80.000
Rp. 240.000,16
Ayakan
2 @ 50.000
Rp.100.000
Sub total
Rp 4.785.000,B.BAHAN HABIS PAKAI
1
Bonggol pisang
10 Kg @ 240.000,Rp.2.400.000,2
Gula Jawa
12 Kg @ 12.000,Rp. 144.000,3
Air Beras
60 L @ 6000,Rp. 360.000,4
Plastik Penutup
6 m @ 50.000,Rp. 300.000,5
Stardec
3 @ 50.000,Rp. 150.000,6
Jerami
Rp.311.000,Rp. 311.000,-

7
8

Lakban
Lem pipa pralon

1
2
3

C. LAIN_LAIN
Penggandaan Proposal
Transportasi
Konsumsi

j.

5 @ 15.000
6 @ 17.500
Sub total

Rp. 75.000,Rp.105.000,Rp.3.845.000,-

6 @ 70.000,6 @ 75.000,5 @ 100.000,Sub total

Rp 420.000,Rp 450.000,Rp. 500.000,Rp.1.370.000,-

BIAYA TOTAL

Rp. 10.000.000,-

DAFTAR PUSTAKA

Alvian Noor.2003. bioaktivator .http://digilib.biologi.lipi.go.id/view.html


Anonim 1. 2008. pemanfaatan mol dalam pertanian. http://library.usu.ac.id
Anonim 2. 2009. Kasiat dibalik bonggol pisang. http://id.answers.yahoo.com/question/
Anonim 3. 2009. Kelangkaan pupuk .http://pikiran-rakyat.com Suwarsono , Heddy. 1990.
Biologi pertanian. Jakarta : Rajawali Press
Rosy.2005.Kandungan dan Manfaat Pisang. http://mydiarest.blogspot.com/205/07.html
Tarmo.2008.Tarmo.2008.PembuatanstarterMol .http://organicfield.wordpress.com/2008/
Tjitrosoepomo, Gembong.1988. Taksonomi Tumbuhan. Jogjakarta : UGM
Press
Vidi Januardani. 2009. Mol dalam kompos. http://kebun-kebunku.blogspot.com